Anda di halaman 1dari 20

TUGAS MAKALAH SPESIALITE OBAT DAN ALAT KESEHATAN

OBAT DISPEPSIA

DISUSUN OLEH

Arrizal Suryadirja (K1A014006)


Alsifah Nurhidayati (K1A016003)
Vera Fitriana (K1A016052)

PROGRAM STUDI FARMASI


UNIVERSITAS MATARAM
2018

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan
petunjuk- Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Obat Dispepsia. Shalawat
dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW serta berbagai
pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Adapun tujuan dalam
penyusunan makalah ini agar dapat menjadi rujukan untuk mempelajari tentang obat
dispepsia.

Untuk penulisan makalah ini, penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak
kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kami mengharapkan saran dan
kritik yang bersifat membangun dan memotivasi untuk belajar lebih baik. Terimakasih.
Semoga bermanfaat.

Mataram, November 2018

Penyusun

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ........................................................................................ i


KATA PENGANTAR....................... ............................................................... ii
DAFTAR ISI ..................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang....................................................................................... 4
B. Rumusan Masalah.................................................................................. 5
C. Tujuan ................................................................................................... 5
D. Manfaat.................................................................................................. 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian dispepsia ..................... ................................................. 7
B. Penggolongan obat dispepsia, mekanisme dan
contohnya......................................................................................... 7
BAB III PEMBAHASAN
Kasus resep dispepsia............................................................................. 13
BAB IV PENUTUP
Kesimpulan......................................................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 20

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Dispepsia merupakan salah satu gangguan pada saluran penceranaan, khususnya
lambung. Dispepsia dapat berupa rasa nyeri atau tidak enak di perut bagian tengah
keatas. Rasa nyeri tidak menentu, kadang menetap atau kambuh. Dispepsia umumnya
diderita oleh kaum produktif dan kebanyakan penyebabnya adalah pola atau gaya
hiudup tidak sehat. Gejalanya pun bervariasi mulai dari nyeri ulu hati, mual-muntah,
rasa penuh di ulu hati, sebah, sendawa yang berlebihan bahkan bisa menyebabkan
diare dengan segala komplikasinya. Dispepsia adalah kumpulan gejala atau sindrom
yang terdiri dari nyeri atau rasa tidak nyaman di epigastrium, mual, muntah,
kembung, cepat kenyang, rasa perut penuh, sendawa, regurgitasi, dan rasa panas yang
menjalar di dada. Berdasarkan pendapat para ahli bahwa 15-30% orang dewasa
pernah mengalami dispepsia (Djojoningrat, 2009).
Di Amerika Serikat, 25% dari seluruh penduduknya terkena sindrom dispepsia
(tidak termasuk keluhan refluks) dimana hanya 5% dari jumlah penderita tersebut
pergi ke dokter pelayanan primer. Di Inggris terdapat 21% penderita terkena dispepsia
dimana hanya 2% dari penderita yang berkonsultasi ke dokter pelayanan primer. Dari
seluruh penderita yang datang ke dokter pelayanan primer, hanya 40% di antaranya
dirujuk ke dokter spesialis (Wong et al., 2002). Berdasarkan data tersebut bahwa 95%
penderita di Amerika Serikat membiarkannya saja bahkan 98% penderita di Inggris
tidak pergi ke dokter. Pembiaran atau pengabaian pada kejadian sindrom dispepsia
terjadi mungkin saja karena mereka menganggap bahwa hal tersebut hanyalah hal
ringan yang tidak berbahaya; atau bisa saja pembiaran tersebut terjadi karena tingkat
pemahaman / kesadaran mengenai kesehatan belum tinggi (Lu et al., 2005).
Di Indonesia diperkirakan hampir 30% pasien yang datang ke praktik umum
adalah pasien yang keluhannya berkaitan dengan kasus dispepsia. Pasien yang datang
berobat ke praktik gastroenterologist terdapat sebesar 60% dengan keluhan dispepsia
(Djojoningrat, 2009). Berdasarkan data tersebut ternyata pasien yang mengalami
sindrom dispepsia cukup tinggi di Indonesia. Depkes (2004) mengenai profil
kesehatan tahun 2010 menyatakan bahwa dispepsia menempati urutan ke-5 dari 10
besar penyakit dengan pasien yang dirawat inap dan urutan ke-6 untuk pasien yang
dirawat jalan. Berdasarkan data kunjungan di klinik gastroenterologist didapatkan

