Anda di halaman 1dari 9

Ketahanan Nasional dan Bela Negara

A. Konsep dan Urgensi Ketahanan Nasional dan Bela Negara

1. Konsep dan Urgensi Ketahanan Nasional

Winarno (2016) menyatakan bahwa “Ketahanan Nasional merupakan istilah khas Indonesia
yang muncul pada tahun 1960-an. Sementara itu, dalam terminologi Barat untuk term yang
kurang lebih memiliki makna sama dengan ketahanan nasional,dikenal dengan istilah national
power (kekuatan nasional). Istilah tersebut dipopulerkan oleh Hans Morgenthau dalam bukunya
“Politics Among Nation”. Dalam bukunya sebagai “The Elements of National Power”.
Ketahanan Nasional tidak bisa terlepas dari konsep kekuatan nasional”.

Ketahanan Nasional adalah konsepsi politik kenegaraan Republik Indonesia. Ketahanan


Nasional merupakan landasan konsepsional bagi pembangunan nasional di Indonesia. Sebagai
konsepsi politik, Ketahanan Nasional terdapat dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN)
seperti halnya dengan Wawasan Nusantara. Secara konseptual, Ketahanan Nasional suatu bangsa
dilatarbelakangi oleh :

a) Kekuatan apa yang ada pada suatu bangsa dan negara sehingga ia mampu
mempertahankan kelangsungan hidupnya.
b) Kekuatan apa yang harus dimiliki oleh suatu bangsa dan negara sehingga ia selalu
mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya, meskipun mengalami berbagai
gangguan, hambatan dan ancaman baik dari dalam maupun dari luar.
c) Ketahanan atau kemampuan bangsa untuk tetap jaya, mengandung makna keteraturan
(regular) dan stabilitas, yang di dalamnya terkandung potensi untuk terjadinya
perubahan (the stability idea of changes) (Kaelan, 2010 : 147).

Ketahanan nasional tidak semata-mata menggunakan kekuatan fisik, melainkan


memanfaatkan daya dan kekuatan lainnya pada suatu bangsa. Ketahanan nasional pada
hakikatnya merupakan suatu konsepsi dalam pengaturan dan penyelenggaraan kesejahteraan dan
kemakmuran serta pertahanan dan keamanan di dalam kehidupan Nasional. Untuk dapat
mencapai suatu tujuan Nasional suatu bangsa harus mempunyai kekuatan, kemampuan, daya
tahan, dan keuletan. Oleh karena itu, Ketahanan Nasional harus diwujudkan dengan
menggunakan baik pendekatan kesejahtraan, maupun pendekatan keamanan (Kaelan, 2010 :
147).

Bentuk ancaman dari dalam dan luar negeri


Dalam menghadapi masalah ketahanan nasional suatu negara, permasalahan ketahanan
nasional yang di hadapi Indonesia diantaranya berasal dari dua sember yaitu dari dalam dan luar
negeri. Contoh kasus permasalahan Ketahanan Nasional dari dalam negeri yaitu pemberontakan
dari berbagai daerah, seperti ancaman gerakan RMS, GAM (gerakan aceh merdeka), serta
gerakan papua merdeka. Kasus ini terjadi di sebabkan minimnya nasionalisme masyarakat dan
adanya unsur ketidakpercayaan masyarakat.
Sedangankan contoh dari luar negeri yaitu adanya unsur-unsur campur tangan pihak lain
dalam menguasai kedaulatan NKRI, sebagai contoh kasus Pulau Sipadan dan Ligitan yang
kemudian di menangkan oleh Malaysia. Kewajiban dalam menjaga tanah air bukan hanya oleh
pihak pemerintah saja, melainkan masyarakata juga harus ikut menjaga ketahanan nasional yang
baik dan benar.

