Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH KEBUDAYAAN SUKU MINANGKABAU

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah

BAB II PEMBAHASAN
A. Sejarah Suku Minangkabau
B. Letak Goegrafi Suku Minangkabau
C. Bahasa Suku Minangkabau
D. Kesenian Suku Minangkabau
E. Rumah Adat Suku Minangkabau
F. Sistem Kepercayaan Suku Minangkabau
G. Sistem kekerabatan Suku Minangkabau
H. Sistem Ekonomi Suku Minangkabau
I. Pakaian Adat Suku Minangkabau

BAB III PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sebagai masyarakat Indonesia, kita harus mengetahui berbagai macam kebudayaan
yang ada di negara kita. Indonesia terdiri dari banyak suku dan budaya, dengan mengenal
dan mengetahui hal itu, masyarakat Indonesia akan lebih mengerti kepribadian suku lain,
sehingga tidak menimbulkan perpecahan maupun perseteruan. Pengetahuan tentang
kebudayaan itu juga akan memperkuat rasa nasionalisme kita sebagai warga negara
Indonesia yang baik.
Selain hal-hal di atas, kita juga dapat mengetahui berbagai kebudaya di Indonesia
yang mengalami akulturasi. Karena proses akulturasi yang terjadi tampak simpang siur
dan setengah-setengah. Contoh, perubahan gaya hidup pada masyarakat Indonesia yang
kebarat-baratan yang seolah-olah sedikit demi sedikit mulai mengikis budaya dan adat
ketimurannya. Namun, masih ada beberapa masyarakat yang masih sangat kolot dan
hampir tidak mempedulikan perkembangan dan kemajuan dunia luar dan mereka tetap
menjaga kebudayaan asli mereka.
Karena latar belakang di atas kita menyusun makalah tentang salah satu
kebudayaan masyarakat Indonesia, yaitu masyarakat Minangkabau. Makalah ini akan
memberikan wawasan tentang masyarakat Minangkabau yang memiliki keragaman suku
dan budaya.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah keadaan massyarakat Minangkabau?
2. Bagaimanakan adat, istiadat dan budaya masyarakat Minangkabau?
3. Bagaimanakah sosial kemasyarakatan yang ada di Minangkabau?

C. Tujuan
Untuk mengetahui keadaan masyarakat Minangkabau, adat-istiadat dan budaya
masyarakat Minangkabau dan sosial kemasyarakatannya.

D. Manfaat
Memberikan pengetahuan pada masyarakat pada umumnya dan mahasiswa pada
khususnya tentang masyarakat Minangkabau.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Sejarah Suku Minangkabau


Sejarah Awal Adanya Suku Minangkabau - Suku Minangkabau atau Minang
adalah kelompok etnik Nusantara yang berbahasa dan menjunjung adat Minangkabau.
Wilayah penganut kebudayaannya meliputi Sumatera Barat, separuh daratan Riau, bagian
utara Bengkulu, bagian barat Jambi, bagian selatan Sumatera Utara, barat daya Aceh, dan
juga Negeri Sembilandi Malaysia. Dalam percakapan awam, orang Minang sering kali
disamakan sebagai orang Padang, merujuk kepada nama ibukota propinsi Sumatera Barat
yaitu kota Padang. Hal ini dapat dikaitkan dengan kenyataan bahwa beberapa literatur
Belanda juga telah menyebut masyarakat suku ini sebagai Padangsche Bovenlanden.
Suku ini mempunyai sifat merantau yang boleh dikatakan telah menyatu dalam
pola hidup mereka sehingga banyak di antara mereka pindah ke pulau-pulau lain di
Indonesia. Suku Minangkabau merupakan suku terbesar ke 4 di Indonesia yang tersebar
luas dan sangat berpengaruh.
Masyarakat Minangkabau atau Minang adalah kelompok etnik Nusantara yang
berbahasa dan menjunjung adat Minangkabau. Wilayah penganut kebudayaannya meliputi
Sumatera Barat, separuh daratan Riau, bagian utara Bengkulu, bagian barat Jambi, bagian
selatan Sumatera Utara, barat daya Aceh, dan juga Negeri Sembilan di Malaysia.
Budayanya sangat kuat diwarnai ajaran agama Islam. Prinsip adat Minangkabau tertuang
singkat dalam pernyataan Adat basandi syara', syara' basandi Kitabullah (Adat
bersendikan hukum, hukum bersendikan Al-Qur'an) yang berarti adat berlandaskan ajaran
Islam.
Orang Minangkabau sangat menonjol dibidang perniagaan, sebagai profesional dan
intelektual. Mereka merupakan pewaris terhormat dari tradisi tua Kerajaan Melayu dan
Sriwijaya yang gemar berdagang dan dinamis. Hampir separuh jumlah keseluruhan
anggota suku ini berada dalam perantauan. Minang perantauan pada umumnya bermukim
di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Pekanbaru, Medan, Batam, Palembang, dan
Surabaya. Di luar wilayah Indonesia, suku Minang banyak terdapat di Malaysia dan
Singapura.
B. Letak Goegrafi Suku Minangkabau

