Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRATIKUM

Pengaruh metabolisme obat pada hewan uji

Disusun Oleh :

Nama : Isabella Ramdha Y.P.M

NIM : 33178K17022

Semester 3 Tingkat II

STIKES MUHAMMADIYAH KUNINGAN


Jl. Pangeran Adipati No D4 Rt.09 rw.03 Blok Cisumur

Kelurahan Cipari-Cigugur

Kuningan
Pengaruh Metabolisme Obat Pada Hewan Uji

I. Tujuan Pratikum
Untuk menganalisis efek metabolisme Diazepam yang diberikan secara
bersamaan dengan Cimetidin

II. Dasar Teori


Metabolisme obat atau sering disebut biotransformasi. metabolisme obat
terjadi terutama di hati, yakni di membran endoplasmic reticulum (mikrosom)
dan di cytosol. Tempat metabolisme yang lain (ekstrahepatik) adalah pada
dinding usus, ginjal, paru , darah, otak dan kulit, juga lumen kolon (oleh flora
usus). (farmakologi dan terapi edisi revisi V, 2008)

Tujuan metabolisme obat adlah mengubah obat yang nonpolar (larut air)
agar dapat diekskresi melalui ginjal atau empedu. Dengan perubahan ini obat
aktif umumnya diubah menjadi inaktif, tapi sebagian berubah menjadi lebih aktif,
kurang aktif, atau menjadi toksik. (Farmakologi dan terapi edisi revisi V, 2008)

Biotransformasi atau metabolisme obat ialah proses perubahan struktur


kimia obat yang terjadi didalam tubuh dan dikatalis oleh enzim (Syarif,1995).
metabolisme obat mempunyai dua efek penting yaitu :

1. Obat menjadi lebih hidrofilik. hal ini mempercepat ekskresinya


melalui ginjal karena metabolit yang larut dalam lemak tidak mudah
diabsorbsi dalam tubuh ginjal.
2. Metabolit umunya kurang aktif dari pada obat asalnya. akan
tetapi,tidak selalu seperti itu, kadang-kadang metabolit sama aktifnya
(atau lebih aktif) dari pada obat asli. sebagai contoh, diazepam (obat
yang digunakan untuk mengobati ansietas) dimetabolisme menjadi
nordiazepam dan oxazepam, keduanya aktif. Prodrug bersifat sampai
dimetabolisme dalam tubuh menjadi aktif. Sebagai contoh; levedova,
suatu obat antiparkinson, dimetabolisme menjadi dopamin,
sementrasa obat hipotensif metildopa dimetabolisme menjadi metil
norepinerfin-α (Neal,2005)
Faktor-faktor yang mempengaruhi metabolisme obat antara lain :

1. Faktor genetik atau keturunan


Perbedaan individu pada proses metabolisme sejumlah obat kadang-
kadang terjadi dalam system kehidupan. Hal ini menunjukan bahwa
faktor genetik atau keturunan akut ikut berperan terhadap adanya
perbedaan kecepatan metabolisme obat.
2. Perbedaan spesies dan galur.
Pada proses metabolisme obat, perubahan kimia yang terjadi pada
spesies dan galur kemungkinan sama atau sedikit berbeda, tetapi kadang-
kadang ada perbedaan yang cukup besar pada reaksi metabolismenya.
3. Perbedaan jenis kelamin
Pada spesies binatang menunjukan ada pengaruh jenis kelamin terhadap
kecepatan metabolisme obat.
4. Perbedaan umur
5. Penghambatan enzim metabolisme
Kadang-kadang pemberian secara bersama-sama suatu senyawa yang
menghambat kerja enzim-enzim metabolisme dapat meningkatkan
intensitas efek obat, memperpanjang masa kerja obat dan kemungkinan
jugta meningkatkan efek samping dan toksisitas.
6. Induksi enzim metabolisme (Mardjono, 2005)

Cimetidine

Pengobatan tukak usus, tukak lambuf aktif, refleks gastroesophagus


yang erisif, hipersekresi patologis seperti pada sindrom zollinger, ellison,
mastosis sistemik, adenoma endokrin multiple.

Cimetidin adalah antihistamin penghambat reseptor H2 secara selektif


dan reversible. penghambat reseptor H2 akan menghambat sekresi asam
lambung, baik pada keadaan istirahat maupun setelah perangsangan oleh
makanan, histamine, pentagastrin, insulin dan kafein.

