Anda di halaman 1dari 9

ACARA V

INTERPRETASI KENAMPAKAN FISIOGRAFIS SECARA STEREOSKOPIS


DENGAN MENGGUNAKAN FOTO UDARA PANKROMATIK HITAM PUTIH

Dosen Pengampu :
Aditya Saputra, M. Sc, Ph.D

Asisten :
Abel Garibaldi Ismail Mauliza Fatwa Yusdian
Danang Maulana Muhammad Fakhri
Eva Triana Munif Faturrahman
Khairunissa Ari Nureni Nur Aisyah
Mahardhika Noor R. P. Refri Astari
Maulida Fatkhiyah Yasmin Fida Az-Zahra

Disusun Oleh :
Hendra Wahyudi
E100180312
(Selasa, 10.20-12.00)

LABORATORIUM PENGINDERAAN JAUH DAN KARTOGRAFI


DASAR
FAKULTAS GEOGRAFI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2018
ACARA V
INTERPRETASI KENAMPAKAN FISIOGRAFIS SECARA STEREOSKOPIS
DENGAN MENGGUNAKAN FOTO UDARA PANKROMATIK HITAM
PUTIH

I. TUJUAN
1. Melatih ketrampilan dalam melakukan interpretasi kenampakan foto udara
secara stereoskopis
2. Melatih pembacaan titik apung yan sesuai pada pengamatan stereoskopis di
bawah stereskop cermin.

II. ALAT DAN BAHAN


1. Foto udara pankromatik hitam putih
2. Stereskop Cermin
3. Kertas Milimeter Kalkir
4. Kertas HVS A4
5. Alat Tulis ( Penggaris, Penghapus )
6. Pensil OHP

III. DASAR TEORI

Penginderaan jauh ialah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang obyek,
daerah, atau gejala dengan jalan menganalisis data yang diperoleh dengan
menggunakan alat tanpa kotak langsung terhadap obyek, daerah, atau gejala yang dikaji
(Lillesansd dan Kiefer, 1979 dalam Sutanto, 1992).
Interpretasi citra merupakan perbuatan mengkaji foto udara dan atau citra dengan
maksud untuk menidentifikasi obyek dan menilai arti pentingnya obyek tersebut (Estes
dan Simonett, 1975). Interpretasi citra dan fotogametri berhubungan sangat erat,
meskipun keduanya tidaklah sama. Bedanya fotogametri berkepentingan dengan
geometri obyek, sedangkan interpretasi citra berurusan dengan manfaat, penggunaan,
asal-usul, ataupun identitas obyek yang bersangkutan (Glossary of the Mapping
Sciences, 1994).
Proses di dalam interpretasi citra, penafsir citra mengkaji citra sekaligus berupaya
melalui proses penalaran untuk mendeteksi, mengidentifikasi, dan menilai arti
pentingnya obyek yang tergambar pada citra. Sehingga penafsir citra berupaya untuk
mengenali obyek yang tergambar pada citra dan menterjemahkannya ke dalam disiplin
ilmu tertentu seperti geologi, geografi, ekologi, dan disiplin ilmu lainnya (Sutanto,
1986).
Rangkaian kegiatan yang diperlukan di dalam pengenalan obyek yang tergambar
pada citra yaitu deteksi, identifikasi, dan analisis....(Lintz Jr. dan Simonett,1976).
Deteksi berarti penentuan ada atau tidak adanya sesuatu obyek pada citra. Ia merupakan
tahap awal dalam interpretasi citra. Keterangan yang didapat pada tahap deteksi bersfat
global. Keterangan yang didapat pada tahap interpretasi selanjutnya, yaitu pada tahap
identifikasi, bersifat setengah rinci. Keterangan rinci diperoleh dari tahap akhir
interpretasi, yaitu tahap analisis (Lintz dan Simonett, 1976).
Menurut Sutanto (1986), karakteristik penting dari obyek pada citra yang
digunakan sebagai interpretasi citra terdiri dari delapan unsur. Kedelapan unsur
tersebut ialah warna (color)/rona (tone), bentuk (shape), ukuran (size), bayangan
(shadow), tekstur (texture), pola (pattern), situs (site), dan asosiasi (association). Di
antara kedelapan unsur tersebut, warna/rona merupakan hal yang paling dominan, dan
langsung mempengaruhi pengguna citra dalam memulai interpretasi.
Interpretasi citra penginderaan jauh dapat dilakukan dengan dua cara yaitu
interpretasi foto udara monoskopis dan interpretasi foto udara stereoskopis (Alfi Nur
Rusydi). Interpretasi foto udara monoskopis merupakan kegiatan interpretasi foto
udara tanpa menggunakanalat bantu, hanya menggunakan mata telanjang. Interpretasi
foto udara monoskopis digunakan untuk menginterpretasi penutup dan penggunaan
lahan. Interpretasi foto udara stereoskopis merupakan kegiatan interpretasi foto udara
dengan menggunakan alat bantu yang bernama stereoskop.

