Anda di halaman 1dari 9

KOORDINAT; PERUBAHAN BASIS

Terdapat hubungan erat di antara pemahaman basis dengan sistem koordinat. Pada bagian ini
kita kembangkan gagasan tersebut dan juga kita bahas hasil-hasil mengenai perubahan basis
untuk ruang vektor.
Dalam ilmu ukur analitik bidang, kita asosiasikan sepasang koordinat (a,b) dengan titik P
pada bidang dengan menggunakan dua sumbu koordinat tegak lurus. Akan tetapi, koordinat
tersebut dapat juga kita kenal tanpa acuan terhadap sumbu koordinat dengan menggunakan
vektor-vektor. Misalnya, sebagai ganti pengenalan sumbu koordinat seperti pada Gambar
4.15a, tinjaulah dua vektor tegak lurus v1 dan v2, masing-masing panjangnya 1, dan
mempunyai titik awal O yang sama. (vektor-vektor ini membentuk basis untuk R 2). Dengan
menarik garis tegak lurus dari titik P terhadap garis-garis yang ditentukan oleh v1 dan v2,
maka kita peroleh vektor-vektor av1, dan bv2 sehingga
OP=a v 1+ b v 2

y y
b P (a,b) b P (a,b)

O a x O a x
(a) (b)

Gambar 4.15
(Gambar 4.15b). Jelaslah, bilangan a dan b yang baru kjita peroleh adalah seperti koordinat
P yang relatif terhadap sistem koordinat pada Gambar 4.15a. jadi, kita dapat meminjam
koordinat P sebagai bilangan yang diperlukan untuk mengungkapkan vektor ⃗ OP dalam
vektor basis v1 dan v2.
Untuk tujuan mengaitkan koordinat-koordinat terhadap titik pada bidang itu, tidak perlu
kiranya bahwa vektor basis v1 dan v2 harus slaing tegak lurus atau mempunyai panjang 1;
sebarang basis untuk R2 dapat kita gunakan. Misalnya, dengan menggunakan vektor basis v1
dan v2 pada Gambar 4.16, kita dapat mengaitkan sepasang koordinat unik terhadap titik P
dengan memproyeksikan P sejajar dengan vektor-vektor basis untuk membuat ⃗ OP
merupakan diagonal bujursangkar yang ditentukan oleh vektor av1, dan bv2, jadi
OP=a v 1+ b v 2

Kita dapat menjabarkan (a,b) sebagai koordinat P yang relatif terhadap basis {v1, v2}.
Pengertian koordinat yang digeneralisasi ini penting karena pengertian tersebut dapat
diperluas untuk ruang vektor yang lebih umum. Tetapi mula-mula kita akan membutuhkan
beberapa hasil pendahuluan.

bv2 P (a,b)

v2
Gambar 4.16
Misalkan S = { v1, v2, … , vn } adalah basis untuk ruang vektor berdimensi berhingga V.
O v1 av2
karena S merentang V, maka setiap vektor di V dapat dinyatakan sebagai kombinasi linear
dari vektor-vektor S. disamping itu, sifat bebas linear S memastikan bahwa hanya ada satu
cara untuk menyatakan vaktor sebagai kombinasi linear vektor-vektor S. Untuk melihat
mengapa halnya demikian, misalkan vektor v dapat kita tulis sebagai
v = c1 v1 + c2 v2 + . . . + cn vn
dan juga
v = k1 v1 + k2 v2 + . . . + kn vn
dengan mengurangkan persamaan kedua dari yang pertama maka akan memberikan
0 = (c1 - k1 )v1 + (c2 - k2 )v2 + . . . + (cn – kn )vn

Karena ruas kanan persamaan ini adalah kombinasi linear dari vektor S, maka sifat bebas
linear dari S berarti bahwa
(c1 - k1 ) = 0 (c2 – k2 ) = 0 (cn – kn ) = 0
c1 = k1 c2 = k1 cn = kn
sebagai ikhtisar, maka kita peroleh hasil berikut.

Teorema 29. Jika S = { v1, v2, . . . , vn) adalahbasis untuk ruang vektor V, maka setiap vektor v
yang terletak di V dapat dinyatakan dalam bentuk v = c1 v1 + c2 v2 + . . . + cn vn persis
mempunyai satu cara.

