Anda di halaman 1dari 2

Hafsah Nur Shodrina // P23131115024 // D4 – 6A

ILC (Indonesia Lawyers Club) Selasa, 20 Maret 2018, mengangkat tema mengenai “benarkah
KPK diintervensi pemerintah?”. Narasumber yang diundang diantaranya, juru bicara KPK,
Peneliti ICW, Praktisi Hukum, Ketua PP Pemuda Muhammadiyah, Pakar Hukum Pidana, Ses
Menko Polhukam, Politisi partai nasdem dan PDIP, pakar hukum pidana, pakar hukum tata
negara, dan wakil ketua DPR RI.

Pemilihan topik didasarkan pada pernyataan KPK bahwa ada nama-nama calon legislatif di
pilkada 2018 yang terlibat dalam kasus korupsi. Hal tersebut direspons dengan penyataan-
penyatan banyak pihak salah satunya Menko Polhukam yang mengatakan bahwa
pengumuman nama – nama calon kepala daerah yang diduga sebagai tersangka sebaiknya
ditunda dulu

Menurut Letjen Yoedhi Swastono, ses menko polhukam, mewakili menko polhukam, perlu
adanya tindak lanjut dari indikator paslon. Menteri polhukam datang ke KPU dan mapping
masalah, dan ada 8 masalah yang muncul, salah satunya dana. Ada rapat. Dalam rapat
pendahuluan, dibahas juga mengantisipasi paslon yang dijadikan tersangka. Pada akhirnya
disepakati oleh kapolri dan jaksa agung untuk menunda masalah itu. Meskipun demikian,
setelahnya tidak dibahas lagi pada rapat 12 Maret karena bukan merupakan ranah pemerintah.
Baru setelah itu, dinyatakan press release dari pernyataan menteri.

Wujud koordinasi adalah himbauan. Himbauan ini boleh didahulukan atau tidak. Hal ini
dilakukan untuk mengantisipasi dampak yang ditimbulkan. Apabila himbauan tidak diterima,
pihak pemerintah tidak masalah. Akan tetapi, pemerintah harus siap dan aparat keamanan
mengubah indeks keamanan pemilu. Semakin cepat mengetahui keputusan, semakin cepat
menentukan antisipasi.

Menurut Jhonny Ginting, Deputi 3 Bidang hukum dan ham Kemenkopolhukam, membahas
tentang himbauan Menteri. Menurut pak Jhonny, himbauan tersebut bukanlah intervensi.
Harapannya, setiap aparat atau pimpinan lembaga yang memberikan statement dihadapi
dengan bijaksana dan kepala dingin

Menurut juru bicara KPK, Febri diansyah, KPK mereka melihat dari perspektif komunikasi.
Ada 2 kepentingan, pertama, ternyata semua pihak yang bicara setuju pemberantasan korupsi
harus dilakukan, dan yang kedua ada kepentingan dan keinginan agar pilkada sukses.
Menurut KPK, mereka melakukan keduanya sekaligus. Yang sangat berbeda adalah begitu
KPK masuk penyidikan, tidak boleh ada keraguan pada bukti karena tidak bisa mundur.
Beberapa hal yang dilakukan KPK, mereka jalan ke KPUD ke daerah dan meminta kepala
daerah membangun demokrasi yang sehat. Ada 86 kepala daerah yang diurus KPK. Sebagian
besar mereka disuap, mendapat fee dari pengadaan barang dan jasa. KPK akan terus
berjalan. KPK tidak memproses calon kepala daerah, tetapi KPK memproses penyelenggara
negara.