Pada pemberian oral, simetidin diabsorbsi dengan baik dan cepat,


tetapi sedikit berkurang bila ada makanan atau antasida. Kadar puncak dalam
plasma dicapai dalam 1-2 jam setelah pemberian, dengan waktu paruh 2-3
jam. simetidin diekresikan sebagian besar bersama urin dan sebagian kecil
bersama feses.

Diazepam

Gangguan kecemasan, insomnia, melemaskan otot kejang, kejang karena


epilepsi atau kejang demam, gejala putus alkohol, anestesi
III. Alat dan Bahan
A. Alat
1. Batang pengaduk
2. Beaker
3. Gelas ukur
4. Hot Plate
5. Mixer
6. Spoit Oral
7. Stop Watch
8. Timbangan Berat Badan
B. Bahan yang digunakan
1. Tablet diazepam
2. Tablet Cimetidine
3. Alkohol 70%
4. Aqua Destillata
5. Natrium CMC
IV. Prosedur kerja
1. Pembuatan Natrium CMC
a. Panaskan kurang lebih air 200 ml hingga mendidih
b. Timbang Natrium CMC sebanyak 1 gram
c. Masukan Natrium CMC kedalam beaker glass 300 ml lalu tambahkan 50
ml air panas
d. Aduk campuran tersebut dengan mixer hingga homogen, ditandai dengan
tidak nampaknya lagi serbuk berwarna putih dan campuean berupa
seperti gel
e. Tambahkan air panas sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga volume
larutan tersebut menjadi 100 ml, dinginkan.

2. Cara pembuatan suspensi oral Diazepam


a. Ambil 2 tablet Diazepam
b. Masukan serbuk Diazepam yang sudah ditimbang lumpang, tambahkan
sekitar 50 ml larutan Natrium CMC, aduk hingga homogen
c. Pindahkan ke suspensi Diazepam tersebut kedalam erlenmeyer lalu
cukupkan volumenya hingga 100 ml dengan larutan Natrium CMC 1%

3. Cara pembuatan suspensi Cimetidin


a. Ambil 2 tablet Cimetidine lalu gerus hingga halus, lalu timbang sebanyak
yang dibutuhkan sesuai dengan perhitungan.
b. Masukan serbuk Cimetidine yang sudah ditimbang lumpang, tambahkan
sekitar 50 ml larutan Natrium CMC aduk hingga homogen.
4. Pelaksanaan
a. Gunakan mencit jantan sebanyak 3 ekor
b. Ditimbang berat badan tiap mencit lalu catat
c. Mencit kemudian dikelompokan secara rawu kedalam 4 kelompok, tiap
kelompok terdiri dari 3 ekor, dimana kelompok I sebagai kelompok oral
yang diberikan suspensi Diazepam dan Cimetidin, kelompok 2 sebagai
kontrol diberi Natrium CMC 1%, kelompok 3 sebagai kelompok oral yang
diberikan suspensi Diazepam dan kelompok 4 sebagai kelompok oral yang
diberikan suspensi Cimetidine.
d. Semua pemberian dilakukan secara oral dengan dosis 0,2 ml/30 gram BB
mencit
e. Setiap pemberian obat dicatat waktunya, kemudian mencit diamati
berapa lama waktu yang dibutuhkan mulai tertidur (onset) berapa lama
waktu tidur mencit tersebut (durasi), dengan mengamati reflek balik
badan mencit
V. Perhitungan
 Perhitungan Mencit I
Dosis lazim untuk manusia = 200 mg
Konversi dosis untuk mencit 20 gram = dosis lazim x Faktor konversi
= 200 mg x 0,0026
= 0,52 mg
Untuk mencit dengan berat 30,61 gram = 30,61 gram x 0,52 mg
20 gram
= 0,79 mg ~ 0,80 mg
Dosis ini diberikan dalam volume = 0,2 ml
Dibuat larutan persediaan sebanyak = 100 ml
Jumlah Cimetidine yang digunakan = 100 ml x 0,80
20 ml
= 400 mg ~ 0,4 gram
% kadar Cimetidine = 0,4 gram x 100%
100 ml
= 0,4 gram

Jika akan digunakan tablet Cimetidine, maka timbang tablet Cimetidine


yang akan digunakan
Berat 2 tablet Cimetidine = 660 mg / 330 mg
Berat serbuk Cimetidine yang ditimbang = 0,4 gram x 660 mg
330 mg
= 0,8 gram atau 800 mg

