Anda di halaman 1dari 23

MINI RISET

PENDIDIKAN PANCASILA
“Skala Sikap Kesadaran Terhadap Nilai-Nilai Pancasila”
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Pancasila

Disusun:

Kelompok 1

Lindu Parningotan Simanulang (417


MHD. Andre Topan Rajaido (417
Nanda Julfa Rezeki (4173121032)
Novia (417
Onilya Romasta Gultom (417

Dosen Pengampu : Drs. Dermawan Sembiring, M.Hum

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA


JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala RahmatNya
sehingga laporan mini research ini dapat tersusun hingga selesai . Terimakasih
kepada Dosen Pembimbing mata kuliah Pancasila, bapak Drs. Dermawan
Sembiring, M.Hum.

Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari
pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan ide-ide dan waktunya. Dan
harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman
bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun
menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi. Karena keterbatasan
pengetahuan maupun pengalaman kami.

Kami yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu
kami sangat mengharapkan kritik dan saran membangun dari pembaca demi
kesempurnaan makalah ini.

Medan, 18 November 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................... i

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ...................................................................... 1


1.2 Tujuan Mini Riset................................................................................. 1
1.3 Manfaat Mini Riset............................................................................... 2

BAB II KAJIAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN .................... 3

BAB III METODOLOGI PENELITIAN .................................................... 6

BAB IV PEMBAHASAN............................................................................... 8

BAB V PENUTUP .......................................................................................... 18

5.1 Kesimpulan ........................................................................................ 18

5.2 Saran ................................................................................................... 18

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 19

LAMPIRAN .................................................................................................... 20

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang Masalah

Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan bernegara bagi


seluruh rakyat Indonesia. Pancasila sebagai ideologi Negara untuk
mempersatukan bangsa sangatlah penting. Masyarakat berbicara bahwa pancasila
itu ideologi Negara kita. Namun, mereka hanya sekedar mengetahui arti tanpa
melaksanakan nilai-nilai pancasila.

Kurikulum KKNI yang telah diterapkan oleh Universitas Negeri Medan


menuntut mahasiswanya untuk menyelesaikan 6 tugas pada satu semester, salah
satunya yaitu “Mini Research”.

Sebagai negara yang memiliki keanekaragaman, wacana persatuan


sebenarnya akan terus mengikuti setiap langkah perjalanan Republik ini. Maka
sangat rasional bila diperlukan pemikiran besar sebagai jiwa pemersatu bangsa.
Oleh Bung Karno dikatakan bahwa Pancasila adalah philosofische grondslag yang
menjadi landasan statis bagi kokohnya negara Indonesia dan juga berfungsi
sebagai acuan dinamis bagi gerak pembangunan dalam menggapai cita-cita
bangsa demi kesejahteraan bersama.

1.2. Tujuan Mini Riset


 Untuk mengetahui seberapa besar kesadaran para pegawai yang bekerja di
suatu instansi Negara tentang nilai-nilai pancasila yang di tanamkan pada
diri mereka.
 Untuk mengetahui besar pengaruh pancasila terhadap hasil mini research
yang telah dilakukan.

1
1.3. Manfaat Mini Riset
a. Manfaat Teoritis
 Dapat menambah ilmu pengetahuan secara praktis sebagi hasil dari
pengamatan langsung serta dapat memahami penerapan disiplin ilmu
yang diperoleh selama studi di perguruan tinggi.
 Dengan penelitian ini diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan
secara umum.
b. Manfaat Praktis
 Penelitian ini dapat berguna sebagai masukan bagi pembaca untuk
memahami lebih lanjut makna dari pancasila.
 Memberikan sumbangan pemikiran dan perbaikan dalam penanganan
masalah, penanaman nilai-nilai pancasila dalam masyarakat.

2
BAB II

KAJIAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN

Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan bernegara bagi


seluruh rakyat Indonesia. Pancasila sebagai ideologi Negara untuk
mempersatukan bangsa sangatlah penting. Masyarakat berbicara bahwa pancasila
itu ideologi Negara kita. Namun, mereka hanya sekedar mengetahui arti tanpa
melaksanakan nilai-nilai pancasila.

