Anda di halaman 1dari 20

SEJARAH PERADABAN ISLAM

ISLAM DI EROPA DAN PENGARUHNYA TERHADAP


RENAISANS DI EROPA

PENYUSUN:
KELOMPOK IV:
SUL FADLY
ASRUL
BALQIS DWIYANTI H
FIRDA AYUNINGSI UMAMIT
SITI NURBINA

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


UIN ALAUDDIN MAKASSAR
2018

1
KATA PENGANTAR

Segala puji dan limpahan syukur kehadirat Allah swt atas berkat
rahmatdan hidayah-Nyalah, sehingga dapat terselesaikannya makalah dengan
judul “Islam Spanyol dan Pengaruhnya Terhadap Renaisa ns di Eropa”.
Salam serta shalawat tiada henti dicurahkan kepada baginda Rasulullah SAW
yang telah mengantarkan dunia dari kegelapan menuju alam yang terang
benderang seperti sekarang ini.
Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak dan
menjadi amal jariyah bagi penulis.

Kelompok IV

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................................ 2


DAFTAR ISI ...................................................................................................................... 3
ISLAM SPANYOL DAN PENGARUHNYA TERHADAP RENAISANS DI EROPA ... 4
A. Masuknya Islam ke Spanyol ................................................................................... 4
B. Perkembangan Islam di Spanyol ............................................................................. 6
C. Kemajuan Peradaban Spanyol .............................................................................. 10
D. Penyebab Kehancuran dan Kemunduran .............................................................. 16
E. Pengaruh Peradaban Spanyol Islam di Eropa ....................................................... 18
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 20

3
ISLAM SPANYOL DAN PENGARUHNYA TERHADAP RENAISANS DI
EROPA

A. Masuknya Islam ke Spanyol


Islam pertama kali masuk ke Spanyol pada tahun 711 M, melalui jalur
Afrika Utara. Perluasan Islam ke Spanyol atas undangan penguasa yang pada
waktu itu sedang berebut kekuasaan. Spanyol sebelum kedatangan Islam
dikenal dengan nama Iberia atau Asbania, kemudian disebut Vandalusia,
ketika dikuasai bangsa Vandal. Dari perkataan Vandal inilah orang Arab
menyebutnya Andalusia. Sebelum Andalusia ditaklukkan oleh Islam, bangsa
Gothic berhasil menaklukkan bangsa Vandal. Pada masai itu Andalusia
didiami oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani yang tidak dapat hidup
berdampingan, sehingga dengan persoalan sara menyebabkan perselisihan dan
pemberontakan diantara mereka. Bertepatan dengan kerusuhan yang terjadi
antara Yahudi dan Nasrani Roderik berhasil merebut singgasana Spanyol. Di
bawah kekuasaan tangan besi penguasa Gothic, Spanyol berada dalam
keadaan menyedihkan yang membawa akibat penderitaan masyarakat
terutama orang-orang Yahudi, karena penguasa Gothic tidak bisa bersikap
toleran terhadap agama lain kecuali agama Kristen. Sikap keji penguasa
Gothic tidak bisa ditawar-tawar lagi ketika Roderik menodai keperawanan
putri Coun Julian. Untuk menghadapi Roderik, Coun Julian berusaha kerja
sama dengan kaum Muslimin dengan meminta bantuan kepada Musa bin
Nusair di Afrika Utara. Karena Coun Julian menganggap bahwa Islam
memiliki akhlak dan mencintai persaudaraan. Pada saat itulah Islam masuk di
Andalusia yang diprakarsai oleh tiga panglima perang yakni Tharif bin Malik
sebagai perintis, Thariq bin Ziyad sebagai penakluk yang dibantu oleh Musa
bin Nusair.
Thariq disebut sebagai perintis dan penyelidik. Ia menyeberangi selat
yang berada diantara maroko dan benua eropa itu dengan satu pasukan perang,
lima ratus orang diantaranya adalah tentara berkuda, mereka menaiki empat
buah kapal yang disediakan oleh Julian.

4
Dalam penyerbuan itu Tharif tidak mendapat perlawanan yang berarti.
Ia menang dan kembali ke afrika utara membawa harta rampasan yang tidak
sedikit jumlahnya, didorong oleh keberhasilan Tharif dan kemelut yang terjadi
dalam tubuh kerajaan visigothic yang berkuasa di Spanyol pada saat itu, serta
dorongan yang besar untuk memperoleh harta rampasan perang. Musa ibn
nushair pada tahun 711 M mengirim pasukan ke spanyol sebanyak 7000 orang
dibawah pimpinan Thariq ibn Ziyad Rahimahulah.