Jika S = { v1, v2, … , vn } adalah basis untuk ruang vektor V yang berdimensi berhingga, dan
v = c1 v1 + c2 v2 + . . . + cn vn
adalah pernyataan untuk v dalam basis S, maka scalar c1, c2, … , cn dinamakan koordinat v
relatif terhadap basis S. Vektor koordinat v relatif terhadap S dinyatakan oleh (v)s dan
merupakan vektor Rn yang didefinisikan oleh
(v)s = (c1, c2, … , cn )
Matriks koordinat v relatif terhadap S yang dinyatakan oleh [v]s sedangkan matriks n × 1
didefinisikan oleh

c1

[]
c2

cn

Contoh 66
Di dalam contoh 30 daro bagian 4.5 kita perhatikan bahwa S = {v1, v2, v3} adalah sebuah basis untuk R3, di
mana v1 = (1, 2, 1), v2 = (2, 9, 0), dan v3 = (3, 3, 4).
(a) Carilah vektor koordinat dan matriks koordinat dari v = (5, -1, 9) mengarah terhadap S.
(b) Carilah vektor v dalam R3 yang vektor koordinatnya mengarah terhadap S adalah (v)s = (-1, 3, 2).

Pemecahan (a) kita harus mencari scalar c1, c2, c3 sehingga

Vektor koordinat dan matriks koordinat bergantung pada orde yang vektor basisnya
dituliskan; perubahan pada orde vektor basis menghasilkan perubahan yang bersesuaian dari
orde umtuk entri dalam matriks koordinat dan vektor koordinat.
Basis ortonormal untuk ruang hasil kali dalam akan memudahkan karena, seperti yang
diperlihatkan teorema berikut, banyak rumus yang sudah dikenal akan berlaku pada ruang
seperti itu.
Teorema 30. Jika S adalah basis ortonormal untuk ruang hasil kali dalam berdimensi n dan jika
(u)s = (u1, u2, . . . , un) dan (v)s = (v1, v2, . . . , vn)
Maka
(a) ‖u‖ = √ u12+ u22+ …+un2
(b) d(u, v) = √ ¿ ¿
(c) ‹ u,v › = u1 v 1 +u2 v 2 +…+u n v n
Bukti dan beberapa contoh numeris akan kita bahas pada latihan berikutnya.
Kita sekarang beralih kepada masalah utama dalam bagian ini.

Masalah Perubahan Basis. Jika kita ubah basis untuk ruang vektor dari basis B yang lama menjadi
basis B` yang baru, akan bagaimanakah matriks koordinat [v]B yang lama dari vektor v bila
dihubungkan dengan matriks koordinat [v]B` yang baru?
Untuk menyederhanakannya, kita akan memecahkan soal ini untuk ruang berdimensi dua.
Pemecahannya serupa untuk ruang dimensi n, dan akan kami biarkan sebagai latihan bagi
anda. Misalkan
B = {u1,u2} dan B` = {u`1,u`2}
Yang merupakan basis lama dan basis baru. Kita akan butuhkan matriks-matriks koordinat
untuk vektor basis baru yang relatif terhadap vektor basis lama. Misalkan matriks-matriks
koordinat tersebut adalah

[u`1]B = [ ab] dan [u`2]B = [ dc ]


Yakni
u'1 = au1 + bu2
u'2 = cu1 + du2
nah, misalkanlah v sebarang vektor V dan misalkan
k1
[ v ]B =
[] k2

Adalah matriks koordinat yang baru, sehingga


v = k1u'1 + k2u`2
Untuk mencari koordinat lama dari v, maka kita harus ungkapkan v dalam basis B yang lama.
Untuk melakukan ini, kita substitusikan (4.36) ke dalam (4.38). ini menghasilkan
v = k1(au1 + bu2 ) + k2(cu2 + du2)
Atau
v = (k1a + k2b) u1 + (k1c + k2d) u2
Jadi, matriks koordinat lama untuk v adalah
k 1 a+k 1 c
[ v ]B =
[ k 2 b+ k 2 d ]
Yang dapat dituliskan kembali sebagai

[ v ]B = [ab dc ] [ kk ]
1

Atau, dari (4.37)

[ v ]B = a c [ v ]B
[b d ]
Persamaan ini menyatakan bahwa matriks koordinat lama [v]B dapat menghasilkan bila kita
kalikan dengan matriks koordinat baru [v]B` pada sebelah kiri dengan matriks