Menurut Mahfud M.D., Pancasila merupakan pijakan paling utama dalam


semua aspek kehidupan bermasyarakat, terlebih generasi muda yang lebih dekat
dengan tren komunikasi global. Menurut Mahfud, terjaganya persatuan bangsa
Indonesia hanya bisa terwujud selama Pancasila masih menjadi landasannya.
"Pancasila menjadi kesadaran filsafat hukum dan sumber kesadaran berbangsa
dan bernegara. Pancasila itu ideologi yang mempersatukan,”

Pada era reformasi sebenarnya masyarakat mendapat berkah pada bidang


kebebasan mengeluarkan pendapat dan berpolitik.Tidak seperti zaman orde baru,
semuanya harus di atur, hak asasi manusia diabaikan. Tapi apa yang kita lihat
sekarang masyarakat menyalahgunakan kebebasan berpendapat untuk
kepentingkan pribadi dan organisasi. Berbuat anarki dan merusak saat
mengeluarkan pendapat di tempat umum.

Pancasila yang bersumber dari budaya dan kepribadian bangsa Indonesia


menjadi tuntunan perilaku seluruh rakyat dalam mewujudkan tujuan nasional.
Dengan begitu masyarakat, suku, agama, budaya menjadi satu tanpa
mementingkan kepentingan individual. Dan bersatu yaitu Negara republik
Indonesia.

Pancasila sudah memberikan bukti bagaimana kehidupan berbangsa dan


bernegara ini dapat dijalankan. Karenanya tidak dapat dibayangkan bagaimana
kebangsaan Indonesia ini dapat dijaga dan dirawat ketika negara dibangun hanya
berdasarkan unsur-unsur primordial maupun agama tertentu yang dominan.

3
Pancasila harus dijadikan acuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita
harus terus memperkuat Pancasila sebagai jati diri bangsa. Perlu ditanamkan
kembali pemahaman nilai-nilai Pancasila kepada generasi penerus bangsa. Setiap
warga negara, penyelenggara negara dan lembaga kemasyarakatan lainnya perlu
mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Karena tanpa memiliki pandangan hidup,
bangsa ini akan sangat mudah terombang-ambing dalam menghadapi persoalan
yang datang.

Sebagai negara yang memiliki keanekaragaman, wacana persatuan


sebenarnya akan terus mengikuti setiap langkah perjalanan Republik ini. Maka
sangat rasional bila diperlukan pemikiran besar sebagai jiwa pemersatu bangsa.
Oleh Bung Karno dikatakan bahwa Pancasila adalah philosofische grondslag yang
menjadi landasan statis bagi kokohnya negara Indonesia dan juga berfungsi
sebagai acuan dinamis bagi gerak pembangunan dalam menggapai cita-cita
bangsa demi kesejahteraan bersama.

Keberagaman

Keragaman berasal dari kata ragam yang menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI) artinya : 1) tingkah laku; 2) lagu; musik; langgam; 4) warna,
corak, ragi ; 5) laras (tata bahasa)..

Keragaman yang dimaksud disini adalah suatu kondisi dalam masyarakat di


mana terdapat perbedaan-perbedaan dalam berbagai bidang, terutama suku,
bangsa dan ras, agama dan keyakinan, budaya, ideologi, adat kesopanan, serta
situasi ekonomi. Maka dapat disimpulkan keragaman masyarakat adalah sebuah
keadaan yang menunjukkan perbedaan yang cukup banyak macam atau jenisnya
dalam masyarakat.

Keragaman manusia baik dalam tingkat individu dan di tingkat masyarakat


merupakan tingkat realitas atau kenyataan yang meski kita hadapi dan alami.
Keragaman individual maupun sosial adalah implikasi dari kedudukan manusia,
baik sebagai mahluk individu dan mahluk sosial. Kita sebagai individu akan
berbeda dengan seseorang sebagai individu yang lain. Demikian pula kita sebagai
bagian dari satu masyarakat memiliki perbedaan dengan masyarakat lainnya.

4
Konsep keberagaman memberikan arahan dimana Pancasila mendudukkan
harkat dan martabat manusia dalam hidup kebersamaan. Dan tetap memandang
keberagaman masyarakat dalam persatuan dan kesatuan bangsa demi mewujudkan
keserasian antara kewajiban dan hak, antara kewajiban asasi dan hak asasi sesuai
dengan fungsinya. Konsep kesatuan mengajak seluruh komponen yang terlibat
dalam kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara untuk membentuk suatu
kesatuan yang utuh. Tanpa memandang perbedaan suku, agama, ras maupun
antargolongan.

