Anda di halaman 1dari 15

TRANSAKSI-TRANSAKSI KHUSUS

OLEH
1. KOMANG IRA MEINDRAWATI (1533121243)
2. FRANSISCA AYU EKA SUKMARIANI (1533121302)
3. NI PUTU KIKI MIGANTARI (1533121350)

UNIVERSITAS WARMADEWA
FAKULTAS EKONOMI
2018

Transaksi-transaksi khusus

1
1. Build, operate & transfer (BOT)

Bangun Guna Serah adalah bentuk perjanjian kerjasama yang


dilakukan antara pemegang hak atas tanah dengan investor yang menyatakan
bahwa pemegang hak atas tanah memberi hak kepada investor untuk
mendirikan bangunan selama masa perjanjian BOT dan mengalihkan
kepemilikan bangunan kepada pemegang hak atas tanah setelah masa guna
serah (BOT) berakhir.
Perlakuan Perpajakan
a. Bagi investor
1. Penghasilan berupa penerimaansewa/penguasaan,hotel/penerimaan
lain sehubungan dengan pengoperasian gedung
2. Imbalan yang diterima dari pemegang hak atas atas tanah apabila
masa BOT diperpendek dan periode yang dijanjikan
3. Biaya yang boleh dikurangkan adalah biaya sebagaimana di atur
dalam pasal 6 ayat 1 dan dengan memperhatikan pasal 9 ayat 1 UU
No.17/2000
4. Biaya pendirian bangunan diamortisasi secara garia lurus seauai
periode BOT, dimulai pada saat bangunan digunakan.
5. Apabila periode BOT di perpendek dari periode yang telah
ditetapkan, maka sisa nilai buku bangunan diamortisasi sekaligus
pada saat berakhirnya BOT tersebut.
b. Bagi pemegang hak atas tanah
1. Pembayaran berkala yang di terima dari investor selama masa BOT
2. Bagian sewa atau keuntungan dan penghasilan lainnya sehubungan
dengan perjanjian BOT
3. Dalam hal bangunan yang didirikan oleh investor sebagian
diserahkan kepada pemegang hak tas tanah
4. Bangunan yang diserahkan oleh investor pada akhir BOT
5. Biaya yang boleh dikurangkan oleh pemegang hak atas tanah
selama periode BOT

2. Joint Operation/Konsorsium, Kepastian Hukumnya dan Tax


Planningnya

2
Banyak proyek di Indinesia yang dikerjakan serta menjadi tanggung
jawab dari beberapa perseroan atau subyek pajak yang didirikan dan
berkedudukan di Indonesia, atau didirikan oleh berkedukan di luar Indonesia.
Bagi Pengusaha yang memeIliki peluang investasi tetapi tidak memiliki dana
atau aset yang cukup, dapat membentuk keejasama operasi atau aliansi
strategic antar badan, yakni Konsorsium atau Joint Operation (JO). Pada
Proyek berskala besar, peran perusahaan-perusahaan besar dan perusahaan-
perusahaan asing sangat dominan. Jika bentuk kerjasama konsorsium/JO ini
dapat diaplikasikan dalam berbagai proyek di sektor perekonomian lainnya,
dalam perpsektif jangka panjang bisa menjadi suatu terobosan pendanaan
proyek untuk pemerdayaan UMKM dan koperasi.
Aspek Perpajakan Kerjasama Administratif Formal atau Administrative JO
Kontrak dengan pihak pemberi kerja atau project owner ditandatangani
atas nama JO. Dalam hal ini JO dianggap seolah-olah merupakan entitas tersendiri
yang terpisah dari perusahaan para anggotanya. Tanggung jawab pekerjaan
terhadap pemilik proyek berada pada entitas JO, bukan pada masing-masing
anggota JO. Masalaj pembagian modal kerja atau pembiayaan proyek, pengadaan
peralatan, tenaga kerja, biaya bersama, serta pembagian hasil sehubungan dengan
pelaksanaan proyek didasarkan pada porsi pekerjaan masing-masinh yang
disepakati dalam sebuah Joint Operation Agreement.
Aspek Perpajakan Kerjasama Operasional atau Non Administrative JO
JO dengan tipe ini dikalangan pengusaha jasa kontruksi sering disebut
sebagai Konsorsium dimana kontrak dengan pihak pemilik proyek dibuat
langsung atas nama masing-masing perusahaa anggota. Dalam hal oni JO hanya
sebagai alat koordinasi. Tanggung jawab pekerjaan terhadap project owner berada
pada masing-masing anggota. Jadi dapat disimpulkan, bahwa Non Administrative
JO tidak wajib memiliki NPWP dan tidak wajib menyelenggarakan pembukuan.