Asas-asas Ketahanan Nasional adalah sebagai berikut :

1. Asas kesejahteraan dan keamanan

Kesejahteraan dan keamanan dapat dibedakan tapi tidak dapat dipisahkan dan merupakan
kebutuhan manusia yang paling mendasar dan esensial, baik sebagai perorangan maupun
kelompok dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dengan demikian
kesejahteraan dan keamanan merupakan asas dalam sistem kehidupan nasional dan merupakan
nilai intrinsik yang ada padanya. Dalam kehidupan nyatanya kondisi kesejahteraan dan
keamanan dapat dicapai dengan menitikberatkan pada kesejahteraan, namun tidak mengabaikan
keamanan yang ada. Sebaliknya memberikan prioritas terhadap keamanan tidak harus selalu ada,
berdampingan pada apapun sebab keduanya merupakan salah satu parameter tingkat ketahanan
nasional sebuah bangsa dan Negara.
2. Asas komperensif integral atau meyeluruh terpadu

Sistem kehidupan nasional mencakup seluruh aspek kehidupan suatu bangsa secara utuh dan
menyeluruh dan juga terpadu atau tersusun dalam bentuk wujud persatuan dan perpaduan yang
seimbang, serasi, dan selaras dari seluruh aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara. Dengan demikian, Ketahanan Nasional mencakup ketahanan segenap aspek
kehidupan suatu bangsa secara utuh, menyeluruh dan terpadu (komprehensif integral).

3. Asas mawas kedalam dan mawas keluar.

Suatu sistem kehidupan nasional merupakan suatu perpaduan segenap aspek kehidupan
bangsa yang saling berinteraksi, disamping itu sistem kehidupan Nasional juga berinteraksi dari
berbagai lingkungan yang ada disekelilingnya. Dalam prosesnya dapat timbul berbagai dampak
baik yang bersifat positif maupun negatif. Untuk itu diperlukan sikap mawas kedalam dan
keluar.

a) Mawas kedalam, bertujuan untuk menumbuhkan hakikat, sifar-sifat dan kondisi


kehidupan nasional itu sendiri berdasarkan suatu nilai-nilai kemandirian yang
proporsional untuk meningkatkan kualitas derajat kemandirian bangsa yang ulet dan
tangguh. Hal itu tidak berarti bahwa ketahanan nasioanal mengandung sikap isolasi
(tertutup) atau nasionalisme sempit (chauvinisme).
b) Mawas keluar, bertujuan untuk dapat mengantisipasi dan ikut berperan serta
menghadapi dan mengatasi dampak lingkungan yang strategis luar negeri, dan dapat
menerima kenyataan adanya saling interaksi dan ketergantungan dengan dunia
Globalisasi datau dunia Internasional.

4. Asas kekeluargaan

Asas kekeluargaan mengandung keadilan, kearifan, kebersamaan, gotong royong, tenggang


rasa, dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyrakat, berbangsa dan bernegara. Dalam asas
ini diakui adanya suatu perbedaan yang seharusnya dikembangkan secara serasi dalam hubungan
kemitraan serta dijaga agar tidak berkembang menjadi konflik yang bersifat antagonistik yang
saling menghancurkan. Bangsa Indonesia dalam penyelenggaraan asas kekeluargaan untuk
pertahanan negara menganut prinsip berikut:
a) Bangsa Indonesia berhak dan wajib membela serta mempertahankan kemerdekaan dan
kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan segenap bangsa dari segala
ancaman.
b) Pembelaan negara diwujudkan dengan keikutsertaan dalam upaya pertahanan negara
merupakan tanggung jawab dan kehormatan setiap warga negara.
c) Bangsa Indonesia cinta perdamaian, tetapi lebih cinta kepada kemerdekaan dan
kedaulatannya.
d) Bangsa Indonesia menentang segala bentuk penjajahan dan menganut politik bebas aktif.
e) Bentuk pertahanan negara bersifat semesta dalam arti melibatkan seluruh rakyat dan
segenap sumber daya nasional, sarana dan prasarana nasional, serta seluruh wilayah
negara sebagai satu kesatuan pertahanan.
f) Pertahanan negara disusun bedasarkan prinsip demokrasi, hak asasi manusia,
kesejahteraan umum, lingkungan hidup, ketentuan hukum nasional, hukum internasional,
dan kebiasaan internasional, serta prinsip hidup berdampingan secara damai dengan
memperhatikan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan.