(gambar 1. Peta Andalusia)


Sumber: Wikipedia
Thariq ibn Ziyad lebih banyak dikenal sebagai penakluk spanyol karena
pasukannya lebih besar dan hasilnya lebih nyata. Paukannya terdiri dari
sebagian besar suku Barbar yang didukung oleh musa ibn Nushair dan
sebagian lagi orang arab yang dikirim khalifah al-walid. Pasukan itu kemudian
menyebrangi selat di bawah kepemimpinan Thariq ibn Ziyad. Sebuah gunung
tempat pertama kali Thariq dan pasukannya mendarat dan menyiapkan
pasukannya dikenal dengan nama Gibraltar.
Dengan dikuasainya daerah ini, maka terbukalah pintu secara luas
memasuki spanyol. Dalam pertempuran di suatu tempat yang bernama
bakkah, Raja roderick dapat dikalahkan. Dari situ thariq dan pasukannya terus

5
menaklukkan kota-kota penting seperti cordova, granada, dan toledo atau ibu
kota kerajaan gotik pada saat itu.

B. Perkembangan Islam di Spanyol


Peradaban islam (Al- Hadharah Al-Islamiyah) merupakan peradaban
dengan masa kejayaan terlama dan ekspansi wilayah terbesar di muka bumi.
Masa kejaayaan dunia islam memiliki para ilmuan yang tidak hanya
menguasai satu disiplin ilmu tetapi beragam disiplin keilmuan lainnya,
terbukti bahwa islam pada zamannya memiliki kemajuan dari segi keilmuan
dibandingkan dengan peradaban lainnya yang tercatat sebagai sejarah. Masa
kejayaan peradaban islam, pada kurun awal 750 M, khalifah Bani Abbasiyah,
Harun al-Rasyid, telah mendirikan observatium di Damaskus sebagai tempat
eksperimen dan kajian astronomi. Sejarah islam di Spanyol dibagi enam
periode, yaitu:
1. Periode pertama (711-755 M)
Spanyol pertama kali ditaklukan pada tahun 711 M oleh Thariq
Ibn Ziyad. Pada periode ini, Khalifah Bani Umayah mengangkat para
wali dalam sistem pemerintahan Spanyol kala itu yang berpusat di
Damaskus. Dinasti Umayyah dibagi dalam dua zona dan periode
kekuasaan, Timur yang berpusat di Damaskus dan Barat yang
berpusat di Spanyol atau Andalusia. Dari segi politik, pada masa ini
terganggu stabilitas sehingga belum tercapai secara semurna
disebabkan gangguan-gangguan yang terjadi, baik dari dalam antara
lain berupa perselisihan diantara elit penguasa diakibatkan perbedaan
etnis dan golongan. Kemudian pada masa ini juga terjadi perbedaan
pandangan antara khalifah di Damaskus dengan gubernur Afrika
Utara yang berpusat di Kairawan, tentang yang berhak atas
kekuasaan wilayah Spanyol.
Sedangkan gangguan yang datang dari luar, dari sisa-sisa musuh
islam di Spanyol yang bertempat tinggal di daerah-daerah
pegunungan yang tidak tunduk kepada pemerintahan islam. Setalah

