Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hak merupakan unsur normatif yang melekat pada diri setiap manusia yang
dalam penerapannya berada pada ruang lingkup hak persamaan dan hak
kebebasan yang terkait dengan interaksinya antara individu atau dengan
instansi. Hak juga merupakan sesuatu yang harus diperoleh. Masalah HAM
adalah sesuatu hal yang sering kali dibicarakan dan dibahas terutama dalam
era reformasi ini. HAM lebih dijunjung tinggi dan lebih diperhatikan dalam
era reformasi dari pada era sebelum reformasi. Perlu diingat bahwa dalam
hal pemenuhan hak, kita hidup tidak sendiri dan kita hidup bersosialisasi
dengan orang lain. Jangan sampai kita melakukan pelanggaran HAM
terhadap orang lain dalam usaha perolehan atau pemenuhan HAM pada diri
kita sendiri. Dalam hal ini penulis merasa tertarik untuk membuat makalah
tentang HAM. Maka dengan ini penulis mengambil judul “Hak Asasi
Manusia”.

Secara teoritis Hak Asasi Manusia adalah hak yang melekat pada diri
manusia yang bersifat kodrati dan fundamental sebagai suatu anugerah
Allah yang harus dihormati, dijaga, dan dilindungi. hakikat Hak Asasi
Manusia sendiri adalah merupakan upaya menjaga keselamatan eksistensi
manusia secara utuh melalui aksi keseimbangan antara kepentingan
perseorangan dengan kepentingan umum. Begitu juga upaya menghormati,
melindungi, dan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia menjadi kewajiban
dan tangung jawab bersama antara individu, pemeritah (Aparatur
Pemerintahan baik Sipil maupun Militer), dan negara.

Berdasarkan beberapa rumusan hak asasi manusia di atas, dapat ditarik


kesimpulan tentang beberapa sisi pokok hakikat hak asasi manusia, yaitu :
a. HAM tidak perlu diberikan, dibeli ataupun di warisi, HAM adalah bagian
dari manusia secara otomatis.

1
b. HAM berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin, ras,
agama, etnis, pandangan politik atau asal usul sosial, dan bangsa.
c. HAM tidak bisa dilanggar, tidak seorangpun mempunyai hak untuk
membatasi atau melanggar hak orang lain. Orang tetap mempunyai
HAM walaupun sebuah negara membuat hukum yang tidak melindungi
atau melanggar HAM.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Hak Asasi Manusia (HAM)


HAM adalah hak hak yang telah dipunyai seseorang sejak dalam lahir.
Menurut John Locke HAM adalah hak-hak yang diberikan langsung oleh
Tuhan Yang Maha Pencipta sebagai hak yang kodrati.

Dalam pasal 1 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM


disebutkan bahwa “Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat
pada hakekat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha
Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi,
dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah dan setiap orang, demi
kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia”.
Tercantum juga dalam UUD 1945 :
a. Pasal 27 ayat 1 : Segala warga Negara bersamaan kedudukannya di
dalam hukum dan pemerintahan dan wajib
menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan
tidak ada kecualinya.
b. Pasal 28 : Kemerdekaan berserikat dan berkumpul,
mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan
sebagainya ditetapkan dengan undang undang.
c. Pasal 29 ayat 2 : Negara menjamin kemerdekaan tiap tiap penduduk
untuk memeluk agamanya masing masing dan
untuk beribadah menurut agama dan
kepercayaannya itu.
d. Pasal 30 ayat 1 : Tiap-tiap warga Negara berhak dan wajib ikut
serta dalam usaha pertahanan dan keamanan
Negara.
e. Pasal 31 ayat 1 : Setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan

3
Ruang lingkup HAM meliputi:
a. Hak pribadi : hak-hak persamaan hidup, kebebasan, keamanan, dan
lain-lain;
b. Hak milik pribadi dan kelompok sosial tempat seseorang berada;
c. Kebebasan sipil dan politik untuk dapat ikut serta dalam pemerintahan,
serta
d. Hak-hak berkenaan dengan masalah ekonomi dan sosial.

Hakikat Hak Asasi Manusia sendiri adalah merupakan upaya menjaga


keselamatan eksistensi manusia secara utuh melalui aksi keseimbangan antara
kepentingan perseorangan dengan kepentingan umum. Begitu juga upaya
menghormati, melindungi, dan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia
menjadi kewajiban dan tangung jawab bersama antara individu, pemeritah
(Aparatur Pemerintahan baik Sipil maupun Militer),dan negara.

Berdasarkan beberapa rumusan hak asasi manusia di atas, dapat ditarik


kesimpulan tentang beberapa sisi pokok hakikat hak asasi manusia, yaitu :
a. HAM tidak perlu diberikan, dibeli ataupun di warisi, HAM adalah
bagian dari manusia secara otomatis.
b. HAM berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin, ras,
agama, etnis, pandangan politik atau asal usul sosial, dan bangsa.
c. HAM tidak bisa dilanggar, tidak seorangpun mempunyai hak untuk
membatasi atau melanggar hak orang lain. Orang tetap mempunyai
HAM walaupun sebuah negara membuat hukum yang tidak melindungi
atau melanggar HAM.

2.2 Hak Asasi Manusia (HAM) pada tataran Global


Sebelum konsep HAM diritifikasi PBB, terdapat beberapa konsep utama
mengenai HAM ,yaitu:
a. Ham menurut konsep Negara-negara Barat
1). Ingin meninggalkan konsep Negara yang mutlak.
2). Ingin mendirikan federasi rakyat yang bebas.

4
3). Filosofi dasar: hak asasi tertanam pada diri individu manusia.
4). Hak asasi lebih dulu ada daripada tatanan Negara.

b. HAM menurut konsep sosialis;


1). Hak asasi hilang dari individu dan terintegrasi dalam masyarakat
2). Hak asasi tidak ada sebelum Negara ada.
3). Negara berhak membatasi hak asasi manusia apabila situasi
menghendaki.

c. HAM menurut konsep bangsa-bangsa Asia dan Afrika:


1. Tidak boleh bertentangan ajaran agama sesuai dengan kodratnya.
2. Masyarakat sebagai keluarga besar, artinya penghormatan utama
terhadap kepala keluarga
3. Individu tunduk kepada kepala adat yang menyangkut tugas dan
kewajiban sebagai anggota masyarakat.

d. HAM menurut konsep PBB;


Konsep HAM ini dibidani oleh sebuah komisi PBB yang dipimpin oleh
Elenor Roosevelt dan secara resmi disebut “ Universal Decralation of
Human Rights”.

Universal Decralation of Human Rights menyatakan bahwa setiap orang


mempunyai:
a. Hak untuk hidup
b. Kemerdekaan dan keamanan badan
c. Hak untuk diakui kepribadiannya menurut hukum
d. Hak untuk mendapat jaminan hukum dalam perkara pidana
e. Hak untuk masuk dan keluar wilayah suatu Negara
f. Hak untuk mendapat hak milik atas benda
g. Hak untuk bebas mengutarakan pikiran dan perasaan
h. Hak untuk bebas memeluk agama
i. Hak untuk mendapat pekerjaan

5
j. Hak untuk berdagang
k. Hak untuk mendapatkan pendidikan
l. Hak untuk turut serta dalam gerakan kebudayaan masyarakat
m. Hak untuk menikmati kesenian dan turut serta dalam kemajuan
keilmuan.

2.3 Permasalahan dan Penegakan HAM di Indonesia


Sejalan dengan amanat Konstitusi, Indonesia berpandangan bahwa
pemajuan dan perlindungan HAM harus didasarkan pada prinsip bahwa
hak-hak sipil, politik, ekonomi, sosial budaya, dan hak pembangunan
merupakan satu kesatuanyang tidak dapat di pisahkan, baik dalam
penerapan, pemantauan, maupun dalam pelaksanaannya. Sesuai dengan
pasal 1 (3), pasal 55, dan 56 Piagam PBB upaya pemajuan dan perlindungan
HAM harus dilakukan melalui suatu konsep kerja sama internasional yang
berdasarkan pada prinsip saling menghormati, kesederajatan, dan hubungan
antar negaraserta hukum internasional yang berlaku.