P= a c
[ ]
b d
Yang kolom-kolomnya adalah koordinat dari vektor basis baru yang relatif terhadap basis
lama (lihat 4.35). jadi, kita peroleh pemecahan berikut untuk soal perubahan basis.
Pemecahan Masalah Perubahan Basis. Jika kita butuh basis untuk ruang vektor V dari basis
B = {u1, u2, … , un} yang lama terhadap basis B` = {u`1, u`2, … , u`n} yang baru, maka
matriks koordinat [v]B yang lama dari vektor v dihubungkan terhadap matriks koordinat [v] B`
yang baru, dari vektor yang sama dengan persamaan
[ v ]B =P [ v ] B
Di mana kolom-kolom P adalah matriks-matriks koordinat dari vektor basis baru yang relatif
terhadap basis yang lama, yakni vektor kolom dari P adalah
[u`1]B , [u`2]B` , … , [u`n]B
Secara simbolis, maka matriks P dapat dituliskan sebagai
P = [ [ u 1 ] B∨[u 2] B ∨…∨[u n]B ]
Matriks tersebut kita namakan matriks transisi dari B` ke B.
Jika kita mengalikan matriks transisi dari B` ke B yang kita hasilkan dalam Contoh 70, juga
matrik transisi dari B ke B` yang kita hasilkan dalam contoh akhir, maka kita peroleh

Yang nenunjukkan bahwa Q = P-1. Teorema berikut membuktikan bahwa di sini tidak ada
yang kebetulan.
Teorema 31. Jika P adalah matriks transisi dari basis B` ke basis B, maka
(a) P dapat dibalik
(b) P-1 adalah matriks transisi dari B ke B`.
(bukti-buktinya akan dijelaskan pada akhir bagian ini) Jelasnya, jika P adalah matriks transisi
dari basis B` ke basisi B, maka untuk masing-masing vektor v adalah
[v]B = P[v]B`
[v]B` = P- 1[v]B
Untuk menggambarkan hasil ini, tinaulah matriks transisi

P= [ 11 21]
Yang diperoleh dalam contoh 70. Untuk mengubahnya dari koordinat yang lama dari vektor
v menjadi koordinat v yang baru, mula-mula kita hitun
−1
P = [−11 −12 ]
Jika v = (7,2), maka

[ v ]B = 7
[2 ]
Melalui pemeriksaan, dan
2 7 −3
[ v ]B = −1
[1 ][ ] [ ]
=
−1 2 5
Teorema berikutnya memperlihatkan bahwa jika P adalah matriks transisi dari satu basis
ortonormal ke basis ortonormal yang lain, maka sangat mudah untuk mencari invers dari P.
Teorema 32. Jika Padalah matriks transisi dari satu basis ortonormal ke basis ortonormal yang
lain untuk sebuah ruang hasil kali dalam, maka

(coba anda cari berikutnya) P -1 = P t

Matriks yang inversnya dapat diperoleh dengan pemangkatan mempunyai arti penting karena
ada beberapa terminology yang diasosiasikan dengan invers tersebut.

Definisi. Sebuah matriks A kuadrat yang mempunyai sifat

A -1 = A t

Kita katakana matriks orthogonal.

untuk menguraikan definisi ini, sebuah matriks A kuadrat adalah orthogonal, jika dan hanya
jika
AAt = AtA = I
akan tetap, dengan menggunakan terminology baru Teorema 32 menyatakan bahwa sebuah
matriks transisi dari satu basis ortonormal adalah orthogonal terhadap basis lainnya.
Hasil berikut, yang berikutnya kita bahas dalam latihan, akan memudahkan kita untuk
menentukan apabila matriks A yang berukuran n × n adalah orthogonal.
Teorema 33. Yang berikut ekivalen satu sama lain:
(a) A adalah orthogonal
(b) Vektor-vektor basis dari A membentuk himpunan ortoormal Rn dengan hasil kali dalam
euclidis.
(c) Vektorvektor kolom A membentuk himpunan ortonormal Rn dengan hasil kali dalam
euclidis.

