Anda di halaman 1dari 13

MANAJEMEN RISIKO

Risiko Likuiditas (Liquidity Risk)

Oleh:

Kelompok 4

1. Rini Putu Nur Rahayu Sujoko (1732125024)


2. Luh Sukarini (1732125026)

PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS WARMADEWA
TAHUN 2018
I. Topik Pembahasan
1. Mengidentifikasi sumber-sumber utama risiko likuiditas
2. Menganalisis berbagai metode umum untuk mengelola risiko likuiditas

II. Mengidentikasi Sumber-sumber Utama Risiko Likuiditas


1. Definisi Risiko Likuiditas
Krisis keuangan global yang yang dipicu oleh subprime mortgage tanpa
diduga telah membawa risiko likuiditas menjadi isu terpenting dalam agenda para
praktisi dan otoritas perbankan. Krisis keuangan yang berawal pada kuartal III
tahun 2007 ini diprediksi menjadi salah satu dari krisis yang terparah dalam sejarah,
dalam hal durasi, lingkup, dan dampak kerugian bagi lembaga keuangan, serta
perekonomian global.
Risiko likuiditas merupakan bentuk risiko yang dialami oleh suatu
perusahaan karena ketidakmampuannya dalam memenuhi kewajiban jangka
pendeknya, sehingga hal itu memberi pengaruh kepada terganggunya aktivitas
perusahaan ke posisi tidak berjalan secara normal. Oleh karena itu risiko likuiditas
sering disebut dengan short term liquidity risk. Contohnya perusahaan tidak tepat
waktu dalam membayar gaji karyawan, pembayaran listrik yang terlambat, dan lain
sebagainya. Sehingga kondisi ini memberikan arah bahwa perusahaan sudah
mengalami permasalahan keuangan, yaitu berupa tertundanya berbagai kewajiban
jangka pendek.
Risiko likuiditas merupakan suatu risiko keuangan karena adanya
ketidakpastian likuiditas. Suatu lembaga dapat berkurang likuiditasnya jika
peringkat kreditnya turun, mengalami pengeluaran kas yang tak terduga, atau
peristiwa lain yang menyebabkan pihak lain menghindari transaksi atau
memberikan pinjaman ke lembaga tersebut. Suatu perusahaan juga dapat terpapar
terhadap risiko likuiditas jika pasar yang diikutinya mengalami penurunan
likuiditas.
Untuk menganalisis secara lebih dalam tentang risiko likuiditas daapt
dilakukan dengan menganalisis kondisi kemampuan suatu perusahaan yang dapat
dilihat dari segi:
a. Analisis arus kas
2
b. Analisis kewajiban jangka pendek
c. Melakukan analisis terhadap arus dana jangka pendek
Menurut pedoman standar penerapan manajemen risiko bagi Bank Umum
bahwa risiko likuiditas dapat dikategorikan sebagai berikut:
a. Risiko Likuiditas Pasar
Risiko yang timbul saat bank tidak mampu melakukan offset (mengimbangi)
posisi tertentu dengan harga pasar karena kondisi likuiditas pasar yang tidak
kondusif atau terjadi gangguan di pasar (market disruption). Contohnya Bank
XXX Syariah memberikan bagi hasil yang tidak wajar misalkan 80% (eq.rate
12 %) agar nasabah dana mau menyimpan dananya padahal pada saat yang
bersamaan pasar hanya eq. rate 8.5 %. Mengukur Likuiditas Pasar dapat
dilakukan dengan beberapa cara yaitu:
● Ask price/offer price : harga dimana pasar mau menjual
● Bid price: harga dimana pasar mau membeli
● Mid-market price: harga tengah antara ask price dengan bid price
b. Risiko Likuiditas Pendanaan
Risiko yang timbul karena bank tidak mampu mencairkan asetnya atau
memperoleh pendanaan dari sumber dana lain. Masalah likuiditas pendanaan
di lembaga keuangan dapat disebabkan oleh:
● Tekanan likuiditas dalam perekonomian
● Keputusan pendanaan terlalu agresif
● Kinerja keuangan yang buruk, menyebabkan kurangnya kepercayaan
Contoh: Bank XXX pada saat membutuhkan likuditas, Bank XXX tidak
mampu menjual obligasi yang dimilikinya walaupun sudah diberikan discount
cukup besar.

