Anda di halaman 1dari 32

CRITICAL BOOK REVIEW

Mata Kuliah: Manajemen Perpajakan


ERNY LUXY D.PURBA.,SE.,M.Si.,Ak

OLEH :

Asa Barokah (7173220006)

Atikah Ramadhan(7171220005)
Fahmi luthfi (7173530020)
Fitriyani(7173220011)

AKUNTANSI A/2017

FAKULTAS EKONOMI JURUSAN AKUNTANSI

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

OKTOBER 2018

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan pada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan Rahmat-
Nya, kami dapat menyelesaikan Critical Book Report untuk mata kuliah Manajemen
Perpajakan .
Kami juga ingin bertrimakasih pada pihak-pihak yang telah terlibat dalam
pembuatan makalah ini .Critical Book Report ini berisi tentang kritikan terhadap suatu
buku yang membahas tentang buku Manajemen Perpajakan , yang dipaparkan kelemahan
dan kelebihan dari kedua buku.
Tujuan pembuatan Critical Book Report ini selain untuk memenuhi tugas mata
kuliah Manajemen Perpajakan , juga sebagai referensi bagi siapapun yang membacanya.
Untuk itu kami mohon maaf apabila ada kekurangan dalam makalah ini, semoga
bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.

Medan, Oktober 2018

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR 2
DAFTAR ISI 3

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang 4
B. Tujuan 4
C. Identitas Buku 4

BAB II PEMBAHASAN

a. Bab 1 5
b. Bab 2 7
c. Bab 3 8
d. Bab 4 12
e. Bab 5 14
f. Bab 6 16
g. Bab 7 20
h. Bab 8 21
i. Bab 9 22
j. Bab 10 23
k. Bab 11 25
l. Bab 12 29
m. Bab 13 29
n. Kelebihan dan kekurangan buku 30

BAB III PENUTUP


a. Kesimpulan 31
b. Saran 31

DAFTAR PUSAKA 32

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Di era globalisasi ini, Pajak adalah salah satu pendapatan negara yang
paling besar . Suatu perusahan perlu daanya manajemen pajak yang baik agar
perusahaan tidak sampai ke proses sengketa pajak Hal ini juga akan memberikan
efesiensi dalam pengoptimalan pembayaran pajak suatu entitas

B. Tujuan

Untuk melakukan pengoptimalan dari proses pembayaran fiskal suatu entitas, serta
memenuhi salah satu tugas dari mata kuliah Manajemen Perpajakan.

C. IdentitasBuku

Judul Buku : Manajemen Perpajakan


Penulis : Alistraja Dison Silalahi(1) OK. Sofyan Hidayat(2) Erny Luxy
D.purba(3) Murni Dahlena Nasution(4.
Tahun terbit : 2018
Kota terbit : Medan
Penerbit : Madenatera Qualifiedpublisher
ISBN : 978-602-5470-15-8

4
BAB II

PEMBAHASAN

A. Ringkasan Isi Buku

Bab I
PENGANTAR MANAJEMEN PAJAK

A. Pengertian manajemen perpajakan


Bagaimanapun juga pajak bagi perusahaan tetap sebagai ”beban”(biaya)”.jika
pengelolaan pajak tidak dilakukan dengan teknik yang baik, kemungkinan dikemudian hari
perusahaan terpaksa gulung tikar( rugi)

Secara istilah,manajemen pajak terdiri dari dua kata yaitu manajemen dan
pajak,sehingga dapat ditarik sebuah pengertian sederhana yaitu manajemne pajak sebagai
suatu prose perencanaan,pengorganisasian,pengerahan,dan pengonrolan sumber daya
perusahaan dalam melakukan kewajiban perpajakan secar efektif dan efisien dalam
mencapai tujuan yang diharapkan.Pohan (2013)3 mengatakan bahwa manajemen
perpajakan adalah stategi perencanaan pajak dan bisnis “, manajemen pajak diartikan
ebagai suatu usaha menyeluruh yang dilakukan manajer pajak dalam suatu perusahaan
agar hal-hal yang berhubungan dengan perpajakan dari perusahaan dapat dikelola dengan
baik,efisien,dan ekonomis,sehingga memberikan kontribusi maksimum bagi
perusahaan.lebih lanjut tujuan manajemen pajak adalah untuk menerapkan perauturan
perpajakan dengan benar sebagai usaha efisiensi dalam mencapai laba yang di harapkan.

B. Tujuan manajemen perpajakan

Tujuan manajemen perpajakan dapat di capai melalui tiga fungsi

1. Perencanaan pajak
Perencanaan pajak adalah langkah awal dalam manajemen pajak. Menurut Zain
(2006)4 perencanaan pajak merupakan tindakan penstrukturan yang terkait dengan
konsekuensi potensi pajaknya,yang tekanannya kepada pengendalian setiap
transaksi yang ada konsekuensi pajanya.
2. Pelaksanaan kewajiban perpajakan

5
 Mamahami ketentuan peraturan perpajakan” dengan memepelajari peraturan
perpajakan seperti undang-undang,keputusan presiden,keputusan menteri
keuangan,keputusan dirjen pajak,dan surat edaran dirjen pajak kita dapat
mengetahui peluang-peluang yang dapat dimanfaatkan untuk menghemat beban
pajak.
 Menyelenggarakan pembukuan yang memenuhi syarat” pembukuan merupakan
suatu sarana yang sangat dasar dan penting ddalam penyajian informasi keuangan
perusahaan yang disajikan dalam bentuk laporan keuangan dan menjadi dasar
dalam menghitung besarnya jumlah pajak terutang.
3. Pengendalian pajak
Pengendalian pajak bertujuan untuk memastikan bahwa kewajiba pajak telah
dilaksanakan sesuai dengan yang telah direncanakan dan telah memenuhi
persyaratan formal maupun material.

C. Langkah penerapan manajemen perpajakan


1.analisis informasi yang ada
Seorang manajer perajakan harus memperhatkan faktor-faktor bai dari segi internal
maupun eksternal yaitu:
 Fakta yang relevan
 Faktor pajak
 Faktor non pajak lainnya
2.buat satu model atau lebih rencana kemungkinan besarnya pajak
 Pemilihan bentuk transaksi operasi atau hubungan internasional
 Pemilihan dari negara asing sebagai tempat melakukan investasi atau
menjadi residen dari negara tersebut
 Penggunaan satu atau lebih negara tambahan
3.evaluasi pelaksanaan rencan pajak
4.mencari kelemahan dan kemudian memperbaiki kembali rencana pajak
5.rencana pajak

D. Alat manajemen pajak


 Memahami ketentuan peraturan perpajakan
 Menyelenggarakan pembukuan yang memenuhi syarat

6
E. Strategi perencanaan perpajakan
 Keruitan dari suatu aturan dimana semakin rumit peraturan akan memiliki
dampak (cost compliance) lebih tinggi.
 Besarnya pajak yang terutang, sehingga wajib pajak dapat
mengkalkulasikan dengan baik agar dapat mencapai titik terendah dalam
membayar pajak namun tetap menyimpang dari peraturan perpajakan.
 Risiko diketahui pemeriksa pajak dan sanksi perpajakan,wajib pajak
memiliki keinginan untuk melakukan penyimpangan dala melakukan
kewajiban perpajakannya
a.tax compliance” secara sederhana pengertian kepatuhan pajak menurut james and
alley adalah sekedar menyengkut sejauh mana wajib pajak memenuhi kewajiban
perpajakannya sesuai aturan perpajakan yang berlaku.
b.tax ligitation” adalah usaha-usaha untuk menyelesaikan perselisihan atau
sengketa pajak dengan pihak lain.
c.tax research” merupakan proses mencar jawaban dan solusi dari sebuah kasus
perpajakan.
F. aspek-aspek manajemen pajak yang efisien
 aspek normal dan administratif
 aspek matrial
G. modus penghindaran pajak
 tax saving
 tax avoidance
H. kedudukan ketaatan pajak dengan efisien dalam manajemen pajak
 pelaksanaan kewajban perpajakan
 pengendalian perpajakan

