Anda di halaman 1dari 21

Pendahuluan

Studi seputar relasi antara Islam dan orientalisme termasuk studi prestisius.
Hampir setiap bidang Islamic studies yang berkaitan dengan orientalisme, baik itu
tafsir, hadis, fikih, filsafat, sufisme maupun sejarah. Hadis misalnya, ketika
sarjana Barat memasuki domain penelitian tentang sumber dan asal usulnya,
mereka dihadapkan pada pertanyaan tentang keakuratan sumber tersebut. Hasilnya,
terbukti dalam bidang hadis, mereka meracik berbagai pembahasan yang berkenaan
dengan autentifikasi hadis.
Ketika sarjana Barat memasuki domain penelitian tentang sumber dan asal
usul Islam, mereka dihadapkan pada pertanyaan tentang apakah dan sejauh mana
hadis-hadis atau riwayat-riwayat tentang nabi dan generasi Islam pertama dapat
dipercaya secara hisroris. Pada fase awal kesarjanaan Barat, mereka menunjukkan
kepercayaan yang tinggi terhadap literatur hadis dan riwayat-riwayat tentang nabi
dan generasi Islam awal. Tetapi sejak paruh kedua abad kesembilan belas,
skeptisime tentang otentisitas sumber tersebut muncul. Bahkan sejak saat itu
perdebatan tentang isu tersebut dalam kesarjanaan Barat didominasi oleh
kelompok skeptis. Kontribusi sarjana seperti Ignaz Goldziher, Joseph Schacht,
Wansbrough, Patricia Crone, Michael Cook dan Norman Calder berpengaruh
secara dramatis terhadap karya karya sarjana Barat.
Akan tetapi, Tidak semua sarjana Barat dapat digolongkan dalam aliran
atau “mazhab“ skeptis. Sarjana seperti Joseph Van Ess, Harald Motzki, Miklos
Muranyi, M.J. Kister, Fueck, Schoeler bereaksi keras terhadap sejumlah premis,
kesimpulan dan methodologi para kelompok skeptis.1 Mereka dapat digolongkan
sebagai kelompok non skeptis. Perdebatan antara kedua kelompok ini sangat tajam
selama dua dekade terahir.
Dari sekian banyak nama yang telah disebutkan di atas, Jonathan Brown
merupakan salah satu ilmuwan yang diluar arus utama pemikiran hadis. Baik itu
dalam menilai originalitas suatu hadis dan komentar- komentarnya terhadap
testimonial orientalis lain terhadap hadis.

1Mahasiswa Pascasarjana Program Magister (S2) Konsentrasi Ilmu Hadis UIN Imam
Bonjol Padang

1
Validitas hadis dapat diuji melalui kritik terhadap konten hadis. Namun,
keberadaaan proses kritik tersebut diragukan kehadirannya pada masa awal
perkembangan era kritikus hadis. Pendapat umum sarjana Barat menyebutkan
bahwa fokus kritik hanya pada kredibiltas rangkaian sanad sedangkan penelitian
matan ‘luput’ dari pembahasan mereka. Tesis ini cukup beralasan, karena hasil karya
yang dipresentasikan para kritikus hadis masa awal terkait pembahasan mengenai
sanad saja. Seperti kitab Jarh wa Ta’dil – nya Abu Hatim al-Raziy, al-Tamyiz karya
Imam Muslim dan seterusnya.
Generalisasi di atas tidak sepenuhnya disepakati. sarjanawan Barat lain,
Jonathan A.C Brown secara etis menunjukkan ketidaksepahamannya dengan
pendapat tersebut. Melalui kompetensinya dalam menganalisis literatur- literatur
sarjana Barat tentang kritik hadis sekaligus literatur-literatur Arab- klasik, Brown
berupaya membongkar kesimpulan yang “menyudutkan” kritik hadis konvensional
itu. Pembahasan tentang temuan Brown ini telah dijelaskan panjang-lebar oleh
Amrulloh pada tulisannya di Jurnal Kontemplasi dengan judul Eksistensi Kritik
Matan Masa Awal; Membaca Temuan Dan Kontribusi Jonathan Brown.
Sebagai seorang sarjana Barat-Muslim, tentu menarik untuk ditelusuri lebih
jauh tentang bagaimana pemikiran Jonathan Brown dalam dunia Islamic Studies.
Adapun tulisan ini akan memaparkan biografinya serta tinjauan terhadap salah
karyanya dengan judul Hadith: Muhammad’s Legacy in the Medieval and Modern
World.