Suku minangkabau terletak di Sumatera Barat, separuh daratan Riau, bagian utara
Bengkulu, bagian barat Jambi, bagian selatan Sumatera Utara, barat daya Aceh, dan juga
Negeri Sembilan di Malaysia. Minangkabau lebih menonjol dengan ajaran agama Islam.
Saat ini masyarakat minang merupakan masyarakat penganut matrilineal terbesar di dunia.
penduduk Sumatera Barat didukung oleh beberapa kelompok etnik. Etnik terbesar adalah
suku Minangkabau. Suku Minangkabau menyebar di hampir semua wilayah daratan
utama. Kelompok lainnya dalam jumlah yang lebih sedikit adalah suku Mandailing yang
banyak menghuni wilayah Pasaman, orang Jawa di Pasaman dan Sijunjung, orang
Tionghoa di wilayah perkotaan, dan berbagai suku pendatang lainnya. Sementara itu,
Kepulauan Mentawai dihuni oleh suku Mentawai.
Suku Minangkabau menempatkan perempuan pada kedudukan yang istimewa.
Tidak seperti sebagian besar suku di Indonesia yang menganut sistem kekerabatan
patrilineal (garis keturunan ayah), Suku Minangkabau di Sumatera Barat menganut sistem
Matrilineal (garis keturunan ibu). Suku Minangkabau di Sumatera Barat merupakan suku
dengan budaya Matrilineal terbesar didunia.

C. Bahasa Suku Minangkabau


Bahasa di Minangkabau merupakan bahasa Austronesia. Meskipun ada perbedaan
pendapai mengenai hubungan bahasa Minangkabau dengan bahasa melayu, ada yang
menganggap bahasa yang diucapkan masyarakat itu bagian dari bahasa melayu, karena
banyaknya kesamaan terhadap kosakata dan bentuk ucapannya. Tapi ada yang
beranggapan bahasa ini merupakan bahasa mandiri. Selain itu dalam masyarakat
minangkabau memiliki macam bahasa yang tergantung pada daerahnya masing-masing.

D. Kesenian Suku Minangkabau


Suku Minangkabau memiliki berbagai macam atraksi dan kesenian, seperti tari-
tarian yang biasa ditampilkan dalam pesta adat maupun perkawinan.
1. Tari pasambahan merupakan tarian yang dimainkan bermaksud sebagai ucapan
selamat datang ataupun ungkapan rasa hormat kepada tamu istimewa yang baru saja
sampai, selanjutnya
2. Tari piring merupakan bentuk tarian dengan gerak cepat dari para penarinya sambil
memegang piring pada telapak tangan masing-masing, yang diiringi dengan lagu yang
dimainkan oleh talempong dan saluang.
3. Silek atau Silat Minangkabau merupakan suatu seni bela diri tradisional khas suku ini
yang sudah berkembang sejak lama.
4. Tari Payung merupakan tari tradisi Minangkabau yang saat ini telah banyak
perubahan dan dikembangkan oleh senian-seniman tari terutama di Sumatra Barat.
Awalnya tari ini memiliki makna tentang kegembiraan muda mudi (penciptaan) yang
memperlihatkan bagaimana perhatian seorang laki-laki terhadap kekasihnya. Payung
menjadi icon bahwa keduanya menuju satu tujuan yaitu membina rumah tangga yang
baik. Keberagaman Tari Payung tidak membunuh tari payung yang ada sebagai alat
ungkap budaya Minangkabau.
5. Randai, tarian yang bercampur dengan silek. Randai biasa diiringi dengan nyanyian
atau disebut juga dengan sijobang, dalam randai ini juga terdapat seni peran (acting)
berdasarkan skenario.
Di samping itu, Minangkabau juga menonjol dalam seni berkata-kata. Ada tiga
genre seni berkata-kata, yaitu pasambahan (persembahan), indang, dan salawat dulang.
Seni berkata-kata atau bersilat lidah, lebih mengedepankan kata sindiran, kiasan, ibarat,
alegori, metafora, dan aphorisme, contohnya Dima tumbuah, sinan disiang – Cara
memecahkan suatu masalah dengan langsung ke akar atau penyebab masalah itu sendiri.
Dalam seni berkata-kata seseorang diajarkan untuk mempertahankan kehormatan dan
harga diri, tanpa menggunakan senjata dan kontak fisik.