Bab II

MANAJEMEN PERPAJAKAN MELALUI PEMILIHAN BENTUK BADAN USAHA

A. pengertian perusahaan
perusahaan merupakan badan usaha yang menjalankan kegiatan dibidang
perekonomian,yang dilakukan secara terus menerus,atau teratur,terang-
terangan,dengan tujuan memperoleh keuntungn atau laba
B. Tujuan perusahaan

7
Tujuan utama perusahaan adalah mencapai laba yang optimum guna
memaksimalkan nilai para pemegang saham.selain itu perusahaan nirlaba bertujuan
untuk memberikan manfaat bagi komunitas masyarakat, seperti melakukan
penelitian dibidang kesehatan atau perlindungan terhadap sumber daya alam.
C. Jenis-jenis perusahaan
 Perusahaan perseorangan
 Persekutuan perdata
 Firma
 Perpajakan firma
 Perekutuan komanditer
 Perseroan terbatas

Bab III

MANAJEMEN PERPAJAKAN PADA PPH PASAL 1

Pph pasal 21 adalah apajak atas penghasilan berupa gaji,upah


humorarium,tunjangan dan pembayaran lain dengan nama apapun sehubungan dengan
pekerjaan atau jabatan ,jasa,dan kagiatan yang dilakukan oleh wajib pajak orang pribadi
dalam negeri.

 Per 31/pj/2012 tentang pedoma teknis tata cara pemotongan,penyetoran dan


pelaporan pph pasal 21 dan/ atau pph pasal 26
 UU pph pasal 26, dalam UU pph no 36 tahun 2008
 Peraturan pemerintah (pp) nomor 149 tahun 2000
 PER-32/pj/2015. Petunjuk pelaksanaan dalam,memotong mnyetor dan melaporkan
pph pasal 21 dan pasal 26.(terbaru)
 Peraturan menteri keuangan nomor 122/pmk.010/2015,tentang penghasila tidak
kena pajak pada tabel 1.

A. Pemotongan pph pasal 21 secara umum


a) Pemberi kerja,yang terdiri dari orang pribadi dan badan
b) Bendaharawan atau pemegang kas pemerintahan baik puat maupun daerah

8
c) Dana pensiun,badan penyelenggara jaminan sosial tenaga kerja,dan badan-
badan lain yang membayar uang pensiun dan tunjangan hari tua atau
jaminan hari tua
d) Orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas serta
badan yang membayar
 Honorarium atau pembayaran lain sebagai imbalan sehbungan
dengan jasa dan/atau kegiatan yang dilakukan oleh orang pribadi
dengan status subjek pajak dalam negeri,termasuk jasa tenaga ahli
yang melakukan pkerjaan bebas dan bertindak untuk dan atas
namanya sendiri,bukan untuk dan atas nama persekutuannya
 Honorarium atau pembaaran lain sebagai imbalan sehubungan
kegiatan dan jasa yang dilakukan oleh orang pribadi dengan status
subjek pajak luar negeri
 Honorarium atau imbalan lain kepada pesertanpendidikan,pelatih, &
magang
e) Penyelenggara kegiatan, termasuk badan pemeintah,organisasi yang bersifat
nasional dan internasional,perkumpulan,orang pribadi serta lmbaga lainnya
yang menyelenggarakan kegiatan,yang membayar honorarium,hadiah,atau
juga penhargaan dalam bentuk apapun kepada wajib pajak orang pribadi
dalam negeri berkenaan denga suatu kegiatan.

B. Hak dan kewajiban pemotong pajak


a) Hak pemotong pajak
 Pemotong pajak berhak untuk mengajukan permohonan
memperpanjang jangka waktu penyampaian spt tahunan pasal 21
 Pemotong pajak berhak untuk memperhitungkan kelebihan setoran pph
pasal 21 dalam satu bulan takwim dengan pph pasal 21 yang terutang
pada bulan berikutnya dalam tahun takwim yang bersangkutan.
 Pemotong pajak berhak untuk memperhitungkan kelebihan setoran
pada spt tahunan dengan pph pasal 21 yang terutang pada bulan waktu
dilakukan perhitungan tahunan,dan jika masih ada sisa kelebihan,maka
diperhitungkan untuk bulan-bulan lainnya dalam tahun berikutnya.

9
 Pemotong pajak berhak untuk membetulkan sendiri spt atas kemuannya
sendiri dengan menyampaikan pernyataan tertulis dalam jangka waktu
dua tahun sesudah saat terutangnya pajak atau berakhirnya masa
pajak,bagian tahun apajak atau tahun pajak,dengan syarat direktur
jenderal pajak belum melakukan tindakan emeriksaan.
 Pemotong pajak mengajukan surat keberatan kepada direktur jenderal
pajak atas surat ketetapan pajak kurang bayar,surat ketetapan pajak
kurang bayar tambahan,surat ketetapan pajak lebih bayar,surat
ketetapan pajak nihil.
 Pemotong pajak mengajukan permohonan banding secara tertulis dalam
bahasa indonesia dengan alasan yang jelas kepada badan peradilan
pajak terhadap keputusan mengenai keberatannya mengenai
keberatannya yang ditetapkan oleh direktur jenderal pajak.
b) Kewajiban pemotong pajak
 Pemotong pajak wajib mendaftarkan diri ke kantor pelayanan pajak
 Pemotong pajak wajib mengambil sendiri formulir-formulir yang di
erlukan
 Pemotong pajak wajib melaporkan penyetoran pph pasal 21 yang
terutang untuk setiap bulan takwim
 Pemotong pajak wajib melaporkan penyetoran pph pasal 21 sekalipun
nihil
 Pemotong pajak wajib menyerahkan bukti pemotongan pph pasal 21
 Pemotong pajak wajib memberikan bukti pemotongan pph pasal 21
tahunan kepada pegawai tetap
 Dalam waktu dua bulan setelah tahun takwim berakhir, pemotongan
pajak
C. Subjek pajak penghasilan pasal 21
 Pegawai
 Penerima uang pesangon
 Bukan pegawai
 Peserta kegiatan
D. Tidak termasuk subjek PPh
 Pejabat lain dari negara asing

10
 Pejabat perwajilan organisasi internasional
E. Hak dan kewajiban
 Wajib pajak memberikan bukti pemotongan pph pasal 21 kepada emotong
pajak
 Pengajuan surat keberatan kepada direktur jenderal pajak jika pemotongan
pajak tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku
 Wajib pajak berhak mengajukan permohonan banding secara tertulis dalam
bahasa indonesia dengan alasan yang jelas kepada badan peradilan pajak
F. Objek pph pasal 21
 Pegawai tetap
 Menrima uang peniun
 Menerima uang pesangon
 Tenaga kerja lepas atau upah harian,upah mingguan,upah satuan dll
 Imbalan kepada bukan pegawai
 Imbalan kepada peserta kegiatan
 Pengahsilan honorarium
 Penghasilan berupa jasa roduksi
 Penghasilah berupa penarikan dana pensiun oleh peserta proram pensiun
yang masih berstatus sebagai pegawai
G. Bukan objek pph pasal 21
 Pembayar manfaat atau santunan asuransi
 Penerima dalam bentuk natura
 Tunjangan hari tua
 Zakat yang di terima oleh pribadi
 Beasiswa
H. Formulasi kebijakan pph pasal 21
 Pph pasal 21 ditanggung oleh karyawan
 Pph pasal 21 ditanggung oleh perusahaan
 Pph pasal 21 dalam bentuk tunjangan

11
BAB IV MANAJEMEN PERPAJAKAN PADA PPH PASAL 22

PEMUNGUT DAN OBJEK PAJAK PPH PASAL 22

Pemungut PPh pasal 22 adalah :

1. Bank devisa dan direktorat jendral bea dan cukai, atas impor barang,
2. Bendahara pemerintah dan kuasa pengguna anggaran sebagai pemungut pajak pada
pemerintah pusat , pemerintah daerah dan instansi lainnya,
3. BUMN adalah badan usaha yang seluruh modalnya dimiliki oleh negara melalui
penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan,
4. Produsen atau importir bahan bakar minyak , bahan bakar gas dan pelumas , dll.