2. Sebab-sebab Terjadinya Risiko Likuiditas


Pada saat suatu perusahaan mengalami risiko likuiditas ada beberapa sebab yang
melatarbelakanginya yaitu:
a. Utang perusahaan yang berada pada posisi extreme leverage. Extreme leverage
artinya utang perusahaan sudah berada dalam kategori yang membahayakan
perusahaan itu sendiri.
3
b. Jumlah utang dan berbagai tagihan yang datang di saat jatuh tempo sudah begitu
besar, baik utang diperbankan, leasing, mitra bisnis, utang dagang, utang dalam
bentuk bunga obligasi yang sudah jatuh tempo harus secepatnya dibayar, dan
berbagai bentuk tagihan lainnya.
c. Perusahaan telah melakukan kebijakan strategi yang salah sehingga memberi
pengaruh pada kerugian yang bersifad jangka pendek dan jangka panjang.
d. Kepemilikan asset perusahaan tidak lagi mencukupi untuk menstabilkan
perusahaan, yaitu sudah terlalu banyak asset yang dijual sehingga jika asset
yang tersisa tersebut masih ingin dijual maka itu juga tidak mencukupi untuk
menstabilkan perusahaan.
e. Penjualan dan hasil keuntungan yang diperoleh adalah terjadi penurunan yang
sistematis serta fluktuatif. Jika penjualan dan keuntungan yang diperoleh
bersifad fluktuaktif, maka artinya perusahaan harus melakukan perubahan
konsep sebelum terlambat. Karena jika terjadi keterlambatan akan
menyebabkan perusahaan memperoleh profit secara fluktuaktif, sementara
kondisi profit yang baik adalah yang bersifad “konstan bertumbuh”.

