Anda di halaman 1dari 30

A.

Topik : Pengamatan morfologi koloni bakteri dan pewarnaan Gram


B. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini yaitu
1. Mempelajari morfologi koloni bakteri
2. Menentukan sifat Gram dari bakteri yang diperiksa

C. Dasar Teori
Nama bakteri berasal dari bahasa Yunani “bacterion” yang berarti batang atau
tongkat. Bakteri merupakan mikroorganisme prokariotik yaitu tubuhnya terdiri atas
sel yang tidak mempunyai pembungkus inti. Bakteri memiliki ukuran yang sangat
kecil dan hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop. Bakteri tersebar di
mana-mana, di tanah, air, dan di dalam tubuh organisme lain (Pratiwi, 2008).
1. Morfologi Bakteri
Ukuran tubuh bakteri sangat kecil, hanya dapat dilihat dengan menggunakan
mikroskop. Satuan ukuran tubuh bakteri adalah mikrometer atau mikron. Satu
mikron sama dengan 1/1.000 milimeter. Lebar tubuh umumnya antara 1 sampai 2
mikron sedang panjangnya antara 2-5 mikron (Waluyo, 2007).
Bakteri dapat ditumbuhkan dalam suatu medium agar dan akan membentuk
penampakan berupa koloni. Koloni sel bakteri merupakan sekelompok masa sel
yang dapat dilihat dengan mata langsung. Semua sel dalam koloni itu sama dan
dianggap semua sel itu merupakan keturunan (progeny) satu mikroorganisme
dan karena itu mewakili sebagai biakan murni (Kusnadi et al., 2003).
Penampakan koloni bakteri dalam media lempeng agar menunjukkan bentuk
dan ukuran koloni yang khas, dapat dilihat dari bentuk keseluruhan
penampakan koloni, tepi, dan permukaan koloni. Koloni bakteri dapat
berbentuk bulat, tak beraturan dengan permukaan cembung, cekung atau datar
serta tepi koloni rata atau bergelombang dan sebagainya. Pada medium agar miring
penampakan koloni bakteri ada yang serupa benang (filamen), menyebar, serupa
akar, dan sebagainya (Kusnadi et al., 2003). Penampakan koloni bakteri dapat
dilihat pada Gambar 1. Bentuk koloni bakteri pada medium miring yaitu serupa
pedang, berduri, serupa tasbih, bentuk titik-titik, serupa batang, dan serupa akar,
dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 1. Penampakan Koloni Bakteri (Zarpelon et al., 2016).

Gambar 2. Pertumbuhan Koloni Bakteri pada Medium Agar Miring (Cappucino, dan
Sherman, 2014).

Beberapa bentuk dasar bakteri yaitu bulat (coccus), batang atau silinder
(bacillus), dan spiral yaitu bentuk batang melengkung atau melingkar-lingkar
(Pratiwi, 2008). Macam-macma bentuk bakteri daapt dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Macam-macam Bentuk Morfologi Bakteri (American Association for Clinical


Chemistry, 2015)
a. Bakteri kokus (coccus)
Bakteri kokus adalah bakteri yang mempunyai bentuk bulat seperti bola-bola
kecil. Kelompok ini ada yang bergerombol dan bergandeng-gandengan membentuk
koloni. Berdasarkan jumlah koloni, bakteri kokus dapat dibedakan menjadi
beberapa kelompok, yaitu:
1) Monokokus (monococcus), bila bakteri berbentuk kokus dan hidup menyendiri.
2) Diplokokus (diplococcus), bila bakteri berbentuk kokus dan membentuk koloni
terdiri dari dua kokus.
3) Streptokokus (streptococcus), bila koloni berbentuk seperti rantai.
4) Stafilokokus (staphylococcus), bila koloni membentuk untaian seperti buah
anggur.
5) Tetrakokus (tetracoccus), bila koloni terdiri dari empat kokus.
b. Bakteri basil (Bacillus)
Bakteri basil merupakan bakteri yang mempunyai bentuk tongkat pendek atau
batang kecil dan silindris. Sebagian bakteri berbentuk basil. Bakteri basil dapat
bergandeng-gandengan panjang, bergandengan dua-dua, atau terlepas satu sama
lain.
c. Bakteri spiril (Spirilum)
Bakteri spiril merupakan bakteri yang berbentuk bengkok atau berbengkok-
bengkok seperti spiral. Bakteri yang berbentuk spiral sangat sedikit jenisnya.
Golongan ini merupakan memiliki jenis yang paling sedikit jika dibandingkan
dengan golongan basil dan golongan kokus (Pratiwi, 2008).

2. Klasifikasi Gram pada Bakteri


Klasifikasi bakteri di dasarkan pada metode pewarnaan Gram pada saat bakteri
mengalami pertumbuhan, yaitu bakteri Gram positif dan bakteri Gram negatif.
Bakteri Gram negatif adalah bakteri yang tidak mempertahankan zat warna kristal
violet sewaktu proses pewarnaan Gram sehingga akan berwarna merah bila diamati
dengan mikroskop. Sedangkan bakteri Gram positif akan akan berwarna
ungu. Prosedur pewarnaan Gram memudahkan bakteri untuk menahan warna saat
pewarnaan berdasarkan komponen kimia dan karakteriktik fisik dari dinding selnya.
a. Bakteri Gram Positif
Bakteri Gram positif memiliki dinding sel tebal dan saling bertautan tersusun
atas peptidoglikan (50-90% dari dinding sel) yang akan menyerap warna ungu
(Amirta Virtual Lab, 2016). Bakteri Gram positif akan menunjukkan hasil
pewarnaan berwarna ungu pada dinding selnya dari hasil penyerapan zat warna
Kristal violet (American Association for Clinical Chemistry, 2015). Peptidoglikan
tersusun atas sebagian besar polisakarida yang terdiri atas N-acetylglucosamine
dan N-acetyl muramic acid. Lapisan dari peptidoglikan yang berdekatan terbentuk
dan membuat hubungan yang bersilangan oleh rantai peptide dengan bantuan enzim
transpeptidase menghasilkan dinding sel yang berbentuk jelas dan kaku. Struktur
dinding sel bakteri Gram Positif dapat dilihat pada Gambar 2. Struktur lapisan dari
organisme Gram positif yang tebal inilah membuat organisme ini menyerap
kompleks Kristal violet-iodin dan selnya tampak berwarna ungu. Lipoteichoic acid
(LTA) merupakan menyusun utama lain dari bakteri Gram positif yang merekatkan
masing-masing lapisan peptidoglikan. LTA tersusun atas asam teoik dan berperan
sebagai regulator autolitik dari dinding enzim (muramidase) (American Association
for Clinical Chemistry, 2015 dan Amirta Virtual Lab, 2011).

b. Bakteri Gram Negatif


Bakteri Gram negatif akan menunjukkan hasil pewarnaan berwarna merah
atau merah muda pada dinding selnya dari hasil penyerapan zat warna safranin.
Bakteri Gram negatif memiiki stuktur peptidoglikan yang tipis (hanya 10% dari
dinding sel) dan akan kehilangan kompleks Kristal-violet iodin ketika terjadi
pelunturan warna saat dibilas alkohol kemudian menyerap warna tandingan yaitu
safranin. Organisme bakteri Gram negatif memiliki membran luar tambahan yang
mengandung lipid dan terpisah dari dinding sel oleh sisi periplasmi, dapat dilihat
pada Gambar 4 (American Association for Clinical Chemistry, 2015 dan Amirta
Virtual Lab, 2011). Perbedaan sifat bakteri Gram positif dan Gram negatif dapat
dilihat pada Tabel 1.
Gambar 4. Struktur Dinding Sel Bakteri Gram Positif dan Gram Negatif (Giri, 2016).