2
PEMBAHASAN
1. Biografi dan Kiprah Jonathan A.C Brown
Jonathan A.C. Brown lahir di Amerika Serikat, tepatnya di Washington
DC pada 9 Agustus 1977. Ayahnya bernama Jonathan C. Brown dan Ibunya Ellen
Clifton Patterson, seorang antropolog. Brown tumbuh dan berkembang dalam
keluarga yang menganut kepercayaan Kristen Episcopalian. Pada tahun 1997, ia
memutuskan memeluk agama Islam. Setelah menjadikan Islam sebagai jalan
hidupnya, ia aktif menulis dan berbicara tentang Islam, baik untuk kepentingan
2
akademis maupun dakwah.
Jenjang pendidikan tinggi Brown dimulai dari Georgetown University di
Washington DC. Tahun 2000 ia memperoleh gelar BA dalam bidang sejarah.
Bidang sejarah yang ditekuninya itu kemudian menggiringnya menekuni sejarah
Islam. Ia juga sempat mengenyam pendidikan di Center for Arabic Study Abroad
(CASA) —salah satu institusi pendidikan tinggi terkemuka di Mesir, di mana ia
mendalami bahasa Arab selama setahun. Bahasa Arab yang juga ditekuninya itu
pada gilirannya mempunyai andil besar dalam menunjang produktivitasnya yang
mengharuskan penelaahan mendalam terhadap literatur-literatur asli Islamic studies,
yang umumnya berbahasa Arab. Pada tahun 2006, Brown memperoleh gelar Doktor
Pemikiran Islam dari University of Chicago, dengan disertasi yang kemudian
dipublikasikan dalam bentuk buku, The Canonization of al-Bukhari and Muslim.
Setelah menyelesaikan disertasi tentang studi hadis itu, tampak bahwa Brown—

dilihat dari karya- karyanya—menaruh perhatian tinggi terhadap kajian hadis.3


Dari tahun 2006 hingga tahun 2010, Brown menjadi tenaga pengajar di
Department of Near Eastern Languages and Civilization di University of
Washington. Ia kemudian berhasil menjadi Assistant Professor dalam bidang Islamic
Studies dan Muslim-Christian Understanding pada School of Foreign Service

2Amrulloh, Eksistensi Kritik Matan Masa Awal; Membaca Temuan Dan Kontribusi Jonathan
Brown, Kontemplasi; Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin, (Tulungagung: IAIN Tulung Agung, 2016), h. 3
3Jonathan A.C Brown, Curirculum Vitae Jonathan A.C Brown. (Washington: Georgetown University,
[tt]), pdf

3
di almamaternya, Georgetown University, dari tahun 2010 hingga saat ini. Di samping itu, ia

juga salah satu anggota terkemuka pada The Council on Foreign Relations.4
Brown merupakan seorang akademisi yang giat melakukan penelitian. Penelitian-
penelitiannya membawanya ke berbagai negara: Mesir, Suriah, Turki, Maroko, Arab Saudi,
Yaman, Indonesia, India, Iran dan masih banyak lagi. Brown juga merupakan sarjana Barat-
Muslim yang produktif dalam melahirkan karya-karya penting, terutama tentang hadis,
hukum Islam, sufisme, bahasa Arab, syair-syair pra-Islam, dan sekarang ini studinya di
fokuskan pada kritik sejarah dan peradaban Islam, serta konflik modern antara tradisionalis-

Sunni dengan Salafis dalam pemikiran Islam5. Di antara karya-karya terpenting Brown adalah
sebagai berikut: Misquotung Muhammad: The Challenge and Choices of Interpreting the
Prophet’s Legacy (Oneworld Publications, 2014); Muhammad: A Very Short Introduction
(Oxford University Press, 2011); Hadith: Muhammad’s Legacy in the Medieval and
Modern World (Oneworld Publications, 2009); The Canonizaton of al-Bukhari and Muslim:
The Formation and Fuction of the Sunni Hadith Muslim Canon (Brill Publishers, 2007). Di

samping itu, Brown juga aktif menulis di ber bagai jurnal berskala internasional.6
Pembahasan berikutnya, penulis akan memaparkan gagasan pemikiran hadis Jonathan
Brown dalam bukunya Hadith: Muhammad’s Legacy in the Medieval and Modern World.

