Anda di halaman 1dari 51

UNTUK MEMENUHI TUGAS AKHIR MATA KULIAH

PSIKOLOGI ABNORMAL DAN PSIKOPATOLOGI

PENEGAKAN DIAGNOSA GENDER DYSPORYA

DOSEN PEMBIMBING :

Jehan Safitri, M. Psi, Psikolog

Disusun oleh:

Fransi Amelia 1610914320037

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

2018
Daftar Isi

Daftar Isi ...................................................................................................... 2

Bab I Gambaran Kasus ................................................................................. 3

Bab II Hasil Pengumpulan Data ................................................................... 5

1. Identitas........................................................................................... 5
2. Keluhan............................................................................................ 5
3. Agenda Pengumpulan Data ............................................................. 6
4. Asesmen .......................................................................................... 8
a. Hasil Observasi .................................................................... 8
b. Hasil Wawancara ................................................................. 9
c. Hasil Test SSCT ..................................................................... 10

Bab III Permasalahan ................................................................................... 11

Bab IV Dinamika Psikologi ........................................................................... 12

Bab V Diagnosa............................................................................................ 14

Bab VI Dasar Teori ....................................................................................... 16

a. Teori ................................................................................................. 16
b. Pembahasan .................................................................................... 24

Lampiran...................................................................................................... 26

1. Daftar pustaka ................................................................................. 26


2. Guide observasi dan wawancara..................................................... 27
3. Infromed consent ............................................................................ 31
4. Verbatim .......................................................................................... 32
5. Dokumentasi ................................................................................... 51
6. Absen bimbingan............................................................................. 52

2
BAB I

GAMBARAN KASUS

Identitas gender merupakan keyakinan diri seseorang dengan gendernya


sebagai laki-lakia atau perempuan yang sudah dimiliki sejak masa kanak-kanak.
Gangguan identitas gender berhubungan dengan atribut-atribut yang digunakan
seseorang akan tetapi berlawanan dengan identitas gender murninya. Akan
tetapi, banyak yang tidak mengetahui bahwa hal tersebut adalah gangguang
psikologis. Di Indonesia sudah banyak kasus-kasus mengenai gender dysphoria
yang dialami oleh siapa saja baik perempuan ataupun laki-laki, baik anak-anak,
remaja dan juga dewasa.

Gender dysphoria mengarah pada tekanan yang mungkin menyertai


ketidaksesuaian antara pengalaman atau jenis kelamin seseorang dengan jenis
kelamin yang sudah ditentukan sebelumnya (DSM-V). Pada kondisi ini penderita
gender dysphoria merasa terjebak didalam tubuh yang salah sehingga
mendorong mereka untuk mengubah diri mereka menjadi lawan jenis yang
mereka inginkan. Ada dua faktor yang menyebabkan penderita mengalami
gangguan gender gysphoria yaitu faktor biologis dan faktor psikososial. Faktor
biologis adalah menunjukan bahwa identitas gender dipengaruhi oleh hormon
dalam tubuh manusia dan faktor psikososial adalah pembentukan identitas
gender dipengaruhi oleh interaksi antara tempramen dan sikap dengan
lingkungan.

Pada penderita gender dysphoria dipandangan negatif kalangan


masyarakat dikarenakan hal ini bertolak belakang dengan norma-norma yang ada
dimasyarakat. Sehingga akan adanya deskriminasi sosial, pembullyan dan banyak
hal yang menyebabkan terjadinya penurunan sosial, keterasingan dan lainnya.
Pada kasus laki-laki yang menderita gender dysphoria akan mengalami
penurunan sosial yang besar karena perubahan gendernya, berbeda halnya
dengan perempuan yang menderita gender dysphoria, perubahan yang dialami

3
masih tetap bisa diberi toleransi oleh lingkungan sosial. Hal ini disebabkan
perempuan yang menderita gender dysphoria tidak terlalu dianggap melanggar
norma di lingkungan masyarakat. Masyarakat sudah menerima perubahan cara
berpakaian, perilaku, dan sikap dari perempuan dengan gender dysphoria. Akan
tetapi gender dysphoria dapat pula terjadi pada individu yang tidak memiliki
perubahan secara fisik, maka dengan demikian untuk mengetahuinya maka harus
dilihat pula dari kondisi non-fisik individu tersebut.

4
BAB II

HASIL PENGUMPULAN DATA

1. Identitas
a. Nama : SD
b. Tempat/Tanggal Lahir : Palangkaraya, 16 September 1997
c. Jenis Kelamin : Perempuan
d. Usia : 21 tahun
e. Pendidikan : S1 Farmasi
f. Status : Mahasiswa
g. Alamat : Jl. Pramuka Gang Kayu Manis
2. Keluhan
SD berusia 21 tahun adalah seorang mahasiswa S1 Farmasi di
Banjarmasin. Ia seorang perempuan yang memiliki penampilan dengan
berpakaian layaknya seorang laki-laki. Ia juga memiliki gaya rambut serta
gaya berjalan yang sama dengan laki-laki. SD pula mengoleksi barang-
barang laki-laki seperti jaket, sepatu, dompet dan lainnya. Sejak kecil dia
selalu bersama ayahnya hal ini membuatnya meniru setiap
perilakuayahnya, dilingkungan rumahnya SD jarang bermain dengan anak-
anak perempuan yang ada hanya teman laki-laki. SD selalu berteman
dengan anak laki-laki, ia mengikuti semua jenis permainan seperti
bermain kelereng, sepak bola, plastation, dan mengejar layang-layang. Dia
tidak memiliki kesempatan yang banyak untuk bermain permainan anak
perempuan. SD merasa risih dengan jika rambutnya panjang, ketika
rambutnya panjang ia akan memotong rambutnya menjadi sangat
pendek.
Pada masa remaja SD gemar mengikuti olahraga basket dan juga
karate. Ia juga selalu membeli dan menggunakan pakaian, sepatu dan
jaket yang simpel seperti laki-laki. Ini membuatnya merasa nyaman dan
tidak ribet setiap kali menggunakan barang laki-laki. Sejak remaja ini SD

5
tidak mampu mengontrol rasa ketertarikannya kepada seorang
perempuan. Ia semakin merasakan lonjakan perasaan yang tidak
tertahankan setiap melihat perempuan cantik. SD akan berusaha
mendekatinya. Perasaan dan pikirannya terhadap perempuan
membuatnya selalu memposisikan dirinya pada gender laki-laki. Ia
semakin mengubah penampilan, perilaku serta sikapnya seperti laki-laki
pada umumnya. Beranjak pada usia dewasa SD mulai mampu mengontrol
perasaannya, perilaku, serta pikirannya. Ia dapat membedakan yang mana
menurut dia cuman sebatas teman dan mana yang dapat lebih menjadi
teman. SD merasa nyaman dengan kondisinya sekarang, dengan
penampilannya seperti laki-laki, sikap, perilaku dan pikirannya yang
sekarang. Ia merasa sudah bisa mengontrol dirinya kapan dia harus
bersikap seperti laki-laki dan kapan harus bersikap seperti perempuan.
3. Agenda Pengumpulan Data
3.1 Tabel Agenda Pengumpulan Data

Agenda Pengumpulan Data

Agenda 1
Sabtu malam, peneliti meminta persetujuan
kepada subjek dengan memberikan Informed
Consent sebagai perjanjian untuk keamanan
kerahasiaan subjek yang diberikan selama
Informed Consent
proses penelitian berlangsung. Peneliti
Sabtu, 17 November
menjelaskan bahwa akan ada proses
2018
wawancara dan observasi yang dilakukan
Tempat di Kostan
selama penelitian dan memohon kesediaan
Peneliti
untuk dapat memperbolehkan peneliti
merekam suara selama proses wawancara
dilakukan.

6
Lanjutan
Agenda Pengumpulan data
Agenda 2
Hari ini subjek datang kerumah peneliti,
dengan tujuan ingin menonton konser di
Observasi lapangan murjani. Akan tetapi subjek ternyata
Sabtu, 17 November tidak jadi menonton karena tidak ada teman.
2018 Subjek menginap dikostan peneliti, sebelumnya
Tempat di Kostan peneliti sudah meminta ijin akan ada kegiatan
Peneliti observasi dan wawancara. Pada agenda 2 ini
peneliti hanya meneliti subjek selama subjek
menginap dirumah peneliti.
Agenda 3
Minggu sore peneliti melakukan proses
wawancara kepada subjek sebelum subjek
pulang ke banjarmasin. Peneliti sudah
Interview menyiapkan beberapa pertanyaan terkait
Minggu, 18 November dengan gejala-gejala sesuai dengan topik
2018 pembahasan yaitu Gender Dysphoria. Sebelum
Tempat di Kostan memulai wawancara peneliti memberikan
Peneliti arahan untuk santai dan mengeluarkan semua
isi pikiran dan perasaan serta mampu
menggambarkan baik kejadian dahulu ataupun
sekarang.
Agenda 4