TARIF PAJAK

Ada dua tarif pajak penghasilan 22 yaitu :

1. Atas impor :
 Menggunakan api (angka pengenal impor) : 2,5% X nilai impor
 Tidak menggunakan API : 7,5% X nilai impor
 Tidak dikuasai : 7,5% X harga jual lelang

2. Atas pembelian barang yang dibiayai dengan APBN dan APBD


Rumusnya : 1,5% X harga pembelian .

3. Atas penjualan hasil produksi atau penyerahan barang :


Badan usaha bergerak dibidang
1) Industry otomotif : 0,45% dari pasar pengenaan pajak PPN
2) Industry Rokok : 0,1% dari harga banderol .

Pertamina dan Badan Usaha

1) SPBU swastanisasi : 0,3% dari penjualan


2) SPBU dari pertamina : 0,25% dari penjualan

TATA CARA PEMUNGUTAN DAN PENYETORAN PPH PASAL 22

1. Pemungutan atas impor barang dilaksanakan dengan cara penyetoran oleh


pengimpor yang bersangkutan ke bank devisa atau bendaharawan direktorat jendral
bea dan cukai,
2. Pemungutan atas hasil penjualan dilakukan dengan cara pemungutan dan
penyetoran oleh pemungut pajak atas nama wajib pajak ke kantor pos dan giro,
3. Hasil produksi dilakukan dengan cara penyetoran oleh penyalur, agen , dan
pembeli lainnya dikantor pos atau ke bank persepsi.

12
PPH PASAL 22 ATAS PENJUALAN HASIL INDUSTRI SEMEN , ROKOK KRETEK,
KERTAS , BAJA OTOMOTIF

Atas penjualan hasil produksi yang dilakukan oleh badan usaha yang bergerak di bidang :

1. Industry semen sebesar 0,25% dari dasar pengenaan pajak (DPP) pajak
pertambahan nilai (PPN),
2. Industry rokok kretek sebesar 0,15% dari harga bandrol dan bersifat final,
3. Industry kertas sebesar 0,1% dari DPP PPN,
4. Industri baja sebesar 0,3% dari DPP PPN,
5. Industry otomotif 0,45% dari DPP PPN,
6. Industry semua jenis obat 0,3% .

PPH PASAL 22 ATAS PENJUALAN HASIL PRODUKSI PERTAMINA DAN BADAN


USAHA SELAIN PERTAMINA

1. Premium SPBU swasta 0,3% dari penjualan Rp. 2.100/KL , untuk SPBU pertamina
sebesar 0,25% dari penjualan Rp 1.750/KL,
2. Solar SPBU swasta 0,3% dari penjualan Rp 1.140/KL dan untuk SPBU pertamina
0,25% dari penjualan Rp 9.500/KL,
3. Premix SPBU swasta 0,3% dan untuk SPBU pertamina 0,25% dari penjualan,
4. Minyak tanah 0,3% dari penjualan Rp 912/KL,
5. Gas LPG 0,3% dari penjualan Rp 2.250/KL
6. Pelumas sebesar 0,3% dari penjualan

Keterangan :

PPh pasal 21 atas penjualan hasil pertamina dan badan lain yqang bergerak dibidang bahan
bakar minyak jenis premix dan gas bersifat final.

PPH PASAL 22 ATAS BARANG SANGAT MEWAH PER DIRJEN 19/PJ/2015 DAN
PER 24/PJ/2015

Pph pasal 22 dikenakan 5% atas penjualan barang sangat mewah , yaitu :

1. Pesawat pribadi dan helicopter pribadi,


2. Kapal pesiar, yach dan sejenisnya,
3. Rumah dan beserta tanah yang harga jualnya lebih dari Rp 5.000.000.000 (lima
milyar rupiah) atau luas bangunan lebih dari 400meter persegi
4. Apartemen , kondominium yang harga jualnya lebih dari 5M dan bangunan lebih
dari 500meter persegi

PENGAJUAN SURAT KETERANGAN BEBAS PPH PASAL 22

1. Wajib pajak dalam tahun pajak berjalan daoat menunjukkan tidak terutang PPh
karena mengalami keruguian fiscal,

13
2. Wajib pajak berhak melakukan kompensasi kerugian fiscal sepanjang kerugian
tersebut yang jumlahnya kebih besar dari perkiraan penghasilan netto tahun pajak
bersangkutan,
3. Pajak penghasilan yang telah dibayar lebih besar dari pajak penghasilan yang
teritang sehingga akan menyebabkan lebih bayar.

Ketentuan mengenai dasar pemungutan diatur dalam peraturan mentri keuangan (PMK)
nomor 16/PMK.010/2016 dan PER 24/PJ/2015.

BAB V MANAJEMEN PERPAJAKAN PADA PPH PASAL 23 DAN PPH PASAL 26


Dasar Hukum:

 UU PPh pasal 23, dalam UU PPh pasal No.36 Tahun 2008


 PMK 244/PMK03/2008 tentang jenis Jasa Pajak Penghasilan
 PMK 141/PMK.03/2015 Pemotongan PPh atas Jasa

Pemotong PPh Pasal 23 :


1. Badan pemerintahan, subjek pajak dalam negeri, penyelenggara kegiatan, bentuk usaha
tetap, atau perwakilan perusahaan luar negeri lainnya
2. Wajib pajak orang pribadi dalam negeri yang ditunjuk sebagai pemotong PPh 23

Tarif dam Objek PPh Pasal 23


1. Sebesar 15% dari jumalah bruto atas dividen, bunga, royalty dan bunga
2. Sebesar 2 % dari jumlah bruto atas sewa dan imbalan sehubungan dengan jasa teknik,
jasa manajemen, jasa konstruksi, jasa konsultan
1. Dividen

Dividen merupakan suatu bagian laba yang diperoleh pemegang saham tau pemegang polis
asuransi atau pembagian sisa hasil usaha koperasi yang diperoleh anggota koperasi.

2. Bunga

Yaitu bunga pinjaman dari WP Badan ke WP Badan dan/atau dari WP Orang pribadi ke
WP Orang pribadi serta denda keterlambatan pembayaran. Saat terutangnya pajak adalah
pada saat pembayaran dan saat jatuh tempo pembayaran yaitu saat kewajiban untuk
melakukan pembayaran yang didasarkan atas kesepakatan, baik yang tertulis maupun tidak
tertulis

14
3. Royalti

Adalah suatu jumlah yang dibayarkan atau terutang dengan cara atau perhitungan apa pun,
baik yang dilakukan secara berkala maupun tidak. Saat terutangnya adalah pada saat yang
ditentukan dalam kontrak atau perjanjian atau faktur.

