Anda di halaman 1dari 1694

Kajian numerik analisis lentur balok beton bertulang

dengan metode kompatibilitas regangan. Kinerja ruas


jalan Sultan Alauddin untuk 10 Tahun mendatang
(dengan program analisis Lalu Lint. Pemanfaatan
Limbah Gelas Plastik pada Busana Kreasi Baru.
Pengaruh asal sekolah terhadap partisipasi dan hasil
belajar mata kuliah ilmu ukur tanah mahasiswa
KUMPULAN
program D III Teknik Sipil. Pengaruh temperatur
pencelupan terhadap kekerasan, laju korosi dan
struktur mikro pada baja karbon rendah dengan
pelapisan metod. Perancangan regulator robust pada
roto packer proses packing dengan metode kontrol h8
Skripsi Teknik Sipil
di PT.Semen Gresik-Tub. Perencanaan pembangunan
gedung kuliah dan laboraturium 3 lantai FBS Unnes.
Perencanaan pengolahan limbah domestik perumahan
Garden Hills Estate Samarinda. Perencanaan
pengolahan limbah domestik perumahan Garden Hills
Estate Samarinda. Perencanaan struktur gedung 5
lantai Dekranasda Dinas Perindustrian dan
Perdagangan Propinsi Jawa Tengah. Pola bisnis dalam
pengembangan perumahan dan permukiman. Prinsip
termal rumah tradisional jawa sebagai dasar
perancangan. Redesign struktur gedung kantor BNI 46
wilayah 05 Semarang. Uji Kuat Tekan dan Serapan Air
pada Bata Beton Berlubang dengan Bahan Ikat Kapur
dan Abu Layang.
KAJIAN NUMERIK ANALISIS LENTUR
BALOK BETON BERTULANG DENGAN METODE
KOMPATIBILITAS REGANGAN

TUGAS AKHIR

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menempuh ujian tugas akhir
dan menyelesaikan studi pada Program Studi Teknik Sipil Diploma III
Fakultas Teknik Universitas Riau

OLEH :

AFYUDIANSYAH
0507020632

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL D-III


JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2009
HALAMAN PENGESAHAN
TUGAS AKHIR

KAJIAN NUMERIK ANALISIS LENTUR BALOK BETON BERTULANG


DENGAN METODE KOMPATIBILITAS REGANGAN

Diajukan oleh:

AFYUDIANSYAH
NIM : 0507020632

Disetujui oleh Disetujui oleh


Pembimbing I, Pembimbing II,

Andre Novan, ST., MT. Ridwan, ST., MT.


NIP : 19751127 199903 1001 NIP : 19730708 199903 1002

Disetujui Oleh
Program Studi Teknik Sipil D-III
Ketua,

Fakhri, ST., MT
NIP : 19680919 199512 1001

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL D-III


JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2009
HALAMAN PENGESAHAN
TUGAS AKHIR

KAJIAN NUMERIK ANALISIS LENTUR BALOK BETON BERTULANG


DENGAN METODE KOMPATIBILITAS REGANGAN

Oleh:

AFYUDIANSYAH
NIM : 0507020632

Telah dipertahankan di depan Tim Penguji pada


Program Studi Teknik Sipil D-III Fakultas Teknik Universitas Riau
Pada hari Kamis tanggal 28 januari 2010

Tim Penguji

No Nama/NIP Jabatan Tanda Tangan Keterangan

Andre Novan, ST., MT Pembimbing I/


1. Ketua
NIP. 19751127 199903 1001 Penguji

Ridwan, ST., MT Pembimbing II/


2. Anggota
NIP. 19730708 199903 1002 Penguji

3. H. Gussyafri, ST., MT Anggota Penguji


NIP. 19680817 199702 1001

4. Drs. Suprasman, MM Anggota Penguji


NIP. 19580515 198503 1002

5. Azhari, ST., MT Anggota Penguji


NIP. 19680828 199702 1001
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh,

Puji dan rasa syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat
dan karunia-Nya, shalawat serta salam ditujukan kepada Rasulullah SAW
sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan judul ”Kajian
Numerik Analisis Lentur Balok beton Bertulang dengan Metode Kompatibilitas
Regangan”. Shalawat beriring salam penulis ucapkan kehadirat junjungan alam
Nabi Besar Muhammad SAW.
Adapun maksud dan tujuan dari penulisan Tugas Akhir ini adalah sebagai
salah satu syarat untuk menyelesaikan studi pada Program Studi Teknik Sipil
Diploma III Fakultas Teknik Universitas Riau.
Berkat bimbingan dan bantuan yang telah diberikan dalam penyelesaian
Tugas Akhir ini, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada:
1. Bapak Dr. Syaiful Bahri, M.Si., Ph.D, selaku Dekan Fakultas Teknik
Universitas Riau.
2. Bapak Fahkri, ST., MT, selaku Ketua Program Studi D-III Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Riau.
3. Bapak Andre Novan, ST., MT, selaku Dosen Pembimbing I yang telah
memberikan penulis judul Tugas Akhir dan memberikan bimbingan
kepada penulis dalam menyelesaikan Tugas Akhir.
4. Bapak Ridwan, ST., MT, selaku Dosen Pembimbing II yang telah
memberikan bimbingan dan masukan kepada penulis dalam
menyelesaikan Tugas Akhir.
5. Seluruh dosen staf pengajar dan pegawai tata usaha Fakultas Teknik
Universitas Riau.

i
6. Buat Ayahanda dan Ibunda yang telah bersusah payah mendidik dan
membesarkan dengan curahan kasih sayang sehingga penulis dapat
melanjutkan studinya sampai ke jenjang perguruan tinggi ini.
7. Seluruh teman-teman seangkatan tanpa terkecuali seluruh civitas Fakultas
Teknik Universitas Riau.
8. Seluruh pihak yang telah membantu dalam penyelesaian Tugas Akhir ini
yang tidak bisa penulis sebutkan satu-persatu.
Penulis berharap semoga penelitian yang telah dilakukan dan disajikan
dalam bentuk tugas akhir ini dapat memberikan manfaat yang berarti bagi dunia
Teknik Sipil dan untuk pengembangan penelitian selanjutnya.
Akhir kalam, penulis mengucapkan Alhamdulillahhirobbil’alamin, semoga
Tugas Akhir ini bermanfaat terutama bagi penulis sendiri khususnya dan pada
pembaca umumnya.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

Pekanbaru, 2009

Penulis,

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................... i


DAFTAR ISI ................................................................................................. iii
DAFTAR TABEL ........................................................................................ vi
DAFTAR GAMBAR .................................................................................... vii
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. ix
DAFTAR NOTASI ........................................................................................ x

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ........................................................................... 1
1.2 Perumusan dan Batasan Masalah ............................................... 2
1.3 Tujuan Penelitian ....................................................................... 3
1.4 Manfaat Penelitian ..................................................................... 3 3

BAB II LANDASAN TEORI


2.1 Pengertian Beton ........................................................................ 5
2.2 Model Kurva Tegangan-Regangan Beton ................................. 7
2.3 Baja Tulangan ............................................................................ 8
2.4 Analisis Lentur Balok Beton Bertulang ..................................... 10
2.4.1 Konsep Dasar Balok Lentur ............................................. 11
2.4.2 Analisis Balok dan Disain Balok Metode Whitney .......... 14
2.4.2.1 Analisis Tulangan Tunggal .................................. 15
2.4.2.2 Analisis Tulangan Rangkap .................................. 17
2.4.2.3 Disain Balok Metode Whitney ............................. 19
2.4.2.4 Disain Balok Tulangan Tunggal ........................... 19
2.4.2.5 Disain Balok Tulangan Rangkap .......................... 20
2.5 Metode Kompatibilitas Regangan
(James G.MacGregor 1997) ........................................................ 21
2.6 Metode Secant ............................................................................ 24
2.6.1 Teori Metode Secant ............................................... 24

iii
2.6.2 Algoritma Metode secant ........................................ 25
2.7 Software MATHCAD 14 ............................................................ 26
2.7.1 Programming didalam MATHCAD 14 .................... 27

BAB III METODOLOGI PENELITIAN


3.1 Tahapan Pelaksanaan Penelitian Metode Kompatibilitas
Regangan .................................................................................... 33
3.2 Fungsi Kurva Tegangan-Regangan Kuat Tekan Beton
Hognestad ................................................................................... 35
3.3 Fungsi Kurva Tegangan-Regangan Kuat Tarik Baja Paulay ....... 35
3.4 Penerapan Algoritma Kedalam Software MATHCAD 14 ....... 36
3.5 Selisih Momen Kapasitas Tampang dan Verifikasi ..................... 36

BAB IV HASIL dan PEMBAHASAN


4.1 Pendahuluan ............................................................................... 37
4.2 Pembahasan Penelitian ............................................................... 37
4.2.1 Model Numerik Kurva Tegangan-Regangan
Penelitian Hognestad dan Metode Secant .............. 37
a. Model Numerik Kurva Tegangan-Regangan
Beton Hognestad ................................................ 37
b. Numerik Metode Secant .................................... 38
4.3 Bagan Alir Program Metode Kompatibilitas Regangan .............. 40
4.3.1 Bagan Alir Program Model Kurva Tegangan-
Regangan Beton dan Baja ........................................ 40
4.3.2 Bagan Alir Program Fungsi Momen Hingga
Analisiss Metode Kompatibilitas Regangan
Tulangan Tunggal .................................................... 41
4.3.3 Bagan Alir Program Fungsi Momen Hingga
Analisiss Metode Kompatibilitas Regangan
Tulangan Rangkap dan Majemuk ............................ 45
4.3.4 Bagan Alir Program Disain Balok Kompatibilitas
Regangan.................................................................. 49

iv
4.4 Bagan Alir Analisiss Balok Metode Whitney .............................. 53
4.4.1 Bagan Alir Analisiss Balok Tulangan Tunggal ........ 53
4.4.2 Bagan Alir Analisiss Balok Tulangan Rangkap ....... 55
4.4.3 Bagan Alir Disain Balok Tulangan Tunggal
Metode Whitney....................................................... 56
4.4.4 Bagan Alir Disain Balok Tulangan Rangkap
Metode Whitney....................................................... 57
4.5 Algoritma Program Metode Kompatibilitas Regangan .............. 58
4.5.1 Algoritma Analisis Balok Tulangan Tunggal .......... 58
4.5.2 Algoritma Analisis Balok Tulangan Rangkap
dan Majemuk ............................................................ 61
4.5.3 Algoritma Disain Balok Tulangan Tunggal ............. 64
4.5.4 Algoritma Metode Secant ......................................... 66
4.6 Tahapan Analisis dan Disain Balok Metode Whitney ................ 67
4.6.1 Tahapan Analisis Balok Tulangan Tunggal
dan Rangkap Metode Whitney ................................. 67
4.6.2 Tahapan Disain Balok Tulangan Tunggal
Metode Whitney....................................................... 68
4.6.2 Tahapan Disain Balok Tulangan Rangkap
Metode Whitney....................................................... 68
4.7 Verifikasi Program ....................................................................... 69
4.7.1 Penentuan Banyak Pias ............................................ 69
4.7.2 Momen Kapasitas Tampang ..................................... 73

BAB V KESIMPULAN dan SARAN


5.1 Kesimpulan ................................................................................ 74
5.2 Saran .......................................................................................... 74

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 76

v
DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman


4.1 Hasil Penerapan Berbagai Pias untuk Tulangan Tunggal .................... 68
4.2 Hasil Penerapan Berbagai Pias untuk Tulangan Rangkap ................... 68
4.3 Hasil Penerapan Berbagai Pias untuk Disain ....................................... 69
4.4 Selisih Kapasitas Tampang Balok ....................................................... 72
4.5 Perbandingan Hasil Disain ................................................................... 72

vi
DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman


2.1 Kurva Tegangan-Regangan Untuk Beton Uniaxial ............................ 7
2.2 Kurva Tegangan-Regangan Beton Penelitian Hognestad
(James G.MacGregor, 1997) ............................................................... 8
2.3 Kurva Tegangan - Regangan Baja (Paulay, 1975) .............................. 9
2.4 Balok Beton ......................................................................................... 12
2.5 Diagram Blok Tegangan dan Kopel Momen dalam
(James G.MacGregor, 1997). .............................................................. 12
2.6 Tegangan Elastis Balok dan Blok Tegangan ...................................... 13
2.7 Regangan dan Tegangan Balok Beton Bertulangan Tunggal .............. 15
2.8 Kondisi Penulangan ............................................................................ 17
2.9 Regangan dan Tegangan Balok Beton Bertulangan Rangkap ............. 17
2.10 Tegangan yang Terjadi pada Tulangan Tunggal .................................. 20
2.11 Tegangan yang Terjadi pada Tulangan Rangkap ................................ 21
2.12 Penyelesaian Kompatibilitas Regangan (James G.MacGregor, 1997)
2.13 Penentuan Nilai Turunan Fungsi dengan Metode Secant
(Amrinsyah nasution, 2005). ................................................................ 24
3.1 Flow chart Penelitian Tugas Akhir ..................................................... 34
4.1 Kurva Tegangan-Regangan Hognestad .............................................. 38
4.2 Bagan Alir Kurva Tegangan dan Regangan ....................................... 40
4.3 Bagan Alir Program Fungsi Momen Hingga Analisiss Metode
Kompatibilitas Regangan Tulangan Tunggal....................................... 44
4.4 Bagan Alir Program Fungsi Momen Hingga Analisiss Metode
Kompatibilitas Regangan Tulangan Rangkap dan Majemuk............... 48
4.5 Bagan Alir Program Disain Balok Kompatibilitas Regangan.............. 52
4.6 Bagan Alir Analisiss Tulangan Tunggal Metode Whitney .................. 54
4.7 Bagan Alir Analisiss Tulangan Rangkap Metode Whitney ................. 56
4.8 Bagan Alir Disain Balok Tulangan Tunggal Metode Whitney............ 56

vii
4.9 Bagan Alir Disain Balok Tulangan Tunggal Metode Whitney............ 57
4.10 Pias-Pias Regangan Balok Tulangan Tunggal ..................................... 59
4.11 Numerik Tegangan Kopel Desak Balok .............................................. 60
4.12 Pias-Pias Regangan Balok Tulangan Rangkap .................................... 62
4.13 Numerik Tegangan Kopel Desak Balok .............................................. 63
4.14 Kurva Hubungan Kapasitas Tampang dan Pias
Untuk Analisis Kompatibilitas Balok Tulangan Tunggal .................... 71
4.15 Kurva Hubungan Kapasitas Tampang dan Pias
Untuk Analisis Kompatibilitas Balok Tulangan Rangkap ................... 71
4.16 Kurva Hubungan Tinggi Blok Tekan dan Pias
Untuk Analisis Kompatibilitas Balok Tulangan Tunggal .................... 72
4.17 Kurva Hubungan Tinggi Blok Tekan dan Pias
Untuk Analisis Kompatibilitas Balok Tulangan Rangkap ................... 72

viii
DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Halaman


1 Regangan dan Tegangan Hognestad Hasil Program ........................... 78
2 Regangan dan Tegangan Paulay Hasil Program .................................. 79
3 Analisis Lentur Balok Tulangan Tunggal Whitney ............................. 80
4 Analisis Lentur Balok Tulangan Tunggal Hasil Program ................... 81
5 Analisis Lentur Balok Tulangan Rangkap Whitney ........................... 82
6 Analisis Lentur Balok Tulangan Rangkap Hasil Program .................. 83
7 Disain Balok Tulangan Tunggal Hasil Whitney ................................. 84
8 Disain Balok Tulangan Rangkap Hasil Whitney ................................ 85
9 Disain Balok Tulangan Rangkap Hasil Program ................................ 86
10 Analisis Lentur Balok Tulangan Majemuk Hasil Program ................. 87

ix
DAFTAR NOTASI

𝐴𝑠 , 𝐴𝑠𝑡𝑎𝑟𝑖𝑘 1 : luas tulangan tarik, mm2

𝐴𝑠𝑡𝑎𝑟𝑖𝑘 2 : tambahan tulangan tarik, mm2

𝐴𝑠𝑡𝑢𝑙 : luas tulangan pada masing-masing layer, mm2

𝐴1𝑡𝑢𝑙 : luas tulangan, mm2

𝐴′𝑠 , 𝐴𝑠𝑡𝑒𝑘𝑎𝑛 : luas tulangan tekan, mm2

𝑎 : tinggi kopel desak, mm

𝑏 : lebar penampang balok, mm

𝐶 : gaya tekan, N

𝐶𝑐 : gaya tekan beton, N

Σ𝐶𝑐 : tegangan tekan beton, N.mm

𝐶𝑠 : gaya tekan tulangan, N

𝑐, 𝑌𝑐 : jarak garis netral saat ultimit, mm

𝑑, 𝑑𝑏 : jarak tulangan tarik ketepi ujung balok/tinggi efektif, mm

𝑑′ : jarak tulangan tekan ketepi ujung balok, mm

𝑑𝑠 : jarak tulangan tarik ketepi ujung balok, mm

𝑑𝑡𝑢𝑙 : tinggi tengah tulangan ke atas balok, mm

𝐸𝑐 : modulus elastisitas beton, MPa

𝐸𝑠 , 𝐸𝑦 : modulus elastisitas baja, MPa

𝑓𝑠 : tegangan tulangan tarik, N/𝑚𝑚2

𝑓′𝑠 : tegangan tulangan tekan, N/𝑚𝑚2

𝑓𝑠 𝜀𝑠 : fungsi tegangan-regangan baja Paulay, Mpa

𝑓𝑠1 : tegangan tulangan tarik tiap layer

x
𝑓𝑟 : modulus pecah, MPa

𝑓𝑦 : kuat leleh baja, MPa

𝑓′𝑐 : kuat takan beton, MPa

𝑓𝑐 : tegangan beton, MPa

𝑓𝑐𝐻𝑜𝑔 𝜀𝑐 : fungsi tegangan-regangan beton Hognestad, MPa

𝑓𝑐𝑠 : tegangan beton pada tiap pias atau segmen, MPa

𝑓𝑐𝑎𝑣 : tegangan beton pada tengah pias atau segmen, MPa

Σ𝐻 : gaya horizontal, N

𝑕 : tinggi penampang balok, mm

𝑕𝑠𝑒𝑔 : tinggi tiap segmen/pias, mm

𝐿𝑐𝑎𝑣 : tinggi gaya tekan beton, mm

𝐿𝑠 : Jarak tengah tulangan tarik ke tengah tulangan tekan, mm

𝛽 : koefisien

𝜌 : rasio tulangan tarik

𝜌′ : rasio tulangan tekan

𝜋 : koefisien, 22/7 atau 3,14

𝜀𝑠 : regangan tulangan tarik

𝜀′𝑠 : regangan tulangan tekan

𝜀𝑦 : regangan tulangan saat leleh

𝜀𝑢 , 𝜀𝑐𝑢 : regangan beton saat ultimit, 0,003

𝜀𝑜 : regangan beton

𝜑 : faktor reduksi kekuatan

∅ : diameter tulangan, mm

𝑀𝑛 : momen nominal, Nmm

𝑀𝑛1 : kelebihan momen, Nmm

xi
𝑀𝑛 𝑌𝑐 : fungsi momen pemogramman

𝑀𝑛 𝑌𝑐3 0 : kontrol gaya horizontal

𝑀𝑛 𝑌𝑐3 1 : momen kapasitas penampang

𝑀𝑛 𝑌𝑐3 3 : regangan tulangan masing-masing layer

Σ𝑀𝑐 : momen tekan beton, Nmm

Σ𝑀𝑠 : momen tekan baja, Nmm

Σ𝑀𝑡𝑜𝑡 : momen total, Nmm

𝑀𝑢 : momen ultimit, Nmm

𝑛𝑡𝑢𝑙 : kebutuhan tulangan, mm2

𝑛𝑙𝑎𝑦𝑒𝑟 : banyak layer tulangan

𝑛𝑠𝑒𝑔 : pembagi segmen/banyak pias regangan dan tegangan

𝑇𝑠 : gaya tarik tulangan, Nmm

Σ𝑇𝑠 : momen tarik tulangan, Nmm

𝑦𝑐 : Jarak segmen dari selimut atas balok ketepi segmen, mm

𝑦𝑐3 : tinggi blok tekan beton

xii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Material beton dan baja berperilaku secara inelastik sebagai kuat ultimit.
Sifat inelastik dari kedua material tersebut dipertimbangkan dan ditunjukkan
dalam persamaan matematika, untuk penulangan baja dengan titik luluh tertentu
perilaku inelastik ditunjukkan dengan grafik hubungan tegangan-regangan.
Sedangkan pada beton, distribusi tegangan penampang beton desak sulit
menentukannya jika secara perhitungan manual karena model distribusi
tegangan-regangan berbentuk parabolik, distribusi aktual dari tegangan tekan
beton secara praktis merupakan hal yang rumit.
Dalam perencanakan komponen struktur beton bertulang terhadap
kombinasi beban lentur dan aksial, perencanaan yang diawali dari analisis lentur
balok beton bertulang berdasarkan pada Tatacara Perhitungan Struktur Beton
untuk Bangunan Gedung (SNI 03–2847–2002) di Indonesia menggunakan model
tegangan beton ultimit berbentuk persegi ekivalen menurut penelitian Whitney
pada tahun 1937. Whitney mengusulkan bentuk kurva tegangan beton persegi
ekivalen dan terbukti menghasilkan penyelesaian yang mendekati hasil riset atau
eksperimen dan berhasil dengan baik. Pendekatan diperlukan, karena diketahui
bahwa perilaku ultimit beton mempunyai distribusi tegangan yang bersifat non-
linier, sehingga dengan distribusi tegangan yang bersifat linear cukup kompleks
bila dihitung dengan cara manual. Usulan Whitney mudah digunakan baik untuk
perencanaan maupun analisis karena berbentuk berupa empat persegi.
Pendekatan dilakukan oleh James G.MacGregor pada tahun 1997, dengan
melakukan penelitian serta memaparkan penelitian model persegi oleh Hognestad
untuk menentukan distribusi tegangan yang bersifat non-linier atau bagian
parabola. Telah dijelaskan bahwa perilaku ultimit beton mempunyai distribusi
tegangan yang bersifat non-linier, model yang bersifat non-linier atau parabola
adalah bersifat metode yang rumit dan tidak dapat diselesaikan dengan metode

1
2

analitik maka dapat diselesaikan dengan metode numerik. Dengan adanya system
komputerisasi, analisis yang hubungan tegangan-regangan non-linearitas dapat
diselesaikan dengan baik menggunakan metode numerik berdasarkan metode
kompatibilitas regangan.
Dalam penelitian ini akan bersifat studi literatur yang akan menjelaskan
numerik model kurva tegangan-regangan beton, dilanjutkan dengan menyajikan
tata cara analisis lentur balok beton bertulang dengan metode kompatibilitas
regangan hingga disain, dan mengimplementasikan dalam suatu aplikasi berbasis
komputer menggunakan bantuan software. Hasil analisis dan disain dari aplikasi
berbasis komputer tersebut akan mendapatkan hasil hitungan analisis momen
kapasitas penampang (Mn), dan menentukan selisih analisis beserta disain balok
beton bertulang metode perhitungan hasil penelitian model persegi Whitney pada
tahun 1937. Maka didapat pemodelan kurva tegangan-regangan yang lebih baik
dalam memprediksi kekuatan lentur balok beton bertulang.

1.2 Perumusan dan Batasan Masalah


Dari penjelasan latar belakang dapat diambil suatu rumusan masalah,
menyajikan tata cara analisis lentur balok beton bertulang dengan metode
kompatibilitas regangan hingga disain, dan mengimplementasikan dalam suatu
aplikasi berbasis komputer menggunakan bantuan software. Hasil analisis dan
disain dari aplikasi berbasis komputer tersebut akan mendapatkan hasil hitungan
analisis momen kapasitas penampang (Mn), dan menentukan selisih analisis
beserta disain balok beton bertulang metode perhitungan hasil penelitian model
persegi Whitney pada tahun 1937.
Dalam penelitian ini permasalahan yang ditinjau dibatasi sebagai berikut:
1. Analisis lentur dan disain balok dilakukan pada balok beton bertulang
tunggal dan rangkap tanpa sengkang atau kekangan, berpenampang
persegi.
2. Menggunakan model kurva tegangan-regangan beton persegi hasil
penelitian Hognestad yang dipaparkan oleh James G.MacGregor pada
tahun 1997.
3

3. Menggunakan model kurva tegangan-regangan baja hasil penelitian


Paulay tahun 1975.
4. Analisis untuk tulangan rangkap dapat diaplikasikan terhadap analisis
tulangan majemuk dengan kurva tegangan-regangan yang sama.
5. Metode untuk mendapatkan tinggi blok tekan dalam kondisi
setimbang menggunakan metode secant.
6. Pada kurva tegangan-regangan untuk mencari luasan dibawah kurva
parabolik ditentukan dengan cara iterasi.
7. Analisis lentur dan disain balok beton bertulang model persegi
Whitney pada tahun 1937, diimplimentasikan kedalam software
MATHCAD 14.
8. Program numerik analisis dan disain balok beton bertulang
menggunakan software MATHCAD 14.

1.3 Tujuan Penelitian


Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Menghasilkan algoritma dan bagan alir proses numerisasi analisis dan
disain lentur balok beton bertulang dengan metode kompatibilitas.
2. Menghasilkan program analisis dan disain lentur balok beton
bertulang penampang persegi baik tulangan tunggal, rangkap serta
majemuk dengan bantuan software MATHCAD 14.
3. Mengidentifikasi akurasi besaran perbedaan selisih hasil analisis yang
dinyatakan dengan nilai (%) dan disain balok beton bertulang
penampang persegi antara metode kompatibilitas regangan dengan
metode Whitney tahun 1937.

1.4 Manfaat Penelitian


Penelitian yang dilaksanakan ini diharapkan yaitu:
1. Lebih mengetahui cara melakukan analisis dan disain balok beton
bertulang yang lebih mendekati perilaku asli mekanik.
4

2. Dapat menyimpulkan akurasi metode Whitney terhadap metode


kompatibilitas dengan indikator persentase (%) perbedaan hasil.
3. Dapat memperoleh pemodelan kurva tegangan-regangan yang lebih
baik dalam memprediksi kekuatan lentur balok beton bertulang.
4. Dapat mendorong penggunaan teknologi komputer untuk
memprediksi kekuatan lentur penampang balok beton bertulang.
5

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Beton


Beton adalah suatu bahan komposit yang terdiri dari kumpulan, secara
umum pasir dan kerikil atau agregat kasar, dengan bahan pengikat semen portland
dan air. Kumpulan pasir dan kerikil dengan ukuran kerikil yang maksimum di
1
dalam beton struktural biasanya 3/4 in, ada 3/8 in, atau 12 in. Sebatas kerikil

masih bisa digunakan (James G.MacGregor, 1997).


Beton dihasilkan dari sekumpulan interaksi mekanis dan kimiawi sejumlah
material pembentuknya. Material pembentuk tersebut berupa agregat halus dan
agregat kasar yaitu pasir, batu, batu pecah atau bahan semacam lainnya, dengan
menambahkan secukupnya bahan perekat semen portland, dan air sebagai bahan
pembantu guna keperluan reaksi kimia selama proses pengerasan dan perawatan
beton berlangsung (James G.MacGregor, 1997).
Nilai kuat tekan beton relatif lebih tinggi dibandingkan dengan kuat
tariknya, dan beton merupakan bahan yang bersifat getas. Kuat tarik yang dimiliki
beton hanya berkisar antara 9-15% dari kuat tekannya (Istimawan
Dipohusodo,1999) karenanya sering kali dalam perencanaan kuat tarik beton
dianggap sama dengan nol. Dengan menambahkan baja tulangan pada daerah tarik
pada beton, maka kelemahan tarik beton dapat ditanggung oleh baja tulangan
yang memiliki kuat tarik yang labih besar.
Kuat tekan beton diwakili oleh tegangan tekan maksimum f’c dengan
satuan N/mm2 atau MPa (Mega Pascal). Kuat tekan beton normal berumur 28 hari
berkisar antara ± 10-65 MPa. Struktur beton bertulang umumnya menggunakan
beton dengan kuat tekan berkisar 17-30 MPa, sedangkan untuk beton prategang
digunakan beton dengan kuat tekan yang lebih tinggi, berkisar antara 30-45 MPa.
Untuk keadaaan dan keperluan struktur khusus, beton ready mix sanggup
mencapai kuat tekan 62 Mpa (James G.MacGregor, 1997).

5
6

Ada empat langkah-langkah utama untuk pengembangan tentang


keretakan kecil dan kegagalan pada beton uniaksial (James G.MacGregor, 1997):
a. Penyusutan pasta semen selama hidrasi dan pengeringan beton ini
mempengaruhi agregat. Regangan dapat timbul tanpa beban besar dan
langsung ditahan oleh agregat dan mengalami retak. Retak-retak hanya
memberikan sedikit pengaruh pada beton pada beban-beban yang rendah
dan kurva tegangan-regangan tetap linear sampai 30% dari kekuatan beton.
b. Ketika beton diberikan beban yang lebih besar dari 30 ke 40% , tekanan di
permukaan-permukaan yang ditahan oleh agregat akan meningkatkan
regangan dan kekuatan geser dari campuran hingga retak-retak baru akan
meningkat. Retak-retak bertahan stabil dan meningkat jika beban
ditingkatkan. Begitu retak telah stabil, setiap beban tambahan akan
langsung dialirkan kebagian bawah penghubung yang didistribusikan lagi
kepada alat penghubung sisa secara terus menerus dan ke adukan semen.
Pembagian kembali beban menyebabkan kurva tegangan-regangan
berangsur-angsur membengkok untuk menekankan di atas 40% dari
kekuatan. Kelengkungan diakibatkan berkurangnya kekuatan menahan
beton.
c. Ketika beban ditingkatkan sebesar 50 atau 60%, retak-retak tersebut
berkembang paralel terhadap tekanan terjadi, karena beban tarik garis
melintang. keretakan meningkat dengan meningkatkan beban tetapi tidak
meningkat di bawah beban tetap. Perilaku seperti ini disebut discontinuity
limit.
d. Pada 75 hingga 80% dari beban ultimat, retak mulai meningkat sehingga
keretakan-keretakan kecil membentuk pola. Sebagai hasilnya, ada lebih
sedikit tidak bercacat membagi kepada membawa beban dan kurva
tegangan regangan menjadi taklinear lagi. Kejadian ini disebut tekanan
kritis (James G.MacGregor, 1997 ).
7

Empat langkah-langkah utama untuk pengembangan tentang keretakan


kecil dan kegagalan pada beton uniaksial dapat dilihat pada (gambar 2.1)

Gambar 2.1 Kurva Tegangan-Regangan Untuk Beton Uniaxial


(James G.MacGregor, 1997).
2.2 Model Kurva Tegangan-Regangan Beton
Dari tegangan maksimum yang diperoleh melalui pengujian mesin akan
memberikan kekuatan tarik pada beton sehingga batas tarik beton. Proses ini
menimbulkan batas regangan maka didapat kurva tegangan-regangan beton. Dari
hasil pengujian, kurva dapat ditetapkan model matematika yang sangat terkemuka
oleh seluruh ahli di dunia. Salah satunya penelitian model persegi oleh Hognestad
untuk menentukan distribusi tegangan yang bersifat non-linier atau bagian
parabola (James G.MacGregor, 1997).
Seperti halnya model beton berbentuk blok persegi ekuivalen, maka
tegangan tekan ultimate balok dibatasi sama dengan 85 % dari kuat tekan silinder,
yaitu agar konsisten dengan hasil test dari kolom yang dibebani konsentris.
Sehingga model beton Hognestad juga dapat dipakai untuk berbagai aplikasi
perencanaan , dari lentur murni sampai beban langsung (Wiryanto Dewobroto,
2005).
Untuk regangan beton (𝜀0 ) dapat dihitung dengan rumus:
𝑓′𝑐
𝜀0 = 2
𝐸𝑐
8

Kurva akan parabolik sebatas regangan beton ( 𝜀𝑐 < 𝜀0 ), maka tegangan:


2𝜀𝑐 𝜀𝑐 2
𝑓𝑐 = 𝑓′𝑐 −
𝜀0 𝜀0
Kurva akan linear setelah regangan beton (𝜀𝑐 > 𝜀0 ), maka tegangan:
0,85. 𝑓′𝑐 − 𝑓′𝑐
𝑓𝑐 = 𝑓′𝑐 + 𝜀𝑐 − 𝜀𝑜
0,003 − 𝜀𝑜
Untuk pemodelan kurva tegangan-regangan dapat dilihat pada (gambar 2.2)

Linear
𝒇′𝒄
0,15𝒇′𝒄

Tegangan 𝒇𝒄 𝟐
𝟐𝜺𝒄 𝜺𝒄 𝒇𝒄 = 𝒇′𝒄 + 𝜺𝒄 − 𝜺𝒐
𝟎, 𝟖𝟓. 𝒇′𝒄 − 𝒇′𝒄
𝒇𝒄 = 𝒇′𝒄 − 𝟎, 𝟎𝟎𝟑 − 𝜺𝒐
𝜺𝟎 𝜺𝟎

𝜺𝒄 > 𝜺𝟎
𝑬𝒄 = 𝒕𝒂𝒏𝜶

𝒇′𝒄 𝜺𝒄𝒖 = 0,003


𝜺𝟎 = 𝟐
𝑬𝒄
Regangan 𝜺𝟎
Gambar 2.2 Kurva Tegangan-Regangan Beton Penelitian Hognestad
(James G.MacGregor, 1997)

2.3 Baja Tulangan


Mengingat beton kuat menahan tekan dan lemah dalam menahan tarik,
maka dalam penggunaannya sebagai komponen struktur bangunan, umumnya
beton diperkuat dengan tulangan yanag mampu menahan gaya tarik. Untuk
keperluan penulangan tersebut digunakan bahan baja yang memiliki sifat teknis
menguntungkan, dan baja tulangan yang digunakan dapat berupa batang baja
lonjoran ataupun kawat rangkaian las (wire mesh) yang berupa batang kawat baja
yang dirangkai dengan teknik pengelasan.
Di dalam setiap struktur beton bertulang, harus diusahakan supaya
tulangan baja dan beton dapat mengalami deformasi secara bersamaan, dengan
maksud agar terjadi kompatibilitas regangan. Ada dua jenis baja tulangan yaitu,
9

baja tulangan polos dam baja tulangan ulir (deformed). Baja tulangan ulir
berfungsi untuk menambah lekatan antara beton dengan baja. Baja tulangan ulir
yaitu batang tulangan baja yang permukaannya dikasarkan secara khusus, diberi
sirip teratur dengan pola tertentu atau batang tulangan yang dipilin pada proses
produksinya (R.Park and T.Paulay, 1975).
Untuk regangan tulangan tarik (𝜀𝑠 ) ≤ regangan tulangan saat leleh (𝜀𝑦 )
merupakan daerah O-A dapat ditentukan dengan persamaan:
𝑓𝑠 = 𝜀𝑠 . 𝐸𝑠
Untuk regangan tulangan saat leleh (𝜀𝑦 ) ≤ regangan tulangan tarik (𝜀𝑠 ) ≤
regangan tulangan plastis (𝜀𝑠𝑕 ) merupakan daerah A-B dapat ditentukan dengan
persamaan:
𝑓𝑠 = 𝑓𝑦
Untuk regangan tulangan plastis (𝜀𝑠𝑕 ) ≤ regangan tulangan tarik (𝜀𝑠 ) ≤
regangan tulangan saat putus (𝜀𝑠𝑢 ) merupakan daerah B-C dapat ditentukan
dengan persamaan:
𝑚 𝜀 𝑠 −𝜀 𝑠𝑕 +2 𝜀 𝑠 −𝜀 𝑠𝑕 60−𝑚
𝑓𝑠 = 𝑓𝑦 . +
60 𝜀 𝑠 −𝜀 𝑠𝑕 +2 2 30 𝑟 +1 2
Tegangan,
𝒇𝒔
C
𝒇𝒔𝒖

A B
𝒇𝒚

𝐎−𝐀 𝐀−𝐁 𝐁−𝐂


𝜺𝒔 ≤ 𝜺𝒚 𝜺𝒚 ≤ 𝜺𝒔 ≤ 𝜺𝒔𝒉 𝜺𝒔𝒉 ≤ 𝜺𝒔 ≤ 𝜺𝒔𝒖

𝒕𝒂𝒏 𝜽 = 𝑬𝒔

O
𝜺𝒚 𝜺𝒔𝒉 𝜺𝒔𝒖 Regangan 𝜺𝒔

𝒇 𝒔 = 𝜺 𝒔 . 𝑬𝒔 𝒇𝒔 = 𝒇𝒚 𝒎 𝜺𝒔 − 𝜺𝒔𝒉 + 𝟐 𝜺𝒔 − 𝜺𝒔𝒉 𝟔𝟎 − 𝒎
𝒇𝒔 = 𝒇𝒚 . +
𝟔𝟎 𝜺𝒔 − 𝜺𝒔𝒉 + 𝟐 𝟐 𝟑𝟎𝒓 + 𝟏 𝟐
Elastis Plastis
Strain hardening

Gambar 2.3 Kurva Tegangan - Regangan Baja (Paulay,


1975).
10

Keterangan:
𝐸𝑠 : modulus elastisitas baja
𝜀𝑠 : regangan tulangan tarik
𝜀𝑦 : regangan tulangan saat leleh
𝜀𝑠𝑕 : regangan tulangan plastis, 10.𝜀𝑦
𝜀𝑠𝑢 : regangan tulangan saat putus, 0.04
𝑓𝑠 : tegangan tulangan tarik, N/𝑚𝑚2
𝑓𝑠𝑢 : tegangan tulangan tarik ultimit, N/𝑚𝑚2
𝑟 : 𝜀𝑠𝑢 − 𝜀𝑠𝑕
𝑓𝑠𝑢 −𝜀 𝑠𝑕 . 30.𝑟+1 2 −60.𝑟−1
𝑚 : 15.𝑟 2

Garis O-A menunjukkan fase elastis, pada fase ini hubungan antara
tegangan dan regangan adalah berbanding lurus (linier). Titik A disebut batas
proporsional, tegangan dititik A disebut tegangan proporsional yang nilainya
sangat dekat dengan tegangan leleh (fy). Gradien kemiringan yang di bentuk oleh
garis O-A menunjukkan modulus elastisitas (E) yang dikenal juga sebagai young
modulus. Garis A-B menunjukkan keadaan plastis yang merupakan garis yang
relatif lurus mendatar, di mana tegangan yang terjadi relatif konstan sedangkan
regangannya terus bertambah. Setelah melampaui titik B tegangan dan regangan
meningkat kembali dan mencapai tegangan maksimum dititik C. Pada titik C
disebut tegangan ultimit (kuat tarik baja) dengan nilai regangan berbeda
tergantung mutu bajanya. Fase B-C disebut penguatan regangan (strain
hardening). Setelah melampaui titik C, luasan penampang baja mengalami
pengurangan (necking) yang mengakibatkan tegangan menurun dan akhirnya baja
putus (Riki Emillianto, 2008) dan (R.Park and T.Paulay, 1975).

2.4 Analisis Lentur Balok Beton Bertulang


Tegangan lentur pada balok diakibatkan oleh regangan yang timbul karena
adanya beban luar. Apabila beban bertambah maka pada balok akan terjadi
deformasi dan regangan tambahan yang mengakibatkan retak lentur disepanjang
bentang balok. Bila beban semakin bertambah, pada akhirnya terjadi keruntuhan
11

elemen struktur. Taraf pembebanan yang demikian disebut keadaan limit dari
keruntuhan pada lentur (James G.MacGregor,1997).
Telah diketahui bahwa untuk bahan yang homogen dan elastis, distribusi
regangan maupun tegangan adalah linear, nol pada garis netral dan maksimum di
tepi serat terluar penampang. Sehingga, nilai tegangan berbanding lurus dengan
nilai regangan, kondisi ini berlaku hingga batas sebanding (proportional limit).
Apabila kekuatan tarik beton telah terlampaui, maka beton mengalami
retak rambut. Oleh karena itu beton tidak dapat meneruskan gaya tarik pada
daerah retak, sehingga seluruh gaya tarik yang timbul ditahan oleh baja tulangan.
Pada kondisi tersebut, distribusi tegangan beton tekan masih dianggap sebanding
dengan nilai regangannya (James G.MacGregor,1997).
Teori lentur untuk beton bertulang didasarkan pada tiga anggapan, yang
cukup mengizinkan untuk suatu perhitungan momen dari suatu balok.
Tiga anggapan dasar teori lentur balok beton bertulang (James
G.MacGregor, 1997) :
1. Bagian tegak lurus pada sumbu lenturan adalah bidang sebelum
membengkokkan bidang sisa setelah lenturan.
2. Regangan di dalam tulangan sebanding dengan regangan di dalam
beton ditingkatan yang sama atau sebatas beban sedang.
3. Tegangan di dalam beton dan tulangan dapat dihitung dari tegangan
menggunakan kurva tegangan-regangan untuk beton dan baja.

2.4.1 Konsep Dasar Balok Lentur


Balok adalah bagian dari struktur yang berfungsi untuk menerima beban
yang diberikan dan beban sendiri terutama akibat geser dan momen. (Gambar 2.4)
menunjukkan suatu balok sederhana menahan beban luar yang diberikan, w
adalah satuan panjang , P adalah beban luar yang diberikan. Jika beban yang
diberikan pada balok, N sama dengan 0 seperti ditunjukkan (Gambar 2.4),
perilaku seperti ini disebut sebagai sifat balok. Jika N adalah gaya tekan, perilaku
seperti ini disebut sebagai sifat kolom (James G.MacGregor, 1997).
12

P
W/unit length

Section A
𝑁=0 𝑁=0

Gambar 2.4 Balok Beton.


P

C
V V jd
T

Gambar 2.5 Diagram Blok Tegangan dan Kopel Momen dalam


(James G.MacGregor, 1997).
Momen tekan di dalam M, diakibatkan oleh satu gaya tekan di dalam C,
dan satu gaya tarik di dalam T, yang dipisahkan oleh suatu kopel jd, seperti yang
ditunjukkan di (gambar 2.5) Karena tidak ada beban bekerja diluar N, maka
akibat gaya horizontal didapat :

C−T =0 atau C = T ......................................................... (2.1)

Jika bergerak kebawah satu poros titik aplikasi gaya tekan C, berdasarkan
pada gaya tarik tulangan beton pada saat keseimbangan dari benda bebas,
Sehingga momen nominal untuk tulangan sebelah dapat dihitung dengan
persamaan:

M = T. jd ...................................................................................... (2.2a)

Dengan cara yang sama, jika bergerak keatas satu poros titik aplikasi gaya tarik T,
berdasarkan pada gaya beton tekan dapat dihitung dengan persamaan:

M = C. jd ...................................................................................... (2.2b)
13

Karena C = T, dua persamaan diatas menghasilkan gaya yang sama. Persamaan.


2.1 dan 2.2 yang diperoleh secara langsung dari metode keseimbangan lentur
juga dapat digunakan pada baja, kayu, atau beton bertulang.
Teori balok elastis konvensional mengakibatkan penyamaan 𝜍 = 𝑀𝑦/𝐼,
untuk sebuah balok persegi homogen tanpa tulangan memberi distribusi tegangan
yang ditunjukkan di (gambar. 2.6). Diagram tegangan menunjukkan di (gambar.
2.6c) dan d bisa diasumsikan mempunyai "volume," dan karena mengacu pada
blok tekan dan blok tegangan-tarik, resultan dari y tekan adalah C kekuatan yang
diberi adalah :
σ c max h
C = . b2 ........................................................................... (2.3)
2

Menunjukkan dengan volume dari kompresi blok tegangan di (gambar.


2.6d) cara ini bisa menghitung kekuatan T dari blok tegangan-tarik. Gaya dari C
dan T, Di dalam kasus yang elastis gaya ini berlaku pada h/3 di atas atau di bawah
sumbu netral, sehingga jd=2h / 3. Dari persamaan. 2.2b dan 2.3 dan (gambar.2.6)
diperoleh (James G.MacGregor, 1997) :
M = C. jd ...................................................................................... (2.4a)
(b.h) 2.h
M = σc max 4 . 3 ................................................................. (2.4b)
b.h 3 /12
M = σc max ....................................................................... (2.4c)
h/2
σ.I
M= .......................................................................................... (2.4d)
y
M.y
σ= I

M y

(a) (b) b σc(max )


h/2

jd C
(c) (d)
T

Gambar 2.6 Tegangan Elastis Balok dan Blok Tegangan.


14

Jadi Dengan demikian untuk kasus yang elastis, sama dengan balok untuk
persamaan. 2.4d. dan dari persamaan. 2.2 menggunakan konsep blok tegangan.
Teori balok elastis persamaan. 2.4d tidak digunakan di dalam disain balok
beton bertulang, pertama karena kurva tegangan-regangan yang compressive dari
beton adalah non-linear, dan yang lebih penting lagi, karena beton retak terdapat
pada regangan yang rendah menekankan, sehingga perlu menambah penulangan
untuk menahan gaya tarik T. Dua faktor-faktor ini dapat diselesaikan dengan
dikombinasikan persamaan. 2.1 dan 2.2 (James G.MacGregor, 1997).

2.4.2 Analisis Balok dan Disain Balok Metode Whitney


Dalam perhitungan pada metode perencanaan kekuatan balok beton
dengan penampang persegi digunakan distribusi tegangan ekivalen bentuk persegi
yang diusulkan oleh withney sebagai penyederhanaan dari bentuk distribusi
lengkung. Withney menyarankan suatu distribusi tegangan persegi dengan nilai
intensitas tegangan ratarata 0,85.f’c dan tinggi blok tegangan a = β1.c. Whitney
menetapkan harga β1 sebesar 0,85 untuk f’c < 30 Mpa dan berkurang sebesar
0,08 untuk setiap kelebihan 10 Mpa, akan tetapi tidak boleh kurang dari 0,65. Dari
tegangan persegi ekivalen ini nilai kuat lentur nominal (Mn) dapat dihitung
(Wiryanto Dewobroto, 2005).
Pendekatan dan pengembangan metoda perencanaan kekuatan didasarkan
atas anggapan :
1. Bidang penampang rata sebelum terjadi lentur, tetap rata setelah lentur dan
tetap tegak lurus sumbu bujur balok ( prinsip bernouli ), karena itu nilai
regangan terdistribusi linier atau sebanding lurus dengan jaraknya terhadap
garis netral (prinsip Navier).
2. Tegangan sebanding dengan regangan hanya sampai kira-kira beban
sedang, yaitu saat tegangan beton tekan telah melampaui ± f’c. Bila beban
meningkat sampai beban batas, tegangan yang timbul tidak lagi sebanding
dengan regangan, sehingga blok tegangan tekan berupa garis lengkung.
3. Dalam menghitung kapasitas momen, beton tarik diabaikan, seluruh gaya
tarik ditahan batang baja tulangan.
15

Model yang digunakan untuk analisis lentur adalah balok beton bertulang
berpenampang persegi prismatis dengan tulangan tunggal dan rangkap tanpa
sengkang atau kekangan oleh (James G.MacGregor, 1997).
2.4.2.1 Analisis Tulangan Tunggal

𝜺𝒄𝒖 = 𝟎, 𝟎𝟎𝟑 𝒇𝒄 = 𝟎, 𝟖𝟓. 𝒇′𝒄


𝒃

𝜺𝒐 𝒀
𝒄 𝑪𝒄
𝒂 = 𝜷𝟏 . 𝒄

𝑪𝒄

𝒅𝒃
𝒉
𝒋𝒅

𝑨𝒔

𝒅𝒔 𝑻𝒔
𝑻𝒔
𝜺𝒔

a). Penampang Balok b). Regangan c). Tegangan d). Tegangan


Sebenarnya Ekivalen
Whitney
Gambar 2.7 Regangan dan Tegangan Balok Beton Bertulangan Tunggal.

a. Prinsip keseimbangan penampang.


Berdasarkan gambar 2.7 dapat dihitung dengan rumus :
𝐶𝑐 = 0,85. 𝑓′𝑐 . 𝑎. 𝑏 ........................................................................... (2.5)
𝑇𝑠 = 𝐴𝑠 . 𝑓𝑦 ........................................................................................ (2.6)
Dengan :
𝐶𝑐 = gaya tekan pada beton
𝑇𝑠 = gaya tarik pada baja
𝑓′𝑐 = kuat tekan beton
𝑎 = tinggi blok tegangan
𝑏 = lebar balok
𝑓𝑦 = tegangan leleh baja
𝐴𝑠 = luas baja tarik
16

Persamaan kesetimbangan didapat :


𝐶𝑐 = 𝑇𝑠 ............................................................................................. (2.7)
0,85. 𝑓′𝑐 . 𝑎. 𝑏 = 𝐴𝑠 . 𝑓𝑦 .................................................................. (2.8)
Sehingga dari persamaan 2.8 didapat nilai 𝑎 :
𝐴𝑠 .𝑓𝑦
𝑎 = 0.85.𝑓′ ..................................................................................... (2.9)
𝑐 .𝑏
𝑎
𝑐 = 𝛽 .............................................................................................. (2.10)

b. Regangan tulangan tarik :


Untuk menghitung regangan tulangan :
𝑑 𝑏 −𝑐
𝜀𝑠 = 𝜀𝑐 ................................................................................ (2.11)
𝑐

𝑓𝑦
𝜀𝑦 =
𝐸𝑠
𝜀𝑠 ≥ 𝜀𝑦 = anggapan tulangan tarik sudah leleh adalah benar

c. Ketentuan 𝑓𝑠 < 𝑓𝑦
𝑓𝑠 = 𝜀𝑠 . 𝐸𝑠
Untuk 𝑎 = 𝛽1 . 𝑐
𝛽.𝑑 𝑏 −𝑎
𝑓𝑠 = 0.003. 𝑎
. 𝐸𝑠

d. Regangan Berimbang
Regangan berimbang dicapai bila pada saat yang sama:
a. Serat terluar beton tekan mencapai regangan maksimum, 𝜀𝑐𝑢 = 0,003.
b. Tulangan tarik mencapai regangan leleh, 𝜀𝑦 .
Pada keadaan regangan berimbang, sejumlah tulangan tarik 𝑨𝒔𝒃 akan
memberikan jarak garis netral 𝒄 dari tepi beton tarik dan gaya-gaya dalam 𝑪𝒄 dan
𝑻𝒔 . Dalam praktek regangan berimbang sulit dicapai, sebagai akibat pembulatan
jumlah tulangan yang dipergunakan, sehingga luas baja yang dipergunakan tidak
sama dengan 𝑨𝒔𝒃 . Karna itu terdapat dua kemungkinan, penampang bertulangan
kurang (under reinforced) dan penampang bertulangan lebih (over reinforced).
17

𝜺𝒄𝒖 = 𝟎, 𝟎𝟎𝟑

𝒄
𝑃𝑒𝑛𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑘𝑢𝑟𝑎𝑛𝑔: 𝜀𝑠 > 𝜀𝑦 , 𝑓𝑠 = 𝑓𝑦 , 𝜀𝑐𝑢 < 0,003

𝒅𝒃 𝑃𝑒𝑛𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑠𝑒𝑖𝑚𝑏𝑎𝑛𝑔 ∶ 𝜀𝑦

𝑃𝑒𝑛𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑙𝑒𝑏𝑖𝑕: 𝜀𝑠 < 𝜀𝑦 , 𝑓𝑠 < 𝑓𝑦 , 𝜀𝑐𝑢 = 0,003

𝜺𝒔 Gambar 2.8 Kondisi Penulangan.


e. Maka nilai kapasitas tampang 𝑀𝑛 :
𝑓′ 𝑐 𝑑𝑏
𝐴𝑠𝑏 = 𝛽. . 𝑏. 𝑑𝑏 . ........................................................ (2.12a)
𝑓𝑦 600+𝑓𝑦

𝐽𝑖𝑘𝑎 𝐴𝑠 > 𝐴𝑠𝑏 , 𝐴𝑡𝑎𝑢 𝜌 > 𝜌𝑏 𝑇𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑡𝑎𝑟𝑖𝑘 𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝑙𝑒𝑙𝑒𝑕


Maka untuk keruntuhan tekan dapat dihitung:
𝑎
𝑀𝑛 = 0,85. 𝑓′𝑐 . 𝑎. 𝑏. 𝑑𝑏 − 2 ........................................................ (2.13)

Maka untuk keruntuhan tarik dapat dihitung:


𝑓′ 𝑐 𝑑𝑏
𝐴𝑠𝑏 = 𝛽. . 𝑏. 𝑑𝑏 . ......................................................... (2.12b)
𝑓𝑦 600+𝑓𝑦

𝐽𝑖𝑘𝑎 𝐴𝑠 < 𝐴𝑠𝑏 , 𝐴𝑡𝑎𝑢 𝜌 < 𝜌𝑏 𝑇𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑡𝑎𝑟𝑖𝑘 𝑡𝑒𝑙𝑎𝑕 𝑙𝑒𝑙𝑒𝑕


𝐴𝑠 .𝑓𝑦
𝑀𝑛 = 𝐴𝑠 . 𝑓𝑦 . 𝑑𝑏 − 0,59. 𝑓′ ...................................................... (2.14)
𝑐 .𝑏

2.4.2.2 Analisis Tulangan Rangkap


𝜺𝒄𝒖 = 𝟎, 𝟎𝟎𝟑 𝒇𝒄 = 𝟎, 𝟖𝟓. 𝒇′𝒄
𝒃

𝑪𝒔
d’ 𝜺′𝒔 𝒇′𝒔 𝒀 𝑪𝒔
𝒄 𝑪𝒄
𝑨′𝒔 𝒂 = 𝜷𝟏 . 𝒄

𝑪𝒄

𝒅𝒃
𝒉
𝒋𝒅

𝑨𝒔

𝒅𝒔
𝑻𝒔 𝑻𝒔
𝜺𝒔

a). Penampang Balok b). Regangan c). Tegangan d). Tegangan


Sebenarnya Ekivalen
Whitney
Gambar 2.9 Regangan dan Tegangan Balok Beton
Bertulangan Rangkap.
18

a. Prinsip keseimbangan penampang :


Berdasarkan gambar 2.9 dapat dihitung dengan rumus :
𝐶𝑐 = 0,85. 𝑓′𝑐 . 𝑎. 𝑏 ......................................................................... (2.15)
𝑇𝑠 = 𝐴𝑠 . 𝑓𝑦 ...................................................................................... (2.16)
𝐶𝑠 = 𝐴′𝑠 . 𝑓𝑦 .................................................................................... (2.17)
Dengan :
𝐶𝑐 = gaya tekan pada beton
𝐶𝑠 = gaya tekan pada tulangan
𝑇𝑠 = gaya tarik pada baja
𝑓′𝑐 = kuat tekan beton
𝑎 = tinggi blok tegangan
𝑏 = lebar balok
𝑓𝑦 = tegangan leleh baja
𝐴𝑠 = luas baja tarik
Persamaan kesetimbangan didapat :
𝐶𝑐 + 𝐶𝑠 = 𝑇𝑠 ................................................................................... (2.18)
0,85. 𝑓′𝑐 . 𝑎. 𝑏+𝐴′𝑠 . 𝑓𝑦 = 𝐴𝑠 . 𝑓𝑦 .................................................. (2.19)
Sehingga dari persamaan 2.19 didapat nilai 𝑎 :
𝐴𝑠 −𝐴′ 𝑠 .𝑓𝑦
𝑎= ................................................................................ (2.20)
0.85.𝑓′ 𝑐 .𝑏
𝑎
𝑐 = 𝛽 .............................................................................................. (2.21)

b. Regangan tulangan tekan dan tarik :


Untuk menghitung regangan tulangan :
𝑐−𝑑′ 𝑎−𝛽 .𝑑′
𝜀′𝑠 = 𝜀𝑐 . = 𝜀𝑐 . ............................................................ (2.22)
𝑐 𝑎
𝑑 𝑏 −𝑐 𝛽 .𝑑 𝑏 −𝑎
𝜀𝑠 = 𝜀𝑐 . = 𝜀𝑐 . ........................................................... (2.23)
𝑐 𝑎

c. Ketentuan 𝑓′𝑠 = 𝑓𝑦
𝑎−𝛽.𝑑′ 𝑓𝑦
Jika 𝜀𝑐 . ≥
𝑎 𝐸𝑠

Dan 𝑓𝑠 = 𝑓𝑦
𝛽.𝑑 ′ −𝑎 𝑓𝑦
Jika 𝜀𝑐 . ≥𝐸
𝑎 𝑠
19

d. Maka nilai kapasitas tampang 𝑀𝑛 :


𝑓′ 𝑐 𝑑𝑏
𝐴𝑠𝑏 = 𝛽. . 𝑏. 𝑑𝑏 . .......................................................... (2.24)
𝑓𝑦 600+𝑓𝑦

𝐽𝑖𝑘𝑎 𝐴𝑠 > 𝐴𝑠𝑏 , 𝐴𝑡𝑎𝑢 𝜌 > 𝜌𝑏 𝑇𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑡𝑎𝑟𝑖𝑘 𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝑙𝑒𝑙𝑒𝑕


𝐴𝑠 . 𝑓𝑠 − 𝐴′𝑠 . 𝑓′𝑠 Diagram tegangan diperoleh :
𝑎=
0.85. 𝑓′𝑐 . 𝑏 𝑓′𝑠 = 𝜀′𝑠 . 𝐸𝑠 = 0.003.
𝑎−𝛽 1 .𝑑′
. 𝐸𝑠 atau 𝑓𝑦
𝑎
𝛽 1 .𝑑 ′ −𝑎
𝑓𝑠 = 𝜀𝑠 . 𝐸𝑠 = 0.003. 𝑎
. 𝐸𝑠 atau 𝑓𝑦
Maka keruntuhan tekan:
Jika 𝜀𝑠 > 𝜀𝑦 dan 𝜀′𝑠 < 𝜀𝑦
𝑎 ′
𝑀𝑛 = 0,85. 𝑓′𝑐 . 𝑎. 𝑏. 𝑑𝑏 − + 𝐴 𝑠 . 𝑓′𝑠 . (𝑑𝑏 − 𝑑′) ........................... (2.25)
2

Maka untuk keruntuhan tekan dapat dihitung:


𝐽𝑖𝑘𝑎 𝐴𝑠 < 𝐴𝑠𝑏 , 𝐴𝑡𝑎𝑢 𝜌 < 𝜌𝑏 𝑇𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑡𝑎𝑟𝑖𝑘 𝑡𝑒𝑙𝑎𝑕 𝑙𝑒𝑙𝑒𝑕
Jika 𝜀𝑠 ≥ 𝜀𝑦 dan 𝜀′𝑠 ≥ 𝜀𝑦
𝑎
𝑀𝑛 = 0,85. 𝑓′𝑐 . 𝑎. 𝑏. 𝑑𝑏 − 2 + 𝐴′ 𝑠 . 𝑓𝑦 . (𝑑𝑏 − 𝑑′) ....................... (2.26)

2.4.2.3 Disain Balok Beton Bertulang Penelitian Metode Whitney


Bila suatu penampang persegi dengan ukuran yang telah ditetapkan,
diinginkan mempunyai kekuatan yang lebih besar dari kekuatan yang tersedia
dengan hanya menggunakan tulangan tarik saja, maka diperlukan tambahan
tulangan tarik dan pemberian tulangan tekan (James G.MacGregor, 1997).
Prosedur untuk perencanaan penampang persegi dengan tulangan tunggal dan
rangkap sebagai berikut:
2.4.2.4 Disain Balok Tulangan Tunggal
Untuk lebih jelas dapat dilihat pada gambar 2.10.
a. Momen ultimit (𝑀𝑢 ):
Kuat perlu 𝑀𝑢 = 1,2. 𝐷𝐿 + 1,6. 𝐿𝐿 dan tentukan b,h,𝜀𝑢 , 𝑓′𝑐 , 𝐴𝑠 , 𝑓𝑦 ,Φ𝑡𝑢𝑙𝐴 ,
𝑀𝑢 , dan 𝐸𝑠
𝑓′ 𝑐 𝑑𝑏
Luas tulangan tarik yang dibutuhkan 𝐴𝑠𝑏 = 𝛽. . 𝑏. 𝑑𝑏 .
𝑓𝑦 600+𝑓𝑦

Luas tulangan 𝐴1𝑡𝑢𝑙 = 0,25. 𝜋. (Φ𝑡𝑢𝑙𝐴 )2


b. Banyak tulangan:
𝐴𝑠𝑏
Kebutuhan tulangan tarik 𝑛𝑡𝑢𝑙 = 𝐴
1𝑡𝑢𝑙
20

Kapasitas penampang: 𝑀𝑢 < 𝑀𝑛


𝐴 .𝑓𝑦
Dengan 𝑀𝑛 = 𝐴𝑠 . 𝑓𝑦 . 𝑑𝑏 − 0,59. 𝑓′𝑠
𝑐 .𝑏

Kelebihan momen sebesar 𝑀𝑛2 = 𝑀𝑢 − 𝑀𝑛

𝒂 = 𝜷𝟏 . 𝒄
𝒄
𝑪𝒄
𝒉 𝒅𝒃 𝒂
𝒅𝒃 −
𝟐
𝑨𝒔

𝒅𝒔 𝑻𝒔

Gambar 2.10 Tegangan yang Terjadi pada Tulangan Tunggal.


2.4.2.5 Disain Balok Tulangan Rangkap
Untuk lebih jelas dapat dilihat pada gambar 2.11.
a. Momen ultimit (𝑀𝑢 ):
Kuat perlu 𝑀𝑢 = 1,2. 𝐷𝐿 + 1,6. 𝐿𝐿 dan tentukan b,h,𝜀𝑢 , 𝑓′𝑐 , 𝐴𝑠 , 𝑓𝑦 ,Φ𝑡𝑢𝑙𝐴 ,
𝑀𝑢 , dan 𝐸𝑠
𝑓′ 𝑐 𝑑𝑏
Luas tulangan tarik yang dibutuhkan 𝐴𝑠𝑏 = 𝛽. . 𝑏. 𝑑𝑏 .
𝑓𝑦 600+𝑓𝑦

Luas tulangan 𝐴1𝑡𝑢𝑙 = 0,25. 𝜋. (Φ𝑡𝑢𝑙𝐴 )2


b. Banyak tulangan:
𝐴𝑠𝑏
Kebutuhan tulangan tarik 𝑛𝑡𝑢𝑙 = 𝐴
1𝑡𝑢𝑙

𝐴 .𝑓
c. Kapasitas penampang: 𝑀𝑛 = 𝐴𝑠 . 𝑓𝑦 . 𝑑𝑏 − 0,59. 𝑓′𝑠 .𝑏𝑦
𝑐

d. Kelebihan momen sebesar 𝑀𝑛2 = 𝑀𝑢 − 𝑀𝑛 , ditahan oleh tambahan


tulangan tarik bersama dengan tulangan tekan, di mana besar gaya tekan
yang harus ditahan oleh tulangan tekan:
𝑀𝑛 2
𝐶𝑠 = 𝑑 = 𝑇2
𝑏 −𝑑′

Luas tulangan tekan


𝐶
𝐴𝑠𝑡𝑒𝑘𝑎𝑛 = 𝑓′𝑠 𝑓′𝑠 = 𝑓𝑦 𝑏𝑖𝑙𝑎 𝜀′𝑠 ≥ 𝜀𝑦
𝑠

𝑓′𝑠 = 𝐸𝑠 . 𝜀′𝑠 𝑏𝑖𝑙𝑎 𝜀′𝑠 < 𝜀𝑦


21

e. Dari keseimbangan gaya dalam, 𝐶 = 𝑇 :


𝑇
Sehingga tambahan tulangan tarik 𝐴𝑠𝑡𝑎𝑚𝑏𝑎 𝑕 = 𝑓2
𝑦

Luas tulangan tarik 𝐴𝑠 = 𝐴𝑠𝑡𝑎𝑟𝑖𝑘 1 + 𝐴𝑠𝑡𝑎𝑚𝑏𝑎 𝑕


𝐴𝑠
Kebutuhan tulangan tarik 𝑛𝑡𝑢𝑙𝑡𝑎𝑟𝑖𝑘 = 𝐴
1𝑡𝑢𝑙

𝐴𝑠𝑡𝑒𝑘𝑎𝑛
Kebutuhan tulangan tekan 𝑛𝑡𝑢𝑙𝑡𝑒𝑘𝑎𝑛 =
𝐴1𝑡𝑢𝑙
𝒃
𝑪𝒔
𝒅′
𝒂 = 𝜷𝟏 . 𝒄

𝑨′𝒔
𝒄
𝑪𝒄
𝒉 𝒅𝒃 𝒂
𝒅𝒃 −
𝟐

𝑨𝒔

𝒅𝒔 𝑻𝒔

Gambar 2.11 Tegangan yang Terjadi pada Tulangan Rangkap.

2.5 Metode Kompatibilitas Regangan (James G.MacGregor 1997)


Metode kompatibilitas regangan atau keseimbangan penampang merupakan
metode untuk menentukan tegangan-tegangan dalam pada balok didapat dari
regangan-regangan yang terjadi akibat beban luar balok. Sebagai contoh
penerapan kompatibilitas regangan sebagai berikut:
a. Setelah mendapatkan nilai kapasitas tampang, 𝜑𝑀𝑢 , gambar tampang
balok, 𝑓′𝑐 dan kurva tegangan-regangan. Asumsikan nilai 𝜀𝑐𝑢 = 0,003 dan
nilai 𝑐1 = 8.
b. Hitung tegangan blok tekan dengan rumus: 𝑎 = 𝛽. 𝑐1
c. Hitung regangan yang terjadi disetiap layer tulangan:
𝒃

Tegangan
𝟐∅𝟕 𝑨𝒔𝟏

𝟐∅𝟕 𝑨𝒔𝟐
𝒅𝒃
𝒉 𝑶 𝟎, 𝟎𝟎𝟐 Regangan
𝟐∅𝟕 𝑨𝒔𝟑

𝑨
𝟒∅𝟖 𝑨𝒔𝟒 𝑩

𝟒∅𝟖 𝑨𝒔𝟓
22

a). Penampang Balok b). Kurva Tegangan-Regangan

𝜺𝒖 = 𝟎, 𝟎𝟎𝟑

𝜺𝟏 = +𝟎, 𝟎𝟎𝟐𝟎𝟔 𝑪𝒔 = +𝟔𝟔,1


𝑐1 =8
𝑪𝒄 = +𝟑𝟔4,1

𝜺𝟐 = −𝟎, 𝟎𝟎𝟏𝟓𝟎 𝑻𝒔𝟏 = −𝟓𝟐,2

𝜺𝟑 = −𝟎, 𝟎𝟎𝟓𝟐𝟓 𝑻𝒔𝟐 = −𝟕𝟓,5

𝜺𝟒 = −𝟎, 𝟎𝟎𝟖𝟖𝟏 𝑻𝒔𝟑 = −𝟐𝟏𝟓,6


𝜺𝟓 = −𝟎, 𝟎𝟎𝟗𝟓𝟔 𝑻𝒔𝟒 = −𝟐𝟏𝟗,1

c). Regangan Sebelum Berimbang d). Tegangan

2,5 𝜺𝒖 = 𝟎, 𝟎𝟎𝟑

𝜺𝟏 = +𝟎, 𝟎𝟎𝟐𝟐𝟑 𝑪𝒔 = +𝟔𝟔,4


𝑐2 =9,75
𝑪𝒄 = +𝟒𝟒𝟑,9
(18-2,5)
𝜺𝟐 = −𝟎, 𝟎𝟎𝟎𝟔𝟗 𝑻𝒔𝟏 = −𝟐𝟒,1

𝜺𝟑 = −𝟎, 𝟎𝟎𝟑𝟕𝟕 𝑻𝒔𝟐 = −𝟕𝟐,8


(18-33,5)

𝜺𝟒 = −𝟎, 𝟎𝟎𝟔𝟔𝟗 𝑻𝒔𝟑 = −𝟐𝟎𝟓,5


𝜺𝟓 = −𝟎, 𝟎𝟎𝟕𝟑𝟕 𝑻𝒔𝟒 = −𝟐𝟎𝟖,4

e). Regangan Setelah Berimbang f). Tegangan

Gambar 2.12 Penyelesaian Kompatibilitas Regangan


(James G.MacGregor, 1997).

d. Hitung tegangan yang terjadi pada setiap layer tulangan:


e. Hitung gaya horizontal P = C - T
- Dengan hasil hitungan gaya dalam untuk 𝑐1 = 8.
Σ𝐹𝑠 = −496,3
Σ𝐶𝑐 = +364,1
Σ𝐹𝑠 + Σ𝐶𝑐 = −132,2
- Dengan hasil hitungan gaya dalam untuk 𝑐2 = 9,75.
23

Σ𝐹𝑠 = −444,4
Σ𝐶𝑐 = +443,9
Σ𝐹𝑠 + Σ𝐶𝑐 = −0,5
Dengan demikian tinggi garis netral menghasilkan gaya dalam 0.1%
Maka didapat kompatibilitas regangan.
f. Periksa 𝑓𝑠 = 𝑓𝑦
Persyaratan pembatasan tulangan ρ ≤ 0,75𝜌𝑏 𝑎𝑡𝑎𝑢 As ≤ 0,75𝐴𝑠𝑏
g. Hitung Momen nominal
𝑎
𝑀𝑛 = Σ𝐶𝑐 . 𝑑𝑏 − + 𝐴′ 𝑠 . 𝑓′𝑠 . (𝑑𝑏 − 𝑑′)
2
Rasio tulangan: 𝜑 = 0.9
𝑎
𝜑𝑀𝑢 = 𝜑 0,85. 𝑓′𝑐 . 𝑎. 𝑏. 𝑑𝑏 − 2 + 𝐴′ . 𝑓𝑦 . 𝑑𝑏 − 𝑑′
𝑠

Analisis keseimbangan momen berdasarkan Kompatibilitas


Regangan(James G.MacGregor, 1997).
Langkah penerapan kompatibilitas regangan sebagai berikut :
a). Asumsikan distribusi-distribusi regangan digambarkan dengan suatu
regangan 𝜖 cu dari 0.003 serat compressive exstrim dan satu nilai
anggapan dari jarak C kepada sumbu netral.
b). Hitung jarak blok regangan segi empat, 𝛼 = 𝛽1.C
c). Hitung regangan pada setiap lapisan tulangan dan distribusi regangan
yang diasumsikan.
d). Dari kurva tegangan-regangan untuk penguatan dan regangan dari
langkah 3, menentukan tegangan pada setiap lapisan tulangan.
e). Hitung gaya di dalam daerah kompresi dan pada setiap lapisan dari
penguatan.
f). Hitung gaya horizontal P = C - T. Untuk suatu balok tanpa gaya
aksial, P sama dengan nol. Jika nilai yang dihitung P bukanlah sama
dengan nol, melakukan penyesuaian distribusi regangan dan langkah-
langkah pengulangan a sampai f hingga P adalah dekat dengan nol
seperti diinginkan. Ketidak seimbangan itu mestinya tidak melebihi
0.1 sampai 0.5 persen dari C.
24

g). Menjumlahkan pada saat dari gaya dalam. Jika P = 0, ini setiap sumbu
yang benar. Kita akan menjumlahkan pada saat sekitar titik berat dari
tampang-lintang. Sumbu ini adalah normalnya digunakan dalam
kolom-kolom di mana P bukanlah nol.

2.6 Metode Secant


2.6.1 Teori Metode Secant
Sesuai dengan namanya, Metode Secant bekerja berdasarkan GARIS
SECANT (garis busur) yang menghubungkan 2 titik pada kurva y = f (x),
sedemikian rupa sehingga secara geometris akan terbentuk “kesebangunan
segitiga” dan kemudian dari padanya dapat dihitung suatu titik pendekatan baru
pada kurva y = f(x) yang mendekati akar atau jawaban eksaknya dan kemudian
dari titik yang baru ini ditarik lagi suatu „garis secant yang baru‟ yang
berhubungan dengan salah satu titik awal yang tempat kedududkannya lebih dekat
ke arah akar eksaknya, demikian proses rekursif tersebut dilakukan secara
berulang (iteratif) sehingga diperoleh suatu akar yang paling mendekati akar
eksaknya sesuai dengan kriteria yang ditentukan (Amrinsyah nasution, 2005).

Gambar 2.13 Penentuan Nilai Turunan Fungsi dengan Metode Secant


(Amrinsyah nasution, 2005).
Jika nilai 𝑿𝒌 atau 𝑿𝟎 dan nilai 𝑿𝒌+𝟏 atau 𝑿𝟏 didapat, maka:
Kesebangunan segitiga yang terbentuk adalah perbandingan berikut ,
𝑓 𝑋𝑘 𝑓 𝑋𝑘+1
=
𝑋𝑘 − 𝑋𝑘+2 𝑋𝑘+1 − 𝑋𝑘+2
Atau
25

𝑋𝑘+1 . 𝑓 𝑋𝑘 − 𝑋𝑘+2 . 𝑓 𝑋𝑘 = 𝑋𝑘 . 𝑓 𝑋𝑘+1 − 𝑋𝑘+2 . 𝑓 𝑋𝑘+1

Dan, pindahkan faktor 𝑋𝑘+2 . 𝑓 𝑋𝑘+1 di ruas kanan ke kiri:

𝑋𝑘+2 . 𝑓 𝑋𝑘+1 − 𝑋𝑘+2 . 𝑓 𝑋𝑘 + 𝑋𝑘+1 . 𝑓 𝑋𝑘 = 𝑋𝑘 . 𝑓 𝑋𝑘+1

Tambahkan masing-masing ruas dengan −𝑋𝑘+1 . 𝑓 𝑋𝑘+1 , sehingga diperoleh:

𝑋𝑘+2 . 𝑓 𝑋𝑘+1 − 𝑋𝑘+2 . 𝑓 𝑋𝑘 −𝑋𝑘+1 . 𝑓 𝑋𝑘+1 + 𝑋𝑘+1 . 𝑓 𝑋𝑘 = 𝑋𝑘 . 𝑓 𝑋𝑘 +1 −𝑋𝑘+1 . 𝑓 𝑋𝑘+1

Sehingga dilakuakan penyusunan ulang diperoleh:

𝑋𝑘+2 − 𝑋𝑘+1 . 𝑓 𝑋𝑘+1 − 𝑓 𝑋𝑘 = 𝑋𝑘 − 𝑋𝑘+1 . 𝑓 𝑋𝑘+1

Sehingga 𝑿𝒌+𝟐 atau 𝑿𝒃 :


𝑋 𝑘+1 −𝑋 𝑘
𝑋𝑘+2 = 𝑋𝑘+1 − 𝑓 𝑋𝑘+1 . 𝑓 𝑋 𝑘+1 −𝑓 𝑋 𝑘

Secara umum dalam bentuk formulasi rekursi berurutan dari metode secant:
𝑿 −𝑿
𝑿𝒏+𝟏 = 𝑿𝒏 − 𝒇 𝑿𝒏 . 𝒇 𝑿 𝒏−𝒇 𝒏−𝟏
𝑿
𝒏 𝒏−𝟏

2.6.2 Algoritma Metode Secant


Algoritma program dengan metode secant:
1. Tentukan harga awal 𝑿𝟎 ,
2. Tentukan harga kedua 𝑿𝟏 ,
3. Toleransi 𝒕𝒐𝒍,
4. Iterasi maksimum 𝒊𝒕𝒆𝒓_𝒎𝒂𝒙,
5. Hitung 𝑋𝑏𝑎𝑟𝑢 ,
𝑓 𝑋1 ∗ (𝑋1 − 𝑋0 )
𝑋𝑏 = 𝑋1 −
𝑓 𝑋1 − 𝑓 𝑋0
6. Jika nilai mutlak 𝑋𝑏𝑎𝑟𝑢 − 𝑋0 < 𝑡𝑜𝑙𝑒𝑟𝑎𝑛𝑠𝑖, maka 𝑋𝑏𝑎𝑟𝑢 sebagai
hasil perhitungan; jika tidak, lanjut ke langkah berikutnya.
7. Jika jumlah iterasi > iterasi maksimum, akhiri program.
8. 𝑋0 = 𝑋𝑏𝑎𝑟𝑢 , dan kembali kelangkah (5).
9. Selesai.
26

2.7 Software MATHCAD 14

Mathcad adalah teknik perhitungan dan komunikasi, kita dapat


menggunakan Mathcad untuk melakukan dokumen, berbagai perhitungan dan
desain. Mathcad dengan format visual dan lembar kerja mengintegrasikan bentuk
tampilan standar notasi matematika, teks, dan grafik dalam satu lembar kerja atau
worksheet. Mathcad memberikan tampilan untuk memanggil kembali, perhitungan
pengulangan kembali, dan teknik kolaborasi. Mathcad arsitektur dapat
dikombinasikan dengan dukungan NET dan format XML memudahkan untuk
mengintegrasikan Mathcad ke aplikasi teknik lainnya. File dapat ditampilkan
dalam berbagai format: XML, HTML, PDF, dan RTF, dan dengan penggunaan
Perhitungan Mathcad Server, kita dapat mempublikasikan bentuk matematika di
Web menggunakan Mathcad dan worksheet. Software ini sebagian besar
berorientasi non-program, juga digunakan dalam pekerjaan yang lebih kompleks
untuk memvisualisasikan hasil pemodelan matematika yang menggunakan
komputasi terdistribusi dan bahasa pemrograman matematis.
Dalam Mathcad, sebuah program yang dimasukkan dalam pemrograman
operator, multi-langka atau banyak rumus dikolaborasikan dalam sebuah yang
dinamakan programming. Pemrograman spesifik operator dapat digunakan untuk
menetapkan perintah penggunaan untuk variabel atau fungsi. Mathcad
mengevaluasi rangkaian pernyataan dalam sebuah program dalam urutan yang
ditetapkan oleh operator pemrograman kemudian mengembalikan hasil dari
langkah terakhir.

Kemampuan Mathcad diantaranya adalah:


1. Dengan menyelesaikan persamaan diferensial, dengan beberapa mungkin
metode numerik.
2. Grafik fungsi dalam dua atau tiga dimensi.
3. Simbolik perhitungan termasuk sistem penyelesaian persamaan.
4. Vektor dan matrik operasi termasuk eigen nilai dan Kurva eigen vector.
5. Penerapan kurva
27

6. Mencari akar polinomial dan fungsi


7. Fungsi statistik dan probabilitas distribusi
8. Unit Perhitungan jumlah yang pasti.

2.7.1 Programming didalam MATHCAD 14


Pada penjelasan fungsi icon atau perintah didalam programming penulis
akan menjelaskan perintah yang digunakan didalam tulisan ini saja, untuk lebih
jelas dapat dipelajari pada mathcad help dan buku pedoman lain.

Fungsi-fungsi yang ada didalam program:


Add line Local assignment

if otherwise

for while

break continue

return on error

Berikut ini adalah contoh sederhana dari sebuah program:


1. Add line pada papan ketik dengan tombol [ ] ]
Add line, baris kosong di dalam sebuah program, atau membuat baris
pertama dalam sebuah program jika digunakan di daerah kosong worksheet.
Tambahkan dengan perintah Line operator. kita dapat menggunakan Line
operator untuk menambahkan placeholder atau baris perintah kosong manapun
di program, misalnya kita akan menggunakan Add line untuk membuat kumpulan
atau kolaborasi untuk loop, atau ekspresi boolean yang terletak di kanan sisi
pernyataan kondisional. Bila ingin membuat baris baru tambahkan Line, dengan
perintah tersebut kita membuat placeholder kosong yang baru pada tingkat yang
sama seperti contoh di bawah. Jika kita memilih placeholder kosong di sisi kanan,
kita harus menambahkan baris di sana. Jika kita memilih seluruh operator, baris
baru muncul di bawahnya. Jika pilihannya bar di depan ekspresi atau rumus
matematika, baris baru muncul sebelum memilih. Jika bar seleksi adalah setelah
pilihan saat ini, jalur ini ditambahkan setelah. Sebagai contoh dapat dilihat
keterangan sebagai berikut:
28

Line operator placeholder

2. Local assignment pada papan ketik dengan tombol [ { ]

x←y
y mengevaluasi numerik dan memberikan isinya ke x. Variabel dan fungsi
yang didefinisikan dengan operator ini hanya didefinisikan secara lokal dalam
batasan yang berlaku sekarang, misalnya, dalam sebuah program. Mengembalikan
nilai-tangan kiri sisi.
Operand:
a. x adalah sembarang nama atau angka yang valid untuk Mathcad
variabel atau fungsi.
b. y adalah setiap ekspresi Mathcad valid.
Keterangan:
a. Lokal variabel atau fungsi yang didefinisikan dengan operator ini
mungkin untuk nilai-nilai dari worksheet. Sebagai contoh, a: = 2 di
worksheet kita, kemudian mendefinisikan variabel lokal b ← a di
dalam sebuah program.
b. Jika nama variabel lokal adalah sama dengan lembar kerja variabel
atau fungsi yang digunakan untuk menginisialisasi itu, hanya
membutuhkan nilai worksheet pertama kali diberikan. Selanjutnya
referensi ke nama yang sama menggunakan nilai lokal bukan global.
Misalnya, jika fungsi g (x): = x + 1 didefinisikan dalam lembar kerja
kita, dan kita membuat sebuah variabel g ← g (2), semua program
berikutnya referensi ke nama g menggunakan definisi variabel lokal 3,
dan tidak lagi mengenali sebagai nama fungsi. kita selalu dapat
berpindah ke worksheet definisi menggunakan [doc] namespace
operator.
29

c. Ketika menetapkan fungsi lokal, kita dapat juga menetapkan fungsi


dengan daftar argumen, sama seperti yang kita lakukan untuk fungsi
worksheet, atau hanya menetapkan nama fungsi untuk ekspresi yang
mengevaluasi ke salah satu fungsi, misalnya, f ← Fn, di mana F
adalah sebuah array dari nama-nama fungsi.
d. Kita dapat mengubah tampilan operator dengan =.

3. if pada papan ketik dengan tombol [ } ]


X if y
Mengevaluasi x if y, Program ini akan disertakan berlanjut ke baris
berikutnya tanpa memperhatikan apakah x adalah dievaluasi atau tidak.
Pernyataan bersyarat Mathcad memungkinkan untuk mengeksekusi atau melewati
perhitungan tertentu. Gunakan pernyataan kondisional setiap kali kita ingin
program langsung eksekusi atau langsung menghitung sepanjang peritah tertentu.
Jangan ketik kata "if" Karena tidak menghasilkan operator.

4. otherwise pada papan ketik dengan tombol [Ctrl ]+[ Shift]+[ ] ]


X otherwise
Mengevaluasi x if, jika pernyataan tepat sebelum x adalah 0 (false). Operator
otherwise hanya bekerja dengan if operator. Sebagai contoh dapat dilihat
keterangan sebagai berikut:

fungsi mengembalikan 0 if x adalah lebih besar daripada 2 atau kurang dari -2.
Bila x adalah antara -2 dan 2, mengembalikan fungsi akar kuadrat dari 4 - x2.
Operand:
a. x adalah sembarang ekspresi Mathcad valid
b. y adalah setiap ekspresi yang valid Mathcad dapat mengevaluasi ke 0
dalam beberapa kasus. Hanya nilai pengembalian dari y; ini bisa menjadi
sebuah ekspresi boolean atau ekspresi Mathcad lainnya. Sebagai contoh,
30

perintah lokal atau urutan langkah-langkah pemrograman yang


diperbolehkan.
Catatan:
a. Setiap syarat evaluasi diasumsikan dengan sendirinya. Ketika menemukan
beberapa urutan Mathcad if pernyataan pada tingkat yang sama, akan
mengevaluasi masing-masing if pernyataan pada gilirannya atau berurut,
terlepas dari hasil pernyataan sebelumnya. Jika kita ingin mengevaluasi
ekspresi berdasarkan apakah if pernyataan tertentu mengevaluasi sebagai
benar atau salah, menggunakan otherwise operator lain.

b. Jika kita menggunakan lebih dari satu if pernyataan otherwise pernyataan


lain, pernyataan yang lain dijalankan hanya ketika semua kondisi
sebelumnya palsu. Namun, semua sebelumnya if pernyataan terus
dievaluasi terlepas dari hasil sebelumnya if. Dalam contoh di atas fy (5) =
9 dan fy (2) = 1. Tidak ada "else if" atau "kasus" pernyataan dalam
Mathcad yang memungkinkan kita untuk beralih pada beberapa kasus,
selain menggunakan kumpulan pernyataan if ... otherwise.

Sebuah lingkaran adalah sebuah blok kode yang menyebabkan satu atau lebih
pernyataan (bagian loop) untuk iterasi sampai kondisi terminasi terjadi. Ada dua
jenis loop:
a. for loop digunakan ketika kita tahu persis berapa kali printah loop harus
mengeksekusi atau menjalankan perintah.
b. while loop yang digunakan saat kita ingin menghentikan eksekusi atas
terjadinya suatu kondisi, tapi kita tidak tahu persis kapan kondisi yang
akan terjadi.
Jangan ketik kata "otherwise" Karena tidak menghasilkan operator.
31

5. for pada papan ketik dengan tombol [Ctrl ]+[“]

Mengevaluasi z untuk setiap nilai x di atas rentang y. Biasanya, setidaknya


satu ekspresi dalam lingkaran perintah, z, menggunakan nilai x untuk mengubah
perhitungan untuk setiap evaluasi. Gunakan for loop jika kita tahu persis berapa
kali kita ingin bagian loop untuk mengeksekusi atau menjalankan perintah.
Operand:
a. x adalah sembarang nama atau angka variabel yang Mathcad valid
b. y adalah nilai atau urutan nilai. Ini adalah nilai kisaran, namun kita juga
dapat menggunakan vektor, atau daftar dipisahkan-koma skalar atau
vektor, yang masing-masing hasil dalam serangkaian nilai-nilai skalar
diasumsikan oleh variabel iterasi x. y dapat juga menjadi serangkaian
matriks, dipisahkan dengan koma; x mengasumsikan nilai setiap matriks
pada kelanjutannya. Ini adalah cara yang tepat untuk menerapkan
perhitungan yang sama untuk satu set matriks.
c. z ekspresi atau menjalankan perintah Mathcad yang valid atau urutan
ekspresi atau menjalankan perintah. Sebagai contoh, perintah yang
terdapat didalam program, atau urutan langkah-langkah pemrograman
yang diperbolehkan di sini. Gunakan jalur atau tambahkan placeholder
operator untuk memasukkan pernyataan tambahan. Sebagai contoh dapat
dilihat keterangan sebagai berikut:
Contoh:

Catatan:
a. Bila kita menggunakan for loop, kita harus tahu berapa kali yang kita
ingin loop untuk menjalankan perintah; hasil akhir dari iterasi tidak
penting.
32

b. Kita menginginkan untuk keluar dari loop sebelum kondisi terminasi


bertemu, atau melewatkan iterasi tertentu dan lanjutkan ke yang
berikutnya. kita dapat mengontrol pelaksanaan kedua jenis loop dengan
menggunakan operator break dan operator continue.