Interview informan 1 Rabu siang peneliti mengunjungi kost-kostan

Rabu, 21 November putri di Banjarmasin untuk mewawancara


2018 Informan 1. Informan 1 merupakan sahabat

Banjarmasin, kost- subjek selama 2 tahun silam ini. Peneliti


kostan Informan 1 menjelaskan kepada informan bahwa tujuan

7
Lanjutan
Agenda Pengumpulan Data
dari wawancara yang dilakukan untuk menggali
data yang berhubungan dengan subjek
penelitian mengenai identitas gender
sahabatnya. Peneliti pula meminta persetujuan
untuk dapat menggunakan recording selama
berlangsungnya proses wawancara.
Agenda 5
Kamis malam, peneliti mengunjungi subjek di
Banjarmasin. Peneliti meminta ijin untuk
melakukan test pada diri subjek. Test SSCT ini
Test SSCT
digunakan untuk mengetahui bagaimana
Jumat, 23 November
pandangan subjek terhadap hal-hal penting
2018
yang berkaitan dengan adjustment dirinya,
menggambarkan keadaan psikis, dan gambaran
menyangkut penyesuaian dirinya.
4. Asesmen
a. Hasil Observasi
Dari hasil observasi yang dilakukan pada hari sabtu malam. Pada
hasil observasi ini peneliti memberikan gambaran-gambaran dari
perilaku dan persepsi subjek selama subjek menginap dirumah
peneliti. Subjek memakai jaket laki-laki bermotif tentara, pakaian
dalam berbaju kerah warna biru langit, sepatu jalan laki-laki. Subjek
mengeluarkan dompet bermode laki-laki. Selama subjek menginap
subjek berperilaku seperti ingin manja-manja, subjek banyak
melakukan sentuhan-sentuhan kepada peneliti. Subjek berbicara
nada tinggi saat mengetahui kekasihnya tidak menggunakan cincin
yang diberikannya. Saat itu subjek ingin datang menonton konser
dengan tujuan hanya ingin mengambil rokoknya saja.

8
b. Hasil Wawancara
Pada hasil wawancara dengan subjek, subjek mengatakan bahwa
saat masa kanak-kanak dirinya sering ikut dengan ayahnya
dibandingkan ibunya. Subjek terkesan dengan ayahnya yang
membuat dia meniru perilaku ayanya. Semasa kecilnya subjek selalu
bermain dengan anak laki-laki, ia tidak memiliki banyak kesempatan
untuk bermain dengan perempuan. Kondisi ini dikarenakan
lingkungan tempat subjek tinggal tidak begitu banyak anak
perempuan seusianya. Ketika kecil subjek terus memotong rambut
pendek sehingga subjek merasa nyaman dengan rambut pendek. ia
tidak menyukai rambut panjang karena menurutnya itu membuat
gerah.
Subjek mengalami perubahan perilaku sejak memasuki usia
remaja. Usia remaja adalah usia dimana anak mencari jati diri mereka
yang sebenarnya. Pada usia ini remaja sering berpetualang untuk
mematangkan mental mereka. Di usia remaja subjek, ia mengalami
merasa ada perubahan perilaku, sikap dan berpikir terhadap
perempuan. Perubahan tersebut bukannya mengarah ke gender
alaminya akan tetapi mengarah ke gender lawan jenisnya. Ia memiliki
ketertarikkan dengan seorang perempuan yang memiliki rupa cantik.
Subjek pula sering membeli dan memakai pakaian, sepatu, dan jaket
yang bergaya laki-laki. Subjek berperilaku sebagai peran gender lawan
jenisnya ketika berhadapan dengan perempuan. Ia memberikan
perhatian yang lebih pula seperti mengelus kepala dan bersandar
dibahu. Hal ini pula dibenarkan oleh Informan 1 yang merupakan
teman dari subjek. Informan mengatakan bahwa dia sering
melakukan hal tersebut dengannya. Subjek
Saat memasuki usia dewasa ini subjek menemukan kenyamanan
pada dirinya. Dia mengatakan bahwa dirinya sudah nyaman dengan
penampilan, perilaku, sikap, dan pemikiran sekarang ini. Subjek

9
berpendapat bahwa baginya perlu niat dan kemauan untuk
merubahkan dirinya lagi menjadi feminim dan ia rasa akan ada
banyak tahapannya. Untuk perasaan, pikiran dan sikapnya sekarang
ini subjek merasa mampu mengontrol hasrat sebagai laki-laki
tersebut. Dikarenakan subjek telah memiliki pasangan sesama
jenisnya.
c. Hasil Test SSCT
Subjek memiliki pandangan yang baik terhadap sosok ayah tetapi
pada sosok ibu subjek memiliki pandangan yang buruk. Hubungan
subjek dan ibu kandungnya memiliki ketidakakraban karena cara ibu
yang selalu menyalahkan setiap perbuatan subjek. Ketidakakraban itu
membuat subjek merasa bahwa keluarga tidak harmonis dan
memandang keluarga lain terlihat bahagia. Subjek meyakini bahwa
wanita itu galak, pemarah, ribet, dan banyak maunya. Subjek sangat
tidak suka mengenai wanita yang sering datang bulan. Pada orientasi
sikap terhadap hubungan hetereseksual subjek tidak ingin terburu-
buru karna subjek belum siap memiliki anak. Akan tetapi ia ingin
melakukan kehidupan seksual yang dilakukan saat momen yang
tepat. Subjek memiliki rasa bersalah kepada kedua orang tuanya
karna subjek telah mengecewakan mereka dengan hubungan
percintaan subjek yang terlarang tersebut.

10
BAB III

PERMASALAHAN

Berdasarkan hasil pengumpulan data yang dilakukan melaluI


observasi dan wawancara serta test SSCT (Sacs Sentences Completion Test).
Ada permasalahan pada perkembangan kognitif dan sosial yang dialami
oleh subjek SD.

Perkembangan kognitif tidak serta merta hanya mengenai IQ tetapi


juga mencakup tentang pemahaman, pola pikir, mempresepsikan, analisis
dan lainnya. Pada perkembangan kognitif subjek SD memiliki kesalahan
dalam mempersepsi orientasi hubungan seksualnya dan tanggapannya
mengenai gender perempuan.

Pada perkembangan hubungan sosial subjek dengan keluarga


terutama ibu subjek, subjek memiliki hubungan yang tidak baik dengan
sosok ibu. Hubungan sosial ini mulai menurun sejak ibu dan ayah subjek
mengetahui bahwa subjek memiliki pasangan yang salah.

Pada perkembangan emosi, subjek memiliki tingkat empati yang


tinggi terhadap seseorang. Ia memberikan perhatian kepada orang-orang
yang disayanginya. Akan tetapi ada perbedaan emosi yang diberikan subjek
jika berhubungan dengan ibunya.Sedangkan untuk perkembangan bahasa
dan motorik subjek tidak memiliki gangguan dalam hal tersebut.

11
BAB IV

DINAMIKA PSIKOLOGI

A. Bagan Sebab Akibat


A.1 Bagan sebab akibat

SD, 21 tahun

Perempuan

Lingkungan Fisik
Psikologis
 Kost berantakan
 Baju tidak dilipat  Berpikir seperti laki-laki
 Barang diruangan tidak  Memiliki hawa nafsu besar
tertata  Emosional
 Memiliki pandangan sebagai
laki-laki
Lingkungan Sosial-Budaya  Memposisikan diri seperti
laki-laki
 Jauh dari orang tua
 Hubungan dengan ibu yang
tidak akrab Biologis
 Memiliki kekasih
 Berat badan 45kg
 Subjek bermain permainan
laki-laki  Tinggi 158 cm
 Berteman dengan laki-laki
 Sering bersama ayahnya

Individu Situasi

Perilaku

 Berjalan seperti laki-laki


 Memberikan sentuhan
berupa belaian, senderan
 Mengubah penampilan
pakaian, style
 Menghindari pakaian
perempuan dan higheels

12
B. Deskriptif
1. Aspek fisik/kesahatan
Subjek memiliki tubuh yang kurus dengan berat badan 45kg
sedangkan tinggi badannya 158cm.
2. Aspek kognisi dan persepsi
Subjek memiliki persepsi bahwa menjadi diri yang sekarang ini
membuatnya nyaman. Jika berubah menjadi perempuan menurutnya
harus membutuhkan niat. Ia memandang bahwa menjadi perempuan
itu ribet dan banyak maunya. Ia juga tidak menyukai menstruasi yang
terjadi pada perempuan.
3. Aspek afektif/motivasional
Dari segi afektif subjek memiliki ketidakstabilan emosi. Pada ibu ia
mengeluarkan amarah sedangkan kepada ayahnya ia memberikan
perharian. Subjek pula sering tidak bisa mengontrol jika ia merasa
senang. Subjek memiliki motivasi diri untuk meraih masa depannya.
4. Aspek penyesuaian sosial
Dalam aspek penyesuaian sosial subjek mampu menyesuaikan diri
dengan teman-teman disekitarnya. Subjek berteman dengan laki-laki
maupun perempuan. Subjek mampu mengontrol dirinya jika bersama
perempuan akan tetapi jika bersama laki-laki subjek selalu mengikuti
apa saja yang dilakukan teman laki-laki.
5. Aspek penyesuaian psikoedukasional
Subjek tidak memiliki masalah yang serius di lingkungan kampus.

