Anda di halaman 1dari 25

ANALISIS PAPER PENGGUNAAN VIDEO TRACKER BERBASIS

INKUIRI TERBIMBING TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP


DAN KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA SMA
(Tugas Mata Kuliah Kolokium Fisika)

Oleh
Yuni Sartika
(1413022072)

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2017

i
DAFTAR ISI

COVER ................................................................................................................... i
DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii

I. IDENTITAS PAPER
A. Jurnal Nasioanal ..........................................................................................1
B. Jurnal Internasional .....................................................................................2

II. ISI REVIEW


A. Jurnal Nasioanal ...........................................................................................3
B. Jurnal Internasional ....................................................................................16

C. KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

ii
1

I. IDENTITAS JURNAL

A. Jurnal Nasional
1) Jurnal I
a. Judul : Pengaruh Metode Inkuiri Terbimbing dan Proyek,
Kreativitas, Serta Keterampilan Proses Sains
Terhadap Prestasi Belajar Siswa
b. Penulis : U.A. Deta, Suparmi, dan S. Widha
c. Tahun : 2013
d. Penerbit : Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia (JPFI)
e. Akreditasi :B
f. Alamat URL : https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/
JPFI/article/view/2577
g. DOI : doi.org/10.15294/jpfi.v9i1.2577

2) Jurnal II
a. Judul : Penerapan Software Tracker Video Analyzer Pada
Praktikum Kinematika Gerak
b. Penulis : Indra Fitriyanto dan Imam Sucahyo
c. Tahun : 2016
d. Penerbit : Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF)
e. Alamat URL : http://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/index.php/
inovasi-pendidikan-fisika/article/view/19949
f. DOI : http://dx.doi.org/10.26740/jpfa.v4n1.P11-32
2

3) Jurnal III
a. Judul : Optimalisasi Eksperimen Kereta Dinamika:
“Aplikasi Tracker Vs Ticker Timer” untuk
Mengurangi Miskonsepsi pada Materi Gerak Lurus
Berubah Beraturan (GLBB)
b. Penulis : Elsa Anggiya Nurinsani, Nia Kurniasih, Nurdini,
Ating Herawati, Raden Giovanni Ariantara, Fitri
Nurul Sholihat, Hana Susanti, Muhamad Gina
Nugraha, Kartika Hajar Kirana
c. Tahun : 2017
d. Penerbit : Prosiding Seminar Nasional Fisika (E-Journal)
SNF2017
e. Alamat URL : http://journal.unj.ac.id/unj/index.php/prosidingsnf/
article/view/4499
f. DOI : https://doi.org/10.21009/03.SNF2017.01.EER.04

B. Jurnal Internasional
a. Judul : Using Tracker to understand ‘toss up’ and free fall
motion: a case study
b. Penulis : Loo Kang Wee, Kim Kia Tan, Tze Kwang Leong
and Ching Tan
c. Tahun : 2015
d. Penerbit : Physic Education, IOP Publishing
e. DOI : https://doi.org/10.1088/0031-9120/50/4/436
f. Alamat URL : http://iopscience.iop.org/article/10.1088/0031-
9120/50/4/436
3

II. HASIL REVIEW

Berikut adalah hasil review dari 5 jurnal, diantaranya 4 Jurnal nasional dan 1 jurnal
internasional.

A. Jurnal Nasional
1) Jurnal I
a. Latar Belakang dan Tujuan
Untuk membelajarkan materi fluida yang dekat dengan kehidupan
sehari-hari, diperlukan suatu model pembelajaran yang berdasarkan
suatu permasalahan sehari-hari. Salah satu model yang berbasis proses
pemecahan masalah yakni model Problem Based Learning (PBL). Model
PBL berawal dari masalah-masalah yang timbul dalam fenomena alam
untuk dapat diselesaikan melalui serangkaian meto- de ilmiah (Sanjaya,
2007). Dengan demikian,model ini dapat diterapkan pada materi fluida
secara efektif.

Ali (2008) menyimpulkan bahwa pembelajaran Problem Based Learning


(PBL) pada materi fisika cocok diterapkan pada mahasiswa teknik di
Universiti Tun Hussein Malaysia karena dapat meningkatkan prestasi
belajar. Pembelajaran model PBL memiliki ciri khusus yakni
mengajukan permasalahan hingga mencari solusinya yang tepat. Adapun
langkah model PBL yakni: Memunculkan permasalahan; Merumuskan
masalah; Mengajukan hipotesis; Merencanakan investigasi; Melakukan
investigasi; Menguji Hipotesis; dan Refleksi. Sintaks ini pada dasarnya
merupakan metode ilmiah untuk menyelesaikan permasalahan tertentu.
4