III. Menganalisis berbagai metode umum untuk mengelola risiko likuiditas


Risiko likuiditas dapat dikelola dengan menggunakan manajemen arus kas yang baik
termasuk mengoptimalkan modal kerja dan dengan mempertahankan fasilitas pembiayaan
atau penyangga (buffer) likuiditas. Hal ini memungkinkan suatu bisnis dengan mudah
memenuhi kebutuhan masa depannya atau kontinjensi. Metode utama untuk mengelola
risiko likuiditas dijelaskan dibawah ini:
1. Peramalan Arus Kas
Anggaran operasional tahunan membentuk dasar dari perkiraan arus kas dan orang
yang bertanggung jawab untuk memantau dan mengelola kas harus langsung terlibat
dalam mempersiapkannya. Perkiraan arus kas yang teratur, jika dibandingkan dengan
anggaran tahunan, akan menyoroti perbedaan dari apa yang diantisipasi dan tindakan
korektif yang cepat untuk mengimbangi kecenderungan yang tidak menguntungkan
dalam ketersediaan kas. Perencanaan harus memperhitungkan transaksi dan biaya yang
terkait lainnya termasuk efek pembayaran pajak atas dana yang tersedia. Mereka yang
bertanggung jawab untuk mengelola arus kas harus memiliki akses tetap dan tepat
4
terhadap informasi penting dari bagian bisnis lainnya untuk merencanakan
penggunaan arus kas yang optimal dan pendanaan tambahan dengan cara yang efisien.
Keabsahan dan keakuratan dari proses peramalan harus dinilai secara berkala untuk
memberikan umpan balik tentang kualitas perkiraan sebelumnya dan meningkatkan
kualitas perkiraan masa depan. Sistem informasi manajemen yang efektif dapat
memberikan laporan yang tepat untuk memfasilitasi pengambilan keputusan penting.
Analisis sensitivitas akan menunjukkan efek pada kas dari fluktuasi dalam kegiatan
bisnis dan memfasilitasi pengembangan rencana darurat untuk mengimbangi
kekurangan yang tak terduga dalam bentuk kas.
2. Mengoptimalkan Modal Kerja
Manajemen arus kas akan difasilitasi jika pernyataan kebijakan yang jelas tentang
pentingnya arus kas yang dikomunikasikan secara bisnis dan kesadaran kas
dipromosikan di antara semua staf yang mengumpulkan atau menghabiskan kas.
Meskipun orang yang bertanggung jawab untuk mengelola arus kas mungkin tidak
memiliki tanggung jawab untuk mengelola komponen modal kerja, peran tersebut
dapat mencakup tanggung jawab untuk mengawasi dan melaporkan cara-cara dimana
modal kerja mempengaruhi arus kas bisnis dan dampaknya terhadap profitabilitas.
Sebagai akibatnya, untuk manajemen yang tepat dari kas dalam bisnis, orang yang
bertanggung jawab untuk mengelola kas perlu memiliki pemahaman yang baik tentang
operasi bisnis dan waspada terhadap pengaruh musiman atau faktor siklus yang dapat
menyebabkan fluktuasi kebutuhan modal kerja. Sebuah perkiraan arus kas yang baik,
bersama-sama dengan menggunakan rasio keuangan manajemen, akan
mengidentifikasi bidang utama di mana perbaikan modal kerja dapat
diimplementasikan.
3. Fasilitas Pembiayaan
Berbagai bentuk pembiayaan yang tersedia untuk bisnis akan memiliki kondisi yang
berbeda dan biaya yang harus diperhatikan dalam menentukan perpaduan yang paling
tepat dari pendanaan eksternal dan ekuitas. Tujuan dan biaya harus mencerminkan
kebutuhan jangka pendek, seperti modal kerja, serta kebutuhan jangka panjang untuk
belanja modal dan investasi. Durasi kebutuhan, ketersediaan yang terus-menerus dan
kondisi keberlanjutan atau perjanjian, semua perlu dinilai terhadap biaya dari setiap
jenis pembiayaan. Di mana lebih dari satu fasilitas pembiayaan digunakan, maka
5
tanggal jatuh tempo tidak harus jatuh pada hari yang sama, karena hal ini dapat
menciptakan risiko ketika refinancing fasilitas ini (semua fasilitas membutuhkan
pembayaran atau refinancing pada hari yang sama). Fasilitas pembiayaan harus
dicocokkan dengan tujuan pinjaman (yaitu di mana pembiayaan aset tidak lancar, maka
jangka waktu pinjaman harus sesuai dengan masa manfaat dari aset). Menjaga
hubungan dekat dengan para bankir bisnis dan menjaga mereka sepenuhnya diberitahu
tentang posisi bisnis kebutuhan dana (baik keuangan dan operasional) dan mungkin
akan membantu dalam memastikan bahwa pinjaman akan tersedia untuk memenuhi
kontinjensi jika diperlukan. komunikasi rutin dengan cara ini akan memberikan bankir
keyakinan yang lebih besar dalam pengetahuan anda tentang bisnis.
4. Penyangga (buffer) Likuiditas
Untuk bisnis yang mengalami fluktuasi arus kas yang konstan atau meningkat,
mempertimbangkan kebijakan mempertahankan buffer likuiditas. Contoh kebijakan
bisa menjadi “buffer likuiditas minimal $ x /% dari fasilitas berkomitmen / $ dari aset
likuid hal ini akan dipertahankan untuk memenuhi krisis yang tak terduga.”Kebijakan
ini juga dapat membenarkan bagaimana buffer likuiditas telah dihitung, seperti “x
bulan aliran operasional kas, atau persentase dari utang jatuh tempo dalam jangka
pendek, atau hanya persentase dari fasilitas berkomitmen saat ini”.