4. Jasa penunjang di bidang penambangan migas & panas bumi

Yaitu :

- Jasa penyemenan dasar


- Jasa penyemenan perbaikan
- Jasa pengontrolan pasir
- Jasa pengasaman
- Jasa pertakan hidrolika
- Jasa nitrogen dan gulungan pipa
- Jasa uji kandung lapiran
- Jasa reparasi pompa reda
- Jasa pemasangan instalasi dan perawatan
- Jasa pengganti peralatan/material
5. Jasa penambangan dan Jasa penunjang dibidang penambangan selain migas, antara
lain :
- Jasa pengobaran
- Jasa penebasan
- Jasa pengupahan
- Jasa penambangan
- Jasa pengangkutan
6. Jasa penunjang dibidang penerbangan dan Bandar udara adalah:
- Bidang aeronautika termasuk jasa pendaratan, penempatan, penyimpanan
- Bidang non-aeronautika termasuk jasa catering di pesawat

Dikecualikan dari Pemotongan PPh Pasal 23

Yaitu :

 Penghasilan yang dibayar atau terutang kepada bank

15
 Sewa yang dibayarkan atau terutang sehubungan dengan sewa guna usaha dengan hak
opsi
 Dividen sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat 3 huruf f
 Bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan

Manajamen Pajak dengan Metode GROSS UP


Hal ini dilakukan agar rekanan tetap menerima penuh pembayaran dan perusahaan tetap
bisa mengganggapnya sebagai Deductible Expenses(DE) dalam perhitungan PPh
badannya.
Rumus yang bisa dipakai untuk Gross-up yaitu :
DPP(tidak termasuk PPN) x 1/(1-Tarif Pajak)

BAB VI MANAJEMEN PERPAJAKAN PADA PAJAK PERTAMBAHAN NILAI(PPN)

Pajak Pertambahan Nilai merupakan pajak yang dikenakan atas konsumsi barang atau jasa,
PPN dikenakan terhadap jalur distribusi dan jalur produksi.
Dasar Hukum

 UU PPN Nomor 42 Tahun 2009


 PMK-151/PMK 03/2013
 PER-16/PJ/2014

PPN

PPN dikenakan atas:

 Penyerahan barang kena pajak yang dilakukan di daerah pabean dalam lingkup
perusahaan atau pekerjaan oleh pengusaha yang menghasilkan,mengimpor,
mempunyai hubungan istimewa dengan pengusaha yang menghasilkan Barang Kena
Pajak
 Penyerahan barang kena pajak kepada pengusaha kena pajak yang dilakukan di daerah
pabean dalam lingkungan perusahaan atau pekerjaan oleh pengusaha yang memilih
untuk dikukuhkan menjadi PKP
 Impor barang kena pajak
 Penyerahan jasa kena pajak

16
Barang dan Jasa yang tidak dikenai PPN

1. Barang yang tidak dikenai PPN


Yaitu:
- Barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil langsung
dari sumbernya
- Barang barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat
banyak seperti beras
- Makanan dan minuman yang disajikan baik di hotel,restoran, rumah makan
- Uang,emas batangan, dan surat berharga
2. Jasa yang tidak dikenai PPN
Yaitu :
- Jasa pelayanan kesehatan medis, seperti jasa dokter umum
- Jasa pelayanan sosial, seperti jasa pelayanan panti asuhan
- Jasa pengiriman surat dengan perangko
- Jasa keuangan
- Jasa asuransi
- Jasa keagamaan
- Jasa pendidikan

Pajak Penjualan atas Barang Mewah

Dikenakan atas :

 Penyerahan barang kena pajak yang tergolong barang mewah yang dilakukan oleh
pengusaha yang menghasilkan barang kena pajak yang tergolong barang mewah
tersebut didalam daerah pabean dalam lingkungan perusahaan da pekerjaannya
 Impor barang kena pajak yang tergolong barang mewah

Tariff PPN Barang dan Jasa, Tarif PPN atas Barang Mewah

Tariff PPN barang kena pajak dan jasa kena pajak adalah 10%. Tariff PPN atas ekspor
barang kena pajak adalah 0%. Sedangkan untuk tarf penjualan atas barang mewas
dikelompokkan menjadi beberapa kelompok tariff yaitu terendah 10% dan maksimal 200%
dengan pembagian pada kelompok kendaraan bermotor dan non kendaraan bermotor.

Dasar Pengenaan Pajak

17
Yaitu :

 Harga jual
 Penggantian
 Nilai impor
 Nilai ekspor

Cara Menghitung PPN

PPN keluaran = Tarif (10%) x DPP (Nilai transaksi penjualan)

PPN Masukan = Tarif (10%) x DPP (Nilai transaksi pembelian)

Total PPN Masukan – PPN Keluaran = Pajak kurang bayar atau lebih bayar

Jika PPN Masukan lebih besar dari PPN keluaran maka lebih bayar

Jika PPN Masukan lebih kecil dari PPN keluaran maka kurang bayar

Faktur Pajak

Adalah bukti pungutan PPN yang sah untuk masukan dan pajak keluaran dan merupakan
sarana dalam mekanisme kredit pajak.

Saat Pembuatan Faktur Pajak

Faktur pajak harus dibuat pada :

 Saat penyerahan barang/ jasa kena pajak


 Saat penerimaan pembayaran dalam hal penerimaan pembayaran terjadi sebelum
penyerahan barang/jasa kena pajak
 Saat penerimaan pembayaran termin dalam hal penyerahan sebagian tahap pekerjaan
 Saat lain yang diatur dengan atau berdasarkan peraturan menteri keuangan tersendiri

E-Faktur

Penerapan e-Faktur didasari oleh lahirnya Peraturan Direktur Jendral Pajak No.16 Tahun
2014 Tentang tata cara pembuatan dan pelaporan faktur pajak berbentuk elektronik.

18
Manajemen Pajak Dengan Cara Menjaga Kepatuhan Pada UU PPN

Hal hal yang selalu perlu dilakukan dalam melakukan perencanaan pajak yaitu :

 Review faktur pajak berdasarkan ketentuan perpajakan yang berlaku


 Pembayaran(penyetoran) tidak lebih dari tanggal terakhir bulan berikutnya
 SPT Masa PPN selalu dilaporkan pada tanggal bulan berikutnya
 Memastikan system pengarsipan atau penyimpanan dokumen PPN yang rapi dan
terdokumentasi untuk dapat menghadapi pemeriksaan
 Ekualisasi harus dapat menjelaskan keterkaitan perbedaan antara penjualan yang
dilaporkan pada SPT PPh badan dengan penjualan yang dilaporkan pada SPT Masa
PPN

Bicara soal restitusi PPN pasti kita sepakat urusannya bakal sulit. Berbagai
peraturan dan undang undang telah digelontorkan untuk mempermudah ens ojak (PKP)
dalam melakukan restitusi PPN tapi kendala tetaplah ada. Terjadinya restitusi PPN
dikarenakan PKP kelebihan membayar PPN, dimana angka PPN Masukan lebih besar
setelah dikurang dengan PPN Keluaran. Ad cara untuk mengatasi kelebihan pembayaran
PPN, pertama cara kompensasi kedua cara restitusi, PKP lebih banyak memilh cara
pertama karena jika cara kedua akan mengalami pemeriksaan, sedangkan memilih cara
kesatu tidak langsung mengalami pemeriksaan pajak pada saat SPT masa. Konsekuensi
PKP ketika melakukan kompensasi secara terus-menerus adalah dari sisi cashflows karena
hal ini akan yang mengendap di Kas Negara, padahal jika dana itu bernominal signifika
kan ke pihak otoritas pajak terjadi dan akan sangat dibutuhkan perusahaan (PKP) untuk
digunakan dalam aktivitas bisnisnya Tulisan ini akan mencoba mengkalkulasikan dampak
kerugian atas restitusi yang tertunda. Faktor pendapatan bunga pun menjadi alat ukur yang
akan diperbandingkan, jlka uang kelebihan pajak tersebut disimpan dalam bentuk tabungan
atau deposito, karena jika tertahan uang kelebihan PPN tersebut di Kas Negara, PKP tidak
mendapatkan penghasilan bunga .
Sehubungan dengan restitusí PPN, ada peraturan yang cukup efektif dan berpihak
dengan dunia bisnis ini yang tertuang dalam PMK Nomor 54/PMK.03 2009, yang
menjelaskan sehubungan dengan PKP yang memenuhi persyaratan tertentu juga
mendapatkan fasilitas khusus berupa pengembalian pendahuluan, dimana kriteria PKP
yang memenuhi persyaratan tertentu meliputi :
1. Wajib Pajak orang pribadi yang tidak menjalankan usaha atau pekerjaan bebas.