Tabel 1. Perbedaan Sifat Bakteri Gram Positif dan Gram Negatif

Perbedaan Bakteri Gram Positif Bakteri Gram Negatif


Dinding Sel: Lapisan Lebih Tebal (20-80nm) 1-4% Lebih tipis 11-22 %
peptidoglikan Kadar
Lipid
Resistensi terhadap alkali Tidak larut Larut
(1% KOH)
Kepekaan terhadap Lebih peka Kurang peka
Lodium
Toksin yang dibentuk Eksotoksin Endotoksin
Bentuk Sel Bulat, batang atau filamen Bulat, oval, batang lurus atau
melingkar seperti tanda koma,
heliks atau filament, beberapa
memiliki selubung atau kapsul
Reproduksi Pembelahan biner Pembelahan biner, kadang-
kadang pertunasan
Metabolisme Kemoorganoheterotrof Fototrof, kemolitoautotrof,
atau kemoorganoheterotrof
Resistensi terhadap Lebih tahan Lebih peka
tellurit
Sifat tahan asam Ada yang tahan asam Tidak ada yang tahan asam
Kepekaan terhadap Lebih peka Kurang peka
penisilin
Kepekaan terhadap Tidak peka Peka
streptomisin
Motilitas Kebanyakan nonmotil, bila Motil atau nonmotil. Bentuk
motil tipe flagelanya adalh flagella dapat bervariasi
petritikus (petritrichous)
Anggota tubuh Biasanya tidak memiliki Dapat memiliki pili, fimbriae,
apandase tangkai
Endospora Beberapa grup dapat Tidak dapat membentuk
membentuk endospora endospora
Penghambatan warna Lebih dihambat Kurang dihambat
basa
Kebutuhan nutrien Kompleks Relatif sederhana
Ketahanan terhadap Lebih tahan Kurang tahan
perlakuan fisik
Ilustrasi gambaran setiap perubahan pada tahapan pewarnaan dapat dilihat pada
Gambar 5. Menurut American Association for Clinical Chemistry dan Giri (2015)
serta Acharya dan Amirta Virtua Lab dan Giri (2016) ada empat tahapan dalam
pewarnaan Gram, yaitu (Gambar 5). Ilustrasi gambaran setiap perubahan pada
tahapan pewarnaan dapat dilihat pada Gambar 6.
1. Aplikasi pewarnaan utama dari Kristal violet untuk memperjelas apusan dari
bakteri.
Kristal violet berdisosiasi dalam larutan yang encer menjadi ion CV+ dan
Cl-. Kedua ion ini akan masuk melalui dinding sel dan membran sel baik pada
sel bakteri Gram postif atau Gram negatif. Ion CV+ nantinya akan berinteraksi
dengan komponen bakteri dan membuat sel bakteri menjadi berwarna ungu.

Gambar 5. Tahapan Proses Pewarnaan Gram dan Perubahannya (Acharya, 2015).

Gambar 6. Perubahan warna yang terjadi setiap tahap di proses pewarnaan Gram (Giri,
2016).
2. Penambahakan iodin
Iodin (I- atau I3-) bereaksi sebagai mordant dan sebagai agen perangkap
(trapping). Mordant merupakan substansi yang meningkatkan afinitas dinding
sel untuk pewarnaan oleh pengikatan pewarna utama sehingga terbentuk
kompleks insoluble yang terperangkap dalam dinding sel. Pada reaksi
pewarnaan ini, Kristal violet dan iodin membentuk kompleks insoluble (CV-I)
yang membuat apusan tampak bewarna ungu gelap. Tahapan ini semua sel akan
berubah menjadi berwarna ungu.
3. Dekolorisasi dengan alkohol 95%.
Alkohol atau aseton merupakan larutan yang dapat larut dalam lipid,
membran terluar dari bakteri Gram negatif, dan meninggalkan keberadaan
lapisan peptidoglikan serta meningkatkan positas dari dinding sel. Kompleks
CV-I kemudian terbasuh dari lapisan tipis peptidoglikan sehingga bakteri Gram
negatif menjadi tidak berwarna.
Di lain pihak, alkohol akan menimbulkan efek dehidrasi dari dinding sel
bakteri Gram positif yang menyebabkan adanya pori pada dinding sel untuk
menyusut. Kompleks CV-I akan membentuk ikatan yang kuat pada lapisannya
yang banyak dengan hubungan silang yang semakin meningkat sehingga
dinding sel bakteri Gram positif akan berwarna ungu.
Dekolorisasi harus dilakukan dengan hati-hati sebab dapat menyebabkan
terjadinya over-decolorization. Tahapan ini merupakan tahapan kritis dan harus
benar-benar memperhatikan waktu, jika tidak pewarnaan Kristal violet pada
bakteri Gram positif akan hilang. Jika agen dekolorisasi ini diaplikasikan terlalu
lama, bakteri Gram positif akan menunjukkan sifat bakteri Gram negatif dari
segi pewarnaan. Jika waktu dekolorisasi terlalu singkat juga dapat membuat
pembilasan kompleks CV-I dari sel bakteri Gram negatif tidak maksimal
sehingga bakteri Gram negatif menunjukkan karakteristik pewarnaan dari
bakteri Gram positif.
4. Pewarnaan pembanding dengan Safranin.
Dekolorisasi sel bakteri Gram negatif dapat menyumbangkan penampakan
yang sesuai dengan pewarnaan pembanding. Warna pembanding yang biasanya
digunakan yaitu Safranin. Penampakan warna merah atau pink pada bakteri
Gram positif ditutupi oleh warna ungu dari Kristal violet.

D. Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum diuraikan sebagai berikut.
1. Pengamatan morfologi koloni bakteri
Alat: Bahan:
a. Colony counter Biakan bakteri
b. Inokulum ose

2. Pewarnaan Gram
Alat: Bahan:
a. Korek api a. Aquades steril
b. Pembakar spiritus b. Biakan bakteri
c. Kaca benda c. Larutan ammonium oksalat kristal violet
d. Inokulum ose d. Tissue
e. Inokulum needle e. Larutan Safranin
f. Mangkuk pewarna f. Larutan Ethanol
g. Kawat penyangga g. Air kran
h. Stopwatch h. Larutan iodium
i. Mikroskop i. Minyak imersi
j. Botol cuci j. Xylol
k. Pipet k. Kertas lensa

E. Langkah Kerja
Langkah kerja praktikum diuraikan sebagai berikut.
1. Pengamatan morfologi koloni bakteri

Cawan Petri yang sudah


berisi medium
 Di bawa di tempat yang terdapat banyak orang (dikantin)
 Di buka tutup cawan selama 15 menit
 Ditutup kembali
 Diinkubasi pada suhu 370C diinkubasi selama 1x24 jam atau 2x24
jam
 Di pilih dua macam bakteri yang tumbuh pada cawan petri
 Dihitung jumlah koloni yang sudah dipilih dengan menggunakan
koloni counter
 Dilakukan pengamatan morfologi dua koloni bakteri (warna,
bentuk, tepi, elevasi, kepekatan, mengkilat atau suram dan
diameter koloni)
 Di catat pada lembar pengamatan
Hasil

2. Pewarnaan Gram
Kaca Benda Cawan Petri yang sudah
terdapat bakteri

 Dipilih 2 macam koloni


 Dilewatkan diatas nyala bakteri (sama dengan
api spiritus koloni yang diamati pada
 Ditetesi dengan aquades pengamatan morfologi
steril koloni bakteri)
 Koloni diambil satu oase
dengan menggunakan
jarum inokulum secara
aseptik

 Bakteri koloni diletakan diatas kaca benda


 Difiksasi dengan melewatkan sediaan di atas
nyala api spiritus sebanyak 4 kali
 Diletakan diatas kawat penyangga yang berada
diatas mangkuk
 Ditambahkan reagen violet
 Ditunggu selama 1 menit, dibuang reagen
 Di bilas menggunakan air keran
 Ditambahkan reagen iodin, reagen dibuang
 Ditunggu hingga 2 menit
 Dibilas menggunakan air keran
 Ditambahkan reagen etanol, reagen dibuang
 Ditunggu hingga 1 menit
 Dibilas dengan air keran
 Ditambahkan reagen safonin, reagen dibuang
 Ditunggu hingga 30 detik
 Dibilas dengan air keran
 Di hisap menggunakan tisu
 Diamati menggunakan mikroskop dengan
perbesaran 40x100 dan 100x100
Hasil
3. Pengukuran bakteri

Cawan petri yang sudah


terdapat bakteri

 Dipilih dua macam koloni bakteri (sama dengan koloni yang


diamati pada pengamatan morfologi koloni bakteri)
 Diukur diamater koloni bakteri yang dipilih

Hasil

4. Isolasi bakteri

Cawan petri yang sudah


terdapat bakteri

 Dipilih 2 macam koloni bakteri (sama dengan koloni yang diamati


pada pengamatan morfologi koloni bakteri)
 Bakteri di inokulasi secara aseptik ke medium miring dengan arah
lurus dari permukaan medium miring bagian bawah menuju keatas
 Diinkubasi pada suhu 370C
 Dilakukan pengamatan setelah biakan berumur 1x24 jam
 Dicatat bentuk koloni yang tumbuh pada medium miring

Hasil

F. Data
Data hasil pengamatan diuraikan sebagai berikut.
1. Pengamatan morfologi bakteri
Ciri Koloni 1 Koloni 2 Koloni 3
Morfologi koloni
a. Warna koloni Putih Putih susu Kuning
b. Bentuk koloni Berbenang-benang Bundar Bundar
c. Tepi koloni Bercabang Licin Licin
d. Elevasi koloni Berbukit-bukit Datar Datar
e. Mengkilat/ suram Suram Mengkilat Mengkilat
f. Diameter koloni 0,9 cm 0,5 cm 0,4 cm
g. Kepekatan koloni Tidak pekat Pekat Pekat
h. Jumlah koloni 1 5 2
Ciri lainnya - - -
Asal bakteri Kantin Kantin Kantin
Tipe pertumbuhan pada - Serupa Serupa
medium miring pedang pedang
2. Pewarnaan Gram
No. Koloni Bentuk Sel Warna Sel Sifat Gram Bakteri
1 - - -
2 Bulat (coccus) Merah Gram negatif
3 Bulat (coccus) Merah Gram negatif

3. Perhitungan ukuran sel bakteri


Koloni 2
Ukuran bakteri (100 x 10) = skala ukuran bakteri x 1 µm
= 1 x 1 µm
= 1 µm
Koloni 3
Ukuran bakteri (100 x 10) = skala ukuran bakteri x 1 µm
= 1 x 1 µm
= 1 µm

G. Analisis Data
1. Morfologi Bakteri
Pada pengamatan koloni bakteri, penangkapan bakteri dilakukan di kantin.
Berdasarkan hasil pengamatan pada bakteri koloni 1, didapatkan bahwa koloni
berwana putih, bentuk koloni berbenang-benang, tepi koloni bercabang, elevasi
koloni berbukit-bukit, koloni suram, tidak pekat, dengan diameter koloni sebesar
0,9 cm, dan jumlah koloni 1. Koloni ini tidak tumbuh ketika diinokulasikan pada
medium miring.
Berdasarkan hasil pengamatan pada bakteri koloni 2, didapatkan bahwa koloni
berwana putih susu, bentuk koloni bundar, tepi koloni licin, elevasi koloni datar,
koloni mengkilat, pekat, dengan diameter koloni sebesar 0,5 cm, dan jumlah koloni
5. Tipe pertumbuhan koloni ini pada medium miring adalah bentuk serupa pedang.
Berdasarkan hasil pengamatan pada bakteri koloni 3, didapatkan bahwa koloni
berwana kuning, bentuk koloni bundar, tepi koloni licin, elevasi koloni datar, koloni
mengkilat, pekat, dengan diameter koloni sebesar 0,4 cm, dan jumlah koloni 2. Tipe
pertumbuhan koloni ini pada medium miring adalah bentuk serupa pedang.
Morfologi koloni bakteri dapat dilihat pada Lampiran 1.
2. Pewarnaan Gram
Berdasarkan hasil praktikum yang dilakukan untuk mengetahui sifat bakteri
berdasarkan teknik pewarnaan Gram pada koloni bakteri yang dipilih yaitu koloni
bakteri satu, dua, dan tiga. Koloni bakteri satu tidak diperoleh hasil pewarnaan
Gram karena tidak diperoleh isolat bakteri pada saat pengamatan melainkan hanya
jaringan dari medium agar saja dan serabut. Hasil pewarnaan Gram pada koloni dua
menunjukkan bahwa koloni dua merupakan bakteri Gram-Negatif karena hasil
pengamatan menunjukkan warna dinding sel bakteri merah dengan bentuk bakteri
kokus atau bulat. Hasil pewarnaan Gram pada koloni tiga menunjukkan bahwa
koloni tiga merupakan bakteri Gram-Negatif karena hasil pengamatan
menunjukkan warna dinding sel merah dengan bentuk bakteri kokus atau bulat,
dapat dilihat pada Lampiran 1.
Warna merah yang ditampilkan sebagai hasil pewarnaan Gram berasal dari
warna pembanding dari larutan yang digunakan yaitu larutan Safranin. Penyerapan
warna merah yang ditampilkan oleh sel bakteri akan menunjukkan perbedaan antara
bakteri Gram Positif dan Gram Negatif. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh
perbedaan komponen penyusun dinding sel keduanya. Proses pewarnaan dan
mekanisme kimia yang terjadi pada dinding bakteri sehingga dapat menampilkan
warna merah untuk bakteri Gram Negatif dan warna ungu untuk bakteri Gram
Positif akan dijelaskan lebih lanjut dalam pembahasan.

