Anda di halaman 1dari 31

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

TUGAS BAB 7, 8, 9, DAN 10


Akuntansi Syariah

DISUSUN OLEH:
STEVANI TRINITATI SINTAMARITO S.
NIM : 180522039
AKUNTANSI EKSTENSI GRUP A
BAB 7
AKAD MUDHARABAH

1. Apa yang dimaksud dengan akad mudharabah?

Jawaban:

Mudharabah berasal dari kata adhdharby fi ardhi yaitu bepergian untuk


urusan dagang. Disebut juga qiradh yang berasal dari kata al qardhu yang berarti
potongan, karena pemilik memotong sebagian hartanya untuk diperdagangkan dan
memperoleh sebagian keuntungan.

PSAK mendefinisikan mudharabah sebagai akad kerja sama usaha antar dua
pihak dimana pihak pertama (pemilik dana/shahibul maal) menyediakan seluruh
dana, sedangkan pihak kedua (pengelola dana/mudharib) bertindak selaku
pengelola dan keuntungan dibagi di antara mereka sesuai kesepakatan sedangkan
kerugian finansial hanya ditanggung oleh pemilik dana sepanjang kerugian tersebut
tidak disebabkan oleh pengelola.

Kepercayaan adalah hal yang terpenting dalam mudharabah dimana pemilik


dana tidak boleh ikut campur dalam manajemen perusahaan atau proyek yang
dibiayai oleh pemilik dana tersebut. Kecuali hanya sebatas memberikan saran dan
melakukan pengawasan pada pengelola dana tersebut. Dalam mudharabah,
pembagian keuntungan harus dalam bentuk persentase/nisbah, misalnya 70:30, :
70% untuk pengelola dana dan 30% untuk pemilik dana sehingga besarnya
keuntungan yang diterima tergantung pada laba yang dihasilkan. Agar tidak terjadi
perselisihan dikemudian hari maka akad/perjanjian sebaiknya dituangkan tertulis
dan dihadiri para saksi. Perjanjian tersebut harus mencakup tujuan mudharabah,
nisbah pembagian keuangan, ketentuan pengembalian keuntungan, periode
pembagian keuntungan, biaya-biaya yang boleh dikurangkan dari pendapatan,
ketentuan pengembalian modal, hal-hal yang dianggap sebagai kelalaian pengelola
dana dan sebagainya. Sehingga apabila terjadi perselisihan dapat diselesaikan
dengan musyawarah atau melalui badan arbitrase syariah.
Tugas BAB 7 Akad Mudharabah

2. Apakah mudharabah merupakan bentuk profit & loss sharing?

Jawaban:

Dalam mudharabah istilah profit and loss sharing tidak tepat digunakan karena
yang dibagi hanya keuntungan saja (profit) , tidak termasuk kerugiannya (loss).
Sehingga digunakan istilah prinsip bagi hasil seperti yang digunakan dalam
Undang-Undang No. 10 Tahun 1998, karena apabila usaha tersebut gagal kerugian
tidak akan dibagi diantara pemilik dana dan pengelola dana, tetapi harus ditanggung
sendiri oleh pemilik dana.

3. Jelaskan jenis-jenis akad mudharabah!

Jawaban:

Jenis Akad Mudharabah dalam PSAK, mudharabah diklasifikasikan ke dalam 3


(tiga) jenis yaitu :

1. Mudharabah muthalaqah, yaitu mudharabah dimana pemilik dana


memberikan kebebasan kepada pengelola dana dalam pengelolaan
investasinya. Dalam mudharabah ini pengelola dana memiliki kewenangan
melakukan apa saja dalam pelaksanaan bisnis bagi keberhasilan tujuan
mudharabah ini.
Apabila pengelola dana melakukan kelalaian atau kecurangan, maka
pengelola dana harus bertanggung jawab atas segala konsekuensi yang
ditimbulkannya. Kecuali apabila kerugian terjadi akibat usaha tersebut,
maka kerugian akan ditanggung oleh pemilik dana.
2. Mudharabah muqayyah, yaitu mudharabah dimana pemilik dana
memberikan batasan kepada pengelola dana antara lain mengenai dana,
lokasi, cara, dan objek investasi atau sektor usaha. Apabila pengelola dana
bertindak bertentangan dengan syarat-syarat yang diberikan oleh pemilik
dana, maka pengelola dana harus bertanggung jawab atas segala
konsekuensi yang ditimbulkannya, termasuk konsekuensi keuangan.
3. Mudharabah musytarakah, yaitu mudharabah dimana pengelola dana
menyertakan modal atau dananya dalam kerja sama investasi. Diawal kerja
Tugas BAB 7 Akad Mudharabah

sama, akad yang disepakati adalah akad mudharabah dengan modal 100%
dari pemilik dana, setelah berjalannya operasi usaha dengan pertimbangan
tertentu dan dengan kesepakatan pemilik dana, pengelola ikut menanamkan
modalnya. Jenis mudharabah ini disebut mudharabah musytarakah
merupakan perpaduan antara akad mudharabah dan akad musyarakah.

4. Jelaskan hukum asal dari mudharabah!

Jawaban:

Sumber hukum akad mudharabah menurut ijmak ulama, mudharabah hukumnya


jaiz (boleh). Mudharabah telah dipraktikkan secara luas oleh orang-orang sebelum
masa Islam dan beberapa sahabat Nabi Muhammad SAW.
1. Al-Qur’an
“Apabila telah ditunaikan shalat maka bertebaranlah kamu di muka bumi
dan carilah karunia Allah SWT.” (QS. 62:10)
“ … Maka, jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, hendaklah
yang dipercayai itu menunaikan amanatnya dan hendaklah ia bertakwa
kepada Allah Tuhannya...“ (QS 2:283)
2. As-Sunnah
Dari shalih bin Suaib r.a bahwa Rasulullah SAW bersabda, “tiga hal yang
di dalamnya terdapat keberkatan: jual beli secara tangguh, muqaradhah
(mudharabah), dan mencampuradukkan gandum dengan jewawut untuk
keperluan rumah tangga bukan untuk dijual”. (HR. Ibnu Majah)

5. Jelaskan rukun dan ketentuan syariah mudharabah!

Jawaban:

Rukun mudharabah ada empat, yaitu:


1. Pelaku, terdiri atas: pemilik dana dan pengelola dana.
2. Objek Mudharabah, berupa: modal dan kerja
3. Ijab Kabul/Serah Terima
4. Nisbah Keuntungan
Tugas BAB 7 Akad Mudharabah

