Anda di halaman 1dari 48

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Metode penjualan angsuran pada mulanya berasal dari penjualan rumah pada
perusahaan real estate, tetapi pada masa sekarang penjualan dengan metode ini telah
berkembang pada perusahaan yang bergerak dalam bidang perdagangan kendaraan
seperti mobil, motor; mesin; alat-alat rumah tangga dan lainnya. Bahkan pada beberapa
jenis industri metode penjualan angsuran ini telah menjadi kunci utama dalam mencapai
operasi skala besar.
Metode penjualan angsuran ini cukup berkembang pesat dan disukai di kalangan
usahawan dan juga dikalangan pembeli. Bagi usahawan metode ini telah meningkatkan
jumlah penjualan yang tentunya meningkatkan laba, bagi pembeli mereka merasa lebih
ringan dalam hal pembayaran untuk melunasi barang yang dicicil tersebut.
Meskipun dengan metode ini resiko atas tidak tertagihnya piutang akan
meningkat, tetapi kelemahan metode ini dapat diatasi dengan meningkatnya volume
penjualan perusahaan.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah isi makalah ini, adalah:
1. Apa yang dimaksud dengan Penjualan Angsuran dan apa saja masalah yang
ditimbulkan?
2. Bagaimana pengakuan dari Laba kotor?
3. Bagaimana perhitungan bunga dan angsuran?
4. Bagaimana perhitungan dan pencataan dari penjualan angsuran dengan tukar
tambah?
5. Bagaimana pengakuan dan pencatatan dari adanya pembatalan penjualan
angsuran?

C. Tujuan
Tujuan isi makalah ini, yaitu:
1. Menjelaskan maksud dari penjualan anguran dan masalah yang ditimbulkan.

1
2. Menjelaskan metode pengakuan laba kotor pada penjualan angsuran.
3. Menjelaskan perhitungan bunga dan anguran pada penjualan anguran.
4. Menghitung dan mencatat pertukaran tambah dalam penjualan angsuran.
5. Menghitung dan mencatat pembatalan penjualan angsuran.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian dan Masalah Penjualan Angsuran


Penjualan angsuran adalah penjualan yang dilaksanakan dengan perjanjian
dimana pembayarannya dilakukan secara bertahap atau berangsur. Biasanya pada saat
barang atau jasa diserahkan kepada pembeli, penjual menerima uang muka (down
payment) sebagai pembayaran pertama dan sisanya diangsur dengan beberapa kali
angsuran. Karena penjualan harus menunggu beberapa periode untuk menagih seluruh
piutang penjualannya, maka biasanya pihak penjual akan membebankan bunga atas
saldo yang belum diterimanya. Profit adalah salah satu tujuan umum setiap perusahaan
dan salah satu langkah untuk mewujudkannya adalah dengan meningkatkan volume
penjualan dengan penjualan yang pembayarannya secara bertahap. Hal ini akan menarik
bagi para konsumen karena akan mendapatkan keringanan dalam pembayarannya.
Namun penjualan dengan metode ini akan didampingi oleh resiko yang besar
karena pembayarannya dilakukan beberapa periode dimasa yang akan datang sehingga
menimbulkan ketidak pastian.
Secara garis besar masalah yang timbul dalam hal ini dapat dibagi 2, yaitu,
masalah non-akuntansi, dan masalah akuntansi
Masalah Non-akuntansi yaitu bagaimana menghindari resiko terjadinya adanya
pembeli yang tidak memenuhi kewajibannya. Usaha untuk meminimalkan resiko ini
digolongkan dalam 3 kelompok diantaranya:
1. Mengurangi kemungkinan terjadinya pembatalan penjualan angsuran
Usaha untuk mengurangi kemungkinan terjadinya pembatalan penjualan
angsuran dapat dilakukan dengan beberapa cara, meliputi :
a. Penjualan Angsuran dilakukan secara selektif, bahwa penjualan angsuran hanya
diberikan pada calon pembeli yang kemampuan dan kejujurannya dapat
dipercaya, misalnya pegawai negeri, profesi tertentu dan sebagainya
b. Penjualan angsuran dilakukan dengan persetujuan atau sepengetahuan atasan
pembeli
c. Pembayaran angsurannya dilakukan dengan pemotongan gaji
2. Menyediakan perlindungan hukum kepada penjual

3
Secara hukum penjual dapat dilindungi dengan cara membuat perjanjian jual beli
angsuran yang isinya antara lain :
a. Perjanjian penjualan bersyarat. Menurut perjanjian ini barang yang dijual secara
kredit langsung diserahkan kepada pembeli akan tetapi penyerahan hak atas
barang tersebut ditunda sampai pembayarannya selesai
b. Menggunakan bukti pemilikan sebagai jaminan kredit. Di dalam sistem ini,
sertifikat tanah dan rumah atau BPKB kendaraan bermontor digunakan sebagai
jaminan kredit bank. Kredit bank tersebut digunakan untuk membayar utang
kepada penjual barang yang bersangkutan. Dengan demikian pembeli berutang
kepada bank bukan kepada penjual barang. Setelah kredit lunas sertifikat atau
BPKB akan diterima dari bank.
c. Menjaminkan kepada pihak ketiga. Bukti pemilikan atas barang yang dijual
diserahkan kepada pihak ketiga, sampai pembayarannya selesai. Setelah
pembayaran selesai bukti pemilikan akan diserahkan kepada pembeli.
d. Perjanjian beli-sewa. Sebelum pembayaran lunas pembayaran dianggap sewa.
Setelah pembayaran lunas baru dianggap sebagai jual-beli. Apabila sebelum
pembayaran lunas pembeli menghentikan pembayaran maka barang yang sudah
diterima harus dikembalikan tanpa ganti rugi
3. Menyediakan Perlindungan Ekonomi kepada Penjual
Usaha ini dilakukan dengan menciptakan keadaan supaya pembeli harus berfikir
masak-masak sebelum memutuskan untuk membatalkan pembelian angsuran. karena
pembatalan pembelian angsuran berarti kerugian bagi pembeli dan keutungan bagi
pihak penjual. Agar keadaan ini dapat terwujud maka :
a) Uang muka harus cukup besar. Uang muka harus cukup besar bertujuan untuk
melebihi penurunan nilai dari barang baru menjadi barang bekas.
b) Jangka waktu angsuran jangan terlalu panjang. Semakin panjang jangka waktu
angsuran bearti semakin besar penurunan nilai atas barang yang dijual dan semakin
besar peluang untuk menghilangkan jejak bagi pembeli.
c) Angsuran cukup besar. Besarnya angsuran harus melebihi penurunan nilai
barang selamajangka waktu angsuran.

4
Masalah akuntansi yang dihadapi dalam penjualan angsuran dapat
dikelompokkan menjadi 4, yaitu :
1) Masalah yang berhubungan dengan pengakuan laba kotor.
2) Masalah yang berhubungan dengan cara perhitungan bunga dan angsuran.
3) Masalah yang berhubungan dengan tukar-tambah.
4) Masalah yang berhubungan dengan pembatalan penjualan angsuran.

B. Pengakuan Laba Kotor


Ada dua dasar didalam pengakuan laba kotor adalah :
Dasar Penjualan
Laba kotor atas penjualan diakui dalam priode penjualan angsuran terjadi, tanpa
memperhatikan apakah pembayarannya sudah diterima atau belum. Cara ini sama
dengan pencatatan penjualan kredit biasa. Metode ini dapat digunakan bila memenuhi 3
kondisi :
1) Jangka waktu pembayaran relative pendek
2) Kemungkinan terjadinya pembatalan sangat kecil
3) Biaya – biaya yang berhubungan dengan penjualan angsuran bisa ditaksiran
dengan teliti.
Contoh :
Pada awal tahun 2016 PT Sani Medikal melakukan penjualan angsuran seharga
Rp12.500.000, dibayar melalui 5 kali angsuran tahunan, setiap akhir tahun. Dan Harga
pokok penjualan Rp10.000.000
Maka pengakuan laba kotornya adalah :
Laba kotor yang sudah diakui dari penjualan angsuran tersebut dan dicatat pada
tahun 2016 oleh PT. Sani Medikal sebesar Rp 2.500.000 (Rp 12.500.000 – Rp.
10.000.000). Tanpa memperhatikan apakah pembayaran sudah diterima atau belum.

