Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pemahaman terhadap konsep pendapatan dan beban

memerlukan analisis yang hati-hati terhadap karekteristik dari

transaksi yang berkaitan dengan laporan laba rugi perusahaan. Ada

elemen laporan lain yang sifatnya hampir sama dengan

pendapatan dan beban namun sebaiknya tidak dimasukkan

sebagai komponen pendapatan dan beban. Karekteristik suatu

komponen laporan laba rugi dapat dipahami dengan mengenali

batasan atau pengertian yang berkaian dengan pendapatan dan

beban.

Dengan pemahaman seperti ini, transaksi yang berkaitan

dengan pendapatan dan beban dapat dengan mudah diidentifikasi

sehingga dapat disajikan dengan benar dalam laporan keuangan.

Dalam makalah ini akan membahas tentang pendapatan dan

beban sebagai dasar pencatatan nilai dalam akuntansi.

Sebagian besar transaksi pendapatan dan beban

menimbulkan beberapa masalah dalam pengakuannya. Hal ini

karena dalam banyak kasus, transaksi tersebut adalah dimulai dan

selesai pada waktu yang sama. Namun tidak semua transaksi

sesederhana itu.

1
Pengakuan pendapatan dan beban merupakan aktivitas

yang paling berisiko dimanipulasi (top fraud risk) dan apapun

standar akuntansi yang digunakan, baik IFRS maupun GAAP,

risiko atau kesalahan dan ketidakakuratan dalam pelaporan

pendapatan dan beban jumlahnya sangat besar.

Pendapatan dan beban sebagai elemen penentuan laba rugi

suatu perusahaan. Dalam beberapa dasawarsa belakangan ini,

perhatian pada perhitungan laba rugi semakin dirasakan

manfaatnya. Dengan adanya informasi mengenai pendapatan dan

beban, maka dapat membandingkan antara modal yang tertanam

dengan penghasilan sebagai alat untuk mengukur kinerja efisiensi

perusahaan dan dapat memprediksi distribusi dividen di neraca

yang akan datang.

2
B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud pendapatan?

2. Apa yang dimaksud beban ?

3. Bagaimana pengukuran pada pendapatan dan beban ?

4. Bagaimana pengungkapan pada pendapatan dan beban ?

5. Bagaimana penyajian pada pendapatan dan beban ?

C. Tujuan Masalah

1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan pendapatan.

2. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan beban.

3. Untuk mengetahui pengukuran pada pendapatan dan beban.

4. Untuk mengetahui pengungkapan pada pendapatan dan beban.

5. Untuk mengetahui penyajian pada pendapatan dan beban.

3
BAB II

PEMBAHASAAN

A. PENDAPATAN
1. Pengertian Pendapatan

Pendapatan adalah kenaikan/pertambahan laba yang

berasal dari kegiatan utama perusahaan. Biasanya dinyatakan

dalam satuan moneter. Secara garis besar konsep pendapatan

dapat ditinjau dua segi, yaitu :

1) Menurut ilmu ekonomi


Pendapatan menurut ilmu ekonomi merupakan nilai

maksimum yang dapat dikonsumsi oleh seseorang dalam

suatu periode dengan mengharapkan keadaan yang sama

pada akhir periode seperti keadaan semula. Pengertian

tersebut menitikberatkan pada total kuantitatif pengeluaran

terhadap konsumsi selama satu periode. Dengan kata lain,

pendapatan adalah jumlah harta kekayaan awal periode

ditambah keseluruhan hasil yang diperoleh selama satu

periode, bukan hanya yang dikonsumsi.


2) Menurut ilmu akuntansi

Ada beberapa pandangan diantaranya:

a. Paton, pendapatan merupakan produk dari suatu

perusahaan.
b. Committee on Accounting Concept and Standart of the

American Accounting Association, Pendapatan adalah

4
pernyataan moneter dari keseluruhan produk dan jasa yang

ditransfer oleh suatu perusahaan kepada pelanggannya

selama periode tertentu.


c. FASB No.6, Pendapatan adalah arus kas masuk

/penambahan lainnya pada aktiva suatu satuan usaha atau

penyelesaian kewajiban (kombinasi dari keduanya ) dari

pengiriman atau produksi barang, pemberian jasa, atau

kegiatan lain yang bukan merupakan kegiatan utama.

Definisi lebih sempit menurut FASB, Pendapatan dihasilkan

dari kegiatan utama.


d. APB statement No.4, Pendapatan adalah kenaikan bruto

dalam aktiva atau penurunan bruto dalam kewajiban yang

diakui dan diukur sesuai dengan PABU yang dihasilkan dari

jenis-jenis kegiatan yang mencari laba dari suatu

perusahaan yang dapat merubah ekuitas pemilik.


e. PSAK 23,Pendapatan adalah arus masuk bruto dari

manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas normal

perusahaan selama satu periode bila arus masuk itu

mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari

kontribusi penanaman modal.

5
2. Karakteristik Pendapatan

Ada beberapa karakteristik tertentu dari pendapatan yang

menentukan atau membatasi bahwa sejumlah rupiah yang

masuk ke perusahaan merupakan pendapatan yang berasal dari

operasi perusahaan. Karakteristik ini dapat dilihat berdasarkan:

a. Sumber pendapatan

Tambahan jumlah rupiah aktiva Perusahaan dapat berasal

dari transaksi modal, laba dari penjualan aktiva yang bukan

merupakan barang dagangan (seperti: aktiva tetap, surat

berharga, ataupun penjualan anak/cabang Perusahaan),

hadiah, sumbangan/temuan, revaluasi aktiva tetap, dan

penjualan produk perusahaan.Penjualan Produk Perusahaan

Sumber utama Pendapatan.

b. Produk dan kegiatan utama Perusahaan

Produk yang dihasilkan perusahaan dapat berupa

barang/jasa.Produk perusahaan diartikan meliputi seluruh

barang/ jasa yang disediakan/diserahkan kepada konsumen

tanpa memandang jumlah rupiah relatif tiap jenis produk

tersebut atau sering tidaknya produk tersebut dihasilkan.

c. Jumlah rupiah pendapatan dan proses penandingan

Pendapatan merupakan jumlah rupiah dari harga jual per

satuan kali kuantitas terjual.Laba/rugi terjadi setelah

pendapatan dan biaya dibandingkan.Setelah biaya yang

6
dibebankan dibandingkan dengan pendapatan, maka akan

tampak pendapatan netto.