13
BAB V

DIAGNOSA

a. Diagnosa (multiaksia/7p)
1) Multiaksial
Aksis I : kecenderungan mengalami gender dysphoria
Aksis II : tidak ada
Aksis III : tidak ada
Aksis IV : masalah keluarga dan lingkungan sosial
Aksis V : 80-71
2) Formulasi 7p
1. Presenting Problem
SD datang dengan keadaan berpakaian laki-laki, subjek
mengatakan jika ia menghindari baju perempuan yang kentat
serta sepatu tinggi. Subjek tidak menyukai kondisi perempuan
yang setiap bulan selalu menstruasi. Subjek pula selalu
memposisikan diri sebagai laki-laki baik melalui pikiran atau
pun perilaku jika subjek memiliki kesempatan untuk
melakukannya. Pada kriteria ini subjek memiliki
kecenderungan memenuhi kriteria dari Gender Dysphoria in
Adolescents-Adults (F64.1)
2. Pattern and Onset
Faktor yang diduga menjadi pemicu dari kembalinya
kondisi subjek untuk menjadi tomboy lagi adalah perasaan
tidak nyamannya menjadi perempuan. Akan tetapi pemicu
yang sangat awal adanya kriteria tersebut didapat sejak kanak-
kanak. Awalnya subjek sering bermain dengan laki-laki dan
sering bersama ayahnya dibandingkan ibunya.

14
3. Predisposing Factors
Faktor yang membuat subjek rentan terhadap perilaku
gender lawannya adalah jika ia selalu mengikuti pikirannya
untuk terus melakukan hal yang tidak sesuai dengan
gendernya. Dan juga lingkungan sosial yang salah.
4. Precipitating Factors
Faktor yang menjadi pencetus timbulnya perilaku tersebut
adalah ketika subjek sudah mulai tertatik dengan perempuan
dan mulai menjalin hubungan dengan para perempuan yang
subjek sukai.
5. Perpetuating Factors
Faktor yang sangat mendukung kenapa gejala itu belum
membaik adalah dirinya sendiri yang masih merasa nyaman
dengan gender yang ia jalani. Serta faktor hubungannya yang
tidak ingin dia akhiri.
6. Protective Factors
Faktor-faktor yang dapat menghambat perkembangan
masalah pada kasus subjek adalah subjek dapat mengontrol
dirinya sendiri.
7. Prognosis
Negatif
b. Prognosa
Prediksi kesembuhan subjek memiliki kecederungan negatif.
Dikarenakan sampai saat ini subjek tidak memiliki niat untuk melakukan
perubahan menjadi gender murninya. Subjek merasa sudah nyaman
dengan hal yang dijalani sekarang. Dengan hasil test yang ditunjukan pula
subjek mengharapkan bahwa adanya penerimaan dari orang
disekelilingnya untuk menerima hubungannya.

15
BAB VI

DASAR TEORI

A. Teori
1) Pengertian Gender Dysphoria
Pada pembahasan ini, terdapat satu diagnosis menyeluruh
dari gender dysphoria (gender = jenis kelamin), dengan kriteria
terpisah sesuai dengan tahapan perkembangan anak-anak, remaja dan
orang dewasa. Ruang lingkup jenis kelamin dan gender sangat
kontroversial dan telah menyebabkan berkembangnya istilah-istilah
dengan makna yang berbeda-beda dari waktu ke waktu dan di dalam
atau antar disiplin ilmu. Dalam pembahasan ini, kata sex dan sexual
merujuk pada indikator biologis laki-laki dan perempuan (yang
dipahami dalam konteks bidang reproduksi). Gangguan perkembangan
seks menunjukkan kondisi penyimpangan somatik bawaan pada
saluran reproduksi bila dibandingkan dengan yang normal atau adanya
perbedaan antara indikator biologis laki-laki dan perempuan.
Kebutuhan untuk memperkenalkan istilah gender (jenis kelamin)
muncul dengan adanya kesadaran bahwa untuk seorang individu
dengan indikator biologis jenis kelamin yang bermasalah atau ambigu
(yaitu "interseks"), peran kehidupan dalam masyarakat dan atau
identifikasi mereka sebagai laki-laki atau perempuan tidak bisa terkait
secara bersamaan atau diperkirakan dari indikator biologis di kemudian
hari, beberapa individu menunjukkan identitas sebagai perempuan
atau laki-laki yang berbeda dengan indikator biologis yang mereka
miliki. Dengan demikian, istilah gender (jenis kelamin) digunakan untuk
menunjukkan peran kehidupan publik sebagai anak laki-laki atau
perempuan, pria atau wanita; akan tetapi berbeda dengan teori-teori
konstruksionis sosial tertentu, faktor biologis dianggap berkontribusi
dalam interaksi dengan faktor-faktor sosial dan psikologis untuk

16
perkembangan jenis kelamin. Gender assignment (penentuan jenis
kelamin) merujuk pada penentuan awal sebagai pria atau wanita. Hal
ini biasanya terjadi pada saat lahir dan, dengan demikian disebut
sebagai "gender lahir." Gender- atypical (jenis kelamin atipikal)
merujuk pada gambaran somatik atau perilaku yang tidak khas pada
tiap individu (yang sesuai dengan fakta) dengan jenis kelamin yang
telah ditetapkan sebelumnya oleh masayarakat; untuk perilaku,
gender-nonconforming merupakan istilah alternatif. Gender
reassignment (pergantian jenis kelamin) menunjukkan perubahan jenis
kelamin yang sah. Gender identity (identitas jenis kelamin) merupakan
kategori identitas sosial dan merujuk pada identifikasi perorangan
sebagai laki-laki, perempuan, atau kadang-kadang beberapa kategori
lain selain laki-laki atau perempuan. Gender dysphoria sebagai istilah
deskriptif umum merujuk pada ketidakpuasan afektif / kognitif seorang
individu terhadap jenis kelamin yang telah ditetapkan sebelumnya,
namun didefinisikan secara lebih khusus bila digunakan sebagai
kategori diagnostik. Transgender merujuk pada spektrum luas individu,
individu yang secara sementara atau terus-menerus mengidentifikasi
jenis kelamin yang berbeda dari jenis kelamin lahir mereka. Transsexual
menunjukkan seorang individu yang mencari atau telah mengalami
transisi sosial dari laki-laki ke perempuan atau perempuan ke laki-laki,
yang pada kebanyakan kasus juga melibatkan transisi somatik dengan
terapi hormon cross-sex dan operasi kelamin (operasi penggantian
kelamin). Gender dysphoria mengarah pada tekanan yang mungkin
menyertai ketidaksesuaian antara pengalaman atau jenis kelamin
seseorang dengan jenis kelamin yang sudah ditentukan sebelumnya.
Meskipun tidak semua orang akan mengalami tekanan sebagai akibat
dari ketidaksesuaian tersebut, banyak yang merasa tertekan bila
intervensi fisik yang diinginkan dengan cara hormonal dan atau operasi
tidak tersedia. Istilah ini lebih deskriptif bila dibandingkan dengan

17
istilah gender identity disorder (gangguan identitas seksual) pada DSM-
IV sebelumnya, dan lebih fokus pada dysphoria sebagai masalah klinis,
bukan identitas secara terminologis.
A. Gender Dysphoria Pada Remaja dan Dewasa 302.85 (F64.1)
Ditandai dengan ketidak sesuaian seseorang dengan
gender dan gender yang ditugaskan. Hal ini terjadi selama 6 bulan
berturut, dan kriterianya sebagai berikut:
a. Ketidaksuaian yang dialami seseorang dari segi gender dan
karakteristik seks primer dan / atau sekunder.
b. Sebuah keinginan yang kuat untuk menyinggirkan karakteristik
seks primer dan/ sekunder dari gender yang ditugaskan.
c. Memiliki keinginan yang kuat untuk karakteristik seks primer
dan/ seksual dari lawan gendernya.
d. Memiliki keinginan yang kuat untuk menjadi lawan gender.
e. Berkeinginan yang kuat untuk diperlakukan sebagai lawan
gender yang ditugaskan.
f. Memiliki keyakinan yang kuat bahwa salah satu dari reaksi atau
perasaan yang sama dengan lawan gender.
Kondisi ini terkait dengan distress klinis signifikan atau
terjadinya penurunan sosial, occupationali atau bidang-bidang
penting lainnya.
2) Diagnostic Features
a. Gender Dysphoria Pada Dewasa
Pada orang dewasa dengan gender dysphoria, perbedaan
antara gender yang berpengalaman dan karakteristik fisik sering,
tetapi tidak selalu, disertai dengan keinginan untuk menyingkirkan
karakteristik seks primer dan / atau sekunder dan / atau keinginan
yang kuat untuk memperoleh beberapa primer dan / atau
karakteristik seks sekunder dari jenis kelamin lainnya. Untuk
berbagai tingkat, orang dewasa dengan gender dysphoria dapat