Dasar Kas
Laba kotor atas penjualan angsuran baru diakui apabila pembayaran dari piutang
penjualan angsuran sudah diterima, dan penerimaan kas tersebut terdiri dari 2
unsur yaitu :
1. Pembayaran atas harga pokok penjualan

5
2. Pembayaran atas laba kotor
Perlakuan terhadap penerimaan piutang penjualan angsuran tersebut ada 3
metode, yaitu
a. Harga pokok kemudian laba kotor (Cost recovery method). Dalam metode ini
penerimaan kas pertama diakui sebagai penutup harga pokok penjualan
kemudian setelah harga pokok penjualan terbayarkan, baru penerimaan kas
berikutnya diakui sebagai laba kotor.
b. Laba kotor kemudian harga pokok penjulan. Dalam metode ini pembayaran
angsuran pertama diakui sebagai perolehan laba kotor kemudian setelah laba
kotor semua sudah diterima harga pokonya diperhitungkan.
c. Harga pokok penjualan dan laba kotor secara proporsional. Dalam metode ini
setiap penerimaan kas dari piutang penjualan angsuran terdiri dari pembayaran
harga pokok penjualan dan laba kotor yang diakui secara proporsional sesuai
dengan perbandingan harga pokok penjualan dan laba kotor.

Soal dari penggunaan masing – masing metode diatas adalah sebagai berikut:
Pada awal tahun 2016 PT Sani Medikal melakukan penjualan angsuran seharga
Rp. 12.500.000, dengan syarat pembayaran sebagai berikut :
1) Uang muka Rp. 2.500.000, dibayar pada saat transaksi penjualan.
2) Sisanya dibayar melalui 4 kali angsuran tahunan, setiap akhir tahun.
3) Harga pokok penjualan Rp. 10.000.000

Maka Pengakuannya adalah:


1) Harga pokok kemudian laba kotor (Cost recovery method)
Dari contoh Perusahaan akan mencatat penerimaan tanggal 01 Januari 2016
sampai 31 Desember 2018 sebagai pembayaran harga pokok penjualan (totalnya Rp
10.000.000 ), sedangkan penerimaan tanggal 31 Desember 2018 dan 31 Desember 2019
dicatat sebagai laba atas penjualan angasuran (Rp 2.500.000)
2) Laba kotor kemudian harga pokok penjulan
Dari contoh Perusahaan akan mencatat penerimaan tanggal 01 Januari 2016 (Rp
2.500.000) sebagai laba atas penjualan angsuran, sedangkan penerimaan 31 Desember

6
2015 sampai 31 Desember 2019 diakui sebagai pembayaran harga pokok penjualan
angsuran ( total Rp 10.000.000 )
3) Harga pokok penjualan dan laba kotor secara proporsional
Dari contoh di atas dapat dihitung perbandingan harga pokok penjualan dengan
laba kotor yaitu:
Harga
Pembayaran Laba kotor
Tanggal Keterangan pokok
Rp(100%) Rp(20%)
Rp(80%)
1-1-2016 Uang muka 2.500.000 2.000.000 500.000
31-12-2016 Angsuran ke-1 2.500.000 2.000.000 500.000
31-12-2017 Angsuran ke-2 2.500.000 2.000.000 500.000
31-12-2018 Angsuran ke-3 2.500.000 2.000.000 500.000
31-12-2019 Angsuran ke-4 2.500.000 2.000.000 500.000
Jumlah 12.500.000 10.000.000 2.500.000

C. Perhitungan Bunga dan Angsuran


Dalam hal ini pembayaran kredit terdiri-dari dua unsur, yaitu :
1. Bunga yang diperhitungkan
2. Angsuran pokok pinjaman

Dengan demikian besarnya pembayaran yang diterima tergantung dari dasar


perhitungan bunga dan dasar penentuan angsuran pokok pinjaman.
Didalam dasar perhitungan bunga ada 2 dasar yang sering dipakai, yaitu :
a. Bunga dihitung dari sisa pinjaman (sistem bunga menurun)
Di dalam perhitungan bunga ini tergantung pada total sisa pinjaman. Karena sisa
pinjaman dari priode ke priode semakin menurun maka pembayaran bunga pun ikut
menurut, atau dihitung dengan mengkalikan persentase tingkat bunga dengan sisa
pinjaman tersebut.
b. Bunga dihitung dari pokok pinjaman (sistem bunga tetap)
Di dalam perhitungan ini besarnya bunga untuk semua priode didasarkan pada
pokok pinjaman awal, atau besarnya pembayaran bunga untuk setiap priode adalah
dengan mengkalikan tingkat persentase bunga dengan pokok pinjaman awal.

7
Di dalam dasar perhitungan angsuran pokok pinjaman, terdapat 2 sistem
perhitungan angsuran pokok pinjaman, yaitu :
1) Sistem angsuran tetap. Di dalam perhitungan angsuran pokok pinjaman dengan
sistem ini dengan membagi total pokok pinjaman dengan banyaknya angsuran.
2) Sistem anuitas. Dalam sistem ini terbagi menjadi 3 yaitu:
Sistem bunga tetap dan angsuran pokok pinjaman tetap
Di dalam sistem ini besarnya angsuran pokok pinjaman dan besarnya bunga
untuk setiap priodenya selalu tetap.
Sistem bunga menurun dan angsuran pokok pinjaman tetap
Dalam sitem ini besarnya bunga per periode selalu menurun sedangkan besarnya
angsuran pokok pinjaman tetap, sehingga jumlah angsuran secara keseluruhan selalu
menurun.
Sistem bunga menurun dan angsuran pinjaman meningkat
Dalam sistem ini besarnya angsuran per tahun dihitung dengan menggunakan
pendekatan anuitet. Besarnya jumlah angsuran, bunga dan angsuran pokok pinjaman
dihitung dengan prosedur :
Menghitung besarnya kas yang diterima per priode dengan membagi pokok pinjaman
dengan nilai tunai yang akan diterima setiap periode selama jangka waktu angsuran,
Menghitung bunga, dengan mengkalikan tingkat bunga dengan sisa pokok pinjaman
pada awal priode, dan Menghitung angsuran pokok pinjaman, dengan menjumlahkan
kas yang diterima dengan bunga pada priode tersebut.

D. Tukar Tambah
Dalam hal ini sebagai uang mukanya berupa barang bekas yang serupa dengan
barang yang diangsur pembayarannya. Untuk menarik pembeli biasanya dihargai lebih
barang tersebut sehingga harga jualnya terlalu tinggi oleh karena itu perlu dicatat
berdasarkan nilai realisasi bersihnya saja. Besarnya itu tentunya tidak boleh lebih dari
harga pokok penggantinya.
Apabila harga pokok pengganti tersebut tidak diketahui maka nilai realisasi bersih
adalah sama dengan taksiran harga jual dikurangi taksiran biaya perbaikan sebelum
dijual, biaya pemasaran dan laba normal. Selisih antara nilai bersih dengan nilai yang
disepakati dikelompokkan dalam rekening cadangan kelebihan harga.

8
Contoh :
Pada awal tahun 2012 toko elektronik “Metrika” menjual mesin cuci Electrolux”
secara angsuran sebesar Rp 7.500.000. cara pembayarannya adalah sebagai berikut:
1. Sebagai uang muka diterima sebuah mesin cuci merk “Yamoto” dengan nilai
yang disepakati sebesar Rp 2.000.000,-
2. Sisanya diangsur sebanyak 10 kali angsuran bulanan, masing-masing Rp
550.000,- mesin cuci yang diterima diperkirakan membutuhkan biaya perbaikan
sebesar Rp 500.000,-. Setelah diperbaiki diperkirakan dapat dijual dengan harga
Rp 2.400.000,-. Dalam penjualan mesin cuci “ Electrolux” perusahaan
memperhitungkan laba normal sebesar 10% dari harga jual. Harga perolehan
mesin cuci “ Electrolux” sebesar Rp 5.600.000.