6
berjuang selama 500 tahun, akhirnya mereka mampu mengusir islam
dari bumi Spanyol. Sehingga periode ini islam Spanyol belum
memasuki kegiatan pembangunan di bidang peradaban dan
kebudayaan. Periode ini berakhir dengan datangnya Abd al-Rahman
bin Mua’wiyyah bin Hisham bin ‘Abd al-Malik ke Spanyol pada
tahun 138 H/755 M.
2. Periode Kedua (755-912 M)
Setelah berakhirnya periode Bani Umayyah dan berdirinya
Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Baghdad, para amir atau
gubernur secara de jure mengakui eksistensi kekhalifahan
Abbasiyah, secara de facto dan politis tidak mau terikat atau
melakukan bay’ah pada pemerintahan baru dan merasa tidak terikat
dengan dinasti sebelumnya yang berpusat di Damaskus maupun
dinasti yang baru dalam hal ini adalah Dinasti Abbasiyah. Amir
pertama adalah Abd al-Rahman bin Mua’wiyyah bin Hisham bin
‘Abd al-Malik yang bergelar ‘Abd al-Rahman al-Dakhil yang
memasuk Spanyol pada tahun 138 H/755 M oleh dukungan politik
dari istana Bani Rustam di Afrika Utara dan merupakan keturunan
Bani Umayyah yang berhasil lolos dari kerajaan Bani Abbas
kemudian berhasil menaklukan Bani Umayyah di Damaskus dan
mendirikan dinasti Bani Umayyah di Spanyol.
Pada tanggal 15 Mei 756 M, Abd al-Rahman al-Dakhil
memploklamirkan berdirinya Imarah Umayyah II di Andalusia dan
secara resmi dimulailah kekuasaan yang kedua dari dinasti ini
sebagai negara yang berdiri sendiri, berdaulat yang lepas dari
Abbasiyah di Baghdad. Sejak saat itu, Spanyol menjadi pusat
peradaban islam di wilayah Eropa yang diperhitungkan oleh negara-
negara Eropa dari segi pengaruhnya terhadap peradaban Eropa pada
masa itu dan bidang politik maupun bidang peradaban memperoleh
kemajuan dalam periode ini.

7
Sekalipun demikian, stabilitas negara terganggu dikarenakan
munculnya pergerakan Kristen Fanatik walaupun pada periode ini
penduduk Kristen diperbolehkan memiliki pengadilan berdasarkan
Kristen dan pemerintah islam pada periode ini juga mengembangkan
kebebasan beragama. Gangguan politik yang paling serius pada
periode ini datang dari kaum islam sendiri dari golongan di Toledo
pada tahun 852 M membentuk negara kota yang berlangsung selama
80 tahun dan pemberontakkan yang dipimpin oleh Hafshun dan
anaknya yang berpusat di pegunungan dekat Malaga.
3. Periode Ketiga (912-1013 M)
Periode ini, umat islam Spanyol mencapai puncak kemajuan dan
kejayaan, menyaingi kejayaan daulat Abbasiyah di Baghdad. Pada
masa ini juga masyarakat dapat menikmati kesejahteraan dan
kemakmuran serta pembangunan kota yang cepat. Khalifah-khalifah
besar yang memerintah pada periode ini adalah Abd al-Rahman al-
Nasir (912-961 M), Hakam II (961-976 M) dan Hisyam II (976-1009
M).
Awal kehancuran khilafah Bani Umayyah di Spanyol adalah
ketika Hisyam naik tahta dalam usia sebelas tahun. Pada tahun 981
M, khalifah menunjuk Ibn Abi’ Amir sebagai pemegang kekuasaan
secara mutlak dan atas keberhasilan-keberhasilannya, ia mendapat
gelar Al-Manshur Billah. Pada tahun 1002 M, Ibn Abi’ Amir wafat
dan digantikan oleh anaknya Al-Muzaffar yang masih dapat
mempertahankan keunggulan kerajaan. Akan tetapi, setelah wafat
pada tahun 1008 M ia digantikan oleh adiknya yang tidak memiliki
kualitas bagi jabatan tersebut, dilanda kehancuran dalam beberapa
tahun saja. Pada tahun 1009 M, khalifah mengundurkan diri dan
beberapa orang mencoba untuk menduduki jabatan tersebut tetapi
tidak sanggup untuk memperbaiki keadaan tersebut. Akhirnya, pada
tahun 1013 M, Dewan Menteri yang memerintah Cordova
menghapuskan jabatan khalifah dan ketika itu, Spanyol sudah