18
mengadopsi perilaku, pakaian, dan tingkah laku gender yang
dialami. Mereka merasa tidak nyaman dianggap oleh orang lain,
atau berfungsi dalam masyarakat, sebagai anggota gender yang
ditugaskan. Beberapa orang dewasa mungkin memiliki keinginan
yang kuat untuk menjadi jenis kelamin yang berbeda dan
diperlakukan seperti itu, dan mereka mungkin memiliki kepastian
batin untuk merasakan dan menanggapi sebagai gender yang
berpengalaman tanpa mencari perawatan medis untuk mengubah
karakteristik tubuh. Mereka mungkin menemukan cara lain untuk
menyelesaikan ketidaksesuaian antara gender yang dialami atau
diekspresikan dan ditugaskan dengan sebagian hidup dalam peran
yang diinginkan atau dengan mengadopsi peran gender tidak secara
konvensional laki-laki atau secara konvensional perempuan.
3) Penanganan Gangguan atau Intervensi
1) Intervensi Gender Dysphoria (Gangguan Identitas Gender)
Intervensi yang digunakan pada individu yang mengalami
gangguan identitas gender, tentunya berbeda pada tiap kategorinya,
adapun intervensi yang dapat diberikan sesuai dengan kategori
usianya, adalah sebagai berikut (Fausiah, Fitri, 2003):
a. Dewasa
Pada orang dewasa sering ditemukan permintaan langsung
untuk operasi penggantian anatomi kelamin dan pemakaian
hormonal. Selain kategori usia, penanganan ataupun intervensi
yang dapat diberikan untuk individu yang mengalami gangguan
identitas gender, antara lain adalah sebagai berikut (Mark
Durank & David H. Barlow, 2006) :
a) Body Alterations
Pada terapi jenis ini, usaha yang di lakukan adalah mengubah
tubuh seseorang agar sesuaidengan identitas gendernya.
Untuk melakukan body alterations, seseorang terlebih

19
dahulu diharuskan untuk mengikuti psikoterapi selama 6
hingga 12 bulan, serta menjalani hidup dengan gender yang
diinginkan. Perubahan yang dilakukan antara lain bedah
kosmetik, elektrolisis untuk membuang rambut diwajah,
serta mengomsusian hormon perempuan. Pasien yang
menggunakan terapi hormonal harus selalu dipantau gula
darahnya. Konsumsi rokok dilarang saat terapi hormon
karena dapatmenyebabkan trombosis vena dan
embolipulmoner. Pada wanita, penyuntikan testosterone
dilakukan setiap sebulan sekali atau tiga minggu sekali.
Penggunaan testosterone memiliki efek yang patut
diperhatikan, seperti pitch suara akan menjadi rendah secara
permanen karena pita suara menebal, klitoris menebal dan
memanjang sekitar dua hingga tiga kali lipat dari ukuran
normal diikuti dengan peningkatan libido, pertumbuhan
rambut seperti pola laki -laki dan berhentinya siklus
menstruasi.
Sebagian transeksual bertindak lebih jauh dengan
melakukan operasi perubahan kelamin. Keuntungan operasi
kelamin telah banyak diperdebatkan selama bertahun-tahun.
Disatu sisi, hasil penelitian menyatakan bahwa tidak ada
keuntungan sosial yang bisa di dapatkan dari operasi
tersebut. Namun penelitian lain menyatakan bahwa pada
umumnya transeksual tidak menyesal telah menjalani
operasi, serta mendapatkan keuntungan lain seperti
kepuasan seksual yang lebih tinggi.
b) Pengubahan Identitas Gender Melalui Behavior Therapy
Walaupun sebagian besar transeksual memilih melakukan
body alterations sebagai terapi, adakalanya transeksual
memilih untuk melakukan pengubahan identitas gender,

20
agar sesuai dengan tubuhnya.Pada awalnya, identitas gender
di anggap mengakar terlalu dalam untuk dapat diubah.
Namun dalam beberapa kasus, pengubahan identitas gender
melalui behavior therapy dilaporkan sukses. Orang-orang
yang sukses melakukan pengubahan gender kemungkinan
berbeda dengan transeksual lain, karena mereka memilih
untuk mengikuti program terapi pengubahan identitas
gender. Gangguan identitas gender atau transeksualisme
adalah ketidakpuasan psikologis terhadap gender biologisnya
sendiri, gangguan dalam memahami identitasnya sendiri,
sebagai laki-laki atau perempuan.Tujuan utamanya bukan
rangsangan seksual tetapi lebih berupa keinginan untuk
menjalani kehidupan lawan jenisnya. Biasanya yang
bersangkutan merasa seolah terperangkap dalam tubuh
dengan jenis kalamin yang salah. Dibeberapa budaya,
individu dengan identitas gender yang keliru sering dikaitkan
dengan kemampuan cenayang atau peramal dan
diperlakukan sebagai figur yang dihormati namun
jarangjustru dijadikan objek ingin tahu, cemoohan hingga
sasaran kekerasan. Gangguan identitas gender “berbeda”
dengan individu interseks atau hermaphrodite dimana
yangbersangkutan terlahir dengan alat kelamin yang tidak
jelas akibat abnormalitas hormonal atau abnormalitas
lainnya. Sebaiknya individu dengan gangguan identitas
gender tidak menunjukkan abnormalitas fisik.
Para ilmuan belum menemukan adanya peran biologis
yang spesifik terhadap gangguan identitas gender. Untuk
pemulihan, dengan ataupun tanpa bantuan terapis,
dilakukan kalibrasi ulang terhadap orientasi gender yang
sesuai dengan jenis kelamin yang dimilikinya. Itu sebabnya

21
izin untuk membatalkan sugesti yang mengatakan
terperangkap pada tubuh yangsalah dan mengembalikan
orientasi gender sesuai dengan jenis kelamin yang
dimilikinya, harus datang dari dalam diri yang bersangkutan.
Gangguan identitas gender menurut psikologis adalah
ketidakpuasan psikologis terhadap gender biologisnya
sendiri, gangguan dalam memehami identitasnya sendiri
sebagai laki-laki atau perempuan. Tujuan utamanya bukan
rangsangan seksual tetapi lebih berupa keinginan untuk
menjalani kehidupan lawan jenisnya.
Esensi maskulinitas atau femininitas adalah perasaan
pribadi yang tertahan dalam yang disebutidentitas gender.
Gangguan identitas gender muncul bila gender fisik
seseorang tidak konsisten dengan sense identitas orang itu.
Orang-orang dengan gangguan ini terperangkap dalam
tubuhorang dengan jenis kelamin yang salah. Gangguan
identitas gender atau yang dulu disebut transeksualisme
harus dibedakan dengan fitisisme transvestik yaitu sebuah
gangguan paraphilia dimana orang-orang, biasanya laki-laki
terangsang secara seksual dangan mengenakanperlengkapan
pakaian yang berhubungan dengan lawan jenis. Dalam kasus
gangguan identitas gender, tujuan utamanya bukan seksual
tetapi lebih keinginan untuk menjalani kehidupan lawanjenis
kelaminnya. Gangguan identitas gender juga harus
dibedakan dengan pola rangsangan homoseksual dan
tingkah laku maskulin. Individu semacam itu tidak merasa
sebagai perempuan yang terperangkap dalam tubuh laki-laki
atau mamiliki keinginan untuk menjadi perempuan (atau
sebaliknya). Berlawanan dengan ini dibudaya Barat, toleransi
sosial terhadap mereka relatif rendah. Perlakuan terbaik

22
bagi mereka adalah mereka dijadikan sebagai objek
keingintahuan dan perlakuan terburuknya adalah
menjadikan mereka sebagai bahan cemoohan atau bahkan
sasaran kekerasan.
Gangguan gender, misalnya waria. Dari sudut psikologi-
ilmiah, waria “condong” digolongkan pada gangguan
identitas jenis (gender identity disorders). Gangguan ini
ditandai dengan adanya perasaan tidak senang terhadap
jenis kelamin. Dengan begitu, ia berperilaku seperti seperti
lawan jenisnya.Yang masuk dalam golongan ini adalah;
transeksualisme, gangguan identitas jenis masa anak-anak
(pratran-seksualisme) dan gangguan identitas jenis tidak
khas (Pedoman penggolongan dan diagnosis gangguan jiwa.
Tim Direkrorat kesehatan Jiwa, edisi II, cetakan
pertama,1985 halaman223).Perasaan tidak suka pada jenis
kelamin ini bukan karena alat kelaminnya terlalu kecil atau
tidak aktif, sehingga si empunya tidak mendapat kepuasan,
tetapi karena ia merasa alat kelaminnyatidak pada
tempatnya. Dan perasaan terus selalu menggaggu, sehingga
ada keinginan untuk menghilangkan kelaki-lakiannya (kalau
ia merasa perempuan), atau sebaliknya.Di kalangan awam,
tidak sedikit yang memahami atau mempertautkan waria
dengan homoseks,seakan-akan waria identik dengan gay.
Padahal, waria dan gay merupakan fenomena yang terpisah,
betapapun dalam hal-hal tertentu keduanya masih dapat di
golongkan sebagai penyimpangan seksual. Untuk itu ada
baiknya kita lihat penggolongan gangguan yang lain sebagai
pembanding golongan identitas jenis, sehingga pemahaman
akan waria semakin jelas dan gamblang.