Perhitungan :
Harga yang disepakati Rp2.000.000
Harga jual mesin cuci “ Yamoto” Rp2.400.000
Biaya perbaikan Rp 500.000
Laba normal 10% x Rp 46.000.000 Rp 240.000
(Rp 740.000)
Taksiran nilai realisasi bersih Rp1.660.000)
Kelebihan harga Rp 340.000
Jurnal yang dibuat adalah sebagai berikut:
Untuk mencatat penjualan
Piutang penjualan angsuran Rp 5.500.000
Persediaan Barang Dagang Rp 1.660.000
Cadangan kelebihan harga Rp 340.000
Penjualan Angsuran Rp 7.500.000

Untuk memcatat beban pokok penjualan angsuran


Beban pokok penjualan angsuran Rp 5.600.000
Persediaan Barang Dagang Rp 5.600.000

9
E. Pembatalan Penjualan Angsuran
Hal ini terjadi karena pembatalan atas penjualan angsuran yang belum dilunasi.
Dengan demikian perusahaan akan menerima kembali barang yang sudah dijual,
menghapus piutang penjualan angsuran yang belum direalisasi, dan juga mengakui
laba/rugi pembatalan penjualan angsuran.
Besarnya laba/rugi pembatalan penjualan angsuran tergantung pada metode
pengakuan laba kotor atas penjualan angsuran, yang terdiri dari :
a) Metode Accrual
Di dalam metode ini, semua laba penjualan angsuran sudah diakui pada saat
penjualan, sehingga saldo piutang penjualan angsuran menunjukkan besarnya harga
pokok penjualan yang belum diterima pembayarannya. Maka besarnya laba atau rugi
yang diakui dari pembatalan penjualan angsuran adalah sama dengan selisih antara nilai
pasar barang bekas yang diterima dengan saldo piutang penjualan angsuran yang belum
diterima pembayarannya.
Pencatatan transaksi dalam meteode ini dengan :
Persediaa barang dagangan ................................. xxxx
Rugi pembatalan penjualan angsuran ................. xxxx
Piutang penjualan angsuran .......................... xxxx

b) Metode Penjualan Angsuran


Di dalam metode ini perusahaan baru mengakui laba kotor penjualan angsuran
secara proporsional dengan besarnya penerimaan kas. Dengan demikian saldo piutang
penjualan angsuran terdiri atas dua unsur, yaitu harga pokok penjulan angsuran dan laba
kotor yang belum direalisasi. Besarnya harga pokok penjualan angsuran yang belum
diterima pembayarannya adalah sama dengan saldo piutang penjualan angsuran
dikurangi dengan saldo laba kotor belum direalisir atas penjualan angsuran yang
dibatalkan tersebut. Besarnya laba atau rugi pembatalan penjualan angsuran dapat
dihitung dengan rumus :
L = TNRS – (PPA – LBBR)
Keterangan :
L : Laba/rugi penjualan

10
TNRS : Taksiran nilai realisasi bersih barang yang diterima kembali
PPA : Saldo piutang penjualan angsuran
LBBR : Laba kotor yang belum diralisir
Pencatatan transaksi dalam metode ini dengan :
Persediaan barang dagangan .......................................... xxxx
Labar kotor belum direalisir ........................................... xxxx
Piutang penjualan angsuran ......................... xxxx
Laba pembatalan penjualan angsuran ........ xxxx

Contoh :
PT. Mawar menjual barang dagangnya secara angsuran. Pada tahun 2006 terjadi
pembatalan atas penjualan angsuran yang terjadi pada akhir periode sebelumnya.
Informasi penjualan angusran yang dibatalkan adalah sebagai berikut:
1. Penjualan semula Rp 30.000.000
2. Harga pokok penjualan angsuran Rp 22.500.000
3. Tingkat laba kotor 25% dari harga jual
4. Piutang penjualan angsuran yang sudah terkumpul Rp 15.000.000
5. Taksiran nilai realisasi bersih atas harga yang diterima kembali Rp 14.000.000
Laba kotor yang diakui saat penjualan
Perhitungan:
(Dlm ribuan Rp) (Dlm ribuan Rp)
Harga jual 30.000
Piutang yang sudah ditagih 15.000-
Piutang yang belum ditagih 15.000
Taksiran nilai realisasi bersih 14.000-
Rugi pembatalan penjualan angsuran 3.000
Jurnal :
Persediaan barang dagangan 14.000
Rugi pembatalan angsuran 1.000
Piutang penjualan angsuran 15.000
Laba kotor diakui secara proporsional dengan penerimaan kas

11
Perhitungan:
(Dlm ribuan Rp) (Dlm ribuan Rp)
Harga jual 30.000
Piutang yang sudah ditagih 15.000-
Piutang yang belum ditagih 15.000
Laba kotor belum direalisasi
25% x Rp 15.000.000 = 3.750-
Harga pokok penjualan yang belum dibayar 11.250
Taksiran realisasi bersih 14.000
Rugi pembatalan penjualan angsuran 2.750
Jurnal :
Persediaan barang dagangan 14.000
Laba kotor belum direalisasi 3.750
Piutang penjualan angsuran 17.750

12
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Penjualan angsuran adalah penjualan barang dagangan dengan pembayaran secara
berangsur. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan volume penjualan yang akhirnya
meningkatkan laba yang didapatkan, karena metode penjualan ini memberikan kemudahan
kepada konsumen dalam pembayaran barang yang dibelinya, sehingga konsumen tertarik
untuk melakukan pembelian.
Permasalahan pada Angsuran terbagi menjadi 2 (dua) yaitu masalah non akuntansi
dan masalah akuntansi. Masalah non akuntansi adalah menghadapi kemungkinan terjadinya
kerugian karena adanya pembeli yang tidak melaksanakan kewajibannya, untuk
menghadapi semacam itu perusahaan perlu berhati-hati dalam penjualannya. Pembeli perlu
diseleksi terlebih dahulu dan membuat perjanjian yang mengikat kedua belah pihak untuk
melaksanakan kewajibannya. Dan Masalah Akuntansi adalah Masalah yang berhubungan
dengan pengakuan laba kotor, masalah yang berhubungan dengan cara perhitungan bunga
dan angsuran, tukar-tambah dan pembatalan penjualan angsuran.
B. Saran

13
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Penjualan

Secara umum definisi penjualan dapat diartikan sebagai sebuah usaha yang

dilakukan untuk memindahkan suatu produk, baik itu berupa barang ataupun jasa, dari

produsen kepada konsumen sebagai sasarannya. Penjualan merupakan salah satu fungsi

pemasaran yang sangat penting bagi perusahaan dalam mencapai tujuan perusahaan

yaitu memperoleh laba untuk menjaga kelangsungan hidup perusahaan.

Penjualan terdiri dari beberapa jenis, antara lain adalah penjualan tunai, penjualan

kredit, dan penjualan konsinyasi. Tujuan utama penjualan yaitu mendatangkan

keuntungan atau laba dari produk yang dihasilkan oleh produsen dengan pengelolaan

yang baik. Dalam pelaksanaannya, penjualan sendiri tidak akan dapat dilakukan tanpa

adanya pelaku yang bekerja didalamnya seperti agen, pedagang dan tenaga pemasaran.

2.2 Pengertian Konsinyasi

Konsinyasi merupakan penjualan barang dengan cara pemilik barang menitipkan

barang kepada pihak lain yang bertindak sebagai agen penjual dengan memberikan

komisi. Pihak yang menyerahkan barang (pemilik) disebut consignor atau pengamanat,

sedangkan pihak yang menerima barang disebut consignee atau komisioner. Adapun

pengertian penjualan konsinyasi menurut beberapa ahli, antara lain menurut Halim

(2015:65)

Penjualan konsinyasi adalah penjualan dengan perjanjian, dimana pihak

pemilik barang/consignor/pengamanat menyerahkan barangnya kepada

pihak lain, yaitu consignee/komisioner untuk dijual kepada pihak luar dan

pihak consignee mendapatkan sejumlah komisi dari pihak consignor.