6. while pada papan ketik dengan tombol [Ctrl ]+[ ] ]


Mengevaluasi y sedangkan x adalah kosong. Kondisi ekspresi atau sebuah
perintah dievaluasi pada awal while loop, jadi ada kemungkinan bahwa loop tidak
pernah dijalankan. Loop iterasi berhenti segera setelah kondisi palsu dan
mengembalikan nilai terakhir dihitung dalam perintah pada iterasi sebelumnya.
Operand:
a. x adalah sembarang ekspresi atau Mathcad valid urutan ekspresi yang
dapat mengevaluasi ke 0, selalu bersifat ekspresi boolean.
b. y adalah sembarang ekspresi Mathcad valid atau urutan ekspresi.
Setidaknya satu ekspresi perintah dalam program harus mengubah kondisi
ekspresi, x, sehingga menjadi false; jika tidak, mengeksekusi loop tanpa
batas waktu dan kita harus menghentikannya dengan menekan [Esc].
Gunakan jalur tambahkan placeholder operator untuk memasukkan
pernyataan tambahan.

Jangan ketik kata "while" Karena tidak menghasilkan operator. Sebagai contoh
dapat dilihat keterangan sebagai berikut:
Contoh:
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Tahapan Pelaksanaan Penelitian Metode Kompatibilitas Regangan


Sebelum melakukan analisis terlebih dahulu melakukan tahapan-tahapan
penelitian yang akan dilalui sebagai berikut:
1. Studi literatur atau pengumpulan bahan referensi sehingga karakteristik
balok beton bertulang ditentukan, untuk kuat tarik baja menggunakan kuat
tarik baja linier yaitu 𝒇𝒔 = 400 Mpa, sedangkan untuk kuat tekan beton
menggunakan kuat tekan beton normal yaitu: 𝒇′𝒄 = 17,5 Mpa.
2. Model numerik kurva tegangan-regangan beton Hognestad ditentukan,
untuk kasus umum digunakan pembagi segmen yaitu 100 pias .
3. Model numerik untuk menentukan metode kompatibilitas regangan dan
untuk menentukan kurva tegangan yang berbentuk parabolik digunakan
metode secant, digunakan karena metode secant adalah proses rekursif
dilakukan secara berulang (iteratif) sehingga diperoleh suatu akar yang
paling mendekati akar eksaknya sesuai dengan kriteria yang ditentukan.
Maka dengan penentuan kurva tegangan yang berbentuk parabolik dengan
iteratif atau iterasi sehingga cocok digunakan untuk analisis balok beton
bertulang metode kompatibilitas regangan dengan berbagai kondisi
penulangan dan karakteristik balok.
4. Merumuskan bagan alir dan algoritma program analisis dan disain balok
beton bertulang metode kompatibilitas regangan, Algoritma analisis akan
dibagi dua tahap yaitu Fungsi momen 𝑴𝒏 𝒀𝒄 dan Analisis, sedangkan
untuk analisis dan disain balok beton bertulang metode Whitney algorima
juga dirumuskan dan dianalisis menggunakan software MATHCAD 14.
5. Untuk mengimplementasikan algoritma program analisis dan disain balok
beton bertulang metode kompatibilitas regangan menggunakan software
MATHCAD 14.
6. Hasil hitungan metode whitney terpisah dengan program berupa (Mn).

33
34

Flow chart Metodologi Penulisan Tugas Akhir dapat dilihat pada


gambar 3.1 Flow chart Penelitian Tugas Akhir.

Mulai

Studi literatur

Metode yang Digunakan pada Program : Analisis Metode Whitney :


- Model Numerik Kurva Teg-Reg Beton - Bagan Alir Analisis Balok Metode
Hognestad dan Metode Secant Whitney
- Fungsi Kurva Teg-Reg Baja Paulay - Bagan Alir Disain Balok Metode
Whitney

Bagan Alir Program Metode Kompatibilitas Regangan :


- Bagan Alir Analisis Metode Kompatibilitas Regangan
- Bagan Alir Program Disain Kompatibilitas Regangan

Analisis Program Metode Kompatibilitas Regangan:


- Algoritma Analisis Balok Tulangan Tunggal
- Algoritma Analisis Balok Tulangan Rangkap dan Majemuk
- Algoritma Disain Balok Tulangan Tunggal
- Algoritma Metode Secant

Penerapan Algoritma Kedalam


Softwar MATHCAD 14

- Penentuan Selisih Hasil Hitungan


- Kesimpulan dan Saran

Selesai

Gambar 3.1. Flow chart Penelitian Tugas Akhir


35

3.2 Fungsi Kurva Tegangan-Regangan Kuat Tekan Beton Hognestad


Fungsi yang digunakan adalah kurva tegangan dan regangan yang
dirumuskan oleh Hognestad.
Penulisan program pada analisis untuk fungsi Hognestad adalah 𝑓𝑐𝐻𝑜𝑔 𝜀𝑐 .
𝜀𝑜 : Regangan beton
𝜀𝑐 : Regangan beton saat ultimit
𝜀𝑐 < 𝜀𝑜 : Jika regangan ultimit kurang dari regangan beton maka
2. 𝜀𝑐 𝜀𝑐 2
𝑓𝑐 = 𝑓′𝑐 −
𝜀𝑜 𝜀𝑜
Jika 𝜀𝑐 > 𝜀𝑜 maka
0,85. 𝑓′𝑐 − 𝑓′𝑐
𝑓𝑐 = 𝑓′𝑐 + 𝜀𝑐 − 𝜀𝑜
0,003 − 𝜀𝑜
3.3 Fungsi Kurva Tegangan-Regangan Kuat Tarik Baja Paulay
Model kuat tarik tulangan yang digunakan adalah kurva tegangan dan
regangan yang dirumuskan oleh R. Park dan T. Paulay melaluai buku yang
berudul Reinforced Concrete Structures, Kuat tarik tulangan baja 𝐸𝑠 .
Penulisan pada analisis programing untuk fungsi Paulay adalah 𝑓𝑠 𝜀𝑠 .
𝑓𝑠𝑢 : Tegangan baja tarik ultimit, N/mm2
𝜀𝑠𝑢 : regangan tulangan saat putus, 0.04
𝜀𝑠𝑕 : regangan tulangan plastis, 10.𝜀𝑦
𝑟 : 𝜀𝑠𝑢 − 𝜀𝑠𝑕
𝑓𝑠𝑢 −𝜀 𝑠𝑕 . 30.𝑟+1 2 −60.𝑟−1
𝑚 : 15.𝑟 2

𝜀𝑠 : Regangan baja tarik


𝜀𝑦 : Regangan baja saat ultimit
𝐸𝑠 : Modulus elastis baja, N/mm2
𝑓𝑠 : Tegangan baja tarik, N/mm2
𝑓𝑦 : Kuat leleh baja, N/mm2
𝑖𝑓 𝐸𝑠 > 0 : Untuk modulus elastisitas baja besar dari 0
Dan 𝜀𝑠 ≤ 𝜀𝑦 maka 𝑓𝑠 = 𝜀𝑠 . 𝐸𝑠
𝑖𝑓 𝜀𝑦 ≤ 𝜀𝑠 ≤ 𝜀𝑠𝑕 maka 𝑓𝑠 = 𝑓𝑦
𝑚 𝜀 𝑠 −𝜀 𝑠𝑕 +2 𝜀 𝑠 −𝜀 𝑠𝑕 60−𝑚
𝑖𝑓 𝜀𝑠𝑕 ≤ 𝜀𝑠 ≤ 𝜀𝑠𝑢 maka 𝑓𝑠 = 𝑓𝑦 . +
60 𝜀 𝑠 −𝜀 𝑠𝑕 +2 2 30 𝑟 +1 2
36

3.4 Penerapan Algoritma Kedalam Software MATHCAD 14


Setelah merumuskan algoritma program analisis dan disain balok beton
bertulang metode kompatibilitas regangan, Algoritma analisis telah dibagi dua
tahap yaitu Fungsi momen 𝑴𝒏 𝒀𝒄 dan Analisis, untuk analisis dan disain balok
beton bertulang metode Whitney algorima juga dirumuskan dan dianalisis
menggunakan software MATHCAD 14.

3.5 Selisih Momen Kapasitas Tampang dan Verifikasi


Hasil dari implementasi algoritma kompatibilitas regangan kedalam
software akan mendapatkan momen kapasitas tampang balok beton bertulang
tulangan tunggal dan rangkap serta majemuk dan disain hasil program
kompatibilitas regangan, tinggi blok tekan balok kompatibilitas regangan hasil
program, regangan tulangan masing-masing layer, dan kontrol gaya horizontal.
Sedangkan hasil implimentasikan algoritma analisis metode whitney
kedalam software akan mendapatkan momen kapasitas tampang balok beton
bertulang tulangan tunggal dan rangkap serta disain, tinggi blok tekan balok dan
regangan tulangan.
Selanjutnya kedua hasil analisis untuk balok beton bertulang tulangan
tunggal dan rangkap akan ditentukan selisih dengan persentase, persentase didapat
dari selisih antara nilai kapasitas tampang yang terbesar dengan kapasitas tampang
yang terkecil.
BAB IV
HASIL dan PEMBAHASAN

4.1 Pendahuluan
Hasil penelitian disajikan berupa pembahasan penelitian yang memuat
Algoritma serta bagan alir analisis dan disain balok beton bertulang metode
kompatibilitas regangan, bagan alir untuk metode whitney, dilanjutkan penerapan
kedalam software yang menghasilkan analisis momen kapasitas tampang (Mn)
yang akan detentukan selisih antara analisis metode kompatibilitas regangan hasil
program dengan analisis metode Whitney.
Yang utama dalam hasil penelitian ini adalah membuat programming
metode analisis balok beton bertulang dengan menerapkan metode kompatibilitas
regangan, sehingga didapat cara untuk memprediksi kekuatan balok beton
bertulang.

4.2 Pembahasan Penelitian


4.2.1 Model Numerik Kurva Tegangan-Regangan Penelitian Hognestad
dan Metode Secant
a. Model Numerik Kurva Tegangan-Regangan Beton Hognestad

Masalah dalam memperhitungkan kopel desak beton yang kurva


tegangannya berbentuk parabolik adalah mencari luasan di bawah kurva. Masalah
tersebut dapat dengan mudah diselesaikan dengan pendekatan numerik, yaitu
dengan membagi kurva tersebut menjadi segmen-segmen persegi dibawah kurva,
dimana lebar segmen adalah 𝒉𝒔𝒆𝒈 , tergantung dari jumlah pembagi segmen 𝒏𝒔𝒆𝒈 ,
sedangkan 𝒀𝒄 tinggin kopel desak atau tegangan-regangan, 𝒚𝒄𝒊 adalah jarak
tegangan tepi bawah segmen ketepi atas balok, 𝒇𝒄𝒔𝒊 adalah tegangan pada tepi tiap
segmen, 𝑳𝒄𝒂𝒗 adalah jarak tegangan tengah segmen ketepi atas balok, 𝑪𝒄𝒋 adalah
tegangan yang terjadi pada tengah segmen. Sebagai penjelasan dapat dilihat pada
Gambar 4.1 kurva tegangan-regangan beton.

37
38

𝒇𝒄
𝑪𝒄𝒋

Tegangan

𝒇𝒄𝒔𝒊

𝟐. 𝜺𝒄 𝜺𝒄 𝟐 𝟎, 𝟖𝟓. 𝒇′𝒄 − 𝒇′𝒄


𝒇𝒄 = 𝒇′𝒄 − 𝒇𝒄 = 𝒇′𝒄 + 𝜺𝒄 − 𝜺𝒐
𝜺𝒐 𝜺𝒐 𝟎, 𝟎𝟎𝟑 − 𝜺𝒐

𝜺𝒄 > 𝜺𝟎

𝒇′𝒄 𝜺𝒄
𝜺𝒐 = 𝟐.
𝑬𝒔
𝒉𝒔𝒆𝒈 𝑳𝒄𝒂𝒗 Regangan

𝒀𝒄

Gambar 4.1 Kurva Tegangan-Regangan Beton Hognestad.

Dengan memperhatikan gambar pendekatan numerik yang disajikan di


atas, terlihat jelas bahwa ketelitiannya ditentukan oleh lebarnya 𝒉𝒔𝒆𝒈 . Semakin
kecil, yaitu mendekati nol maka hasilnya eksak. Semakin kecil 𝒉𝒔𝒆𝒈 berarti
diperlukan 𝒏𝒔𝒆𝒈 atau jumlah pembagi yang lebih banyak. Untuk kasus umum,
𝒏𝒔𝒆𝒈 = 𝟏𝟎𝟎 sudah mencukupi dan bila perlu dapat ditingkatkan (Wiryanto
Dewobroto, 2005).

b. Numerik Metode Secant


Algoritma yang digunakan untuk menentukan posisi garis netral dengan
pembagi interval, pembagi interval digunakan metode secant yang memerlukan
daftar pariabel yaitu harga awal (𝒀𝒄𝟏 = 𝑿𝒐 ), harga kedua (𝒀𝒄𝟐 = 𝑿𝟏 ), toleransi
(𝑻𝒐𝒍), dan maksimum iterasi (𝒊𝒕). Penulisan program adalah:
𝑌𝑐1 : Harga awal, 𝑌𝑐1 = 0.25𝑑 ′ atau Yc1  0.25d'

𝑌𝑐2 : Harga kedua, 𝑌𝑐2 = 0.5𝑑 ′ atau Yc2  0.5d'



39

𝑇𝑜𝑙 : Toleransi , 𝑇𝑜𝑙 = 0.001 atau Tol  0.001

𝑖𝑡 : Iterasi , 𝑖𝑡 = 0 atau it  0

∆𝑦 : Untuk kontrol hasil ∆𝑦 = 𝑌𝑐2 − 𝑌𝑐1 atau  Y  Yc2  Yc1

𝑤𝑕𝑖𝑙𝑒 : Pengulangan , 𝑤𝑕𝑖𝑙𝑒 = ∆𝑦 > 𝑇𝑜𝑙


MnYc2  Yc2  Yc1
𝑀𝑛 𝑌𝑐2 0 ∗(𝑌𝑐2 −𝑌𝑐1 ) 0
𝑌𝑐3 : Metode secant , 𝑌𝑐3 = 𝑌𝑐2 − atau Yc3  Yc2 
𝑀𝑛 𝑌𝑐2 0 −𝑀𝑛 𝑌𝑐1 0 MnYc2  MnYc1
0 0

∆𝑦 : Untuk kontrol hasil ∆𝑦 = |𝑌𝑐3 − 𝑌𝑐1 | atau  Y  Yc3  Yc1

Jika tidak
𝑌𝑐1 = 𝑌𝑐3 maka kembali ke metode secant
Jika ya
maka print 𝑌𝑐3 = 𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 𝑏𝑙𝑜𝑘 𝑡𝑒𝑘𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑡𝑜𝑛
𝑀𝑛 𝑌𝑐3 0 : Kontrol gaya horizontal, 𝐶𝑐 − 𝑇𝑠 = 0 atau H  C c  Ts

𝑀𝑛 𝑌𝑐3 1 : Momen kapasitas tampang, Σ𝑀𝑐 = Σ𝑀𝑐 + 𝑀𝑐 𝑗 atau 𝑀𝑛 = 𝐶𝑐 . 𝑗𝑑

𝐾𝑒𝑡 : Kontrol regangan tulangan, 𝑀𝑛 𝑌𝑐2 3 ≥ 𝜀𝑦 atau MnYc2   y


3

𝑀𝑛 𝑌𝑐2 3 ≥ 𝜀𝑦 : "𝑃𝑒𝑛𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝐾𝑢𝑟𝑎𝑛𝑔"


𝑀𝑛 𝑌𝑐2 3 < 𝜀𝑦 : "𝑃𝑒𝑛𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝐿𝑒𝑏𝑖𝑕"
𝑌𝑐3 : Tinggi blok tekan beton = a
40

4.3 Bagan Alir Program Metode Kompatibilitas Regangan


4.3.1 Bagan Alir Program Model Kurva Tegangan-Regangan Beton dan
Baja

Mulai

Tentukan:
𝑓′𝑐 , 𝑓𝑦 , 𝐸𝑐 dan 𝐸𝑠

Metode kurva teg-reg: Metode kurva teg-reg:


Kurva beton desak Hognestad, Kurva kuat tarik tulangan T.Paulay,
𝑓′𝑐 𝑓𝑦
𝜀𝑜 = 2. 𝜀𝑦 =
𝐸𝑐 𝐸𝑠
2. 𝜀𝑐 𝜀𝑐 2
𝑓𝑠 𝜀𝑠 = 𝜀𝑠 . 𝐸𝑠
𝑓𝑐𝐻𝑜𝑔 𝜀𝑐 = 𝑓𝑐 = 𝑓′𝑐 −
𝜀𝑜 𝜀𝑜

Ya Ya

2. 𝜀𝑐 𝜀𝑐 2
𝜀𝑐 < 𝜀𝑜 𝜀𝑠 < 𝜀𝑦
𝑓𝑐 = 𝑓′𝑐 − 𝑓𝑠 = 𝜀𝑠 . 𝐸𝑠
𝜀𝑜 𝜀𝑜 𝜀𝑐 > 𝜀𝑜 𝜀𝑠 > 𝜀𝑦

Tidak Tidak

0,85. 𝑓′𝑐 − 𝑓′𝑐 𝑓𝑦


𝑓𝑐 = 𝑓′𝑐 + 𝜀𝑐 − 𝜀𝑜
0,003 − 𝜀𝑜

𝑓𝑐𝐻𝑜𝑔 𝜀𝑐 𝑓𝑠 𝜀𝑠

𝑓𝑐𝐻𝑜𝑔 𝜀𝑐
𝑓𝑠 𝜀𝑠

Selesai

Gambar 4.2 Bagan Alir Kurva Tegangan dan Regangan.


41

4.3.2 Bagan Alir Program Fungsi Momen Hingga Analisis Metode


Kompatibilitas Regangan Tulangan Tunggal

Mulai

Karakteristik balok:
b, h, jumlah tulangan, 𝜀𝑢 , 𝑓′𝑐 , 𝐴𝑠 , 𝑓𝑦 ,Φ𝑡𝑢𝑙 , 𝑛𝑡𝑢𝑙 , dan 𝐸𝑠

𝑀𝑛 𝑌𝑐

𝑛𝑠𝑒𝑔 = 𝑎𝑠𝑢𝑚𝑠𝑖
𝑌𝑐
𝑕𝑠𝑒𝑔 =
𝑛 𝑠𝑒𝑔

Tulangan tunggal:
Σ𝐶𝑐 = 0
Σ𝑀𝑐 = 0

𝑖 = 𝑛𝑠𝑒𝑔

𝑦𝑐𝑖 = 𝑕𝑠𝑒𝑔 . i
𝑦𝑐 𝑖
𝜀𝑐𝑖 = 0,003
𝑌𝑐

Tidak

𝑓𝑐𝑠 𝑖 = 𝑓𝑐𝐻𝑜𝑔 𝜀𝑐𝑖

𝑖 > 𝑛𝑠𝑒𝑔

Ya

A
42

𝑓𝑐𝑠 = 𝑓𝑐𝐻𝑜𝑔 𝜀𝑐

𝑗 = 𝑛𝑠𝑒𝑔 − 1

𝑓𝑐𝑠 𝑗 + 𝑓𝑐𝑠 𝑗 +1
𝑓𝑐𝑎𝑣 𝑗 =
2
𝐿𝑐𝑎𝑣 𝑗 = 0,5 + 𝑗 . 𝑕𝑠𝑒𝑔 + 𝑑𝑏 − 𝑌𝑐

𝐶𝑐𝑗 = 𝑓𝑐𝑎 𝑣𝑗 . hseg . b


Tidak
Σ𝐶𝑐𝑗 = Σ𝐶𝑐 + 𝐶𝑐𝑗

𝑀𝑐𝑗 = 𝐶𝑐𝑗 . 𝐿𝑐𝑎𝑣 𝑗


Σ𝑀𝑐𝑗 = Σ𝑀𝑐 + 𝑀𝑐𝑗

𝑗 > 𝑛𝑠𝑒𝑔 − 1

Ya

Σ𝐶𝑐
Σ𝑀𝑐

𝑑′ = 25
𝑑𝑏 = 𝑕 − 𝑑′
db − Yc
𝜀𝑠 = 0,003.
Yc
𝑓𝑠 = 𝑓𝑠 . 𝜀𝑠
𝑇𝑠 = 𝐴𝑠 . 𝑓𝑠
Σ𝐻 = Σ𝐶𝑐 − 𝑇𝑠

B
43

Σ𝐻
Σ𝑀𝑐
Σ𝐶𝑐
𝜀𝑠

Y𝑐1 = 0,25. 𝑑′
Y𝑐2 = 0,5. 𝑑′
𝑇𝑜𝑙 = 0,001

𝑖𝑡 = 0

∆𝑌 = Y𝑐2 − Y𝑐1

∆𝑌 > 𝑇𝑜𝑙

𝑀𝑛 𝑌𝑐2 0 ∗ (𝑌𝑐2 − 𝑌𝑐1 )


𝑌𝑐3 = 𝑌𝑐2 −
𝑀𝑛 𝑌𝑐2 0 − 𝑀𝑛 𝑌𝑐1 0

𝑌𝑐3 − 𝑌𝑐1 < 𝑇𝑜𝑙

Tidak

Y𝑐1 = 𝑌𝑐3 Ya

𝑌𝑐3

C
44

Tidak
Ket:
𝑀𝑛 𝑌𝑐2 3 ≥ 𝜀𝑦

Ya

"𝑈𝑛𝑑𝑒𝑟 𝑅𝑒𝑖𝑛𝑓𝑜𝑟𝑐𝑒𝑑" "𝑂𝑣𝑒𝑟 𝑅𝑒𝑖𝑛𝑓𝑜𝑟𝑐𝑒𝑑"

𝑀𝑛 𝑌𝑐3 0 𝐾𝑜𝑛𝑡𝑟𝑜𝑙 𝐺𝑎𝑦𝑎 𝐻𝑜𝑟𝑖𝑧𝑜𝑛𝑡𝑎𝑙


𝑀𝑛 𝑌𝑐3 1
𝑀𝑜𝑚𝑒𝑛 𝐾𝑎𝑝𝑎𝑠𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑃𝑒𝑛𝑎𝑚𝑝𝑎𝑛𝑔
𝐾𝑒𝑡 :Tulangan tunggal 𝐾𝑒𝑡𝑒𝑟𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝐾𝑜𝑛𝑑𝑖𝑠𝑖 𝑃𝑒𝑛𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛
𝑌𝑐3 𝑇𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 𝐵𝑙𝑜𝑘 𝑇𝑒𝑘𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑡𝑜𝑛
𝑀𝑛 𝑌𝑐2 3
𝑟𝑒𝑔𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑇𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑇𝑎𝑟𝑖𝑘

Selesai

Gambar 4.3 Bagan Alir Program Fungsi Momen Hingga Analisis Metode
Kompatibilitas Regangan Tulangan Tunggal.
45

4.3.3 Bagan Alir Program Fungsi Momen Hingga Analisis Metode


Kompatibilitas Regangan Tulangan Rangkap dan Majemuk

Mulai

Karakteristik balok:
b, h, jumlah tulangan, 𝜀𝑢 , 𝑓′𝑐 , 𝐴𝑠 , 𝑓𝑦 ,𝑛𝑙𝑎𝑦𝑒𝑟 ,Φ𝑡𝑢𝑙 , 𝑛𝑡𝑢𝑙 , 𝑑𝑡𝑢𝑙 , dan 𝐸𝑠

𝑀𝑛 𝑌𝑐

𝑛𝑠𝑒𝑔 = 𝑎𝑠𝑢𝑚𝑠𝑖
𝑌𝑐
𝑕𝑠𝑒𝑔 =
𝑛 𝑠𝑒𝑔

Tulangan Rangkap & majemuk:


Σ𝐶𝑐 = 0
Σ𝑀𝑐 = 0
Σ𝑀𝑠 = 0, Σ𝑇𝑠 = 0

𝑖 = 𝑛𝑠𝑒𝑔

𝑦𝑐𝑖 = 𝑕𝑠𝑒𝑔 . i
𝑦𝑐 𝑖
𝜀𝑐𝑖 = 0,003
𝑌𝑐

Tidak

𝑓𝑐𝑠 𝑖 = 𝑓𝑐𝐻𝑜𝑔 𝜀𝑐𝑖

𝑖 > 𝑛𝑠𝑒𝑔

Ya

A
46

𝑓𝑐𝑠 = 𝑓𝑐𝐻𝑜𝑔 𝜀𝑐

𝑗 = 𝑛𝑠𝑒𝑔 − 1

𝑓𝑐𝑠 𝑗 + 𝑓𝑐𝑠 𝑗 +1
𝑓𝑐𝑎𝑣 𝑗 =
2
𝐿𝑐𝑎𝑣 𝑗 = 0,5 + 𝑗 . 𝑕𝑠𝑒𝑔 + 𝑑𝑏 − 𝑌𝑐

𝐶𝑐𝑗 = 𝑓𝑐𝑎𝑣 𝑗 . hseg . b


Tidak
Σ𝐶𝑐𝑗 = Σ𝐶𝑐 + 𝐶𝑐𝑗

𝑀𝑐𝑗 = 𝐶𝑐𝑗 . 𝐿𝑐𝑎𝑣 𝑗


Σ𝑀𝑐𝑗 = Σ𝑀𝑐 + 𝑀𝑐𝑗

𝑗 > 𝑛𝑠𝑒𝑔 − 1

Ya

Σ𝐶𝑐
Σ𝑀𝑐

B
47

𝑘 = 𝑛𝑙𝑎𝑦𝑒𝑟 − 1

Yc − dtul k
𝜀𝑠𝑘 = 0,003.
Yc
𝑓𝑠1𝑘 = 𝑓𝑠 𝜀𝑠𝑘

𝑇𝑠𝑘 = 𝐴𝑠𝑡𝑢𝑙 𝑘 . 𝑓𝑠1𝑘


Tidak
𝐿𝑠𝑘 = 𝑑𝑏 − dtul k
𝑀𝑠𝑘 = 𝑇𝑠𝑘 . 𝐿𝑠𝑘
Σ𝑀𝑠 = Σ𝑀𝑠 + 𝑀𝑠𝑘
Σ𝑇𝑠 = Σ𝑇𝑠 + 𝑇𝑠𝑘

𝑘 > 𝑛𝑙𝑎𝑦𝑒𝑟 − 1

Ya

Σ𝑀𝑡𝑜𝑡 = Σ𝑀𝑐 + Σ𝑀𝑠


Σ𝐻 = Σ𝐶𝑐 + Σ𝑇𝑠

Σ𝐻
Σ𝑀𝑡𝑜𝑡
Σ𝐶𝑐
𝜀𝑠

C
48

Y𝑐1 = 0,25. 𝑑′
Y𝑐2 = 0,5. 𝑑′
𝑇𝑜𝑙 = 0,001

𝑖𝑡 = 0

∆𝑌 = Y𝑐2 − Y𝑐1

∆𝑌 > 𝑇𝑜𝑙

𝑀𝑛 𝑌𝑐2 0 ∗ (𝑌𝑐2 − 𝑌𝑐1 )


𝑌𝑐3 = 𝑌𝑐2 −
𝑀𝑛 𝑌𝑐2 0 − 𝑀𝑛 𝑌𝑐1 0

𝑌𝑐3 − 𝑌𝑐1 < 𝑇𝑜𝑙

Tidak

Y𝑐1 = 𝑌𝑐3 Ya

𝑌𝑐3

𝑀𝑛 𝑌𝑐3 0 𝐾𝑜𝑛𝑡𝑟𝑜𝑙 𝐺𝑎𝑦𝑎 𝐻𝑜𝑟𝑖𝑧𝑜𝑛𝑡𝑎𝑙


𝑀𝑛 𝑌𝑐3 1 𝑀𝑜𝑚𝑒𝑛 𝐾𝑎𝑝𝑎𝑠𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑃𝑒𝑛𝑎𝑚𝑝𝑎𝑛𝑔
:Tulangan majemuk
𝑀𝑛 𝑌𝑐3 3
𝑅𝑒𝑔𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝐿𝑎𝑦𝑒𝑟 𝑇𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛
𝑌𝑐3 𝑇𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 𝐵𝑙𝑜𝑘 𝑇𝑒𝑘𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑡𝑜𝑛

Selesai

Gambar 4.4 Bagan Alir Program Fungsi Momen Hingga Analisis Metode Kompatibilitas
Regangan Tulangan Rangkap dan Majemuk.
49

4.3.4 Bagan Alir Program Disain Balok Kompatibilitas Regangan

Mulai

Karakteristik balok:
b, h, jumlah tulangan, 𝜀𝑢 , 𝑓′𝑐 , 𝐴𝑠 , 𝑓𝑦 ,Φ𝑡𝑢𝑙 , 𝑛𝑡𝑢𝑙 , 𝑀𝑢 , dan 𝐸𝑠

𝑀𝑛 𝑌𝑐

𝑛𝑠𝑒𝑔 = 𝑎𝑠𝑢𝑚𝑠𝑖
𝑌𝑐
𝑕𝑠𝑒𝑔 =
𝑛 𝑠𝑒𝑔

Tulangan tunggal:
Σ𝐶𝑐 = 0
Σ𝑀𝑐 = 0

𝑖 = 𝑛𝑠𝑒𝑔

𝑦𝑐𝑖 = 𝑕𝑠𝑒𝑔 . i
𝑦𝑐 𝑖
𝜀𝑐𝑖 = 0,003
𝑌𝑐

Tidak

𝑓𝑐𝑠 𝑖 = 𝑓𝑐𝐻𝑜𝑔 𝜀𝑐𝑖

𝑖 > 𝑛𝑠𝑒𝑔

Ya

A
50

𝑓𝑐𝑠 = 𝑓𝑐𝐻𝑜𝑔 𝜀𝑐

𝑗 = 𝑛𝑠𝑒𝑔 − 1

𝑓𝑐𝑠 𝑗 + 𝑓𝑐𝑠 𝑗 +1
𝑓𝑐𝑎𝑣 𝑗 =
2
𝐿𝑐𝑎𝑣 𝑗 = 0,5 + 𝑗 . 𝑕𝑠𝑒𝑔 + 𝑑𝑏 − 𝑌𝑐

𝐶𝑐𝑗 = 𝑓𝑐𝑎𝑣 𝑗 . hseg . b


Tidak
Σ𝐶𝑐𝑗 = Σ𝐶𝑐 + 𝐶𝑐𝑗

𝑀𝑐𝑗 = 𝐶𝑐𝑗 . 𝐿𝑐𝑎𝑣 𝑗


Σ𝑀𝑐𝑗 = Σ𝑀𝑐 + 𝑀𝑐𝑗

𝑗 > 𝑛𝑠𝑒𝑔 − 1

Ya

Σ𝐶𝑐
Σ𝑀𝑐

Σ𝑀𝑡𝑜𝑡 = Σ𝑀𝑐 − 𝑀𝑢
db − Yc
𝜀𝑠 = 0,003.
Yc
𝑓𝑠 = 𝑓𝑠 . 𝜀𝑠
Σ𝐶𝑐
𝐴𝑠 =
𝑓𝑠
𝐴𝑠
ntul = 𝐶𝑒𝑖𝑙 ,1
𝐴1𝑡𝑢𝑙

B
51

Σ𝑀𝑡𝑜𝑡
Σ𝐶𝑐
𝜀𝑠
𝐴𝑠
𝑛𝑡𝑢𝑙

Y𝑐1 = 0,25. 𝑑′
Y𝑐2 = 0,5. 𝑑′
𝑇𝑜𝑙 = 0,001

𝑖𝑡 = 0

∆𝑌 = Y𝑐2 − Y𝑐1

∆𝑌 > 𝑇𝑜𝑙

𝑀𝑛 𝑌𝑐2 0 ∗ (𝑌𝑐2 − 𝑌𝑐1 )


𝑌𝑐3 = 𝑌𝑐2 −
𝑀𝑛 𝑌𝑐2 0 − 𝑀𝑛 𝑌𝑐1 0

𝑌𝑐3 − 𝑌𝑐1 < 𝑇𝑜𝑙

Tidak

Y𝑐1 = 𝑌𝑐3 Ya

𝑌𝑐3

C
52

Tidak
Ket:
𝑀𝑛 𝑌𝑐2 3 ≥ 𝜀𝑦

Ya

"𝑈𝑛𝑑𝑒𝑟 𝑅𝑒𝑖𝑛𝑓𝑜𝑟𝑐𝑒𝑑" "𝑂𝑣𝑒𝑟 𝑅𝑒𝑖𝑛𝑓𝑜𝑟𝑐𝑒𝑑"

𝑀𝑛 𝑌𝑐3 0 𝐾𝑜𝑛𝑡𝑟𝑜𝑙 𝑆𝑒𝑙𝑖𝑠𝑖𝑕 𝑀𝑜𝑚𝑒𝑛


𝑀𝑛 𝑌𝑐3 2
𝑅𝑒𝑔𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑇𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑇𝑎𝑟𝑖𝑘
𝐾𝑒𝑡 :Hasil Disain 𝐾𝑒𝑡𝑒𝑟𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝐾𝑜𝑛𝑑𝑖𝑠𝑖 𝑃𝑒𝑛𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛
𝑀𝑛 𝑌𝑐3 4 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎𝑕 𝑇𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝐵𝑢𝑡𝑢𝑕
𝑌𝑐3 𝑇𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 𝐵𝑙𝑜𝑘 𝑇𝑒𝑘𝑎𝑛 𝐵𝑒𝑡𝑜𝑛

Selesai

Gambar 4.5 Bagan Alir Program Disain Balok Kompatibilitas Regangan.


53

4.4 Bagan Alir Analisis Balok Metode Whitney


4.4.1 Bagan Alir Analisis Balok Tulangan Tunggal

Mulai

Karakteristik balok:
b, h, jumlah tulangan, 𝜀𝑢 , 𝑓′𝑐 , 𝐴𝑠 , 𝑓𝑦 ,dan 𝐸𝑠

Analisis Matematis:
𝐶𝑐 = 0,85. 𝑓′𝑐 . 𝑎. 𝑏
𝑇𝑠 = 𝐴𝑠 . 𝑓𝑦
𝐴𝑠 . 𝑓𝑦
𝑎= 𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 𝑏𝑙𝑜𝑘 𝑡𝑒𝑘𝑎𝑛
0.85. 𝑓′𝑐 . 𝑏
𝑎
𝑐= : tinggi garis netral
𝛽
𝑑 𝑏 −𝑐
𝜀𝑠 = 𝜀𝑐 . tulangan tunggal
𝑐
𝑓𝑦
𝜀𝑦 = 𝜀𝑠 ≥ 𝜀𝑦 = 𝑎𝑛𝑔𝑔𝑎𝑝𝑎𝑛 𝑡𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑡𝑎𝑟𝑖𝑘
𝐸𝑠

𝑠𝑢𝑑𝑎𝑕 𝑙𝑒𝑙𝑒𝑕 𝑎𝑑𝑎𝑙𝑎𝑕 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟


𝑓𝑠 = 𝜀𝑠 . 𝐸𝑠 Jika 𝑓𝑠 < 𝑓𝑦
- Hitung momen nominal (𝑀𝑛)
𝑎
𝑓′ 𝑑𝑏 𝑐=
𝛽
𝐴𝑠𝑏 = 𝛽. 𝑐 . 𝑏. 𝑑𝑏 .
𝑓𝑦 600 + 𝑓𝑦 Asumsikan garis netral

𝐽𝑖𝑘𝑎 𝐴𝑠 < 𝐴𝑠𝑏 , 𝐴𝑡𝑎𝑢 𝜌 < 𝜌𝑏 𝑇𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑡𝑎𝑟𝑖𝑘 𝑡𝑒𝑙𝑎𝑕 𝑙𝑒𝑙𝑒𝑕

Tidak Ya

Keruntuhan tekan: Keruntuhan tarik:


𝑎 𝐴𝑠 . 𝑓𝑦
𝑀𝑛 = 0,85. 𝑓′𝑐 . 𝑎. 𝑏. 𝑑𝑏 − 𝑀𝑛 = 𝐴𝑠 . 𝑓𝑦 . 𝑑𝑏 − 0,59.
2 𝑓′𝑐 . 𝑏

Σ𝐻 = 𝐶𝑐 − 𝑇𝑠 Tidak
Σ𝐻 = 0

Ya

A
54

Ya Tidak
𝜀𝑠 ≥ 𝜀𝑦

"𝑈𝑛𝑑𝑒𝑟 𝑅𝑒𝑖𝑛𝑓𝑜𝑟𝑐𝑒𝑑" "𝑂𝑣𝑒𝑟 𝑅𝑒𝑖𝑛𝑓𝑜𝑟𝑐𝑒𝑑"

Hasil Hitungan:
Momen nominal hasil analisis teoritis,
𝑀𝑛

Selesai

Gambar 4.6 Bagan Alir Analisis Tulangan Tunggal Metode Whitney.


55

4.4.2 Bagan Alir Analisis Balok Tulangan Rangkap

Mulai

Karakteristik balok:
b, h, jumlah tulangan, 𝜀𝑢 , 𝑓′𝑐 , 𝐴𝑠 , 𝐴′𝑠 , 𝑓𝑦 ,dan 𝐸𝑠

Analisis Matematis:
𝐶𝑐 = 0,85. 𝑓′𝑐 . 𝑎. 𝑏 𝐶𝑠 = 𝐴′𝑠 . 𝑓𝑦
𝑇𝑠 = 𝐴𝑠 . 𝑓𝑦
𝐴𝑠 − 𝐴′𝑠 . 𝑓𝑦
𝑎= 𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 𝑏𝑙𝑜𝑘 𝑡𝑒𝑘𝑎𝑛
0.85. 𝑓′𝑐 . 𝑏
𝑎
𝑐= : tinggi garis netral
𝛽

𝐽𝑖𝑘𝑎 𝑓′𝑠 = 𝑓𝑦 maka:


𝑐 − 𝑑′ 𝑎 − 𝛽. 𝑑′ 𝑓𝑦
𝜀′𝑠 = 𝜀𝑐 . = 𝜀𝑐 . ≥
𝑐 𝑎 𝐸𝑠
𝑑′ − 𝑐 𝛽. 𝑑 ′ − 𝑎 𝑓𝑦
𝜀𝑠 = 𝜀𝑐 . = 𝜀𝑐 . ≥
𝑐 𝑎 𝐸𝑠
𝐽𝑖𝑘𝑎 𝑓′𝑠 < 𝑓𝑦 maka:
𝐴𝑠 . 𝑓𝑠 − 𝐴′𝑠 . 𝑓′𝑠
𝑎=
0.85. 𝑓′𝑐 . 𝑏
𝑎−𝛽 1 .𝑑′
𝑓′𝑠 = 𝜀′𝑠 . 𝐸𝑠 = 0.003. . 𝐸𝑠 atau 𝑓𝑦
𝑎
𝛽1 .𝑑 ′ −𝑎
𝑓𝑠 = 𝜀𝑠 . 𝐸𝑠 = 0.003. . 𝐸𝑠 atau 𝑓𝑦
𝑎
𝑎
𝑓′ 𝑑𝑏 𝑐=
Hitung 𝐴𝑠𝑏 = 𝛽. 𝑐
. 𝑏. 𝑑𝑏 . dan ketentuan 𝛽
𝑓𝑦 600 +𝑓𝑦
Asumsikan garis netral

𝐽𝑖𝑘𝑎 𝐴𝑠 < 𝐴𝑠𝑏 , 𝐴𝑡𝑎𝑢 𝜌 < 𝜌𝑏 𝑇𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑡𝑎𝑟𝑖𝑘 𝑡𝑒𝑙𝑎𝑕 𝑙𝑒𝑙𝑒𝑕

Tidak Ya

Keruntuhan tekan: Keruntuhan tekan:


𝑎 𝑎
𝑀𝑛 = 0,85. 𝑓′𝑐 . 𝑎. 𝑏. 𝑑𝑏 − + 𝐴′ 𝑠 . 𝑓′𝑠 . (𝑑𝑏 𝑀𝑛 = 0,85. 𝑓′𝑐 . 𝑎. 𝑏. 𝑑𝑏 − + 𝐴′ 𝑠 . 𝑓𝑦 . (𝑑𝑏 − 𝑑′)
2 2
− 𝑑′)

Σ𝐻 = 𝐶𝑐 − 𝑇𝑠 Tidak
Σ𝐻 = 0

Ya

A
56

Hasil Hitungan:
Momen nominal hasil analisis teoritis,
𝑀𝑛

Selesai

Gambar 4.7 Bagan Alir Analisis Tulangan Rangkap Metode Whitney.

4.4.3 Bagan Alir Disain Balok Tulangan Tunggal Metode Whitney

Mulai

Tentukan:
b, h, 𝜀𝑢 𝐴𝑠𝑢𝑚𝑠𝑖𝑘𝑎𝑛 𝑀𝑢 , 𝑓′𝑐 , Φ𝑡𝑢𝑙𝐴 , 𝑓𝑦 , 𝛽 ,dan 𝐸𝑠

𝑓′ 𝑐 𝑑𝑏
𝐴𝑠𝑏 = 𝛽. 𝑓𝑦
. 𝑏. 𝑑𝑏 . 600+𝑓𝑦

𝐴1𝑡𝑢𝑙 = 0,25. 𝜋. (Φ𝑡𝑢𝑙𝐴 )2


𝐴𝑠𝑏
𝑛𝑡𝑢𝑙 = 𝐴 : Banyak tulangan tarik
1𝑡𝑢𝑙

Kapasitas penampang: 𝑀𝑢 < 𝑀𝑛


Dengan Metode Analisis tul tunggal
𝐴 .𝑓𝑦
𝑀𝑛 = 𝐴𝑠 . 𝑓𝑦 . 𝑑𝑏 − 0,59. 𝑓′𝑠
𝑐 .𝑏

Kelebihan momen sebesar


𝑀𝑛2 = 𝑀𝑢 − 𝑀𝑛

Selesai

Gambar 4.8 Bagan Alir Disain Balok Tulangan Tunggal Metode Whitney.
57

4.4.4 Bagan Alir Disain Balok Tulangan Rangkap Metode Whitney

Mulai

Tentukan:
b, h, 𝜀𝑢 𝐴𝑠𝑢𝑚𝑠𝑖𝑘𝑎𝑛 𝑀𝑢 , 𝑓′𝑐 , Φ𝑡𝑢𝑙𝐴 , 𝑓𝑦 , 𝛽 ,dan 𝐸𝑠

𝑓′ 𝑐 𝑑𝑏
𝐴𝑠𝑏 = 𝛽. 𝑓𝑦
. 𝑏. 𝑑𝑏 . 600+𝑓𝑦

𝐴1𝑡𝑢𝑙 = 0,25. 𝜋. (Φ𝑡𝑢𝑙𝐴 )2


𝐴𝑠𝑏
𝑛𝑡𝑢 𝑙 = : Banyak tulangan tarik
𝐴1𝑡𝑢𝑙

Kapasitas penampang: 𝑀𝑢 < 𝑀𝑛


Dengan Metode Analisis tul tunggal
𝐴𝑠 .𝑓𝑦
𝑀𝑛 = 𝐴𝑠 . 𝑓𝑦 . 𝑑𝑏 − 0,59. 𝑓′
𝑐 .𝑏

Kelebihan momen sebesar


𝑀𝑛2 = 𝑀𝑢 − 𝑀𝑛

𝑀𝑛2
𝐶𝑠 =
𝑑 − 𝑑′

Tidak 𝜀′𝑠 ≥ 𝜀𝑦 Ya

𝑓′𝑠 = 𝐸𝑠 . 𝜀′𝑠 𝑓′𝑠 = 𝑓𝑦

𝐶𝑠
𝐴𝑠𝑡𝑒𝑘𝑎𝑛 =
𝑓′𝑠

A
58

𝐶𝑠
𝐴𝑠𝑡𝑒𝑘𝑎𝑛 2 =
𝑓𝑦
𝐴𝑠 = 𝐴𝑠𝑡𝑎𝑟𝑖𝑘 1 + 𝐴𝑠𝑡𝑎𝑟𝑖𝑘 2

𝐴𝑠
𝑛𝑡𝑢𝑙𝑡𝑎𝑟𝑖𝑘 =
𝐴1𝑡𝑢𝑙
𝐴𝑠𝑡𝑒𝑘𝑎𝑛
𝑛𝑡𝑢𝑙𝑡𝑒𝑘𝑎𝑛 =
𝐴1𝑡𝑢𝑙

Selesai

Gambar 4.9 Bagan Alir Disain Balok Tulangan Rangkap Metode Whitney.

4.5 Algoritma Program Metode Kompatibilitas Regangan


4.5.1 Algoritma Analisis Balok Tulangan Tunggal
Pada perhitungan ini penulis membagi penampang beton desak dan tinggi
regangan dari garis netral ke selimut atas balok menjadi beberapa segmen atau
pias. Fungsi momen 𝑴𝒏 𝒀𝒄 adalah merupakan pemrograman untuk mendapatkan
kompatibilitas regangan yang didalam pemrograman ini terdiri beberapa rumusan
diantaranya:
Σ𝐶𝑐 : Tegangan tekan beton, N.mm. Tegangan tekan beton dihitung dari
Σ𝐶𝑐 = 0 atau C c  0

Σ𝑀𝑐 : Momen tekan beton, N.mm. Momen tekan beton dihitung dari
Σ𝑀𝑐 = 0 atau M c  0

𝑌𝑐 : Tinggi garis netral ke selimut atas balok atau tinggi regangan tekan.
𝑛𝑠𝑒𝑔 : Banyak pembagi segmen atau pias, 𝑛𝑠𝑒𝑔 = 100
𝑕𝑠𝑒𝑔 : Untuk menentukan tinggi tiap segmen atau pias.
𝑌𝑐 Yc
𝑕𝑠𝑒𝑔 = 𝑛 atau h seg 
𝑠𝑒𝑔 n seg
59

𝑓𝑜𝑟 : Fungsi pengulangan pada pemrograman regangan-tegangan beton pada


atas segmen atau pias.
𝑓𝑜𝑟 𝑖 𝜖 0. . 𝑛𝑠𝑒𝑔 : Untuk pengulangan i mulai dari 0 hingga 𝑛𝑠𝑒𝑔 .
𝑦𝑐 𝑖 : Jarak segmen dari selimut atas balok ketepi segmen.
𝑦𝑐 𝑖 = 𝑕𝑠𝑒𝑔 . (𝑖) atau yc  hseg ( i)
i

𝜀𝑐 𝑖 : Regangan beton pada tiap segmen atau pias.

𝑦𝑐 𝑖  yc 
𝜀𝑐 𝑖 = 0.003. atau  c  0.003  i 
𝑌𝑐 i
 Yc 
𝑓𝑐𝑠 𝑖 : Tegangan beton pada tiap segmen atau pias.
𝑓𝑐𝑠 𝑖 = 𝑓𝑐𝐻𝑜𝑔 𝜀𝑐 𝑖
Untuk keterangan lebih lanjut dapat dilihat pada gambar 4.10
𝜺𝒄𝒖 = 𝟎, 𝟎𝟎𝟑

𝒃
𝒚𝒄𝒊
𝒚𝒄𝒊
𝜺𝒄𝒊
𝒚𝒄𝒊
𝒀𝒄 𝜺𝒄𝒊
𝒚𝒄𝒊
𝜺𝒄𝒊
𝒚𝒄𝒊
𝜺𝒄𝒊
𝒅𝒃 𝜺𝒄𝒊
𝒀𝒄
𝒉

ds
𝜺𝒔

a). Penampang Balok b). Pias-Pias


Gambar 4.10 Pias-Pias Regangan Balok Tulangan Tunggal
Balok.
𝑓𝑜𝑟 : Fungsi pengulangan pada pemrograman untuk menentukan gaya tekan
balok dan momen tekan balok.
𝑓𝑜𝑟 𝑗 𝜖 0. . 𝑛𝑠𝑒𝑔 − 1 : Untuk pengulangan j mulai dari 0 hingga 𝑛𝑠𝑒𝑔 − 1.
60

𝑓𝑐𝑠 𝑗 : Tegangan beton pada atas segmen atau pias.

𝑓𝑐𝑠 𝑗 +1 : Tegangan beton pada bawah segmen atau pias.

𝑓𝑐𝑎𝑣 𝑗 : Tegangan beton pada tengah segmen atau pias.

𝑑𝑏 : Tinggi tulangan tarik ke atas balok.


𝐿𝑐𝑎𝑣 𝑗 : Tinggi gaya tekan beton.

𝐶𝑐 𝑗 : Gaya tekan masing-masing pias.

Σ𝐶𝑐 : Gaya tekan total balok


𝑀𝑐 𝑗 : Momen tekan balok.
Σ𝑀𝑐 : Momen tekan balok dari garis netral ke atas balok.
Untuk keterangan lebih lanjut dapat dilihat pada gambar 4.11
𝒇𝒄 = 𝟎, 𝟖𝟓. 𝒇′𝒄

𝒃 𝒇𝒄𝒂𝒗𝒋

𝒇𝒄𝒂𝒗𝒋
𝒉𝒔𝒆𝒈
𝑪𝒄𝒋
𝒇𝒄𝒔𝒋 𝚺𝑪𝒄
𝜺𝒄𝒊 𝑳𝒄𝒂𝒗𝒋 𝒇𝒄𝒔𝒋+𝟏
𝒀𝒄
𝒀𝒄𝟑

𝟎. 𝟓

𝟎. 𝟓 + 𝒋 Garis Netral
𝒅𝒃

𝑻𝒔

Tegangan

Gambar 4.11 Numerik Tegangan Kopel Desak Balok.


𝑑 𝑏 −𝑌𝑐  d b  Yc 
𝜀𝑠 = 0,003 atau  s  0.003  
𝑌𝑐
 Yc 
𝑓𝑠 : Tegangan tulangan tarik, N/mm2
𝑓𝑠 = 𝑓𝑠 . (𝜀𝑠 ) atau fs  fs s

𝑇𝑠 : Gaya tekan tulangan, N


61

𝑇𝑠 = 𝐴𝑠 ∗ 𝑓𝑠 atau Ts  As fs

Σ𝐻 = Σ𝐶𝑐 − 𝑇𝑠 atau H  C c  Ts untuk konrol gaya horizontal Σ𝐻 = 0


ΣH Gaya Horizontal
Σ𝑀𝑐 Momen Tekan Balok
:Tulangan tunggal
Σ𝐶𝑐 Gaya Tekan balok
𝜀𝑠 Regangan Tulangan Tarik

4.5.2 Algoritma Analisis Balok Tulangan Rangkap dan Majemuk


Pada perhitungan ini penulis membagi penampang beton desak dan tinggi
regangan dari garis netral ke selimut atas balok menjadi beberapa segmen atau
pias. Fungsi momen 𝑴𝒏 𝒀𝒄 adalah merupakan pemrograman untuk mendapatkan
kompatibilitas regangan yang didalam pemrograman ini terdiri beberapa rumusan
diantaranya:
Σ𝐶𝑐 : Tegangan tekan beton, N.mm. Tegangan tekan beton dihitung dari
Σ𝐶𝑐 = 0 atau C c  0

Σ𝑀𝑐 : Momen tekan beton, N.mm. Momen tekan beton dihitung dari
Σ𝑀𝑐 = 0 atau M c  0

Σ𝑀𝑠 : Momen tekan baja, N.mm. Momen tekan baja berdasarkan banyak layer
Σ𝑀𝑠 = 0 atau M s  0

Σ𝑇𝑠 : Momen tarik baja, N.mm. Momen tekan baja berdasarkan banyak layer
Σ𝑇𝑠 = 0 atau T s  0

𝑌𝑐 : Tinggi garis netral ke selimut atas balok atau tinggi regangan tekan.
𝑛𝑠𝑒𝑔 : Banyak pembagi segmen atau pias, 𝑛𝑠𝑒𝑔 = 100
𝑕𝑠𝑒𝑔 : Untuk menentukan tinggi tiap segmen atau pias.
𝑌𝑐 Yc
𝑕𝑠𝑒𝑔 = 𝑛 atau h seg 
𝑠𝑒𝑔 n seg

𝑓𝑜𝑟 : Fungsi pengulangan pada pemrograman regangan-tegangan beton pada


atas segmen atau pias.
𝑓𝑜𝑟 𝑖 𝜖 0. . 𝑛𝑠𝑒𝑔 : Untuk pengulangan i mulai dari 0 hingga 𝑛𝑠𝑒𝑔 .
𝑦𝑐 𝑖 : Jarak segmen dari selimut atas balok ketepi segmen.
62

𝑦𝑐 𝑖 = 𝑕𝑠𝑒𝑔 . (𝑖) atau yc  hseg ( i)


i

𝜀𝑐 𝑖 : Regangan beton pada tiap segmen atau pias.

𝑦𝑐 𝑖  yc 
𝜀𝑐 𝑖 = 0.003. atau  c  0.003  i 
𝑌𝑐 i
 Yc 
𝑓𝑐𝑠 𝑖 : Tegangan beton pada tiap segmen atau pias.
𝑓𝑐𝑠 𝑖 = 𝑓𝑐𝐻𝑜𝑔 𝜀𝑐 𝑖
Untuk keterangan lebih lanjut dapat dilihat pada gambar 4.12
𝒃 𝜺𝒄𝒖 = 𝟎, 𝟎𝟎𝟑
d’
𝒚𝒄𝒊
𝒚𝒄𝒊
𝜺𝒄𝒊
𝒚𝒄𝒊
𝒀𝒄 𝜺𝒄𝒊
𝒚𝒄𝒊
𝜺𝒄𝒊
𝒚𝒄𝒊
𝜺𝒄𝒊
𝒅𝒃 𝜺𝒄𝒊
𝒀𝒄
𝒉

ds
𝜺𝒔

a). Penampang Balok b). Pias-Pias

Gambar 4.12 Pias-Pias Regangan Balok Tulangan Rangkap.

𝑓𝑜𝑟 : Fungsi pengulangan pada pemrograman untuk menentukan gaya tekan


balok dan momen tekan balok.
𝑓𝑜𝑟 𝑗 𝜖 0. . 𝑛𝑠𝑒𝑔 − 1 : Untuk pengulangan j mulai dari 0 hingga 𝑛𝑠𝑒𝑔 − 1.
𝑓𝑐𝑠 𝑗 : Tegangan beton pada atas segmen atau pias.

𝑓𝑐𝑠 𝑗 +1 : Tegangan beton pada bawah segmen atau pias.


63

𝑓𝑐𝑎𝑣 𝑗 : Tegangan beton pada tengah segmen atau pias.

𝑑𝑏 : Tinggi tulangan tarik ke atas balok.


𝐿𝑐𝑎𝑣 𝑗 : Tinggi gaya tekan beton.

𝐶𝑐 𝑗 : Gaya tekan masing-masing pias.

Σ𝐶𝑐 : Gaya tekan total balok


𝑀𝑐 𝑗 : Momen tekan balok.
Σ𝑀𝑐 : Momen tekan balok dari garis netral ke atas balok.
Untuk keterangan lebih lanjut dapat dilihat pada gambar 4.13

𝒇𝒄 = 𝟎, 𝟖𝟓. 𝒇′𝒄

𝒃 𝒇𝒄𝒂𝒗𝒋

𝒉𝒔𝒆𝒈 𝚺𝑪𝒔
𝑪𝒄𝒋
𝒇𝒄𝒔𝒋 𝚺𝑪𝒄
𝜺𝒄𝒊 𝑳𝒄𝒂𝒗𝒋 𝒇𝒄𝒔𝒋+𝟏
𝒀𝒄
𝒀𝒄𝟑

𝟎. 𝟓

𝟎. 𝟓 + 𝒋 Garis Netral
𝒅𝒃

𝑻𝒔

Tegangan

Gambar 4.13 Numerik Tegangan Kopel Desak Balok.

𝑓𝑜𝑟 : Fungsi pengulangan pada pemrograman untuk menentukan momen tekan


baja dan gaya tekan baja.
𝑛𝑙𝑎𝑦𝑒𝑟 : Banyak layer tulangan.
𝑓𝑜𝑟 𝑘 𝜖 0. . 𝑛𝑙𝑎𝑦𝑒𝑟 − 1 : Untuk pengulangan k mulai dari 0 hingga
𝑛𝑙𝑎𝑦𝑒𝑟 − 1.
64

𝑑𝑡𝑢𝑙 𝑘 : Tinggi tengah tulangan ke atas balok.


𝑓𝑠1𝑘 : Tegangan baja tarik.
 d' 
dt ul  d 
 b
𝐴𝑠𝑡𝑢𝑙 : Luas tulangan perlayer.
𝑇𝑠 : Gaya tekan tulangan perlayer.
𝑇𝑠 = 𝐴𝑠𝑡𝑢𝑙 . 𝑓𝑠1 atau Ts  Astul  fsl
k k k

𝑑𝑏 : Tinggi tulangan tarik ke atas balok.


𝐿𝑠𝑘 : Jarak tengah tulangan tarik ke tengah tulangan
tekan. Ls  db  dtul
k k

𝑀𝑠𝑘 : Momen tulangan tiap layer.


Ms  Ts  Ls
k k k

Σ𝑀𝑠 : Momen tulangan, N.mm.


M s  M s  Ms
k

Σ𝑇𝑠 : Gaya tekan tulangan, N.mm.


T s  T s  Ts
k

Σ𝑀𝑡𝑜𝑡 : Momen total, N.mm.

ΣH Gaya Horizontal
Σ𝑀𝑡𝑜𝑡 Momen Tekan Balok
:Tulangan rangkap & majemuk
Σ𝐶𝑐 Gaya Tekan balok
𝜀𝑠 Regangan Tulangan Tarik

4.5.3 Algoritma Disain Balok Tulangan Tunggal


Pada perhitungan ini untuk hitungan Fungsi momen 𝑴𝒏 𝒀𝒄 adalah
merupakan pemrograman untuk mendapatkan kompatibilitas regangan yang
didalam pemrograman ini terdiri beberapa rumusan diantaranya:
Σ𝐶𝑐 : Tegangan tekan beton, N.mm. Tegangan tekan beton dihitung dari
Σ𝐶𝑐 = 0 atau C c  0

Σ𝑀𝑐 : Momen tekan beton, N.mm. Momen tekan beton dihitung dari
65

Σ𝑀𝑐 = 0 atau M c  0

𝑌𝑐 : Tinggi garis netral ke selimut atas balok atau tinggi regangan tekan.
𝑛𝑠𝑒𝑔 : Banyak pembagi segmen atau pias, 𝑛𝑠𝑒𝑔 = 100
𝑕𝑠𝑒𝑔 : Untuk menentukan tinggi tiap segmen atau pias.
𝑌𝑐 Yc
𝑕𝑠𝑒𝑔 = 𝑛 atau h seg 
𝑠𝑒𝑔 n seg

𝑓𝑜𝑟 : Fungsi pengulangan pada pemrograman regangan-tegangan beton pada


atas segmen atau pias.
𝑓𝑜𝑟 𝑖 𝜖 0. . 𝑛𝑠𝑒𝑔 : Untuk pengulangan i mulai dari 0 hingga 𝑛𝑠𝑒𝑔 .
𝑦𝑐 𝑖 : Jarak segmen dari selimut atas balok ke garis netral.
𝑦𝑐 𝑖 = 𝑕𝑠𝑒𝑔 . (𝑖) atau yc  hseg ( i)
i

𝜀𝑐 𝑖 : Regangan beton pada tiap segmen atau pias.

𝑦𝑐 𝑖  yc 
𝜀𝑐 𝑖 = 0.003. atau  c  0.003  i 
𝑌𝑐 i
 Yc 
𝑓𝑐𝑠 𝑖 : Tegangan beton pada tiap segmen atau pias.
𝑓𝑐𝑠 𝑖 = 𝑓𝑐𝐻𝑜𝑔 𝜀𝑐 𝑖
𝑓𝑜𝑟 : Fungsi pengulangan pada pemrograman untuk menentukan gaya tekan
balok dan momen tekan balok.
𝑓𝑜𝑟 𝑗 𝜖 0. . 𝑛𝑠𝑒𝑔 − 1 : Untuk pengulangan j mulai dari 0 hingga 𝑛𝑠𝑒𝑔 − 1.
𝑓𝑐𝑠 𝑗 : Tegangan beton pada atas segmen atau pias.

𝑓𝑐𝑠 𝑗 +1 : Tegangan beton pada bawah segmen atau pias.

𝑓𝑐𝑎𝑣 𝑗 : Tegangan beton pada tengah segmen atau pias.

𝑑𝑏 : Tinggi tulangan tarik ke atas balok.


𝐿𝑐𝑎𝑣 𝑗 : Tinggi gaya tekan beton.

𝐶𝑐 𝑗 : Gaya tekan balok.


Σ𝐶𝑐 : Gaya tekan balok dari garis netral ke atas balok.
𝑀𝑐 𝑗 : Momen tekan balok.

Σ𝑀𝑐 : Momen tekan balok dari garis netral ke atas balok.


66

Σ𝑀𝑡𝑜𝑡 : Momen total


Σ𝑀𝑡𝑜𝑡 = Σ𝑀𝑐 − 𝑀𝑢 atau M t ot  M c  Mu

𝜀𝑠 : Regangan tulangan tarik


𝑑 𝑏 −𝑌𝑐  d b  Yc 
𝜀𝑠 = 0,003 atau  s  0.003  
𝑌𝑐
 Yc 
𝑓𝑠 : Tegangan tulangan tarik, N/mm2
𝑓𝑠 = 𝑓𝑠 . (𝜀𝑠 ) atau fs  fs s

𝐴𝑠 : Tambahan tulangan tarik, mm2


Σ𝐶𝑐 C c
𝐴𝑠 = atau A s 
𝑓𝑠 fs

𝑛𝑡𝑢𝑙 : Kebutuhan tulangan tarik, mm2


𝐴𝑠  As 
𝑛𝑡𝑢𝑙 = 𝐴 atau n tul  Ceil  1 
1𝑡𝑢𝑙
 A 1tul 
Σ𝑀𝑡𝑜𝑡 Momen Tekan Balok
Σ𝐶𝑐 Gaya Tekan balok
𝜀𝑠 : Regangan Tulangan Tarik
𝐴𝑠 Tulangan Tarik
𝑛𝑡𝑢𝑙 Kebutuhan Tulangan

4.5.4 Algoritma Metode Secant


Algoritma yang digunakan untuk menentukan posisi garis netral dengan
pembagi interval menggunakan Fungsi Analisis, pembagi interval digunakan
metode secant yang memerlukan daftar pariabel yaitu harga awal (𝒀𝒄𝟏 = 𝑿𝒐 ),
harga kedua (𝒀𝒄𝟐 = 𝑿𝟏 ), toleransi (𝑻𝒐𝒍), dan maksimum iterasi (𝒊𝒕). Penulisan
program adalah:
𝑌𝑐1 : Harga awal, 𝑌𝑐1 = 0.25𝑑 ′ atau Yc1  0.25d'

𝑌𝑐2 : Harga kedua, 𝑌𝑐2 = 0.5𝑑 ′ atau Yc2  0.5d'


𝑇𝑜𝑙 : Toleransi , 𝑇𝑜𝑙 = 0.001 atau Tol  0.001

𝑖𝑡 : Iterasi , 𝑖𝑡 = 0 atau it  0

∆𝑦 : Untuk kontrol hasil ∆𝑦 = 𝑌𝑐2 − 𝑌𝑐1 atau  Y  Yc2  Yc1

𝑤𝑕𝑖𝑙𝑒 : Pengulangan , 𝑤𝑕𝑖𝑙𝑒 = ∆𝑦 > 𝑇𝑜𝑙


67

MnYc2  Yc2  Yc1


𝑀𝑛 𝑌𝑐2 0 ∗(𝑌𝑐2 −𝑌𝑐1 ) 0
𝑌𝑐3 : Metode secant , 𝑌𝑐3 = 𝑌𝑐2 − atau Yc3  Yc2 
𝑀𝑛 𝑌𝑐2 0 −𝑀𝑛 𝑌𝑐1 0 MnYc2  MnYc1
0 0

∆𝑦 : Untuk kontrol hasil ∆𝑦 = |𝑌𝑐3 − 𝑌𝑐1 | atau  Y  Yc3  Yc1

Jika tidak
𝑌𝑐1 = 𝑌𝑐3 maka kembali ke metode secant
Jika ya
maka print 𝑌𝑐3 = 𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 𝑏𝑙𝑜𝑘 𝑡𝑒𝑘𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑡𝑜𝑛
𝑀𝑛 𝑌𝑐3 0 : Kontrol gaya horizontal, 𝐶𝑐 − 𝑇𝑠 = 0 atau H  C c  Ts

𝑀𝑛 𝑌𝑐3 1 : Momen kapasitas tampang, Σ𝑀𝑐 = Σ𝑀𝑐 + 𝑀𝑐 𝑗 atau 𝑀𝑛 = 𝐶𝑐 . 𝑗𝑑

𝐾𝑒𝑡 : Kontrol regangan tulangan, 𝑀𝑛 𝑌𝑐2 3 ≥ 𝜀𝑦 atau MnYc2   y


3

𝑀𝑛 𝑌𝑐2 3 ≥ 𝜀𝑦 : "𝑃𝑒𝑛𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝐾𝑢𝑟𝑎𝑛𝑔"


𝑀𝑛 𝑌𝑐2 3 < 𝜀𝑦 : "𝑃𝑒𝑛𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝐿𝑒𝑏𝑖𝑕"
𝑌𝑐3 : Tinggi blok tekan beton = a
𝑀𝑛 𝑌𝑐3 0 𝐾𝑜𝑛𝑡𝑟𝑜𝑙 𝐺𝑎𝑦𝑎 𝐻𝑜𝑟𝑖𝑧𝑜𝑛𝑡𝑎𝑙
𝑀𝑛 𝑌𝑐3 1 𝑀𝑜𝑚𝑒𝑛 𝐾𝑎𝑝𝑎𝑠𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑃𝑒𝑛𝑎𝑚𝑝𝑎𝑛𝑔
Hasil 𝐾𝑒𝑡 :Tulangan tunggal 𝐾𝑒𝑡𝑒𝑟𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝐾𝑜𝑛𝑑𝑖𝑠𝑖 𝑃𝑒𝑛𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛
𝑌𝑐3 𝑇𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 𝐵𝑙𝑜𝑘 𝑇𝑒𝑘𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑡𝑜𝑛
𝑅𝑒𝑔𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑇𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑇𝑎𝑟𝑖𝑘
𝑀𝑛 𝑌𝑐2 3

𝑀𝑛 𝑌𝑐3 0 𝐾𝑜𝑛𝑡𝑟𝑜𝑙 𝐺𝑎𝑦𝑎 𝐻𝑜𝑟𝑖𝑧𝑜𝑛𝑡𝑎𝑙


𝑀𝑛 𝑌𝑐3 1 𝑀𝑜𝑚𝑒𝑛 𝐾𝑎𝑝𝑎𝑠𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑃𝑒𝑛𝑎𝑚𝑝𝑎𝑛𝑔
:Tulangan majemuk 𝑅𝑒𝑔𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝐿𝑎𝑦𝑒𝑟 𝑇𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛
𝑀𝑛 𝑌𝑐3 3
𝑌𝑐3 𝑇𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 𝐵𝑙𝑜𝑘 𝑇𝑒𝑘𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑡𝑜𝑛

𝑀𝑛 𝑌𝑐3 0 𝐾𝑜𝑛𝑡𝑟𝑜𝑙 𝑆𝑒𝑙𝑖𝑠𝑖𝑕 𝑀𝑜𝑚𝑒𝑛


𝑀𝑛 𝑌𝑐3 2 𝑅𝑒𝑔𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑇𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑇𝑎𝑟𝑖𝑘
Dan 𝐾𝑒𝑡 :Hasil Disain 𝐾𝑒𝑡𝑒𝑟𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝐾𝑜𝑛𝑑𝑖𝑠𝑖 𝑃𝑒𝑛𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛
𝑀𝑛 𝑌𝑐3 4 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎𝑕 𝑇𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝐵𝑢𝑡𝑢𝑕
𝑌𝑐3 𝑇𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 𝐵𝑙𝑜𝑘 𝑇𝑒𝑘𝑎𝑛 𝐵𝑒𝑡𝑜𝑛

4.6 Tahapan Analisis dan Disain Balok Metode Whitney


4.6.1 Tahapan Analisis Balok Tulangan Tunggal dan Rangkap Metode
Whitney
1. Tentukan b, h, jumlah tulangan, 𝜀𝑢 , 𝑓′𝑐 , 𝐴𝑠 , 𝑓𝑦 ,dan 𝐸𝑠
2. Hitung analisis dan momen nominal metode Whitney.
68

3. Kontrol gaya horizontal Σ𝐻 = 𝐶𝑐 − 𝑇𝑠 = 0


4. Jika Σ𝐻 = 0 maka akhiri program tampil Mn.
5. Jika tidak maka asumsikan nilai c, kembali ke langkah (2).

4.6.2 Tahapan Disain Balok Tulangan Tunggal Metode Whitney


1. Tentukan b,h,𝜀𝑢 , 𝑓′𝑐 , 𝐴𝑠 , 𝑓𝑦 , 𝛽 ,Φ𝑡𝑢𝑙𝐴 , 𝑀𝑢 , dan 𝐸𝑠
nilai 𝑀𝑢 = 1,2. 𝐷𝐿 + 1,6. 𝐿𝐿

𝑓 𝑑𝑏
2. Hitung 𝐴𝑠𝑏 = 𝛽. 𝑓 𝑐 . 𝑏. 𝑑𝑏. 600+𝑓𝑦
𝑦

2
3. Hitung 𝐴1𝑡𝑢𝑙 = 0,25. 𝜋. (Φ𝑡𝑢𝑙𝐴 )
𝐴𝑠𝑏
4. Kebutuhan tulangan tarik 𝑛𝑡𝑢𝑙 = 𝐴
1𝑡𝑢𝑙

𝐴 .𝑓
5. Hitung 𝑀𝑛 = 𝐴𝑠 . 𝑓𝑦 . 𝑑𝑏 − 0,59. 𝑓′𝑠 .𝑏𝑦 , dan 𝑀𝑛2 = 𝑀𝑢 − 𝑀𝑛
𝑐

4.6.3 Tahapan Disain Balok Tulangan Rangkap Metode Whitney


1. Tentukan b,h,𝜀𝑢 , 𝑓′𝑐 , 𝐴𝑠 , 𝑓𝑦 , 𝛽 ,Φ𝑡𝑢𝑙𝐴 , 𝑀𝑢 , dan 𝐸𝑠
nilai 𝑀𝑢 = 1,2. 𝐷𝐿 + 1,6. 𝐿𝐿

𝑓 𝑑𝑏
2. Hitung 𝐴𝑠𝑏 = 𝛽. 𝑓 𝑐 . 𝑏. 𝑑𝑏. 600+𝑓𝑦
𝑦

2
3. Hitung 𝐴1𝑡𝑢𝑙 = 0,25. 𝜋. (Φ𝑡𝑢𝑙𝐴 )
𝐴𝑠𝑏
4. Kebutuhan tulangan tarik 𝑛𝑡𝑢𝑙 = 𝐴
1𝑡𝑢𝑙

𝐴 .𝑓
5. Hitung 𝑀𝑛 = 𝐴𝑠 . 𝑓𝑦 . 𝑑𝑏 − 0,59. 𝑓′𝑠 .𝑏𝑦 , dan 𝑀𝑛2 = 𝑀𝑢 − 𝑀𝑛
𝑐
𝑀𝑛2
6. Hitung 𝐶𝑠 = 𝑑−𝑑′ = 𝑇2
𝐶
7. Hitung 𝐴𝑠𝑡𝑒𝑘𝑎𝑛 = 𝑓′𝑠 𝑓′𝑠 = 𝑓𝑦 𝑏𝑖𝑙𝑎 𝜀′𝑠 ≥ 𝜀𝑦
𝑠

𝑓′𝑠 = 𝐸𝑠 . 𝜀′𝑠 𝑏𝑖𝑙𝑎 𝜀′𝑠 < 𝜀𝑦


𝐶𝑠
8. Hitung 𝐴𝑠𝑡𝑒𝑘𝑎𝑛 = 𝑓′
𝑠
𝑇
9. Hitung 𝐴𝑠𝑡𝑎𝑚𝑏𝑎 𝑕 = 𝑓2 dan 𝐴𝑠 = 𝐴𝑠𝑡𝑎𝑟𝑖𝑘 1 + 𝐴𝑠𝑡𝑎𝑚𝑏𝑎 𝑕
𝑦

𝐴𝑠 𝐴𝑠𝑡𝑒𝑘𝑎𝑛
10. Hitung dan tampil 𝑛𝑡𝑢𝑙𝑡𝑎𝑟𝑖𝑘 = 𝐴 dan 𝑛𝑡𝑢𝑙𝑡𝑒𝑘𝑎𝑛 =
1𝑡𝑢𝑙 𝐴1𝑡𝑢𝑙
69

4.7 Verifikasi Program


4.7.1 Penentuan Banyak Pias
Telah diterangkan bahwa ketelitian kurva ditentukan oleh lebarnya 𝒉𝒔𝒆𝒈 .
Semakin kecil, yaitu mendekati nol maka hasilnya eksak. Semakin kecil 𝒉𝒔𝒆𝒈
berarti diperlukan 𝒏𝒔𝒆𝒈 atau jumlah pembagi yang lebih banyak. Untuk kasus
umum, 𝒏𝒔𝒆𝒈 = 𝟏𝟎𝟎 sudah mencukupi dan bila perlu dapat ditingkatkan (Wiryanto
Dewobroto, 2005).
Maka dapat penulis berikan tabel hasil berbagai asumsi pias atau
penerapan banyak pias sebagai bahan pertimbangan dan acuan penulis, banyak
pias atau segmen yang akan penulis paparkan adalah mulai dari 𝒏𝒔𝒆𝒈 =
1,2,4,6,8,10,50,100,500, 𝑑𝑎𝑛 1000 dalam satuan N.mm untuk kapasitas tampang
(Mn) dan satuan mm untuk tinggi blok tekan (c) agar terlihat perbedaan yang
signifikan, Untuk lebih jelas hasil penerapan berbagai jenis pias atau pembagi
kurva dapat dilihat pada tabel di bawah :

Tabel 4.1 Hasil Penerapan Berbagai Pias untuk Tulangan Tunggal


Metode Analisis Banyak Mn Blok
No
Kompatibilitas Regangan Pias/Segmen (N.mm) Tekan
1. Analisis Tulangan Tunggal 1 49572647,89 180,28
2. Analisis Tulangan Tunggal 2 73528719,70 138,85
3. Analisis Tulangan Tunggal 4 74914789,95 129,29
4. Analisis Tulangan Tunggal 6 75172424,30 127,47
5. Analisis Tulangan Tunggal 8 75268177,03 126,79
6. Analisis Tulangan Tunggal 10 75315458,88 126,45
7. Analisis Tulangan Tunggal 50 75378054,86 125,99
8. Analisis Tulangan Tunggal 100 75380220,74 125,97
9. Analisis Tulangan Tunggal 500 75380912,67 125,97
10. Analisis Tulangan Tunggal 1000 75380934,09 125,97
70

Tabel 4.2 Hasil Penerapan Berbagai Pias untuk Tulangan Rangkap


Metode Analisis Banyak Mn Blok
No
Kompatibilitas Regangan Pias/Segmen (N.mm) Tekan
1. Analisis Tulangan Rangkap 1 83570490,94 76,24
2. Analisis Tulangan Rangkap 2 85060381,36 58,92
3. Analisis Tulangan Rangkap 4 85192690,33 56,85
4. Analisis Tulangan Rangkap 6 85218451,72 56,45
5. Analisis Tulangan Rangkap 8 85228029,05 56,30
6. Analisis Tulangan Rangkap 10 85232729,00 56,22
7. Analisis Tulangan Rangkap 50 85238847,20 56,12
8. Analisis Tulangan Rangkap 100 85239061,96 56,12
9. Analisis Tulangan Rangkap 500 85239130,65 56,12
10. Analisis Tulangan Rangkap 1000 85239132,78 56,12

Tabel 4.3 Hasil Penerapan Berbagai Pias untuk Disain


Metode Disain Banyak Banyak Blok
No
Kompatibilitas Regangan Pias/Segmen Tulangan Tekan
2. Disain Balok Beton Bertulang 2 4 156,48
3. Disain Balok Beton Bertulang 4 4 141,34
4. Disain Balok Beton Bertulang 6 4 138,63
5. Disain Balok Beton Bertulang 8 4 137,62
6. Disain Balok Beton Bertulang 10 4 137,12
7. Disain Balok Beton Bertulang 50 4 136,45
8. Disain Balok Beton Bertulang 100 4 136,42
9. Disain Balok Beton Bertulang 500 4 136,42
10. Disain Balok Beton Bertulang 1000 4 136,41

Dari hasil penerapan berbagai banyak pias yang diterapkan kepada analisis
tulangan tunggal dan rangkap maka sesuai dengan pernyataan diatas bahwa untuk
kasus umum, 𝒏𝒔𝒆𝒈 = 𝟏𝟎𝟎 sudah mencukupi dan bila perlu dapat ditingkatkan,
71

dapat disimpulkan batas pembagi segmen 100 ke pembagi yang lebih besar akan
menghasilkan kapasitas tampang (Mn) yang konstan dan tidak terlalu besar
selisihnya. Maka dengan pembagi segmen berjumlah 100 segmen sudah cukup
untuk mewakili. Pada Gambar di bawah akan penulis jelaskan kurva selisih
berbagai banyak pembagi pias untuk analisis tulangan tunggal dan rangkap:
80000000

75000000
Kapasitas Tampang (Mn)

70000000

65000000

60000000

55000000

50000000

45000000

40000000

1 2 4 6 8 10 50 100 500 1000

Tulangan Tunggal 49572647. 73528719. 74914790 75172424. 75268177 75315458. 75378054. 75380220. 75380912. 75380934.

Gambar 4.14 Kurva Hubungan Kapasitas Tampang dan Pias


Untuk Analisis Kompatibilitas Balok Tulangan Tunggal.
85500000
Kapasitas Tampang (Mn)

85000000

84500000

84000000

83500000

83000000

1 2 4 6 8 10 50 100 500 1000

Tulangan Rangkap 83570490.9 85060381.3 85192690.3 85218451.7 85228029.0 85232729 85238847.2 85239061.9 85239130.6 85239132.7

Gambar 4.15 Kurva Hubungan Kapasitas Tampang dan Pias


Untuk Analisis Kompatibilitas Balok Tulangan Rangkap.
72

190
180
Tinggi Blok Tekan ( c )
170
160
150
140
130
120
110
100

1 2 4 6 8 10 50 100 500 1000

Tulangan Tunggal 180.28 138.85 129.29 127.47 126.79 126.45 125.99 125.97 125.97 125.97

Gambar 4.16 Kurva Hubungan Tinggi Blok Tekan dan Pias


Untuk Analisis Kompatibilitas Balok Tulangan Tunggal.

80

75
Tinggi Blok Tekan ( c )

70

65

60

55

50

1 2 4 6 8 10 50 100 500 1000

Tulangan Rangkap 76.24 58.92 56.85 56.45 56.3 56.22 56.12 56.12 56.12 56.12

Gambar 4.17 Kurva Hubungan Tinggi Blok Tekan dan Pias


Untuk Analisis Kompatibilitas Balok Tulangan Rangkap.
73

4.7.2 Momen Kapasitas Tampang


Hasil dari implementasi algoritma kompatibilitas regangan kedalam
software akan mendapatkan momen kapasitas tampang balok beton bertulang
tulangan tunggal dan rangkap serta majemuk dan disain hasil program
kompatibilitas regangan, tinggi blok tekan balok kompatibilitas regangan hasil
program, regangan tulangan masing-masing layer, dan kontrol gaya horizontal.
Sedangkan hasil implimentasikan algoritma analisis metode whitney
kedalam software akan mendapatkan momen kapasitas tampang balok beton
bertulang tulangan tunggal dan rangkap serta disain, tinggi blok tekan balok dan
regangan tulangan.
Selanjutnya kedua hasil analisis untuk balok beton bertulang tulangan
tunggal dan rangkap akan ditentukan selisih dengan persentase, persentase didapat
dari selisih antara nilai kapasitas tampang yang terbesar dengan kapasitas tampang
yang terkecil.
Untuk tabel hasil dari implimentasi algoritma penulis menyajikan dengan
dua tabel, yaitu yang pertama tabel selisih kapasitas tampang balok dapat dilihat
pada (tabel 4.4) dan yang kedua tabel perbandingan hasil disain balok dapat
dilihat pada (tabel 4.5). selanjutnya dapat dilihat sebagai berikut:
Tabel 4.4 Selisih Kapasitas Tampang Balok
Jenis Mn c Selisih
No Metode Analisis
Penulangan (kN.m) (mm) (Mn)%
1. Kompatibilitas Regangan Tunggal 75.380 125.970
1.764%
2. Metode Whitney Tunggal 74.050 134.546
3. Kompatibilitas Regangan Rangkap 85.239 56.120
0.575%
4. Metode Whitney Rangkap 85.732 44.848

Tabel 4.5 Perbandingan Hasil Disain


Jenis Mu Banyak c
No Metode Disain
Penulangan (kN.m) (batang) (mm)
1. Kompatibilitas Regangan Rangkap 80 4 136.420
2. Metode Whitney Rangkap 80 5 134.546
BAB V
KESIMPULAN dan SARAN

5.1 Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan sebagai
berikut :

a. Algoritma beserta bagan alir analisis dan disain balok beton bertulang
metode kompatibilitas regangan menjelaskan Fungsi momen 𝑴𝒏 𝒀𝒄 dan
Fungsi Analisis hal ini adalah penjelasan langkah-langkah penerapan
metode yang digunakan untuk pembuatan program.
b. Program analisis dan disain yang dihasilkan dibuat untuk dapat
menganalisis dan mendisain berbagai jenis karakteristik balok beton
bertulang tanpa sengkang atau kekangan dengan penampang prismatik
atau persegi.
c. Perbedaan selisih untuk masing-masing analisis tidak besar, untuk analisis
balok beton bertulang tulangan tunggal metode kompatibilitas regangan
dengan analisis balok beton bertulan tulangan tunggal metode Whitney
adalah sebesar 1,764 %, sedangkan untuk balok beton bertulang tulangan
rangkap 0,575 %. Untuk disain balok beton bertulang berbeda pada tinggi
blok tekan yaitu untuk metode kompatibilitas adalah 136,420 mm dan
untuk metode Witney adalah 134,546 mm.

5.2 Saran

Dengan memperhatikan kesimpulan yang diperoleh selama penelitian,


maka diberikan saran sebagai berikut :
a. Untuk memprediksi analisis kuat lentur balok beton bertulang, perlu
kiranya menambahkan berbagai metode model kurva tegangan-regangan.
misalnya yang digunakan oleh asosiasi pabrik semen Amerika yaitu PCA
(Portland Cement Association) telah digunakan sejak tahun 1935, model

74
75

kurva tegangan-regangan beton terkekang Muguruma dkk tahun 1993,


Razvi dan Saatcioglu tahun 1999 dan kurva tegangan-regangan beton mutu
tinggi terkekang oleh Tabs tahun 2007.
b. Untuk mencari tinggi garis netral selain metode secant perlu dilakukan
penerapan metode lainnya seperti metode Newton-Raphson, Bisection dan
Regulasi falsi.
c. Untuk memprediksi analisis kuat lentur balok beton bertulang, perlu
kiranya menambahkan model balok beton bertulang selain persegi atau
prismatik.
d. Untuk penelitian lebih lanjut perlu diterapkan analisis balok beton
bertulang dengan sengkang atau kekangan metode kompatibilitas
regangan.
DAFTAR PUSTAKA

Amrinsyah Nasution. (2005). “Metode Numerik dalam Ilmu Rekayasa Sipil”


http://mail.si.itb.ac.id/~amrinsyah/index_a1.html (diakses tgl 31
Januari 2009).

Ahmad Mirwan. (2008). “Perbandingan kuat lentur balok Berpenampang persegi


dengan balok Berpenampang I”
http://rac.uii.ac.id/server/document/Public/ (diakses tgl 31 Januari
2009).

Arfian Nurdhiansyah. (2008). “Tinjauan Tegangan Lekat Baja Tulangan Ulir


(Deformed) dengan Berbagai Variasi Diameter dan Panjang
Penyaluran pada Beton Normal”.
http://rac.uii.ac.id/server/document/Public/ (diakses tgl 31 Januari
2009).

Diks‟, Blok. (2008). “Metode Numerik Secara Umum”


http://adekdik.blogspot.com/2008/09/metode-numerik.html (diakses
tgl 23 Januari 2009).

Istimawan Dipohusodo. (1999). “Struktur Beton Bertulang”, Jakarta.

Jurnal, (2008). “Prinsip Umum Kekuatan Beton”


http://rac.uii.ac.id/server/document/Public/ (diakses tgl 31 Januari
2009).

MacGregor, J.G. (1997). “Reinforced Concrete : Mechanics and Design 3rd Ed.” ,
Prentice-Hall International, Inc.
http://www.gussuta.com/teknik/perpustakaan-teknik-sipil.html
(diakses tgl 31 Januari 2009).

Riki Emillianto. (2008). “Tinjauan Tegangan Lekat Baja Tulangan Ulir dengan
Berbagai Variasi Diameter dan Panjang Penyaluran dengan Bahan
Perekat Sikadur® 31 Cf Normal Terhadap Beton Normal”
http://rac.uii.ac.id/server/document/Public/ (diakses tgl 31 Januari
2009).

Sri Djuniati, dkk, (2007). “Buku Pedoman Penulisan Proposal dan Laporan Tugas
Akhir Serta Laporan Praktek Kerja Lapangan”, Jurusan Teknik Sipil,
Fakultas Teknik, Universitas Riau, Pekanbaru.

76
77

Park, Robert and T.Paulay. (1975). “Reinforced Concrete Structures”, A Wiley-


intersciencpublication, Inc.

Panitia Teknik Standarisasi. (2002). “SNI 03–2847–2002 : Tata Cara Perhitungan


Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung”, Bandung.