Pembelajaran fisika dengan inkuiri secara signifikan lebih baik


dibandingkan dengan pembelajaran tradisional (Hussain, 2011). Pada
materi fluida, gejala-gejala fluida dapat diamati oleh siswa. Dengan
demikian, pembelajaran pada materi fluida dapat dilakukan melalui
penyelidikan-penyelidikan secara langsung. Penyelidikan dapat berupa
pemecahan masalah dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan
materi fluida. Diharapkan, pembelajaran materi fluida dengan metode in-
kuiri terbimbing dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

Banyak fenomena alam maupun aplikasi fluida dalam kehidupan sehari-


hari. Pembelajaran pada materi ini tidak terikat pada kegiatan
penyelidikan di laboratorium saja. Akan tetapi, banyak proyek-proyek
sederhana yang dapat dilakukan oleh siswa, sehingga siswa lebih aktif
dalam pembelajaran dan mampu untuk memecahkan permasalahan-
permasalahan sehari-hari yang berkaitan dengan materi ini.

Dalam pembelajaran dengan model PBL metode proyek, kreativitas


sangat berperan dalam rangka merancang atau membuat suatu produk
(Gufron, 2011). Pembelajaran berbasis proyek dapat pula meningkatkan
kreativitas mahasiswa (Yasin, 2009 dan Oon-Seng Tan, 2009).
Kreatifitas dalam pembelajaran fisika diperlukan dalam mengamati,
mengambil alat dan bahan, merangkai alat dan bahan, menga- nalisis
data, menyelesaikan soal-soal fisika dan sebagainya. Sebagai contoh,
siswa dengan kreativitas tinggi jika diberi soal yang bersifat aplikatif
akan lebih cekatan dalam menentukan langkah-langkah penyelesaian
masalah.

Pembelajaran dengan metode inkuiri di laboratorium sangat efektif


dalam mengembangkan keterampilan proses sains siswa sekolah (Khan,
2011). Dalam pembelajaran fluida dengan metode inkuiri terbimbing,
siswa melakukan kegiatan-kegiatan yang melibatkan keterampilan
proses sains. Siswa yang memiliki keterampilan proses tinggi akan mu-
5

dah dalam melakukan penyelidikan dalam metode pembelajarannya.


Semua kegiatan inkuiri melibatkan keterampilan proses yang meliputi
keterampilan proses dasar, keterampilan pengukuran dan perhitungan,
keterampilan pe- rencanaan eksperimen, dan keterampilan mengolah
serta menyajikan data (Nur, 2011). Sebagai contoh, dalam memecahkan
masalah tekanan, siswa dituntut untuk mampu merancang dan
melakukan kegiatan praktikum.

b. Metode
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode inkuiri
terbimbing dan proyek, kreativitas serta keterampilan proses sains
terhadap prestasi belajar siswa. Penelitian dilakukan di SMA Negeri 1
Papar tahun ajaran 2011/2012. Populasi dari penelitian adalah siswa
kelas XI IA. Sampel kelas diambil dengan metode cluster random
sampling. Uji hipotesis menggunakan ANAVA.

Penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan dua perlakuan yang


melibatkan dua kelompok eksperimen. Kelompok pertama merupakan
kelompok yang diberi pembelajaran model PBL menggunakan metode
proyek dan kelompok kedua diberi pembelajaran model PBL
menggunakan metode inkuiri terbimbing. Dari kedua kelompok tersebut
dilihat prestasi belajar kognitif, psikomotor, dan afektif siswa yang
ditinjau dari keterampilan proses sains dan kreativitas siswa.

Adapun populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI di


SMA Negeri 1 Papar Kediri. Adapun sampel dalam penelitian ini adalah
dua kelas terdiri dari kelas A untuk kelompok pembelajaran Model PBL
menggu- nakan metode proyek dan kelas B untuk ke- lompok inkuiri
terbimbing.

Dalam penelitian ini instrumen peneliti proses sains, tes kreativitas siswa,
tes prestasi belajar untuk penilaian afektif, lembar penga- matan untuk
6

penilaian psikomotor, dan lembar pengamatan untuk penilaian afektif.


Semua instrumen pembelajaran dan pengambilan data divalidasi oleh
dua ahli yakni dosen pendidikan fisika Unesa. Pada instrumen berupa tes,
dilakukan uji coba soal untuk memilih soal yang akan digunakan dalam
penelitian ini.