8
terpecah dalam banyak sekali negara kecil yang berpusat di kota-kota
tertentu.
4. Periode Keempat (1013-1086 M)
Periode ini, Spanyol terpecah menjadi lebih dari tiga puluh
negara kecil di bawah pemerintahan raja-raja golongan atau Al-
Mulukuth-Thawaif, yang berpusat di suatu kota seperti Seville,
Cordova, Toledo, dan sebagainya. Yang terbesar di antaranya adalah
Abbadiyah di Seville. Pada periode ini umat islam Spanyol kembali
memasuki masa pertikaian intern. Ironisnya, kalau terjadi perang
saudara, ada di antara pihak-pihak yang bertikai itu yang meminta
bantuan kepada raja-raja Kristen. Melihat kelemahan dan kekacauan
yang menimpa keadaan politik islam itu, untuk pertama kalinya,
orang-orang Kristen pada periode ini mulai mengambil inisiatif
penyerangan. Meskipun, kehidupan politik tidak stabil, namun,
kehidupan intelektual terus berkembang pada periode ini.
5. Periode Kelima (1086-1248 M)
Pada periode ini, Spanyol islam meskipun masih terpecah dalam
beberapa negara, tetapi terdapat suatu kekuatan yang dominan, yaitu
kekuasaan dinasti Murabithum (1086-1143 M) dan dinasti
Muwahhidun (1146-1235 M). dinasti Murabithun pada mulanya
adalah sebuah gerakan agama yang didirikan oleh Yusuf ibn Tasyin
di Afrika Utara. Pada tahun 1062 M, Yusuf ibn Tasyin berhasil
mendirikan sebuag kerajaan yang berpusat di Marakesy.
Karena perpecahan raja-raja muslim, Yusuf melangkah lebih
jauh untuk menguasai Spanyol dan berhasil untuk itu. Pada tahun
1143 M, kekuasaan dinasti ini berakhir, baik di Afrika Utara maupun
di Spanol dan digantikan oleh dinasti Muwahhidun. Pada tahun 1146
M, penguasa dinasti Muwahhidun yang berpusat di Afrika Utara
merebut daerah ini. Muwahhidun didirikan oleh Muhammad ibn
Tumart dan datang ke Spanyol di bawah pimpinan Abd Al-Mun’im.
Akan kekalahan-kekalahan yang dialami Muwahhidun menyebabkan

9
penguasanya memilih untuk meninggalkan Spanyol dan kembali ke
Afrika Utara tahun 1235 M. Dalam kondisi demikian, umat islam
tidak mampu bertahan dari serangan-serangan Kristen yang semakin
besar dan tahun 1238 M, Cordova jatuh ke angan penguasa Kristen
dan Seville jatuh pada tahun 1248 M.
6. Periode Keenam (1248-1492 M)
Islam hanya berkuasa di daerah Granada, dibawah dinasti Bani
Ahmar (1232-1492) dan peradaban kembali mengalami kemajuan
seperti zaman Abdurrahman An-Nasir. Secara politik, dinasti hanya
berkuasa di wilayah kecil dan kekuasaan islam yang merupakan
pertahanan terakhir di Spanyol ini berakhir, karena perselisihan
orang-orang istana dalam memperebutkan kekuasaan.
Abu Abdullah Muhammad merasa tidak senang kepada ayahnya
dan melakukan pemberontakkan untuk merampas kekuasaan.
Pemberontakkan itu, Abdullah meminta bantuan kepada Ferdenand
dan Isabella sehingga dapat mengalahkan penguasa yang sah dan
Abu Abdullah nai tahta.
Ferdenand dan Isabella melalui pernikahan, mempersatukan
kekuatan kerajaan keduanya dan ingin merebut kekuasaan terakhir
umat islam di Spanyol. Abu Abdullah tidak kuasa sanggup menahan
serangan sehingga menyerahakan kekuasaan kepada Ferdenand dan
Isabella, kemudian Abud Abdullah hijrah ke Afrika Utara. Dengan
demikian, berakhirlah kekuasaan islam di Spanyol tahun 1492 M dan
umat islam di hadapkan pada dua pilihan, antara masuk Kristen
(murtad) atau pergi meninggalkan Spanyol.

C. Kemajuan Peradaban Spanyol


Dalam masa lebih dari tujuh abad, kekuasaan Islam di Spanyol, umat
Islam telah mencapai kejayaannya di sana. Banyak prestasi yang mereka telah
peroleh, bahkan pengaruhnya membawa Eropa dan kemuadian dunia kepada
kemajuan yang lebih kompleks.