4
sekitar 20-40% orang dewasa mengalami dispepsia, sedangkan di klinik umum hanya
sebesar 2-5%. Beragamnya angka kunjungan ini disebabkan oleh perbedaan persepsi
tentang definisi dispepsia (Rani, 2011).
Sindrom dispepsia dapat disebabkan oleh banyak hal. Menurut Djojoningrat
(2009), penyebab timbulnya dispepsia diantaranya karena faktor diet dan lingkungan,
sekresi cairan asam lambung, fungsi motorik lambung, persepsi viseral lambung,
psikologi, dan infeksi Helicobacter pylori.
Remaja adalah salah satu suatu kelompok yang berisiko untuk terkena sindrom
dispepsia (Djojoningrat, 2009). Menurut Monks (2000), remaja adalah masa peralihan
dari anak-anak ke masa dewasa yang memiliki usia antara 12-21 tahun termasuk
mahasiswa. Pada mahasiswa khususnya mahasiswa perempuan, pertumbuhan dan
perkembangan yang terjadi pada bentuk tubuh yang dimiliki oleh mahasiswa serta
kesadaran diri dalam menjaga penampilannya membuat mahasiswa memiliki
gambaran tentang diri (body image) yang salah (Heinberg & Thompson, 2009).
Selain hal tersebut di atas, kegiatan mahasiswa dalam mengerjakan berbagai
macam tugas kuliah sangat menyita waktu. Kesibukan dari mahasiswa akan hal
tersebut akan berdampak pada waktu atau jam makan sehingga walaupun sudah
sampai pada saatnya waktu makan, mahasiswa sering menunda dan bahkan lupa
untuk makan (Arisman, 2008).
Secara umum dispepsia terbagi menjadi dua jenis, yaitu dispepsia organik dan
dispepsia nonorganik atau dispesia fungsional. Dispepsia organik jarang ditemukan
pada usia muda, tetapi banyak ditemukan pada usia lebih dari 40 tahun (Richter cit
Hadi, 2002). Dispepsia dapat disebut dispepsia organik apabila penyebabnya telah
diketahui secara jelas. Dispepsia fungsional atau dispepsia non-organik, merupakan
dispepsia yang tidak ada kelainan organik tetapi merupakan kelainan fungsi dari
saluran makanan (Heading, Nyren, Malagelada cit Hadi, 2002).
1.2.Rumusan Masalah
a. Apa yang dimaksud dengan dispepsia?
b. Bagaimana penggolongan obat dispepsia, mekanisme kerja dan contohnya ?
c. Bagaimana menganalisis resep penderita dispepsia?
1.3.Tujuan
a. Mengetahui apa yang dimaksud dengan dispepsia.
b. Mengetahui bagaimana penggolongan obat dispepsia, mekanisme kerja dan
contohnya.

5
c. Mengetahui bagaimana menganalisis resep penderita dispepsia.

1.4.Manfaat
a. Manfaat akademis sebagai bahan penulisan makalah untuk memenuhi kewajiban
sebagai mahasiswa farmasi dalam menyelesaikan tugas mata kuliah spesialite
obat dan alat kesehatan.
b. Manfaat teoritis sebagai wadah bagi penulis untuk memperdalam pengetahuan
yang diperoleh selama menuntut ilmu di bangku perkuliahan.
c. Manfaat praktis makalah ini sebagai bekal pengetahuan dasar mahasiswa program
studi farmasi mengenai obat dispepsia.

6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Dispepsia

Dispepsia berasal dari bahasa Yunani, “dys” yang berarti jelek atau buruk dan
“pepsia” yang berarti pencernaan, jika digabungkan dispepsia memiliki arti indigestion
atau kesulitan dalam mencerna (N.Talley, et al., 2005). Semua gejala-gejala
gastrointestinal yang berhubungan dengan masukan makanan disebut dispepsia,
contohnya mual, heartburn, nyeri epigastrium, rasa tidak nyaman, atau distensi.
Dispepsia didefinisikan sebagai kronis atau nyeri berulang atau ketidaknyamanan
berpusat di perut bagian atas. Ketidaknyamanan didefinisikan sebagai perasaan negatif
subjektif menggabungkan berbagai gejala termasuk cepat kenyang atau kepenuhan perut
bagian atas. Pasien dengan dominan atau sering (lebih dari sekali seminggu) mulas atau
regurgitasi asam harus dianggap memiliki Gastroesophageal Reflux Disease (GERD)
sampai terbukti sebaliknya.
Pengertian dispepsia terbagi dua, yaitu :
1. Dispepsia organik, bila telah diketahui adanya kelainan organik sebagai
penyebabnya. Sindroma dispepsi organik terdapat kelainan yang nyata
terhadap organ tubuh misalnya tukak (luka) lambung, usus dua belas jari,
radang pankreas, radang empedu, dan lain-lain.
2. Dispepsia nonorganik atau dispepsia fungsional, atau dispesia nonulkus
(DNU), bila tidak jelas penyebabnya. Dispepsi fungsional tanpa disertai
kelainan atau gangguan struktur organ berdasarkan pemeriksaan klinis,
laboratorium, radiologi, dan endoskopi (teropong saluran pencernaan).
2.2. Jenis-jenis Obat Dispepsia
2.2.1. Non Farmakologi
Gejala dapat dikurangi dengan menghindari makanan yang mengganggu, diet
tinggi lemak, kopi, alkohol, dan merokok. Selain itu, makanan kecil rendah lemak
dapat membantu mengurangi intensitas gejala. Ada juga yang merekomendasikan
untuk menghindari makan yang terlalu banyak terutama di malam hari dan
membagi asupan makanan sehari-hari menjadi beberapa makanan kecil. Alternatif
pengobatan yang lain termasuk hipnoterapi, terapi relaksasi dan terapi perilaku.