IV. Kasus
1. Implementasi Manajemen Risiko Likuiditas Lembaga Keuangan Mikro Syariah (Studi
Kasus BMT Aman Utama Jepara)
BMT Aman Utama adalah salah satu lembaga keuangan mikro yang berbadan
hukum Koperasi yang ada di Kota Jepara Jawa Tengah. Lembaga ini telah beroperasi dari
tahun 2009 yang lalu. Sampai akhir tahun 2012 ini, BMT Aman Utama telah memiliki
asset sebesar Rp. 4.486.692.070,- (empat milyar empat ratus delapan puluh enam juta
enam ratus sembilan puluh dua ribu tujuh puluh rupiah), dari asset tersebut terdapat
simpanan suka rela yang sewaktu- waktu dapat diambil sebesar Rp. 2.080.419.393,- (dua
milyar depalan puluh juta empat ratus sembilan belas ribu tiga ratus sembilan puluh tiga
rupiah) dan simpanan berjangka wadiah dengan jangka waktu antara satu bulan, tiga bulan,
enam bulan, dua belas bulan, dua belas bulan dan tiga puluh enam bulan sebesar Rp.
1.744.972.000,- (satu milyar tujuh ratus empat puluh empat juta sembilan ratus tujuh puluh
6
dua ribu rupiah). Dari jumlah dana pihak ketiga yang telah berhasil dihimpun tersebut, kas
dan bank yang ada di BMT Aman utama untuk menjaga likuiditasnya sebesar Rp.
1.563.721.211,- (satu milyar lima ratus enam puluh tiga juta tujuh ratus dua puluh satu
ribu dua ratus sebelas rupiah).
Sesuai dengan Pasal 93 undang- undang nomor 17 tahun 2012, ayat:
a. Koperasi Simpan Pinjam wajib menerapkan prinsip kehati-hatian.
b. Dalam memberikan Pinjaman, Koperasi Simpan Pinjam wajib mempunyai keyakinan
atas kemampuan dan kesanggupan peminjam untuk melunasi Pinjaman sesuai dengan
perjanjian.
c. Dalam memberikan Pinjaman, Koperasi Simpan Pinjam wajib menempuh cara yang
tidak merugikan Koperasi Simpan Pinjam dan kepentingan penyimpan.
d. Koperasi Simpan Pinjam wajib menyediakan informasi mengenai kemungkinan
timbulnya risiko kerugian terhadap penyimpan.
e. Koperasi Simpan Pinjam dilarang melakukan investasi usaha pada sektor riil.
f. Koperasi Simpan Pinjam yang menghimpun dana dari Anggota harus menyalurkan
kembali dalam bentuk Pinjaman kepada Anggota.
Sedangkan menurut pasal 94 ayat 1 UU no 17 tahun 2012, Koperasi Simpan
Pinjam wajib menjamin Simpanan Anggota. Ketentuan dalam undang-undang
Koperasi tebaru yaitu undang-undang nomor 17 tahun 2012, di atas disebutkan
perlunya Koperasi menerapkan prinsip kehati-hatian (prudensial) dalam mengelola
dananya baik yang disalurkan dalam bentuk pembiayaan, maupun dalam mengelola
likuiditasnya agar anggota mendapatkan jaminan keamanan dana yang telah
dipercayakan kepada Koperasi untuk mengelolaanya.
Maka dari itu BMT harus dapat mengelola likuiditasnya yang aman untuk
menjaga kepercayaan masyarakat. Regulasi tentang manajemen risiko likuiditas untuk
BMT sampai saat ini belum ada secara spesifik dan detail. Maka BMT dalam mengelola
likuiditasnya lebih mengandalkan regulasi yang dibuat dan dijalankannya sendiri (self
regulation). Hal ini akan menjadi kelemahan lembaga seperti BMT, bila regulasi yang
dibuatnya sendiri ternyata tidak mampu menjamin kelangsungan likuiditasnya dengan
manajemen risiko likuiditas yang aman. Maka dari itu penulis tergerak untuk
mengadakan penelitian tentang pelaksanaan manajemen risiko likuiditas di BMT Aman
Utama Kabupaten Jepara.
7
Hasil Penelitian
1) Penerapan Manajemen Risiko Likuiditas di BMT Aman Utama Jepara
BMT Aman Utama Jepara yang telah berkembang cukup pesat mengelola