Pada kegiatan pengamatan ini stereoskop berfungsi untuk menampilkan gambar 3


dimensi. Gambar 3 dimesi dari citra yang diinterpretasi akan memudahkan
pengamatan. Bidang 3 dimensi menunjukkan obyek yang mempunyai unsur ukuran
lebar, panjang dan tinggi. Bidang 3 dimensi memungkinkan dilakukan pengamatan
terhadap beda tinggi dan kemiringan lereng suatu obyek. Foto udara pada umumnya
lebih banyak menampilan gambar 2 dimensi, terutama pada foto udara tegak lurus.
Untuk dapat menampilkan bentuk 3 dimensi dari foto udara yang diamati, ada beberapa
syarat yang harus dipenuhi yaitu :
1. Terdapat daerah bertampalan pada foto udara. Setiap foto udara/citra yang akan
diinterpretasi harus merupakan foto udara/citra yang berurutan garis terbangnya
dan mempunyai daerah tampalan (pada foto 1 ada sebagian wilayah yang sama
dengan foto 2)
2. Untuk dapat diinterpretasi dengan jelas maka lebar daerah yang bertampalan
kira-kira 1/3 – 2/3 dalam sebuah foto/citra.
3. Gambar dari foto udara tersebt memiliki sudut pengambilan yang berbeda
dalam satu jalur terbang.
4. Foto yang diamati hendaklah memiliki skala yang sama.
( Posisi Steroskop saat pengamatan)

Prinsip kerja stereoskop adalah sebagai berikut :


1. Mata 1 (mata kanan) mengamati citra sebelah kanan
2. Mata 2 (mata kiri) mengamati citra sebelah kiri
3. Stereoskop menyatukan daerah bertampalan sehingga seolah-olah hanya
mengamati 1 citra saja
4. Daerah bertampalan menghasilkan gambar 3 dimensi yang dapat digunakan
untuk mengamati unsur ketinggian dan kemiringan.

Pengenalan kenampakan relief permukaan bumi atau fisiografi merupakan


landasan penting dalam kajian-kajian yang terkait dengan sumberdaya lahan.
Pengamatan tentang aspek fisiografi menempati posisi yang penting dalam kajian-
kajian geografi fisik (hidrologi, geomorfologi), geologi dan pertanian (tanah).
Meskipun demikian observasi secara langsung dilapangan tidak selalu menghasilkan
deskripsi yang akurat tentang relief medan yang dihadapi, karena terbatasnya jarak
pandang manusia. Pengenalan kenampakan fisiografi kadang-kadang lebih efektif bila
dilakukan dengan bantuan citra pengindraan jauh, karena citra mampu menampilkan
susunan keruangan (spatial aragement) fenomena relief dengan lebih utuh dan
kontekstual, artinya ada keterkaitan dengan fenomena lainya. Salah satu jenis citra
yang sangat efektif dalam menyajikan kenampakan fisiografi adalah foto udara, karena
dapat diamati secara streokopis.