7
2.2.2. Farmakologi
Pengobatan dispepsia mengenal beberapa golongan obat dan mekanisme nya serta
contoh spesialitenya, yaitu:
1. Antasid
Antasida adalah suatu garam basa anorganik lemah yang bekerja
menetralkan asam lambung yang sudah dihasilkan. Jadi, antasida baru
efektif pada saat asam lambung sudah keluar. Jenis antasida yang sering
digunakan adalah garam aluminium hidroksida dan magnesium hidroksida;
namun dapat juga berupa garam kalsium atau kombinasi beberapa jenis
garam. Antasida sebaiknya diminum sebelum makan atau 1 jam setelah
makan. Keunggulan antasida adalah onset kerjanya yang pendek (segera).
Kelemahan antasida adalah tidak dapat diberikan pada penderita gangguan
fungsi ginjal. Golongan obat ini mudah didapat dan murah. Antasid akan
menetralisir sekresi asam lambung. Antasid biasanya mengandung Na
bikarbonat, Al(OH)3, Mg(OH)2, dan Mg triksilat. Pemberian antasid jangan
terus-menerus, sifatnya hanya simtomatis, unutk mengurangi rasa nyeri. Mg
triksilat dapat dipakai dalam waktu lebih lama, juga berkhasiat sebagai
adsorben sehingga bersifat nontoksik, namun dalam dosis besar akan
menyebabkan diare karena terbentuk senyawa MgCl2.
2. Antikolinergik
Perlu diperhatikan, karena kerja obat ini tidak spesifik. Obat yang agak
selektif yaitu pirenzepin bekerja sebagai anti reseptor muskarinik yang
dapat menekan seksresi asama lambung sekitar 28-43%. Pirenzepin juga
memiliki efek sitoprotektif. Bekerja sebagai anti reseptor muskarinik yang
dapat menekan sekresi asam lambung.
3. Antagonis reseptor H2
H2-receptor antagonist bekerja sebagai inhibitor kompetitif terhadap
histamin di reseptor H2 yang terdapat di sel parietal lambung. Secara
kompetitif menghambat ikatan histamin dengan H2 reseptor di lambung
sehingga cAMP intrasel menurun, maka sekresi asam lambung menurun.
Poten menghambat asam lambung basal, sekresi nokturnal asam lambung
karena sangat tergantung pada histamin (90%). H2-receptor antagonist
hanya diindikasikan untuk meredakan gejala dispepsia saja. Golongan obat
ini banyak digunakan untuk mengobati dispepsia organik atau esensial

8
seperti tukak peptik. Obat yang termasuk golongan antagonis respetor H2
antara lain simetidin, roksatidin, ranitidin, dan famotidin. Antagonis
reseptor-H2 sebaiknya digunakan dengan hati-hati pada pasien dengan
gangguan ginjal, kehamilan, dan pasien menyusui. Antagonis reseptor-
H2 dapat menutupi gejala kanker lambung; perhatian khusus perlu diberikan
pada pasien yang mengalami perubahan gejala dan pada pasien setengah
baya atau yang lebih tua.

a. Simetidin, merupakan antagonis kompetitif histamin pada reseptor H2


dari sel parietal sehingga secara efektif dapat menghambat sekresi asam
lambung. Simetidin juga memblok sekresi asam lambung yang
disebabkan oleh rangsangan makanan, asetilkolin, kafein, dan insulin.
Simetidin digunakan untuk pengobatan tukak lambung atau usus dan
keadaan hipersekresi yang patologis, misal sindrom Zolinger – Ellison
(Siswandono & Soekardjo, 1995).
b. Ranitidin, merupakan antagonis kompetitif histamin yang khas pada
reseptor H2 sehingga secara efektif dapat menghambat sekresi asam
lambung, menekan kadar asam dan volume sekresi lambung.
c. Famotidin, merupakan antagonis kompetitif histamin yang khas pada
reseptor H2, sehingga secara efektif dapat menghambat sekresi asam
lambung, menekan kadar asam dan volume sekresi lambung. Famotidin
merupakan antagonis H2 yang kuat dan sangat selektif dengan masa
kerja panjang.
d. Nizatidin, efek farmakologi dan potensi nizatidin sama seperti
ranitidin. Berbeda dengan simetidin, ranitidin, dan famotidin (yang
dimetabolisme oleh hati), nizatidin dieliminasi terutama oleh ginjal.
Karena sedikit terjadi metabolisme first-pass dengan nizatidin, maka
ketersediaan hayatinya hampir 100%.
4. Penghambat pompa asam (proton pump inhibitor = PPI)
Proton pump inhibitors atau PPI adalah salah satu obat gastrointestinal yang
paling banyak mendapat perhatian saat ini. PPI merupakan derivat
benzimidazol yang bekerja pada bagian sekretori sel-sel parietal lambung
dan berikatan dengan saluran ion H+/K+-ATPase (pompa proton).
Berikatan irreversibel dan inhibisi nonkompetitif dengan H+/K+-ATPase
(proton pump) pada sel parietal yang menghambat sekresi ion H+ ke dalam

9
lumen lambung. Lebih dari 90% menghambat sekresi asam lambung baik
basal maupun yang distimulasi oleh makanan. Bagian ini berperan pada
tahap akhir produksi asam lambung. Oleh karena itulah obat ini mampu
menghasilkan penekanan asam lambung lebih kuat dan lebih lama daripada
obat-obat gastritis lainnya. PPI sebaiknya diberikan sebelum makan agar
fungsinya dapat dioptimalkan. Golongan obat ini mengatur sekresi asam
lambung pada stadium akhir dari proses sekresi asam lambung. Obat-obat
yang termasuk golongan PPI adalah omeperazol, lansoprazol, dan
pantoprazol. PPI juga diformulasi dalam bentuk tablet salut enterik
sehingga tidak mudah rusak oleh asam lambung.