19
2. Wajip Pajak orang pribadi yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas yang
menjalankan pembukuan dengan:
a. Jumlah peredaran usaha yang tercantum dalam Surat Pemberitahuan Tahunan
Pajak Penghasilan paling banyak sama dengan batasan peredaran usaha Wajib
Pajak orang pribadi yang diperbolehkan menghitung pen hasilan neto dengan
menggunakan norma perhitungan netto (Rp4,8 millar)
b. Jumlah lebih bayar menurut SPT Tahunan PPh kurang dari Rp1.000.000
c. Jumlah lebih bayar menurut SPT Tauhanan PPh paling banyak 0,5% dari
jumlah peredaran usaha sebagaimana yang dimaksud.

BAB VII MANAJEMEN PERPAJAKAN PADA PAJAK PENGHASILAN BADAN

PPh Badan merupakan Pajak Penghasilan atas penghasilan yang lazimnya disebut
Penghasilan Kena Pajak (PKP) atau laba kena pajak. Perencanaan pajak PPh Badan
memiliki persoalan yang cukup kompleks di banding jenis-jenis pajak lainnya karena PPh
Badan tak bisa dilepaskan dari akuntansi keuangan. Secara menyeluruh PPh akanterkait
PPh Pasal 21, PPh Pasal 22, PPh Pasal 23/26, PPh Pasal 4 ayat 2 (Final) dan PPN
tentunya.

LABA KOMERSIAL VERSUS LABA FISKAL

Laba Komersial merupakan pengukuran laba yang lazim digunakan dalam dunia
bisnis baik untuk kepentingan pasar modal (bursa efek), perbankan, maupun Rapat Umum
Pemegang Saham (RUPS).

Agar dapat melakukan perhitungan secara benar dan tepat, wajib pajak perlu memahami:

1. Penghasilan yang menjadi objek pajak (taxable) dan bukan objek pajak (non
taxable).
2. Penghasilan yang pajaknya dikenakan secara final.
3. Biaya yang boleh dikurangkan dari penghasilan bruto (deductible expenses).
4. Biaya yang tidak boleh dikurangkan dari Penghasilan bruto (non-deductible
expenses).

PPH PASAL 21 KARYAWAN

Karyawan diberikan tunjangan PPh Pasal 21, tunjangan ini dicantumkan dalam slip
gaji pegawai sehingga tunjangan itu dapat dijadikan gaji karyawan dan menyatu dalam
akun gaji dan tunjangan karyawan dan semua boleh diakui sebagai biaya yang menjadi
pengurangan penghasilan bruto.

20
NATURA DAN KENIKMATAN YANG BOLEH DIBEBANKAN SEBAGAI BIAYA

1. Tempat tinggal termasuk perumahan bagi pegawai dan keluarganya sepanjang


dilokasi pekerja tidak ada tempat tinggal yang dapat disewa.
2. Pelayanan kesehatan,sepanjang di lokasi pekerja tersebut tidak ada tempatnya.
3. Pendidikan bagi pegawai dan keluarganya, sepanjang lokasi pekerja tersebut tidak
ada pendidikan yang setara.
4. Pengangkutan bagi para pegawai di lokasi pekerja, untuk pengangkutan bagi
keluarga terbatas pada pengangkutan sehubungan dengan kedatangan pertama ke
lokasi kerja dan berpergian pegawai dan keluarganya karena terhentinya hubungan
kerja.
5. Olahraga bagi pegawai dan keluarganya, sepanjang di lokasi pekerja tidak ada
sarana yang dimaksud. Sarana olahraga tidak termasuk boating, golf dan pacuan
kuda.
6. Atas Pengeluaran perusahaan dalam bentuk natura diatas bukan merupakan
penghasilan karyawan.
7. Penetapan daerah terpencil diberikan untuk jangka waktu 10 tahun dan dapat di
perpanjang.

MENGOPTIMALKAN KREDIT PAJAK PPH

Pajak penghasilan yang dapat dikreditkan dengan PPh badan terutang selain PPh
pasal 25 adalah Pajak penghasilan yang dibayar sendiri maupun dipungut oleh pihak lain
yang sifatnya tidak final. PPh yang dikreitkan antara lain antara lain PPh atas pengalihan
tanah dan / atau bangunan bagi perusahaan yang tidak bergerak di bidang real estate, PPh
Pasal 22 Impor, PPh Pasal 22 atas pembelian BBM dari Pertamina untuk keselain
penyalur, PPh Fiskal Luar Negeri , PPH pasal 23 atas Bunga dari dari Non Bank, Royalti,
PPh Pasal 24 yang dipotong di luar negeri. Persiapan dalam administrasi yang baik dapat
dilakukan dengan meminta bukti potongan PPh-nya dan tidak perlu dipungut sampai akhir
tahun pajak.

BAB VIII MANAJEMEN PERPAJAKAN ATAS LEASING

A. PIHAK-PIHAK YANG TERLIBAT DALAM LEASING


1. LESSOR
Lessor adalah perusahaan leasing atau pihak yang memberikan jasa
pembiayaan kepada pihak lessee dalam bentuk barang modal
2. LESSEE
Lessee adalah perusahaan atau pihak yang memperoleh pembiayaan dalam
bentuk barang modal dari lessor.
3. SUPPLIER
Supplier adalah perusahaan atau pihak yang mengadakan atau menyediakan
barang untuk dijual kepada lessee dengan pembayaran secara tunai oleh lessor.

21
4. BANK
Dalam suatu perjanjian atau kontrak leasing, pihak bank atau kreditor tidak
terlibat secara langsung dalam kontrak tersebut, namun pihak bank memegang
peranan dalam hal menyediakan dana kepada lessor, terutama daalam
mekanisme leverage lease dimana sumber dana pembiayaan lessor diperoleh
melalui kredit bank.

B. PENGGOLONGAN PERUSAHAAN LEASING


Perusahaan leasing dalam menjalankan kegiatan usahanya dapat digolongan
ke dalam 3 (tiga) kelompok, yaitu: Independent leasing company, Captive lessor,
Lease broker atau packager.

C. KELEBIHAN LEASING SEBAGAI SUMBER PEMBIAYAAN


1. Pembiayaan Penuh
2. Lebih Fleksibel
3. Sumber Pembiayaan Alternatif
4. Off Balance Sheet
5. Arus Dana
6. Proteksi Inflasi
7. Sumber Pelunasan Kewajiban,dll

D. PERBANDINGAN ANTARA PPH DAN AKUNTANSI


Tidak ada perbedaan prinsip antara PPh dan akuntansi baik dari pihak lessor
maupun Lessee dalam pencatatan dan pengakuan penghasilan dan biaya,
perbedaannya dalam menghitung penyusutan yang merupakan beda waktu.