2. Pandangan Jonathan Brown.


Jonathan Brown, seorang sarjana Barat-Muslim, yang tidak sependapat dengan
pandangan umum kaum orientalis tentang kritik hadits khususnya kritik matan masa awal.
Bermodal kompetensinya dalam membaca dan menganalisis literatur-literatur sarjana Barat
tentang kritik hadits sekaligus literatur-literatur Arab-klasik, Brown berupaya membongkar
kesimpulan yang “menyudutkan” kritik hadits konvensional itu. Brown memulai upayanya
itu dengan meluruskan kesalahpahaman tentang kritik matan masa awal. Ia membeberkan
sampel-sampel eksplisit kritik matan yang dilakukan oleh para eksponen kritik hadits
Kemudian, ia menjelaskan latar belakang di balik minimnya sampel kritik matan masa
awal, baik secara teoritis maupun praktis.

3. Karya – karya Jonathan Brown

4
5
4. Mengenal Buku Hadith: Muhammad’s Legacy in the Medieval and Modern
World.
Buku ini berjudul diterbitkan pada tahun 2009 oleh Oneworld Publications, Oxford:
Inggris setebal 308 halaman. Brown menyajikan tema- tema yang dimuat dalam tulisannya
secara sistemik dan isu yang diangkat

4 Ibid.,
5 Amrulloh., op.cit., h.4
6 Ibid.,

6
pun menarik. Muatan materi-materi pada buku ini secara umum yaitu :
Terminologi hadis, Kajian Sanad Hadis, Sejarah dan Metode Kritik Hadis, Hadis
Nabi perspektif Syi’ah, Fungsi dan Kedudukan Hadis sebagai Otoritas Hukum
Islam, Fungsi Hadis dalam bahasan Teologis, Fungsi Hadis dalam Sufism, Seputar
Autensitas Hadis; Perdebatan Sarjana Barat, Diskursus Hadis Nabi dalam Konteks
Dunia Muslim Modern. Berikut ini penulis cantumkan rincian masing-masing
topik pembahasannya.

Illustrations
Preface
Acknowledgment
Conventions, Abbreviations And Transliterations
BAB TEMA
1 The Prophet’s Words Then and Now: Hadith and Its Terminology
2 The Transmission and Collection of Prophetic Traditions
3 The Method and History of Hadith Criticism
4 Prophetic Tradition in Shiite Islam
5 The Function of Prophetic Tradition in Islamic Law and Legal Theory
6 The Function of Prophetic Tradition in Theology
7 The Function of Prophetic Tradition in Sufism
The Authencity Question: Western Debates over the Historical Reliability of
8
Prophetic Traditions
9 Debates over Prophetic Traditions in the Modern Muslim World
10 Conclusion
Glossary
Bibliography
Index

Pada bagian pendahuluan (introduction), Brown menyatakan bahwa Ilmu


Hadis adalah ilmu yang mulia. Telah banyak intelektual terdahulu yang

7
mendedikasikan hidupnya untuk ilmu ini. Dalam pada itu, ia menyatakan tentang
harapannya terhadap buku ini. Jelasnya, buku ini hadir untuk menjadi alat dalam
memahami Ilmu Hadis sekaligus pengantar dalam menjelaskan beberapa karya
para ulama hadis yang besar pengaruhnya terhadap umat Islam, seperti al-Bukahri,
al-Dzahabiy dan Ibn Hajar. Brown mengapresiasi dan bersimpati atas kejeniusan,
kesungguhan dan dedikasi yang diberikan oleh para ulama terdahulu. Berikut ini
kutipan pernyataan Brown:
The science of hadith is a noble one, and generations of scholars far, far more
capable and devoted than I have dedicated their lives to transmitting, analyzing
an sorting through the legacy attributed to Muhammad.One could spend a
lifetimesreading the works of scholars like a al-Bukhari, al-Dhahabi and Ibn
Hajar, and two lifetimes trying to keep um with them. Matcing their
accomplisments is inconceivable to me. I can only hope that this book provides
an adequate introduction to their work and the influence it has had on Islamic
Civilization7

Faktor lain yang mendorong Brown untuk melakukan penelitian dan


menulis buku Hadith adalah adanya pertanyaan yang selalu muncul dari para
mahasiswa dan koleganya. Mereka selalu bertanya apakah Sunnah telah
merepresentasikan secara akurat tentang ajaran Muhammad. Maka buku ini
disajikan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Berikut cuplikan statement Brown:
Students and colleagues always ask me whether the Sunni Hadith tradition
provides an accurate representation of Muhammad’s teachings. In truth, A can
only say that project such as this book ar part of my search for the answer to
that question.8

Uniknya, secara taktikal sebelum masuk ke pembahasan inti, pada


beberapa tema ia banyak menyodorkan fakta-fakta sederhana yang aktual,
kemudian menggiring pembaca untuk memahami maksud dalam pembahasannya.
Brown mengkoneksikan antara bagaimana dunia hari ini dengan pembahasan
materinya.

