Anda di halaman 1dari 32

Laporan Kasus

Meningitis

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat Kepaniteraan Klinik


di Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSMH Palembang

Oleh:
Annisa Khaira Ningrum, S.Ked 04054821719060

Pembimbing:
dr. Msy. Rita Dewi M., Sp.A(K)

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
RSUP Dr.MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG
2018

1
HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Kasus

Topik
MENINGITIS

Oleh
Annisa Khaira Ningrum, S.Ked 04054821719060

Pembimbing
dr. Msy. Rita Dewi M., Sp.A(K)

Telah diterima dan disetujui sebagai salah satu syarat dalam mengikuti
Kepaniteraan Klinik Senior di Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas
Kedokteran Univesitas Sriwijaya / Rumah Sakit Mohammad Hoesin Palembang
periode 17 September 2018 – 26 November 2018.

Palembang, September 2018


Pembimbing,

dr. Msy. Rita Dewi M., Sp.A(K)

2
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kepada Allah swt, karena atas berkat dan rahmat-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kasus dengan topik “Meningitis”.
Di kesempatan ini penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada dr. Msy. Rita Dewi M., Sp.A(K) selaku pembimbing yang telah
membantu dalam penyelesaian laporan kasus ini. Laporan kasus ini merupakan
salah satu syarat dalam mengikuti kepaniteraan klinik senior di Departemen Ilmu
Kesehatan Anak FK UNSRI-RSUP Dr. Moh. Hoesin Palembang.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman, dan semua
pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan laporan kasus ini, sehingga
laporan kasus ini dapat diselesaikan oleh penulis.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan kasus ini masih banyak
terdapat kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu, segala saran dan kritik yang
bersifat membangun sangat penulis harapkan. Demikianlah penulisan laporan ini,
semoga bermanfaat, amin.

Palembang, September 2018

Penulis

3
BAB I
PENDAHULUAN

Demam adalah peninggian suhu tubuh dari variasi suhu normal sehari-hari
yang berhubungan dengan peningkatan titik patokan suhu di hipotalamus
(Dinarello & Gelfand, 2005). Suhu tubuh normal berkisar antara 36,5-37,2°C.
Derajat suhu yang dapat dikatakan demam adalah rectal temperature ≥38,0°C
atau oral temperature ≥37,5°C atau axillary temperature ≥37,2°C (Kaneshiro &
Zieve, 2010).
Demam dapat disebabkan oleh faktor infeksi ataupun faktor non infeksi.
Demam akibat infeksi bisa disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, jamur, ataupun
parasit. Infeksi bakteri yang pada umumnya menimbulkan demam pada anak-anak
antara lain pneumonia, bronkitis, osteomyelitis, appendisitis, tuberculosis,
bakteremia, sepsis, bakterial gastroenteritis, meningitis, ensefalitis, selulitis, otitis
media, infeksi saluran kemih, dan lain-lain (Graneto, 2010).
Meningitis adalah salah satu penyebab demam pada anak. Meningitis
merupakan infeksi cairan otak disertai radang yang mengenai piameter (lapisan
dalam selaput otak) dan arakhnoid serta dalam derajat yang lebih ringan mengenai
jaringan otak dan medula spinalis yang superfisial. Meningitis merupakan
masalah medis yang sangat penting karena angka kematiannya masih cukup tinggi
khususnya pada Negara berkembang. Faktor resiko utama untuk meningitis adalah
respons imunologi terhadap patogen spesifik yang lemah terkait dengan umur
muda. Resiko terbesar pada bayi (1 – 12 bulan); 95 % terjadi antara 1 bulan dan 5
tahun, tetapi meningitis dapat terjadi pada setiap umur.
Gejala demam pada meningitis sering disertai dengan kejang khususnya
pada meningitis bacterial. Kejang demam ini umumnya muncul pada pasien
meningitis di sekitar usia 6 bulan sampai 3 tahun. Kejang demam adalah
bangkitan kejang yang terjadi karena peningkatan suhu tubuh dengan cepat
hingga >38oC. Kejang demam pada meningitis membutuhkan penatalaksanaan
segera karena berhubungan dengan defisit neurologi di kemudian hari.
BAB II

4
STATUS PASIEN

I. IDENTIFIKASI
a. Nama : Athafaris Hizam Adnan Oktrian
b. Umur : 11 bulan 14 hari
c. Jenis Kelamin : Laki-laki
d. Nama Ayah : Deri Mahasaputra / 31 th
e. Nama Ibu : Cholifa / 31 th
f. Bangsa : Indonesia
g. Alamat : Jl. Irigasi No. 3186 RT 53 RW 15 Kelurahan
Srijaya Kecamatan Alang-Alang Lebar Palembang
Sumatera Selatan.
h. Dikirim oleh : RS. Bunda (21 September 2018)
i. MRS Tanggal : 21 September 2018

II. ANAMNESIS (Subjektif/S)


Tanggal : 22 September 2018
Diberikan oleh : Alloanamnesis terhadap ibu pasien

a. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


1. Keluhan Utama : Kejang disertai penurunan
kesadaran
2. Keluhan tambahan : Batuk pilek
3. Riwayat Perjalanan Penyakit :
+ Sejak 3 hari SMRS, pasien menderita batuk pilek, dahak (-),
darah (-), demam (-), muntah (-). BAK dan BAB biasa. Kemudian
pasien dibawa berobat ke bidan dan dikatakan demam tinggi, suhu
badan pasien lupa dan di rujuk ke RS Bunda.
Sejak 12 jam SMRS, menurut nenek penderita mulai kejang selama
perjalanan menuju ke rumah sakit. Kejang umum tonik, mata tampak
berkedip-kedip, lamanya 1 menit, frekuensi kejang 1x sehari, inter dan

5
post iktal penderita tertidur, demam (+), demam tidak diukur, pasien
malas berinteraksi, batuk (+), pilek (+), sesak (-), muntah (-).
Pasien dibawa berobat ke RS Bunda dan dikatakan demam
(40.30C) diberikan obat penurun panas parasetamol supposituria,
setelah 30 menit pasien kejang kembali umum tonik, lamanya 1 menit,
frekuensi kejang 1 menit, inter dan post iktal pasien tertidur, kemudian
diberikan stesolid supositoria 5 mg. Ibu pasien menyangkal adanya
riwayat trauma pada pasien.
Lebih kurang 15 menit pasien kembali kejang dengan temperatur
39,7oC, frekuensi kejang 1 menit, inter dan post iktal pasien tertidur,
kemudian diberikan stesolid suposituria 5mg. Kejang berhenti namun
pasien masih belum sadar. Pasien di rujuk ke RSMH untuk dirawat di
PICU. Selama diperjalanan pasien tertidur kemudian menangis saat di
IGD RSMH Palembang.