Wiryanto Dewobroto. (2005). “Strategi penyelesaian numerik berbasis komputer


Analisis lentur ultimate penampang beton1 (Model Tegangan
Parabolik PCA)” http://sipil-uph.tripod.com/wiryanto_di_uty.pdf
(diakses tgl 23 Januari 2009).
Lampiran 1
Regangan dan Tegangan Hognestad Hasil Program

78
PROGRAM KURVA TEGANGAN-REGANGAN HOGNESTAD DAN PAULAY

KARAKTERISTIK BALOK:

Mutu Beton : fc  17.5 MPa Modulus Elastisitas beton : Ec  4700 fc  19661.51062 MPa

Mutu Baja : fy  400 MPa Modulus Elastisitas Baja : Es  200000 MPa

fy
Regangan leleh baja :  y   y  0.002
Es

KURVA TEGANGAN-REGANGAN:

Fungsi Hognestad :
fc
fcHog  c   o  2
Ec

  c   c  2
  o    o   if  c   o
fc 2
  
 0.85f c  fc 
 0.003      c   o  fc ot herwise
 o 

Kurva Tegangan-Regangan Hognestad

20

15

 
fcHog  c 10

0
3 3 3
0 110 210 310
c
Lampiran 2
Regangan dan Tegangan Paulay Hasil Program

79
Kuat tarik baja Paulay:

fs  s  fsu  1.25f


y
 su  0.04
 sh  10  y
r  10  y

 fsu  2
 f   ( 30 r  1)  60 r  1
m
 y
2
15 r
if  s  0
 s Es if  s   y
0 ot herwise
fy if  y   s   sh

 m   s   sh  2  s   sh ( 60  m) 
fy    if  sh   s   su
60   s   sh  2 2
 2 ( 30 r  1) 
0 ot herwise

Kurva Tegangan-Regangan Paulay

500

400

300

 
fs  s

200

100

0
0 0.01 0.02 0.03 0.04 0.05
s
Lampiran 3
Analisis Lentur Balok Tulangan Tunggal Whitney

80
Analisis lentur Balok Beton Bertulang dengan Tulangan Tunggal
A. Balok Dengan Karakteristik :
h  300 mm
Tinggi balok (h)
b  200 mm
Lebar balok (b)

Tulangan tarik

a. luas tampang (As) : A = 3Φ19

t ul A  19

A1tul  0.25  t ul A


2 2
A1tul  283.52874 mm

jumlah  3
As  A1tul jumlah As  850.58621 mm2

b. Jarak pusat tulangan tarik ke ujung atas balok (d) :

selimut  25 mm  t ul A 
ds1  selimut   
 2 
d  h  selimut d  275 mm

c. Massa jenis (ρ) :


As
1 
b d 1  0.01547

Kuat tekan beton (f'c) : fc  17.5 MPa

Kuat leleh baja (fy) : fy  400 MPa

elastisitas baja (Es) : Es  200000 MPa

B. Perhitungan Momen nominal (Mn) :

Dianggap tulangan tekan belum leleh dan tulangan tarik sudah leleh

  0.85 if fc  30
  0.85
0.65 if fc  55

 fc  30 
0.85  0.05   if 30  fc  55
 7 

Setelah Tegangan Baja Meleleh :


A s fy
a  a  114.36453 mm
 c b
0.85f
Regangan tulangan tekan ( εcu) :
𝜀𝑐𝑢 = 0.003
Tinggi garis netral :

a
c c  134.54651 mm

Ketentuan :

Regangan tulangan tarik ( εs ) :

 s   cu 
d c
  s  0.00313
 c 
fy
y   y  0.002
Es

Ketentuan :
fs   s Es
fs  626.34174 Mpa

TulTari k  "Sudah Leleh" if  s   y


TulTari k  "Sudah Leleh"
"Belum Leleh" otherwise

Kondisi Penulangan:

Kondisi  "Under Reinforced" if  s   y


Ko ndisi  "Under Reinforced"
"Over Reinforced" otherwise

Kondisi tulangan:

 b  d   
fc d
A sb    
fy  600  fy 

Kondisit ul angan "Tulangan tarik telah leleh" if As  Asb


"Tulangan tarik belum leleh" otherwise

Kondisit ul angan "Tulangan tarik telah leleh"

Gaya tekan: Gaya tarik:


Cc  0.85f
 c a b Jika tulanga tarik telah leleh maka:
Ts  As fy
Cc  340234.48438
Ts  340234.48438
Kontrol gaya Horizontal:
H  Cc  Ts

H  0
Keruntuhan tarik pada balok jika tulangan tarik telah leleh:
Maka nilai ( Mn ) :

 A s fy 
M n  A s fy  d  0.59  Mn  74050738.1842 Nm m
 fc b 
6
Mn  Mn 10 Mn  74.05074 kNm

Keruntuhan tekan pada balok jika tulangan tarik belum leleh:

Maka nilai ( Mn ) :

 c a b   d 
a
Mn  0.85f 
 2 Mn  74109104.32085 Nm m

6
Mn  Mn 10
Mn  74.1091 kNm
Lampiran 4
Analisis Lentur Balok Tulangan Tunggal Hasil Program

81
PROGRAM ANALISIS TULANGAN TUNGGAL COMPATIBILITY

KARAKTERISTIK BALOK:

Mutu Beton : fc  17.5 MPa Modulus Elastisitas beton : Ec  4700 fc  19661.51062 MPa

Mutu Baja : fy  400 MPa Modulus Elastisitas Baja : Es  200000 MPa

fy
Regangan leleh baja :  y   y  0.002
Es

Selimut beton : d'  25 mm

Dimensi Balok : b  200 mm h  300 mm db  h  d'  275 mm

2 2
Diameter tulangan yang dipakai :t ul  19 mm A1tul  0.25
  t ul A1tul  283.52874 mm
2
Jumlah tulangan : n tul  3 As  ntul A1tul  850.58621 mm

BANYAK PIAS:
Tentukan Banyak Pembagi/ Pias ( nseg ) :
segmen : nseg  100

KURVA TEGANGAN-REGANGAN:
Fungsi Hognestad : Kuat tarik baja Paulay:

fs  s  fsu  1.25f


y
 su  0.04
fc
fcHog  c   o  2  sh  10  y
Ec
r  10  y
  2
 c  c    fsu 
  o    o   if  c   o
fc 2 2
 f   ( 30 r  1)  60 r  1
    y
m
 
0.85f  fc
 0.003      c   o  fc ot herwise
c 2
15 r
 o 
if  s  0
 s Es if  s   y
fy ot herwise

ot herwise
 s Es if  s   y
fy ot herwise
fy if  y   s   sh

 m   s   sh  2  s   sh ( 60  m) 
fy    if  sh   s   su
60   s   sh  2 2
 2 ( 30 r  1) 
Fungsi Momen :

M n Yc  C c  0
M c  0
Yc
h seg 
n seg
for i  0  n seg
y c  h seg ( i)
i

 y ci 
 c  0.003  
i
 Yc 
fcs  fcHog  c
i   i

for j  0  n seg  1
fcs  fcs
j j 1
fcav 
j 2
Lcav  ( 0.5  j)  h seg   d b  Yc
j

Cc  fcav  h seg b
j j

C c  C c  Cc
j

M c  Cc  Lcav
j j j

M c  M c  M c
j

 d b  Yc 
 s  0.003  
 Yc 
fs  fs  s
Ts  A s fs
H  C c  Ts

 H 
 M 
 c

 C c 
 
 s 
An alisis  Yc1  0.25d'

Momen Kapasitas Penampang :

Yc2  0.5 d' An alisis  753802 20.74 N


1
To l  0.001
Keterangan :
it  0
 Y  Yc2  Yc1 An alisis  "Under Reinforced"
2
while  Y  To l
Kontrol Gaya Horizontal :
M n Yc2   Yc2  Yc1
0
Yc3  Yc2  Analisis  0 N
M n Yc2  M n Yc1 0
0 0
 Y  Yc3  Yc1
Tinggi Blok Tekan Beton :

Yc1  Yc2
Analisis  125.97 mm
3
Yc2  Yc3
Yc3 Regangan Baja Tarik
Ket  "Under Reinforced" if M n Yc2   y
3 Analisis  0.00355
4
"Over Reinforced" ot herwise
 Mn Yc3 0 
 
 Mn Yc3 
 1
 Ket 
 Y 
 c3

 Mn Yc2 
 3
Lampiran 5
Analisis Lentur Balok Tulangan Rangkap Whitney

82
Analisis lentur Balok Beton Bertulang dengan Tulangan Rangkap
A. Balok Dengan Karakteristik :
h  300 mm
Tinggi balok (h)
b  200 mm
Lebar balok (b)

Tulangan tarik

a. luas tampang (As) : A = 3Φ19

t ul A  19

A1tul  0.25  t ul A


2 2
A1tul  283.52874 mm

jumlah  3
As1  A1tul jumlah As1  850.58621 mm2

b. Jarak pusat tulangan tarik ke ujung atas balok (d1) :

selimut  25 mm  t ul A 
ds1  selimut   
 2 
d1  h  selimut d1  275 mm

c. Massa jenis (ρ) :


A s1
1 
b d1 1  0.01547

Tulangan tekan
a. luas tampang (As') : A = 2Φ19

t ul B  19

A2tul  0.25  t ul B


2
A2tul  283.52874mm2

jumlah  2
As2  A2tul jumlah As2  567.05747 mm2

b. Jarak pusat tulangan tekan ke ujung atas balok (d2) :

selimut  25 mm  t ul B 
ds2  selimut   
 2 
d2  selimut d2  25 mm

c. Massa jenis (ρ) :


A s2
2  2  0.11341
b d2
Kuat tekan beton (f'c) : fc  17.5 MPa

Kuat leleh baja (fy) : fy  400 MPa

elastisitas baja (Es) : Es  200000 MPa

B. Perhitungan Momen nominal (Mn) :

Dianggap tulangan tekan belum leleh dan tulangan tarik sudah leleh

  0.85 if fc  30
  0.85
0.65 if fc  55

 fc  30 
0.85  0.05   if 30  fc  55
 7 

Regangan tulangan tekan ( εcu) :


𝜀𝑐𝑢 = 0.003

Setelah Tegangan Baja Meleleh :


A s1  A s2 fy
a  a  38.12151 mm
 c b
0.85f

a
c
 c  44.84884 mm

Ketentuan :
Regangan tulangan tarik

 d1  c 
 s   cu    s  0.0154
 c 

Regangan tulangan tekan

 c  d2 
' s   cu   ' s  0.00133
 c 
fy
y 
Es  y  0.002

TulTari k  "Sudah Leleh" if  s   y


TulTari k  "Sudah Leleh"
"Belum Leleh" otherwise

TulTekan  "Sudah Leleh" if ' s   y


TulTekan  "Belum Leleh"
"Belum Leleh" otherwise
Ketentuan :

f's  ' s Es
f's  265.54316 MPa
fs   s Es
fs  3079.02522 MPa

Kondisi tulangan:
fc  d1 
A sb     b  d 1  
fy  600  fy 

Kondisit ul angan "Tulangan tarik telah leleh" if As1  As2  Asb


"Tulangan tarik belum leleh" otherwise

Kondisit ul angan "Tulangan tarik telah leleh"

A s1 fs  A s2 f's


a  if  s   y
 c b
0.85f
As1  As2 fy
ot herwise
 c b
0.85f

Gaya tekan:
Cc  0.85f
 c a b Cs  As2 fy

Cc  113411.49479 MPa Cs  226822.98959 MPa

Cc  113411.49479 MPa

Cs  226822.98959 MPa

C c  Cc  Cs MPa

C c  340234.48438 MPa

Gaya tarik:
Ts  As1 fy

Ts  340234.48438 MPa

Kontrol gaya Horizontal:


H  C c  Ts

H  0 MPa
Keruntuhan tekan pada balok :

Maka nilai ( Mn ) :
0.85f  a 
Mn    c a b  d1    As2 fy  d1  d2 if  s   y
  2 
0.85f  a
 A s2 f's  d 1  d2 ot herwise
  c a b  d1  
  2 

Mn  85732199.70084 Nm m

6
Mn  Mn 10 Mn  85.7322 kNm
Lampiran 6
Analisis Lentur Balok Tulangan Rangkap Hasil Program

83
PROGRAM ANALISIS TULANGAN RANGKAP COMPATIBILITY

KARAKTERISTIK BALOK:

Mutu Beton : fc  17.5 MPa Modulus Elastisitas beton : Ec  4700 fc  19661.51062 MPa

Mutu Baja : fy  400 MPa Modulus Elastisitas Baja : Es  200000 MPa

fy
Regangan leleh baja :  y   y  0.002
Es

Selimut beton : d'  25

Dimensi Balok : b  200 h  300 db  h  d'  275

LAYER TULANGAN:

Jumlah Layer Tulangan : nl ayer  2

0.25
    283.52874
2
 19     tul 0
Diameter Tulangan : tul    A 1tul   
 19   283.52874
0.25

  tul 
1 
2

Jumlah tulangan : luas Per layer :

2  567.05747

n tul    A s tul  for i  0  n l ayer  1 
3  850.58621
A s tul  A 1tul  n t ul
i i i

A s tul

Posisi koordinat layer tulangan :

 d'   25 
dt ul  d    
 b   275
BANYAK PIAS:
Tentukan Banyak Pembagi/ Pias ( nseg ) :

segmen : nseg  100

KURVA TEGANGAN-REGANGAN:

Fungsi Hognestad : Kuat tarik baja Paulay:

fs  s  fsu  1.25f


y
 su  0.04

fc  sh  10  y
fcHog  c   o  2
Ec r  10  y

  c   c  2  fsu  2
fc 2   if  c   o  f   ( 30 r  1)  60 r  1
 o   y
  o   m
2
 0.85f
 c  fc  15 r
 0.003      c   o  fc ot herwise if   0
 o  s

 s Es if  s   y
fy ot herwise

ot herwise
 s Es if  s   y
fy ot herwise
fy if  y   s   sh

 m   s   sh  2  s   sh ( 60  m) 
fy    if  sh   s   su
60   s   sh  2 2
 2 ( 30 r  1) 
Fungsi Momen :
M n Yc  C c  0
M s  0
M c  0
T s  0
Yc
h seg 
n seg
for i  0  n seg
y c  h seg ( i)
i

 y ci 
 c  0.003  
i
 Yc 
fcs  fcHog  c
i   i

for j  0  n seg  1
fcs  fcs
j j 1
fcav 
j 2
Lcav  ( 0.5  j)  h seg   d b  Yc
j

Cc  fcav  h seg b
j j

C c  C c  Cc
j

M c  Cc  Lcav
j j j

M c  M c  M c
j

for k  0  n layer  1

 Yc  d tul k 
 s  0.003  
k
 Yc 
fsl  fs  s
k   k

Ts  A stul  fsl
k k k

Ls  d b  d tul
k k

M s  Ts  Ls
k k k

M s  M s  M s
k

T s  T s  Ts
k

M tot  M c  M s
H  C c  T s

 H 
 M 
 tot

 C c 
 
 s 
An alisis  Yc1  0.25d'

Momen Kapasitas Penampang :

Yc2  0.5 d' An alisis  852390 61.96 N


1
To l  0.001
it  0 Regangan layer Tulangan :
 Y  Yc2  Yc1
while  Y  To l
M n Yc2   Yc2  Yc1  0.00166
0 Analisis   
Yc3  Yc2  2
 0.0117
M n Yc2  M n Yc1
0 0
 Y  Yc3  Yc1
Yc1  Yc2
Kontrol Gaya Horizontal :
Yc2  Yc3
Analisis  0 N
Yc3 0

 Mn Yc3 0  Tinggi Blok Tekan Beton :


 Mn Yc3 
 1 Analisis  56.12 mm
3
 Mn Yc3 
 3
 Yc3 
 
Lampiran 7
Disain Balok Tulangan Tunggal Hasil Whitney

84
Disain Balok Beton Bertulang dengan Tulangan Tunggal
A. Balok Dengan Karakteristik :
h  300 mm
Tinggi balok (h)
b  200 mm
Lebar balok (b)

Kuat tekan beton (f'c) : fc  17.5 MPa

Kuat leleh baja (fy) : fy  400 MPa

elastisitas baja (Es) : Es  200000 MPa

6
Beban pada balok (Mu) Momen terfakttor Mu  80 kNm Mu  Mu 10

Mu  80000000 Nm m
Tulangan tarik

a. luas tampang (As) : A = 3Φ19

t ul A  19

A1tul  0.25  t ul A


2 2
A1tul  283.52874 mm

b. Jarak pusat tulangan tarik ke ujung atas balok (d) :

selimut  25 mm  t ul A 
ds1  selimut   
 2 
d  h  selimut d  275 mm

  0.85 if fc  30
  0.85
0.65 if fc  55

 fc  30 
0.85  0.05   if 30  fc  55
 7 

 b  d   
fc d
A sb    
fy  600  fy 

Asb  562.46094 mm2

Maka banyak tulangan tarik adalah:


 A sb 
Banyak tulangan tarik n tarik  ceil 
 A 1tul 

nt arik  2 bat ang

As  Asb
B. Perhitungan Disain :

Setelah Tegangan Baja Meleleh :


A s fy
a  a  75.625 mm
 c b
0.85f

Regangan tulangan tekan ( εcu) :


 cu  0.003

a
c 
 c  88.97059 mm

Ketentuan :

Regangan tulangan tarik

 s   cu 
d c
  s  0.00627
 c 
fy
y   y  0.002
Es

Ketentuan :
fs   s Es
fs  1254.54545 MPa

TulTari k  "Sudah Leleh" if  s   y


TulTari k  "Sudah Leleh"
"Belum Leleh" otherwise

Kondisi Penulangan:

Kondisi  "Under Reinforced" if  s   y


Ko ndisi  "Under Reinforced"
"Over Reinforced" otherwise

Kondisi tulangan:

 b  d   
fc d
A sb    
fy  600  fy 

Kondisit ul angan "Tulangan tarik telah leleh" if As  Asb


"Tulangan tarik belum leleh" otherwise

Kondisit ul angan "Tulangan tarik belum leleh"


Gaya tekan: Gaya tarik:
Cc  0.85f
 c a b Ts  As fy

Cc  224984.375 MPa Ts  224984.375 MPa

Cc  224984.375 MPa

Kontrol gaya Horizontal:


H  Cc  Ts

H  0 MPa

Keruntuhan tarik pada balok jika tulangan tarik telah leleh:


Maka nilai ( Mn ) :

 A s fy 
M n  A s fy  d  0.59  Mn  53337959.78027 Nm m
 fc b 
6
Mn  Mn 10 Mn  53.33796 kNm

Keruntuhan tekan pada balok jika tulangan tarik belum leleh:

Maka nilai ( Mn ) :

 c a b   d 
a
Mn  0.85f 
 2 Mn  53363481.44531 Nm m

6
Mn  Mn 10
Mn  53.36348 kNm
Kelebihan momen sebesar :

Mn1  
 6
 Mu 10   Mn Mn1  26.63652 kNm
Lampiran 8
Disain Balok Tulangan Rangkap Hasil Whitney

85
Disain Balok Beton Bertulang dengan Tulangan Rangkap
A. Balok Dengan Karakteristik :
h  300 mm
Tinggi balok (h)
b  200 mm
Lebar balok (b)
Tulangan tarik

a. luas tampang (As) : A = 3Φ19

t ul A  19

A1tul  0.25  t ul A


2 2
A1tul  283.52874 mm

jumlah  3
As  A1tul jumlah As  850.58621 mm2

b. Jarak pusat tulangan tarik ke ujung atas balok (d) :

selimut  25 mm  t ul A 
ds1  selimut   
 2 
d  h  selimut d  275 mm

Kuat tekan beton (f'c) : fc  17.5 MPa

Kuat leleh baja (fy) : fy  400 MPa

elastisitas baja (Es) : Es  200000 MPa

6
Beban pada balok (Mu) Momen terfakttor Mu  80 kNm Mu  Mu 10

Mu  80000000 Nm m

B. Perhitungan Disain :

Dianggap tulangan tekan belum leleh dan tulangan tarik sudah leleh

  0.85 if fc  30
  0.85
0.65 if fc  55

 fc  30 
0.85  0.05   if 30  fc  55
 7 

Setelah Tegangan Baja Meleleh :


A s fy
a  a  114.36453 mm
 c b
0.85f
Regangan tulangan tekan ( εcu) :
𝜀𝑐𝑢 = 0.003

a
c
 c  134.54651 mm

Ketentuan :

Regangan tulangan tarik

 s   cu 
d c
  s  0.00313
 c 
fy
y   y  0.002
Es

Ketentuan :
fs   s Es
fs  626.34174 MPa

TulTari k  "Sudah Leleh" if  s   y


TulTari k  "Sudah Leleh"
"Belum Leleh" otherwise

Kondisi Penulangan:

Kondisi  "Under Reinforced" if  s   y


Ko ndisi  "Under Reinforced"
"Over Reinforced" otherwise

Kondisi tulangan:

 b  d   
fc d
A sb    
fy  600  fy 

Kondisit ul angan "Tulangan tarik telah leleh" if As  Asb


"Tulangan tarik belum leleh" otherwise

Kondisit ul angan "Tulangan tarik telah leleh"

Gaya tekan: Gaya tarik:


Cc  0.85f
 c a b Ts  As fy

Cc  340234.48438 MPa Ts  340234.48438 MPa

Cc  340234.48438 MPa

Kontrol gaya Horizontal:


H  Cc  Ts

H  0 MPa
Keruntuhan tarik pada balok jika tulangan tarik telah leleh:
Maka nilai ( Mn ) :

 A s fy 
M n  A s fy  d  0.59  Mn  74050738.1842 Nm m
 fc b 
6
Mn  Mn 10 Mn  74.05074 kNm

Keruntuhan tekan pada balok jika tulangan tarik belum leleh:

Maka nilai ( Mn ) :

 c a b   d 
a
Mn  0.85f 
 2 Mn  74109104.32085 Nm m

6
Mn  Mn 10
Mn  74.1091 kNm

  A s fy 
Mn  A s fy  d  0.59  if  s   y
  fc b 

0.85f  a 
  c a b  d   ot herwise
  2 
Mn  74050738.1842 Nm m

6
Mn  Mn 10 Mn  74.05074 kNm

Kelebihan momen sebesar :

Mn2   Mu 10
 6
  Mn Mn2  5.94926 kNm

Gaya tekan yang harus ditahan oleh tulangan tekan:

ds1  34.5 mm

6
M n2 10
Cs 
d  d s1 Cs  24737.05537 Nm m

T2  Cs

Periksa regangan tulangan tekan:


c  ds 1
' s   cu ' s  0.00223
c
fy
y   y  0.002
Es

TulTari k  "Sudah Leleh" if  s   y


TulTari k  "Sudah Leleh"
"Belum Leleh" otherwise
Luas tulangan tekan yang diperlukan:
Cs 2
A's  A' s  61.84264 mm
fy

Tambahan luas tulangan tarik:


T2
A stambah 
fy 2
Astambah  61.84264 mm

Luas tulangan tarik:

Astarik1  As As  850.58621 mm

As  Astarik1 Astambah 2
As  912.42885 mm

Jadi kebutuhan tulangan Tarik dan Tekan adalah:


t ul A  19

A1tul  0.25  t ul A


2 2
A1tul  283.52874 mm

 As 
Tarik : n tul  ceil  nt ul  4 batang
 A 1tul 

 A' s 
Tekan : n tul  ceil  nt ul  1 batang
 A 1tul 
Lampiran 9
Disain Balok Tulangan Rangkap Hasil Program

86
PROGRAM DISAIN BALOK METODE KOMPATIBILITAS REGANGAN

KARAKTERISTIK BALOK:
Mutu Beton : fc  17.5 Modulus Elastisitas beton : Ec  4700 fc  19661.51062

Mutu Baja : fy  400 Modulus Elastisitas Baja : Es  200000

fy
Regangan leleh baja :  y   y  0.002
Es

Selimut beton : d'  25

Dimensi Balok : b  200 h  300 db  h  d'  275

2
Diameter tulangan yang dipakai :t ul  19 A1tul  0.25
  t ul A1tul  283.52874

MOMEN ULTIMIT:
Momen Terfaktor : M  80 Mu  Mu 10
6
u kNm

Mu  80000000 Nm m

BANYAK PIAS:
Tentukan Banyak Pembagi/ Pias ( nseg ) :
segmen beton tekan : nseg  100

KURVA TEGANGAN-REGANGAN:

Fungsi Hognestad :

fc
fcHog  c   o  2
Ec

  2
 c  c  
  o    o   if  c   o
fc 2
  
 0.85f c  fc 
 0.003      c   o  fc ot herwise
 o 
Kuat tarik baja Paulay:

fs  s  fsu  1.25f


y
 su  0.04
 sh  10  y
r  10  y

 fsu  2
 f   ( 30 r  1)  60 r  1
m
 y
2
15 r
if  s  0
 s Es if  s   y
fy ot herwise

ot herwise
 s Es if  s   y
fy ot herwise
fy if  y   s   sh

 m   s   sh  2  s   sh ( 60  m) 
fy    if  sh   s   su
60   s   sh  2 2
 2 ( 30 r  1) 
Fungsi Momen : M n Yc  C c  0
M c  0
Yc
h seg 
n seg
for i  0  n seg
y c  h seg ( i)
i

 y ci 
 c  0.003  
i
 Yc 
fcs  fcHog  c
i   i

for j  0  n seg  1
fcs  fcs
j j 1
fcav 
j 2
Lcav  ( 0.5  j)  h seg   d b  Yc
j

Cc  fcav  h seg b
j j

C c  C c  Cc
j

M c  Cc  Lcav
j j j

M c  M c  M c
j

M tot  M c  M u

 d b  Yc 
 s  0.003  
 Yc 
fs  fs  s
C c
As 
fs

 As 
n tul  ceil 
 A 1tul 
 M tot 
 
 C c 
 s 
 
 As 
 n 
 tul 
Disain  Yc1  0.25d'

Yc2  0.5 d'
Jumlah Tulangan Butuh t ul  19
To l  0.001
it  0 Disain  4 batang
3
 Y  Yc2  Yc1
Keterangan :
while  Y  To l
M n Yc2   Yc2  Yc1 Disain  "Under Reinforced"
2
0
Yc3  Yc2 
M n Yc2  M n Yc1
0 0 Tinggi Blok Tekan :
 Y  Yc3  Yc1
Disain  136.42 mm
Yc1  Yc2 4

Yc2  Yc3
Kontrol Selisih Momen :
Yc3
Disain  0 N.mm
Ket  "Under Reinforced" if M n Yc3   y 0
2
"Over Reinforced" ot herwise
 Mn Yc3 0 
 
 Mn Yc3 
 2
 Ket 
 M Y  
 n c3 4 
 Y 
 c3 
Lampiran 10
Analisis Lentur Balok Tulangan Majemuk Hasil Program

87
PROGRAM ANALISIS TULANGAN MAJEMUK COMPATIBILITY

KARAKTERISTIK BALOK:

Mutu Beton : fc  17.5 MPa Modulus Elastisitas beton : Ec  4700 fc  19661.51062 MPa

Mutu Baja : fy  400 MPa Modulus Elastisitas Baja : Es  200000 MPa

fy
Regangan leleh baja :  y   y  0.002
Es

Selimut beton : d'  25

Dimensi Balok : b  200 h  300 db  h  d'  275

LAYER TULANGAN:

Jumlah Layer Tulangan : nl ayer  5

0.25
    t ul
0 2
 
 18      254.469 
2
0.25
 

  
t ul
1
254.469
 18   
A 1tul  0.25
2
Diameter Tulangan : tul   18 

   t ul    254.469 
 283.52874
2
 19   2 
 
 19 
 
0.25  t ul
3    283.52874
 
0.25

   t ul
4 
2

Jumlah tulangan : luas Per layer :

2
2  508.93801
   
n tul  2  508.93801
A s tul  for i  0  n l ayer  1   508.93801
4
  A s tul  A 1tul  n t ul
 1134.11495
4 i i i  
 1134.11495
A s tul

Posisi koordinat layer tulangan :

 d'   25 
 0.25h

  75 
   
d tul   0.5 h    150 
 0.75h
   225
   
 db   275
BANYAK PIAS:
Tentukan Banyak Pembagi/ Pias ( nseg ) :

segmen : nseg  100

KURVA TEGANGAN-REGANGAN:

Fungsi Hognestad : Kuat tarik baja Paulay:

fs  s  fsu  1.25f


y
 su  0.04
fc
fcHog  c   o  2  sh  10  y
Ec
r  10  y
  c   c  2
  o    o   if  c   o
fc 2  fsu  2
    f   ( 30 r  1)  60 r  1
m
 y
 0.85f c  fc 
 0.003      c   o  fc ot herwise
2
15 r
 o 
if  s  0
 s Es if  s   y
fy ot herwise

ot herwise
 s Es if  s   y
fy ot herwise
fy if  y   s   sh

 m   s   sh  2  s   sh ( 60  m) 
fy    if  sh   s   su
60   s   sh  2 2
 2 ( 30 r  1) 
Fungsi Momen :
M n Yc  C c  0
M s  0
M c  0
T s  0
Yc
h seg 
n seg
for i  0  n seg
y c  h seg ( i)
i

 y ci 
 c  0.003  
i
 Yc 
fcs  fcHog  c
i   i

for j  0  n seg  1
fcs  fcs
j j 1
fcav 
j 2
Lcav  ( 0.5  j)  h seg   d b  Yc
j

Cc  fcav  h seg b
j j

C c  C c  Cc
j

M c  Cc  Lcav
j j j

M c  M c  M c
j

for k  0  n layer  1

 Yc  d tul k 
 s  0.003  
k
 Yc 
fsl  fs  s
k   k

Ts  A stul  fsl
k k k

Ls  d b  d tul
k k

M s  Ts  Ls
k k k

M s  M s  M s
k

T s  T s  Ts
k

M tot  M c  M s
H  C c  T s

 H 
 M 
 tot

 C c 
 
 s 
An alisis  Yc1  0.25d'

Momen Kapasitas Penampang :

Yc2  0.5 d' An alisis  153142 602.61 N


1
To l  0.001
it  0 Regangan layer Tulangan :
 Y  Yc2  Yc1
while  Y  To l  0.00251 
 0.00153 
M n Yc2   Yc2  Yc1  
0 Analisis   0.00005 
Yc3  Yc2  2
M n Yc2  M n Yc1  0.00142
0 0  
 Y  Yc3  Yc1  0.00241
Yc1  Yc2
Kontrol Gaya Horizontal :
Yc2  Yc3
Analisis  0 N
Yc3 0

 Mn Yc3 0  Tinggi Blok Tekan Beton :


 Mn Yc3 
 1 Analisis  152.62 mm
3
 Mn Yc3 
 3
 Yc3 
 
ABSTRAK

Abdul Hafid Hasim. 2008. Kinerja Ruas Jalan Sultan Alauddin untuk 10 Tahun
Mendatang (Dengan Program Analisis Lalu Lintas KAJI ). Skripsi. Sipil dan
Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Makassar. Prof. Dr. H. Gufran
Darma Dirawan, ST, M.EMD dan Ir. H. M. Ichsan Ali, MT. Permasalahan yang
diangkat yaitu bagaimana kinerja ruas Jalan Sultan Alauddin Kota Makassar 10 tahun
mendatang. Variabel dalam penelitian ini yaitu arus lalu lintas, kecepatan kendaraan,
hambatan samping, dan geometrik jalan. Teknik analisa data yang digunakan yaitu
Program Analisis Lalu Lintas KAJI untuk menghitung kinerja ruas jalan yakni
kapasitas serta derajat kejenuhan dan Program Power Simulation untuk menganalisis
pertumbuhan arus lalu lintas. Hasil penelitian menunjukkan jam puncak arus lalu
lintas 3122 smp/jam dari jam 07.00 – 08.00. Frekuensi kejadian hambatan samping
1195 kali kejadian per jam. Pertumbuhan arus lalu lintas diperkirakan memiliki
kecenderungan meningkat untuk tiap minggu sebesar 0,48 %. Tingkat pelayanan ruas
jalan untuk senin ke-0 sebelum pelebaran masuk kategori C dengan kapasitas jalan
5806,56 smp/jam dan titik jenuh ruas jalan terjadi pada senin ke-132 dengan kategori
F dengan arus lalu lintas 5809 smp/jam, Setelah pelebaran jalan tingkat pelayanan
kembali ke kategori C pada senin ke-132 dengan kapasitas 7867,80 smp/jam dan titik
jenuh ruas jalan setelah pelebaran terjadi pada senin ke-195 kategori F dengan arus
lalu lintas 7866 smp/jam. Sebagai kesimpulan bahwa kinerja ruas jalan Sultan
Alauddin mengalami kecenderungan kapasitas dan tingkat pelayanan terus menurun
dari kategori C ke kategori F.

iv
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...........................................................................................i

LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................ii

MOTTO ...............................................................................................................iii

ABSTRAK ...........................................................................................................iv

KATA PENGANTAR .........................................................................................v

DAFTAR ISI .......................................................................................................vii

DAFTAR TABEL ...............................................................................................x

DAFTAR GAMBAR ..........................................................................................xi

DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................................xii

BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................1

A. Latar Belakang ...................................................................................2

B. Identifikasi dan Batasan Masalah ......................................................3

C. Rumusan Penelitian ...........................................................................3

D. Tujuan Masalah .................................................................................4

E. Manfaat Penelitian .............................................................................4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................5

A. Definisi dan Karakteristik Jalan Perkotaan .......................................5

B. Karakteristik Arus Lalu Lintas .........................................................10

1. Volume Lalu Lintas ...................................................................10

2. Komposisi Lalu Lintas ...............................................................10

vii
3. Kecepatan Lalu Lintas .................................................................13

4. Kepadatan Lalu Lintas .................................................................14

5. Headway ......................................................................................15

C. Analisa Operasional dan Perencanaan ...............................................16

1. Hambatan Samping ......................................................................16

2. Kecepatan Arus Bebas .................................................................17

3. Kapasitas ......................................................................................21

4. Derajat Kejenuhan (DS) ...............................................................25

5. Kecepatan dan waktu Tempuh .....................................................26

6. Tingkat Pelayanan ........................................................................27

D. Pertumbuhan Lalu Lintas ...................................................................32

1. Peningkatan Jumlah Kendaraan Bermotor ...................................32

2. Variasi Jarak Kendaraan ...............................................................33

E. Peramalan Lalu Lintas .......................................................................36

1. Analisis Arus Lalu Lintas ............................................................36

2. Tahun Perencanaan .......................................................................37

3. Pertumbuhan Lalu Lintas Normal dan Kecenderungan ...............37

4. Peramalan Kecenderungan di Masa Datang .................................38

F. Kerangka Pikir ....................................................................................39

BAB III METODE PENELITIAN ...................................................................40

A. Bentuk, Waktu dan Lokasi Penelitian ................................................40

B. Definisi Variabel Operasional ............................................................41

viii
C. Variabel Penelitian .............................................................................42

D. Jenis dan Teknik Pengumpulan Data .................................................43

E. Teknik Analisa Data ...........................................................................46

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .................................52

A. Hasil Penelitian ..................................................................................52

B. Pembahasan Hasil Penelitian .............................................................55

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................61

A. Kesimpulan .......................................................................................61

B. Saran .................................................................................................62

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................63

LAMPIRAN LAMPIRAN .............................................................................66

RIWAYAT HIDUP

ix
DAFTAR TABEL

Nomor Keterangan Hal.


Tabel
1 Jalan Tipe I 7
2 Jalan Tipe II 7
3 Nilai Normal untuk Komposisi Lalu Lintas 11
4 EMP untuk Jalan Perkotaan Tak Terbagi 12
5 EMP untuk Jalan Perkotaan Terbagi dan Satu Arah 12
6 Kelas Hambatan Samping untuk Jalan Perkotaan 17
7 Kec. Arus Bebas Dasar (FV0) untuk Jalan Perkotaan 18
8 Penyesuaian Kec. Arus Bebas untuk Lebar Lalu Lintas (FVw) 19
Faktor Penyesuaian Kec. Arus Bebas untuk Hambatan Samping
9 20
dengan Jarak Kereb Penghalang ( FFVSF )
Faktor Penyesuaian Kec. Arus Bebas untuk Ukuran Kota
10 20
(FFVCS)
11 Kapasitas Jalan ( Co ) Jalan Perkotaan 22
12 Faktor Penyesuaian Kapasitas Lebar Jalur lalu Lintas ( FCW ) 23
13 Faktor Penyesuaian Pemisah Arah ( FCSP ) 23
Faktor Penyesuaian kapasitas untuk Hambatan Samping dan
14 24
Jarak Kereb – Penghalang ( FCSF )
15 Faktor Penyesuaian Kapasitas untuk Ukuran Kota ( FCCS ) 25
Tingkat Pelayanan Berdasarkan Kecepatan Bebas dan Tingkat
16 29
Kejenuhan Lalu Lintas
17 Tingkat Pelayanan Berdasarkan Kecepatan Rata - Rata 29
18 Karakteristik Tingkat Pelayanan 30
19 Waktu Penelitian 40

x
DAFTAR GAMBAR

Nomor Keterangan Hal.


Gambar
Grafik Kecepatan Sebagai Fungsi Dari DS Untuk Jalan
1 26
Banyak Lajur Dan Satu Arah
Hubungan Antara Kecepatan, Tingkat Pelayanan Dan Rasio
2 31
Volume Terhadap Kapasitas Untuk Jalan
3 Siklus Perubahan Pola Perjalanan. 35
4 Peramalan Arus Lalu Lintas 36
5 Skema Kerangka Pikir 39
6 Lokasi Penelitian 41
7 Program Analisis Lalu Lintas ( KAJI ) 46
8 Program Power Simulation 47
9 Grafik Analisis Data Dengan Power Simulation 56
10 Kondisi I 57
11 Kondisi II 58

xi
DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Keterangan Hal.


Lampiran
1 Sketsa Lokasi Penelitian 66
2 Tabel Data Lapangan Volume Lalu Lintas 67
3 Tabel Data Lapangan Volume Lalu Lintas ( SMP) 75
4 Tabel Penentuan Volume Lalu Lintas Jam Puncak 83
5 Rekapitulasi Volume Lalu Lintas Jam Puncak 87
6 Tabel Hambatan Samping 88
7 Tabel Kecepatan Rata-Rata Waktu Kendaraan (Vt ) 92
8 Tabel Kecepatan Rata-Rata Ruang Kendaraan (Vs) 93
9 Program Analisis Ruas Jalan KAJI 94
10 Program Analisis Power Simulation 94
Tabel Prediksi Data Arus Lalu Lintas Dengan Program
11 95
Power Simulation ( Dalam SMP )
Formulir Jalan Perkotaan dengan Program Analisis lalu
12 99
Lintas Ruas Jalan Perkotaan KAJI
13 Formulir UR-3 : Analisis data KAJI Senin Ke-52 104
14 Formulir UR-3 : Analisis data KAJI Senin Ke-104 105
15 Formulir UR-3 : Analisis data KAJI Senin Ke-132 106
16 Formulir UR-3 : Analisis data KAJI Senin Ke-156 107
17 Formulir UR-3 : Analisis data KAJI Senin Ke-195 108
18 Formulir UR-3 : Analisis data KAJI Kondisi I 109
19 Formulir UR-3 : Analisis data KAJI Kondisi II 110

xii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kota Makassar yang menyandang fungsi utama yaitu Ibukota Propinsi

Sulawesi Selatan dan pusat pelayanan Kawasan Timur Indonesia, berkembang

menjadi kota metropolitan dengan jumlah penduduk lebih dari 1,2 juta orang dengan

laju pertumbuhan penduduk 1.79 % per tahun. (BPS Kota Makassar tahun 2007).

Keadaan ini mendorong aktivitas dan dinamika penduduk semakin tinggi dan cepat.

Pertumbuhan penduduk mendorong pertumbuhan jumlah kendaraan baik roda dua

maupun roda empat yang tidak seimbang dengan kapasitas jalan sehingga

mengakibatkan penurunan tingkat pelayanan jalan pada jam-jam sibuk. Namun

dengan berbagai keterbatasan yang dimiliki, Pemerintah Kota Makassar tidak mampu

mengimbangi dan menyediakan berbagai kebutuhan masyarakat terutama penyediaan

prasarana transportasi. Jalan merupakan salah satu faktor penentu kemajuan

pembangunan diharapkan mempunyai kondisi yang ideal agar mampu memberikan

kenyamanan, kelancaraan dan keamanan bagi pemakai jalan. Kondisi ideal terjadi

apabila lebar lajur tidak kurang dari 3,5 meter, kebebasan lateral tidak kurang dari

1,75 meter, standard geometrik jalan baik, hanya kendaraan ringan yang

menggunakan jalan dan tidak ada batas kecepatan kendaraan.

Hal lain yang merupakan penyebab terjadinya penurunan tingkat pelayanan

jalan ialah penggunaan ruang jalan/ROW yang tidak sebagaimana mestinya antara

1
2

lain untuk parkir, pedagang kaki lima, bengkel hingga tempat menaikkan dan

menurunkan penumpang. Keadaan yang demikian mengakibatkan penggunaan jalur

jalan yang ada melampaui kapasitas jalan.

Dalam keadaan keterbatasan jaringan jalan dan volume kendaraan yang

semakin padat, maka angkutan jalan raya menjadi lamban dengan waktu perjalanan

panjang dan relatif mahal antara lain karena masih diperlukan penggantian lebih dari

dua kali. Lebih jauh hal ini akan menimbulkan penurunan tingkat pelayanan dari jalan

raya yang ada utamanya disekitar kawasan pusat-pusat kegiatan serta meningkatnya

biaya operasi dari setiap kendaraan angkutan umum maupun kendaraan angkuatan

pribadi dan bertambah lamanya waktu pencapaian ke suatu tempat.

Pada saat ini terdapat 2 ruas jalan arteri primer yang memasuki Kota

Makassar yaitu Jl. Perintis Kemerdekaan dari arah timur laut Kota Makassar ke Kab.

Maros dan Jl. Sultan Alauddin dari arah tenggara Kota Makassar ke Kab. Gowa.

Fungsi jalan ini sangat vital oleh karena keduanya menampung arus lalu lintas dari

luar kota ke pusat kota.

Yang dapat disimpulkan sebagai penyebab timbulnya problem transportasi

karena tingkat pertumbuhan sarana transportasi yang tidak bisa mengejar tingginya

tingkat pertumbuhan prasarana transportasi.

Berdasarkan dari fenomena yang telah diuraikan diatas, maka judul yang

diangkat adalah : “Kinerja Ruas Jalan Sultan Alauddin untuk 10 Tahun

Mendatang (Dengan Program Analisis Lalu Lintas KAJI)”


3

B. Identifikasi dan Batasan Masalah

Dengan laju pertumbuhan penduduk 1,79 % pertahun (BPS Kota Makassar

tahun 2007) mendorong meningkatnya aktivitas dan dinamika yang semakin tinggi

dan cepat mengakibatkan pertumbuhan kendaraan yang tidak berimbang dengan

kapasitas jalan yang ada. Penggunaan ruang jalan/ROW yang tidak sebagaimana

mestinya anatara lain untuk parkir, pedagang kaki lima, bengkel hingga temapt

menaikkan dan menurungkan penumpang. Angkutan jalan raya menjadi lamban dan

waktu perjalanan panjang dan relatif mahal karena diperlukan penggatian lebih dari

dua kali juga ikut mengaklibatkan penurunan tingkat pelayanan jalan.

Untuk menghindari agar penulisan ini tidak mempunyai ruang lingkup yang

terlalu luas, maka diberikan batasan-batasan masalah yaitu kondisi dan tingkat

pertumbuhan arus lalu lintas pada ruas Jalan Sultan Alauddin Kota Makassar pada

setiap hari senin.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan judul yang dikemukakan, maka rumusan

masalah dinyatakan dalam bentuk pertanyaan yaitu :

1. Bagaimana kondisi arus lalu lintas pada ruas Jalan Sultan Alauddin Kota

Makassar hingga 10 tahun mendatang?

2. Bagaimana tingkat pertumbuhan arus lalu lintas ruas Jalan Sultan Alauddin Kota

Makassar hingga 10 tahun mendatang ?


4

D. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk :

1. Mengevaluasi kinerja ruas Jalan Sultan Alauddin dengan menentukan besarnya

kapasitas, derajat kejenuhan, kecepatan dan tingkat pelayanan.

2. Mengetahui tingkat pertumbuhan arus lalu lintas pada ruas Jalan Sultan

Alauddin.

E. Manfaat Hasil Penelitian

1. Sebagai bahan referensi bagi penelitian yang lebih lanjut.

2. Untuk menambah pengetahuan dan pengalaman khususnya dalam penulisan

karya ilmiah.

3. Sebagai bahan kajian dan masukan bagi instansi terkait, seperti Dinas Prasarana

Wilayah, Direktorat Jenderal Bina Marga dan Dinas Perhubungan Kota

Makassar.

4. Dapat berguna bagi perkembangan Ilmu Teknik Sipil khususnya Teknik Lalu

lintas dan Teknik Jalan Raya.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi dan Karakteristik Jalan Perkotaan

Menurut MKJI (1997) jalan perkotaan didefinisikan sebagai jalan yang

terdapat perkembangan secara permanen dan terus menerus di sepanjang jalan atau

hampir seluruh jalan, minimum pada satu sisi jalan, baik berupa lahan atau bukan.

Yang termasuk dalam kelompok jalan perkotaan adalah jalan yang berada didekat

pusat perkotaan dengan jumlah penduduk lebih dari 100.000 jiwa. Jalan di daerah

perkotaan dengan jumlah penduduk yang kurang dari 100.000 jiwa juga dapat

digolongkan pada kelompok ini jika perkembangan jalan tersebut bersifat permanen

dan terus menerus.

Jalan dikelompokkan sesuai fungsi jalan. Fungsi jalan dikelompokkan sebagai

berikut :

1. Jalan Arteri : jalan yang melayani lalu lintas khususnya melayani angkutan jarak

jauh dengan kecepatan rata-rata tinggi jumlah kendaraan yang dibatasi.

2. Jalan Kolektor : jalan yang melayani lalu lintas terutama melayani angkutan jarak

sedang kecepatan rata-rata sedang serta jumlah akses yang masih dibatasi.

3. Jalan Lokal : jalan yang melayani angkutan setempat terutama angkutan jarak

pendek dan kecepatan rata-rata rendah serta akses yang tidak dibatasi.

Jadi jalan arteri adalah jalan utama, sedangkan jalan kolektor dan lokal adalah

jalan minor.

5
6

Pembagian kelas jalan berdasarkan dimensi dan muatan sumbu yang diatur

oleh PP No. 43 tahun 1993 tentang prasarana dan lalu lintas jalan yang merupakan

peraturan pelaksanaan dari UULLAJ No. 14/1992, adalah :

1. Jalan Kelas I

Jalan arteri yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk muatan dengan

ukuran lebar tidak melebihi 2,5 m, ukuran panjang tidak melebihi 10 m dan muatan

sumbu terberat yang diizinkan lebih besar dari 10 ton.

2. Jalan Kelas II

Jalan arteri yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk muatan dengan

ukuran lebar tidak melebihi 2,5 m, ukuran panjang tidak melebihi 18 m dan muatan

sumbu terberat diizinkan 10 ton.

3. Jalan Kelas IIIA

Jalan kolektor yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk muatan

dengan ukuran lebar tidak melebihi 2,5 m, ukuran panjang tidak melebihi 18 m dan

muatan sumbu terberat yang diizinkan 8 ton.

4. Jalan Kelas IIIB

Jalan kolektor yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk muatan

dengan ukuran lebar tidak melebihi 2,5 m, ukuran panjang tidak melebihi 12 m dan

muatan sumbu terberat yang diizinkan 8 ton.


7

5. Jalan Kelas IIIC

Jalan kolektor yang dapat dilalui kendaraan bermotor muatan dengan ukuran

lebar tidak melebihi 2,5 m, ukuran panjang tidak melebihi 9 m dan muatan sumbu

terberat yang diizinkan 8 ton.

Sesuai dengan klasifikasi fungsional dan perencanaan volume lalu lintas,

jalan-jalan tipe I terbagi dalam 2 kelas dan tipe II terbagi dalam 4 kelas adalah

sebagai berikut :

Tabel 1. Jalan Tipe I

Fungsi Kelas

Arteri 1
Primer
Kolektor 2
Sekunder Arteri 2

Tabel 2. Jalan Tipe II


Volume lalu Lintas
Fungsi Kelas
(SMP)
Primer Arteri - 1
Kolektor > 10,000 1
< 10,000 2
Sekunder Arteri > 20,000 1
< 20,000 2
Kolektor > 6,000 2
< 6,000 3
Jalan Lokal > 500 4
< 500 4
Sumber : Standar Perencanaan Geometrik Jalan Perkotaan (1992)

Karakteristik suatu jalan akan mempengaruhi kinerja jalan tersebut.

Karakteristik jalan tersebut terdiri dari atas beberapa hal, yaitu :


8

1. Geometrik Jalan

a. Tipe Jalan menentukan jumlah lajur dan arah pada segmen jalan dan berbagai tipe

jalan akan menunjukkan kinerja berbeda pada pembebanan lalu lintas tertentu,

misalnya :

2-lajur 1-arah (2/1)

2-lajur 2-arah tak-terbagi (2/2 UD)

4-lajur 2-arah tak-terbagi (4/2 UD)

4-lajur 2-arah terbagi (4/2 D)

4-lajur 2-arah terbagi (4/2 D)

6-lajur 2-arah terbagi (6/2 D)

b. Jalur lalu lintas adalah keseluruhan bagian perkerasan jalan yang diperuntukkan

untuk lalu lintas kendaraan, kecepatan arus bebas dan kapasitas meningkat dengan

pertambahan lebar jalur lalu lintas.

c. Kereb adalah batas antara jalur lalu lintas dan trotoar yang berpengaruh terhadap

dampak hambatan samping pada kapasitas dan kecepatan.

d. Bahu lebar dan kondisi permukaannya mempengaruhi pengunaan bahu, berupa

penambahan kapasitas dan kecepatan pada arus tertentu, akibat pertambahan lebar

bahu terutama karena pengurangan hambatan samping yang disebabkan kejadian

disisi jalan

e. Median adalah pembatas jalan yang membagi lajur dan jalur jalan. Median yang

direncanakan dengan baik akan meningkatkan kapasitas.


9

2. Komposisi arus lalu lintas dan pemisah arah

Volume lalu lintas dipengaruhi komposisi arus lalu lintas, setiap kendaraan

yang ada harus dikonversikan menjadi suatu kendaraan standar.

3. Pengaturan lalu lintas

Batas kecepatan jarang diberlakukan didaerah perkotaan Indonesia,

karenannya hanya sedikit kegiatan samping berpengaruh pada kecepatan arus bebas.

4. Hambatan samping.

Banyaknya kegiatan hambatan samping jalan di Indonesia sering

menimbulkan konflik, hingga menghambat arus lalu lintas, misalkan :

a. Pejalan kaki

b. Angkutan umum dan kendaraan yang berhenti

c. kendaraan lambat (Becak, sepeda, dan lain-lain)

d. Kendaraan masuk dan keluar dari lahan samping jalan

5. Perilaku pengemudi dan populasi kendaraan

Manusia sebagai pengemudi kendaraan merupakan bagian dari arus lalu lintas

yaitu pemakai jalan. Faktor psikologis, fisik pengemudi sangat berpengaruh dalam

menghadapi situasi arus lalu lintas yang dihadapi.


10

B. Karakteristik Arus Lalu Lintas

1. Volume lalu Lintas

Berdasarkan MKJI (1997) volume lalu lintas didefinisikan sebagai jumlah

kendaraan yang melalui titik pada jalan per satuan waktu, dinyatakan dalam kend/jam

(Qkend), smp/jam (Qsmp), LHRT (QLHRT). Volume lalu lintas dihitung berdasarkan

persamaan :

N
Q ................................................................................... (1)
T

dimana :

Q = Volume (kend/jam)

N = Jumlah Kendaraan (Kend)

T = Waktu Pengamatan (jam)

2. Komposisi Arus Lalu Lintas

Menurut Wibowo (2001) komposisi arus lalu lintas didefinisikan sebagai jenis

atau tipe suatu kendaraan, baik kendaraan bermotor maupun kendaraan tak bermotor

yang melewati suatu ruas jalan.

Kendaraan yang melewati suatu ruas jalan sangat mempengaruhi arus lalu

lintas. Unsur utama yang sangat mempengaruhi arus lalu lintas adalah segi ukuran,

kekuatan dan kemampuan kendaraan melakukan pergerakan dijalan. Ketiga unsur ini

sangat berpengaruh pada perencanaan, pengawasan dan pengaturan sistem

transportasi. Nilai normal untuk komposisi lalu lintas dapat dilihat pada Tabel 3.
11

Tabel 3. Nilai Normal untuk Komposisi Lalu Lintas


Ukuran Kota LV HV MC
(Juta Penduduk) (%) (%) (%)
< 0,1 45 10 45
0,1 - 0,5 45 10 45
0,5 - 1,0 53 9 38
1,0 - 3,0 60 8 32
> 3,0 69 7 24
Sumber : MKJI (1997)

Penggolongan tipe kendaraan untuk jalan perkotaan berdasarkan MKJI (1997)

adalah sebagai berikut :

a. Kendaraan ringan (LV)

Kendaraan bermotor beroda empat dengan dua gandar berjarak 2 – 3 m (termasuk

kendaraan penumpang, opelet, mikrobis, pick-up dan truck kecil sesuai sistem

klasifikasi Bina Marga)

b. Kendaraan berat (HV)

Kendaraan bermotor dengan jarak as lebih dari 3,5 m, biasanya beroda lebih dari 4

(termasuk bis, truk 2 as, truck 3 as dan truk kombinasi sesuai sistem klasifikasi

Bina Marga)

c. Sepeda motor (MC)

Kendaraan bermotor beroda dua atau tiga (termasuk sepeda motor dan kendaraan

beroda tiga sesuai sistem klasifikasi Bina Marga)


12

d. Kendaraan tak bermotor (UM)

Kendaraan beroda yang menggunkan tenaga manusia atau hewan (termasuk

sepeda, becak, kereta kuda dan kereta dorong sesuai sistem klasifikasi Bina Marga)

Berbagai jenis kendaraan diekuivalenkan ke satuan mobil penumpang (smp)

dengan menggunakan faktor ekivalen mobil penumpang (emp), emp adalah faktor

yang menunjukkan berbagai tipe kendaraan dibandingkan dengan kendaraan ringan.

Nilai emp untuk berbagai jenis kendaraan dapat dilihat pada Tabel 4 dan Tabel 5.

Tabel 4. Ekivalen Mobil Penumpang (emp) untuk jalan perkotaan tak terbagi
emp
Arus lalu lintas MC
Tipe jalan
total dua arah Lebar jalur lalu lintas Wc
Jalan tak terbagi (kend/jam) HV
(m)
<6 >6
Dua-lajur tak-terbagi 0 1.3 0.5 0.4
(2/2 UD) > 1800 1.2 0.35 0.25
Empat-lajur tak-terbagi 0 1.3 0.4
(4/2 UD) > 3700 1.2 0.25
Sumber : MKJI (1997)

Tabel 5. Ekivalen Mobil Penumpang (emp) untuk Jalan Perkotaan Terbagi


dan Satu Arah
Tipe Jalan : Arus lalu lintas emp
Jalan satu arah dan per lajur
Jalan terbagi (kend/jam) HV MC

Dua -lajur satu-arah (2/1) 0 1.30 0.40


Empat-lajur terbagi (4/2D) > 1050 1.20 0.25
Tiga -lajur satu-arah (3/1) 0 1.30 0.40
Enam-lajur terbagi (6/2D) > 1100 1.20 0.25
Sumber : MKJI (1997)
13

3. Kecepatan Lalu Lintas

Kecepatan adalah tingkat pergerakan lalu-lintas atau kendaraan tertentu yang

sering dinyatakan dalam kilometer per jam. Menurut Abubakar (1999) kecepatan

adalah jarak dibagi dengan waktu. Persamaan untuk menentukan kecepatan adalah

sebagai berikut ;

d
V  ................................................................................... (2)
t

dimana :

V = Kecepatan (km/jam)

d = Jarak Tempuh (km)

t = Waktu Tempuh (Jam)

Kecepatan dapat dibagi dalam :

a. Kecepatan titik (Spot Speed) adalah kecepatan sesaat kendaraan berada pada

titik/lokasi jalan tertentu.

b. Kecepatan rata-rata perjalanan (Average Travel Speed) dan Kecepatan perjalanan

adalah total waktu tempuh kendaraan untuk suatu segemen jalan yang ditentukan.

Waktu perjalanan adalah total waktu ketika kendaraan dalam kendaraan bergerak

(berjalan) untuk menem[uh suatu segmen jalan.

c. Kecepatan rata-rata ruang (Space Mean Speed) adalah kecepatan rata-rata

kendaraan disepanjang jalan yang diamati.

3,6nd
Vs  ................................................................................... (3)
t
14

dimana :

Vs = Kecepatan rata-rata ruang (km/jam)

d = Jarak Tempuh (meter)

t = Waktu Tempuh (detik)

n = Jumlah Kendaraan yang diamati

d. Kecepatan rata-rata waktu (Time Mean Speed) adalah kecepatan rata-rata yang

menggambarkan kecepatan rata-rata dari seluruh kendaraan yang melewati titik

pengamatan tertentu

V
Vt  .................................................................................. (4)
n

dimana :

Vt = Kecepatan rata-rata waktu(km/jam)

V = Kecepatan kendaraan (km/jam)

n = Jumlah kendaraan yang diamati

4. Kepadatan Lalu Lintas

Menurut Morlok (1991), Kepadatan lalu lintas dapat didefenisikan sebagai

jumlah kendaraan yang menempati panjang ruas jalan tertentu atau jalur yang

umunya dinyatakan sebagai jumlah kendaraan per kilometer per lajur (jika pada ruas

jalan tersebut terdiri dari banyak lajur). Kepadatan merupakan jumlah kendaraan yang

diamati dibagi dengan panjang jalan tersebut. Hubungan antara volume, kecepatan

dan kepadatan adalah sebagai berikut :


15

q
k  .................................................................................... (5)
s

dimana :

k = Kepadatan lalu Lintas (Kend/km)

q = Jumlah Kendaraan pada lintasan (Kend/jam)

s = Kecepatan lalu lintas (Km/jam)

5. Headway

Menurut Abubakar (1999), Headway adalah besarnya jarak-antara

menentukan kapan seorang pengemudi harus mengurangi kecepatan (mengerem) dan

kapan dia dapat mempercepat kendaraan. Waktu-antara kendaraan (time headway)

yaitu waktu yang diperlukan antara satu kendaraan dengan kendaraan yang

berikutnya untuk melalui satu titik yang tetap.

Waktu-antara dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut :

1
Ht  ................................................................................... (6)
q

dimana :

Ht = Waktu-antara kendaraan rata-rata

Q = Volume lalu Lintas

Jarak-antara kendaraan (Space headway) yaitu jarak antara bagian depan

suatu kendaraan dengan bagian depan kendaraan berikutnya pada suatu saat tertentu.

Jarak headway rata-rata dipergunakan, terutama pada suatu situasi dimana terdapat
16

nilai yang berbeda diantara pasangan kendaraan dalam suatu arus lalu lintas. Jarak-

antara kendaraan dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut :

1
Hd  ..................................................................................... (7)
k

dimana :

Hd = Jarak-antara kendaraan rata-rata

k = Kepadatan

C. Analisa Operasional dan Perencanaan

1. Hambatan Samping

Hambatan samping menurut MKJI (1997) yakni aktivitas samping yang dapat

menimbulkan konflik dan berpengaruh terhadap pergerakan arus lalu lintas serta

menurunkan kinerja jalan.

Adapaun tipe kejadian hambatan samping adalah :

a. Jumlah pejalan kaki berjalan atau menyeberang sepanjang segmen jalan.

b. Jumlah kendaraan berhenti dan parkir.

c. Jumlah kendaraan bermotor yang masuk dan keluar dari lahan samping jalan dan

jalan samping.

d. Arus kendaraan lambat yaitu arus total (kend/jam) sepeda, becak, delman, pedati

dan sebagainya.

Tingkat hambatan samping dikelompokkan kedalam lima kelas dari yang

rendah sampai sangat tinggi sebagai fungsi dari frekuensi kejadian hambatan samping
17

sepanjang segmen jalan yang diamati. Dalam MKJI 1997 kelas hambatan samping

dikelompokkan seperti yang ada pada Tabel 6.

Tabel 6. Kelas Hambatan Samping untuk Jalan Perkotaan


Kelas hambatan Jumlah berbobot
samping kejadian per
Kode Kondisi Khusus
(SFC) 200 m perjam
(dua sisi)
Daerah permukiman ;
Sangat rendah VL < 100 Jalan dengan jalan samping

Daerah permukiman ;
Rendah L 100 - 299 Beberapa kendaraan umum dsb.

Daerah industri ;
Sedang M 300 - 499 Beberapa toko di sisi jalan

Daerah komersial ;
Tinggi H 500 - 899
Aktivitas sisi jalan sangat tinggi

Daerah komersial ;
Sangat tinggi VH > 900 Aktivitas pasar disamping jalan
Sumber : MKJI (1997)

2. Kecepatan Arus Bebas

Berdasarkan MKJI (1997) kecepatan arus bebas didefinisikan sebagai

kecepatan pada tingkat arus nol, yaitu kecepatan yang akan dipilih pengemudi jika

mengendarai kendaraan bermotor tanpa dipengaruhi oleh kendaraan bermotor lain di

jalan. Persamaan untuk penentuan kecepatan arus bebas mempunyai bentuk umum

sebagai berikut :

FV = (FV0 + FVw) x FFVSF x FFVCS .............................................. (8)

dimana :
18

FV = Kecepatan arus bebas kendaraan ringan pada kondisi lapangan

(km/jam)

FV0 = Kecepatan arus bebas dasar kendaraan ringan pada jalan yang diamati

(km/jam)

FVw = Penyesuaian kecepatan untuk lebar jalan (km/jam)

FFVSF = Faktor penyesuaian akibat hambatan samping dan lebar bahu.

FFVCS = Faktor Penyesuaian ukuran kota

Kecepatan arus bebas dasar kendaraan ringan (FV0) ditentukan berdasarkan

tipe jalan dan jenis kendaraan sesuai dengan Tabel 7.

Tabel 7. Kecepatan arus bebas dasar (FV0) untuk jalan perkotaan.


Kecepatan arus bebas dasar (FV0) (km/jam)
Kendaraa
Kendaraan Sepeda Semua
n
Tipe Jalan
Kendaraa
Ringan Berat Motor
n
LV HV MC (rata-rata)
Enam-lajur terbagi (6/2 D)
atau 61 52 48 57
Tiga-Lajur satu-arah (3/1)
Enam-lajur terbagi (6/2 D)
atau 57 50 47 55
Tiga-Lajur satu-arah (3/1)
Empat-lajur tak-terbagi
53 46 43 51
(4/2 UD)
Dua-lajur tak-terbagi
44 40 40 42
(2/2 UD)
Sumber : MKJI (1997)
19

Penyesuaian kecepatan arus bebas untuk lebar lalu lintas berdasarkan lebar

jalur lalu lintas efektif kendaraan ringan (FVw) untuk jalan perkotaan dapat dilihat

pada tabel 8.

Tabel 8. Penyesuaian Kecepatan Arus Bebas untuk Lebar lalu Lintas (FVw)
Lebar jalur lalu lintas efektif (Wc) FVw
Tipe Jalan
(m) (km/jam)
Per lajur
3.00 -4.00
Empat-lajur terbagi
3.25 -2.00
atau
Jalan satu arah 3.50 0.00
3.75 2.00
4.00 4.00
Per lajur
3.00 -4.00
3.25 -2.00
Empat-lajur tak-terbagi
3.50 0.00
3.75 2.00
4.00 4.00
Total
5.00 -9.50
6.00 -3.00
7.00 0.00
Dua-lajur tak-terbagi
8.00 3.00
9.00 4.00
10.00 6.00
11.00 7.00
Sumber : MKJI (1997)

Faktor penyesuaian kecepatan arus bebas akibat hambatan samping

berdasarkan jarak kereb dan penghalang pada trotoar (FFVSF) untuk jalan perkotaan

dapat dilihat pada Tabel 9.


20

Tabel 9. Faktor Penyesuaian Kecepatan Arus Bebas untuk Hambatan Samping dengan
Jarak Kereb Penghalang (FFVSF)
Kelas hambatan FFVSF
samping Jarak : Kereb-penghalang (Wk) (m)
Tipe Jalan
(SFC) < 0,50 1.00 1.50 > 2,00
Sangat rendah 1.00 1.01 1.01 1.02
Rendah 0.97 0.98 0.99 1.00
Empat-lajur terbagi
Sedang 0.93 0.95 0.97 0.99
(4/2 D)
Tinggi 0.87 0.90 0.93 0.96
Sangat tinggi 0.81 0.85 0.88 0.92
Sangat rendah 1.00 1.01 1.01 1.02
Empat-lajur tak- Rendah 0.96 0.98 0.99 1.00
terbagi Sedang 0.91 0.93 0.96 0.98
(4/2 UD) Tinggi 0.84 0.87 0.90 0.94
Sangat tinggi 0.77 0.81 0.85 0.90
Sangat rendah 0.98 0.99 0.99 1.00
Dua-lajur tak-terbagi Rendah 0.93 0.95 0.96 0.98
(2/2 UD) atau Sedang 0.87 0.89 0.92 0.95
Jalan satu arah Tinggi 0.78 0.81 0.84 0.88
Sangat tinggi 0.68 0.72 0.77 0.82
Sumber : MKJI (1997)

Faktor penyesuaian untuk ukuran kota pada kecepatan arus bebas kendaraan

(FFVCS) dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10. Faktor Penyesuaian Kecepatan Arus Bebas untuk Ukuran Kota (FFVCS)

Ukuran kota (juta Penduduk) Faktor penyesuaian untuk ukuran kota

< 0,10 0.90


0,10 - 0,50 0.93
0,50 - 1,00 0.95
1,00 - 3,00 1.00
> 3,00 1.03
Sumber : MKJI (1997)
21

3. Kapasitas

Menurut MKJI (1997) kapasitas didefinisikan sebagai arus lalu lintas

maksimum yang melalui suatu titik dan dapat dipertahankan per satuan jam pada

kondisi tertentu. Untuk jalan dua lajur arah, kapasitas ditentukan untuk arus dua arah

(kombinasi dua arah), tetapi untuk jalan dengan banyak lajur, arus dipisahakan per

arah dan kapasitas ditentukan per lajur.

Menurut Buku Standard Desain Geometrik Jalan Perkotaan yang dikeluarkan

oleh Dirjen Bina Marga, kapasitas dasar didefinisikan sebagai volume maksimum per

jam yang dapat melewati suatu potongan lajur jalan (untuk jalan multi lajur) atau

suatu potongan jalan (untuk jalan dua lajur) pada kondisi jalan dan arus lalu lintas

ideal.

Kondisi ideal terjadi bila :

Lebar lajur tidak kurang dari 3,5 m

Kebebasan lateral tidak kurang dari 1,75 m

Standard geometrik baik

Hanya kendaraan ringan (LV) yang menggunakan jalan

Tidak ada batas kecepatan

Persamaan untuk menentukan kapasitas adalah sebagai berikut :

C = Co x FCw x FCSP x FCSF x FCCS ................................... (9)

dimana :
22

C = Kapasitas

Co = Kapasitas dasar (smp/jam)

FCw = Faktor penyesuaian lebar jalur lalu lintas

FCSP = Faktor penyesuaian pemisah arah

FCSF = Faktor penyesuaian hambatan samping

FCCS = Faktor penyesuaian ukuran kota

Kapasitas dasar (Co) segmen jalan pada kondisi geometrik ditentukan

berdasarkan tipe jalan sesuai dengan Tabel 11.

Tabel 11. Kapasitas Dasar (Co) Jalan Perkotaan


Kapasitas
Tipe jalan dasar catatan
(smp/jam)

Empat-lajur terbagi atau Jalan satu-arah 1650 Per lajur

Empat-lajur tak-terbagi 1500 Per lajur

Dua-lajur tak-terbagi 2900 Total dua arah

Sumber : MKJI (1997)

Faktor penyesuaian lebar jalan ditentukan berdasarkan lebar jalur lalu lintas

yang dapat dilihat pada Tabel 12.


23

Tabel 12. Faktor Penyesuaian Kapasitas Lebar Jalur Lalu Lintas (FCw)
Lebar jalur lalu lintas efektif (Wc)
Tipe jalan FCw
(m)
Per lajur
3.00 0.92
Empat-lajur terbagi
3.25 0.96
atau
Jalan satu-arah 3.50 1.00
3.75 1.04
4.00 1.08
Per lajur
3.00 0.91
3.25 0.95
Empat-lajur tak terbagi
3.50 1.00
3.75 1.05
4.00 1.09
Total kedua arah
5 0.56
6 0.87
7 1.00
Dua-lajur tak-terbagi
8 1.14
9 1.25
10 1.29
11 1.34

Faktor penyesuaian pemisah arah jalan didasarkan pada kondisi dan distribusi

arus lalu lintas dari kedua arah jalan atau tipe jalan tanpa pembatas median.

Untuk jalan satu arah atau jalan dengan median faktor koreksi pembagian arah

adalah 1,0. Faktor penyesuaian pemisah arah dapat dilihat pada Tabel 13.

Tabel 13. Faktor penyesuaian Pemisah Arah (FCSP)

Pemisah arah SP % - % 50 - 50 55 - 45 60 - 40 65 - 35 70 - 30
Dua-lajur (2/2) 1.000 0.970 0.940 0.910 0.880
FCSP
Empat-lajur (4/2) 1.000 0.985 0.970 0.955 0.940
Sumber : MKJI (1997)
24

Faktor penyesuaian kapasitas untuk hambatan samping (FCSF) berdasarkan

jarak antara kereb dan penghalang pada trotoar (Wk), dan kelas hambatan samping

(SFC).

Nilai faktor penyesuaian kapasitas untuk pengaruh hambatan samping dan

jarak kereb-penghalang (FCSF) untuk jalan perkotaan dengan kereb, dapat dilihat

pada Tabel 14.

Tabel 14. Faktor penyesuaian untuk hambatan samping dan jarak kereb-penghalang
(FCSF)
Kelas Faktor penyesuaian untuk hambtan samping dan
hambatan jarak kereb-penghalang (FCSF)
Tipe jalan
samping Jarak : kereb-penghalang (Wk)
< 0,50 1.0 1.5 > 2,0
VL 0.95 0.97 0.99 1.01
L 0.94 0.86 0.98 1.00
4/2 D M 0.91 0.93 0.95 0.98
H 0.86 0.89 0.92 0.95
VH 0.81 0.85 0.88 0.92
VL 0.95 0.97 0.99 1.01
L 0.93 0.95 0.97 1.00
4/2 UD M 0.90 0.92 0.95 0.97
H 0.84 0.87 0.90 0.93
VH 0.77 0.81 0.85 0.90
VL 0.93 0.95 0.97 0.99
L 0.9 0.92 0.95 0.97
4/2 UD M 0.86 0.88 0.91 0.94
H 0.78 0.81 0.84 0.88
VH 0.68 0.72 0.77 0.82
Sumber : MKJI (1997)
25

Faktor penyesuaian ukuran kota didasarkan pada jumlah penduduk, dapat

dilihat pada Tabel 15.

Tabel 15. Faktor Penyesuaian Kapasitas untuk Ukuran Kota (FCCS)


Ukuran kota
Faktor penyesuaian untuk ukuran kota
(Juta penduduk)
< 1,0 0.86
0,10 - 0,50 0.90
0,50 - 1,00 0.94
1,00 - 3,00 1.00
> 3,00 1.04
Sumber : MKJI (1997)

4. Derajat Kejenuhan (DS)

Dejarat kejenuhan (DS) menurut MKJI (1997) yakni sebagai rasio jalan

terhadap kapasitas, yang digunakan sebagai faktor utama dalam penentuan tingkat

kinerja simpang dan segmen jalan. Nilai DS menunjukkan apakah segmen jalan

tersebut mempunyai masalah kapasitas atau tidak. Persamaan dasar untuk

menentukan derajat kejenuhan atau degree of saturation (DS) adalah sebagai berikut :

Q
DS  ................................................................................. (10)
C

dimana :

DS = Derajat kejenuhan

Q = Arus lalu lintas (smp/jam)

C = Kapasitas (smp/jam)

Derajat kejenuhan digunakan untuk menganalisis perilaku lalu lintas.


26

5. Kecepatan dan Waktu Tempuh

MKJI (1997) menggunakan kecepatan dan waktu tempuh sebagai ukuran

utama kinerja segmen jalan, karena mudah dimengerti dan diukur, dan merupakan

masukan yang penting untuk biaya pemakai jalan dalam analisis ekonomi.

Persamaan untuk menghasilkan waktu tempuh rata-rata (TT) adalah :

L
TT  .................................................................................. (11)
V LV

dimana :

TT = Waktu tempuh rata-rata (jam)

L = Panjang Segmen (km)

VLV = Kecepatan Kendaraan ringan

Kecepatan Kendaraan ringan ditentukan melalui grafik pada Gambar 1.

Gambar 1. Grafik Kecepatan sebagai fungsi dari DS untuk jalan


banyak lajur dan satu arah
27

6. Tingkat Pelayanan

Tingkat pelayanan jalan menurut Hendarto (2001) adalah suatu ukuran

kualitas perjalanan dalam arti luas menggambarkan kondisi lalu lintas yang mungkin

timbul pada suatu jalan akibat dari volume lalu lintas.

Lebar dan jumlah lajur yang dibutuhkan tidak dapat direncanankan dengan

baik walaupun VJP/LHR telah ditentukan. Hal ini disebabkan oleh karena tingkat

kenyamanan dan keamanan yang akan diberikan oleh jalan rencana belum ditentukan.

Kebebasan bergerak yang dirakan oleh pengemudi akan lebih baik pada jalan-jalan

yang kebebasan samping yang memadai, tetapi hal tersebut saja menuntut daerah

manfaat jalan yang lebih lebar pula.

Pada suatu kenadaan dengan volume lalu lintas yang rendah, pengemudi akan

merasa nyaman mengendarai kendaraaan dibanding jika pengemudi berada pada

daerah tersebut dengan volume lalu lintas yang besar. Kenyamanan akan berkurang

sebanding dengan bertambahnya volume lalu lintas. Dengan perkataan lain rasa

nyaman dan volume lalu lintas tersebut berbanding terbalik. Tetapi kenyamanan dari

kondisi arus lalu lintas yang ada tidak cukup hanya digambarkan dengan volume lalu

lintas tanpa disertai data kapasitas jalan dan kecepatan pada jalan tersebut.

Untuk menentukan tingkat pelayanan jalan ada dua faktor utama yang harus

diperhatikan yaitu :

1. Kecepatan perjalanan yang menunjukkan keadaan umum di jalan.

2. Perbandingan antara volume terhadap kapasitas (rasio V/C) yang mana

menunjukkan kepadatan lalu lintas dan kebebasan beregerak bagi kendaraan.


28

Secara umum tingkat pelayanan dibedakan sebagai berikut :

1. Tingkat Pelayanan A : Kondisi arus lalu lintas bebas antara satu kendaraan dengan

kendaraan lainnya, besarnya kecepatan sepenuhnya ditentukan oleh keinginan

pengemudi dan sesuai dengan batas kecepatan yang ditentukan.

2. Tingkat Pelayanan B : Kondisi arus lalu lintas stabil, kecepatan operasi mulai

dibatasi oleh kendaraan lainnya dan mulai dirasakan hambatan oleh kendaraan

sekitarnya.

3. Tingkat Pelayanan C : Kondisi arus lalu lintas masih dalam batas stabil, kecepatan

operasi mulai dibatasi dan hambatan dari kendaraan lain semakin besar.

4. Tingkat Pelayanan D : Kondisi arus lalu lintas mendekati tidak stabil, kecepatan

operasi menurun relatif cepat akibat hambatan yang timbul dan kebebasan

bergerak relatif kecil.

5. Tingkat Pelayanan E : Volume lalu lintas sudah mendekati kapasitas ruas jalan,

kecepatan besarnya sekitar lebih rendah dari 40 km/jam, pergerakan lalu lintas

kadang terhambat.

6. Tingkat pelayanan F : Kondisi arus lalu lintas berada dalam keadaan dipaksakan

(forced-flow), kecepatan relatif rendah, arus lalu lintas sering terhenti sehingga

menimbulkan antrian yang panjang.

Pada tabel 16 menunjukkan tingkat pelayanan berdasarkan kecepatan dan

tingkat kejenuhan serta pada tabel 17 menunjukkan ingkat pelayanan berdasarkan

kecepatan rata-rata.
29

Tabel 16. Tingkat pelayanan Berdasarkan Kecepatan Bebas dan


Tingkat Kejenuhan Lalu Lintas
Tingkat
Kecepatan Bebas Tingkat Kejenuhan
Pelayanan
A > 90 < 0,35
B > 70 < 0,54
C > 50 < 0,77
D > 40 < 0,93
E > 33 < 1,00
F < 33 >1,00
Sumber : Ofyar Z. Tamin, Analisis Dampak Lalu Lintas (1998)

Tabel 17. Tingkat Pelayanan Berdasarkan Kecepatan Perjalanan Rata-Rata


Kelas Arteri I II III
Kecepatan (km/jam) 72 - 56 56 - 48 56 - 40
Kecepatan Perjalanan Rata-rata
Tingkat Pelayanan
(km/jam)
A  56  48  40
B  45  38  31
C  35  29  21
D  28  23  15
E  21  16  11
F  21  16  11
Sumber : Ofyar Z Tamin, Analisis Dampak Lalu Lintas (1998)
30

Tabel 18. Karakteristik Tingkat Pelayanan


Batas
Tingkat
Karakteristik Lingkup
Pelayanan
(V/C)

Kondisi arus bebas dengan kecepatan tinggi pengemudi


A dapat memilih kecepatan yang diinginkan tanpa 0,00 - 0,19
hambatan

Kondisi arus stabil, tetapi kecepatan operasi


B mulai dibatasi oleh kondisi lalu lintas. 0,20 - 0,44
Pengemudi dibatasi dalam memilih kecepatan

Kondisi arus stabil, tetapi kecepatan operasi dan


C gerak kendaraan dipengaruhi besar volume lalu lintas. 0,45 - 0,74
Pengemudi dibatasi dalam memilih kecepatan

Kondisi arus lalu lintas tidak stabil, kecepatan masih


D 0,75 - 0,84
dikendalikan, V/C masih dapat ditolerir.
Volume lalu lintas mendekati/berada pada kapasitas.
E 0,85 - 1,00
Arus tidak stabil, kecepatan kadang berhenti.
Kondisi arus lalu lintas dipaksakan atau arus macet,
F 1.00
kecepatan rendah, arus lalu lintas rendah.
Sumber : Edward K Morlok, Pengantar Teknik & Perencanaan Transportasi (1991)

Dari keenam jenis tingkat pelayanan di atas maka yang memenuhi syarat jalan

yang diinginkan adalah tingkat pelayanan A, B, C, dan D dimana rasio V/C < 1. Pada

tingkat pelayanan E dan F, dimana volume lalu lintas telah melebihi kapasitas jalan

V/C 1, sehingga dalam keadaan ini menyebabkan terjadinya penurunan kualitas

pelayanan.
31

Tingkat
Pelayanan A

Tingkat Pelayanan B

Tingkat Pelayanan C
Kecepatan

Tingkat Pelayanan D

Tingkat Pelayanan E

Tingkat Pelayanan F

0 1.0
Rasio Volume / Kapasitas

Gambar 2. Hubungan Antara Kecepatan, Tingkat Pelayanan dan Rasio Volume

Terhadap Kapasitas untuk Jalan

(Sumber : E. K. Morlock. 1991. Pengantar Teknik dan Perencanaan Transportasi)


32

D. Pertumbuhan Lalu Lintas

Menurut Abubakar (1999), Pertumbuhan lalu lintas normal merupakan

peningkatan volume lalu lintas yang ada karena meningkatnya jumlah kendaraan

yang digunakan dan karena perubahan dalam jumlah penggunaan kendaraan

(kilometer).

Pertumbuhan volume lalu lintas tahunan merupakan kombinasi dari 2 buah

faktor dasar utama yaitu :

1. Peningkatan Jumlah Kendaraan Bermotor

Peningkatan jumlah kendaraan bermotor di jalan dapat dianalisis dari jumlah

kendaraan yang terdaftar. Peningkatan ini disebabkan oleh :

Meningkatnya jumlah penduduk.

Meningkatnya tingkat pendapatan masyarakat yang memungkinkan lebih

banyak kendaraan yang dapat dibeli. Sejalan perkembangan negara, maka

proporsi dari berbagai jenis kendaraan akan berubah. Meningkatnya pendapatan

masyarakat berarti juga bahwa sepada motor yang semula dimiliki akan

digantikan dengan mobil.

Pembangunan umum negara berarti makin banyak bisnis, meningkatnya

kebutuhan untuk mengangkut barang dan oleh karena itu timbul tekanan untuk

meningkatkan jalan.

Peningkatan jalan berarti bahwa truk dengan berat 20 – 40 ton dapat digunakan

sebagai pengganti truk berbobot 6 -10 ton. Prasarana jalan yang lebih baik akan
33

mendorong digunakannya angkutan jalan dimana sebelumya digunakan

angkutan air atau udara.

2. Variasi Jarak Perjalanan

Variasi jarak tempuh kendaraan selama tahun tertentu dapat dihitung dari data

penjualan bahan bakar bensin dan solar ataupun dengan melakukan penelitian

terhadap penggunaan kendaraan. Dengan berkembangnya ekonomi negara, pola

kendaraan akan berubah demikian juga kebutuhan akan angkutan.

Hal ini tercermin dari nilai kilometer perjalanan yang ditempuh oleh

kendaraan selama setahun. Dengan meningkatnya ekonomi masyarakat, akan

merubah cara hidupnya, dalam hal ini termasuk pula pola perjalanan. Khususnya

mereka akan menggunakan uang untuk aktivitas yang menyenangkan, sehingga pola

perjalanan mereka juga berubah.


Peningkatan Biaya
Operasi Kendaraan

Penurunan Kecepatan
dan Daya Tarik Bus

Penurunan Peran
Peningkatan Kemacetan
Angkutan Umum
Lalu Lintas

Peningkatan Pemilikan
Kendaraan

Pertumbuhan Ekonomi
Dampak Lingkungan
Standar Kehidupan yang
dan Kerugian
Layak

Gambar 3. Siklus Perubahan Pola Perjalanan.


34

Pertumbuhan volume lalu lintas pada suatu jalan raya juga tergantung pada

beberapa faktor yang berhubungan dengan kondisi daerah setempat. Besaran ini

bervariasi, menurut waktu dapat dikelompokkan menjadi 3 bagian utama yaitu :

a. Perubahan Akibat Pertumbuhan Lalu Lintas

Pertumbuhan normal, yaitu naiknya jumlah kendaraan yang berada di jalan atau

naiknya jumlah perjalanan (trip).

Differted Traffic, yaitu lalu lintas yang mengubah rute perjalanan karena alasan

tertentu.

Converte Traffic, yaitu lalu lintas karena ada angkutan yang sebelumnya tidak

melalui jalur tersebut sekarang melewatinya.

Generated Traffic, yaitu lalu lintas yang ditimbulkan oleh adanya pembangunan

atau perbaikan jalan.

b. Variasi Berkala

Sifat yang penting untuk diselidiki dari variasi berkala adalah apakah

kejadiannya secara beraturan, karena variasi yang beraturan dapat dipakai untuk

membantu meramalkan volume lalu lintas diwaktu yang lain. Dalam pergerakan lalu

lintas variasi berkala dibedakan atas 3 variasi yaitu :

Variasi Bulanan, yaitu dalam jangka waktu 1 tahun mungkin tepat disebut

variasi akibat musim karena ternyata variasi ini lebih tergantung pada keadaan

musim dari pada bulannya. Variasi bulanan tergantung pada keadaan musim
35

dimana pada bulan April sampai Oktober (musim kemarau) terjadi peningkatan

volume lalu lintas dan pada bulan Oktober sampai April (musim hujan) volume

lalu lintas mengalami penurunan.

Variasi Harian, yaitu dalam seminggu sangat dipengaruhi oleh kegiatan

manusia yang umumnya mempunyai jadwal kegiatan dalam seminggu. Variasi

harian ini mempunyai kencenderungan untuk tetap dan konstan.

Variasi Menurut Jam, yaitu dalam jangka waktu sehari normal tertentu, variasi

menurut jam konstan dan biasanya terlihat jam sibuk pada pagi dan sore.

c. Variasi Tak berkala

Variasi ini tak berulangan secara beraturan dan dapat disebabkan oleh kejadian

yang diluar dugaan seperti adanya bencana alam, hari raya, kunjungan pembesar dan

sebagainya.

Ada 3 jenis data historis yang dapat dianalisis untuk memperkirakan

pertumbuhan lalu lintas :

Pencacahan volume lalu lintas, yang memberikan pertumbuhan volume lalu

lintas pada jalan-jalan tertentu.

Data kendaraan yang terdaftar, baik ditingkat nasional, regional dan lokal yang

memberikan jumlah kendaraan yang ada disuatu daerah.

Data statistik penjualan dan komsumsi bahan bakar di tingkat nasional, regional

dan lokal yang dapat digunakan untuk menghitung total perjalanan dalam

kendaraan-kilometer.
36

E. Peramalan Lalu Lintas

Menurut Abubakar (1999), Peramalan lalu lintas yang sederhana dilakukan

dengan melakukan penaksiran arus lalu lintas berdasarkan kecenderungan data

historis, seperti ditunjukkan dalam gambar 4.

DATA HISTORIS DAN PENDUKUNG


Volume lalu lintas
Kelas Kendaraan

TREND
Faktor LHR (Lalin Harian Rata-rata)
Volume Lalin
Faktor VJP (Volume jam perencanaan)
Kelas Kendaraan

ARUS SAAT INI ARUS DESAIN MASA DEPAN


LHR atau VJP LHR atau VJP

SURVAI LALIN
SAAT INI

Gambar 4. Peramalan Arus Lalu Lintas

(Sumber : Iskandar Abubakar, Dkk. 1999. Rekayasa Lalu Lintas)

1. Analisis Arus Lalu Lintas

a. Lalu Lintas Harian Rata-rata (LHR)

Lalu lintas harian rata-rata adalah volume lalu lintas rata dalam satu hari.

Untuk dapat menghitung LHRT haruslah tersedia data jumlah kendaraan yang terus

menerus selama satu tahun penuh. Mengingat akan biaya yang diperlukan untuk

membandingkan dengan ketelitian yang dicapai serta tak semua tempat di Indonesia
37

mempunyai volume lalu lintas selama 1 tahun, maka untuk kondisi tersebut dapat

pula dipergunakan Lalu Lintas Harian Rata-Rata (LHR). LHR adalah hasil bagi

pengamatan.

b. Volume Jam Perencanaan (VJP)

Arus lalu lintas bervariasi dari jam ke jam berikutnya dalam satu hari, maka

sangat cocoklah jika volume lalu lintas dalam 1 jam dipergunakan untuk

perencanaan. Volume dalam 1 jam yang dipakai untuk perencanaan dinamakan

volume jam perencanaan (VJP).

2. Tahun Perencanaan

Jalan baru mempunyai umur konstruksi antara 20 - 40 tahun. Jalan merupakan

investasi yang mahal dan mempunyai konsekwensi sosial yang besar. Peramalan lalu

lintas untuk keperluan jalan baru biasanya dilakukan untuk selama 20 tahun dimasa

datang dan kadang-kadang lebih. Strategi perencanaan perkotaan bahkan didasarkan

pada periode yang lebih panjang lagi. Akan tetapi peramalan untuk rencana

perekayasaan dan manajemen lalu lintas merupakan peramalan jangka pendek yang

biasanya berkisar antara 0 - 5 dan maksimum 10 tahun

3. Pertumbuhan Lalu Lintas Normal dan Kecenderungan

Ada 3 jenis data historis yang dapat dianalisis untuk memperkirakan

pertumbuhan lalu lintas :

Pencacahan volume lalu lintas, yang memberikan pertumbuhan volume lalu

lintas pada jalan-jalan tertentu.


38

Data kendaraan yang terdaftar baik di tingkat nasional, regional, dan lokal

yang memberikan jumlah kendaraan yang ada disuatu daerah.

Data statistik penjualan dan komsumsi bahan bakar di tingkat nasional

regional dan lokal yang dapat digunakan untuk menghitung total perjalanan

dalam kendaraan-kilometer. Analisis didasarkan pada persentase dan tingkat

komsumsi bahan bakar dari berbagai jenis kendaraan sesuai dengan data

kendaraan yang terdaftar.