23
4) Comorbidity
Secara klinis disebut remaja dengan gender dysphoria
tampaknya memiliki gangguan mental komorbid, dengan kecemasan
dan gangguan depresi yang paling umum. Seperti pada anak-anak,
gangguan spektrum autisme lebih umum pada remaja yang secara
klinis disebut dengan gender dysphoria di populasi umum. Orang
dewasa yang secara klinis dirujuk dengan gender dysphoria mungkin
memiliki masalah kesehatan mental, yang paling umum adalah
gangguan kecemasan dan depresi.
B. Pembahasan
Pada teori diatas dapat dilihat hasil analisi pada kasus yang dialami
oleh subjek SD yang memiliki kecenderungan masuk kedalam kriteria
Gender Dysphoria Pada Remaja dan Dewasa 302.85 (F64.1).
Pada kriteria Gender Dysphoria, seseorang dapat dikatakan masuk
gender dysphoria jika individu tersebut telah mengalami gejala selama 6
bulan berturut. Pada subjek SD ia mengaku sudah memiliki gejala
perubahan sejak berusia kanak-kanak namun baru terlihat perubahan
semenjak memasuki usia remaja. Ada beberapa kariteria gender dysphoria
dewasa yang dimiliki subjek saat ini tetapi karakteristik ini hanya masih
berada dalam episode ringan. Pada beberapa kesempatan jika subjek
diperbolehkan oleh kedua orangtuanya ia ingin menyingkirkan karakteristik
seksual gender wanitanya, akan tetapi pada saat ini ia tidak bisa
melakukannya karena tidak diperbolehkan oleh orangtuanya. Subjek
menerima keadaannya dan nyaman dengan kondisinya saat ini.
Pada diri subjek, menurutnya ia memiliki pikiran, dan jiwa yang
dapat bereaksi atau perasaan yang sama dengan lawan gendernya. Subjek
sering memanifestasikan dirinya ke gender lawannya saat ada moment
atau waktu yang tepat untuknya mengeluarkan sikap laki-lakinya. Jika
bersama dengan kekasihnya terkadang subjek mengambil posisi gender
dirinya sebagai teman perempuan tetapi subjek juga terkadang bisa

24
mengambil posisi gender dirinya sebagai laki-laki.Dalam beberapa hal
karakteristik gender perempuan yang dimilikinya ia hanya ingin
menghindari penampilan seperti pakaian, make up, dan barang-barang
perempuan. Hal itu dikarenakan pada tubuh subjek karakteristik
perempuan itu sendiri tidak terlalu nampak kelihatan sehingga subjek
tidak begitu tertarik untuk melakukan penghilangan atau melakukan
operasi pada dirinya.
Dari hasil test SSCT (Sacs Sentences Completion Test) yang
bertujuan untuk mengetahui cara pandang dan keyakinan subjek
tentang orang lain dan harapan masa depannya. Hasil yang didapat
pada test SSCT, subjek memiliki cara pandang yang buruk terhadap
perempuan. subjek meyakini bahwa kebanyakan wanita itu pemarah,
galak, banyak permintaan, dan ribet. Subjek pula tidak menyukai
kenyataan bahwa perempuan setiap bulannya mengalami
menstruasi. Pada hasil selanjutnya subjek pula menunjukan indikasi
dimasa depannya tentang harapan dalam hubungannya, ia
mengharapkan bahwa adanya penerimaan dari orang-orang lain
tentang hubungannya dengan kekasih terlarangnya. Ini dapat
mengindikasikan subjek untuk terus merubah dirinya menjadi laki-
laki.

25
Lampiran 1

Daftar pustaka

Muliadi Dewi Sartika, 2017. GENDER DYSPHORIA. Palu-Sulteng :


departemen ilmu kesehatan jiwa fakultas kedokteran universitas al-
khairaat
Mantasari Arenta. 2014. Gender Dysphoria & Introduction Gangguan
Kepribadian. NTB : Fakultas Kedokteran Universitas Mataram
Diagnostics and statistical manual of mental disorder, Gender Dysphoria
F64.1: fifth edition (DSM-5)

26
Lampiran 2

2. Guide observasi dan wawancara


2.1 Guide Observasi

No Kriteria Perilaku YES NOT

1 Subjek berpakaian laki-laki

2 Subjek berkeinginan kuat untuk menghilangkan


karakteristik gender murninya
3 Subjek membenci dirinya

4 Subjek dapat menerima dirinya


5 Subjek merasanyama dengan gender lawannya
6 subjek memiliki pikiran dan perasaan seperti
gender lawannya
7 Subjek tidak ingin menghilangkan karakteristik
murninya
8 Subjek berusaha melakukan operasi terhadap
tubuhnya
9 Subjek memiliki ketertarikan dengan lawan jenis

10 Subjek tidak memiliki ketertarikan dengan lawan


jenis
11 Subjek memiliki keinginan yang kuat untuk
diperlakukan seperti lawan gender
12 Subjek memperlakukan orang lain seperti lawan
gender
13 Subjek berperilaku seperti lawn gender

14 Subjek mengoleksi barang-barang lawan gender

15 Subjek bersikap seperti lawan gender jika


bersama perempuan

27
Lanjutan

No Kriteria Perilaku Yes Not

16 Subjek ingin orang lain memperlakukannya


sebagai lawan gender
17 Subjek dapat mengadopsi perilaku lawan gender

18 Subjek mengalami penurunan sosia

19 Subjek dapat memberikan kepastian batin untuk


merasakan dan menanggapi sebagai lawan
gender
20 Subjek mengalami perubahan emosional

21 Subjek merasa ada keabnormalan ditubuhnya


22 Subjek sering mengalami kecemasan dan
gangguan depresi
23 Subjek menjalankan peran tugas sebagai lawan
gender
24 Subjek memiliki keinginan yang kuat untuk tetap
berada di lawan gendernya
25 Subjek berperilaku layaknya lawan gender

28
2.2 Tabel Guide Wawancara
No Karakteristik Pertanyaan
1. Ketidaksuaian yang dialami 1. Bagaimana awalnya kamu bisa
seseorang dari segi gender menjadi gender lawan jenismu?
dan karakteristik seks 2. Berapa lama kamu menjadi
primer dan atau sekunder. gender lawan jenismu?
3. Apakah kamu merasa ada
ketidaksesuaian gender dengan
dirimu ?
4. Apa perasaanmu saat berada
diposisi gender lawan jenismu?
2. Sebuah keinginan yang kuat 1. Apakah ada niat kamu untuk
untuk menyinggirkan menghilangkan kriteria wanita
karakteristik seks primer dalam dirimu?
dan atau sekunder dari 2. Atau apakah kamu ingin lebih
gender yang ditugaskan. mengubah gayamu agar lebih
terlihat maskulin ?
3. Apakah kamu perna berniat
menghilangkan karakter
kewanitaanmu ?
4. Jika kamu memiliki kesempatan
untuk mengubah karakteristikmu
apakah kamu melakukannya?
5. Memiliki keinginan yang 1. Apakah pernah ingin sekali
kuat untuk karakteristik memilki karakteristik dari gender
seks primer dan atau lawan jenismu?
seksual dari lawan 2. Bagaimana perasaanmu
gendernya. terhadap karakteristik laki-laki
yang kamu rasakan ?
3. Adakah perasaan yang kamu

29
rasakan untuk merubah diri
menjadi lebih feminim ?
4. Jika hanya berpenampilan saja
apakah itu cukup untuk
mengatakan kamu puas dengan
gender yang sekarang?
6. Memiliki keinginan yang 1. Apakah kamu pernah berpikir
kuat untuk menjadi lawan untuk menjadi lawan gender ?
gender. 2. Apakah kamu memiliki keinginan
yang kuat untuk menjadi gender
lawanmu?
3. Pernahkah terbesit dipikiranmu
bahwa kamu benar-benar ingin
menjadi gender lain seutuhnya ?
7. Berkeinginan yang kuat 1. Ketika berada dengan teman laki-
untuk diperlakukan sebagai laki atau perempuan kamu ingin
lawan gender yang dianggap sebagai gender apa ?
ditugaskan. 2. Jika bersama kekasihmu kamu
ingin dianggap apa oleh
kekasihmu ?
3. Didalam lingkungan sekitar kamu
suka jika diperlakukan sebagai
gender murni atau lawan
gender?
8. Memiliki keyakinan yang 1. Saat memberikan perhatian atau
kuat bahwa salah satu dari memberikan perasaan kepad
reaksi atau perasaan yang perempuan apakah kamu
sama dengan lawan gender. memposisikan dirimu sebagai
lawan gender?
2. Saat bersama perempuan apakah

30
kamu menyampaikan perasaan
tersebut sebagai laki-laki ?
3. Setiap bersama kekasihmu atau
teman perempuan apakah kamu
sering memberikan reaksi
sebagai laki-laki ?

31
Lampiran 4

Verbati Signifikan Others 1

Interviewer : kutuh aku handak misek tentang subjekkuh ie te kawal ketun


awal ketun kenal ie te kenampi uluh a

(seperti ini aku mau nanya tentang subjekku ya itu teman kalian
awalnya kalian kenal dia itu seperti apa orangnya?)

Informan 1 : awal kenal awal kenal baik...eeee.. terus...eee orangnya


perhatian

Interviewer : bihin pas sundau te memang jadi tomboy kah

(dulu waktu ketemu itu memang sudah tomboy kah ?)

Informan 1 : uuumm.. awal awal memang sudah laki heee.. memang laki

Interviewer : kenampi pendapatmuh penampilan a je kutue

(bagaimana pendapatmu dengan penampilannya?)

Informan 1 : eee... awalnya sih kaya aneh gitu cuman ya lama-lama bisa ja
soalnyakan gak pernah ada teman tomboy

Interviewer : tegelah perilaku a je dia wajar menurut ikau?

(adakah perilakunya yang tidak wajar menurut kamu?)

Informan 1 : perilaku yang tidak wajar...?