E. Rumah Adat Suku Minangkabau


Rumah adat suku Minangkabau disebut dengan Rumah Gadang, yang biasanya
dibangun di atas sebidang tanah milik keluarga induk dalam suku tersebut secara turun
temurun. Rumah Gadang ini dibuat berbentuk empat persegi panjang dan dibagi atas dua
bagian muka dan belakang. Umumnya berbahan kayu, dan sepintas kelihatan seperti
bentuk rumah panggung dengan atap yang khas, menonjol seperti tanduk kerbau yang
biasa disebut gonjong dan dahulunya atap ini berbahan ijuk sebelum berganti dengan atap
seng.
Namun hanya kaum perempuan dan suaminya, beserta anak-anak yang jadi
penghuni rumah gadang. Sedangkan laki-laki kaum tersebut yang sudah beristri, menetap
di rumah istrinya. Jika laki-laki anggota kaum belum menikah, biasanya tidur di surau.
Surau biasanya dibangun tidak jauh dari komplek rumah gadang tersebut, selain berfungsi
sebagai tempat ibadah, juga berfungsi sebagai tempat tinggal lelaki dewasa namun belum
menikah.

F. Sistem Kepercayaan Suku Minangkabau


Masyarakat Minangkabau merupakan penganut agama Islam yang taat.Mereka
boleh dikatakan tidak mengenal unsur-unsur kepercayaan lainnya. Upacara-upacara adalah
kegiatan ibadah yang berkaitan dengan salat hari raya Idul Fitri, hari raya kurban dan
bulan ramadhan. Di samping itu upacara-upacara lainya adalah upacara Tabuik dll.
G. Sistem kekerabatan Suku Minangkabau
Masyarakat Minangkabau menganut garis keturunan matrilineal (garis keturunan
ibu). Keturunan keluarga dalam masyarakat Minangkabau terdiri atau tiga macam
kesatuan kekerabatan yaitu : paruik, kampuang dan suku. Kepentingan suatu keluarga
diurus oleh laki-laki dewasa dari keluarga tersebut yang bertindak sebagai niniek mamak.
Jodoh harus dipilih dari luar suku (eksogami).
Dalam prosesi perkawinan adat Minangkabau, biasa disebut baralek, mempunyai
beberapa tahapan yang umum dilakukan. Dimulai dengan maminang (meminang),
manjapuik marapulai (menjemput pengantin pria), sampai basandiang (bersanding di
pelaminan). Setelah maminang dan muncul kesepakatan manantuan hari (menentukan hari
pernikahan), maka kemudian dilanjutkan dengan pernikahan secara Islam yang biasa
dilakukan di Mesjid, sebelum kedua pengantin bersanding di pelaminan. Pada nagari
tertentu setelah ijab kabul di depan penghulu atau tuan kadi, mempelai pria akan diberikan
gelar baru sebagai panggilan penganti nama kecilnya. Kemudian masyarakat sekitar akan
memanggilnya dengan gelar baru tersebut. Gelar panggilan tersebut biasanya bermulai
dari sutan, bagindo atau sidi di kawasan pesisir pantai. Sedangkan di kawasan luhak limo
puluah, pemberian gelar ini tidak berlaku. Dalam adat diharapkan adanya perkawinan
dengan anak perempuan mamaknya. Perkawinan tidak mengenal mas kawin, tetapi
mengenal uang jemputan yaitu pemberian sejumlah uang dan barang kepada keluarga
mempelai laki-laki. Sesudah upacara perkawinan mempelai tinggal di rumah istrinya
(matrilokal).