4. Peramalan Kecenderungan di masa datang

Apabila kecenderungan telah ditetapkan dari data historis, maka

kecenderungan tersebut dapat diekstrolasikan untuk memperkirakan kondisi masa

datang. Proses ini memerlukan sedikit data, dan peramalan jangka pendek yang

akurat dapat disiapkan dengan cepat tanpa survei yang mahal. Akan tetapi makin

apanjang periode peramalan, maka makin besar ketidakpastian tentang nilai yang

diperkirakan. Hal ini dikarenakan tidak dapat ditentukan alasan yang mendasar untuk

melakukan perjalanan.

Rencana perekayasaan dan manajemen lalu lintas, seperti pemasangan sinyal

lalu lintas, tidak memerlukan biaya yang tinggi, dan hanya memerlukan peramalan

jangka pendek. Akan tetapi, pemebangunan jalan baru adalah mahal dan mempunyai

implikasi jangka panjang, analisis pertumbuhan lalu lintas yang lebih akurat (yang

memerlukan waktu serta biaya yang mahal) perlu dilakukan, dana hal ini dapat

diterima mengingat biaya dan keuntungan yang ada.


39

F. Kerangka Pikir

JALAN SULTAN ALAUDDIN


KOTA MAKASSAR

Volume Arus Lalu Lintas


Saat Ini

Trend Pertumbuhan
Kendaraan

Volume Arus Lalu Lintas


10 Tahun Mendatang

Kondisi Tingkat Pelayanan


Ruas Jalan Sultan Alauddin

Tingkat Pelayanan Ruas Tingkat Pelayanan Ruas


Jalan Kurang Optimal Jalan Optimal

Solusi Alternatif

Gambar 5. Skema Kerangka Pikir


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Bentuk,Waktu dan Lokasi Penelitian

1. Bentuk peneltian yang akan digunakan adalah survey lalu lintas.

2. Waktu penelitian dilakukan selama 4 hari yaitu pada setiap hari Senin pada pukul

07.00 – 09.00 dan 16.00 – 19.00. Penentuan waktu survey didasarkan dari

penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya dan ditarik kesimpulan bahwa pada

hari dan jam tersebut adalah waktu jam puncak arus lalu lintas pada ruas jalan

tersebut. Waktu penelitian dapat dilihat pada Tabel 19.

Tabel 19. Waktu Penelitian

Hari / Tanggal Jam Penelitian


No. Penelitian Pagi Sore

1. Senin / 03 Maret 2008 06.00 - 09.00 16.00 - 19.00


2. Senin / 10 Maret 2008 06.00 - 09.00 16.00 - 19.00
3. Senin / 17 Maret 2008 06.00 - 09.00 16.00 - 19.00
4 Senin / 24 Maret 2008 06.00 - 09.00 16.00 - 19.00

3. Lokasi pengambilan data/survey arus lalu lintas terletak di ruas Jalan Sultan

Alauddin Kota Makassar dapat dilihat pada gambar 6.

40
41

Jl. Mallengkeri
(Makassar)
Pos Pengamatan

Jl. Sultan Hasanuddin


(Sungguminasa)

Jl. Sultan Alauddin


Jl. Syech Yusuf (Makassar)

U
(Makassar)

Gambar 6. Lokasi Penelitian

B. Definisi Variabel Operasional

1. Volume lalu lintas

Merupakan jumlah kendaraan yang melalui titik pada jalan per satuan waktu,

dinyatakan dalam kend/jam (Qkend), smp/jam (Qsmp), LHRT (QLHRT).

2. Kecepatan kendaraan

Merupakan perbandingan antara jarak yang ditempuh dengan waktu yang

diperlukan untuk menempuh jarak tarsebut, dinyatakan dalam km/jam.

3. Kapasitas

Merupakan arus lalu lintas maksimum yang melalui suatu titik dan dapat

dipertahankan per satuan waktu (jam) pada kondisi tertentu. Untuk jalan dua lajur
42

arah, kapasitas ditentukan untuk arus dua arah (kombinasi dua arah), tetapi untuk

jalan dengan banyak lajur, arus dipisahakan per arah dan kapasitas ditentukan per

lajur.

4. Hambatan samping

Hambatan samping, banyaknya kegiatan hambatan samping jalan di Indonesia

sering menimbulkan konflik, hingga menghambat arus lalu lintas, misalkan :

a. Pejalan kaki

b. Angkutan umum dan kendaraan yang berhenti

c. Kendaraan lambat (Becak, Sepeda, Gerobak dan lain-lain)

d. Kendaraan masuk dan keluar dari lahan samping jalan

5. Kondisi geometrik Jalan

Merupakan kondisi yang digambarkan dalam bentuk sketsa yang memberikan

informasi lebar ruas jalan, lebar bahu, lebar trotoar, median, tipe jalan (jalan terbagi

atau jalan tak terbagi), lebar daerah manfaat jalan (damaja), lebar daerah milik jalan

(damija) serta lebar daerah pengawasan jalan (dawasja).

6. Tingkat Pelayanan

Merupakan kondisi lalu lintas yang mungkin timbul pada suatu jalan akibat

dari berbagai volume pergerakan, kapasitas dan kecepatan pergerakan.

7. Pemisah arah

Merupakan distribusi arah lalu lintas pada jalan dua-arah (biasanya dinyatakan

dalam persentase dari arus total pada masing arah, misalnya 60/40)
43

C. Variabel Penelitian

Adapun yang menjadi obyek dari penelitian ini adalah :

1. Kondisi Arus lalu Lintas

a. Data lalu lintas yang dibagi dalam tipe kendaraan, yaitu :

1) Kendaraan ringan atau Light Vehicles (LV), meliputi angkutan kota, mobil

pribadi, oplet, taksi dan pick up.

2) Kendaraan berat atau Heavy Vehicles (HV), meliputi truk roda 4, truk roda 6,

bus standar dan damri.

3) Sepeda motor atau Motorcycles (MC), meliputi semua sepada motor.

4) Kendaraan tak bermotor atau Unmotorrised (UM), meliputi becak, sepeda,

andong, gerobak dan lain-lain.

2. Hambatan Samping

3. Kondisi Geometrik Jalan

4. Kecepatan Kendaraan.

D. Jenis dan Teknik Pengumpulan Data.

Pengumpulan data lapangan dilakukan dengan cara seteliti mungkin agar

diperoleh data yang akurat dan memenuhi. Data-data yang diukur dalam penelitian

adalah sebagai berikut :

1. Data Geometrik Jalan

Data geometrik yang sesuai untuk segmen yang diamati yaitu :


44

Lebar jalur lalu intas pada kedua sisi/arah.

Jika terdapat kereb atau bahu pada masing-masing sisi.

Jarak rata-rata dari kereb ke penghalang pada trotoar seperti pepohonan, tiang

lampu dan lain-lain.

Lebar bahu efektif (jika hanya mempunyai bahu pada satu sisi, lebar bahu rata-

rata adalah sama dengan setengah lebar bahu tersebut).

Lebar daerah manfaat jalan (damaja), lebar daerah milik jalan (damija) dan

lebar pengawasan jalan (dawasja).

2. Data Lalu Lintas

Data diperoleh dengan pengamatan langsung terhadap arus lalu lintas yang meliputi :

a. Survey Volume lalu lintas, survey dilakukan dengan cara menghitung langsung

jumlah kendaraan yang melewati titik pengamatan dengan menggunakan Hand

Tally Counter atau lembar formulir pencatatan yang dilakukan oleh 6 orang,

dimana setiap orang akan menghitung tiap jenis kendaraan berdasarkan

klasifikasinya.

b. Survey kecepatan kendaraan, survey dilakukan dengan cara menghitung waktu

tempuh kendaraan yang melewati titik pengamatan dengan jarak tertentu dengan

menggunakan alat bantu stopwatch dan meteran. Survey dilakukan oleh 2 orang

pada satu lajur.

c. Survey hambatan samping, survey ini dilakukan dengan menghitung langsung

kejadian per jam per 200 meter atau per segmen jalan pada lajur yang diamati.
45

Adapun prosedur untuk menentukan segmen jalan menurut MKJI 1997 adalah :

Diantara dan tidak dipengaruhi oleh simpang besinyal atau tak bersinyal utama.

Mempunyai karakteristik yang hampir sama disepanjang jalan.

Tipe kejadian menurut MKJI (1997) digolongkan sebagai berikut :

Jumlah pejalan kaki yang berjalan atau menyebrang sepanjang segmen jalan.

Jumlah kendaraan berhenti atau parkir.

Jumlah kendaraan bermotor yang masuk dan keluar dari lahan samping jalan.

Arus kendaraan yang bergerak lambat, yaitu sepeda, becak, pedati, traktor dan

sebagainya.

Survey dilakukan oleh 2 orang pada lajur jalan per 200 meter, dimana setiap

orang menghitung semua tipe kejadian yang ada.


46

E. Teknik Analisis Data

Data yang diperoleh dari hasil pengamatan dan survey arus lalu lintas

dilapangan akan dianalisis dengan menggunakan program :

1. Program analisis lalu lintas untuk ruas jalan perkotaan

Program analisis lalu lintas untuk ruas jalan perkotaan berdasarkan Manual Kapasitas

Jalan Indonesia (MKJI 1997) yang digunakan untuk menghitung kapasitas ruas jalan.

Program ini dibuat oleh Dr.-Ing. Ir. Ahmad Munawar, M.Sc.

Gambar 7. Program Analisis Lalu Lintas ( KAJI )

Analisis ruas jalan dengan penggunaan KAJI terkendala dengan adanya

keterbatasan KAJI yang tidak bisa dijalankan pada komputer-komputer mutakhir.

Penggunaan program berbasis database dapat dilakukan untuk membuat program

analisis ruas jalan. Program dibuat dengan bantuan Microsoft Access, yakni dengan

membuat lembar-lembar kerja, yang dalam MKJI 1997 disebut formulir UR1, UR2
47

dan UR3. Formulasi yang digunkan sama dengan yang terdapat dalam MKJI 1997

karena dasar pembuatannya adalah sistem database dengan Microsoft Access.

2. Program Power Sim Versi 1.03

Gambar 8. Program Power Sim

a. Power Sim

Power Sim merupakan piranti lunak untuk membangun model simulasi

bergerak. Paket piranti lunak ini memiliki banyak keistimewaan dan inovasi dalam

ruang lingkup simulasi dan sistem dinamik.

b. Konsep Dasar

Diagram : Dokumen asli (primary document) digunakan untuk pembuatan

gambar, analisa, dan simulasi model.

Equation (penyamaan) : Gambaran isi (text) dari model.


48

Function (fungsi) : Kelengkapan untuk menghitung satu atau lebih nilai yang

memberi hasil 0 atau lebih alasan. topik fungsi menggambarkan manfaat yang

diperoleh dari powersim.

Model : Bentuk model yang digunakan untuk menggambarkan sistem nyata

atau tidak.

Object : Konsep dasar membangun dari dokumen powersim. digunakan untuk

membangun struktur model, menunjukkan hasil simulasi, membuat diagram

model, dan menukar informasi antar beberapa obyek.

Simulasi : simulasi menggambarkan perkembangan variabel yang ada pada

model. Powersim menghitung nilai variabel untuk setiap waktu berjalan

dalam periode simulasi.

Variabel : Model terdiri atas variabel-variabel yang merupakan jumlah dari

sistem yang dijadikan model. Variabel ini memerlukan nilai yang dihitung

setiap waktu dalam simulasi, tingkatan dan alat bantu variabel umumnya

berubah sepanjang simulasi, sementara konstanta tetap.

c. Bahasa Simulasi Power Sim

Maksud bahasa Power Sim ini adalah membuat gambaran atau model dari

sebuah sistem yang nyata atau tidak. Saat menyusun model, sistem yang telah

digambar digunakan untuk membuat asumsi tentang sistem yang telah digambar

tersebut. Model terdiri atas komponen yang saling berhubungan, disebut sebagai

Variabel. Konstruksi model dibuat dengan menentukan variabel dan hubungan antar
49

variabel. Bahasa gambar digunakan untuk membangun model di Editor Diagram

Power Sim.

d. Menentukan Alat Bantu

Nilai alat bantu dihitung dengan mengevaluasi lambang-lambang matematis.

Lambang-lambang ini dapat melibatkan operator, function, literal, dan referensi untuk

variabel-variabel model.

Penggambaran informasi berkaitan dengan alat bantu menginformasikan ke

sistem bahwa alat bantu tergantung pada variabel yang berhubungan dengannya.

Dalam hal ini alat bantu R tergantung pada variabel C dan L.

Saat pengeditan definisi R, pengedit akan menampilkan L dan C dalam daftar

input variabel. Ini berarti bahwa R tergantung L dan C, secara kasar bahwa antara L

dan C harus ada pada equasi penentuan R. Editor variabel definisi terbuka dengan

double-click pada R).

Penentuan alat bantu ditulis pada The Definition Field dari The Variabel

Definition Editor. Definisi ini ditunjukkan dengan lambang matematis, yang harus

melibatkan semua variabel yang tertulis dalam daftar input variabel.

e. Penentuan Konstanta

Konstanta digunakan untuk menentukan variabel yang tidak berubah

sepanjang simulasi. Konstanta ditentukan dengan memasukkan sebuah literal sebagai

lambang penentuan variabel. Sebuah alat bantu variabel otomatis berubah menjadi

konstanta jika definisinya diubah menjadi literal. Suatu konstanta dapat tidak

bergantung pada variabel lain.


50

f. Menentukan Level

Perbedaaan level dari semua variabel ditulis dalam nilai yang cenderung

berubah sepanjang simulasi. Level adalah pengumpul, diubah oleh input dan/atau

output dari simulasi ke simulasi berikutnya.

Karena nilai level sering tergantung nilai level pada simulasi sebelumnya, kita

membutuhkan beberapa nilai awal yang spsifik untuk level tersebut. Nilai awal ini

akan digunakan dalam penghitungan nilai awal pada level. Pada semua simulasi yang

sukses, nilai langsung level digunakan dalam kombinasi dengan aliran input dan/atau

output level dalam membatasi nilai dari level pada langkah selanjutnya.

Nilai awal level dapat tergantung pada variabel lain dalam model. Ini

diperoleh dengan menghubungkan hubungan informasi dari variabel-variabel lain ke

simbol level. Keterkaitan informasi akan digunakan hanya dalam menghitung

langkah awal simulasi. Inisialisasi hubungan ini dipisahkan dari hubungan informasi

lain yang menggunakan a dotted arrow instead of solid.

g. Menyatukan Variabel

Dengan menyusun variabel sebagai satu kesatuan, kelompok nilai yang

berelasi dapat ditunjukkan sebagai satu variabel. Penyatuan ini dapat berupa satu atau

lebih dimensi. Kesatuan dengan satu dimensi disebut Vektor. Dan kesatuan yang

lebih dari satu dimensi disebut Matrix.

h. Pengenalan Simulasi

Sistem yang dianalisis dengan bantuan model dinamik atau bergerak sering

merupakan sistem yang kontinyu. Pada beberapa sistem, perubahan variabel dalam
51

sistem yang berkelanjutan, misalkan; pergerakan planet, perubahan cuaca,

pertumbuhan penduduk, dll. Pada sistem lain variabel sistem berubah dalam langkah

pada waktu spesifik tertentu, misalkan; deposit bank, sistem pelayanan dan antrian,

dll.

Continuous system biasanya melibatkan level dan definisi dan bentuk

berdasarkan kondisi variabel. Waktu dilanjutkan sampai simulasi menggunakan

ukuran tetap dengan spesifik input.

Untuk menghitung perbedaannya kita dapat menggunakan hasil bagi x/t, yang

memberi rata-rata kasar untuk bentuk gambar pada interval waktunya. Equasi yang

dilambangkan dengan laju perubahan level variabel akan berdasar pada nilai yang

muncul dari level–level pada fakta poin saat simulasi. Oleh karena itu turunannya

digunakan pada interval waktunya. Laju perubahan ditunjukkan dengan pembatasan

perbedaan hasil bagi saat t bergerak mendekati 0.

Metode intergrasi yang disediakan oleh Power Sim adalah Euler Integration,

Runge_Kutta Second Order,Third, dan Fourth Integration Method yang mutakhir

dengan Both Fixed dan Variabel Step Size.

Runge-Kutta Integration memiliki dua kelebihan. Pertama, sangat mudah

untuk mengubah ukuran simulation step sepanjang simulasi dengan metode Runge-

Kutta. Karena kebutuhan akan ukuran variabel simulasi dalam simulasi kombinasi

sangat penting. Yang kedua, integrasi Runge-Kutta memulai sendiri, oleh karena itu

tidak akan ada ketidakefisienan saat men-start ulang. Hal ini juga merupakan

kepentingan dalam simulasi kombinasi.


BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada lokasi ruas Jalan Sultan Alauddin Kota

Makassar. Untuk pengambilan data lapangan dilaksanakan setiap hari senin sebanyak

4 kali pengambilan terhitung mulai tanggal 3, 10, 17 dan 24 Maret 2008. Adapun data

yang diperoleh sebagai berikut :

1. Data Tipe Lingkungan

Berdasarkan tata guna lahan dan aksebilitas jalan dari aktivitas sekitarnya,

maka untuk ruas jalan Sultan Alauddin Kota Makassar dikategorikan sebagai tipe

komersial (COM).

2. Tipe Jalan

2 jalur ; 4 lajur ; tak terbagi ( 4/2 UD )

3. Kondisi Geometrik

a. Lebar Jalan

- Arah Makassar - Sungguminasa = 7,10 m

- Arah Sungguminasa - Makassar = 7,80 m

b. Lebar Bahu

- Arah Makassar - Sungguminasa = 4,10 m

- Arah Sungguminasa - Makassar = 2,10 m

c. Fasilitas Median = Tidak Ada

52
53

d. Pemisah Arah lalu Lintas = 70 – 30

e. Ukuran Kota = 1,0 - 3,0 Juta

f. Tipe Alinyemen = Datar

4. Hambatan Samping

Frekuensi Kejadian Maksimal = 1195 kali / jam

5. Arus lalu lintas jam puncak

Senin Pertama ( 3 Maret 2008 )

Periode Waktu ( 07.15 – 08.15 ) = 3078 smp/jam

Periode Waktu ( 17.15 – 18.15 ) = 2932 smp/jam

Senin Kedua ( 10 Maret 2008 )


54

Periode Waktu ( 06.45 – 07.45 ) = 3077 smp/jam

Periode Waktu (16.30 – 17.30 ) = 2814 smp/jam

Senin Ketiga ( 17 Maret 2008 )

Periode Waktu ( 07.30 – 08.30 ) = 2892 smp/jam

Periode Waktu ( 16.30 – 17.30 ) = 2792 smp/jam

Senin Keempat ( 24 Maret 2008 )

Periode Waktu ( 07.00 – 08.00 ) = 3122 smp/jam

Periode Waktu ( 16.30 – 17.30 ) = 2544 smp/jam


55

B. Pembahasan Hasil Penelitian

1. Analisis Program Ruas Jalan KAJI :

Program dibuat dengan bantuan Microsoft Access, yakni dengan lembar-lembar

kerja, yang dalam MKJI 1997 disebut Formulir UR-1, UR-2, dan UR-3. Program

tersebut digunakan untuk menganalisis data lapangan yang ada. Dari analisis

tersebut diperoleh :

Kec. Arus Bebas Kapasitas Derajat Kec. Kend.


( FV ) (C) Kejenuhan ( V LV )
km/jam smp/jam (DS) km/jam
53,90 5803,56 0,54 48,91
(Sumber : Hasil Analisis Program Ruas Jalan KAJI)

2. Analisis Power Simulation

Power Sim. merupakan piranti lunak untuk membangun model simulasi

bergerak. Paket piranti lunak ini digunakan untuk analisis pertumbuhan arus lalu

lintas. Dari analisis tersebut diperoleh :

Senin Arus Lalin Senin Arus Lalin


Ket. Ket.
Ke- (smp/jam) Ke- (smp/jam)
0 3078 52 3953 Tahun ke-I
1 3093 Data 104 5077 Tahun ke-II
2 3107 Lapangan 156 6520 Tahun ke-III
3 3122 208 8374 Tahun ke-IV
( Sumber : Hasil Penelitian) 260 10755 Tahun ke-V
312 13813 Tahun ke-VI
354 16907 Tahun ke-VII
416 22785 Tahun ke-VIII
468 29264 Tahun ke-IX
520 37585 Tahun ke-X
(Sumber : Hasil Program Power Sim.)
56

Gambar 9. Grafik Analisis Data Dengan Power Simulation

Dari hasil analisa data lapangan terlihat bahwa derajat kejenuhan atau degree

of saturation (DS) pada ruas jalan Sultan Alauddin = 0,54 < 1,00, berarti tingkat

pelayanan pada ruas jalan tersebut masuk dalam kategori C dengan batas lingkup

(V/C) 0.45 – 0.74 yaitu Kondisi arus stabil, tetapi kecepatan operasi dan gerak

kendaraan dipengaruhi besar volume lalu lintas. Pengemudi dibatasi dalam memilih

kecepatan. Dari data lapangan kemudian di analisis dengan program Power Sim

diperoleh arus lalu lintas setiap senin sampai dengan senin ke-520 atau 10 tahun

dengan asumsi 1 tahun = 52 Senin.

Kec. Arus Kapasitas Kec. Kend.


Derajat
Bebas
Kondisi I (C) Kejenuhan ( V LV )
( FV )
smp/jam (DS) km/jam
km/jam
Senin ke-52 53,90 5803,56 0,68 46,33
Senin ke-104 53,90 5803,56 0,87 41,74
Senin ke-132 53,90 5803,56 1,00 37,99

( Sumber : Hasil Analisis Program Ruas Jalan KAJI )


57

Senin ke-52 derajat kejenuhan (ds) = 0,68 < 1,00. Tingkat pelayanan masuk

pada kategori C yaitu kondisi arus stabil, tetapi kecepatan operasi dan gerak

kendaraan dipengaruhi besar volume lalu lintas. Pengemudi dibatasi dalam memilih

kecepatan

Senin ke-104 derajat kejenuhan (ds) = 0,87 < 1,00. Tingkat pelayanan masuk

pada kategori E yaitu volume lalu lintas sudah mendekati kapasitas ruas jalan, arus

lalu lintas tak stabil, pergerakan lalu lintas kadang terhambat.

Senin ke-132 derajat kejenuhan (ds) = 1,00. Tingkat pelayanan pada jalan

tersebut masuk dalam kategori F yaitu Kondisi arus lalu lintas berada dalam keadaan

dipaksakan (forced-flow), kecepatan relatif rendah, arus lalu lintas sering terhenti

sehingga menimbulkan antrian yang panjang. Tingkat kejenuhan jatuh pada senin ke-

132 dengan arus lalu lintas 5809 smp/jam yang terlihat dari derajat kejenuhan yang

diperoleh.

Dengan kondisi yang demikian diperlukan pelebaran jalan agar kondisi arus

lalu lintas dapat dikendalikan. Kondisi I dimana jalan masih dalam kondisi awal,

kondisi II dimana ruas jalan dalam kondisi telah diperlebar. Seperti terlihat pada

gambar 10 dan 11.

Makassar - Sungguminasa Sungguminasa - Makassar

Bahu Jalan Bahu Jalan

4.10 7.10 7.80 2.10

Gambar 10. Kondisi I


58

Makassar - Sungguminasa Sungguminasa - Makassar


Trotoar Trotoar

10,50 10,50

Gambar 11. Kondisi II

Kondisi I yaitu ruas jalan masih keadaan awal, kapasitas ruas jalan tersebut

tak mampu mendistribusikan arus lalu lintas dengan optimal hingga senin ke-132

sehingga diperlukan pelebaran jalan.

Kondisi II yaitu ruas jalan setelah pelebaran, jumlah lajur lalu intas bertambah

menjadi 3 lajur dalam 1 jalur sehingga kapasitas ruas jalan juga bertambah dari 6000

smp/jam menjadi 9000 smp/jam.

Kec. Arus Kapasitas Kec. Kend.


Derajat
Bebas (C) ( V LV )
Kondisi Kejenuhan
( FV )
smp/jam (DS) km/jam
km/jam
I 53,90 5803,56 1,00 37,99
II 57,34 7867,80 0,74 46.00
(Sumber : Hasil Analisis Program Ruas Jalan KAJI)

Dari hasil pelebaran jalan diperoleh penambahan kapasitas jalan sebesar

2064,24, dari 5803,56 menjadi 7867,80. Derajat kejenuhan pun menjadi lebih rendah

sebesar 0,26 dari 1,00 menjadi 0,74. Tingkat pelayanan dari kategori F menjadi

kategori C yaitu kondisi arus stabil, tetapi kecepatan operasi dan gerak kendaraan

dipengaruhi besar volume lalu lintas, pengemudi dibatasi dalam memilih kecepatan.
59

Karena pertumbuhan jumlah kendaraan yang semakin meningkat maka

kapasitas ruas jalan yang ada semakin rendah dari tahun ke tahun hingga tak mampu

lagi mendistribusikan seluruh arus lalu lintas yang melintas.

Kec. Arus Kapasitas Kec. Kend.


Derajat
Bebas
Kondisi II (C) Kejenuhan ( V LV )
( FV )
smp/jam (DS) km/jam
km/jam
Senin ke-132 57,34 7867,80 0,74 47,00
Senin ke-156 57,34 7867,80 0,83 44,00
Senin ke-195 57,34 7867,80 1,00 32,00
(Sumber : Hasil Analisis Program Ruas Jalan KAJI)

Senin ke-156 derajat kejenuhan (ds) = 0,83 < 1,00. Tingkat pelayanan pada

ruas jalan masuk dalam ketegori D dengan kondisi arus lalu lintas mendekati tidak

stabil, kecepatan operasi menurun relatif cepat akibat hambatan yang timbul dan

kebebasan bergerak relatif kecil, V/C masih dapat ditolerir.

Senin ke- 195 derajat kejenuhan (ds) = 1,00. Tingkat pelayanan pada jalan

tersebut masuk dalam kategori F yaitu Kondisi arus lalu lintas berada dalam keadaan

dipaksakan (forced-flow), kecepatan relatif rendah, arus lalu lintas sering terhenti

sehingga menimbulkan antrian yang panjang. Tingkat kejenuhan jatuh pada senin ke-

195 dengan arus lalu lintas 7866 smp/jam yang terlihat dari derajat kejenuhan yang

diperoleh.

Dari analisis yang ada maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kinerja ruas

Jalan Sultan Alauddin untuk kondisi geometrik sebelum pelebaran atau masih dalam
60

kondisi I hanya mampu mendistribusikan arus lalu lintas hingga senin ke-132 setelah

itu geometrik jalan perlu diperlebar atau dalam kondisi II.

Dalam kondisi II setelah pelebaran ruas Jalan Sultan Alauddin hanya mampu

bertahan mendistribusikan arus lalu lintas yang meningkat hingga senin ke-195.
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan analisa hasil pengambilan data lapangan

pada lokasi ruas Jalan Sultan Alauddin Kota Makassar, dapat diambil kesimpulan

sebagai berikut :

1. Arus lalu lintas pada Jalan Sultan Alauddin untuk kondisi geometrik I masuk

dalam tingkat pelayanan kategori C, pada senin ke-132 tingkat pelayanan masuk

kategori F yang merupakan titik jenuh jalan. Kondisi geometrik II, setelah ruas

jalan diperlebar sebagai solusi alternatif, tingkat pelayanan kategori F menjadi

kategori C hingga mencapai titik jenuh pada senin ke-195 dengan tingkat

pelayanan kategori F.

2. Pertumbuhan arus lalu lintas pada ruas Jalan Sultan Alauddin dengan

menggunakan Program Power Simulation diperkirakan 0,48% per minggu

dengan kecenderungan peningkatan jumlah arus lalu lintas dari tiap minggu.

61
62

B. Saran

1. Menerapkan pola arus distribusi kendaraan yang membuat seluruh kendaraan

lambat dan cepat terpisah dalam satu lajur lalu lintas.

2. Pengaturan arus pada Terminal Mallengkeri khususnya pada saat keluar dan

masuknya kendaraan yang melewati ruas Jalan Sultan Alauddin Kota Makassar.

3. Pemasangan rambu-rambu peringatan dilarang parkir/berhenti di sepanjang sisi

jalan khususnya untuk angkutan kota yang sedang menunggu dan menurungkan

penumpang.

4. Perlu diadakan penelitian lebih lanjut tentang kondisi di ruas Jalan Sultan

Alauddin Kota Makassar.


Mallengkeri
UTARA

Makassar
Terminal
Sungguminasa - Makassar

Makassar - Sungguminasa

Jl. Teduh
Bersinar

200 m

Makassar - Sungguminasa Sungguminasa - Makassar

Bahu Jalan Bahu Jalan

4.10 7.10 7.80 2.10

Makassar - Sungguminasa Sungguminasa - Makassar

1,80 1,40

4.10 7.10 7.80 2.10

Sketsa Lokasi Penelitian


Program Analisis Ruas Jalan KAJI

Program Analisis Power Simulation


DAFTAR PUSTAKA

Abubakar, Iskandar. DKK. 1999. Rekayasa Lalu Lintas. Direktorat Bina Sarana Lalu
Lintas Angkutan Kota. Jakarta.

BAPPEDA Kota Makassar. Infrastruktur Kota Makassar. Transportasi dan Jalan.


(http://www.bappedamakassar.net/infrastruktur_kota.htm, diakses 13
November 2007)

BAPPEDA Kota Makassar. Jumlah Penduduk dan Laju Pertumbuhan Penduduk


dirinci Menurut Kecamatan di Kota Makassar. (http://www.bappeda-
makassar.net/simrenas/simrenas,3,1,1.htm, diakses 13 November 2007)

BAPPEDA Kota Makassar. Jumlah Penduduk di Kota Makassar.


(http://www.bappeda- makassar.net/simrenas_grafik/grafik_simrenas,3,1.htm,
diakses 13 November 2007)

Direktorat Jenderal Bina Marga, Departemen Pekerjaan Umum RI. 1992. Standar
Perencanaan Geometrik Untuk Jalan Perkotaan. Direktorat Pembinaan Jalan
Kota. Jakarta

Direktorat Jenderal Bina Marga, Departemen Pekerjaan Umum RI. 1990. Panduan
Penentuan Klasifikasi Fungsi Jalan di Wilayah Perkotaan. Direktorat
Pembinaan Jalan Kota. Jakarta

Direktorat Jenderal Bina Marga, Departemen Pekerjaan Umum RI. 1990. Panduan
Survey dan Perhitungan Waktu Perjalanan Lalu Lintas. Direktorat Pembinaan
Jalan Kota. Jakarta

Direktorat Jenderal Bina Marga, Departemen Pekerjaan Umum RI. 1997. Manual
Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI). Sweroad dan PT. Bina Karya. Jakarta.

Hendarto, Sri, DKK. Catatan Kuliah Dasar-Dasar Transportasi. Bandung : ITB

63
64

Ing, Tan, Lie & Efendi, Indra, Rachman. 2007. Evaluasi Kinerja Jalan Jendral Ahmad
Yani Depan Pasar Kosambi Bandung. Jurnal Teknik sipil Universitas Kristen
Maranatha. Volume 3 Nomor 1, April 2007 : 1-102. (http://www.jurnalsipil-
ukm.tripod.com/v03n1.html, diakses 04 Agustus 2007)

Khisty C Jotin. & Lall B Kent. 2005. Dasar-Dasar Rekayasa Transportasi. Jilid
Pertama, Edisi Ketiga, Jakarta : Erlangga.

Morlok, Edward, K. 1991. Pengantar Teknik dan Perencanaan Transportasi, Jakarta:


Erlangga.

Munawar, Ahmad. 2005. Program Komputer Untuk Analisis Lalu Lintas. Edisi
Kedua, Yogyakarta : Beta Ofset.

Munawar, Ahmad. 2004. Manajemen Lalu Lintas Perkotaan. Yogyakarta: Beta Ofset.

Ruslan, DKK. 2006. Panduan Penulisan Skripsi dan Tugas Akhir Fakultas Teknik
Universitas Negeri Makassar. Fakultas. Makassar : FT UNM

Sukirman, Silvia.1999. Perkerasan Lentur Jalan Raya. Bandung : Nova

Sukirman, Silvia. 1999. Dasar-Dasar Perencanaan Geometrik Jalan. Bandung :


Nova

Tamin,O,Z. Soedirdjo, Titi, Liliani. Hidayat, Hedi. Kusumawati, Aine. Pengaruh


Perparkiran di Badan Jalan (on-street parking) Terhadap Kinerja Ruas Jalan :
Studi Kasus di DKI-Jakarta. (http://www.digilib.itb.ac.id/files/disk1/37/
jbptitbpp-gdl-grey-1992-48ofyarzta-1845-1992_gl_-8, diakses 23 Juli 2007)

Tamin,O, Z. Rahman, Harmein & Frazila, Russ, Bona. Kajian Kelayakan Jalur Lintas
Selatan di Propinsi Jawa Timur. (http://www.digilib.itb.ac.id/files/disk1/37/
jbptitbpp-gdl-grey-1999-05ofyarzta-1844-1999_gl_-5, diakses 30 Juli 2007)
65

Tamin,O,Z. Metodologi Peramalan Lalu Lintas Perkotaan untuk Negara Berkembang.


(http://www.digilib.itb.ac.id/files/disk1/37/jbptitbpp-gdl-grey-1992-48
ofyarzta-1845-1992_gl_-8.pdf, diakses 23 Juli 2007)

Tamin,O,Z. & Nahdalina. Analisis Dampak Lalu Lintas (ANDALL).


(http://www.digilib.itb.ac.id/files/disk1/37/jbptitbpp-gdl-grey-1998-14
ofyarzta-1845-1998_gl_-4, diakses 30 Juli 2007)

PEMKOT Makassar. Makassar dalam Angka 2005. Transportasi dan Komunikasi.


(http://www.makassarkota.go.id/download/bab_08_transportasi_&_komunika
si.pdf, diakses 13 November 2007)

PEMKOT Makassar, BAPEDDA Kota Makassar, BPS Kota Makassar. Makassar


dalam Angka 2007. (http://www.makassarkota.go.id/download.pdf, diakses
10 Juni 2008)

Wibowo, Sony, Sulaksono, DKK. 2001. Pengantar Rekayasa Jalan. Bandung : ITB
TABEL DATA HAMBATAN SAMPING
Ruas Jalan : Jalan Sultan Alauddin Kota Makassar
Hari / Tanggal : Senin / 3 Maret 2008
Cuaca : Cerah

Periode Kendaraan Pejalan Kendaraan Kendaraan


TOTAL
Waktu Lambat Kaki Parkir/Berhenti Keluar -Masuk
06.00 - 07.00 346 137 67 288 838
06.15 - 07.15 358 127 53 301 839
06.30 - 07.30 478 118 37 326 959
06.45 - 07.45 662 109 29 341 1141
07.00 - 08.00 767 96 24 308 1195
07.15 - 08.15 761 90 24 260 1135
07.30 - 08.30 602 74 23 235 934
07.45 - 08.45 421 82 28 214 745
08.00 - 09.00 272 89 26 193 580

TABEL DATA HAMBATAN SAMPING


Ruas Jalan : Jalan Sultan Alauddin Kota Makassar
Hari / Tanggal : Senin / 3 Maret 2008
Cuaca : Cerah

Periode Kendaraan Pejalan Kendaraan Kendaraan


TOTAL
Waktu Lambat Kaki Parkir/Berhenti Keluar -Masuk
16.00 - 17.00 416 150 45 94 705
16.15 - 17.15 424 145 43 110 722
16.30 - 17.30 396 140 47 177 760
16.45 - 17.45 286 116 44 252 698
17.00 - 18.00 224 127 58 309 718
17.15 - 18.15 188 119 68 328 703
17.30 - 18.30 144 102 64 345 655
17.45 - 18.45 111 110 56 323 600
18.00 - 19.00 87 64 31 268 450
TABEL DATA HAMBATAN SAMPING
Ruas Jalan : Jalan Sultan Alauddin Kota Makassar
Hari / Tanggal : Senin / 10 Maret 2008
Cuaca : Cerah

Periode Kendaraan Pejalan Kendaraan Kendaraan


TOTAL
Waktu Lambat Kaki Parkir/Berhenti Keluar -Masuk
06.00 - 07.00 339 141 52 254 786
06.15 - 07.15 360 129 46 240 775
06.30 - 07.30 506 132 49 348 1035
06.45 - 07.45 677 119 40 342 1178
07.00 - 08.00 739 100 26 315 1180
07.15 - 08.15 734 86 28 289 1137
07.30 - 08.30 549 83 27 268 927
07.45 - 08.45 343 76 22 246 687
08.00 - 09.00 186 80 25 153 444

TABEL DATA HAMBATAN SAMPING


Ruas Jalan : Jalan Sultan Alauddin Kota Makassar
Hari / Tanggal : Senin / 10 Maret 2008
Cuaca : Cerah

Periode Kendaraan Pejalan Kendaraan Kendaraan


TOTAL
Waktu Lambat Kaki Parkir/Berhenti Keluar -Masuk
16.00 - 17.00 601 143 51 276 1071
16.15 - 17.15 532 141 46 310 1029
16.30 - 17.30 434 142 40 331 947
16.45 - 17.45 312 118 44 354 828
17.00 - 18.00 184 120 43 311 658
17.15 - 18.15 165 112 60 286 623
17.30 - 18.30 139 109 58 258 564
17.45 - 18.45 114 98 54 216 482
18.00 - 19.00 101 92 36 195 424
TABEL DATA HAMBATAN SAMPING
Ruas Jalan : Jalan Sultan Alauddin Kota Makassar
Hari / Tanggal : Senin / 17 Maret 2008
Cuaca : Cerah

Periode Kendaraan Pejalan Kendaraan Kendaraan


TOTAL
Waktu Lambat Kaki Parkir/Berhenti Keluar -Masuk
06.00 - 07.00 288 142 60 195 685
06.15 - 07.15 311 132 52 298 793
06.30 - 07.30 322 122 43 340 827
06.45 - 07.45 486 113 40 325 964
07.00 - 08.00 514 95 34 296 939
07.15 - 08.15 564 83 30 268 945
07.30 - 08.30 560 92 26 208 886
07.45 - 08.45 442 88 31 220 781
08.00 - 09.00 457 73 28 198 756

TABEL DATA HAMBATAN SAMPING


Ruas Jalan : Jalan Sultan Alauddin Kota Makassar
Hari / Tanggal : Senin / 17 Maret 2008
Cuaca : Mendung

Periode Kendaraan Pejalan Kendaraan Kendaraan


TOTAL
Waktu Lambat Kaki Parkir/Berhenti Keluar -Masuk
16.00 - 17.00 526 163 52 98 839
16.15 - 17.15 439 140 47 121 747
16.30 - 17.30 342 148 46 178 714
16.45 - 17.45 200 132 48 265 645
17.00 - 18.00 151 117 49 315 632
17.15 - 18.15 136 120 71 335 662
17.30 - 18.30 128 109 68 356 661
17.45 - 18.45 120 89 54 329 592
18.00 - 19.00 104 82 40 198 424
TABEL DATA HAMBATAN SAMPING
Ruas Jalan : Jalan Sultan Alauddin Kota Makassar
Hari / Tanggal : Senin / 24 Maret 2008
Cuaca : Cerah

Periode Kendaraan Pejalan Kendaraan Kendaraan


TOTAL
Waktu Lambat Kaki Parkir/Berhenti Keluar -Masuk
06.00 - 07.00 215 120 72 248 655
06.15 - 07.15 256 138 59 244 697
06.30 - 07.30 321 124 40 300 785
06.45 - 07.45 454 108 31 359 952
07.00 - 08.00 577 90 37 322 1026
07.15 - 08.15 568 83 25 286 962
07.30 - 08.30 513 87 29 219 848
07.45 - 08.45 358 76 24 228 686
08.00 - 09.00 223 81 28 183 515

TABEL DATA HAMBATAN SAMPING


Ruas Jalan : Jalan Sultan Alauddin Kota Makassar
Hari / Tanggal : Senin / 24 Maret 2008
Cuaca : Hujan

Periode Kendaraan Pejalan Kendaraan Kendaraan


TOTAL
Waktu Lambat Kaki Parkir/Berhenti Keluar -Masuk
16.00 - 17.00 367 124 51 86 628
16.15 - 17.15 295 109 43 121 568
16.30 - 17.30 172 115 42 188 517
16.45 - 17.45 137 98 49 252 536
17.00 - 18.00 104 90 56 314 564
17.15 - 18.15 92 97 65 308 562
17.30 - 18.30 107 84 59 322 572
17.45 - 18.45 89 81 53 312 535
18.00 - 19.00 77 79 40 255 451
TABEL PREDIKSI DATA ARUS LALU LINTAS DENGAN PROGRAM POWER SIMULATION
( Dalam Satuan Mobil Penumpang )

Senin Arus Lalin Senin Arus Lalin Senin Arus Lalin Senin Arus Lalin Senin Arus Lalin
ke- (smp/jam) ke- (smp/jam) ke- (smp/jam) ke- (smp/jam) ke- (smp/jam)
0 3078 26 3488 51 3934 76 4437 101 5004
1 3092 27 3505 52 3953 77 4458 102 5028
2 3107 28 3522 53 3972 78 4480 103 5052
3 3122 29 3539 54 3991 79 4501 104 5077
4 3137 30 3556 55 4010 80 4523 105 5101
5 3153 31 3573 56 4030 81 4545 106 5126
6 3168 32 3590 57 4049 82 4567 107 5150
7 3183 33 3607 58 4068 83 4589 108 5175
8 3198 34 3625 59 4088 84 4611 109 5200
9 3214 35 3642 60 4108 85 4633 110 5225
10 3229 36 3660 61 4128 86 4655 111 5251
11 3245 37 3677 62 4148 87 4678 112 5276
12 3261 38 3695 63 4168 88 4700 113 5301
13 3276 39 3713 64 4188 89 4723 114 5327
14 3292 40 3731 65 4208 90 4746 115 5353
15 3308 41 3749 66 4229 91 4769 116 5378
16 3324 42 3767 67 4249 92 4792 117 5404
17 3340 43 3785 68 4269 93 4815 118 5430
18 3356 44 3803 69 4290 94 4832 119 5457
19 3372 45 3822 70 4310 95 4861 120 5483
20 3389 46 3840 71 4331 96 4885 121 5509
21 3405 47 3859 72 4352 97 4908 122 5536
22 3421 48 3877 73 4373 98 4932 123 5563
23 3438 49 3896 74 4394 99 4956 124 5589
24 3454 50 3915 75 4415 100 4980 125 5616
25 3471
TABEL PREDIKSI DATA ARUS LALU LINTAS DENGAN PROGRAM POWER SIMULATION
( Dalam Satuan Mobil Penumpang )

Senin Arus Lalin Senin Arus Lalin Senin Arus Lalin Senin Arus Lalin Senin Arus Lalin
ke- (smp/jam) ke- (smp/jam) ke- (smp/jam) ke- (smp/jam) ke- (smp/jam)
126 5644 251 10299 276 11616 301 13101 326 14776
127 5671 252 10349 277 11672 302 13164 327 14847
128 5698 253 10399 278 11728 303 13228 328 14919
129 5726 254 10449 279 11785 304 13291 329 14991
130 5753 255 10499 280 11842 305 13356 330 15063
131 5781 256 10550 281 11899 306 13420 331 15136
132 5809 257 10601 282 11956 307 13485 332 15209
133 5837 258 10652 283 12014 308 13550 333 15282
134 5865 259 10703 284 12072 309 13615 334 15356
135 5893 260 10755 285 12130 310 13681 335 15430
136 5922 261 10807 286 12189 311 13747 336 15504
137 5950 262 10859 287 12247 312 13813 337 15579
138 5980 263 10911 288 12306 313 13880 338 15654
139 6008 264 10965 289 12366 314 13947 339 15730
140 6037 265 11017 290 12425 315 14014 340 15806
141 6066 266 11070 291 12485 316 14082 341 15882
142 6095 267 11124 292 12546 317 14150 342 15959
143 6125 268 11177 293 12606 318 14218 343 16035
144 6154 269 11231 294 12667 319 14286 344 16113
145 6184 270 11285 295 12728 320 14355 345 16191
146 6214 271 11340 296 12789 321 14425 346 16269
147 6244 272 11394 297 12851 322 14494 347 16347
148 6274 273 11449 298 12913 323 14564 348 16426
149 6304 274 11509 299 12975 324 14634 349 16505
150 6335 275 11560 300 13038 325 14705 350 16585
TABEL PREDIKSI DATA ARUS LALU LINTAS DENGAN PROGRAM POWER SIMULATION
( Dalam Satuan Mobil Penumpang )

Senin Arus Lalin Senin Arus Lalin Senin Arus Lalin Senin Arus Lalin Senin Arus Lalin
ke- (smp/jam) ke- (smp/jam) ke- (smp/jam) ke- (smp/jam) ke- (smp/jam)
351 16665 376 18795 401 21198 426 23908 451 26965
352 16745 377 18886 402 21301 427 24024 452 27095
353 16826 378 18977 403 21403 428 24140 453 27226
354 16907 379 19069 404 21507 429 24256 454 27357
355 16989 380 19161 405 21610 430 24373 455 27489
356 17071 381 19253 406 21715 431 24491 456 27622
357 17153 382 19346 407 21819 432 24609 457 27755
358 17236 383 19439 408 21925 433 24728 458 27889
359 17319 384 19533 409 22030 434 24847 459 28023
360 17403 385 19627 410 22137 435 24967 460 28159
361 17486 386 19722 411 22243 436 25087 461 28295
362 17571 387 19817 412 22351 437 25208 462 28431
363 17656 388 19913 413 22459 438 25330 463 28568
364 17741 389 20009 414 22567 439 25452 464 28706
365 17826 390 20105 415 22676 440 25575 465 28844
366 17912 391 20202 416 22785 441 25698 466 28984
367 17999 392 20300 417 22895 442 25822 467 29123
368 18086 393 20398 418 23006 443 25947 468 29264
369 18173 394 20496 419 23116 444 26072 469 29405
370 18260 395 20595 420 23228 445 26198 470 29547
371 18349 396 20694 421 23340 446 26324 471 29689
372 18437 397 20794 422 23453 447 26451 472 29833
373 18526 398 20895 423 23566 448 26579 473 29977
374 18615 399 20995 424 23679 449 26707 474 30121
375 18705 400 21097 425 23794 450 26836 475 30266
TABEL PREDIKSI DATA ARUS LALU LINTAS DENGAN PROGRAM POWER SIMULATION
( Dalam Satuan Mobil Penumpang )

Senin Arus Lalin Senin Arus Lalin


ke- (smp/jam) ke- (smp/jam)
476 30412 501 34301
477 30559 502 34466 GRAFIK PREDIKSI ARUS LALU LINTAS
478 30707 503 34632 DENGAN PROGRAM POWER SIMULATION
479 30855 504 34799
480 31004 505 34967 42000
481 31153 506 35136 39000
482 31303 507 35305 36000

483 31454 508 35476 33000

Arus Lalu Lintas (smp/jam)


484 31606 509 35647 30000
27000
485 31759 510 35819
24000
486 31912 511 35992
21000
487 32066 512 36165
18000
488 32220 513 36340 15000
489 32376 514 36515 12000
490 32532 515 36691 9000
491 32689 516 36868 6000
492 32847 517 37046 3000
493 33005 518 37225 0

26
52
78
0

130

182

312

442

494
104

156

208
234
260
286

338
364
390
416

468

520
546
494 33164 519 37404
495 33324 520 37585 Minggu ke-
496 33485
497 33647
498 33809
499 33972
500 34136
TABEL KECEPATAN RATA-RATA RUANG KENDARAAN ( Vs )

Lokasi : Jl. Sultan Alauddin Kota Makassar


Arah : Selatan - Utara ( Sungguminasa - Makassar )

MC LV HV
No. JARAK UM
SpM SpMG AUP MP PU/TK BUSB T 2 AS T 3 AS
1 50 6,79 5,38 5,55 7,15 7,85 9,52 5,12 7,19 7,48
2 50 4,08 5,74 7,01 5,70 6,53 6,23 5,00 8,47 12,39
3 50 6,59 7,16 7,26 7,19 9,32 5,62 6,36 7,50 10,76
4 50 5,19 7,38 8,99 5,51 5,02 7,88 7,33 5,62 12,00
5 50 5,65 5,63 6,70 5,42 5,41 5,66 5,34 5,95 16,09
6 50 5,81 5,98 7,94 6,53 6,07 5,35 6,48 9,53 11,46
7 50 4,53 8,39 6,61 6,41 4,63 7,98 7,01 6,88 9,20
8 50 2,90 4,91 7,26 5,18 5,69 5,76 6,06 5,86 9,37
9 50 5,07 6,21 8,19 5,59 3,92 5,72 5,65 5,35 10,16
10 50 4,17 6,66 7,79 4,99 5,69 5,69 6,11 7,37 8,51
TOTAL
50,78 63,44 73,3 59,67 60,13 65,41 60,46 69,72 107,42
( Detik )
Vs
35,45 28,37 24,56 30,17 29,94 27,52 29,77 25,82 16,76
( Km/Jam )

TABEL KECEPATAN RATA-RATA RUANG KENDARAAN ( Vs )

Lokasi : Jl. Sultan Alauddin Kota Makassar


Arah : Utara - Selatan ( Makassar - Sungguminasa )

MC LV HV
No. JARAK UM
SpM SpMG AUP MP PU/TK BUSB T 2 AS T 3 AS
1 50 3,87 5,07 6,67 5,13 4,60 5,46 5,64 8,88 9,57
2 50 3,71 5,58 5,36 5,43 5,68 6,26 8,01 6,36 16,23
3 50 5,17 5,14 5,00 4,85 4,63 4,50 5,57 9,50 10,83
4 50 3,93 7,40 6,45 4,86 6,61 4,92 4,51 11,66 9,06
5 50 5,19 8,07 5,67 4,69 6,50 5,42 5,11 6,44 9,91
6 50 5,85 8,15 4,69 4,28 6,16 7,35 5,52 3,82 8,64
7 50 5,58 8,61 4,83 4,87 5,26 6,91 6,35 5,45 14,17
8 50 3,15 6,88 6,66 4,49 6,29 5,56 5,63 5,19 10,23
9 50 4,08 6,37 4,90 5,15 5,27 5,90 6,96 5,68 9,26
10 50 5,76 8,28 6,46 5,29 4,65 7,65 6,12 6,68 8,33
TOTAL
46,29 69,55 56,69 49,04 55,65 59,93 59,42 69,66 106,23
( Detik )
Vs
38,89 25,88 31,75 36,70 32,35 30,04 30,29 25,84 16,94
( Km/Jam )
TABEL KECEPATAN RATA-RATA WAKTU KENDARAAN (Vt )

Lokasi : Jl. Sultan Alauddin Kota Makassar


Arah : Selatan - Utara ( Sungguminasa - Makassar )

MC LV HV
No. JARAK UM
SpM SpMG AUP MP PU/TK BUSB T 2 AS T 3 AS
1 50 26,51 33,46 32,43 25,17 22,93 18,91 35,16 25,03 24,06
2 50 44,12 31,36 25,68 31,58 27,57 28,89 36,00 21,25 14,53
3 50 27,31 25,14 24,79 25,03 19,31 32,03 28,30 24,00 16,73
4 50 34,68 24,39 20,02 32,67 35,86 22,84 24,56 32,03 15,00
5 50 31,86 31,97 26,87 33,21 33,27 31,80 33,71 30,25 11,19
6 50 30,98 30,10 22,67 27,57 29,65 33,64 27,78 18,89 15,71
7 50 39,74 21,45 27,23 28,08 38,88 22,56 25,68 26,16 19,57
8 50 62,07 36,66 24,79 34,75 31,63 31,25 29,70 30,72 19,21
9 50 35,50 28,99 21,98 32,20 45,92 31,47 31,86 33,64 17,72
10 50 43,17 27,03 23,11 36,07 31,63 31,63 29,46 24,42 21,15
TOTAL
375,94 290,54 249,57 306,33 316,65 285,03 302,2 266,4 174,86
( Km/Jam )
Vt
37,59 29,05 24,96 30,63 31,67 28,50 30,22 26,64 17,49
( Km/Jam )

TABEL KECEPATAN RATA-RATA WAKTU KENDARAAN (Vt )

Lokasi : Jl. Sultan Alauddin Kota Makassar


Arah : Utara - Selatan ( Makassar - Sungguminasa )

MC LV HV
No. JARAK UM
SpM SpMG AUP MP PU/TK BUSB T 2 AS T 3 AS
1 50 46,51 35,50 26,99 35,09 39,13 32,97 31,91 20,27 18,81
2 50 48,52 32,26 33,58 33,15 31,69 28,75 22,47 28,30 11,09
3 50 34,82 35,02 36,00 37,11 38,88 40,00 32,32 18,95 16,62
4 50 45,80 24,32 27,91 37,04 27,23 36,59 39,91 15,44 19,87
5 50 34,68 22,30 31,75 38,38 27,69 33,21 35,23 27,95 18,16
6 50 30,77 22,09 38,38 42,06 29,22 24,49 32,61 47,12 20,83
7 50 32,26 20,91 37,27 36,96 34,22 26,05 28,35 33,03 12,70
8 50 57,14 26,16 27,03 40,09 28,62 32,37 31,97 34,68 17,60
9 50 44,12 28,26 36,73 34,95 34,16 30,51 25,86 31,69 19,44
10 50 31,25 21,74 27,86 34,03 38,71 23,53 29,41 26,95 21,61
TOTAL
405,87 268,56 323,49 368,85 329,54 308,47 310,04 284,37 176,73
( Km/Jam )
Vt
40,59 26,86 32,35 36,89 32,95 30,85 31,00 28,44 17,67
( Km/Jam )
TABEL DATA LAPANGAN VOLUME LALU LINTAS
( Dalam Satuan Mobil Penumpang )
Ruas Jalan : Jalan Sultan Alauddin Kota Makassar
Hari / Tanggal : Senin / 3 Maret 2008
Cuaca : Cerah

MC LV HV
TOTAL
Periode Waktu SPM SPMG AUP MP PU/MB BUSB T 2AS T 3AS T 4AS
0,25 1,00 1,20 (SMP)
06.00 - 06.15 105 37 35 91 6 5 8 5 0 292
06.15 - 06.30 182 29 38 144 20 2 13 4 0 432
06.30 - 06.45 239 19 30 189 17 2 11 2 0 509
06.45 - 07.00 328 19 21 177 20 5 13 4 0 587
07.00 - 07.15 370 19 24 226 19 5 19 4 0 685
07.15 - 07.30 444 16 27 220 18 2 26 5 0 758
07.30 - 07.45 432 11 41 198 29 0 25 4 0 739
07.45 - 08.00 450 7 76 200 25 6 32 4 0 800
08.00 - 08.15 374 7 55 272 29 4 36 4 0 780
08.15 - 06.30 254 4 44 229 26 5 26 4 0 592
08.30 - 06.45 240 5 70 223 54 5 26 1 0 625
08.45 - 09.00 247 3 51 274 40 6 36 1 1 658
Keterangan : MC : Sepeda Motor, Sepeda Motor Gandengan
LV : Angkutan Umum Penumpang (Mikrolet), Mobil Pribadi, Pick Up, Mobil Barang
HV : Bus Besar, Truck 2 As atau Lebih.
UM : Kendaraan tak bermotor ( Sepeda, Becak, dll )
TABEL DATA LAPANGAN VOLUME LALU LINTAS
( Dalam Satuan Mobil Penumpang )
Ruas Jalan : Jalan Sultan Alauddin Kota Makassar
Hari / Tanggal : Senin / 10 Maret 2008
Cuaca : Cerah

MC LV HV
TOTAL
Periode Waktu SPM SPMG AUP MP PU/MB BUSB T 2AS T 3AS T 4AS
0,25 1,00 1,20 (SMP)
06.00 - 06.15 102 27 36 87 13 4 11 7 0 286
06.15 - 06.30 169 26 25 156 20 6 8 2 0 412
06.30 - 06.45 259 19 31 183 25 2 16 1 0 536
06.45 - 07.00 348 19 23 231 269 5 24 2 0 920
07.00 - 07.15 396 20 26 276 48 4 18 1 0 789
07.15 - 07.30 370 10 29 206 19 2 16 1 0 653
07.30 - 07.45 436 12 25 181 31 1 24 5 0 715
07.45 - 08.00 451 12 37 148 38 5 30 6 0 727
08.00 - 08.15 403 9 41 177 33 4 40 2 0 709
08.15 - 06.30 338 5 51 186 40 8 36 2 0 667
08.30 - 06.45 306 3 38 182 46 6 40 4 0 624
08.45 - 09.00 251 4 42 148 28 6 28 8 0 516
Keterangan : MC : Sepeda Motor, Sepeda Motor Gandengan
LV : Angkutan Umum Penumpang (Mikrolet), Mobil Pribadi, Pick Up, Mobil Barang
HV : Bus Besar, Truck 2 As atau Lebih.
UM : Kendaraan tak bermotor ( Sepeda, Becak, dll )
TABEL DATA LAPANGAN VOLUME LALU LINTAS
( Dalam Satuan Mobil Penumpang )
Ruas Jalan : Jalan Sultan Alauddin Kota Makassar
Hari / Tanggal : Senin / 17 Maret 2008
Cuaca : Cerah

MC LV HV
TOTAL
Periode Waktu SPM SPMG AUP MP PU/MB BUSB T 2AS T 3AS T 4AS
0,25 1,00 1,20 (SMP)
06.00 - 06.15 95 23 42 112 14 4 10 1 0 300
06.15 - 06.30 160 20 30 184 10 8 7 4 0 422
06.30 - 06.45 205 12 23 198 16 2 10 0 0 465
06.45 - 07.00 295 14 33 254 11 6 12 1 0 626
07.00 - 07.15 331 14 19 239 14 2 14 2 0 635
07.15 - 07.30 297 7 25 238 23 5 11 1 0 606
07.30 - 07.45 340 8 34 237 19 2 16 4 1 661
07.45 - 08.00 466 5 49 194 17 2 30 4 0 766
08.00 - 08.15 380 5 72 326 36 2 30 2 0 853
08.15 - 06.30 247 5 58 232 37 8 19 5 0 612
08.30 - 06.45 221 4 54 206 39 7 42 2 0 575
08.45 - 09.00 219 6 55 218 37 4 37 5 0 580
Keterangan : MC : Sepeda Motor, Sepeda Motor Gandengan
LV : Angkutan Umum Penumpang (Mikrolet), Mobil Pribadi, Pick Up, Mobil Barang
HV : Bus Besar, Truck 2 As atau Lebih.
UM : Kendaraan tak bermotor ( Sepeda, Becak, dll )
TABEL DATA LAPANGAN VOLUME LALU LINTAS
( Dalam Satuan Mobil Penumpang )
Ruas Jalan : Jalan Sultan Alauddin Kota Makassar
Hari / Tanggal : Senin /24 Maret 2008
Cuaca : Cerah

MC LV HV
TOTAL
Periode Waktu SPM SPMG AUP MP PU/MB BUSB T 2AS T 3AS T 4AS
0,25 1,00 1,20 (SMP)
06.00 - 06.15 89 29 35 86 14 6 16 7 0 282
06.15 - 06.30 161 26 40 160 15 5 14 0 0 421
06.30 - 06.45 224 16 26 168 13 5 10 2 0 464
06.45 - 07.00 317 16 32 223 21 5 11 0 0 624
07.00 - 07.15 356 14 25 186 71 7 19 2 0 681
07.15 - 07.30 570 9 19 274 34 2 19 5 0 932
07.30 - 07.45 418 8 38 231 14 2 16 2 0 729
07.45 - 08.00 458 9 33 241 15 4 17 4 0 780
08.00 - 08.15 312 9 44 180 16 5 32 2 0 600
08.15 - 06.30 293 4 26 170 43 8 30 10 0 584
08.30 - 06.45 258 5 25 149 31 4 34 4 0 509
08.45 - 09.00 260 4 43 180 30 5 44 4 0 570
Keterangan : MC : Sepeda Motor, Sepeda Motor Gandengan
LV : Angkutan Umum Penumpang (Mikrolet), Mobil Pribadi, Pick Up, Mobil Barang
HV : Bus Besar, Truck 2 As atau Lebih.
UM : Kendaraan tak bermotor ( Sepeda, Becak, dll )
TABEL DATA LAPANGAN VOLUME LALU LINTAS
( Dalam Satuan Mobil Penumpang )
Ruas Jalan : Jalan Sultan Alauddin Kota Makassar
Hari / Tanggal : Senin / 3 Maret 2008
Cuaca : Cerah

MC LV HV
TOTAL
Periode Waktu SPM SPMG AUP MP PU/MB BUSB T 2AS T 3AS T 4AS
0,25 1,00 1,20 (SMP)
16.00 - 16.15 267 2 50 212 46 6 44 8 1 637
16.15 - 16.30 246 1 47 182 42 5 34 6 0 562
16.30 - 16.45 273 1 45 135 48 7 42 5 0 556
16.45 - 17.00 325 2 67 163 50 6 36 6 0 654
17.00 - 17.15 272 1 50 150 43 2 40 4 0 561
17.15 - 17.30 287 0 23 318 34 1 29 4 4 699
17.30 - 17.45 288 1 42 363 31 2 31 6 1 766
17.45 - 18.00 298 1 42 303 43 1 38 4 0 729
18.00 - 18.15 276 1 65 321 31 1 42 1 0 738
18.15 - 18.30 261 1 41 295 22 0 19 7 0 646
18.30 - 18.45 213 0 58 241 19 0 30 0 1 562
18.45 - 19.00 231 1 30 252 16 0 20 2 0 553
Keterangan : MC : Sepeda Motor, Sepeda Motor Gandengan
LV : Angkutan Umum Penumpang (Mikrolet), Mobil Pribadi, Pick Up, Mobil Barang
HV : Bus Besar, Truck 2 As atau Lebih.
UM : Kendaraan tak bermotor ( Sepeda, Becak, dll )
TABEL DATA LAPANGAN VOLUME LALU LINTAS
( Dalam Satuan Mobil Penumpang )
Ruas Jalan : Jalan Sultan Alauddin Kota Makassar
Hari / Tanggal : Senin / 10 Maret 2008
Cuaca : Cerah

MC LV HV
TOTAL
Periode Waktu SPM SPMG AUP MP PU/MB BUSB T 2AS T 3AS T 4AS
0,25 1,00 1,20 (SMP)
16.00 - 16.15 232 2 39 217 79 6 49 4 0 627
16.15 - 16.30 288 1 41 231 46 2 31 7 0 648
16.30 - 16.45 325 2 47 207 56 7 60 11 0 715
16.45 - 17.00 379 1 43 241 46 2 52 4 0 767
17.00 - 17.15 320 1 34 173 43 5 31 14 0 621
17.15 - 17.30 382 1 42 196 55 2 31 2 0 712
17.30 - 17.45 290 1 34 185 40 4 35 6 0 595
17.45 - 18.00 307 1 62 233 46 1 36 2 0 688
18.00 - 18.15 297 1 33 192 41 0 31 6 0 601
18.15 - 18.30 282 1 35 199 35 4 24 7 0 586
18.30 - 18.45 274 1 26 156 37 0 37 6 0 537
18.45 - 19.00 290 1 31 169 35 0 24 2 0 552
Keterangan : MC : Sepeda Motor, Sepeda Motor Gandengan
LV : Angkutan Umum Penumpang (Mikrolet), Mobil Pribadi, Pick Up, Mobil Barang
HV : Bus Besar, Truck 2 As atau Lebih.
UM : Kendaraan tak bermotor ( Sepeda, Becak, dll )
TABEL DATA LAPANGAN VOLUME LALU LINTAS
( Dalam Satuan Mobil Penumpang )
Ruas Jalan : Jalan Sultan Alauddin Kota Makassar
Hari / Tanggal : Senin / 17 Maret 2008
Cuaca : Mendung

MC LV HV
TOTAL
Periode Waktu SPM SPMG AUP MP PU/MB BUSB T 2AS T 3AS T 4AS
0,25 1,00 1,20 (SMP)
16.00 - 16.15 260 4 43 233 57 8 53 5 0 663
16.15 - 16.30 276 3 39 212 57 1 47 4 0 638
16.30 - 16.45 306 4 43 248 53 6 42 2 0 705
16.45 - 17.00 289 3 32 240 65 4 37 7 0 677
17.00 - 17.15 326 2 54 249 48 6 30 6 0 721
17.15 - 17.30 298 3 40 245 54 2 44 2 0 689
17.30 - 17.45 291 2 54 222 35 2 49 4 0 659
17.45 - 18.00 252 3 45 228 44 2 32 7 0 614
18.00 - 18.15 260 3 40 194 43 0 48 6 0 594
18.15 - 18.30 231 3 32 190 34 2 30 1 0 524
18.30 - 18.45 202 2 26 138 18 1 25 4 1 417
18.45 - 19.00 238 1 34 197 31 0 32 7 0 540
Keterangan : MC : Sepeda Motor, Sepeda Motor Gandengan
LV : Angkutan Umum Penumpang (Mikrolet), Mobil Pribadi, Pick Up, Mobil Barang
HV : Bus Besar, Truck 2 As atau Lebih.
UM : Kendaraan tak bermotor ( Sepeda, Becak, dll )
TABEL DATA LAPANGAN VOLUME LALU LINTAS
( Dalam Satuan Mobil Penumpang )
Ruas Jalan : Jalan Sultan Alauddin Kota Makassar
Hari / Tanggal : Senin /24 Maret 2008
Cuaca : Hujan

MC LV HV
TOTAL
Periode Waktu SPM SPMG AUP MP PU/MB BUSB T 2AS T 3AS T 4AS
0,25 1,00 1,20 (SMP)
16.00 - 16.15 201 2 43 184 50 6 43 1 0 530
16.15 - 16.30 246 2 32 212 49 1 24 4 0 570
16.30 - 16.45 276 2 44 279 78 6 34 8 0 726
16.45 - 17.00 253 2 49 221 29 8 46 2 0 611
17.00 - 17.15 243 2 42 241 48 1 31 6 0 614
17.15 - 17.30 254 2 50 211 27 6 41 2 0 593
17.30 - 17.45 287 2 46 279 57 2 40 6 0 718
17.45 - 18.00 239 1 60 208 29 1 30 8 0 577
18.00 - 18.15 257 1 29 170 26 0 24 4 0 510
18.15 - 18.30 252 1 49 151 16 1 31 10 0 511
18.30 - 18.45 231 1 28 147 26 0 19 5 0 456
18.45 - 19.00 235 1 31 132 23 0 17 6 0 444
Keterangan : MC : Sepeda Motor, Sepeda Motor Gandengan
LV : Angkutan Umum Penumpang (Mikrolet), Mobil Pribadi, Pick Up, Mobil Barang
HV : Bus Besar, Truck 2 As atau Lebih.
UM : Kendaraan tak bermotor ( Sepeda, Becak, dll )
TABEL DATA LAPANGAN VOLUME LALU LINTAS

Ruas Jalan : Jalan Sultan Alauddin Kota Makassar


Hari / Tanggal : Senin / 3 Maret 2008
Cuaca : Cerah

Periode MC LV HV
UM TOTAL
Waktu SPM SPMG AUP MP PU/MB BUSB T 2AS T 3AS T 4AS
06.00 - 06.15 419 148 35 91 6 4 7 4 0 105 819
06.15 - 06.30 729 116 38 144 20 2 11 3 0 99 1162
06.30 - 06.45 956 75 30 189 17 2 9 2 0 57 1337
06.45 - 07.00 1313 76 21 177 20 4 11 3 0 85 1710
07.00 - 07.15 1480 75 24 226 19 4 16 3 0 117 1964
07.15 - 07.30 1774 64 27 220 18 2 22 4 0 219 2350
07.30 - 07.45 1727 42 41 198 29 0 21 3 0 241 2302
07.45 - 08.00 1800 28 76 200 25 5 27 3 0 190 2354
08.00 - 08.15 1497 28 55 272 29 3 30 3 0 111 2028
08.15 - 06.30 1016 17 44 229 26 4 22 3 0 60 1421
08.30 - 06.45 961 21 70 223 54 4 22 1 0 60 1416
08.45 - 09.00 986 10 51 274 40 5 30 1 1 41 1439
Keterangan : MC : Sepeda Motor, Sepeda Motor Gandengan
LV : Angkutan Umum Penumpang (Mikrolet), Mobil Pribadi, Pick Up, Mobil Barang
HV : Bus Besar, Truck 2 As atau Lebih.
UM : Kendaraan tak bermotor ( Sepeda, Becak, dll )
TABEL DATA LAPANGAN VOLUME LALU LINTAS

Ruas Jalan : Jalan Sultan Alauddin Kota Makassar


Hari / Tanggal : Senin / 10 Maret 2008
Cuaca : Cerah

Periode MC LV HV
UM TOTAL
Waktu SPM SPMG AUP MP PU/MB BUSB T 2AS T 3AS T 4AS
06.00 - 06.15 406 107 36 87 13 3 9 6 0 74 741
06.15 - 06.30 674 104 25 156 20 5 7 2 0 69 1062
06.30 - 06.45 1034 77 31 183 25 2 13 1 0 78 1444
06.45 - 07.00 1390 75 23 231 269 4 20 2 0 118 2132
07.00 - 07.15 1583 80 26 276 48 3 15 1 0 95 2127
07.15 - 07.30 1480 39 29 206 19 2 13 1 0 215 2004
07.30 - 07.45 1745 46 25 181 31 1 20 4 0 249 2302
07.45 - 08.00 1803 49 37 148 38 4 25 5 0 180 2289
08.00 - 08.15 1613 37 41 177 33 3 33 2 0 90 2029
08.15 - 06.30 1351 21 51 186 40 7 30 2 0 30 1718
08.30 - 06.45 1225 12 38 182 46 5 33 3 0 43 1587
08.45 - 09.00 1005 17 42 148 28 5 23 7 0 23 1298
Keterangan : MC : Sepeda Motor, Sepeda Motor Gandengan
LV : Angkutan Umum Penumpang (Mikrolet), Mobil Pribadi, Pick Up, Mobil Barang
HV : Bus Besar, Truck 2 As atau Lebih.
UM : Kendaraan tak bermotor ( Sepeda, Becak, dll )
TABEL DATA LAPANGAN VOLUME LALU LINTAS

Ruas Jalan : Jalan Sultan Alauddin Kota Makassar


Hari / Tanggal : Senin / 17 Maret 2008
Cuaca : Cerah

Periode MC LV HV
UM TOTAL
Waktu SPM SPMG AUP MP PU/MB BUSB T 2AS T 3AS T 4AS
06.00 - 06.15 379 91 42 112 14 3 8 1 0 77 727
06.15 - 06.30 638 78 30 184 10 7 6 3 0 72 1028
06.30 - 06.45 818 46 23 198 16 2 8 0 0 52 1163
06.45 - 07.00 1180 55 33 254 11 5 10 1 0 87 1636
07.00 - 07.15 1322 55 19 239 14 2 12 2 0 100 1765
07.15 - 07.30 1186 27 25 238 23 4 9 1 0 83 1596
07.30 - 07.45 1359 33 34 237 19 2 13 3 1 202 1903
07.45 - 08.00 1862 19 49 194 17 2 25 3 0 102 2273
08.00 - 08.15 1520 18 72 326 36 2 25 2 0 177 2178
08.15 - 06.30 988 21 58 232 37 7 16 4 0 79 1442
08.30 - 06.45 882 17 54 206 39 6 35 2 0 84 1325
08.45 - 09.00 877 22 55 218 37 3 31 4 0 117 1364
Keterangan : MC : Sepeda Motor, Sepeda Motor Gandengan
LV : Angkutan Umum Penumpang (Mikrolet), Mobil Pribadi, Pick Up, Mobil Barang
HV : Bus Besar, Truck 2 As atau Lebih.
UM : Kendaraan tak bermotor ( Sepeda, Becak, dll )
TABEL DATA LAPANGAN VOLUME LALU LINTAS

Ruas Jalan : Jalan Sultan Alauddin Kota Makassar


Hari / Tanggal : Senin / 24 Maret 2008
Cuaca : Cerah

Periode MC LV HV
UM TOTAL
Waktu SPM SPMG AUP MP PU/MB BUSB T 2AS T 3AS T 4AS
06.00 - 06.15 354 117 35 86 14 5 13 6 0 52 682
06.15 - 06.30 642 104 40 160 15 4 12 0 0 49 1026
06.30 - 06.45 897 62 26 168 13 4 8 2 0 57 1237
06.45 - 07.00 1266 64 32 223 21 4 9 0 0 57 1676
07.00 - 07.15 1425 57 25 186 71 6 16 2 0 93 1881
07.15 - 07.30 2279 37 19 274 34 2 16 4 0 114 2779
07.30 - 07.45 1672 30 38 231 14 2 13 2 0 190 2192
07.45 - 08.00 1830 37 33 241 15 3 14 3 0 180 2356
08.00 - 08.15 1248 34 44 180 16 4 27 2 0 84 1639
08.15 - 06.30 1171 17 26 170 43 7 25 8 0 59 1526
08.30 - 06.45 1033 21 25 149 31 3 28 3 0 35 1328
08.45 - 09.00 1039 17 43 180 30 4 37 3 0 45 1398
Keterangan : MC : Sepeda Motor, Sepeda Motor Gandengan
LV : Angkutan Umum Penumpang (Mikrolet), Mobil Pribadi, Pick Up, Mobil Barang
HV : Bus Besar, Truck 2 As atau Lebih.
UM : Kendaraan tak bermotor ( Sepeda, Becak, dll )
TABEL DATA LAPANGAN VOLUME LALU LINTAS

Ruas Jalan : Jalan Sultan Alauddin Kota Makassar


Hari / Tanggal : Senin / 3 Maret 2008
Cuaca : Cerah

Periode MC LV HV
UM TOTAL
Waktu SPM SPMG AUP MP PU/MB BUSB T 2AS T 3AS T 4AS
16.00 - 16.15 1069 7 50 212 46 5 37 7 1 65 1499
16.15 - 16.30 982 3 47 182 42 4 28 5 0 99 1392
16.30 - 16.45 1092 2 45 135 48 6 35 4 0 155 1522
16.45 - 17.00 1298 6 67 163 50 5 30 5 0 97 1721
17.00 - 17.15 1088 3 50 150 43 2 33 3 0 73 1445
17.15 - 17.30 1146 1 23 318 34 1 24 3 3 71 1624
17.30 - 17.45 1153 3 42 363 31 2 26 5 1 45 1671
17.45 - 18.00 1190 3 42 303 43 1 32 3 0 35 1652
18.00 - 18.15 1104 2 65 321 31 1 35 1 0 37 1597
18.15 - 18.30 1042 4 41 295 22 0 16 6 0 27 1453
18.30 - 18.45 851 0 58 241 19 0 25 0 1 12 1207
18.45 - 19.00 925 2 30 252 16 0 17 2 0 11 1255
Keterangan : MC : Sepeda Motor, Sepeda Motor Gandengan
LV : Angkutan Umum Penumpang (Mikrolet), Mobil Pribadi, Pick Up, Mobil Barang
HV : Bus Besar, Truck 2 As atau Lebih.
UM : Kendaraan tak bermotor ( Sepeda, Becak, dll )
TABEL DATA LAPANGAN VOLUME LALU LINTAS

Ruas Jalan : Jalan Sultan Alauddin Kota Makassar


Hari / Tanggal : Senin / 10 Maret 2008
Cuaca : Cerah

Periode MC LV HV
UM TOTAL
Waktu SPM SPMG AUP MP PU/MB BUSB T 2AS T 3AS T 4AS
16.00 - 16.15 928 6 39 217 79 5 41 3 0 122 1440
16.15 - 16.30 1151 4 41 231 46 2 26 6 0 153 1660
16.30 - 16.45 1300 6 47 207 56 6 50 9 0 171 1852
16.45 - 17.00 1514 3 43 241 46 2 43 3 0 155 2050
17.00 - 17.15 1279 3 34 173 43 4 26 12 0 53 1627
17.15 - 17.30 1528 3 42 196 55 2 26 2 0 55 1909
17.30 - 17.45 1161 4 34 185 40 3 29 5 0 49 1510
17.45 - 18.00 1227 4 62 233 46 1 30 2 0 27 1632
18.00 - 18.15 1189 4 33 192 41 0 26 5 0 34 1524
18.15 - 18.30 1127 2 35 199 35 3 20 6 0 29 1456
18.30 - 18.45 1096 4 26 156 37 0 31 5 0 24 1379
18.45 - 19.00 1159 4 31 169 35 0 20 2 0 14 1434
Keterangan : MC : Sepeda Motor, Sepeda Motor Gandengan
LV : Angkutan Umum Penumpang (Mikrolet), Mobil Pribadi, Pick Up, Mobil Barang
HV : Bus Besar, Truck 2 As atau Lebih.
UM : Kendaraan tak bermotor ( Sepeda, Becak, dll )
TABEL DATA LAPANGAN VOLUME LALU LINTAS

Ruas Jalan : Jalan Sultan Alauddin Kota Makassar


Hari / Tanggal : Senin / 17 Maret 2008
Cuaca : Mendung

Periode MC LV HV
UM TOTAL
Waktu SPM SPMG AUP MP PU/MB BUSB T 2AS T 3AS T 4AS
16.00 - 16.15 1039 16 43 233 57 7 44 4 0 135 1578
16.15 - 16.30 1102 12 39 212 57 1 39 3 0 134 1599
16.30 - 16.45 1225 16 43 248 53 5 35 2 0 177 1804
16.45 - 17.00 1157 10 32 240 65 3 31 6 0 80 1624
17.00 - 17.15 1305 8 54 249 48 5 25 5 0 48 1747
17.15 - 17.30 1192 11 40 245 54 2 37 2 0 37 1620
17.30 - 17.45 1164 8 54 222 35 2 41 3 0 35 1564
17.45 - 18.00 1009 12 45 228 44 2 27 6 0 31 1404
18.00 - 18.15 1041 10 40 194 43 0 40 5 0 33 1406
18.15 - 18.30 925 11 32 190 34 2 25 1 0 29 1249
18.30 - 18.45 809 8 26 138 18 1 21 3 1 27 1052
18.45 - 19.00 951 4 34 197 31 0 27 6 0 15 1265
Keterangan : MC : Sepeda Motor, Sepeda Motor Gandengan
LV : Angkutan Umum Penumpang (Mikrolet), Mobil Pribadi, Pick Up, Mobil Barang
HV : Bus Besar, Truck 2 As atau Lebih.
UM : Kendaraan tak bermotor ( Sepeda, Becak, dll )
TABEL DATA LAPANGAN VOLUME LALU LINTAS

Ruas Jalan : Jalan Sultan Alauddin Kota Makassar


Hari / Tanggal : Senin / 24 Maret 2008
Cuaca : Hujan

Periode MC LV HV
UM TOTAL
Waktu SPM SPMG AUP MP PU/MB BUSB T 2AS T 3AS T 4AS
16.00 - 16.15 805 6 43 184 50 5 36 1 0 103 1233
16.15 - 16.30 982 9 32 212 49 1 20 3 0 141 1449
16.30 - 16.45 1103 6 44 279 78 5 28 7 0 65 1615
16.45 - 17.00 1012 9 49 221 29 7 38 2 0 58 1425
17.00 - 17.15 973 6 42 241 48 1 26 5 0 31 1373
17.15 - 17.30 1017 7 50 211 27 5 34 2 0 18 1371
17.30 - 17.45 1147 6 46 279 57 2 33 5 0 30 1605
17.45 - 18.00 957 4 60 208 29 1 25 7 0 25 1316
18.00 - 18.15 1028 2 29 170 26 0 20 3 0 19 1297
18.15 - 18.30 1006 5 49 151 16 1 26 8 0 33 1295
18.30 - 18.45 922 3 28 147 26 0 16 4 0 12 1158
18.45 - 19.00 938 3 31 132 23 0 14 5 0 13 1159
Keterangan : MC : Sepeda Motor, Sepeda Motor Gandengan
LV : Angkutan Umum Penumpang (Mikrolet), Mobil Pribadi, Pick Up, Mobil Barang
HV : Bus Besar, Truck 2 As atau Lebih.
UM : Kendaraan tak bermotor ( Sepeda, Becak, dll )
PEMANFAATAN LIMBAH GELAS PLASTIK PADA BUSANA KREASI

BARU

TUGAS AKHIR

Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Ahli Madya
Fakultas Teknik Universitas Negeri semarang

Disusun Oleh :

Nama : Denok Suci Oktawiyanti


Nim : 5450302029
Prodi : Tata Busana / D3
Jurusan : Teknologi Jasa dan Produksi

FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2006
ii

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Tugas Akhir ini telah dipertahankan di hadapan sidang penguji Tugas
Akhir Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang.
Pada hari : ………………………….
Tanggal : ………………………….
Pembimbing :

Dra. Urip Wahyuningsih, M.Pd


NIP. 131948769

Penguji I Penguji II

Dra. Sri Endah Wahyuningsih, M.Pd Dra. Urip Wahyuningsih, M.Pd


NIP. 132058079 NIP. 131948769

Ketua Jurusan, Ketua Program Studi,

Dra. Dyah Nurani S, M, Kes Dra. Sri Endah Wahyuningsih,


M.Pd
NIP. 131764485 NIP. 132058079

Dekan,

Prof. Dr. Soesanto


NIP. 130875753

ii
iii

ABSTRAK

Denok Suci Oktawiyanti, 2006. Pemanfaatan Limbah Gelas Plastik Pada


Busana Kreasi Baru. Tugas Akhir. D3 Teknologi Jasa dan Produksi Busana
Fakultas Teknik. Universitas Negeri Semarang.

Gelas plastik merupakan tempat air minum yang terbuat dari bahan
multiguna yang banyak dipakai dalam kehidupan sehari–hari. Plastik juga sudah
banyak diwujudkan dalam bentuk busana, walaupun dalam presentasi kecil,
contohnya seperti mantel, jas hujan, tas, aksesoris dan lain – lain. Hiasan dan
korsase ( dari plastik ) akan memperindah busana kreasi baru dari bahan gelas
plastik. Permasalahan yang dibahas dalam Tugas Akhir ini adalah (1)
Bagaimanakah pembuatan busana kreasi baru dari limbah gelas plastik ? (2)
Bagaimanakah cara pemeliharaan busana kreasi baru dari limbah gelas plastik.
Manfaat yang diperoleh dalam tugas akhir ini adalah mengembangkan kreativitas
dan inovatif tentang pembuatan busana kreasi baru dari limbah gelas plastik bagi
penulis serta sebagai bahan informasi bagi jurusan bahwa gelas plastik dapat
dimanfaatkan sebagai bahan busana yang unik dan kreatif.
Proses pembuatan busana kreasi baru dari limbah gelas plastik secara
keseluruhan dimulai dari mendesain model, yaitu persiapan bahan dan alat
(penulisan bahan, persiapan alat untuk proses pembuatan, pengecatan pada gelas
plastik) dan proses pembuatan mengambil ukuran, membuat pola dan merubah
sesuai model, memotong, menjelujur, mengepas I, menjahit dan penyelesaian.
Hasil busana kreasi baru yaitu model busana yang terdiri dari camisol
dan rok. Kesulitan pembuatan busana ini pada pemasangan hiasan gelas plastik
yaitu bahan utama rok, sudah dijahit pada bagian sisi, tengah belakang dan
ritsleting sudah terpasang selanjutnya hiasan gelas plastik dipasang serta dijahit.
Lamanya pembuatan busana ini memerlukan waktu 11/2 - 2 bulan karena lamanya
proses pengecatan sehingga menghabiskan biaya Rp1.591.800. Pada camisol dan
rok terdapat gelas plastik yang sudah dicat dan dijahit dengan penataan melingkar
seperti bunga gerbera
Pembuatan busana kreasi baru dari limbah gelas plastik memerlukan
waktu relatif lama terutama dalam mengecat gelas plastik sehingga diperlukan
ketelitian dan kesabaran. Pemeliharaan busana kreasi baru ini harus teliti dengan
penyimpananya diruang yang longgar/tidak sempit, hindari udara lembab dan
panas, dan secara periodic dikeluarkan guna diangin-anginkan.

iii
iv

PRAKATA

Puji syukur panjatkan kehadiratAllah SWT yang telah melimpahkan


rahmat dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir
dengan judul “ Pemanfatan Limbah Gelas Plastik pada Busana Kreasi Baru”.
Tugas ini sebagai syarat menempuh jenjang Diploma 3 Program Studi Teknologi
Jasa & Produksi busana.
Oleh karena itu penulis menyampaikan rasa hormat dan ucapan terima
kasih yang sebesar – besarnya kepada :
1. Rektor Universitas Negeri Semarang
2. Dekan Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang
3. Ketua Jurusan Teknologi Jasa dan Produksi Universitas Negeri Semarang
4. Ketua Program Studi Teknologi Jasa dan Produksi Busana
5. Dra.Urip Wahyuningsih, MPd, Dosen Pembimbing
6. Mahasiswa Teknologi Jasa dan Produksi angkatan 2002
7. Semua Pihak yang telah membantu penyelesaian tugas akhir ini, yang
tidak dapat disebutkan satu persatu
Penulis menyadari bahwa tugas akhir ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu kritik dan saran dari pembaca penulis butuhkan.