Program penegakan hukum dan HAM meliputi pemberantasan korupsi,


antitrorisme, serta pembasmian penyalahgunaan narkotika dan obat
berbahaya. Oleh sebab itu, penegakan hukum dan HAM harus dilakukan
secara tegas, tidak diskriminatif dan konsisten.

Kegiatan-kegiatan pokok penegakan hukum dan HAM meliputi hal-hal


berikut:
1. Pelaksanaan Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RANHAM)
dari 2004-2009 sebagai gerakan nasional
2. Peningkatan efektifitas dan penguatan lembaga / institusi hukum
ataupun lembaga yang fungsi dan tugasnya menegakkan hak asasi
manusia
3. Peningkatan upaya penghormatan persamaan terhadap setiap warga
Negara di depan hukum melalui keteladanan kepala Negara beserta

6
pimpinan lainnya untuk memetuhi/ menaati hukum dan hak asasi
manusia secara konsisten serta konsekuen
4. Peningkatan berbagai kegiatan operasional penegakan hukum dan hak
asasi manusia dalam rangka menyelenggarakan ketertiban sosial agar
dinamika masyarakat dapat berjalan sewajarnya.
5. Penguatan upaya-upaya pemberantasan korupsi melalui pelaksanaan
Rencana, Aksi Nasional Pemberantasan Korupsi.
6. Peningkatan penegakan hukum terhadap pemberantasan tindak pidana
terorisme dan penyalahgunaan narkotika serta obat lainnya.
7. Penyelamatan barang bukti kinerja berupa dokumen atau arsip/lembaga
Negara serta badan pemerintahan untuk mendukung penegakan hukum
dan HAM.
8. Peningkatan koordinasi dan kerja sama yang menjamin efektifitas
penegakan hukum dan HAM.
9. Pengembangan system manajemen kelembagaan hukum yang
transparan.
10. Peninjauan serta penyempurnaan berbagai konsep dasar dalam rangka
mewujudkan proses hukum yang kebih sederhana, cepat, dan tepat serta
dengan biaya yang terjangkau oleh semua lapisan masyarakat.

2.4 Rumusan HAM dalam Islam


Apa yang disebut dengan hak asasi manusia dalam aturan buatan manusia
adalah keharusan (dharurat) yang mana masyarakat tidak dapat hidup tanpa
dengannya. Para ulama muslim mendefinisikan masalah-masalah dalam kitab
Fiqh yang disebut sebagai Ad-Dharurat Al-Khams, dimana ditetapkan bahwa
tujuan akhir syari’ah Islam adalah menjaga akal, agama, jiwa, kehormatan
dan harta benda manusia.

Nabi saw telah menegaskan hak-hak ini dalam suatu pertemuan besar
internasional, yaitu pada haji wada’. Dari Abu Umamah bin Tsa’labah, nabi
saw bersabda: "Barangsiapa merampas hak seorang muslim, maka dia telah
berhak masuk neraka dan haram masuk surga." Seorang lelaki bertanya:

7
"Walaupun itu sesuatu yang kecil, wahay rasulullah ?" Beliau menjawab:
"Walaupun hanya sebatang kayu arak." (HR. Muslim).

Islam berbeda dengan sistem lain dalam hal bahwa hak-hak manusia sebagai
hamba Allah tidak boleh diserahkan dan bergantung kepada penguasa dan
undang-undangnya. Tetapi semua harus mengacu pada hukum Allah. Sampai
kepada soal shadaqah tetap dipandang sebagaimana hal-hal besar lain.
Misalnya Allah melarang bershadaqah (berbuat baik) dengan hal-hal yang
buruk. "Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu
nafkahkan dari padanya..." (QS. 2: 267).

1. Hak-hak Alamiah
Hak-hak alamiah manusia telah diberikan kepada seluruh ummat manusia
sebagai makhluk yang diciptakan dari unsur yang sama dan dari sumber
yang sama pula (lihat QS. 4: 1, QS. 3: 195).
a. Hak Hidup
Allah menjamin kehidupan, diantaranya dengan melarang
pembunuhan dan meng-qishas pembunuh (lihat QS. 5: 32, QS. 2:
179). Bahkan hak mayit pun dijaga oleh Allah. Misalnya hadist
nabi: "Apabila seseorang mengkafani mayat saudaranya, hendaklah
ia mengkafani dengan baik." Atau "Janganlah kamu mencaci-maki
orang yang sudah mati. Sebab mereka telah melewati apa yang
mereka kerjakan." (Keduanya HR. Bukhari).

b. Hak Kebebasan Beragama dan Kebebasan Pribadi


Kebebasan pribadi adalah hak paling asasi bagi manusia, dan
kebebasan paling suci adalah kebebasan beragama dan menjalankan
agamanya, selama tidak mengganggu hak-hak orang lain. Firman
Allah: "Dan seandainya Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman
orang di muka bumi seluruhnya. Apakah kamu memaksa manusia
supaya mereka menjadi orang beriman semuanya?" (QS. 10: 99).

8
Untuk menjamin kebebasan kelompok, masyarakat dan antara negara,
Allah memerintahkan memerangi kelompok yang berbuat aniaya
terhadap kelompok lain (QS. 49: 9). Begitu pula hak beribadah
kalangan non-muslim. Khalifah Abu Bakar menasehati Yazid ketika
akan memimpin pasukan: "Kamu akan menemukan kaum yang
mempunyai keyakinan bahwa mereka tenggelam dalam kesendirian
beribadah kepada Allah di biara-biara, maka biarkanlah
mereka." Khalid bin Walid melakukan kesepakatan dengan penduduk
Hirah untuk tidak mengganggu tempat peribadahan (gereja dan
sinagog) mereka serta tidak melarang upacara-upacaranya.

c. Hak Bekerja
Islam tidak hanya menempatkan bekerja sebagai hak tetapi juga
kewajiban. Bekerja merupakan kehormatan yang perlu dijamin. Nabi
saw bersabda: "Tidak ada makanan yang lebih baik yang dimakan
seseorang daripada makanan yang dihasilkan dari usaha tangannya
sendiri." (HR. Bukhari). Dan Islam juga menjamin hak pekerja,
seperti terlihat dalam hadist: "Berilah pekerja itu upahnya sebelum
kering keringatnya." (HR. Ibnu Majah).

2. Hak Hidup
Islam melindungi segala hak yang diperoleh manusia yang disyari’atkan
oleh Allah. Diantara hak-hak ini adalah :
a. Hak Pemilikan
Islam menjamin hak pemilikan yang sah dan mengharamkan
penggunaan cara apapun untuk mendapatkan harta orang lain yang
bukan haknya, sebagaimana firman Allah: "Dan janganlah sebagian
kamu memakan harta sebagian yang lain diantara kamu dengan jalan
bathil dan janganlah kamu bawa urusan harta itu kepada hakim agar
kamu dapat memakan sebagian harta benda orang lain itu dengan
jalan berbuat dosa padahal kamu mengetahuinya." (QS. 2: 188). Oleh
karena itulah Islam melarang riba dan setiap upaya yang merugikan

9
hajat manusia. Islam juga melarang penipuan dalam perniagaan.
Sabda nabi saw: "Jual beli itu dengan pilihan selama antara penjual
dan pembeli belum berpisah. Jika keduanya jujur dalam jual-beli,
maka mereka diberkahi. Tetapi jika berdusta dan menipu berkah jual-
bei mereka dihapus." (HR. Al-Khamsah)

Islam juga melarang pencabutan hak milik yang didapatkan dari usaha
yang halal, kecuali untuk kemashlahatan umum dan mewajibkan
pembayaran ganti yang setimpal bagi pemiliknya. Sabda nabi
saw: "Barangsiapa mengambil hak tanah orang lain secara tidak sah,
maka dia dibenamkan ke dalam bumi lapis tujuh pada hari
kiamat." Pelanggaran terhadap hak umum lebih besar dan sanksinya
akan lebih berat, karena itu berarti pelanggaran tehadap masyarakat
secara keseluruhan.

b. Hak Berkeluarga
Allah menjadikan perkawinan sebagai sarana mendapatkan
ketentraman. Bahkan Allah memerintahkan para wali mengawinkan
orang-orang yang bujangan di bawah perwaliannya (QS. 24: 32).
Aallah menentukan hak dan kewajiban sesuai dengan fithrah yang
telah diberikan pada diri manusia dan sesuai dengan beban yang
dipikul individu.