Perlakuan Perpajakan atas Joint Operation (JO)

3
I. Perlakuan Pajak Penghasilan Atas JO

Status Subjek dan Kewajiban Pajak dari JO


1. Joint operation (JO)adalah kerjasama operasi dua badan atau lebih
yang sifat nya sementara untuk melaksanakan suatu proyek tertentu
sampai proyek tersebut selesai dikerjakan.
2. Karena JO tidak termasuk subjek pajak PPh, maka penghasilan
yang diterima suatu JO sebenarnya adalah penghasilan para
anggota yang besarnya bagian masing-masing ditentukan sesuai
perjanjian.
3. Kewajiban pajak lain yang pada JO adalah sebagai wajib pajak
pemotong atau pemungut PPh pasal 21, PPh pasal 23, PPh pasal 26
serta PPN.
4. Mengingat bahwa JO bukan merupakan subjek pajak, maka JO
tidak berkewajiban untuk menyampaikan SPT PPh Badan dan
membayar PPh pasal 25 serta PPh pasal 29

Mekanisme Pemecahan Bukti Potong PPh Pasal 23


Untuk maksud itu Surat Edaran Dirjen Pajak mengatut mekanisme pemecahan
bukti potongan sebagai berikut yaitu, Jika belum dilakukan pemotongan PPh pasal
23 dan Jika terlanjur dilakukan pemotongan PPh Pasal 23 atas nama JO.

II. Perlakuan PPN Atas JO

Status dan Kewajiban PPN dari JO


1. JO dan anggota harus terdaftar sebagai Pengusaha Kena Pajak
2. Atas penyerahan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak dari JO
kepada pemilik proyek tidak di pungut PPN
3. Atas penyerahan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak dari JO
kepada JO, terutang PPN dan anggota JO harus membuat faktur
pajak kepada JO
4. Atas perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak oleh
anggota JO tetap terutang PPN yang merupakan pajak masukan
bagi anggota JO tersebut.

4
Manajemen Pajak untuk Konsorsium/JO
Manajemen pajak yang baik bila didiesain sesuai ketentuan perpajakan,
mendapatkan komitmen dari manajemen, dan didukung dengan administrasi
perpajakan dan pembukuan yang baik, akan memberikan manfaat, yaitu
:Meminimalkan terjadinya kejutan pajakDan dapat menjalankan kewajiban dan
haknya dibidang perpajakan secara efisien dan efektif
Kepastian Hukum Terhadap Pemajakan Atas JO
Sudah 25 tahu reformasi perpajakan diluncurkan tahun 1983, namun
hingga kini belum ada satu ketentuan dalam undang-undang pajak maupun
Peraturan Pemerintah dan Peraturan/Keputusan Menteri Keuangan yang mengatur
pemajakan atas JO. Hanya ada satu rulingsetingkan Surat Edaran Dirjen Pajak,
yaknj SE No.44/PJ./1994 tentang mekanisme pemecahan bukti potong PPh pasal
23 yang dikaitkan dengan SE No 26/PJ.9/1991 tentang petunjuk Teknis
Pemindahan Bukuan. Selain itu hanya surat-surat khusus sebagai jawaban dari
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan wajib pajak yang dijadikan “acuan hukum”
yang berlaku bagi wajib pajak untuk kasus yang dipertanyakan.

1. Hospitality Industry
(I) Golf

Tax review di polemik antara kalangan pengusaha golf dan pihak


fiskus yang tidak bisa diselesaikan melalui jalur hukum formal dalam
batasan undang-undang perpajakan, baik pajak pusat mauoun pajak
daerah.
Pemajakan Industri Golf Mau Dibawa Kemana ?
Dengan diberlakukanya Undang-undang Nomor 28 tahun 2009 tentang
pajak dan retribusi daerah, industri golf termasuk dalam pajak daerah yang
dikenai pajak hiburan, padahal sebelum undang-undang tersebut diterbitkan,
lapangan golf merupakan objek Pajak Pertambahan Nilai, dimana PPN masukan
dapat dikreditkan dengan PPN keluaran pada masa pajak yang sama. Konsekuensi
dari pembukuan Undang-Undang No. 28 tahun 2009 adalah pada perlakuan
perpajakanya, dimana PPN masukan lapangan Golf menjadi pungutan pajak yang

5
tidak dapat dikreditkan oleh perusahaan lapangan golf dan harus dibiayakan,
sehingga meenambah beban industri ini.