IAS 18 berisikan tata cara akuntansi untuk pengakuan

pendapatan perusahaan. Dalam IAS 18, pendapatan akan diakui

apabila terdapat kemungkinan manfaat ekonomis masa depan

akan mengalir ke entitas dan manfaat ini dapat diukur dengan

andal (reliable).

Penghasilan didefinisikan dalam Kerangka Dasar

Penyusunan dan Penyajian Laporan keuangan sebagai

peningkatan manfaat ekonomi selama suatu periode akuntansi

tertentu dalam bentuk pemasukan atau penambahan aktiva atau

penurunan kewajiban yang mengakibatkan kenaikan ekuitas,

yang tidak berasal dari kontribusi penanam modal. Penghasilan

(income) meliputi baik pendapatan (revenue) maupun

keuntungan (gain). Pendapatan adalah penghasilan yang timbul

dari aktivitas perusahaan yang biasa dan dikenal dengan

sebutan yang berbeda seperti penjualan, penghasilan jasa

(fees), bunga, dividen, royalti dan sewa.

Tujuan Pernyataan ini adalah untuk mengatur perlakuan

akuntansi untuk pendapatan yang timbul dari transaksi dan

peristiwa ekonomi tertentu. Permasalahan utama dalam

akuntansi untuk pendapatan adalah menentukan saat

pengakuan pendapatan. Pendapatan diakui bila besar

7
kemungkinan manfaat ekonomi masa depan akan mengalir ke

perusahaan dan manfaat ini dapat diukur dengan andal.

Pernyataan ini mengidentifikasikan keadaan yang memenuhi

kriteria tersebut agar pendapatan dapat diakui. Pernyataan ini

juga memberikan pedoman praktis dalam penerapan kriteria

tersebut.

Pernyataan ini tidak mengatur tentang pendapatan yang timbul

dari:

 Perjanjian sewa
 Dividen yang timbul dari investasi yang diperlakukan dengan

metode ekuitas
 Kontrak asuransi
 Perubahan nilai wajar dari asset dan liabilitas keuangan atau

pelepasannya
 Perubahan nilai aset lancar lain

 Ekstrasi hasil tambang

Pendapatan hanya meliputi arus masuk bruto dari manfaat

ekonomi yang diterima dan dapat diterima oleh entitas itu sendiri.

Dalam hubungan keagenan, arus masuk bruto manfaat ekonomi

mencakup jumlah yang ditagih untuk kepentingan principal dan

tidak mengakibatkan kenaikan ekuitas entitas. Jumlah yang

ditagih atas nama principal bukan merupakan pendapatan,

sebaliknya, pendapatan adalah jumlah komisi yang diterima.

3. Pengukuran Pendapatan

8
a) Pendapatan diukur dengan nilai wajar imbalan yang diterima

atau dapat diterima.


b) Jumlah pendapatan yang timbul dari transaksi biasanya

ditentukan oleh persetujuan antara perusahaan dan pembeli

atau pengguna aset tersebut. Jumlah tersebut diukur dengan

nilai wajar imbalan yang diterima atau dapat diterima oleh

perusahaan dikurangi jumlah diskon dagang dan rabat volume

yang diperbolehkan oleh perusahaan.


c) Pada umumnya, imbalan tersebut berbentuk kas atau setara

kas dan jumlah pendapatan adalah jumlah kas atau setara kas

yang diterima atau yang dapat diterima. Namun, bila arus

masuk dari kas atau setara kas ditangguhkan, maka nilai

wajar dari imbalan tersebut mungkin kurang dari jumlah

nominal dari kas yang diterima atau dapat diterima. Misalnya,

suatu perusahaan dapat memberikan kredit bebas bunga

kepada pembeli atau menerima wesel tagih dari pembeli

dengan tingkat bunga dibawah pasar sebagai imbalan dari

penjualan barang. Jika perjanjian tersebut secara efektif

merupakan transaksi keuangan, maka nilai wajar imbalan

ditentukan dengan pendiskontoan seluruh penerimaan di

masa depan dengan menggunakan tingkat bunga tersirat

(imputed). Tingkat bunga tersirat yang digunakan adalah yang

paling mudah ditentukan antara:

9
 tingkat bunga yang berlaku bagi instrumen yang serupa

dari suatu penerbit (issuer) dengan penilaian kredit (credit

rating) yang sama; atau


 suatu tingkat bunga untuk mengurangi (discount) nilai

nominal instrumen tersebut ke harga jual tunai pada saat

ini dari barang atau jasa.

d) Bila barang atau jasa dipertukarkan (barter) untuk barang atau

jasa dengan sifat dan nilai yang sama, maka pertukaran

tersebut tidak dianggap sebagai transaksi yang

mengakibatkan pendapatan. Hal ini sering terjadi dengan

komoditas seperti minyak atau susu di mana penyalur

menukarkan (swap) persediaan di berbagai lokasi untuk

memenuhi permintaan dengan dasar tepat waktu dalam suatu

lokasi. Jika barang dijual dan jasa diberikan untuk

dipertukarkan dengan barang dan jasa yang tidak serupa,

pertukaran tersebut dianggap sebagai transaksi yang

mengakibatkan pendapatan. Pendapatan tersebut diukur pada

nilai wajar dari barang atau jasa yang diserahkan, disesuaikan

dengan jumlah kas atau setara kas yang ditransfer.