3. Perhitungan Ukuran Sel


Hasil koloni bakteri yang diamati saat pengamatan pewarnaan Gram juga
digunakan untuk mengetahui ukuran sel bakteri secara individu dalam satu koloni.
Bakteri pada dasarnya tidak memiliki warna sehingga perlu dilakukan pewarnaan
untuk membedakan sel bakteri dan bukan sel bakteri. Berdasarkan hasil
pengamatan pada koloni satu tidak diperoleh bakteri yang dapat diamati karena
lapisan terlalu tipis dan hanya diperoleh jaringan dari medium agar. Hasil
pengamatan selanjutnya pada koloni dua diperoleh hasil perhitungan ukuran sel
bakteri yaitu 1 µm. Hasil tersebut diperoleh dari hasil perkalian antara skala ukuran
bakteri yang tampak pada lensa okuler dengan skala yang sudah ditentukan (pada
perbesaran 1000 x, besar 1 skala = 1 µm) sehingga diperoleh hasil ukuran bakteri
secara individu yang diperoleh dari pengamatan koloni dua yaitu 1 µm, dapat dilihat
pada Lampiran 1.
Perhitungan pada koloni tiga diperoleh hasil perhitungan ukuran sel bakteri
yaitu 1 µm. Hasil tersebut diperoleh dari hasil perkalian antara skala ukuran bakteri
yang tampak pada lensa okuler dengan skala yang sudah ditentukan (pada
perbesaran 1000 x, besar 1 skala = 1 µm) sehingga diperoleh hasil ukuran bakteri
secara individu yang diperoleh dari pengamatan koloni tiga yaitu 1 µm, dapat
dilihat pada Lampiran 1.

H. Pembahasan
1. Morfologi Bakteri
Pengamatan morfologi koloni bakteri dilakukan dengan mata telanjang dan
aspek yang diamati meliputi warna koloni, bentuk koloni, tepi koloni, elevasi koloni,
diameter koloni, kepekatan koloni, jumlah koloni dan koloni mengkilat atau suram.
Pengamatan tentang karakteristik morfologi koloni bakteri perlu dilakukan, agar
mempermudah dalam proses identifikasi jenis bakteri. Hal ini sesuai dengan
pernyataan Lay (1994), bahwa berdasarkan ciri morfologi koloni bakteri dan biakan
murni maka dapat dilakukan proses identifikasi jenis-jenis mikroorganisme, namun
untuk memperoleh hasil identifikasi yang sempurna maka harus dilanjutkan dengan
uji biokimia.
Berdasarkan analisis data diketahui bahwa warna koloni 1, 2, dan 3 berbeda,
koloni 1 berwarna putih, koloni 2 berwarna putih susu, dan koloni 3 berwarna
kuning. Perbedaan warna pada koloni bakteri disebabkan oleh perbedaan pigmen
intraseluler yang dihasilkan oleh bakteri. Pigmen bakteri dapat diklasifikasikan atas
karotenoid, antosianin, melanin, tripirilmethenes dan phenazin. Masing-masing
dari pigmen tersebut akan memberikan warna yang berbeda-beda. Warna merah
dan kuning pada isolat disebabkan adanya karatenoid. Melanin memberikan warna
coklat, hitam dan jingga. Tripirilmethenes adalah pigmen yang dihasilkan oleh
Serratia marcescens dan phenazin memberikan warna jingga kuning, jingga tua dan
merah jingga (Savitri, 2006).
Berdasarkan analisis data bentuk koloni 1 berbenang-benang, koloni 2 bundar,
dan koloni 3 bundar. Bentuk-bentuk koloni bakteri antara lain bundar, bundar
dengan tepian kerang, bundar dengan tepian timbul, bundar dengan tepian
menyebar, konsentris, berbenang-benang, tak beraturan dan menyebar, rizoid,
filiform, kompleks, bentuk L, dan keriput (Kusnadi et al., 2003). Menurut Hidayat
et al. (2006), bentuk koloni dari suatu bakteri dipengaruhi oleh umur dan syarat
pertumbuhan tertentu. Variasi bentuk bakteri yang terjadi juga dipengaruhi oleh
lingkungan (faktor biotik dan abiotik), faktor makanan (medium tumbuh) dan suhu
(minimum, optimum dan maksimum) (Ilyas, 2001).
Berdasarkan analisis data tepi koloni 1 bercabang-cabang, tepi koloni 2 dan 3
licin. Tepi koloni bakteri bervariasi tergantung spesiesnya (Tarigan, 1988). Tepi
koloni antara lain licin, berombak, berlekuk, tak beraturan, siliat, bercabang, seperti
wol, seperti benang, dan seperti ikal rambut (Kusnadi et al., 2003).
Berdasarkan analisis data elevasi koloni 1 berbukit-bukit, tepi koloni 2 dan 3
datar. Elevasi koloni bakteri bervariasi tergantung spesiesnya (Tarigan, 1988).
Elevasi koloni bakteri antara lain: datar, timbul, cembung, seperti tetesan, seperti
tombol, berbukit-bukit, tumbuh kedalam medium, dan seperti kawah (Kusnadi et
al., 2003).
Berdasarkan analisis data diameter koloni 1 sebesar 0,9 cm, koloni 2 sebesar
0,5 cm, dan koloni 3 sebesar 0,4 cm. Ukuran koloni bervariasi mulai dari sebesar
jarum sampai 5-10 mm. suatu mikroba mempunyai ciri-ciri diameter tertentu,
namun ada beberapa faktor yang memengaruhi besarnya diameter tersebut.
Misalnya, hanya koloni-koloni yang menyebar saja yang dapat diukur, karena
koloni ini cenderung memiliki diameter yang besar daripada yang bertumpuk-
tumpuk (Tarigan, 1988).
Berdasarkan analisis data penampakan koloni 1 suram, koloni 2 dan 3
mengkilat. Berdasarkan analisis data kepekatan koloni 1 tidak pekat, dan koloni 2
dan 3 pekat. Koloni 1 digolongkan tidak pekat karena saat disentuh dengan jarum
needle tidak menempel pada jarum, sebaliknya pada koloni 2 dan 3 menempel.
Berdasarkan analisis data jumlah koloni 1 adalah 1, koloni 2 adalah 5, dan
koloni 2. Hal ini menunjukkan bahwa koloni 2 lebih banyak tumbuh pada medium
agar. Menurut Irianto (2006) proses pertumbuhan yang optimal jika berdasarkan
syarat yaitu dengan tersedianya makanan dan energi yang cukup serta keadaan
lingkungan (pH, suhu). Selain itu juga pertumbuhan bakteri dipengaruhi oleh
beberapa faktor seperti substrat pertumbuhan yaitu menggunakan medium agar
pada praktikum ini, pH, temperatur, dan bahan kimia (Dwidjoseputro, 2005).
Berdasarkan analisis data koloni 1 tidak tumbuh pada medium miring,
sedangkan tipe pertumbuhan koloni 2 dan 3 pada medium miring adalah serupa
pedang. Koloni 1 tidak tumbuh pada medium miring karena struktur koloni 1
berbenang-benang dan sulit untuk diambil menggunakan jarum inokulum needle
sehingga jarum yang digoreskan pada medium tidak terdapat bakteri. Hal ini
menyebabkan tidak ada bakteri yang tumbuh pada medium miring. Tipe
pertumbuhan bakteri pada medium miring antara lain serupa pedang, serupa duri,
serupa tasbih, setupa titik-titik, serupa batang dan serupa akar (Hastuti, 2012).