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat kejang sebelumnya tidak ada.

Riwayat Dalam Keluarga


Riwayat kejang pada kakak pasien ada.
Kakak pertama pasien, perempuan, usia 5 tahun, kejang 1x saat
usia 5 tahun.
Kakak kedua pasien, laki-laki, usia 3 tahun, kejang 1x saat usia 2
tahun.

Riwayat Sosio Ekonomi


Ayah bekerja sebagai seorang karyawan swasta dan ibu sebagai
karyawan swasta. Menanggung 3 orang anak. Penghasilan orang tua
berkisaran Rp 4.000.000/bulan. Biaya pengobatan ditanggung oleh
BPJS kesehatan.
Kesan : Ekonomi menengah.

6
b. RIWAYAT SEBELUM MASUK RUMAH SAKIT
1. Riwayat Kehamilan dan Kelahiran
Lahir dari ibu G3P2A0
Masa Kehamilan : Cukup Bulan
Partus : Normal
Tempat : Klinik dokter bersama
Ditolong oleh : Dokter spesialis kandungan
Tanggal : 11 Oktober 2017
BB : 2.800 g
PB : 42 cm
Lingkar kepala : Ibu pasien lupa

2. Riwayat Makanan:
ASI : 0 - 2 Bulan Tempe :-
Susu botol : 6 bulan - sekarang Tahu :-
Bubur Nasi :- Sayuran :-
Nasi Tim/lembek : 6 Bulan - sekarang Buah :-
Nasi Biasa :- Lain-lain :-
Daging :- Kesan :-
Kualitas :-
3. Riwayat Imunisasi
Jenis Imunisasi Usia
Imunisasi Dasar
1. Hepatitis B 0 0 hari
2. BCG dan Polio 1 1 bulan
3. DPT/HB/HiB 1, Polio 2 2 bulan
4. DPT/HB/HiB 2, Polio 3 3 bulan
5. DPT/HB/HiB 3, Polio 4 4 bulan
6. Campak 9 bulan
KESAN : Imunisasi lengkap

7
4. Riwayat Keluarga
Perkawinan : 1 kali
Umur : Ayah : 27 tahun
Ibu : 24 Tahun
Pendidikan : Ayah : Tamatan SMK
Ibu : Tamatan SMA
Penyakit yang pernah diderita : Ayah : -
Ibu :-

5. Riwayat Perkembangan
Gigi Pertama : 7 bulan Berdiri :-
Berbalik : 3 bulan Berjalan :-
Tengkurap : 3 bulan Berbicara :-
Merangkak : 7 bula Duduk : 5 bulan
Kesan : perkembangan nornal

6. Riwayat Penyakit Yang Pernah Diderita


Parotitis : - Muntah Berak :-
Pertusis :- Asma :-
Difteri :- Cacingan : -
Tetanus :- Patah Tulang :-
Campak : - Jantung :-
Varicela : - Sendi Bengkak :-
Tifoid :- Kecelakaan :-
Demam Menahun : - Operasi :-
Radang Paru :- Keracunan :-
TBC :- Sakit Kuning :-
Kejang :- Alergi :-
Lumpuh : - Perut Kembung : -
Otitis Medis :- Malaria :-
Batuk/pilek :- DBD :-

8
III. PEMERIKSAAN FISIK ( Objektif / O)
A. PEMERIKSAAN FISIK UMUM
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Somnolen
BB : 8 Kg
PB atau TB : 75 Cm
Status gizi
BB/U : -2 SD (Gizi Kurang)
TB (PB)/U : -3 SD (Perawakan Pendek)
BB/TB (PB) : -2 SD (Kurus)
Lingkar kepala : 46 cm (-2SD mikrosefali)
Edema (-), sianosis (-), dispnue (-), anemia (+), ikterus (-), dismorfik
(-).
Suhu : 37,1 OC
Respirasi : 32 x/menit, Tipe Pernapasan :
torakoabdominal
Tekanan Darah : 100/60 mmHg
Nadi : 132 x/ menit, Isi/kualitas : cukup
Regularitas : reguler
Kulit : Pucat

B. PEMERIKSAAN KHUSUS
KEPALA : Ubun-ubun menonjol (+)
Mata : Mata cekung (-/-), konjungtiva anemis (-/-), sklera
ikterik (-/-), edema palpebra (-), pupil isokor
3mm/3mm, refleks cahaya (+/+).
Mulut : Perdarahan di gusi (-), Sianosis sirkumoral tidak ada,
mukosa mulut dan bibir kering (+), fisura (-), cheilitis (-
).
Gigi : Tidak ada kelainan
Lidah : Tidak ada kelainan

9
Faring/Tonsil : Tidak ada kelainan
Hiperemis : (-)
BesLAG : T1/T1
Kesan : Wajah tampak pucat

LEHER
Inspeksi : Tidak ada kelainan
Palpasi : JVP, 5+ cmH2O, tidak ada pembesaran kelenjar getah
bening

THORAX
Inspeksi : simetris, retraksi intercostal (-)
Palpasi : Stem fremitus kanan=kiri
A. PARU
Perkusi : Sonor pada kedua lapangan paru
Auskultasi : vesikuler normal pada kedua lapangan paru
Ronkhi : (-)
Wheezing: (-)

B. JANTUNG
Inspeksi : iktus cordis tidak terlihat
Palpasi : iktus cordis tidak teraba, thrill tidak teraba
Perkusi : Jantung dalam batas normal

Auskultasi
Bunyi jantung I
Mitral : Normal
Trikuspid : Normal

Bunyi jantung II
Pulmonal : Normal

10
Aorta : Normal
Bising jantung : -

ABDOMEN
Inspeksi : Datar, simetris, cembung (-), lesi kulit (-)
Palpasi : lemas, turgor kulit > 3 detik, nyeri tekan (-), hepar dan lien
tidak
teraba
Perkusi : timpani, shifting dullness (-), undulasi (-)
Auskultasi : Bising usus (+) normal

