Anda di halaman 1dari 10

KEPERAWATAN MATERNITAS

SATUAN ACARA PENYULUHAN


MOBILISASI DAN ISTIRAHAT PADA IBU NIFAS
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Maternitas

Dosen Pengampu:
Hj. Zainab, S.SiT, M.Kes

Disusun Oleh:
Kelompok 1 A

1. Adhitia Shandy Almadani P07120216049


2. Eka Yulia Riska Nasution P07120216055
3. Gita Annisa Ramadhanti P07120216059
4. Khairun Nisa P07120216063

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN BANJARMASIN
JURUSAN D IV KEPERAWATAN
2018
SATUAN ACARA PENYULUHAN

MOBILISAI DAN ISTIRAHAT PADA IBU NIFAS

Topik : Mobilisasi dan istirahat pada ibu nifas


Sub Topik : Pengertian mobilisasi dan istirahat pada ibu nifas, keuntungan mobilisasi,
kegiatan mobilisasi dini, Pengaruh kurang istirahat pada ibu nifas dan posisi
tidur ibu nifas
Sasaran : Ibu masa nifas di RSUD Ratu Zalecha Martapura
Tempat : RSUD Ratu Zalecha Martapura
Hari/Tanggal : Jumat, 30 November 2018
Waktu : 45 menit
Penyuluh : Mahasiswa/Mahasiswi Keperawatan Poltekkes Banjarmasin

I. Analisa Data
A. Kebutuhan peserta didik
Pada ibu masa nifas di RSUD Ratu Zalecha Maertapura mempunyai karakteristik
bervariasi. Berdasarkan hasil survey yang telah dilakukan pada ibu masa nifas di RSUD
Ratu Zalecha, terdapat tingginya risiko pada masa nifas berdasarkan dengan banyaknya
angka kejadian pada ibu nifas yang mengalami masalah, yang dibuktikan dengan adanya
data yang ada di RSUD Ratu Zalecha 60 % ibu nifas takut untuk melakukan mobilisasi
setelah melahirkan dan kurang istirahat selama masa nifas, hanya 40% ibu nifas yang bisa
melakukan mobilisasi dan mempunyai waktu istirahat yang cukup. Hal itulah yang
kemungkinan menjadi penyebab tingginya risiko kejadian yang dialami ibu pada masa
nifas di RSUD Ratu Zalecha Martapura, maka dari itu perlu diadakannya penyuluhan.
Penyuluhan dilakukan dalam rangka memberikan pengetahuan kepada masyarakat yang
belum mengetahui hal tentang pentingnya mobilisasi dan istirahat pada ibu nifas.
B. Karakteristik peserta didik
Ibu post partum yang rata-rata berpendidikan SMP/SMA.
II. Tujuan Instruksional Umum
Setelah dilakukan penyuluhan, 80 persen ibu masa nifas di RSUD Ratu Zalecha Martapura
mampu memahami tentang mobilisasi dan istirahat pada ibu nifas.
III. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan tentang pentingnya kehamilan risiko tinggi,
selama 1 x 45 menit, diharapkan masyarakat Desa Kelurahan Tanjung Rema dengan risiko
pada masa kehamilan mampu:
1. Menjelaskan pengertian mobilisasi dan istirahat pada ibu nifas
2. Menyebutkan keuntungan mobilisasi
3. Menyebutkan kegiatan mobilisasi dini
4. Menjelaskan pengaruh kurang istirahat pada ibu nifas
5. Menjelaskan posisi tidur ibu nifas
IV. Materi (terlampir)
1. Pengertian mobilisasi dan istirahat pada ibu nifas
2. Keuntungan mobilisasi
3. Kegiatan mobilisasi dini
4. Pengaruh kurang istirahat pada ibu nifas
5. Posisi tidur ibu nifas