Keuntungan syariah, adalah sebagai berikut:


1. Pelaku
a. Cakap hukum dan baligh
b. Pelaku akad dapat dilakukan dengan sesame muslim atau nonmuslim.
c. Pemilik dana tidak boleh mencampuri pengelolaan usaha tetapi hanya
boleh mengawasi
2. Objek Mudharabah (Modal dan Kerja)
a. Modal
1) Diserahkan dalam bentuk uang atau asset lainnya (sebesar nilai
wajar), harus jelas jumlah serta jenisnya.
2) Tunai dan tidak hutang.
3) Modal harus diketahui dengan jelas jumlahnya sehingga dapat
dibedakan dari keuntungan
4) Pengelola dana tidak diperkenankan memudharabahkan kembali
modah mudharabah
5) Pengelola dana tidak diperbolehkan untuk meminjamkan modal
kepada orang lain
6) Pengelola dana memiliki kebebasan untuk mengatur modal menurut
kebijakan dan pemikirannya sendiri, selama tidak dilarang secara
syariah.
b. Kerja
1) Kontribusi pengelola dana dapat berbentuk keahlian, keterampilan,
selling skill, management skill, dan lain-lain.
2) Kerja adalah hak pengelola dana dan tidak boleh diintervensi oleh
pemilik dana.
3) Pengelola dana harus menjalankan usaha sesuai dengan syariah.
4) Pengelola dana harus mematuhi semua ketetapan yang ada dalam
kontrak.
3. Ijab Kabul
Adalah pernyataan dan ekspresi saling rida/rela di antara pihak-pihak pelaku
akad yang dilakukan secara verbal, tertulis, melalui korespondensi atau
menggunakan cara-cara komunikasi modern.
Tugas BAB 7 Akad Mudharabah

4. Nisbah Keuntungan
a. Nisbah adalah besaran yang digunakan untuk pembagian keuntungan,
mencerminkan imbalan yang berhak diterima oleh kedua belah pihak
yang bermudharabah atas keuntungan yang diperoleh.
b. Perubahan nisbah harus berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak.
c. Pemilik dana tidak boleh meminta pembagian keuntungan dengan
menyatakan nilai nominal tertentu karena dapat menimbulkan riba.

6. Kapan akad mudharabah dianggap selesai?

Jawaban:

Lamanya kerja asma dalam mudharabah tidak ditentukan dan tidak terbatas, tetapi
semua pihak berhak untuk menentukan jangka waktu kontrak kerja sama dengan
memberitahukan pihak lainnya. Namun , akad mudharabah dapat berakhir karena
hal-hal sebagai berikut:
1. Mudharabah akan berakhir pada waktu yang telah ditentukan pada saat
akad.
2. Salah satu pihak memutuskan/mengundurkan diri.
3. Salah satu pihak meninggal dunia atau hilang akal.
4. Pengelola usaha tidak menjalankan amanahnya sebagai pengelola usaha.
5. Modal sudah tidak ada

7. Bagaimana cara perhitungan pembagian laba?

Jawaban:

Prinsip Pembagian Hasil Usaha (PSAK 105 PAR 11)

Dalam mudharabah istilah profit and loss sharing tidak tepat digunakan
karena yang dibagi hanya keuntungan (profit) saja, tidak termasuk kerugiannya
(loss). Istilah prinsip bagi hasil ini digunakan dalam Undang-Undang No. 10 Tahun
1998, karena apabila usaha tersebut gagal kerugian tidak dibagi di antara pemilik
dan pengelola dana, tetapi harus ditanggung oleh pemilik dana. Untuk menghindari
Tugas BAB 7 Akad Mudharabah

perselisihan dalam hal biaya yang dikeluarkan oleh pengelola dana, dalam akad
harus disepakati biaya-biaya apa saja yang dapat dikurangkan dari pendapatan.

Bagi Hasil untuk Akad Mudharabah Musytarakah (PSAK 105 PAR 34)
Ketentuan bagi hasi untuk akad jenis ini dapat dilakukan dengan 2
pendekatan,yaitu:
1. Hasil investasi dibagi antara pengelola dana dan pemilik dana sesuai dengan
nisbah yang disepakati, atau
2. Hasil investasi dibagi antara pengelola dana (sebagai musytarik) dan
pemilik dana sesuai dengan porsi modal masing-masing.

Perlakuan Akuntansi (PSAK 105)


Apabila akadnya mudharabah muqayyah, dimana dana dari pemilik dana
langsung disalurkan kepada pengelola dana lain (kedua) dan pengelola dana
pertama hanya bertindak sebagai perantara yang mempertemukan antara pemilik
dana dengan pengelola dana lain (kedua); maka dana untuuk jenis ini seperti akan
dilaporkan Off Balance Sheet. Atas kegiatan tersebut pengelola dana pertama akan
menerima komisi atas jasa mempertemukan kedua belah pihak. Sedangkan antara
pemilik dan pengelola dana lain (kedua) berlaku nisbah bagi hasil.

8. Berdasarkan ilustrasi diata, jawablah pertanyaan dari Bapak A


berdasarkan pertimbangan saudara!

Jawaban:

Pertanyaan Bapak A mengenai akad mudharabah :


Akad mudharabah adalah akad kerja sama usaha antara dua belah pihak,
dimana pihak pertama (pemilik dana/shohibul maal)menyediakan seluruh dana,
sedangkan pihak kedua (pengelola dana/mudharib) bertindak selaku pengelola, dan
keuntungan dibagi diantara mereka atas dasar nisbah bagi hasil sesuai kesepakatan
sedangkan kerugian finansial yang disebabkan bukan karena kelalaian dari pihak
pengelola dana/mudharib ditanggung sepenuhnya oleh pemilik dana/shohibul
maal.
Tugas BAB 7 Akad Mudharabah

Alur Transaksi Mudharabah Alur dari transaksi mudharabah ini diawali


dengan nasabah yang melakukan pengajuan pembiayaan kepada pihak bank.
Selanjutnya modal didistribusikan untuk bisa memulai menjalankan usaha.
Tentunya, sebelum mendistribusikan dan melakukan usaha, maka akan dilakukan
terlebih dahulu kesepakatan. Skill yang telah dimiliki untuk menjalankan usaha
juga menjadi pertimbangan tersendiri. Evaluasi terhadap perkembangan usaha yang
dilakukan akan dilaksanakan berdasarkan kesepakatan sebelumnya. Keuntungan
yang diperoleh dari hasil usaha tersebut sebagian diberikan kepada bank sesuai
dengan perjanjian sebelumnya. Pihak bank juga akan memperoleh pengembalian
modal secara penuh dari nasabah sehingga menandai berakhirnya
transaksimudharabah ini. Rukun dalam melakukan mudharabah diawali dengan
adanya pemilik dana dan pihak yang akan melaksanakan usaha. Selanjutnya,
ditentukan pula dana yang digunakan untuk objek mudharabah dan kerja. Setelah
kedua hal ini dilakukan dan dipenuhi, maka selanjutnya adalah melakukan ijab
kabul antara kedua belah pihak. Hal terakhir yang tentunya ditunggu-tunggu adalah
pembagian dari keuntungan dari hasil usaha.