Menurut Yunus dan Harnanto (2013:141)

14
“Konsinyasi adalah suatu perjanjian dimana salah satu pihak yang memiliki

barang menyerahkan sejumlah barang tertentu untuk dijualkan dengan

memberikan komisi (tertentu)”.

15
8

Menurut Maria (2011:16)

“Konsinyasi adalah pihak yang memiliki barang menitipkan barangnya

kepada pihak lain untuk dijualkan dengan adanya perjanjian tertentu”.

Menurut Aliminsyah dan Padji (2008:77)

Consignment (Konsinyasi) adalah barang-barang yang dikirim untuk

dititipkan kepada pihak lain dalam rangka penjualan dimasa mendatang atau

untuk tujuan lain, hak atas barang tersebut tetap melekat pada pihak

pengirim (Consignor). Penerimaan titipan barang tersebut selanjutnya

bertanggung jawab terhadap penanganan barang sesuai kesepakatan.

Menurut Yendrawati (2008:89)

“Konsinyasi adalah penjualan dengan cara pemilik menitipkan barang

kepada pihak lain untuk dijualkan dengan harga dan syarat yang telah diatur

dalam perjanjian”.

Menurut Arifin (2002:147)

“Konsinyasi merupakan suatu jenis penjualan dengan cara menitipkan

barang dagangan ke pihak lain untuk dijualkan”.

Berdasarkan beberapa pengertian penjualan konsinyasi di atas, maka dapat

disimpulkan bahwa penjualan konsinyasi adalah penjualan yang dilakukan oleh

pemilik barang (konsinyor) dengan cara menitipkan barang kepada pihak kedua

(konsinyi) untuk dijualkan dengan memberikan komisi kepada konsinyi yang

menjualkan barang tersebut kepada konsumen.

Istilah-Istilah Dalam Akuntansi Konsinyasi

Berikut ini adalah istilah-istilah yang ada dalam akuntansi penjualan

konsinyasi menurut beberapa ahli, diantaranya menurut Halim (2015:65),

“Barang-barang yang dikirim oleh consignor disebut barang konsinyasi

(consignment out) dan barang-barang yang diterima oleh consignee disebut barang
8
9

komisi (consignment in)”.

Menurut Yunus dan Harnanto (2013:141)

Dari segi konsinyor (consignor) transaksi pengiriman barang-barang kepada

konsinyi (consignee), biasa disebut sebagai “barang-barang konsinyasi”

(consignment out), sedangkan bagi konsinyi, untuk barang-barang yang

diterimanya disebut sebagai “barang-barang komisi” (consignment in).

9
10

Menurut Arifin (2002:148)

Dalam pembahasan penjualan konsinyasi terdapat beberapa istilah yang

bersangkutan dengan penjualan konsinyasi, yaitu:

1. Pengamanat (consignor), yaitu pihak yang memiliki barang yang

dititipkan kepada pihak lain untuk dijualkan.

2. Komisioner (consignee), yaitu pihak yang menerima titipan barang dari

pengamanat untuk dijualkan.

3. Konsinyasi keluar (consignment-out), yaitu rekening yang digunakan

oleh pengamanat untuk mencatat transaksi-transaksi yang berhubungan

dengan barang yang dititipkan kepada komisioner.

4. Konsinyasi masuk (consignment-in), yaitu rekening yang digunakan

oleh komisioner untuk mencatat transaksi-transaksi yang berhubungan

dengan barang-barang milik pengamanat yang dititipkan kepadanya.

Dari pernyataan-pernyataan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pihak

yang menitipkan barang disebut konsinyor, dan pihak yang menerima barang

untuk dijualkan disebut konsinyi. Untuk akun-akun yang digunakan pada

pencatatan akuntansi konsinyasi adalah akun konsinyasi keluar, yaitu akun yang

digunakan oleh pihak konsinyor, sedangkan konsinyasi masuk, yaitu akun yang

digunakan oleh pihak konsinyi untuk mencatat penjualan barang konsinyasi

tersebut kepada konsumen.

Karakteristik Transaksi Konsinyasi

Menurut Yunus dan Harnanto (2013:142), karakteristik transaksi konsinyasi

adalah sebagai berikut:

1. Karena hak milik atas barang-barang masih berada pada pengamanat, maka

barang-barang konsinyasi harus dilaporkan sebagai persediaan oleh

pengamanat. Barang-barang konsinyasi tidak boleh diperhitungkan sebagai

persediaan oleh pihak komisioner (consignee).


10
11

2. Pihak pengamanat (consignor) sebagai pemilik tetap bertanggung jawab

sepenuhnya terhadap semua biaya yang berhubungan dengan barang-barang

konsinyasi sejak saat pengiriman sampai dengan saat consignee berhasil

menjualnya kepada pihak ketiga, kecuali ditentukan lain dalam perjanjian

diantara kedua belah pihak yang bersangkutan.

3. Pihak penerima barang dalam batas kemampuannya mempunyai kewajiban

untuk menjaga keamanan dan keselamatan barang-barang komisi yang

diterimanya itu.

Menurut Ratnaningsih (2002:161), walaupun transaksi penjualan biasa dan

transaksi konsinyasi keduanya menyangkut penyerahan barang dagangan, namun

terdapat perbedaan pokok antara keduanya. Pada transaksi penjualan biasa,

penyerahan barang kepada pembeli diikuti dengan berpindahnya hak atas barang

11
12

tersebut dari penjual kepada pembeli, sedangkan pada transaksi konsinyasi,

penyerahan barang dagangan dari pengamanat kepada komisioner tidak berarti

perpindahan hak atas barang tersebut. Perbedaan antara transaksi penjualan biasa

dengan transaksi penjualan konsinyasi berakibat bagi transaksi konsinyasi,

diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Tidak ada pendapatan dan juga laba kotor yang diakui pada saat barang

diserahkan oleh pengamanat kepada komisioner. Pengakuan pendapatan

terjadi pada saat barang dagangan tersebut dijual oleh komisioner kepada

pihak ketiga, yang berarti juga hak atas barang berpindah dari pengamanat

kepada pihak ketiga.

2. Barang-barang dagangan yang diserahkan kepada komisioner, tetap

dilaporkan sebagai bagian dari persediaan barang dagangan pengamanat

sampai barang dijual oleh komisioner kepada pihak ketiga.

Menurut Simamora, Maria (2005:16) faktor-faktor yang membedakan

pencatatn penjualan biasa dan penjualan konsinyasi adalah:

1. Barang konsinyasi yang ada pada konsinyi tidak boleh dicatat dalam

persediaanya.

2. Penghasilan tau pendapatan diakui setelah barang konsinyasi terjual

kepada pihak ketiga, yaitu berupa komisi.

Menurut Waluyo (2004:120), beberapa perlakuan yang membedakan

penjualan konsinyasi dengan penjualan lainnya adalah:

1. Hak kepemilikan terhadap barang-barang tersebut masih berada di tangan

konsinyor, barang ini masih dilaporkan sebagai persediaan dalam laporan

konsinyor.

2. Selama barang-barang tersebut belum dapat terjual, baik oleh pihak


12
13

konsinyor maupun konsinyi belum dapat diakui adanya pendapatan.

3. Pihak konsinyor tetap bertanggung jawab sepenuhnya terhadap semua biaya

yang berhubungan dengan barang-barang konsinyasi sejak pengiriman

sampai dengan barang tersebut terjual. Kecuali ada perjanjian lain.

4. Komisioner bertanggung jawab untuk menjaga keamanan dan keselamatan

barang-barang yang ditetapkan tersebut.

5. Harga jual ke konsumen tetap terkontrol.

Menurut Halim (2015:65), hal-hal yang harus diperhatikan dalam penjualan

konsinyasi adalah sebagai berikut:

1. Pada saat penyusunan laporan keuangan, barang-barang komisi yang ada di

consignee tidak boleh diperhitungkan/diakui sebagai persediaannya.

2. Pengiriman barang konsinyasi tidak boleh diperhitungkan/diakui sebagai

penjualan oleh pihak consignor sebelum barang tersebut terjual kepada

pihak luar.