4. Pengidentifikasian Transaksi

10
Kriteria pengakuan diterapkan secara terpisah pada setiap

transaksi dan kriteria pengakuan pendapatan diterapkan pada

komponen-komponen yang dapat diindentifikasikan secara

terpisah dari transaksi tunggal agar mencerminkan subtansi

transaksi tersebut, beberapa komponen tersebut yaitu:

a. Penjualan Barang

Pendapatan dari penjualan barang diakui jika seluruh kondisi

berikut dipenuhi:

1) Entitas telah memindahkan risiko dan manfaat kepemilikan

barang secara signifikan kepada pembeli, artinya penjual

tidak lagi tau menahu mengenai manfaat dan resiko atas

barang yang dijual hal ini melalui kesepakaantan dengan

pembeli.
2) Entitas tidak lagi melanjutkan pengolaan yang biasanya

terkait dengan kepemilikan atas barang ataupun melakukan

pengendalian efektif atas barang yang dijual. Maksudnya

penjual tidak lagi merawat mengatur dan tindakkan lainnya

terhadap barang yang telah dijual.


3) Jumlah pendapatan dapat diukur secara andal.
4) Besar kemungkinan manfaat ekonomi yang dihubungkan

dengan transaksi akan mengalir kepada entitas tersebut.

5) Biaya yang terjadi atau akan terjadi sehubungan dengan

trasaksi penjualan dapat diukur dengan andal.

11
Untuk mengetahui pada saat kapan penjualan sudah dapat

mengakui tergantung dari perjanjian jual beli yang sudah

disepakati antara kedua belah pihak. Contoh Jurnal bagi si

pembeli:

D : Persedian xxxxx

D : Ppn masukan xxxxx

K : Hutang usaha xxxxx

K : Discount pembelian xxxxx

Bila salah satu kriteria diatas tidak dipenuhi, maka

pengakuan pendapatan harus ditangguhkan.pendapatan

tidak diakui apabila entitas tersebut menahan resiko dan

manfaat kepemilikan secara signifikan dalam berbagai

cara, misalnya:

1) Jika perusahaan menahan kewajibannya sehubungan

dengan pelaksanaan suatu hal yang tidak memuaskan

yang tidak dijamin oleh ketentuan jaminan normal.

2) Jika penerimaan pendapatan dari penjualan bergantung

pada pendapatan pembelian dari penjualan barang

yang bersangkutan.

3) Jika pengiriman barang bergantung pada intalasinya

dan instalasi tersebut merupakan bagian signifikan dari

kontrak yang belum diselesaikan oleh entitas; dan

12
4) Jika pembeli berhak membatalkan pembelian

berdasarkan alasan yang ditentukan dalam kontrak dan

entitas tidak dapat memastikan apakah akan jadi retur.

b. Penjualan Jasa

Jika hasil transaksi penjualan jasa dapat diestimasi

secara andal, maka pendapatan sehubungan dengan

transaksi tersebut di akui dengan acuan pada tingkat

penyelesaian dari transaksi pada akhir acuan pada tingkat

penyelesaian dari transaksi pada akhir periode pelaporan.

Hasil transaksi dapat diestimasi secara andal jika seluruh

kondisi berikut dipenuhi:

1) Jumlah pendapatan dapat diukur secara andal.


2) Kemungkinan besar manfaat ekonomi sehubungan dengan

transaksi tersebut akan mengalir ke entitas.


3) Tingkat penyelesaian dari suatu transaksi pada akhir

periode pelaporan dapat diukur secara andal; dan

4) Biaya yang timbul untuk transaksi dan biaya untuk

menyelesaikan transaksi tersebut dapat diukur secara

andal.

Pengakuan pendapatan dengan mengacu pada tingkat

penyelesaian dari suatu transaksi sering disebut sebagai

metode sebagai metode persentase penyelesaian. Dengan

metode ini, pendapatan diakui dalam periode akuntansi pada

saat jasa diberikan. Pengakuan pendapatan atas dasar ini

13
memberikan informasi yang berguna mengenai tingkat

kegiatan jasa dan kinerja dalam suatu periode. PSAK 34:

Akuntansi Kontrak Kontruksi juga mensyaratkan pengakuan

pendpatan berdasarkan hal ini.

Persyaratan PSAK 34 secara umum berlaku untuk

pengakuan pendapatan dan beban terkait untuk transaksi

yang melibatkan pemeberian jasa. PSAK 34 Akuntansi

Kontrak Konstruksi (Accounting for Construction Contracts)

yang berbunyi “Bila hasil (outcome) kontrak konstruksi dapat

diestimasi secara andal, pendapatan kontrak dan biaya

kontrak yang berhubungan dengan kontrak konstruksi harus

diakui masing-masing sebagai pendapatan dan beban dengan

memperhatikan tahap penyelesaian aktivitas kontrak pada

tanggal neraca”.

Entitas pada umumnya dapat membuat estimasi andal

setelah entitas mencapaipersetujuan dengan pihak lain

mengenai hal-halberikut dalam transaksi:

1) Hak masing-masing pihak yang pelaksanaannya dapat

dipaksakan secara hukum terkait dengan jasa yang

diberikan dan terima pihak tersebut;


2) Imbalan yang dipertukarkan dan

3) Cara dan persyaratan penyelesaian.

14
Tingkat penyelesaian suatu transaksi dapat ditentukan

dengan berbagai metode, tergantung pada sifat transaksi,

metode tersebut dapat meliputi:

1) Survei pekerjaan yang telah dilaksanakan.


2) Jasa yang dilakukan atau

3) Proporsi biaya yang timbul hingga tanggal tertentu dibagi

estimasi total biaya transaksi tersebut.