Pertanyaan Bapak A mengenai cara perhitungan pembagian bagi hasil


dengan bank syariah tersebut :
Pembagian hasil usaha mudharabah dapat dilakukan berdasarkan
pengakuan penghasilan usaha mudharabah, dalam praktik dapat diketahui
berdasarkan laporan bagi hasil atas realisasi penghasilan hasil usaha dari pengelola
dana. Tidak diperkenankan mengakui pendapatan dari proyeksi hasil usaha.
Ketentuan bagi hasil untuk akada mudharabah dapat dilakukan dengan 2
pendekatan, yaitu :
1) Hasil investasi dibagi antara pengelola dan adan pemilik dana sesuai
dengan nisbah yang disepakati, selanjutnya bagian hasil investasi setelah
dikurangi untuk pengelola dana tersebut dibagi antara pengelola dana
(sebagai musytarik) dengan pemilik dana sesuai dengan porsi modal
masing-masing
2) Hasil investasi dibagi antara pengelola dana (sebagai musytarik) dan
pemilik dana sesuai dengan porsi modal masing-masing, selanjutnya
bagian hasil investasi setelah dikurangi untuk pengelola dana (sebagai
Tugas BAB 7 Akad Mudharabah

musytarik) tersebut dibagi antara pengelola dana dengan pemilik dana


sesuai dengan nisbah yang disepakati

Pertanyaan Bapak A mengenai cara mencatat penerimaan dan pengeluaran


terkait dana yang diperoleh dari bank syariah tersebut:
Pencatatan penerimaan dana dalam bentuk kas, adalah dengan mendebet
akun “Kas” sebesar nilai nominal kas yang diberikan dan mengkreditkan akun
“Setoran Dana Syirkah” sebesar nilai nomilal dari kas yang diberikan.
Pencatatan penerimaan dalam bentuk aset tetap dilakukan dengan cara
mendebet akun “Peralatan” sebesar nilai wajar dari aset tersebut, dan mengkredit
akun “Setoran Dana Syirkah” sebesar nilai wajar dari aset tersebut.
Pencatatan pengeluaran dilakukan dengan cara mendebet akun beban yang
terkait dan mengkredit sumber ekonomi yang dikorbankan..
BAB 8
AKAD MUSYARAKAH

1. Jelaskan defenisi dari akad musyarakah?

Jawaban:

Akad musyarakah adalah akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk
suatu usaha tertentu, dimana masingmasing pihak memberikan kontribusi modal
dengan ketentuan bahwa keuntungan dibagi berdasarkan kesepakatan sedangkan
kerugian berdasarkan kontribusi modal.

2. Apakah dalam musyarakah berlaku prinsip profit and loss sharing?

Jawaban:

Dalam musyarakah berlaku prinsip profit and loss sharing. Apabila usaha
tersebut untung maka keuntungan akan dibagikan kepada para mitra sesuai dengan
nisbah yang telah disepakati (baik presentase maupun periodenya harus secara tegas
dan jelas ditentukan di dalam perjanjian), sedangkan bila rugi akan didistribusikan
kepada para mitra sesuai dengan porsi modal dari setiap mitra. Hal tersebut sesuai
dengan prinsip sistem keuangan syariah yaitu bahwa pihak-pihak yang terlibat
dalam suatu transaksi harus bersama-sama menanggung (berbagi) risiko.

3. Jelaskan jenis-jenis dalam akad musyarakah dan dampaknya dalam bagi


hasil!

Jawaban:

Jenis akad musyarakah berdasarkan Ulama Fikih adalah:


1. Syirkah Al-Milk
Mengandung arti kepemilikan bersama (co- ownership) yang
keberadaannya muncul apabila dua orang atau lebih memperoleh kepemilikan
bersama (joint ownership) atas suatu kekayaan (asset). Dalam pembagian hasil,
para mitra harus berbagi atas harta kekayaan beserta pendapatan yang dapat
Tugas BAB 8 Akad Musyarakah

dihaslkannya sesuai dengan porsi masing-masing sampai mereka memutuskan


untuk membagi atau menjualnya.
2. Syirkah Al-Uqud (kontrak)
Yaitu kemitraan yang tercipta dengan kesepakatan dua orang atau lebih
untuk bekerja sama dalam mencapai tujuan tertentu. Setiap mitra dapat
berkontribusi dengan modal/dana dn atau dengan bekerja, serta berbagi hasil
keuntungan dan kerugian.
Syirkah Al-Uqud dibagi menjadi:
a. Syirkah Abdan (syirkah fisik) adalah bentuk kerja sama antara dua pihak
atau lebih dari kalangan pekerja/ professional dimana mereka sepakat untuk
bekerja sama mengerjakan suatu pekerjaan dan berbagai penghasilan yang
diterima. Hasil atau upah dari pekerjaan tersebut dibagi sesuai dengan
kesepakatan mereka.
b. Syirkah Wujuh adalah kerja sama antara dua pihak dimana masing masing
pihak sama sekali tidak menyertakan modal, merka menjalankan usahanya
berdasarkan kepercayaan pihak ketiga. Keuntungan dibagi kepada para
mitra berdasarkan kesepakatan Bersama.
c. Syirkah ‘Inan (negosiasi) adalah bentuk kerja sama di mana posisi dan
komposisi pihak-pihak yang terlibat didalamnya adalah tidak sama, baik
dalam hal modal maupun pekerjaan.
d. Syirkah Mufawwadhah adalah bentuk kerja sama dimana posisi dan
komposisi pihak-pihak yang terlibat didalamnya harus sama, baik dalam hal
modal, pekerjaan, agama, keuntungan maupun risiko kerugian.