Pada tingkat negara dan keluarga menjadi kepemimpinan pada kepala


keluarga yaitu kaum laki-laki. Inilah yang dimaksudkan sebagai
kelebihan laki-laki atas wanita (QS. 4: 34). Tetapi dalam hak dan
kewajiban masing-masing memiliki beban yang sama."Dan para
wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut
cara yang ma’ruf, akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan
kelebihan dari istrinya." (QS. 2: 228)

c. Hak Keamanan

10
Dalam Islam, keamanan tercermin dalam jaminan keamanan mata
pencaharian dan jaminan keamanan jiwa serta harta benda. Firman
Allah: "Allah yang telah memberi makanan kepada mereka untuk
menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari
ketakutan." (QS. Quraisy: 3-4).

Diantara jenis keamanan adalah dilarangnya memasuki rumah tanpa


izin (QS. 24: 27). Jika warga negara tidak memiliki tempat tinggal,
negara berkewajiban menyediakan baginya. Termasuk keamanan
dalam Islam adalah memberi tunjangan kepada fakir miskin, anak
yatim dan yang membutuhkannya. Oleh karena itulah, Umar bin
Khattab menerapkan tunjangan sosial kepada setiap bayi yang lahir
dalam Islam baik miskin ataupun kaya. Dia berkata: "Demi Allah
yang tidak ada sembahan selain Dia, setiap orang mempunyai hak
dalam harta negara ini, aku beri atau tidak aku beri." (Abu Yusuf
dalam Al-Kharaj). Umar jugalah yang membawa seorang Yahudi tua
miskin ke petugas Baitul-Maal untuk diberikan shadaqah dan
dibebaskan dari jizyah.

Bagi para terpidana atau tertuduh mempunyai jaminan keamanan


untuk tidak disiksa atau diperlakukan semena-mena. Peringatan
rasulullah saw: "Sesungguhnya Allah menyiksa orang-orang yang
menyiksa manusia di dunia." (HR. Al-Khamsah). Islam memandang
gugur terhadap keputusan yang diambil dari pengakuan kejahatan
yang tidak dilakukan. Sabda nabi saw: "Sesungguhnya Allah
menghapus dari ummatku kesalahan dan lupa serta perbuatan yang
dilakukan paksaan" (HR. Ibnu Majah).

d. Hak Keadilan
Diantara hak setiap orang adalah hak mengikuti aturan syari’ah dan
diberi putusan hukum sesuai dengan syari’ah (QS. 4: 79). Dalam hal
ini juga hak setiap orang untuk membela diri dari tindakan tidak adil

11
yang dia terima. Firman Allah swt: "Allah tidak menyukai ucapan
yang diucapkan terus-terang kecuali oleh orang yang dianiaya." (QS.
4: 148).

Merupakan hak setiap orang untuk meminta perlindungan kepada


penguasa yang sah yang dapat memberikan perlindungan dan
membelanya dari bahaya atau kesewenang-wenangan. Bagi penguasa
muslim wajib menegakkan keadilan dan memberikan jaminan
keamanan yang cukup. Sabda nabi saw: "Pemimpin itu sebuah
tameng, berperang dibaliknya dan berlindung dengannya." (HR.
Bukhari dan Muslim).

e. Hak Saling Membela dan Mendukung


Kesempurnaan iman diantaranya ditunjukkan dengan menyampaikan
hak kepada pemiliknya sebaik mungkin, dan saling tolong-menolong
dalam membela hak dan mencegah kedzaliman. Bahkan rasul
melarang sikap mendiamkan sesama muslim, memutus hubungan
relasi dan saling berpaling muka. Sabda nabi saw: "Hak muslim
terhadap muslim ada lima: menjawab salam, menjenguk yang sakit,
mengantar ke kubur, memenuhi undangan dan mendoakan bila
bersin." (HR. Bukhari).
f. Hak Keadilan dan Persamaan
Allah mengutus rasulullah untuk melakukan perubahan sosial dengan
mendeklarasikan persamaan dan keadilan bagi seluruh umat manusia
(lihat QS. Al-Hadid: 25, Al-A’raf: 157 dan An-Nisa: 5). Manusia
seluruhnya sama di mata hukum. Sabda nabi saw: "Seandainya
Fathimah anak Muhammad mencuri, pasti aku potong
tangannya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Pada masa rasulullah banyak kisah tentang kesamaan dan keadilan


hukum ini. Misalnya kasus putri bangsawan dari suku Makhzum yang
mencuri lalu dimintai keringanan hukum oleh Usamah bin Zaid,

12
sampai kemudian rasul menegur dengan: "... Apabila orang yang
berkedudukan di antara kalian melakukan pencurian, dia dibiarkan.
Akan tetapi bila orang lemah yang melakukan pencurian, mereka
memberlakukan hukum kriminal..." Juga kisah raja Jabalah Al-
Ghassani masuk Islam dan melakukan penganiayaan saat haji, Umar
tetap memberlakukan hukum meskipun ia seorang raja. Atau kisah Ali
yang mengadukan seorang Yahudi mengenai tameng perangnya,
dimana Yahudi akhirnya memenangkan perkara.

Umar pernah berpesan kepada Abu Musa Al-Asy’ari ketika


mengangkatnya sebagai Qadli: "Perbaikilah manusia di hadapanmu,
dalam majlismu, dan dalam pengadilanmu. Sehingga seseorang yang
berkedudukan tidak mengharap kedzalimanmu dan seorang yang
lemah tidak putus asa atas keadilanmu."

g. Hak-Hak Isteri Atas Suami


Sebagai bentuk pengamalan hadits “ad-Diinun Nashiihah” (agama
adalah nasihat), kami akan menyebutkan apa saja hak-hak isteri atas
suami yang kemudian akan dilanjutkan dengan penjelasan tentang
hak-hak suami atas isteri dengan harapan agar para pasangan suami
isteri paham dan kemudian mau saling nasehat-menasehati dengan
kebenaran dan kesabaran.

“Sesungguhnya isteri-isteri kalian memiliki hak atas kalian”

Di antara hak isteri adalah:


1. Suami harus memperlakukan isteri dengan cara yang ma’ruf
2. Suami harus bersabar dari celaan isteri serta mau memaafkan
kekhilafan yang dilakukan olehnya.
3. Suami harus menjaga dan memelihara isteri dari segala sesuatu
yang dapat merusak dan mencemarkan kehormatannya.

13
4. Suami harus mengajari isteri tentang perkara-perkara penting
dalam masalah agama atau memberinya izin untuk menghadiri
majelis-majelis ta’lim.
5. Suami harus memerintahkan isterinya untuk mendirikan
agamanya serta menjaga shalatnya.
6. Suami mau mengizinkan isteri keluar rumah untuk keperluannya.
7. Suami tidak boleh menyebarkan rahasia dan menyebutkan
kejelekan-kejelekan isteri di depan orang lain.
8. Suami mau bermusyawarah dengan isteri dalam setiap
permasalahan.
9. Suami harus segera pulang ke rumah isteri setelah shalat ‘Isya’..
10. Suami harus dapat berlaku adil terhadap para isterinya jika ia
mempunyai lebih dari satu isteri.

h. Hak Perlindungan Terhadap Kekerasan


Perlindungan adalah adalah suatu bentuk pelayanan yang wajib
dilaksanakan oleh aparat penegak hukum atau aparat keamanan untuk
memberikan rasa aman baik fisik maupun mental, kepada korban dan
saksi, dari ancaman, ganguan, teror, dan kekerasa dari pihak manapun,
yang diberikan pada tahap penyelidikan, penyidikan, penuntutan, dan
atau pemeriksaan di sidang pengadilan.