Interviewer : perilaku yang tidak wajar misal perilaku je tidak sesuai dengan
gender dia

Informan 1 : eeemmm.. apa yo lah aduh bingung aku nah

Interviewer : misalnya dari sikapnya perilakunya tidak wajar yang tidak


sesuai bahwa dia itu perempua terkait dia yang tomboy

32
Informan 1 : ya kadang kadang te apa yo lah kaya suka aneh yang kaya suka
sembunyi sembunyi gitu nah itu ja pang

Interviewer : sembunyi-sembunyinya itu seperti apa

Informan 1 : misalnya menyembunyikan sesuatu kata ditanya siapa ci gak ada


ja temanku kalau di tanya tu kaya apa lah

Interviewer : ada lah terbesit dipikiranmu bahwa dia berperilaku seperti laki-
laki ?

Informan 1 : ada

Interviewer : waktu seperti apa

Informan 1 : disaat dia video call

Interviewer :terus... dari awal pertemanan sampai sekarang... apa itu

Informan 1 : apa

Interviewer : perilaku yang seperti laki-laki

Informan 1 : eee... apalah..eee...seperti ada ja seperti bersandar, elus rambut


gitu ja

33
Verbatim Subjek

Interviewer : Aku handak misek tentang gender je sekarang ikau alami kira-
kira bara pea ikau jadi tomboy ?

( aku ingin bertanya tentang gender yang sekarang kamu alami


kira-kira sejak kapan kamu sudah menjadi tomboya?)

Interviewee : Aku jadi tomboy tahi jadi bara SMP jadi tomboy

(aku menjadi tomboy sudah lama sejak SMP sudah tomboy)

Interviewer : Awal a te kenampi ikau memiliki keinginan menjadi tomboy?

(Awalnya seperti apa kamu memiliki keinginan menjadi tomboy


?)

Interviewee : Awal a.. awalan puna bara kurik... keinginan a awi mungkin awi
rancak umba bapa kuh dibandingkan dengan indukuh

(awalnya.. awalnya memang dari kecil... keinginannya karena


mungkin karna sering ikut bapaku dibandingkan dengan ibuku)

Interviewer : Jadi ikau meniru bapam ? (Jadi kamu meniru bapamu?)

Interviewee : euumm... (membenarkan)

Interviewer : limbas te pang pemicu a sehingga ikau tau menetapkan arepmuh


menjadi tomboy ?

(selanjutnya apa pemicunya sehingga kamu bisa menetapkan


dirimu menjadi tomboy ?)

Interviewer : pemicu a te bertahap mungkin kan bara sd smp sma

(pemicunya itu bertahap mungkin dari sd smp sma)

Interviewer : kenampi-kenampi ih tahap a ?

(bagaimana saja tahapnya ?)

34
Interviewee : amun sd tuh kan masih kurik baya rambut pendek ih tarus amun
smp te mulai perilaku gaya a amun sma te sama ih perilaku gaya
terus sikap kuh kute nah kute sampai je tepacar mungkin jite

( kalau sd itu kan masih kecil cuman rambut pendek saja terus
kalau smp itu mulai perilaku gayanya kalau sma itu sama saja
perilaku gaya terus sikapku seperti itu sampai ke pacaran
mungkin itu)

Interviewer : perilaku sikap terus gaya te contoh a kanampi misal a bara smp,
sma terus kuliah tuh narai-narai ih perilaku a ?

(perilaku sikap terus gaya itu contohnya seperti apa misalnya dari
smp, sma terus kuliah ini apa saja perilakunya ?)

Interviewee : amun bara smp te ye uluh gaya uluh tomboy te pang pokoknya
baju te baju uluh hatue limbas te kute-kute ih pang

(kalau dari smp itu ya orang gaya orang tomboy itu pokoknya
baju itu baju laki-laki terus itu seperti itu saja lah)

Interviewer : kute a te kenampi ? ( seperti itunya bagaimana ?)

Interviewer : tau ikau sambungkan dengan kejadian je bihin

(bisa kamu kaitkan dengan kejadian dahulu)

Interviewer : contoh.. ikau memberikan contoh a

(contoh... kamu memberikan contohnya)

Interviewee : dari sd kah dari smp ?

Interviewer : terserah..

Interviewee : amun dari sd tu... misalnya ni kaya mainannya tu lebih


kecondong mainan cowonya kaya main kelereng, main kartu,
main layang-layang, main lebok, main tamia, main ps, mani tendo
itu habis tu pas smpnya tu kaya cara jalan cara jalan cewe sama

35
cowo kan beda lo nah punyaku tu kaya lebih mengarah ke cara
jalan cowonya habis tu suka baju baju cowo gitu nah paling suka
beli jaket dulu tu jaket sama sepatu kaya ekskul tu ikut ekskul
karate segala basket kalau sma gak terlalu tomboy pang aku habis
itu tapi tomboy pas kapan rasanya.. semester satu.. semester satu
ya habis itu semester keduanya oleh yang disuruh manjangin
rambut sampai pantat agak feminim terus pas kelas tiganya mulai
lagi tomboy itu perubahan sikapnya apa yo lah kaya itu tu nah
kaya lebih memberikan perhatian ke orang lain gitu tu nah kalau
dengan cowo kan biasa kaya teman ja tapi kalau misalnya
kecewenya tu beda kaya misanya elus kepala, besandar gitu-gitu
pang.

(kalau dari sd itu... misalnya ini kaya mainanya itu lebih condong
mainan cowonya kaya main kelereng, main kartu, main layang-
layang, main lebokm main tamia, main ps, main tendo itu habis
itu waktu smpnya itu kaya cara jalan.. cara jalan perempuan sama
laki-lakikan beda nah punyaku itu kaya lebih mengarah ke laki-
lakinya habis itu suka baju ..baju laki-laki seperti itu paling suka
beli jaket dulu itu jaket sama sepatu kaya ekskul itu ikut ekskul
karate segala basket kalau sma tidak terlalu tomboy aku habis itu
tapi tomboy pas kapan rasanya... semester satu... semester satu ya
habis itu semester keduanya oleh yang disuruh memanjangkan
rambut sampai pantat agak feminim terus waktu kelas tiganya
mulai lagi tomboy itu perubahan sikapnya apa yo lah... seperti itu
seperti lebih memberikan perhatian ke orang lain seperti itu jika
dengan laki-laki kan biasa kaya teman saja tapi jika dengan
perempuannya itu beda misalnya kaya elus kepala, bersandar
seperti itu)

Interviewer : gitu a te kenampi ? ( seperti itunya tu bagaimana ?)

Interviewer : kan kuam muh endau gitu-gitu nah gitu-gitu a te narai


penjabaran a ?

36
(kan kata kamu tadi seperti itu nah seperti itu nya itu apa
penjelasannya ?)

Interviewee : ya maksudnya kaya yang ya kaya kasih perhatian kaya gitu nah

Interviewer : selain jite .. (selain itu)

Interviewee : selain itu tu gak ada am lagi kan bertahap lo dari dari baju
pakaian sampai sikap

Interviewer : amun sekarang tetapkute kah atau bertambah hindai tege sikap je
lebih dari yang sebelumnya ?

( kalau sekarang tetap seperti itu kah atau bertambah lagi ada
sikap yang lebih dari yang sebelumnya?)

Interviewee : kalau sekarang engga sih engga bertambah tapi kaya yang lebih
bisa ngontrol diri kaya gitu tu nah, kalau berteman-berteman ja
kalau misalnya memang mengarahnya kesitu ya kesitu ja kaya
gitu tu nah bisa dikontrol

Interviewer : kesitu a te sifat cowo a kah ? ( kesitunya itu sifat laki-lakiikah ?)

Interviewee : uuummm..umm (membenarkan)

Interviewer : kan endau tege ikam cerita kalau masa kecilmu te ikau lebih
suka bermain permainan cowo lo jite te ikau dia suka kah
permainan cewe ?

(kan tadi ada kamu cerita kalau masa kecilmu kamu lebih suka
bermain permainan laki-laki itu kamu tidak suka kah pernainan
perempuan ?)

Interviewee : eeemmm... engga juga kaya masak-masak tu suka ja tapi oleh


gak ada teman lo dan temanku banyak cowo semua jadi
mainannya itu ay seberataan

37
Interviewer : tanggapanmuh sekarang pang tentang perasaan ikau atau hasrat
ikau je tomboy kutuh ?

(tanggapanmu sekarang tentang perasaan kamu atau hasrat kamu


yang tomboy ini ?)

Interviewee : perasaanku kah aku nyaman ja sudah kaya gini... kaya apa
adanya gitu nah

Interviewer : apa adanya tu lebih condong ke cowo atau ke feminim ?

Interviewee : eeeee.... cowo

Interviewer : tege lah niatmuh handak menihau identitas wanitamuh baik jite
dari segi karakteristik rambut pakaian style segala macam tege lah
niatmuh handak panihau jite ?

(adalah niatmu ingin menghilangkan identitas wanitamu baik itu


dari segi karakteristik rambut pakaian style segala macam ada lah
niatmu ingin menghilangkan itu ?)