Konsep kerakyatan berisi pemikiran agar keputusan yang menyangkut hajat


hidup orang banyak ditentukan sehingga dapat terwujud keadilan dan
kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Begitu pula pada konsep kebangsaan yang
berisi komitmen bersama seluruh komponen bangsa dalam satu kesatuan bangsa.
Berangkat dari nilai luhur seperti inilah penting bagi kita untuk memiliki
kesadaran sejarah bersama agar terus menempatkan dan mengamalkan secara utuh
Pancasila sebagai penjaga toleransi di Indonesia.

5
BAB III

METODE PELAKSANAAN

3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan


Mini riset dalam mata kuliah pancasila, dilaksanakan pada:
Hari/Tanggal : Minggu, 15 Nopember 2018
Pukul : 09.00 - selesai
Tempat : Kantor Kepala Desa Medan Estate, Kota
Medan,Sumatera Utara

3.2 Alasan Pemilihan Lokasi


Alasan kelompok kami memilih lokasi tersebut adalah sesuai dengan tujuan
mini riset yang kami lakukan serta dekat dengan area kampus (UNIMED).

3.3 Alat dan Bahan yang Dipersiapkan


Alat dan bahan yang dimaksud dalam hal ini adalah segala peralatan
maupun bahan habis pakai yang digunakan oleh praktikan dalam mengumpulkan
dan menganalisis data-data yang diperoleh dari objek penelitian selama proses
praktek lapangan. Adapun alat dan bahannya yakni sebagai berikut:
 Kertas Double Folio Bergaris
Kertas double folio bergaris merupakan bahan habis pakai yang digunakan
sebagai tempat untuk menuliskan informasi-informasi yang diperoleh dari
para responden untuk kemudian dianalisis. Selain itu, kertas double folio
bergaris ini juga digunakan praktikan dalam menuliskan laporan sementara
selama proses praktek lapangan.
 Pulpen/Pensil
Pulpen/pensil merupakan bahan habis pakai yang digunakan untuk
menulis informasi-informasi maupun data-data yang diperoleh dari objek
penelitian.
 Kamera merupakan alat yang digunakan sebagai sarana untuk mengambil
gambar-gambar (yang berupa foto-foto) pada saat paktek lapangan

6
berlangsung, sebagai bahan dokumentasi untuk item yang diperlukan
dalam penyusunan laporan pratek lapang.
 Alat rekam
Sebagai media yang digunakaan untuk mengumpulkan setiap hasil
wawancara terhadap para responden.
 Pegawai/staf kantor kepala desa
 Sebagai narasumber atau sampel pada saat praktek lapangan.

3.4 Desain Penelitian


Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana penghayatan nilai-nilai
Pancasila (nilai dasar, instrumental, dan praksis) sebagai ideologi negara.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang merupakan desain penelitian
yang bersifat alamiah,dalam arti peneliti tidak berusaha memanipulasi seting
penelitian,melainkan melakukan studi terhadap suatu fenomena. Alasan
menggunakan metode penelitian kualitatif adalah berdasarkan pendapat Alsa
(2003) yaitu penelitian kualitatif umumnya dipakai apabila peneliti tertarik untuk
mengeksplorasi dan memahami satu fenomena sentral seperti proses atau
peristiwa.

3.5 Metode Pengumpulan Data


Metode yang digunakan dalam pengumpulan data mini riset ini adalah dengan
menyebar angket yang berisi pernyataan-pernyataan yang berkaitan dengan
kesadaran terhadap nilai Pancasila yang terdiri dari 25 penyataan.

7
BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Tabel Hasil Dari Kuesioner/Angket Yang Telah Diperiksa :

Dengan Keterangan sebagai berikut :

1. SS = Sangat Setuju;
2. S = Setuju;
3. N = Netral;
4. TS = Tidak Setuju;
5. STS = Sangat Tidak Setuju.

No Pernyataan Sikap
SS S N TS STS
1. Orang boleh percaya tidak percaya 2 3
adanya Tuhan
2. Sesama pemeluk agama harus saling 2 3
menghormati
3. Ajaran atheis (anti-Tuhan) 2 3
diperbolehkan
4. Dilarang memaksakan suatu agama 2 2 1
pada orang lain
5. Semua agama adalah baik 5
6. Setiap manusia mempunyai harkat dan 2 3
martabat sama
7. Presiden Indonesia seharusnya dari 3 2
suku Jawa
8. Penerimaan CPNS harus 1 1 2 1
mengutamakan putra daerah
9. Sesama manusia harus saling tolong 4 1
menolong
10. Pengidap virus HIV/AIDS harus 4 1