H. Sistem Ekonomi Suku Minangkabau


Mata pencaharian masyarakat Minangkabau sebagian besar sebagai petani. Bagi
yang tinggal di pinggir laut mata pencaharian utamanya menangkap ikan. Seiring dengan
perkembangan zaman, banyak masyarakat Minangkabau yang mengadu nasib ke kota-kota
besar. Seperti yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia pada saat ini.
Masyarakat Minangkabau juga banyak yang menjadi perajin. Kerajinan yang
dihasilkan adalah kain songket. Hasil kerajinan tersebut merupakan cenderamata khas dari
Minangkabau.
Stratifikasi sosial masyarakat Minangkabau pada daerah tertentu (terutama Padang
Pariaman) masih mengenal 3 tingkatan, yaitu :
1. Golongan bangsawan
Memiliki kedudukan yang tinggi dalam masyarakat dan sering mendapat
kemudahan dalam segala urusan, misalnya : memperolah uang jemputan yang tinggi
jika menikah, boleh tidak memberi belanja kepada isterinya dan anaknya, memperoleh
gelar kebangsawanan juga. Ia boleh kawin dengan/dari kelas mana saja.
Sebaliknya seorang wanita bangsawan dilarang kawin dengan seorang laki-laki
biasa, apalagi kelas terendah. Yang termasuk golongan bangsawan ialah orang-orang
yang mula-mula datang dan mendirikan desa-desa di daerah Minangkabau. Karena itu
mereka disebut sebagai urang asa (orang asal).
2. Golongan orang biasa
Adalah orang-orang yang datang kemudian dan tidak terikat dengan orang asal,
tetapi mereka bisa memiliki tanah dan rumah sendiri dengan cara membeli.
3. Golongan ternedah
Adalah orang-orang yang datang kemudian dan menumpang pada keluarga-
keluarga yang lebih dulu datang dengan jalan menghambakan diri. Oleh karena itu
golongan ini menduduku kelas yang terbawah.
Menurut konsepsi orang Minangkabau, perbedaan lapisan sosial ini dinyatakan
dengan sitilah-istilah sebagai berikut :
1. Kamanakan tali pariuk, yaitu keturunan langsung dari keluarga urang asa.
2. Kamanakan tali budi, yaitu para pendatang tetapi kedudukan ekonomi dan
sosialnya sudah baik, sehingga dianggap sederajad dengan urang asa.
3. Kamanakan tali ameh, yaitu para pendatang baru yang mencari hubungan keluarga
dengan urang asa, tetapi telah dapat hidup mandiri.
4. Kamanakan bawah lutuik yaitu orang yang menghamba pada orang asa.
I. Pakaian Adat Suku Minangkabau
Limpapeh Rumah Nan Gadang, Lambang kebesaran wanita Minangkabau disebut
“Limpapeh Rumah nan gadang”. Limpapeh artinya tiang tengah pada sebuah bangunan
dan tempat memusatkan segala kekuatan tiang-tiang lainnya. Apabila tiang tengah ini
ambruk maka tiang-tiang lainnya ikut jatuh berantakan. Dengan kata lain perempuan di
Minangkabau merupakan tiang kokoh dalam rumah tangga. Pakaian Limpapeh Rumah
Nan Gadang tidak sama ditiap-tiap nagari .
Pakaian Penghulu. Pakaian adat pria Suku Minang disebut pakaian Penghulu.
Pakaian Penghulu merupakan pakaian kebesaran dalam adat Minangkabau dan tidak
semua orang dapat memakainya.
Pakaian Penghulu merupakan pakaian kebesaran dalam adat Minangkabau dan
tidak semua orang dapat memakainya. Di samping itu pakaian tersebut bukanlah pakaian
harian yang seenaknya dipakai oleh seorang penghulu, melainkan sesuai dengan tata cara
yang telah digariskan oleh adat. Pakaian penghulu merupakan seperangkat pakaian yang
terdiri dari
Deta atau Destar adalah tutup kepala atau sebagai perhiasan kepala tutup kepala
bila dilihat pada bentuknya terbagi pula atas beberapa bahagian sesuai dengan sipemakai,
daerah dan kedudukannya.
Deta raja Alam bernama “dandam tak sudah” (dendam tak sudah). Penghulu
memakai deta gadang (destar besar) atau saluak batimbo (seluk bertimba). Deta Indomo
Saruaso bernama Deta Ameh (destar emas). Deta raja di pesisir bernama cilieng manurun
(ciling menurun).
Destar atau seluk yang melilit di kepala penghulu seperti kulit yang menunjukkan
isi dengan pengertian destar membayangkan apa yang terdapat dalam kepala seorang
penghulu. Destar mempunyai kerut, merupakan banyak undang-undang yang perlu
diketahui oleh penghulu dan sebanyak kerut dester itu pulalah hendaknya akal budi
seorang penghulu dalam segala lapangan.
Jika destar itu dikembangkan, kerutnya mesti lebar. Demikianlah paham penghulu itu
hendaklah lebar pula sehingga sanggup melaksanakan tugasnya sampai menyelamatkan
anak kemenakan, korong kampung dan nagari. Kerutan destar juga memberi makna,
bahwa seorang penghulu sebelum berbicara atau berbuat hendaklah mengerutkan kening
atau berfikir terlebih dahulu dan jangan tergesa-gesa.