Interviewee : kalau misalnya itu tu paling kaya pakaian yang kaya cewe kaya
terlalu kentat pakai rok pakai high hells atau kaya gitu-gitu tu nah
mungkin itu yang mau ku hindari karna gak biasa gak suka kalau
misalnya pakaian cewe tapi masih biasa ja kaya natural biasa ja
kaya gitu menurutku tu wajar ja masih bisa gitu tu nah....kalau
masalah rambut engga pang mau panjang mau pendek tetap sama
ja menurutku gak ada bedanya... kalau misalnya mau
menghilangin jenis kelamin segala macam kayanya gak ada
kepikiran sampai kesitu pang

Interviewer : kalau ikau secara pribadi ikau handak lebih hindailah mengubah
gayamu mangat lebih terlihat maskulin ?

(kalau kamu secara pribadi kamu ingin lebih lagi mengubah


gayamu agar lebih terlihat maskulin?)

38
Intervieweew : paling mau tambah tinggi badan sama gemukin badan sedikit itu
ja pang gak ada yang lain

Interviewer : te dalam hal handak mengubah kanampi biar terlihat narai


dimata orang?

(itu dalam hal ingin mengubah bagaimana biar terlihat apa dimata
orang ?)

Interviewee : aku pengen kaya gitu oleh aku ngerasa badan ku ni pendek atau
aku mau gemuk oleh badan ku ni kurus

Interviewer : berarti beken handak lebih terlihat maskulin atau lebih terlihat
cowo ?

(berarti bukan ingin lebih terlihat maskulin atau lebih terlihat


cowo)

Interviewee : engga juga biasanya kalau terlihat lebih kaya cowo tu lebih
kepakaian tu ja biasanya ..style ja..

Interviewer : menurut ikau narai alasan muh handak mengubah gaya serta
pakaianmuh ?

(menurut kamu apa alasan kamu ingin mengubah gaya serta


pakaianmu?)

Interviewee : oleh gak ribet simpel dan cocok

Interviewer : alasan a te ikau puna handak ..eee.. handak secara pribadikah


atau cuman meniru uluh kah?

(alasannya kamu memang inginn.. ee ingin secara pribadikah atau


hanya meniru orangkah ?)

Interviewee : kadang.. kadang te puna bara pribadikuh kadang aku te kilau


handak handak kia meniru uluh kute te nah awi gitangkuh te
bahalap style a te bahalap

39
(kadang.. kadang itu memang dari pribadiku kadang aku itu
seperti mau juga meniru orang seperti itu nah karna itu menurutku
bagus stylenya itu bagus)

Interviewer : sejauh jituh berarti ikau te meniru orang lain untuk terlihat keren
kilau hatue kute kah ?

(sejauh ini berarti kamu itu meniru orang lain untuk terlihat keren
seperti laki-laki seperti itu kah ?)

Interviewee : bisa dibilang iya

Interviewer : ikau tege lah untuk berubah menjadi feminim ?

Interviewee : uuumm...dulu pernah sekarang engga.. gak ada

Interviewer : kenapa gak ada ?

Interviewee : karna gak mau

Interviewer : alasannya gak mau ?

Interviewee : kaya.. jadi feminim tu kan harus ada niat harusss.. eee...kaya
harus kaya harus aku tu nah mempersiapkan diri dulu kaya gitu tu
nah dan makanya aku gak mau soalnya itu ribet makanya malas

Interviewer : untuk kedepan a tetap ih lah ikau dia handak berubah menjadi
feminim ?

(untuk kedepannya tetap saja lah kamu tidak ingin berubah


menjadi feminim ?)

Interviewee : belum tau juga

Interviewer : berarti untuk sekarang tidak gitu lah

Interviewee : engga

Interviewer : ikau biasa a ture hatue te misal a dari segi pakaian ikau hndak
kia lah kilau ewen ?

40
(kamu biasanya melihat laki-laki itu misalnya dari segi pakaian
kamu mau juga lah seperti mereka ?)

Interviewee : jarang pang dia kia biasa ih ( jarang sih.. gak juga.. biasa saja)

Interviewer : menurut ikau tege dia terbesit melai benak muh te ikau handak
jadi hatue seutuhnya ?

(menurut kamu ada tidak terbesit melai benak kamu itu kamu mau
menjadi laki-laki seutuhnya?

Interviewee : jatun pang (tidak ada)

Interviewer : misal a bihin tege kesempatan untuk merubah diri menjadi hatue
ikau handak lah melakukan ?

(misalnya dulu ada kesempatan untuk merubah diri menjadi laki-


laki mau lah melakukan ?

Interviewee : handak ih amun uluh bakas nyuhu kia ( mau saja jika orang tua
membolehkan juga)

Interviewer : berarti ikau tetap mengontrol jite lah tergantung uluh bakasmuh
?

(berarti kamu tetap mengontrol itulah tergantung orang tuamu ?)

Interviewee : dia (tidak)

Interviewer : dia menurut pribadimuh sendiri ?

(tidak menurut pribadimu sendiri ?)

Interviewee : dia, bara uluh bakas (tidak, dari orang tua)

Interviewer : ikau biasa dengan pacar mu te handak diperlakukan sebagai uluh


hatue atau uluh bawi posisi a ?

(kamu biasa dengan pacarmu itu ingin diperlakukan sebagai hatue


atau bawi posisinya?)

41
Interviewee : dia nentu kia pang awi ikey pacaran te gin pacaran biasa ih tapi
kadang-kadang je bawi a je hakun aku te memperlakukan ie lebih
kalau kute nah kute ih pang

(engga, nentu juga karna kami pacara itu pacaran biasa saja
kadang-kadang yang cewe yang cewenya ingin aku itu
memperlakukannya lebih seperti itu nah gitu pang)

Interviewer : jadi tetap artian a ikau memposisikan diri sebagai hatue lah ?

(jadi tetap artiannya kamu memposisikan diri sebagai laki-laki


gitu ?)

Interviewee : iyoh (iya)

Interviewer : amun dengan uluh bawi je beken pang kilau sahabat ?

(jika dengan perempuan yang lain pang seperti sahabat ?)

Interviewee : biasa ih kilau bahut (biasa saja seperti dulu)

Interviewer : kilau uluh bawi biasa ih (Seperti perempuan biasanya ?)

Interviewee : biasa ih (biasa saja)

Initerviewer : tetap diperlakukan sebagai bawi ih (tetap diperlakukan sebagai


perempuan saja ?)

Interviewee : iyoh (iya)

Interviewer : amun bara hatue pang misal a kawalan hature ikau handak
diperlakukan sebagai bawi kah atau hatue untuk masyarakat
sekitarmuh perasaanmuh te ?

(jika dari laku-laki misalnya teman laki-laki kamu mau


diperlakukan sebagai perempuan kah atau laku-laki untuk
masyarakat sekitarmu perasaanmu itu?)

Interviewee : dia tau terjelaskan mel awi bahut amun bawi lo puna bepanjang
rambut ewen mengaku aku tuh bawi senang kia ewen mander aku

42
tuh hatue sama kilau sama ih posisi a te nah tetap malu-malu kute
nah ewen mander kutuh malu ewen mander kutuh malu kilau
mahamen kute

(tidak bisa terjelaskan mel karna biasanya kalau perempua kan


memang berambut panjang mereka menganggap aku ini cewe
senang juga mereka bilang aku ini cowo sama seperti.. sama saja
posisinya itu nah tetap malu-malu mereka bilang gini malu
...mereka bilang gini malu seperti tersipu malu gitu)

Interviewer : berarti jite tergantung sikon ih lah ? (berartu itu tergantung


kondiri saja ?)

Interviewee : iyoh jadi menurutkuh jatun beda (iya jadi menurutku gak ada
bedanya)

Interviewer : setiap ikau bepander dengan uluh bawi ikau merasalah bertindak
sebagai uluh hatue ? (setiap kamu berbicara dengan cewe
merasalah bertindak sebagai laki-laki?)

Interviewee : emmm.. dia pang kadang te misal aku bepander dengan kawal
kuh amun akrab nyiwut kilau bahut (mengatakan kata kasar) kare
narai-narai pokoknya lepas tapi amun dengan uluh bawi harun
kenal kilau bahut kilau sopan kare narai kute-kute ih

(eemmm... engga pang kadang itu misal aku bepander dengan


temanku kalau akrab bilang kaya biasa (mengatakan kata kasar)
segala apa-apa pokoknya lepas ytapi kalau dengan cewe baru
kenal kaya biasa kaya sopan segala apa gitu-gitu ja)

Interviewer : amun dalam segi memberi perhatian pang ?

(kalau dalam segi memberi perhatian ?

Interviewee : amun dalam segi memberikan perhatian jatun pang dia puji dia
puji kare memberikan perhatian lebih ke teman kaya
menawarkan diri gak ada pang cuman kaya misalnya bantu kaya

43
keluar uang tu mungkin ia kalau yang perhatian lain segala
macam kayanya gak ada

(kalau dala segi memberikan perhatian gak pernah segala


memberikan perhatian lebih ke teman seperti menawarkan diri
gak ada pang cuman kaya misalnya bantu kaya keluar uang tu
mungkin ia kalau yang perhatian lain segala macam kayanya gak
ada)

Interviewer : amun dengan pacarmu pang ? (kalau dengan pacarmuh pang?)

Interviewee : memberikan perhatian ... iya

Interviewer :sebagai cowo atau cewe posisinya ?

Interviewee : cowo

Interviewer : amun dengan ikey kawalan muh ? (kalau dengan kami temanmu
?)