 Perhitungan mencit II
Dosis lazim untuk manusia = 200 mg
Konversi dosis untuk mencit 20 gram = dosis lazim x Faktor konversi
= 200 mg x 0,0026
= 0,52 mg
Untuk mencit dengan berat 30,11 gram = 30,11 gram x 0,52 mg
20 gram
= 0,782 mg
Dosis ini diberikan dalam volume = 0,2 ml
Dibuat larutan persediaan sebanyak = 100 ml
Jumlah Cimetidine yang digunakan = 100 ml x 0,782
20 ml
= 390 mg ~ 0,39 gram
% kadar Cimetidine = 0,39 gram x 100%
100 ml
= 0,39 gram
Jika akan digunakan tablet Cimetidine, maka timbang tablet Cimetidine
yang akan digunakan
Berat 2 tablet Cimetidine = 660 mg / 330 mg
Berat serbuk Cimetidine yang ditimbang = 0,39 gram x 660 mg
330 mg
= 0,78 gram atau 780 mg

 Perhitungan Mencit III


Dosis lazim untuk manusia = 200 mg
Konversi dosis untuk mencit 20 gram = dosis lazim x Faktor konversi
= 200 mg x 0,0026
= 0,52 mg
Untuk mencit dengan berat 27 gram = 27 gram x 0,52 mg
20 gram
= 0,702 mg
Dosis ini diberikan dalam volume = 0,2 ml
Dibuat larutan persediaan sebanyak = 100 ml
Jumlah Cimetidine yang digunakan = 100 ml x 0,702
20 ml
= 351 mg ~ 0,351 gram
% kadar Cimetidine = 0,351 gram x 100%
100 ml
= 0,351 gram

Jika akan digunakan tablet Cimetidine, maka timbang tablet Cimetidine


yang akan digunakan
Berat 2 tablet Cimetidine = 660 mg / 330 mg
Berat serbuk Cimetidine yang ditimbang = 0,351 gram x 660 mg
330 mg
= 0,702 gram atau 702 mg
VI. Tabel Hasil Pengamatan
1. Data pengamatan volume pemberian obat pada mencit
Kelompok Replikasi BB Mencit Volume Pemberian
1 35,59 gram 0,2 ml
Kontrol 2 20,73 gram 0,2 ml
3 31,53 gram 0,2 ml
1 23,70 gram 0,2 ml
Diazepam 2 21,6 gram 0,2 ml
3 21,5 gram 0,2 ml
1 30,61 gram 0,2 ml
Cimetidin 2 30,11 gram 0,2 ml
3 27 gram 0,2 ml
Diazepam + Cimetidine 1 20 gram 0,2 ml
2 22 gram 0,2 ml
3 23 gram 0,2 ml

2. Data pengamatan percobaan pengaruh Absorbsi Obat


Kelompok Replikasi Jam Reflek balik badan (pada Durasi
pemberian jam)
Hilang Kembali
1 11:24 - - -
Kontrol 2 11:27 - - -
3 11:28 - - -
1 11:24 - - -
Diazepam 2 11:27 11:43 11:51 8 menit
3 11:28 11:45 11:50 5 menit
1 11:24 11:40 11:41 1 menit
Cimetidine 2 11:27 11:34 11:37 3 menit
3 11:28 11:52 11:56 4 menit
Diazepam + 1 11:24 11:37 11:45 8 menit
Cimetidine 2 1127 11:41 12:28 47 menit
3 11:28 11:43 12:31 48 menit
VII. Grafik

1. Kontrol Natrium CMC

Kontrol Natrium CMC


1.6

1.4 11:28

1.2

1
11:27
Replikasi 3
0.8
Replikasi 2
0.6
11:24 Replikasi 1
0.4

0.2

0 0
0:00 0:00 0:00 0:00
kelompok jam hilang kembali durasi
pemberian

2. Diazepam

Diazepam
1.6

1.4 11:28

1.2

1 11:45 11:50
11:27
Replikasi 3
0.8
Replikasi 2
0.6
5:00 Replikasi 1
11:24 11:43 11:51
0.4
8:00
0.2