8
dikucilkan
11. NKRI harga mati 4 1
12. WNI harus siap perang bila diperlukan 3 2
negara

13. Orang pandai lebih enak kerja di luar 1 2 2


negeri
14. Kita malu menjadi bangsa Indonesia 2 3

15. Bhineka Tunggal Ika 3 2

16. Utamakan voting daripada 1 3 1


musyawarah mufakat

17. Tidak boleh memaksakan kehendak 1 1 3

18. Walk out (keluar) saat proses 1 3 1


musyawarah
19. Mempercayai wakil rakyat yang kita 4 1
pilih
20. Tidak melaksanakan putusan yang 2 2 1
bukan usulan kita

21. Saat ini gotong royong sudah tidak 3 2


relevan
22. Menghormati dan menghargai hak 4 1
orang lain

23. Mengutamakan hak daripada 1 2 1 1


kewajiban
24. Bersikap adil terhadap sesama 2 3

25. Menggunakan hak milik sesuka hati 2 2 1

9
4.2 Hasil

Berdasarkan hasil dari angket yang telah diperiksa diatas dapat dilihat
bahwa tingkat kesadaran para pegawai yang bekerja di suatu instansi Negara,
tepatkan di Kantor Kepala Desa Medan Estate tentang nilai-nilai pancasila yang di
tanamkan pada diri mereka, serta sikap kesadaran terhadap nilai-nilai pancasila
pada diri mereka tergolong cukup baik, dimana setelah kami memeriksa angket
yang telah diisi oleh mereka kami mendapatkan hasil respon yang sangat baik,
kebanyakan dari mereka memberikan pernyataan yang bernilai positif pada angket
yang kami berikan, hal ini menunjukkan bahwa rasa kesadaran terhadap nilai-nilai
pancasila sudah cukup baik di implementasikan pada kehidupan sehari-hari.

Tetapi, walaupun dikatakan cukup baik, ada beberapa orang yang masih
belum sepenuhnya sadar akan nilai-nilai pancasila yang harus diamalkannya
dalam kehidupannya, contohnya pada pernyataan “Orang pandai lebih enak kerja
di luar negeri” ada salah seorang yang menjawab setuju, hal ini menunjukkan
bahwasannya orang tersebut mendukung orang-orang pintar di Indonesia untuk
tidak bekerja di Indonesia melainkan di Luar Negeri, tentu hal ini tidak sesuai
dengan pengamalan nilai-nilai pancasila yang harus kita terapkan.

Kemudian pada pernyataan “Utamakan voting daripada musyawarah


mufakat” juga ada yang menjawab setuju, hal ini tentu bertentangan dengan
pancasila dimana pada pengamalan nilai pancasila seharusnya kita sebagai warga
bangsa Indonesia lebih mengutamakan bermusyawarah karena Negara kita
menjunjung tinggi demokrasi, dimana dalam demokrasi bermusyawarah sangat
penting.

Pada pernyataan “Walk out (keluar) saat proses musyawarah” ada


responden yang menjawab sangat setuju, hal ini menjelaskan bahwasannya
responden disini tidak menyukai proses musyawarah karena dia memilih untuk
keluar daripada mengikuti musyawarah yang dilaksanakan, hal ini dapat
menunjukkan bahwasannya sikap kesadaran terhadap nilai-nilai pancasila pada
responden ini kurang baik.

10
Pada pernyataan “Tidak melaksanakan putusan yang bukan usulan kita”
ada 2(dua) orang responden yang menjawab setuju, tentu hal ini bertentangan
dengan nilai pancasila, dimana kita seharusnya tetap melaksanakan putusan yang
sudah dibuat walaupun itu bukan dari usulan kita, karena usulan yang diambil
biasanya adalah hasil usulan yang terbaik dan merupakan hasil dari sebuah
musyawarah.

Kemudian dalam pernyataan “Mengutamakan hak daripada kewajiban”


beberapa responden menjawab setuju dan sangat setuju, tentu hal ini tidak benar,
karena seharusnya antara kewajiban dan hak kita sebagai warga Negara Indonesia
berjalan beriringan dimana seharusnya kita menjalankan keduanya bersamaan
karena antara hak dan kewajiban memiliki kedudukan yang sama bagi warga
Negara kita.