manajemen likuiditasnya dengan pola berikut:
a. Pengawasan Oleh Pengurus dan Pengawas
Di BMT Aman Utama pengawasan yang dilakukan oleh pengurus dan
pengawas dengan mengadakan rapat rutin setiap bulan miniman dua kali.
Dalam rapat tersebut manajer menjelaskan perkembangan terkini BMT Aman
Utama kepada pengurus dan pengawas, selanjutnya pengurus dan pengawas
memberikan masukan-masukan kepada manajer tentang apa yang harus
dilakukan. Bila dianggap penting, maka pengurus mengeluarkan surat
keputusan sebagai pedoman kerja kepada manajer dan karyawan dalam bentuk
Peraturan khusus sebagai system pengawasan yang dilakukan oleh pengursus
dalam pengelolaan kas harian di kantor KSU BMT Aman Utama. Namun di
lapangan prakteknya pengurus tidak pernah membuka brankas dan melakukan
cash opname sekalipun. Hal ini menunjukkan bahwa pengawasan oleh
pengurus dan pengawas tidak dilakukan secara aktif atau hanya dilakukan
secara pasif. Kepercayaan pengurus dan pengawas kepada manajer sangat
tinggi walaupun resiko penyelewengannya juga tinggi. Pemahaman pengurus
dan pengawas akan manajemen risiko likuiditas masih rendah terutama di
tingkat Pengawas, dengan tidak dilakukannya pengawasan aktif dan on the spot
control.
b. Kebijakan, Prosedur dan Limit Risiko Likuiditas BMT Aman
Utama BMT Aman Utama dalam pelaksanaan kebijakan, prosedur dan limit
likuiditasnya berdasarkan Peraturan Khusus bernomor 003/Persus/BMT
AU/I/2014 tentang Ketentuan Pengelolaan Kas. Peraturan ini berisi:
Penyediaan Kas:
 Kas tunai masing-masing kantor pada setiap harinya maksimal Rp.
50.000.000,-
 Penyimpanan kas tersebut harus di dalam brankas
 Yang berhak membuka brankas hanya manajer cabang dan teller. Manajer
cabang pemegang kunci kode, sedangkan teller pemegang kunci manual.
8
 Setiap pagi menjelang buka, kas tersebut dikeluarkan sebagai kas teller dan
dihitung oleh teller dengan diketahui oleh manajer.
 Hasil hitung tersebut secara rinci sesuai pecahannya dan dibuatkan berita
acara kas yang ditanda tangani oleh teller dan manajer.
Kas Bank
 Penyimpanan kas bisa dilakukan di Bank atau Koperasi lain dengan
rekening atas nama KSU BMT Aman Utama.
 Pengurus bisa memberikan kuasa kepada manajer pusat untuk melakukan
transaksi di Bank atau Koperasi yang ditunjuk.
 Masing-masing kantor cabang bisa menyimpan kas di Koperasi atau Bank
terdekat dengan persetujuan manajer pusat dengan rekening atas nama KSU
BMT Aman Utama Cabang.
 Manajer cabang bisa member kuasa kepada manajer cabang untuk
melakukan transaksi pada Bank atau Koperasi yang ditunjuk.
 Masing-masing kantor cabang bisa menyimpan kas di sesame kantor
cabang untuk keperluan transaksi on line dengan persetujuan manajer pusat.
 Penarikan kas antar cabang harus diketahui oleh manajer pusat.
Opname Kas
 Setiap tutup kas, maka teller harus melakukan opname kas dengan diketahui
oleh manajer.
 Apabila dalam proses opname kas ada selisih, maka teller dan manajer
harus segera mengecek semua transaksi yang terjadi pada hari itu sampai
akhirnya benar.
 Apabila setelah melakukan transaksi dengan teliti dan seksama masih juga
belum ditemukan, maka harus segera dibuatkan berita acara selisih dan
dilaporkan kepada manajer pusat untuk mendapatkan kebijakan
selanjutnya.
 Obname kas harus dibuatkan berita acara dengna ditanda tangani teller dan
manajer.