Hanya biaya yang mencerminkan jasa yang

dilaksanankan hingga tanggal tertentu dimasukkan

dalambiaya yang terjadi hingga tanggal tersebut. Hanya biaya

yang mencerminkan jasa yang dilakukan atau akan dilakukan

dimasukkan kedalam estimasi total biaya transaksi tersebut.

Pembayaran berkala dan uang muka yang diterima dari

pelanggan sering kali tidak mencerminkan jasa yang

dilakukan. Jika hasil transaksi terkait dengan penjualan jasa

tidak dapat diestimasisecara andal, maka pendapatan diakui

hanya yang berkaitan dengan beban yang telah diakui yang

dapat dipulihkan.

c. Bunga, Royalti dan Dividen

Pendapatan dari penggunaan aset entitas oleh pihak lain yang

menghasilkan bunga, royalti, dan deviden jika:

1) Kemungkinan besar manfaat ekonomi sehubungan dengan

traansaksi tersebut akan mengalir ke entitas;

15
2) Jumlah pendapatan dapat diukur secara andal.

Pengakuan Pendapatan diakui dengan dasar sebagai berikut:

1) Bunga diakui menggunakan suku bunga efektif sesuai

PSAK 55 (revisi 2006) paragrap 08 dan PA 17-20.


2) Royalti diakui dengan dasar akural sesuaidengan subtansi

perjanjian yang relevan.

3) Deviden diakui jika hak pemegang saham untuk menerima

pembayaran ditetapkan.

5. Pengungkapan Pendapatan

Entitas mengungkapkan:

a) Kebijakan akuntansi yang digunakan untuk pengakuan

pendapatan, termasuk metode yang digunakan untuk

menentukan tingkat penyelesaian transaksi penjualan jasa.


b) Jumlah setiap kategori signifikan dari pendapatan yang diakui

selama periode tersebut, termasuk pendapatan yang berasal

dari:
 Penjulan barang
 Penjualan jasa
 Bunga
 Royalti
 Dividen

c) Jumlah pendapatan yang berasal dari pertukaran barang atau

jasa yang tercakup dalam setiap kategori signifikan dari

pendapatan.

16
B. BEBAN

1. Pengertian Beban

Pada umumnya beban (expense) sering dijadikan sinonim

kata dengan biaya (cost), tetapi menurut Soemarso (2013:29),

beban dapat didefinisikan sebagai aliran keluar terukur dari

barang atau jasa, yang kemudian ditandingkan dengan

pendapatan untuk menentukan laba atau sebagai penurunan

dalam aktiva bersih sebagai akibat dari penggunaan jasa

ekonomis dalam menciptakan pendapatan atau pengenaan

pajak oleh badan pemerintah. Beban dalam arti luas termasuk

semua biaya yang sudah habis masa berlakunya yang dapat

dikurangkan dari pendapatan. Beban itu sendiri terjadi karena

dua sebab, pertama yang berasal dari cost yang sudah expired

(melampaui masanya) dan yang kedua karena penggunaan

maksudnya beban itu hadir kalau kita sudah melakukan

pemakaian tertentu atau utilitas. Menurut IAI dalam bukunya

Standar Akuntansi Keuangan (2007:19), mendefinisikan beban

atau expenses adalah penurunan manfaat ekonomi selama

suatu periode akuntansi dalam bentuk arus keluar atau

berkurangnya aktiva atau terjadinya kewajiban yang

mengakibatkan penurunan ekuitas yang tidak menyangkut

pembagian kepada penanam modal. Sebagaimana sudah kita

ketahui bahwa cost itu mempunyai pengertian bahwa kita

17
mempunyai sumber daya perusahaan yang terbatas dan untuk

mendapatkannya diperlukan sejumlah pengorbanan atau

pengeluaran tertentu. Akuntan telah mendefinisikan biaya

sebagai nilai tukar, pengeluaran, pengorbanan untuk

memperoleh manfaat (Cartery usry, 2006:29). Sebagai contoh

pembelian bahan baku secara tunai, karena aktiva bersih tidak

terpengaruh tidak ada beban yang diakui. Sumber daya

perusahaan hanya diubah dari kas menjadi persediaan bahan

baku. Bahan baku tersebut dibeli dengan biaya tertentu, tetapi

belum menjadi beban. Ketika perusahaan kemudian menjual

bahan baku tersebut yang sudah diolah menjadi barang jadi,

biaya dari bahan baku dibukukan sebagai beban dilaporan Laba

Rugi. Setiap beban adalah biaya, tetapi tidak semua biaya

adalah beban. Contoh : aktiva adalah biaya, tetapi bukan (belum

menjadi) beban.

2. Karakteristik Beban

Ada tiga karakteristik beban dalam akuntansi :

a. Penurunan Aktiva

Beban timbul karena terjadi transaksi yang mengakibatkan

pengurangan atau penurunan aktiva atau menimbulkan aliran

keluar manfaat ekonomi. Dalam hal ini, pemakaian aktiva

mengakibatkan timbulnya beban karena telah habis untuk

18
pengiriman barang atau diberikan perusahaan sehingga tidak

merasakan lagi manfaat ekonomi aktiva tersebut. Pemakaian

bahan baku yang barangnya belum terjual belum lagi bisa

dikatakan beban tetapi biaya, apabila sudah terjual baru

dapat dikatakan beban karena pemakaian aktiva yang

digunakan untuk segala keperluan barang tersebut.

b. Operasi utama yang berkesinambungan

Tidak semua penurunan aktiva dapat menjadi beban, agar

terjadi maka harus berkaitan dengan kegiatan utama

perusahaan yang continue. Kegiatan utama perusahaan

adalah yang berkaitan dengan proses produksi dan

pengiriman barang. Sebagaimana berlaku untuk pendapatan,

pengertian operasi menunjuk kegiatan operasi yang

merupakan elemen statemen aliran kas yaitu : operasi

(operating), investasi (investing), dan pendanaan (financing).