Terakhir pada pernyataan “Menggunakan hak milik sesuka hati” ada dua
orang yang menjawab sangat setuju, tentu hal ini kurang tepat karena tidak semua
hak milik yang kita miliki dapat kita gunakan sesuka hati kita, dimana hak milik
ini juga seharusnya kita gunakan sesuai dengan peraturan-peraturan yang ada di
Indonesia juga.

4.3 Pembahasan
A. Kesadaran Melaksanakan Nilai-Nilai Pancasila dan Konstitusi
Kesadaran diri adalah keadaan dimana kita bisa memahami diri Kita
sendiri dengan setepat-tepatnya. Kita disebut memiliki kesadaran diri jika kita
memahami emosi dan mood yang sedang dirasakan, kritis terhadap informasi
mengenai diri sendiri, dan sadar tentang diri kita yang nyata. Pendek kata,
kesadaran diri adalah jika kita sadar mengenai pikiran, perasaan, dan evaluasi diri
yang ada dalam diri kita.

Jadi dapat disimpulkan bahwa orang sedang berada dalam kesadaran diri
memiliki kemampuan memonitor diri, yakni mampu membaca situasi sosial
dalam memahami orang lain dan mengerti harapan orang lain terhadap dirinya.

11
1. Nilai- Nilai Pancasila
Nilai adalah apa yang dianggap bernilai atau berharga yang menjadi
landasan, pedoman, pegangan dan semangat seseorang dalam melaksanakan
sesuatu.

Dalam kehidupan sehari-hari sering kali mendengar istilah menilai, yang


berarti menimbang, suatu kegiatan manusia untuk menghubungkan sesuatu
dengan suatu yang lainnya, untuk kemudian diambil sebuah keputusan. Keputusan
yang diambil merupakan keputusan nilai yang menyatakan bahwa hal itu berguna
atau tidak, baik atau buruk, etis atau tidak etis.

Menurut penjabarannya nilai dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu:

a. Nilai Dasar
Nilai dasar merupakan hakikat, esensi, intisari, makna yang terdalam dari
nilai-nilai tersebut. Hakikat Nilai dasar ini bersifat universal karena menyangkut
hakikat kenyataan obyektif segala sesuatu, misalnya hakikat Tuhan, maka nilai
tersebut bersifat mutlak karena hakikat Tuhan adalah causa prima. Begitu juga
jika menyangkut manusia, maka nilai itu bersumber pada hakikat kodrat manusia.

b. Nilai Instrumental
Nilai instrumental ini berada antara nilai dasar dan nilai praksis. Untuk dapat
direalisasikan dalam kehidupan praksis, maka dibutuhkan formulasi serta
parameter yang jelas. Nilai instrumental inilah yang berperan untuk
menjabarkannya.

c. Nilai Praksis
Nilai praksis adalah penjabaran dari nilai instrumental dalam kehidupan yang
lebih nyata. Nilai instrumental ini merupakan nilai ini dikatakan sebagai
perwujudan perilaku nyata yang menggambarkan nilai-nilai dasar dan nilai
instrumental.

Zakiah Daradjat, menjelaskan bahwa nilai moral yang terkandung dalam


Pancasila adalah realisasi dari sila-sila itu sendiri dan dapat diuraikan sebagai
berikut :

12
a. Ketuhanan Yang Maha Esa
Artinya bahwa setiap warga negara Indonesia harus hidup ber-Tuhan.
Realisasinya adalah dengan kehidupan yang berlandaskan pada agama.
Konsekuensi dari menganut agama adalah bahwa setiap orang yang mengaku
beragama maka dia harus melaksanakan perintah dan menjauhi laranganNya.
b. Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab
Artinya bahwa setiap orang Indonesia dalam setiap tindak tanduknya
harus berdasarkan pada peri kemanusiaan, keadilan, dan adab serta
kesopanan.
c. Persatuan Indonesia
Dalam sila ini terkandung nilai persatuan, artinya setiap warga negara
Indonesia harus mau bersatu dan mempersatukan, mencintai tanah air dan rela
berkorban untuk bangsa dan negara Indonesia.
d. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam
Permusyawaratan/Perwakilan
Bahwa sila ini mengandung istilah musyawarah dan perwakilan. Jadi
dalam kehidupan bermasyarakat kita di dorong untuk mengembangkan sikap
musyawarah untuk mufakat dalam menyelesaikan masalah yang terjadi. Serta
perwakilan digunakan untuk mewujudkan negara demokratis.
e. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Sila kelima ini benar-benar menjadi tujuan yang ingin diwujudkan
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara melalui sikap mendukung
kebijakkan pemerintah dalam pelaksanaan pembangunan nasional.