a. Omeprazole adalah PPI pertama yang dipasarkan. Obat ini cukup cost
effective untuk ekonomi menengah. Adalah satu-satunya PPI yang
pernah ditemukan menyebabkan efek negatif pada hewan coba yang
hamil. Suatu inhibitor enzim sitokrom CYP2C19 yang relatif kuat;
sehingga omeprazole ini berinteraksi dengan clopidogrel (antiagregasi
platelet), ketokonazole (antijamur), digoxin (obat gagal jantung),
warfarin, fenitoin, dan carbamazepine (obat epilepsi). Omeprazole juga
merupakan PPI yang paling cepat mencapai kadar puncak dalam darah,
namun juga memiliki waktu paruh terpendek di antara semua PPI.
Omeprazole masih merupakan bentuk rasemik, yang terdiri atas
enantiomer-R dan enantiomer-S (esomeprazole).
b. Esomeprazole, S-enantiomer dari omeprazole, memiliki banyak sifat
serupa dengan omeprazole termasuk farmakokinetik yang nonlinear.
Namun karena tidak lagi bersifat rasemik, esomeprazole telah terbukti
lebih efektif daripada omeprazole rasemik. Banyak digunakan untuk
mengatasi perdarahan lambung. Umumnya obat ini diberikan secara
intravena dengan loading dose dilanjutkan dengan pemberian dosis
infus yang lebih lambat, baru kemudian dialihkan ke bentuk oral.
c. Lansoprazole memiliki mekanisme kerja lewat inaktivasi jalur sitokrom
CYP3A4 sehingga interaksi terhadap clopidogrel lebih rendah daripada
omeprazole. Pengendalian asam lambung dicapai lebih cepat dengan
pemberian lansoprazole oral dibandingkan PPI lainnya; meskipun
setelah 24 jam efek ini relatif sama saja antara semua PPI.
Lansoprazole juga memiliki efek after-night yang relatif baik dalam
mengendalikan asam lambung.
d. Pantoprazole memiliki mekanisme kerja agak berbeda karena PPI ini
tidak terlalu berpengaruh ke sistem sitokrom CYP2C19, melainkan
lebih ke CYP2D9. US Food and Drug Administration (FDA) telah
mengeluarkan pernyataan pada bulan Oktober 2010 yang menyatakan
bahwa pemakaian clopidogrel bersama omeprazole dapat menurunkan
kadar clopidogrel aktif dalam darah; dengan pantoprazole yang
merupakan inhibitor lemah terhadap CYP2C19 adalah alternatif untuk

10
kasus ini. Dalam bentuk intravena obat ini relatif stabil dibandingkan
PPI intravena lainnya yang cepat berubah warna setelah dilarutkan.
e. Rabeprazole memiliki mekanisme kerja paling berbeda dengan PPI lain
karena juga melewati jalur aktivasi nonenzimatik. Seperti pantoprazole,
obat ini cocok untuk lansia yang polifarmasi karena interaksi obat yang
minimal.

5. Sitoprotektif
Prostoglandin sintetik seperti misoprostol (PGE1) dan enprostil (PGE2).
Selain bersifat sitoprotektif, juga menekan sekresi asam lambung oleh sel
parietal. Sukralfat berfungsi meningkatkan sekresi prostoglandin endogen,
yang selanjutnya memperbaiki mikrosirkulasi, meningkatkan produksi
mukus dan meningkatkan sekresi bikarbonat mukosa, serta membentuk
lapisan protektif (site protective), yang bersenyawa dengan protein sekitar
lesi mukosa saluran cerna bagian atas (SCBA).
6. Golongan prokinetik
Obat yang termasuk golongan ini, yaitu cisaprid, domperidon, dan
metoklopramid. Golongan ini cukup efektif untuk mengobati dispepsia
fungsional dan refluks esofagitis dengan mencegah refluks dan
memperbaiki bersihan asam lambung (acid clearance) (Mansjoer et al,
2007).
a. Domperidon merupakan antagonis dopamin yang secaraperiferal bekerja selektif
pada reseptor D2. Domperidone mempunyai khasiat antiemetik yang sama dengan
metoclopramide. Efek antiemetik dapat disebabkan oleh kombinasi
efek periveral (gaslrokinetik) dengan antagonis terhadap reseptor
dopamin di" chemoreceptor trigger zone ,yang terletak diluar Sawar
darahotak di area postrema.Pemberian domperidone per oral dapat
menambah lamanya kontraksiU antral dan duodenum, meningkatkan
pengosongan lambung dan menambah tekanan pada sfingter esofagus
bagianbawah pada orang sehat.
b. Metoklorpamid
Metoklopramid akan menginhibisi stimulus otot polos kolinergik yang
akan meningkatkan gerak peristaltik esofagus, meningkatkan tekanan
pada otot spingter esofagus bagian bawah dan meningkatkan
pengosongan lambung, namun obat ini tidak menimbulkan efek pada

11
usus halus dan usus besar serta tidak menimbulkan peningkatan pada
fungsi sekresi saluran cerna. Metoklopromaid juga memblok reseptor
D2 dopamine di chemoreceptor trigger zone di medula yang
mencetuskan gejala mual dan muntah sehingga menimbulkan efek
antimual dan antimuntah.