V. Metode
Ceramah dan diskusi

VI. Media
Leaflet
Kegiatan Penyuluhan
No. Waktu Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Peserta
1. Pembukaan 5 menit  Memberikan salam  Menjawab salam
 Memperkenalkan diri  Mendengarkan dan
 Menjelaskan TIU dan TIK memperhatikan
 Menyebutkan materi yang
akan diberikan
2. Inti 30 menit Menanyakan kepada ibu-ibu  Mendengarkan dan
tentang pentingnya mengetahui memperhatikan
mobilisasi dan istirahat pada  Menjawab pertanyaan
ibu nifas menurut pengetahuan penyuluh
ibu masa nifas  Bertanya kepada
Menjelaskan materi tentang: penyuluh
a. Pengertian mobilisasi dan
istirahat pada ibu nifas
b. Keuntungan mobilisasi
c. Kegiatan mobilisasi dini
d. Pengaruh kurang istirahat
pada ibu nifas
e. Posisi tidur ibu nifas
3. Penutup 10 menit  Evaluasi  Menjawab pertanyaan
 Menyimpulkan dari penyuluh
 Mengucapkan salam  Bertanya pada penyuluh
penutup bila masih ada yang
belum jelas
 Memperhatikan
 Menjawab salam
VII. Evaluasi
Peserta mampu menjawab 80% pertanyaan yang diajukan oleh penyuluh pada saat evaluasi
secara lisan dengan pertanyaan sebagai berikut :
a. Pengertian mobilisasi dan istirahat pada ibu nifas
b. Keuntungan mobilisasi
c. Kegiatan mobilisasi dini
d. Pengaruh kurang istirahat pada ibu nifas
e. Posisi tidur ibu nifas Referensi\