13
14

3. Pada saat penyusunan laporan keuangan, barang-barang konsinyasi yang

ada di consignee harus diperhitungkan/diakui oleh pihak consignor sebagai

persediaanya.

4. Semua beban yang berhubungan dengan barang-barang konsinyasi/komisi

sejak saat pengiriman sampai dengan terjual menjadi tanggung jawab pihak

consignor.

5. Consignee dalam batas-batas tertentu wajib memelihara dan menjaga

keselamatan barang-barang komisi yang diterimanya.

Menurut Arifin (2002:147), terdapat perbedaan yang pokok antara transaksi

penjualan konsinyasi dengan transaksi penjualan reguler (penjualan biasa) yaitu:

Perbedaan antara penjualan konsinyasi dan penjualan reguler (penjualan

biasa) adalah mengenai hak milik barang-baang konsinyasi. Meskipun di

dalam penjualan konsinyasi terjadi perpindahan barang dari pengamanat

kepada komisioner, namun hak milik barang-barang tersebut tetap pada

pengamanat. Hak milik barang konsinyasi tersebut baru akan pindah dari

pengamanat apabila komisioner sudah berhasil menjual barnag tersebut

kepada pihak ketiga, sedangkan untuk penjualan reguler, hak milik atas

barang akan berpindah kepada pembeli pada saat terjadi transaksi penjualan

dan penyerahan barang.

Keuntungan Penjualan Konsinyasi Bagi Pengamanat (Consignor)

Menurut Yunus dan Harnanto (2013:142) ada beberapa alasan pihak

pengamanat (consignor) memilih penjualan konsinyasi, yaitu:

1. Konsinyasi merupakan suatu cara untuk lebih memperluas pasaran yang

dapat dijamin oleh seorang produsen, pabrikan atau distributor terutama

apabila:
14
15

a. Barang-barang yang bersangkutan baru diperkenalkan, permintaan

produk tidak tertentu dan belum terkenal.

b. Penjualan pada masa-masa yang lalu dengan melalui dealer tidak

menguntungkan.

c. Harga barang menjadi mahal dan membutuhkan investasi yang cukup

besar bagi pihak dealer apabila harus membeli barang-barang yang

bersangkutan.

2. Resiko-resiko tertentu dapat dihindarkan oleh pengamanat. Barang-barang

konsinyasi tidak ikut disita apabila terjadi kebangkrutan pada pihak

consignee. Jadi, lain sifatnya dengan perjanjian keagenan atau dealer.

3. Harga eceran barang-barang yang bersangkutan tetap dapat dikontrol oleh

pengamanat, demikian pula terhadap jumlah barang-barang yang siap

dipasarkan dan stok barang-barang tersebut.

Menurut Ratnaningsih (2002:161), keuntungan penjualan konsinyasi bagi

pengamanat atau konsinyor adalah sebagai berikut:

15
16

1. Pemasaran Produk yang Lebih Luas.

Komisioner biasanya tidak mau menanggung resiko untuk membeli barang-

barang tertentu, misalnya produk yang cepat menjadi using atau kuno, tetapi

mau menerimanya dengan perjanjian konsinyasi.

2. Pengendalian Atas Harga Jual Kepada Konsumen.

Bila barang dagangan dijual langsung kepada komisioner, pengamanat akan

mengalami kesulitan untuk menentukan dan mengendalikan harga jual

barang-barang tersebut.

3. Resiko Kerugian yang Lebih Kecil Dalam Hal Komisioner Menderita Pailit.

Karena hak atas barang tetap berada di tangan pengamanat, maka

pengamanat mempunyai hak mengambil kembali semua barang yang belum

terjual dan hak untuk menerima hasil penjualan barang pada saat komisioner

dinyatakan pailit. Kreditur komisioner tidak mempunyai ha katas barang-

barang komisi yang ada di tangan komisioner. Keadaan ini berbeda kalau

barang-barang tersebut dijual langsung kepada komisioner.

Menurut Drebin dalam Arifin (2002:148), ada beberapa alasan bagi

pengamanat untuk mengadakan penjualan konsinyasi antara lain:

1. Merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk memperluas daerah

pemasaran, terutama untuk barang-barang yang:

a) Merupakan produk baru yang permintaan akan barang tersebut masih

belum dapat diprediksikan,

b) Penjualan melalui dealer tidak menguntungkan pada tahun-tahun lalu,

c) Barang tersebut mahal harganya sehingga dealer memerlukan investasi

yang besar bisa membelinya, dan

d) Fluktuasi harga barang tersebut sangat besar sehingga dealer tidak mau

membelinya.
16
17

2. Barang konsinyasi tidak ikut disita apabila terjadi kebangkrutan pada pihak

komisioner sehingga resiko kerugian dapat ditekan.

3. Harga barang yang bersangkutan tetap dapat dikontrol oleh pengamanat, hal

ini disebabkan kepemilikan atas barang tersebut masih di tangan

pengamanatsehingga harga masih dapat dijangkau oleh konsumen.

Pengawasan harga ini akan sulit jika menggunakan sistem penjualan melalui

dealer yang kepemilikan barangnya sudah di tangan dealer itu sendiri.

4. Jumlah barang yang dijual dan persediaan barang yang ada di gudang

mudah dikontrol sehingga resiko kekurangan atau kelebihan barang dapat

ditekan dan memudahkan untuk rencana produksi.

Keuntungan Penjualan Konsinyasi Bagi Komisioner (Consignee)

Menurut Yunus dan Harnanto (2013:142) ada beberapa alasan pihak

komisioner (consignee) memilih penjualan konsinyasi, yaitu:

1. Pihak consignee dilindungi dari kemungkinan resiko gagal untuk

memasarkan barang-barang tersebut atas keharusan menjual dengan rugi.

2. Resiko rusaknya barang dan adanya fluktuasi harga dapat dihindarkan.

3. Kebutuhan akan modal kerja dapat dikurangi, sebab adanya barang-barang

konsinyasi yang diterima atau ditipkan oleh pihak pengamanat.

17
18

Menurut Ratnaningsih (2002:161), keuntungan penjualan konsinyasi bagi

komisioner atau konsinyi adalah sebagai berikut:

1. Menghindari resiko kerugian atas kepemilikan barang.

Barang yang tidak terjual atau menjadi usang atau kuno, rusak atau menurun

harga jualnya dapat dikembalikan kepada pengamanat.

2. Kebutuhan modal kerja yang lebih kecil.

Komisioner tidak berhutang dan tidak melakuakn pembayaran atas barang

sampai barang tersebut terjual. Jadi, modal yang dibutuhkan komisioner

akan lebih kecil apabila barang dagang tersebut diperoleh dengan

konsinyasi.

Menurut Arifin (2002:149), alasan bagi komisioner untuk bersedia

menerima titipan barang konsinyasi adalah sebagai berikut:

1. Komisioner tidak dibebani resiko menanggung rugi bila gagal dalam

penjualan barang-barang konsinyasi.

2. Komisioner tidak mengeluarkan biaya operasi penjualan konsinyasi karena

semua biaya akan diganti/ditanggung oleh pengamanat.

3. Apabila terdapat barang konsinyasi yang rusak dan terjadi fluktuasi harga,

maka hal tersebut bukan tanggungan komisioner.

4. Kebutuhan modal kerja dapat dikurangi, sebab komisioner hanya berfungsi

sebagai penerima dan penjual barang konsinyasi untuk pengamant.

5. Komisioner berhak mendapatkan komisi dari hasil penjualan barang

konsinyasi.

Perjanjian Konsinyasi

Dalam penyerahan barang atas dasar konsinyasi, harus disusun suatu

kontrak (perjanjian) tertulis yang menunjukkan hubungan antara pihak yang


18
19

menyerahkan dan pihak yang menerima dalam hal-hal lain yang mencakup syarat

kredit yang harus diberikan oleh pihak konsinyi kepada pelanggan, biaya-biaya

yang harus dikeluarkan oleh pihak komisioner harus diganti oleh pihak konsinyor,

komisi atau laba yang harus diberikan kepada pihak konsinyi, pemeliharaan dan

penanganan persediaan barang-barang konsinyasi dan hasil penjualan konsinyasi,

pengiriman uang dan penyelesaian keuangan oleh pihak konsinyi, dan laporan

yang harus dikirimkan oleh pihak konsinyi.