c. Cisaprid

Sebagai stimulant motilitas yang lebih selektif. Cara kerja


Metoclopramide selain melalui sifat kolinomimetik, juga melalui
mekanisme antagonis dopamine yang kuat (shg dapat berfungsi juga
sbg anti-emetikum/anti-muntah) dan dapat memasuki system saraf
pusat.
Cara kerja Cisapride selain melaui sifak kolinomimetik juga melalui
kerja agonis perifer 5-HT4 dan tidak memasuki system saraf pusat.
Kedua obat ini melalui mekanisme sifat kolinomimetik-nya
(meningkatkan respon kolinoreseptor dan atau asetilkolin yang beperan
pada mekanisme digest), mempercepat klirens esophagus,
meningkatkan tonus sfingter esophagus bagian bawah, mempercepat
pengosongan lambung dan memperpendek waktu transit pada usus
halus.

7. Golongan anti depresi


Kadang kala juga dibutuhkan psikoterapi dan psikofarmaka (obat anti-
depresi dan cemas) pada pasien dengan dispepsia fungsional, karena tidak
jarang keluhan yang muncul berhubungan dengan faktor kejiwaan seperti
cemas dan depresi (Sawaludin, 2005).

12
BAB III
PEMBAHASAN

4.1 PENATALAKSANAAN OBAT DISPEPSIA

British Society Gastroenterology (BSG) dalam Purnamasari (2017) menyatakan


bahwa dyspepsia bukan suatu diagnosis melainkan kumpulan gejala yang mengarah pada
penyakit/gangguan saluran pencernaan bagian atas meliputi rasa nyeri atau tidak nyaman
di area gastro-duodenum (epigastrium/ulu hati), rasa terbakar, penuh, cepat kenyang,
mual atau muntah. Terapi dyspepsia perlu dibedakan.Untuk subtype nyeri atau distress
postprandial (dyspepsia fungsional).Pada tipe nyeri epigastrium, terapi pertama bertujuan
untuk menekan asam lambung (H-2 Blocker, PPI). Sedangkan pada tipe postprandial,
terapi pertama dengan prokinetik seperti metoklopramid/domperidon (antagonis
dopamin), acotiamide (inhibitor asetilkolinesterase), cisapride (antagonis serotonin Tipe
3/5HT3), tegasetod (agonis 5HT4), buspiron (agonis 5HT). Bila lini pertama gagal, PPI
dapat digunakan untuk tipe distres postprandial dan prokinetik untuk tipe
nyeri.Kombinasi obat penekan asam lambung dan prokinetik bermanfaat pada beberapa
pasien.Tidak ada terapi yang efektif untuk semua pasien; berbagai terapi dapat digunakan
secara berurutan ataupun kombinasi.

Pada kasus yang tidak berespons terhadap obat-obat tersebut, digunakan


antidepresan. Antidepresan trisiklik (amitriptilin 50 mg/hari, nortriptilin 10 mg/ hari,
imipramin 50 mg/hari) selama 8-12 minggu cukup efektif untuk terapi dispepsia
fungsional, SSRI atau SNRI tidak lebih efektif dari plasebo. Meskipun masih
kontroversial, dapat dilakukan tes H. pylori pada kasus dispepsia fungsional mengingat
infeksi tersebut umumnya asimptomatik.Terapi kondisi psikologis seperti cemas atau
depresi dapat membantu pada kasus dispepsia sulit/ resisten.Terapi psikologis,
akupunktur, suplemen herbal, probiotik psikologis pada dispepsia fungsional masih
belum terbukti.Edukasi pasien penting untuk menghindari faktor pencetus seperti
mengurangi stres/ kecemasan, memulai pola makan teratur porsi lebih sedikit dan
menghindari makanan pemicu.

Terapi GERD bertujuan untuk mengurangi jumlah asam lambung yang memasuki
esofagus distal dengan cara menetralkan asam lambung, mengurangi produksi, dan
meningkatkan pengosongan lambung ke duodenum, serta menghilangkan
ketidaknyamanan akibat rasa terbakar. Terapi pilihan, yaitu PPI atau H2-blocker dapat
didukung dengan pemberian antasida, agonis 5-HT4, atau analog prostaglandin
(sukralfat, misoprostol).Edukasi pasien untuk mengurangi makanan/minuman pemicu
gejala dispepsia (pedas, berlemak, asam, kopi, dan alkohol), membiasakan makan porsi
sedikit frekuensi sering, tidak langsung berbaring setelah makan, elevasi tubuh bagian
atas saat tidur dan menurunkan berat badan direkomendasikan.

Terapi ulkus H. pylori bertujuan eradikasi kuman dan menyembuhkan ulkus,


melalui 3 regimen, yaitu: PPI (co. omeprazole 2x2040 mg) atau H2-blocker (co.