Analisis data yang digunakan dalam pen- elitian ini adalah ANAVA
2x2x2 dengan signifi- kansi α = 5%. Statistik uji menggunakan GLM
(General Linier Model) yang terdapat dalam program SPSS versi 20.
Namun, sebelum di- lakukan uji hipotesis, dilakukan uji normalitas dan
homogenitas sebagai uji prasyarat dari ANAVA. Ketentuan pengambilan
kesimpulan terbagi menjadi dua yaitu: instrumen pembelajaran dan
instrumen pengambilan data. Instrumen pembelajaran meliputi silabus
mata pelajaran fisika kelas XI semester 2, Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP), dan Lembar Kerja Siswa (LKS). Sedangkan
instrumen pengambilan data meliputi tes keterampilan dari tingkat
signifikansi (α) yakni 0.05. Setelah dilakukan uji ANAVA dan diperoleh
hasil Ho di- tolak, untuk mengetahui kelompok siswa mana yang
memiliki prestasi belajar terbaik, akan dibandingkan rata-rata prestasi
belajar siswa tiap kelompok.

c. Hasil Penelitian
Hasil penelitian berdasarkan jurnal I diantaranya terdapat perbedaan
prestasi belajar kognitif ketika siswa melakukan pembelajaran dengan
dengan metode inkuiri terbimbing dan proyek, sedangkan untuk prestasi
belajar psikomotor dan afektif tidak terdapat; terdapat perbedaan
prestasi belajar afektif antara siswa dengan kreativitas tinggi dan rendah,
sedangkan untuk prestasi belajar kognitif dan psikomotor tidak terdapat;
terdapat perbedaan prestasi belajar kognitif, psikomotor, dan afektif
antara siswa dengan keterampilan proses sains tinggi dan rendah;
terdapat interaksi antara metode pembelajaran dengan kreativitas siswa
7

terhadap prestasi belajar afektif, sedangkan untuk prestasi belajar


kognitif dan psikomotor tidak terdapat; terdapat interaksi antara metode
pembelajaran dengan kreativitas siswa terhadap prestasi belajar
psikomotor dan afektif, sedangkan untuk prestasi belajar kognitif tidak
terdapat; terdapat interaksi antara kreativitas dengan keterampilan proses
sains siswa terhadap prestasi belajar afektif, sedangkan untuk prestasi
belajar kognitif dan psikomotor tidak terdapat; dan terdapat interaksi
antara metode pembelajaran, kreativitas, dan keterampilan proses sains
siswa terhadap prestasi belajar kognitif dan afektif, sedangkan untuk
prestasi belajar psikomotor tidak terdapat.

Jadi, setelah dilakukan analisis berdasarkan jurnal I diperoleh bahwa


terdapat perbedaan prestasi kognitif antara siswa dengan metode
pembelajaran inkuiri terbimbing dan proyek, sedangkan untuk prestasi
belajar psikomotor dan afektif tidak terdapat. Berdasarkan hasil rata-rata
prestasi belajar kognitif siswa, diperoleh rata-rata prestasi belajar
kognitif siswa dengan metode inkuiri terbimbing lebih baik daripada
siswa dengan metode proyek. Sehingga, dengan menggunakan metode
inkuiri sangat baik digunakan pada pembelajaran fisika khususnya
eksperimen untuk dapat meningkatkan hasil prestasi belajar kognitif
siswa.

Berdasarkan hasil rata-rata prestasi belajar kognitif, psikomotor, dan


afektif siswa; diperoleh rata-rata prestasi belajar kognitif, psikomotor,
dan afektif siswa dengan keterampilan proses sains tinggi lebih baik
daripada siswa dengan keterampilan proses sains rendah. Hal ini
menunjukkan bahwa peranan keterampilan proses sains sangat penting
dalam pembelajaran fisika, khususnya dalam pelaksanaan percobaan.

Berdasarkan rata-rata prestasi belajar psikomotor dan afektif siswa,


diperoleh bahwa siswa dengan keterampilan proses sains tinggi ketika
diajar dengan metode inkuiri terbimbing memiliki rata- rata hasil belajar
8

psikomotor dan afektif paling baik dibandingkan dengan kelompok


lainnya. Hal ini menujukkan bahwa keterampilan proses sains sangat
diperlukan dalam pembelajaran dengan metode inkuiri terbimbing
terutama dalam peningkatan prestasi belajar psikomotor dan afektif
siswa.

2) Jurnal II
a. Latar belakang teori dan tujuan penelitian
Aspek pengetahuan tidak menjadi satu-satunya penentu kelulusan
siswa pada kurikulum 2013. kurikulum 2013 lebih menekankan pada
dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan
pendekatan ilmiah. Berdasarkan permendikbud nomor 103 tahun 2014,
pendekatan ilmiah yang dimaksud merupakan pengorganisasian
pengalaman belajar dengan urutan logis meliputi: mengamati,
menanya, mencoba, menalar/ mengasosiasi, dan mengomunikasikan.
Sehingga dalam proses pembelajaran tidak hanya mengutamakan
hasil/produk saja, tetapi proses juga sangat penting dalam
membangun pengetahuan siswa.