Jenis akad musyarakah berdasarkan Pernyataan Standar Akuntansi


Keuangan (PSAK) adalah:

1. Musyarakah Permanen
Musyarakah Permanen adalah musyarakah dengan ketentuan bagian dana
setiap mitra ditentukan saat akad dan jumlahnya tetap hingga akhir masa akad
(PSAK No. 106 par. 04)
2. Musyarakah Mutanaqisah
Tugas BAB 8 Akad Musyarakah

Musyarakah Mutanaqisah adalah musyarakah dengn ketentuan bagian dana


salah satu mitra akan dialihkan secara bertahap keada mitra lainnya sehngga
bagian dananya akan menurun dan pada akhir masa akad mitra lain terssebut
akan menjadi pemilik penuh usaha musyarakah tersebut.

4. Jelaskan dasar hukum akad musyarakah!

Jawaban:

Sumber hukum akad musyarakah adalah:

1. Al-Quran
“maka mereka berserikat pada sepertiga….” (Q.S. An-Nisa:12)

“Dan, sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian


mereka berbuat zalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang yang beriman dan
mengerjakan amal saleh.” (Q.S. Sad: 24).

2. As-Sunah
“Aku (Allah) adalah pihak ketiga dari dua orang yang berserikat, sepanjang salah
seorang dari keduanya tidak berkhianat terhadap lainnya. Apabila seseorang
berkhianat terhadap lainnya maka Aku keluar dari keduanya.” (HR Abu Dawud
dan Al-Hakim dari Abu Hurairah).

5. Jelaskan rukun dan syarat akad musyarakah!

Jawaban:

Unsur-unsur yang harus ada dalam akad musyarakah atau rukun akad musyarakah
ada empat, yaitu:
1. Pelaku, terdiri atas para mitra
2. Objek Mudharabah, berupa modal dan kerja
3. Ijab Kabul / Serah Terima
4. Nisbah Keuntungan
Syarat akad musyarakah, yaitu:
Tugas BAB 8 Akad Musyarakah

1. Pelaku: Para mitra harus cakap hukum dan baligh


2. Objek musyarakah
Objek musyarakah merupakan suatu konsekuensi dengan dilakukannya
akad musyarakah yaitu harus ada modal dan kerja.
a. Modal
1) Modal yang diberikan harus tunai.
2) Modal yang diserahkan dapat berupa uang tunai, emas, perak, aset
perdagangan, atau aset tidak berwujud seperti lisensi, hak paten, dsb.
3) Apabila modal yang diserahkan dalam bentuk nonkas, maka harus
ditentukan nilai tunainya terlebih dahulu dan harus disepakati
Bersama
4) Modal yang diserahkan oleh setiap mitra harus dicampur. Tidak
dibolehkan pemisahan modal dari masing-masing pihak untuk
kepentingan khusus.
5) Dalam kondisi normal, setiap mitra memiliki hak untuk mengelola
aset kemitraan
6) Mitra tidak boleh meminjam uang atas nama usaha musyarakah,
demikian juga meminjamkan uang kepada pihak ketiga dari modal
musyarakah, menyumbang atau menghadiahkan uang tsb. Kecuali,
mitra lain telah menyepakatinya
7) Seorang mitra tidk diizinkan untuk mencairkan atau
menginvestasikan modal itu untuk kepentingannya sendiri
8) Pada prinsipnya dalam musyarakah tidak boleh ada penjaminan
modal, seorang mitra tidak bisa menjamin modal mitra lainnya,
karena musyarakah didasarkan prinsip al-ghunmu bi al ghurmi-hak
untuk mendapat keuntungan berhubungan dengan risiko yang
diterima.
9) Modal yang ditanamkan tidak boleh digunakan untuk membiayai
proyek atau investasi yang dilarang oleh syariah.

b. Kerja
1) Partisipasi para mitra dalam pekerjaan merupakan dasar
pelaksanaan musyarakah.
Tugas BAB 8 Akad Musyarakah

2) Tidak dibenarkan bila salah seorang diantara mitra mengatakan


tidak ikut serta menangani pekerjaan dalam kemitraan tsb.
3) Meskipun porsi kerja antara satu mitra dengan mitra lainnya tidak
harus sama. Mitra yang porsi kerjanya lebih banyak boleh meminta
bagina keuntungan yang lebi besar.
4) Setiap mitra bekerja atas nama pribadi atau mewakili mitranya.
5) Para mitra harus menjalankan usaha sesuai denga Syariah
6) Seorang mitra yang melaksanakan pekerjaan di luar wilayah tugas
yang ia sepakati, berhak mempekerjakan orang lain untuk
menangani pekerjaan tersebut.
7) Jika seorang mitra yang mempekerjakan pekerja lain untuk
melaksanakan tugas yang menjadi bagiannya, biaya yang timbul
harus di tanggungnya sendiri.

3. Ijab Kabul
Adalah pernyataan dan ekspresi saling ridha/rela di antara pihak-pihak
pelaku akad yang dilakukan secara verbal, tertulis, melalui korespondensi
atau menggunakan cara-cara komunikasi modern.
4. Nisbah
1) Nisbah diperlukan untuk pembagian keuntungan dan harus disepakati
oleh para mitra di awal akad sehingga risiko perselisihan diantara para
mitra dapat dihilangkan.
2) Perubahan nisbah harus berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak.
3) Keuntungan harus dapat dikuantifikasi dan ditentukan dasar
perhitungan keuntungan tersebut. Misalnya, bagi hasil atau bagi laba.
4) Keuntungan yang dibagikan tidak boleh menggunakan nilai proyeksi
akan tetapi harus menggunakan nilai realisasi keuntungan.
5) Mitra tidak dapat menentukan bagian keuntungannya sendiri.
6) Pada prinsipnya keuntungan milik para mitra namun diperbolehkan
mengalokasikan keuntungan untuk pihak ketiga bila disepakati.

6. Kapan berakhirnya akad musyarakah?


Tugas BAB 8 Akad Musyarakah

Jawaban:

Akad musyarakah akan berakhir, jika:


1. Salah seorang mitra menghentikan akad.
2. Salah seorang mitra meninggal, atau hilang akal.
Dalam hal ini mitra yang meninggal atau hilang akal dapat digantikan oleh
salah seorang ahli warisnya yang cakap hukum (baligh dan berakal sehat).
Apabila disetujui oleh semua ahli waris lain dan mitra lainnya.
3. Modal musyarakah hilang/habis.