Semarang, 2006

Denok Suci Oktawiyanti

iv
v

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL................................................................................. i
HALAMAN PENGESAHAN .................................................................. ii
ABSTRAK ............................................................................................... iii
PRAKATA ............................................................................................... iv
DAFTAR ISI ............................................................................................ v
DAFTAR GAMBAR ............................................................................... vii
DAFTAR TABEL .................................................................................... ix
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................ x
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ......................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................... 4
C. Tujuan Tugas Akhir ............................................................... 4
D. Manfaat Tugas Akhir .............................................................. 4
E. Penegasan Istilah .................................................................... 5
BAB II. LANDASAN TEORI/ KAJIAN PUSTAKA
A. Disain Sebagai Busana Kreasi Baru .................................... 8
B. Persiapan Bahan dan Alat..................................................... 13
C. Pewarnaan Pada Gelas Plastik.............................................. 21
D. Proses Pembuatan Busana Kreasi Baru ............................... 22
E. Pelengkap Busana….. .......................................................... 45
F. Tahap atau Proses Pembuatan Busana Kreasi Baru ............. 47
G. Hasil dan Pembahasan ......................................................... 48
BAB III. PENUTUP
A. Simpulan .............................................................................. 53
B. Saran .................................................................................... 54
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................... 55
LAMPIRAN-LAMPIRAN ....................................................................... 56

v
vi

DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 1. Bunga Gerbera ...................................................................... 9
Gambar 2. Disain sketsa busana kreasi baru ............................................. 10
Gambar 3. Diasain kerja busana kraesi baru ............................................. 11
Gambar 4. Disain Motif ............................................................................ 19
Gambar 5. Cara mengambil ukuran ........................................................... 24
Gambar 6. Cara mengambil ukuran ........................................................... 25
Gambar 7. Cara mengambil ukuran ........................................................... 26
Gambar 8. Pola badan system Meyneke ................................................... 28
Gambar 9. Pola dasar rok muka dan belakang .......................................... 29
Gambar 10. Merubah pola dasar bagian camisol ...................................... 31
Gambar 11. Merubah pola dasar rok ......................................................... 31
Gambar 12. Hasil pecah pola dasar badan muka dan belakang ................ 32
Gambar 13. Hasil pecah pola dasar rok muka dan belakang .................... 32
Gambar 14. Hasil pecah pola dasar badan muka dan belakang ................ 33
Gambar 15. Hasil pecah pola dasar rok muka dan belakang .................... 33
Gambar 16. Letak hiasan gelas plastik pada pola badan ........................... 34
Gambar 17. Letak hiasan gelas palstik pada pola rok muka dan
belakang ................................................................................ 34
Gambar 18. Letak hiasan payet pada pola badan muka dan belakang ...... 35
Gambar 19. Letak hiasan payet pada pola rok muka dan belakang .......... 35
Gambar 20. Melekatkan kain gula pada bahan utama .............................. 39
Gambar 21. Menjahit garis princess kiri dan kanan dan sisi badan .......... 40
Gambar 22. Memasang balen pada garis princess .................................... 40
Gambar 23. Memasang busa kom ............................................................. 41
Gambar 24. Menyatukan kembali dan menjahit kain furing ..................... 41
Gamabr 25. Menata dan menjahit gelas plastik pada badan ...................... 42
Gambar 26. Menyatukan kembali dan menjahit tengah belakang badan... 42
Gambar 27. Menjahit kup muka, belakang dan sisi rok ............................ 43

vi
vii

Gambar 28. Menjahit tengah belakang rok dan memasang ritseleting ..... 43
Gambar 29. Menyatukan kain furing dan bahan utama pada rok ............. 44
Gambar 30. Menata dan menjahit gelas plastik pada rok ......................... 44
Gambar 31. Menjahit ban pinggang .......................................................... 45
Gambar 32. Macam-macam pelengkap busana ........................................ 46

vii
viii

DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 1. Ukuran pola busana kreasi baru .................................................. 27
Tabel 2. Rancangan harga ......................................................................... 37

viii
ix

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman
Lampiran 1. Contoh bahan ........................................................................ 56
Lampiran 2. Dokumentasi Alat ................................................................. 57
Lampiran 3. Rancangan bahan utama ....................................................... 58
Lampiran 4. Rancangan bahan furing ....................................................... 59
Lampiran 5. Dokumentasi proses pengecatan ........................................... 60
Lampiran 6. Dokumentasi proses pengecatan ........................................... 61
Lampiran 7. Foto busana kreasi baru tampak depan................................. 62
Lampiran 8. Foto busana kreasi baru tampak depan................................. 63
Lampiran 9. Foto busana kreasi baru tampak depan................................. 64
Lampiran 10. Contoh gelas plastik yang sudah diwarna............................ 65

ix
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Busana merupakan segala sesuatu yang dikenakan dari ujung

rambut hingga ujung kaki. Busana sebagai kebutuhan pokok setiap orang

seperti kebutuhan tempat tinggal dan pangan. Menurut Wasia Rusbani

(1984 : 4) busana disamping sebagai syarat kesehatan, juga berfungsi

sebagai penutup tubuh, melindungi tubuh, menambah nilai estetika,

memiliki rasa keindahan, memenuhi syarat peradaban dan kesusilaan.

Jenis busana dibagi menjadi bermacam-macam fungsi serta kegunaannya.

Jenis busana yaitu, kesempatan pemakai (kerja, santai dan lain-lain), usia

(anak-anak, dewasa, remaja dan orang tua) baik perempuan dan laki-laki.

Seiring dengan perkembangan jaman, busana yang adapun semakin

berkembang sesuai dengan perkembangan mode yang beraneka ragam,

baik warna, model, bahan dan teknik pembuatan busana.

Para perancang busana selalu menampilkan mode serta trend warna

terbaru yang simple dan menarik konsumen. Pengaruh kemajuan teknologi

yang ada berbagai macam, misal media komunikasi yang dapat

mempercepat majunya perkembangan busana diseluruh dunia. Perancang

mode busana layak menggunakan fungsi kemajuan teknologi untuk

memperkenalkan hasil rancangan busana kreatif mereka. Busana yang

mereka tampilkan dalam acara pameran peragaan busana pada umumnya

1
2

diambil dari pemanfaatan limbah. Busana ini merupakan kebutuhan utama

serta dapat menunjang profesi misalnya, penari, artis dan lain sebagainya

Limbah yang semula mencemarkan dan merusak lingkungan

sekarang dimanfaatkan sebagai inspirasi rancangan busana. Limbah gelas

plastik yang dipakai sebagai hiasan pengganti atau sebagai busana kreasi

baru baik estetika atau fungsional dapat menambah nilai keindahan pada

busana tersebut. Banyaknya limbah-limbah yang dimanfaatkan sebagai

busana sangat mudah didapatkan seperti kaleng minuman,serutan, keping

VCD, kerang, sisik ikan, sedotan plastik, kantong plastik, gelas plastik

minuman ( aqua, ades, total) dan lain-lain.

Gelas plastik merupakan bahan multi guna yang sangat banyak

digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Limbah plastik minuman

misalnya Aqua dipakai dalam bidang pangan dan jarang dimanfaatkan

dalam bidang sandang. Namun sesungguhnya bahan plastik dapat diolah

menjadi bahan yang menarik untuk pakaian. Biasanya bahan plastik juga

sudah diwujudkan dalam bentuk busana meski dalam presentasi kecil,

contohnya seperti mantel, jas hujan, tas, aksesories dan lain sebagainya.

Gelas plastik minuman misalnya aqua digunakan sebagai penghias busana

atau pengganti bahan utama busana (pada seluruh busana) tersebut

dipotong dan dibentuk sedemikian rupa dijahit sehingga busana tersebut

terlihat bercahaya apabila memakai warna aslinya. Untuk menambah nilai

seni tinggi dari gelas plastik tersebut maka perlu ditambah dengan motif,

sehingga terkesan mewah. Sifat dari gelas plastik minuman adalah kenyal
3

terhadap daya benturan misalnya jarum jahit, sehingga proses menjahit

perlu memilih mata jarum lebih kecil / runcing namun kuat.

Kreatifitas dan inovatif yang tinggi merupakan kiat sukses dalam

pekerjaan. Bukan hanya dalam dunia fashion saja, setiap pekerjaan

membutuhkan hal itu. Namun tidak semua orang menyadari bahwa

kreatifitas pada seseorang baru muncul apabila seseorang tersebut mau

mencoba sesuatu yang baru sesuai dengan kreasi dan daya imajinasinya.

Bakat hanya ada sekian persen sebagai penunjang kesuksesan dalam

pekerjaan dan kreatifitaslah yang mendominasikan dari kesuksesan

tersebut. Memang secara alamiah tidak semua orang biasa

mengembangkan kreatifitas yang dimilikinya.

Penulis bermaksud membuat suatu busana kreasi baru dengan

memanfaatkan limbah gelas plastic minuman ( misal ; Aqua, Ades, Total

dll ) sebagai sumber kreatifitas dan ide dalam pembuatan tugas akhir

dengan judul : “Pemanfaatan Limbah Gelas Plastik Pada Busana Kreasi

Baru”. Alasan memilih gelas plastik minuman sebagai bentuk adanya

inspirasi pembuatan busana kreasi baru untuk mengkreasikan gelas plastik

minuman selain mencemarkan lingkungan. Busana kreasi baru dari gelas

plastik minuman ini menggunakan sumber ide bunga Gerbera sebagai

teknik penataan dalam busana kreasi baru menjadi sebuah inspirasi penulis

untuk menerapkannya dalam pembuatan busana kreasi baru.


4

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian yang dikemukakan diatas dapat diidentifikasi

permasalahan, sebagai berikut :

1. Bagaimana proses pembuatan busana kreasi baru dari gelas plastik

dengan cat motif ?

2. Bagaimanakah cara pemeliharaan busana kreasi baru dari gelas plastik

C. TUJUAN TUGAS AKHIR

1. Mengetahui dan memahami secara detail teknik pembuatan busana

kreasi baru dari gelas plastic minuman ( Aqua, Ades, Total dll )

2. Mengetahui teknik jahit pemasanagan hiasan pada busana kreasi baru

dengan sumber ide bunga Gerbera

3. Mengetahui cara perawatan atau pemeliharaan busana kreasi baru

gelas plastic minuman

D. MANFAAT TUGAS AKHIR

1. Bagi penulis

a. Menambah wawasan tentang pembuatan busana kreasi baru

yang dapat membuka cakrawala pandangan dan

mengembangkan pengertian tentang busana kreasi baru

yang tepat dikalangan masyarakat sekitarnya

b. Membentuk pola pikir yang kreatif dan inovatif berupa ide /

gagasan yang melahirkan inspirasi mode buana dalam

negeri yag tidak kalah dengan mode mancanegara.


5

2. Bagi masyarakat

a. Memberikan wawasan dan sumber pengetahuan yang

secara tidak langsung dapat memotivasikan dan mendorong

pembaca agar lebih tertarik dalam mengembangkan kreatifitas dari

gelas pastic minuman dari segala merek yang ada.

b. Memberikan informasi dan mengenalkan lebih dekat

tentang pemanfaatan gelas plastik minuman yang dapat

dimanfaatkan untuk dikreasikan sebagai barang seni.

E. PENEGASAN ISTILAH

Definisi operasional “ Pemanfaatan limbah gelas plastik pada

busana kreasi baru “ dapat diuraikan batasannya sebagai berikut :

1. Pemanfaatan

Pemanfaatan berasal dari kata manfaat. Manfaat adalah guna,

faedah yang mendapat imbuhan pe dan akhiran an. Jadi pemanfaatan

adalah memanfaatkan barang yang sudah ada guna dijadikan produk

lain sehingga meningkatkan daya guna produk (Drs.Sulchan Yasyin :

33).

2. Limbah adalah sisa atau bekas suatu hasil proses industri besar maupun

kecil (Ananda Santoso & S Priyanto 1995 : 207)


6

3. Gelas plastik

Gelas plastik adalah tempat/ wadah untuk minum. Kata plastik

berasal dari bahasa Yunani “ plastikos” yang artinya dapat dibentuk

menjadi berbagai ukuran yang berbeda-beda (www.bahanplastik.com ).

Plastik adalah campuran bahan ( salah satunya ialah suatu

polimer) yang dapat dibentuk menjadi serat, lembaran, atau padatan

dapat dicetak untuk kemudian mengeras, meskipun ketegarannya dapat

beraneka ragam (Ensiklopedia Indonesia, 1997 : 2723)

4. Busana

Busana adalah segala sesuatu yang dikenakan pada tubuh

manusia mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, baik dengan

maksud melindungi tubuh maupun memperindah penampilan tubuh (

Budi Utami, 1981: 1)

5. Kreasi baru

Kreasi baru merupakan modifikasi bentuk lama pengamatan

suatu benda atau busana tradisional menjadi suatu ciptaan baru dengan

harapan menjadi perhatian masyarakat dan akan dipakai oleh mereka

(Sulistio, Hartatiati : 104)

Jadi yang dimaksud dengan pemanfaatan limbah gelas plastik

pada busana kreasi baru adalah memanfaatkan gelas plastik dari bekas

minuman yang dibentuk dua potong ( deux piece ) sebagai hasil daya

cipta yang baru.


BAB II

LANDASAN TEORI / KAJIAN PUSTAKA

Meningkatnya kebutuhan masyarakat akan busana, tidak hanya sekedar

memenuhi syarat peradaban, kesehatan dan keindahan namun tergantung keadaan

seseorang akan kebutuhan tersebut, terutama dari segi kesempatan. Apalagi untuk

kesempatan dalam pegelaran/ peragaan fashion, banyak sekali alternatif berbusana

yang dapat dipilih. Dalam kesempatan tersebut bermacam-macam model busana

dikenakan oleh banyak orang sesuai dengan karakter masing-masing orang.

Seseorang dapat dikatakan bebusana dengan baik dan benar apabila mengetahui

peran fungsi busana dengan baik dan benar apabila mengetahui peran serta fungsi

busana yang dipakainya, salah satunya yaitu dari segi estetika karena berbusana

merupakan kebudayaan yang turun temurun dari masa sebelum orang mengenal

busana.

Busana adalah segala sesuatu yang dikenakan pada tubuh manusia mulai

dari ujung rambut sampai ujung kaki baik dengan maksud melindungi tubuh

maupun memperindah penampilan tubuh. Maka busana menjadi sangat berarti dan

merupakan kebutuhan pokok dalam kehidupan manusia serta menjadi kebudayaan

yang berkembang pesat seiring dengan perkembangan zaman.

Perkembangan busana telah mengalami kemajuan yang cukup pesat,

seiring dengan kehidupan manusia yang semakin modern saat ini. Maksud dan

tujuan busana adalah sebagai alat untuk melindungi rasa kesusilaan dan budaya

atau memperindah diri serta dapat menunjukan kepribadian seseorang. Busana

7
8

dapat dikelompokkan sesuai dengan kesempatan antara lain yaitu: Busana rumah,

busana kerja, busana pesta, busana rekreasi, busana olah raga.

Khususnya busana kreasi ini sangat berbeda dengan busana untuk

kesempatan lainnya. Orang yang menghadiri suatu acara tentu akan mengenakan

busana yang terbaik mulai dari model, bahan, warana aksesoris yang serasi

dengan busana untuk kesempatan tersebut. Pemakaiannya disesuiakan dengan

waktu dan kesempatan, hal ini akan memberikan kepuasan tersendiri bagi si

pemakai.

A. Disain Busana Kreasi Baru

Desain adalah suatu kreativitas seni yang diciptakan seseorang dengan

pengetahuan dasar kesenian serta rasa indah. Menurut Chodiyah dan Wisri A.

Mamdy (1982) desain adalah suatu susunan dari garis, bentuk, serta tekstur.

Uraian diatas dapat menghasilkan simpulan bahwa desain adalah suatu hasil

karya indah manusia dalam menciptakan susunan garis, warna, bentuk, serta

tekstur, dengan maksud agar diperhatikan orang lain.

Disain itu sendiri mempunyai pertimbangan-pertimbangan tentang :

1. Keselarasan selera mencerminkan kesatuan melalui pemilihan dan susunan

objek dengan ide-ide

2. Perbandingan antara bagian-bagiannya

3. Keseimbangan antara bagian kiri dan bagian kanan

4. Irama menyenangkan, dinamis, tidak menjemukan

5. Pusat perhatian yang menyatu tidak terpecah belah


9

Desain busana disesuaikan dengan fungsi dari busana tersebut yang

menonjolkan nilai artistic dari keseluruhan bentuk desain busana kreasi baru.

Kreasi baru merupakan modifikasi bentuk lama pengamatan suatu benda

atau busana tradisional menjadi suatu ciptaan baru dengan harapan menjadi

perhatian masyarakat dan akan dipakai oleh mereka. Tuntutan masyarakat dalam

pemakaian busana, adalah disain yang mempunyai cita-rasa indah dan dapat

dibuat sesuai dengan waktu dan kesempatan. Perlu ditambah bahwa untuk

keberhasilan dan pengembangan ide serta kreasi desain busana sebaiknya

ditambahkan beberapa pengetahuan tekstil, dan teknologi busana serta jahit

menjahit (Sulistio, Hartatiati : 104)

Disain kreasi baru merupakan disain yang mewakili ide atau kreativitas

yang ada pada diri seseorang dan mengeksplotasinya menjadi sesuatu yang baru

yang belum terlihat sebelumnya oleh banyak orang, dan karya ini merupakan

kelanjutan dari disain – disain kreasi baru sebelumnya. Disain ini diambil dari

sumber bunga gerbera.

Gambar 1. Bunga Gerbera


10

Gambar 2. Disain sketsa busana kreasi baru dari bahan gelas plastik
11

Gelas plastik

Tali
Garis prinses

Payet

Gelas plastik

Payet

Sepatu

Gambar 3. Disain kerja busana kreasi baru dari gelas plastik


12

Disain busana meliputi model dari keseluruhan yang terdapat pada suatu

busana, pemilihan bahan, ukuran dan perlengkapan. Disain kali ini yaitu disain

busana kreasi baru yang di pakai dalam pegelaran/pergaan fashion dan didisain

khusus dengan bahan dan aksesoris yang menarik dan diwujudkan menjadi busana

kreasi baru dari limbah gelas plastik yang di hias dengan motif, detail pada model

busana kreasi baru yaitu :

1. Bagian atas (top)

Bagian atas mempunyai bentuk toples yang maksudnya tidak terdapat bentuk

garis

bahu. Jadi bentuknya berupa camisol yang pas badan pada kedua kup

kiri dan kanan badan muka dan belakang.

2. Bagian bawah

Bagian bawah busana kreasi baru merupakan bentuk asimetris yang terdapat

kup pada bagian rok muka dan belakang

3. Hiasan / garnitur busana

Hiasan pada pakaian beraneka ragam. Hiasan dapat berupa lajur, pita, bisban,

renda, jahitan (jahitan biasa, sulaman, smok, terawang, dan aplikasi), payet dan

mote, dan kancing. (Wasia Rusbani, 1985 :104)

Garnitur busana yang tepat sangat penting untuk membuat busana tersebut

indah dan baik penempatnya (Hasnah Riu, 1996:9). Fungsi garnitur dibedakan

menjadi 2 (dua) kelompok yaitu :


13

a. Garnitur yang fungsi utamanya adalah untuk memudahkan menggunakan

dan melepas busana. Antara lain yaitu : kancing, tutup tarik, nyilontape,

gasper, dan lain-lain.

b. Garnitur yang tujuannya untuk memperindah, sehingga menambah nilai

atau mutu suatu busana. Contohnya: renda, pita hias,

lekapan/aplikasi/korsase, kancing dan benang.

Garnitur yang dipasang pada bagian bawah kamisol dan rok yaitu

mote/payet dari plastik, fungsinya sebagai hiasan untuk memperindah busana

serta menambah nilai seni yang tinggi. Bentuk pemasangan payet/ mote pada

busana kreasi baru yaitu membentuk jarring dan rumbai-rumbai payet/mote agar

busana kreasi baru ini terkesan lebih mewah.

B. Persiapan Bahan dan Alat

1. Pemilihan Bahan

a. Bahan Gelas Plastik

Plastik dikenal sebagai bahan multiguna, diberbagai aspek

kehidupan manusia, namun orang kadang belum banyak mengetahui

sebenarnya seperti apa plastik itu sendiri.

Plastik adalah nama golongan zat-zat polimer tinggi buatan seperti

polstirene, poletilena polvinil, cloroda, fenolformaldehina, urea

formaldehina, seluloid, dan lain-lain. Seluloid (dari selulosa) telah dapat

dibuat pada tahun 1869, tetapi plastik-plastik secara umum baru dipakai

dalam industri setelah BAKELIT dibuat banyak-banyak pada tahun 1970

(Ensiklopedia Umum, 1993:892)


14

1) Asal usul plastik

Kata plastik berasal dari bahasa Yunani “plastikos” yang

berarti dapat dibentuk menjadi ukuran yang berbeda-beda. Sejarah

plastik berlangsung sangat singkat jika dibandingkan dengan sejarah

kayu dan logam. Plastik tidak akan ditemukan dibawah tanah ataupun

melalui panggilan tanah. Plastik terbuat dari bahan kimiawi seperti

karbon, silicon, hidrogen, nitrogen, oksigen, dan klorida. Kombinasi

yang sangat berbeda dari bahan kimia ini akan menghasilkan berbagai

jenis plastik yang berbeda pula. (www. Bahan plastik.com)

Salah satu eksperimen pertama kali dalam membuat plastik

sintetis berlangsung sekitar tahun 1835 dimana seorang ahli kimia

perancis, Regnault, menyebabkan sejenis bahan kimia yang disebut

vinyl chloride yang berubah menjadi bubuk berwarna putih, namun

bahan tersebut tidak berkembang secara komersial hampir selama satu

abad. Alasan utama keterlambatan ini adalah memasuki abad ke-20,

sangat mustahil untuk memperoleh bahan-bahan metel dalam kualitas

yang memadai yang diperlukan untuk industri tersebut. Selanjutnya

tahun 1862, Alexander Parkes menunjukkan pembuatan plastik

kepada masyarakat umum. Bahan tersebut dinamakan Parkesine.

Alexander Parekes menyatakan bahan baru ini dapat digunakan

seperti halnya penggunaan karet, namun dapat dibeli dengan harga

yang lebih murah.


15

2) Karakteristik plastik

a. Densitas

Plastik yang berbeda memiliki tingkat kepadatan yang berbeda,

namun semuanya lebih ringan daripada sebagian besar jenis bahan

lainnya.

b. Ketahanan

Sebagian besar plastik bersifat tahan lama (awet) dalam berbagai

situasi. Sebagian diantaranya dapat mengalami penurunan (hancur)

setelah terkena terik sinar matahari dalam waktu lama, sebagian

besar jenis plastik tahan terhadap tahan kimia.

c. Penghantar listrik

Plastik merupakan penghantar listrik yang sangat rendah sehingga

dapat digunakan sebagai penyekat listrik.

d. Penghantar panas

Plastik digunakan sebagai penghambat panas karena memiliki daya

penghantar panas sangat rendah.

e. Daya benturan

Plastik mengandung daya benturan seperti kekerasan yang

terkandung dalan bahan logam.

3) Bahan dasar pembuat plastik

a. Termoplastik : mempunyai sifat mencair jika dipanaskan pada suhu

tinggi dan cepat kembali pada saat mendingin


16

b. Termisetting plastik : plastik jenis ini tahan pada suhu tinggi, oleh

karena itu sering digunakan untuk membuat pegangan panic dan

asbak.

4) Keuntungan dan kelemahan bahan plastik dalam pemilihan bahan

a. Keuntungan :

(1) Jenis plastik sangat beragam jadi mudah didapat serta memiliki

harga relatif lebih murah

(2) Plastik bersifat tahan lama (awet) dalam berbagai situasi

sehingga dapat disimpan dan bertahan dalam waktu yang lama

(3) Untuk menghindari demakin banyaknya sampah plastik yang

tidak dapat terurai maka diwujudkan dengan memanfaatkan

gelas plastik yang sudah tidak terpakai agar gelas plastik

sampah menjadi bahan yang lebih berguna.

Plastik telah digunakan sebagai bahan pembuat tas,

misalnya orang yang senang mengkoleksi tas yang sifatnya casual

dan untuk acara santai, banyak yang memilih tas dengan bahan

dasar plastik sebagai koleksinya (www. Balipos.com). Selain itu

plastik telah banyak digunakan untuk membuat manik-manik yang

biasanya digunakan untuk menghiasi leher, pergelangan tangan

sebagai penunjang busana. Mode menggunakan manik-manik

sebagai aksesoris busana yang kini menjadi trend, sebenarnya

sudah dilakukan manusia sejak jaman primitif, walaupun pada

masa itu bahan manik-manik tidak berupa kristal dan plastik, tetapi
17

dalam perkembangannya orang banyak menggunakan bahan-bahan

salah satunya yaitu plastik. (www.wanita.com.)

Menurut insan busana bernama Tiarma telah mewujudkan

busana cinta dalam bahan-bahan artificial, seperti bulu binatang

dan tas tangan serta topi, sedangkan korsase yang ia buat dari

bahan plastik dapat memperlihatkan kerampingan badan sang

pemakai. Sarung tangan dan plastikpun melengkapi penampilan

busana rancangannya.

b. Kelemahan :

Kelemahan bahan plastik yaitu tahan terhadap panas,

sehingga untuk pembuatan busana bahan plastik tidak memerlukan

penyetrikaan atau pengepresan, sesuai sifat plastik yaitu memiliki

daya penghantar panas yang sangat rendah. Jadi sebisa mungkin

jauhkan dari segala sesuatu yang memerlukan panas karena dapat

meleleh.

b. Bahan Satin Metalic

Bahan yang digunakan untuk membuat suatu busana terdiri dari bahan

utama dan tambahan :

1) Bahan utama

Jenis bahan atau kain utama yang dipilih selain bahan plastik yaitu

bahan satin metallic dan bahan furing, warna yang dipilih yaitu

warna biru muda agar kesan warna-warna cerah membuat busana

kreasi baru lebih hidup.


18

2) Bahan tambahan

Bahan tambahan untuk pembuatan busana kreasi baru ini yaitu bahan

vuring sebagai pelapis bahan satin, benang jahit, benang jelujur,

viselin, dan busa kom. Jumlah, jenis dan warna bahan ini dipilih

sesui dengan bahan utama.

c. Cat Decorfin Cristal Clear sebagai desain motif pada gelas plastik

1) Desain motif

Desain motif sama halnya dengan mencipta motif yang

merupakan pekerjaan menyusun, merangkai, dan memadukan

bentuk-bentuk dasar motif ( bentuk berbagai garis) sedemikian rupa

sehingga tercipta sebuah bentuk gambar (motif) baru yang indah,

serasi, bernilai seni, serta orisinil. Untuk menghasilkan motif seperti

itu tidak terlepas dari kaitan kaidah umum dan kaitan kaidah khusus,

kaidah umum adalah syarat-syarat umum yang harus dimengerti,

diketahui, dipahami, dikuasai dan dilakukan sebelum mencipta

gambar (motif). Ada beberapa kaidah umum yang harus anda

pegang.

a. Mengetahui dan memahami alat-alat dan fungsinya dalam

pembuatan gambar motif.

b. Mengetahui, memahami serta merencanakan gambar (motif)

secara teknis dan sistematis

c. Melakukan berbagai latihan menggambar (motif)


19

Kaidah khusus adalah syarat-syarat khusus yang harus

dimengerti, diketahui, dipahami, dikuasai dan dilakukan pada saat

menciptakan gambar

(motif).

Ada beberapa hal yang ada dalam kaidah khusus yaitu :

a. Proporsi (Perbandingan)

b. Komposisi (Susunan)

c. Nilai Seni (Estetika)

2) Menjiplak desain motif dengan cat crystal

Dalam menjiplak desain (rancangan) dari suatu motif

digunakan penjiplakan secara benar dan memperlihatkan

identitas/ciri. Metode penjiplakan yang bisa dilakukan untuk bahan

kaca, plastik/gelas plastik, hal ini sangat mudah karena, cat crystal

sifatnya langsung mencoret diatas bahan yang tembus terang.

Gambar 4. Desain motif


20

2. Alat-alat

♦ Alat untuk mendesain gambar antara lain : meja, pensil 2B, penggaris

skala, penghapus.

♦ Alat untuk proses pembuatan Busana Kreasi Baru

Alat yang dipergunakan dalam pembuatan busana kreasi baru yaitu

a. Alat menggambar pola

1. Buku pola atau buku kostum

2. Pensil biasa, pensil merah biru, spidol, atau alat tulis lainnya

3. Skala meter (skala 1:6)

4. Penggaris

5. Kertas dourslag, merah biru dan kertas pola

6. Gunting kertas, karbon jahit, rader, lem kertas, lakban

7. Pita ukur (untuk mengambil ukuran dan membuat pola dasar)

b. Alat membuat / menjahit busana kreasi baru

1. Mesin jahit, skoci, spul dan lain-lain

2. Gunting (gunting bengkok, gunting jahit, gunting benang)

3. Alat pendedel

4. Jarum ( jarum mesin, jarum tangan, jarum pentul)

5. Bidal dan penarik benang

6. Kapur jahit

7. Seterika
21

C. Pewarnaan Pada Gelas Plastik

1. Alat pokok terdiri dari : gunting, carter dan meja, cotton bed/kapas

2. Bahan : cat Decorfin Crystal Clear ( bentuknya seperti pasta) dan gelas

plastik

3. Proses kerja

a. Pembuatan motif

Pembuatan motif bisa mendesain diatas kertas gambar atau bisa

dengan setting komputer dengan tujuan lebih praktis dan dapat

menghasilkan gambar yang lebih variatif (lihat gambar 4 halaman 19)

b. Menggunting dan memotong gelas plastik

Gunakan gunting dan carter untuk membentuk suatu potongan sesuai

desain model

c. Pewarnaan

(1) Letakan desain motif diatas meja

(2) Kemudian letakan gelas plastik yang sudah dipotong sesuai bentuk

diatas motif

(3) Ambil cat dan motif langsung dijiplak dengan cat (pengecatan

harus dengan tangan yang terampil dalam mengecat karena catnya

berbentuk pasta)

(4) Diamkan ± 2 jam dan lakukan hal yang sama untuk cat warna lain

sesuai dengan desain motif

(5) Gelas plastik yang sudah dimotif siap pakai

(Lihat gambar 4 halaman 19 )


22

D. Proses Pembuatan Busana Kreasi Baru

SKEMA PEMBUATAN BUSANA KREASI BARU

A. Disain busana kreasi baru dari gelas plastik

B. Persiapan Bahan dan Alat


1. Pemilihan Bahan
2. Persiapan alat untuk proses pembuatan
busana kreasi baru
3. Mengecat motif pada gelas plastik

C. Proses Pembuatan Busana Kreasi Baru


1. Mengambil ukuran
2. Membuat pola Kecil skala 1: 6
3. Membuat rancangan bahan dan harga
4. Membuat pola dasar ukuran sebenarnya
5. Merubah pola sesuai model
6. Meletakan pola pada bahan
7. Menggunting pada bahan
8. memberi tanda dan menjelujur
9. Mengepas I
10. Menjahit
11. Menyelesaikan secara keseluruhan
12. Mengepas Terakhir

Hasil
23

Proses pembuatan busana kreasi baru terdiri dari :

1. Mengambil ukuran

Dalam membuat busana ukuran menjadi hal yang sangat penting

karena mempengaruhi pas atau tidaknya letak busana tersebut pada badan.

Mengambil ukuran badan adalah tahap awal dalam pembuatan busana.

Untuk dapat mengambil dengan tepat perlu dikuasai terlebih dahulu teknik

mengukur yang baik, sebaiknya sebelum mengukur ikatkan tali atau

peterban atau elastik kecil pada pinggang untuk pembatas badan atas dan

bawah. Usahakan supaya tali tepat dipinggang dan tali tidak bisa

dikeataskan dan kebawahkan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengambil ukuran yaitu :

c. Sikap orang yang akan diambil ukurannya harus dalam keadaan tegap

dan tegak

d. Orang yang diukur tidak boleh memberi bantuan pada orang yang

mengambil ukuran

e. Mengukur sebaiknya urut dimulai dari badan bagian atas kemudian

badan bagian bawah.


24

Ukuran-ukuran yang diperlukan ialah :

1. Lingkar badan (LB)


Diukur pada bagian badan belakang, melalui
ketiak hingga melingkari payudara, diambil
angka pertemuan meteran dalam keadaan
pas. Tambahkan ± 4 cm pada hasil
ukurannya.
(Diukur dari titik A-B-C-A)

2. Lingkar pinggang (LP)


Diukur pada bagian pinggang yang terikat
vetter-band, diambil angka pertemuan
meteran dalam keadaan pas, tambahkan ± 2
cm pada hasil ukurannya.
(Diukur dari titik D-E-F-D)

3. Lingkar leher (LL)


Diukur keliling leher, diambil angka
pertemuan meteran pada lekuk leher depan
bagian bawah
(Diukur dari titik H-I)

4. Lebar dada (LD)


Di bawah lekuk leher turun ± 5 cm, diukur
mendatar dari kerung lengan sebelah kiri
sampai kerung lengan sebelah kanan.
(Diukur dari titik H-I)

5. Panjang dada (PD)


Diukur dari titik G ke bawah sampai dengan
batas pinggang ( yang terikat vetter-band)

6. Panjang sisi (PS)


Diukur dari bawah kerung lengan kebawah
sampai batas pinggang.
(Diukur dari titik B-E).

7. Lebar bahu (LB)


Gambar 5
Diukur dari batas leher sampai bagian bahu yang
terendah (pangkal lengan). (Diukur dari titik K-
J)
25

8. Panjang lengan (PL)


a. Lengan pendek :
Diukur dari ujung bahu/pangkal lengan ke
bawah, sampai ± 5 cm diatas siku atau
spanjang yang diinginkan. (Diukur dari titik
K-L-M)
b. Lengan panjang :
Diukur dari ujung bahu/pangkal lengan
bawah, sampai ± 2 cm di bawah ruas
pergelangan tangan atau sepanjang yang
diinginkan.
(Diukur dari titik K-L-M)

9. Lingkar kerung lengan (KL)


Diukur pada keliling kerung lengan dalam
keadaan pas, tambahkan ± 4 cm pada hasil
ukurannya.
(Diukur dari titik K-I-Q-T-K)

10. Lingkar pangkal lengan (LPL)


Diukur tepat dibawah ketiak pada pangkal
lengan dalam keadaan pas, tambahkan ± 4 cm
pada hasil ukurannya.
(Diukur dari titik R-S-R di tambah ± 4 cm).

11. Tinggi kepala lengan (TKL)


Meteran tidak dilepas dan diukur dari batas
kerung lengan (ujung bahu) sampai pangkal
lengan (tepat di tempat Lingkar Pangkal
Lengan/LPL diukur).
(Diukur dari titik S-K)

12. Lingkar lengan (LL)


Ukur keliling lengan dalam keadaan pas,
tambahkan ± 4 cm pada hasil ukurannya.
(Diukur dari titik V-L-V ditambah ± 4 cm)

13. Lingkar pergelangan lengan (LPL) Gambar 6


Ukur keliling pergelangan lengan dalam
keadaan pas ditambah ± 2 cm atau sesuai
dengan model lengannya.
(Diukur dari titik M-W-M ditambah ± 2 cm)
26

14. Jarak payu dara (JPD)


Diukur dari puncak payudara sebelah kiri
kesebelah kanan. (Diukur dari titik X-Y)

15. Tinggi puncak (TP)


Diukur dari pinggang ke atas sampai kurang 2
cm dari puncak payudara. (Diukur dari titik Z-Y)

16. Ukuran pemeriksa (UP)


Diukur dari pertengahan pinggang bagian
depan, serong melalui payudara kebahu yang
terendah, kemudian teruskan kepertengahan
pinggang belakang. (Diukur dari titik D-K-P).

17. Panjang punggung (PP)


Diukur pada bagian punggung, dari ruas tulang
leher yang menonjol di pangkal leher, turun ke
bawah sampai batas pinggang bagian belakang.
(Diukur dari titik O-P)

18. Lebar punggung (LP)


Dari ruas tulang leher turun ± 8 cm, diukur dari
kerung lengan sebelah kiri sampai kerung
sebelah kanan. (Diukur dari titik T-U)

19. Panjang rok (PR)


Diukur dari batas pinggang ke bawah sampai
panjang rok yang diinginkan.
(Diukur dari titik a-b)

20. Lingkar pinggul (LP)


Diukur bagian pinggul yang terbesar, dari
ukuran pas ditambah 4 cm
(Diukur dari titik d-ed ditambah 4 cm)

21. Tinggi pinggul (T Pi)


Diukur dari pinggul yang terbesar ke atas
sampai batas pinggang.
(Diukur dari titik t-r)

22. Lingkar pinggang rok (LPR)


Gambar 7
Diukur pada bagian pinggang yang terikat
vetterban, diambil angka pertemuan pada pita
meteran dalam keadaan pas.
(Diukur dari titik F-E-F)
27

1. Membuat pola kecil skala 1:6

Pembuatan pola diperlukan ukuran badan seseorang atau ukuran

standar yang telah ditentukan. Ukuran badan harus lengkap dan sesuai

dengan disain/ model busana yang akan dibuat. Ukuran yang diambil

diantaranya adalah sebagai berikut :

No Jenis ukuran Hasil ukuran

1. Lingkar badan I/II 82/86 cm


2. Lingkar pinggang 73 cm
3. Lingkar panggul 95 cm
4. Tinggi panggul 18 cm
5. Panjang punggung 38 cm
6. Lebar punggung 33cm
7. Panjang rok 39 cm
8. Panjang sisi ½ pj punggung –1cm
9. Lebar muka 30 cm
10. Panjang muka 32 cm
11. Tinggi dada 16 cm
12. Panjang bahu 12 cm
13. Lingkar lubang lengan 44 cm
14. Lebar dada 15 cm
15. Ukuran uji 92 cm

Tabel 1. Ukuran

Pembuatan pola dasar bisa menggunakan salah satu dari

bermacam-macam system pola. Dalam pembuatan busana kreasi baru dari

bahan limbah gelas plastik penulis menggunakan metode “Meyneke”

dengan garis princess pada kupnat kiri dan kanan.


28

Gambar 8. Pola badan sistem Meyneke


Pola dasar badan muka dan belakang skala 1: 6
Keterangan pola dasar badan muka Keterangan pola dasar badan
belakang
D-Q = ¼ lingkar badan +2cm A-B = panjang punggung
E-R = D-Q A-C = panjang sisi
R-S = panjang dada C-D = ¼ lingkar badan +2cm
S-T = 1/6 lingkar leher +2cm A-E = C-D
T-U = 1/6 lingkar leher B-F = naik 2 cm
U-S = kerung leher depan F-G = 1/6 lingkar leher
U-V = lebar bahu B-G = kerung leher belakang
I-V = turun 4cm G-H = lebar bahu
T-T’ = Q-D I-H = ± 4 cm
U-V diperpanjang sampai memotong G-J = (½ G-H) – 1 cm
garis T’-E melalui titik V’
U-W = ½ lebar bahu-1cm J-J’ = H-H’= lebar kupnat bahu
V’-W’ = ½ lebar bahu –1cm J-K = panjang kupnat bahu
W’-W = lebar kupnat bahu B-L = turun 9cm
S-X = turun 5 cm (X-X’)+(Y-Y’) L-M = ½ lebar punggung
V’-Y-D= kerung lengan depan H’-M-D= kerung lengan belakang
R-Z = ½ lingkar pinggang +2cm+ kupnat A-N = ¼ lingkar pinggang+kup -
2cm
R-K = tinggi puncak Hubungkan titik D-N
K-G = ½ jarak payudara A-O = 1/10 lingkar pinggang
R-L = (K-G)- 1½ cm O-O’ = lebar kupnat
L-L’ = lebar kupnat Titik P = 5 cm dibawah garis C-D
Hubungkan titik D-Z O-P = panjang kupnat
29

Gambar 9. Pola dasar rok muka dan belakang


Pola dasar rok muka dan belakang skala 1:6
Keterangan pola dasar rok bagian muka Keterangan pola dasr rok bagian
belakang
A-A’ = turun 2 cm A-A’ = turun 2 cm
A-B = ¼ lingkar pinggang + 2cm + 1 cm A-B = ¼ lingkar pinggang + 2 - 1
cm
A’-C = Tinggi panggul A’-C = Tinggi panggul
A-E = Panjang Rok A-E = Panjang Rok
C-D = ¼ lingkar panggul+ 1 cm C-D = ¼ lingkar panggul- 1 cm
E-F = (C-D) + 5 cm E-F = (C-D) + 5 cm
B-D-F = panjang rok sisi B-D-F = panjang rok sisi
Menentukan kupnat Menentukan kupnat
A’-G = R-L (lihat pola badan depan) A’-G = 1/10 lingkar pinggang
G-H = lebar kupnat G-H = lebar kupnat
G-I = panjang kupnat G-I = panjang kupnat
30

3. Merubah pola dasar

Merubah pola dasar disesuiakan dengan model yang telah dibuat

dengan memperhatikan pada model bagian muka dan belakang sesuai yang

dikehendaki, perubahannya :

a. Pola camisol bagian depan

T-T’ = naik 2 cm
D-B’ = turun 10cm
B-M = L-N= ½ jarak payudara
B’-R = kkanan ¼ cm
R-X =1/2 R-M
E-U = R-M
Hubungkan titik M-N-U-I’ dan N-V-W-I’
Tutuplah kupnat Q-N-R dan X-N
Besar kupnat titik x ½ cm
E -I = turun 5 cm
Hubungkan I-Z
(lihat gambar 10 halaman 31)

b. Pola camisol bagian belakang

T-T’ = naik 2 cm
B = tetap (menurut selera)
E-I = turun 5 cm
Hubungkan I-Z
(lihat gambar 10 halaman 31)

c. Pola rok bagian depan

D-X = naik 11 cm (menurut selera)


Hubungkan X-F, bentuk sesuai model
(lihat gambar 11 halaman 31)

d. Pola rok bagian belakang

G-X = naik 11 cm (menurut selera)


Hubungkan X-F, bentuk sesuai model
(lihat gambar 11 halaman 31)
31

Gambar 10. Merubah pola dasar bagian camisol

Gambar 11. Merubah pola dasar rok


32

PECAH POLA BAHAN UTAMA

Gambar 12. Hasil pecah pola dasar badan muka dan belakang

Gambar 13. hasil pecah pola dasar rok muka dan belakang
33

PECAH POLA BAHAN FURING

Gambar 14. Hasil pecah pola dasar badan muka dan belakang

Gambar 15. hasil pecah pola dasar rok muka dan belakang
34

LETAK HIASAN GELAS PLASTIK PADA KAIN

Gambar 16. Letak hiasan gelas plastik pada pola badan muka dan belakang

Gambar 17. Letak hiasan gelas plastik pada rok muka dan belakang
35

LETAK HIASAN PAYET PADA KAIN

Gambar 18. Letak hiasan payet pada pola badan muka dan belakang

Gambar 19. Letak hiasan payet pada rok muka dan belakang
36

2. Membuat rancangan bahan dan harga

a. Merancang bahan

Merancang bahan dan harga fungsinya untuk memperkirakan

banyaknya keperluan bahan utama, bahan pelengkap dan bahan

pembantu serta mengetahui biaya yang diperlukan untuk membuat

suatu busana fungsinya untuk menghindari pemborosan dengan cara

meletekan pola secara tepat serta menghindari kesalahan pada waktu

meletakan pola pada bahan atau kain yang sebenarnya.

Langkah-langkah dalam merancang bahan :

(1) Menyiapkan pola kecil yang telah diubah sesuai mode dan diberi

tanda-tanda Tengah Muka (TM), Tengah Belakang (TB) dan

memperhatikan arah serat kain

(2) Meletakan pola skala 1:6 diatas kertas payung yang diumpamakan

sebagai kain. Pola-pola besar diletakan lebih dahulu baru pola kecil

yang dilengkapi dengan tanda-tanda pola

(3) Meletakan pola yang disesuaikan dengan arah serat kain. Antara

pola satu dengan yang lainnya diberi jarak untuk tambahan jahitan

atau kampuh.
37

b. Merancang harga

Merancang harga gunanya untuk mengetahui biaya yang diperlukan dalam

pembuatan busana kreasi baru.

Daftar Rancangan Harga

No. Nama bahan Jumlah bahan Harga satuan Jumlah harga

1. Bahan utama
a. Kain satin 1,5m Rp 28.000 Rp 56.000
2. Bahan pembantu
a. Kain vuring 1m Rp 5.000 Rp 5.000
b. Mungkum/ kom 1ps Rp 5.000 Rp 5.000
c. Tutup tarik jepang 1bh Rp 1.700 Rp 1.700
d. Benang jahit 2bh Rp 750 Rp 1.500
e. Benang jelujur 1bh Rp 500 Rp 500
f. Cat decorffin 1 2 bh Rp 32.000 Rp 64.000
Cat decorffin 2 1 bh Rp 23.000 Rp 23.000
g. Payet /mote Rp 10.000 Rp 10.000
h. Tali 4m Rp 3.000 Rp 12.000
i. Pelengkap (sepatu) 1ps Rp 100.000 Rp 100.000
j. Mata ayam 12bh Rp 200 Rp 2.400
k. Kancing kait 1bh Rp 200 Rp 200
l. Kain gula 1m Rp 8.500 Rp 8.500
m. Balen 1m Rp 2.000 Rp 2.000
3. a. ongkos desain - - Rp 50.000
b. Ongkos pengecatan 50 hari Rp 20.000 Rp1000.000
c. Ongkos jahit 5 hari Rp 50.000 Rp 250.000
Total harga Rp1.591.800

Tabel 2. Daftar rancangan harga


38

3. Meletakan pola pada bahan

Meletakan pola pada bahan harus teliti dan memperhatikan

beberapa hal sebagai berikut :

c. Memperhatikan arah serat

d. Melipat bahan menjadi dua bagian kearah buruk kain atau kebagian

baik sesuai dengan teknik memindahkan tanda pola pada bahan

e. Meletakan pola dari bagian tepi kemudian kebagian tengah agar jika

ada tersedia bahan semua terkumpul dibagian tengah

f. Meletakkan pola sesuai dengan tanda pola mulai dari pola yang besar

kemudian pola yang kecil letakkan sehemat mungkin, beri tambahan

jahitan atau kampuh

4. Menggunting pada bahan

Setelah pola diletakkan pada bahan dengan benar langkah

selanjutnya adalah memotong bahan. Hal-hal yang perlu diperhatikan :

b. Menggunting dari bagian yang paling ujung baru kemudian kabagian

tengah

c. Posisi gunting dalam keadaan tegak agar hasil guntingan bahan antar

lebar atas dan lebar bawahnya sama

d. Bahan tidak boleh diangkat

5. Memberi tanda dan menjelujur

Cara memberi tanda pola pada bahan dengan rader, menggunakan

karbon jahit, dapat pula menggunakan kapur jahit ataupun dijelujur bila
39

kain tidak dapat dirader. Tanda pola harus jelas dan rapi untuk

memudahkan ketika menjahit.

6. Mengepas (Fitting)

Mengepas atau fitting menunjukan pas tidaknya sebuah bentuk

busana dalam hubungannya dengan orang yang memakainya. Busana yang

nyaman dipakai adalah busana yang mempunyai ukuran tepat. Cara yang

dilakukan dalam mengepas yaitu mencoba memakainya, bergerak dan

berputar untuk melihat bagaimana letak busana pada badan bila berdiri,

sedang duduk, dan bergerak. Melihat dengan pasti apakah busana tersebut

sudah pas atau belum ditubuh sipemakai

7. Menjahit

a. Letakan kain mori gula pada potongan kain strples dengan dipres

menggunakan setrika dengan panas cukup tepat pada garis pola,

meletakan mori gula dengan setrika ditekan-tekan pada bahan jangan

digesek karena mori gula akan bergeser ukurannya.

Gambar 20. Melekatkan kain gula pada bahan utama


40

c. Menjahit garis prinses kiri dan kanan dan sisi badan bagian muka dan

belakang , jahit juga garis prinses pada kain furing.

Gambar 21. Menjahit garis prinses kiri dan kanan dan sisi badan bagian muka dan belakang , jahit

juga garis prinses pada kain furing.

d. Memasang balein pada garis princess, dipasangkan dengan kain serong

atau bisban yang di jahitkan pada kampuh garis prinses bagian kain

utama

Gambar 22. Memasang balen pada garis princess, dipasangkan dengan kain serong

atau bisban yang di jahitkan pada kampuh garis prinses bagian kain utama
41

d. Memasang busa kom pada bagian kain furing dengan dijelujur atau

dijahitkan tepat pada tinggi dada muka kanan dan kiri kain furing

Gambar 23. Memasang busa kom pada bagian kain furing dengan dijelujur atau

dijahitkan tepat pada tinggi dada muka kanan dan kiri kain furing

e. Menyatukan dan menjahit kain furing dengan bahan utama pada bagian

atas saja

Gambar 24. Menyatukan dan menjahit kain furing dengan bahan utama pada bagian

atas saja
42

f. Menata dan menjahit gelas plastik pada bagian muka dan belakang yang

sudah diberi tanda

Gambar 25. Menata dan menjahit gelas plastik pada bagian muka dan

belakang yang sudah diberi tanda

g. Menyatukan kembali dan menjahit tengah belakang badan

Gambar 26 Menyatukan kembali dan menjahit tengah belakang badan


43

h. Menjahit kup muka dan belakang dan sisi rok sebelah kanan dan sebelah

kiri

Gambar 27. Menjahit kup muka dan belakang dan sisi rok sebelah kanan dan

sebelah kiri

i. Menjahit tengah belakang rok dan memasang ritseleting

Gambar 28. Menjahit tengah belakang rok dan memasang ritseleting


44

j. Menyatukan kain furing dan bahan utama pada bagian ritseleting

dengan tusuk jelujur

Gambar 29. Menyatukan kain furing dan bahan utama pada bagian

ritseleting dengan tusuk jelujur

k. Menata dan menjahit gelas plastik pada rok yang sudah diberi tanda

Gambar 30. Menata dan menjahit gelas plastik pada rok yang sudah diberi

Tanda
45

l. Menjahit ban pinggang

Gambar 31. Menjahit ban pinggang

8. Menyelesaikan secara keseluruhan

a. Membuat mata ayam pada tengah belakang badan

b. Mengelim pada bagian bawah rok suai dan mengesum pada bagian

furing ritseleting belakang, memasang kancing kait

c. Memasang mute pada bawah streples dan rok

d. Merapikan dan menyempurnakan hasil jahitan

e. Membersihkan benang-benang yang tersisa pada camisol dan rok

9. Pengepasan terakhir

E. Pelengkap Busana Kreasi Baru

Pelengkap busana (accessories adalah semua yang kita tambahkan pada

busana untuk melengkapi pada saat mengenakan busana sehingga penampilan

semakin menarik, pelengkap busana terdiri dari :


46

1. Pelengkap busana praktis ( primer )

Semua pelengkap yang disamping mempunyai fungsi untuk memperindah

penampilan tetapi mempunyai fungsi khusus untuk melindungi tubuh si

pemakai, misalnya : sepatu/sandal, topi, kacamata, tas, arloji, sarung

tangan dan lain-lain. (Sri Widarwati, 1993:33)

2. Pelengkap busana estetis ( sekunder )

Pelengkap busana yang hanya memenuhi fungsi memperindah

busana yang dikenakan. Pelengkap busana sekunder bila tidak dikenakan,

tidak akan mempengaruhi penampilan dalam kehidupan sehari-hari.

Contoh : perhiasan, (kalung, cincin, anting, gelang). (Sri Widarwati,

1993:3)

Pelengkap busana yang digunakan pada pembuatan busana kreasi

baru ini adalah sepatu, anting, dan kalung dengan korsase yang dibuat dari

bahan plastik.

Gambar 32. Macam-macam pelengkap


47

F. Pemeliharaan Busana kreasi Baru dari Limbah Gelas Plastik

Busana sangat perlu mendapatkan pemeliharaan agar kebersihan

serta keindahannya tetap terjaga, selain itu untuk kepentingan kesehatan,

pakaian yang bersih akan nyaman dipakai dan bisa lebih tahan lama bila

dibandingkan dengan pakaian yang jarang dibersihkan.

Cara memelihara busana kreasi baru ini yaitu dengan pencucian

kering (dry clean) dapat dilakukan dengan mesin khusus dry clean dengan

teknik mengelap menggunakan bahan kimia dry clean agar tidak rusak.

Pencucian atau dry clean hanya dilakukan pada bagian kain/bahan tekstil

(satin metalik) karena kotoran berupa keringat biasa terdapat pada sekitar

ketiak atau lingkar bahan, pencucian harus secara hati-hati agar tidak rusak

dan terhindar goresan yang tidak diinginkan. Kotoran pada bahn plastik

biasanya berupa debu saja dan cara membersihkannya yaitu dengan kuas halus

disapukan diatas permukaan bahan gelas plastik. penyertikaan dilakukan pada

kain dalam yaitu kain furing secara hati-hati dengan panas kecil/sedang. Jadi

untuk penyertikaan cukup pada bagian dalam selain bahan plastik.

Busana kreasi baru dari gelas plastik dapat disimpan dalam almari

khususnya penyimpanan pakaian dengan digantung memakai gantungan

pakaian atau hanger. Beri kelonggaran antara busana yang satu dengan busana

lain agar tidak rusak. Bisa diberi pewangi atau kapur barus agar tehindar dari

serangga yang dapat merusak pakaian seperti kecoa, dan ngengat. Busana ini

sebaiknya secara periodic dikeluarkan dari lemari dan diangin-anginkan untuk

menghindari kelembaban.
48

G. Hasil dan Pembahasan

a. Hasil

1. Masalah Pola

Pembuatan busana kreasi baru dua potong (two piece)

menggunakan sistem meyneke dapat diperoleh hasil yaitu garis

(princess) pada bagian depan dan belakang busana tepat pada badan,

garis pinggang tepat dan garis pada sisi tepat.

Pola sistem meyneke banyak digunakan dan cocok untuk tubuh

gemuk maupun kurus khususnya yang mempunyai buah dada besar,

karena pola meyneke dapat membentuk tubuh si pemakai lebih bagus

dan dapat menutupi kekurangan bentuk tubuhnya, jika tepat saat

pengambilan ukuranya. Detail pola meyneke lebih banyak bila

dibandingkan dengan pola sistem lainnya (sebagai contoh pola praktis

cuma sedikit detail polanya bila dibandingkan dengan pola sistem

meyneke), dan pola yang sedikit detail polanya juga bisa menghasilkan

hasil yang bagus, namun hal itu juga tergantung pada pemahaman dan

penguasaan terhadap berbagai macam jenis pola, bila lebih menguasai

salah satu jenis pola dengan baik maka dapat menghasilkan hasil busana

yang baik pula.

2. Pemakaian Bahan

Bahan yang digunakan untuk mmbuat busana kreasi baru yaitu limbah

gelas plastik (contohnya gelas plastik Aqua) sebagai bahan utama, gelas

plastik dipilih karena pada dasarnya gelas plastik banyak dimanfaatkan


49

dalam berbagai keperluan sehari-hari sebagai contoh untuk bungkus

makanan, minuman ringan, jas hujan dan lain-lain, tetapi masih jarang

digunakan dibidang busana maka limbah gelas plastik dipilih sebagai

bahan daur ulang yang perlu dikembangkan menjadi barang yang lebih

berguna dan memiliki nilai yang tinggi. Bahan yang digunakan yaitu

gelas plastik sebagai bahan untuk kamisol dan rok suai serta kain satin

untuk melapisi agar tidak kelihatan transparan pada bahan gelas plastik

sehingga tampak berkilau untuk memberi kesan mewah pada busana

kreasi baru.

3. Proses Pembuatan

a. Busana kreasi baru

Proses pembuatan busana kreasi baru dari limbah gelas plastik yaitu

pengambilan ukuran, pembuatan pola dan merubah sesuai model,

memotong bahan sesuai rancangan bahan, setelah kain dipotong

semua garis rader di jelujur terlebih dahulu karena bahan sangat

licin dan mudah bergeser. Bahan satin dilapisi dengan kain furing

agar tidak kelihatan transparan dan si pemakai nyaman, antara kain

satin dan furing harus distukan dengan dijelujur terlebih dahulu.

Berikutnya yaitu menjahit dan mengepas I (pertama) ternyata

terdapat kekurangan pada pengepasan pertama, yaitu pada bagian

pinggang dan perut masih ada sedikit lekuk –lekuk, untuk bagian

panggul sudah pas. Kemudian memperbaiki kesalahan pada

pengepasan pertama dan terakhir yaitu penyelesaian.


50

b. Hiasan dengan cat warna

Pembuatan pada busana kreasi baru yaitu dengan cara mendesain

sebuah motif dengan cat decorffin crystal diatas gelas plastik sesuai

ukuran motif yang sudah dipotong-potong, apabila cat sudah kering

kemudian diratakan tepi-tepinya dengan gunting. Setelah selesai

kemudian dijahit satu demi satu membentuk lingkaran (untuk

bagian camisol) dan membentuk setengah lingkaran jika dilihat dari

tampak depan dan jika dilihat dari tampak samping membentuk

lingkaran penuh (untuk bagian rok)

c. Teknik Penyelesaian

Teknik penyelesaian yang digunakan adalah kampuh buka pada

kain satin dan untuk kain furing, gelas plastik dijahit sesuai desain

yang telah ditentukan., dan untuk penyelesaian kelim dengan tusuk

jelujur sembunyi. Tepi bawah camisol di sum dengan tusuk

sembunyi dan bawah rok kain satin dibordir sedangkan bagian

dalam rok kain furing disum dengan tusuk sembunyi. Memasang

kancing kait dan atas tutup tarik dengan tusuk festoon/tusuk balut.

b. Pembahasan

Penggunaan bahan plastik menjdi bahan busana kreasi baru yang

merupakan suatu inovasi baru dalam dalam bidang busana yaitu membuat

suatu hasil busana yang menarik perlu ditambah dengan hiasan-hiasan dan

payet/mote untuk memperidah busana. Hiasan yang cocok untuk

diterapkan pada bahan plastik yaitu pengecatan dengan desaian motif daun
51

karena motif daun dapat divariasi menurut bentuk dan ukuran. Pembuatan

busana kreasi baru ini menggunakan pola sistem myneke akan

memperoleh hasil yang bagus bila dalam pengambilan ukurannya tepat.

Model camisol dan rok sederhana sehingga terkesan simple dan mewah

yang terdiri dari camisol dengan rok dan menggunakan tali (untuk

camisol) dan ritsleting (untuk rok), garis hias princess di kedua sisi badan

muka dan belakang, tampak sempurna dan pas dibadan si pemakai diberi

penegak (balein) dan busa dada/mungkum. Teknik jahitnya mudah hanya

saja pada pemasangan hiasan bagian rok sangat sulit, pemasangan hiasan

gelas plastik pada bahan utama rok sudah dijahit yaitu; bagian sisi, bagian

tengah belakang dan ritsleting sudah terpasang selanjutnya hiasan gelas

plastik dipasang serta dijahit. Lamanya pembuatan busana ini memerlukan

waktu 11/2 - 2 bulan karena lamanya proses pengecatan sehingga

menghabiskan biaya Rp1.591.800. Penyelesaiannya dengan kampuh buka

untuk bahan satin dan furing. Pengepasan busana kreasi baru memperoleh

hasil: garis busana tepat, garis pinggang tepat dan garis sisi tepat.

Pemeliharaan busana kreasi baru dari gelas plastik cukup dengan

pencucian kering (dry cleaning) pada bagian kain satin untuk untuk

membersihkan bahan plastik cukup dengan kuas karena kotoran pada

plastik biasanya hanya berupa bebu penyimpanan dalam almari atau

tempat penyimpanan pakaian, digantung dan secara periodic dikeluarkan

atau diangin-anginkan untuk menghindari kelembaban.


52

Pembuatan busana kreasi baru dari gelas plastik, tentunya

menemui hambatan dan kesulitan antara lain sebagai berikut:

1. Proses pengecatan pada plastik memerlukan waktu yang lama. Percobaan

ini dilakukan berulang-ulang, saat proses pengecatan langsung diatas

plastik dengan menjiplak motif yang suadah ditentukan.

2. Pemotongan gelas plastik membutuhkan kesabaran dan ketelatenan dalam

memotong dan menggunting.

3. Penjahitan busana ini memerlukan kesabaran dalam menjahit karena

hiasannya penuh pada bagian rok dan membentuk lingkaran bila tampak

dari samping sehingga dalam menjahit apabila bergeser/memutar sangat

sulit jika tidak telaten karena plastik memiliki sifat kaku.


BAB III

PENUTUP

A. Simpulan

1.Proses pembuatan busana kreasi baru dengan hiasan motif dari cat decorffin

pada skema proses pembuatan busana kreasi baru (halaman 32) dan

disesuaikan dengan teknik jahit yang digunakan yaitu kampuh buka disetik

lepas untuk kain satin dan abutai (vuring).

2. Pembuatan hiasan motif dengan pewarna cat decorffin, pembuatan hiasan ini

disesuaikan pada desain motif daun dan hiasannya membentuk seperti bunga

gerbera, pemasangan hiasan gelas plastik yaitu bahan utama rok, sudah

dijahit pada bagian sisi, tengah belakang dan ritsleting sudah terpasang

selanjutnya hiasan gelas plastik dipasang serta dijahit. Lamanya pembuatan

busana ini memerlukan waktu 11/2 - 2 bulan karena lamanya proses

pengecatan sehingga menghabiskan biaya Rp1.591.800. Dengan diberi

hiasan lain yaitu payet yang membentuk rumbai (untuk camisol) sedangkan

jaring dan rumbai pada bagian bawah rok.

3. Pemeliharaan busana kreasi baru dari bahan gelas plastik pada hiasan

pewarnaan cat decorffin yaitu pencucian secara kering (dry cleaning)

menggunakan mesin khusus dry clean pada bagian bahan kain serta teknik

pengelapan menggunakan bahan kimia, bahan plastik tidak perlu dicuci

cukup dibersihkan dengan kuas. Penyertikaan harus dilakukan secara hati-

hati, setrika dengan temperatur rendah, penyimpanan dalam almari dengan

53
54

cara digantung, beri kelonggaran dan secara periodic dikeluarkan untuk

menghindari kelembaban

B. Saran

1. Pemanfaatan limbah dari bahan gelas plastik dibidang busana merupakan

satu inovasi baru yang menarik untuk dikembangkan, karena limbah gelas

plastik merupakan bahan yang mencemarkan lingkungan sehingga bahan ini

mudah didapat dan harganya relatif murah namun sedikit penggunaannya

dalam dunia busana, untuk meningkatkan nilai ekonomi dari bahan plastik

perlu dilakukan pengembangan lebih lanjut sehingga muncul ide-ide baru

yang menambah wawasan berbusana.

2. Pewarnaan cat decorffin pada gelas plastik sebagai hiasan pada busana

ternyata dapat menghasilkan busana yang menarik dan terkesan mewah,

maka perlu ditingkatkan pengetahuan dan ketrampilan, sehingga dapat

menerapkannya dalam bentuk busana yang lebih berkualitas.


DAFTAR PUSTAKA

APPMI. 2004. Ragam Busana Pesta. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.


Djati Pratiwi, dkk. 2001. Pola Dan Pecah Pola Busana. Yogyakarta : Kanisius
Ensiklopedia Indonesia. 1997 : Kanisius.
MGMP Muatan Lokal Kodya Semarang. 1994. Ketrampilan Tata Busana SLTP.
Semarang : Permata Fajar Mandiri.
Poespo, Goet. 2005. Andrawina. Koleksi Gaun Pesta Kontemporer. Yogyakarta :
Kanisius.
Poespo, Sanny 2003. Gaya Busana Pesta, Yogyakarta : Kanisius.
Poespo, Goet. 2000. Semarak Busana Stropless Camisol. Yogyakarta : Kanisius.
Soekarno. 2000. Buku Penuntun Membuat Pola Busana Tingkat Dasar. Jakarta :
PT Gramedia Pustaka Utama.
Suhersono, Hery. 2004. Desain Motif . Jakarta : Puspa Swara.
Santoso, Ananda & Priyanto S . 1995. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia.
Surabaya: Kartika.
Sulchan, Yasyin. 1997 : Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya : Amanah
Sastrodiwiryo, Hery Cahyo. 2002. Kreasi Bunga Dan Sedotan. Jakarta: Puspa
Swara.
Subandi, Endang. 1980. Pengetahuan Barang Tekstil. Jakarta : Depdikbud
Sulistio, Hartatiati Dra. Hj, 2005. Rancangan Busana Terampil Membentuk
Pribadi
Mempesona. Semarang : UPT Percetakan Penerbit UNNES Press.
www. Google: Bahan plastik. Meninjau segi Positif penggunaan plastik (27-12-
2005)
www. Google: Bahan plastik. Bali pos. Prof. Madya Rahmat Awang. Bahaya
bahan kimia dalam pembungkus plastik (27-12-2005)
www. Google: Limbah. Sampah (27-12-2005)
www. Google: Wanita. Kreasi baru. Anne Avantie (27-12-2005)

55
56

LAMPIRAN 1

CONTOH BAHAN

Bahan Gelas Plastik Bahan furing

Bahan Satin Tali Kur

Mote/payet Mote/ payet Mote/payet

Cat Decorffin Cristal


57

LAMPIRAN 2

DOKUMENTASI ALAT
58

LAMPIRAN 3

RANCANGAN BAHAN UTAMA (SATIN METALIK)

SKALA 1 : 6
59

LAMPIRAN 4

RANCANGAN BAHAN FURING (ERO)

SKALA 1 : 6
60

LAMPIRAN 5
DOKUMENTASI PROSES PENGECATAN

Tahap pengecatan pertama

Tahap pengeringan
61

LAMPIRAN 6

DOKUMENTASI PROSES PENGECATAN

Tahap pengecatan kedua

Tahap pengeringan
62

LAMPIRAN 7

PEMANFAATAN LIMBAH GELAS PLASTIK PADA BUSANA KREASI

BARU

Foto Tampak Depan


63

LAMPIRAN 8

PEMANFAATAN LIMBAH GELAS PLASTIK PADA BUSANA KREASI

BARU

Foto Tampak Samping


64

LAMPIRAN 9

PEMANFAATAN LIMBAH GELAS PLASTIK PADA BUSANA KREASI

BARU

Foto Tampak Belakang


65

LAMPIRAN 10

BAHAN PLASTIK YANG SUDAH DIWARNA

Contoh gelas plastik yang dicat


66

PERNYATAAN SELESAI BIMBINGAN

Yang bertanda tangan dibawah ini pembimbing Tugas Akhir dari mahasiswa:
Nama : ………………………………………..
NIM : ………………………………………..
Program Studi : ………………………………………..
menyatakan bahwa mahasiswa tersebut telah SELESAI bimbingan tugas akhirnya
yang berjudul:
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………
dan tugas akhir tersebut siap untuk DIUJIKAN.
Semarang, ……………………..
Mengetahui, Pembimbing

Ketua Program studi,

……………………………. ……………………………….
NIP ………………………. NIP ………………………….
67

PERNYATAAN SELESAI REVISI

Telah selesai melakukan revisi dengan penguji I pada:

Hari : …………………………….

Tanggal : ……………………………..

Penguji I,

Dra. Sri Endah W, M.Pd

NIP.

Telah selesai melakukan revisi dengan penguji II pada:

Hari : ……………………………..

Tanggal : ……………………………..

Penguji II,

Dra. Urip W, M.Pd


NIP.
PENGARUH ASAL SEKOLAH TERHADAP
PARTISIPASI DAN HASIL BELAJAR MATA KULIAH
ILMU UKUR TANAH MAHASISWA PROGRAM D III
TEKNIK SIPIL SEMESTER II FAKULTAS TEKNIK
UNNES TAHUN AJARAN 2004/2005

S K R I P S I

Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Teknik Bangunan


Pada Universitas Negeri Semarang

Oleh :
Slamet Budiharjo
NIM. 5114990027

FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2005
PENGESAHAN KELULUSAN

“PENGARUH ASAL SEKOLAH TERHADAP PARTISIPASI DAN HASIL


BELAJAR MATA KULIAH ILMU UKUR TANAH MAHASISWA
PROGRAM D III TEKNIK SIPIL SEMESTER II FAKULTAS TEKNIK
UNNES TAHUN AJARAN 2004/2005”

Oleh :
Nama : Slamet Budiharjo
Nim : 5114990027

Telah dipertahankan dihadapan Sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang pada :

Hari : Sabtu
Tanggal : 17 Desember 2005

Susunan Panitia Ujian Skripsi

Ketua Sekretaris

Drs. Lashari, MT Drs. Supriyono


NIP. 131471402 NIP. 131571560
Pembimbing I Anggota Penguji

Ir. Ispen Safrel, M. Si 1. Ir. Ispen Safrel, M. Si


NIP. 131781327 NIP. 131781327
Pembimbing II
2. Drs. Yeri Sutopo, M.Pd, M.T
NIP. 131658244
Drs. Yeri Sutopo, M.Pd, M.T
NIP. 131658244
3. Ir. Saratri Wilonoyudho, M. Si
NIP. 131781317
Dekan Fakultas Teknik
Universitas Negeri Semarang

Prof. Dr. Soesanto


NIP. 130875753

ii
MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO

1. Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum

sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka

sendiri ( Ar- Ara’d : 11).

2. Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah

nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka

sesungguhnya azab-Ku sangat pedih ( Ibrahim : 7).

3. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali (Mame).

4. Mencoba adalah pengalaman, tidak selamanya pengalaman itu

gagal (Mame).

PERSEMBAHAN

Skripsi ini saya persembahkan untuk orang-orang terdekatku yaitu:

1. Bapak dan Ibuku tercinta yang telah banyak mencurahkan segenap

kasih sayang serta dukungannya dalam semua kehidupanku.

2. Belahan jiwaku, Ayun yang juga banyak memberikan dukungan baik

moril maupun materiil sehingga aku tetap dapat melewati hari-hariku

dengan penuh kebahagiaan dan kedamaian.

3. Kakak-kakaku tercinta, Mba Diyah, Mba Eni dan Mba Rus yang juga

ikut berperan dalam penyelesaian studiku.

4. My the best friend Sithong dan Abas sebagai kelompok tiga

serangkaiku

iii
SARI

Slamet Budiharjo (2005), “Pengaruh Asal Sekolah Terhadap Partisipasi


Dan Hasil Belajar Ilmu Ukur Tanah Mahasiswa Program DIII Teknik Sipil
Semester II Fakultas Teknik UNNES Tahun Ajaran 2004/2005”. Skripsi,
Pendidikan Teknik Bangunan, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang.

KATA KUNCI: Hasil Belajar IUT, Partisipasi Mahasiswa.

Tujuan Penelitian ini adalah untuk menjelaskan perbedaan asal sekolah


terhadap pertisipasi dan hasil belajar mata kuliah Ilmu Ukur Tanah mahasiswa
program studi D III Teknik Sipil Fakultas Teknik UNNES.
Penelitian ini menggunakan metode Expost facto yaitu penelitian yang
menggunakan dan mengumpulkan datanya dari dokumentasi yang telah ada atau
cara- cara lain yang sejenis. Populasi yang digunakan adalah semua Mahasiswa
Program DIII Teknik Sipil Semester II Fakultas Teknik UNNES Tahun Ajaran
2004/2005. Metode pengumpulan data menggunakan metode dokumentasi untuk
daftar nama mahasiswa, metode tes untuk mengetahui hasil belajar mahasiswa
dan metode observasi untuk mengambil data tentang partisipasi mahasiswa.
Analisa yang digunakan adalah sistem uji t.
Berdasarkan anlisis data untuk menguji hipotesis pertama diperoleh thitung
>ttabel (5,051>1,69), maka hipotesis dinyatakan diterima artinya asal sekolah
berpengaruh terhadap hasil belajar mahasiswa yaitu mahasiswa asal SMK lebih
baik hasil belajarnya disbanding mahasiswa asal SMU. Berdasarkan anlisis data
untuk menguji hipotesis kedua diperoleh nilai thitung >ttabel (1,938>1,69), maka
hipotesis diterima yang berarti asal sekolah juga berpengaruh terhadap partisipasi
mahasiswa yaitu mahasiswa asal SMK lebih tinggi partisipasinya disbanding
mahasiswa asal SMU.

iv
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah


melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua sehingga dapat
terselesaikannya skripsi ini dengan baik. Tidak lupa shalawat dan salam penulis
haturkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW yang senantiasa ditunggu
syafaatnya di yaumil kiamat.
Skripsi yang berjudul “Pengaruh Asal Sekolah Terhadap Partisipasi dan
Hasil Belajar Ilmu Ukur Tanah Mahasiswa Program DIII Teknik Sipil Semester II
Fakultas Teknik UNNES Tahun Ajaran 2004/2005” disusun berdasarkan hasil
penelitian yang dilaksanakan pada tanggal 28 Februari s/d 25 April 2005 di DIII
Teknik Sipil Semester II Fakultas Teknik UNNES. Skripsi disusun guna
melengkapi salah satu syarat dalam mencapai gelar sarjana pendidikan di Jurusan
Teknik Bangunan Universitas Negeri Semarang.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. Soesanto, Dekan Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang
yang telah memberikan kesempatan untuk menyelesaikan studi di
Universitas Negeri Semarang;
2. Drs. Lashari, MT, Ketua Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas
Negeri Semarang;
3. Ir. Ispen Safrel M. Si, sebagai Pembimbing I yang telah memberikan
motivasi membimbing, memberikan petunjuk dan saran yang sangat
berharga dalam penyusunan skripsi ini;
4. Drs. Yeri Sutopo, M. Pd, MT. sebagai Pembimbing II yang telah banyak
membimbing dan mengarahkan dalam penyusunan skripsi ini;
Akhirnya diharapkan semoga skripsi ini berguna bagi mahasiswa maupun
dosen khususnya pada program studi penddikan teknik Bangunan Universitas
Negeri Semarang

Semarang, November 2005

Penulis

v
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................ i
PENGESAHAN KELULUSAN ...................................................................... ii
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ................................................................... iii
SARI................................................................................................................. iv
KATA PENGANTAR ..................................................................................... v
DAFTAR ISI.................................................................................................... vi
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... viii
DAFTAR TABEL............................................................................................ ix
DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................... x

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................... 1


1.1 Latar Belakang ......................................................................... 1
1.2 Batasan Masalah ...................................................................... 2
1.3 Permasalahan ........................................................................... 3
1.4 Tujuan Penelitian .................................................................... 4
1.5 Manfaat Penelitian ................................................................... 4
1.6 Sistematika Skripsi................................................................... 5

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS ....................................... 6


2.1 Kajian Pustaka......................................................................... 6
2.1.1 Pengertian Belajar .............................................................. 6
2.1.2 Tranfer Belajar ................................................................... 8
2.1.3 Hasil Belajar....................................................................... 10
2.1.4 Asal Sekolah ...................................................................... 13
2.1.5 Patisipasi Mahasiwa Dalam Proses Belajar Mengajar ....... 16
2.1.6 Mata Kuliah Ilmu Ukur Tanah........................................... 18
2.1.7 Tinjauan Tentang Konsep Trigonometri............................ 20

vi
2.2 Kerangka Berpikir.................................................................... 26
2.3 Hipotesis................................................................................... 28

BAB III METODE PENELITIAN............................................................... 29


3.1 Prosedur Pelaksanaan Penelitian.............................................. 29
3.2 Populasi dan Subjek ................................................................. 29
3.3 Variabel Penelitian ................................................................... 29
3.4 Metode Pengumpulan Data ...................................................... 30
3.4.1 Metode Dokumentasi........................................................... 30
3.4.2 Metode Tes ........................................................................ 30
3.4.3 Metode Observasi ............................................................... 30
3.5 Analisis Perangkat Tes............................................................. 31
3.5.1 Validitas Tes ...................................................................... 31
3.5.2 Reliabilitas Tes................................................................... 32
3.5.3 Tingkat Kesukaran Soal .................................................... 33
3.5.4 Daya Pembeda.................................................................... 33
3.6 Analisis Data ............................................................................ 35
3.6.1 Jika varian kedua sampel sama .......................................... 35
3.6.2 Jika varian tidak homogen ................................................. 36

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .............................. 37


4.1 Hasil Penelitian ........................................................................ 37
4.2 Uji Hipotesis ............................................................................ 40
4.3 Pembahasan.............................................................................. 41
4.4 Keterbatasan Penelitian............................................................ 44

BAB V PENUTUP....................................................................................... 45
5.1 Kesimpulan .............................................................................. 45
5.2 Saran......................................................................................... 46
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 48
LAMPIRAN-LAMPIRAN............................................................................... 49

vii
DAFTAR GAMBAR

Gambar. 1 Segitiga Siku-siku .......................................................................... 20


Gambar. 2 Diagram Kuadran ........................................................................... 21
Gambar. 3 Segitiga AOB dengan sudut α = 30o .............................................. 22
Gambar. 4 Segitiga AOB dengan sudut α = 60o .............................................. 23
Gambar. 5 Segitiga AOB dengan sudut α = 45o .............................................. 23
Gambar. 6 Koordinat Cartesius........................................................................ 24
Gambar. 7 Koordinat Polar .............................................................................. 25
Gambar. 8 Hubungan Antara Koordinat Cartesius dan Kutub ........................ 25

viii
DAFTAR TABEL

Tabel 2. 1 Posisi Kwadran ............................................................................... 21


Tabel 2. 2 Besar Sudut Istimewa...................................................................... 24
Tabel 3. 1 Tingkat Kesukaran Soal .................................................................. 33
Tabel 3. 2 Daya Pembeda Soal ........................................................................ 34
Tabel 3. 3 Daftar Soal yang Dipakai dan Dibuang .......................................... 35
Tabel 4. 1 Distribusi Frekuensi Test Mahasiswa Asal SMU ........................... 37
Tabel 4. 2 Distribusi Frekuensi Test Mahasiswa Asal SMK ........................... 38
Tabel 4. 3 Distribusi Frekuensi Sikap Partisipasi Mahasiswa Asal SMU ....... 39
Tabel 4. 4 Distribusi Frekuensi Sikap Partisipasi Mahasiswa Asal SMK ....... 39
Tabel 4. 5 Uji t Hasil Belajar………………………………………………… 40
Tabel 4. 6 Uji t Partisipasi……………………………………………………. 41

ix
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Instrumen Soal Tes ...................................................................... 49


Lampiran 2. Instrumen Observasi ................................................................... 56
Lampiran 3. Daftar Mahasiswa ....................................................................... 59
Lampiran 4. Hasil Analisis Uji Coba Soal ...................................................... 60
Lampiran 5. Perhitungan Validitas Butir……………………………………. 62
Lampiran 6. Perhitungan Reabilitas Instrumen……………………………... 64
Lampiran 7. Perhitungan Tingkat Kesukaran Soal………………………….. 65
Lampiran 8. .Perhitungan Daya Pembeda Soal ……………………………… 66
Lampiran 9. Data Observasi............................................................................ 67
Lampiran 10. Rekapitulasi Data Parisipasi ..................................................... 70
Lampiran 11. Uji Normalitas Data Hasil Observasi ....................................... 71
Lampiran 12. Uji Kesamaan Dua Varians Data Observasi............................. 73
Lampiran 13. Uji Perbedaan Dua Rata – Rata Hasil Observasi...................... 74
Lampiran 14. Distribusi Frekuensi Partisipasi ……………………………… 75
Lampiran 15. Konversi Angka Partisipasi…………………………………… 76
Lampiran 16. Menentukan Kriteria Sikap Partisipasi ...................................... 78
Lampiran 17. Rekapitulasi Data Hasil Belajar................................................. 79
Lampiran 18. Uji Normalitas Data Hasil Tes................................................... 80
Lampiran 19. Uji Kesamaan Dua Varians Data Tes ........................................ 82
Lampiran 20. Uji Perbedaan Dua Rata – Rata Hasil Tes................................. 83
Lampiran 21. Distribusi Frekuensi Nilai……………………………………... 84
Lampiran 22. Konversi Angka Hasil Belajar………………………………… 86
Lampiran 23. Keputusan Dekan Fakultas Teknik Tentang Penetapan Dosen
Pembimbing ................................................................................ 87
Lampiran 24. Surat Keterangan Telah Selesai Bimbingan .............................. 88
Lampiran 25. . Surat Keterangan Telah Seminar Proposal.............................. 89
Lampiran 26. Surat Tugas ................................................................................ 90

x
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Mata kuliah Ilmu Ukur Tanah berjumlah 2 SKS, yang merupakan salah satu

mata kuliah dasar umum (MKDU) yang wajib diikuti oleh semua mahasiswa pada

Prodi D III T. Sipil di Uniersitas Negeri Semarang. Mata kuliah ini diharapkan

mampu membekali mahasiswa dalam dalam bidang pengukuran baik secara teori

maupun praktek. Para pengampu adalah dosen-dosen pada Prodi Pendidikan

Teknik Bangunan Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang.

Salah satu mata diklat di SMK adalah survai dan pemetaan yang sering

disebut Ilmu Ukur Tanah yaitu ilmu yang mempelajari berbagai macam

pengukuran di atas bumi, dan ini dilanjutkan dalam mempelajari Ilmu Ukur Tanah

di perguruan tinggi khususnya UNNES.

Sedangkan salah satu mata pelajaran di SMU adalah Matematika yang

mempelajari berbagai macam perhitungan. Salah satu diantaranya adalah sub

pokok bahasan trigonometri yaitu bahasan yang mempelajari tentang pengetahuan

sudut yang kemudian memungkinkan adanya transfer belajar dalam mempelajari

Ilmu Ukur Tanah di perguruan tinggi. Matematika merupakan ilmu penalaran

yang tersusun secara hirarki, sehingga untuk belajar matematika harus dilakukan

secara kontinyu dan berurutan. Matematika mempunyai peranan penting dalam

segala mata pelajaran terutama mata pelajaran yang menyangkut perhitungan

seperti Ilmu Ukur Tanah.

1
2

Ilmu Ukur Tanah (IUT) merupakan salah satu mata kuliah yang dianggap

sulit dan rumit oleh sebagian mahasiswa, pengalaman menunjukkan bahwa

banyak mahasiswa yang mengalami kesulitan dalam mempelajari Ilmu Ukur

Tanah. Dalam mata kuliah IUT yang diajarkan di Perguruan tinggi metode yang

digunakan adalah metode teori dan praktek. Metode teori banyak melibatkan

perhitungan, sehingga untuk mempelajarinya diperlukan pengetahuan matematika

untuk membantunya. Bagi mahasiswa asal SMU ada kemungkinan untuk

terjadinya transfer of learning yaitu pemindahan atau pengalihan hasil belajar

yang diperoleh dalam bidang studi yang satu ke bidang studi yang lain atau ke

kehidupan sehari-hari di luar lingkup pendidikan sekolah. Mahasiswa asal SMU

lebih banyak mendapat pelajaran matematika pokok bahasan trigonometri yang

mendukung dalam mempelajari Ilmu Ukur Tanah dibanding mahasiswa asal

SMK. Namun mahasiswa asal SMK sendiri sudah mendapatkan Ilmu Ukur Tanah

sebelum kuliah di perguruan tinggi. Tentu saja hal ini juga berpengaruh terhadap

partisipasi mahasiswa dalam mengikuti pembelajaran Ilmu Ukur Tanah. Oleh

sebab itu penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “Pengaruh

Asal Sekolah Terhadap Partisipasi Dan Hasil Belajar Ilmu Ukur Tanah

Mahasiswa Program DIII Teknik Sipil Semester II Fakultas Teknik UNNES

Tahun Ajaran 2004/2005”.

1.2 BATASAN MASALAH

Penelitian ini mencoba untuk mengungkap permasalahan sekitar partisipasi

belajar mahasiswa dengan menghubungkan beberapa faktor yang berkaitan erat


3

dengan permasalahan tersebut. Penelitian ini juga akan dibatasi mengingat

luasnya permasalahan yang berhubungan dengan prestasi belajar Ilmu Ukur

Tanah di UNNES, sehingga peneliti tidak dapat membahas keseluruhan faktor.

Peneliti membatasi pengertian asal sekolah sebagai asal mahasiswa sebelum

masuk perguruan tinggi, sedangkan pembuktian fenomena dilakukan pada

mahasiswa progam studi D III Teknik Sipil semester II tahun 2004/2005.

Perihal yang akan dibahas adalah pengaruh asal sekolah terhadap partisipasi

dan hasil belajar Ilmu Ukur Tanah mahasiswa progam studi D III Teknik Sipil

dalam teori pengukuran dengan metode sipat datar sebab waktu penelitian ini

bertepatan dengan materi perkuliahan yang berlangsung pada pokok bahasan

pengukuran sipat datar. Berdasarkan pembatasan masalah ini maka permasalahan

tentang partisipasi dan hasil belajar Ilmu Ukur Tanah mahasiswa progam studi D

III Teknik Sipil Semester II tahun 2004/2005 dapat diketahui dengan jelas.

1.3 PERMASALAHAN

Adapun yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut:

1. Adakah perbedaan hasil belajar Ilmu Ukur Tanah antara siswa yang berasal

dari SMK dan SMU?

2. Adakah perbedaan partisipasi mahasiswa dalam mengikuti mata kuliah Ilmu

Ukur Tanah antara siswa yang berasal dari SMK dan SMU?
4

1.4 TUJUAN PENELITIAN

Memperhatikan permasalahan di atas, maka tujuan dalam penelitian ini

adalah:

1. Untuk menjelaskan perbedaan asal sekolah terhadap pertisipasi belajar mata

kuliah Ilmu Ukur Tanah mahasiswa program studi D III Teknik Sipil

Fakultas Teknik UNNES.

2. Untuk menjelaskan perbedaan asal sekolah terhadap hasil belajar mata

kuliah Ilmu Ukur Tanah mahasiswa program studi D III Teknik Sipil

Fakultas Teknik UNNES.

1.5 MANFAAT PENELITIAN

1.5.1 Manfaat teoritik

Memberikan penjelasan tentang partisipasi dan hasil belajar mahasiswa

dilihat dari asal sekolah sehingga dapat mengetahui kemungkinan adanya Transfer

of Learning dalam mempelajari Ilmu Ukur Tanah.

1.5.2 Manfaat Praktik

1.5.2.1 Bagi Mahasiswa

Mahasiswa makin menyadari dan memahami bahwa untuk memudahkan

dalam memahami Ilmu Ukur tanah maka mereka perlu mempelajari mata kuliah

matematika lebih mendalam khususnya pada pokok bahasan trigonometri.

1.5.2.2 Bagi Dosen

Dosen dapat merumuskan suatu metode pengajaran yang sesuai dengan

mempertimbangkan latar belakang asal sekolah mahasiswa.


5

1.6 SISTEMATIKA SKRIPSI


Skripsi ini terdiri tiga bagian, yaitu bagian pendahuluan, bagian isi dan
bagian penutup. Adapun uraian tentang isi masing-masing bagian adalah sebagai
berikut.
1. Bagian Pendahuluan
Pada bagian pendahuluan berisi tentang judul, abstraksi, pengesahan,
motto dan persembahan, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar
lampiran.
2. Bagian Isi
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab pendahuluan berisi tentang latar belakang, batasan
masalah, permasalahan, tujuan penelitian, manfaat penelitian
dan sistematika skripsi.
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS
Pada kajian pustaka dan hipotesis berisi tentang teori-teori yang
mendukung dalam penulisan skripsi dan merupakan landasan
berfikir serta hipotesis dalam pelaksanaan penulisan skripsi.
BAB III METODE PENELITIAN
Pada bab ini membahas tentang prosedur penelitian, populasi,
variabel penelitian, metode pengumpulan data, analisi
perangkat tes dan analisis data.
BAB IV HASIL PENELITIAN
Pada bab ini berisi tentang hasil penelitian, uji hipotesis dan
pembahasan yang berisi penyajian data secara garis besar serta
pembahasan.
BAB V PENUTUP
Bab penutup terdiri dari simpulan dan saran.
3. Bagian Akhir
Bagian akhir terdiri dari daftar pustaka dan lampiran- lampiran.
BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS

2.1 KAJIAN PUSTAKA

2.1.1 Pengertian Belajar

Belajar adalah suatu kegiatan yang melibatkan individu secara keseluruhan,

baik fisik maupun psikis, untuk mencapai suatu tujuan. Tujuan belajar secara

umum adalah untuk mencapai perubahan dalam tingkah laku orang yang belajar.

Perubahan yang dimaksud tentu yang bersifat positif yang membantu proses

perkembangan.