EKSTREMITAS
Inspeksi
Bentuk : Normal
Deformitas : (-)
Edema : (-)
Trofi : (-)
Pergerakan : (-)
Tremor : (-)
Chorea : (-)
Akral : Hangat
Lain-lain : (-)

INGUINAL
Kelenjar Getah Bening : Tidak ada pembesaran kelenjar getah
bening
Lain-lain :-

GENITALIA
LAKI-LAKI :

11
Phimosis :-
Testis :-
Scrotum :-

STATUS PUBERTAS :-

STATUS NEUROLOGIS
Lengan Tungkai
Fungsi motorik
Kanan Kiri Kanan Kiri
Gerakan Sulit dinilai Sulit dinilai Sulit dinilai Sulit dinilai
Kekuatan Sulit dinilai Sulit dinilai Sulit dinilai Sulit dinilai
Tonus Normal Normal Normal Normal
Klonus Normal Normal Normal Normal
Refleks fisiologis - - - -
Refleks patologis - - - -
Gejala Rangsang - - - -
Meningeal
Fungsi sensorik - - - -
Nervi kraniales - - - -
Refleks primitif - - - -

IV. RENCANA PEMERIKSAAN


- Darah perifer lengkap
- Rontgen thorax AP/Lateral
- CRP

V. RESUME
An. MN 9 bulan datang dengan keluhan kejang, penurunan kesadaran, dan
BAB cair. + Sejak 5 Hari SMRS, pasien menderita BAB cair, frekuensi 10x/hari,
cair lebih banyak dari ampas @3 sendok makan. Darah (-), lendir (-), demam (+),
batuk (+), pilek (+), muntah (-), kejang (-), BAK biasa. Pasien berobat ke dokter

12
umum dan diberikan obat 3 macam (ibu pasien lupa) keluhan BAB cair
berkurang.
Sejak 12 jam SMRS, penderita mulai kejang. Kejang umum tonik klonik,
mata tampak berkedip-kedip, lamanya 1 menit, frekuensi kejang 6x sehari, inter
dan post iktal penderita tertidur, demam (+), pasien malas minum, batuk (+), pilek
(+), sesak (-), muntah (-), pasien BAK seperti biasa. Pasien dibawa berobat ke RS
Banyuasin dan diberikan stesolid supositoria, kejang berhenti namun pasien
demam dengan temperatur 39,5oC. Pasien di rujuk ke RSMH dengan kondisi tidak
berhasil dipasang infus. Selama diperjalanan pasien mengalami kejang umum
tonik-klonik lamanya 1 menit, frekuensi kejang 1x, inter dan post iktal penderita
tertidur.
Pada pemeriksaan didapatkan TD 100/60mmHg, Nadi 132x/menit, suhu
37.1oC, RR 32x/menit, BB 6,8 kg, PB 62 cm, akral pucat. Napas cuping hidung (-
), konjungtiva anemis (+), mukosa mulut dan bibir kering (+), JVP 5+2 cmH2O,
retraksi (-), BJ I dan II (+) normal, turgor kulit > 3 detik, nyeri tekan abdomen (-),
hepar dan lien tidak teraba edema pretibial (-). Gerakan dan kekuatan lengan dan
tugkai buruk, tonus hipotoni, klonus (+) menurun, reflex fisiologis (+) babinsky,
reflex patologis (-).
Saat dirawat di RSMH demam dan diare berkurang, lesu lemah (+),
demam (-), kejang (-). Dari hasil pemeriksaan laboratorium tanggal 27 Mei 2015
bakteri dalam tinja (+) dan pada 29 Mei 2015 didapatkan keadaan hipokalemia
dan hipokalsemia.

VI. DAFTAR MASALAH


1. Kejang
2. Penurunan Kesadaran

VII. DIAGNOSIS BANDING


1. Meningitis
2. Ensefalitis
3. Meningoensefalitis

13
VIII. DIAGNOSIS KERJA
Penurunan Kesadaran ec Meningitis + diare akut dehidrasi ringan-sedang

IX. TATALAKSANA (Planning / P)


a. PEMERIKSAAN ANJURAN
Laboratorium: LCS, Kultur darah, Pemeriksaan Hematologi (Hb, RBC,
WBC, Hitung Jenis, Leukosit) Metabolisme Karbohidrat (Gula darah
sewaktu), Elekrolit (Kalsium, Natrium, Kalium, Chlorida).

b. TERAPI ( SUPORTIF –SIMPTOMATIS-CAUSATIF)


FARMAKOLOGIS
Kausal
 Ceftriaxone 3x700 mg selama 7-10 hari.
 Vancomycin 4x100 mg selama 7-14 hari.
 Dexametason 3x2 mg selama 4-5 hari.

Suportif
 IVFD KaEN 3B  4 jam I 50 cc/KgBB 350 cc dalam 4 jam
 20 jam II 150cc/KgBB 1020 cc dalam 20 jam
 Ca Glukonas 4 cc dalam D5 30 cc habis dalam 1 jam tiap 8 jam.
 Oralit 70 cc setiap BAB cair

Simptomatis
 Paracetamol 70 mg jika T>38,5 C

c. DIET
 ASI
 Susu F100 6x100 cc + BB 3x1/4

14
d. MONITORING
 Tanda Vital
 Keseimbangan cairan dan elektrolit

e. EDUKASI
1. Memberi informasi pada keluarga bahwa dapat terjadi komplikasi
berupa gangguan motoris, sensoris, kognitif, bahasa, dan gangguan
organ.
2. Menjelaskan kepada keluarga kemungkinan terjadinya defisit
neurologis
3. Mengajak kerja sama kepada keluarga untuk rajin kontrol kesehatan
anak pasca perawatan

X. PROGNOSIS
1. Qua ad vitam : dubia et malam
2. Qua ad functionam : dubia et malam
3. Qua ad sanationam : dubia et malam

FOLLOW UP (Subjektif/Objektif/Assestment/Planning)
Tanggal CATATAN KEMAJUAN RENCANA PARAFSUPERISOR
– Jam (S/O/A) TATALAKSANA

15
26 Mei S : Demam(+), kejang (-), BAB P: KaEN 3B 7x/makro, zinc
2015 Cair (+) 3x, air > ampas 1x 20 g, ampicilin 3x700 g,
ceftriaxon 3x700 g,
O: KU : E3M5V2 Nadi 120x/m, dexamethason 3x g,
RR 28x/m, T 38,0 C. Keadaan paracetamol 70 mg jika T>
Spesifik : Kepala: mata cekung 38, 5 C, Susu F100 6x100 cc
(+), konjungtiva anemis (+/+), + BB 3x 1/4 , Ca glukonas 4
sklera ikterik (-/-), edema palpebra cc dalam D5 30 cc habis
(-/-). Thorax : simetris, retraksi dalam 1 jam tiap 8 jam.
intercostal (-). Extremitas: akral Kultur darah.
hangat.
Status neurologis: gerakan dan
kekatan belum dapat dinilai, tonus
dan klonu hipotoni.