Apabila salah satu mitra keluar dar kemitraan baik dengan mengundurkan
diri, meninggal atau hilang akal maka kemitraan tersebut dikatakan bubar.
Karena musyarakah berawal dari kesepakatan utuk bekerja sama dan dalam
kegiatan opersaional setiap mitra mewakili mitra lainnya. Salah seorang
mitra tidak ada lagi berarti hubungan perwakilan itu sudah tidak ada.

7. Jelaskan pendekatan dalam penentuan nisbah bagi hasil!

Jawaban:

Nisbah dapat ditentukan melalui du acara, yaitu sebagai berikut

1. Pembagian keuntungan proporsional sesuai modal


Dengan cara ini, keuntungan harus dibagi diantara para mitra secara
proporsional sesuai modal yang disetorkan, tanpa memandang apakah suatu
jumlah pekerjaan yang dilaksankan oleh para mitra sama ataupun tidak sama.
Apabila salah satu pihak menyetorkan modal lebih besar, maka pihak tersebut
akan mendapatkan proporsi labah yang lebih besar. Jika para mitra mengatakan
“keuntungan akan dibagi diantara kita”, berarti keuntungan akan di alokasikan
menurut porsi modal masing-masing mitra.
2. Pembagian keuntungan tidak proporsional dengan modal
Dengan cara ini, dalam penetuan nisbah yang dipertimbangkan bukan hanya
modal yang disetorkan, tapi juga tanggung jawab, pengalaman, kompetensi atau
waktu kerja yang lebih panjang.
Tugas BAB 8 Akad Musyarakah

Nisbah bisa ditentukan sama untuk setiap mitra 50:50 atau berbeda 70:30 misalnya
proporsional dengan modal masing-masing mitra. Begitu para mitra sepakat atas
nisbah tertentu berarti dasar inilah yang digunakan untuk pembagian keuntungan.

8. Siapa yang bertanggungjawab untuk melakukan pencatatan akuntansi


dalam akad musyarakah?

Jawaban:

Perlakuan Akuntansi untuk transaksi musyarakah akan dilihat dari dua sisi
pelaku yaitu Mitra Aktif dan Mitra Pasif. Dimana mitra aktif adalah pihak yang
mengelola usaha musyaraklah baik mengelola sendiri ataupun merujuk pihak lain
untuk mengelola atas namanya, mitra aktif juga bertanggung jawab untuk
melakukan pengelolaan sehingga mitra aktif yang akan melakukan pencatatan
akuntansi, atau jika dia menunjuk pihak lain untuk ikut mengelola usaha maka
pihak tersebut yang akan melakukan pencatatan akuntansi; sedangkan mitra pasif
adalah pihak yang tidak ikut mengelola usaha biasanya adalah lembaga keuangan.
BAB 9
AKAD MURABAHAH

1. Jelaskan definisi dari akad murabahah!

Jawaban:

Murabahah adalah transaksi penjualan barang dengan menyatakan harga


perolehan dan keuntungan (margin) yang disepajati oleh penjual dan pembeli. Hal
yang membedakan dengan penjualan biasa kita kenal adalah penjual secara jelas
memberitahu kepada pembeli berapa harga pokok harga tersebut dan berapa besar
keuntungan yang diinginkannya. Pembeli dan penjual dapat melakukan tawar-
menawar atas besaran margin keuntungan sehingga akhirnya diperoleh
kesepakatan.

2. Apakah dalam murabahah berlaku prinsip profit & loss sharing?

Jawaban:

Dalam murabahah tidak berlaku prinsip profit and loss sharing, karena termasuk
dalam certainty contract yaitu suatu jenis kontrak transaksi dalam bisnis yang
memiliki kepastian keuntungan dan pendapatannya, baik dari segi jumlah dan
waktu penyerahannya. Masing-masing pihak yang terlibat dalam kontrak dapat
melakukan prediksi terhadap jumlah maupun waktu pembayaran.

3. Bagaimana penentuan margin keuntungan? Apakah pembeli harus


mengetahui margin keuntungan yang diambil oleh penjual?

Jawaban:

Keuntungan yang diinginkan bisa dinyatakan dalam jumlah tertentu (lump sum)
atau berdasarkan presentase tertentu, misalnya 20% atau 30% dari harga pokok dan
pembeli harus tahu margin keuntungan yang diambil penjual.
Tugas BAB 9 Akad Murabahah

4. Jelaskan jenis-jenis akad murabahah!

Jawaban:

Ada 2 jenis akad murabahah, yaitu :

1) Murabahah dengan pesanan (murabahah to the purchase order)


Dalam murabahah jenis ini, penjual melakukan pembelian barang setelah
ada pemesanan dari pembeli. Murabahah dengan pesanan dapat bersifat
mengikat atau tidak mengikat pembeli untuk membeli barang yang di
pesannya. Kalau bersifat mengikat, berarti pembeli harus membeli barang
yang dipesannya dan tidak dapat membatalkan pesanannya. Jika aset
murabahah yang telah dibeli oleh penjual, dalam murabahah pesanan
mengikat, mengalami penurunan nilai sebelum diserahkan kepada pembeli
maka penurunan nilai tersebut menjadi beban penjual dan akan mengurangi
nilai akad.
Skema Murabahah dengan Pesanan

(1)
(4)
Penjual Pembeli
(5)

(2) (3)
Produsen
Supplier

Keterangan :
(1) Melakukan akad murabahah.
(2) Penjual memesan dan membeli pada supplier/ produsen.
(3) Barang diserahkan dari produsen.
(4) Barang diserahkan kepada pembeli.
(5) Pembayaran dilakukan oleh pembeli.
Tugas BAB 9 Akad Murabahah

Berikut ini adalah contoh prosedurnya :

Keterangan :
1. Nasabah bernegosiasi kepada bank untuk melakukan pembiayaan murabahah.
2. Karena bank tidak memliki stok barang yang dibutuhkan nasabah, maka bank
selanjutnya melakukan pembelian barang kepada supplier/ pemasok.
3. a. Nasabah dan bank melakukan akad murabahah.
b. Bank melaksanakan serah terima barang.
c. Barang yang diinginkan pembeli (nasabah) selanjutnya diantar oleh pemasok
(supplier) kepada nasabah.
4. Setelah menerima barang, nasabah selanjutnya membayar kepada bank.
Pembayaran kepada bank biasanya dilakukan dengan cara mencicil sejumlah
uang tertentu selama jangka waktu yang disepakati.