13
ranitidine 2x150 mg atau 300 mg sebelum tidur), ditambah dua antibiotik berikut:
klaritomisin 2x500 mg, amoksisilin 2x1 g, atau metronidazol 2x400500 mg selama 7-14
hari. Jika alergi terhadap penisilin, diberikan 4 macam terapi, yaitu: PPI (co. omeprazole
2x20-40 mg), bismuth 4x120 mg, metronidazol 4x250 mg, dan tetrasiklin 4x500 mg
selama 10-14 hari. Eradikasi H. pylori perlu diverifikasi dengan tes non-invasif (uji
napas urea, tes antigen tinja) 4 minggu setelah selesai terapi.Terapi ulkus peptikum
terkait NSAID adalah dengan menghentikan penggunaan NSAID atau mengganti dengan
antinyeri inhibitor COX-2 selektif.Terapi dengan PPI cukup efektif pada ulkus terkait
NSAID (lebih superior dibandingkan H2-blocker). Infus kontinu PPI selama 72 jam
direkomendasikan pada kasus perdarahan ulkus peptikum berat, untuk mempertahankan
pH lambung

4.2 RESEP OBAT DISPEPSIA

Gambar 1. Resep Obat Dispepsia


4.3 ANALISA BAHAN OBAT

a. Omeprazole menurunkan sekresi asam lambung melalui mekanisme yang sangat


selektif serta menyebabkan inhibisi spesifik terhadap enzim H+, K+ , ATPase yang
merupakan “pompa proton” dalam sel parietal. Inhibisi tersebut besarnya tergantung
dari dosis. Oleh karena efek ini menghambat fase akhir dari pembentukan asam

14
lambung, terjadilah hambatan yang efektif terhadap sekresi asam basal serta sekresi
akibat stimulasi, tidak tergantung dari stimulus pembentukan asamnya. Omeprazole
tidak mempunyai efek terhadap reseptor asetilkolin atau histamin. Tidak dijumpai
efek farmakodinamik yang bermakna secara klinis selain efek Omeprazole terhadap
sekresi asam. Mula kerja obat berlangsung cepat dan pengendalian reversibel sekresi
asam lambung dapat dicapai dengan dosis sekali sehari.
• Indikasi : Pengobatan jangka pendek untuk tukak usus dua belas jari
(duodenal ulcer), tukak lambung (gastric ulcer) dan refluks esofagitis
erosif/ulseratif. - Pengobatan sindroma Zollinger-Ellison.
• Dosis :
a. Dosis yang dianjurkan 20 mg sekali sehari diminum dengan air. Pada
penderita dengan gejala tukak usus dua belas jari, pengobatan dan
penyembuhan berlangsung dalam waktu 2 minggu. Pada penderita dengan
gejala tukak lambung atau refluks esofagitis erosif/ulseratif, pengobatan
dan penyembuhan memerlukan waktu 4 minggu. Bagi penderita yang
belum sembuh dibutuhkan waktu sekitar 4 minggu lagi.
b. Pada penderita yang sukar disembuhkan dengan pengobatan lain,
diperlukan 40 mg sekali sehari dan biasanya penyembuhan dapat tercapai
dalam waktu 4 minggu (bagi penderita tukak usus dua belas jari) atau 8
minggu (bagi penderita tukak lambung atau refluks esofagitis
erosif/ulseratif).
c. Sindroma Zollinger-Ellison: Dosis yang dianjurkan pada awal pengobatan
adalah 60 mg sekali sehari. Dosis ini harus disesuaikan untuk masing-
masing individu dan perawatan berlangsung selama indikasi klinis.
Penderita dengan penyakit berat memerlukan dosis sekitar 20-120 mg per
hari.
d. Untuk dosis lebih dari 80 mg per hari, dosis harus dibagi dan diberikan dua
kali sehari. Gangguan fungsi ginjal dan hati: Tidak diperlukan penyesuaian
dosis. Anak-anak: Belum ada pengalaman penggunaan pada anak-anak.
Orang tua: Tidak diperlukan penyesuaian dosis bagi penderita lanjut usia.
• Peringatan dan Perhatian : Sebelum diberikan pengobatan harus dipastikan
tidak adanya keganasan di lambung, karena pengobatan dengan Omeprazole
mengurangi gejala keganasan tersebut sehingga memperlambat penentuan
diagnosa. Penggunaan dalam kehamilan dan menyusui: Seperti semua obat
baru lainnya, Omeprazole sebaiknya tidak diberikan selama masa kehamilan
dan menyusui kecuali apabila penggunaannya memang dianggap perlu. Studi
terhadap hewan tidak menunjukkan bukti adanya bahaya akibat penggunaan
Omeprazole selama masa kehamilan dan menyusui. Tidak pula dijumpai
keracunan terhadap janin (fetus) atau efek teratogenik.
• Efek Samping : Mual, sakit kepala, diare, sembelit dan perut kembung pernah
dilaporkan, namun jarang terjadi. Pada penderita tertentu dapat tejadi
gangguan berupa kemerahan pada kulit. Hal tersebut sifatnya sementara dan