Menurut Ratnaningsih (2002:163), kontrak perjanjian dalam transaksi

penjualan konsinyasi antara lain berisi mengenai:

1. Jumlah dan macam barang yang sudah dibayar oleh pihak komisioner dan

akan diganti oleh pengamanat.

Biaya-biaya yang dikeluarkan oleh komisioner dalam proses penjualan

konsinyasi akan diganti oleh pengamanat.

19
20

2. Bagaimana komisi untuk komisioner harus dihitung.

Dalam hal ini, besar komisi yang akan diperoleh oleh komisioner akan

diperhitungkan oleh pengamanat.

3. Kapan komisi harus dibayar.

Pihak pengamanat dan komisioner akan menentukan tanggal pembayaran

komisi atas hasil penjualan barang konsinyasi yang akan diberikan kepada

pihak komisioner.

4. Tanggung jawab atas penagihan piutang dan kerugian piutang.

Pihak pengamanat dan komisioner akan menentukan tanggung jawab

penagihan piutang yang biasanya akan diberikan kepada pihak komisioner.

Selain itu, kerugian atas piutang ini akan ditanggung oleh pihak komisioner,

dan sanksi atas kerugian piutang ini biasanya berupa pemblokiran barang-

barang konsinyasi yang akan dikirim kepada komisioner. Pemblokiran akan

dilakukan selama piutang belum dibayar oleh komisioner.

5. Syarat-syarat penjualan kepada langganan.

Dalam hal ini ditentukan persyaratan yang diberikan oleh pengamanat atas

penjualan barang yang akan dilakukan oleh komisioner, apakah penjualan

barang konsinyasi akan dilakukan secara tunai atau kredit.

6. Frekuensi laporan dan pembayaran kepada pengamanat.

Pengamanat dan komisioner menentukan jangka waktu penyerahan laporan

penjualan konsinyasi. Selain itu, tanggal pembayaran yang akan dilakukan

oleh komisioner atas barang-barang konsinyasi milik pengamanat.

Akuntansi untuk Penjualan Konsinyasi

Menurut Yunus dan Harnanto (2013:146), penjualan konsinyasi mempunyai

2 (dua) metode pencatatan yang dapat digunakan oleh pihak konsinyi (consignee)

dan pihak konsinyor (consignee), yaitu:


20
21

1. Transaksi-transaksi penjualan reguler dan penjualan konsinyasi

pencatatannya terpisah antara laba atas penjualan konsinyasi dan laba dari

penjualan reguler.

2. Transaksi-transaksi penjualan reguler dan penjualan konsinyasi

pencatatannya tidak dipisahkan antara laba atas penjualan konsinyasi dan

laba dari penjualan reguler.

Menurut Arifin (2002:149), penjualan konsinyasi mempunyai dua metode

pencatatan yang dapat digunakan oleh pihak pengamanat maupun oleh pihak

komisioner. Dua metode tersebut adalah sebagi berikut:

1. Metode Laba Terpisah

2. Metode Laba Tidak Terpisah

Apabila dibuat skema pembahasan penjualan konsinyasi, maka akan tampak

seperti berikut ini:

21
22

Metode laba terpisah

Akuntansi konsinyasi
untuk pengamanat
Metode laba tidak terpisah

Metode laba terpisah


Penjualan
Akuntansi konsinyasi
Konsinyasi
untuk komisioner
Metode laba tidak terpisah

Masalah barang konsinyasi


yang belum laku terjual

Sumber: Arifin (2002:150)

Gambar 2.1

Skema Penjualan Konsinyasi


22
23

Akuntansi Penjualan Konsinyasi Bagi Pengamanat (Consignor)

Pengamanat (consignor) melaksanakan penjualan secara konsinyasi setelah

mempertimbangkan keuntungan dan juga kerugian, namun selama penjualan

konsinyasi tersebut lebih banyak segi yang menguntungkan daipada yang

merugikan perusahaannya, maka perusahaan akan terus melaksanakan penjualan

konsinyasi.

Barang konsinyasi milik pengamanat yang dititipkan kepada komisioner

(consignee) mempunyai perlakuan akuntansi, yaitu sebagai berikut:

a. Barang konsinyasi yang dikirim kepada komisioner tidak diikuti dengan

pemindahan hak milik atas barang yang dikirim tersebut sehingga barang

konsinyasi tersebut harus tetap dilaporkan sebagai persediaan oleh

pengamanat.

23
24

b. Pengiriman barang konsinyasi dari pengamanat kepada komisioner bukan

merupakan transaksi penjualan sehingga pada saat pengiriman tersebut tidak

boleh diakui adanya pendapatan.

c. Semua biaya yang berhubungan dengan barang konsinyasi tetap menjadi

tanggung jawab pengamanat sejak barang tersebut dikirim sampai berhasil

dijualkan oleh komisioner kepada pihak ketiga.

Dengan adanya beberapa perlakuan akuntansi terhadap barang konsinyasi

untuk pengamanat tersebut, maka prosedur pencatatan transaksi konsinyasi

memerlukan teknik yang khusus. Adapun metode pencatatan yang dapat

dilakukan oleh pengamanat adalah dengan menggunakan 2 (dua) metode

pencatatan, yaitu:

1. Metode laba terpisah

2. Metode laba tidak terpisah

Akuntansi Penjualan Konsinyasi Bagi Pengamanat (Consignor) Dengan

Metode Laba Terpisah

Pencatatan menggunakan metode laba terpisah adalah pencatatan yang

dilakukan dengan memisahkan pencatatan penjualan biasa dengan penjualan

konsinyasi. Menurut Jati (2004:124)

1. Penyerahan barang kepada pihak konsinyi. Pihak konsinyor mencatat

penyerahan barang kepada pihak konsinyi dengan mendebit perkiraan

konsinyasi keluar dan mengkredit perkiraan persediaan, jika untuk saldo

persediaan diselenggarakan sistem persediaan perpetual. Perkiraan

pengiriman barang konsinyasi ditangani sebagai suatu pos pengurang dari

jumlah persediaan awal dan pembelian dalam menetapkan harga pokok

barang yang tersedia untuk dijual. Penyerahan barang dicatat harga pokok

kendati harga jual atau harga tertentu lainnya ditetapkan pada barang-barang

pada laporan yang dikirimkan kepada pihak konsinyi.


24
25

2. Beban pihak konsinyor yang ditetapkan pada konsinyasi. Pihak konsinyor

mencatat beban yang berkaitan dengan konsinyasi dengan mendebit

perkiraan konsinyasi keluar dan mengkredit perkiraan kas atau perkiraan

kewajiban. Apabila perkiraan beban semula dibebani dengan beban yang

berkaitan dengan konsinyasi, maka perkiraan konsinyasi keluar di debit dan

perkiraan beban di kredit dengan jumlah yang ditetapkan pada konsinyasi.

3. Beban pihak konsinyi yang ditetapkan pada konsinyasi, penjualan oleh

pihak konsinyi, dan pembebanan komisi oleh pihak konsinyi. Pihak

konsinyor tidak menyusun ayat jurnal untuk transaksi pihak konsinyi sampai

konsinyor menerima laporan dari pihak konsinyi.

4. Pengiriman uang kas dan perkiraan penjualan konsinyasi oleh pihak

konsinyi. Pada waktu pihak konsinyor menerima laporan penjualan

25
26

konsinyasi, perkiraan kas di debit sebesar uang kas yang dikirimkan,

perkiraan konsinyasi keluar di debit untuk total beban yang dibebankan

pada perkiraan pihak konsinyor oleh pihak dilaporkan oleh pihak konsinyi.

Menurut Arifin (2002:151)

Dalam metode ini transaksi-transaksi konsinyasi dipisahkan pencatatannya

dari transaksi-transaksi reguler sehingga laba atau pendapatan dari penjualan

barang konsinyasi pencatatannya juga dipisahkan. Untuk mengikuti aliran

barang konsinyasi dibuatkan seluruh transaksi yang terjadi pada barang

konsinyasi. Pada akhir periode, laba konsinyasi yang dipisahkan

pencatatannya tersebut dipindahkan ke rekening laba-rugidan menjadi

bagian dari laba usaha keseluruhan.