2) Murabahah tanpa pesanan ; murabahah jenis ini bersifat tidak mengikat

(1)
Penjual (2)
(3) Pembeli

Keterangan:
(1) Melakukan akad murabahah.
(2) Barang diserahkan kepada pembeli.
(3) Pembayaran dilakukan oleh pembeli.
Tugas BAB 9 Akad Murabahah

Berikut ini adalah contoh prosedurnya :

Keterangan :
1. Kedua belah pihak melakukan akad yaitu pihak penjual (ba’i) dan pembeli
(musytari) melaksanakan akada murabahah.
2. a. Bank (penjual) menerhakan barang kepada pembeli (musytari) karena telah
memilikinya terlebih dahulu.
b. Membayar atas barang.

5. Jelaskan dasar hokum akad murabahah!

Jawaban:

Sumber hokum akad murabahah adalah:


1) Al-Qur’an
ِ ‫َي اي ها الَّ ِذين ءامنُوا الا اَتْ ُكلُوا اموالا ُكم ب ي نا ُكم ِِبلْب‬
‫اط ِل إِالا أا ْن تا ُك ْو ان‬‫ْ ا ْ اْ ْ ا‬ ‫ا ُا ْ ا ا ا‬
)٤:٢٩/‫(النساء‬..... ‫اض ِمْن ُك ْم‬
ٍ ‫ِِتا اارًة اع ْن تاار‬

"Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu makan harta sesamamu


dengan jalan yang bathil, kecuali dengna jalan perniagaan yang berlaku
dengan suka sama suka diantara kamu..." (An-Nisa/4: 29)

ِ ‫وا احل هللاُ الْبا ْي اع او احرام‬...


)٢:٢٧٥/‫ (البقرة‬...‫الرِبا‬ ‫ا‬ ‫ا ا‬
Tugas BAB 9 Akad Murabahah

“...Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba...” (Al
Baqarah/2: 275)

2) Al-Hadits

‫صلَّى هللاُ اعلاْي ِه او اس َّل اِ ام‬ َّ ِِ ‫النب‬


‫ي ا‬ َّ ‫ان‬َّ ‫ب ار ِضي هللاُ اعْنهُ أ‬
‫ا‬
ٍ ‫اع ْن ُس اهْي‬

‫ط الْبُ ِر‬ ‫اج ٍل اواْمل اق اار ا‬


ُ ‫ضةُ او اخ ْل‬ ‫ا‬ ‫ الْبا ْي ُع إِ اَل أ‬: ُ‫ث فِْي ِه َّن اْلبا ْراكة‬‫ ثاالا ا‬: ‫ال‬ ‫قا ا‬
ُ
)‫ت الا لِْلبا ْي ِع (رواه ابن ما جه‬ ِ ‫ِِبلشَّعِ ِْي لِْلب ي‬
ْ‫ْ ا‬

Dari Suhaib ar-Rumi r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tiga hal yang
di dalamnya terdapat keberkahan: jual beli secara tangguh, muqaradhah
(mudharabah), dan mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan
rumah bukan untuk dijual.” (HR Ibnu Majah dengan sanad dhaif)

6. Jelaskan rukun dan syarat akad murabahah!

Jawaban:

Rukun dan ketentuan murabahah, yaitu sebagai berikut

1. Pelaku
Pelaku cakap hukum dan baligh (berakal dan dapat membedakan),
sehingga jual beli dengan orang gila menjadi tidak sah sedangkan jual beli
dengan anak kecil dianggap sah, apabila seizin walinya.

2. Objek Jual Beli, harus memenuhi :


a. Barang yang diperjualbelikan adalah barang halal
Maka semua barang yang diharamkan oleh Allah, tidak dapat di
jadikan sebagai objek jual beli, kareana barang tersebut dapat
menyebabkan manusia bermaksiat/melanggar larangan Allah. Hal ini
sesuai dengan hadis berikut:
Tugas BAB 9 Akad Murabahah

“Sesungguhnya Allah apabila mengharamkan sesuatu juga


mengharamkan harganya.” (HR. Bukhari Muslim)

b. Barang yang diperjualbelikan harus dapat diambil manfaatnya atau


memiliki nilai, dan bukan merupakan barang-barang yabg dilarang di
perjualbelikan, misalnya: jual beli barang yang kadaluwarsa.
c. Barang tersebut dimiliki oleh penjual
Jual beli atas barang yang tidak di mkiliki oleh penjual adalah tidak
sah karena bagaimana mungkin ia dapat menyerahkan kepemilikan
barang kepada orang lain atas barang yang bukan miliknya. Jual beli oleh
bukan pemilik barang seperti ini, baru akan sah apabila mendapat izin
dari pemilik barang.
Misalnya : seorang suami menjual harta milik istrinya, sepanjang si
istri mengizinkan maka sah akadnya. Contoh lain, jual beli barang curian
adalah tidak sah karena status kepemilikan barang tersebut tetap pada si
pemilik harta.

d. Barang tersebut hanya di serahkan tanpa tergantung dengan kejadian


tertentu di masa depan. Bartang yang tidak jelas waktu penyerahannya
adalah tidak sah, karena dapat menimbulkan ketidakpastian (gharar),
yang pada gilirannya dapat merugikan salah satu pihak yang bertransaksi
dan dapat menimbulkan pearsengketaan. Misalnya: saya jual mobil
avanzaku yang hilang dengan harga Rp. 40.000.000 si pembeli berharap
mobil itu akan ditemukan. Demikian juga jual beli atas barang yang
sedang di gadaikan atau telah diwakafkan.\
e. Barang tersebut harus diketahui secara spesifik dan dapat
diidentifikasikan oleh pembeli sehingga tidak ada gharar (ketidak
pastian).
f. Barang tersebut dapat diketahui kuantitas dan kualitasnsysa dengan jelas,
sehingga tidak ada gharar.
“Bagaimana jika Allah mencegahnya berbuah, dengan imbalan apakah
salah seorang kamu mengambil harta saudaranya?” (HR Al Bukhari
dari Anas)
Tugas BAB 9 Akad Murabahah

g. Harga barang tersebut jelas.