Berdasarkan pengamatan yang peneliti lakukan selama PPL di SMA


Negeri 2 Lamongan, peralatan laboratorium fisika yang dimiliki sudah
cukup lengkap. Namun, penerapan teknologi pada alat praktikum
tersebut masih sangat kurang. Penggunaan teknologi pada kegiatan
praktikum hanya sebatas praktikum virtual tanpa melibatkan praktikum
riil. Pada dasarnya, kegiatan praktikum dapat dilakukan dalam setiap
kegiatan pembelajaran. Namun, kegiatan praktikum tersebut dapat
digantikan dengan kegiatan praktikum virtual atau dengan
memanfaatkan media komputer sebagai pengganti praktikum riil.
Mulyasa (2006:107) mengatakan bahwa “fasilitas pendidikan pada
umumnya mencakup sumber belajar, sarana dan prasarana
penunjang yang lain, serta penggunaan teknologi dalam
endidikan dan pembelajaran dimaksudkan untuk memudahkan dan
9

mengefektifkan kegiatan pembelajaran”. Jadi, penggunaan


laboratorium virtual bukan untuk menggantikan peran laboratorium
riil, namun sebagai alternatif pelengkap laboratorium riil. Berdasarkan
latar belakang yang telah diuraikan di atas, perlu diadakan penelitian
yang berjudul “Penerapan Software Tracker Video Analyzer Pada
Praktikum Kinematika Gerak”. Tracker adalah sebuah perangkat
lunak berbasis open source java framework yang berfungsi untuk
memodelkan dan menganalisis video. Software ini didesain untuk
digunakan dalam pembelajaran fisika. Tracker memungkinkan siswa
untuk menganalisis gerak sebuah benda yang ada dalam video
dengan cara membuat jejak yang mengikuti gerak benda yang ada
dalam video.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kelayakan


software tracker, mendeskripsikan peningkatan keterampilan proses
siswa, dan mendeskripsikan respon siswa setelah melakukan
pembelajaran dengan software tracker.

b. Metode
Jenis penelitian ini merupakan penelitian pre-experimental design.
Pada penelitian ini menggunakan desain One Group Pretest-Posttest
Design. Sampel yang digunakan adalah kelas XI MIA 5 SMA
Negeri 2 Lamongan dan sudah ditentukan oleh guru pendamping
penelitian. Sebelum software tracker diujicobakan pada siswa, harus
dilakukan validasi kelayakan software tracker oleh validator dua dosen
fisika Unesa dan satu guru fisika SMA. Untuk memenuhi komponen
validasi, harus dilakukan beberapa ujicoba. Ujicoba pertama adalah
untuk menentukan akurasi dan presisi software tracker. Dilakukan
dengan cara membandingkan hasil pengukuran kecepatan
menggunakan software tracker dengan sensor photogate yang sudah
terkalibrasi. Uji coba kedua adalah untuk mengetahui apakah software
tracker dapat digunakan untuk praktikum lain. Ujicoba ketiga adalah
10

untuk mengetahui apakah software tracker dapat dilakukan untuk


tracking pada video dengan kualitas rendah. Dilakukan dengan
merekam video dengan berbagai macam kamera.

Untuk dapat menentukan peningkatan keterampilan proses sains, siswa


diberi pre-test post-test soal keterampilan proses sains. Selanjutnya,
hasil pre-test post- test dianalisis dengan menggunakan uji N-gain.

c. Hasil dan pembahasan


Kelayakan software tracker diperoleh berdasarkan validasi yang
dilakukan oleh 2 dosen fisika UNESA dan 1 guru SMA Negeri 2
Lamongan. Validator mengisi lembar validasi yang mencakup poin
pada lembar validasi yang sudah disediakan. Berdasarkan hasil dari
ketiga validator tersebut, dapat disimpulkan bahwa software tracker
layak digunakan dengan predikat sangat baik untuk praktikum
kinematika gerak khususnya gerak parabola.

Siswa diberikan pre-test pada awal pembelajaran untuk mengetahui


kemampuan awal siswa. Kemudian siswa diberikan post-test setelah
melakukan pembelajaran dengan menggunakan software tracker untuk
mengetahui peningkatan keterampilan proses siswa. Berdasarkan
hasil analisis soal keterampilan proses sains dengan menggunakan uji
n-gain, didapatkan peningkatan keterampilan proses sains sebesar 0,53
yang termasuk ke dalam kategori gain sedang. Sedangkan untuk respon
siswa didapatkan respon yang sangat memuaskan dengan presentase
100%.

Sehingga, berdasarkan pembahasan diatas, maka dengan menggunakan


video trcaker akan dapat meningkatkan keterapilan proses sains siswa
dan aplikasi tracker layak digunakan.
11

3) Jurnal III
a. Latar Belakang Teori dan Tujuan Penelitian
Dalam pembelajaran fisika permasalahan miskonsepsi masih sangat
sering terjadi. Miskonsepsi merupakan pemahaman yang berbeda
dengan konsep yang sebenarnya (Anatasia:2017). Pada Fisika, kegiatan
eksperimen menjadi bagian pembelajaran yang diutamakan. Melalui
kegiatan eksperimen siswa secara aktif akan mengalami dan
membuktikan sendiri mengenai materi yang sedang dipelajarinya,
siswa secara total dilibatkan dalam mengamati objek, menganalisis,
membuktikan dan menarik kesimpulan tentang suatu objek, keadaan
atau proses (Nugraha: 2015). Akan tetapi, kegiatan eksperimenpun
dapat menjadi sumber masalah, yaitu ketika alat yang digunakan
ataupun metode yang dipakai tidak dapat menghasilkan data yang
akurat. Hal ini dapat menjadi sumber miskonsepsi bagi siswa,
sebagaimana diutarakan oleh Suparno bahwa miskonsepsi dapat
disebabkan dari siswa, guru, buku teks dan metode mengajar yang
digunakan (Suparno: 2013).