Dengan menggabungkan taxonomi Bloom dan klasifikasi Simpson, dapat

disusun suatu tujuan belajar yang harus dicapai oleh seseorang yang belajar,

sehingga terjadi perubahan dalam dirinya. Perubahan terjadi dalam tiga domain,

yaitu: (1) Ranah kognitif (cognitive domain); (2) Ranah Afektif (affektive

domain); (3) Ranah psikomotoris (psycho-motor domain). (Darsono Max, 2000:

32)

Ranah kognitif (cognitive domain) adalah suatu wilayah kecakapan yang

mempengaruhi tingkah laku seseorang, terdiri dari enam jenjang intelektual yaitu:

(a) Pengetahuan yaitu kemampuan mengenal atau mengingat materi yang sudah

dipelajari dari yang sederhana sampai pada teori-teori yang sukar; (b) Pemahaman

yaitu kemampuan untuk memahami makna materi. Ranah ini berada satu tingkat

di atas pengetahuan dan merupakan tingkat berpikir yang rendah; (c) Penerapan

yaitu kemampun untuk menggunakan atau materi yang sudah dipelajari. Pada

6
7

situasi yang baru dan menyangkut penggunaan aturan dan prinsip; satu dengan

yang lainnya sehingga struktur dan aturannya dapat lebih dimengerti; (d) Analisis

yaitu kemampuan untuk menguraikan materi kedalam komponen-komponen atau

faktor penyebabnya dan mampu memahami hubungan diantara bagian yang satu

dengan yang lainnya sehingga struktur dan aturannya dapat lebih dimengerti; (e)

Sintesis adalah kemampuan untuk memadukan konsep atau komponen-komponen

sehingga membentuk suatu pola struktur atau bentuk baru dan memerlukan

perilaku yang kreatif; (f) Evaluasi yaitu kemampuan untuk memberikan

pertimbangan terhadap nilai-nilai materi untuk tujuan tertentu.

Ranah afektif (affektive domain) adalah suatu wilayah yang menyangkut

reaksi-reaksi psikologi yang berkaitan dengan kemampuan dan perasaan. Ranah

afektif terdiri dari lima jenjang, yaitu: (a) Menerima yang berarti kemampuan

yang mengacu kepada kesukarelaan, memperhatikan, dan memberikan respon

terhadap stimulasi yang tepat; (b) Merespon yaitu kemampuan yang mengacu

pada keikutsertaan mahasiswa secara aktif, menjadi peserta, dan tertarik; (c)

penilaian yaitu kemampuan yang mengacu pada nilai atau pentingnya

keikutsertaan diri pada objek atau kejadian tertentu dengan reaksi-reaksi seperti

menerima, menolak, atau tidak menghiraukan; (d) pengorganisasian yaitu

kemampuan yang mengacu pada penyatuan nilai yang menimbulkan suatu sikap

tertentu; (e) Karakterisasi yaitu kemampuan yang mengacu pada karakter dan

gaya hidup seseorang.

Ranah psikomotoris (psycho-motor domain) adalah ketrampilan

mengadakan koordinasi antara proses-proses psikis dangan reaksi motoris. Ranah


8

psikomotoris terdiri dari: (a) Peniruan yaitu kemampuan mengamati suatu

gerakan, mulai dari memberi respon serupa dengan yang diamati, mengurangi

koordinasi dan kontrol otot-otot syaraf; (b) manipulasi yaitu kemampun yang

menekankan pada perkembangan mengikuti pengarahan, penampilan, gerakan-

gerakan pilihan yang menetapkan suatu penampilan melalui latihan; (c) ketepatan

(accuracy) yaitu kemampuan yang memerlukan kecermatan, proporsi, dan

kepastian yang lebih tinggi dalam penampilan; (d) artikulasi yaitu kemampuan

yang menekankan koordinasi suatu rangkaian gerakan dengan membuat urutan

yang tepat dan mencapai yang diharapkan atau konsisten internal diantara

gerakan-gerakan yang berbeda; (d) pengalamiahan yaitu kemampuan yang

menuntut tingkah laku yang ditampilkan dengan paling sedikit mengeluarkan

energi fisik maupun psikis dan gerakan dilakukan secara rutin. (Fajar Arnie, 2004:

221-225).

2.1.2 Transfer Belajar

Istilah “transfer belajar” berasal dari bahasa Inggris “Transfer of learning”

dan berarti pemindahan atau pengalihan hasil belajar yang diperoleh dalam bidang

studi yang satu ke bidang studi yang lain atau ke kehidupan sehari-hari di luar

lingkup pendidkan sekolah (Winkel, 1996: 458).

Transfer belajar menurut Gagne dalam (Nasution, 1984: 141) adalah proses

mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya,

sehingga dapat memperdalam, memperhalus dan menambahkan serta

memperbaiki pengalaman sebelumnya. Dari proses tersebut akan diperoleh


9

pengetahuan baru yang lebih baik melalui proses belajar. Pengalaman baru yang

diperoleh akan disimpan dan pada saat tertentu akan dimunculkan kembali dalam

bentuk lain.

Dalam kaitannya dengan pelajaran matematika terdapat tiga jenis pandangan

mengenai hakekat transfer belajar yaitu teori disiplin formal, teori elemen identik

dan teori generalisasi.

Teori disiplin formal bertitik tolak pada anggapan aliran Psikologi Daya,

tentang psikis atau kejiwaan manusia. Teori menyatakan bahwa daya berpikir,

daya mengingat, daya berkemauan, daya merasa dan lain sebagainya dapat dilatih.

Teori elemen identik dipelopori oleh Edward Thornndike yang dikutip oleh

Nasution, berpendapat bahwa transfer belajar dari satu bidang studi ke bidang

studi yang lain atau dari bidang studi di sekolah ke kehidupan sehari-hari, terjadi

berdasarkan adanya unsur-unsur yang sama dalam kedua bidang studi itu atau

antara bidang studi di sekolah dan kehidupan sehari-hari. Makin banyak unsur-

unsur yang sama, makin besar kemungkinan terjadinya transfer belajar. Jadi,

banyak sedikitnya transfer belajar tergantung dari banyak sedikitnya unsur-unsur

yang sama antara kedua bidang studi atau antara bidang studi di sekolah dan

kehidupan sehari-hari.

Teori pengorganisasian dikemukakan oleh Charles Judd yang dikutip oleh

Nasution, berpendapat bahwa transfer belajar lebih berkaitan dengan kemampuan

seseorang untuk mengungkap struktur pokok, pola dan prinsip-prinsip umum.

Apabila seorang siswa mampu mengembangkan konsep, kaidah, prinsip, dan

siasat-siasat untuk memecahkan persoalan, mahasiswa itu mempunyai bekal yang


10

dapat ditransferkan ke bidang-bidang yang lain di luar bidang studi di mana

konsep, kaidah, prinsip dan siasatn mula-mula diperoleh. Siswa itu mampu

mengadakan generalisasi, yaitu menangkap ciri-ciri atau sifat-sifat umum yang

terdapat dalam sejumlah hal yang khusus. Generalisasi semacam itu sudah terjadi

bila siswa membentuk konsep, kaidah, prinsip (kemahiran intelektual) dan siasat-

siasat memecahkan problem atau masalah (pengaturan kegiatan kognitif). Jadi,

kesamaan antara bidang studi, tidak terdapat dalam unsur-unsur khusus,

melainkan dalam pola, dan struktur dasar dan dalam prinsip.

2.1.3 Hasil Belajar

Di dalam pendidikan, hasil belajar merupakan faktor yang amat penting

untuk diperhatikan oleh setiap dosen, karena hasil belajar yang dicapai mahasiswa

menunjukan seberapa jauh mahasiswa telah menguasai materi perkuliahan dan

mencerminkan pula berhasil tidaknya dosen dalam mengajar. Untuk mengetahui

hasil belajar mahasiswa, maka setiap proses perlu diadakan evaluasi.

Prestasi adalah tingkatan-tingkatan sejauh mana mahasiswa telah dapat

mencapai tujuan yang ditetapkan (Arikunto, 1997: 226). Hasil belajar adalah

semua perubahan di bidang kognitif, sensorik-motorik, dan dinamik-afektif yang

mengakibatkan manusia berubah dalam sikap dan tingkah lakunya. Hasil belajar

ini merupakan suatu kemampuan internal (capability) yang telah menjadi milik

pribadi seseorang dan memungkinkan orang itu melakukan sesuatu atau

memberikan prestasi tertentu (performance) (Winkel, 1996: 97).


11

Gagne mengemukakan ada lima kategori hasil belajar yakni : 1) informasi

verbal, 2) kecakapan intelektual, 3) strategi kognitif, 4) sikap dan 5) ketrampilan

motorik. Sedangkan Bloom mengungkapkan bahwa hasil belajar yang dicapai

dalam tiga kawasan yakni kawasan kognitif, kawasan afektif, dan kawasan

psikomotorik.

Hasil belajar kognitif berkenaan dengan aspek intelektual seperti

pengenalan, pemahaman, analisis, aplikasi, sintesis, dan evaluasi. Hasil belajar

afektif berkenaan dengan sikap, minat, nilai, perhatian dan lain-lain, sedangkan

hasil belajar psikomotorik berkenaan dengan ketrampilan motorik. Pengalaman

menyebutkan bahwa hasil belajar yang dapat dicapai di sekolah pada umumnya

terbatas pada aspek kognitif sekalipun belum semua aspek tersebut dikembangkan

oleh dosen.

Hasil belajar dalam penelitian ini adalah kemampuan aktual yang diperoleh

oleh seseorang setelah ia mempelajari Ilmu Ukur Tanah dalam waktu tertentu dan

dapat diukur dengan alat ukur tertentu.

Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dapat dibedakan menjadi

dua yaitu :

1. Faktor dalam (internal), yaitu faktor-faktor yang dapat mempengaruhi

keberhasilan belajar yang berasal dari mahasiswa yang sedang belajar, yang

meliputi:

a) Anak , dalam hal ini anak yang dalam keadaan segar jasmani, akan

berbeda dari anak yang dalam keadaan lemah. Anak yang segar jasmani
12

akan lebih mudah proses belajarnya dibandingkan dengan anak yang

lemah jasmaninya.

b) Kondisi panca indera, faktor kondisi panca indera yang baik fuingsinya,

terutama penglihatan dan pendengaran akan memudahkan dalam proses

belajar.

c) Kecerdasan, faktor kecerdasan besar pengaruhnya bagi keberhasilan

seseorang mempelajari sesuatu atau mengikuti suatu program

pendidikan.

d) Bakat, faktor bakat juga besar pengaruhnya terhadap proses dan hasil

belajar seseorang. Seseorang yang belajar pada bidang yang sesuai

dengan bakat yang dimiliki akan memperbesar kemungkinan berhasilnya

belajar.

e) Motivasi, dimana motivasi adalah motif yang sudah menjadi aktif pada

saat-saat tertentu. Sedang motif sendiri yaitu daya penggerak di dalam

diri orang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai

suatu tujuan tertentu ( Winkel, 1996: 150).

f) Emosi, sesuai dengan proses belajar mengajar dalam perkembangan

kehidupan seseorang, maka terbentuklah suatu type atau keadaan

tertentu, antara lain menjadi seseorang yang emosional dan mudah putus

asa. Keadaan emosi yang labil seperti mudah marah, merasa tertekan,

merasa tidak aman, dapat mengganggu keberhasilan anak dalam belajar.

Perasaan aman, gembira dan bebas merupakan aspek yang mendukung

dalam kegiatan belajar.


13

2. Faktor luar (external), yaitu faktor-faktor yang berasal dari luar diri siswa

yang dapat mempengaruhi proses belajar, faktor ini meliputi:

a) Faktor lingkungan alami, yaitu kondisi alami yang dapat berpegaruh

terhadap proses dan hasil belajar, seperti suhu udara, kelembaban udara,

cuaca, musim dan termasuk dalam kejadian-kejadian alam yang ada.

b) Faktor lingkungan sosial, dimana lingkungan sosial berupa manusia dan

representasinya maupun wujud lain yang dapat langsung berpengaruh

terhadap proses dan hasil belajar. Hubungan antara orang tua dan anak

yang baik, harmonis, akrab dan saling pengertian memungkinkan anak

dapat belajar dengan baik, karena selain memberikan untuk belajar, orang

tua akan membantu menciptakan situasi belajar yang baik. Lingkungan

sosial seperti suara mesin, pabrik, keramaian pasar dan hiruk pikuk lalu

lintas juga mampengaruhi proses dan hasil belajar.

c) Faktor prasarana belajar, dalam hal ini sarana belajar yang tersedia dan

dapat dimanfaatkan secara maksimum dapat mendukung dan

mempengaruhi terhadap proses dan hasil belajar.

2.1.4 Asal Sekolah

Menurut PP nomor 29 tahun 1990, pendidikan menengah adalah pendidikan

yang diselenggarakan bagi pendidikan dasar. Bentuk satuan pendidikan menengah

terdiri atas (1). Sekolah menengah umum, (2) sekolah menengah kejuruan, (3)

sekolah menengah keagamaan, (4) sekolah menengah kedinasan, (5) sekolah

menengah luar biasa. (Kunaryo, 1999 ; 106)


14

Sekolah menengah umum adalah sekolah pada jenjang pendidikan

menengah yang mengutamakan perluasan pengetahuan dan peningkatan

ketrampilan siswa. Salah satu mata pelajaran yang ada di SMU adalah matematika

yang memungkinkan adanya transfer of learning bagi pelajar asal SMU dalam

mempelajari IUT di perguruan tinggi nanti.

Sekolah menengah kejuruan adalah sekolah pada jenjang pendidikan

menengah yang mengutamakan pengembangan kemampuan siswa untuk

melaksanakan jenis pekerjaan tertentu. Salah satu mata pelajaran yang ada di

SMK adalah IUT, jadi sebelum siswa masuk di perguruan tinggi sudah pernah

mendapat pelajaran tersebut.

Penyelenggaraan pendidikan menengah dapat dilakukan oleh pemerintah

ataupun swasta. Isi kurikulum pendidikan menengah merupakan susunan bahan

kajian dan pelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan menengah dalam rangka

upaya pencapaian tujuan pendidikan nasional.

Materi matematika SMU


KOMPETENSI PEMBELAJARAN
NO
PENGETAHUAN KETRAMPILAN
1 Statistik
2 Penyajian data statistik • Memahami prinsip menghitung • Dapat menghitung
kwartil. kwartil, desil dan
• Memahami prinsip menghitung persentil.
desil. • Dapat menghitung
• Memahami prinsip menghitung modus,median dan
persentil. mean.
3 Matrik • Memahami prinsip menghitung • Dapat menghitung
matrik. matrik.
4 Identitas dan fungsi • Memahami Identitas dan jumlah/ • Dapat memahami
trigonometri selisih dua sudut. dan menghitung
• Memahami sudut rangkap. fungsi trigonometri.
• Memahami grafik fungsi.
5 Relasi/ hubungan • Dapat memahami
• Memahami prinsip relasi/
dan menghitung
hubungan
prinsip relasi.
6 Fungsi genap dan • Memahami prinsip fungsi genap • Dapat memahami
fungsi ganjil dan fungsi ganjil. dan menghitung
15

• Memahami prinsip fungsi linear. fungsi genap genap


• Memahami prinsip fungsi konstan. dan fungsi ganjil.
• Memahami prinsip fungsi
identitas.
• Memahami prinsip fungsi kuadrat.
• Memahami prinsip fungsi tangga.
7 Limit fungsi aljabar • Memahami prinsip limit fungsi • Dapat memahami
aljabar. dan menghitung
• Memahami prinsip limit fungsi prinsip limit fungsi
trigonometri. aljabar.
• Memahami prinsip dan teorema
limit fungsi aljabar.
• Memahami prinsip kontinuitas dan
diskoninuitas.
8 Turunan/ diferensial • Memahami prinsip turunan dari • Dapat memahami
penjumlahan/ pengurangan fungsi. dan menghitung
• Memahami prinsip persamaan semua fungsi
garis singgung suatu kurva. turunan.
9 Fungsi eksponen • Memahami prinsip fungsi • Dapat memahami
eksponen. dan menghitung
• Memahami prinsip persamaan dan prinsip fungsi
pertidaksamaan bentuk eksponen. eksponen.
10 Logaritma • Memahami prinsip logaritma. • Dapat memahami
dan menghitung
logaritma.
Sumber: Kurikulum Sekolah Menengah Umum 1999

Materi Ilmu Ukur Tanah SMK


KOMPETENSI/ SUB PEMBELAJARAN
NO
KOMPETENSI PENGETAHUAN KETRAMPILAN
B Melaksanakan dasar-
dasar pekerjaan survai.
B1 Menunjukan peralatan • Memahami ruang lingkup • Mengunakan dan
dasar susvai pekerjaan survai merawat peralatan
• Memahami macam-macam survai
peralatan survai
B2 Membuat garis lurus di • Memahami syarat-syarat • Membuat garis
lapangan dengan alat pembuatan garis lurus lurus di lapangan
ukur sederhana. • Memahami sumber-sumber
kesalahan pembuatan garis lurus
• Memahami teknik pembuatan garis
lurus
B3 Mengujur jarak di • Memahami syarat-syarat • Mengukur jarak
lapangan dengan alat pengukuran jarak datar datar di lapangan
ukur sederhana. • Memahami sumber-sumber denagn alat ukur
kesalahan pengukuran jarak datar tanah sederhana
• Memahami langkah kerja
pengukuran jarak datar dan yang
terhalang pandangan
B4 Mengukur beda tinggi • Memahami syarat-syarat • Mengukur beda
dengan alat ukur pengukuran beda tinggi tinggi di lapangan
sederhana. • Memahami teknik pengukuran • Menghitung beda
beda tinggi dengan alat ukur tanah tinggi hasil
16

sederhana pengukuran
• Memahami sumber-sumber • Menggambar hasil
kesalahan pengukuran perhitungan beda
• Memahami rumus-rumus tinggi
perhitungan beda tinggi
• Memahami teknik penggambaran
hasil pengukuran beda tinggi
B5 Mengukur beda tinggi • Memahami syarat-syarat alat sipat • Mengukur beda
di lapangan dengan alat datar tinggi di lapangan
sipat datar. • Memahami sumber-sumber dengan alat sipat
kesalahan pengukuran beda tinggi datar
dengan alat sipat datar • Menghitung hasil
• Memahami teknik pengukuran pengukuran beda
beda tinggi dengan alat sipat datar tinggi dengan alat
• Memahami teknik perhitungan sipat datar
beda tinggi dengan alat sipat datar • Menggambar hasil
• Memahami teknik penggambaran perhitungan beda
hasil pengukuran beda tinggi tinggi dengan alat
dengan sipat datar sipat datar
Sumber: Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan 1999

Berdasarkan materi matematika SMU dan Ilmu Ukur Tanah SMK terdapat

hubungan yaitu kemungkinan adanya transfer of learning dari pelajaran

matematika ke dalam pelajaran Ilmu Ukur Tanah khususnya dalam pokok bahasan

identitas dan fungsi trigonometri ke dalam pelajaran Ilmu Ukur Tanah.

2.1.5 Partisipasi Mahasiswa Dalam Proses Balajar Mengajar

Partisipasi menurut Bloom yang dikutip oleh Winkel yaitu mencakup

kerelaan untuk memperhatikan secara aktif dan berperan dalam suatu kegiatan

(Winkel, 1996: 247). Berdasarkan pengertian diatas, maka partisipasi pada

hakekatnya adalah keterlibatan seseorang atau kelompok orang dalam suatu

kegiatan tertentu. Keterlibatan disini tidak hanya sekedar mengikuti, namun

keterlibatan dalam partisipasi melibatkan mental dan emosional partisipan.

Keterlibatan-keterlibatan ini adalah ; (1) Keterlibatan dalam pembuatan

keputusan, (2) Keterlibatan dalam pelaksanaan tugas, (3) Kegiatan memperoleh

manfaat dan (4) Kegiatan mengevaluasi program.


17

Partisipasi dalam pelaksanaan adalah keterlibatan mahasiswa secara

langsung, baik secara mental maupun emosional untuk mewujudkan tujuan.

Partisipasi dalam pelaksanaan mencakup bentuk aktivitas-aktivitas yang umum

adalah aktivitas perhatian, pendengaran, penulisan, penggambaran, ketrampilan,

serta emosi.

Faktor lain yang mempengaruhi intensitas partisipasi adalah faktor

prasarana dan waktu yang cukup untuk memanfaatkannya. Dalam hal ini yang

ingin diketahui bagaimana partisipasi mahasiswa dalam mengikuti materi

perkuliahan yang diberikan dosen.

Partisipasi seperti yang telah dijelaskan di atas adalah berkaitan dengan

kegiatan-kegiatan yang mendukung dicapainya prestasi yang tinggi. Hasrat ini

diperlihatkan dalam wujud frekuensi bertanya, berpendapat, menjawab

pertanyaan, mencoba, mencatat, dan melakukan praktek secara bersungguh-

sungguh.

Partisipasi dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa maupun bagi

universitas. Manfaat bagi universitas adalah meningkatkan mutu universitas.

Peningkatan mutu universitas akan diikuti oleh peningkatan persepsi masyarakat

terhadap mutu universitas, sehingga minat masyarakat untuk menguliahkan

anaknya ke universitas yang bersangkutan menjadi tinggi. Disamping itu persepsi

kalangan industriawan juga meningkat, sehingga mereka senang hati menampung

lulusannya. Manfaat bagi mahasiswa adalah mereka dapat memanfaatkan

motivasinya secara positif, meningkatkan harga dirinya, dan menyalurkan daya

kreasinya.
18

2.1.6 Mata Kuliah Ukur Tanah

Mata kuliah Ilmu Ukur Tanah berjumlah 2 SKS, yang merupakan salah satu

mata kuliah dasar umum (MKDU) yang wajib diikuti oleh semua mahasiswa pada

Prodi D III T. Sipil di Universitas Negeri Semarang. Para pengampu adalah

dosen-dosen pada Prodi Pendidikan Teknik Bangunan Fakultas Teknik

Universitas Negeri Semarang. Ilmu Ukur Tanah adalah sebagian dari ilmu yang

lebih luas, yang dinamai ilmu geodesi; ilmu geodesi mempunyai dua maksud

yaitu: (a). maksud ilmiah, yaitu yang mempelajari bentuk dan besar bulatan bumi;

(b). maksud praktis, yaitu ilmu yang mempelajari penggambaran dari sebagian

besar atau sebagian kecil permukaan bumi, yang dinamakan peta.(Muchidin Noor,

1979; 2) .

Tujuan dari mata kuliah ini yaitu agar mahasiswa memahami hakekat yang

didapat dari mata kuliah Ilmu Ukur Tanah sehingga hasil belajar yang diperoleh

dapat lebih baik. Adapun Materi dari Ilmu Ukur Tanah ini sebagai berikut.

2.1.6.1 Pengukuran Sipat Datar (Levelling)

Didalam Ilmu Ukur Tanah, istilah menyipat datar (levelling) adalah suatu

proses penentuan ketinggian relatif suatu titik di atas datum tertentu atau

penentuan beda tinggi dari titik-titik tertentu. Datum yang digunakan biasanya

tinggi muka laut rata-rata atau sering disebut Mean Sea level (MSL). Hasil

pengukuran sipat datar dapat digunakan untuk merancang jalan raya, menghitung

volume pekerjaan tanah, perencanaan saluran irigasi, pekerjaan-pekerjaan yang

membutuhkan data ketinggian tanah yang lainnya.


19

Alat utama dalam pengukuran sipat datar adalah pesawat penyipat datar

yang menggunakan sistem optik. Alat lainnya adalah statif dan rambu ukur.

Pengukuran sipat datar terdiri dari dua macam, yaitu sipat datar memanjang dan

sipat datar melintang.

a. Pengukuran Sipat Datar Memanjang.

Pengukuran sipat datar memanjang adalah pengukuran beda tinggi

suatu jalur yang jaraknya cukup panjang yang dilakukan pengukuran dalam

beberapa kali berdiri alat atau lazim disebut slag.

b. Pengukuran Sipat Datar Melintang

Pengukuran sipat datar melintang dilakukan untuk mengetahui profil

tanah yang dapat digunakan untuk penghitungan volume penggalian dan

penimbunan. Pengukurannya dilakukan secara tegak lurus dengan jalur

pengukuran memanjang.

Hasil pengukuran memanjang dan melintang biasanya digambar

dalam bentuk profil memanjang dan melintang. Berdasarkan gambar

tersebutlah biasanya perencana melakukan perencanaan proyek tertentu

(Safrel Ispen, 2002; 7).


20

2.1.7 Tinjauan tentang konsep trigonometri

2.1.7.1 Perbandingan trigonometri dari suatu sudut segitiga siku-siku

Sebuah segi tiga siku-siku ABC seperti tampak pada gambar. 1

. r

α
A B
Gambar. 1 Segitiga siku-siku
Keterangan:

-AB = absis ( searah sumbu x )

-BC = ordinat (searah sumbu y)

-AC = r (AB+BC)

Dengan sudut CAB adalah α, dan siku-siku di B. dengan memperhatikan

panjang sisi-sisi segitiga, dapat dibuat perbandingan sebagai berikut:

BC 1 AC
Sinα = Co sec α = =
AC Sinα BC

AB 1 AC
Cosα = Secanα = =
AC Cosα BC

BC 1 AB
Tgα = Co tan genα = =
AB Tgα BC
21

2.1.7.2 Menggunakan diagram untuk mengingat rumus-rumus kuadran.


y

Kuadran II Kuadran I

C O A x

Kuadran III Kuadran IV


Gambar. 2 Gambar diagram kuadran

Pada gambar.2 tampak lingkaran ABCD dengan sudut sebesar 360o dengan

4 bagian, yaitu:

Daerah AOB disebut kuadran I : 0o ≤ α ≤ 90o

• Daerah BOC disebut kuadran II : 90o ≤ α ≤ 180o

• Daerah COD disebut kuadran III : 180o ≤ α ≤ 270o

• Daerah DOA disebut kuadran IV : 270o ≤ α ≤ 360o

Dengan melihat gambar.2 dan fungsi trigonometri, maka tanda atau harga

untuk setiap kuadran akan berbeda, perbedaan tersebut sebagai berikut:

Tabel 2. 1 Posisi Kuadran


Kw I Kw II Kw III Kw IV
Sin + + - -
Cos + - - +
Tg + - + -
22

2.1.7.3 Menentukan nilai fungsi trigonometri.

Dalam fungsi trigonometri telah dikenal adanya sudut-sudut istimewa, yaitu

0o, 30o, 45o, 60o dan 90o dan untuk mempermudah perhitungan dan penentuan

besarnya, maka semua segi tiga menggunakan panjang r = 2 satuan.

Nilai fungsi trigonometri untuk sudut-sudut istimewa adalah sebagai berikut:

1) Sudut α = 30o

y 2

α 1 B x

√3

Gambar.3 Gambar Segitiga AOB dengan sudut α = 30o

Keterangan:

• OA = √3 satuan = absis

• AB = 1 satuan = tegak lurus dengan absis

• OB = 2 satuan

• α = 30o

Pada gambar.3 tampak segitiga OAB dengan sudut α = 30o dapat dibuat

persamaan trigonometri sebagai berikut:

1 1 1
Sin30° = Cos30° = 3 tg 30° = 3
2 2 3
23

2) Sudut α = 60o

2 √3
α
O 1 A x

Gambar.4 Gambar segitiga OAB dengan sudut α = 60o

Pada gambar.4 tampak segitiga OAB dengan sudut α = 60o dan persamaan

trigonometrinya sebagai berikut:

1 1 2
Sin60° = 3 Cos 60° = tg 60° =
2 2 3

3) Sudut α = 45o

2 1
α
O 1 A x

Gambar.5 Gambar segitiga OAB dengan sudut α = 45o

Segitiga OAB merupakan segitiga siku-siku sama kaki, maka:


24

1 1
Sin 45° = 2 Cos 45° = 2 tg 45° = 1
2 2

Sehingga dari keseluruhan sudut istimewa tersebut jika dibuat dalam sebuah

adalah seperti pada tabel 2. 2:

Tabel 2. 2 Besar Sudut Istimewa


0o 30o 45o 60o 90o
Sin α 0 ½ ½√2 ½√3 1
Cos α 1 ½ ½√2 ½ 0
Tg α 0 1/3√3 1 √3 ∞
Ctg α ∞ √3 1 1/3√3 0

Besaran sudut dalam radian didefinisikan sebagai berikut:

π radian = 180o

180°
1radian =
π

Pada umumnya “π radian” cukup ditulis dengan “π”

2.1.7.4 Koordinat kutub

a) Sistem koordinat

Letak suatu titik datar ditandai dengan bilangan, pasangan bilangan tersebut

dinamakan koordinat. Apabila bidang datar tersebut adalah bidang XOY, maka

letak titik pada bidang XOY dapat dinyatakan dua system koordinat, yaitu:

(1). Sistem koordinat cartesius

P (x,y) x = absis

y y = ordinat

x x
O (0,0)
Gambar. 6 Koordinat Cartesius
25

Pada gambar.6, bila titik P berjarak x terhadap sumbu Y dan berjarak y

terhadap sumbu X, maka koordinat titik P dengan sistem koordinat cartesius

ditulis P (x,y).

(2). Sistem koordinat kutub (polar)

P (r, α)

α x

O
Gambar. 7 Koordinat Polar

Pada gambar.7, apabila titik P terhadap O berjarak r dan sudut yang

dibentuk oleh sumbu X dengan OP adalah α, maka koordinat titik P adalah (α,r)

selanjutnya ditulis P (α,r). penulisan semacam ini disebut penulisan dengan

koordinat kutub (polar).

b) Hubungan antara koordinat kartesius dan koordinat kutub

P (r, α)

r y

α x

O x
Gambar. 8 Hubungan antara koordinat cartesius dan kutub.
26

Dari gambar di atas tampak bahwa titik P dapat dinyatakan:

1. Koordinat Cartesius ditulis P (x,y)

2. Koordinat Kutub (polar) ditulis (r, α)

Menurut definisi trigonometri:

y
Sinα = y = r . sin α
r

x
Cosα = x = r . cos α
r

y
tgα = α dapat dicari
x

2.2 KERANGKA BERPIKIR

Sebelum menjadi mahasiswa prodi DIII Teknik Sipil UNNES, responden

berasal dari sekolah menengah seperti SMU dan SMK. Dilihat dari asal sekolah

tentunya kemampuan merekapun tidak sama. SMU menekankan berbagai

pelajaran yang bersifat umum, sedangkan SMK lebih menekankan sisi pelajaran

yang mengutamakan ketrampilan sesuai dengan bidangnya baik teori maupun

praktek.

Salah satu mata diklat di SMK adalah survai dan pemetaan yang sering

disebut Ilmu Ukur Tanah yaitu ilmu yang mempelajari berbagai macam

pengukuran di atas bumi. Pelajaran ini diperoleh pada waktu kelas dua, kemudian

ini dilanjutkan dalam mempelajari Ilmu Ukur Tanah di perguruan tinggi.

Sedangkan salah satu mata pelajaran di SMU adalah Matematika yang

mempelajari berbagai macam perhitungan. Pelajaran ini diperoleh sejak kelas satu

sampai kelas tiga. Salah satu diantaranya adalah sub pokok bahasan trigonometri
27

yaitu bahasan yang mempelajari tentang pengetahuan sudut yang diperolehnya

saat mereka kelas dua yang kemudian memungkinkan adanya transfer belajar

dalam mempelajari Ilmu Ukur Tanah di perguruan tinggi. Ilmu matematika

merupakan ilmu penalaran yang tersusun secara hirarki, sehingga untuk belajar

matematika harus dilakukan secara kontinyu dan berurutan. Ilmu matematika

mempunyai peranan penting dalam segala mata pelajaran terutama mata pelajaran

yang menyangkut perhitungan seperti Ilmu Ukur Tanah.

Mahasiswa asal SMU lebih banyak mendapat pelajaran matematika pokok

bahasan trigonometri yang mendukung dalam mempelajari Ilmu Ukur Tanah

dibanding mahasiswa asal SMK walaupun pada pokok bahasan sipat datar sendiri

hanya menggunakan perhitungan yang masih sangat sederhana sehingga mungkin

belum begitu banyak membantu dalam proses transfer of learning. Mahasiswa

asal SMK sendiri sudah mendapatkan Ilmu Ukur Tanah sebelum kuliah di

perguruan tinggi sehingga dalam materi sipat datar masih dirasa cukup mudah

walaupun tidak banyak mendapat pelajaran matematika sebelumnya. Tentu saja

hal ini juga berpengaruh terhadap partisipasi dan hasil belajar mahasiswa dalam

mengikuti pembelajaran Ilmu Ukur Tanah.

Berdasarkan teori di atas, penulis berasumsi bahwa penelitian ini dapat

memberikan penjelasan tentang partisipasi dan hasil belajar mahasiswa dalam

mempelajari Ilmu Ukur Tanah dilihat dari asal sekolahnya, sehingga memberikan

gambaran kepada pendidik khususnya dosen agar dapat memberikan bimbingan

atau pembelajaran secara proporsional sesuai dengan kemampuan mahasiswa


28

berdasarkan asal sekolah sehingga dapat meningkatkan hasil belajar Ilmu Ukur

Tanah.

2.3 HIPOTESIS

Berdasarkan landasan teori dan kerangka dapat diajukan hipotesis sebagai

berikut:

1. Siswa yang berasal dari SMK partisipasinya lebih tinggi dibandingkan yang

berasal dari SMU.

2. Siswa yang berasal dari SMK hasil belajar Ilmu Ukur Tanahnya lebih tinngi

dibandingkan yang berasal dari SMU.


BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 PROSEDUR PELAKSANAAN PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah jenis penelitian

expost facto yaitu penelitian yang menggunakan dan mengumpulkan datanya dari

dokumentasi yang telah ada atau cara-cara lain yang sejenis (Suharto, 1998: 8).

Jenis penelitian ini tanpa menggunakan suatu perlakuan (Treatment) pada

suatu objek atau disebut juga penelitian non eksperimen. Penelitian ini hanya

meneliti apa yang sudah ada.

3.2 POPULASI DAN SUBYEK

Populasi adalah keseluruhan dari subjek penelitian. Populasi dalam

penelitian ini adalah semua mahasiswa D III Teknik Sipil Semester II Universitas

Negeri Semarang Tahun Ajaran 2004/2005 sebab jumlahnya kurang dari 100

orang.

3.3 VARIABEL PENELITIAN

Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel

terikat.

3.3.1 Variabel Bebas

Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau variabel penyebab.

Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah asal sekolah (X).

29
30

3.3.2 Variabel Terikat

Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau variabel akibat.

Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar Ilmu Ukur Tanah (Y1)

dan partisipasi mahasiswa (Y2).


Partisipasi
(Y1)
Asal sekolah
SMU/SMK
(X) Hasil
belajar IUT
(Y2)

3.4 METODE PENGUMPULAN DATA

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

metode dokumentasi, metode observasi dan metode tes.

3.4.1 Metode Dokumentasi

Dalam memperoleh data atau informasi ada tiga macam sumber, yaitu

tulisan (paper), tempat (place), dan kertas atau orang (people). Dalam penelitian

ini data yang diambil yaitu dari tulisan, yaitu daftar nama tentang asal mahasiswa

D III Teknik Sipil Semester II Universitas Negeri Semarang Tahun Ajaran

2004/2005 yang ada.

3.4.2 Metode Tes

Metode ini digunakan untuk mengetahui sejauh mana ilmu pengetahuan dan

pemahaman mahasiswa dalam mata kuliah Ilmu Ukur Tanah.

3.4.3 Metode Observasi

Metode ini digunakan untuk mengambil data tentang partisipasi mahasiswa

D III Teknik Sipil Semester II Universitas Negeri Semarang Tahun Ajaran

2004/2005. Wujud dari alat ini adalah daftar cek, dan jumlah butir dalam
31

pertanyaan pada angket ini sebanyak 25 butir. Observasi ini dijabarkan menjadi

empat kategori, yaitu :

A : berarti mahasiswa mengikuti dengan sungguh-sungguh kegiatan dalam

proses belajar mengajar.

B : berarti mahasiswa mengikuti dengan kurang sungguh-sungguh kegiatan

dalam proses belajar mengajar.

C : berarti mahasiswa mengikuti dengan tidak sungguh-sungguh kegiatan

dalam proses belajar mengajar.

D : berarti mahasiswa tidak mengikuti dan tidak dengan sungguh-sungguh

kegiatan dalam proses belajar mengajar.

Arah pemberian bobot skor adalah : A = 4, B = 3, C = 2, D = 1.

3.5 ANALISIS PERANGKAT TES

3.5.1 Validitas Tes

Untuk menghitung validitas butir soal digunakan rumus Korelasi Point

Biserial.

Mp − Mt p
r pbis=
St q

Keterangan :

rpbis = koefisien korelasi point biserial

Mp = mean skor dari subjek-subjek yang menjawab betul item yang dicari

korelasinya dengan tes

Mt = mean skor total (skor rata-rata dari sebuah pengikut tes)

St = standar deviasi skor total


32

p = proporsi subjek yang menjawab betul item

q = 1-p

(Arikunto, 2002: 163)

Dari hasil perhitungan uji coba instrumen penelitian, diperoleh validitas

butir atau rpbis no. 1 = 0,512, dengan n = 20, sedangkan r tabel = 0,444 pada taraf

signifikasi 5 %. Karena rpbis> r tabel (0,512 > 0,444), maka butir soal tersebut

dinyatakan valid.

3.5.2 Reliabilitas Tes

Analisa realibilitas tes menggunakan rumus KR 20 yang dikemukakan oleh

Kuder dan Richardson.

⎡ K ⎤ ⎡ ∑ pq ⎤
r11 = ⎢ ⎥ ⎢1 − Vt ⎥
⎣ K − 1⎦ ⎣ ⎦

Keterangan :

r11 = indeks korelasi ( harga reliabilitas)

K = banyaknya butir

p = proporsi subyek yang menjawab item dengan benar

q = 1-p

Vt = varians total

Instrumen dinyatakan reliabel, jika r hitung > r tabel

(Arikunto, 2002: 252)

Dari hasil perhitungan uji coba instrumen penelitian, diperoleh harga

reliabilitas butir atau r11 = 0,865, dengan n = 20, sedangkan r tabel = 0,444 pada

taraf signifikasi 5 %. Karena rpbis> r tabel (0,865 > 0,444), maka butir soal tersebut

dinyatakan reliabel.
33

3.5.3 Tingkat Kesukaran Soal

Rumus yang digunakan sebagai berikut :

JBA + JBB
IK =
JS A + JS B

Keterangan :

IK = Indeks kesukaran

JBA = Jumlah yang benar pada butir soal pada kelas atas.

JBB = Jumlah yang benar pada butir soal pada kelas bawah

JSA = Banyaknya siswa pada kelas atas.

JSB = Banyaknya siswa pada kelas bawah.

(Arikunto, 2002: 208)

Dalam penelitian ini kreteria yang digunakan adalah sebagai berikut.

0,10 ≤ p ≤ 0,30 butir soal sukar

0,30 ≤ p ≤ 0,70 butir soal sedang

0,70 ≤ p ≤ 1,00 butir soal mudah

Berdasarkan hasil perhitungan tingkat kesukaran soal seperti dalam rumus

di atas, maka dapat dikategorikan sebagai berikut :

Tabel 3.1. Tingkat Kesukaran Soal


No Nomor Butir Soal Kategori
1 4, 5, 6, 9, 15, 18, 26, 27, 30 Mudah
2 1, 2, 3, 7, 8, 10, 11, 12, 15, 16, 17, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 28, 29 Sedang

3.5.4 Daya pembeda

Suherman Erman (1990: 200) mengatakan bahwa daya pembeda suatu butir

soal menyatakan bahwa seberapa jauh kemampuan butir soal tersebut untuk
34

membedakan antara siswa yang pandai atau berkemampuan tinggi dengan siswa

yang berkemampuan rendah.

Menghitung daya pembeda soal menggunakan rumus sebagai berikut.

JBA + JBB JBA + JBB


DP = atau DP =
JS B JS A

Keterangan :

DP = daya pembeda

JBA = jumlah siswa kelompok atas yang menjawab soal dengan benar

JBB = jumlah siswa kelompok bawah yang menjawab soal dengan benar

JSA = jumlah siswa kelompok atas

JSB = Jumlah Siswa Kelompok Bawah

(Suherman Erman, 1990: 201)

Mengetahui tingkat daya pembeda soal dilakukan dengan

mengkonsultasikan skor DP yang diperoleh dengan klasifikasi sebagai berikut.

0,00 ≤ D ≤ 0,20 daya beda jelek sekali

0,20 ≤ D ≤ 0,40 daya beda cukup

0,40 ≤ D ≤ 0,70 daya beda baik

0,70 ≤ D ≤ 1,00 daya beda baik sekali

Berdasarkan hasil perhitungan daya pembeda soal seperti dalam rumus di

atas, maka dapat dikategorikan sebagai berikut :

Tabel.3.2. Daya Pembeda Soal


No Nomor Butir Soal Kategori
1 9, 27 Jelek Sekali
2 13, 15, 24 Jelek
3 3, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 16, 18, 20, 22, 23, 25, 26, 28, 30 Cukup
4 1, 2, 4, 12, 14, 17, 19, 21, 29 Baik
35

Setelah dilakukan analisis perhitungan validitas, reliabilitas, tingkat

kesukaran dan daya pembeda, maka dapat ditentukan bahwa

Tabel. 3.3. Daftar Soal Yang Dipakai dan Dibuang


Nomor Butir Soal Dipakai Nomor Butir Soal Dibuang
1, 2, 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 12, 14, 16, 17, 18, 9, 13, 15, 24, 27
19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 28, 29, 30

3.6 ANALISIS DATA

Uji hipotesis ini menggunakan rumus analisis statika uji-t satu pihak dengan

ketentuan sebagai berikut:

3.6.1 Jika varians kedua sampel sama

Rumus test yang digunakan adalah:

t=
X1 − X 2 (n − 1)s12 + (n2 − 1)s22
dengan S 2 = 1
1 1 n1 + n2 − 2
S +
n1 n2

Keterangan:

X1 = rata-rata kelompok SMU

X2 = rata-rata kelompok SMK

n1 = jumlah mahasiswa asal SMU

n2 = jumlah mahasiswa asal SMK

Derajat kebebasan untuk tabel distribusi adalah (n1+n2-2) dengan peluang

(1-∝), ∝ = taraf signifikan ∝ = 5%

Dengan kriteria:

¾ Bila t hitung < t tabel, maka Ho diterima

¾ Bila t tabel < t hitung, maka Ho ditolak


36

3.6.2 Jika varians tidak homogen

Rumus t-test yang digunakan adalah:

X1 − X 2
t1 =
S12 S12
+
n1 n2

Dk = n1-1atau n2-1 dengan α = 5%

Kriteria penelitian :

Ho diterima jika

w1t1 + w2t2 S12 S 22


t ≤
1
dengan w1 = , w2 =
w1 + w2 n1 n2

t1 ≤ t(1-1/2α) ; dk = n1 – 1

t2 ≤ t(1-1/2α) ; dk = n2 – 2

(Sudjana, 1992; 239)


BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL PENELITIAN

4.1.1 Deskripsi Hasil belajar Ilmu Ukur Tanah

Setelah melakukan penelitian pada mahasiswa D III Teknik Sipil Semester

II Universitas Negeri Semarang pada mata kuliah Ilmu Ukur Tanah (IUT) pokok

bahasan pengukuran sipat datar, maka dilakukan tes untuk mengetahui seberapa

besar hasil belajar mahasiswa. Hasil belajar mahasiswa berdasarkan buku

Pedoman Akademik Universitas Negeri Semarang tahun 2004-2005 adalah

sebagai berikut:

Tabel 4.1. Distribusi Frekuensi Test Mahasiswa Asal SMU


Interval Frekuensi Prosentase (%) Kriteria
> 85 – 100 1 5 Baik sekali
> 80 – 85 6 30 Lebih dari baik
> 70 – 80 12 60 Baik
> 65 – 70 1 5 Lebih dari cukup
> 60 -65 - - Cukup
> 55 – 60 - - Kurang dari cukup
> 50 – 55 - - Kurang
< 50 - - Gagal
Jumlah 20 100
Sumber : Hasil Analisis Data Hasil Belajar

37
38

Tabel 4.2. Distribusi Frekuensi Test Mahasiswa Asal SMK


Interval Frekuensi Prosentase (%) Kriteria
> 85 – 100 13 68 Baik sekali
> 80 – 85 4 21 Lebih dari baik
> 70 – 80 2 11 Baik
> 65 – 70 - - Lebih dari cukup
> 60 -65 - - Cukup
> 55 – 60 - - Kurang dari cukup
> 50 – 55 - - Kurang
< 50 - - Gagal
Jumlah 19 100
Sumber : Hasil Analisis Data Hasil Belajar (Mungin Edi Wibowo, 2004; 72)

Hasil test seperti pada tabel 4. 1 dapat diketahui bahwa dari 20 orang

mahasiswa asal SMU yang mengikuti test, 1 orang mahasiswa termasuk dalam

kategori nilai baik sekali dengan persentase 5%, 6 orang dalam kategori nilai lebih

dari baik dengan persentase 30%, 12 orang dalam kategori nilai baik dengan

prosentase 60%, 1 orang dalam kategori lebih dari cukup dengan prosentase 5%,

dan untuk kategori nilai yang lain tidak ada.

Berdasarkan tabel 4. 2 dapat diketahui bahwa dari 19 orang mahasiswa asal

SMK, 13 orang termasuk dalam kategori baik sekali dengan prosentase 68%, 4

orang dalam kategori lebih dari baik dengan prosentase 21% dan 2 orang dalam

kategori baik dengan prosentase 11%. Untuk kategori nilai yang lain tidak ada.

4.1.2 Deskripsi Partisipasi Mahasiswa Dalam Mengikuti Kuliah

Hasil Penelitian tentang partisipasi mahasiswa yang didapat dengan

melakukan observasi adalah sebagai berikut:


39

Tabel 4.3. Distribusi Frekuensi Partisipasi Mahasiswa Asal SMU


Interval Frekuensi Prosentase (%) Kriteria
25 – 43 - - Sangat Rendah
44 – 63 4 20 Rendah
64 – 81 10 50 Tinggi
82 - 100 6 30 Sangat Tinggi
Jumlah 20 100
Sumber : Hasil Analisis Data Partisipasi Mahasiswa
Tabel 4.4. Distribusi Frekuensi Partisipasi Mahasiswa Asal SMK
Interval Frekuensi Prosentase (%) Kriteria
25 – 43 - - Sangat Rendah
44 – 63 1 5 Rendah
64 – 81 7 37 Tinggi
82 - 100 11 58 Sangat Tinggi
Jumlah 19 100
Sumber : Hasil Analisis Data Partisipasi Mahasiswa

Tabel 4. 3 menunjukkan partisipasi mahasiswa asal SMU dengan 4 orang

termasuk dalam kategori partisipasi rendah dengan tingkat persentase 20 %, 10

orang termasuk kategori tinggi dengan prosentase 50 %, dan 6 orang termasuk

kategori tinggi sekali dengan prosentase 30 %.

Tabel 4. 4 menunjukkan partisipasi mahasiswa asal SMK dengan 1 orang

mahasiswa termasuk dalam kategori rendah dengan prosentase 5 %, 7 orang

termasuk kategori tinggi dengan persentase 37 %, dan sebanyak 11 orang

mahasiswa pada kategori sangat tinggi dengan persentase 58 %. Berdasarkan data

hasil penelitian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa secara umum partisipasi

mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan tergolong positif.


40

4.2 UJI HIPOTESIS

4.2.1 Hipotesis Hasil Belajar

Hasil belajar dari 19 mahasiwa asal SMK ternyata 13 orang (68 %) dalam

kategori nilai baik sekali, 4 orang (21 %) dalam kategori lebih dari baik dan 2

(11%) orang dalam kategori baik. Sedangkan dari 20 orang mahasiswa asal SMU

ternyata 1 orang (5 %) dalam kategori nilai baik sekali, 6 orang (30 %) dalam

kategori lebih dari baik dan 12 orang (60 %) dalam kategori baik, dan 1 orang

(5%) dalam kategori lebih dari cukup.

Berdasarkan keterangan di atas menunjukan bahwa mahasiswa asal SMK

yang berjumlah 19 orang (49 %) lebih unggul hasil belajarnya dari pada

mahasiswa asal SMU yang berjumlah 20 orang (51 %).

Tabel 4. 5. Uji t Hasil Belajar


Uji t t tabel t hitung Kriteria
Hasil belajar 1,69 5,051 Hipotesis diterima

Hal ini didukung oleh tabel 4.5 Uji t hasil belajar dengan ttabel = 1,69 artinya

apabila thitung berada pada daerah penolakan berarti dapat disimpulkan hasil

belajar mahasiswa asal SMK lebih baik dari pada asal SMU. Dari hasil

perhitungan t-test hasil belajar untuk asal sekolah diperoleh thitung = 5,051, berarti

hipotesis diterima. Hal ini menunjukan bahwa ada pengaruh asal sekolah

mahasiswa terhadap hasil belajar yang dicapainya, yang mana mahasiwa yang

berasal dari SMK lebih tinggi hasil belajarnya dibandingkan mahasiswa yang

berasal dari SMU.


41

4.2.2 Hipotesis Partisipasi Mahasiswa

Partisipasi 20 mahasiswa asal SMU, terdapat 4 orang (30%) termasuk dalam

kategori rendah, 10 orang (50%) dalam kategori tinggi, dan 6 orang (30%)

termasuk dalam kategori sangat tinggi.

Sedangkan partisipasi 19 mahasiswa asal SMK, terdapat 1 orang (5%)

dalam kategori rendah, 7 orang (37%) termasuk dalam kategori tinggi, dan 11

orang (58%) termasuk dalam kategori sangat tinggi.

Tabel 4. 6. Uji t Partisipasi


Uji t t tabel t hitung Kriteria
Partisipasi 1,69 1,938 Hipotesis diterima

Berdasarkan tabel 4. 6 Uji t partisipasi mahasiswa dengan ttabel = 1,69

artinya apabila thitung berada pada daerah penolakan berarti dapat disimpulkan

partisipasi mahasiswa asal SMK lebih baik dari pada asal SMU. Dari hasil

perhitungan t-test partisipasi mahasiswa diperoleh thitung = 1,938, berarti hipotesis

diterima. Hal ini menunjukan bahwa ada pengaruh asal sekolah mahasiswa

terhadap partisipasi belajar yang dicapainya, yang mana mahasiwa yang berasal

dari SMK lebih tinggi partisipasinya dibandingkan mahasiswa yang berasal dari

SMU.

4.3 PEMBAHASAN

Mahasiswa D III semester II tahun ajaran 2004/2005 ditinjau dari asal

sekolah bersifat heterogen, artinya ada dua asal sekolah mereka yaitu SMU dan

SMK. Ada sebanyak 20 orang mahasiswa asal SMU, dan ada sebanyak 19 orang

mahasiswa asal SMK.


42

Berdasarkan penelitian ini dikemukakan bahwa: (1) Mahasiswa yang berasal

dari SMK lebih mempunyai partisipasi yang lebih tinggi dibandingkan mahasiswa

asal SMU pada mata kuliah Ilmu Ukur Tanah; dan (2) Mahasiswa yang berasal

dari SMK lebih mempunyai hasil belajar yang lebih tinggi dibandingkan

mahasiswa asal SMU pada mata kuliah Ilmu Ukur Tanah.

Dilihat dari segi partisipasi, mahasiswa asal SMK tetap lebih unggul

dibandingkan mahasiswa asal SMU. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor: (1)

Mereka sudah pernah mendapat materi Ilmu Ukur Tanah sehingga lebih aktif

dalam membuat tugas-tugas yang diberikan karena merasa lebih mampu. (2)

Mereka sudah banyak memiliki buku-buku penunjang sehingga secara mental

lebih percaya diri. (3) Mereka lebih pengalaman dan tahu manfaat belajar Ilmu

Ukur Tanah sehingga semakin terangsang dan aktif untuk mengetahui lebih jauh

tentang materi yang diberikan.

Kebanyakan mahasiswa asal SMK lebih unggul dalam mencapai hasil

belajar Ilmu Ukur Tanah dibandingkan mahasiswa asal SMU. Hal ini disebabkan

oleh dua faktor yaitu: (1) Faktor dalam (internal): (a) Mahasiswa asal SMK sudah

terlebih dahulu mengenal pelajaran Ilmu Ukur Tanah dari pada mahasiswa asal

SMU sehingga mereka lebih termotivasi untuk harus lebih unggul dari mahasiswa

asal SMU, (b) Mahasiswa asal SMK yang melanjutkan ke jenjang perguruan

tinggi rata-rata mempunyai prestasi/kecerdasan yang memadai. (2) Faktor luar

(eksternal): (a) Materi tes yang diberikan hanya seputar pengukuran sipat datar,

jadi belum begitu banyak melibatkan perhitungan tingkat tinggi walaupun mata

kuliah Ilmu Ukur Tanah adalah materi kuliah yang menyangkut perhitungan
43

sehingga dimungkinkan adanya transfer belajar dari pelajaran matematika

khususnya untuk pokok bahasan trigonometri ke dalam mata kuliah Ilmu Ukur

Tanah bagi mahasiswa asal SMU belum begitu besar pengaruhnya, (b) Mahasiswa

asal SMK sudah banyak memiliki prasarana belajar yang mendukung proses

pembelejaran Ilmu Ukur Tanah.

Dilihat dari kurikulum SMU yakni mata pelajaran matematika, nampak

bahwa mereka memperoleh materi trigonometri yang berhubungan langsung

dengan mata kuliah Ilmu Ukur Tanah cukup banyak. Mata pelajaran ini

sesungguhnya cukup mengantarkan mereka mengikuti mata kuliah Ilmu Ukur

Tanah. Namun penelitian ini hanya membahas pada materi sipat datar yang

praktis tidak banyak melibatkan perhitungan trigonometri. Praktis perhitungan

yang dioperasikan adalah menambah dan mengurangi saja. Dengan demikian,

tidak ada bedanya antara mahasiswa asal SMU dan SMK dalam kaitannya dengan

sumbangan kemempuan matematika dalam materi Ilmu Ukur Tanah pokok

bahasan pengukuran sipat datar. Sementara mahasiswa yang berasal dari SMK

sudah memperoleh ketrampilan sipat datar ini semenjak belum kuliah. Secara

praktik mahasiswa yang berasal dari SMU, jauh ketinggalan. Dengan demikian

wajar jika dalam penelitian ini mahasiswa yang berasal dari SMK lebih baik hasil

belajarnya dibandingkan mahasiswa asal SMU.

Peranan dosen di sini sangat besar sekali sebab dosen harus mampu

menyikapi dan memperlakukan mahasiswa dengan mempertimbangkan asal

sekolah mahasiswa dalam proses pembelajaran sehingga tercipta suasana kondusif

untuk belajar. Dosen sebaiknya memiliki biodata mahasiswa yang akan diberi
44

pembelajaran baik asal sekolah maupun prestasi sebelum masuk kuliah sehingga

dapat merencanakan strategi pembelajaran yang cocok untuk dapat

memaksimalkan hasil belajar yang dicapai. Bagi mahasiswa asal SMU, dosen

sebaiknya lebih banyak memberikan rangsangan seperti seperti sering

memberikan pertanyaan-pertanyaan ataupun menginformasikan manfaat belajar

Ilmu Ukur Tanah untuk kehidupannya nanti dimasa yang akan datang sehingga

merangsang mereka untuk lebih ingin tahu dengan banyak belajar. Bagi

mahasiswa asal SMK, dosen dapat memberikan tugas kecil dengan membantu

teman mereka yang berasal dari SMU yang merasa kesulitan dalam pembelajaran

Ilmu Ukur Tanah (tutor sebaya) sehingga mereka merasa dihargai dan bangga

serta tidak sia-sia dalam belajar Ilmu Ukur Tanah.

4.4 KETERBATASAN PENELITIAN

Instrumen tes dalam penelitian ini masih kurang adanya daya pengecoh soal

sehingga jawaban mungkin dapat terbaca dengan jelas. Kualitas instrumen

observasi juga belum dicamtumkan sebab sudah dianggap baik. Hal ini didukung

berdasarkan berbagai penelitian yang pernah ada.

Penelitian ini akan lebih adil jika dilakukan sesuai eksperimen, sehingga

efek dari proses pembelajaran benar-benar nyata, karena dilakukan secara acak,

dan dalam kondisi terkontrol.


BAB V

PENUTUP

5.1. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka kesimpulan penelitian

ini adalah:

Pertama, hasil belajar Ilmu Ukur Tanah diukur terbatas pada materi sipat

datar, yang mana pengaruh transfer of learning mata pelajaran matematika tidak

signifikan; praktis perhitungan yang dioperasikan adalah menambah dan

mengurangi saja. Dengan demikian, tidak ada bedanya antara mahasiswa asal

SMU dan SMK dalam kaitannya dengan sumbangan kemempuan matematika

dalam materi Ilmu Ukur Tanah pokok bahasan pengukuran sipat datar, sehingga

wajar jika dalam penelitian ini mahasiswa yang berasal dari SMK lebih baik hasil

belajarnya dibandingkan mahasiswa asal SMU.

Kedua, mahasiswa yang berasal dari SMK lebih tinggi hasil belajar Ilmu

Ukur Tanahnya dibandingkan mahasiswa yang berasal dari SMU. Hal ini

disebabkan oleh beberapa faktor: (1) Mahasiswa asal SMK sudah terlebih dahulu

mengenal pelajaran Ilmu Ukur Tanah dari pada mahasiswa asal SMU. (2) Materi

tes yang diberikan hanya seputar pengukuran sipat datar, jadi belum begitu

banyak melibatkan perhitungan tingkat tinggi walaupun mata kuliah Ilmu Ukur

Tanah adalah materi kuliah yang menyangkut perhitungan sehingga

dimungkinkan adanya transfer belajar dari pelajaran matematika khususnya untuk

pokok bahasan trigonometri ke dalam mata kuliah Ilmu Ukur Tanah bagi

45
46

mahasiswa asal SMU belum begitu besar pengaruhnya. (3) Mahasiswa asal SMK

yang melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi rata-rata mempunyai prestasi yang

memadai.

Ketiga, mahasiwa yang berasal dari SMK lebih tinggi partisipasinya

dibandingkan mahasiswa yang berasal dari SMU. Hal ini disebabkan oleh

beberapa factor: (1) Mereka sudah pernah mendapat materi Ilmu Ukur Tanah

sehingga lebih aktif dalam membuat tugas-tugas yang diberikan karena merasa

lebih mampu. (2) Mereka sudah banyak memiliki buku-buku penunjang sehingga

secara mental lebih percaya diri. (3) Mereka lebih pengalaman sehingga semakin

terangsang dan aktif untuk mengetahui lebih jauh tentang materi yang diberikan..

5.2. SARAN

Dosen harus mampu menyikapi dan memperlakukan mahasiswa dengan

mempertimbangkan asal sekolah mahasiswa dalam proses pembelajaran sehingga

tercipta suasana kondusif untuk belajar. Dosen sebaiknya juga memiliki biodata

mahasiswa yang akan diberi pembelajaran baik asal sekolah maupun prestasi

sebelum masuk kuliah sehingga dapat merencanakan strategi pembelajaran yang

cocok untuk dapat memaksimalkan hasil belajar yang dicapai.

Bagi mahasiswa asal SMU, dosen sebaiknya lebih banyak memberikan

rangsangan seperti seperti sering memberikan pertanyaan-pertanyaan ataupun

menginformasikan manfaat belajar Ilmu Ukur Tanah untuk kehidupannya nanti

dimasa yang akan datang sehingga merangsang mereka untuk lebih ingin tahu

dengan banyak belajar. Dosen juga harus mampu menerapkan sistem transfer
47

belajar pelajaran matematika khususnya pokok bahasan trigonometri ke dalam

mata kuliah Ilmu Ukur Tanah walaupun dalam pembelajaran Ilmu Ukur Tanah

pokok bahasan pengukuran sipat datar belum banyak menggunakan perhitungan.

Namun hal ini sagat penting untuk belajar Ilmu Ukur Tanah dalam materi

selanjutnya.

Bagi mahasiswa asal SMK, dosen harus mampu membangkitkan semangat

belajarnya seperti memberikan pujian dan memberikan tugas kecil dengan

membantu teman mereka yang berasal dari SMU yang merasa kesulitan dalam

pembelajaran Ilmu Ukur Tanah sehingga mereka merasa dihargai dan bangga

serta tidak sia-sia dalam belajar Ilmu Ukur Tanah. Jadi dosen harus mampu

memberikan proses pengajaran yang proposional dengan melihat latar belakang

asal sekolah mahasiswa sehingga akan di capai hasil belajar yang lebih baik dan

merata.
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S, 1997. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:


Rineka.

--------------, 2002. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Darsono Max, 2000. Belajar Dan Pembelajaran. Semarang: CV IKIP Semarang


Press.

Eddy Wibowo Mungin, 2004. Pedoman Akademik. Semarang : IKIP Press.

Fajar Arnie, 2004. Portofolio Dalam Pelajaran IPS. PT Remaja

Kunaryo, 1999. pengantar pendidikan. Semarang: CV IKIP Semarang Press.

Muchidin Noor, 1979. Teori Dan Praktek Ukur Tanah. Jakarta: Direktorat
Pendidikan Menengah Kejuruan.

Nasution, 1984. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta:


Bina Aksara.

Safrel Ispen, 2002. Kemungkinan Penerapan Metode ARCS Untuk Meningkatkan


Motivasi Belajar Mata Kuliah Ilmu Ukur Tanah Mahasiswa Program
Studi Pendidikan Teknik Bangunan T. Sipil FT UNNES. Semarang:
LEMLIT.

Suharto, 1988. Metodologi Penelitian Dalam Pendidikan Bahasa. Jakarta:


Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan
Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga
Kependidikan

Suherman Erman, 1990. Petunjuk Praktis Untuk Melaksanakan Evaluasi


Pendidikan Matemetika. Bandung: Wijayakusumah.

Sudjana, 1992. Metode Statistika. Bandung : Tarsito.

Winkel, 1996. Psikologi Pengajaran. Jakarta: PT. Gramedia.

Wirodikromo Sartono, 1994. Matematika SMU 1. Jakarta: Erlangga.

48
49

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

LEMBAR SOAL
Mata Kuliah : Ilmu Ukur Tanah
Materi : Pengukuran Sipat Datar
Waktu : 90 Menit
Peserta : Mahasiswa Prodi D III Semester II

SOAL OBYEKTIF
Pilihlah jawaban di bawah ini ( a, b, c, atau d ) yang paling benar dengan memberi
tanda silang (X)!
1. Untuk menentukan besarnya selisih waktu antar daerah di permukaan bumi,
merupakan salah satu kegunaan garis …
a. Lintang c. Equator
b. Khatulistiwa d. Meridian
2. Arah berputar system kuadran dalam Ilmu Ukur Tanah, yaitu …
a. searah jarum jam c. bebas
b. berlawanan arah jarum jam d. berdasarkan arah mata angin
3. Di bawah ini yang merupakan alat ukur jarak, kecuali …
a. Speedometer c. rantai ukur dan pita ukur
b. meteran dan rantai ukur d. salib ukur dan pantometer
4. Dalam system kuadran dalam Ilmu Ukur Tanah, yaitu …
a. I c. II
b. III d. IV
50

5.
A B

C D

Dari sIstem kuadran dalam ilmu matematika di atas, urutkan posisi kuadran I,
II, III, IV, …
a. A, B, C, D c. D, C, A, B
b. B, A, C, D d. A, C, D, B
6. Sedangkan dalam Ilmu Ukur Tanah urutan posisi kuadran I, II, III, IV, yaitu

a. A, B, C, D c. D, C, A, B
b. B, D, C, A d. A, C, D, B
7.

45º

Berapakah panjang sisi a, apabila diketahui cos 45 = ½ 2 …


5
a. 2 c. 2 2
2
2
b. 2 d. 2
5
8.
5 10

Berapakah luas bidang segitiga berikut …


51

a. 20,01 c. 40
b. 19,81 d. 10
9. Yang dimaksud dengan peta adalah…..
a. Bayangan yang diperkecil dari sebagian besar atau sebagian kecil
permukaan bumi
b. Gambaran permukaan bumi dalam bentuk bulat
c. Bayangan permukaan bumi yang diproyeksikan
d. Gambaran permukaan bumi yang menyajikan bentuk muka bumi
10. Peta yang menyajikan informasi umum tentang keadaan permukaan bumi
dalam wilayah yang luas dalam suatu negara disebut peta….
a. Kadaster c. Topografi
b. Teknis d. Geografi
11. Gambaran seluruh atau sebagian dari permukaan bumi, menurut skala tertentu,
di atas suatu bidang datar disebut…
a. Proyeksi peta c. Skala peta
b. Peta d. Globe
12. Letak suatu tempat yang ditentukan berdasarkan harga-harga garis bujur dan
garis lintang disebut letak….
a. Koordinatis c. Astronomis
b. Fisiografis d. Geografis
13. Seni menentukan letak nisbi dari titik-titik di atas, pada dan di bawah
permukaan bumi disebut….
a. Ilmu Mekanika Tanah c. Ilmu Pengukuran sipat datar
b. Ilmu Ukur Tanah d. Ilmu Pengukuran Poligon
14. Pekerjaan pengukuran dalam Ilmu Ukur Tanah, kecuali….
a. Pengukuran jarak c. Pengukuran sudut
b. Pengukuran beda tinggi d. Pengukuran waktu
15. Yang dimaksud dengan jarak antara dua titik di lapangan adalah…
a. Perbandingan posisi titik c. letak berdasarkan koordinat
b. Pengukuran searah jarum jam d. panjang arah horisontal antara dua titik
52

16. Kegunaan dari wartepas adalah….


a. Untuk menentukan beda tinggi c. mengukur sudut
b. Mengukur jarak d. mengukur kecepatan
17. Yang dimaksud beda tinggi adalah….
a. perbandingan antara dua titik atau lebih menggunakan kedataran bumi
b. perbandingan letak relatif suatu titik
c. perbandingan arah sudut berdasar koordinatnya
d. perbedaan titik berdasarkan sudut jurusan
18. Di bawah ini yang termasuk alat pengukuran sipat datar, kecuali…
a. Waterpas c. Theodholit
b. PPD d. Penyipat datar kayu
19. Prinsip kerja dari suatu pengukuran menyipat datar adalah menentukan…..
c. bacaan benang atas c. bacaan benang bawah
d. bacaan benang tengah d. bacaan sudut horisontal
20. Pengukuran sipat datar memanjang yang dilakukan dengan jalur kembali ke
titik semula disebut sipat datar memanjang……
a. pergi pulang c. keliling
b. doble stand d. polar
21. Kegunaan utama dari pengukurn sipat datar adalah…..
a. menentukan beda tinggi c. menentukan jarak
b. menentukan letak titik d. menentukan luas areal
22. Jarak yang baik antara pesawat baik ke rambu belakang maupun ke rambu
muka adalah….
a. 20 m c. 40 m
b. 30 m d. 50 m
23. Cara menghitung benaang tengah (Bt) adalah….
Bb + Ba
a. c. Ba − Bb
2
Ba − Bb
b. d. Bb + Ba
2
53

24. Pengukuran beda tinggi suatu jalur yang jaraknya cukup jauh yang dilakukan
pengukuran dalam beberapa kali berdiri alat disebut……
a. sipat datar memanjang c. sipat datar membujur
b. sipat datar melintang d. sipat datar menyilang
Untuk soal no. 25 – 30
Diketahui :
Bacaan Bak Ukur Beda Tinggi Tinggi Titik
Titik
Belakang Muka Jarak (m) + - (m)
1.179
P1 ……. + 990.013
0.968
1.250 1.259
P2 ……. ……. ……… ………. ………. ………
1.052 1.148

25. Benang tengah P1 adalah……


a. 0.211 c. 1.073
b. 2.217 d. 0.106
26. Benang tengah P2 (belakang) adalah……
a. 2.302 c. 0.198
b. 1.201 d. 0.099
27. Benang tengah P2 (muka) adalah…..
a. 1.204 c. 0.056
b. 0.111 d. 2.408
28. Jaraknya adalah…..
a. 13.1 c. 24.05
b. 12.4 d. 32.2
29. Beda tingginya adalah…..
a. + 0.131 c. + 0.322
b. – 0.131 d. - 0.322
30. Tinggi titik tersebut adalah…..
a. + 990.144 c. + 990.335
b. + 989.882 d. + 989.691
54

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

NAMA : …………………………………
NIM : …………………………………
ASAL :…………………………………

1. A B C D 16. A B C D
2. A B C D 17. A B C D
3. A B C D 18. A B C D
4. A B C D 19. A B C D
5. A B C D 20. A B C D
6. A B C D 21. A B C D
7. A B C D 22. A B C D
8. A B C D 23. A B C D
9. A B C D 24. A B C D
10. A B C D 25. A B C D
11. A B C D 26. A B C D
12. A B C D 27. A B C D
13. A B C D 28. A B C D
14. A B C D 29. A B C D
15. A B C D 30. A B C D
55

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

KUNCI JAWABAN

1. A 16. A
2. C 17. C
3. B 18. B
4. C 19. A
5. B 20. D
6. D 21. B
7. D 22. B
8. A 23. D
9. A 24. A
10. C 25. D
11. B 26. B
12. A 27. D
13. A 28. D
14. A 29. A
15. A 30. D
56

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

Nama : …………………………..
NIM. : …………………………..
Jurusan : …………………………..

Instrumen pengamatan untuk mengetahui partisipasi mahasiswa dalam proses


belajar mengajar Ilmu Ukur Tanah dengan observasi.
I. PETUNJUK PENGISIAN
Berilah tanda cek (√ ) pada kolom-kolom yang telah disediakan sesuai dengan
pengamatan anda. Kolom-kolom tersebut dibagi menjadi empat yang masing-
masing berisi sebuah huruf kode. Kode-kode tersebut adalah : hurf A, huruf B,
huruf C dan huruf D. Arah pemberian bobot skor adalah : A diberi skor 4, B diberi
skor 3, C diberi skor 2 dan D diberi skor 1. Setiap huruf mempunyai arti sendiri-
sendiri. Untuk lebih jelasnya ikutilah keterangan berikut ini.
A : berarti mahasiswa mengikuti dengan sungguh-sungguh kegiatan dalam
proses belajar mengajar.
B : berarti mahasiswa mengikuti dengan kurang sungguh-sungguh
memperhatikan kegiatan dalam proses belajar mengajar.
C : berarti mahasiswa mengikuti dengan tidak sungguh-sungguh kegiatan dalam
proses belajar mengajar.
A : berarti mahasiswa tidak mengikuti dengan tidak sungguh-sungguh kegiatan
dalam proses belajar mengajar.
Contoh :
Memperhatikan dan mendengarkan dosen yang sedang menjelaskan mata kuliah.
Apabila mahasiswa mengikuti dan memperhatikan tersebut, maka anda memberi
tanda cek pada kolom A, dan memperoleh skor 4.
57

II. INSTRUMEN PARTISIPASI


No KOMPONEN A B C D
1 Apakah mahasiswa selalu mempersiapkan diri sebelum
berangkat kuliah?
2 Apakah mahasiswa datang sebelum acara perkuliahan
dimulai?
3 Apakah mahasiswa masuk kelas tepat waktu?
4 Apakah mahasiswa siap mengikuti mata kuliah Ilmu Ukur
Tanah?
5 Apakah mahasiswa mengikuti secara rutin pengajaran yang
diberikan oleh dosen?
6 Apakah mahasiswa memperhatikan dan mendengarkan
dosen dalam menerangkan mata kuliah Ilmu Ukur Tanah?
7 Apakah mahasiswa memperhatikan dan mendengarkan
dosen dalam memaparkan tujuan instruksional?
8 Apakah mahasiswa memperhatikan dengan tertib apabila
ada salah satu teman diminta untuk menerangkan kembali?
9 Apakah mahasiswa mengajukan pertanyaan ketika dosen
selesai menerangkan?
10 Apakah mahasiswa mengeluarkan pendapat apabila dose
mengajukan beberapa pertanyaan?
11 Apakah mahasiswa bertanya kepada dosen apabila kurang
mengerti?
12 Apakah mahasiswa memecahkan permasalahan apabila
dosen mengajukan beberapa pertanyaan?
13 Apakah mahasiswa mahasiswa memanfaatkan waktu
dalam mengikuti pengajaran yang ada?
14 Apakah mahasiswa meminjam alat/bahan yang menunjang
KBM apabila mahasiswa ditunjuk sebagai petugas?
15 Apakah mahasiswa belajar sendiri apabila dosen
berhalangan hadir?
58

16 Apakah mahasiswa mendiskusikan hal-hal di luar


perkuliahan yang teleh diketahui yang menyangkut materi
perkuliahan bersama dosen?
17 Apakah mahasiswa aktif bertanya kepada dosen tentang
materi perkuliahan di luar jam perkuliahan?
18 Apakah mahasiswa belajar bersama di luar perkuliahan?
19 Apakah mahasiswa belajar sendiri materi perkuliahan
sebelum dosen memberikannya di kelas?
20 Apakah mahasiswa aktif bertanya/mencari tugas apabila
dosen berhalangan hadir?
21 Apakah mahasiswa membaca kembali materi yang
diberikan dosen di rumah?
22 Apakah mahasiswa berlatih sendiri kasus/soal sejenis
dengan materi yang diberikan dosen?
23 Apakah mahasiswa aktif mencari buku-buku literatur yang
menunjang materi perkuliahan?
24 Apakah mahasiswa selalu mengerjakan tugas-tugas yang
diberikan oleh dosen?
25 Apakah mahasiswa mengumpulkan tugas yang diberikan
oleh dosen tepat waktu?
PENGARUH TEMPERATUR PENCELUPAN TERHADAP
KEKERASAN, LAJU KOROSI DAN STRUKTUR MIKRO
PADA BAJA KARBON RENDAH DENGAN PELAPISAN
METODE HOT DIP GALVANIZING

SKRIPSI

Diajukan dalam Rangka Penyelesaian Studi Strata 1


untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik

Oleh
Nama : Muhammad Ridluwan
NIM : 5250403019
Program Studi : Teknik Mesin SI
Jurusan : Teknik Mesin

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2007

i
ABSTRAK

Muhammad Ridluwan, 2007. ”Pengaruh Temperatur Pencelupan terhadap


Kekerasan, Laju Korosi dan Struktur Mikro pada Baja Karbon Rendah dengan
Pelapisan Metode Hot DipGalvanizing”.
Penggunaan baja sebagai komponen permesinan atau konstruksi sering kali
mengalami kerusakan sebelum waktu yang diperhitungkan yang disebabkan oleh
korosi. Proses pengendalian korosi merupakan upaya untuk memperpanjang umur
suatu logam yang dapat dilakukan dengan melakukan pelapisan dengan metode
Hot Dip Galvanizing. Permasalahan pada penelitian ini adalah pengaruh
temperatur pencelupan pada kekerasan, laju korosi dan struktur mikro pada baja
karbon rendah dengan pelapisan metode Hot Dip Galvanizing.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi temperatur
pencelupan terhadap tebal lapisan, kekerasan, laju korosi dan struktur mikro pada
baja karbon rendah dengan pelapisan metode Hot Dip Galvanizing. Manfaat
dilakukannya penelitian ini yaitu mengetahui pengaruh temperatur pencelupan
terhadap tebal lapisan, kekerasan, laju korosi dan struktur mikro pada baja karbon
rendah dengan pelapisan metode Hot Dip Galvanizing.
Penelitian ini menggunakan baja karbon rendah yang di Hot Dip
Galvanizing dengan variasi temperatur 4400 C, 4500 C dan 4600 C lalu diuji
kekerasan, laju korosi, tebal lapisan dan struktur mikro.
Hasil penelitian terhadap tebal lapisan Zn pada suhu pencelupan 4400 C,
450 C dan 4600 C sebesar: 65,33 µm, 79,20 µm dan 82,71 µm. Sedangkan nilai
0

kekerasan lapisan Zn variasi suhu 4400 C dan 4500 C sebesar 196,03 VHN dan
mengalami kenaikan 8,53% pada suhu 4600 C, hal ini dikarenakan pada lapisan
Zn terbentuk ikatan metalurgi yang kuat yang tersusun berlapis-lapis. Laju korosi
baja yang tidak digalvanizing selama 10 hari pengujian dengan konsentrasi 8%
H2SO4 yaitu 12,11806.10-5 gr/menit, pada 10% sebesar 15,05764 gr/menit dan
16,75486 gr/menit pada konsentrasi 12%, kenaikan ini dikarenakan jumlah zat-zat
korosif bertambah banyak sehingga proses pengikisan menjadi semakin besar,
pada pengujian 12% H2SO4 selama 4 hari menunjukkan suhu 4400 C memiliki
laju korosi terkecil sebesar 20,23785.10-5 gr/menit sedangkan pada 10 hari yaitu
suhu 4500 C sebesar 8,79236.10-5 gr/menit. Hasil struktur mikro menunjukkan
susunan struktur lapisan Zn dengan baja yang terbentuk yaitu lapisan Eta, Zeta,
Delta dan Gamma semakin baik dan merata.
Kesimpulan dari penelitian di atas adalah tebal lapisan Zn yang paling besar
yaitu galvanizing suhu 4600 C. Nilai kekerasan lapisan Zn yang paling tinggi yaitu
galvanizing suhu 4600 C yang naik 24,02% dari logam dasarnya. Laju korosi baja
yang tidak digalvanizing yang paling tinggi yaitu pada konsentrasi H2SO4 12%
selama 10 hari yang naik 38,26% dibandingkan 8%, sedangkan galvanizing suhu
4400 C memiliki laju korosi yang paling kecil pada 4 hari pengujian dan 4500 C
pada 10 hari. Kenaikan temperatur pencelupan akan menyebabkan pembentukan
susunan struktur mikro lapisan Zn akan semakin baik dan merata.

Kata kunci : temperatur, kekerasan, laju korosi, struktur mikro, baja karbon
rendah dan Hot Dip Galvanizing

ii
LEMBAR PENGESAHAN

Skripsi, 2007. “Pengaruh Temperatur Pencelupan Terhadap Kekerasan, Laju


Korosi dan Struktur Mikro pada Baja Karbon Rendah dengan Pelapisan Metode
Hot Dip Galvanizing”.
Telah dipertahankan di depan Tim Penguji, pada tanggal :

Panitia Ujian Skripsi


Ketua Sekretaris

Drs. Supraptono, M.Pd Basyirun, S.Pd, MT


NIP. 131125645 NIP. 132094389
Pembimbing I Anggota Penguji:

Dr. Ir. Victor Malau, DEA 1. Dr. Ir. Victor Malau, DEA
NIP. 131628655 NIP. 131628655
Pembimbing II

2. Hadromi, S.Pd, MT
NIP. 132093201
Hadromi, S.Pd, MT
NIP. 132093201

3. Samsudin Anis, ST, MT


NIP. 132303194

Mengetahui,
Dekan Fakultas Teknik

Prof. Dr. Soesanto


NIP. 130875753

iii
MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO

™ Siapa saja yang pergi menuntut ilmu maka ia berada di jalan Alloh SWT
hingga ia kembali (HR. Tirmidzi)
™ Siapa yang dikehendaki baik oleh Alloh SWT maka dia akan membuat faqih
dalam agama. Dan ilmu itu hanya dapat diraih dengan belajar (HR. Bukhori)
™ Sesungguhnya tiap kesukaran pasti ada jalan keluarnya, maka apabila telah
selesai suatu urusan kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain
(QS. Al Insyiroh: 6)
™ Mulailah pekerjaan dengan ikhlas sehingga pada akhirnya akan menuai dan
mendapat lebih dari sekedar imbalan

PERSEMBAHAN

™ Kedua orang tuaku, Bapak Ahmad Syafawi


dan Ibu Khotijah yang telah
membesarkanku dengan penuh cinta dan
kasih sayang
™ Kakakku Abdurrahman dan Khusnul
Khotimah serta keponakanku Rafli Raihan
Arkani
™ Adikku Fatmahwati yang selalu ku sayangi
™ Penghuni Al Muhandis dan Pesma Qolbun
Salim
™ Teman-teman Teknik Mesin angkatan 2003
™ Almamaterku Teknik Mesin UNNES

iv
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahi Robbil 'alamiin, syukur kita panjatkan kehadirat Allah

SWT yang telah melimpahkan rahmat dan taufiq-Nya, sehingga penulis masih

diberi kemudahan dan kekuatan untuk menyelesaikan skripsi ini yang berjudul

"Pengaruh Temperatur Pencelupan Terhadap Kekerasan, Laju Korosi dan Struktur

Mikro pada Baja Karbon Rendah dengan Pelapisan Metode Hot Dip

Galvanizing”.

Penulis menyadari bahwa tanpa bimbingan, pengarahan, saran, bantuan

dan dorongan dari berbagai pihak, penelitian ini tidak akan terlaksana dengan baik

dan lancar. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis menyampaikan rasa

hormat dan terima kasih dengan ketulusan dan kerendahan hati kepada semua

pihak yang telah membantu penulis terutama kepada :

1. Bapak Dr. Sudijono Sastroatmodjo, M.Si, Rektor Universitas Negeri

Semarang.

2. Bapak Prof. Dr. Soesanto, Dekan Fakultas Teknik Universitas Negeri

Semarang.

3. Bapak Drs. Pramono, Ketua Jurusan Teknik Mesin Universitas Negeri

Semarang.

4. Bapak Dr. Ir. Victor Malau, DEA, Dosen Pembimbing I atas bimbingan

dan arahan yang telah diberikan.

5. Bapak Hadromi, S.Pd, MT, Dosen Pembimbing II atas bimbingan dan

arahan yang telah diberikan.

v
6. Instruktur Laboratorium Konstruksi dan Material Balai Latihan Kerja dan

Industri Kota Semarang yang telah membantu dalam pembuatan spesimen.

7. Pimpinan dan seluruh karyawan lndustri Pelapisan "PT Cerah Sempurna"

Tugu Semarang, atas bantuan dan kerjasamanya.

8. Instruktur Laboratorium Material Teknik Mesin Fakultas Teknik

Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yang telah membantu dalam proses

pengujian spesimen.

9. Semua pihak yang telah memberikan bantuan baik langsung maupun tidak

langsung dalam penyelesaian tugas skripsi ini yang tidak dapat kami

sebutkan satu per satu.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih banyak

kekurangan dan masih jauh dari sempurna, sehingga penulis sangat mengharapkan

kritik dan saran yang membangun dari pembaca untuk perbaikan penulis dimasa

yang akan datang. Semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Semarang, September 2007

Penyusun

vi
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL .................................................................................. i

ABSTRAK .................................................................................................. ii

HALAMAN PENGESAHAN ................................................................... iii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ............................................................ iv

KATA PENGANTAR ................................................................................ v

DAFTAR ISI .............................................................................................. vii

DAFTAR GAMBAR ................................................................................. x

DAFTAR TABEL ....................................................................................... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................. xiv

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang .................................................................. 1

1.2 Permasalahan .................................................................... 3

1.3 Penegasan Istilah .............................................................. 4

1.4 Tujuan Penelitian .............................................................. 6

1.5 Manfaat Penelitian ............................................................ 6

1.6 Sistematika Penulisan Skripsi ........................................... 7

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Hot Dip Galvanizing ......................................................... 9

2.2.1 Pengertian Hot Dip Galvanizing ........................... 9

2.2.2 Proses Pelapisan Hot Dip Galvanizing .................. 10

vii
2.2.3 Metalurgi Hot Dip Galvanizing ............................. 16

2.2.4 Temperatur Galvanizing ....................................... 17

2.2.5 Seng (Zinc) ............................................................ 17

2.2 Baja ................................................................................... 20

2.2.1 Baja Karbon Rendah ............................................. 20

2.2.2 Cacat dalam Struktur Logam ................................ 24

2.3 Korosi ............................................................................... 26

2.4 Pengujian Komposisi ........................................................ 32

2.5 Pengujian Kekerasan ......................................................... 32

2.6 Pengujian Struktur Mikro ................................................. 35

2.7 Pengujian Laju Korosi ...................................................... 36

2.8 Kerangka Berfikir ............................................................. 37

2.9 Pertanyaan Penelitian ........................................................ 38

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Pendekatan Penelitian ....................................................... 39

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ........................................... 39

3.3 Alat dan Bahan Penelitian ................................................. 39

3.4 Variabel Penelitian ............................................................ 40

3.5 Proses Pembuatan Spesimen ............................................. 41

3.6 Proses Pelapisan ................................................................ 42

3.7 Langkah-langkah Pengujian .............................................. 44

3.7.1 Pengujian Komposisi ............................................ 44

3.7.2 Pengukuran Tebal Lapisan .................................... 44

viii
3.7.3 Pengujian Struktur Mikro ...................................... 45

3.7.4 Pengujian Kekerasan ............................................. 47

3.7.5 Pengujian Laju Korosi .......................................... 48

3.8 Teknik Analisis Data ......................................................... 51

3.9 Diagram Alur Penelitian ................................................... 52

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

4.1 Pengujian Komposisi ........................................................ 53

4.2 Pengukuran Tebal Lapisan ................................................ 54

4.3 Pengujian Kekerasan .......................................................... 56

4.4 Pengujian Laju Korosi ....................................................... 58

4.5 Pengujian Struktur Mikro ................................................... 67

BAB V PENUTUP

5.1 Simpulan ........................................................................... 71

5.2 Saran ................................................................................. 72

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 73

LAMPIRAN ................................................................................................ 74

ix
DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Skema proses Hot Dip Galvanizing ........................................... 15

Gambar 2. Lapisan Galvanizing ................................................................... 16

Gambar 3. Pengaruh lingkungan dan ketebalan terhadap umur lapisan

seng ............................................................................................ 19

Gambar 4. Pengaruh kandungan karbon pada kekuatan dan keuletan

baja ............................................................................................ 21

Gambar 5. Kurva pendinginan untuk pembekuan sebuah logam murni .... 22

Gambar 6. Pertumbuhan dendritik dan pembekuan .................................... 23

Gambar 7. Jenis dislokasi dalam kisi kristal ............................................... 25

Gambar 8. Korosi sumuran ......................................................................... 29

Gambar 9. Korosi arus liar .......................................................................... 29

Gambar 10. Korosi celah ............................................................................ 30

Gambar 11. Korosi galvanik ....................................................................... 29

Gambar 12. Korosi batas butir .................................................................... 31

Gambar 13. Korosi transkristalin ................................................................ 32

Gambar 14. Skema indentor Vickers ........................................................... 34

Gambar 15. Gambar spesimen .................................................................... 41

Gambar 16. Urutan proses pelapisan di PT Cerah Sempurna ..................... 43

Gambar 17. Urutan pengukuran tebal lapisan ........................................... 45

Gambar 18. Alat pengukur ketebalan lapisan ............................................ 45

Gambar 19. Alat uji struktur mikro ............................................................ 46

x
Gambar 20. Alat uji kekerasan Vickers ...................................................... 47

Gambar 21. Timbangan digital ................................................................... 49

Gambar 22. Mekanisme pengujian laju korosi .......................................... 50

Gambar 23. Diagram alur penelitian .......................................................... 52

Gambar 24. Pengaruh temperatur pencelupan terhadap tebal lapisan ....... 55

Gambar 25. Pengaruh temperatur pencelupan terhadap nilai kekerasan

Vickers .................................................................................... 57

Gambar 26. Pengaruh konsentrasi H2SO4 terhadap laju korosi baja yang

tidak digalvanizing .................................................................. 59

Gambar 27. Pengaruh temperatur pencelupan terhadap laju korosi selama

4 hari ........................................................................................ 61

Gambar 28. Pengaruh temperatur pencelupan terhadap laju korosi selama

10 hari ...................................................................................... 63

Gambar 29. Pengaruh lama pencelupan terhadap laju korosi pada variasi

pencelupan 4400 C .................................................................. 65

Gambar 30. Struktur mikro spesimen raw material sebelum

digalvanizing ........................................................................... 67

Gambar 31. Struktur mikro lapisan Zn variasi temperatur pencelupan

4400 C ..................................................................................... 67

Gambar 32. Struktur mikro lapisan Zn variasi temperatur pencelupan

4500 C ..................................................................................... 68

Gambar 33. Struktur mikro lapisan Zn variasi temperatur pencelupan

4600 C ..................................................................................... 68

xi
Gambar 34. Struktur mikro lapisan Zn dan baja hasil proses Hot Dip

Galvanizing ............................................................................ 69

xii
DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. Tingkat potensial logam ............................................................... 9

Tabel 2. Pengujian kekerasan ..................................................................... 48

Tabel 3. Pengujian laju korosi .................................................................... 51

Tabel 4. Hasil uji komposisi ....................................................................... 53

Tabel 5. Hasil pengukuran tebal lapisan ..................................................... 54

Tabel 6. Hasil pengujian kekerasan Vickers ............................................... 56

Tabel 7. Hasil pengujian laju korosi ........................................................... 58

xiii
DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Hasil uji komposisi .................................................................. 74

Lampiran 2. Hasil uji kekerasan Vickers ..................................................... 75

Lampiran 3. Penghitungan kekerasan Vickers ............................................. 76

Lampiran 4. Penghitungan laju korosi ......................................................... 79

Lampiran 5. Surat penetapan dosen pembimbing ........................................ 84

Lampiran 6. Surat ijin pengujian bahan di Laboratorium Bahan UGM ..... 85

Lampiran 7. Surat ijin pengujian laju korosi di Laboratorium Kimia

UNNES ................................................................................... 86

Lampiran 8. Surat keterangan penelitian di PT Cerah Sempurna ............... 87

Lampiran 9. Hasil Uji Laju Korosi .............................................................. 88

Lampiran 10. Surat Keterangan Penelitian di Laboratorium Kimia

UNNES ................................................................................... 89

xiv
1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Industri pelapisan logam di dunia pada umumnya dan di Indonesia pada

khususnya pada masa sekarang ini telah menjadi salah satu bidang pekerjaan yang

mengalami perkembangan dan kemajuan yang sangat pesat mulai dari jenis-jenis

pelapisan yang digunakan, bahan pelapis yang digunakan hingga hasil lapisan

yang juga bermacam-macam. Ketersediaan material logam yang mempunyai

kekuatan sangat dibutuhkan untuk menjadi bahan dasar dari suatu komponen

pelapisan, padahal kebutuhan industri pelapisan menuntut ketersediaan material

yang tidak hanya memiliki kekuatan tetapi juga tahan terhadap korosi, tahan aus,

konduktifitas listrik yang baik, keindahan penampilan suatu permukaan serta yang

tidak kalah penting yaitu mempunyai nilai ekonomis yang tinggi.