9
Peraturan Khusus ini ditanda tangani oleh Ketua Pengurus dan Manajer
Pusat, tertanggal 2 Januari 2014, sebagai pedoman seluruh karyawan dalam
pengelolaan kas harian.
Pencairan pembiayaan kantor cabang dibatasi wewenangnya hanya Rp.
10.000.000,- ke bawah. Jumlah yang lebih besar menjadi wewenang kantor
pusat. Namun proses awal pengajuan sampai pencairan semua dilakukan oleh
kantor cabang. Bila ada pencairan diatas Rp. 10.000.000,- kantor cabang
cukup pemberitahuan ke kantor pusat melalui telepon saja. Demikian juga bila
ada pencairan dengan jumlah yang diluar wewenang manajer pusat dengan
limit final Rp. 50.000.000,-, kantor pusat cukup pemberitahuan via telepon
kepada pengurus dan pengawas. Proses awal hingga akhir dilakukan oleh
kantor cabang.
c. Proses Manajemen Risiko dan Sistem Informasi Manajemen
 Identifikasi risiko
BMT Aman Utama dalam melakukan penghimpunan dana mempunyai
produk yang dapat diambil setiap saat dan produk berjangka yang
pengambilannya dilakukan sesuai perjanjian dan sesuai karakteristik
proudknya. Pada dasarnya produk penghimpunan dana BMT Aman
Utama didominasi oleh simpanan yang pengambilannya terikat dengan
karakteristik produknya. Dari Rp. 7.348.550.223,- dana yang berhasil
dihimpun, hanya Rp. 2.604.983.948,- yang merupakan simpanan dapat
disetor dan diambil sewaktu-waktu, sisanya merupakan simpanan
berjangka dengan waktu 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 12 bulan, 24 bulan dan
36 bulan. Dari sumber dana ini BMT Aman Utama telah mengidentifikasi
resiko yang relative aman yaitu dengan produk yang didominasi simpanan
dengan karakteristik waktu pengambilan yang ditentukan sesuai perjanjian.
Walaupun identifikasi seperti ini tidak tertulis dan belum terdapat secara
metodologis di kantor BMT Aman Utama. Di sisi penyaluran dana, BMT
Aman Utama didominasi pembiayaan jangk pendek dengan jangka waktu
rata-rata 1 tahun kurang dengan pola angsuran per bulan. Namun ada
produk pembiayaan dengn pola pelunasannya per 3 bulan yang terkadang
mitra/anggota hanya membayar bagi hasilnya kemudian memperpanjang
10
akad pembiayaannya. Hal ini dapat merugikan BMT Aman Utama.
Terdapat waktu-waktu dengan jumlah pengambilan besar seperti,
ramadhan, tahun ajaran baru dan simpanan arisan motor milik GP Anshor
Kab. Jepara yang jatuh temponya 2 tahun sekali dan sekali penarikan
jumlahnya bisa mencapai diatas 2 milyar. Hal ini telah diantisipasi dengan
simpanan di Bank dan Koperasi lain dengan pola tabungan bulanan untuk
mengantisipasi jatuh tempo produk tersebut.
 Pengukuran
BMT Aman Utama tidak mempunyai metode pengukuran likuiditas yang
dipakai setiap harinya. Pengukuran likuiditas hanya didasarkan pada
kebiasaan harian anggota dalam pengambilan tabungannya dan pencairan
pembiayaan yang telah disetujui. Bila terjadi kekurangan likuiditas untuk
kas, kantor cabang member tahukan kepada kantor pusat untuk
menyediakan likuiditasnya dan menunda pencairan pembiayaan yang telah
disetujui pencairannya. Alat pengukuran yang lazim dipakai di dunia
perbankan yaitu berdasarkan proyeksi arus kas, berdasarkan rasio
likuiditas, berdasarkan profil maturitas dan stress testing, sama sekali tidak
dikenal oleh manajer dan karyawannya dan tidan menjadi dasar kebijakan
oleh pengurusnya.
 Pemantauan
Pemantauan likuiditas telah dilakukan secara harian oleh manajer pusat ke
kantor-kantor cabang dengan cara komunikasi intensif melalui telepon, sms
dan email. Namun pemantauan untuk mengantisipasi likuiditas dalam
jangka panjang tidak dilakukan, bahkan metode pengukurannya seperti
early warning indicator yang dikenal di dunia perbankan belum dikenal oleh
pengurus, manajer dan karyawan BMT Aman Utama. Sehingga bila dalam
jangka panjang terjadi rush ataupun kekurangan likuiditas, belum ada
scenario untuk mengantisipasinya.
 Pengendalian
Saat ini BMT Aman Utama belum ada divisi atau unit pengendalian
internal. Pengendalian seluruh proses transaksi maupun operasional lainnya
langsung ditangani oleh kantor pusat dengan personal 1 orang manager dan
11
1 orang administrasi keuangan (akunting). Di kantor cabang pengendalian
transaksi dan operasional lainnya dilakukan oleh manajer cabang. Bila ada
permasalahan maka kantor cabang segera memberitahukan kepada kantor
pusat, manajer pusat melakukan rapat dengan pengurus untuk mengambil
keputusan.