Salah satu kegiatan eksperimen yang umumnya dilakukan di


sekolah ialah eksperimen menyelidiki karakteristik Gerak Lurus
Berubah Beraturan (GLBB) dengan menggunakan set alat percobaan
kereta dinamika yang dilengkapi dengan ticker timer seperti
ditunjukkan pada gambar 1. Ticker timer adalah alat yang dapat
memberikan ketukan pada pita dengan frekuensi yang tetap, sehingga
meninggalkan jejak pada pita (Daton: 2007). Jejak yang dihasilkan
ticker timer dapat digunakan untuk menyelidiki hubungan antara
perpindahan dengan waktu tempuh suatu benda, hubungan antara
kecepatan dengan waktu tempuh suatu benda serta hubungan antara
percepatan dengan waktu tempuh benda.

Pemanfaatan ticker timer dalam parakteknya memiliki beberapa


kelemahan dan kendala, yaitu diantaranya hasil jejak dari ketukan
12

ticker timer semakin lama terlihat tidak jelas, hal ini karena kertas
karbon yang digunakan untuk memunculkan jejak akan semakin habis.
Selain itu penggunaan kertas pita pada ticker timer secara langsung
memberikan hambatan pada pergerakan kereta dinamika. Kedua hal
ini dapat mengakibatkan data yang diperoleh menjadi tidak akurat
dan berpotensi dapat menimbulkan miskonsepsi pada siswa. Salah satu
miskonsepsi yang umumnya terjadi pada eksperimen ini ialah
perubahan massa benda berpengaruh terhadap percepatan gerak benda
tersebut pada bidang miring. Salah satu solusi yang dapat dilakukan
untuk memperoleh data parameter pergerakan benda yang lebih akurat
ialah teknologi analisis video. Pada rekaman video dapat diperoleh
informasi tentang perubahan posisi benda sebagai fungsi waktu yang
kemudian dapat dianalisis sehingga diperoleh informasi kecepatan dan
percepatan gerak benda. Berangkat dari pemikiran tersebut maka video
dapat digunakan untuk eksperimen mekanika secara umum (Ristanto:
2011).

Aplikasi analisis video yang dapat digunakan diantarnya adalah


aplikasi Tracker. Aplikasi ini mampu merekam dan menganalisis
parameter gerak benda setiap waktu, baik itu posisi benda, kecepatan
benda maupun percepatan gerak benda (Douglas: 2012). Pemanfaatan
aplikasi tracker pada eksperimen GLBB akan menghasilkan parameter
gerak benda yang lebih akurat, sehingga diharapkan dengan metode ini
siswa akan mendapatkan pengetahuan yang benar dan terhindar dari
miskonsepsi.

b. Metode
Metode penelitian yang digunakan ialah metode eksperimen untuk
membandingkan hasil pengolahan data menggunakan dua metode,
yaitu menggunakan ticker timer dan aplikasi tracker guna menentukan
metode yang lebih tepat. Pada penelitian ini digunakan set alat
percobaan kereta dinamika yang terdiri dari satu kereta dinamika, ticker
13

timer, kertas pita, beban tambahan kereta, dan rel lintasan kereta
dinamika yang dapat diatur kemiringannya seperti yang ditunjukkan
gambar 1.

Gambar 1. Skema alat percobaan kereta dinamika.

Ticker timer dihubungkan dengan sumber tegangan AC dengan


frekuensi 50 Hz sehingga dapat diketahui jarak antara ketukan yang
berdekatan yaitu 0,02 detik. Gerakan kereta dinamika direkam
menggunakan kamera resolusi tinggi (high definition, HD) dengan
kecepatan pengambilan gambar sebesar 24 frame/detik (24 fps). Untuk
mendapatkan gambar video pergerakan kereta dinamika yang jelas,
digunakan papan putih (white board) sebagai latar belakang
(background) set alat eksperimen.

Percobaan dilakukan dengan mengubah-ubah massa kereta dinamika


dengan sudut kemiringan yang tetap yaitu 8o dan kemudian mengulangi
kembali percobaan mengubah massa kereta dinamika dengan
kemiringan yang berbeda dari percobaan pertama yaitu dengan
kemiringan 5o. Terdapat 2 sumber data yang diperoleh dari percobaan,
yaitu hasil rekaman video gerakan kereta dinamika dan hasil jejak
gerakan pada kertas pita hasil ketukan ticker timer.