Harga atas barang yang diperjualbelikan diketahui oleh pembeli dan
penjual berikut cara pembayarannya tunai atau Tangguh (tidak tunai)
sehingga jelas.
h. Barang yang diakadkan ada di tangan penjual.
Barang dagang yang tidak berada di tangan penjual akan menimbulkan
ketidakpastian (gharar).

3. Ijab kabul
Pernyataan dan ekspresi saling rida/rela di antara pihak-pihak pelaku
akad yang dilakukan secara verbal, tertulis, atau menggunakan cara-cara
komunikasi modern. Apabila jual beli telah dilakukan sesuai dengan
ketentuan syariah maka kepemilikannya, pembayarannya dan pemanfaatan
atas barang yang diperjualbelikan menjadi halal.
Para ulama fiqh sepakat menyatakan bahwa unsur utama dari jual beli
kerelaan kedua belah pihak. Kerelaan kedua belah pihak dapat dilihat dari
ijab dan qabul yang dilangsungkan. Untuk itu, para ulama fiqh
mengemukakan bahwa syarat ijab dan qabul itu adalah sebagai berikut:
a. Qabul sesuai dengan ijab. Misalnya, penjual mengatakan: "Saya jual
buku ini seharga Rp. 15.000,-".
b. Ijab dan qabul itu dilakukan dalam satu majelis. Artinya kedua belah
pihak yang melakukan jual beli hadir dan membicarakan topik yang
sama.

7. Jika pembeli mengalami kesulitan keuangan untuk membayar murabahah


tangguh, apa yang dapat dilakukan oleh penjual?

Jawaban:

Penjual (kreditur) dapat memberikan keringanan kepada pembeli (debitur) yang


mengalami kesulitan keuangan untuk membayar murabahah tangguh. Keringanan
dapat berupa menghapus sisa tagihan, membantu menjualkan obyek murabhah
Tugas BAB 9 Akad Murabahah

pada pihak lain dan melakukan restrukurisasi piutang. Restrukturisasi piutang


dilakukan dalam bentuk:
a. Memberi potongan sisa tagihan, sehingga jumlah angsuran menjadi lebih
kecil
b. Melakukan penjadwalan ulang (rescheduling), dengan dilakukannya
rescheduling, jumlah tagihan yang terisa tetap (tidak boleh ditambah) dan
perpanjangan masa pembayaran disesuakan dengan kesepakatan kedua
pihak sehingga besarnya angsuran menjadi lebih kecil
Mengkonversi akad murabahah, dengan cara obyek murabahah dijual pada
kreditur sesuai dengan nilai pasar, kemudian dai uang yang ada digunakan untuk
melunasi sisa tagihan. Apabila ada kelebihan, kelebihan ini digunakan sebagai uang
meka akad ijarah atau sebagai bagian modal dari akad mudharabah, musytarakah
atau musyarakah. Apabila kurang, kekuranganyya tetap menjadi utang debitur dan
cara pembayarannya disepakati bersama.

8. Jika pembeli lalai membayar murabahah tangguh, dapatkah dibebankan


denda? Apakah denda tersebut akan dianggap sebagai pendapatan lain-
lain oleh penjual?

Jawaban:

Apabila pembeli tidak membayar karena lalai maka pengenaan denda


diperbolehkan. Namaun, denda ini tidak boleh diakui sebagai pendapatan penjual
tapi harus digunakan untuk dana kabjikan atau sosial (dana qard) yang akan
disalurkan kepada orang yang membutuhkan.

9. Bolehkah akad murabahab mengenakan uang muka? Bagaimana


perlakuan atas uang muka tersebut?

Jawaban:

Penjual dapat meminta uang muka pembelian kepada pembeli sebagai bukti
keseriusan ingin membeli barang tersebut. Uang muka menjadi bagian pelunasan
jika piutang murabahah disepakati. Namun apabila penjual telah membeli dan
pembeli membatalkannya, uang muka dapat digunakan untuk menutup kerugian si
Tugas BAB 9 Akad Murabahah

penjual dengan dibatalkannya pesanan tersebut. Bila jumlahnya lebih keciil


dibandingkan jumlah kerugin yang harus ditanggung oleh penjual, penjual dapat
meminta kekurangannya, apabila berlebih pembeli berhak untuk mengambil
sebagian uang mukannya kembali.
BAB 10
AKAD SALAM

1. Jelaskan tentang akad salam!

Jawaban:

Salam berasal dari kata As salaf yang artinya pendahuluan karena pemesan
barang menyerahkan uangnya di muka. Para ahli fikih menamainya al mahawi’ij
(barang-barang mendesak) karena ia sejenis jual beli yang dilakukan mendesak
walaupun barang yang diperjualbelikan tidak ada di tempat. ”Mendesak”, dilihat
dari sisi pembeli karena ia sangat membutuhkan barang tersebut di kemudian hari
sementara dari sisi penjual, ia sangat membutuhkan uang tersebut.Salam dapat
didefinisikan sebagai transaksi atau akad jual beli di mana barang yang
diperjualbelikan belum ada ketika transaksi dilakukan,dan pembeli melakukan
pembayaran di muka sedangkan penyerahan barang baru dilakukan di kemudian
hari. PSAK 103 mendefinisikan salam sebagai akad jual beli barang pesanan
(muslam fiih) dengan pengiriman di kemudian hari oleh penjual (muslam illaihi)
dan pelunasannya dilakukan oleh pembeli (al muslam) pada saat akad disepakati
sesuai dengan syarat-syarat tertentu. Untuk menghindari resiko yang
merugikan,pembeli boleh meminta jaminan dari penjual.

2. Jelaskan perbedaan salam dengan system ijon!

Jawaban:

Akad salam merupakan akad jual beli dengan uang muka dan pengiriman
di belakang. Walaupun barang baru diserahkan dikemudian hari namun harga,
spesifikasi, karakteristik, kualitas, kuantitas dan waktu penyerahannya sudah
ditentukan ketika akad terjadi, sehingga tidak ada gharar. Hal inilah yang
membedakan salam dengan transaksi ijon. Salam tidak sama dengan transaksi
ijon,dan karena itu diperbolehkan oleh syariah karena tidak ada gharar, sedangkan
ijon merupakan transaksi yang mengandung gharar (ketidakpastian) sehingga
dilarang oleh syariah.
Tugas BAB 10 Akad Salam

3. Mengapa ijon dilarang oleh Syariah?

Jawaban:

Ijon dilarang oleh Syariah karena ada gharar (ketidakpastian) baik dalam jumlah
maupun kualitas pada transaksi pada transaksi ijon,sehingga syarat saling rela dapat
tidak terpenuhi atau dapat merugikan salah satu pihak,dan oleh karena itu transaksi
ini dilarang oleh syariah.