7 Jonathan A.C. Brown, Hadith; Muhammad Legacy in the Medieval and


Modern World,
(England: Oneworld Publications, 2009), h. x
8 Ibid.,

8
Penulis tidak membahas keseluruhan materi dalam Buku Hadith-nya
Brown. Pembahasan berikutnya adalah eksplorasi dan analisis pada materi ke-3
dengan judul The Method and History of Hadith Criticism. Materi tersebut terbagi
dalam sub materi berikut ini:
1. Introduction: Reporters Then and Now
2. The Problem of Hadith Forgery
3. The Development Of Early Sunni Hadith Criticism- The Three-Tiered Method
4. Content Criticism; The Hidden Component of Early Hadith Critcsm
5. Levels Hadith, Their Uses and The Priorities of Hadith Tradition
6. Enter Legal Theory: Muslim Legal Theorist and Their Effect on Hadith Crtiscism
7. The ‘Big Tent’ of The Late Sunni Tradition: Increased Acceptance and Use of
Weak Hadith
8. Authenticating Hadiths by Dreams or Inspiration
9. Applying Hadith Critism to The Rest of Islamic Civilization: Takhrij an
Mustahir Books
10. A Case Study in Hadith Criticsm: Can You Put Yours Shoes on Standing or Not?
11. Suggestions For Further Reading

5. Tinjauan Materi The Method and History of Hadith Criticism


a) Introduction: Reporters Then and Now
Brown mengawali pembahasan dengan mengemukakan fakta bahwa
metode kritik hadis dimulai dengan menghadirkan kosakata teknis yang rumit oleh

para kritikus hadis, hal ini berlangsung sekitar abad 13 M.9 Hal itu membuat para
mahasiswa kesulitan dalam memahaminya. Maka pembahasan ini muncul untuk
memahami bahwa eksistensi kritik sanad dapat dianalogikan sebagai seorang jurnalis
dalam mendapatkan berita. Proses penerimaan berita tersebut harus berasal dari
sumber yang terpercaya dan memilah berita dari sumber yang terpercaya dari yang
tidak.
Prinsipnya, dalam menerima informasi, harus memperhatikan dua aspek,
yaitu siapa sumbernya dan apakah sumber tersebut kuat atau tidak.
9
Ibid., h. 67

7
Brown menegaskan bahwa cara terbaik untuk mengkonfirmasi keakuratan sumber
adalah memeriksa sumber lain yang memiliki akses tentang informasi yang sama.
Dalam jurnalisme modern-pun terdapat dua pilar utama, yaitu keterpercayaan
sumber (the reliability of a source) dan menentukan keterpercayaan tersebut
melalui penguatan (determining the reliability of a source or story through
corroboration).
Selain keterpecayaan sumber informasi, konten informasi juga

mempengaruhi pandangan kita terhadap pembawa berita (transmitter).10 Tetapi


perlu digaris bawahi, apapun yang yang menjadi ukuran mungkin dan tidak
mungkin, penting atau tidak penting yang menentukan adalah faktor kultural yang
terbatas pada ruang dan waktu. Ketika repoter saat ini dibebankan untuk
menentukan kebenaran tentang cerita yang terjadi pada dunia hari ini dengan basis
sumber yang terbaru.Maka tugas yang cukup ‘menakutkan’ harus dihadapi oleh
penggiat hadis adalah membentuk suatu sistem pembeda antara yang benar dan
salah tentang cerita dari Nabi SAW.
Demikianlah Brown me-rasioanalisasi-kan penerimaan informasi pada masa
lalu dan sekarang. Perbedaannya, jika konteks masa sekarang sumbernya masih
dapat dikonfirmasi, berbeda dengan penerimaan hadis yang memiliki mata rantai
informasi. Pada akhir introduction ini, ia menegaskan bahwa pembahasan pada
bagian ini adalah diskusi tentang originalitas, mekanisme dan perkembangan kritik
hadis Sunni. Ia membagi sejarah kritik hadis kepada 2 periode, yaitu kririk hadis
pada masa awal (720-1000 M) dan kritik hadis masa selanjutnya rentang tahun
1000 M sampai sekarang. Adapun gagasan tentang autensitas dan pemalsuan
dalam tulisannya ini mengacu kepada pendapat umum sarjana Muslim.

b) The Problem of Hadith Forgery


Submateri ini menguraikan tentang masalah pemalsuan hadis. Brown
menceritakan sejarah munculnya pemalsuan hadis, baik ketika Nabi SAW