VIII. Referensi
Sulistyawati, ari : 2009 : Buku Ajar Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas .Yogyakarta : Andi
Kristiyansari W. 2009 ASI, Menyusui dan Sadari. Yogyakarta : Nuha Medika
Prawihardjo, sarwono : 2008 : Ilmu Kebidanan . Jakarta : PT Bina Pustaka Sarwono
Prawihardjo
MATERI PENYULUHAN
A. MOBILISASI
1. Definisi
Mobilisasi Dini adalah kebijaksaan untuk selekas mungkin membimbing pasien
keluar dari tempat tidurnya dan membimbing pasien membimbingnya untuk berjalan.
Menurut penelitian, ambulasi dini tidak mempunyai pengaruh yang buruk, tidak
menyebabkan perdarahan yang abnormal, tidak memengaruhi penyembuhan
luka episiotomy, dan tidak memperbesar kemungkinan terjadinya prolaps
uteri atau retrofleksi. Ambulasi dini tidak dibenarkan pada pasien dengan penyakit
anemia, jantung, paru-paru, demam, dan keadaan lain yang masih membutuhkan istirahat.
Sebagian besar pasien dapat melakukan ambulasi segera setelah persalinan usai.
Aktifitas tersebut amat berguna bagi semua sistem tubuh, terutama fungsi usus, kandung
kemih, sirkulasi dan paru-paru. Hal tersebut juga membantu mencegah trombosis pada
pembuluh tungkai dan membantu kemajuan ibu dari ketergantungan peran sakit menjadi
sehat. Aktivitas dapat dilakukan secara bertahap, memberikan jarak antara aktivitas dan
istirahat.
Ibu yang tidak mengalami komplikasi dalam persalinan hampir semua, selalu
bangkit segera untuk pergi ke toilet dan mandi. Mereka mungkin membutuhkan seseorang
untuk membantu, pada tahap awal ini dimana beberapa perempuan mengeluh pusing atau
pandangan kabur ketika mereka pertama bangun setelah persalinan.
2. Keuntungan Mobilisasi Dini
Manfaat dan keuntungan mobilisasi dini adalah :
a. Penderita merasa lebih sehat dan lebih kuat dengan early ambulation.
b. Faal usus dan kandung kencing lebih baik.
c. Early ambulation memungkinkan kita mengajar ibu memelihara anaknya :
memandikan, mengganti pakaian, memberi makanan, dan lain-lain selama ibu masih
di RS.
d. Lebih sesuai dengan keadaan Indonesia (sosial ekonomis).
Menurut Manuaba (1998 : 193), perawatan puerperium lebih aktif dengan dianjurkan
untuk melakukan “mobilisasi dini” (early mobilization) :
a. Melancarkan pengeluaran lokea, mengurangi infeksi puerperium.
b. Mempercepat involusi alat kandungan.
c. Melancarkan fungsi alat gastrointestinal dan alat perkemihan.
d. Meningkatkan kelancaran peredaran darah, sehingga mempercepat fungsi ASI dan
pengeluaran sisa metabolisme.
Meskipun mobilisasi dini banyak membawa keuntungan, tetapi tidak dinasihatkan
bagi penderita yang telah mengalami partus lama, penderita dengan suhu badan tinggi,
toxemea, atau bagi penderita dengan penyulit. (Ibrahim, 1996 : 81).
Penambahan kegiatan dengan early ambulation harus berangsur-angsur, jadi bukan
maksudnya ibu segera setelah bangun dibenarkan mencuci, memasak, dan sebagainya
(Saleha, 2009)
3. Kegiatan Mobilisasi Dini
Langkah atau proses ambulasi ibu nifas dilakukan secara bertahap, sebagaiberikut:
a. Belajar turun dari tempat tidur
Mempercepat bangkitan dari tempat tidur justru menolong ibu cepat pulih,
asal dilakukan dengan hati-hati. Jika bidan tidak secara khusus meminta ibu
menunggu hingga delapan jam setelah bersalin atau jika ibu merasa sudah cukup kuat
dan tidak pening.
Berikut ini langkah-langkah saat ibu mencoba untuk turun dari tempat tidur:
1. Pertama-tama duduk dulu.
2. Dengan tubuh ditahan tangan, geserkan kaki ke sisi ranjang dan biarkan
kakimenggantung sebentar.
3. Setelah itu, perlahan-lahan ibu akan berdiri dengan bantuan orang lain dan tangan
yang masih berpegangan pada ranjang.
4. Jika ibu merasa pening, duduklah kembali. Stabilkan diri beberapa
menitsebelum melangkah.
b. Belajar berjalan.
Berjalan-jalan akan memperbaiki ketegangan otot dan aliran darah ke
jaringan tubuh. Kegiatan ini pun mempercepat pengaliran lochea (cairan
bercampurdarah yang keluar dari dalam rahim sewaktu rahim mengalami
penyusutan). Ibu yang segera menggerakkan ototnya setelah menjalani persalinan
umumnya akan merasa lebih sehat. Satu dua langkah pertama bisa terasa tidak
nyaman.Berdirilah setegak mungkin, meskipun ibu tergoda untuk membungkukkan
badan. Berjalanlah perlahan-lahan terlebih dahulu. Jika terasa sakit pada
daerah perineum, istirahat sejenak sebelum melangkah kembali.
Ambulansi sangat bervariasi, tergantung pada komplikasi persalinan, nifas,
atau sembuhnya luka (jika ada luka). Jika tidak ada kelainan, lakukan ambulansi
sedini mungkin, yaitu dua jam setelah persalinan normal. Ini berguna
untuk memperlancar sirkulasi darah dan mengeluarkan cairan vagina (lochea).
Ambulasi awal dilakukan dengan melakukan gerakan dan jalan-jalan ringan sambil
bidan melakukan observasi perkembangan pasien dari jam demi jam sampai hitungan
hari. Kegiatan ini dilakukan secara meningkat dan berangsur-angsur frekuensi dan
intensitas aktivitasnya sampai pasien dapat melakukannya sendiri tanpa
pendampingan sehingga tujuan memandirikan pasien dapat terpenuhi.