10
1. Kemajuan intelektual
Masyarakat Spanyol Islam merupakan masyarakat majemukyang
terdiri dari komunitas-komunitas Arab (Utara dan Selatan), al-
Muwalladun (orang-orang Spanyol yang masuk Islam), ash-
Shaqalibah (penduduk daerah antara Kontantinopel dan Bulgaria
yang menjadi tawanan Jerman dan dijual kepada penguasa Islam
untuk dijadikan tentara bayaran), Yahudi, Kristen Muzareb yang
berbudaya Arab dan Kristen yang masih menentang kehadiran Islam.
Semua komunitas itu kecuali yang terakhir, memberikan saham
intelektual terhadap terbentuknya lingkungan budaya Andalus yang
melahirkan kebangkitan ilmiah, sastra, dan pembangunan bangunan
di Spanyol.
a. Filsafat
Islam di Spanyol telah satu lembaran budaya yang sangat
brillian dalam bentangan sejarah Islam. Ia berperan sebagai
jembatan penyebrangan yang dilalui ilmu pengetahuan mulai
dikembangkan pada abad ke-9 M, selama pemerintahan penguasa
Bani Umayyah yang ke-5, Muhammad ibn Abdul Rahman (832-
886 M).
b. Sains
Ilmu-ilmu kedokteran, musik, matematika, astronomi, kimia
dan lain-lain juga berkembang dengan baik. Abbas ibn Farnas
termasyhur dalam ilmu kimia dan dan astronomi. Ialah orang
pertama yang menemukan pembuatan kaca dari batu. Ibrahim ibn
Yahya An-Naqqash terkenal dalam ilmu astronomi. Ia dapat
menentukan waktu terjadinya gerhana matahari dan menentukan
berapa lamanya. Ia juga berhasil membuat teropong modern yang
dapat menentukan jarak antara tata surya dan bintang-bintang.
Ahmad ibn Ibas dari Cordova adalah ahli dalam bidang obat-
obatan. Umm Al-Hasan bint Abi Ja’far dan saudara perempuan
Al-Hafidz adalah dua orang ahli kedokteran kalangan wanita.

11
c. Fikih
Spanyol dikenal sebagai penganut mazhab Maliki. Yang
memperkenalkan mazhab ini di sana adalah Ziyad ibn Abdul
Rahman. Perkembangan selanjutnya ditentukan oleh Ibn Yahya
yang menjadi qadhi pada amasa Hisyam ibn Abdul Rahman,
Ahli-ahli fiqih lainnya di antaranya adalah Abu Bakr ibn Al-
Quthiyah, Munzir ibn Sa’id Al-Baluthi, dan Ibn Hazm yang
terkenal.
d. Music dan kesenian
Dalam musik dan seni suara, Spanyol Islam mencapai
kecemerlangan dengan tokohnya Al-Hasan ibn Nafi yang
dijuluki Zaryab. Setiap kali diselenggarakan pertemuan dan
jamuan, Zaryab selalu tampil mempertunjukkan kebolehannya. Ia
juga terkenal sebagai penggubah lagu. Ilmu yang dimilikinya itu
diturunkan ke anak-anaknya, baik pria maupun wanita, dan juga
kepada budak-budak, sehingga kemasyhurannya tersebar luas.
e. Bahasa dan sastra
Bahasa Arab telah menjadi bahasa administrasi dalam
pemerintahan Islam di Spanyol. Hal itu dapat diterima oleh
orang-orang Islam dan non-Islam. Bahkan, penduduk asli
Spanyol menomorduakan bahasa asli mereka. Mereka juga
banyak yang ahli dan mahir dalam bahasa Arab, baik
keterampilan berbicara maupun tata bahasa.

2. Kemegahan Pembangunan Fiqih


a. Cordoba
Cordoba dikelilingi taman-taman yang hijau. Orang yang
berkunjung ke sana biasanya bersenang-senang terlebih dahulu di
kebun-kebun dan taman-taman itu sebelum sampai di kota.
Penduduknya lebih dari satu juta jiwa (pada masa itu kota
terbesar di Eropa penduduknya tidak lebih dari 25.000 orang).

12
Tempat-tempat mandi berjumlah 900 buah dan rumah-rumah
penduduknya berjumlah 283.000 buah. Gedung-gedung sebanyak
80.000 buah, masjid ada 600 buah dan luas kota Cordoba adalah
delapan farsakh (30.000 hasta).
b. Granada

(Gambar 2. Bangunan di Granada)

Jika kita beralih dari Cordoba ke Granada, maka akan


tersingkap keagungan bangunan dalam istana Al-Hamra yang
merupakan lambang keajaiban yang mencengangkan orang-orang
yang melihatnya dan selalu menjadi pusat perhatian para
wisatawan dari manca negara kendati jaman datang silih
berganti.