2. Konsep dan Urgensi Bela Negara

Winarno (2016) menyatakan bahwa “Bela Negara adalah tekad, sikap, dan tindakan warga
Negara yang teratur, menyeluruh, terpadu, dan berlanjut yang dilandasi oleh kecintaan pada
tanah air dan kesadaran hidup berbangsa dan bernegara. Bagi warga Negara Indonesia, usaha
pembelaan warga Negara didasari oleh kecintaan pada tanah air (wilayah Nusantara) dan
kesadaran berbangsa dan bernegara Indonesia dengan keyakinan pada Pancasila sebagai dasar
Negara dan berpijak pada UUD 1945 sebagai Konstitusi Negara”.

Unsur dasar bela negara yang dianut oleh bangsa Indonesia adalah sebagai berikut :

Cinta Tanah Air.

Kesadaran Berbangsa dan Bernegara.

Yakin akan Pancasila sebagai Ideologi Negara.

Rela berkorban untuk Bangsa dan Negara


Memiliki kemampuan awal Bela Negara.

Dasar Hukum Bela Negara Indonesia

Beberapa dasar hukum dan peraturan tentang Wajib Bela Negara di negara Indonesia adalah
sebagai berikut:

1. Tap MPR No.VI Tahun 1973 tentang konsep wawasan nusantara dan keamanan nasional.
2. Undang-Undang No.29 tahun 1954 tentang Pokok-Pokok Perlawanan Rakyat.
3. Undang-Undang No.20 tahun 1982 tentang Ketentuan Pokok Hankam Negara RI. Diubah
oleh Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1988.
4. Tap MPR No.VI Tahun 2000 tentang Pemisahan TNI dengan POLRI.
5. Tap MPR No.VII Tahun 2000 tentang Peranan TNI dan POLRI.
6. Amandemen UUD ’45 Pasal 30 ayat 1-5 dan pasal 27 ayat 3.
7. Undang-Undang No.3 tahun 2002 tentang Pertahanan Negara.

Alasan Bela Negara

a. Menghormati dan menghargai para pahlawan yang telah berjuang merebut kemerdekaan.

b. Ingin memajukan Negara.

c. Mempetahankan Negara jangan sampai dijajah kembali.

d. Meningkatkan harkat dan martabat bangsa di mata dunia internasional.

Bentuk-bentuk bela Negara ( Winarno, 2016 ) :

a. Secara Fisik, segala upaya untuk mempertahankan kedaulatan negara dengan cara
berpartisipasi secara langsung dalam upaya pembelaan negara (TNI Mengangkat senjata,
Rakyat Berkarya nyata dalam proses Pembangunan).
b. Secara Non Fisik, segala upaya untuk mempertahankan NKRI dengan cara
meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara, menanamkan kecintaan pada
tanah air serta berperan aktif dalam upaya memajukan bangsa sesuai dengan profesi
dan kemampuannya.
Urgensi Bela Negara dala Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Selanjutnya untuk melihat urgensi dan Implementasi semangat bela Negara yang tercermin
dari aspek ketahan Negara Geografi Indonesia dengan letak pulau-pulau saling terpisah tentunya
memerlukan pengamatan dan pengamanan yang ketat agar tidak menimbulkan kerawanan yang
mengancam keutuhan NKRI. Hal ini dapat dilihat dari sisi (Sukaya, 2000) :