2. Pewarnaan Gram
Pewarnaan merupakan teknik pelengkap yang digunakan dalam teknik
mikroskopik untuk meningkatkan kejelasan gambaran organisme mikroskopik. Zat
warna dan pewarnaan digunakan oleh para peneliti untuk memperjelas struktur dari
spesimen, sel, atau jaringan makhluk hidup yang berukuran mikroskopik (Amirta
Virtual Lab, 2011).
Pewarnaan Gram merupakan teknik pewarnaan yang digunakan untuk
membedakan sifat bakteri dalam dua kelompok yakni kelompok bakteri Gram
positif dan bakteri Gram negatif. Prosedurnya didasarkan pada kemampuan
mikroorganisme untuk menahan atau menyerap warna pada saat pewarnaan
berdasarkan reaksi yang berlangsung. Bakteri Gram negatif ketika diberi larutan
alkohol akan menghilangan warna utama saat pewarnaan yaitu warna ungu yang
dihasilkan dari pewarnaan dengan Kristal violet sedangkan bakteri Gram positif
tidak akan kehilangan warna ungu ketika diberi larutan alkohol sehingga hasil
terakhir ketika diamati tetap berwarna ungu. Setelah pewarnaan selesai akan
tampak bakteri Gram negatif berwarna merah atau merah muda sebagai hasil
penyerapan dari larutan safranin dan bakteri Gram positif menunjukkan warna ungu
sebagai hasil penyerapan dari larutan Kristal violet (Amirta Virtual Lab, 2011).
Pewarnaan Gram merupakan tahap permulaan utama untuk menentukan
karakterisasi utama dan klasifikasi bakteri. Tahap tersebut juga menjadi tahapan
kunci untuk mengidentifikasi bakteri berdasarkan karakteristik pewarnaan ketika
diamati dibawah mikroskop sebab bakteri pada dasarnya tidak berwarna. Oleh
karena itu pemberian warna dengan teknik pewarnaan Gram memudahkan
pengamatan morfologi dan struktur bakteri. Lebih lanjut lagi, tahapan ini dapat
menjadi tahap penting saat screening agen penginfeksi saat pemeriksaan klinis
pasien di rumah sakit.
Berdasarkan hasil paktikum dari tiga macam koloni yang diuji sifat Gramnya
diperoleh hasil bahwa koloni bakteri 1 tidak menunjukkan hasil yang jelas karena
lapisan bakterinya sangat tipis. Koloni bakteri kedua dan ketiga menunjukkan hasil
akhir bakteri berwarna merah dengan bentuk kokus atau bulat (Gambar 7). Artinya
koloni bakteri pertama dan kedua sama-sama masuk dalam golongan bakteri Gram-
Negatif karena berwarna merah sebagai hasil penyerapan pewarna pembanding
Safranin (Gambar 8). Hasil ini sesuai dengan pernyataan American Association for
Clinical Chemistry (2015) dan Amirta Virtual Lab (2011) yang menyatakan bahwa
Bakteri Gram negatif akan menunjukkan hasil pewarnaan berwarna merah atau
merah muda pada dinding selnya dari hasil penyerapan zat warna safranin. Bakteri
Gram negatif memiliki stuktur peptidoglikan yang tipis (hanya 10% dari dinding
sel) dan akan kehilangan kompleks Kristal violet-Iodin ketika terjadi dekolorisasi
dengan dibilas alkohol tapi akan tetap penyerap warna tandingan yaitu safranin.
Bakteri gram negatif memiliki sedikit peptidoglikan namun memiliki lapisan luar
lipopolisakarida dan memiliki konten lipid yang lebih banyak pada dinding selnya
dari pada Gram positif , dapat dilihat pada Gambar 8.

Gambar 7. Hasil Pengamatan Mikroskop Pewarnaan Gram pada Koloni 2 (kiri) dan Koloni
3 (kanan) (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2017).

Hasil tersebut akan berbeda untuk bakteri Gram-positif karena hasil untuk
bakteri Gram positif akan menunjukkan warna ungu (Gambar 9). Pernyataan
tersebut didukung oleh pendapat American Association for Clinical
Chemistry (2015) dan Amirta Virtual Lab (2011) yang menyatakan bahwa Bakteri
Gram positif memiliki dinding sel tebal dan saling bertautan tersusun atas
peptidoglikan (50-90% dari dinding sel), Gambar 10, yang akan menyerap warna
ungu. Bakteri Gram positif akan menunjukkan hasil pewarnaan berwarna ungu
pada dinding selnya dari hasil penyerapan zat warna kristal violet.

Gambar 8. Struktur Dinding Sel Bakteri Gram Negatif (Foster, 2012).