(Gambar 3. Bangunan di Granada)

13
Istana ini didirikan di atas bukit yang menghadap ke kota
Granada dan hamparan ladang yang luas dan subur yang
mengelilinginya kota itu sehingga tampak sebagai tempat
terindah di dunia. Disitu terdapat ruangan yang banyak, antara
lain ruang Al Aswad, ruang Al Ukhtain, ruang keadilan dan
ruang para duta.
c. Sevilla
Adapun pembicaraan mengenai kota-kota Andalus yang lain
berikut kemajuan dan kebesaran yang dicapainya, itu merupakan
pembicaraan yang panjang pula. Cukuplah bagi kami di sini
menyebutkan bahwa di kota Sevilla terdapat 6000 alat tenun
untuk sutera saja. Setiap penjuru kota Sevilla dikelilingi pohon-
pohon zaitun, dan karena itulah di situ terdapat 100.000 tempat
pemerasan minyak zaitun. Secara umum, kota-kota Spanyol
ramai sekali.

(Gambar 4. Kota Sevilla)

Setiap kota terkenal dengan berbagai macam industrinya


yang diincar oleh bangsa Eropa dengan antusias. Bahkan kota-
kota itu terkenal dengan pabrik-pabrik baju besi, topi baja, dan

14
alat perlengkapan baja lainnya sehingga orang-orang Eropa
datang dari setiap tempat untuk membelinya. Renault berkata,
Ketika bangsa Arab menyerbu Perancis Selatan dari Andalus dan
menaklukkan kota-kota Narbonne, Avignon, Lion, dan lain-lain,
mereka dilengkapi dengan senjata-senjata yang tak dimiliki
bangsa Eropa.

3. Kemajuan Tambahan
Kemajuan Spanyol Islam ditentukan oleh adanya penguasa yang
kuat dan berwibawa, yang mampu mempersatukan kekuatan-
kekuatan umat Islam, seperti Abdul Rahman ad-Dakhil, Abdul
Rahman al-Wasith, dan Abdul Rahman an-Nasir.
Keberhasilan politik pemimpin-pemimpin tersebut ditunjang oleh
kebijaksanaan penguasa-penguasa lainnya yang memelopori
kegiatan-kegiatan ilmiah. Sikap toleransi beragama ditegakkan oleh
para penguasa terhadap penganut agama Kristen dan Yahudi
sehingga mereka ikut berpartisipasi mewujudkan peradaban Arab
Islam di Spanyol. Bagi orang-orang Kristen, sebagaimana juga
orang-orang Yahudi, telah disediakan hakim khusus yang menangani
masalah mereka dengan berlandaskan ajaran agama mereka masing-
masing.
Masyarakat Spanyol Islam merupakan masyarakat majemuk
yang terdiri dari berbagai komunitas, baik agama maupun bangsa.
Dengan ditegakkannya toleransi beragama, komunitas-komunitas itu
dapat bekerja sama dan menyumbangkan kelebihan masing-masing.
Perselisihan antar pemeluk agama dapat ditekan sekecil mungkin
sehingga mereka dapat hidup damai secara berdampingan.
Lebih lanjut, meskipun ada persaingan yang sengit antara
Abbasiyah di Bagdad dan Umayyah di Spanyol, hubungan budaya
dari Timur dan Barat tidak selalu berupa peperangan. Sejak abad ke-
11 M, banyak sarjana mengadakan perjalanan dari ujung barat

15
wilayah Islam ke ujung timur sambil membawa buku-buku dan
gagasan-gagasan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun umat Islam
terpecah dalam beberapa kesatuan politik, terdapat apa yang disebut
kesatuan budaya dunia Islam.
Kemudian, perpecahan politik pada masa muluk at-thawaif dan
sesudahnya tidak menyebabkan mundurnya peradaban. Masa itu
dapat dikatakan sebagai bagian dari puncak kemajuan ilmu
pengetahuan, kesenian, dan kebudayaan Spanyol Islam. Hal ini
disebabkan oleh adanya semangat yang dimiliki setiap dinasti di
Malaga, Toledo, Seville, Granada, dan lain-lain untuk berkompetisi
dengan pusat ilmu dan peradaban Islam di Spanyol. Sebagai contoh,
Muluk at-thawaif berhasil mendirikan pusat-pusat peradaban baru
yang cukup maju. Dengan demikian, kemajuan Spanyol dari waktu-
kewaktu tetap terjaga hingga kemudian luluh lantak akibat serangan
Ferdinand yang tanpa ampun.