Menurut Halim (2015:66)

Apabila pencatatannya dilakukan secara terpisah, maka rekening barang

konsinyasi akan di debit untuk mencatat harga pokok barang yang dikirim

dan semua beban pengirimannya akan di kredit untuk menacatat harga

pokok barang yang akan dijual dan beban penjualannya.

Tabel 2.1

Pencatatan Penjualan Konsinyasi Bagi Pengamanat (Consignor)

Dengan Metode Laba Terpisah

No. Keterangan Debit Kredit

1 Barang Konsinyasi – Pengiriman Barang xxx

Persediaan Barang Dagang xxx

(Pengiriman barang dagangan kepada konsinyi)

26
27

2 Barang Konsinyasi – Biaya Ongkos Kirim xxx

Kas xxx

(Pembayaran Ongkos Kirim)

3 Kas xxx

Penjualan Konsinyasi xxx

HPP Penjualan Konsinyasi xxx

Barang Konsinyasi – Biaya Ongkos Kirim xxx xxx

Barang Konsinyasi – Penjualan

(Penerimaan uang hasil penjualan dan laporan

pencatatan HPP)

Sumber: Halim (2015:68)

Akuntansi Penjualan Konsinyasi Bagi Pengamanat (Consignor) Dengan

Metode Laba Tidak Terpisah

Pencatatan menggunakan metode laba tidak terpisah adalah pencatatan yang

dilakukan dengan tidak memisahkan laba antara penjualan reguler dan penjualan

konsinyasi. Menurut Jati (2004:126)

27
28

1. Penyerahan barang kepada pihak konsinyi. Apabila pihak konsinyor tidak

menyelenggarakan catatan persediaan perpetual, maka penyerahan barang

kepada pihak konsinyi dicatat dengan sebuah ayat jurnal memorandum

dalam buku harian atau dalam perkiraan tersendiri yang diselenggarakan

untuk tujuan ini. Sebuah catatan pelengkap harus diselenggarakan, yang

menunjukkan semua rincian yang berkaitan dengan penjualan konsinyasi.

2. Beban pihak konsinyor yang ditetapkan pada konsinyasi. Perkiraan biasanya

dibebani dengan beban konsinyasi tanpa pemisah antara beban konsinyi dan

beban yang berkaitan dengan penjualan biasa.

3. Beban pihak konsinyi yang ditetapkan pada konsinyasi, penjualan oleh

pihak konsinyi, dan pembebanan komisi oleh pihak konsinyi. Pihak

konsinyor tidak menyusun ayat jurnal untuk transaksi yang diselesaikan

oleh pihak konsinyi sampai pihak konsinyor menerima laporan dari pihak

konsinyi.

4. Pengiriman uang kas dan perkiraan penjualan konsinyasi oleh pihak

konsinyi. Pada waktu pihak konsinyor menerima laporan perkiraan

penjualan konsinyasi, maka perkiraa kas di debit sebesar uang kas yang

disertai dalam laporan, perkiraan beban di debit sebesar beban yang

dibebankan pada perkiraan pihak konsinyor oleh pihak konsinyi, dan

perkiraan penjualan di kredit sebesar penjualan kotor yang dilaporkan oleh

pihak konsinyi. Dalam hal ini tidak diselenggarakan catatan persediaan

perpetual, maka ayat jurnalnya dibuat untuk persediaan akhir dan untuk

menetapkan harga pokok penjualan periode itu, sebaliknya jika

diselenggarakan catatan persediaan perpetual maka saldo harga pokok

penjualan dalam buku yang berkaitan dengan penjualan biasa harus

dinaikkan dengan harga pokok penjualan yang berkaitan dengan penjualan

konsinyasi.
28
29

Menurut Arifin (2002:157)

Transaksi yang berhubungan dengan penjualan konsinyasi, akan dicatat

seperti transaksi penjualan biasa sehingga pada saat barang konsinyasi

tersebut dijual kepada pihak ketiga, perlu diadakan pencatatan harga pokok

penjualan oleh pengamanat. Hal ini disebabkan karena seakan-akan barang

tersebut hanyalah berpindah tempat saja. Hanya saja dalam hal ini perlu

diadakan memorial (pencatatan tersendiri) agar tidak kehilangan aliran

barang konsinyasi tersebut. Masalah lain yang perlu diketahui dalam

penggunaan metode ini adalah bahwa pengamanat tidak menutup rekening

pendapatan atau kerugian dari konsinyasi pada akhir periode transaksi

konsinyasi. Jadi, laba atau rugi karena adanya penjualan konsinyasi tidak

dibuatkan jurnal penutup atau tidak ditutup ke rekening laba-rugi.

Menurut Halim (2015:66)

Apabila pencatatannya dilakukan secara tidak terpisah, maka rekening

barang konsinyasi akan di debit untuk mencatat harga pokok barang yang

dikirim dan akan di kredit untuk mencatat harga pokok barang yang dijual

dan untuk mencatat penutupan saldo rekening pengiriman saldo rekening

pengiriman barang konsinyasi ke rugi laba.

29
30

Tabel 2.2

Pencatatan Penjualan Konsinyasi Bagi Pengamanat (Consignor)

Dengan Metode Laba Tidak Terpisah

No. Keterangan Debit Kredit

1 Barang Konsinyasi – Pengiriman Barang xxx

Persediaan Barang Dagang xxx

(Pengiriman barang dagangan kepada konsinyi)

2 Barang Konsinyasi – Biaya Ongkos Kirim xxx

Kas xxx

(Pembayaran Ongkos Kirim)

3 Kas xxx

Penjualan Konsinyasi xxx xxx

HPP Penjualan Konsinyasi

Barang Konsinyasi – Penjualan xxx

(Penerimaan uang hasil penjualan dan laporan

pencatatan HPP)

Sumber: Halim (2015:68)

Akuntansi Penjualan Konsinyasi Bagi Komisioner (Consignee)

Salah satu alasan komisioner mau menerima barang dari pihak pengamanat

(consignor) dengan harapan akan mendapatkan pendapatan komisi apabila

berhasil menjualkan barang titipan tersebut. Sebagaimana telah dibahas

sebelumnya, bahwa barang titipan milik pengamanat tidak boleh diakui sebagai

milik komisioner, karena pada penjualan konsinyasi pada saat pengiriman barang

kepada komisioner tidak disertai dengan perindahan perpindahan hak milik.

30
31

Meskipun barang titipan tersebut bukan milik komisioner, namun komisioner

mempunyai beberapa kewajiban yang harus dilaksanakan.

Adapun kewajiban-kewajiban bagi komisioner akibat adanya perjanjian

konsinyasi dengan pengamanat adalah sebagai berikut:

1. Berusaha semaksimal mungkin untuk dapat menjualkan barang konsinyasi

tersebut dengan harga dan persyaratan-persyaratan yang ditetapkan dalam

perjanjian.

2. Menjaga keamanan dan keselamatan barang-barang konsinyasi dari

kecurian, kebakaran, kerusakan, dan resiko pihak lainnya.

3. Mengelola secara fisik maupun akuntansi terhadap barang-barang

konsinyasi agar mudah diidentifikasi.

4. Membuat laporan penjualan konsinyasi secara periodik kepada pengamanat.

31
32

Disamping beberapa kewajiban di atas, komisioner juga diberi kepercayaan

oleh pengamanat untuk mengumpulkan atau menerima uang hasil penjualan

barang konsinyasi. Setelah uang dikumpulkan dan setelah diadakan penyesuaian

terhadap biaya-biaya yang telah dikeluarkan olehnya, uang hasil penjualan

tersebut baru disetorkan kepada pengamanat.