Sedangkan beban adalah penurunan aset yang berkaitan

dengan operasi dan bukan dengan investasi dan pendanaan.

c. Kenaikan kewajiban

Definisi FASB yang menyatakan beban sebagai kewajiban

cukup tepat karena secara konseptual semua hal yang

dikeluarkan untuk kepentingan proses produksi dan

pengiriman perusahaan secara terus-menerus dinyatakan

sebagai beban. Kewajiban terdapat suatu keadaan

19
perusahaan telah memanfaatkan barang dan jasa namun

sebelumnya tidak mengakuinya sebagai aset atau belum

mengakui kewajiban atas penggunaan barang dan jasa yang

dikuasai pihak lain. Hal tersebut menimbulkan keharusan

perusahaan untuk membayar ataumelakukan pengorbanan

ekonomik di masa datang sehingga timbulkewajiban.Misalnya

jasa pengiriman barang yang belum dibayar oleh perusahaan

namun jasa pengirimannya telah dinikmati perusahaan

danmenimbulkan pendapatan. Dengan demikian beban (untuk

pengiriman) harustimbul dengan kenaikan kewajiban.

3. Jenis-jenis Beban

Menurut Soemarso (2013:226) beban dapat dikelompokkan

menjadi beban penjualan (selling expenses), beban administrasi

dan umum (general and administrative expenses) dan beban

lain-lain (other expense).

a. Beban penjualan (Selling expenses) Beban penjualan adalah

semua beban yang terjadi dalam hubungannya dengan

kegiatan menjual dan memasarkan barang seperti kegiatan

promosi, penjualan dan pengangkutan barang-barang yang

dijual. Contoh : beban iklan dan promosi

b. Beban administrasi dan umum (General and administrative

expenses) Beban yang bersifat umum dalam perusahaan.

Contoh: beban gaji dan upah, beban LAT, beban

20
pemeliharaan, dll 3. Beban lain-lain (Other Expense) Beban-

beban yang tidak dapat dihubungkan secara langsung dan

pasti dengan kegiatan utama perusahaan (perdagangan)

dikelompokkan kedalam beban lain-lain (other expenses) atau

beban non-usaha (non operating expenses). Beban bunga

merupakan salah satu contoh dari beban ini, kadang-kadang

karena beban bunga timbul sebagai akibat dari kegiatan

perusahaan untuk memperoleh dana (pembelanjaan), maka

disebut beban pembelanjaan (financing expenses). Contoh

lain: kerugian dari penjualan aktiva tetap dalam laporan laba

rugi, pendapatan dan beban lain-lain kadang-kadang

digabung. Jenis-jenis beban dapat diklasifikasikan juga

berdasarkan jenis perusahaan yang bersangkutan, seperti

perusahaan jasa, dagang dan manufaktur. Tetapi secara

keseluruhan jenis beban pada setiap perusahaan itu sama,

hanya terdapat beberapa jenis beban yang yang tidak ada

pada perusahaan lain.

1) Perusahaan Jasa Pada perusahaan jasa jenis beban hanya

satu yaitu beban usaha, tetapi beban usaha ini terbagi pada

beberapa jenis juga, yaitu sebagai berikut:

 Beban gaji : beban yang berasal dari pemakaian jasa

karyawan atau buruh yang diperkerjakan dalam

perusahaan. Beban ini diakui dalam laporan laba rugi

21
karena terjadi penurunan aktiva akibat pembayaran gaji

pada karyawan. Selanjutnya dicatat sebesar kas yang

keluar atau yang dibayarkan pada karyawan yang

bersangkutan.

Contoh :Membayar gaji karyawan selama bulan Maret

sebesar Rp 10.000.000,00 Merupakan pengeluaran

perusahaan atau beban yang dicatat dilaporan laba rugi

dengan saldo normal di debet,

jurnal: Beban Gaji Rp 10.000.000,00

Kas Rp 10.000.000,00

 Beban Sewa : beban yang timbul karena terjadi sewa atau

pemakaian sesuatu yang bersifat sewa.

 Beban perlengkapan : beban yang timbul karena

pemakaian perlengkapan atau bahan pembantu dalam

operasional perusahaan.

 Beban bunga (interest expenses) : beban yang timbul

karena peminjaman uang pada Bank yang dikenai bunga.

 Beban serba-serbi (miscellaneous expenses): beban yang

terdiri dari bermacam

22
-macam transaksi yang jumlahya kecil, tidak sering terjadi dan

tidak tertampung dalam salah satu akun beban yang ada

dalam bagian akun.

Beberapa jenis beban ini pengakuan, penyajian

maupun pengukuran pada dasarnya sama yaitu beban

diakui dalam laporan rugi laba kalau penurunan manfaat

ekonomi masa datang yang berkaitan dengan penurunan

aktiva ataukenaikan kewajiban telahterjadi dan dapat diukur

dengan andal.

2) Perusahaan dagang

Pada perusahaan dagang karena terjadi penjualan maka

terdapat beban yang berhubungan dengan penjualan atau

kegiatan utama perusahaan :

 Beban penjualan (selling expenses) : beban yang

terjadi dalam hubungannya dengan kegiatan menjual dan

memasarkan barang.

 Beban administrasi dan umum : beban yang terjadi

dalam hubungannya dengan kegiatan perusahaan secara

keseluruhan dan beban yang bersifat umum yang tidak

dapat diidentifikasikan ke dalam kegiatan spesifik seperti

produksi atau penjualan.

 Beban lain-lain (other expenses) : beban yang tidak

berhubungan dengan kegiatan utama perusahaan.

23
 Perusahaan Manufaktur

Pada umumya beban pada perusahaan manufaktur sama

dengan perusahaan lainnya.