Pengertian Anak adalah setiap manusia yang berusia di bawah 18


tahun dan belum menikah, termasuk anak yang masih dalam dalam
kandungan apabila hal tersebut adalah demi kepentingannya.
Pengertian anak menurut Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997
Tentang Pengadilan Anak adalah orang yang dalam perkara Anak
Nakal telah mencapai umur 8 (delapan) tahun tetapi belum mencapai
umur 18 (delapan belas) tahun dan belum pernah kawin. Sedangkan
menurut perspektif Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 Tentang
Perlindungan Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan
belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

14
Terdapat banyak bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak di
antaranya yang paling umum / sering terjadi adalah :
1. Pelecehan Seksual dan Perkosaan :
Meliputi komentar, gurauan yang tidak senonoh, mencolek,
meraba, mengelus, memeluk, mencium, menunjukkan gambar
porno, memaksa atau mengancam untuk melakukan sesuatu yang
tidak senonoh sampai perkosaan.
Pelecehan seksual dapat terjadi pada perempuan segala umur,
bahkan pada anak laki-laki dan perempuan. Pelakunya pada
umumnya adalah laki-laki yang memiliki power / posisi kekuasaan
lebih tinggi misalnya atasan terhadap bawahan, orang tua / paman
terhadap anak, guru terhadap murid, pemberi pekerja terhadap
percari kerja, ataupun orang-orang lain yang tak dikenal. Namun
berdasarkan fakta-fakta pelaku perkosaan sebagian besar adalah
orang dikenal korban sehingga perkosaan dikelompokkan dalam 3
jenis, yaitu :
1) Incest
Yaitu perkosaan yang dilakukan oleh anggota keluarga atau
orang yang telah dianggap sebagai keluarga.
2) Marital Rape
Yaitu perkosaan yang dilakukan oleh suami terhadap
isterinya.
3) Dating Rape
Yaitu perkosaan yang dilakukan oleh pacar atau teman
kencan.

2. Kekerasan Dalam Rumah Tangga.


Yang dimaksud dengan Kekerasan Dalam Rumah Tangga adalah
setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan yang
berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik,
seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga, termasuk

15
ancaman untuk melakukan perbuatan pemaksaan, atau perampasan
kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga
(Pasal 1 Undang-Undang Nomor 23 tahun 2004 Tentang
Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga).
Sebagai anggota keluarga yang paling mudah dan tidak berdaya
seringkali anak-anak menjadi korban orang tuanya / orang dewasa
antara lain :
a) Menjadi pelampiasan kemarahan apabila orangtua
mempunyai masalah.
b) Dimarahi atau dipukul atau dihukum apabila tidak patuh
terhadap kehendak orangtua.
c) Membebani anak dengan tugas-tugas yang belum semestinya
(ikut mencari nafkah, melakukan pekerjaan rumah tangga,
seperti mengasuh adik, bertani dan lain-lain).
d) Dirampas hak-haknya untuk berpendapat, berbicara, dan
menentukan pilihan.

Bentuk-bentuk kekerasan terhadap anak sebagaimana dimaksud


dalam Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 Tentang
Perlindungan Anak adalah sebagai berikut :
1) Diskriminasi terhadap anak yang mengakibatkan anak
mengalami kerugian, baik materiil maupun moril sehingga
menghambat fungsi sosialnya.
2) Penelantaran terhadap anak yang mengakibatkan anak
mengalami sakit atau penderitaan, baik fisik, mental, maupun
sosial.
3) Eksploitasi ekonomi dan sosial terhadap anak dalam bentuk
perdagangan anak, dan mempekerjakan anak lebih dari
ketentuan yang berlaku.
4) Melibatkan anak dalam politik, konflik bersenjata, kekerasan
sara, dan perbuatan yang mengandung unsur kekerasan
lainnya.

16
5) Memberikan ancaman kekerasan kepada anak.
6) Melibatkan anak dalam perdagangan dan produksi narkotika,
psikotropika, dan zat adiktif lainnya (Napza).
7) Kekerasan seksual.
8) Pengambilan organ tubuh anak atau transplantasi tanpa ijin
wali anak dan tanpa memperhatikan kepentingan kesehatan
anak tersebut.
9) Memaksa dan atau membujuk anak untuk memeluk suatu
agama

Pelaku kekerasan terhadap anak diancam dengan sanksi pidana


sebagaimana diatur dalam berbagai peraturan, antara lain:
a. Undang-Undang Nomor 23 tahun 2004 : Pasal 44 s.d. Pasal 55
b. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan
Anak: Pasal 77 s.d. Pasal 90

Perlindungan Terhadap anak juga dilakukan dengan menerbitkan


peraturan-peraturan sebagai berikut:
1) Undang – undang Dasar 1945 Pasal 28b Ayat 2
2) Undang – undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan
Anak (Tambahan Lembaran Negara Nomor 3143)
3) Undang – undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang Ratifikasi
Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap
Perempuan (Tambahan Lembaran Negara Nomor 3277)
4) Undang – undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM
(Tambahan Lembaran Negara Nomor 3886)
5) Undang – undang Nomor 11 Tahun 2005 tentang Ratifikasi
ICESCR (Pasal 10, Pasal 12 Ayat (2), dan Pasal 13 Ayat (3))
6) Undang – undang Nomor 12 Tahun 2005 tentang Ratifikasi
ICCPR (Pasal 14 Ayat (1), Pasal 18 Ayat (4), Pasal 23 Ayat (4)
dan Pasal 24).

17
7) Keppres Nomor 40 Tahun 2004 tentang Pertahanan Keamanan
2004 – 2009 tentang Memasukan Agenda Ratifikasi Protokol
Opsional Konvensi Hak Anak tentang Perdagangan Anak,
Pornografi Anak, dan Prostitusi Anak (2005) dan Protokol
Opsional Konvensi Hak Anak entang Kterlibatan Anak dalam
Konflik Senjata (2006)
8) Keppres Nomor 59 Tahun 2002 tentang Rencana Aksi
Penghapusan Bentuk – bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak
9) Keppres Nomor 87 Tahun 2002 tentang Rencana Aksi
Nasional Penghapusan Eksplotasi Seksual Komersial Anak
(ESKA)
10) Keppres Nomor 88 Tahun 2002 tentang tentang Rencana
Penghapusan Perdagangan Perempuan dan Anak (RAN P3A).
Peraturan hukum ini dapat digolongkan sebagai aturan yang
bersifat mendasar.

i. Hak Minoritas
Hak kelompok minoritas telah diatur pasal 27 dan 18 Kovenan
Internasional hak Sippil dan Politiik (Hak Sipol). Pasal tersebut
menjamin hak komunitas atau kelompok, atu tepatnya hak seseorang
dalam komunitasnya. Pasal 27 memuat hak-hak kelompok minoritas,
smentara pasal 18 menjamin kebebasan dalam berkeyakinan dan
memeluk agama atau kepercayaannya.

Selanjutnya, Komite Hak sipol pada tahun 1994 mengadpsi eaborasi


dan penjelasan mengenai pasal 27. Dalam General Comment No. 23,
setidaknya dapat diketahui lingkup “minoritas” yang eksis dalam
sebuah negara (atau yurisdiksi/ territorial) dapat berbasiskan atas (1)
etnis, (2) agama atau kepercayaan, dan (3) minoritas dalam ingkup
bahasa.
1. Kebebasan Bekeyakinan, emiliki Kepercayaan atau Agama

18
Pasal 18 Kovenan Internasional Hak-hak sipil dan Politik tentang
kebebaasan berkeyakinan, memiliki kepercayaan dan agama sangat
relevan untuk terus didialogkan.
Pasal 18 dalam perlindungan dan pemenuhannya, berkaian erat
dengan pasal 26 Kovenan Sipol perihal jaminan persamaan hak
setiap warga, negara secara khusus berkaitan dengan jaminan hak-
hak kelompok mnoritas.
2. Perlindungan dan Pemenuhan Hak-hak Ekonomi, sosial dan
Budaya
Sebagai contoh, perlindungan dan pemenuhan hak atas perumahan,
pendidikan, kesehatan.
Perlindungan hak-hak ekonomi sosial budaya dari kelompok
miinoritas juga dimuat dalam sejumlah Konvensi pokok hak asasi
manusia. Hak atas pendidikan dan kesehatan, misalnya dimuat
dalam Konvensi Penghapusan Diskriminasi Rasial, Konvensi hak-
hak anak, dam Konvensi penghapusan diskriminasi terhadap
perempuan.
Berdasarkan ruang lingkup di atas, maka seorang yang menjadi
anggota kelompok minoritas, leh negara wajib diberikan jaminan
konstotusi dan hukum untuk menikmati kebudayaan,
mempraktikan agamanya, dan menggunakan bahasa yang dimiliki.