A: Meningitis Bakterialis+diare
akut dehidrasi ringan sedang
terehidrasi+hipokalemi+
hipocalcemia

27 Mei S : Demam(+), kejang (-), BAB P: KaEN 3B 7x/makro, oralit


2015 Cair (+) 3x, air > ampas 70cc tiap BAB cair, zink 1x
20 g, ampicilin 3x700 g,
O: KU : E3M5V2 ceftriaxon1x700 g,
Nadi 128x/m, RR 30x/m, T 38,2 dexamethason 3x g,
C. Keadaan Spesifik : Kepala: paracetamol 70 mg jika T>
mata cekung (+), konjungtiva 38, 5 C, Susu F100 6x120 cc
anemis (+/+), sklera ikterik (-/-), via NGT, Ca glukonas 4 cc
edema palpebra (-). Thorax : dalam D5 30 cc habis dalam 1
simetris, retraksi intercostal (-/-). jam tiap 8 jam. Cek ulang
Abdomen: cubitan kulit kembali elektrolit.
cepat (+). Extremitas : akral

16
hangat.
Status neurologis: gerakan luas
dan kekuatan 5, tonus dan klonu
eutoni.

A: Meningitis Bakterialis+diare
akut dehidrasi ringan sedang
terehidrasi+hipokalemi+
hipocalcemia

28 Mei S : kejang (-), demam(-), diare (-) P: KaEN 3B 7x/makro, oralit


2015 70cc tiap BAB cair, zinc 1x
O: KU : E3M3V2 20 g, ampicilin 3x700 g,
Nadi 126x/m, RR 46x/m, T 38,5 ceftriaxon 1x700 g,
C. Keadaan Spesifik : Kepala: dexamethason 3x2 mg,
mata cekung (-), konjungtiva paracetamol 3x70 mg jika T>
anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), 38,5 C, Ca glukonas 4 cc
edema palpebra (-). Thorax : dalam D5 30 cc habis dalam 1
simetris, retraksi intercostal (-/-). jam tiap 8 jam.
Abdomen: cubitan kulit kembali.
Extremitas : akral hangat, CRT < 3
detik.
Status neurologis: gerakan spastik
luas dan kekuatan belum bisa
dinilai, tonus hipertoni, dan klonu
(-).

A: Meningitis Bakterialis+diare
akut dehidrasi ringan sedang
perbaikan

29 Mei S : Demam(+), kejang (+), BAB P: Kaen3B 7x/makro, oralit

17
2015 air = ampas 2x (pengaruh anti 70cc tiap BAB cair, zinc 1x
kejang) 20 g, ampicilin 3x700 g,
ceftriaxon1x700 g,
O: KU : E2M4V2 dexamethason 3x g,
Nadi 130x/m, RR 4x/m, T 38,8 C. paracetamol 70 mg jika T>
Keadaan Spesifik : Kepala: mata 38, 5 C, Susu F100 6x120 cc
cekung (+), konjungtiva anemis via NGT, Ca glukonas 4 cc
(+/+), sklera ikterik (-/-), edema dalam D5 30 cc habis dalam 1
palpebra (-). Thorax : simetris, jam tiap 8 jam. Cek ulang
retraksi intercostal (-/-). Abdomen: elektrolit.
cubitan kulit kembali lambat.
Extremitas : akral hangat.
Status neurologis: gerakan dan
kekuatan belum dapat dinilai ,
tonus eutoni dan klonus (-).

A: Meningitis Bakterialis+diare
akut dehidrasi ringan sedang
terehidrasi+hipokalemi+
hipocalcemia

30 Mei S : kejang (-), demam (-), diare (-) P: Kaen 3B 7x/makro, oralit
2015 70cc tiap BAB cair, zinc 1x
O: KU : E3M4V3 20 g, ceftriaxon 1x700 g,
Nadi 128x/m, RR 30x/m, T 38,2 dexamethason 3x g,
C. Keadaan Spesifik : Kepala: paracetamol 70 mg jika T>
mata cekung (-), konjungtiva 38, 5 C, Susu F100 6x120 cc
anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), via NGT, Ca glukonas 4 cc
edema palpebra (-). Thorax : dalam D5 30 cc habis dalam 1
simetris, retraksi intercostal (-/-). jam tiap 8 jam.
Abdomen: cubitan kulit kembali
cepat (+). Extremitas : akral

18
hangat. \
Status neurologis: gerakan luas
dan kekuatan 5, tonus dan klonu
eutoni.

A: Meningitis Bakterialis+diare
akut dehidrasi ringan sedang
terehidrasi+hipokalemi+
hipocalcemia

1 Juni S : Demam(-), kejang (-), P: KaenA3B 7x/makro, oralit


2015 O: KU : CM 70cc tiap BAB cair, zinc 1x
Nadi 110x/m, RR 26x/m, T 36,5 20 g, ampicilin 3x700 g,
C. Keadaan Spesifik : Kepala: ceftriaxon 1x700 g,
mata cekung (-), konjungtiva dexamethason 3x g,
anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), paracetamol 70 mg jika T>
edema palpebra (-). Thorax : 38, 5 C, Susu F100 6x120 cc
simetris, retraksi intercostal (-/-). via NGT, Bubur saring 3x200
Abdomen: cubitan kulit kembali kkal. Ca glukonas 4 cc dalam
cepat (+). Extremitas : akral D5 30 cc habis dalam 1 jam
hangat. tiap 8 jam. Cek ulang
Status neurologis: gerakan luas elektrolit.
dan kekuatan 5, tonus dan klonu
eutoni. Reflex fisiologis normal,
GRM (-).