 Biaya Pokok Penjualan (Cost of Good Solds), Biaya Pokok

Penjualan merupakan biaya perolehan dari pos-pos

persediaan (harga pembelian atau biaya pabrikasi)

yang dijual untuk menghasilkan pendapatan penjualan.

Biaya pokok barang yang tersedia untuk dijual (Cost Of

Good Available for Sale) adalah persediaan awal

ditambah pembelian (biaya pokok barang yang

diproduksi). Biaya pokok penjualan ditentukan dengan

mengurangkan persediaan akhir dari biaya pokok barang

yang tersedia untuk dijual.

 Beban Operasi (Operating Expenses)

Beban operasi adalah beban berkala dan lazim

yang dikeluarkan perusahaan dalam upayanya

memperoleh pendapatan. Beban- beban ini

biasanya diklasifikasikan berdasarkan kategori-

kategori fungsional. Klasifikasi yang lazim dipakai

adalah dengan memisahkan beban penjualan (selling

expenses) dari beban umum dan administratif (general

administrative expenses).

24
Contoh beban operasi adalah beban iklan, beban

pemeliharaan, beban penyusutan, beban gaji, dan lain

- lain.

 Beban Lain-lain (Other Expense)

Beban lain-lain pada pokoknya mengandung

beban-beban yang dikeluarkan dari aktivitas-

aktivitas yang bukan merupakan kegiatan pokok

perusahaan sehingga nilai rupiah dari aktivitas ini

biasanya terhitung kecil.

Ada jenis-jenis beban lain yang mendukung kegiatan

operasional perusahaan seperti :

i. Beban Akrual (accrued expense)

Beban yang masih harus dibayar (beban-

beban tertentu mungkin telah terjadi) tetapi

pembayarannya belum dilakukan sampai

pada periode berikutnya. Pada akhir periode

akuntansi perlu untuk menentukan dan

mencatat beban-beban yang telah terjadi ini

meskipun belum dibayarkan.

ii. Beban kredit macet (bad debt expense)

Beban yang timbul atas tindakan tertagihnya

piutang usaha. Contoh : beban piutang ragu-

25
ragu (doubhtful account expense), beban

piutang yang tidak dapat ditagih.

iii. Beban Operasional

Beban yang terdiri atas beban penjualan

dan beban umum administrasi. Keseluruhan

beban yang terlibat dalam aktivitas

operasional perusahaan. Dalam laporan

laba/rugi, labaoperasi dihitung dengan

mengurangkan pendapatan dengan beban

operasional.

iv. Beban Penyusutan

Pengakuan atas penggunaan manfaat

potensial dari suatu aktiva. Beban yang

timbul karena pemakaian aktiva berwujud.

v. Beban yang ditangguhkan

Dapat juga dikatakan beban dibayar dimuka

atau pengeluaran yang telah dibayarkan tapi

belum dirasakan manfaat ekonomisnya.

vi. Beban yang masih harus dibayar (accrued

expenses)

Disebut juga dengan accrued liabilitiesyaitu

biaya - biaya yang sudah merupakan

26
beban walaupun utang yang bersangkutan

belum saatnya merupakan kewajiban.

4. Pengakuan Beban

Menurut IAI dalam bukunya “Standar Akuntansi Keuangan”,

(2007:23) pengakuan beban adalah sebagai berikut :

”Beban diakui dalam laporan laba rugi atas dasar hubungan

langsung antara biaya yang timbul dan pos penghasilan tertentu

yang diperoleh. Kalau manfaat ekonomi diharapkan timbul

selama beberapa periode akuntansi dan hubungannya dengan

penghasilan hanya dapat ditentukan secara luas atau tak

langsung, beban diakui dalam laporan laba rugi atas dasar

prosedur alokasi yang rasional dan sistematis. Hal ini sering

diperlukan dalam pengakuan bebanyang berkaitan dengan

penggunaan aktiva seperti aktiva tetap, goodwill, paten, merk

dagang. Prosedural lokasi ini dimaksudkan untuk mengakui

beban dalam periode akuntansi yang menikmati manfaat

ekonomi aktiva yang bersangkutan”.

Dalam pernyataan di atas beban merupakan arus keluar

atas penggunaan lain dari harta selama periode dari

penyerahan atas produksi barang atau kegiatan-kegiatan lain

yang merupakan operasi utama perusahaan. Beban diakui

dalam laporan laba rugi berdasarkan hal - hal sebagai berikut :

27
1) Adanya penurunan aktiva tetap yang digunakan oleh

perusahaan misalnya aktiva tetap.

2) Adanya proses produksi untuk menghasilkan barang-barang

atau jasa.

3) Adanya kewajiban perusahaan terhadap karyawan misalnya

pembayaran gaji dan upah.

4) Adanya kewajiban perusahaan tanpa diiringi dengan

perolehan aktiva, misalnya garansi produk dan pembayaran

bunga pinjaman. Dengan demikian dapat disimpulkan

beban yang berkaitan dengan proses memperoleh

pendapatan, harus diakui pada saat pendapatan tersebut

diperoleh, sedangkan beban yang berkaitan secara

langsung dengan proses dan untuk memperoleh

pendapatan harus diakui pada saat beban tersebut

dimanfaatkan.

5. Pengukuran Beban

Dalam mengukur beban dalam satu periode akuntansi,

dibutuhkan berbagai keputusan atau pertimbangan untuk

menentukan bagaimana beban tersebut akan dialokasikan pada

periode - periode selanjutnya yang menunjukkan adanya

pendapatan. Dalam hal tersebut, terdapat berbagai standar

akuntansi yangdapat digunakan sebagai acuan atau pedoman.