BAB IX MANAJEMEN PERPAJAKAN DALAM SEKTOR UMUM

A. Pengertian UMKM
UMKM menurut Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2008
tentang usaha mikro, kecil, dan menengah ialah sebagai berikut :

1. Usaha mikro adalah usaha produktif milik orang perorang dan/atau badan
usaha perorang yang telah memenuhi criteria usaha mikro sebagai mana
diatur dalam undang-undang ini.
2. Usaha kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang
dilakukan oleh orang perorang atau badan usaha yang bukan merupakan
anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai,
atau menjadi bagian baik lansung maupun tidak lansung dari usaha
menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria usaha kecil sebagai
mana dimaksud dalam undang-undang ini.
3. Usaha menengah ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan
oleh orang perorang atau badan usaha yang bukan merupakan anak

22
perusahaan atau cabang perusahaan yyang dimiliki, dikuasai, atau menjadi
bagian baik secara lansung maupun tidak lansung dengan usaha kecil atau
usaha besar dengan kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagai
mana diatur dalam undang-undang ini.

Berikut adalah klasifikasi UMKM berdasarkan Undang-undang No. 20 tahun 2008


:

No Usaha Kriteria Aset Kriteria Omset

1 Usaha Mikro Maks 50 juta Maks 300 juta

2 Usaha Kecil > 50 juta – 500 juta > 300 juta – 2,5 miliar

3 Usaha Menengah > 500 juta – 1 miliar > 2,5 miliar – 50 miliar

B. Peran UMKM
Usaha mikro kecil menengah ( UMKM ) mengambil andil yang penting
dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, tidak hanya di negara yang
sedang berkembang melainkan juga di Negara maju. Di Negara maju UMKM
sangat penting tidak hanya karena kelompok usaha tersebut menyerap banyak
tenaga kerja dibandingkan dengan usaha besar. Di Negara yang sedang
berkembang juga memiliki peran yang sangat penting khususnya dari perspektif
kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat miskin, distribusi
pendapatan dan pengurangan kemiskinan serta pembangunan ekonomi perdesaan.

C. Undang-undang PP 46
Landasan teori yang digunakan dalam analisa komparasi untung – rugi PPh
final UKM ( PP 46 Tahun 2013 ) versus menggunakan norma perhitungan adalah
UU Pajak Penghasilan sesuai dengan nomor 36 tahun 2008 dan Peraturan
Pemerintah nommor 46 Tahun 2013 tentang pajak UMKM. Kedua teori ini
dijadikan komperasi laba rugi pada penerapan terhadap wajib pajak orang pribadi
yang sebelumnya menggunakan norma perhitungan berdasarkan UU Nomor 30
Tahun 2008 dan dipermudah dengan berlakunya peraturan pemerintah nomor 46
tahun 2013 tentang pajak UMKM.

D. Dasar Undang – Undang Perpajakan

1. Undang – undang pajak penghasilan sesuai dengan UU Nomor 36 Tahun


2008.
2. Peraturan pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 tentang pajak UMKM.
3. KEP – 536 / PJ / 2000, tentang norma perhitungan penghasilan neto (
NPPN ).
4. Peraturan Menteri Keuangan nomor 107 / PMK.011 / 2013.
5. Surat edaran nomor 42 / PJ / 2013.

23
E. Analisa dan Perhitungan
PP nomor 46 tahun 2013 menyebutkan bahwa peraturan ini diperuntukkan
khusus bagi wajib pajak dengan peredaran bruto tertentu, berdasarkan pasal 2 ayat
2 PP No 46 tahun 2013 disebutkan bahwa subjek dalam PP ini berupa wajib pajak
pribadi dan wajib pajak badan tetapi tidak termasuk dalam bentuk usaha tetap (
BUT ) dan keduanya harus merupakan pelaku usaha yang menerima penghasilan
bruto tak lebih dari Rp. 4,8 miliar dalam satu tahun pajak, selain batasan omset dan
wajib pajak yang dikecualikan dari sisi kegiatan usahanya, antara lain sebagai
berikut :
1. Pengusaha UMKM yang dikenakan PPh final tidak termasuk orang pribadi
yang melakukan pekerjaan bebas.

2. Pemberian jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas :


a) Tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas terdiri dari pengacara,
akuntan, arsitek, dokter, konsultan, notaris, penilai dan aktuaris.
b) Pemain music, pembawa acara, penyanyi, pelawak, bintang film,
bintang sinetron, bintang iklan, sutradara, kru film, foto model,
peragawan, pemain drama dan penari
c) Olahragawan
d) Penasehat, pengajar, pelatih, penceramah, penyuluh dan moderator.
e) Pengarang, peneliti dan penerjemah
f) Perantara
g) Petugas penjaja barang dagangan
h) Agen asuransi
i) Distributor perusahaan pemasaran berjenjang ( multilevel marketing
) atau penjualan lansung ( direct selling ) dan kegiatan sejenisnya.

3. Wajib pajak yang sudah dikenai PPh fianal berdasarkan ketentuan yang lain
juga dikecualikan dari pengenaan PPh UMKM, berikut daftar wajib pajak
yang dikenakan PPh final berdasarkan ketentuan pasal 4 ayat 2 UU PPh
yaitu :
a) Pengusaha yang melakukan transaksi pengalihan harta berupa tanah
dan/atau bangunan.
b) Pengusaha yang bergerak di jasa kontruksi.
c) Pengusaha real estate.
d) Pengusaha yang melakukan persewaan tanah dan/atau bangunan.
e) Hadiah / hibah
f) Obligasi.
4. Pengusaha orang pribadi yang melakukan usaha perdagangan dan jasa yang
dalam usahanya menggunakan sarana atau prasarana yang dapat dibongkar
pasang, baik yang menetap, menggunakan sebagian atau seluruh tempat
untuk kepentingan umumyang tidak

24
5. Wajib pajak badan yang belum beroperasi secara komersial atau wajib
pajak badan yang dalam jangka waktu 1 tahun setelah beroperasi secara
komersial dan memperoleh peredaran bruto melebihi Rp 4,8 miliar.

Bab X MANAJEMEN PERPAJAKAN PADA ASET TETAP

A. PENGERTIAN

Menurut PSAK no.16 aset tetap adalah asset yang dimiliki untuk digunakan dalam
produksi atau penyediaan barang atau jasa,untuk dientalkan kepada pihak lain,atau untuk
tujuan administratif dan diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode.

B. Penyusutan

• Harta yang dapat disusutkan adalah berujud


• Harta terseut memunyai masa manfaat lebih dari satu tahun
• Harta tersebut digunakan untuk mendapatkan,menagih,dan memelihara
penghasilan
C. estimasi umur ekonomis

• metode garis lurus


• metode aldo menurun
• metode unit produksi
D. estimasi jam mesin

metode penyusutan menurut ketentuan perundang-undangan perpajakan sebagai mana


yang diatur dalam paal 11 undang-undang pajak pengahasilan :

• metode garis lurus, atau metode saldo menurun untuk aset tetap berwujud bukan
bangunan

• metode garis lurus untuk aset tetap berwujud berupa bangunan

E. Pengelompokan Aset tetap

Keluarnya keputusan menteri keuangan nomor 82/kmk.04/1995 tanggal 7 februari 1995


yang mengatur tentang pengelompokan jenis-jenis harta berwujud yang kemuian
diperbaharui dengan keputusan menteri keuangan nomor 138/kmk.03/2002 tanggal april
2002 yang berlaku sejak tanggal ditetapkan lebih memudahkan wajib pajak dan
memberikan keseragaman dalam pengelompokan harta tetap berwujud.