10
Ibid., h. 69

8
masih hidup bahkan sepeninggal Nabi SAW. Brown mengemukakan fakta dan
data tentang hal tersebut. Uraian ini dimulai dengan pernyataan bahwa Nabi
Muhammad adalah satu-satunya figur yang dominan dan berwenang dalam
sumber hukum (legal tradition). Adanya otoritas Nabi tersebut, dapat dipandang
sebagai warisan Nabi untuk pendukung atau legitimasi tentang perbedaan
pemikiran yang ada, kepercayaan dan agenda politik. Selama hidupnya-pun Nabi
mengerti bahwa ada orang yang salah dalam menggambarkan tentang maksud
Nabi sendiri. Dalam sebuah riwayat, dilaporkan bahwa seorang laki-laki meng-
klaim dirinya sebagai wakil Nabi SAW untuk kepentingan dirinya sampai Nabi
mengatasi hoax tersebut dan menghukumnya.
Dari tinjauan penulis, pada bagian ini Brown menjelaskan beberapa
poin:
1) Fakta tentang laporan yang mendokumementasikan kewaspadaan sahabat
terhadap orang yang sengaja mencatut Nabi.
2) Pemalsuan hadis menjadi masalah yang selalu muncul (consistent
problem) pada umat Islam. Hal ini meliputi pemalsuan hadis yang
didorong oleh berbagai tujuan, antara lain : membela kepentingan politik
dan membela aliran teologi.
3) Hadis palsu juga banyak muncul dari komunitas pendongeng (storytellers)
4) Sejumlah besar hadis yang secara mengejutkan dipalsukan dan
diriwayatkan oleh orang muslim yang shaleh dengan tujuan untuk
memotivasi dalam beramal.
5) Tidak semua pemalsuan hadis dianggap kejahatan. Terkadang pendapat
salah satu sahabat bisa tertulis secara tidak sengaja sebagai bagian hadis.
Suatu fenomena yang diistilahkan dengan idraj oleh kritikus muslim.

c) The Development Of Early Sunni Hadith Criticism- The Three-Tiered Method

9
Pembahasan ini menjelaskan tentang pendekatan yang dipakai oleh ahli hadis
dalam menentukan autensitas hadis. Brown mengistilahkan metode 3 jenjang (The
Three Tiered Method), yaitu:
1. Demanding a source (isnad) for the report
2. Evaluating the reliability of that source

3. Seeking Corroboration for the hadith11

Langkah pertama, tuntutan harus adanya isnad, yaitu sumber laporan. Hal
ini merupakan dasar dalam metode kritik hadis. Brown mengutip pernyataan dari
Ibn al-Mubarak yang mengatakan bahwa isnad adalah bagian dari agama, jika bukan
karena isnad maka siapapun akan berbicara sesuai dengan apa yang
diinginkannya. Pada poin ini, Brown juga mencantumkan thabaqat kriritikus hadis
pada rentang abad 1-4 H.
Langkah kedua, penilaian terhadap sanad dan menetapkan
kebersambungan riwayat. Brown menjelaskan tentang proses penilaian para kritikus
hadis terhadap periwayat yang dibagi pada 3 bahasan; literatur kritik sanad (books of
transmitter crticism), penyelesaian pertentangan antar kritikus (reconciling
disaggrement among critics), dan kedudukan sahabat (standing of the Companions).
Adapun penjelasan tentang kebersambungan riwayat, Brown juga
mencantunmkan pembahasan hadis mursal.
Langkah ketiga, menemukan penguat terhadap hadis. Hal ini lazim dikenal
dengan istilah mutabi’ dan syahid. Seperti yang dikemukakan oleh Ibn Hibban
bahwa proses pencarian penguat ini adalah dengan cara i’tibar. Materi yang
dicantumkan terkait dengan pembahasan ini adalah tentang literatur illal hadis.
d) Content Criticism; The Hidden Component of Early Hadith Critcism
Bagian ini menjelaskan tentang kritik konten (matn) hadis. Brown
mengungkap latar belakang pembingkaian dan pembungkusan kritik matan masa
awal dalam bahasa kritik sanad. Untuk menguji autentisitas hadis,