A: Meningitis Bakterialis+diare
akut dehidrasi ringan sedang
terehidrasi+hipokalemi+
hipocalcemia

19
4 Juni S : Demam(+), kejang (-), BAB P: KaenA3B 7x/makro, oralit
2015 Cair (-) 70cc tiap BAB cair, zinc 1x
20 g, ampicilin 3x700 g,
O: KU : E3M5V2 ceftriaxon 1x700 g,
Nadi 128x/m, RR 30x/m, T 38,2 dexamethason 3x g,
C. Keadaan Spesifik : Kepala: paracetamol 70 mg jika T>
mata cekung (+), konjungtiva 38, 5 C, Susu F100 6x120 cc
anemis (+/+), sklera ikterik (-/-), via NGT, Bubur saring 3x200
edema palpebra (-). Thorax : kkal. Ca glukonas 4 cc dalam
simetris, retraksi intercostal (-/-). D5 30 cc habis dalam 1 jam
Abdomen: cubitan kulit kembali tiap 8 jam. Cek ulang
cepat (+). Extremitas : akral elektrolit.
hangat, CRT < 2 detik.
Status neurologis: gerakan luas
dan kekuatan 5, tonus dan klonu
eutoni.

A: Meningitis Bakterialis+diare
akut dehidrasi ringan sedang
(selesai) + hipocalcemia (7.7)

20
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
KEJANG DEMAM PADA MENINGITIS BAKTERIALIS

DEFINISI

Meningitis adalah peradangan pada selaput otak (meningens) yang


disebabkan infeksi pathogen, ditandai adanya pathogen penyebab, bisa berupa
bakteri maupun virus dan peningkatan sel-sel polimorfonuklear pada analisis
cairan serebrospinal (CSS). infeksi cairan otak disertai radang yang mengenai
piameter (lapisan dalam selaput otak) dan arakhnoid serta dalam derajat yang
lebih ringan mengenai jaringan otak dan medula spinalis yang superfisial.
Meningitis bakterialis penyebabnya adalah bakteri, meningitis ini merupakan
salah satu infeksi yang berbahaya pada anak karena tingginya kejadian komplikasi
akut dan kecacatan neurologis permanen di kemudian hari.

ETIOLOGI

Etiologi meningitis bakterialis pada tiap kelompok umur berbeda karena


tergantung pada lingkungan dan daya tahan tubuh. Jenis pathogen yang
menyebabkan meningitis pada neonatus biasanya berasal dari flora normal ibu ,
seperti Streptococcus dan E. coli. Sementara Neisseria meningitides dan S.
pneumonia adalah pathogen utama pada bayi yang lebih besar. Pada keadaan
seperti imunodefisiensi, pasien dapat terinfeksi oleh pathogen yang lebih jarang,
seperti Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aureus, Salmonella, atau
Staphylococcus koagulase negatif.

21
PATOFISIOLOGI

Meningitis pada umumnya sebagai akibat dari penyebaran penyakit di


organ atau jaringan tubuh yang lain. Virus/bakteri menyebar secara hematogen
sampai ke selaput otak, misalnya pada penyakit Faringitis, Tonsilitis, Pneumonia,
Bronchopneumonia dan Endokarditis. Penyebaran bakteri/virus dapat pula secara
perkontinuitatum dari peradangan organ atau jaringan yang ada di dekat selaput
otak, misalnya Abses otak, Otitis Media, Mastoiditis, Trombosis sinus dan
Sinusitis. Penyebaran kuman bisa juga terjadi akibat trauma kepala dengan fraktur
terbuka atau komplikasi bedah otak. Invasi kuman-kuman ke dalam ruang
subaraknoid menyebabkan reaksi radang pada pia dan araknoid, CSS (Cairan
Serebrospinal) dan sistem ventrikulus.

Mula-mula pembuluh darah meningeal yang kecil dan sedang mengalami


hiperemi; dalam waktu yang sangat singkat terjadi penyebaran sel-sel leukosit
polimorfonuklear ke dalam ruang subarakhnoid, kemudian terbentuk eksudat.
Dalam beberapa hari terjadi pembentukan limfosit dan histiosit dan dalam minggu
kedua sel-sel plasma. Eksudat yang terbentuk terdiri dari dua lapisan, bagian luar
mengandung leukosit polimorfonuklear dan fibrin sedangkan di lapisaan dalam
terdapat makrofag.
Proses radang selain pada arteri juga terjadi pada vena-vena di korteks dan
dapat menyebabkan trombosis, infark otak, edema otak dan degenerasi
neuronneuron.Trombosis serta organisasi eksudat perineural yang fibrino-purulen
menyebabkan kelainan kraniales. Pada Meningitis yang disebabkan oleh virus,
cairan serebrospinal tampak jernih dibandingkan Meningitis yang disebabkan oleh
bakteri.

GEJALA KLINIS MENINGITIS

22
Meningitis ditandai dengan adanya gejala-gejala seperti panas mendadak,
letargi, muntah dan kejang. Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan
cairan serebrospinal (CSS) melalui pungsi lumbal. Meningitis karena virus
ditandai dengan cairan serebrospinal yang jernih serta rasa sakit penderita tidak
terlalu berat. Pada umumnya, meningitis yang disebabkan oleh Mumpsvirus
ditandai dengan gejala anoreksia dan malaise, kemudian diikuti oleh pembesaran
kelenjer parotid sebelum invasi kuman ke susunan saraf pusat. Pada meningitis
yang disebabkan oleh Echovirus ditandai dengan keluhan sakit kepala, muntah,
sakit tenggorok, nyeri otot, demam, dan disertai dengan timbulnya ruam
makopapular yang tidak gatal di daerah wajah, leher, dada, badan, dan
ekstremitas. Gejala yang tampak pada meningitis Coxsackie virus yaitu tampak
lesi vasikuler pada palatum, uvula, tonsil, dan lidah dan pada tahap lanjut timbul
keluhan berupa sakit kepala, muntah, demam, kaku leher, dan nyeri punggung.
Meningitis bakteri biasanya didahului oleh gejala gangguan alat pernafasan dan
gastrointestinal. Meningitis bakteri pada neonatus terjadi secara akut dengan
gejala panas tinggi, mual, muntah, gangguan pernafasan, kejang, nafsu makan
berkurang, dehidrasi dan konstipasi, biasanya selalu ditandai dengan fontanella
yang mencembung. Kejang dialami lebih kurang 44 % anak dengan penyebab
Haemophilus influenzae, 25 % oleh Streptococcus pneumoniae, 21 % oleh
Streptococcus, dan 10 % oleh infeksi Meningococcus. Pada anak-anak dan dewasa
biasanya dimulai dengan gangguan saluran pernafasan bagian atas, penyakit juga
bersifat akut dengan gejala panas tinggi, nyeri kepala hebat, malaise, nyeri otot
dan nyeri punggung. Cairan serebrospinal tampak kabur, keruh atau purulen.
Meningitis Tuberkulosa terdiri dari tiga stadium, yaitu stadium I atau stadium
prodormal selama 2-3 minggu dengan gejala ringan dan nampak seperti gejala
infeksi biasa. Pada anak-anak, permulaan penyakit bersifat subakut, sering tanpa
demam, muntah-muntah, nafsu makan berkurang, murung, berat badan turun,
cengeng, opstipasi, pola tidur terganggu dan gangguan kesadaran berupa
apatis. Pada orang dewasa terdapat panas yang hilang timbul, nyeri kepala,
konstipasi, kurang nafsu makan, fotofobia, nyeri punggung, halusinasi, dan sangat
gelisah.