XI Analisa Revaluasi Aset Tetap

A. Pengertian Aset Tetap


Berdasarkan SAK No.16 aset tetap adalah aktifa berwujud yang diperoleh
dalam bentuk siap pakai atau dengan dibangun lebih dahulu, yang digunakan dalam
operasi perusahaan, tidak dimaksudkan untuk dijual dalam rangka kegiatan normal

25
perusahaan dan mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun, kecuali dalam
kondisi tertentu, misalnya asset yang dimiliki rusak dan dapat dijual. Karakteristik
utama dari aktifa ialah :

1. Memilki manfaat dimasa mendatang.


2. Dapat dikendalikan manfaatnya.
3. Transaksi sudah terjadi.

Pengukuran aktifa tetap menurut akuntansi komersial ialah :

a) Pengukuran dengan sebesar biaya perolehan.


b) Pengukuran dengan sebesar biaya perolehan meliputi setara dengan nilai
tunainya dan diakui pada saat terjadi.
c) Pengukuran setelah pengakuan awal.

B. Pengukuran Aset Tetap Menurut Perpajakan


Pengukuran asset di ukur sebesar biaya perolehan. Komponen biaya perolehan
aktiva tetap meliputi :
1. Harga perolehannya, termasuk bea impor dan PPN masukan yang tidak
boleh dikreditkan.
2. Setiap biaya yang dapat didistribusikan secara lansung dalam membawa
aktiva tersebut ke kondisi yang membuat aktiva tersebut dapat bekerja
untuk penggunaan yang dimaksudkan .
3. Setiap potongan dagang dan rabat harus dikurangkan dari harga pembelian.

Dengan diterapkannya IFRS dalam hal asset tetap pad tahun 2012, dalam hal
penilaian asset tetap maka diperlukan revaluasi terhadap asset tetap tersebut. Dalam
melakukan revaluasi asset tetap agar sesuai dengan nilai pasar diperlukan biaya
tambahan, antara lain PPh final dengan tarif 10% atas selisih lebih nilai wajar atau
nilai pasar yang dikurangi nilai buku fiskal. Aktiva yang sudah dilakukan revaluasi
tidak dapat diahlikan dalam waktu 5 tahun, jika diahlikan akan dikenakan PPh
tambahan sebesar 15% lagi dari selisih revaluasi yang telah dikenakan pajak,
kecuali diahlikan kepada pemerintah, untuk menggabungkan, peleburan dan
pemekaran usaha.

C. Akuntansi Pajak Atas Revaluasi Aset Tetap


Revaluasi adalah proses pencatatan nilai wajarnya pada tanggal revaluasi
dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai yang terjadi
setelah tanggal revaluasi. Revaluasi itu sendiri harus dilakukan dengan keteraturan
yang cukup regular untuk memastikan bahwa jumlah tercatat tidak berbeda secarah
material dan jumlah yang ditentukan dengan nilai wajar pada tanggal neraca, selain
itu revaluasi mempunyai dua konsekuensi yaitu increment ( kenaikkan nilai asset )
dan decrement ( penurunan nilai asset ).

26
D. Pengakuan dan Pengukuran Revalusi Aset Tetap
Setelah di akui sebagi asset , suatu asset tetap yang nilai wajarnya dapat diukur
secara andal harus harus dicatat pada jumlah revaluasi, yaitu nilai wajar pada
tanggal revaluasi dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan
nilai yang terjadi setelah tanggal revaluasi . Frekuensi revalusi tergantung
perubahan nilai wajar dari suatu asset tetap yang direvaluasi. Jika nilai wajar dari
asset yang direvaluasi berbeda secara material dari jumlah tercatatnya, maka
revaluasi lanjutan perlu dilakukan. Jika dalam suatu entitas terdapat asset tetap
yang tersedia untuk dijual maka perlakuan akuntansi untuk asset tersebut adalah :

a) Di akui pada saat pemberhentian operasi.


b) Di ukur sebesar nilai yang lebih rendah dari jumlah nilai tercatatnya
dibandingkan nilai wajar setelah dikurangi dengan biaya-biaya penjualan
asset tersebut.
c) Disajikan sebagai asset tersedia untuk dijual, jika jumlah tercatat akan
dipulihkan melalui transaksi penjualan dari penggunaan lebih lanjut, dan
d) Diungkapkan dalam laporan keuangan dalam rangka evaluasi dampak
penghentian ( asset tidak lancer )

E. Penyajian Revaluasi Aset Tetap


Apabila suatu asset tetap direvaluasi, akumulasi penyusutan pada tanggal
revaluasi diperlakukan dengan salah satu cara berikut :

1. Disajikan kembali dengan metode proporsional


Dengan perubahan dalam jumlah tercatat bruto dari asset sehingga
jumlah tercatat asset setelah revaluasi sama dengan jumlah revaluasian.
Metode ini sering digunakan apabila asset revaluasi dengan cara member
indeks untuk menentukan biaya pengganti yang telah disusutkan, atau

2. Dieliminasi terhadap jumlah tercatat bruto dari asset dan jumlah tercatat
neto setelah eliminasi disajikan kembali sebesar jumlah revaluasi dari asset
tersebut. Metode ini sering digunakan untuk bangunan.

Jumlah penyesuain yang timbul dari penyajian kembali atau eliminasi


akumulasi penyusutan membentuk bagian dari kenaikkan atau penurunan dalam
jumlah tercatat yang ditentukan. Jika jumlah tercatat asset meningkat akibat
revaluasi, kenaikkan tersebut lansung di kredit ke ekuitas pada bagian surplus
revaluasi. Namun, kenaikkan tersebut harus diakui dalam laporan laba rugi sebesar
jumlah penurunannya nilai asset akibat revaluasi yang pernah diakui sebelumnya
dalam laporan laba rugi. Dan begitu sebaliknya.

F. Revaluasi Aset Tetap Berdasr Aspek Perpajakan


Keputusan Menteri Keuanganyang dimaksud adalah Nomor
486/KMK.03/2002 tanggal 28 November 2002 tentang penilaian kembali asset
tetap perusahaan untuk tujuan perpajakan. Peraturan pelaksanaannya diatur

27
didalam keputusan Direktur Jendral Pajak Nomor Kep-519/Pj/2002 tanggal 2
Desember 2002.

G. Wajib Pajak yang Dapat Melakukan Revaluasi Aktiva Tetap


Wajib pajak badan dalam negeri dan bentuk usaha tetap ( BUT ) yang
selanjutnya disebut perusahaan, dapat melakukan penilaian kembali aktiva tetap
perusahaan untuk tujuan perpajakan, dengan syarat telah memenuhi semua
kewajiban pajaknya sampai dengan masa pajak terakhir sebelum masa pajak
dilakukannya penilaian kembali. Wajib pajak tersebut tidak termasuk wajib pajak
yang memperoleh izin menyelenggarakan pembukuan dalam mata uang dollar
Amerika Serikat.

H. Aktiva yang Dapat Direvaluasi


Aktiva tetap perusahaan yang dapat direvaluasi adalah aktiva tetap
berwujud yang terletak atau berada di Indonesia, yang dimiliki dan dipergunakan
untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang merupakan objek
pajak. Penilaian kembali dapat meliputi seluruh atau sebagian aktiva tetap
perusahaan termasuk aktiva tetap perusahaan yang sudah pernah dilakukan
penilaian kembali berdasarkan ketentuan yang berlaku sebelumnya. Penilaian
kembali dilakukan paling banyak 1 kali dalam satu tahun buku yang sama. Dan
penilaian kembali harus berdsarkan nilai pasar yang berlaku pada saat dilakukan
revaluasi.