28
Misalnya, IAS 16/AASB 116 yang menyatakan bahwa nilai-nilai

aset yang dapat di depresiasi dapat diukur dengan beberapa

cara setelah pengakuannya (seperti model biaya perolehan atau

model penilaian) dan beberapa pilihan alternatif untuk

depresiasi (seperti metode garislurus, nilai menurun dan jumlah

unit).Sejalan dengan penilaian aktiva, beban dapat diukur atas

dasar jumlahrupiah yang digunakan untuk penilaian aktiva dan

hutang. Oleh karena itu,pengukuran beban dapat didasarkan

pada:

a. Kos Historis

Kos historis merupakan jumlah rupiah kas atau setaranya

yang dikorbankan untuk memperoleh aktiva. Pengukuran

beban atas dasar kos historis dapat digunakan untuk jenis

aktiva seperti gedung, peralatan, dan sebagainya.

b. Kos Pengganti / Kos Masukan Terkini (Replacement Cost /

Curent Input.

Kos masukkan terkini menunjukkan jumlah rupiah harga

pertukaran yang harus dikorbankan sekarang oleh suatu

entitas untuk memperoleh aktiva yang sejenis dalam kondisi

yang sama. Contohnya, penilaian untuk persediaan.

c. Setara Kas (Cash Equivalent)

Setara kas adalah jumlah rupiah kas yang dapat direalisir

dengan cara menjual setiap jenis aktiva di pasar bebas

29
dalam kondisi perusahaannormal. Meskipun pada

prakteknya metode pengukuran yang masih

banyakdigunakan adalah historical cost, namun dengan

mulai diadopsinya IFRS diindonesia, maka pengukuran

yang sesuai standar adalah dengan menggunakan

metodefair value.

Dengan demikian, untuk pencatatan beban sebagai akibat

dari depresiasi (penyusutan), nilai yang dicantumkan dalam

beban adalah nilai selisih antara nilai wajar dengan nilai buku

(apabila nilai wajar lebih kecil dari nilai bukunya). Salah satu

cara untuk mengukur beban adalah dengan mengalokasikan

beban -beban tersebut ke periode - periode dimana beban

tersebut dinikmati. Hal ini biasanya disebut dengan matching

concept, Konsep tersebut memperlakukan kos dengan

mengalokasikan kos yang sudah kadaluarsa (beban) ke

periode-periode dimana beban tersebut terjadi. Namun,

pengalokasian tersebut hanya bersifatestimasi. Dalam

akuntansi, pencocokan antara beban dan pendapatan

merupakan fungsi utama, namun hal tersebut tetap saja sulit

untuk dilakukan karena berhubungan dengan penilaian akuntan

tersebut. Akuntan harus mengidentifikasi mana aset yang telah

digunakan (kadaluarsa) dan jumlah yang harus ditulissebagai

tandingan pendapatan pada periode tersebut.

30
6. Penyajian Beban

Laporan laba rugi dapat disusun dalam dua langkah :

a. Single Step (langkah tunggal)

Penyajiannya semua pendapatan dijumlahkan menjadi satu

dikurangi seluruh beban yang ada pada periode laporan.

b. Multi Step (langkah ganda)

Penyajiannya ialah pendapatan dikelompokkan menjadi

pendapatan usaha dan pendapatan di luar usaha.

Sedangkan beban dikelompokkan menjadi beban usaha

dan di luar usaha. Penyajian dengan langkah ganda akan

dapat dilihat laba yang diperoleh dari usaha dan laba yang

diperoleh dari luar usaha.

Laporan laba rugi hendaklah memuat beberapa hal:

a. Menuliskan nama perusahaan

b. Menuliskan jenis laporannya dalam hal ini, laporan laba rugi

c. Menyajikan periode laporan

d. Menyajikan pendapatan dan beban, beban ditulis secara

rinci dan lengkap.

Penulisan beban dimulai dari yang terbesar ke beban

terkecil, kecuali beban lain -lain ditulis paling bawah

C. Audit Atas Pendapatan Dan Beban

31
Untuk menentukan apakah akun pendapatan dan beban

dalam laporan keuangan sudah disajikan dengan wajar sesuai

GAAP, Auditor harus mengecek apakah masing-masing dari total

pendapatan dan beban sudah dimasukkan dalam laporan laba/rugi

dan laba bersih tanpa salah saji material. Dua konsep berikut

dalam audit akun pendapatan dan beban merupakan hal penting

dalam mempertimbangkan tujuan laporan laba rugi:

1. Kesesuaian antara periode pendapatan dan beban diperlukan

untuk menentukan hasil yang benar.


2. Penerapan prinsip akuntansi yang konsisten dalam beberapa

periode penting untuk perbandingan.

Audit akun pendapatan dan beban langsung terkait dengan neraca

dan bukan bagian terpisah dari proses audit. Audit akun

pendapatan dan beban berkaitan dengan audit pada bagian lain.

Bagian dari audit yang langsung memengaruhi akun-akun ini

adalah:

1) Prosedur Analitis.
Auditor biasanya melakukan prosedur analitis ini untuk akun

pendapatan dan beban:


 Membandingkan beban individual dengan tahun-tahun

sebelumnya.
 Membandingkan aset individual dan saldo utanf dengan

tahun-tahun sebelumnya.
 Membandingkan beban individual dengan anggaran.

32
 Membandingkan persentase laba kotor dengan tahun-tahun

sebelumnya.
 Membandingkan beban asuransi dibayar dimuka dengan

tahun-tahun sebelumnya.
 Membandingkan beban komisi dibagi dengan penjualan

dengan rasio tahun-tahun sebelumnya.


 Membandingkan beban manufaktur individual dibagi biaya

total manufakturdengan rasio tahun-tahun sebelumnya.