D. Penyebab Kehancuran dan Kemunduran


Kemunduran umat Islam di Spanyol disebabkan oleh beberapa hal,
yaitu:
1. Konflik Islam dan Kristen
Kehidupan umat Islam di Spanyol tidak pernah lepas dari
pertentangan antara umat Islam dan Kristen. Hal ini disebabkan
karena kesadaran kebangsaan orang-orang Kristen di Spanyol. Saat
Islam menguasai Spanyol, para khalifah tidak melakukan Islamisasi
secara sempurna, orang-orang Kristen diberikan untuk mempertahan
hukum dan tradisi mereka selama mereka masih membayar upeti dan
tidak ada perlawanan bersenjata. Padaa abad ke-11 umat Kristen
mulai mengalami kemajuan yang pesat sedangkan umat Islam
mengalami kemunduran.
Wilayah kekuasaan Islam di Spanyol berbatasan dengan
kerajaan-kerajaan Kristen di Utara, dimana kerajaan-kerajaan ini

16
selalu mencari kesematan untuk menyerang Islam. Terutatama saat
Islam Spanyol mulai pecah dan membentuk dinasti-dniasti kecil atau
Muluk al tawdif menyebabkan kekuatan Islam mulai menurun
sedangkan kerajaan-kerjaan Kristen mulai bersatu dan menyerang
Islam. Satu persatu kerajaan Islam ditakukkan. Pada tahun 1085 M
raja Alfonnso VI berhasil merebut Toledo daari dinasti Zunniyah.
Cordova jatuh pada tahun 1238 M, menyusul Seville pada tahun
1248 M dan juga wilayah-wilayah lainnya kecuali Granada.
Granada berhasil beratahan selama dua abad di bawah kekuasaan
Bani Ahmar lalu kemudian ditaklukkan oleh kerajaan Aragon dan
Castilla pada tanggal 1 Januari 1492. Dengan jatuhnya Granada
maka Islam sebagai kekuatan olitik dan agama hilang dari daratan
Spanyol.
2. Kesulitan ekonomi
Masa Islam di Spanyol para penguasa membangun kota dan
mengembangkan ilmu pengetahuan sehingga lalai dalam mengembangkan
perekonomian.
Kesulitan ekonomi juga disebabkan karena konflik berkepanjangan
antara Islam dengan Kristen. Hal itu mempengaruhi kondisi politik dan
militer. Kondisi ini pun dimanfaatkan orang Kristen untuk memerangi umat
Islam.
3. Tidak adanya ideology pemersatu
Orang-orang Arab di Spanyol tidak pernah menerima orang-orang
pribumi layaknya Islam di tempat lain,mereka masih memberi istilah ‘ibad
dan muwalladun kepada para mukallafdan dinilai sebagai sesuatu yang
merendahkan. Akibatnya etnis non-Arab merusak perdamaian dan hal ini
sangat berpengaruh terhadap sosio-ekonomi negeri tersebut.
4. Letak geografis yang terpencil
Letak geografis Islam di Spanyol bagi dunia Islam lain sangat terpencil
karena terletak di Eropa, sementara Islam lainnya berada di Asia dan
Afrika. Hal ini berdampak lemahnya pertahanan Islam Spanyol ketika
mendapat serangan terutama dari orang-orang Kristen. Selain itu faktor

17
ikllim juga berpengaruh karena orang Arab sebagai pendatang tidak cocok
dengan iklim di tempat tersebut.
5. Tidak jelasnya peralihan kekuasaan
Perebutan kekuasaan di antara ahli waris menyebabkan lemahnya
pemerintahan Islam. Runtuhnya kekuasaan Bani Umayyah, munculnya
Muluk Al-Thawaif dan jatuhnya Granada di tangan Ferdinand dan Isabella
disebabkan karena hal ini