11
Ibid., h. 77

10
kaum rasionalis praktis hanya mengandalkan kritik matan: kontradiksi dengan al-
Quran, Sunah yang dikenal luas (terminologi hadis masyhur), fakta sejarah dan akal
sehat. Mereka tidak menaruh perhatian serius terhadap sanad, bahkan
merendahkan dan meremehkan ahli hadis yang “terlalu” berpegang pada sanad. Di
lain pihak, dalam pandangan ahli hadis, sistem sanad dalam periwayatan hadis
sudah dianggap sebagai keistimewaan umat Islam yang harus dilestarikan dan
dipelihara secara serius. Lebih tegasnya, Brown berhasil menjelaskan bahwa ahli
hadis membingkai dan membungkus kritik matan dalam bahasa kritik sanad supaya,
meskipun mereka melakukan kritik matan sebagaimana mestinya, tidak disangka
bahwa mereka membenarkan pandangan kaum rasionalis tentang sistem sanad.

e) Levels Hadith, Their Uses and The Priorities of Hadith Tradition


Materi ini memuat tentang klasifikasi hadis dan penggunaannya serta hadis
yang menjadi prioritas untuk diamalkan. Brown mengemukakan terlebih dahulu
sejarah perkembangan level hadis, yaitu dari masa Malik (w.179/796) sampai pada
akhir abad 9 M klasifikasi kualitas hadis terdiri dari dua: shahih dan dha‘îf. Masa al-
Tirmidzî (w. 279 H.), klasifikasinya menjadi tiga: shahih, hasan, dan dha‘îf.
Bedanya dengan masa sebelum al- Tirmidzî, hadis dha‘îf ada kalanya termasuk
dalam hadis hasan-nya al-Tirmidzî. Adapun prioritas penggunaan level hadis di

deskripsikan Brown melalui gambar berikut12:


Before 900 CE After 900 CE
Used in SAHIH SAHIH
law and
ritual WEAK HASAN

Not used
in law WEAK WEAK
and ritual

Figure. 3.3 Rating on Hadith and Their Uses among The Early and Later Hadith
Critics

12
Ibid., h. 103

11
f) Enter Legal Theory: Muslim Legal Theorist and Their Effect on Hadith
Crtiscism
Hal-hal yang dibicarakan pada sub-materi ini adalah tentang status hukum
hadis (enter legal theory). Bahasan mengenai kompetensi tentang hadis mutawatir,
ahad dan masyhur dijelaskan secara umum oleh Brown. Perspektif yang
dikemukakan antara lain teori-nya al-Syafi’i, Hanafi, Mu’tazilah dan Khatib al-
Baghdadiy.
g) The ‘Big Tent’ of The Late Sunni Tradition: Increased Acceptance and Use of
Weak Hadith
Jika diterjemahkan, bahasan ini berarti: ‘Tenda Besar’ Hadis Sunni
Belakangan : Tambahan penerimaan dan pengamalan hadis dhaif. Hal ini ditandai

dengan muncul fase critical laxity13 (kelemahan kritik) pada periode munculnya
Mustadrak al-Hakim. Al-Hakim sendiri telah mengklaim bahwa ia telah
mengoleksi ribuan hadis lain yang memenuhi persyarata al-Bukhari dan Muslim.
Faktanya, metode yang digunakan al-Hakim lebih mutasahil ketimbang ashab
shahihayn. Hal ini sejalan dengan pendapat al-Dzahabiy bahwa konten Mustadrak
hanya sebagian otentik, dan sebagian yang lain diragukan kebenarannya.
Selanjutnya, Brown menjelaskan perbedaan- perbedaan terkait dengan dasar
argumentasi tentang diterima atau tidaknya hadis lemah di kalangan ulama
h) Authenticating Hadiths by Dreams or Inspiration
Umat islam setuju dengan adanya ilham atau mimpi bertemu dengan Nabi.
Hal ini sesuai dengan Hadis Nabi yang menyatakan jika bermimpi bertemu Nabi
itu adalah benar dan setan tidak bisa menyerupai rupa Nabi. Salah satu karakter
dari sekian banyak metode terkemuka dalam memudahkan autentifikasi hadis adalah
melalui ilmunating inspired atau kashaf yang secara literal diartikan melalui

ilham.14 Metode ini adalah perkembangan dari pengaruh yang cukup kontras pada
sitema Sufi Ibn Arabi

13 Ibid., h. 106
14 Ibid., h. 111

12
(w. 638 H). Penjelasan tentang materi ini dijelaskan lebih mendalam oleh Brown
pada bagian 7.