4. Jelaskan tentang akad salam paralel!

Jawaban:

Salam paralel artinya melaksanakan 2 transaksi salam,yaitu antara pemesan


pembeli dan penjual serta antara penjual dengan pemasok (supplier) atau pihak
ketiga lainnya. Hal ini terjadi ketika penjual tidak memiliki barang pesanan dan
memesan kepada pihak lain untuk menyediakan barang pesanan tersebut.

Salam paralel dibolehkan asalkan akad salam kedua tidak tergantung pada
akad pertama yaitu akad antara penjual dan pemasok tidak tergantung pada akad
antara pembeli dan penjual,jika saling tergantung atau menjadi syarat tidak
diperbolehkan (terjadi taalluq). Akad antara penjual dan pemasok terpisah dari akad
antara pembeli dan penjual.Beberapa ulama kontemporer melarang transaksi salam
paralel terutama jika perdagangan dan transaksi semacam itu dilakukan secara
terus-menerus karena dapat menjurus kepada riba.

Skema Salam Paralel

(1)-a (1)
(2)-a Pembeli/ (2)
Penjual/
Pembeli
Pemasok (3)-a Penjual
(3)

Prosedurnya sama dengan salam biasa hanya prosedurnya melibatkan pihak ke-3.
Tugas BAB 10 Akad Salam

5. Jelaskan rukun dan ketentuan syariah dari salam!

Jawaban:

Rukun dan Ketentuan Akad Salam adalah sebagai berikut:

Rukun salam ada 3,yaitu :


1. Pelaku,terdiri atas penjual (muslam illaihi) dan pembeli (al muslam)
2. Objek akad berupa barang yang akan diserahkan (muslam fiih) dan modal salam
(ra’su maalis salam)
3. Ijab kabul/serah terima

Ketentuan syariah,terdiri dari :


1. Pelaku adalah cakap hukum dan baligh
2. Objek akad
a. Ketentuan syariah yang terkait dengan modal salam,yaitu :
1) Modal salam harus diketahui jenis dan jumlahnya
2) Modal salam berbentuk uang tunai
3) Modal salam diserahkan ketika akad berlangsung, tidak boleh utang atau
merupakan pelunasan piutang
b. Ketentuan syariah barang salam,yaitu :
1) Barang tersebut harus dapar dibedakan/ diidentifikasi mempunyai
spesifikasi dan karakteristik yang jelas seperti kualitas, jenis, ukuran dsb
sehingga tidak ada gharar
2) Barang tersebut harus dapat dikualifikasi/ditakar/ditimbang
3) Waktu penyerahan barang harus jelas,tidak harus tanggal tertentu boleh
juga dalam kurun waktu tertentu,miaslnya dalam waktu 6 bulan atau
musim panen disesuaikan dengan kemungkinan tersedianya barang
yang dipesan
4) Barang tidak harus ada di tangan penjual,tetapi harus ada pada waktu
yang ditentukan
5) Apabila barang yang dipesan tidak ada pada waktu yang
ditentukan,akad menjadi fasakh/rusak dan pembeli dapat memilih
apakah menunggu sampai dengan barang yang dipesan tersedia atau
Tugas BAB 10 Akad Salam

membatalkan akad sehingga penjual harus mengembalikan dana yang


telah diterima
6) Apabila barang yang dikirim cacat atau tidak sesuai dengan yang
disepakati dalam akad,maka pembeli boleh melakukan khiar atau
memilih untuk menerima atau menolak
7) Apabila barang yang dikirim memiliki kualitas yang lebih baik,maka
penjual tidak boleh meminta tambahan pembayaran dan hak ini
dianggap sebagai pealyanan kepuasan pelanggan
8) Apabila barang yang dikirim kualitasnya lebih rendah,pembeli boleh
memilih menolak atau menerimanya
9) Barang boleh dikirim sebelum jatuh tempo asalkan disetujui oleh kedua
pihak dan dengan syarat kualitas dan jumlah barang sesuai dengan
kesepakatan,dan tidak boleh menuntut penambahan harga
10) Penjualan kembali barang yang dipesan sebelum diterima tidak
dibolehkan secara Syariah
11) Kaidah penggantian barang yang dipesan dengan barang lain
12) Apabila tempat penyerahan barang tidak disebutkan,akad tetap sah
3. Ijab Kabul
Adalah pernyataan dan ekspresi saling rida/rela di antara pihak-pihak pelaku
akad yang dilakukan secara verbal,tertulis melalui korespondensi atau
menggunakan cara-cara komunikasi modern.

6. Berdasarkan ilustrasi diatas, bagaimanakah transaksi Bapak C dan Bapak


B menurut Syariah?

Jawaban:

Menurut akad Salam ilustrasi antara Bapak C dan Bapak B sesuai dengan
syariah karena didalam akad salam dijelaskan transaksi jual beli dimana barang
yang diperjual belikan belum ada ketika transaksi dilakukan, pembeli melakukan
pembayaran dimuka sedangkan penyeerahan barang baru dilakukan kemudian hari.
Tugas BAB 10 Akad Salam

Menurut Gharar ilustrasi antara Bapak C dan Bapak B tidak sesuai dengan
syariah karena mengandung ketidakpastian. Ketidakpastian itu terjadi dalam hal
kualitas kedelai yang nantinya akan dikirim kepada Bapak C karena jumlah kedelai
yang cukup banyak.

7. Jelaskan manfaat akad salam bagi penjual dan pembeli!

Jawaban:

Manfaat akad salam bagi pembeli adalah adanya jaminan memperoleh barang
dalam jumlah dan kualitas tertentu pada saat ia membutuhkan dengan harga yang
disepakatinya di awal.

Manfaat akad salam bagi penjual adalah diperolehnya dana untuk melakukan
aktivitas produksi dan memenuhi sabagian kebutuhan hidupnya.
TUGAS AKUNTANSI SYARIAH
D
I
S
U
S
U
N
Oleh:

Stevani Trinitati Sintamarito S.


180522039

PROGRAM STUDI S-1 EKSTENSI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2018