2.5 Hukum Hak Asasi Manusia


1. Beberapa Ketentuan Hukum atau Instrumen HAM
John Locke, pemikir politik dari Inggris, menyatakan bahwa semua
orang diciptakan sama dan memiliki hak–hak alamiah yang tidak dapat
dilepaskan. Hak alamiah itu meliputi hak atas hidup, hak kemerdekaan,
hak milik dan hak kebahagiaan. Pemikiran John Locke ini dikenal
sebagai konsep HAM yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan
HAM di berbagai belahan dunia. Pengakuan hak asasi manusia (HAM)
secara konstitusional ditetapkan pertama kali di Amerika Serikat pada
tahun 1776 dengan “Unanimous Declaration of Independence”, dan hal

19
ini dijadikan contoh bagi majelis nasional Perancis ketika menerima
deklarasi hak-hak manusia dan warga negara (Declaration des Droits de
l’homme et de Citoyen) 26 Agustus 1789. Badan dunia yaitu PBB
(Perserikatan Bangsa Bangsa) juga memperkenalkan pengertian hak
asasi manusia yang bisa kita dapatkan dalam Deklarasi Universal Hak
Asasi Manusia (Universal Declaration of Human Right). Deklarasi
Universal merupakan pernyataan umum mengenai martabat yang
melekat dan kebebasan serta persamaan manusia yang harus ada pada
pengertian hak asasi manusia

Dalam UDHR pengertian HAM dapat ditemukan dalam Mukaddimah


yang pada prinsipnya dinyatakan bahwa hak asasi manusia merupakan
pengakuan akan martabat yang terpadu dalam diri setiap orang akan
hak–hak yang sama dan tak teralihkan dari semua anggota keluarga
manusia ialah dasar dari kebebasan, keadilan dan perdamaian dunia.
Sejak munculnya Deklarasi Universal HAM itulah secara internasional
HAM telah diatur dalam ketentuan hukum sebagai instrumen
internasional. Ketentuan hukum HAM atau disebut juga Instrumen
HAM merupakan alat yang berupa peraturan perundang–undangan
yang digunakan dalam menjamin perlindungan dan penegakan HAM.
Instrumen HAM terdiri atas instrumen nasional HAM dan instrumen
internasional HAM. Instrumen nasional HAM berlaku terbatas pada
suatu negara sedangkan instrumen internasional HAM menjadi acuan
negara–negara di dunia dan mengikat secara hukum bagi negara yang
telah mengesahkannya (meratifikasi).

Di negara kita dalam era reformasi sekarang ini, upaya untuk


menjabarkan ketentuan hak asasi manusia telah dilakukan melalui
amandemen UUD 1945 dan diundangkannya Undang-Undang Republik
Indonesia (UURI) Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM serta
meratifikasi beberapa konvensi internasional tentang HAM.
a. Undang Undang RI Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM.

20
Dalam amandemen UUD 1945 ke dua, ada Bab yang secara eksplisit
menggunakan istilah hak asasi manusia yaitu Bab XA yang bersikan
pasal 28A s/d 28J. Dalam UURI Nomor 39 Tahun 1999 jaminan
HAM lebih terinci lagi. Hal itu terlihat dari jumlah bab dan pasal –
pasal yang dikandungnya relatif banyak yaitu terdiri atas XI bab dan
106 pasal. Apabila dicermati jaminan HAM dalam UUD 1945 dan
penjabarannya dalam UURI Nomor 39 Tahun 1999, secara garis
besar meliputi :
a) Hak untuk hidup (misalnya hak: mempertahankan hidup,
memperoleh kesejahteraan lahir batin, memperoleh lingkungan
hidup yang baik dan sehat);
b) Hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan.
c) Hak mengembangkan diri (misalnya hak : pemenuhan kebutuhan
dasar, meningkatkan kualitas hidup, memperoleh manfaat dari
iptek, memperoleh informasi, melakukan pekerjaan sosial);
d) Hak memperoleh keadilan (misalnya hak : kepastian hukum,
persamaan di depan hukum);
e) Hak atas kebebasan pribadi (misalnya hak : memeluk agama,
keyakinan politik, memilih status kewarganegaraan, berpendapat
dan menyebarluaskannya, mendirikan parpol, LSM dan organisasi
lain, bebas bergerak dan bertempat tinggal);
f) Hak atas rasa aman (misalnya hak : memperoleh suaka politik,
perlindungan terhadap ancaman ketakutan, melakukan hubungan
komunikasi, perlindungan terhadap penyiksaan, penghilangan
dengan paksa dan penghilangan nyawa);
g) Hak atas kesejahteraan (misalnya hak : milik pribadi dan kolektif,
memperoleh pekerjaan yang layak, mendirikan serikat kerja,
bertempat tinggal yang layak, kehidupan yang layak, dan jaminan
sosial);
h) Hak turut serta dalam pemerintahan (misalnya hak: memilih dan
dipilih dalam pemilu, partisipasi langsung dan tidak langsung,

21
diangkat dalam jabatan pemerintah, mengajukan usulan kepada
pemerintah);
i) Hak wanita (hak yang sama/tidak ada diskriminasi antara wanita
dan pria dalam bidang politik, pekerjaan, status kewarganegaraan,
keluarga perkawinan);
j) Hak anak (misalnya hak : perlindungan oleh orang tua, keluarga,
masyarakat dan negara, beribadah menurut agamanya,
berekspresi, perlakuan khusus bagi anak cacat, perlindungan dari
eksploitasi ekonomi, pekerjaan, pelecehan sexual, perdagangan
anak, penyalahgunaan narkotika, psikotropika dan zat adiktif
lainnya).

b. Undang Undang RI Nomor 7 Tahun 1984 tentang Ratifikasi


Konvensi PBB tentang Penghapusan segala Bentuk Diskriminasi
terhadap Perempuan (disingkat sebagai Konvensi Wanita).

Dengan ratifikasi Konvensi Wanita tersebut, maka segala bentuk


diskriminasi yang didasarkan pada perbedaan jenis kelamin (laki–
laki – perempuan) harus dihapus. Misalnya, perlakuan pemberian
upah buruh wanita dibawah upah buruh pria harus dihapus, begitu
pula dunia politik bukanlah milik pria maka perempuan harus diberi
kesempatan yang sama menduduki posisi dalam partai politik
maupun pemerintahan. Dengan demikian terjadi perbedaan
penghargaan terhadap pria dan wanita, bukan karena jenis
kelaminnya tetapi karena perbedaan pada prestasi. Kita harus
menyadari bahwa pembangunan suatu negara, kesejahteraan dunia,
dan usaha perdamaian menghendaki partisipasi maksimal kaum
wanita atas dasar persamaan dengan kaum pria. Kita tidak dapat
menyangkal besarnya sumbangan wanita terhadap kesejahteraan
keluarga dan membesarkan anak . Hal ini menunjukan keharusan
adanya pembagian tanggung jawab antara pria dan wanita dan
masyarakat sebagai keseluruhan, bukan dijadikan dasar diskriminasi.

22
c. Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
Latar belakang dikeluarkannya undang-undang ini, sebagaimana
dikemukakan dalam Penjelasan Umum undang-undang ini antara lain:
a) Bahwa anak adalah amanah sekaligus karunia Tuhan Yang Maha
Esa, yang senantiasa harus kita jaga karena dalam dirinya melekat
harkat, martabat, dan hak-hak sebagai manusia yang harus
dijunjung tinggi. Hak asasi anak merupakan bagian dari hak asasi
manusia yang termuat dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan
Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hak-Hak Anak.
Dari sisi kehidupan berbangsa dan bernegara, anak adalah masa
depan bangsa dan generasi penerus cita-cita bangsa, sehingga
setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan
berkembang, berpartisipasi serta berhak atas perlindungan dari
tindak kekerasan dan diskriminasi serta hak sipil dan kebebasan.
b) Meskipun Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak
Asasi Manusia telah mencantumkan tentang hak anak, pelaksanaan
kewajiban dan tanggung jawab orang tua, keluarga, masyarakat,
pemerintah, dan negara untuk memberikan perlindungan pada anak
masih memerlukan suatu undang-undang mengenai perlindungan
anak sebagai landasan yuridis bagi pelaksanaan kewajiban dan
tanggung jawab tersebut.
Dengan demikian, pembentukan undang-undang ini didasarkan
pada pertimbangan bahwa perlindungan anak dalam segala
aspeknya merupakan bagian dari kegiatan pembangunan nasional,
khususnya dalam memajukan kehidupan berbangsa dan bernegara.
c) Orang tua, keluarga, dan masyarakat bertanggung jawab untuk
menjaga dan memelihara hak asasi tersebut sesuai dengan
kewajiban yang dibebankan oleh hukum. Demikian pula dalam
rangka penyelenggaraan perlindungan anak, negara dan pemerintah
bertanggung jawab menyediakan fasilitas dan aksesibilitas bagi