1. Demografi, laju pertumbuhan penduduk harus diimbangi dengan peningkatan kualitas


hidup, meliputi ketercukupan kesehatan jasmani maupun rohani, tingkat pendidikan dan
kebutuhan pRepublik Indonesiamer (pembangunan manusia seutuhnya). Menciptakan
lapangan kerja terutama di daerah pedesaan dan daerah terpencil (perbatasan).
2. Kekayaan Alam, kekayaan alam Indonesia yang melimpah, harus dijaga dan dikelola
untuk kepentingan bangsa. Pembangunan yang dilaksa-nakan hendaknya pembangunan
berkelanjutan (sustanable development) berwawasan pada pelestaRepublik Indonesiaan
lingkungan.
3. Ideologi, Warga negara Republik Indonesia masih berpedoman pada Pancasila dalam
menghadapi globalisasi sebagai tolok ukur dalam mewujudkan kehidupan berbangsa dan
bernegara.
4. Politik, dalam berpolitik warga negara Indonesia memahami bahwa pengembangan
demokrasi di Indonesia harus diarahkan pada keseimbangan antara hak, kewajiban dan
tanggung jawab.
5. Ekonomi, Pengembangan ekonomi di Indonesia harus mengacu pada peningkatan
pendapatan, pemerataan dan stabilitas, sehingga bantuan luar negeri perlu dikurangi dan
diseleksi sedemikian rupa agar ketergantungan kepada Negara donor mampu
diminimalkan, meskipun bangsa Indonesia membutuhkan.
6. Sosial dan Budaya, dalam menerima budaya asing, warga negara Republik Indonesia
dalam mengadopsi tetap selektif dengan menggunakan sensor budaya yakni penilaian
dengan menggunakan pertimbangan budaya khas bangsa, karena sensor tidak melanggar
HAM.
7. Pertahanan dan Keamanan, Terciptanya rasa persatuan dan kesatuan yang mantap dan
tidak tergoyahkan oleh isu-isu yang dapat memecah belah masyarakat. Pengamanan
hasil-hasil pembangunan yang dapat menangkal segala bentuk ancaman sesuai profesi,
sehingga stabilitas nasional dapat terjaga.

B. Alasan Perlunya Ketahanan Nasional dan Bela Negara

Ketahanan Nasional diperlukan dalam menunjang keberhasilan tugas pokok pemerintahan,


seperti tegaknya hukum dan ketertiban, terwujudnya kesejahteraan dan kemakmuran,
terselenggaranya pertahanan dan keamanan, terwujudnya keadilan hukum dan keadilan sosial,
serta terdapatnya kesempatan rakyat untuk mengaktualisasi diri.
Alasan perlunya Ketahanan Nasional adalah sebagai berikut ( Sutoyo, 2011) :
a. Daya tangkal, dalam kedudukannya sebagai konsepsi penangkalan, ketahanan nasional
Indonesia ditujukan untuk menangkal segala bentuk ancaman, gangguan, hambatan, dan
tantangan terhadap identitas, integritas, eksistensi bangsa, dan negara Indonesia dalam
aspek ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan.
b. Pengarah bagi pengembangan potensi kekuatan bangsa dalam bidang ideologi, politik,
ekonomi, sosia budaya, dan pertahanan keamanan sehingga tercapai kesejahteraan rakyat.
c. Pengarah dalam menyatukan pola pikir, pola tindak, dan cara kerja intersektor,
antarsektor dan multi disipliner.

Alasan perlunya Bela Negara adalah sebagai berikut :

Ada beberapa hal yang menjadi landasan mengapa proses bela negara ini wajib
dilakukan oleh seluruh warga Negara, diantaranya adalah sebagai berikut ( Kaelan,
2010) :

a. Keterbatasan aparat TNI. Sehingga tidak semua wilayah di Indonesia bisa dijaga oleh
aparat TNI. Dengan peran serta masyarakat, maka akan terjadi sinergi antara
warga dan TNI dalam proses penjagaan kedaulatan bangsa.
b. W u j u d r a s a t e r i m a k a s i h w a r g a a t a s s e g a l a k e n i k m a t a n y a n g d i d a p a t
s e l a m a menjadi penduduk suatu bangsa.
c. Menciptakan ketentraman dan keamanan lingkungan dari gangguan pihak
asingyang ingin merusak tatanan budaya bangsa.
d. Melestarikan kekayaan bangsa dari jarahan bangsa asing.
e. Untuk mempertahankan negara dari berbagai ancaman
f. Untuk menjaga keutuhan wilayah negara
g. Merupakan panggilan sejarah
h. Merupakan kewajiban setiap warga negara
KEPUSTAKAAN

Kaelan. 2010. Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Perguruan Tinggi. Yogyakarta :


PARADIGMA.

Sukaya, Endang Zaelani, dkk. 2000. Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Perguruan Tinggi.

Yogyakarta : Paradigma

Sutoyo. 2011. Pendidikan Kewarganegaraan.Yogyakarta:Graha Ilmu.

Winarno. 2016. Paradigma Baru Pendidikan Kewarganegaraan “Panduan Kuliah di Perguruan


Tinggi. Jakarta: Bumi Aksara.