I. Capital Gain dan Pajak Penghasilan Final


Atas selisih lebih penilaiaan kembali di atas nilai sisa buku fiscal semula
setelah dikompensasi terlebih dahulu dengan sisa kerugian fiscal tahun-tahun
sebelumnya berdasarkan ketentuan pasal 6 ayat (2) undang-undang pajak
penghasilan yang berlaku, dikenakan pajak penghasilan final sebesar 10%.
Kompensasi kerugian fiscal tetap harus dilakukan terlebih dahulu, bagi wajib pajak
yang tidak mungkin melunasi sekaligus pajaknya dikarenakan kondisi
keuangannya maka dapat diajukan surat permohonan pembayaran secara angsuran
paling lama 12 bulan sesuai ketentuan pasal 9 ayat (4) undang-undang ketentuan
umum dan tatacara perpajakan. Dalam halanya besarnya pajak penghasilan yang
terhutang lebih dari Rp 2.000.000.000.000. ( dua triliun rupiah ) maka dapat
mengajukan angsuran lebih dari 1 tahun dan paling lama 5 tahun. Apabila terjadi
keterlambatan pembayaran maka akan dikenakan sanksi berupa bunga dan biaya
administrasi sesuai dengan ketentuan undang-undang yang berlaku.

J. Dasar Penyusutan Fiskal Setelah Revaluasi


Dasar penyusutan fiscal dan sisa masa manfaat fiscal aktiva tetap
perusahaan untuk menghitung penyusutan dalam bagian tahun pajak sampai
dengan bulan sebelum bulan dilakukannya penilaian kembali adalah dasar
penyusutan fiscal dan sisa masa manfaat fiscal pada awal tahun pajak yang
bersangkutan dan penyusutan fiscal dihitung secara prodata sesuai dengan
banyaknya bulan dalam bagian tahun pajak tersebut. Penyusutan fiscal aktiva tetap
perusahaan yang tidak mendapat persetujuan penilaian kembali, tetap

28
menggunakan dasar penyusutan fiscal dan sisa manfaat fiscal semula sebelum
dilakukannya revaluasi.

K. Pengalihan Harta yang Telah Direvaluasi


Dalam hal wajib pajak melakukan pengalihan aktiva tetap perusahaan yang
telah memperoleh persetujuan penilaian kembali sebelum berakhirnya masa
manfaat baru setelah revaluasi, atas pengalihan tersebut dikenakan tambahan pajak
penghasilan yang bersifat final sebesar 20% dari selisih lebih penilaian kembali di
atas nilai sisa buku fiscal semula tanpa dikompensasikan dengan sisa kerugian
fiscal tahun-tahun sebelumnya. Dikecualikan dari ketentuan ini dalam hal :
a) Pengalihan aktiva tetap perusahaan yang bersifat force majeur berdasarkan
keputusan atau kebijakn pemerintah atau keputusan pengadilan.
b) Pengalihan aktiva tetap perusahaan dalam rangka memenuhi persyaratan
penggabungan, peleburan, atau pemekaran usaha untuk tujuan perpajakan.
c) Penarikan aktiva tetap perusahaan dari penggunaan karena mengalami
kerusakan berat yang tidak dapat diperbaiki lagi.

BAB XII TRANSFER PRICING

A. PENGERTIAN TRANSFER PRICING


Transfer Pricing didefenisikan sebagai suatu harga jual khusus yang dipakai dalam
pertukaran antar divisional untuk mencatat pendapatan divisi pembeli (Simanora,
1999:272).

B. TUJUAN TRANSFER PRICING


Tujuan penetapan harga transfer adalah untuk mentransmisikan data keuangan di
antara departemen-departemen atau divisi-diisi perusahan pada waktu mereka
saling menggunakan barang dan jasa satu sama lain (Henry Simamora,1999:273).

BAB XIII MANAJEMEN PERPAJAKAN PADA CORPORATE SOCIAL


RESPONSIBILITY

PENGERTIAN COSPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY


CSR dapat defenisikan sebagai komitmen usaha untuk bertindak secara etis,
beroperasi secara legal dan berkontribusi untuk meningkatkan kualitas hidup dari
karyawan dan keluarganya, komunitas lokal, dan komunitas luas.

ASPEK PAJAK
Biaya untuk melakukan CSR dapat diperhitungkan sebagai biaya perseroan selama
dana ini berhasil dari dana operasional perusahaan. Biasanya cadangan dana untuk CSR
berasal dari keuntungan. Namun dana untuk melakukan tindakan CSR tidak serta merta
menjadi pengurang penghasilan kena pajak, ada kriteria dalam peraturan perpajakan.

29
Kelebihan dan kekurangn buku

Kelebihan :

 Buku ini menurut kami bisa dikatakan sangat di rekomendasikan untuk mahasiswa
karena di setiap materi pasti ada contoh soal yang di sediakan, sehingga para
mahasiswa bisa lebih mengerti tentang materi yang dibahas.
 Buku ini memberikan banyak informasi mengenai manajemen pajak lebi efesien
dan pejabarannya.
 Penggunaan bahasanya juga cukup komunikatif sehingga mudah dipahami.
 Buku ini membahas konsep pemanfaatan dan perekayasaan informasi biaya untuk
penentuanharga pokok produksi dan pengendalian biaya.
 Contoh kasus yang di berikan untuk mrnunjang pemahaman mahasiswa yang ada
dalam buku ini juga mudah untuk di mengerti.
 Buku ini sesuai dengan peraturan perundang undangan yang ada.

Kelemahan :

 Ada beberapa materi yang tidak lengkap penjelasannya , maka dari itu di perlukan
referensi lain.
 Tidak adanya ringkasan tiap babnya
 Tidak contoh soal akhir yang akan menjadi evaluasi terhadap pemahaman
mahasiswa.
 Dalam penulisan tidak sesuai dengan EYD karena ada salah satu huruf besar di
tengah kalimat.

30
BAB III
PENUTUP

A.Kesimpulan

Setiap buku pasti memilki kelebihan dan kekurangannya masing – masing , tetapi tetap
saja buku sangat amat bermanfaat bagi kita seperti kata pepatah “Buku adalah jendela
dunia” .Mungkin ada banyak media pembelajaran , tetapi yakinla sebenarnya buku adalah
yang masih efesien dari pada membaca suatu media dari internet , selain itu kita juga bisa
membantu menyehatkan mata kita dari radiasi cahaya HP maupun Komputer . buku ini
mengajarkan kita bagaimana menerapkan manajemen pajak . Kedua buku tersebut sangat
bermanfaat bagi kita mahasiswa yang bisa disebut pemula dari masa depan yang akan kita
gapai jika tertarik dengan dunia perpajakan , kita akan mempelajari bagaimana
pengoptimalan pembayaran pajak dalam suatu perusahaan.

B. Saran
Sekarang tinggal kita yang memilih kita akan memakai metode apa untuk mewujudkan
impian kita , yang pasti semua itu dimulai dari niat ,dan gantilah rasa lelahmu menjadi
Lillah Karena – Nya. Untuk buku menurut kami sudah bagus cuman mungkin dalam
sebuah buku mungkin disetai dengan gambar gambar yang nantinya akan membuat kita
tertarik sehingga tidak timbul rasa bosan ketika membacanya .

31
DAFTAR PUSTAKA

Silalahi, Alistraja Dison, dkk. 2018. Manajemen Perpajakan. Medan. Madenatera


Qualifedpublisher.

32