Sedang nilai-nilai dari sila – sila Pancasila yang bisa dikembangkan dalam
kehidupan bermasyarakat, menurut Jazim Hamidi adalah sebagai berikut:

a. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa


1. Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaan dan keyakinannya kepada
Tuhan Yang Maha Esa
2. Membina kerukunan hidup antar umat beragama dan penganut
kepercayaan

13
3. memberikan kebebasan penduduk untuk menganut agama dan
kepercayaannya, sesuai dengan keyakinanya.
b. Sila kemanusiaan yang adil dan beradab
1. Pengakuan terhadap martabat manusia
2. Perlakuan adil terhadap sesame manusia,
3. Pergertian manusia beradap adalah manusia yang memiliki daya
cipta, rasa dan karsa serta keyakinan yang dapat membedakan antara
manusia dan hewan.
c. Sila persatuan Indonesia
1. Persatuan Indonesia adalah persatuan bangsa yang mendiami
wilayah Indonesia.
2. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki keragamam yang
harus dijaga sebagai kekayaan negara.
3. Memgembangkan rasa persatuan dan kesatuan.
d. Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dalam
permusyawaratan/perwakilan.
1. Kedaulatan ada di tangan rakyat.
2. Dalam musyawarah mengutamakan kepentingan bersama di atas
kepentingan pribadi atau golongan
3. Musyawarah menggunakan akal sehat dan hati nurani yang luhur
4. Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil rakyat yang amanah
untuk melakukan permusyawaratan.
e. Sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
1. Mengembangkan sikap adil dalam kehidupan.
2. Mengembangkan perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap
kekeluargaan dan gotong royong
3. Cinta akan kemajuan dan pembangunan.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa nilai Pancasila tidak bisa
dipisah antara sila yang satu dengan sila yang lain, dan nilai-nilai Pancasila yang
terkandung dalam sila-silanya dijadikan pedoman dalam menjalankan kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

14
Dalam kehidupan bernegara Pancasila selalu menjadi rujukan banyak
pihak terhadap kepemilikan watak mulia yang dimiliki oleh seorang warga negara.
Hal ini wajar, sebab Pancasila diyakini sebagai sebuah formulasi dari nilai-nilai
kebaikan manusia. Sehingga seseorang yang dikatakan sebagai manusia Pancasila
pasti memiliki berbagai hal terpuji dan patut untuk diteladani.

Kesadaran berkonstitusi merupakan salah bagian dari kesadaran moral.


Sebagai bagian dari kesadaran moral, kesadaran konstitusi mempunyai tiga unsur
pokok yaitu:

1. Perasaan wajib atau keharusan untuk melakukan tindakan bermoral yang


sesuai dengan konstitusi negara itu ada dan terjadi di dalam setiap sanubari
warga negara, siapapun, di manapun dan kapanpun;
2. Rasional, kesadaran moral dapat dikatakan rasional karena berlaku umum,
lagi pula terbuka bagi pembenaran atau penyangkalan. Dengan demikian
kesadaran berkonstitusi merupakan hal yang bersifat rasional dan dapat
dinyatakan pula sebagai hal objektif yang dapat diuniversalkan, artinya dapat
disetujui, berlaku pada setiap waktu dan tempat bagi setiap warga negara; dan
3. Kebebasan, atas kesadaran moralnya, warga negara bebas untuk mentaati
berbagai peraturan perundang-undangan yang berlaku di negaranya termasuk
ketentuan konstitusi negara.

Adapun bentuk-bentuk kesadaran berkonstitusi bagi warga negara Indonesia


yang meliputi:

1. Kesadaran dan kesediaan untuk mempertahankan dan mengisi kemerdekaan


Indonesia sebagai hak azasi bangsa dengan perwujudan perilaku sehari-hari
antara lain: belajar/bekerja keras untuk menjadi manusia Indonesia yang
berkualitas, siap membela negara sesuai kapasitas dan kualitas pribadi
masing-masing, dan rela berkorban untuk Indonesia.
2. Kesadaran dan pengakuan bahwa kemerdekaan Indonesia sebagai bangsa
sebagai rahmat Allah Yang Maha Kuasa dengan perwujudan perilaku sehari-
hari antara lain: selalu bersyukur, tidak arogan, dan selalu berdoa kepada
Allah Yang Maha Kuasa.