Akuntansi Penjualan Konsinyasi Bagi Komisioner (Consignee)

Dengan Metode Laba Terpisah

Menurut Arifin (2002:160), apabila komisioner mencatat transaksi-

transaksi barang titipan dengan menggunakan metode laba terpisah dari laba atas

penjualan reguler, maka komisioner akan membuat satu rekening untuk

menampung seluruh transaksi barang konsinyasi, yaitu konsinyasi masuk

(consignment in). Penggunaan rekening konsinyasi masuk (consignment in)

adalah sebagai berikut:

 Sisi Debit

- Untuk mencatat pengeluaran biaya yang ditanggung oleh pengamanat.

- Untuk mencatat pengiriman uang ke pengamanat.

- Untuk mencatat pendapatan komisi.

 Sisi Kredit

- Untuk mencatat penjualan barang-barang konsinyasi.

- Untuk mencatat pendapatan-pendapatan lain yang berhubungan

dengan barang konsinyasi.

Menurut Yendrawati (2008:90-91)

Setiap transaksi yang berhubungan dengan penjualan konsinyasi

dimasukkan ke dalam rekening barang komisi atau consignment in.

komisioner hanya membuat jurnal saat menjual barang konsinyasi,


32
33

mengeluarkan biaya-biaya yang berhubungan dengan konsinyasi (termasuk

saat mencatat pendapatan komisi dan pengiriman uang ke pengamanat).

Sesaat sebelum melaporkan ke pengamanat komisioner terlebih dahulu

menghitung pendapatan komisi. Komisioner bisa hanya mengirim laporan

konsinyasi saja ke pengamanat, sedangkan uangnya dikirim beberapa waktu

berikutnya, jadi saat mengirim laporan kepada komisioner timbul utang

pengamanat. Selain itu, komisioner juga bisa langsung mengirim laporan

konsinyasi beserta uang ke pengamanat. Setiap jurnal yang dibuat oleh

komisioner pasti ada rekening barang komisi atau consignment in baik di

debit maupun di kredit.

Menurut Halim (2015:66)

Apabila komisioner menggunakan metode laba terpisah, maka konsinyi

harus membuat rekening barang komisi. Rekening ini akan di debit untuk

33
34

semua beban yang ditanggung oleh konsinyor, dan akan di kredit untuk

semua hasil penjualan barang-barang komisi. Saldo debitnya merupakan

piutang kepada konsinyor dan saldo kreditnya merupakan utang kepada

konsinyor. Dengan demikian, rekening barang komisi menunjukkan hak dan

kewajiban antara konsinyor dan konsinyi.

Tabel 2.3

Pencatatan Penjualan Konsinyasi Bagi Komisioner (Consignee)

Dengan Metode Laba Terpisah

Transaksi Uraian Debit Kredit

Penerimaan barang Tidak dijurnal (hanya

komisi memorandum)

Penjualan barang komisi Kas xxx

Barang Komisi xxx

Pembayaran ongkos Barang Komisi xxx

angkut Kas xxx

Perhitungan komisi Barang Komisi xxx

Pendapatan Komisi xxx

Pengiriman uang hasil Barang Komisi xxx

penjualan dan laporan Kas


xxx
hasil penjualan

Sumber: Halim (2015:67)

Akuntansi Penjualan Konsinyasi Bagi Komisioner (Consignee)

Dengan Metode Laba Tidak Terpisah

Menurut Arifin (2002:164), pada dasarnya prosedur akuntansi untuk

komisioner dengan menggunakan metode laba tidak terpisah sama dengan

34
35

prosedur akuntansi dengan metode laba terpisah. Perbedaan yang ada hanya pada

rekening yang digunakan untuk mengikuti aliran transaksi konsinyasi. Untuk

mengetahui dan membedakan dengan barangnya sendiri maka setiap transaksi

yang berhubungan dengan barang titipan akan dicatat ke dalam rekening nama

pengamanat. Penggunaan rekening ini adalah:

 Sisi Debit

- Untuk mencatat pengeluaran biaya-biaya yang menjadi tanggungan

pengamanat.

- Untuk mencatat penyetoran uang.

 Sisi Kredit

- Untuk mencatat harga pokok penjualan pada saat terjadinya transaksi

penjualan.

- Untuk mencatat penerimaan-penerimaan lain dan hasil penjualan

konsinyasi.

35
36

Menurut Yendrawati (2008:94)

Pendapatan dan biaya yang berhubungan dengan kegiatan komisioner

dicatat seperti halnya pendapatan dan biaya yang berhubungan dengan

penjualan biasa atau penjualan lainnya. Komisioner hanya membuat jurnal

saat mengeluarkan biaya yang berhubungan dengan kegiatan komisioner,

saat penjualan barang komisi dan saat mengirimkan laporan konsinyasi ke

pengamanat serta saat mengirimkan uang kepada pengamanat.

Saat penjualan selain mencatat jurnal penjualan juga mencatat utang

pengamanat karena saat komisioner berhasil menjualkan justru timbul

kewajiban komisioner untuk menyerahkan hasil penjualan tersebut kepada

pengamanat. Utang komisioner yang dicatat saat penjualan adalah sebesar

hasil penjualan dikurangi pendapatan komisi. Pada saat komisioner

mengeluarkan biaya yang nantinya biaya-biaya tersebut akan digantikan

oleh pengamanat, maka pada saat itu utang pengamanat di debit

(mengurangi utang pengamanat). Pada saat mengirimkan laporan

penjualan ke pengamanat, seandainya tidak disertai uang maka timbul

utang pengamanat. Ketika uangnya dikirimkan ke pengamanat baru utang

pengamanat berkurang.

Menurut Halim (2015:66)

Apabila consignee menggunakan metode laba tidak terpisah, maka setiap

terjadi penjualan dicatat ke dalam rekening penjualan diikuti dengan

pengakuan pembelian atau harga pokok penjualan. Cara pengakuannya

dengan mendebit rekening pembelian atau harga pokok penjualan dan

mengkredit hutang kepada consignor. Semua beban yang dikeluarkan oleh

consignee dan ditanggung oleh consignor akan di debit ke rekening hutang

kepada consignor. Dengan demikian, besarnya jumlah yang harus


36
37

disetorkan kepada consignor tercermin pada saldo kredit dalam rekening

utang kepada consignor.

37
38

Tabel 2.4

Pencatatan Penjualan Konsinyasi Bagi Komisioner (Consignee)

Dengan Metode Laba Tidak Terpisah

Transaksi Uraian Debit Kredit

Penerimaan barang Tidak dijurnal (hanya

komisi memorandum)

Penjualan barang komisi Kas xxx

Penjualan xxx

Pembelian

Hutang Kepada Konsinyor

Pembayaran ongkos Hutang Kepada Konsinyor xxx

angkut Kas xxx

Perhitungan komisi Tidak dijurnal (hanya dicatat

oleh konsinyor)

Pengiriman uang hasil Hutang Kepada Konsinyor xxx

penjualan dan laporan Kas


xxx
hasil penjualan

Sumber: Halim (2015:67)

Akuntansi Penjualan Konsinyasi Bagi Barang-Barang yang Belum

Laku Terjual

Dalam pembahasan sebelumnya, diasumsikan bahwa barang konsinyasi

telah terjual semua. Dalam kenyataannya, kadang-kadang barang tersebut masih

ada yang belum terjual sampai dengan pembuatan laporannya kepada pihak

consignor. Apabila hal ini terjadi, maka pihak consignor harus melakukan

38
39

penyesuaian terhadap semua beban yang telah dikeluarkan (baik oleh consignor

maupun oleh consignee) yang melekat pada barang tersebut. sehingga nilai

persediaan akhir barang tersebut adalah sebesar harga pokoknya ditambah dengan

beban-beban yang terjadi dan menjadi hak/bagian persediaan barang akhir

tersebut.

39
40

Tabel 2.5

Perhitungan Alokasi Harga Pokok Penjualan dan Beban-Beban Pada

Barang yang Laku Terjual dan Belum Laku Terjual

Jumlah yang Jumlah Jumlah yang

Uraian Dikirim yang Belum

Terjual Terjual

(1) (2) (3) (4)

HPP Konsinyasi xxx xxx xxx

Ongkos Kirim xxx xxx xxx

Beban Asuransi Pengiriman xxx xxx xxx

Beban Promosi xxx xxx xxx

Jumlah xxx xxx xxx

Sumber: Halim (2015:75)

40