Kenampakan fisiografi yang tergambar pada foto udara tidak selalu tepat
menyajikan kenyataan dilapangan. Kekasaran relief yang tampak pada foto juga
dipengaruhi oleh tingkat perbesaran vertical (vertical exaggeration). Perbesaran
vertical terkait erat dengan rasio antara basis udara (B) dan tinggi terbang (H), atau
sering dinyatakan dengan base-height ratio. Semakin besar base-height ratio,
seamakin besar pula perbesaran vertikalnya, dan kenampakan relief yang tidak terlalu
kasar akan menjadi semakin kasar, lereng-lereng menjadi semaki curam, dan lembah-
lembah menjadi semakin dalam. Hal ini sangat membantu dalam observasi relief mikro
suatu wilayah, namun dapat pula menyesatkan bila hasil dijadikan basis pemodelan
untuk kajian lingkungan, misalnya pendugaan besarnya erosi atau kehilangan tanah.
Dalam melakukan Interpretasi satuan-satuan fisiografi, apalagi yang lebih spesifik
seperti misalnya satuan batuan (litologi) dan bentuk lahan, unsure-unsur Interpretasi
yang digunakan tidaklah persis sama dengan unsure-usur Interpretasi penutup lahan.
Unsure rona/warna menjadi tidak penting, karena hal ini bersifat tidak konsisten untuk
satu satuan fisiografi yang sama. Tekstur perlu diperhatikan, meskipun kadang-kadang
kurang dominan. Aspek geometri yang perlu diperhatikan (dari bentuk, ukuran, dan
bayangan/kesan ketinggian) ialah bayangan, karena hal ini mampu menonjolkan kesan
relief yang ada. Pola, situs, dan asosiasi merupakan unsure-unsur paling penting untuk
membedakan suatu kenampakan fisiografi dari kenampakan lainya.
Penarikan batas satuan-satuan biasanya dilakukan pada (a) perubahan kemiringan
lereng secara umum, (b) perubahan pola aliran dan/atau kerapatan alur, dan (c)
perubahan pola kesan ketiggian. Disamping itu, adanya pola penutup/penggunaan
lahan kadang-kadang juga dapat membantu dalam membedakan batas satuan fisiografi,
meskipun untuk beberapa wilayah yang telah di eksploitasi secara eksesif hal ini justru
dapat menyesatkan.
Dalam klasifikasi fisiografi secara sederhana (yang lebih tepat disebut sebagai
klasifikasi relief), permukaan bumi dapat dikelompokkan menjadi bebeapa katagori,
yaitu (setiap contoh di usahakan proporsional dengan yang lain) :
a) Dataran : kenampakan datar-landai, kemiringan kurang atau sama dengan 3 %
b) Berombak : beda tinggi titik tertinggi dengan terendah kurang dari 50 meter,
kemiringan 8-15%
c) Bergelombng : beda tinggi titik tertinggi dan terendah maksimal 100 meter,
pengulangan cukup besar, kemiringan 8-15%.
d) Berbukit : kadang-kadang dirinci menjadi berbukit kecil, berbukit sedang, dan
berbukit, kemiringan lebih dari 15%, beda tinggi titik tertinggi dan terendah
kurag dari 300 meter.
e) Bergunung : kemiringan lebih dari 15%, beda tinggi titik tertinggi dan terendah
lebih dari 300 meter.
Selain itu, ada pula klasifikasi lain, yang lebih mengarah pada klasifikasi
bentklahan dan bentanglahan, yang sangat memperhatikan pola. Misalnya, adanya pola
aliran radial sentfugal dapat ditafsirkan sebagai gunung api (volkan), apabila reliefnya
bergunung. Contoh lain, pola berbukit kecil membulat seperti kubah dengan frekuensi
pengulangan yang sangat tingi dan pola aliran yang tidak jelas (kadang-kadang ada aur
sungai, tiba-tiba hilang/terputus) merupakan perbukitan karts.
IV. LANGKAH KERJA
1. Mengamati dua citra hitam putih yang berurutan nomor serinya
2. Memasang stereoskop cermin di kedua foto tersebut, dekatkan mata pada lensa
stereoskop untuk melihat objek pada citra foto
3. Sesuaikan kedua gambar agar pas dan nyaman untuk dipandang serta terlihat
jelas menjadi gambar 3D
4. Tempatkan mika plastic diatas kedua gambar tersebut kemudian jepit
menggunakan klip agar tidak bergeser
5. Mulai amati foto, mata kanan mengatmati citra sebelah kanan dan mata kiri
mengamati mengamati citra sebelah kiri
6. Menunggu beberapa detik agar mata menyesuaikan dengan citra gambar
sampai gambar akan terlihat seperti foto yang hidup atau 3D
7. Interpretasi dengan menggunakan spidol OHP dengan ketentuan warna setiap
bagian objek yang sudah ditentukan
DAFTAR PUSTAKA

Kiefer T. M. dan Lillesand R. W., 1990. Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra.
Gadjah Mada University Press. Bulaksumur, Yogyakarta.

Colwell, R.N., Manual of Photographic Interpretation, American Society for


Photogrammetry & Remote Sensing, 1997

http://id.wikipedia.org/wiki/Fotografi_Udara_dan_Interpretasi_Citra_Satelit.
( Diakses 15.30, 20 November 2018 )
http://awaluddinzaenuri.blogspot.com/2011/05/intepretasi-kenampakanfisiografi.html
diakses 14.00, 01 November 2014

Beri Nilai