0 00:00 0:00 0:00 0:00


kelompok jam hilang kembali durasi
pemberian
3. Cimetidine

Cimetidine
1.6
11:28 11:52 11:56
1.4
1.2
1 11:27 11:34 11:37
Replikasi 3
0.8
0.6 Replikasi 2
11:24 11:40 11:41 Replikasi 1
0.4
4:00
0.2 3:00
0 00:00 1:00
kelompok jam hilang kembali durasi
pemberian

4. Diazepam + Cimetidine

Diazepam+Cimetidine
1.8
1.6
12:31
1.4 11:28 11:43

1.2
1 11:27 11:41 12:28 Replikasi 3
0.8
Replikasi 2
0.6
11:24 11:37 11:45 Replikasi 1
0.4 0:48:00
0:47:00
8:00
0.2
0 0
0:00
kelompok jam hilang kembali durasi
pemberian
VIII. Pembahasan
Pada pratikum kali ini, tiap kelompok menggunakan mencit sebanyak 3
ekor dimana yang sebelum mencit itu digunakan untuk pratikum ditimbang
telebih dahulu di timbangan berat badan, lalu hasil dari timbangan berat tiap
mencit dicatat yang nanti nya akan digunakan untuk perhitungan pembuatan
suspensi Cimetidine. Pada pratikum kali ini, tiap kelompok menyuntikan suspensi
obat nya hanya melalui satu rute, yaitu hanya menggunakan rute oral
(dimasukan kedalam mulut mencit)

Untuk pemberian suspensi Cimetidine pada mencit pertama, pada saat


pemberian suspensi obat nya larutan suspensi Cimetidine masuk secara
keseluruhan kedalam mencit dalam artian tidak ada larutan suspensi Cimetidine
yang berceceran. Pada saat setelah disuntikan suspensi ini mencit langsung
menggerakan tangan nya ke daerah mulutnya seperti gerakan menyeka mulut.
Lalu setelah menunggu selama 16 menit setelah pemberia suspensi cimetidine
barulah si mencit mulai diam dan mulai tertidur (Onset) lalu selang satu menit
setelah mencit tidur, si mencit bangun kembali (Durasi). Jadi efek dari suspensi
Cimetidine pada mencit yang pertama ini hanya berlangsung selama 1 menit.

Pada pemberian Suspensi Cimetidine pada mencit kedua, pada saat


pemerian suspensi cimetidine ini larutan suspensi nya ada yang tercecer karena
pada saat penyuntikan suspensi melalui oral si mencit tidak mau diam atau terus
saja bergerak sepeti ingin memberontak. Pada saat setelah disuntikan sama
seperti mencit pertama yaitu tangan nya seperti menyeka mulutnya lalu
diam.pada menit ke 7 setelah pemberian suspensi ini, mencit mulai mengantuk
dan perlahan-lahan tertidur (Onset) lalu 3 menit kemudian mencit kembali
terbangun (Durasi). Jadi Efek dari suspensi Cimetidine pada mencit kedua
berlangsung selama 3 menit.

Dan pemberian terakhir suspensi cimetidine pada mencit ke tiga, untuk


proses penyuntikan nya sama seperti mencit yang pertama yaitu larutan suspensi
masuk semua kedalam mulut mencit dan tidak ada yang berceceran keluar dari
mulut si mencit. Lalu setelah disuntikan suspensi cimetidine nafas mencit ini
langsung berlangsung sangat cepat dari biasanya, lalu lama kelamaan mencit ini
diam dan akhirnya tertidur pada menit ke 24 setelah pemberian suspensi
cimetidine (Onset) lalu 4 menit kemudian mencit mulai terbangun dan aktif
kembali (Durasi).