15
biasanya ringan serta tidak mempunyai hubungan yang konsisten dengan
pengobatan.
• Kontraindikasi : Sampai sekarang belum diketahui adanya kontraindikasi.
• Interaksi Obat : Omeprazole menghambat metabolisme oksidatif beberapa
obat. Kenaikan konsentrasi yang bermakna dan memperpanjang waktu
eliminasi dari diazepam pernah dilaporkan pada sejumlah sukarelawan yang
diberikan perawatan selama 7 hari dengan dosis 40 mg per hari. Omeprazole
mempunyai aktifitas inhibitor 7-ethoxycumarin-diethylase yang lebih kuat dari
pada simetidin.
• Penyimpanan : Simpan pada suhu di bawah 25°C
b. Domperidone
Domperidone merupakan obat anti-emetik kuat yang bekerja dengan
cara meningkatkan pergerakan atau kontraksi dari lambung dan usus. Dengan
demikian maka proses pencernaan makanan menjadi lebih cepat. Makanan yang
singgah di lambung tidak perlu berlama-lama karena lebih cepat didorong ke dalam
usus.
• Indikasi obat : mengatasi mual dan muntah yang disebabkan oleh efek
samping obat, misalnya levodopa dan bromokriptin, mengatasi
gejala dispepsia fungsional dalam jangka waktu yang pendek.
• Kontraindikasi obat :
a. Orang yang alergi terhadap domperidone atau kandungan lain dari obat.
b. Penggunaan pada anak-anak tidak dianjurkan, kecuali untuk mengatasi
mual muntah ketika menjalani kemoterapi kanker dan radioterapi.
c. Orang yang memiliki gangguan pada hipofisis di otak,
berupa prolaktinoma yang memproduksi hormon prolaktin.
d. Memiliki masalah usus serius seperti perdarahan internal (menjadi lebih
berdarah), atau obstruksi atau perforasi lambung atau usus. Ketika
dipaksakan akan menimbulkan kram perut yang parah.
• Dosis :
a. Pengobatan dispepsia fungsional atau gangguan motilitas gastrointestinal:
digunakan domperidone tablet 10 miligram (mg) untuk dewasa, diminum
tiga sampai empat kali sehari. Beberapa pasien mungkin memerlukan dosis
yang lebih tinggi hingga 20 mg tiga atau empat kali sehari (satu kali
sebelum tidur).
b. Mual dan muntah (termasuk yang disebabkan oleh levodopa dan
bromokriptin) :Dewasa (termasuk usia lanjut) : 10–20 mg, sebanyak 3 atau
4 kali sehari.
c. Anak-anak (sehubungan kemoterapi kanker dan radioterapi) : 0,2–0,4
mg/Kg BB sehari, sebanyak 3 atau 4 kali sehari

16
4.4 ANALISA RESEP

Sebelum dilakukan peracikan dan pemberian obat, seorang farmasis atau apoteker
terlebih dahulu melakukan skrining terhadap resep yang diterima baik skrining
administrasi,kesesuaian farmasetis, maupun pertimbangan klinis.Tujuannya yakni
menjamin keamanan (safety) efektifitas (efficacy) dari obat dalam resep ketika digunakan
pasien serta memaksimalkan tujuan terapi.

a. Skrining administrasi
Saat melakukan prosedur ini, biasanya apoteker akan melakukan penerapan
persyaratan administrasi yang akan menjadi bukti legal terhadap resep yang telah
dikeluarkan oleh dokter. Sehingga obat yang diberikan kepada pasien juga
memberikan manfaat yang sangat maksimal. Persyaratan administrasi yang harus ada
di dalam resep saat diberikan kepada pasien biasanya terdiri dari:
• Nama, SIP atau Surat Ijin Praktek dan alamat dokter yang memberikan resep
• Memuat tanggal yang sesuai dengan pemeriksaan.
• Dokter harus mencantumkan tanda tangan secara jelas
• Memiliki keterangan pasien seperti nama, alamat, jenis kelamin, usia hingga berat
badan
• Memiliki informasi tambahan tentang cara pemakaian dan dosis yang diberikan
secara jelas
• Beberapa dokter juga biasanya memberikan catatan tambahan untuk keterangan
yang dibutuhkan apoteker.
Berdasarkan skrining administrasi, resep tersebut masih terdapat beberapa kekurangan
meliputi dosis, bentuk sediaan, aturan pakai seperti sebelum makan ataupun setelah
makan.Karena dari masing-masing obat tersebut terdapat variasi baik dari segi dosis
maupun bentuk sediaan.Oleh karenanya, apoteker sebaiknya mengkonfirmasi kepada
dokter penulis resep terkait hal tersebut.
b. Skrining farmasetik
Prosedur ini biasanya dilakukan untuk melakukan pemeriksaan fisik maupun
informasi tambahan yang dimiliki oleh obat itu.Hal ini diterapkan untuk memudahkan
pemberian obat dengan komposisi dan pilihan jenis yang sesuai terhadap saran
dokter.Beberapa penyesuaian farmasetik yang diberikan pada resep yakni bentuk
ketersediaan obat yang biasanya disesuaikan dengan stok di apotek dan tingkat
ketecampuran obat (kompaktibilitas) serta stabilitas obat yang diberikan sehingga
memberikan kemudahan terhadap konsumsi pasien dalam waktu yang cukup lama.