Diskusi
2. Jelaskan solusi yang digunakan untuk mengatasi risiko likuiditas?
Jawaban:
Solusi yang digunakan untuk mengatasi risiko likuiditas yaitu:
a. Melakukan kebijakan keuangan dengan prinsip kehati-hatian (prudential principle)
b. Menempatkan setiap keputusan perusahaan sesuai dengan situasi dan kondisi yang
ada, yaitu berdasarkan analisa jangka pendek dan jangka panjang
c. Menghindari keputusan yang bersifat mengejar keuntungan yang bersifat jangka
pendek, namun mampu memberikan kerugian yang bersifat jangka panjang. Bahwa
memperoleh profit secara konstan bertumbuh adalah lebih aman daripada secara
maksimal profit, namun bersifat fluktuatif.
3. Jika suatu perusahaan risiko likuiditasnya tinggi dan solvabilitasnya rendah, maka
apakah artinya perusahaan tersebut sudah bermasalah secara keuangan? Berikan
penjelasan anda !
Jawaban:
Kondisi dimana suatu perusahaan tidak lagi memiliki keseimbangan finansial secara baik,
karena liquiditasnya dianggap sehat namun solvabilitasnya atau kemampuan membayar
utang-utangnya secara tepat waktu dianggap berada dalam posisi bermasalah bahkan
cenderung tidak lagi tepat waktu (insolvabel). Pada posisi ini perusahaan sudah mengalami
kondisi financial distrees (kesulitan keuangan), dimana mungkin saja dana untuk
membayar utang yang sudah jatuh tempo tersebut dipakai untuk membayar kewajiban
jangka pendeknya seperti membayar listrik, telepon, gaji karyawan, gaji buruh dll.

12
Pustaka

Australia, CPA. 2010. Guide to Managing Liquidity Risk. Australia: ISBN 978-1-921742-00-
2.
Fahmi, Irham. 2018. Manajemen Risiko. Bandung: Alfabeta.
Hull, John. 2007. Risk Management and Financial Institutions. Singapore: Prentice Hall

Anwar, Aan Zainul, dan Edi Susilo. 2015. Implementasi Manajemen Risiko Likuiditas
Lembaga Keuangan Mikro Syariah (Studi Kasus BMT Aman Utama Jepara). Vol. 12,
hal 203-216.

13