Dari hasil seluruh pengamatan yang dilakukan pada mencit kesatu, kedua
dan ketiga bahwa mencit pertama dengan berat badan 30,61 gram dengan onset
nya 16 menit dan durasi nya selama 1 menit. Untuk mencit kedua dengan berat
badan 30,11 gram mendapatkan hasil onset 7 menit dan durasi selama 3 menit.
dan yang terakhir yaitu mencit ketiga dengan berat 27 gram mendapatkan hasil
onset selama 24 menit dan durasi selama 4 menit. Dapat disimpulkan dari hasil
pengamatan kelompok saya bahwa mencit dengan berat paling kecil (mencit 3)
memiliki onset yang paling cepat yaitu pada menit ke tujuh, sedangkan untuk
durasi paling lama juga terjadi pada mencit ke tiga. Hal ini mungkin dapat
disebabkan karena berat badan mencit yang berbeda, mencit yang berat badan
nya kecil lebih cepat mendapatkan efek dari obat tersebut karena tidak banyak
nya lemak yang terdapat didalam tubuhnya, sedangkan yang berat badan nya
agak berat waktu efek si obat nya bekerja didalam tubuh jadi agak lambat atau
lama dibanding mencit yang berat badannya lebih kecil. Dari faktor pada saat
pemberian juga mungkin dapat mempengaruhi, seperti yang saya jabarkan diatas
bahwa mencit kesatu dan ketiga larutan suspensi nya masuk semua (tidak
berceceran) dan hanya mencit yang kedua saja yang pada saat pemberian
suspensinya berceceran. tetapi walaupun mencit kedua pemberian suspensi nya
berceceran mencit kedua masih tetap memberikan hasil onset nya lebih cepat
dibandingankan mencit kesatu karena dari faktor berat badan antara mencit
kesatu dan kedua yang jauh berbeda.

Untuk pembahasan kali ini saya akan membandingan hasil pengamatan


dari kelompok 4 yaitu suspensi Cimetidine dengan kelompok 3 yaitu suspensi
Diazepam. untuk onset yang didapatkan pada kelompok suspensi Diazepam ini
onset yang paling lama yaitu pada mencit ketiga dengan onset selama 17 menit
dan Durasi paling lama pada mencit kedua yaitu selama 8 menit.Tetapi pada
kelompok dengan pemberian suspensi Diazepam, pada mencit pertama tidak
terjadi onset maupun Durasi dikarenakan mencit tidak tertidur setelah diberikan
suspensi larutan tersebut. Sedangkan kelompok Cimetidine untuk ketiga
mencitnya semuanya terdapat Onset dan Durasi. Seharusnya untuk kelompok
pemberian suspensi Diazepam mencitnya tertidur yang menandakan timbul nya
efek obat diazepam nya, karna obat Diazepam nya itu sendiri merupakan obat
yang dapat memberikan ketenangan, beda dengan obat Cimetidine yang hanya
sebagai obat untuk saluran cerna yang didalam nya terkandung banyak asam
atau yang sering biasa kita sebut sebagai maag atau tukak lambung. Tidak
muncul nya efek obat pada mencit pertama kelompok Suspensi Diazepam
mungkin karena faktor pada saat pemberian nya, yaitu larutan suspensi nya tidak
masuk semua atau berceceran yang akhirnya tidak ada obat Diazepam nya yang
masuk kedalam tubuh mencit yang akhirnya tidak menimbulkan efek obat
apapun. Untuk hasil Onset Kelompok suspensi Diazepam lebih lama dibandingan
dengan Onset kelompok suspensi Cimetidine, Tetapi pada durasi kelompok
suspensi Diazepam memiliki durasi paling lama dibandingkan dengan kelompok
suspensi Cimetidine.
IX. Kesimpulan
Pada pratikum “Pengaruh Metabolisme Obat Pada Hewan Uji” mencit
yang digunakan yaitu sebanyak 3 ekor tiap kelompok dan semua mencit
menggunakan mencit jantan yang sebelum memulai pratikum mencit sudah
ditimbang terlebih dahulu pada timbangan berat badan. Rute pemberian pada
pratikum kali ini menggunakan rute pemberian secara oral dengan volume
pemberian yang diberikan yaitu sebanyak 0,2 ml tiap mencitnya dan Obat yang
dimasukan kedalam tubuh mencit yaitu menggunakan suspensi Cimetidine. Hasil
pengamatan yang didapat yaitu onset tercepat yaitu selama 7 menit pada mencit
kedua, dan onset paling lambat atau lama yaitu selama 24 menit pada mencit
ketiga. untuk hasil pengamatan yang didapat untuk durasi, durasi paling tercepat
yaitu pada mencit pertama dengan durasi 1 menit dan durasi paling lama yaitu
pada mencit ke tiga dengan durasi 4 menit.
X. Daftar Pustaka
Neal, M. J., 2005, Farmakologi Medis Edisi Kelima, Erlangga : Jakarta
Syarif, Amin, 1995, Farmakologi Dan Terapi Edisi IV, Bagian Farmakologi Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia : Jakarta
Mardjono, Mahar, 2005, Farmakologi Dan Terapi Edisi 4, Gaya baru : Jakarta

XI. Lampiran

Anda mungkin juga menyukai