17
Berdasarkan skrining farmasetik yang telah dilakukan, resep tersebut bukan
merupakan resep peracikan sehingga mampu mengurangi efek buruk akibat
ketidakcampuran obat stabilitas obat.
c. Skrining klinis
Skrining resep pada prosedur ini dilakukan melalui pertimbangan secara
klinis. Biasanya hal ini akan meliputi efek samping, interaksi terhadap pasien hingga
keterangan dosis yang memang dibutuhkan pasien. Biasanya apoteker juga melakukan
konsultasi kepada dokter bila ditemukan keraguan pada beberapa bagian jenis obat
yang diberikan.Bahkan, beberapa apoteker juga menerapkan pilihan lainnya bila jenis
obat yang diberikan kurang sesuai dengan kondisi pasien.
Berdasarkan skrining resep yang telah dilakukan, Domperidon adalah obat
untuk mengobati mual, muntah, dyspepsia dan reflux gastroesofagus yang merupakan
antagonis dopamin yang secara periferal bekerja selektif pada reseptor D2.Sedangkan
omeprazole merupakan obat maag yang memiliki mekanisme kerja menghambat
pompa proton. Untuk menghindari adanya interaksi dari kedua obat maka konsumsi
obat tidak dilakukan secara bersamaan.Konsumsi domperidon terlebih dahulu, diikuti
dengan obat maag. Jika memungkinkan paling tidak 1 jam pemberian karena
domperidon memerlukan suasana asam saat bekerja, jika seseorang mengkonsumsi
obat mag, lambung tidak dalam keadaan asam, sehingga akan mengurangi efek dari
domperidon, hasilnya keluhan mual, muntah tidak teratasi.Aturan pemakaian obat
omeprazole menurut resep yakni sekali sehari 1 tablet.Dosis yang dianjurkan sekali
sehari diminum adalah dosis 20 mg. Pada penderita dengan gejala tukak usus dua
belas jari, pengobatan dan penyembuhan berlangsung dalam waktu 2
minggu.Sedangkan aturan pemakaian obat domperidone yakni 2 kali sehari setengah
tablet.Biasanya obat ini diberikan 3 atau 4 kali sehari, sedangkan dalam resep hanya 2
kali sehari setengah tablet sehingga dalam 1 hari pasien mengkonsumsi obat 1 tablet.
Resep tersebut diperuntukkan untuk pasien usia 57 tahun.

18
BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan yang telah diuraikan mengenai obat dispepsia, dapat disimpulkan bahwa :
1. Dispepsia adalah kumpulan gejala atau sindrom yang terdiri dari nyeri atau rasa
tidak nyaman di epigastrium, mual, muntah, kembung, cepat kenyang, rasa perut
penuh, sendawa, regurgitasi, dan rasa panas yang menjalar di dada. Terbagi atas
dispepsia organik dan dispepsia anorganik.
2. Golongan obat dispepsia meliputi antasid, akan menetralisir sekresi asam
lambung. Antasid biasanya mengandung Na bikarbonat, Al(OH)3, Mg(OH)2, dan
Mg triksilat. Antikolinergik, obat yang agak selektif yaitu pirenzepin bekerja
sebagai anti reseptor muskarinik yang dapat menekan seksresi asama lambung
sekitar 28-43%. Pirenzepin juga memiliki efek sitoprotektif. Antagonis reseptor
H2, golongan obat ini banyak digunakan untuk mengobati dispepsia organik atau
esensial seperti tukak peptik, antara lain simetidin, roksatidin, ranitidin, dan
famotidin. Penghambat pompa asam (proton pump inhibitor = PPI), golongan
obat ini mengatur sekresi asam lambung pada stadium akhir dari proses sekresi
asam lambung. Obat-obat yang termasuk golongan PPI adalah omeperazol,
lansoprazol, dan pantoprazol. Sitoprotektif, prostoglandin sintetik seperti
misoprostol (PGE1) dan enprostil (PGE2).Golongan prokinetik, obat yang
termasuk golongan ini, yaitu sisaprid, domperidon, dan metoklopramid.
2. Analisis resep obat dyspepsia dapat dilakukan melalui skrining resep baik
administrasi, farmasetik maupun klinis. Berdasarkan skrining administrasi masih
terdapat bagian-bagian yang belum lengkap dalam resep seperti dosis, bentuk
sediaan, aturan pakai seperti sebelum makan ataupun setelah makan. Berdasarkan
skrining farmasetik yang telah dilakukan, resep tersebut bukan merupakan resep
peracikan sehingga mampu mengurangi efek buruk akibat ketidakcampuran obat
stabilitas obat. Sedangkan berdasarkan skrining klinis, jika obat domperidone dan
omeprazol dikonsumsi dalam waktu yang sama maka dapat menyebabkan adanya
interaksi obat yang dapat mengurangi efek dari domperidon, hasilnya keluhan
mual, muntah tidak teratasi. Adanya beberapa masalah tersebut maka seorang
apoteker perlu mengkonfirmasi kembali terhadap resep yang diterima kepada
dokter yang bersangkutan agar menjamin keamanan (safety), efektifitas (efficacy
memaksimalkan tujuan terapi obat.

19
DAFTAR PUSTAKA

Arisman. 2008. Buku Ajar Ilmu Gizi Keracunan Makanan. Jakarta : Kedokteran EGC.

Departemen Kesehatan RI. 2004. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Djojoningrat, D. 2009. Dispepsia Fungsional dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1
Edisi 5. Jakarta : Interna Publishing.

Heinberg, L.J dan Thompson J. K. 2009. The Media Influence on Body Image Disturbance
and Eating Disorders : We’ve Reviled Them, Now Can We Rehabilitate Them. The
Journal of Social Issues. 55, 339-353.

Monks, F.J, dkk. 2000. Psikologi Perkembangan. Yogyakarta : UGM Press.

Rani, A.A Jacobus A. 2011. Buku Dasar Gastroenterologi. Jakarta : Interna Publishing.

Wong, D.L et al. (2002). Personality and Value Based Materialism : Their Relationship and
Origins. Journal of Consumer Psychology. 12(4), 389-402.

20