Fahri Hamzah, Wakil DPR RI, beliau mengkritik kedua belah pihak, menurutnya,
pemerintahan Jokowi, tidak punya pendirian. KPK memuji Pak Jokowi supaya dilindungi. Itu
juga terjadi pada pemerintahan sebelumnya. Kabinetnya bingung dengan agenda
pemberantasan korupsi. Karena tidak jelas dan memakai idiom ‘independent’, Sehingga pak
jokowi menjadi lepas tangan. Itu lah penyebab kosa kata menghimbau muncul, pemerintah
tidak bisa bekerja dengan menghimbau, karena itu merupakan tugas para ulama. Pemerintah
harus kuat. Seharusnya presiden bisa memaksa dan membuat perppu dengan waktu singkat
untuk pemberantasan korupsi. Tetapi menurut beliau pemerintah mau namun menolak dan
tidak mengerti jadi diumbar secara umum. Sedangkan presiden harus menunjukkan
wibawanya.

Menurut Refly Harum, Pakar Hukum Tata Negara, rezim itu dibagi menjadi 3, rezim
penegakkan hukum, rezim pemilihan, dan rezim pemerintahan daerah. Rezim penegakkan
hukum ada KPK, KPK sebagai lembaga independen tidak boleh di intervensi, karena sekali
menyetir kpk maka akan selamanya seperti itu. Rezim pemilihan dibagi dua kepentingan, hak
mereka yang mencalonkan diri dan pemilih yang harus tau calonnya. Di dalam pemilu harus
ada perlakuan yang sama, kontestasi politik masing – masing calon harus diperlakukan sama.
Rezim pemilihan itu menyatakan siapapun yang jadi tersangka, belum tentu bersalah. Maka
dari itu tersangka tidak didiskualifikasi, kalau pimpinan kpk sebagai tersangka maka akan
diberhentikan, alasan dari mahkamah konstitusi adalah asas praduga tidak bersalah, ketika
bersangkutan sebagai tersangka, maka tidak diberhentikan hanya di nonaktifkan. Rezim
pemerintahan daerah UU no. 23 2014, seandainya terpilih dan menjadi tersangka, kemudian
melimpahkan kasusnya sebagai terdakwa maka akan dinonaktifkan, kalau putusannya bebas
maka akan diaktifkan kembali,

Kalaupun kepala daerah itu terpilih, maka akan ada rezim pemerintahan daerah, karena tidak
akan mungkin menjadi kepala daerah. Pemilu itu berbicara mengenai track record, masa lalu
calon, mau calon tersebut pernah melakukan tindakan kasus pidana korupsi sekalipun itu
harus dideklarasikan, hal ini berbeda dengan kasus ini, ini baru tersangka, berbicara
mengenai masa depan yang belum pasti, unpredictable,

Jadi, dari ketiga rezim ini, silahkan saling berjalan dan berdiri sendiri, sebagai contoh, kalau
rezim penegakan hukum diutakamakan, maka cari apa yang membuat penersangkaan itu
menjadi justified, kalau itu bukti kuat maka kita tidak bisa berbicara lagi, Kpk tidak boleh
diintervensi tetapi kpk harus bijaksana, sedangkan Kalo kita berbicara mengenai rezim kepala
daerah, kpk tidak terlibat didalamnya,tetapi yang terlibat adalah bawaslu, dkpp, dan kpu.

Pada kasus ini, KPK lompat langsung ke rezim kepala daerah, oleh karena itu kita harus
menghormati rezim pemilihan terlebih dulu,

Kesimpulan dari pak Karni Ilyas, Presiden ILC jawabannya adalah benar dan tidak benar,
ketika ada himbauan dari menku polhukam, maka ada kecurigaan ada pihak yang mau
dilindungi, kalau kpk juga berjalan untuk tetap menyelidik atau menersangkakan calon bupati
atau kepala daerah, maka kita bertanya apakah ada politik dibalik ini?

Trust yang harus diperlukan antara kita, bahkan pemerintah, Kalau masyarakat mendapat
informasi sebenar-benarnya dan sesungguhnya, maka sesungguhnya masyarakat akan
percaya kepada pemerintahnya. Persoalannya adalah soal trust. i