E. Pengaruh Peradaban Spanyol Islam di Eropa


Spanyol merupakan tempat menyerap peradaban islam yang paling
utama di Eropa, baik dalam bentuk hubungan politik, ekonomi, social, dan
peradaban antar Negara. Kemajuan yang dibawa dan diperkenalkan Islam
terhadap Dunia Barat ditandai dengan munculnya tokoh-tokoh ilmuwan dan
filosouf dari negeri tersebut. Eropa sangat unggul dalam bidang pemikiran dan
sains dibandingkan dengan Negara-negara tetangganya. Seperti pemikiran
Ibnu Rusyd (1120-1198) dimana Ia mengulas pemikiran Aristoteles dengan
cara memikat minat semua orangyang berpikiran bebas. Demikian besar
pengaruhnya di Eropa, hingga di Eropa timbul gerakan Averroeisme (Ibn
Rushdisme) yang menuntut kebebasan berpikir. Namun Pihak gereja menolak
pemikiran rasional yang dibawa gerakan Averroeisme ini.
Pengaruh peradaban Islam, termasuk di dalamnya pemikiran Ibn Rushd,
ke Eropa berawal dari banyaknya pemuda-pemuda Kristen Eropa yang belajar
di universitas-universitas Islam di Spanyol, seperti Universitas Cordova,
Seville, Malaga, Granada, dan Salamanca. Selama belajar di Spanyol, mereka
aktif menerjemahkan buku-buku karya ilmuwan-ilmuwan muslim.
Setelah pulang kenegerinya, mereka mendirikan sekolah dan universitas
yang sama. Universitas di Eropa adalah Universitas Paris yang didirikan pada
tahun 1231 M.; tiga puluh tahun setelah wafatnya Ibn Rushd. Di akhir zaman
pertengahan Eropa, baru berdiri 18 buah universitas. Di universitas-universitas
itu, ilmu yang mereka peroleh dari universitas -universitas Islam diajarkan,
seperti ilmu kedokteran, ilmu pasti, dan filsafat. Pemikiran filsafat yang paling
banyak dipelajari adalah pemikiran Al-Farabî, Ibn Sinâ dan Ibn Rushd.

18
Walaupun umat Islam akhirnya terusir dari negeri Spanyol dengan cara
yang sangat kejam, ia telah membidani gerakangerakan signifikan di Eropa.
Gerakan-gerakan itu adalah renaissance pada abad XIV M. yang bermula di
Italia, gerakan reformasi pada abad XVI M., rasionalisme pada abad XVII M.,
dan pencerahan (aufklaerung) pada abad XVIII M.

19
DAFTAR PUSTAKA

1. Samsir. 2009. Abdurrahman al- nasir (studi atas peranannya dalam


pengembangan ilmu pengetahuan di andalusia). Samarinda :E-journal
iain. Diakses pada tanggal 13 maret 2018 di https://journal.iain-
samarinda.ac.id/index.php/dinamika_ilmu/article/view/286
2. Zubaidah, Siti. 2016. Sejarah peradaban islam. Medan : Perdana
publishing. Hal 117.
3. Abidin, Zainal. 2012. Dinamika Perkembangan Ilmu Dalam Islam
Serta Statusnya Dalam Perkembangan Peradaban Modern. IAIN
Antasari: Ilmu Ushuluddin, Vol. 11, No. 1
4. Al-Harafi, Salamah. 2011. Buku Pintar Sejarah & Peradaban Islam.
Jakarta: Pustaka Al-Kautsar
5. Al-Wakil, Sayyid. 2005. Wajah Dunia Islam Dari Bani Umayyah
Hingga Imprealisme Modern. Jakarta: Pustataka Al-Kautsar
6. Yatim, Badri. 2014. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Raja Grafindo
Persada.
7. Firadus. “Islam Di Spanyol: Kemunduran Dan Kehancuran”. El-
Harakah 11, no. 3 (2009): h. 248-256.
8. Nasution, Syamruddin. 2013. Sejarah Perdaban Islam. Pekanbaru:
Pusaka Riau.
9. As-Siba’I, M. 2001. Peradaban Islam. Surabaya: Rajawali publishing.
10. Hasan, S. 2012. Islam Dan Peradaban Spanyol: Catatan Kritis
Beberapa Factor Penyebab Kesuksesan Islam Spanyol. 1-20
11. Ubadah. “Peradaban Islam Di Spanyol Dan Pengaruhnya Terhadap
Peradaban Barat”. Jurnal Hunafa 5, no. 2 (2008): h. 151-164.

20