Pakaian Limpapeh Rumah Nan Gadang


Lambang kebesaran wanita Minangkabau disebut “Limpapeh Rumah nan gadang”.
Limpapeh artinya tiang tengah pada sebuah bangunan dan tempat memusatkan segala
kekuatan tiang-tiang lainnya. Apabila tiang tengah ini ambruk maka tiang-tiang lainnya
ikut jatuh berantakan. Dengan kata lain perempuan di Minangkabau merupakan tiang
kokoh dalam rumah tangga. Pakaian Limpapeh Rumah Nan Gadang tidak sama ditiap-tiap
nagari, seperti dikatakan “Lain lubuk lain ikannyo, lain padang lain bilalangnyo”

J. Masakan Minangkabau
Masakan Minangkabau atau masakan Padang merujuk kepada makanan orang
Minangkabau di Indonesia. Nama Padang diberi kerana kota Padang adalah pusat budaya
suku Minangkabau. Masakan Minangkabau adalah di kalangan makanan yang termasyhur
di sepanjang kepulauan Melayu. Minangkabau perantauan membuka kedai makan Padang,
terutamanya di bandar-bandar besar Indonesia. Salah satu dari rantai kedai makan
tradisional paling berjaya di Indonesia telah dimajukan oleh orang Minangkabau.
Rendang adalah masakan tradisional bersantan dengan daging sapi sebagai bahan
utamanya. Masakan khas dari Sumatera Barat, Indonesia ini sangat digemari di semua
kalangan masyarakat baik itu di Indonesia sendiri ataupun di luar negeri. Selain daging
sapi, rendang juga menggunakan kelapa(karambia), dan campuran dari berbagai bumbu
khas Indonesia di antaranya Cabai (lado), lengkuas, serai, bawang dan aneka bumbu
lainnya yang biasanya disebut sebagai (Pemasak). Rendang memiliki posisi terhormat
dalam budaya masyarakat Minangkabau. Rendang memiliki filosofi tersendiri bagi
masyarakat Minang Sumatra Barat yaitu musyawarah, yang berangkat dari 4 bahan pokok,
yaitu:
 Dagiang (Daging Sapi), merupakan lambang dari Niniak Mamak (para pemimpin
Suku adat)
 Karambia (Kelapa), merupakan lambang Cadiak Pandai (Kaum Intelektual)
 Lado (Cabai), merupakan lambang Alim Ulama yang pedas, tegas untuk mengajarkan
syarak (agama)
 Pemasak (Bumbu), merupakan lambang dari keseluruhan masyarakat Minang.