Pengolahan data yang dilakukan yaitu dengan menganalisis video


percobaan menggunakan aplikasi tracker untuk mendapatkan nilai
percepatan kereta dinamika dari kemiringan grafik v = f(t). Sedangkan
untuk sumber data kertas pita ticker timer, pengolahan data dilakukan
secara manual, yaitu dengan mengukur jarak ketukan pada pita kertas
untuk mendapatkan grafik kecepatan terhadap waktu dengan bantuan
14

aplikasi microcal origin dan menentukan percepatan kereta dinamika


dari kemiringan grafik tersebut.

Hasil pengolahan data menggunakan aplikasi tracker dan menggunakan


ticker timer dibandingkan untuk mendapatkan data yang lebih akurat
dan konsisten. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan metode yang lebih
baik dalam pengolahan data eksperimen GLBB sehingga
menghindarkan siswa dari miskonsepsi.

d. Hasil dan Pembahasan


Berdasarkan hasil percobaan diperoleh dua jenis data yaitu data video
dan data kertas pita hasil ketukan ticker timer. Pada kedua data hasil
percobaan menunjukkan kereta dinamika yang dilepaskan pada bidang
miring bergerak turun dengan kecepatan yang berubah-ubah. Pada data
video tracker, perubahan kecepatan gerak kereta dapat dilihat dari jarak
antara titik (merah) yang semakin membesar. Hal ini terlihat juga pada
kertas pita, dimana jarak titik (hitam) hasil ketukan ticker timer semakin
menjauh dalam waktu yang sama. Kedua hasil ini menunjukkan bahwa
kereta dinamika bergerak dengan percepatan tertentu.

Nilai percepatan kereta dinamika dari kedua data diperoleh dari grafik
perubahan kecepatan terhadap waktu (v=f(t)) yaitu merupakan
kemiringan grafik (v=f(t)). Berdasarkan pengolahan data menggunakan
aplikasi tracker pada rekaman video dan pengolahan data menggunakan
microcal origin pada data hasil ticker timer diperoleh grafik perubahan
kecepatan terhadap waktu sebagai berikut:
15

(a) (b)
Gamba 2. Grafik perubahan kecepatan terhadap waktu: a) hasil
pengolahan data Tracker;b) hasil pengolahan data microcal origin dari
pita hasil ketukan ticker timer.

Gambar 2. menunjukkan grafik perubahan kecepatan kereta dinamika


terhadap waktu untuk salah satu percobaan yang dilakukan. Nilai
percepatan diperoleh dengan membandingkan persamaan grafik
tersebut dengan persamaan linier seperti tertera pada bagian bawah
kedua grafik tersebut.

Pengolahan dan Analisis data dari video dan kertas pita ticker timer
dilakukan untuk semua massa dan sudut yang berbeda, sehingga
diperoleh beberapa nilai percepatan seperti ditunjukkan pada tabel 1.

Tabel 1. Percepatan kereta dinamika.

Berdasarkan hasil pengolahan data dengan menggunakan aplikasi


tracker dan manual (pita ticker timer) seperti ditunjukkan tabel 1,
16

diperoleh bahwa nilai percepatan gerak kereta dinamika hasil


pengolahan tracker lebih akurat dan konsisten dibandingkan dengan
nilai percepatan dari pita ticker timer. Hal ini terlihat dari variasi nilai
percepatan pada sudut tetap dengan massa yang diubah-ubah. Pada
sudut kemiringan 5o, analisis tracker menghasilkan nilai percepatan
yang konsisten begitupun pada sudut 8o walaupun pada percobaan
ketiga terjadi perubahan. Hasil analisis yang ditampilkan pada tabel 1
menunjukkan bahwa massa benda memang tidak berpengaruh terhadap
nilai percepatan gerak untuk kemiringan yang sama (dengan asumsi
gesekan sangat kecil sehingga dapat diabaikan).

Berbeda dengan hasil pengolahan tracker, hasil pengolahan data pita


ticker timer menghasilan data yang sangat bervariatif pada percobaan
dengan sudut yang tetap. Hal ini diprediksi terjadi karena pola ketukan
yang terlihat pada kertas pita kurang jelas sehingga mempengaruhi
pengukuran perubahan posisi benda terhadap waktu yang pada
akhirnya berimbas pada nilai parameter gerak lainnya. Selain itu, kertas
pita ticker timer yang dipasang dibelakang kereta dinamika secara
langsung memberikan hambatan pada gerakan kereta karena kertas pita
bergerak melewati ticker timer yang setiap saat mengetuk dengan
frekuensi 50 Hz (sesuai sumber listrik AC yang digunakan). Walaupun
demikian kedua pengolahan data yang dilakukan menunjukkan bahwa
percepatan gerak benda sangat dipengaruhi oleh kemiringan
lintasannya.