23
Stadium II atau stadium transisi berlangsung selama 1 – 3 minggu dengan
gejala penyakit lebih berat dimana penderita mengalami nyeri kepala yang hebat
dan kadang disertai kejang terutama pada bayi dan anak-anak. Tanda-tanda
rangsangan meningeal mulai nyata, seluruh tubuh dapat menjadi kaku, terdapat
tanda-tanda peningkatan intrakranial, ubun-ubun menonjol dan muntah lebih
hebat. Stadium III atau stadium terminal ditandai dengan kelumpuhan dan
gangguan kesadaran sampai koma. Pada stadium ini penderita dapat meninggal
dunia dalam waktu tiga minggu bila tidak mendapat pengobatan sebagaimana
mestinya.
Demam pada Meningitis sering kali menjadi pemicu kejang, akan tetapi
ambang kejang anak berbeda dan tergantung dari tinggi rendahnya ambang kejang
seseorang anak. Sering kali anak menderita kejang pada kenaikan suhu tertentu.
Pada anak dengan ambang kejang yang rendah, kejang telah terjadi pada suhu 38
derajat celcius, sedangkan pada anak dengan ambang kejang yang tinggi, kejang
baru terjadi pada suhu 40 derajat celcius atau lebih. Terulangnya kejang demam
lebih sering terjadi pada ambang kejang yang rendah sehingga dalam
penanggulangannya perlu diperhatikan pada tingkat suhu berapa penderita kejang

PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Pemeriksaan Pungsi Lumbal


Pada bayi kecil seringkali sulit untuk menegakkan atau menyingkirkan diagnosis
meningitis karena manifestasi klinisnya tidak jelas. Oleh karena itu pungsi lumbal
dianjurkan pada:
1. Bayi kurang dari 12 bulan sangat dianjurkan dilakukan
2. Bayi antara 12-18 bulan dianjurkan
3. Bayi > 18 bulan tidak rutin
Lumbal pungsi biasanya dilakukan untuk menganalisa jumlah sel dan
protein cairan cerebrospinal, dengan syarat tidak ditemukan adanya
peningkatan tekanan intrakranial.

24
a. Pada Meningitis Serosa terdapat tekanan yang bervariasi, cairan jernih, sel
darah putih meningkat, glukosa dan protein normal, kultur (-).
b. Pada Meningitis Purulenta / meningitis bakteri terdapat tekanan meningkat,
cairan keruh, jumlah sel darah putih dan protein meningkat, glukosa
menurun, kultur (+) beberapa jenis bakteri.

2. Pemeriksaan darah
Dilakukan pemeriksaan kadar hemoglobin, jumlah leukosit, Laju
Endap Darah (LED), kadar glukosa, kadar ureum, elektrolit dan kultur.
a. Pada Meningitis Serosa didapatkan peningkatan leukosit saja. Disamping
itu, pada Meningitis Tuberkulosa didapatkan juga peningkatan LED.
b. Pada Meningitis Purulenta / meningitis bakteri didapatkan peningkatan
leukosit.

3. Pemeriksaan Radiologis
a. Pada Meningitis Serosa dilakukan foto dada, foto kepala, bila mungkin
dilakukan CT Scan.
b. Pada Meningitis Purulenta / bakteri dilakukan foto kepala (periksa
mastoid, sinus paranasal, gigi geligi) dan foto dada.
. PENATALAKSANAAN KEJANG DEMAM

Biasanya kejang demam berlangsung singkat. Apabila datang dalam


keadaan kejang obat yang paling cepat untuk menghentikan kejang adalah
diazepam yang diberikan secara intravena. Dosis diazepam intravena adalah 0,3-
0,5 mg/kg perlahan-lahan dengan kecepatan 1-2 mg/menit atau dalam waktu 3-5
menit, dengan dosis maksimal 20 mg. Obat yang praktis dan dapat diberikan oleh
orang tua atau di rumah adalah diazepam rektal (level II-2, level II-3, rekomendasi
B). Dosis diazepam rektal adalah 0,5-0,75 mg/kg atau diazepam rektal 5 mg untuk
anak dengan berat badan kurang dari 10 kg dan 10 mg untuk berat badan lebih
dari 10 kg. Atau diazepam rektal dengan dosis 5 mg untuk anak dibawah usia 3