15
3. Kepekaan dan ketanggapan terhadap kewajiban Pemerintah Negara untuk
mencerdaskan kehidupan bangsa dengan perwujudan perilaku sehari-hari
antara lain: bersikap kritis, skeptis, dan adaptif terhadap kebijakan publik
pencerdasan kehidupan bangsa
4. Kemauan untuk selalu memperkuat keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan
Yang Maha Esa dengan perwujudan perilaku sehari-hari antara lain:
menjalankan ibadah ritual dan ibadah sosial menurut keyakinan agamanya
masing-masing dalam konteks toleransi antar umat beragama.
5. Kemauan untuk bersama-sama membangun persatuan dan kesatuan bangsa
dengan perwujudan perilaku sehari-hari antara lain: bersikap tidak
primordialistik, berkarakter kemitraan pluralistik, dan bekerja sama secara
profesional.
6. Kemauan untuk bersama-sama membangun karakter kemanusiaan yang adil
dan beradab dengan perwujudan perilaku sehari-hari antara lain:
menghormati orang lain seperti menghormati diri sendiri, memperlakukan
orang lain secara proporsional, dan bersikap empatik pada orang lain
7. Kesediaan untuk mewujudkan komitmen terhadap keadilan dan
kesejahteraan dengan perwujudan perilaku sehari-hari antara lain: tidak
bersikap mau menang sendiri, tidak bersikap rakus dan korup, dan bisaa
berderma.
8. Kesadaran dan kesediaan untuk menghormati Sang Merah Putih sebagai
Bendera Negara dengan perwujudan perilaku sehari-hari antara lain:
menyimpan Sang Merah Putih pada tempat yang tepat dan baik, memberi
hormat pada saat Sang Merah Putih sedang dinaikkan/diturunkan, dan tidak
merusak Sang Merah Putih dengan alasan apapun.
9. Kesadaran akan peran dan kemampuan menggunakan Bahasa Indonesia
sebagai Bahasa Negara secara baik dan benar dengan perwujudan perilaku
sehari-hari antara lain: menguasai Bahasa Indonesia dengan baik dan benar,
menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar, dan berpartisipasi
dalam memperkaya dan mengembangkan Bahasa Indonesia.

16
10. Kesediaan untuk menghormati Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka
Tunggal Ika sebagai Lambang Negara dengan perwujudan perilaku sehari-
hari.

Berbagai bentuk kesadaran berkonstitusi warga negara sebagaimana


diuraikan di atas dapat terwujud jika didukung oleh berbagai faktor yang
mendorong terciptanya warga negara yang memiliki kesadaran berkonstitusi

17
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat kami simpulkan antara lain yaitu :

Berbagai bentuk kesadaran berkonstitusi warga negara sebagaimana


diuraikan di atas dapat terwujud jika didukung oleh berbagai faktor yang
mendorong terciptanya warga negara yang memiliki kesadaran berkonstitusi

5.2 Saran

Adapun saran yang dapat kami berikan yaitu :

Sebaiknya sebagai mahasiswa hendaknya kita lebih mempelajari lagi tentang


nilai-nilai pancasila untuk menumbuhkan sikap kesadaran kita terhadap nilai-nilai
dalam Pancasila, yang mana ini akan sangat berguna bagi kehidupan kita sekarang
maupun nanti.

18
DAFTAR PUSTAKA

Hamidi, Jazim, dan Mustofa Lutfi, Civic Education, Antara Realitas Politik dan
Implementasi Hukumnya, Jakarta: Gramedia, 2010

Ismaun. Tinjauan Pancasila Dasar Filsafat Negara Indonesia.

Jacob (1999). Nilai-nilai Pancasila sebagai Orientasi Pengembangan IPTEK.


Yogyakarta: Interskip dosen-dosen Pancasila se Indonesia

Kaelan (1986). Filsafat Pancasila. Yogyakarta: Paradigma

Riyanto, A, Teori Konstitusi, Bandung: Yapemdo, 2000.

19
LAMPIRAN

Berikut ini adalah lampiran yang dapat kami berikan dalam proses
miniriset kami :

20