Dalam contoh 72 dan 73 kita meninjau soal yang menghubungkan koordianat lama dan
koordinat baru bila dibuat suatu perubahan geometri (rotasi) dalam sumbu-sumbu koordinat
tersebut. Kadang-kadang soal yang sebaliknya muncul sebagai berikut. Sebuah hubungan

[ xy ]=[ ab ba ][ xy ]
1

1
2

Diketahui di antara koordinat lama dan koordinat baru, di mana matriks 2 × 2 tersebut
orthogonal; pentingnya untuk menentukan bagaimana hubungan geometris da antara sistem
koordinat xy dan sistem koordinat x`y`. Persamaan (4.43) dinamakan transformasi koordinat
orthogonal pada R2. Untuk menelaah efek transformasi koordinat orthogonal tersebut
tinjaulah vektor-vektor

u1 = [ 10] , u =[ 01] , u =[ ab ] ,u =[ba ]


2 1
1

1
2
2

Dalam sistem koordinat xy dan perkenalkanlah sistem koordinat x`y` dengan sumbu x` positif
sepanjang u`1 dan sumbu y` positif sepanjang u`2 (gambar 4.20). karena matriks yang
memastikan bahwa sumbu x` tegaklurus terhadap sumbu y`. karena
u`1 = a1u1 + b1u2
Dan
u`2 = a2u1 + b2u2
Maka matriks
a1 a2
P=
[ ]
b1 b 2

Dalam (4.43) adalah matriks transisi dari basis {u`1, u`2} ke basis {u1, u2}. Jelaslah, ada dua
kemungkina; baik sistem koordinat x`y` dapat diperoleh dengan merotasikan sistem koordinat
xy (gambar 4.21a) maupun sistem koordinat x`y` dapat diperoleh dengan mula-mula

y
y` x`
(0,1)
(a2,b2) u2 (a1,b1)

u2` u1 x
u1

merefleksikan sistem koordinat xy terhadap sumbu x dan kemudian merotasikan sistem


koordinat yang direfleksikan tersebut (gambar 4.21b). dalam latihan diperlihatkan bahwa
determinan matriks orthogonal selalu sama dengan + 1 atau – 1.

Gambar 4.21

y
y` x` x` y` x` y`

x x x

y y
Gambar 4.21 (a) (b)

Lagipula, dapat dibuktikan bahwatransformasi koordinat orthogonal (4.43) adalah sebuah


rotasi jika
a1 a2
| |
b 1 b2
=1

Dan merupakan refleksi yang diikuti oleh rotasi jika determinan ini adalah – 1.
Demikian juga, sebuah transformasi koordinat ortogonal

x a1 a2 a3 x a1 a2 a3

[][
y = b1 b 2 b3 y
z c1 c2 c3 z ][ ] 3
pada R adalah rotasi jika
| |
b 1 b2 b3 =1
c1 c 2 c 3

Dan merupakan rotasi yang digabungkan dengan refleksi pada satu dari antara bidang-bidang
koordinat tersebut jika determinan ini adalah – 1.
Bukti teorema 31. Misalkan Q adalah matriks transisi dari B ke B`. Kita akan
memperlihatkan PQ = I sehingga kita dapat menyimpulkan bahwa Q = P – 1 untuk
melengkapkan bukti tersebut.

Anggaplah bahwa B = {u1, u2, … , un} dan misalkan

c 11 c12 ⋯ c1 n
c

[
PQ= 21 22

c

cn 1 c n2
⋯ c2 n
⋱ ⋮
⋯ c nn ]
Dari (4.39) kita peroleh

[x]B = P[x]B`

Dan [x]B` = Q[x]B

Untuk semua x di V. dengan mengalikan persamaan di bawah dari kiri denga P dan dengan
mensubstitusikan persamaan di atas maka akan memberikan

[x]B = P.Q[x]B

Untuk semua c di V. dengan mengambil x = u1 dalam (4.44) maka akan memberikan

1 c11 c 12 ⋯ c1 n 1

[][
0


0
c 21
0 = c 31

cn 1
c 22
c 32

cn 2




c2 n
c3 n

c nn
][ ]0
0

0

Atau

1 c 11

[][ ]
0
0

0
=
c 21
c 31

cn 1

Demikian juga, dengan mensubstitusikan secara berurutan x = u2, … , un dalam (4.44)


maka akan menghasilkan

c12 0 c 1n 0
c22 1 c2 n 0
= 0 ,…, =0