B. ISTIRAHAT dan TIDUR


1. Definisi Istirahat
Ibo post partum sangat membutuhkan istirahat yang berkualitas untuk
memulihkan kembali keadaan fisiknya. Keluarga disarankan untuk memberikan
kesempatan kepada ibu untuk beristirahat yang cukup sebagai Persiapan untuk energy
menyusui bayinya nanti. sangatlah penting bahwa ibu pasca melahirkan harus
mendapatkan istirahat dan tidur yang mencukupi. Kebutuhan istirahat selama periode
post partum sangat penting baik untuk kesehatan ibu maupun perawatan bayinya.
Mead Bennet(1990) mengatakan bahwa ”kurangnya tidur pada masa postpartum
mempunyai implikasi tertentu terhadap interaksi ibu dan bayi”.
Setelah menghadapi ketegangan dan kelelahan saat melahirkan, usahakan ibu
untuk dapat rileks dan beristirahat yang cukup, terutama saat bayi sedang tidur. Jangan
segan untuk meminta pertolongan suami dan keluarga jika ibu merasa lelah.
Dengarkanlah lagu-lagu klasik pada saat ibu dan bayi sedang beristirahat
untuk menghilangkan rasa tegang dan lelah.Ini merupakan hal yang sangat penting
bahwa ibu pasca melahirkan harus mendapatkan cukup banyak istirahat dan tidur sesuai
dengan kebutuhannya.
Istirahat yang cukup dan tidur dalam keadaan yang tenang adalah hal yang sangat
diperlukan sekali dalam proses penyembuhan dan rata-rata ini diperlukan selama masa
nifas.Hal ini memungkinkan wanita tersebut untuk dapat mengatasi stress secara fisik
maupun psikologis yang dia dapatkan selama persalinan dan ini pula dapat membantu
untuk meningkatkan usaha penyembuhan. Istirahat dan tidur juga merupakan unsur-unsur
yang sangat penting dalam kesuksesan pemberian ASI.
Bagaimanapun, dengan semua kegembiraan atas kelahiran sang bayi dan para tamu
yang datang serta perubahan peran yang barubagi ibu, ini tidak selalu mudah untuk dapat
beristirahat dan tidur dengan tenang.Ibu juga masih merasa kesakitan seperti perineum
yang terasa nyeri,haemoroid, atau payudara yang membengkak sehingga mengganggu
kenyamanan saat istirahat.Hal ini bisa diatasi dengan konsultasi kepada dokter untuk
pemberianan algetik yang adekuat sesuai kondisi yang memungkinkannya.Istirahat dan tidur ini
merupakan hal yang cukup penting bagi ibu di masanifas. Hal ini dapat membantunya
untuk membangun ketabahan secara psikologis dan stamina fisiknya. Jika ibu dalam
keadaan mental yang depresi atau keadaan fisik yang sakit, proses penyembuhan akan
berlangsung lambat (menurun). Pengembalian kesehatan seperti keadaan semula
memerlukan waktu yang lama, oleh karena itu ibu harus dengan baik menggunakan
waktu tidur dan waktu istirahatnya dengan optimal.
Ibu nifas memerlukan istirahat yang cukup, istirahat tidur yang dibutuhkan ibu
nifas sekitar 8 jam pada malam hari dan 1 jam pada siang hari.
2. Pengaruh Kurang Istirahat
Kurang istirahat pada ibu post partum akan mengakibatkan beberapa kerugian,
misalnya:
a. Mengurangi jumlah ASI yang diproduksi.
b. Memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak perdarahan.
c. Menyebabkan depresi dan ketidaknyamanan untuk merawat bayi dan dirinya
sendiri.
3. Posisi tidur ibu nifas
Posisi tidur ibu waktu beristirahat sesudah melahirkan penderita harus tidur
terlentang, hanya dengan satu bantal yang tipis. Tetapi ada juga pendapat lain
mengatakan bahwa ibu bebas memilih posisi tetapi untuk memudahkan pengawasan
sebenarnya tidur telentang lebih baik karena dengan tidur terlentang mudah mengawasi
keadaan kontraksi uterus dan mengawasi pendarahan.
Biasanya setelah melahirkan penderita akan merasa lelah dan dapat tidur
sehingga merasa nyaman berada ditempat tidur. Usaha agar penderita dapat tidur ialah
dengan menyakinkan penderita bahwa keadaannya normal. Istirahat dan tidur sangat
perlu bagi penderita, selain untuk mengembalikan kesehatan, juga untuk pembentukan
air susu ibu.
Penderita juga diperbolehkan bangun dan turun dari tempat tidur pada hari kedua
setelah melahirkan karena membawa beberapa keuntungan:
a. Pelemasan otot lebih baik
b. Sirkulasi darah lebih lancar, mempercepat penyembuhan
c. Memperlancar pengeluaran lochia berarti mempercepat involusi
d. Penderita merasa sehat, karena tidak bersikap sebagai orang sakit
e. Mengurangi bahaya embolus dan thrombosis