Peptidoglikan tersusun atas sebagian besar polisakarida yang terdiri atas N-


acetyl glucosamine dan N-acetyl muramic acid. Lapisan dari peptidoglikan yang
berdekatan terbentuk dan membuat hubungan yang bersilangan oleh rantai peptida
dengan bantuan enzim transpeptidase menghasilkan dinding sel yang berbentuk
jelas dan kaku. Struktur lapisan dari organisme Gram positif yang tebal inilah
membuat organisme ini menyerap kompleks Kristal violet-Iodin dan selnya tampak
berwarna ungu. Lipoteichoic Acid (LTA) merupakan menyusun utama lain dari
bakteri Gram positif yang merekatkan masing-masing lapisan peptidoglikan. LTA
tersusun atas asam teoik dan berperan sebagai regulator autolitik dari dinding enzim
(muramidase). Alakomi (2007) mengemukakan bahwa membran bakteri
bertanggung jawab dalam berbagai respon sel terhadap agen antimikrobial dan
stress lingkungan.
Gambar 9. Interpretasi dari Pewarnaan Gram (Giri, 2016).

Gambar 10. Struktur Dinding Sel Bakteri Gram Positif (Foster, 2012).

Pada dasarnya hasil akhir dari pewarnaan tersebut berkaitan dengan reaksi
kimia yang berlangsung selama proses pewarnaan dengan 4 macam larutan yang
digunakan. Ada beragam teori yang diajukan untuk menjelasakan kenapa bakteri
mampu menyerap warna dan ada yang tidak. Teori itu didasarkan pada tingkat
keasaman atau pH (bakteri Gram positif berpH 2 dan bakteri Gram negatif berpH
3) serta kehadiran dari Magnesium ribonukleat di bakteri Gram positif dan tidak
ditemukan zat tersebut pada bakteri Gram negatif. Selain itu juga dipengaruhi oleh
dinding sel dan kehadiran dari lipid pada sel bakteri Gram negatif sehingga lebih
akseptabel untuk reaksi pewarnaan (Rao, 2012). Berikut ini tahapan dan prinsip
pewarnaan yang berlangsung sehingga untuk bakteri Gram positif dapat
menunjukkan warna ungu dan bakteri Gram negatif menunjukkan warna merah
atau merah muda (American Association for Clinical Chemistry, 2015). Ilustrasi
gambaran setiap perubahan pada tahapan pewarnaan dapat dilihat pada Gambar 11.
Gambar 11. Perubahan warna yang terjadi setiap tahap di proses pewarnaan Gram (Giri,
2016)

Menurut American Association for Clinical Chemistry dan Giri (2015) serta
Acharya dan Amirta Virtua Lab dan Giri (2016) ada empat tahapan dalam
pewarnaan Gram, yaitu (Gambar 12):
a. Aplikasi pewarnaan utama dari Kristal violet untuk memperjelas apusan dari
bakteri.
Kristal violet (hexamethyl-para-rosaniline chloride) berdisosiasi dalam
larutan yang encer menjadi ion CV+ dan Cl-. Kedua ion ini akan masuk melalui
dinding sel dan membrane sel baik pada sel bakteri Gram postif atau Gram
negative. Ion CV+ nantinya akan berinteraksi dengan komponen bakteri dan
membuat sel bakteri menjadi berwarna ungu.
b. Penambahakan iodin
Iodin (I- atau I3-) bereaksi sebagai mordant dan sebagai agen perangkap
(trapping). Mordant merupakan substansi yang meningkatkan afinitas dinding
sel untuk pewarnaan oleh pengikatan pewarna utama sehingga terbentuk
kompleks insoluble yang terperangkap dalam dinding sel. Pada reaksi
pewarnaan ini, Kristal violet dan iodin membentuk kompleks insoluble (CV-I)
yang membuat apusan tampak bewarna ungu gelap. Interaksi antara Kristal
violet (hexamethyl-para-rosaniline chloride) dengan larutan KI-I2 melalui
pertukaran anion sederhana menghasilkan endapan kimia. Cl- digantikan oleh
bulker iodide (I-) dan kompleks yang terbentuk menjadi tidak larut dalam air.
Tahapan ini semua membuat sel akan berubah menjadi berwarna ungu (Rao,
2012).

Gambar 12. Tahapan Proses Pewarnaan Gram dan Perubahannya (Acharya, 2015)

c. Dekolorisasi dengan alkohol 95%.


Lipid larut dalam alkohol, yang digunakan untuk peluntur warna pada Gram
negative selama pewarnaan Gram. Kompleks CV-I kemudian terbasuh dari
lapisan tipis peptidoglikan sehingga bakteri Gram negatif menjadi tidak
berwarna. Penghilangan lipid oleh peluntur meningkatkan ukuran pori dinding
sel sehingga mempercepat pewarnaan kembali pada bakteri Gram negatif.
Pada bakteri Gram positif, kristal violet menempel pada dinding sel dan
iodin membentuk kompleks yang besar dengan kristal violet di dalam dinding
sel. Kompleks ini terlalu besar untuk melalui peptidoglikan bakteri Gram positif.
Kompleks CV-I akan membentuk ikatan yang kuat pada lapisannya yang
banyak dengan hubungan silang yang semakin meningkat sehingga dinding sel
bakteri Gram positif akan berwarna ungu.
Dekolorisasi harus dilakukan dengan hati-hati sebab dapat menyebabkan
terjadinya over-decolorization. Tahapan ini merupakan tahapan kritis dan harus
benar-benar memperhatikan waktu, jika tidak pewarnaan Kristal violet pada
bakteri Gram positif akan hilang. Jika agen dekolorisasi ini diaplikasikan terlalu
lama, bakteri Gram positif akan menunjukkan sifat bakteri Gram negatif dari
segi pewarnaan. Jika waktu dekolorisasi terlalu singkat juga dapat membuat
pembilasan kompleks CV-I dari sel bakteri Gram negatif tidak maksimal
sehingga bakteri Gram negatif menunjukkan karakteristik pewarnaan dari
bakteri Gram positif.

d. Pewarnaan pembanding dengan Safranin.


Dekolorisasi sel bakteri Gram negatif dapat menyumbangkan penampakan
yang sesuai dengan pewarnaan pembanding. Warna pembanding yang biasanya
digunakan yaitu Safranin. Penampakan warna merah atau pink pada bakteri
Gram positif ditutupi oleh warna ungu dari Kristal violet.