Prosedur Analitis Salah saji yang mungkin terjadi


Membandingkan beban Lebih saji atau kurang saji pada
individual dengan beban saldo akun beban.
sebelumnya.
Membandingkan beban Lebih saji atau kurang saji akun
individual anggaran neraca yang akan mempengaruhi
akun laporan laba/rugi (misalnya
salah saji persediaan
mempengaruhi harga pokok
penjualan)
Membandingkan Salah saji harga pokok penjualan
persentase laba kotor dan persediaan.
dengan tahun
sebelumnya.
Membandingkan rasio Salah saji beban asuransi dan
perputaran persediaan asuransi dibayar dimuka.
dengan tahun
sebelumnya.
Membandingkan beban Salah saji beban komisi dan komisi
asuransi dibayar dimuka akurat.
dengan tahun
sebelumnya.
Membandingkan beban Salah saji beban manufaktur
komisi dibagi dengan individual dan akun neraca terkiat.
penjualan dengan rasio
tahun-tahun sebelumnya.
Membandingkan beban
manufaktur individual
dibagi biaya total
manufaktur dengan rasio
tahun sebelumnya.

2) Pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi.

33
Baik pengujian pengendalian maupun pengujian substantif atas

transaksi berdampak simultan terhadap verifikasi akun neraca

dan laporan laba/rugi. Sebaliknya, pengendalian dan salah saji

yang tidak memadai dapat ditemukan melalui pengujian

pengendelian dan pengujian substantif atas trasaksi dan

mengindikasikan kemungkinan salah saji baik pada laopran

laba/rugi maupun neraca. Tujuan terpenting dalam melakukan

verifikasi akun laporan laba/rugi dalam setiap siklus transaksi

adalah untuk mendapatkan pemahaman mengenai

pengendalian internal dan pengujian terkait pengendalian dan

substantive atas transaksi.

3) Pengujian perincian saldo akun-analisis beban


Auditor harus menganalisis jumlah yang termasuk dalam akun

laporan laba/rugi meskipun pengujian telah dilakukan. Analisis

akun beban melibatkan penyelidikan auditor terhadap dokumen

pendukung untuk masing-masing transaksi dan perincian atas

total akun beban Jenis dokumen tersebut sama dengan yang

digunakan untuk memeriksa transaksi sebagai bagian dari

pengujian transaksi akuisisi, yaitu terdiri atas faktur, laporan

penerimaan, pesanan pembelian, dan kontrak. Dalam anlisis

beban dan akun laporan laba/rugi lainnya, auditor melakukan

verifikasi transaksi dalam akun yang spesifik untuk menentukan

apakah transaksi tersebut benar, diklasifikasikan dengan benar,

dan dicatat secara akurat.

34
4) Pengujian perincian saldo-alokasi
Beberapa akun beban dihsilkan dari alokasi atau akuntansi,

bukan transaksi riil. Contohnya adalah beban depresiasi,

deplesi, dan amortisasi hak cipta dan biaya catalog. Alokasi

biaya overhead manufaktur antara persediaan dan harga pokok

penjualan adalah contoh jenis lain dari alokasi yang

memengaruhi beban. Jika klien salah dalam mengikuti GAAP

atau salah menghitung alokasi, maka laporan keuangan bisa

salah saji secara material. Dua prosedur audit terpenting dalam

audit alokasi adalah pengujian untuk keseluruhan kewajaran

dengan prosedur analitis dan perhitungan kembali atas hasil

perhitungan klien. Auditor biasanya melakukan pengujian

tersebut sebagai bagian dari audit aset dan utang terkait. Hal ini

meliputi verifikasi beban depresiasi sebagai bagian dari audit

asset tetap. Pengujian amortisasi sebagai bagian dari verifikasi

paten atau penghentian yang lama, dan verifikasi alokasi antara

persediaan dan harga pokok penjualan sebagai bagian dari

audit persediaan.

35
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Pendapatan adalah arus kas masuk /penambahan lainnya pada aktiva

suatu satuan usaha atau penyelesaian kewajiban (kombinasi dari

keduanya ) dari pengiriman atau produksi barang, pemberian jasa,

atau kegiatan lain yang bukan merupakan kegiatan utama. Definisi

lebih sempit menurut FASB, Pendapatan dihasilkan dari kegiatan

utama. Pada umumnya beban (expense) sering dijadikan sinonim kata

dengan biaya (cost), tetapi menurut Soemarso (2013:29), beban dapat

didefinisikan sebagai aliran keluar terukur dari barang atau jasa, yang

kemudian ditandingkan dengan pendapatan untuk menentukan laba

atau sebagai penurunan dalam aktiva bersih sebagai akibat dari

penggunaan jasa ekonomis dalam menciptakan pendapatan atau

pengenaan pajak oleh badan pemerintah. Konsep beban dalam

akuntansi selalu mengarah pada pendapatan, karena hasil

pendapatan bersih yang diterima oleh perusahaan tergantung berapa

banya beban yang dikeluarkan. Beberapa ahli telah menyatakan

beban itu penurunan manfaat ekonomis suatu perusahaan karena ada

sesuatu yang dikorbankan dalam mendapatkan aktiva tersebut yang

disebut dengan beban. Setiap perusahaan memiliki beban yang

berbeda tergantung apa yang dibutuhkanya, tetapi dari segi kolektif,

36
beban-beban dalam setiap perusahaan itu sama.Oleh karena itu,

konsep beban dalam akuntansi itu penting karena menyangkut laba

ruginya suatu perusahaan dalam menjalankan kegiatan atau

usahanya. Semakin tinggi beban semakin rendah laba yang diterima,

sebaliknya semakin rendah beban yang dikeluarkan oleh perusahaan

semakin tinggi laba yang diterima.

B. Saran

Dengan adanya pembahasan mengenai audit perkiraan pendapatan

dan beban ini, diharapkan kepada para pembaca sekalian untuk dapat

lebih mengerti dan memahami mengenai audit pendapatan dan

beban. Sehingga kedepannya kita dapat menerapkan segala ilmu

yang terkandung di dalam penulisan makalah ini ke dalam dunia nyata

yakni dunia kerja yang syarat akan prinsip profesionalitas dan

efektifitas.

37