25
tahun atau dosis 7,5 mg untuk anak di atas usia 3 tahun (lihat bagan
penatalaksanaan kejang demam).
Bila setelah pemberian diazepam rektal kejang belum berhenti, dapat
diulang lagi dengan cara dan dosis yang sama dengan interval waktu 5 menit. Bila
setelah 2 kali pemberian diazepam rektal masih tetap kejang, dianjurkan ke rumah
sakit. Di rumah sakit dapat diberikan diazepam intravena dengan dosis 0,3-0,5
mg/kg. Bila kejang tetap belum berhenti diberikan fenitoin secara intravena
dengan dosis awal 10-20 mg/kg/kali dengan kecepatan 1 mg/kg/menit atau kurang
dari 50 mg/menit. Bila kejang berhenti dosis selanjutnya adalah 4-8 mg/kg/hari,
dimulai 12 jam setelah dosis awal. Bila dengan fenitoin kejang belum berhenti
maka pasien harus dirawat di ruang rawat intensif. Bila kejang telah berhenti,
pemberian obat selanjutnya tergantung dari jenis kejang demam apakah kejang
demam sederhana atau kompleks dan faktor risikonya.
PEMBERIAN OBAT PADA SAAT DEMAM
Antipiretik
Tidak ditemukan bukti bahwa penggunaan antipiretik mengurangi risiko
terjadinya kejang demam, namun para ahli di Indonesia sepakat bahwa antipiretik
tetap dapat diberikan. Dosis parasetamol yang digunakan adalah 10 –15
mg/kg/kali diberikan 4 kali sehari dan tidak lebih dari 5 kali. Dosis Ibuprofen 5-10
mg/kg/kali ,3-4 kali sehari Meskipun jarang, asam asetilsalisilat dapat
menyebabkan sindrom Reye terutama pada anak kurang dari 18 bulan, sehingga
penggunaan asam asetilsalisilat tidak dianjurkan .

Antikonvulsan
Pemakaian diazepam oral dosis 0,3 mg/kg setiap 8 jam pada saat demam
menurunkan risiko berulangnya kejang pada 30%-60% kasus, begitu pula dengan
diazepam rektal dosis 0,5 mg/kg setiap 8 jam pada suhu > 38,5 0C. Dosis tersebut
cukup tinggi dan menyebabkan ataksia, iritabel dan sedasi yang cukup berat pada
25-39% kasus. Fenobarbital, karbamazepin, dan fenitoin pada saat demam tidak
berguna untuk mencegah kejang demam .
Pemberian obat rumat

26
Indikasi pemberian obat rumat
Pengobatan rumat hanya diberikan bila kejang demam menunjukkan ciri
sebagai berikut (salah satu):
1. Kejang lama > 15 menit
2. Adanya kelainan neurologis yang nyata sebelum atau sesudah kejang,
misalnya hemiparesis, paresis Todd, cerebral palsy, retardasi mental,
hidrosefalus.
3. Kejang fokal
4. Pengobatan rumat dipertimbangkan bila:
• Kejang berulang dua kali atau lebih dalam 24 jam.
• Kejang demam terjadi pada bayi kurang dari 12 bulan.
• kejang demam > 4 kali per tahun
Jenis antikonvulsan untuk pengobatan rumat
Pemberian obat fenobarbital atau asam valproat setiap hari efektif dalam
menurunkan risiko berulangnya kejang (level I). Berdasarkan bukti ilmiah bahwa
kejang demam tidak berbahaya dan penggunaan obat dapat menyebabkan efek
samping, maka pengobatan rumat hanya diberikan terhadap kasus selektif dan
dalam jangka pendek (rekomendasi D). Pemakaian fenobarbital setiap hari dapat
menimbulkan gangguan perilaku dan kesulitan belajar pada 40-50% kasus.
Obat pilihan saat ini adalah asam valproat. Pada sebagian kecil kasus, terutama
yang berumur kurang dari 2 tahun asam valproat dapat menyebabkan gangguan
fungsi hati. Dosis asam valproat 15-40 mg/kg/hari dalam 2-3 dosis, dan
fenobarbital 3-4 mg/kg per hari dalam 1-2 dosis.

LAMA PENGOBATAN RUMAT


Pengobatan diberikan selama 1 tahun bebas kejang, kemudian dihentikan
secara bertahap selama 1-2 bulan.
EDUKASI PADA ORANG TUA
Kejang selalu merupakan peristiwa yang menakutkan bagi orang tua. Pada
saat kejang sebagian besar orang tua beranggapan bahwa anaknya telah
meninggal. Kecemasan ini harus dikurangi dengan cara yang diantaranya:

27
1. Menyakinkan bahwa kejang demam umumnya mempunyai prognosis baik.
2. Memberitahukan cara penanganan kejang
3. Memberikan informasi mengenai kemungkinan kejang kembali
4. Pemberian obat untuk mencegah rekurensi memang efektif tetapi harus
diingat adanya efek samping obat
BEBERAPA HAL YANG HARUS DIKERJAKAN BILA KEMBALI
KEJANG
1. Tetap tenang dan tidak panik
2. Kendorkan pakaian yang ketat terutama disekitar leher
3. Bila tidak sadar, posisikan anak terlentang dengan kepala miring.
Bersihkan muntahan atau lendir di mulut atau hidung. Walaupun
kemungkinan lidah tergigit, jangan memasukkan sesuatu kedalam mulut.
4. Ukur suhu, observasi dan catat lama dan bentuk kejang.
5. Tetap bersama pasien selama kejang
6. Berikan diazepam rektal. Dan jangan diberikan bila kejang telah berhenti.
7. Bawa kedokter atau rumah sakit bila kejang berlangsung 5 menit atau
lebih

TATALAKSANA MENINGITIS
Setelah kejang teratasi maka meningitis juga perlu di tatalaksana
Antibiotik
 Berikan pengobatan antibiotik lini pertama sesegera mungkin.
o seftriakson: 100 mg/kgBB IV-drip/kali, selama 30-60 menit setiap
12 jam; atau
o sefotaksim: 50 mg/kgBB/kali IV, setiap 6 jam.
 Pada pengobatan antibiotik lini kedua berikan:
o Kloramfenikol: 25 mg/kgBB/kali IM (atau IV) setiap 6 jam
o ditambah ampisilin: 50 mg/kgBB/kali IM (atau IV) setiap 6 jam
 Jika diagnosis sudah pasti, berikan pengobatan secara parenteral selama
sedikitnya 5 hari, dilanjutkan dengan pengobatan per oral 5 hari bila tidak
ada gangguan absorpsi. Apabila ada gangguan absorpsi maka seluruh