B. Jurnal Internasional
1) Latar Belakang dan tujuan penelitian
Banyak siswa muda memiliki kesalahpahaman (Kavanagh dan Sneider
2006) tentang gerakan jatuh bebas dan representasi saintifiknya,
misalnya dalam grafik yang menampilkan perpindahan versus waktu (y
terhadap t), kecepatan versus waktu (vs terhadap t) dan percepatan
versus waktu (ay terhadap t). Bila ini tidak dipahami dengan baik, sulit
17

untuk menggunakannya untuk menerapkan penalaran deduktif dalam


skenario yang berbeda, seperti melempar bola ke atas dengan kecepatan
awal yang lebih tinggi atau di permukaan Bulan.

Sementara penggunaan contoh kehidupan nyata (seperti melempar bola


ke pertunjukan bebas jatuh) dapat dilakukan oleh siswa di kelas, namun
demikian menantang bagi mereka untuk menerjemahkan pandangan
dunia ini ke koordinat x dan y dalam representasi kelas awal yang khas.
(Wong et al 2011).
Studi ini melibatkan penerapan dua 70 menit pelajaran laboratorium
komputer yang menggunakan vide tracker. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui nilai gain belajar dari dua pelajaran laboratorium
komputer 75 menit yang menambahkan alat Tracker dan sumber daya
ke praktik pengajaran sekolah Singapura yang khas untuk topik
penurunan bebas kinematis. Gain dinilai dengan menggunakan ukuran
efek Cohen dan analisis regresi gain Hake yang normal (Hake 1998).

2) Metode
Desain penelitian. Pendekatan studi kasus diadopsi dengan tujuan
memberikan analisis deskriptif yang sangat bagus tentang dampak
penggunaan Tracker pada pembelajaran siswa di lingkungan sekolah
yang normal.

Peserta Peserta dalam penelitian ini ditunjukkan pada tabel 1. Dalam


pelajaran laboratorium komputer berukuran 2 × 75 menit siswa kelas
menengah tiga (15 tahun) dibagi menjadi kelas ~ 40 murid, dengan
sepasang guru per kelas.

Rencana belajar. Rencananya adalah menggunakan 2 x 75 menit


pelajaran laboratorium komputer untuk memungkinkan siswa
mendapatkan pengalaman pribadi tentang gerakan bola
'menghembuskan'. Lembar kerja berfungsi sebagai panduan untuk
18

mendukung penggunaan Tracker dan juga untuk meminta siswa


memprediksi-amati-jelaskan (Radovanović dan Sliško 2013) apa yang
seharusnya mereka pahami.

Pengembangan profesional guru Keenam guru diperkenalkan ke


Tracker kira-kira tiga bulan sebelum pelaksanaan pelajaran. Guru TKK
memimpin sesi pelatihan dengan tiga guru fisika lainnya di sekolah
sebagai bagian dari upaya tim pembelajaran komunitas profesional di
Singapura, a Inisiatif 2012 dari Singapore Ministry of Education.
Mereka merancang lembar kerja dalam rapat dua minggu reguler dan
menggunakan situs Google5 untuk pengembangan profesional dan
pemeliharaan praktik pengajaran kesetiaan yang konsisten dan tinggi.

Aktivitas laboratorium. Para guru membimbing para siswa, dibantu oleh


lembar kerja yang disesuaikan yang menunjukkan langkah-langkah
yang diperlukan untuk membuka Tracker dan memuat video
'tossup.mov' menggunakan komputer staf pengajar dan proyektor
laboratorium (gambar 1). Biasanya, satu guru menunjukkan dan
menjelaskan cara menggunakan Tracker, dengan satu atau dua guru
lainnya berkeliling untuk membantu masalah yang timbul dari aktivitas
langsung.

Lembar kerja tersedia di stacks.iop.org/ PhysED / 50/436 / mmedia


(perihal investigasi gratis dengan tracker-student 2.docx), tempat siswa
mengisi bagian kosong hasil cetakan. Ada tiga pasang guru, dan masing-
masing pasangan mengajar satu kelas dengan jumlah siswa N = 123.
Kuesioner pilihan ganda pilihan konseptual digunakan dalam tes pra-
pasca untuk dijadikan indikasi. dari hasil belajar yang dihasilkan setelah
tiga minggu pelajaran kinematis berbasis komputer tradisional dan
berbasis komputer.
19

3) Hasil penelitian

Peneliti hanya menggunakan data pra-uji sebesar dan di bawah 50%,


karena <g> umumnya negatif untuk skor pra-tes 62,5% dan 75%, dan
tidak ada siswa dengan 87,5% atau 100%. Wawancara kami dengan
delapan siswa menyarankan bahwa keuntungan negatif mungkin
dikaitkan dengan waktu pre-test yang lebih lama 15 menit
dibandingkan dengan waktu pasca ujian 10 menit dan manfaat diskusi
rekan selama pre-test.