i) Applying Hadith Critism to The Rest of Islamic Civilization: Takhrij an


Mustahir Books
Bagian ini merupakan pengantar Brown terhadap refleksi kritik hadis yang
dilakukannya pada materi berikutnya. Pada paragraf pertama Brown
menggambarkan latar belakang munculnya penelitian takhrij hadis. Ia menyatakan
bahwa pengumpulan hadis telah berakhir pada tahun 1200-an M. Masa berikutnya,
penelitian sarjana Muslim beralih kepada konsolidasi, komentar dan kritik hadis.
Di antara literatur takhrij yang dicantumkan oleh Brown adalah:
- Muhadzdzhab, karya Abu Ishaq al-Shiraziy yang merupakan karya mazahb
al-Syafi’i
- Nash al-Raya, karya Hanafi al-Zayla’i; takhrij terhadap hadis-hadis dalam
kitab Hidayah, karya al-Marghinani
- Talkhis al-habir, karya Ibn Hajar
Sarjana Hadis belakangan fokus kepada kritik hadis yang berkembang dalam
umat islam. Takhrij merupakan jalan untuk menilai hadis yang tersebar luas dalam
kumunitas muslim. Di antara ilmuwan hadis yang menulis analisis dan kritik
terhadap hadis-hadis yang bermuatan kisah-kisah populer. Di antara buku-buku
“musthahir adalah al-maqhasid al-hasanah dan kasyf al- khafa’ masing-masing

ditulis oleh al-Sakhawi dan Ismail al-Ajluni.15

j) A Case Study in Hadith Criticsm: Can You Put Yours Shoes on Standing or
Not?
Untuk mengilustrasikan metode kritik hadis, Brown menempuh proses uji
originalitas hadis. Studi kasus yang dipilih adalah, menentukan status hadis
tentang larangan memakai sepatu sambil berdiri. Bunyi hadisnya:

15 Ibid., h. 112-1113

13
‫َه وسله‬
‫َتَ ل الر جل قَا ئ‬
‫َم ا‬ ‫أنم ن‬ ‫ي‬ َ‫َلالَ صلهى َلال‬ ‫رسول‬ ‫نَهى‬
‫َع‬ َ‫ع‬
‫ل‬

Hadis di atas terdapat dalam Sunan Ibn Majah, Sunan Abi Daud, Sunan al-
Tirmidzi, Tarikh al-Kabir karangan al-Bukhari dan Musnad Abu Ya’la al-
Mawshuli.
Secara sepintas lalu, ─Brown menjelaskan─ bahwa hadis ini bukanlah
permasalahan yang menjadi pokok pembahasan penting dalam hukum. Bahkan
hadis ini menguatkan autensitas hadis Nabi SAW, dimana Rasul telah
menganjurkan seseorang untuk memakai sepatunya saat ia duduk karena itu lebih
mudah dilakukan. Namun yang menjadi persoalan─menurut Brown─adalah adanya
pendapat lain dalam Thabaqat Ibn Sa’ad dan Mushannaf Ibn Abi Syaibah dan
Abd al-Razzaq al-San’ani termasuk hadis ‘Aisyah dan tabi’in Ibn Sirrin, Ibrahmi
al-Nakha’i dan Hasan al-Basri, semuanya melihat tidak ada masalah dengan
seseorang memakai sepatu ketika berdiri. Bagaimanapun, hadis ini melarang

praktek tersebut.16
Brown mengatakan, bahwa langkah pertama yang harus dilakukan oleh
pengkritik hadis Muslim adalah mengumpulkan semua riwayat hadis yang ada,
baik itu pada koleksi hadis hukum, sejarah atau tafsir al-Qur’an. Jika telah selesai,
pengkritik selanjutnya mengatur semua riwayat darimana ia berasal. Singkatnya,
membuat mata rantai sanad. Pengkritik kemudian menguji hadis yang berasal dari
jalur lain satu per satu untuk menentukan keterpercayaannya.
Hasil penelitian yang dilakukan Brown terhadap hadis tersebut, ia

menyatakan bahwa hadis ini berstatus hasan17. Pada akhir paragraf, Brown
mencantumkan beberapa penilaian ulama terhadap hadis ini . Al-Nawawi dan al-
‘Iraqi menilainya hasan. Murid dari al-‘Iraqiy yang terkenal, Ibnu Hajar mencatat
bahwa kendatipun beberapa riwayat hadis lemah, namun secara kebiasaan, konten
hadis ini baik (ma’ruf). Al-Busiri menyatakan bahwa hadis

16 Ibid., h. 113

14
17 Ibid., h. 119

15
ini shahih, berdasarkan jalur Ibn Umar dalam Sunan Ibn Majah. Sarjana hadis
modern, al-Albani dan Khaldun al-Ahdzab menganggap bahwa hadis ini

otentik.18
Demikianlah aplikasi yang diterapkan Brown berdasarkan teori three tiered
hadith critical yang telah dijelaskan sebelumnya dalam upaya menentukan
autensitas hadis. Meskipun pada akhir sub-bahasan ini ia tutup dengan penilaian
para ulama yang telah menilai hadis tersebut, namun secara sistematis ia telah
menerapkan teori 3 jenjang.