Sejarah Rendang
Asal-usul rendang ditelusuri berasal dari Sumatera, khususnya Minangkabau. Bagi
masyarakat Minang, rendang sudah ada sejak dahulu dan telah menjadi masakan tradisi
yang dihidangkan dalam berbagai acara adat dan hidangan keseharian. Sebagai masakan
tradisi, rendang diduga telah lahir sejak orang Minang menggelar acara adat pertamanya.
Kemudian seni memasak ini berkembang ke kawasan serantau berbudaya Melayu lainnya;
mulai dari Mandailing, Riau, Jambi, hingga ke negeri seberang di Negeri Sembilan yang
banyak dihuni perantau asal Minangkabau. Karena itulah rendang dikenal luas baik di
Sumatera dan Semenanjung Malaya.

BAB III

KESIMPULAN

Masyarakat Minangkabau atau Minang adalah kelompok etnik Nusantara yang


berbahasa dan menjunjung adat Minangkabau. Orang Minangkabau sangat menonjol
dibidang perniagaan, sebagai profesional dan intelektual. Nama Minangkabau berasal dari
dua kata, minang dan kabau. Nama itu dikaitkan dengan suatu legenda khas Minang yang
dikenal didalam tambo. Dalam masyarakat Minangkabau, ada tiga pilar yang membangun
dan menjaga keutuhan budaya serta adat istiadat. Mereka adalah alim ulama, cerdik
pandai, dan ninik mamak, yang dikenal dengan istilah Tali nan Tigo Sapilin

DAFTAR PUSTAKA

Josselin de Jong, P.E. de, (1960), Minangkabau and Negeri Sembilan: Socio-Political
Structure in Indonesia, Jakarta: Bhartara
Kato, Tsuyoshi (2005). Adat Minangkabau dan merantau dalam perspektif sejarah. PT Balai
Pustaka.
Purbatjaraka, R.M. Ngabehi, (1952), Riwajat Indonesia, I, Djakarta: Jajasan Pembangunan.
www.posmetropadang.com Budaya Merantau Orang Minang (1) Kalaulah di Bulan Ada
Kehidupan
Masjid Raya Sumatera Barat

Koordinat: 0,9238°LS 100,3623°BT

Masjid Raya Sumatera Barat dilihat dari Jalan Khatib Sulaiman, Desember 2015

Masjid Raya Sumatera Barat

Kota Padang, Sumatera


Letak
Barat, Indonesia

Pemerintah Provinsi
Kepemimpinan
Sumatera Barat

Deskripsi arsitektur

Arsitek Rizal Muslimin

Dimulai 21 Desember 2007

Dibuka 7 Februari 2014

Spesifikasi

Kapasitas 5.000–6.000 orang

Panjang 65 meter (213 kaki)


Lebar 65 meter (213 kaki)

Tinggi (maks) 47 meter (154 kaki)

Masjid Raya Sumatera Barat adalah masjid terbesar di Sumatera Barat, terletak menghadap Jalan
Khatib Sulaiman, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang. Masjid ini masih dalam tahap konstruksi
sejak peletakan batu pertama pada 21 Desember 2007. Pembangunan dikerjakan secara bertahap
karena keterbatasan anggaran dari provinsi.

Meski tidak rutin, Masjid Raya Sumatera Barat telah dipusatkan sebagai tuan rumah kegiatan
keagamaan skala regional seperti tablig akbar, pertemuan jemaah, penyelenggaraan Salat Ied hingga
Salat Jumat setiap minggunya. Sejak awal tahun 2012, pemerintah provinsi memusatkan kegiatan
wirid rutin jajaran pegawai negeri sipil untuk memperkenalkan masjid.[1][2] Namun, frekuensi
pemakaian masjid untuk aktivitas ibadah masih terbatas karena belum rampungnya fasilitas listrik
dan ketiadaan air bersih.[3]

Konstruksi masjid terdiri dari tiga lantai. Ruang utama yang dipergunakan sebagai ruang salat
terletak di lantai dua, terhubung dengan teras terbuka yang melandai ke jalan. Denah masjid
berbentuk persegi yang melancip di keempat penjurunya, menampilkan bentuk bentangan kain
ketika empat kabilah suku Quraisy di Mekkah berbagi kehormatan memindahkan batu Hajar Aswad
dengan memegang masing-masing sudut kain. Bentuk sudut lancip sekaligus mewakili atap
bergonjong pada rumah adat Minangkabau rumah gadang.