Kecenderungan umum tidak terpengaruh dengan mengabaikan skor


dari 62,5 dan 75%, sehingga kami memilih skor 50% dan di bawah
untuk menyederhanakan presentasi. Hasil dari melewati (0%,0%)
regresi linier menggunakan data <g> dalam persentase versus skor pre-
test (gambar 3) menunjukkan bahwa keuntungan normalisasi tiga kelas
<g> mendekati klasifikasi gain medium: <g> C = 0,40 (biru) , <g> I =
0,50 (merah), <g> R = 0,45 (hijau) dan <g> total = 0,42 (ungu) berada
dalam kisaran gra- dients jauh di atas kenaikan normal normal <g>
tradisional = 0,23.

Berdasarkan perbedaan mean standar, Cohen's d = 0,79 (efek besar) dan


analisis gain normal <g> = 0,42 (medium gain), bukti menunjukkan
bahwa siswa belajar tentang konsep kinematika lebih efektif daripada
pelajaran tradisional pasif dan non-interaktif

'Kami dapat melihat hubungan antara kehidupan nyata [video] dan


grafik [ilmiah] [s]. Tracker membantu saya untuk mengkonfirmasi teori
[dalam kinematika] yang telah saya pelajari. '

Adapun respon dari siswa yaitu 'Analisis video [Tracker] memberi saya
kesempatan untuk memeriksa data yang dikumpulkan. Saya menyadari
20

bahwa dalam pengumpulan data kehidupan nyata ada kesalahan acak,


yang ditunjukkan dari grafik diplot.'

'Dibandingkan dengan penjelasan guru di papan tulis, analisis video


memberi kita lebih banyak kesempatan untuk memiliki pengalaman
belajar yang nyata, daripada diberi makan dengan konten. Dengan
mengizinkan kami menggunakan analisis video [Tracker], kami dapat
melihat lebih tepatnya [hubungan] antara bola dan grafik yang diplot. '
'Mungkin kita bisa memiliki pelajaran praktis (tugas kinerja) dalam
kurikulum. Kami akan tertarik untuk mencobanya sendiri, melakukan
eksperimen dan merekam video itu sendiri.'

Hal tersebut membuktikan bahwa analisis menggunakan tracker


memudhkan mereka dalam mempelajari konsep gerak jatuh bebas dan
sangat tertarik untuk menggunakannya kembali.
21

III. KESIMPULAN

Adapun kesimpulan berdasaran analisis yang telah dilakukan adlaah sebagai


berikut:
a. Metode inkuiri adalah metode yang baik digunakan dalam pembelajaran
eksperimen
b. Peranan keterampilan proses sains sangat penting dalam pembelajaran fisika,
khususnya dalam pelaksanaan percobaan.
c. Secara umum dapat disimpulkan bahwa penerapan software tracker video
analyzer layak digunakan untuk menunjang pembelajaran fisika pada materi
gerak parabola dan dapat meningkatkan keterampilan proses sains siswa.
d. Pemanfaatan aplikasi tracker pada percobaan GLBB menghasilkan data
lebih akurat jika dibandingkan dengan menggunakan pita ticker timer. Dengan
pemanfaatan tracker pada percobaan GLBB diharapkan siswa mendapatkan
informasi yang benar sehingga dapat menghindarkan dan mengurangi
miskonsepsi yang dapat terjadi.
e. Siswa belajar tentang konsep kinematika lebih efektif daripada pelajaran
tradisional pasif dan non-interaktiF dan siswa sangat tertarik menggunakan
tracker dalam media pengetahuan konsepnya.
22

DAFTAR PUSTAKA

Deta, U.A., dkk. 2013. Pengaruh Metode Inkuiri Terbimbing dan Proyek,
Kreativitas, serta Keterampilan Proses Sains Terhadap Prestasi Belajar
Siswa. 2013. Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia (JPFI), Vol.9 (online).
Diakses pada tanggal 28 November 2017.

Fitriyanto, Indra dan Imam Sucahyo. 2016. Penerapan Software Tracker Video
Analyzer Pada Praktikum Kinematika Gerak. Jurnal Inovasi Pendidikan
Fisika (JIPF), Vol. 5 No.3 (Online). Diakses pada tanggal 13 November
2017.

Nurinsani, Elsa Anggiya, dkk. 2017. Optimalisasi Eksperimen Kereta Dinamika:


“Aplikasi Tracker Vs Ticker Timer” untuk Mengurangi Miskonsepsi pada
Materi Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB). Prosiding Seminar
Nasional Fisika (E-Journal) SNF2017. Vol .6 (Online). Diakses pada
tanggal 1 Desember 2017.

Wee, Loo Kang, dkk. 2015. Using Tracker to understand ‘toss up’ and free fall
motion: a case study. Paper Physic Education, IOP Publishing (Online).
Diakses pada tangga 1 Desember. 2017.
23

LAMPIRAN PAPER