23
anak, terutama dalam menjamin pertumbuhan dan
perkembangannya secara optimal dan terarah.
d) Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 ini menegaskan bahwa
pertanggungjawaban orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah
dan negara merupakan rangkaian kegiatan yang dilaksanakan
secara terus-menerus demi terlindunginya hakhak anak. Rangkaian
kegiatan tersebut harus berkelanjutan dan terarah guna menjamin
pertumbuhan dan perkembangan anak, baik fisik, mental, spiritual
maupun sosial. Tindakan inidimaksudkan untuk mewujudkan
kehidupan terbaik bagi anak yang diharapkan sebagai penerus
bangsa yang potensial, tangguh, memiliki nasionalisme yang
dijiwai oleh akhlak mulia dan nilai Pancasila, serta berkemauan
keras menjaga kesatuan dan persatuan bangsa dan negara.
e) Upaya perlindungan anak perlu dilaksanakan sedini mungkin,
yakni sejak dari janin dalam kandungan sampai anak berumur 18
(delapan belas) tahun. Bertitik tolak dari konsepsi perlindungan
anak yang utuh, menyeluruh, dan komprehensif, undang-undang ini
meletakkan kewajiban memberikan perlindungan kepada anak
berdasarkan asas-asas sebagai berikut :
a. nondiskriminasi;
b. kepentingan yang terbaik bagi anak;
c. hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan; dan
d. penghargaan terhadap pendapat anak.
f) Dalam melakukan pembinaan, pengembangan dan perlindungan
anak, perlu peran masyarakat, baik melalui lembaga perlindungan
anak, lembaga keagamaan, lembaga swadaya masyarakat,
organisasi kemasyarakatan, organisasi sosial, dunia usaha, media
massa, atau lembaga pendidikan.

d. Undang Undang RI Nomor 8 Tahun 1998 tentang Pengesahan Konvensi


Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang
Kejam, Tidak Manusiawi, atau Merendahkan Martabat Manusia

24
(Convention Against Torture and Other Cruel, Inhumanor Degrading
Treatment or Punishment).
Konvensi ini mengatur pelarangan penyiksaan baik fisik maupun
mental, dan perlakuan atau penghukuman lain yang kejam, tidak
manusiawi, atau merendahkan martabat manusia yang dilakukan oleh
atau atas hasutan dari atau dengan persetujuan/sepengetahuan pejabat
publik dan orang lain yang bertindak dalam jabatannya. Ini berarti
negara RI yang telah meratifikasi wajib mengambil langkah-langkah
legislatif, administratif, hukum dan langkah-langkah efektif lain guna
mencegah tindakan penyiksaan (tindak pidana) di dalam wilayah
yuridiksinya. Misalnya langkah yang dilakukan dengan memperbaiki
cara interograsi dan pelatihan bagi setiap aparatur penegak hukum dan
pejabat publik lain yang bertanggungjawab terhadap orang – orang
yang dirampas kemerdekaannya.

e. Undang Undang RI Nomor 1 Tahun 2000 Tentang Pengesahan


Konvensi ILO nomor 182 Mengenai Pelanggaran dan Tindakan Segera
Penghapusan Bentuk–Bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak.

Menurut Konvensi ILO (International Labour Organization/Organisasi


Buruh Internasional) tersebut, istilah “bentuk-bentuk terburuk kerja
anak mengandung pengertian sebagai berikut:
1) Segala bentuk perbudakan atau praktik-praktik sejenis perbudakan,
misalnya:
a) penjualan anak;
b) perdagangan anak-anak;
c) kerja ijon;
d) perhambaan (perbudakan);
e) kerja paksa atau wajib kerja;
f) pengerahan anak-anak secara paksa atau wajib untuk
dimanfaatkan dalam konflik bersenjata;

25
2) Pemanfaatan, penyediaan atau penawaran anak untuk pelacuran,
untuk produksi pornografi, atau untuk pertunjukan-pertunjukan
porno.
3) Pemanfaatan, penyediaan atau penawaran anak untuk kegiatan
haram, khususnya untuk produksi dan perdagangan obat-obatan.
4) Pekerjaan yang sifatnya atau lingkungan tempat pekerjaan itu
dilakukan dapat membahayakan kesehatan, keselamatan, atau
moral anak.
Dengan UURI Nomor 1 Tahun 2000 tentang Pengesahan Konvensi ILO
nomor 182, maka negara Republik Indonesia wajib mengambil
langkah-langkah legislatif, administratif, hukum, dan langkah-langkah
efektif lain guna mencegah tindakan praktek memperkerjakan anak
dalam bentuk-bentuk terburuk kerja anak dalam industri maupun
masyarakat.

f. Undang Undang RI Nomor 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan


Kovenan Internasional Tentang Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya
(International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights).

g. Kovenan ini mengukuhkan dan menjabarkan pokok-pokok HAM di


bidang ekonomi, sosial dan budaya dari UDHR atau DUHAM
(Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia) dalam ketentuan-ketentuan
yang mengikat secara hukum. Kovenan terdiri dari pembukaan dan
pasal-pasal yang mencakup 31 pasal. Intinya kovenan ini mengakui hak
asasi setiap orang di bidang ekonomi, sosial, dan budaya, yang meliputi
:
1) hak atas pekerjaan,
2) hak untuk menikmati kondisi kerja yang adil dan menyenangkan,
3) hak untuk membentuk dan ikut serikat buruh,
4) hak atas jaminan sosial, termasuk asuransi sosial ,
5) hak atas perlindungan dan bantuan yang seluas mungkin bagi
keluarga, ibu, anak, dan orang muda,

26
6) hak atas standar kehidupan yang memadai,
7) hak untuk menikmati standar kesehatan fisik dan mental yang
tertinggi yang dapat dicapai,
8) hak atas pendidikan , dan
9) hak untuk ikut serta dalam kehidupan budaya.

h. Undang Undang RI Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan


Kovenan Internasional tentang Hak–hak Sipil dan Politik (International
Covenant on Civil and Political Rights).

Kovenan ini mengukuhkan pokok-pokok HAM di bidang sipil dan


politik yang tercantum dalam UDHR sehingga menjadi ketentuan-
ketentuan yang mengikat secara hukum. Kovenan tersebut terdiri dari
pembukaan dan Pasal-Pasal yang mencakup 6 bab dan 53 Pasal. Hak–
hak sipil (kebebasan–kebebasan fundamental) dan hak–hak politik
meliputi :

Hak-hak sipil :
1) hak hidup;
2) hak bebas dari siksaan, perlakuan atau penghukuman yang kejam,
tidak manusiawi, atau merendahkan martabat;
3) hak bebas dari perbudakan;
4) hak bebas dari penangkapan atau penahanan secara sewenang-
wenang;
5) hak memilih tempat tinggalnya, untuk meninggalkan negara
manapun termasuk negara sendiri;
6) hak persamaan di depan peradilan dan badan peradilan;
7) hak atas praduga tak bersalah.
8) hak kebebasan berpikir;
9) hak berkeyakinan dan beragama;
10) hak untuk mempunyai pendapat tanpa campur tangan pihak lain;
11) hak atas kebebasan untuk menyatakan pendapat;

27
12) hak atas perkawinan/membentuk keluarga;
13) hak anak atas perlindungan yang dibutuhkan oleh statusnya sebagai
anak dibawah umur, keharusan segera didaftarkannya setiap anak
setelah lahir dan keharusanmempunyai nama, dan hak anak atas
kewarganegaraan;
14) hak persamaan kedudukan semua orang di depan hukum dan
15) hak atas perlindungan hukum yang sama tanpa diskriminasi.