28
pengobatan harus diberikan secara parenteral. Lama pengobatan
seluruhnya 10 hari.
 Jika tidak ada perbaikan:
o Pertimbangkan komplikasi yang sering terjadi seperti efusi
subdural atau abses serebral. Jika hal ini dicurigai, rujuk.
o Cari tanda infeksi fokal lain yang mungkin menyebabkan demam,
seperti selulitis pada daerah suntikan, mastoiditis, artritis, atau
osteomielitis.
o Jika demam masih ada dan kondisi umum anak tidak membaik
setelah 3–5 hari, ulangi pungsi lumbal dan evaluasi hasil
pemeriksaan CSS
 Jika diagnosis belum jelas, pengobatan empiris untuk meningitis TB dapat
ditambahkan. Untuk Meningitis TB diberikan OAT minimal 4 rejimen:
o INH: 10 mg/kgBB /hari (maksimum 300 mg) - selama 6–9 bulan
o Rifampisin: 15-20 mg/kgBB/hari (maksimum 600 mg) – selama 6-
9 bulan
o Pirazinamid: 35 mg/kgBB/hari (maksimum 2000 mg) - selama 2
bulan pertama
o Etambutol: 15-25 mg/kgBB/hari (maksimum 2500 mg) atau
Streptomisin: 30-50 mg/kgBB/hari (maksimum 1 g) – selama 2
bulan
PERAWATAN PENUNJANG PADA ANAK YANG TIDAK SADAR:
 Jaga jalan napas
 Posisi miring untuk menghindari aspirasi
 Ubah posisi pasien setiap 2 jam
 Pasien harus berbaring di alas yang kering
 Perhatikan titik-titik yang tertekan..

PEMANTAUAN
Pasien dengan kondisi ini harus berada dalam observasi yang sangat ketat.
Pantau dan laporkan segera bila ada perubahan derajat kesadaran, kejang, atau

29
perubahan perilaku anak. Pantau suhu badan, denyut nadi, frekuensi napas,
tekanan darah setiap 6 jam, selama setidaknya dalam 48 jam pertama. Periksa
tetesan infus secara rutin.
Pada saat stabil, nilai masalah yang berhubungan dengan syaraf, terutama
gangguan pendengaran. Ukur dan catat ukuran kepala bayi. Jika terdapat
kerusakan syaraf, rujuk anak untuk fisioterapi, jika mungkin; dan berikan nasihat
sederhana pada ibu untuk melakukan latihan pasif. Tuli sensorineural sering
terjadi setelah menderita meningitis. Lakukan pemeriksaan telinga satu bulan
setelah pasien pulang dari rumah sakit.

ANALISIS KASUS

Seorang anak perempuan, berusia 9 bulan, datang ke RSMH


dengan keluhan kejang. kejang dapat terjadi akibat peningkatan suhu
tubuh. Pada kasus ini pasien kejang yang dipengaruhi oleh peningkatan
suhu tubuh. Pada saat MRS pasien di suspek diagnosis meningitis dengan
DD ensefalitis karena terdapat gejala panas, kejang, dan penurunan
kesadaran serta usia pasien yang kurang dari 1 tahun. Meningitis adalah
Peradangan pada selaput otak ditandai dengan peningkatan jumlah sel
polimorfonuklear dalam cairan serebrospinal dan terbukti adanya bakteri
penyebab infeksi dalam cairan serebrospinal.
Untuk menyingkirkan diagnosis banding pada kasus ini, perlu
diketahui riwayat penyakit dahulu pasien. Dari anamnesis didapatkan
terdapat riwayat panas, tidak adanya riwayat kejang sebelumnya, pre iktal
dan post iktal pasien tertidur, tidak ditemukan adanya hemipharesis dan
ruam pada kulit. Hal ini untuk menyingkirkan kemungkinan diagnosis
kejang demam, epilepsi dan ensefalitis.
Selain kejang, perlu dilakukan lumbal pungsi untuk
mengkonfirmasi diagnosis meningitis. Pada LCS pasien penderita
meningtis cairanya tampak keruh, Reaksi none dan pandy (+) satu atau

30
lebih, kadar glukosa yang turun kurang dari 40 mg/dl, kadar protein yang
meningkat lebih dari 100 hingga 500 mg/dl. Pada kasus ini didapatkan
hasil LCS cairan tampak kekuningan, jernih, tidak berbau, ditemukan
nonne (+), pandy (+), glukosa 112,8, PMN 77, protein 0,1 . Pada hasil
kultur ditemukan positif bakteri yang berarti penyebab utama pada
meningitis ini adalah bakteri.
Untuk menegakkan diagnosis meningitis digunakan kriteria WHO
yaitu adanya riwayat demam, muntah, tidak bisa minum atau menyusu,
sakit kepala atau nyeri di belakang leher, penurunan kesadaran, kejang,
gelisah, dan cedera kepala yang baru dialami. Pemeriksaan fisik
berdasarkan tanda rangsang meningeal, kejang, letargis, gelisah, ubun-
ubun cembung, ruam, dan trauma kepala yang menunjukkan kemungkinan
fraktur tulang tengkorak yang baru terjadi.. Pada kasus ini terdapat
manifestasi demam diakui, kejang diakui, muntah tidak diakui, tidak bisa
minum diakui, penurunan kesadaran diakui dan dari pemeriksaan fisik
kejang diakui, letargis diakui, ubun-ubun cembung tidak diakui, ruam
tidak diakui, trauma kepala tidak diakui.
Kasus ini memenuhi kriteria diagnostik meningitis karena terdapat
3 manifestasi mayor ditambah hasil lab LCS dan kultur positif.
Berdasarkan panduan praktik klinik (PPK) kasus meningitis
bakterialis diterapi dengan menggunakan antibiotik ceftriaxone 100
mg/kgBB/hari dosis tunggal (maksimum 4 gram/hari) diberikan 7-10 hari
untuk eradikasi bakteri. Selain antibiotik juga diberikan obat antiinflamasi
untuk mencegah edema otak yaitu mengatasi edema otak diberi
kortikosteroid dexametason 0,2-0,3 mg/kgBB/kali diberikan 3 kali sehari
selama 4–5 hari. Untuk cairan diberikan IVFD KaEN 3B 4 Jam I 50
cc/KgBB 3410 cc dalam 4 jam. 20 jam II 150 cc/KgBB dalam 5 jam.
Setelah pemberian antibiotik selama 7-10 hari bila klinis sudah
baik dan hasil pemeriksaan LCS sudah normal, penderita dipulangkan.
Jika klinis baik namun pemeriksaan LCS belum normal tapi ada perbaikan
dibandingkan LP pertama (jumlah sel 60-120 per mm3) antibiotika

31
diteruskan sampai dengan 14 hari untuk pemakaian Ampisilin &
Kloramfenikol, 10 hari untuk Cefotaxim & Ceftriakson jika klinis tetap
baik penderita dipulangkan dan kontrol ke poliklinik anak

32