Interviewee : biasa ja

Interviewer : amun je kuam ikau sering kilau sikapmuh kilau manja manja
nah jite kilau bersandar mengelus rambut jite posisi a sebagai
hatue ikau merasa dirimuh ikau melakukan kute dengan uluh ?

(kalau yang katamu sering seperti sikapmu seperti manja-manja


itu seperti bersandar mengelus rambut

Interviewee : iyoh ( iya)

Interviewer : sebagai hatue (sebagai laki-laki)

Interviewee :euum..uummhh...

Interviewer : jadi jite dorongan ikau secara alami atau ikau berpikir ikau harus
kutuh ?

(jadi itu dorongan kamu secara alami atau kamu berpikir kamu
harus begini ?)

44
Interviewee : alami

Interviewer : memang langsung bertindak ?

Interviewee : iyoh natural (iya natural)

Interviewer : ikau kute te ture uluh kah ? melakukan kute ? (kamu seperti itu
melihat orang lain kah ? melakukan seperti itu?)

Interviewee : spontan

Interviewer : bara diri sendiri? (dari diri sendiri?)

Interviewee : ikau kute handak diperhatikan kah atau narai ?

(kamu seperti itu mau diperhatikan kah atau apa ?)

Interviewee : kalau diperhatikan sih engga kayanya kaya aku ni nah punya
kaya kaya empati lebih ke orang lain makanya kaya gitu rasanya

Interviewer : empati narai ? (empati apa ?)

Interviewee : amun aku bersandar dengan uluh bawi te jite spontan langsung
kilau kute nah jite berarti menandakan aku te lagi uyuh lagi tege
masalah lagi puna kilau aku te nah kilau menggau sandaran te
maksud a hapa ku panihau masalahku kute nah tekurang isut
pang beban bahut kute pang amun misal a mengelus kepala te
paling awi uluh uluh bawi te tege masalah atau sedang atau lagi
basingi atau narai

(kalau aku bersandar dengan cewe itu itu spontan langsung seperti
itu nah itu berarti menandakan aku itu lagi lelah lagi ada masalah
lagi memang seperti aku itu nah seperti mencari sandaran itu
maksudnya untuk aku menghilangkan masalahku seperti itu
terkurang dikit sih beban biasanya seperti itu kalau misalnya
mengelus kepala itu paling karna orang seorang wanita itu ada
masalah atau sedang atau lagi marah atau apa)

45
Interviewer : ikau amun ture uluh bawi te pikiranmuh lebih condong ke hatue
lah atau bawi ?

(Kamu kalau melihat cewe itu pikiranmu lebih condong ke laki-


laki atau perempuan ?)

Interviewee : tergantung

Interviewer : tergantung a kanampi misal a contoh ...(tergantungnya


bagaimana misalnya contoh...)

Interviewee :heehee... amun bawi a cantik lebih condong kan hatue tapi amun
uluh a biasa ih dia ih...

(heheee... kalau perempuannya cantik lebih condong ke laki-laki


tapi kalau orangnya biasa saja engga ja..)

Interviewer : dia ih te kenampi ? (engga ja itu bagaimana?)

Interviewee : biasa ih payah ie te dia kare anu (biasa saja melihat dia itu gak
ada apa-apa)

Interviewer : berarti kenampi ikau menghadapi uluh bawi je kute tau ikau
tetap ngontrol a kah atau dia tau ?

(berarti bagaimana kamu menghadapi perempuan yang seperti itu


bisa kah kamu tetap mengontrolnya atau tidak?)

Interviewee : tau aku ngontrol a tapi kan manusia are tege khilaf a

(bisa aku mengontrolnya tapi kan manusia banyak kehilafnya)

Interviewer : te nafsukah atau narai ?(itu nafsukah atau apa?)

Interviewee : nafsu ampi (nafsu sepertinya)

Interviewer : nafsu a te awi buhen? (nafsunya itu karena apa?)

Interviewee : awi ie menarik (karena dia menarik)

Interviewer : terus

46
Interviewee : awi ie cantik (karena dia cantik)

Interviewer : terus

Interviewee : itu pang itu ja yang aku rasa dari segi mungkin dari segi bentuk
tubuhnya

Interviewer : narai pikiran muh ture amun ture uluh bawi je kute pertama kali
?

(apa pikiranmu melihat perempuan yang seperti itu pertama kali?)

Interviewee : seksi

Interviewer : jite ih.. (itu saja)

Interviewee : membenarkan

Interviewer : ikau sekarang lebih are bergaul dengan hatue kah bawi ?

(kamu sekarang lebih banyak bergaul dengan laki-laki atau


perempuan?)

Interviewee : dua duanya

Interviewer : dominan melai kampus ? (dominan di kampus)

Interviewee : bawi (perempuan)

Interviewer : melai luar ? (diluar)

Interviewee : bawi (perempuan)

Interviewer : hatue a pire persen ? (laki-lakinya berapa persen?)

Interviewee : awi melai kampus te isut hatue a jadi are dominan bawi
dibanding je hatue a tapi amun melai hatue uras je hatue ngawal
ku ih

47
(kalau di kampus itu dikit laki-lakinya jadi banyak dominan
perempuan dibandingkan yang laki-laki tapi semua laki-laki aku
temanin)

Interviewer : amun posisimu bergaul uras hatue ikau bersikap kenampi te ?

(kalau posisimu bergaul semua laki-laki kamu bersikap


bagaimana?)

Interviewee : biasa ih, misal a ewen mengajak kutuh-kutuh umba kia

(biasa saja, misalnya mereka mengajak begini-bigini ikut juga)

Interviewer : kutuh a narai (begini nya seperti apa)

Interviewee : kilau mihup umba kia kilau merokok umba kia kilau nanjung
umba kia

(seperti minum ikut juga seperti merokok ikut juga seperti jalan-
jalan ikut juga)

Interviewer : indum saudaramu bapamu te tawa lah ikau berubah ?

(ibumu saudaramu bapamu taukah kamu berubah?)

Interviewee : tawa (tau)

Interviewer : tapi ewen kenampi dengam ? (tapi bagaimana mereka padamu?)

Interviewee : besingi (marah)

Interviewer : besingi dalam hal ? (marah dalam hal )

Interviewee : hal je kutuh tuh (hal yang seperti ini)

Interviewer : kutuh a te narai ? (seperti ini nya apa?)

Interviewee : je aku tege pacar amun masalah tomboy te menerima ih tapi


amun aku tege pacar bawi dia menerima

48
(yang aku ada punya pacar tapi masalah tombou ittu menerima
saja tapi kalau akau punya pacar perempuan tidak terima)

Interviewer : untuk kedepan pang kenampi ikau dalam posisi je sekarang je


masih tomboy ?

(untuk kedepannya bagaimana kamu dalam posisi yang sekarang


yang masih tomboy?)

Interviewee : hindai tawa pang lagi jatun mikir sampai kanih tapi handak a
kedepan tuh jalani ih helu handak fokus kan kerja ih

(belum tau sih lagi tidak ada memikirkan sampai kesitu tapi
maunya kedepan ini jalani saja dulu mau fokus ke pekerjaan saja)

Interviewer : kerja ??

Interviewee : kerja untuk keluarga fokus ke keluarga dulu

Inteviewer : Untuk masalah hubungan ?

Interviewee : setelah keluarga yang kedua tu

Interviewer : kalau sekarang pang ikau kenampi bertingkau laku bersikap te


dibandingkan je helu dengan uluh bawi ?

(kalau sekarang kamu bagaimana bertingkah laku bersikap itu


dibandingkan yang dulu dengan perempuan ?)

Interviewee : amun helu tekan misal a payah uluh bawi te kilau suka kute te
nah dia tau ku ngontrol a te sekarang te aku tau misal a handak ie
te eweh kah handak cantik kenampikah handak kilen ampi kute te
nah tetap ih aku biasa kilau dia narai-narai dia berposisi sebagai
hatue kare narai te dia biasa ih cuman kilau fokus dengan je tege
tuh ih

(kalau dulu itu kan misalnya melihat perempuan itu seperti suka
gitu nah tidak bisa aku mengontrolnya itu sekarang itu aku bisa

49
misalnya mau dia itu siapakah mau canrik bagaimanakah mau
seperti apakah itu tetap saja aku biasa seperti tidak apa-apa tidak
berposisi sebagai laki-laku segala macam itu tidak biasa saja
cuman seperti fokus dengan yang ada ini saja)

Interviewer : te perasaanmu kah ?

(itu perasaanmu kah ?)

Interviewee : iyoh jadi narai misal a tingkah laku kuh te terkontrol awi tege ie
jadi akan ie ih dia akan je beken

(iya jadi apa misalnya tingkah laku itu terkontrol karena ada dia
jadi untuk dia saja tidak untuk yang lain)

Interviewer : ie te pacarmuh ? (dia itu pacarmu?)

Interviewee : iyoh (iya)

Interviewer : mungkin jite ih je aku misek a sekaranglah terima kasih jadi


manenga informasi akang kuh dan next time mungkin aku tege
hindai misek atau observasi ikau terimakasih jadi mandohoplah

(mungkin itu saja yang aku tanyakan sekaranglah terimakasih


sudah memberikan informasi untukku dan next time mungkin aku
ada lagi menanyakan atau observasi kamu terimakasih sudah
menolong)

Interviewee : iyoh (iya)

50
Lampiran 5

Dokumentasi

Gambar dokumentasi dengan subjek

51