Hak – hak Politik :


1) hak untuk berkumpul yang bersifat damai;
2) hak kebebasan berserikat;
3) hak ikut serta dalam urusan publik;
4) hak memilih dan dipilih;
5) hak untuk mempunyai aksespada jabatan publik di negaranya ;

2.6 Pengertian Demokrasi


Secara etimologis istilah demokrasi berasal dari bahasa Yunani “Demokratia”
yang terdiri dari dua kata, yaitu demos yang berarti rakyat, kratos/kratein
yang berarti kekuasaan/ pemerintahan. Secara harfiah, demokrasi berarti
kekuasaan rakyat atau suatu bentuk pemerintahan dengan rakyat sebagai
pemegang kedaulatannya. Melalui konteks budaya demokrasi, nilai-nilai dan
norma-norma yang menjadi panutan dapat diterapkan dalam praktik
kehidupan demokratis yang tidak hanya dalam pengertian politik saja, tetapi
juga dalam berbagai bidang kehidupan. Mohammad Hatta sebagai Wakil
Presiden Republik Indonesia, menyebut demokrasi sebagai sebuah pergeseran
dan penggantian kedaulatan raja menjadi kedaulatan rakyat.

Istilah -istilah demokrasi tersebut banyak dikaji oleh para ahli. Meskipun
terdapat perbedaan, namun pada dasarnya pandangan-pandangan para ahli itu
mempunyai kesamaan prinsip. Berikut ini adalah pandangan demokrasi
menurut beberapa pendapat.
a. Abraham Lincoln (Presiden Amerika ke-16)

28
Demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.
b. Giovani Sartori
Demokrasi dipandang sebagai suatu sistem dimana tidak seorang pun
dapat memilih diriya sendiri, tidak seorang pun dapat
mengindentifikasikan dengan kekuasaannya, kemudian tidak dapat
merebut dari kekuasaan lain dengan cara-cara tak terbatas dan tanpa
syarat.
c. Sidney Hook
Demokrasi adalah bentuk pemerintahan dimana keputusan-keputusan
pemerintah yang penting secara langsung atau tidak langsung didasarkan
pada kesempatan mayoritas yang diberikan secara bebas dari rakyat
dewasa
d. Carol C. Gould
Demokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan yang didalamnya rakyat
memerintah sendri, baik melalui partisipasi langsung dalam merusmuskan
keputusan-keputusan yang memengaruhi mereka maupun dengan cara
memilih wakil-wakil mereka.
e. Kamus Besar Bahasa Indonesia
Demokrasi berarti bentuk pemerintahan dimana segenap rakyat turut serta
memerintah dengan peraturan wakilnya. Adapun arti lainnya, yaitu
demokrasi merupakan suatu gagasan atau pandangan hidup yang
mengutamakan persamaan-persamaan yang sama bagi semua warga negara
f. Ensiklopedi Populer Politik Pembangunan Pancasila
Demokrasi adalah suatu pola pemerintahan, yang pelaksanaa
pemerintahnya bersumber pada mereka yang diperintah. Atau demokrasi
adalah pola pemerintahan yang mengikutsertakan secara aktif semua
anggota masyarakat dalam keputusan yang diambil oleh mereka yang
berwenang.

2.7 Ruang Lingkup Demokrasi


1. Prinsip sistem politik demokrasi

29
Adapun prinsip-prinsip sistem politik demokrasi: a) Pembagian kekuasaan;
Kekuasaan eksekutif, legislatif, dan yudikatif berada pada badan yang
berbeda, b) Pemerintahan konstitusional, c) Pemerintahan berdasarkan
hukum, d) Pemerintahan mayoritas, e) Pemerintahan dengan diskusi, f)
Pemilihan umum yang bebas, g) Partai politik lebih dari satu dan mampu
melaksanakan fungsinya, h) Manajemen yang terbuka, i) Pers yang bebas,
j) Pengakuan terhadap hak-hak minoritas, k)Perlindungan terhadap hak
asasi manusia, l) Peradilan yang bebas dan tidak memihak, m) Pengawasan
terhadap administrasi negara, n) Mekanisme politik yang berubah antara
kehidupan politik masyarakat dengan kehidupan politik pemerintah, o)
Kebijaksaan pemerintah dibuat oleh badan perwakilan politik tanpa
paksaan dari lembaga manapun, p) Penempatan pejabat pemerintahan
dengan merit system bukan poll system, q) Penyelesaian secara damai
bukan dengan kompromi, r) Jaminan terhadap kebebasan individu dalam
batas-batas tertentu, s) Konstitusi /UUD yang demokratis, t) Prinsip
persetujuan.
2. Macam demokrasi
a. Demokrasi langsung
Adalah paham demokrasi yang mengikutsertakan setiap warga
negaranya dalam permusyawaratan untuk menetukan kebijaksanaan
umum dan undang-undang.
b. Demokrasi tidak langsung
Paham demokrasi yang dilaksanakan melalui sistem perwakilan dan
dilaksanakan melalui pemilihan umum.

2.8 Tanggung Jawab Umat Beragama Mewujudkan Demokrasi


Demokrasi sering dikatakan sebagai rule by the people yakni sistem
pemerintahan atau kekuasaan oleh rakyat, baik demokrasi yang bersifat
langsung (direct democracy) maupun demokrasi sistem perwakilan
( representative democracy).

30
Henry B. Mayo memberikan pengertian demokrasi sebagai sistem politik
sebagai berikut: “A democratic political system is one in which people’s
policies are made on a majority basis, by representative subject to effective
popular control at period elections which are conducted on the principle of
political equality and under conditions of political freedom”.

Paham baru tersebut, harus diperluas cakupannya sampai ke masalah sosial


dan ekonomi sehingga tidak membatasi diri pada perlindungan hak sipil dan
politik semata. Dalam bidang ekonomi harus diambil sistem yang dapat
menguasai kekuatan ekonomi yang mampu memperkecil perbedaan sosial
dan ekonomi terutama harus mampu mengatasi ketidakmerataan distribusi
kekayaan di kalangan rakyat.

Untuk hal dimaksud, pemerintah diberi kewenangan yang luas dengan freies
ermessen, yakni kewenangan untuk turut campur dalam berbagai kegiatan
masyarakat dengan cara-cara pengaturan, penetapan, dan materiale daad.
Perumusan ciri negara hukum dari konsep rechtsstaat dan the rule of law
sebagaimana yang dikemukakan oleh Stahl dan Dicey kemudian
diintegrasikan pada pencirian baru yang lebih memungkinkan pemerintah
bersikap aktif dalam melaksanakan tugas-tugasnya.

Dapat dilihat dari lingkup tugas pemerintah yang berbeda dengan negara
hukum dalam arti formal dan material, dapat juga dilihat dari segi materi
hukumnya. negara hukum dalam arti formal didasakan pada paham legisme
yang berpandangan bahwa hukum itu sama dengan undang-undang sehingga
tindakan menegakkan hukum berarti menegakkan undang-undang atau apa
yang telah ditetapkan oleh badan legislatif.

Berbeda negara hukum dalam arti material, yaitu hukum bukan hanya secara
formal ditetapkan oleh lembaga legislatif, tetapi yang dipentingkan adalah
nilai keadilannya. Misalnya di Inggris, undang-undang dapat saja
dikesampingkan bila bertentangan dengan rasa keadilan yang hidup dalam

31
masyarakat. Oleh karena itu, penegakan hukum berarti penegakan keadilan
dan kebenaran. Amin Rais dalam Peter Calvert mengemukakan bahwa
sedikitnya terdapat tiga alasan mengapa banyak negara setelah Perang Dunia
II menilai demokrasi sebagai sistem politik yang tepat.

Pertama, demokrasi merupakan bentuk vital dan terbaik bagi suatu


pemerintahan yang mungkin diciptakan, yang merupakan doktrin luhur
pemberi manfaat bagi kebanyakan negara. Kedua, demokrasi sebagai sistem
politik dan pemerintahan dianggap mempunyai akar sejarah yang panjang,
sehingga ia tahan banting dan dapat menjamin terselenggaranya suatu
lingkungan politik yang stabil. Ketiga, demokrasi dipandang sebagai suatu
sistem yang paling alamiah dan manusiawi, sehingga semua rakyat dalam
suatu negara akan memiliki demokrasi bila ia diberi kebebasan untuk
melakukan pilihannya.