3. Perhitungan Ukuran Bakteri


Berdasarkan hasil analisis, ukuran dari koloni bakteri kedua dan ketiga sama
yaitu berukuran 1 milimikron (1 µm) dengan perbesaran 1000 kali. Hal ini sesuai
dengan pendapat Amirta Virtual Lab (2011) yang menyatakan bahwa bakteri adalah
mikroorganisme uniseluler yang ada di alam. Bakteri memiliki ukuran yang sangat
kecil (berukuran mikron atau 1µm = 10-6 m). Biasanya bakteri memiliki rentang
ukuran 0,5 sampai mendekati 10 mikron. Bakteri sendiri memiliki bentuk morfologi
yang beragam antara lain bentuk kokus (bulat), basil (batang), dan spiral atau koma.
Pada praktikum ini bakteri yang ditemukan memiliki bentuk kokus atau bulat. Pada
diagram di Gambar 13 menunjukkan klasifikasi dasar dari beberapa bakteri yang
penting dalam kehidupan sehari-hari.
Tempat pengambilan kultur bakteri yaitu di kantin FMIPA UM. Bakteri dapat
menyebabkan kerusakan makanan karena memproduksi suatu senyawa (misalnya
metabolit sekunder) yang berdampak pada kualitas makanan. Senyawa yang
dihasilkan meliputi senyawa volatile, enzim lipolitik dan proteolitik, toksin, dan
amino biogenik (Alakomi, 2007). Bakteri juga dapat bersifat pathogen dan
menyebabkan penyakit oleh karena itu kebersihan makanan, alat makan, dan tangan
perlu dijaga agar tidak terjadi kontaminasi bakteri pada makanan.
Gambar 13. Klasifikasi Dasar dari Beberapa Bakteri yang Penting dalam Kehidupan
Sehari-hari (Acharya, 2015)

I. Diskusi
1. Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi jumlah dan jumlah macam bakteri
pada suatu tempat? Jelaskan!
Jawab:
Faktor yang mempengaruhi jumlah dan jumlah macam bakteri pada suatu
tempat antara lain sebagai berikut.
a. Faktor nutrisi
 Karbon
Karbon merupakan kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh bakteri. Karbon
tersebut dapat berasal sari karbon dioksida atau senyawa organik. Karbon
dimanfaatkan sebagai penghasil metabolit organik esensial dan sebagai
sumber pertumbuhan. Bakteri yang berbeda memanfaatkan karbon untuk
kebutuhan yang berbeda pula.
 Faktor pertumbuhan
Sejumlah bakteri heterorofik tidak dapat tumbuh dari suplai satu atau lebih
faktor pertumbuhan. Hal ini menandakan bahwa faktor pertumbuhan
merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberadaan dan jumlah
bakteri di suatu tempat.
 Ion anorganik
Sejumlah kecil ion anorganik dibutuhkan oleh bakteri dalam jumlah yang
kecil. Ion organik tersebut tersusun atas nitrogen, sulfur, fosfor, kalium,
magnesium, dan kalisium
 Oksigen
Kebutuhan oksigen pada bakteri mencerminkan mekanisme yang
digunakan untuk memenuhi kebutuhan energinya.
 Karbon dioksida
Karbon dioksida secara normal dihasilkan oleh katabolisme senyawa
organik, oleh karena itu dinamakan sebagai faktor pembatas.
b. Faktor fisik
 Temperatur
Setiap bakteri memiliki temperatur optimal yang dapat membuat
pertumbuhan bakteri semakin cepat. Bakteri memiliki rentang temperatur
yang menyebabkan mereka dapat tumbuh. Temperatur optimal biasanya
mencerminkan lingkungan normal mikroorganisme.
 Konsentrasi ion hidrogen (pH)
Bakteri membutuhkan pH yang berbeda untuk setiap jenisnya. Perbedaan
ini disebabkan oleh proses metabolisme yang terjadi di dalam sel.
 Kondisi omotik
Konsentrasi larutan yang aktif secara osmotic di dalam sel bakteri umumnya
lebih tinggi dari konsentrasi di luar sel. Sebagian besar bakteri yang
mengalami kerusakan dinding selnya akan mengalami kerusakan dinding
sel, tidak toleran terhadap pertumbuhan osmotik dan akan mengembangkan
sistem transport kompleks dan alat pengatur sensor-osmotik dan
memelihara keadaan osmotic konsentrat dalam sel.
 Potensial reduksi-oksidasi
Mikroba memiliki derajat sensitifitas tertentu terhadap potensial reduksi-
oksidasi dari medium pertumbuhannya. Potensial oksidasi-reduksi dari
suatu substrat merupakan nilai kemudahan substrat tersebut dalam
mengeluarkan dan mendapatkan elektron.

2. Apakah kegunaan biakan murni bakteri?


Jawab:
Lay (1994) menyatakan bahwa biakan murni merupakan biakan yang hanya
mengandung satu jenis bakteri. Manfaat biakan murni yaitu mendapatkan 1
jenis spesies dan mempelajari morfologi, fisiologi, biokimia, genetika, atau
kegiatan apapun dari mikroba hanya dapat dilakukan apabila kita telah
mempunyai isolate murni (Dwidjoseputro, 2005).

3. Mengapa terjadi perbedaan reaksi dan hasil pewarnaan antara bakteri gram
positif dan gram negatif? Jelaskan proses kimiawi yang terjadi dalam proses
pewarnaan Gram!
Jawab:
Karena terdapat perbedaan susunan dinding sel antara bakteri Gram
positif dan Gram negatif. Dinding sel bakteri Gram negatif lebih rumit
susunannya daripada bakteri Gram positif. Dinding sel bakteri Gram positif
hanya tersusun dari satu lapisan saja, yaitu lapisan peptidoglikan yang relative
tebal, sedangkan dinding sel bakteri Gram negatif mempunyai dua lapisan sel,
yaitu lapisan luar tersusun dari lipopolisakarida dan protein, dan lapisan dalam
tersusun dari peptidoglikan tetapi lebih tipis dari peptidoglikan pada bakteri
Gram positif (Timotius, 1982).
Bakteri Gram negatif zat lipidnya akan larut selama pencucian dengan
alkohol, pori-pori pada dinding sel akan membesar, permeablilitas dinding sel
menjadi besar, sehingga zat warna yang sudah diserap dilepaskan dan bakteri
menjadi tidak berwarna, sedangkan pada bakteri Gram positif akan mengalami
denaturasi protein pada dinding selnya karena pencucian alkohol. Protein
menjadi keras dan kaku, pori-pori mengecil, permeabilitas kurang sehingga
kompleks kristas ungu iodium dipertahankan dan sel bakteri tetap berwarna
ungu, seperti pada Gambar 14 (Talaro dan Talaro, 2002).

Gambar 14. Reaksi Pewarnaan Gram (Talaro dan Talaro, 2002).

J. Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum yang dilakukan diuraikan sebagai berikut.
1. Morfologi koloni bakteri memiliki karakteristik berbeda-beda tergantung dari
jenis bakterinya. Warna koloni 1, 2, dan 3 berbeda, koloni 1 berwarna putih,
koloni 2 berwarna putih susu, dan koloni 3 berwarna kuning. Bentuk koloni 1
berbenang-benang, koloni 2 bundar, dan koloni 3 bundar. Tepi koloni 1
bercabang-cabang, tepi koloni 2 dan 3 licin. Elevasi koloni 1 berbukit-bukit,
tepi koloni 2 dan 3 datar. Diameter koloni 1 sebesar 0,9 cm, koloni 2 sebesar
0,5 cm, dan koloni 3 sebesar 0,4 cm. Penampakan koloni 1 suram, koloni 2 dan
3 mengkilat. Kepekatan koloni 1 tidak pekat, dan koloni 2 dan 3 pekat. Setelah
ditmbuhkan pada medium miring, koloni 1 tidak tumbuh, sedangkan tipe
pertumbuhan koloni 2 dan 3 pada medium miring adalah serupa pedang.
2. Prinsip pewarnaan Gram yaitu didasarkan pada kemampuan mikroorganisme
untuk menahan atau menyerap warna pada saat pewarnaan berdasarkan reaksi
yang berlangsung. Bakteri Gram negatif ketika diberi larutan alkohol akan
menghilangan warna utama saat pewarnaan yaitu warna ungu yang dihasilkan
dari pewarnaan dengan Kristal violet sedangkan bakteri Gram positif tidak akan
kehilangan warna ungu ketika diberi larutan alkohol sehingga hasil terakhir
ketika diamati tetap berwarna ungu. Setelah pewarnaan selesai akan tampak
bakteri Gram negatif berwarna merah atau merah muda sebagai hasil
penyerapan dari larutan safranin dan bakteri Gram positif menunjukkan warna
ungu sebagai hasil penyerapan dari larutan Kristal violet. Hasil praktikum
menunjukkan bahwa bakteri pada koloni 2 dan 3 termasuk bakteri Gram negatif
karena berwarna merah (menyerap Safranin sebagai pewarna pembanding).
Saat diamati dibawah mikroskop, bakteri pada koloni 2 dan 3 berbentuk coccus
dan memiliki ukuran 1 mikron.

K. Saran
Saran diuraikan sebagai berikut.
1. Kebersihan lingkungan dan makanan perlu dijaga karena mikrobia kontaminan
yaitu bakteri dapat berkembang di tempat yang sesuai dan apabila masuk ke
tubuh manusia berpotensi menyebabkan penyakit.
2. Saat praktikum (sebelum dan sesudah praktikum) kebersihan alat, tempat, dan
tangan perlu dijaga untuk mencegah masuknya mikrobia yang diteliti pada
tubuh yang beresiko menimbulkan penyakit.

L. Daftar Rujukan
Acharya, T. 2015. Gram Staining Principle Procedure Result. (online),
(http://microbeonline.com/gram-staining-principle-procedure-results/,
diakses 8 Februari 2017).

Alakomi, H.L. 2007. Weakening of the Gram-Negative Bacterial Outer


Membrane. Finland: VTT Technical Research Center of Finland.

American Association for Clinical Chemistry, 2015. Gram Stain.


(online),(http://ascc.com/gram-stain/, diakses 8 Februari 2017).
Amrita Virtual Lab, 2011. Gram Stain Technique.
(online),(http://vlab.amrita.edu/?sub=3&brch=73&sim=208&cnt=1,
diakses 8 Februari 2017).

Cappucino, J.G. dan Sherman, N. 2014. Microbiology: A Laboratory Manual 10th


edition. USA: Pearson Education, Inc.

Dwidjoseputro, D. 2005. Dasar-dasar Mikrobiologi. Djambatan: Jakarta.

Foster, T.J. 2012. Bacterial Cell Structure. (online),


(https://www.tcd.ie/Biology_Teaching_Centre/assets/pdf/by1101/tfby1101/
tfby1101-lecture2-2012-col.pdf, diakses tanggal 9 Februari 2016).

Giri, D. 2015.Gram Staining Principle Procedure Interpretation and Animation


(online), (http://laboratoryinfo.com/gram-staining-principle-procedure-
interpretation-and-animation/, diakses 8 Februari 2017).

Hastuti, U.S. 2012. Petunjuk Praktikum Mikrobiologi. Malang: UMMPress.

Hidayat, N., M.C. Padaga, S. dan Suhartini. 2006. Mikrobiologi Industri.


Yogyakarta: Penerbit ANDI.

Ilyas, S. 2001. Mikrobiologi Dasar Diklat Kompilasi 28. Medan: Universitas


Sumatra Utara. Press.

Irianto, K. 2006. Mikrobiologi: Menguak Dunia Mikroorganisme Jilid 2.


Bandung: CV. Yrama Widya.

Kusnadi, P., Syulasmi, A., Purwianingsih, W., dan Rochintaniawati, D. 2003.


Mikrobiologi. Bandung: JICA-IMSTEP.

Lay, B.W. 1994. Analisis Mikroba di Laboratorium. Jakarta: PT Raja Grafindo


Persada.

Pratiwi, S.T. 2008. Mikrobiologi Farmasi. Jakarta: Erlangga.

Savitri, S.D.N. 2006. Isolasi dan Karakterisasi Bakteri Halotoleran pada Ikan
Kembung (Rastrelliger sp.). Skripsi. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Talaro, K.P. dan Talaro, A. 2002. Foundations in Microbiology. USA: McGraw-


Hill companies.

Tarigan, J. 1988. Pengantar Mikrobiologi. Jakarta: Depdiknas.

Timotius, K.H. 1982. Mikrobiologi Dasar. Salatiga: Universitas Kristen Satya


Wacana.

Waluyo, L.2009 Mikrobiologi Lingkungan. Malang: UMM Press.


Zarpelon, T.G., Guimarães, L.M.S, Alfenas-Zerbini, P, Lopes, E.S., Mafia, R.G.,
dan Alfenas, A.C. 2016. Rhizobacterial Characterization for Quality
Control of Eucalyptus Biogrowth Promoter Products. Brazilian Journal of
Microbiology. 47(4).
Lampiran 1: Gambar Hasil Praktikum

A B
Gambar 1. Pertumbuhan Koloni Bakteri 3 (A) dan Koloni Bakteri 2 (B) pada Medium Agar
Miring (Dokumentasi pribadi, 2017).

Gambar 2. Hasil Pewarnaan Gram Koloni Bakteri 2 (perbesaran 40 x 10) (Sumber:


Dokumentasi pribadi, 2017).
Gambar 3. Pengukuran Bakteri pada Koloni 2 (perbesaran 100 x 10) (Sumber: Dokumentasi
pribadi, 2017).

Gambar 4. Hasil Pewarnaan Gram Koloni Bakteri 3 (perbesaran 40 x 10) (Sumber:


Dokumentasi pribadi, 2017).

Gambar 5. Pengukuran Bakteri pada Koloni 3 (perbesaran 100 x 10) (Sumber: Dokumentasi
pribadi, 2017).