Peran akademis dan praktisi dibidang teknik mesin dituntut usaha dan

perannya dalam upaya memecahkan dan mencari solusi dari berbagai

permasalahan yang timbul tersebut.

Bidang pelapisan logam awalnya dimulai dengan adanya penelitian yang

menggunakan material yang berkualitas sedang (harga yang lebih murah) yang

mendapatkan perlakuan khusus pada permukaannya (surface treatment) sehingga

permukaan bahan tersebut memiliki sifat-sifat fisis dan mekanis yang lebih baik

dari bahan dasarnya, bahkan dapat lebih baik dari bahan yang berkualitas tinggi.

Sifat-sifat permukaan suatu bahan dapat diperoleh dengan berbagai cara, yaitu

dengan cara transformasi struktural, termokimia dengan difusi, konversi dan

1
2

pelapisan (coating). Sifat-sifat permukaan yang baik dapat diperoleh dengan cara

pelapisan, karena cara ini memiliki beberapa kelebihan yaitu mudah dilakukan,

diperoleh hasil yang baik dan murah dalam ongkos produksinya.

Pelapisan dengan metode Galvanizing merupakan jenis pelapisan logam

yang telah berkembang lebih dari 250 tahun. Pelapisan dengan metode Hot Dip

Galvanizing menggunakan logam zinc (Zn) sebagai logam pelapisnya. Metode ini

banyak digunakan karena adanya sifat khusus logam zinc (seng) yang tidak

dimiliki oleh logam lainnya, yaitu mudah dibentuk, kekuatan yang tinggi, ringan,

memiliki nilai estetika yang tinggi, murah dan yang terpenting yaitu tahan

terhadap korosi. Pelapisan jenis ini banyak diaplikasikan pada rangka-rangka

tower listrik, jembatan, bangunan, dan pipa-pipa di dalam industri.

Korosi merupakan proses degradasi atau perusakan dimensi dan kekuatan

suatu material yang disebabkan karena adanya reaksi dengan lingkungannya.

Proses pengendalian korosi merupakan suatu upaya yang bertujuan untuk

memperpanjang umur suatu logam. Salah satu upaya pengendalian korosi dapat

dilakukan dengan cara pelapisan logam, cara yang umum digunakan yaitu dengan

pelapisan metode Hot Dip Galvanizing. Pelapisan model ini banyak digunakan

karena relatif lebih mudah dalam mengontrol kualitas pelapisannya, tahan lama

dan tahan terhadap benturan (Rahmat Supardi, 1997: 1).

Pelapisan dengan metode Hot Dip Galvanizing merupakan proses pelapisan

yang dilakukan dengan cara mencelupkan logam dasar ke dalam larutan cair.

Proses pelapisan ini menggunakan logam pelapis berupa seng, dimana seng dapat

mencair pada suhu 419,470 C. Pelapisan ini secara garis besar memerlukan tiga
3

tahap pengerjaan yaitu tahap persiapan awal (pre treatment), tahap pelapisan

(galvanizing) dan tahap penyelesaian atau pendinginan (Henkel, 2002: 37).

Tahap pelapisan dilakukan dengan mencelupkan logam dasar ke dalam

larutan seng cair pada suhu 4400 C – 4800 C (Sulistyo, 1997: 4). Hasil dari

pelapisan dipengaruhi oleh temperatur cairan dan lamanya pencelupan.

Temperatur pencelupan yang rendah menyebabkan hasil lapisan menjadi tebal

karena kekentalan masih tinggi, kenaikan temperatur menyebabkan kekentalan

menurun sehingga hasil lapisan tebal juga. Lama pencelupan yang cepat

menghasilkan hasil lapisan kurang bagus, namun jika terlalu lama akan diperoleh

hasil lapisan yang tebal dan cenderung kusam. Proses pencelupan yang sesuai

akan menghasilkan ketebalan yang sesuai pula sehingga memiliki daya tahan

terhadap korosi yang baik.

Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk melakukan

penelitian tentang sifat kekerasan, laju korosi dan struktur mikro pada baja karbon

rendah, dan penulis mengambil judul “Pengaruh Temperatur Pencelupan

Terhadap Kekerasan, Laju Korosi dan Struktur Mikro pada Baja Karbon Rendah

dengan Pelapisan Metode Hot Dip Galvanizing”.

1.2 Permasalahan

Permasalahan yang hendak diteliti dalam penelitian ini yaitu:

1. Adakah pengaruh temperatur pencelupan terhadap tebal lapisan Zn pada baja

karbon rendah dengan pelapisan metode Hot Dip Galvanizing.

2. Adakah pengaruh temperatur pencelupan terhadap kekerasan pada baja

karbon rendah dengan pelapisan metode Hot Dip Galvanizing.


4

3. Adakah pengaruh temperatur pencelupan terhadap laju korosi pada baja

karbon rendah dengan pelapisan metode Hot Dip Galvanizing.

4. Adakah pengaruh temperatur pencelupan terhadap struktur mikro pada baja

karbon rendah dengan pelapisan metode Hot Dip Galvanizing.

1.3 Penegasan Istilah

1. Pengaruh

Pengaruh berarti daya yang ada atau timbul dari ”sesuatu” (orang atau

benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan atau perbuatan seseorang

(Depdikbud, 1998: 731). Sesuatu yang dimaksud dalam penelitian ini adalah

hal yang menciptakan hubungan antara temperatur pencelupan dengan

kekerasan, laju korosi dan struktur mikro baja karbon rendah dengan

pelapisan metode Hot Dip Galvanizing. Maka dapat diambil kesimpulan

bahwa pengaruh yang dimaksud adalah daya yang ada atau timbul dari

temperatur pencelupan.

2. Temperatur pencelupan

Temperatur adalah ukuran kuantitatif terhadap rasa panas atau dingin (Save,

2005: 156). Temperatur pencelupan merupakan salah satu faktor penting

yang mempengaruhi hasil pelapisan, karena semakin tinggi temperaturnya

maka akan meningkatkan reaktifitas larutan sehingga berakibat lapisan

menjadi tebal.

3. Kekerasan

Kekerasan suatu logam merupakan ketahanan atau kemampuan suatu logam

terhadap penetrasi dalam memberikan suatu indikasi yang cepat mengenai


5

perilaku deformasi plastis. Kekerasan dapat dihubungkan dengan kekuatan

luluh atau kekuatan tarik logam karena sewaktu identasi, material di sekitar

lekukan mengalami deformasi plastis hingga mencapai regangan tertentu

(Tata Surdia, 2000: 31).

4. Laju korosi

Korosi adalah proses perusakan, penyusutan ataupun pengikisan terhadap

suatu material yang disebabkan karena adanya reaksi dengan lingkungannya

yang biasanya diasosiasikan ke material berbahan logam (Fontana, 1984: 2).

Save M Dagun (2005: 98) mendefinisikan korosi sebagai berikut:

a. Pengikisan atau pelapukan karena karat/peristiwa kimia.

b. Proses elektro-kimia yang menyebabkan logam/bahan keramik berubah

ke bentuk oksidanya.

c. Erosi kimia oleh oksigen di udara yang menimbulkan batuan yang

mengandung besi karat.

5. Struktur mikro

Struktur mikro adalah struktur terkecil yang terdapat dalam suatu bahan yang

keberadaannya tidak dapat dilihat dengan mata telanjang tetapi harus

menggunakan alat pengamat struktur mikro diantaranya: mikroskop cahaya,

mikroskop electron, mikroskop field ion, mikroskop field emission dan

mikroskop sinar-X.

6. Baja karbon rendah

Baja merupakan paduan yang terdiri dari unsur besi (Fe) dan karbon (C)

dengan sedikit unsur Si, P, Mn, S dan Cu. Baja karbon rendah merupakan
6

baja yang memiliki kandungan karbon kurang dari 0,30% (Wiryosumarto,

2000: 89).

7. Hot Dip Galvanizing

Hot Dip Galvanizing adalah suatu proses pelapisan dimana logam pelapisnya

dipanaskan hingga mencair, kemudian logam yang akan dilapisi yang juga

disebut logam dasar (base material) dicelupkan ke dalam bak galvaniz yang

telah berisi seng cair tadi kemudian dalam beberapa saat logam tersebut akan

terlapisi oleh lapisan seng.

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan dilaksanakannya penelitian ini yaitu:

1. Mengetahui pengaruh temperatur pencelupan Hot Dip Galvanize terhadap

tebal lapisan Zn pada baja karbon rendah.

2. Mengetahui pengaruh temperatur pencelupan Hot Dip Galvanize terhadap

kekerasan pada baja karbon rendah.

3. Mengetahui pengaruh temperatur pencelupan Hot Dip Galvanize terhadap

laju korosi pada baja karbon rendah.

4. Mengetahui pengaruh temperatur pencelupan Hot Dip Galvanize terhadap

struktur mikro lapisan Zn pada baja karbon rendah.

1.5 Manfaat Penelitian

Manfaat yang dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi

yang bermanfaat bagi perkembangan ilmu dan masyarakat diantaranya adalah :


7

1. Dapat mengetahui pengaruh temperatur pencelupan terhadap tebal lapisan,

kekerasan, laju korosi dan struktur mikro pada baja karbon rendah dengan

pelapisan metode Hot Dip Galvanizing.

2. Sebagai informasi penting bagi dunia industri khususnya dalam industri

pelapisan logam.

3. Memberikan sumbangan pemikiran pada almamater khususnya jurusan

teknik mesin dan dunia industri mengenai proses pelapisan dengan metode

Hot Dip Galvanizing dengan variasi temperatur pencelupan.

4. Sebagai literatur pada penelitian yang sejenis dalam rangka pengembangan

teknologi khususnya bidang pelapisan dengan metode Hot Dip Galvanizing..

1.6 Sistematika Penulisan Skripsi

Sistematika penulisan sikripsi ini terdiri atas tiga bagian, yaitu:

1. Bagian Depan

Bagian depan skripsi berisi:

Halaman Judul, Abstrak, Lembar Pengesahan, Motto dan Persembahan, Kata

Pengantar, Daftar Isi, Daftar Gambar, Daftar Tabel dan Daftar Lampiran.

2. Bagian Isi

Bagian isi terdiri dari lima bab, yaitu:

Bab I Pendahuluan

Pendahuluan berisi: Latar Belakang, Permasalahan, Penegasan

Istilah, Tujuan dan Manfaat Penelitian serta Sistematika Penulisan

Skripsi.
8

Bab II Landasan Teori dan Hipotesis

Sebagai telaah kepustakaan dan acuan dalam penelitian. Landasan

Teori berisi teori-teori tentang Pelapisan Metode Hot Dip

Galvanizing, Baja, Pengujian Penelitian, Kerangka Berfikir dan

Hipotesis.

Bab III Metode Penelitian

Metode penelitian berisi Pendekatan Penelitian, Tempat dan Waktu

Penelitian, Alat dan Bahan Penelitian, Variabel Penelitian,

Langkah-langkah Penelitian dan Pengujian serta Alur Penelitian.

Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan

Hasil Penelitian dan Pembahasan berisi tentang Data Hasil

Penelitian dan Analisis Teoritis pengaruh temperatur pencelupan

terhadap kekerasan, laju korosi dan struktur mikro beserta

Pembahasannya.

Bab V Penutup

Penutup terdiri dari Simpulan dan Saran. Simpulan berisi rangkaian

hasil penelitian yang ditarik dari analisis data, sedangkan Saran

berisi tentang perbaikan dan tindak lanjut yang berkaitan dengan

penelitian yang telah dilaksanakan.

3. Bagian Akhir

Bagian Akhir terdiri dari Daftar Pustaka dan Lampiran.


9

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Hot Dip Galvanizing

2.2.1 Pengertian Hot Dip Galvanizing

Pelapisan secara Hot Dip Galvanizing (pelapisan secara celup panas) adalah

suatu proses pelapisan dimana logam pelapisnya dipanaskan terlebih dahulu

hingga mencair, kemudian logam yang akan dilapisi yang biasa disebut logam

dasar dicelupkan ke dalam bak galvaniz yang telah berisi seng cair tadi, sehingga

dalam beberapa saat logam tersebut akan terlapisi oleh lapisan berupa lapisan

paduan antara logam pelapis (seng) dengan logam dasar dalam bentuk ikatan

metalurgi yang kuat dan tersusun secara berlapis-lapis yang disebut fasa.

Tabel 1. Deret Galvanik


No Jenis Logam Potensial korosi bebas (V)
1 Magnesium –1,60
2 Seng –1,00
3 Paduan alumunium –1,00 hingga –0,85
4 Cadmium –0,75
5 Baja paduan rendah –0,70
6 Timah –0,33
7 Tembaga –0,30
8 Timbal –0,20
9 Perak –0,12

Pelapisan dengan metode Hot Dip Galvanizing sering juga disebut dengan

proses pelapisan logam dengan logam lain yang lebih anodik sesuai dengan deret

galvanik seperti yang terlihat pada Tabel 1.

Tabel 1 menunjukkan bahwa magnesium, seng, alumunium dan cadmium

merupakan logam dalam kelompok anodik (logam berpotensial rendah) yang

9
10

biasa digunakan sebagai logam pelapis. Magnesium dalam keadaan normal

bersifat lebih reaktif dan lebih mudah terkonsumsi, seng memiliki sifat mudah

dibentuk, memiliki kekuatan yang tinggi, ringan, memiliki nilai estetika yang

tinggi, murah dan tahan terhadap korosi, alumunium biasanya akan membentuk

oksida pelapis dan efektifitas pelapisannya sangat terbatas sedangkan cadmium

sebenarnya mempunyai sifat yang hampir sama dengan seng tetapi penerapannya

masih sangat terbatas apalagi ditinjau dari segi ekonomisnya.

2.2.2 Proses pelapisan Hot Dip Galvanizing

Proses pelapisan dengan metode Hot Dip Galvanizing dapat dibagi menjadi

tiga tahap proses, yaitu:

1. Tahap persiapan (pre treatment)

Tahap persiapan berfungsi untuk menghilangkan asam atau basa yang

merupakan bahan pengotor yang menempel pada spesimen, hal ini dimaksudkan

agar diperoleh kondisi permukaan yang bersih dan diperoleh hasil lapisan yang

baik.

Proses pembersihan permukaan yang akan dilapisi dapat dilakukan sesuai

dengan jenis pengotor yang menempel pada permukaan spesimen, namun proses

pembersihan ini dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu:

a. Proses pembersihan secara fisik (mekanik)

Pembersihan secara fisik dapat berupa pengamplasan dengan

menggunakan mesin gerinda, yang meliputi menghaluskan permukaan yang

tidak rata dan penghilangan goresan-goresan serta beram-beram yang

menempel pada permukaan spesimen.


11

b. Proses pembersihan secara kimiawi

Proses pembersihan secara kimiawi merupakan proses pembersihan

pengotor yang menempel pada permukaan spesimen dengan menggunakan

bahan-bahan kimia. Proses pembersihan ini meliputi:

(1) Degreasing

Proses degreasing merupakan proses yang bertujuan untuk

menghilangkan kotoran, minyak, lemak, cat dan kotoran padat lainnya

yang menempel pada permukaan spesimen. Proses pembersihan

dilakukan dengan menggunakan larutan NaOH (soda kaustik) dengan

konsentrasi 5% – 10% pada suhu 700 C – 900 C selama kurang lebih 10

menit.

(2) Rinsing I

Proses rinsing I bertujuan untuk membersihkan soda kaustik pada

proses degreasing yang masih menempel pada permukaan spesimen

dalam dengan menggunakan air bersih pada temperatur kamar.

(3) Pickling

Proses pickling bertujuan untuk menghilangkan karat yang

melekat pada permukaan spesimen dengan cara dicelupkan ke dalam

larutan HCl (asam klorida) atau larutan H2SO4 (asam sulfat) dengan

konsentrasi 10% – 15% selama 15 – 20 menit.

Selama proses pickling terjadi reaksi sebagai berikut:

(a) Fe + 2HCl FeCl2 + H2

(b) Fe2O3 + 6HCl 2FeCl3 + 3H2O


12

(c) Fe3O4 + 8HCl 2FeCl3 + FeCl2 + 4H2O

(d) Fe + 2HCl FeCl2 + H2

(e) 2FeCl3 + H2 2FeCl2 + 2HCl

(f) FeCl3 + Fe 3FeCl2

Proses pickling ditunjukkan pada reaksi (1), (2) dan (3)

sedangkan reaksi (4), (5) dan (6) merupakan proses over pickling

(proses pickling yang berlebihan). Gas H2 yang terbentuk pada reaksi

ke-(4) akan menghasilkan lapisan yang melepuh. Proses pickling yang

terlalu cepat akan menyebabkan proses pembersihan kurang maksimal,

sehingga akan berpengaruh pada hasil pelapisan.

(4) Rinsing II

Proses rinsing II bertujuan untuk membersihkan larutan HCl atau

H2SO4 yang menempel pada spesimen saat proses pickling dengan

menggunakan air bersih pada temperatur kamar.

(5) Fluxing

Proses fluxing merupakan proses pelapisan awal dengan

menggunakan Zinc Amonium Cloride (ZAC) dengan konsentrasi

20% – 30% selama 5 – 8 menit.

Proses fluxing dilakukan dengan tujuan:

(a) Sebagai lapisan dasar untuk memperkuat lapisan seng pada saat

dilakukan proses pelapisan.

(b) Sebagai katalisator reaksi terjadinya pelapisan Fe-Zn.


13

(c) Untuk menghindari terjadinya proses oksidasi sebelum proses

galvanizing dilakukan.

Proses fluxing berlangsung pada temperatur 600 C – 800 C, hal ini

dimaksudkan agar perpindahan panas pada spesimen berlangsung secara

perlahan dan bertahap sehingga dapat menghindari terjadinya deformasi

plastis yang dapat mengganggu proses pelekatan seng pada benda kerja

saat proses galvanizing berlangsung.

(6) Drying

Proses drying merupakan proses pengeringan dan pemanasan

awal dengan menggunakan gas panas yang suhunya kurang lebih 1500

C, tujuannya untuk menghilangkan cairan yang mungkin terdapat pada

permukaan spesimen yang dapat menyebabkan terjadinya ledakan uap

saat proses galvanizing berlangsung.

2. Tahap pencelupan (galvanizing)

Spesimen yang telah mengalami tahap persiapan (pre treatment) dan telah

bersih dari segala pengotor kemudian langkah berikutnya yaitu dilakukan proses

pencelupan (galvanizing). Selama proses galvanizing berlangsung, cairan seng

akan melapisi baja dengan membentuk lapisan baja seng kemudian barulah

terbentuk lapisan yang sepenuhnya berupa unsur seng pada permukaan terluar

baja, larutan yang digunakan minimal adalah 98 % murni unsur seng.

Tahap pencelupan dilakukan selama kurang lebih 1,5 menit pada suhu 4400

C – 4600 C. Ketebalan lapisan seng pada pelapisan dengan metode Hot Dip
14

Galvanizing dipengaruhi oleh kondisi permukaan, lamanya pencelupan dan

temperatur pencelupan.

3. Tahap pendinginan dan tahap akhir

a. Tahap pendinginan (quenching)

Tahap pendinginan dilakukan dengan mencelupkan spesimen ke

dalam larutan sodium cromate dengan konsentrasi 0,015% pada suhu

kamar ataupun dengan menggunakan air. Proses ini bertujuan untuk

mencegah terjadinya white rust.

b. Tahap akhir (finishing)

Bagian akhir dari proses pelapisan berupa menghaluskan

permukaan yang runcing yang disebabkan oleh cairan seng yang hendak

menetes namun telah mengering terlebih dahulu.


15

Tahapan proses pelapisan dengan metode Hot Dip Galvanizing dapat

dilihat pada gambar berikut:

Degreasing

Rinsing I

Pickling

Rinsing II

Fluxing

Drying

Galvanizing

Quenching

Finishing

Gambar 1. Skema Proses Hot Dip Galvanizing


16

2.2.3 Metalurgi Hot Dip Galvanizing

Permukaan baja yang telah mengalami proses fluxing apabila

bersinggungan dengan seng cair pada proses galvanizing maka lapisan pelindung

yang terbentuk akan hilang dan seng cair akan segera membasahi permukaan

benda kerja dan bereaksi sehingga terbentuk lapisan paduan besi dengan seng.

Gambar 2 memperlihatkan karakteristik lapisan seng yang menempel pada

permukaan besi. Lapisan seng tersebut pada hakekatnya terdiri dari lapisan seng

murni yang ikut tertarik pada saat benda kerja diangkat dari bak dan lapisan

paduan antara seng dengan besi.

Gambar 2. Lapisan Galvanizing (www.zinc.org)

Lapisan paduan tersebut yaitu:

1. Lapisan Eta

Lapisan ini merupakan lapisan terluar yang tersusun oleh 100% seng yang

memiliki kekerasan sebesar 70 DPN.


17

2. Lapisan Zeta

Lapisan ini terdiri dari 94% seng dan 6% besi yang memiliki kekerasan

sebesar 179 DPN.

3. Lapisan Delta

Lapisan ini terdiri dari 90% seng dan 10% besi yang memiliki kekerasan

sebesar 244 DPN.

4. Lapisan Gamma

Lapisan ini terdiri dari 75% seng dan 25% besi yang memiliki kekerasan

sebesar 250 DPN.

2.2.4 Temperatur Galvanizing

Temperatur galvanizing merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi

hasil lapisan. Kenaikan temperatur larutan akan menyebabkan pengkristalan zat

terlarut lebih disukai, daya larut seng akan bertambah besar dan terjadi penguraian

garam logam yang menyebabkan difusivitasnya menjadi tinggi serta gerakan ion

logam akan lebih cepat karena kekentalannya menjadi berkurang.

Kenaikan temperatur pencelupan akan meningkatkan reaktifitas larutan

seng sehingga mengakibatkan lapisan seng menjadi tebal. Peristiwa ini cenderung

akan mengarah pada hasil lapisan yang kasar dan akan mengurangi terserapnya

gas hidrogen dalam lapisan, menurunkan tegangan serta mengurangi kerapuhan,

sebagai contoh pelapisan seng (Charles, 1996: 381).

2.2.5 Seng (Zinc)

Seng merupakan logam putih kebiruan, yang cukup mudah ditempa dan liat

pada suhu 1100 C – 1500 C dan menjadi sangat rapuh jika dipanaskan diatas suhu
18

2000 C, jika dibiarkan di udara terbuka yang lembab akan terbentuk lapisan

garam-garam dasar tipis dan putih sebagai pelindung, untuk sifat ini maka seng

lebih cocok jika digunakan untuk melapisi baja dengan proses galvanizing. Seng

bersifat amfotir karena dapat dapat bereaksi dengan asam encer (proses lebih

lambat jika seng murni yang direaksikan), disamping itu seng juga bereaksi

dengan basa. Seng jarang digunakan sendiri sebagai bahan konstruksi, lebih sering

digunakan untuk proses galvanizing, bahan campuran untuk logam seperti

kuningan dan tembaga dan sebagai bahan-bahan bangunan.

Seng dapat melebur dalam dapur galvaniz pada temperatur 419,470 C dan

mempunyai titik didih 9070 C (Henkel, 2002: 37). Pelapisan logam dengan logam

pelapis berupa seng memiliki beberapa keuntungan yaitu biaya prosesnya murah,

cukup tersedia di alam, daya tahan lapisan yang lama, melindungi substrat dari

kerusakan secara mekanis, mudah untuk dilakukan dan logam yang telah dilapisi

tidak memerlukan perawatan khusus.

Ketahanan lapisan seng terhadap korosi tergantung pada ketebalan lapisan

dan kondisi lingkungan yang dihadapi. Adakalanya jenis lingkungan yang tampak

sama seringkali menghasilkan proses korosi yang berbeda, hal ini kemungkinan

disebabkan oleh adanya variasi minor yang disebabkan oleh kecepatan angin dan

partikel-partikel korosif yang terdapat di atmosfir. Lapisan seng merupakan suatu

lapisan penghalang yang memisahkan substrat baja dari lingkungan di sekitarnya.

Meskipun demikian, dengan pengandaian bahwa elektrolit mempunyai

konduktivitas listrik yang baik dan menghubungkan substrat yang terlindungi

dengan lapisan yang tersisa, sebagian besar lapisan seng akan hilang sampai
19

akhirnya baja terserang korosi, sebagai akibat dari peran yang dijalankannya

sebagai tumbal dalam upaya perlindungan tersebut. Dalam kondisi demikian,

korosi serius akan tertunda sampai lapisan pelindung tinggal 10% saja dari

keadaan semula.

Gambar 3. Pengaruh Lingkungan dan Ketebalan terhadap Umur Lapisan Seng

Gambar 3 menginformasikan tentang pengaruh lingkungan dan ketebalan

lapisan terhadap umur lapisan seng. Lapisan seng setebal 0,03 mm di udara

terbuka akan berumur 11 hingga 12 tahun bila di daerah pedesaan, sedangkan

sekitar 8 tahun bila di lingkungan laut, tetapi hanya menjadi 4 tahun bila di daerah

industri yang terkena polusi belerang oksida, dalam keadaan terendam dalam air

laut, setiap lapisan dengan ketebalan 0,03 mm akan habis kira-kira 1 tahun, tetapi

dengan adanya polusi terutama hidrogen sulfida yang ditimbulkan oleh limbah-

limbah di muara-muara akan menyebabkan laju penipisan lapisan semakin

bertambah (Trethewey, 1991: 274).


20

Lapisan seng relatif stabil jika berada pada kondisi atmosfir yang kering

dan relatif panas. Pada kondisi lingkungan yang relatif lembab, lapisan oksida

seng akan berubah menjadi seng hidroksida (Zn(OH)2), sedangkan karbon

dioksida (CO2) yang lazim ada di udara akan bereaksi dan membentuk seng

karbonat. Kedua senyawa ini bersifat sangat stabil sehingga dapat mencegah

reaksi korosi lanjut, pada daerah yang dekat dengan pertanian, umur lapisan seng

dapat mengalami penurunan yang cukup signifikan sebagai akibat penyemprotan

insektisida, ada beberapa jenis insektisida yang dapat merusak lapisan seng

terutama apabila setelah dilakukan penyemprotan terjadi hujan. Air hujan yang

bercampur dengan insektisida yang berada di udara akan menimbulkan hujan

asam yang merupakan media yang sangat korosif terhadap lapisan seng.

2.2 Baja

2.2.1 Baja Karbon Rendah

Baja merupakan paduan yang terdiri dari unsur besi (Fe) dan karbon (C)

dengan sedikit unsur Si, P, Mn, S dan Cu. Unsur-unsur paduan diberikan dengan

maksud memperbaiki atau memberi sifat yang sesuai dengan sifat yang diinginkan

(Wiryosumarto, 2000: 89).

Gambar 4 menjelaskan pengaruh kandungan karbon terhadap kekuatan dan

keuletan baja. Baja karbon rendah memiliki kekuatan sedang dengan keuletan

yang sangat baik dan digunakan dalam kondisi anil atau normalisasi untuk

keperluan konstruksi jembatan, bangunan dan kendaraan. Kandungan karbon

disekitar 0,2% keuletannya sudah tidak memadai untuk keperluan lenyuk dalam
21

(deep drawing) dan perpatahan rapuh yang terjadi pada potongan tebal setelah

pengelasan akan mengurangi daya guna baja karbon tersebut (RE. Smallman,

1991: 450).

Gambar 4. Pengaruh Kandungan Karbon terhadap Kekuatan dan Keuletan Baja

Logam yang berwujud padat memiliki keteraturan dan kemantapan yang

lebih baik bila dibandingkan dengan logam yang berwujud cair. Logam padat

tersusun oleh atom-atom yang membentuknya terikat erat dalam molekul-molekul

dan molekul-molekulpun terpaku di tempatnya oleh gaya-gaya pengikat lain yang

menjadikan jarak-jarak antar atom tetap pendek namun hal ini justru sebaliknya

untuk logam yang bentuknya cair, meskipun tetap tersusun rapat namun molekul-

molekul tidak terhalang untuk dapat bergerak bebas dalam kumpulan besarnya.
22

Gambar 5. Kurva Pendinginan untuk Pembekuan Sebuah Logam Murni

Gambar 5 menyajikan kurva pendinginan sebuah logam murni. Mula-mula

pada titik A logam leleh yang berupa atom-atom logam yang terhimpun dalam

susunan longgar. Pada temperatur yang digambarkan dengan titik-titik beku B,

atom-atom logam mulai mengatur diri ke dalam susunan yang sangat tertata.

Susunan yang terbentuk pada suatu temperatur tertentu untuk logam yang tertentu

pula selalu bentuknya sama meskipun untuk logam-logam yang berbeda pola

susunan atom itu ternyata beragam. Proses pembekuan logam berlangsung disertai

dengan pelepasan energi yang disebut dengan panas laten peleburan (latent heat of

fusion). Pelepasan energi ini menyebabkan logam-logam murni tetap pada

temperatur yang sama selama proses pembekuan berlangsung (dari B hingga C)

sebagai akibat adanya kecenderungan alami sistem untuk mendingin hingga

temperatur lingkungan sekitarnya (Trethewey, 1991: 30).

Jumlah kristal yang bernukleasi bergantung pada laju pendinginan.

Pendinginan secara cepat menyebabkan nukleasi dalam cairan terjadi di banyak


23

tempat, sebaliknya jika pendinginan berlangsung lambat akan membuat

pembentukan kristal hanya sedikit namun kristal itu akan terus menerus tumbuh

secara perlahan. Laju pendinginan logam selama proses pembekuan atau

pencetakan sangat penting karena akan menentukan sifat-sifat mekanik logam dan

berpengaruh juga pada sifat-sifat korosinya.

(a) Nukleasi kristal-kristal dalam lelehan (c) Pembentukan selesai


(b) Pertumbuhan kristal-kristal menjadi dendrit (d) Struktur butir akhir
Gambar 6. Pertumbuhan Dendritik dan Pembekuan

Gambar 6 menjelaskan tentang proses pembekuan logam murni. Begitu

sebuah kristal terbentuk (Gambar 6 (a)), meskipun mungkin baru sekumpulan

kecil atom, untuk membentuk kristal baru akan lebih alami hasilnya bila

pembentukan selanjutnya terjadi pada susunan yang sudah mantap. Pertumbuhan

kristal paling cepat terjadi pada sudut-sudutnya sehingga dari situlah percabangan

bermula. Kristal yang telah bercabang disebut dendrit dimana orientasi tiap

dendrit berlainan. Pada akhirnya dendrit-dendrit ini akan tumbuh sedemikian

besar sehingga atom-atom terluar masing-masing saling bersentuhan dan

gerakannya menjadi terbatas (Gambar 6 (c)), akibatnya dendrit-dendrit ini akan


24

terpaku dalam orientasi acak hingga bahan yang masih cair yang tersisa diantara

percabangan lengan-lengan dendrit kemudian membeku juga (Gambar 6 (d)).

Kristal-kristal ini bila telah terbentuk secara lengkap dalam keadaaan padat

kemudian disebut butir (grain), di daerah antara dua buah butir, tempat pola

kristal berubah orientasi, atom-atom tidak serasi dengan kisi-kisi pada butir yang

manapun. Daerah-daerah ini disebut batas butir.

2.2.2 Cacat dalam Struktur Logam

Proses pembekuan logam akan membentuk struktur kisi kristal yang

sebenarnya terdapat ketidaksempurnaan dalam susunannya yang disebut dengan

cacat (defect) yang akan berpengaruh pada sifat-sifat korosi logam.

Ketidaksempurnan dalam susunan ini dapat diakibatkan oleh perbedaan orientasi

batas butir yang merupakan daerah pertemuan antara kisi-kisi yang bersebelahan,

pengaruh perlakuan mekanik yang diberikan selama proses pengerjaan dan

fabrikasi.

Cacat yang terjadi pada logam secara umum dapat dikelompokkan menjadi

tiga buah yaitu:

1. Cacat titik (cacat atom tunggal)

Cacat titik merupakan cacat pada suatu kisi sempurna, dengan sengaja

dimanfaatkan untuk menyempurnakan sifat-sifat mekanik logam. Cacat ini

mempunyai peran dalam beberapa mekanisme korosi seperti perapuhan hidrogen,

selective attack, korosi oksidasi dan korosi panas.


25

2. Cacat garis

Cacat garis merupakan cacat yang terjadi di dalam struktur butir ketika

bidang-bidang atom, bukan atom individu tidak menempati kedudukan sempurna

pada kisi. Cacat garis contohnya dislokasi, dimana jenis dislokasi yaitu:

a. Dislokasi tepi (edge dislocation) yaitu adanya sebuah bidang atom tidak

sempurna diantara dua bidang lainnya.

b. Dislokasi ulir (screw dislocation) yaitu adanya bidang yang menyerong

sedikit sehingga tidak searah lagi dengan bidang-bidang terdekatnya.

Gambar 7. Jenis Dislokasi dalam Kisi Kristal

3. Cacat volume

Cacat volume merupakan cacat yang mempengaruhi logam dalam skala

makroskopiknya. Cacat volume memiliki peran yang sangat penting dalam

mekanisme korosi. Cacat ini umumnya diakibatkan oleh proses-proses selama

manufacturing, yaitu:

a. Renik (voids), cacat ini berupa rongga-rongga kecil dalam bahan yang

mungkin disebabkan oleh sejumlah mekanisme seperti terjebaknya udara dan

pelepasan gas selama proses penuangan logam ke dalam cetakan.


26

b. Retak (crack), retak biasanya berawal sejak pencetakan, umumnya

diakibatkan oleh tidak meratanya laju pendinginan dan timbulnya tegangan-

tegangan di dalam cetakan. Retak ini dapat memungkinkan peresapan agen-

agen penyebab korosi.

c. Inklusi, merupakan terjebaknya partikel-partikel asing dalam padatan yang

tentunya bukan bagian dari struktur kisi kristal logam itu sendiri.

2.3 Korosi

Korosi adalah proses perusakan, penyusutan ataupun pengikisan terhadap

suatu material yang disebabkan karena adanya reaksi dengan lingkungannya yang

biasanya diasosiasikan ke material berbahan logam. Penyebab terjadinya ada dua

macam yakni proses secara kimiawi dan proses perlakuan (Fontana, 1984: 2).

Proses korosi secara kimiawi adalah proses ionisasi yang terjadi secara

alamiah akibat adanya interaksi dengan udara seperti kelembaban, keasaman

daerah atau kondisi operasi tertentu. Dua buah logam yang memiliki sifat yang

berbeda yang saling berdekatan akan menghasilkan ion positif dan negatif,

kemudian apabila bersinggungan dengan udara maka akan terbentuk senyawa

baru karena udara mengandung bermacam-macam unsur, salah satu yang paling

berpengaruh adalah hidrogen yang merupakan penyebab terjadinya korosi yang

disebut dengan atmospheric corrosion. Proses korosi karena perlakuan merupakan

proses terjadinya korosi karena adanya unsur kesengajaan.

Save M Dagun (2005: 98) mendefinisikan korosi sebagai berikut:

1. Pengikisan atau pelapukan karena karat atau peristiwa kimia.


27

2. Proses elektro-kimia yang menyebabkan logam/bahan keramik berubah ke

bentuk oksidanya.

3. Erosi kimia oleh oksigen di udara yang menimbulkan batuan yang

mengandung besi karat.

Suatu proses korosi dapat menyebabkan timbulnya degradasi atau

penurunan mutu suatu logam. Penurunan mutu ini tidak hanya melibatkan reaksi

kimia namun juga melibatkan reaksi elektrokimia yaitu reaksi antara bahan-bahan

bersangkutan yang menyebabkan terjadinya perpindahan elektron.

Atom logam yang mengalami suatu reaksi korosi, atom itu akan diubah

menjadi sebuah ion melalui reaksi dengan suatu unsur yang terdapat

dilingkungannya, jika suatu atom logam disimbolkan dengan M, maka proses

korosi dapat digambarkan sebagai:

M MZ+ + Ze-

Persamaan diatas memperlihatkan bahwa atom-atom logam dapat

melepaskan sejumlah Z elektron yang merupakan bilangan valensi yang dimiliki

oleh atom logam M (Trethewey, 1991: 24).

Pelapisan dengan metode Hot Dip Galvanizing akan melindungi struktur

baja dari korosi dalam jangka waktu yang cukup lama, hal ini karena gas dan

kelembaban disekitar bagian bawah permukaan seng akan menghasilkan sebuah

lapisan pelindung yang berasal dari zinc oxide dan hydroxide. Korosi yang terjadi

pada logam dapat mengurangi sifat mekanik dari logam tersebut.

Mekanisme umum perlindungan lapisan seng terhadap laju korosi pada baja

yaitu:
28

1. Proteksi katodik: Metode anoda tumbal (sacrificial anode method)

Proteksi katodik merupakan perlindungan yang timbul karena adanya

perbedaan potensial elektrokimia antara baja dengan seng sehingga apabila terjadi

proses oksidasi maka lapisan seng terlebih dahulu teroksidasi, perlindungan ini

disebut juga perlindungan pengorbanan (sacrificial protection). Baja baru akan

terkorosi setelah semua lapisan seng yang melindunginya terkorosi, hal ini akan

memberikan cukup waktu untuk melakukan pelapisan kembali pada baja tersebut.

2. Proteksi anodik

Prinsip proteksi secara anodik yaitu pemberian potensial pada baja

sehingga logam itu terpolarisasi anodik dari potensial korosi bebasnya, sehingga

akan menyebabkan terbentuknya suatu selaput pasif yang menjadi pelindung

terhadap korosi. Selaput ini akan dapat memberikan perlindungan apabila

menempel dengan kuat dan cukup tahan terhadap kerusakan mekanik.

Proteksi anodik merupakan perlindungan terhadap korosi pada logam yang

disebabkan karena adanya lapisan pelindung pada permukaan sehingga korosi

yang seharusnya terjadi pada baja terhalangi karena adanya lapisan tersebut.

Perlindungan ini sangat dipengaruhi oleh tebal lapisan yang menyelubungi

permukaan baja.

Jenis-jenis korosi yaitu:

1. Korosi merata (general)

Merupakan korosi yang terjadi pada suatu logam secara menyeluruh, sebagai

contoh: korosi yang terjadi pada tiang-tiang penyangga pada penambangan

lepas pantai.
29

2. Korosi sumuran (pitting corrosion)

Adalah korosi lokal yang secara secara selektif menyerang bagian permukaan

logam yang selaput pelindungnya tergores atau retak akibat perlakuan

mekanik atau mempunyai tonjolan akibat dislokasi atau mempunyai

komposisi heterogen dengan adanya inklusi, segregasi dan presipitasi.

Gambar 8. Korosi Sumuran

3. Korosi arus liar (stray-current corrosion)

Adalah korosi yang disebabkan oleh adanya arus konvensional yang mengalir

dalam arah berlawanan dengan aliran elektron, besarnya dipengaruhi oleh

besar kecilnya arus dari luar.

Gambar 9. Korosi Arus Liar

4. Korosi celah

Adalah korosi yang terjadi karena sebagian permukaan logam terhalang dari

lingkungan dibanding bagian lain logam yang menghadapi elektrolit dalam

volume yang besar.


30

Gambar 10. Korosi Celah

5. Korosi logam tak sejenis (galvanik)

Adalah korosi yang disebabkan adanya dua logam tak sejenis (dissimilar

metals) yang bergandengan (coupled) membentuk sebuah sel korosi basah

sederhana.

Gambar 11. Korosi Galvanik

6. Korosi erosi

Adalah korosi yang disebabkan akibat gerak relatif antara elektrolit dan

permukaan logam. Korosi ini biasanya disebabkan karena terjadinya proses-

proses elektrokimia dan oleh efek-efek mekanik seperti abrasi dan gesekan.

7. Korosi intergranuler

Korosi ini terjadi bila daerah batas butir terserang akibat adanya endapan di

dalamnya, endapan tersebut berasal dari bahan-bahan asing yang terdapat

dalam struktur logam. Bahan-bahan tersebut yaitu logam antara dan senyawa.
31

8. Korosi tegangan (stress corrosion)

Logam yang mengalami beban dinamis yang berulang-ulang lama kelamaan

akan patah, patahnya logam ini dapat dipercepat bila terdapatnya korosi pada

logam tersebut.

9. Korosi batas butir

Adalah korosi yang disebabkan oleh ketidaksesuaian struktur kristal pada

batas butir yang memiliki kedudukan atom-atom secara termodinamika yang

kurang mantap dibandingkan atom-atom pada kedudukan kisi sempurna.

Gambar 12. Korosi Batas Butir

10. Korosi pelepasan atau bobolan (breakaway corrosion)

Adalah korosi yang disebabkan oleh faktor-faktor yang tidak nampak secara

bersamaan. Faktor-faktor tersebut yaitu temperatur, komposisi gas, tekanan

gas, komposisi logam, bentuk komponen dan finishing permukaan.

11. Korosi panas (hot corrosion)

Korosi panas yang terjadi pada turbin gas disebabkan oleh kombinasi antara

oksidasi dan reaksi-reaksi dengan belerang, natrium, vanadium dan pengotor-

pengotor lain yang terdapat di udara dan bahan bakar.

12. Korosi transkristalin

Merupakan terjadinya korosi yang melewati kristal.


32

Gambar 13. Korosi Transkristalin

2.4 Pengujian Komposisi

Pengujian komposisi merupakan pengujian yang berfungsi untuk

mengetahui seberapa besar atau seberapa banyak jumlah suatu kandungan unsur

yang terdapat pada suatu logam, baik logam ferro maupun logam non ferro.

Pengujian komposisi biasanya dilakukan di pabrik-pabrik atau perusahaan logam

yang jumlah produksinya besar ataupun dilakukan di Instititut pendidikan yang

khusus mempelajari tentang logam.

Proses pengujian komposisi berlangsung dengan pembakaran bahan

menggunakan elektroda dimana terjadi suhu rekristalisasi, dari suhu rekristalisasi

terjadi penguraian unsur yang masing-masing beda warnanya. Penentuan kadar

unsur berdasarkan sensor perbedaan warna. Proses pembakaran elektroda ini tidak

lebih dari tiga detik. Pengujian komposisi dilakukan untuk menentukan jenis

bahan yang digunakan dengan melihat persentase unsur yang ada.

2.5 Pengujian Kekerasan

Kekerasan suatu logam merupakan ketahanan atau kemampuan suatu

logam terhadap penetrasi dalam memberikan suatu indikasi yang cepat mengenai
33

perilaku deformasi plastis. Kekerasan sendiri dapat dihubungkan dengan kekuatan

luluh atau kekuatan tarik logam karena sewaktu identasi, material di sekitar jejak

mengalami deformasi plastis hingga mencapai regangan tertentu.

Pengujian kekerasan adalah salah satu pengujian dari sekian banyak

pengujian yang mudah dilakukan, karena dapat dilaksanakan pada benda uji yang

relatif kecil tanpa kesukaran mengenai spesifikasi benda uji. Pengujian yang

banyak dipakai adalah dengan cara menekankan suatu penekan pada benda uji

dengan beban tertentu dan mengukur bekas hasil penekanan yang terbentuk di

atasnya (Tata Surdia, 2000: 31).

Ukuran kekerasan dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis yang

kesemuanya tergantung pada cara melakukan pengujian, ketiga jenis tersebut

adalah kekerasan goresan (scratch hardness), kekerasan lekukan (identation

hardness) dan kekerasan pantulan (rebound). Pengujian yang sering dilakukan

adalah pengujian penekanan, pada pengujian penekanan terdapat beberapa alat uji

yang dapat digunakan, antara lain dengan alat uji Brinell, Vickers dan Rockwell.

Pengujian kekerasan Vickers adalah pengujian kekerasan yang sering

banyak digunakan digunakan pada pengujian kekerasan. Pengujian Vickers

menggunakan piramida intan (diamond pyramid) sebagai indentor, dasar piramida

yang berbentuk bujur sangkar dan sudut antara dua bidang miring yang

berhadapan sebesar 1360, untuk beban yang digunakan dalam penekanan antara 10

g sampai 120 kg (Daryanto, 1985: 75).

Pengujian Vickers memiliki beberapa kelebihan yaitu dengan benda

penekan yang sama, kekerasan dapat ditentukan tidak hanya untuk bahan lunak
34

akan tetapi juga untuk bahan keras, dengan bekas tekanan yang kecil bahan

percobaan merusak lebih sedikit, pengukuran kekerasan teliti, kekerasan benda

kerja yang sangat tipis atau lapisan permukaan yang tipis dapat diukur dengan

memilih gaya yang relatif kecil.

Gambar 14. Skema Indentor Vickers (www.gordonengland.co.uk)

Permukaan logam yang diuji mulanya ditekan dengan indentor berbentuk

piramida intan yang dasarnya berbentuk bujur sangkar. Besar sudut antara

permukaan-permukaan piramida yang berhadapan adalah sebesar 1360. Angka

kekerasan piramida intan (DPN) atau angka kekerasan Vickers (VHN atau VPN),

secara teoritis diartikan sebagai besarnya beban dibagi luas penampang lekukan

yang terjadi. VHN dapat ditentukan dari persamaan sebagai berikut:

VHN =
2.P.Sin α ( 2)
d2

P ⎛ kg ⎞
= 1,854 2 ⎜ 2⎟
d ⎝ mm ⎠

dimana : P = Beban yang diberikan (kg)

d = Panjang diagonal rata-rata (mm)

α = Sudut antara intan yang belawanan (1360)


35

Uji kekerasan Vickers banyak dipakai dalam kegiatan riset karena cara

tersebut memberikan hasil berupa skala kekerasan yang kontinyu. Pengujian

Vickers dapat digunakan untuk material yang sangat keras sekalipun, hal ini

karena indentor yang digunakan berupa intan yang merupakan bahan yang paling

keras.

2.6 Pengujian Struktur Mikro

Struktur mikro adalah struktur terkecil yang terdapat dalam suatu bahan

yang keberadaannya tidak dapat di lihat dengan mata telanjang, tetapi harus

menggunakan alat pengamat struktur mikro diantaranya: mikroskop cahaya,

mikroskop electron, mikroskop field ion, mikroskop field emission dan mikroskop

sinar-X. Penelitian ini menggunakan mikroskop cahaya, adapun manfaat dari

pengamatan struktur mikro ini adalah:

1. Mempelajari hubungan antara sifat-sifat bahan dengan struktur dan cacat

pada bahan.

2. Memperkirakan sifat bahan jika hubungan tersebut sudah diketahui.

Tahapan yang perlu dilakukan sebelum pengujian struktur mikro

dilaksanakan yaitu:

1. Tahap pemotongan

Tahap ini berupa pemotongan benda kerja yang nantinya akan diteliti.

2. Tahap pengamplasan

Tahap ini dilakukan mulai dari ukuran amplas yang paling kecil hingga yang

paling besar pada bagian bidang permukaan yang hendak diteliti.


36

3. Tahap polishing

Tahapan ini bertujuan untuk menghilangkan adanya goresan dan agar

diperoleh bidang uji yang benar-benar halus. Proses pemolesan dilakukan

dengan menggunakan autosol.

4. Tahap pengetsaan

Proses pengetsaan bertujuan agar struktur benda uji dapat terlihat dengan

jelas.

5. Tahap pemotretan

Merupakan pemotretan struktur mikro benda kerja dengan perbesaran

tertentu.

2.7 Pengujian Laju Korosi

Laju korosi merupakan besarnya pengikisan yang terjadi pada suatu

material yang dinyatakan dalam massa dibagi waktu. Pengujian laju korosi dapat

dilakukan dengan dua cara yaitu secara alami dan secara buatan. Pengujian secara

alami dapat menggunakan air laut, sedangkan pengujian secara buatan dapat

dilakukan dengan menggunakan larutan yang bersifat asam dimana dalam

penelitian ini menggunakan larutan H2SO4 (asam sulfat). Besarnya laju korosi

yang terjadi dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut:

wo - wi ⎛ gr ⎞
Laju Korosi = ⎜ ⎟
T ⎝ menit ⎠

dimana wo = Berat awal (gr)

wi = Berat setelah pengujian (gr)

T = Waktu perendaman (menit)


37

2.8 Kerangka Berfikir

Baja dan besi merupakan logam yang paling banyak digunakan sebagai

komponen dalam konstruksi jembatan dan komponen di industri. Pemakaian

logam ini dikarenakan baja dan besi merupakan logam yang mempunyai kekuatan

yang tinggi. Walaupun keduanya banyak digunakan sebagai bahan konstruksi

namun bukan berarti logam tersebut dapat digunakan selamanya karena suatu saat

mutunya akan menurun yang disebabkan karena terjadinya korosi.

Perlindungan terhadap bahaya korosi terutama pada besi dan baja dapat

dilakukan dengan proses pelapisan logam dengan metode Hot Dip Galvanizing.

Proses pelapisan dengan metode Hot Dip Galvanizing merupakan proses

pelapisan yang media pelapisnya berupa seng yang telah dipanaskan hingga

mencair kemudian logam dicelupkan ke dalamnya. Pelapisan ini bertujuan untuk

melindungi logam terhadap serangan korosi, meningkatkan kekuatan dan

memperbaiki penampilan logam (sifat dekoratif). Hasil lapisan seng yang baik dan

sempurna dipengaruhi oleh beberapa faktor penting yang harus diperhatikan yaitu

lama pencelupan, temperatur pencelupan dan kondisi permukaan benda kerja.

Temperatur pencelupan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi

proses Hot Dip Galvanizing. Besar kecilnya temperatur pencelupan sangat

mempengaruhi baik dan buruknya hasil pelapisan, makin tinggi temperaturnya

akan meningkatkan reaktifitas larutan sehingga akan menyebabkan pengkristalan

zat terlarut lebih disukai, daya larutnya bertambah besar dan terjadi penguraian

garam logam yang menjadikan tingginya konduktivitas serta menambah mobilitas

ion logam tetapi viskositas (kekentalan) menjadi berkurang sehingga endapan ion
38

logam pada katoda akan lebih cepat sirkulasinya. Kecepatan pelapisan yang

semakin tinggi akan menghasilkan lapisan yang semakin tebal tetapi bila

temperatur pencelupan terlalu tinggi maka pelapisan akan mengarah pada hasil

lapisan yang kasar dan akan mengurangi terserapnya gas hidrogen dalam lapisan,

menurunkan tegangan serta mengurangi kerapuhan. Hasil lapisan yang baik dapat

diperoleh dengan melakukan pelapisan pada temperatur pencelupan yang tepat.

2.9 Pertanyaan Penelitian

Pertanyaan sementara dalam penelitian ini adalah:

1. Adakah pengaruh temperatur pencelupan Hot Dip Galvanize terhadap tebal

lapisan Zn pada baja karbon rendah.

2. Adakah pengaruh temperatur pencelupan Hot Dip Galvanize terhadap

kekerasan pada baja karbon rendah.

3. Adakah pengaruh temperatur pencelupan Hot Dip Galvanize terhadap laju

korosi pada baja karbon rendah.

4. Adakah pengaruh temperatur pencelupan Hot Dip Galvanize terhadap

struktur mikro pada baja karbon rendah.


39

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Pendekatan Penelitian

Pendekatan penelitian merupakan suatu sistem pengambilan data dalam

suatu penelitian. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen yaitu suatu

metode yang mengusahakan timbulnya variabel-variabel dan selanjutnya dikontrol

untuk dilihat pengaruhnya (Arikunto, 1997: 89).

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat Penelitian I : PT Cerah Sempurna Jl. Walisongo km 11 No. 407

Telp. (024) 8662121-8662123 Semarang

Waktu Penelitian : 22 – 25 Januari 2007

2. Tempat Penelitian II : – Laboratorium Pengujian Bahan Teknik Mesin

Universitas Gadjah Mada

– Laboratorium Kimia UNNES

Waktu Penelitian : 1 Februari – 15 Maret 2007

3.3 Alat dan Bahan Penelitian

1. Alat Penelitian

• Peralatan Hot Dip Galvanizing (crane, tungku pemanas, blower)

• Mesin gergaji

• Mesin bor

39
40

• Mesin polishing

• Mesin uji komposisi

• Mesin uji mikro Vickers

• Mesin uji struktur mikro

• Peralatan uji korosi (labu ukur, gelas ukur, timbangan digital, pipet dan

gelas kimia)

• Alat pengukur ketebalan lapisan (Thickness meter)

• Tang

• Kawat

2. Bahan Penelitian

• Baja karbon rendah dengan diameter 38 mm dan tebal 3 mm

• Larutan H2SO4

• Air bersih

• Seng cair

3.4 Variabel Penelitian

Variabel penelitian dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Variabel bebas

Arikunto (1997: 101) menerangkan bahwa variabel bebas merupakan

variabel yang mempengaruhi yang disebut juga variabel penyebab (independent

variable).
41

Variabel bebas dalam penelitian ini yaitu pengaruh temperatur pencelupan

baja karbon rendah dengan pelapisan metode Hot Dip Galvanizing, yaitu

pencelupan pada temperatur 4400 C, 4500 C dan 4600 C.

2. Variabel terikat

Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas,

adapun yang menjadi variabel terikat dalam penelitian ini adalah pengaruh

terhadap kekerasan, laju korosi dan struktur mikro.

3. Variabel kontrol

Variabel kontrol adalah faktor-faktor yang mempengaruhi hasil dari

penelitian. Variabel kontrol dalam penelitian ini adalah prosedur pelapisan dengan

metode Hot Dip Galvanizing dan bahan yang digunakan yaitu baja karbon rendah.

3.5 Proses Pembuatan Spesimen

Tahapan proses pembuatan spesimen yaitu:

1. Pemotongan bahan

Memotong bahan yang berupa baja karbon rendah dengan ukuran tebal 3

mm dan diameter 38 mm dengan menggunakan mesin gergaji.

38 3

Gambar 15. Gambar Spesimen


42

2. Pengeboran spesimen

Pengeboran dilakukan dengan menggunakan mesin bor, lubang ini bertujuan

untuk memudahkan dalam perangkaian spesimen dalam proses pencelupan.

3. Pemolesan

Pemolesan spesimen dilakukan dengan menggunakan mesin polishing,

pemolesan ini bertujuan agar dihasilkan permukaan yang rata sehingga

lapisan seng dapat menempel dengan baik.

3.6 Proses Pelapisan

Proses pelapisan dilakukan di PT Cerah Sempurna yang merupakan sebuah

industri yang bergerak dalam bidang pelapisan dengan metode Hot Dip

Galvanizing. Adapun tahapan yang harus dilakukan yaitu:

1. Menimbang benda kerja yang kemudian dirangkai menjadi satu bagian.

2. Melakukan proses pickling yang berfungsi untuk menghilangkan karat

kemudian dilanjutkan dengan proses rinsing. Melakukan proses fluxing yang

disusul dengan proses drying.

3. Mengatur suhu seng yang dibagi dalam tiga kali kelompok pencelupan, yaitu

pencelupan pada suhu 4400 C, 4500 C dan suhu 4600 C.

4. Mencelupkan rangkaian spesimen ke dalam bak galvaniz, proses pencelupan

dilakukan selama 1,5 menit kemudian dilanjutkan dengan proses quenching.

5. Melakukan penimbangan berat akhir lapisan dan mengukur ketebalan

lapisan.
43

Proses pelapisan dengan metode Hot Dip Galvanizing sebagai berikut:

a. Penimbangan spesimen e. Fluxing i. Quenching

b. Perangkaian spesimen f. Drying j. Menimbang berat


lapisan

c. Pickling g. Penambahan Cromate k. Mengukur ketebalan


lapisan

d. Rinsing h. Proses Galvanizing

Gambar 16. Urutan Proses Pelapisan di PT Cerah Sempurna


44

3.7 Langkah-langkah Pengujian

3.7.1 Pengujian Komposisi

Pengujian komposisi material baja karbon rendah dilakukan di

Laboratorium Itokoh Ceperindo. Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui

komposisi kimia yang terkandung dalam suatu bahan atau prosentase dari tiap

unsur pembentuk bahan misalnya unsur C, Si, Fe, Cu, Mg, Al dan unsur-unsur

lainnya.

Langkah pengujian komposisi adalah sebagai berikut:

1. Spesimen yang telah dipotong dengan diameter minimal 13 mm dibersihkan

permukaannya dengan cara dipolishing hingga halus dan rata.

2. Spesimen diletakkan pada bed dan dibakar dengan sejenis elektroda hingga

bahan yang terkandung di dalamnya mengalami pencairan atau rekristalisasi.

Proses pembakaran elektroda ini tidak boleh lebih dari tiga detik. Hasil dari

proses rekristalisasi berupa pancaran cahaya yang nantinya akan ditangkap

oleh suatu alat uji melalui sensor cahaya dan akan diteruskan ke dalam

program komputer yang kemudian akan mencatat hasilnya. Langkah ini

dilakukan sebanyak tiga kali kemudian hasilnya dirata-rata dan diprint out.

3.7.2 Pengukuran Tebal Lapisan

Pengukuran ketebalan lapisan merupakan salah bagian akhir dari proses

pelapisan yang dilakukan di PT Cerah Sempurna. Pengukuran ini dilakukan

dengan menggunakan thickness meter sebagaimana terlihat pada Gambar 11.

Adapun langkah-langkah pengukuran tebal lapisan yaitu:

1. Pegang spesimen di tangan kiri sedangkan thickness meter di tangan kanan.


45

2. Tempelkan sensor ukur tegak lurus terhadap spesimen sehingga pada layar

alat ukur akan muncul besarnya tebal lapisan yang dinyatakan dalam μm.

3. Lakukan pengukuran sebanyak tiga kali untuk tiap bidangnya dan

dilanjutkan ke bidang yang satunya lagi, sebagaimana terlihat pada gambar

di bawah ini:

Pengukuran ke- 1 2 3

6 5 4
Gambar 17. Urutan Pengukuran Tebal Lapisan

4. Tekan tombol OK untuk memperoleh rata-rata hasil pengukuran.

Gambar 18. Alat Pengukur Ketebalan Lapisan

3.7.3 Pengujian Struktur Mikro

Langkah sebelum melakukan pengujian foto mikro adalah pemolesan.

Pemolesan dengan menggunakan amplas mulai dari amplas no. 100 sampai no.

1500 kemudian diberi autosol agar lebih halus dan mengkilap. Tahap ini

dilaksanakan di laboratorium bahan D3 UGM dengan menggunakan mesin


46

polishing. Setelah pemolesan selesai, baru dilakukan foto mikro terhadap bahan

tersebut dengan mesin mesin foto struktur mikro.

Gambar 19. Alat Uji Struktur Mikro

Langkah-langkah pengujian struktur mikro:

1. Spesimen yang akan dilakukan uji foto mikro harus rata terhadap bidang

ukur, sehingga spesimen tersebut diamplas dengan menggunakan amplas

halus, kemudian melakukan finishing dengan menggosok spesimen

menggunakan autosol.

2. Nyalakan mikroskop dengan menekan ON pada power switch.

3. Letakan spesimen pada stage.

4. Pilih cahaya yang sesuai dengan memutar light intensity control knop.

5. Pilih perbesaran lensa objektif dengan memutar revolving nosepiece.

6. Lihat gambar pada eyepiece yaitu pada lensa okuler.

7. Fokuskan pada gambar.

8. Pilih lokasi yang akan diinginkan dengan memutar stage drive control knop.
47

9. Pemotretan: masukan film pada kamera, pilih spesifik gambar yang akan

diambil dengan photo unit adjuster dial, dan tekan expose untuk melakukan

pemotretan.

3.7.4 Pengujian Kekerasan

Pengujian kekerasan Vickers menggunakan Micro Hardeness Vickers

sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 20.

Gambar 20. Alat Uji Kekerasan Vickers

Prosedur pengujian kekerasan Vickers adalah sebagai berikut:

1. Letakkan spesimen pada bed mesin uji kekerasan mikro Vickers.

2. Tempatkan fokus pembebanan pada daerah lapisan, kemudian dilanjutkan

pada daerah base material.

3. Beban utama 50 gram ditambahkan secara berangsur-angsur sehingga beban

akan turun dan menekan bahan uji dan penekan ditahan sampai 5 detik.

4. Beban utama kemudian dihilangkan sehingga kerucut terangkat sedikit yang

akan memberikan bekas penekanan yang akan dibaca pada skala

mikroskopik dengan ketelitian 0,1 µm.


48

5. Penghitungan hasil uji kekerasan Vickers yang datanya telah dikonversikan

kedalam satuan milimeter dengan rumus:

VHN =
2.P.Sin α ( 2)
d2

P ⎛ kg ⎞
= 1,854 2 ⎜ 2⎟
d ⎝ mm ⎠

sehingga dihasilkan besarnya nilai Vickers Hardness Number (VHN).

Tabel 2. Pengujian Kekerasan


No Suhu Pengujian Spesimen Diagonal Kekerasan Rata-rata Kekerasan
2
(µm) (g/mm ) (g/mm2)
1 440 0C Lapisan Zn 1
2
Logam dasar 1
2
0
2 450 C Lapisan Zn 1
2
Logam dasar 1
2
3 460 0C Lapisan Zn 1
2
Logam dasar 1
2

3.7.5 Pengujian Laju Korosi

Pengujian laju korosi dilakukan dengan menggunakan larutan H2SO4 (asam

sulfat) dengan konsentrasi 8%, 10% dan 12% yang dibagi lagi dalam dua

kelompok pengujian yaitu pengujian selama 4 hari dan 10 hari. Adapun

tahapannya yaitu:
49

1. Tahap Awal

Tahap awal pengujian laju korosi yaitu melakukan penimbangan awal (wo)

spesimen dengan menggunakan timbangan digital (Gambar 15) dan

pembuatan larutan uji.

a. Larutkan H2SO4 murni sejumlah 8 ml dengan air murni sejumlah 92 ml

sehingga diperoleh perbandingan H2SO4 dengan air murni sebesar 8% :

92%.

b. Larutkan H2SO4 murni sejumlah 10 ml dengan air murni sejumlah 90 ml

sehingga diperoleh perbandingan H2SO4 dengan air murni sebesar 10% :

90%.

c. Larutkan H2SO4 murni sejumlah 12 ml dengan air murni sejumlah 88 ml

sehingga diperoleh perbandingan H2SO4 dengan air murni sebesar 12% :

88%.

Gambar 21. Timbangan Digital


50

2. Tahap Perendaman

Proses perendaman dibagi dalam dua kelompok yaitu perendaman selama 4

hari dan 10 hari yang dilakukan pada suhu kamar. Mulanya siapkan gelas

kimia yang telah beri larutan uji kemudian masukkan spesimen ke dalamnya,

ikatkan plastik sebagai penutupnya yang bertujuan agar tidak ada unsur luar

yang masuk selama proses reaksi berlangsung.

Gelas Kimia

Larutan Uji

Benda Uji

Gambar 22. Mekanisme Pengujian Laju Korosi

3. Tahap Akhir

Tahap akhir pengujian yaitu dengan mengeluarkan spesimen dari gelas

kimia, bersihkan dan dikeringkan, kemudian lakukan penimbangan akhir

(wi) setelah dilakukan pengujian. Besarnya laju korosi dihitung dengan

rumus:

wo - wi ⎛ gr ⎞
Laju Korosi = ⎜ ⎟
T ⎝ menit ⎠

dimana wo = Berat awal (gr)

wi = Berat setelah pengujian (gr)

T = Waktu perendaman (menit)


51

Hasil dari pengujian dimasukkan pada tabel berikut:

Tabel 3. Pengujian Laju Korosi


No Konsentrasi Waktu Benda uji wo wi Laju
larutan H2SO4 perendaman (gr) (gr) korosi
(gr/menit)
1 8% 4 hari Raw material
4400 C
4500 C
4600 C
10 hari Raw material
4400 C
4500 C
4600 C
2 10% 4 hari Raw material
4400 C
4500 C
4600 C
10 hari Raw material
4400 C
4500 C
4600 C
3 12% 4 hari Raw material
4400 C
4500 C
4600 C
10 hari Raw material
4400 C
4500 C
4600 C

3.8 Teknik Analisis Data

Setelah data terkumpul maka langkah selanjutnya yaitu menganalisa data.

Data dari hasil pengujian kemudian dimasukkan kedalam persamaan-persamaan

yang ada sehingga diperoleh data yang bersifat kuantitatif yaitu data yang berupa

angka-angka. Teknik analisis data dari pengaruh variasi temperature pencelupan

terhadap tebal lapisan, kekerasan, laju korosi dan struktur mikro pada baja karbon

rendah dengan pelapisan metode Hot Dip Galvanizing berupa dalam bentuk

gambar, grafik dan tabel.


52

3.9 Diagram Alur Penelitian

Bahan: Baja karbon rendah

Pembuatan spesimen

Uji Komposisi

Variasi temperatur
Pelapisan dengan metode
pencelupan (4400 C,
Hot Dip Galvanizing
4500 C dan 4600 C)

Pengukuran Tebal Lapisan

Uji Uji Struktur Uji Laju


Kekerasan Mikro Korosi

Data

Analisis

Hasil

Gambar 23. Diagram Alur Penelitian


53

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

4.1 Pengujian Komposisi

Pengujian komposisi bertujuan untuk mengetahui kadar tiap unsur

pembentuk suatu bahan. Hasil pengujian komposisi baja karbon rendah pada

penelitian ini dituangkan dalam tabel berikut:

Tabel 4. Hasil uji komposisi


No Nama Unsur Simbol Kadar (%)
1 Ferum Fe 98,87
2 Sulfur S 0,021
3 Aluminium Al 0,00
4 Carbon C 0,135
5 Nickel Ni 0,094
6 Niobium Nb 0,00
7 Silicon Si 0,114
8 Chromium Cr 0,048
9 Vanadium V 0,00
10 Mangan Mn 0,560
11 Molibdenum Mo <0,004
12 Tungsten W 0,04
13 Phosphors P 0,009
14 Cupper Cu 0,105
15 Titanium Ti 0,00

Pengelompokkan baja berdasarkan pada kandungan karbonnya dapat dibagi

dalam tiga bagian. Baja dengan kandungan karbon kurang dari 0,30% disebut baja

karbon rendah, baja dengan kadar karbon 0,30% – 0,45% disebut baja karbon

sedang dan baja dengan kadar karbon 0,45% – 0,71% disebut baja karbon tinggi

(Wiryosumarto, 2000: 90). Hasil pengujian komposisi menunjukkan kandungan

karbon sebesar 0,135% sehingga termasuk dalam kelompok baja karbon rendah.

53
54

4.2 Pengukuran Tebal Lapisan

Hasil pengukuran tebal lapisan Zn dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 5. Hasil pengukuran tebal lapisan


1. Pengukuran tebal lapisan seng pada variasi suhu sekitar 4400 C
Spesimen Pengukuran ke (µm) Rata-rata
ke 1 2 3 4 5 6
1 64,3 80,4 58,4 63,9 73,2 58,6 74,14
2 61,1 68,1 59,0 53,6 78,6 50,6 61,83
3 58,4 77,1 56,5 53,9 71,2 55,9 62,16
4 55,3 69,6 63,2 65,5 65,9 65,6 64,18
5 65,1 70,2 61,8 75,4 72,8 54,4 66,64
6 68,1 78,0 61,8 63,2 76,9 59,1 67,86
7 62,0 69,2 59,6 54,0 105 63,6 68,96
8 58,8 68,7 62,7 56,3 70,6 62,3 63,23
9 63,4 77,1 59,8 60,7 71,5 59,9 65,39
10 53,5 59,1 48,5 62,1 69,9 60,6 58,95
Tebal rata-rata 65,33

2. Pengukuran tebal lapisan seng pada variasi suhu sekitar 4500 C


Spesimen Pengukuran ke (µm) Rata-rata
ke 1 2 3 4 5 6
1 76,6 78,7 74,4 67,8 71,2 72,5 73,56
2 80,2 83,5 87,2 79,6 83,4 73,7 81,23
3 80,6 83,3 81,0 83,1 85,2 87,5 83,43
4 81,4 76,0 76,4 79,2 85,8 82,0 80,14
5 89,7 79,9 77,1 71,7 82,2 80,0 81,17
6 70,7 77,9 75,1 73,1 81,1 76,1 75,66
7 84,9 73,2 77,4 81,4 76,9 76,6 78,41
8 76,2 74,1 80,8 84,1 127 77,0 86,52
9 83,0 70,8 77,8 73,0 78,7 79,5 77,12
10 67,4 69,9 71,3 77,9 82,5 79,6 74,76
Tebal rata-rata 79,20

3. Pengukuran tebal lapisan seng pada variasi suhu sekitar 4600 C


Spesimen Pengukuran ke (µm) Rata-rata
ke 1 2 3 4 5 6
1 80,6 85,5 78,7 79,7 90,8 84,3 83,28
2 84,8 90,9 87,6 85,6 87,7 77,7 85,73
3 93,8 88,7 87,5 81,5 90,7 82,7 87,49
4 80,3 108 77,0 74,3 81,9 78,7 83,37
5 76,5 85,6 75,3 81,6 80,2 73,9 78,85
6 75,1 80,2 71,1 80,8 84,4 81,1 78,77
7 82,0 90,0 86,1 81,7 103 77,3 86,68
8 80,5 90,7 76,4 67,8 78,1 72,3 77,64
9 75,6 76,4 78,4 92,9 87,5 72,2 80,51
10 84,6 96,4 79,0 74,4 88,7 85,4 84,75
Tebal rata-rata 82,71
55

Gambar 18 menunjukkan perbedaan tebal lapisan Zn yang didasarkan pada

perbedaan temperatur pencelupan. Spesimen yang dicelup pada suhu 4400 C

memiliki tebal lapisan Zn rata-rata sebesar 65,33 µm, ketebalan ini semakin naik

sebesar 21,2% pada spesimen yang dicelup pada suhu 4500 C dan naik sebesar

26,6% pada spesimen yang dicelup pada suhu 4600 C. Hal ini sesuai dengan teori

bahwa tebal lapisan dipengaruhi oleh:

a. Kondisi permukaan

b. Lama pencelupan

c. Temperatur pencelupan

90
80
Tebal Lapisan (µm)

70 79.2 82.71
60
65.33
50
40
30
20
10
0
435 440 445 450 455 460 465
Temperatur Pencelupan (0C)
Gambar 24. Pengaruh temperatur pencelupan terhadap tebal lapisan Zn

Hasil pengujian ketebalan lapisan Zn menunjukkan kecenderungan

meningkatnya tebal lapisan seng yang melekat pada baja seiring dengan naiknya

temperatur pencelupan. Hal ini dikarenakan semakin tinggi temperatur seng akan

mengakibatkan kekentalannya menjadi turun sehingga daya larutnya bertambah

besar dan akan meningkatkan reaktifitas seng yang berakibat mobilitas ion-ion

seng menjadi tinggi sehingga mudah berdifusi pada baja (Charles, 1996: 381).
56

4.3 Pengujian Kekerasan

Pengujian kekerasan dalam penelitian ini menggunakan Alat Uji Kekerasan

Micro Vickers dengan pembebanan sebesar 50 gram, dari hasil perhitungan

nantinya akan diperoleh nilai kekerasan Vickers (VHN). Hasil pengujian

kekerasan Vickers ditunjukkan dengan tabel berikut ini:

Tabel 6. Hasil pengujian kekerasan Vickers


No Suhu Pengujian Spesimen Diagonal Kekerasan Rata-rata Kekerasan
(µm) (VHN) (VHN)
1 440 0C Lapisan Zn 1 21.5 200.54
196.03
2 22 191.53
Logam 1 23 175.24
dasar 171.55
2 23.5 167.86
2 450 0C Lapisan Zn 1 21 191.53
196.03
2 21.5 200.54
Logam 1 23.25 171.49
167.92
dasar 2 23.75 164.34
0
3 460 C Lapisan Zn 1 20.75 215.30
212.75
2 21 210.20
Logam 1 23 175.24
dasar 171.55
2 23.5 167.86

Gambar 25 menunjukkan besarnya nilai kekerasan Vickers lapisan Zn dan

logam dasar terhadap temperatur pencelupan. Kenaikan variasi temperatur

pencelupan akan menyebabkan nilai kekerasannya semakin naiknya dimana pada

spesimen yang dicelup pada suhu 4400 C dan 4500 C nilai kekerasannya 196,03

VHN sedangkan pada bahan yang dicelup pada suhu 4600 C mengalami kenaikan

sebesar 8,53%. Nilai kekerasan raw material (baja karbon rendah) yang

digunakan yaitu sebesar 177,40 VHN.

Baja karbon rendah yang dilapisi dengan metode Hot Dip Galvanizing

menunjukkan adanya peningkatan nilai kekerasan dimana lapisan Zn lebih keras

dibandingkan logam dasarnya. Spesimen yang dicelup pada suhu 4400 C


57

mengalami kenaikan nilai kekerasannya sebesar 14,27% (196,03 VHN)

dibandingkan logam dasarnya dan pada variasi 4500 C naik sebesar 16,74%

(196,03 VHN) serta spesimen yang dicelup pada suhu 4600 C mengalami

kenaikan sebesar 24,02% (212,75 VHN).

250
212.75
196.03 196.03
Nilai Kekerasan (VHN)

200
171.55 171.55
167.92

150 lapisan
Zn
Logam
100
Dasar

50

0
440 450 460

Temperatur Pencelupan (0C)


Gambar 25. Pengaruh temperatur pencelupan terhadap
nilai kekerasan Vickers

Data di atas menunjukkan bahwa semakin naik temperatur pencelupannya

nilai kekerasannya mengalami peningkatan, selain itu juga dengan dilakukan

pelapisan dengan metode Hot Dip Galvanizing akan menaikkan nilai kekerasan

dibandingkan logam dasarnya. Hal ini disebabkan karena pada pelapisan dengan

metode Hot Dip Galvanizing akan menghasilkan lapisan paduan antar muka

(interface alloying) yang terbentuk antara lapisan Zn dengan baja dalam bentuk

ikatan metalurgi yang kuat dan tersusun secara berlapis-lapis yang biasa disebut

fasa. Lapisan paduan tersebut yaitu lapisan Eta, Zeta, Delta dan Gamma yang
58

secara umum memiliki nilai kekerasan yang lebih tinggi dibandingkan logam

dasarnya sebagaimana telah dijelaskan lewat Gambar 2.

4.4 Pengujian Laju Korosi

Hasil pengujian laju korosi pada penelitian ini dituangkan dalam tabel

berikut:

Tabel 7. Hasil pengujian laju korosi


No Konsentrasi Waktu Spesimen wo wi Laju korosi .10-5
larutan H2SO4 perendaman (gr) (gr) (gr/menit)
1 8% 4 hari Raw material 23,7253 23,2067 9,00347
4400 C 26,8854 26,2890 10,35417
4500 C 25,8358 25,1300 12,25347
4600 C 26,4792 25,8548 10,84028
10 hari Raw material 22,0667 20,3217 12,11806
4400 C 28,7499 27,1053 11,42083
4500 C 27,8399 26,8732 6,71319
4600 C 29,6908 29,0108 4,72222
2 10% 4 hari Raw material 21,1468 19,7629 9,61111
4400 C 28,5105 27,6487 14,96181
4500 C 29,2903 28,1881 19,13542
4600 C 27,2497 26,2928 16,61285
10 hari Raw material 23,7895 22,9223 15,05764
4400 C 28,3268 26.3024 14,05833
4500 C 29,5408 28,2841 8,72708
4600 C 27, 2443 25,7289 10,52361
3 12% 4 hari Raw material 25,1688 23,6256 10,71701
4400 C 26,2629 25,0972 20,23785
4500 C 23,5759 22,2498 23,02257
4600 C 28,5748 26,9655 27,93924
10 hari Raw material 22,2514 21,2863 16,75486
4400 C 27,5724 25,0277 17,67153
4500 C 26,8939 25,6278 8,79236
4600 C 28,7746 27,2817 10,36736

Gambar 26 mengilustrasikan besarnya laju korosi pada baja yang tidak

digalvanizing dengan lama pengujian 4 dan 10 hari terhadap kenaikan konsentrasi

larutan H2SO4. Pada pengujian laju korosi selama 4 hari dengan konsentrasi

H2SO4 sebesar 8% laju korosi yang terjadi sebesar 9,00347.10-5 gram/menit, nilai

ini meningkatkan sebesar 6,75% pada konsentrasi H2SO4 10% dan naik sebesar
59

19,03% pada konsentrasi H2SO4 12%. Pada pengujian selama 10 hari dengan

konsentrasi H2SO4 sebesar 8% laju korosinya sebesar 12,1181.10-5 gram/menit,

nilai ini meningkatkan sebesar 24,26% pada konsentrasi H2SO4 10% dan naik

38,26% pada konsentrasi H2SO4 12%.

18
16
Laju Korosi .10-5 (gr/menit)

14
12 Lama Pengujian
10 4 Hari
8 10 Hari
6
4
2
0
8% 10% 12%
Konsentrasi Larutan H2SO4
Gambar 26. Pengaruh konsentrasi larutan H2SO4 terhadap
laju korosi baja yang tidak digalvanizing

Data di atas juga menggambarkan adanya kenaikan laju korosi seiring

dengan semakin naiknya waktu pengujian. Pada pengujian dengan konsentrasi

H2SO4 sebesar 8% selama 4 hari laju korosinya mengalami peningkatan sebesar

34,59% pada pengujian selama 10 hari sedangkan pada konsentrasi H2SO4 10%

laju korosi mengalami peningkatan sebesar 56,67% dan pada konsentrasi H2SO4

12% laju korosi mengalami peningkatan sebesar 56,34%.

Dari sini diketahui bahwa laju korosi yang terjadi pada baja yang tidak

digalvanizing mengalami kenaikan seiring dengan naiknya konsentrasi H2SO4 dan

juga terhadap lama pengujian. Larutan H2SO4 yang semakin pekat menyebabkan
60

proses pengikisan menjadi semakin besar karena jumlah zat-zat korosifnya

semakin banyak begitu juga semakin lama waktu pengujiannya menyebabkan

proses pengikisan menjadi bertambah besar.

Gambar 27 menunjukkan pengaruh temperatur pencelupan terhadap laju

korosi selama 4 hari pengujian. Baja yang digalvanizing pada suhu 4400 C dengan

konsentrasi H2SO4 8% laju korosinya 10,35417.10-5 gram/menit, laju korosinya

naik 44,50% pada konsentrasi 10% dan naik hingga 70,67% pada konsentrasi

12%. Pada baja yang digalvanizing pada suhu 4500 C dengan konsentrasi H2SO4

8% laju korosinya 14,96181.10-5 gram/menit, laju korosinya naik 56,16% pada

konsentrasi 10% dan naik sebesar 87,89% pada konsentrasi 12%. Pada baja yang

digalvanizing pada suhu 4600 C dengan konsentrasi H2SO4 8% laju korosinya

20,23785.10-5 gram/menit, laju korosinya naik 53,25% pada konsentrasi 10% dan

naik hingga 157,74% pada konsentrasi 12%.

Pengujian laju korosi baja yang digalvanizing pada suhu 4400 C dengan

larutan H2SO4 8% laju korosinya 10,35417.10-5 gram/menit, pada suhu 4500 C

naik sebesar 18,33% namun hanya naik 4,69% pada suhu pencelupan 4600 C.

Pada pengujian baja yang digalvanizing pada suhu 4400 C dengan larutan H2SO4

10% laju korosinya 14,96181.10-5 gram/menit, pada suhu 4500 C laju korosinya

naik sebesar 27,90% dan hanya naik 11,03% pada suhu pencelupan 4600 C. Pada

pengujian baja yang digalvanizing pada suhu 4400 C dengan larutan H2SO4 12%

laju korosinya 20,2378.10-5 gram/menit, pada suhu 4500 C naik sebesar 13,76%

dan semakin naik hingga sebesar 38,05% pada suhu pencelupan 4600 C.
61

Data di atas menunjukkan bahwa pada pengujian laju korosi selama 4 hari

untuk baja yang digalvanizing pada suhu 4400 C mempunyai nilai laju korosi yang

terkecil bila dibandingkan dengan baja yang digalvanizing pada suhu 4500 C dan

4600 C baik untuk larutan H2SO4 dengan konsentrasi 8%, 10% dan 12%.

30

25
Laju Korosi .10-5 (gr/menit)

20 Konsentrasi
H2SO4

15 8%
10%
10 12%

0
435 440 445 450 455 460 465
Temperatur Pencelupan (0C)
Gambar 27. Pengaruh temperatur pencelupan terhadap
laju korosi selama 4 hari

Pelapisan dengan metode Hot Dip Galvanizing akan menghasilkan suatu

lapisan intermetalik yang dapat mengikat dengan baik antara lapisan seng dengan

baja namun jika ikatan tersebut terlalu tebal akan menyebabkannya menjadi getas.

Reaksi kimia yang terjadi antara Zn dengan H2SO4 berlangsung secara cepat saat

keduanya bertemu yang ditandai dengan timbulnya gelembung-gelembung udara

juga dihasilkan energi yang berupa panas, dilepaskannya belerang dioksida (SO2),

dihasilkan garam yang berasal dari ion-ion zinc (Zn2+) dan dihasilkan air (H2O),

namun pada pengujian laju korosi selama 4 hari garam yang dihasilkan sebagai

produk reaksi belumlah nampak yang menandakan bahwa reaksi masih


62

berlangsung dan belum tercapai keadaan stabil. Banyak sedikitnya konsentrasi

H2SO4 juga mempengaruhi besarnya laju korosi, grafik di atas menunjukkan

bahwa laju korosi cenderung naik seiring dengan kenaikan temperatur pencelupan

namun turun kembali jika temperaturnya dinaikkan.

Korosi yang terbesar terjadi pada baja yang digalvanizing pada suhu 4600 C

dengan 12% H2SO4, hal ini karena pada suhu pencelupan 4600 C ion-ion Zn

sangat reaktif sehingga proses difusinya berupa ion-ion Zn dengan ukuran yang

lebih kecil ditambah lagi larutan ujinya sangat korosif yaitu pada konsentrasi 12%

sehingga proses pengikisan berlangsung sangat cepat.

Gambar 28 mengilustrasikan pengaruh temperatur pencelupan terhadap laju

korosi selama 10 hari pengujian. Baja yang digalvanizing pada suhu 4400 C

dengan konsentrasi H2SO4 8% laju korosinya 11,42083.10-5 gram/menit, naik

23,09% pada konsentrasi 10% dan naik 54,73% pada konsentrasi 12%. Pada baja

yang digalvanizing pada suhu 4500 C dengan konsentrasi H2SO4 8% laju

korosinya 6,71319.10-5 gram/menit, laju korosinya naik 29,98% pada konsentrasi

10% dan naik 30,97% pada konsentrasi 12%. Pada baja yang digalvanizing pada

suhu 4600 C dengan konsentrasi H2SO4 8% laju korosinya 4,72222.10-5

gram/menit, laju korosinya naik 122,85% pada konsentrasi 10% dan naik

119,54% pada konsentrasi 12%.

Pengujian baja yang digalvanizing pada suhu 4400 C dengan larutan H2SO4

8% laju korosinya 11,42083.10-5 gram/menit, pada suhu 4500 C turun 41,22% dan

kembali turun sebesar 58,65% pada suhu pencelupan 4600 C. Pada pengujian laju

korosi baja yang digalvanizing pada suhu 4400 C dengan larutan H2SO4 10% laju
63

korosinya 14,05833.10-5 gram/menit, pada suhu 4500 C turun sebesar 37,92% dan

turun sebesar 25,14% pada suhu pencelupan 4600 C. Pada pengujian baja yang

digalvanizing pada suhu 4400 C dengan larutan H2SO4 12% laju korosinya

17,67153 gram/menit, pada suhu 4500 C turun sebesar 50,24% dan turun sebesar

41,33% pada suhu pencelupan 4600 C.

Konsentrasi H2SO4 yang semakin tinggi menyebabkan besarnya laju korosi

yang terjadi juga semakin tinggi juga, jika pada pengujian selama 4 hari diatas

bahan yang digalvanizing pada suhu 4400 C memiliki nilai laju korosi yang

terkecil namun jika pengujian tersebut diteruskan hingga 10 hari perbedaan

tersebut akan semakin nampak. Secara umum, grafik di bawah menunjukkan

bahwa baja yang digalvanizing pada suhu 4400 C memiliki laju korosi yang

terbesar, namun pada suhu 4500 C nilainya turun dan kembali naik pada 4600 C.