Demokrasi dalam perkembangannya menjadi sulit didefinisikan, dikarenakan


hampir setiap negara menamakan dirinya paling demokrasi. Negara-negara
dimaksud, berlainan akar budaya, misal Indonesia secara tegas menggariskan
bahwa sistem pemerintahan Indonesia adalah menganut asas negara hukum,
dan asas negara demokrasi, bukan negara kekuasaan. Kekuasaan yang
terbatas dan tidak dibenarkan sewenang-wenang. Asas yang dianut haruslah
tercermin dalam praktik penyelenggaraan negara. Artinya dalam praktek
penyelenggaraan negara Indonesia, hukum harus mengendalikan kekuasaan,
bukan sebaliknya, hukum dijadikan alat oleh kekuasaan. Kalau hukum
dijadikan alat oleh kekuasaan, salah satu dampaknya adalah pada proses
penegakan hukum itu sendiri.

Oleh karena itu permasalahan yang muncul di kebanyakan negara kendatipun


secara formal menganut paham negara hukum dan paham demokrasi. Sistem
demokrasi adalah sistem pengendalian kekuasaan. Lord Action
mengungkapkan power tent to corrupt (kekuasaan itu seringkali

32
disalahgunakan), sehingga di sinilah sistem demokrasi dan peran hukum
untuk mengendalikan kekuasaan itu.

Mengacu kepada pernyataan di atas, di satu pihak ditemukan korelasi antara


penegakan hukum dengan sistem demokrasi dan pengendalian kekuasaan di
pihak lainnya. Artinya tidak mungkin hukum dapat ditegakkan tanpa adanya
sistem demokrasi dan juga tanpa adanya pengendalian kekuasaan.

Perkataan kekuasaan di sini sama dengan power, masalah kekuasaan dalam


negara (the power of the state) banyak dibicarakan oleh para sarjana ilmu
politik. Kekuasaan itu sendiri identik dengan politik, atau setidaknya politik
atau setiap aktivitas politik selalu bertujuan untuk mencapai kekuasaan, maka
dapat dibuat sesuatu analogi sebagai berikut: “Politic tend to corrupt”, politik
itu mempunyai kecenderungan korup atau disalahgunakan. Agar kekuasaan
tidak liar dan tidak disalahgunakan, hukum harus mengendalikan kekuasaan.
Oleh karena itu dalam praktek atau permainan politik segala etika politik dan
segala aturan permainan atau aturan hukum haruslah dihormati dan
ditegakkan. Jika tidak, maka akan menjadi pengikutnya Niccolo Machiavelli
yakni dengan ajarannya Het dod heilight de mind delen, yang ajaran ini
bertujuan menghalalkan segala cara untuk mencapai sesuatu maksud atau
tujuan.

Dari paparan di atas, dapat diketahui dan dipahami peran demokrasi terhadap
suatu negara hukum yang didiami oleh penduduk yang religius. Sebab,
demokrasi menentukan jalannya kepemerintahan di dalam negara hukum.

Negara hukum membutuhkan adanya kehidupan yang bebas dan berdaulat,


semua warga negara dan pemeluk agama sama kedudukannya dihadapan
hukum. Demokrasi memberi peluang kepada rakyat sebagai subjek hukum
untuk memberikan input kepada kebijakan publik yang pada akhirnya
dijalankan oleh badan eksekutif. Pada prinsipnya negara hukum adalah
adanya perlindungan hukum kepada rakyat, hukum itu dijalankan sebagai

33
supremasi dalam kehidupan bermasyarakat, untuk menentukan kearah
kebijakan negara. Di sini menunjukkkan bahwa demokrasi mempunyai peran
yang menentukan.

Sumbangsih lain dari demokrasi terhadap negara hukum adalah memberikan


peluang kepada rakyat untuk berpartisipasi mewujudkan suatu masyarakat
yang aman dan tenteram di bawah naungan hukum dalam kehidupan
bermasyarakat sebagai makhluk sosial (social pollution) yang setiap harinya
berinteraksi dengan manusia lain, sehingga lahir sebuah ajaran di dalam ilmu
hukum bahwa setiap orang sama kedudukannya di depan hukum. Walaupun
di dalam kenyataannya penerapan hukum di negara Indonesia misalnya, tidak
memberikan jaminan secara maksimal terlaksananya suatu hukum yang
benar-benar mencerminkan rasa keadilan. Barangkali, dapat dimungkinkan
dengan adanya aparat penegak hukum yang tidak konsekuen terhadap hukum
yang berlaku di negara yang bersangkutan (Zainuddin, 2006)

Demokrasi memberi peluang kepada rakyat untuk mendesain struktur negara,


atau sistem pelaksanaan dan penerapan kebijakan negara hukum. Jadi,
masalah kenegaraan ditentukan oleh rakyat baik langsung maupun melalui
badan perwakilan. Selain itu demokrasi memberikan kebebasan untuk
mengeluarkan pendapat di depan umum, baik melalui media massa maupun
elektronik, dalam kapasitas apapun kecuali yang nyata-nyata dilarang oleh
undang-undang.
Oleh karena itu pendapat adalah ide yang sangat memungkinkan untuk
bergulirnya demokrasi. Misalnya, tertekannya pers adalah proteksi dan
menjadi tanda tidak jalannya demokrasi secara bebas. Demikian juga
demokrasi memberikan kebebasan berkumpul dan berserikat. Adanya
kebebasan berkumpul dan berserikat merupakan satu dari beberapa tanda
bergulirnya demokrasi, dan merupakan salah satu sumbangsih terhadap
negara hukum

34
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
HAM adalah hak-hak dasar yang dimiliki oleh manusia sesuai dengan
kiprahnya. Setiap individu mempunyai keinginan agar HAM-nya terpenuhi,
tapi satu hal yang perlu kita ingat bahwa Jangan pernah melanggar atau
menindas HAM orang lain.Dalam kehidupan bernegara HAM diatur dan
dilindungi oleh perundang-undangan RI, dimana setiap bentuk pelanggaran
HAM baik yang dilakukan oleh seseorang, kelompok atau suatu instansi
atau bahkan suatu Negara akan diadili dalam pelaksanaan peradilan HAM,
pengadilan HAM menempuh proses pengadilan melalui hukum acara
peradilan HAM sebagaimana terdapat dalam Undang-Undang pengadilan
HAM.

3.2 Saran
Sebagai makhluk sosial kita harus mampu mempertahankan dan
memperjuangkan HAM kita sendiri. Di samping itu kita juga harus bisa
menghormati dan menjaga HAM orang lain jangan sampai kita melakukan
pelanggaran HAM. Dan jangan sampai pula HAM kita dilanggar dan
dinjak-injak oleh orang lain.Jadi dalam menjaga HAM kita harus mampu
menyelaraskan dan mengimbangi antara HAM kita dengan orang lain.

35
DAFTAR PUSTAKA

A. Hamid Attamimi, Teori Peraturan perundang-undangan Indonesia, Fakultas


Hukum UI, Jakarta, 1992

Gatot Supramono, 2007, Hukum Acara Pengadilan Anak,Cet. ketiga, Djambatan,


Jakarta.

Hadi Setia T, 2003, UU RI No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak,


Harvarindo, Jakarta.

Hesel Nogi S. Tangkilisan, 2003, Kebijakan Publik Yang Membumi, Konsep,


Strategi dan Kasus, Yayasan Pembaharuan Administrasi Publik Indonesia,
Yogyakarta.

Idjehar, Muhammad Budairi, HAM versus Kapitalisme, Yogyakarta: INSIST


Press, 2003.

Ubaidillah Ahmad dkk, Demokrasi, HAM, dan Masyarakat Madani, Jakarta:


ICCE UIN Syarif Hidayatullah, 2000.

http://id.wikipedia.org/wiki/Demokrasi

http://sakauhendro.wordpress.com/demokrasi-dan-politik/pengertian-demokrasi/

http://sistempemerintahan-indonesia.blogspot.com/2013/05/demokrasi-di-
indonesia-pengertian-sejarah-pelaksanaan-penerapan.html

http://www.pengertianahli.com/2014/08/macam-macam-demokrasi.html

http://cieh94.wordpress.com/2012/11/11/prinsip-prinsip-demokrasi/

36

Anda mungkin juga menyukai