k) Suggestions For Further Reading


Sub-bahasan ini memaparkan tentang usulan referensi untuk bahan bacaan
lanjutan. Part ini selalu ada dalam masing-masing tema dalam buku Hadith.
Adapun literatur yang relevan dengan tema ketiga ini (kritik hadis dan sejarah
perkembangannya), bisa merujuk kepada buku:
1. Ignaz Goldziher, Muslim Studies II
2. Muhammad Shidqi, Hadith Literature (Cambridge, 1996)
3. Eerick Dickinson’s, The Development Of Early Sunnite Hadith
Criticism (Leiden, 2001)
4. Jonathan Brown, Canonization of al-Bukhari and Muslim (Leiden,

2007)19
Selain beberapa literatur di atas, Brown juga menyarankan pembaca untuk
mengkonsumsi buku ilmu hadis terkait yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa
Inggris. Di antaranya:
a) An Introduction to the Science of Hadith, Eerick Dickinson:
Terjemahan Muqaddimah Ibn Shalah
b) An Introduction to the Science of Tradition, James Robson:
Terjemahan Kitab Ilmu Hadis al-Hakim al-Naysaburi
c) Principle of the Science of Hadith, terjemahan Qawa’id fi Ulum al-

Hadits20

18 Ibid.,

15
19 Ibid., h. 119-120

16
Kesimpulan

Jonathan A.C. Brown, seorang sarjana Barat─Muslim lahir di Amerika


Serikat, tepatnya di Washington DC pada 9 Agustus 1977. Jenjang pendidikan
tinggi Brown dimulai dari Georgetown University di Washington DC (2000), di
Center for Arabic Study Abroad (CASA) dan University of Chicago (2006). IA
telah banyak menelurkan karya, khususnya dalam bidang hadis yaitu: Misquotung
Muhammad: The Challenge and Choices of Interpreting the Prophet’s Legacy
(Oneworld Publications, 2014); Muhammad: A Very Short Introduction (Oxford
University Press, 2011); Hadith: Muhammad’s Legacy in the Medieval and Modern
World (Oneworld Publications, 2009); The Canonizaton of al-Bukhari and
Muslim: The Formation and Fuction of the Sunni Hadith Muslim Canon (Brill
Publishers, 2007).
Melalui studi yang telah dilakukan Brown dalam buku Hadith:
Muhammad’s Legacy in the Medieval and Modern World, penulis mengidentifikasi
beberapa poin penting, khususnya pada bagian tiga yang memaparkan tema metode
dan sejarah kritik hadis. Secara menarik ia menjelaskan beberapa hal:
Pertama, tentang proses di mana cendekiawan Muslim mengevaluasi
laporan hadis dan tentang asumsi perubahan yang telah mendukung kegiatan ini.
Inovasi Brown tentang masalah ini, menunjukkan bahwa proses evaluasi hadis tidak
kaku secara metodologis melalui premis-premis dan dikunci dengan konklusi
yang logis.
Kedua, konten historis yang proporsional pada masing-masing sub-
bahasan. Brown –dapat dikatakan─konsisten dengan mengemukakan isu, data dan
fakta historis yang ada serta dampaknya. Dalam pada itu, ada bagian-bagian yang
ia cantumkan guna memperkuat pemahaman pembaca.
Ketiga, menariknya, dalam setiap tema, Brown mencantumkan Suggestion
for Further Reading. Bagian ini menginformasikan literatur-literatur yang relevan
dengan tema yang dibahas. Langkah ini, membuktikan bahwa Brown merupakan
akademisi ‘top’ dengan wawasan yang luas dan rigid terkait sumber apa saja yang
dapat dipakai pembaca untuk pemahaman lanjutan.

20 Ibid., h. 119-120
17
Referensi

Amrulloh, Eksistensi Kritik Matan Masa Awal; Membaca Temuan Dan


Kontribusi Jonathan Brown, Kontemplasi; Jurnal Ilmu-Ilmu
Ushuluddin, Tulungagung: IAIN Tulung Agung, 2016.
Brown, Jonathan A.C, Curirculum Vitae Jonathan A.C Brown. Washington:
Georgetown University,pdf
, Hadith; Muhammad Legacy in the Medieval and Modern World,
England: Oneworld Publications, 2009

18