20
18
Laju Korosi .10-5 (gr/menit)

16
14
Konsentrasi
12 H2SO4
10 8%
8
10%
6
12%
4
2
0
435 440 445 450 455 460 465

Temperatur Pencelupan (0C)


Gambar 28. Pengaruh temperatur pencelupan terhadap
laju korosi selama 10 hari
64

Pengujian laju korosi selama 10 hari dihasilkan garam dalam jumlah yang

cukup besar yang mengindikasikan bahwa reaksi yang terjadi antara baja yang

digalvanizing dengan larutan H2SO4 telah mencapai kesetimbangan. Semakin

besar temperatur pencelupan ternyata menghasilkan besar laju korosi yang

berbeda-beda, dimana bahan dengan variasi suhu 4400 C memiliki laju korosi

yang terbesar yang disebabkan pada suhu tersebut seng masih relatif kental

(viskositas masih tinggi) sehingga seng yang menempel pada baja disebabkan

karena bersentuhannya antara keduanya sehingga pergerakan ion logam seng

masih terbatas dan seng yang menempel pada baja masih relatif kecil sehingga

apabila terjadi korosi lapisan seng tersebut lebih mudah untuk terkikis yang

disebabkan oleh daya rekatnya yang masih belum terlalu kuat.

Baja yang dicelup pada suhu 4500 C mempunyai nilai laju korosi pada

daerah rata-rata, hal ini dikarenakan pergerakan ion logam seng sudah baik

sehingga lapisan yang menempel telah dapat berikatan dan menempel dengan

baik, sedangkan pada baja yang digalvanizing pada suhu 4600 C dengan

konsentrasi 8% H2SO4 memiliki korosi yang terkecil hal ini dikarenakan

konsentrasi larutan uji tidak terlalu korosif sehingga proses pengikisannya lebih

sedikit dibandingkan dengan yang lainnya.

Gambar 29 menerangkan pengaruh lama pengujian terhadap besarnya laju

korosi pada baja yang digalvanizing pada suhu 4400 C. Baja galvanizing yang

diuji dengan H2SO4 8% laju korosinya mengalami kenaikan 10,30% pada 10 hari

pengujian dibandingkan 4 hari pengujian, pada pengujian dengan H2SO4 10%

mengalami penurunan 6,04% pada 10 hari pengujian dibandingkan 4 hari


65

pengujian dan pada pengujian dengan H2SO4 12% mengalami penurunan 12,68%

pada 10 hari pengujian dibandingkan 4 hari pengujian. Grafik di bawah

menunjukkan kenaikan konsentrasi H2SO4 menyebabkan laju korosi semakin

lama akan semakin kecil seiring dengan bertambahnya waktu pengujian.

25
Laju Korosi .10-5 (gr/menit)

20

15 Konsentrasi
H2SO4
10
8%
5 10%
12%
0
0 2 4 6 8 10 12
Lama Pengujian (Hari)
Gambar 29. Pengaruh lama pengujian terhadap laju korosi
pada variasi pencelupan 4400 C

Kenaikan konsentrasi H2SO4 ternyata menyebabkan laju korosi yang terjadi

semakin kecil mengalami penurunan yang paling besar, hal ini disebabkan dengan

semakin naiknya konsentrasi larutan H2SO4 berarti tingkat korosifnya semakin

besar sehingga reaksi kimia yang terjadi akan berlangsung secara cepat namun

halnya bila hal ini diteruskan akan berakibat daya korosifnya akan berkurang

secara cepat.

Pengujian dengan 8% H2SO4 reaksi yang terjadi belumlah setimbang, hal

ini karena dengan konsentrasi tersebut proses pengikisan berlangsung secara

lambat dibandingkan dengan konsentrasi yang lainnya, sehingga ketika pada

pengujian yang lain reaksinya telah setimbang, pada konsentrasi 8% tersebut

kesetimbangan belumlah tercapai.


66

Perlindungan terhadap korosi oleh Zn terhadap baja yang menjadi

substratnya merupakan jenis proteksi katodik dengan metode anoda tumbal

(sacrificial anode method), hal ini karena adanya perbedaan potensial

elektrokimia antara baja dengan seng (potensial oksidasi Zn lebih tinggi

dibandingkan baja) sehingga saat terjadi proses oksidasi dengan larutan H2SO4

maka lapisan seng akan menjadi bahan yang dikorbankan (sacrificial waster)

sedangkan baja yang lebih mulia laju korosinya akan terhambat. Saat proses

oksidasi terjadi, maka gas dan kelembaban di sekitar bagian bawah seng akan

menghasilkan sebuah lapisan pelindung yang berasal dari zinc oxide dan

hydroxide.

Pengujian laju korosi dengan menggunakan larutan uji H2SO4 ternyata

kurang tepat digunakan, hal ini karenakan Zn akan dengan mudah mengkorosi

lapisan Zn dengan melepaskan ion-ion zinc (Zn2+) dengan turut melepaskan SO2.

Jika proses pengujian dilakukan di daerah terbuka maka pembuktian tujuan dari

pelapisan yaitu untuk melindungi logam yang dilapisi dari proses korosi dapat

dilakukan, pada daerah terbuka akan terjadi proses oksidasi (proses reaksi dengan

oksigen) yang merupakan faktor utama penyebab korosi. Baja yang penyusun

utamanya adalah besi akan lebih mudah teroksidasi dibandingkan Zn, sehingga

proses perlindungan terhadap korosi dapat dengan tepat dilakukan untuk material

yang berada pada daerah terbuka dibandingkan pada lingkungan air.

Korosi yang terjadi pada logam baja yang digalvanizing dengan Zn

termasuk dalam jenis korosi merata (general corrosion) yaitu proses korosi yang

terjadi pada suatu logam yang terjadi secara menyeluruh.


67

4.5 Pengujian Struktur Mikro

Berikut ini adalah foto struktur mikro hasil pemotretan spesimen uji untuk

setiap jenis perlakuan:

Ferrite

Pearlite

50μm

Gambar 30. Struktur mikro spesimen raw material sebelum digalvanizing

Gambar 30 mengilustrasikan hasil pengujian foto mikro pada spesimen raw

material yang menunjukkan dominasi kristal ferrite yang nampak berwarna putih

(terang) terhadap kristal pearlite yang berwarna hitam (gelap). Dominasi ini

menunjukkan bahwa raw material merupakan logam yang tidak terlalu keras

dalam hal ini berupa baja karbon rendah.

Lapisan Zn

20μm

Gambar 31. Struktur Mikro Lapisan Zn Variasi Temperatur Pencelupan 4400 C


68

Lapisan Zn

20μm

Gambar 32. Struktur Mikro Lapisan Zn Variasi Temperatur Pencelupan 4500 C

Lapisan Zn

20μm

Gambar 33. Struktur Mikro Lapisan Zn Variasi Temperatur Pencelupan 4600 C

Gambar 31, 32 dan 33 merupakan foto mikro dari baja yang digalvanizing

dengan variasi temperatur pencelupan. Foto di atas menunjukkan bahwa lapisan

Zn dapat menempel dengan baik pada baja, dan lapisan seng yang menempel

mengalami kenaikan ketebalan seiring dengan naiknya temperatur pencelupan

dari 4400 C hingga 4600 C.

Pengujian struktur mikro pada suhu 4400 C terlihat bahwa struktur lapisan

Zn tidak terbentuk secara merata namun pada spesimen yang digalvanizing pada
69

suhu 4500 C dan 4600 C pembentukan struktur lapisan Zn dapat terbentuk secara

merata. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi temperatur pencelupannya

maka lapisan paduan Zn dan baja yang dihasilkan susunan struktur lapisan

paduannya akan semakin kelihatan.

Gambar 34 memperlihatkan karakteristik lapisan seng yang menempel pada

permukaan baja. Lapisan tersebut terbentuk disebabkan karena lapisan seng murni

yang berdifusi (masuk ke dalam baja) saat proses pencelupan dilakukan yang

nantinya akan membentuk lapisan paduan antar muka (interface alloying) antara

seng dengan baja. Gambar tersebut menunjukkan bahwa pada pelapisan dengan

metode Hot Dip Galvanizing pada saat spesimen dicelupkan pada seng cair yang

panas terjadi proses difusi, yaitu proses pemasukan ion-ion logam Zn ke dalam

struktur baja sehingga akan diperoleh lapisan paduan yang terdiri oleh sejumlah

Zn dan besi.

Lapisan Eta

Lapisan Zeta

Lapisan Delta
Lapisan Gamma
20μm
Baja

Gambar 34. Struktur mikro lapisan Zn dan baja hasil proses


Hot Dip Galvanizing

Proses Hot Dip Galvanizing akan menghasilkan susunan struktur lapisan

sebagai berikut:
70

1. Lapisan Eta

Lapisan ini merupakan lapisan terluar yang tersusun oleh 100% seng yang

memiliki kekerasan sebesar 70 DPN.

2. Lapisan Zeta

Lapisan ini terdiri dari sekitar 94% seng dan 6% besi yang memiliki

kekerasan sebesar 179 DPN.

3. Lapisan Delta

Lapisan ini terdiri dari sekitar 90% seng dan 10% besi yang memiliki

kekerasan sebesar 244 DPN.

4. Lapisan Gamma

Lapisan ini terdiri dari sekitar 75% seng dan 25% besi yang memiliki

kekerasan sebesar 250 DPN.

5. Baja yang merupakan logam dasar bahan yang digalvanizing.

Besarnya kandungan unsur Zn dan besi di setiap lapisannya diukur dengan

menggunakan uji komposisi, yaitu sebuah pengujian yang bertujuan untuk

mengetahui seberapa banyak jumlah suatu kandungan unsur yang terdapat pada

suatu logam. Nilai kekerasan di setiap lapisan yang terbentuk diukur dengan

menggunakan kekerasan mikro Vickers yang nantinya akan dinyatakan dalam

VHN (Vickers Hardness Number) atau dapat pula ditulis dengan DPN (Diamond

Pyramid Number), hal ini dikarenakan indentor yang digunakan berupa berlian

yang bentuknya menyerupai piramid.


71

BAB V

PENUTUP

5.1 Simpulan

Simpulan yang dapat ditarik berdasarkan hasil-hasil penelitian diatas adalah

sebagai berikut:

1. Tebal lapisan seng mengalami kenaikan seiring dengan kenaikan variasi

temperatur pencelupan pelapisan dengan metode Hot Dip Galvanizing. Pada

spesimen yang dicelup pada suhu 4400 C tebal lapisan seng 65,33 µm, pada

suhu 4500 C tebalnya menjadi 79,20 µm dan pada suhu 4600 C tebalnya

82,71 µm.

2. Nilai kekerasan bahan yang digalvanizing mengalami kenaikan seiring

dengan kenaikan temperatur pencelupan. Spesimen yang digalvanizing pada

suhu 4400 C dan 4500 C nilai kekerasannya 196,03 VHN dan pada suhu 4600

C nilai kekerasannya 212,75 VHN.

3. Laju korosi pada baja yang tidak digalvanizing semakin naik seiring dengan

kenaikan konsentrasi H2SO4 maupun terhadap lama pengujian. Pada

pengujian selama 4 hari kenaikan temperatur pencelupan menyebabkan

naiknya laju korosi namun kembali turun pada suhu 4600 C. Pada pengujian

selama 10 hari kenaikan temperatur pencelupan menyebabkan laju korosi

semakin turun namun naik pada suhu 4600 C. Pada pada spesimen yang

digalvanizing pada suhu 4400 C menunjukkan penurunan laju korosinya

seiring meningkatnya lama pengujian.

71
72

4. Kenaikan temperatur pencelupan akan menyebabkan pembentukan susunan

struktur mikro lapisan Zn akan semakin baik dan merata, yaitu lapisan Eta,

Zeta, Delta dan Gamma.

5.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, ada beberapa saran yang

dapat diberikan yaitu:

1. Penelitian Hot Dip Galvanizing yang berikutnya sebaiknya dilakukan dengan

menggunakan alat-alat yang lebih presisi seperti heater electric yang

dihubungkan dengan thermokopel yang dimaksudkan agar temperatur

pencelupan dapat dijaga secara konstan sehingga hasil pencelupan dapat

maksimal.

2. Kenaikan temperatur pencelupan pada pelapisan dengan metode Hot Dip

Galvanizing akan menghasilkan tebal lapisan, nilai kekerasan, laju korosi

dan struktur mikro yang berbeda-beda sehingga perlu diperhatikan maksud

dan penggunaan bahan yang dicelup, misal: untuk material yang akan

diletakkan di daerah pinggir pantai dengan waktu pakai 5 tahun maka

tebalnya harus lebih besar dari 80 µm karena laju korosi di pinggir pantai 8-

15 µm pertahun.
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto Suharsimi. 1997. Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek. Edisi


kelima. Jakarta: Rineka Cipta

Charles W Keenan, Kleinfelter. 1996. Kimia untuk Universitas. Jakarta: Erlangga

Dagun Save M. 2005. Kamus Besar Ilmu Pengetahuan. Edisi keempat. Jakarta:
Lembaga Pengkajian Kebudayaan Nusantara

Daryanto.1985. Mekanika Teknik Mesin. Jakarta : PT Bina Aksara

Depdikbud. 1987. Petunjuk Penyusunan Skripsi Mahasiswa Program SI IKIP


Semarang. Semarang: IKIP Press

Fontana Mars G, Greene Norbert D. 1985. Corrosion Engineering. Second


edition. Singapura: McGraw Hill

Henkel Daniel, Pense Alan W. 2002. Structure and Properties of Engineering


Materials. Fifth edition. Amerika: McGraw Hill

Svehla G. 1990. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro.
Jakarta: PT Kalman Media Pustaka

Smallman R E. 1991. Metalurgi Fisik Modern. Jakarta: PT Gramedia Pustaka


Utama

Sulistyo, Bambang Widyanto, Nevi Zond Chatab. 1997. Penerapan Sistem


Manajemen Mutu Industri Pengecoran dan Galvaniz Menuju Seri SNI
19.90000 (150.9000). Semarang: UNDIP

Supardi Rahmat. 1997. Korosi. Bandung: Tarsito

Surdia Tata, Saito Shinroku. 2000. Pengetahuan Bahan Teknik. Edisi kelima.
Jakarta: PT Pradnya Paramitha

Trethewey Kenneth R, Chamberlain John. 1991. Korosi : untuk Mahasiswa Sains


dan Rekayasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Wiryosumarto Harsono, Okumura Toshie. 2000. Teknologi Pengelasan Logam.


Jakarta: PT Pradnya Paramita

73
73
Lampiran 1. Hasil uji komposisi 74
Lampiran 2. Hasil uji kekerasan Vickers 75
Lampiran 3. Perhitungan kekerasan Vickers 76

PERHITUNGAN KEKERASAN

VHN =
2.P.Sin α ( 2) = 1,854
P ⎛ kg ⎞
2 ⎜ 2⎟
d 2
d ⎝ mm ⎠

Kekerasan raw material


P = 40 kg

a. Titik 1
d = 0,64 mm

40
VHN = 1,854 = 181,09 kg
0,64 2 mm 2

b. Titik 2
d = 0,65 mm

40
VHN = 1,854 = 175,56 kg
0,65 2 mm 2

c. Titik 3
d = 0,65 mm

40
VHN = 1,854 = 175,56 kg
0,65 2 mm 2

Lapisan Zn dan Logam dasar

P = 50 gram = 0,05 kg

1. Spesimen Suhu 4400 C

a. Lapisan Zn Spesimen 1

d = 21,5 µm = 0,0215 mm

0,05
VHN = 1,854 = 200,54 kg
0,0215 2 mm 2
77

b. Lapisan Zn Spesimen 2

d = 22 µm = 0,022 mm

0,05
VHN = 1,854 = 191,53 kg
0,022 2 mm 2

c. Logam Dasar Spesimen 1

d = 23 µm = 0,023 mm

0,05
VHN = 1,854 = 175,24 kg
0,023 2 mm 2

d. Logam Dasar Spesimen 2

d = 23,5 µm = 0,0235 mm

0,05
VHN = 1,854 = 167,86 kg
0,0235 2 mm 2

2. Spesimen Suhu 4500 C

a. Lapisan Zn Spesimen 1

d = 21 µm = 0,021 mm

0,05
VHN = 1,854 = 191,53 kg
0,0212 mm 2

b. Lapisan Zn Spesimen 2

d = 21,5 µm = 0,0215 mm

0,05
VHN = 1,854 = 200,54 kg
0,0215 2 mm 2

c. Logam Dasar Spesimen 1

d = 23,25 µm = 0,02325 mm

0,05
VHN = 1,854 = 171,49 kg
0,02325 2 mm 2
78

d. Logam Dasar Spesimen 2

d = 23,75 µm = 0,02375 mm

0,05
VHN = 1,854 = 164,34 kg
0,02375 2 mm 2

3. Spesimen Suhu 4600 C

a. Lapisan Zn Spesimen 1

d = 20,75 µm = 0,02075 mm

0,05
VHN = 1,854 = 215,3 kg
0,02075 2 mm 2

b. Lapisan Zn Spesimen 2

d = 21 µm = 0,021 mm

0,05
VHN = 1,854 = 191,53 kg
0,0212 mm 2

c. Logam Dasar Spesimen 1

d = 23 µm = 0,023 mm

0,05
VHN = 1,854 = 175,24 kg
0,023 2 mm 2

d. Logam Dasar Spesimen 2

d = 23,5 µm = 0,0235 mm

0,05
VHN = 1,854 = 167,86 kg
0,0235 2 mm 2
Lampiran 4. Penghitungan Laju Korosi 79

PERHITUNGAN LAJU KOROSI

wo - wi ⎛ gr ⎞
Laju Korosi = ⎜ ⎟
T ⎝ menit ⎠

T1 = 4 hari = 5760 menit

T2 = 10 hari = 14400 menit

1. Konsentrasi H2SO4 8%

a. Raw material

w0 = 23,7253 gr wi = 23,2067 gr

23,7253 − 23,2067
Laju Korosi = = 9,00347. 10-5 gr
5760 menit

b. Suhu pencelupan 4400 C

w0 = 26,8854 gr wi = 26,2890 gr

26,8854 − 26,2890
Laju Korosi = = 10,35417. 10-5 gr
5760 menit

c. Suhu pencelupan 4500 C

w0 = 25,8358 gr wi = 25,1300 gr

25,8358 − 25,1300
Laju Korosi = = 12,25347. 10-5 gr
5760 menit

d. Suhu pencelupan 4600 C

w0 = 26,4792 gr wi = 25,8548 gr

26,4792 − 25,8548
Laju Korosi = = 10,84028. 10-5 gr
5760 menit
80

e. Raw material

w0 = 22,0667 gr wi = 20,3217 gr

22,0667 − 20,3217
Laju Korosi = = 12,11806. 10-5 gr
14400 menit

f. Suhu pencelupan 4400 C

w0 = 28,7499 gr wi = 27,1053 gr

28,7499 − 27,1053
Laju Korosi = = 11,42083. 10-5 gr
14400 menit

g. Suhu pencelupan 4500 C

w0 = 27,8399 gr wi = 26,8732 gr

27,8399 − 26,8732
Laju Korosi = = 6,71319. 10-5 gr
14400 menit

h. Suhu pencelupan 4600 C

w0 = 29,6908 gr wi = 29,0108 gr

29,6908 − 29,0108
Laju Korosi = = 4,72222. 10-5 gr
14400 menit

2. Konsentrasi H2SO4 10%

a. Raw material

w0 = 23,7896 gr wi = 23,2360 gr

23,7896 − 23,2360
Laju Korosi = = 9,61111. 10-5 gr
5760 menit
81

b. Suhu pencelupan 4400 C

w0 = 28,5105 gr wi = 27,6487 gr

28,5105 − 27,6487
Laju Korosi = = 14,96181. 10-5 gr
5760 menit

c. Suhu pencelupan 4500 C

w0 = 29,2903 gr wi = 28,1881 gr

29,2903 − 28,1881
Laju Korosi = = 19,13542. 10-5 gr
5760 menit

d. Suhu pencelupan 4600 C

w0 = 27,2497 gr wi = 26,2928 gr

27,2497 − 26,2928
Laju Korosi = = 16,61285. 10-5 gr
5760 menit

e. Raw material

w0 = 25,1688 gr wi = 23,0005 gr

25,1688 − 23,0005
Laju Korosi = = 15,05764. 10-5 gr
14400 menit

f. Suhu pencelupan 4400 C

w0 = 28,3268 gr wi = 26,3024 gr

28,3268 − 26,3024
Laju Korosi = = 14,05833. 10-5 gr
14400 menit

g. Suhu pencelupan 4500 C

w0 = 29,5408 gr wi = 28,2841 gr

29,5408 − 28,2841
Laju Korosi = = 8,72708. 10-5 gr
14400 menit
82

h. Suhu pencelupan 4600 C

w0 = 27,2443 gr wi = 25,7289 gr

27,2443 − 25,7289
Laju Korosi = = 10,52361. 10-5 gr
14400 menit

3. Konsentrasi H2SO4 12%

a. Raw material

w0 = 22,2514 gr wi = 21,6341 gr

22,2514 − 21,6341
Laju Korosi = = 10,71701. 10-5 gr
5760 menit

b. Suhu pencelupan 4400 C

w0 = 26,2629 gr wi = 25,0972 gr

26,2629 − 25,0972
Laju Korosi = = 20,23785. 10-5 gr
5760 menit

c. Suhu pencelupan 4500 C

w0 = 23,5759 gr wi = 22,2498 gr

23,5759 − 22,2498
Laju Korosi = = 23,02257. 10-5 gr
5760 menit

d. Suhu pencelupan 4600 C

w0 = 28,5748 gr wi = 26,9655 gr

28,5748 − 26,9655
Laju Korosi = = 27,93924. 10-5 gr
5760 menit
83

e. Raw material

w0 = 21,1468 gr wi = 18,7341 gr

21,1468 − 18,7341
Laju Korosi = = 16,75486. 10-5 gr
14400 menit

f. Suhu pencelupan 4400 C

w0 = 27,5724 gr wi = 25,0277 gr

27,5724 − 25,0277
Laju Korosi = = 17,67153. 10-5 gr
14400 menit

g. Suhu pencelupan 4500 C

w0 = 26,8939 gr wi = 25,6278 gr

26,8939 − 25,6278
Laju Korosi = = 8,79236. 10-5 gr
14400 menit

h. Suhu pencelupan 4600 C

w0 = 28,7746 gr wi = 27,2817 gr

28,7746 − 27,2817
Laju Korosi = = 10,36736. 10-5 gr
14400 menit
Lampiran 5. Surat Penetapan Dosen Pembimbing 84
Lampiran 6. Surat Ijin Pengujian Bahan di Laboratorium Bahan UGM 85
Lampiran 7. Surat Ijin Pengujian Laju Korosi di Laboratorium Kimia UNNES 86
Lampiran 8. Surat Keterangan Penelitian di PT Cerah Sempurna 87
Lampiran 9. Hasil Uji Laju Korosi 88
Lampiran 10. Surat Keterangan Penelitian di Laboratorium Kimia UNNES 89
PERANCANGAN REGULATOR ROBUST
PADA ROTO PACKER (PROSES PACKING)
DENGAN METODE KONTROL H∞
DI PT. SEMEN GRESIK-TUBAN

SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan
memperoleh gelar Sarjana Teknik

Disusun Oleh:

MUFID ARIANTO
NIM. 0110630092-63

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS TEKNIK
MALANG
2007
PERANCANGAN REGULATOR ROBUST

PADA ROTO PACKER (PROSES PACKING)

DENGAN METODE KONTROL H∞

DI PT. SEMEN GRESIK-TUBAN

SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan
memperoleh gelar Sarjana Teknik

Disusun Oleh:

MUFID ARIANTO
NIM. 0110630092-63

Dosen Pembimbing :

Ir. Purwanto, MT Fitriana Suhartati, ST, MT


NIP. 131 574 847 NIP. 132 206 527
PERANCANGAN REGULATOR ROBUST

PADA ROTO PACKER (PROSES PACKING)

DENGAN METODE KONTROL H∞

DI PT. SEMEN GRESIK-TUBAN

Disusun Oleh:

MUFID ARIANTO
NIM. 0110630092-63

Skripsi ini telah diuji dan dinyatakan lulus


Pada tanggal 9 Februari 2007

MAJELIS PENGUJI :

Ir. Moch. Rusli, Dipl. Ing Ir. Erni Yudaningtyas, MT


NIP. 131 653 473 NIP. 131 879 035

Rusmi Ambarwati, ST., MT. Ir. Bambang Siswojo


NIP. 132 258 188 NIP. 131 759 588

Mengetahui
Ketua Jurusan Teknik Elektro

Ir. Purwanto, MT
NIP. 131 574 847
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT atas segala limpahan petunjuk dan
kasih sayang-Nya yang berbuah kekuatan, kesabaran dan kemudahan, sehingga skripsi
yang berjudul “Penerapan Regulator Robust Pada Roto Packer (Proses Packing) Dengan
Metode Kontrol Robust H∞ Di PT. Semen Gresik-Tuban” ini dapat terselesaikan sesuai
yang diinginkan. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah
SAW, Keluarga dan Sahabatnya, yang telah banyak memberikan keteladanan hidup.
Dalam penyusunan skripsi ini, penulis mendapat banyak bantuan dari berbagai
pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Untuk itu, secara khusus penulis
mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada:
1. Ayahanda dan Ibunda tercinta, yang telah mengasuh dan mendidikku dengan penuh
kasih sayang, kesabaran, kebaikan-kebaikan dan kemanfaatan, yang jasanya tidak
akan pernah bisa diungkapkan dengan berbagai macam media.
2. Ir. Purwanto, MT selaku Ketua Jurusan Teknik Elektro dan Ir. Hery Purnomo
selaku Sekretaris Jurusan Teknik Elektro atas semua sarana dan prasarananya.
3. Ir. Purwanto, MT dan Fitriana S. ST, MT selaku dosen pembimbing, atas
perhatian, bimbingan, nasehat dan waktu yang diberikan ditengah-tengah kesibukan
hingga terselesaikan skripsi ini.
4. Ir. Moch. Rusli, Dipl. Ing. selaku Ketua Kelompok Dosen Keahlian Sistem
Kontrol, yang telah mengilhami terpilihnya judul ini pada saat kuliah kontrol robust
dan bimbingan PKL di PT. Semen Cibinong, Tbk.
5. Seluruh Dosen Teknik Elektro Universitas Brawijaya, untuk ilmu-ilmu yang
diberikan kepada penulis selama menjalani pendidikan di kampus.
6. Pak Wisnu, Bu Mien, Bu Kamil, Pak Sanawi, Pak Wahyu dan seluruh staf dan
laboran Teknik Elektro, atas bantuan dan kerja samanya selama ini.
7. Seluruh keluarga di Bengkulu kakakku dan adik-adikku yang selalu mendukung
dan mendoakan.
8. Seluruh teman-teman Elektro yang tidak bisa disebutkan satu-persatu atas bantuan
dari awal tahun masuk hingga lulus.
Dan penulis menyadari sesuai dengan semangat yang diangkat pada penulisan
skripsi ini yaitu “ketidak-pastian”. Bahwa “ketidak-pastian” juga ada dalam diri penulis
pada waktu penulisan skripsi ini, tidak ada yang suatu hal yang pasti, yang ada hanyalah
pendekatan. Begitu juga penulisan skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan. Akhir
kata, semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Amin.

Malang, 9 Pebruari 2007

Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
PENGANTAR .................................................................................................................. i
DAFTAR ISI ................................................................................................................... iv
DAFTAR TABEL .......................................................................................................... vi
DAFTAR GAMBAR...................................................................................................... vii
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................................... ix
RINGKASAN................................................................................................................... x

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................ 1


1.1 Latar Belakang.................................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................ 2
1.3 Batasan Masalah ............................................................................................... 2
1.4 Tujuan Penelitian.............................................................................................. 3
1.5 Sistematika Penulisan ....................................................................................... 3

BAB II Proses Pengepakan, Teori Motor Induksi dan Kontrol Robust......................... 5


2.1 Proses Pengepakan Semen ............................................................................... 5
2.2 Roto Packer ...................................................................................................... 6
2.3 Motor Induksi ................................................................................................... 7
2.3.1 Medan Putar.......................................................................................... 7
2.3.2 Prinsip Kerja Motor Induksi ............................................................... 10
2.4 Konsep Vektor Kontrol ...................................................................................11
2.5 Indirect Vektor Kontrol .................................................................................. 13
2.6 Konsep Sistem Kontrol................................................................................... 16
2.7 Konsep State Dalam Sistem Kontrol .............................................................. 16
2.8 Keterkendalian dan Keteramatan.................................................................... 19
2.8.1 Keterkendalian.................................................................................... 19
2.8.2 Keteramatan........................................................................................ 20
2.9 Teori Sistem Kontrol Robust ...........................................................................21
2.10 Performa Nominal Sistem Umpan Balik .........................................................22
2.11 Kestabilan Robust ............................................................................................23
2.12 Kontrol H∞ ......................................................................................................24
2.13 Formulasi Sistem 2 Port ..................................................................................25
2.14 Fungsi Pembobot Pada Kontrol H∞ ................................................................26
2.15Loop Shifting ....................................................................................................28

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ..................................................................... 29


3.1 Studi Lapangan ............................................................................................... 29
3.2 Penyusunan Model Sistem ............................................................................. 29
3.3 Penyusunan Kendali Robust ........................................................................... 30
3.4 Pengujian Dan Analisis .................................................................................. 30
3.5 Kesimpulan Dan Saran ................................................................................... 31

BAB IV PEMODELAN SISTEM ................................................................................ 32


4.1 Proses Pengepakan Semen ............................................................................. 32
4.2 Model Matematis Motor Induksi.................................................................... 32
4.2.1 Inverter................................................................................................ 35
4.2.2 Fungsi Alih Umpan Balik................................................................... 36
4.3 Reducer........................................................................................................... 37
4.4 Rotary Feeder ................................................................................................. 37
4.5 Model Matematika Load Cell(Sensor Berat).................................................. 39
4.6 Konverter Tegangan ke Arus.......................................................................... 40
4.7 Penyusunan State Space ................................................................................. 41

BAB V DISAIN PENGENDALI, PENGUJIAN DAN ANALISIS SISTEM ............ 45


5.1 Analisis Keterkendalian dan Keteramatan Sistem ......................................... 45
5.1.1 Analisa Keterkendalian....................................................................... 45
5.1.2 Analisa Keteramatan........................................................................... 45
5.2 Margin Kestabilan .......................................................................................... 46
5.3 Pemilihan Fungsi Pembobot........................................................................... 47
5.4 Pembentukan Sistem 2-Port ........................................................................... 48
5.5 Kontroler H∞ .................................................................................................. 49
5.6 Analisa Performa dan Kestabilan Sistem ....................................................... 51
5.6.1 Performa Nominal Sistem .................................................................. 51
5.6.2 Kestabilan Robust............................................................................... 52
5.7 Pengujian dan Analisa Sistem ........................................................................ 52
5.7.1 Pengujian Tanpa Pengendali .............................................................. 53
5.7.2 Pengujian Dengan Pengendali ............................................................ 54

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN........................................................................ 58


6.1 Kesimpulan..................................................................................................... 58
6.2 Saran ............................................................................................................... 59

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................60

LAMPIRAN
DAFTAR TABEL

No. Judul Halaman

Tabel 4.1 Spesifikasi load cell ..................................................................................39


DAFTAR GAMBAR

No. Judul Halaman

Gambar 2.1 Proses Pengepakan Semen .....................................................................5

Gambar 2.2 Bagan RotoPacker ...................................................................................6

Gambar 2.3 Medan Putar ............................................................................................8

Gambar 2.4 Sistem dinamika ....................................................................................16

Gambar 2.5 Diagram blok sistem umpan balik dengan disturbance dan noise ........22

Gambar 2.6 Bentuk plot magnitude bode loop gain ideal.........................................23

Gambar 2.7 Diagram blok dua port untuk kendali H∞. ............................................25

Gambar 2.8 Form standar (tracking) S/KS mixed-sensitivity minimization ..............27

Gambar 2.9 Loop Shifting Transformation ...............................................................28

Gambar 3.1 Diagram blok 2-port kontrol H∞ ............................................................30

Gambar 4.1 Diagram blok Rotopacker......................................................................32

Gambar 4.2 Diagram Blok Motor Induksi ................................................................36

Gambar 4.3 Hubungan antara motor Induksi dan Rotary Feeder..............................37

Gambar 4.4 Rotary feeder .........................................................................................38

Gambar 4.5 Suspensi Representasi Pengukuran Berat..............................................39


Gambar 4.6 Konverter Tegangan ke Arus.................................................................41

Gambar 4.7 Diagram Blok Roto packer ....................................................................41

Gambar 4.8 Penyederhanaan Diagram Blok Roto packer.........................................42

Gambar 4.9 Diagram Blok Roto Packer....................................................................43

Gambar 4.10 Diagram Blok State Space RotoPacker ................................................43

Gambar 5.1 Diagram Bode sistem.............................................................................46

Gambar 5.2 Diagram 2-port Sistem ..........................................................................48

Gambar 5.3 Respon frekuensi penguatan lup (L)......................................................52

Gambar 5.4 Magnitude T ..........................................................................................53

Gambar 5.5 Sinyal gangguan acak ± 0.3 Kg .............................................................54

Gambar 5.6 Respon sistem dengan set point 40,2 Kg...............................................55

Gambar 5.7 Respon sistem dengan set point 40,2 Kg...............................................56

Gambar 5.8 Error Sistem dengan set point 40,2 Kg .................................................56

Gambar 5.9 Sinyal Kontrol .......................................................................................57


DAFTAR LAMPIRAN

No. Judul Halaman

Lampiran 1. Blok Diagram Model Roto Packer Dengan Simulink ....................... L1-1

Lampiran 2. Program Matlab M File ..................................................................... L2-1


File rprob.m ................................................................................. L2-1
Flowchart algoritma kontrol H∞ .................................................. L2-2
Program pencarian nilai gamma optimal..................................... L2-3

Lampiran 3. Spesifikasi Motor Induksi.................................................................. L3-1


RINGKASAN
MUFID ARIANTO, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya,
Januari 2007, Penerapan Regulator Robust Pada (RotoPacker) Proses Packing Dengan
Metode Kontrol Robust H∞ Di PT. Semen Gresik-Tuban, Dosen Pembimbing: Ir.
Purwanto, MT dan Fitriana S. ST, MT.

Proses produksi di PT. Semen Gresik-Tuban terdiri dari bermacam-macam


instrument yang terintegrasi dan memiliki fungsi yang berbeda-beda. Salah satu instrument
yang ada adalah Roto Packer, yang berfungsi untuk mengisi semen ke dalam sak semen
pada proses pengemasan semen. Pada Roto Packer, berat semen harus di jaga pada berat
tertentu. Pengendalian berat pada roto packer dirancang menggunakan kontroler robust
H∞. Kontrol robust H∞ untuk Roto packer digunakan untuk mengikuti sinyal set point,
menolak gangguan karena perubahan berat material dan ketidak-pastian model karena
penggantian motor Induksi dan kedinamisan sensor berat (load cell) yang tidak diketahui.
Roto packer sendiri terdiri dari enam buah unit pengisian di mana masing-masing
unit terdapat motor induksi yang digunakan untuk menggerakkaan rotary feeder yang
berfungsi untuk mengisi semen ke dalam setiap sak semen. Selain itu pada mesin
pengepakan terdapat sensor berat yang berfungsi untuk memeriksa berat semen sesuai
dengan yang diinginkan. Setelah itu semen akan diteruskan ke belt conveyor, di tengah-
tengah belt conveyor terdapat belt weigher yang berfungsi untuk memeriksa kembali
apakah berat dari sebuah sak semen yang sudah terisi sudah sesuai dengan set point yang
ditentukan, yang kemudian diinformasikan ke Control Room.
Berdasarkan analisa yang dilakukan, sistem dengan pengendali robust H∞ dapat
meminimalkan gangguan, sehingga output hasil pengisian oleh roto packer memiliki error
yang kecil sebesar 0,2 %, yang berarti sudah mendekati set point yang diinginkan sebesar
40,2 Kg.
Kata kunci: sistem kontrol robust H∞, Roto Packer.
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Proses pembuatan semen dibagi menjadi lima tahap, yaitu proses pertama
penyiapan bahan baku yang terdiri dari batu kapur, tanah liat, pasir silika dan pasir besi.
Proses kedua adalah penggilingan bahan baku, proses ketiga adalah pembakaran, proses
keempat adalah penggilingan akhir dan proses kelima adalah proses pengemasan semen
yang kemudian disalurkan ke konsumen.
Pada proses pengemasan semen atau biasa disebut pengepakan dilakukan secara
semi otomatis. Dikatakan demikian karena masih adanya sebagian kecil proses pengepakan
menggunakan tenaga manusia dalam proses pengepakannya. Proses pengepakan semen
menggunakan roto packer. Roto packer merupakan suatu perangkat yang terdiri dari enam
bagian unit pengisian di mana masing-masing bagian terdapat sensor berat yang digunakan
untuk memastikan berat semen sesuai dengan yang diinginkan. Selain itu terdapat rotary
feeder yang digerakkan oleh motor Induksi dan digunakan dalam pengisian semen ke
dalam sak yang kemudian akan di teruskan ke belt conveyor dimana akan melewati BW
(Belt Weigher). Ketika melewati belt weigher sak semen akan ditimbang lagi untuk di
angkut menggunakan truck dan disalurkan ke konsumen.
Setiap bagian pada roto packer diharapkan dapat mengisi setiap sak semen seberat
± 40.2 kg, tetapi kenyataannya, sak semen yang sudah di set untuk diisi sebesar ± 40.2 kg
dan di jatuhkan ke belt conveyor beratnya bisa kurang atau lebih dari set point yang
ditentukan. Untuk berat sak semen yang lebih dari set point akan diteruskan untuk di
salurkan ke konsumen sedangkan untuk yang kurang, sak semen tersebut akan di
hancurkan.
Adapun penyebab tidak tepatnya berat sak semen dalam pengisian dikarenakan
debu yang menempel pada pedal di roto packer, sehingga setelah sak tersebut ditimbang
lagi oleh BW (Belt Weigher) beratnya bisa kurang atau lebih dari set point yang
ditentukan. Setelah sak semen ditimbang, maka hasilnya akan diteruskan ke ruang kontrol
(control room) untuk diambil tindakan apakah perlu ditambah atau di kurangi dalam proses
pengisian semen kedalam sak oleh roto packer.
Dengan adanya kelebihan dan kekurangan dari berat semen yang diisikan oleh roto
packer, maka secara ekonomis akan merugikan perusahaan. Misalnya untuk sak semen
yang beratnya kurang, maka semen tersebut akan dihancurkan sehingga akan merugikan
perusahaan karena sudah membuang sak semen, sedangkan semen yang beratnya lebih dari
yang di tentukan juga akan merugikan perusahaan karena perusahaan memproduksi dalam
jutaan ton yaitu kurang lebih sepuluh juta ton semen setiap tahunnya.
Akibat adanya ketidakpastian dari gangguan, maka perlu dirancang suatu sistem
kendali yang dapat mengatasi masalah tersebut. Dengan diterapkannya metode
perancangan sistem kendali robust maka disain ulang (re-design) sistem kontrol akibat
adanya perubahan parameter sistem karena pengaruh dari gangguan serta efek
ketidakpastian pemodelan tidak diperlukan lagi.
Oleh karena itu, untuk mengendalikan proses pengisian sak semen pada roto packer
dipilihlah metode kontrol robust H∞. Dengan teknik ini diharapkan kinerja sistem loop
tertutup yang baik dapat tercapai dan kestabilan robust (robust stability) beserta
ketidakpastiannya (robust performance) dapat tercapai pula.

1.2. Rumusan masalah


Pada penelitian ini akan di bahas mengenai proses regulator robust pada roto
packer (proses packing) dengan masalah yang akan dicari solusinya sebagai berikut:
1. Bagaimana memodelkan persamaan matematis dari roto packer dalam bentuk
persamaan ruang keadaan (state space) dan menyusunnya dalam bentuk P(s)
2. Bagaimana mendapat nilai optimasi γ .
3. Bagaimana mendapatkan fungsi alih kontroler H∞.
4. Bagaimana mendapatkan persentase ketegaran.
5. Bagaimana karakteristik plant saat diberi gangguan.

1.3. Batasan Masalah


Karena begitu luasnya objek kajian maka diperlukan pembatasan masalah agar
pembahasan lebih terfokus pada rumusan masalah. Adapun batasan masalah sebagai
berikut:
1. Model matematis plant bersifat linier dan time-invariant (parameter sistem
dianggap konstan)
2. Parameter yang tidak terdapat di dalam sistem akan diperoleh dari literatur yang
ada.
3. Gangguan pada sistem berupa gangguan yang acak (stochastic) berupa band limited
white noise.
4. Pengujian dilakukan meliputi proses sebagai berikut :
• Penjejakan (tracking setpoint) berupa input step
• Pemberian gangguan (disturbance) terhadap sistem
5. Simulasi ini akan dilakukan menggunakan software MATLAB versi 7.0.4 sp2,
Release 14
6. Pengujian dilakukan saat sistem sudah berjalan pada kondisi normal sehingga
kontroler bersifat sebagai regulator

1.4. Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dalam pengerjaan skripsi ini adalah mendapatkan disain
pengendali robust pada roto packer (proses packing) dengan metode H∞ sehingga output
hasil pengepakan memiliki error yang sekecil mungkin.

1.5. Sistematika Penulisan


BAB I Pendahuluan
Bab ini berisi tentang uraian latar belakang, tujuan, batasan masalah, rumusan masalah,
tujuan serta sistematika penulisan.

BAB II Tinjauan Pustaka


Membahas teori tentang konsep pengepakan semen, teori tentang motor induksi tiga fasa,
serta teori yang mendukung perancangan pengontrol H∞, mulai dari kontrol umpan balik,
penyajian ruang keadaan (state space) sistem, teori keterkendalian dan keteramatan, dan
teori kontrol robust

BAB III Metodologi Penelitian


Berisi tentang metode penelitian yang digunakan dalam tugas akhir ini.

BAB IV Pemodelan Sistem


Berisi pembahasan tentang model dari roto packer serta menampilkan model matematis
dari dinamika proses roto packer dalam matriks ruang keadaan (state space).
BAB V Perancangan Pengontrol H∞ dan Analisa Sistem.
Berisi pembahasan tinjauan model kemudian dilanjutkan dengan perancangan pengontrol
robust H∞ . analisa ketegaran sistem, menampilkan sistem lengkap jaring tertutup dan
menampilkan hasil pengujian sistem.
BAB VI Kesimpulan dan Saran
Bab ini berisi kesimpulan hasil penelitian yang telah dilakukan dan saran untuk
pengembangan selanjutnya.
BAB II
Proses Pengepakan, Teori Motor Induksi
dan Kontrol Robust

2.1. Proses Pengepakan


Pada proses pengepakan, semen yang sudah jadi dan melalui berbagai proses
pembuatan semen untuk sementara disimpan di dalam silo-silo finish mill. Dari silo-silo
finish mill, semen dialirkan melalui elevator bin menuju bin central tempat menampung
semen yang nantinya akan diisikan ke silo pengisian yang jumlahnya tidak hanya satu
buah. Oleh silo pengisian semen diteruskan ke roto packer untuk dilakukan pengemasan ke
dalam kantong-kantong sak semen yang sebelumnya telah ditempatkan oleh tenaga
manusia. Setelah proses pengisian oleh roto packer selesai maka akan dilakukan
pengecekan oleh belt weigher, guna memisahkan antara semen yang sesuai atau melebihi
nilai nominal tertera dalam kantong, dengan semen yang beratnya kurang dari nilai
nominal.

BIN
CENTRAL

SILO 2

1 2 3 4 5

ROTO
PACKER
BW

ELEVATOR
BIN

Screw Conveyor

Gambar 2.1. Proses Pengepakan Semen


Sumber : PT. Semen Gresik-Tuban
2.2. Roto packer
Pada gambar 2.2. diperlihatkan dengan jelas proses pengemasan semen yang terjadi
pada sistem roto packer. Setiap sak semen diisikan oleh roto packer sesuai set point yang
diinginkan, dalam hal ini sebesar 40.2 kg, dimana aktuator dari roto packer sendiri adalah
rotary feeder yang digerakkan oleh motor induksi. Kecepatan dari rotary feeder ditentukan
oleh besarnya putaran yang dihasilkan oleh motor induksi. Setelah mencapai hasil yang
sesuai dengan set point maka sak semen akan diteruskan ke belt conveyor untuk ditimbang
oleh belt weigher apakah berat sak semen telah sesuai dengan set point. Hasil pengukuran
berat oleh belt weigher akan diteruskan ke control room untuk diambil tindakan, apakah
perlu ditambah atau dikurangi pada proses pengisian sak semen berikutnya.

Gambar 2.2. Bagan Roto packer


Sumber : PT. Semen Gresik-Tuban
Dalam pengisian semen tersebut terdapat gangguan acak yaitu berupa debu yang
menempel pada pedal roto packer, mengakibatkan berat yang telah diukur oleh sensor
berat pada roto packer (berfungsi untuk memeriksa apakah berat dari sebuah sak semen
yang sudah terisi sesuai nominal atau tidak) berbeda dengan berat yang diukur oleh belt
weigher, sehingga diperlukan adanya tindakan, apakah dilakukan penambahan atau
pengurangan pada pengisian pada proses selanjutnya, yang akan berdampak pada
kecepatan putaran dari motor induksi.

2.3. Motor Induksi


Motor induksi 3 fasa dibedakan menjadi dua macam, yaitu motor induksi sangkar
tupai (squirrel-cage atau brushless induction motor) dan motor induksi rotor belit (wound
rotor atau slip-ring induction motor). Kedua jenis motor ini memiliki prinsip dasar operasi
yang sama dan memiliki konstruksi yang sama tetapi berbeda dalam konstruksi rotornya.

Bagian stator motor induksi terdiri atas 3 kumparan. Bagian rotor belit terdiri atas
kumparan yang ditanam di dalam alur-alur rotor. Kumparan ini bentuknya sama dengan
kumparan stator tetapi jumlah belitannya tidak sebanyak kumparan stator. Konstruksi rotor
belit biasa dipakai pada motor induksi dengan kapasitas yang besar, dimana kumparan
rotor dihubungkan dengan cincin seret yang berguna untuk menghubungkan kumparan
rotor dengan tahanan yang berfungsi untuk mengatur arus awal. Sedangkan rotor sangkar-
tupai terdiri atas beberapa batang tembaga yang ditanam di alur-alur rotor. Pada kedua sisi
rotor terdapat cincin untuk menghubungkan ujung-ujung batang tembaga sehingga akan
membentuk suatu sangkar.
Tugas akhir ini hanya akan membahas motor induksi sangkar tupai yang
merupakan jenis motor induksi yang digunakan pada proses pengepakan PT. Semen Gresik
– Tuban menggunakan sistem roto packer. Secara ekonomis paling banyak digunakan
karena harganya lebih murah, secara mekanis lebih kuat dan relatif hanya membutuhkan
sedikit perawatan.

2.3.1. Medan Putar


Perputaran rotor pada motor induksi ditimbulkan oleh adanya medan putar (fluksi
yang berputar) yang terjadi apabila kumparan stator dihubungkan dengan sumber 3 fasa.
Jika kumparan stator dihubungkan dengan sumber tegangan 3 fasa sinusoida, maka pada
masing-masing kumparan akan mengalir arus 3 fasa sinusoida yang akan menimbulkan
medan magnet pada celah udara (air gap). Medan magnet total yang dihasilkan oleh ketiga
kumparan tersebut dikenal sebagai medan putar. Misalkan kumparan a -a; b -b; c-c
dihubungkan 3 fasa, dengan beda potensial masing-masing 120° (gambar 2.3.a) dan dialiri
arus sinusoid dengan distribusi arus ia, ib dan ic sebagai fungsi waktu ditunjukkan pada
gambar 2.3.b. Maka pada keadaan t1, t2, t3 dan t4, fluksi resultan yang ditimbulkan oleh
masing-masing kumparan tersebut masing-masing adalah seperti gambar 2.3.c., 2.3.d.,
2.3.e., dan 2.3.f.

Gambar 2.3. (a) Kumparan a -a; b -b; c -c Dihubung 3 Fasa (b) Distribusi Arus ia,
ib dan ic Sebagai Fungsi Waktu (c, d, e, f) Fluksi Resultan yang
Ditimbulkan Oleh Masing-Masing Kumparan.
(Sumber : Zuhal, 1991)
Secara matematis, prinsip terjadinya medan putar dapat dijelaskan sebagai berikut.
Tinjau arus 3 fasa setimbang yang mengalir pada kumparan stator motor induksi:
I as = I maks cos ωt (2.1)

I bs = I maks cos(ωt − 120° ) (2.2)

I cs = I maks cos(ωt − 240°) (2.3)


Gaya gerak magnet (ggm) menyatakan perkalian antara arus yang mengalir dengan
jumlah lilitan dalam kumparan. Karena ketiga kumparan dari masing-masing fasa terpisah
satu sama lain sebesar 120o listrik dalam ruang disekitar celah udara, maka ggm yang
dihasilkan pada masing-masing kumparan dapat dinyatakan sebagai berikut:
Fas = Fmaks cos ωt cos θ (2.4)

Fbs = Fmaks cos(ωt − 120°) cos(θ − 120°) (2.5)

Fcs = Fmaks cos(ωt − 240°) cos(θ − 240°) (2.6)

4 K w N f I maks
Fmaks = (2.7)
πn p
dengan :

ω = 2πf = kecepatan sudut tegangan/arus stator (rad/s)

Kw = faktor belitan

Nf = jumlah belitan per fasa

I maks = arus stator maksimum

np =jumlah pasang kutub

Jumlah resultan ketiga ggm tersebut menyatakan ggm stator yang disebut dengan
medan putar, dinyatakan dengan :
Fm (θ , t ) = Fas + Fbs + Fcs

= Fmaks cos ωt cos θ + Fmaks cos(ωt − 120°) cos(θ − 120°) +

Fmaks cos(ωt − 240°) cos(θ − 240° ) (2.8)


Dengan menggunakan kaidah trigonometri :
cos β cos α = 12 cos(α − β ) + 12 cos(α + β ) (2.9)
Sehingga akan diperoleh :
Fm (θ , t ) = 1
2 Fmaks cos (θ − ωt ) + 12 Fmaks cos (θ + ωt ) +

1
2 Fmaks cos(θ − ωt ) + 12 Fmaks cos(θ + ωt − 240°) +

1
2 Fmaks cos(θ − ωt ) + 12 Fmaks cos(θ + ωt − 480°) (2.10)

suku kedua, keempat dan keenam saling menghilangkan sehingga menjadi :


Fm (θ , t ) = 3
2 Fmaks cos (θ − ωt ) (2.11)

Yang merupakan suatu persamaan gelombang berjalan yang menunjukkan terbentuknya


medan putar.
Besarnya fluksi stator dinyatakan dengan :
Fm(θ , t )
λs = (2.12)
Rm
di mana Rm menyatakan reluktansi, atau tahanan magnet.

2.3.2. Prinsip Kerja Motor Induksi


Prinsip kerja motor induksi secara ringkas dapat diterangkan sebagai berikut:
a. Jika kumparan stator motor induksi dengan jumlah pasangan kutub n p

dihubungkan dengan sumber tegangan 3 fasa dengan kecepatan elektris ω , maka


pada celah udara akan timbul medan putar dengan kecepatan sinkron ω s

(ω s = ω ) rad/s.
np

b. Medan putar ini akan memotong batang konduktor pada rotor, sehingga sesuai
dλ s
hukum Faraday ( e = = Bldx ; dengan λ s , B dan l, masing-masing
dt dt
melambangkan fluksi magnetis, kerapatan fluksi/intensitas medan putar dan
panjang batang konduktor rotor yang bergerak sejauh dx dalam waktu dt) akan
terinduksi suatu gaya gerak listrik (ggl) pada rotor.
c. Karena konduktor-konduktor rotor merupakan rangkaian tertutup, maka ggl (e)
akan menimbulkan arus (i).
d. Adanya arus (i) di dalam medan magnet (medan putar) sesuai hukum Lorenz
( F = Bil ) akan menimbulkan gaya mekanis (F) yang bekerja terhadap batang rotor
itu sendiri. Gaya mekanis inilah yang menyebabkan rotor dapat berputar dengan
kecepatan sudut ω m rad/s.
e. Bila kopel mula yang dihasilkan oleh gaya mekanis pada rotor cukup besar untuk
memikul kopel beban, maka rotor akan berputar searah dengan arah putaran medan
putar stator.
f. Agar timbul ggl (e), maka diperlukan adanya perbedaan relatif antara kecepatan
sinkron ω s dengan kecepatan motor induksi ω m . Perbedaan kecepatan ini disebut
slip (S) dan dinyatakan dengan :
ωs −ωm
S= × 100%
ωs

Bila ω s = ω m maka ggl tidak akan timbul sehingga arus juga tidak timbul, akibatnya

tidak dihasilkan kopel. Kopel baru akan timbul bila ω m < ω s .

2.4. Konsep Vektor Kontrol


Metode vektor kontrol merupakan metode kontrol yang digunakan dalam
pengontrolan kecepatan motor-motor AC. Metode vektor kontrol memungkinkan untuk
mengontrol kecepatan motor AC dengan cara yang serupa seperti mengontrol kecepatan
motor DC penguat terpisah dimana kecepatan motor dapat dengan mudah diubah-ubah,
dan dapat mencapai performansi dinamis yang sama.

Performansi dinamis berkualitas tinggi yang dimiliki oleh motor DC penguat


terpisah adalah disebabkan karena rangkaian jangkar dan rangkaian medan dari motor ini
secara magnetis terpisah. Seperti pada motor DC, torsi yang dihasilkan oleh motor AC juga
merupakan interaksi antara arus dan fluksi. Pada motor induksi, dimana daya hanya
disuplai dari sisi stator saja, arus yang bertanggungjawab memproduksi torsi dan arus yang
bertanggungjawab memproduksi fluksi tidak dapat dilihat secara nyata sebagai dua sinyal
yang terpisah sebagaimana pada motor DC penguat terpisah. Tetapi secara matematis,
dengan metoda vektor kontrol kita dapat memilahnya sebagai dua sinyal yang saling
tergantung satu sama lain.

Prinsip utama dari vektor kontrol adalah untuk memilah komponen arus stator
motor induksi yang bertanggungjawab memproduksi torsi dan komponen arus yang
bertanggungjawab memproduksi fluksi dengan cara mentransformasikan variabel-variabel
3 fasa (tegangan, arus dan fluksi) pada motor induksi menjadi variabel dengan 2 sumbu
koordinat (sumbu d-q), selanjutnya mengontrol keduanya secara terpisah sebagaimana
yang dilakukan pada pengontrolan motor DC penguat terpisah.

Untuk menjelaskan dasar dari vector control, sebuah pendekatan dilakukan


sehingga posisi sudut dari fluks medan, λr, berada pada sudut sebesar θf dari posisi
awalnya. θf ditetapkan sebagai sudut medan, dan ketiga arus pada stator dapat di ubah ke
dalam bentuk sumbu q dan d dengan menggunakan transformasi:

  2π   2π   i
sin θ f sin θ f −  sin θ f +   as 
i  2 
e
 3   3   (2.13)
 =   i
qs
e
i  3 cos θ f  2π   2π   bs 
ds cosθ f −  cosθ f +  i 
  3   3   cs 

Dimana besar arus jangkar adalah :

is = (i ) + (i )
e 2
qs
e 2
ds
(2.14)

Dan besar sudut fasornya adalah


 iqse  (2.15)
θ s = tan −1  e 
 ids 
Besar iqse dan idse adalah arus pada sumbu q dan d yang dibentuk dari proyeksi arus

jangkar. Besarnya arus tetap sama tidak tergantung dari pemilihan referensi letak rotor.
Arus is menghasilkan fluksi medan λr dan torsi Te. Besar sudut dari arus yang
menghasilkan fluksi medan harus sefasa dengan λr. Maka dari itu, disimpulkan bahwa if
adalah komponen pembentuk medan magnet karena sefasa dengan λr. Dan komponen yang
tegak lurus dengannya, iT, adalah komponen pembentuk torsi. Dengan menuliskan fluksi
dari rotor dan torsi berdasarkan komponen-komponen ini, sebagai berikut:
λr ∝ i f (2.16)
Te ∝ λ r iT ∝ i f iT (2.17)
Dapat dilihat bahwa if dan iT hanya memiliki komponen dc pada keadaan mantap,
karena kecepatan relative dari medan adalah nol: kecepatan putar fluksi medan sama
besarnya dengan jumlah putaran rotor dan slip yang sama dengan besar kecepatan
sinkronnya. Karena komponen-komponen ini adalah dc, maka komponen-komponen ini
ideal untuk digunakan sebagai variabel kontrol. Lebar pita dari sirkuit kontrol tidak
berpengaruh pada pemrosesan menggunakan sinyal dc. Maka, hal yang terpenting pada
penerapan vektor kontrol, adalah mendapatkan nilai sudut fluksi pada rotor secara cepat, θf,
yang dapat dihitung dengan
θ f = θ r + θ sl (2.18)
dengan θr adalah posisi dari rotor dan θsl adalah besar sudut slip. Berdasar pada kecepatan
dan waktu, sudut dari medan dapat dituliskan
θ f = ∫ (ω r + ω sl )dt = ∫ ω s dt (2.19)
Kesamaan dari motor dc penguat terpisah dan motor induksi dapat dilihat dari if
dan iT yang disamakan dengan arus jangkar dan arus medan pada mesin dc. Meskipun
motor induksi tidak memiliki kumparan medan dan jangkar yang terpisah, mendapatkan
arus medan dan arus jangkar yang sama dengan arus stator mengakibatkan terjadinya
keadaan sinkron. Tidak seperti kontrol skalar pada mesin dc, vektor kontrol dipakai pada
mesin induksi.
Pada mesin dc, kumparan medan dan jangkar dipisahkan oleh komutator,
sedangkan pada mesin induksi, tidak ada komponen tambahan untuk memisahkan
kumparan medan (sebagai penghasil fluksi) dari kumparan jangkar (sebagai penghasil
torsi) untuk mendapatkan perbedaan sudut 90º listrik. Sebagai pengganti komutator, mesin
induksi menggunakan inverter untuk hal ini. Inverter ini mengontrol besar dan sudut dari
arus, dan memungkinkan fluksi dan torsi dari mesin dipisahkan dengan mengontrol secara
presisi dan menambahkan arus yang dibutuhkan untuk mendapatkan fluksi dan torsi yang
dibutuhkan..
Metode vektor kontrol dibedakan menjadi dua bagian yaitu direct vektor control
dan indirect vector control yang dibagi berdasarkan pada cara mendapatkan besar sudut
dari medan. Bila cara yang digunakan adalah dengan menggunakan tegangan dan arus dari
sumber atau menggunakan sensor Hall atau dengan kumparan pengindra, maka disebut
sebagai direct vector control. Bila digunakan pengukuran posisi rotor dan perkiraan
perhitungan dengan menggunakan parameter mesin tetapi tidak menggunakan variabel lain
seperti tegangan maupun arus, disebut sebagai indirect vector control (R. Krishnan, 2001 :
414). Dalam tugas akhir ini akan digunakan metode indirect vector control untuk
mendapatkan pemodelan dari motor induksi.

2.5. Indirect vektor kontrol


Pada bagian ini, vektrol kontrol secara tidak langsung didapatkan dari persamaan
mesin induksi pada perputaran mesin sinkron. Untuk menyederhanakan penurunan,
inverter diasumsikan sebagai sumber arus. Pada kasus ini arus fasa pada bagian stator
sebagai masukan, bagian dinamis dari stator dapat diabaikan.
Perhitungan rotor pada mesin induksi mengandung fluksi sebagai variabel pada
persamaan yang diberikan :
Rr iqre + p λeqr + ω s1 λedr = 0 (2.20)

Rr idre + p λedr - ω s1 λeqr = 0 (2.21)

Dimana
ω s1 = ω s - ω r (2.22)

λeqr = Lm iqse + Lr iqre (2.23)

λedr = Lm idse + Lr idre (2.24)

Pada perhitungan ini, Rr : resistansi rotor per fasa; Lm : Induktansi bersama per fasa; Lr

induktansi sendiri pada rotor tiap fasa; idre dan iqre : sumbu membujur dan melintang arus,

dan p operator differensial d/dt. ω s1 kecepatan slip dalam rad/sec, ω s : frekuensi stator

dalam rad/sec, ω r kecepatan rotor dalam rad/sec dan λedr dan λeqr : sumbu membujur dan

melintang rotor.
λr = λedr (2.25)
λeqr = 0 (2.26)

p λeqr = 0 (2.27)

Dengan mensubtitusikan persamaan (2.25) dan (2.27) ke persamaan (2.20) dan (2.21)
menyebabkan persamaan rotor yang baru menjadi :
Rr iqre + ω s1 λr = 0 (2.28)

Rr idre + p λr = 0 (2.29)
Arus pada rotor pada arus stator didapatkan dari persamaan :
Lm e
iqre = − iqs (2.30)
Lr

λr Lm e
idre = − i ds (2.31)
Lr Lr
Dengan mensubtitusikan d dan q pada arus rotor dari perhitungan (2.30) dan (2.31) ke
dalam persamaan (2.28) dan (2.29) didapatkan :

if =
1
[1 + Tr p ]λr (2.32)
Lm

 L  T  T  L i
ωs1 = K it  r   e2  = K it Rr  e2  = m T (2.33)
 Tr   λ r   λ r  Tr λ r
Dimana :
i f = idse (2.34)

iT = i qse (2.35)

L 
Tr =  r  (2.36)
 Rr 
22
K it = (2.37)
3P
Sumbu arus q dan d pada diumpamakan dengan torsi ( iT ) dan jumlah fluksi yang
dihasilkan ( i f ) merupakan komponen dari phasor arus pada stator. T f dianggap konstan.

Perhitungan (2.32) terpisah dari perhitungan mesin dc, dimana waktu yang konstan dalam
detik.
Mirip dengan subtitusi dari (2.30) dan (2.31) pada persamaan torsi, torsi
elektromagnetik diturunkan dari
Te =
3 P Lm e e
2 2 Lr
(
λ dr i qs − λeqr idse = )
3 P Lm e e
2 2 Lr
( )
λdr i qs = K te λr iqse = K te λ r iT (2.38)

Jika torsi konstan K te didefinisikan sebagai :

3 P Lm
K te = (2.39)
2 2 Lr
Torsi tesebut merupakan hasil dari fluksi rotor dan sumbu arus q pada stator. Ini mirip pada
persamaan torsi pada celah udara untuk mesin dc. Jika fluksi rotor konstan, torsi tersebut
sebanding dengan torsi pada arus stator, seperti pada penguatan mesin dc terpisah dengan
kontrol arus. Mirip dengan bagian dari mesin dc yang konstan, pada orde milisekon, fluksi
pada rotor dan celah udara pada torsi diberikan pada (2.33) dan (2.38), hal ini melengkapi
tranformasi dari mesin induksi yang sebanding dengan penguatan terpisah dari mesin dc
dari sudut pandang kontrol.

is = (i ) + (i )
e 2
qs
e 2
ds (2.40)

Dq axes pada fasa arus abc didapatkan dari :


  2π   2π   i
cos θ f cosθ f −  cosθf +   as 
i  2 
e
 3   3  
 =   i
qs
(2.41)
e
i  3   2π   2π    bs 
ds sin θ f sin θ f −  sin θ f +  i 
  3   3    cs 

Diekspresikan :
iqd = [T ][iabc ] (2.42)

dengan

[
iqd = iqse idse ] t
(2.43)

iabc = [i as ics ]
t
ibs (2.44)

  2π   2π  
 cos θ f cosθ f −  cosθf + 
3 
[T ] = 2   3 
2π 

2π  
 (2.45)
3  
sin θ f sin θ f −  sin θ f + 
  3   3  

Dengan ias , ibs dan ics adalah tiga fasa arus pada stator. Elemen pada matriks T merupakan

fungsi cosinusiodal dengan sudut elektrik θ f .Sudut elektrik dalam hal ini pada fluksi rotor

yang didapatkan dari penjumlahan sudut rotor dan sudut slip:


θ f = θ r + θ s1
Besar sudut slip didapatkan dari integral kecepatan slip, seperti :
θ s1 = ∫ ω s1 dt (2.46)

2.6. Konsep Sistem Kontrol


Pada tahun-tahun belakangan ini, sistem kontrol memegang peranan penting dalam
perkembangan dan kemajuan peradaban. Dalam prakteknya, setiap aspek dalam kegiatan
sehari-hari dipengaruhi oleh beberapa model sistem kontrol. Sistem kontrol banyak
ditemukan di sektor industri, seperti pengontrolan produk, pengontrolan mesin, sistem
transportasi, dan lain-lain. Bahkan pengontrolan sistem sosial dan ekonomi pun dapat
didekati dengan teori kontrol automatik.
Sistem kontrol terdiri dari tiga komponen dasar, yaitu tujuan pengontrolan,
komponen sistem kontrol, dan hasil atau keluaran sistem. Dalam istilah yang lebih teknis,
tujuan dapat dihubungkan erat dengan masukan, dan hasilnya disebut keluaran.
Secara umum, tujuan sistem kontrol adalah untuk mengendalikan keluaran, dengan
berbagai masukan tertentu, agar sesuai dengan yang diinginkan.(Ogata, 1997)

2.7. Konsep State Dalam Sistem Kontrol


Untuk menganalisa sistem pengendalian optimal, terlebih dahulu harus didapatkan
persamaan (model matematika) dari sistem yang akan mewakili unjuk kerja dari sistem
tersebut. Dari persamaan ini kemudian direpresentasikan ke dalam persamaan ruang-
keadaan.

u(t) y(t)
Sistem

Gambar 2.4. Sistem dinamika

Sumber : Ogata K., 1997:66


Pada sistem dinamika yang ditunjukkan Gambar 2.4., keluaran y(t) untuk t > t1
tergantung pada nilai y(t1) dan masukan u(t) untuk t > t1. Sistem dinamika harus
melibatkan elemen-elemen yang mengingat nilai masukan untuk t > t1. Karena integrator
dalam sistem kontrol waktu kontinyu bekerja sebagai alat pengingat (memory device),
maka keluaran dari integrator demikian dianggap sebagai variabel yang menentukan
kedudukan internal dari sistem dinamika. Jadi, keluaran dari integrator bekerja sebagai
variabel keadaan. Jumlah variabel keadaan untuk menentukan dinamika sistem secara
lengkap adalah sama dengan jumlah integrator yang terlibat dalam sistem (Ogata,
1997:67).
Anggap sistem dengan banyak masukan, banyak keluaran melibatkan n integrator.
Anggap juga bahwa terdapat r masukan u1(t), u2(t), ..., ur(t), dan m keluaran y1(t), y2(t), ...,
ym(t). Ditetapkan bahwa n keluaran integrator sebagai variabel keadaan x1(t), x2(t), ..., xn(t).
Sehingga sistem dapat dinyatakan sebagai:
x& 1(t) = f1(x1, x2, ..., xn; u1, u2, ..., ur; t)
x& 1(t) = f2(x1, x2, ..., xn; u1, u2, ..., ur; t) (2.47)
x& n(t) = fn(x1, x2, ..., xn; u1, u2, ..., ur; t)
dan keluaran y1(t), y2(t), ..., ym(t) diberikan oleh:
y1(t) = g1(x1, x2, ..., xn; u1, u2, ..., ur; t)
y2(t) = g2(x1, x2, ..., xn; u1, u2, ..., ur; t) (2.48)
.
.
.
ym(t) = gm(x1, x2, ..., xn; u1, u2, ..., ur; t)
Jika didefinisikan
 x1 (t )   f1 ( x1 , x2 ,..., xn ; u1 , u 2 ,..., u r ; t ) 
 x (t )   f ( x , x ,..., x ; u , u ,..., u ; t )
x(t ) =  2 , f ( x, u , t ) =  2 1 2 n 1 2 r 
 M   M 
   
 xn (t )  f n ( x1 , x2 ,..., xn ; u1 , u 2 ,..., u r ; t )

 y1 (t )   g1 ( x1 , x2 ,..., xn ; u1 , u 2 ,..., u r ; t ) 
 y (t )   g ( x , x ,..., x ; u , u ,..., u ; t ) 
y (t ) =  2  , g ( x, u , t ) =  2 1 2 n 1 2 r 
 M   M 
   
 y m (t )  g m ( x1 , x2 ,..., xn ; u1 , u 2 ,..., u r ; t )

 u1 (t ) 
u (t )
u (t ) =  2  ,
 M 
 
u r (t ) 
maka persamaan (2.47) dan (2.48) menjadi
x& (t) = f(x, u, t) atau x& (t) = A(t)x(t) +B(t)u(t)
y(t) =g(x, u, t) atau y(t) = C(t)x(t) +D(t)u(t) (2.49)
Pada Persamaan (2.49), bila fungsi vektor f dan/atau g berubah terhadap waktu t,
maka sistem disebut sistem yang bervariasi terhadap waktu. Dan sebaliknya bila vektor f
dan g tidak berubah terhadap waktu t, maka sistem tersebut disebut sistem time invariant.
Bentuk ruang-keadaan dari sistem time invariant dapat ditinjau dari sistem orde ke-n
berikut:
(n) ( n −1)
y + a1 y + ... + a n −1 y& + a n y = u (2.50)
Dengan mengingat bahwa pengetahuan mengenai
( n −1)
y ( 0 ), y& ( 0 ),... , y ( 0 ), bersama-sama dengan masukan u(t) untuk t ≥ 0 , menentukan
( n −1)
secara lengkap perilaku yang akan datang dari sistem, maka dapat dipilih y (t ), y& (t ),..., y (t )
sebagai himpunan n variabel keadaan.
Didefinisikan
x1 = y
x 2 = y&
...
( n −1)
xn = y

sehingga persamaan (2.47) dapat ditulis sebagai:


x&1 = x 2
x& 2 = x3
...
x& n −1 = x n

x& n = − a n x1 − ... − a1 x n + u
atau
x& = Ax + Bu (2.51)
dimana

 x1   0 1 0 . . 0  0 
x   0 0 1 . . 0  0 
 2   
 . ,  . . . . , .
x=  A=  B= 
.  . . . .  .
.  0 0 0 . . 1  0 
     
 x n  − a n − a n −1 − a n−2 . . − a1  1

Persamaan keluarannya menjadi


 x1 
x 
 2
.
y = [1 0 . . . 0]. 
.
.
 
 x n 

atau
y = Cx (2.52)
dimana
C = [1 0 . . . 0]
Persamaan differensial orde pertama, Persamaan (2.51), adalah persamaan keadaan dan
persamaan aljabar, Persamaan (2.52) adalah persamaan keluaran.

1.1.1.1 2.8. Keterkendalian dan Keteramatan


Konsep keterkendalian dan keteramatan memegang peranan penting pada sistem
kontrol optimal multivariabel. Syarat keterkendalian dan keteramatan menentukan adanya
penyelesaian lengkap dari persamaan kontrol optimal.

Keterkendalian berkaitan dengan masalah perancangan penempatan pole. Dengan


keterkendalian menunjukkan bahwa sistem dapat dikontrol dan semua pole dari sistem
dapat ditempatkan di lokasi yang diinginkan. Keteramatan berhubungan dengan
perancangan state estimator. Dengan adanya keteramatan, maka bagi sistem yang tidak
dapat menginformasikan seluruh variabel state-nya, dapat digunakan sebuah estimator
yang dapat mengestimasikan semua state agar dapat dirancang sistem yang memiliki
informasi state secara lengkap.

2.8.1.Keterkendalian
Suatu sistem dikatakan dapat dikendalikan jika sistem tersebut dimungkinkan untuk
mendapatkan suatu vektor kendali u, yang dalam waktu berhingga dapat membawa sistem
tersebut dari suatu kondisi awal x(0) ke kondisi lain x(f)
Matriks keterkendalian Co = [B | AB | …A(n-1)B ] (2.53)
Agar sistem dapat dikendalikan, maka:
1. Tidak ada kolom yang merupakan kelipatan kolom lainnya
2. Nilai determinannya tidak sama dengan nol
2.8.2.Keteramatan
Suatu sistem dikatakan dapat teramati apabila setiap keadaan awal x(0) dapat
ditentukan oleh pengamat y (kT) selama periode waktu terhingga

 C 
 CA 
Matriks keteramatan Ob =   (2.54)
 M 
 n −1 
CA 
Agar sistem dapat diamati, maka:
1. Tidak ada kolom yang merupakan kelipatan kolom lainnya
2. Nilai determinannya tidak sama dengan nol

2.9. Teori Sistem Kontrol Robust


Robust adalah kokoh atau jika dikaitkan dengan sistem maka sistem dikatakan robust
jika pada saat sifat tersebut berada pada suatu titik maka sifat tersebut akan mempunyai
kemampuan bertahan terhadap keadaan sekitarnya. Dapat dikatakan sistem tersebut
mempunyai daya tahan. Sistem dikatakan robust jika :
1. Sensitifitasnya rendah.
Sistem tidak mudah mengalami suatu perubahan atau osilasi jika diberi suatu
gangguan dan sistem akan tetap bisa mempertahankan performansinya.
2. Mempunyai kestabilan pada range dari variasi paramater.
Sistem yang robust akan bisa mempertahankan kestabilan bila diperlakukan
pada variasi parameter tertentu, misalnya pemberian input yang berbeda maka
diharapkan sistem mengalami suatu perubahan proses menjadi proses baru dan
sistem masih berada dalam range kestabilan. Kontroler akan tetap menjaga
kestabilannya dan dapat memperkecil indeks performansi.
Desain sistem kontrol memiliki tujuan untuk menghasilkan sistem kendali yang
mampu bekerja dengan baik pada kondisi riil. Pada lingkungan yang sebenarnya
parameter-parameter sistem yang berupa besaran-besaran fisis seperti tekanan, suhu, level,
dan sebagainya seringkali mengalami perubahan. Perubahan beban (load changes) dan
gangguan (disturbance) juga sangat berpengaruh terhadap dinamika sistem. Sistem kontrol
yang baik harus mampu menjaga stabilitas sistem meskipun terjadi perubahan parameter.
Pemodelan-pemodelan sistem tidak terlepas dari asumsi-asumsi penyederhanaan
seperti pengabaian aspek non-linieritas, karena seringkali efek ini tidak dapat diketahui
secara pasti atau efeknya diketahui namun tidak dapat dimodelkan. Kemudian terjadi
kesalahan pemodelan dari komponen sistem seperti pemodelan aktuator dan sensor yang
hanya dimodelkan sebagai nilai gain tertentu untuk lebih menyederhanakan analisis
matematis. Karena berbagai penyederhanaan ini dapat dimungkinkan sistem yang didisain
tidak dapat bekerja dengan baik apabila diaplikasikan pada kondisi riil. Untuk itulah
diterapkan metode perancangan kendali robust yang tegar terhadap kondisi-kondisi di atas.
Pada skripsi ini dilakukan simulasi perancangan dan analisis sistem kendali robust
dengan metode H Infinity (H∞). Sistem kendali robust merupakan metode perancangan
sistem kendali modern pada kawasan frekuensi. Pada perancangan nantinya banyak
melibatkan operator “norm” khususnya norm -∞. Metode H∞ memiliki tujuan untuk
memperkecil norm -∞ pada beberapa fungsi alih yaitu dengan memperkecil puncak pada
grafik magnitude diagram Bode. Hal ini akan meningkatkan batas kestabilan robust pada
sistem.
Sistem ini dapat direpresentasikan dalam bentuk persamaan diferensial, fungsi alih
Laplace, atau dalam bentuk notasi ruang keadaan (state space) standar sebagai berikut :
x& = Ax + Bu
y = Cx + Du
dengan fungsi alih sistem dinyatakan sebagai berikut :
G(s) = C(sI-A)-1 B+D (2.55)
Dalam bentuk paket matriks (pack matrix) fungsi alih sistem d atas dapat ditulis:
A B
G(s) =   (2.56)
C D 
Penyelesaian masalah kendali H∞ berisi perhitungan aljabar Riccati yang sangat kompleks
dan dapat difenisikan sebagai berikut :
A’X + XA – XRX + Q = 0 (2.57)
Solusi persamaan di atas dapat dilakukan melalui perhitungan komputer yaitu dengan
memasukkan perintah X = Ric (H), dengan H adalah matriks Hamiltonian yang
didefinisikan sebagai berikut :
A − R 
H=   (2.58)
_ Q − A
Dengan matriks (A – RX) stabil.
2.10. Performa Nominal Sistem Umpan Balik
Sistem kontrol lop tertutup harus stabil dan memberikan kepastian performansi
secara spesifik serta dapat menjaga sistem dari ketidakpastian model. Hal ini dinamakan
performansi nominal.

Gambar 2.5. Diagram blok sistem umpan balik dengan disturbance dan noise
Sumber : Shahian, 1993:398
Masukannya :
r ( s ) = input command atau referensi. Sistem harus dapat mengikuti atau men-track
masukan ini dengan baik.
d ( s ) = masukan gangguan, masukan ini diketahui atau tidak diketahui yang sistem
harus dapat menolaknya.
n( s ) = noise pengukuran, masukan ini biasanya sinyal acak frekuensi tinggi.

Sistem kontrol yang baik harus dapat mengikuti masukan referensi dengan error yang kecil
serta penolakan gangguan dan noise. Kontribusi gangguan ke keluaran sistem harus kecil.
Keluaran total sistem pada Gambar 2.5 , adalah :
g ( s)k ( s) 1 g ( s)k ( s)
y(s) = r (s) + d ( s) − n( s )
1 + g ( s)k ( s) 1 + g ( s)k ( s) 1 + g ( s)k ( s)
Diberikan notasi sebagai berikut :
L = gk = fungsi alih lup terbuka atau penguatan lup (loop gain)
J = 1 + gk = persamaan karakteristik atau return difference
S = 1 / (1 + gk) = fungsi alih sensitifitas
T = gk / (1 + gk) = fungsi alih lengkap, lup tertutup dari r ke y
Berikut kriteria sistem umpan balik yang diinginkan (Shahian, 1993:399), dengan catatan
untuk semua frekuensi, memenuhi persamaan S ( s ) + T ( s ) = 1
1. Command Response : Dengan asumsi d = n = 0, maka y(s) = r(s) untuk rentang
frekuensi yang diberikan bila S(s) kecil atau gk besar. Masukan seperti step,
ramp, dan sinusoidal biasanya mempunyai rentang frekuensi yang rendah, serta
T(s) ≈1.
2. Disturbance Rejection : S(s) harus tetap kecil untuk meminimalkan dampak dari
gangguan yang berarti gk harus besar pada rentang frekuensi tempat gangguan
tersebut berada. Biasanya gangguan mempunyai rentang frekuensi rendah.
3. Noise Suppression : T(s) harus tetap kecil untuk mereduksi efek dari noise
sensor di keluaran yang berarti gk harus kecil.
4. Control energy reduction : Untuk meminimalkan energi K(s)S(s) harus kecil.

Dari poin - poin di atas maka diperoleh suatu bentuk magnitude respon frekuensi loop gain
yang ideal seperti pada Gambar 2.6.

Gambar 2.6 Bentuk plot magnitude bode loop gain ideal.


Sumber : Shahian, 1993:399
Bentuk loop gain ini mempunyai penguatan tinggi di frekuensi rendah (untuk
mengikuti sinyal masukan dan penolakan gangguan) dan penguatan rendah di frekuensi
tinggi (untuk menghilangkan noise).

2.11. Kestabilan Robust


Suatu sistem umpan balik yang terdiri dari plant dan kompensator penstabil,
~
mempunyai kestabilan yang kokoh jika lup tertutup tetap stabil untuk model aktual G ( s ) .
Dengan menggunakan dalil penguatan kecil, maka sistem lup tertutup akan mempunyai
kestabilan yang kokoh terhadap ketidak-pastian model jika,
1 1
∆m < −1
atau ∆m < (Shahian,1993:407) (2.59)
GK (1 + GK ) T

Permasalahannya adalah berapa nilai terkecil dari ketidak-pastian yang akan


membuat sistem menjadi tidak stabil. Karena ketidak-pastian harus lebih kecil dari 1/T,
maka ia pasti lebih kecil dari nilai minimum 1/T. Nilai minimum dari 1/T adalah nilai
maksimum dari T. Nilai maksimum T untuk semua frekuensi merupakan nilai puncaknya
(peak value). Maka nilai terkecil ketidak-pastian yang membuat sistem tidak stabil adalah
1
MSM = (2.60)
Mr
dengan MSM = Multiplicative Stability Margin
Mr = sup T ( jω ) (Shahian,1993:408) (2.61)
ω
Simbol “sup” dari fungsi di atas adalah supremum yang berarti nilai maksimum dari sebuah
fungsi.
Dari pembahasan di atas diketahui bahwa untuk meningkatkan proteksi terhadap
ketidak-stabilan sistem yang disebabkan oleh ketidak-pastian yang bersifat pengali, MSM
harus besar, yang berarti complementary sensitifity (T) harus kecil. Hal ini cocok dengan
penolakan noise yang baik, tapi bertentangan dengan sinyal referensi dan penolakan
gangguan. Penguatan lup yang kecil pada frekuensi tinggi akan memproteksi sistem dari
ketidak-pastian yang bersifat multiplicative.

2.12. Kontrol H∞
H∞ merujuk pada ruang kestabilan dan fungsi alih yang sesuai (proper, derajat
penyebut ≥ derajat pembilang). Secara umum diinginkan fungsi alih lup tertutup yang
proper dan stabil (pole-pole sistem berada di sebelah kiri bidang s). Tujuan dasar dari
kontrol H∞ adalah mendapatkan fungsi alih. Norm -∞ pada sebuah fungsi alih didefinisikan
sebagai
G ∞ = sup G ( jω ) (Shahian, 1993:422) (2.62)
ω
Sangat mudah mencari nilai ini secara grafis, yaitu nilai puncak dari plot magnitude
diagram bode. Hal ini sesuai dengan kestabilan robust pada persamaan (2.58), maka untuk
kontrol H∞ diberikan kestabilan robust
1
MSM = (Shahian, 1993:423) (2.63)
T∞

Hinfopt adalah fungsi H∞ untuk melakukan iterasi γ melalui metode loop shifting two-
riccati. γ optimal diperoleh dari iterasi dengan beberapa syarat kondisi, diantaranya
determinan matrik D11 harus kurang dari sama dengan 1, terdapat matrik P dan akar-akar
loop tertutupnya harus stabil. Logika iterasinya berdasarkan perintah dari fungsi hinf.
Iterasi dimulai dengan memberikan input matrik P dan output nya adalah γ optimal. γ
optimal berfungsi sebagai vektor pengali bagi matrik loop tertutup, dalam hal ini
MATLAB mendefinisikan sebagi Tyu. Nilai perkalian γ dan Tyu harus berada di bawah 1(1 ,
maka γ tersebutlah yang diambil. Iterasi γ dilakukan oleh algoritma yang telah terkodekan
pada funghsi hinfopt. Pencarian γ optimal akan berhenti jika error relative gamma antara
dua nilai stabil yang berdekatan kurang dari batas toleransinya. Pada penggunaan praktis,
toleransi dapat di set pada 0,01 atau 0,001.

2.13. Formulasi Sistem 2-Port


w Z
P (S)

u y
K (S)

Gambar 2.7. Diagram blok dua port untuk kendali H∞


Sumber : Shahian, 1993 : 424
Diagram dua port dapat mewakili berbagai masalah dalam sistem kontrol. Diagram
dua port ini terdiri dari dua blok utama, yaitu blok plant, P(s), dan blok kontroler K(s).
Blok plant memiliki dua masukan dan dua keluaran. Input plant dikatagorikan menjadi dua
kelompok, yaitu : masukan vektor kontrol dan masukan exogenous. Masukan vektor
kontrol u merupakan sinyal kontrol dari kontroler K(s). Masukan exogenous w merupakan
vektor masukan yang terdiri dari disturbances eksternal, noise dari sensor maupun tracking
signal. Keluaran plant juga dikatagorikan menjadi dua kelompok yaitu y dan z, y adalah
sinyal hasil pengukuran sensor yang diumpanbalikkan ke kontroler. Kelompok kedua
adalah z yang merupakan keluaran dari sistem yang diatur.
Fungsi alih yang mewakili sistem dalam bentuk 2-port pada gambar di atas adalah
sebagai berikut :
z = Pzw w + Pzu u (2.64)
y = Pyw w + Pyu u (2.65)
u = Ky (2.66)
Fungsi alih jaring tertutup antara keluaran yang dikendalikan terhadap masukan exogenous
diturunkan sebagai berikut :
Pertama adalah mensubstitusikan u ke persamaan y, didapatkan :

1
MATLAB Help for hinfopt
y = Pyw w + Pyu Ky (2.67)
sehingga diperoleh :
(I - Pyu K)y = Pyw w
y = (I - Pyu K)-1 Pyw w (2.68)

maka u menjadi :
u = Ky = K(I - Pyu K)-1 Pyw w (2.69)
langkah berikutnya adalah mensubstitusikan nilai u ke z :
z = Pzw w + Pzu K(I - Pyu K)-1 Pyw w
= [Pzw w + Pzu K(I - Pyu K)-1 Pyw] w (2.70)
sistem juga dapat ditampilkan dalam bentuk ruang keadaan sebagai berikut :
x& = Ax + B1 w + B 2 u (2.71)
z = C1 x + D11 w + D12 u (2.72)

y = C 2 x + D 21 w + D 22 u (2.73)
dalam bentuk matrik dapat ditulis :
A B1 B 2 
P(s) = C1 D11 D12  (2.74)
C 2 D 21 D 22 

2.14. Fungsi Pembobot Pada Kontrol H∞


Pada hakikatnya, masalah pengendalian membutuhkan pembobotan pada masukan
dan keluaran. Ada beberapa alasan untuk menggunakan pembobot. Pembobot konstan
digunakan untuk pen-skalaan masukan dan keluaran, juga digunakan untuk konversi unit.
Pembobot pada fungsi alih digunakan untuk membentuk beberapa kriteria performa pada
domain frekuensi. Pada masalah kontrol H∞, pembobot juga digunakan untuk memenuhi
syarat kondisi rank. Kenyataannya, pembobot hanyalah parameter yang ditentukan oleh
perancang sistem kontrol. Pemilihan bobot yang sesuai berdasarkan pada pengalaman dan
pemahaman terhadap masalah fisik serta disiplin ilmu yang terkait.
Gambar 2.8. Form standar (tracking) S/KS mixed-sensitivity minimization
Sumber : Skogestad, 1996:371
Bentuk dasar fungsi pembobot performa Wp (Pada Gambar 2.8 ditunjukkan dengan
notasi W1) adalah,
s / M +ωB
Wp = (Skogestad,1996:57) (2.75)
s +ωB A
dengan,
M = Spesifikasi puncak maksimum
ωB = Frekuensi bandwidth minimum
A = Steady-state tracking error maksimum

Fungsi sensitivitas S merupakan indikator yang baik untuk mengetahui kinerja


(performance) dari sistem loop tertutup, baik itu sistem SISO (single input single output)
maupun sistem MIMO (multi input multi ouput). (Skogestad, 1996:56)
2.15. Loop Shifting

Gambar 2.9. Loop Shifting Transformation


Sumber : Lanzon, 1996
Loop Shifting secara konsep dasar merupakan proses ekstraksi atau pergeseran Gain
Kontroler ( K ) saat berada pada frekuensi infinit kemudian meletakkannya pada plant ( G
). Proses ini dapat diselesaikan melalui konstanta penguatan matrik baru yang dibentuk
yaitu matrik F seperti ditunjukkan dalam Gambar 2.9. Dalam teori robust umum, matrik F
adalah nilai γ sebagai vektor pengali pada persamaan :
 I F  
~   0
G = G(s)  0 I   (2.76)
 
 0 I 
dan

~   I