Ambivalensi Pemerintah dalam Perlakuan Pemajakan Industri Golf Di


Indonesia
Dalam pasal 42 ayat 2 huruf g dan h undang -undang No 26 tahun 2009
tentang pajak daerah dan retribusi daerah, antara lain dinyatakan, bahwa
permainan bilyar, golf, dan boling serta pacuan kuda, dan kendaraan bermotor
digolongkan kedalam pajak hiburan. Selanjutnya dalam ayat 3 dinyatakan
“penyelenggaraan hiburan sebagaimana dimaksud pada ayat 2 dapat dikecualikan
dengan Peraturan Daerah”. Namun disisi lain, bilyar, golf, dan boling dan boling,
berkuda, dan lomba yang oleh Komite Olahraga Nasional dan Komite Olimpiade
Indinesia telah diterapkan sebagai cabanh olahraga prestasi dan telah
diperbandingkan dalam kejuaraan tingkat nasional dan internasional.

Desakan Pemerintah Pusat (Menpora)


Untuk menyelamatkan pemasukan keuangan daerah dam kebutuhan
APBD nya, kalangan DPR lebih berpihak pada aspirasi daerah untuk
menempatkan olahraga golf dalam kategori objek pajak hiburan dalam undang
pajak daerah dan restribusi daerah, ketimbang berpihak pada kepentingan
pengusaha golf, yang mau tidak mau terbebani dengan ekstra cost yang timbul
dari pajak hiburan tersebut

Dasar Hukum Perpajakan Industri Golf


1. Dalam Undang-Undang No 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah, BAB VI
Pajak Hotel, pasal 38 ayat 2 menjelaskan bahwa yang tidak termasuk
objek pajak adalah penyewaan rumah atau kamar, pelayanan tinggal
asrama dan fasilitas olahraga dan hiburan.
2. Undang-Undang No 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah, pasal 42 menjelaskan bahwa Objek Pajak Hiburan dan hiburan
seperti tontonan fIlm, pameran dan sirkus

6
3. Berdasarkan pasal 4A ayat 3 Undang-Undang No 8 Tahun 1983 tentang
Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atau
Barang Mewah.

Kepastian hukum antara daerah dan pusat


Kepastian hukum tampak kabur dan keadilan pajak pertanyakan karena
keberadaan industri golf dalam UU PPN No 28 tahun 2009 tentang pajak daerah
dan retribusi daerah yang diberlakukan. Adanya tarik menarik antara pajak pusat
dan pajak daerah, pengusahamenajdi terjepit diantara dua kekuataan besar
tersebut. Keduanya memiliki legitinasi hukum tetapi dari aspek keadikan pajak
dan efesiensinya, sangat merugikan pengusaha. Keadilan pajak menajdi barang
langka, karena upaya mengatasi ketidakadilan menjadi benih ketidakadilan pajak
bagi pengusaha. Pajak hiburan 10% dari pendapatan golf dvsuatu daerah akan
menguras locek pengusaha dan menambah beban operasional lapangan golf,
karena pajak daerah tidak dapat dikreditkan sepertv pajak pertambahan nilai yang
pajaknya dapat dibebankan kepada konsumen. Jadi industrv golf ini learning
curve untuk mencapai break even apalagi memperoleh profit butuh waktu yang
cukup lama, karena nilai investasinya sangat mahal, biaya operasinal lapangan
golf, pupuk, biaya mesin sangat besar.dvsisi lain tiket masuk green fee, caddy
fe,buggy fee tidak bias tinggi apalagi bila harus ditambah dengan beban pajak
hiburan 100% ke kas pemda karena tidak bias dikreditkan. Semua ini akan
berdampak negative dan kontraproduktif bagi pengembangan industry golf
pemerintah atau pemda kurang tanggap. Bagaimana pun pemerintah pusat dan
pemerintah daerah harus bertanggung jawab terhadap pembinaan dan
pengembangan olahraga golf. Secara psikologis tindakan itu kontraproduktif bagi
industry golf, mengurangi kenyamanan dam mempersempit ruang gerak mereka
dengan batasan-batasan ekonomis- politis.

Persektif pajak golf:maju kena mundur kena


Dipicu oleh otonomi daerah yang lebih mengedepankan pembagian jatah
‘’kue’’ yang lebih besar untuk kepentingan daerah, para fungsionaris legislative
dan eksekutif tidak lagi berfikir kaidah normative dari perakuannya pajak
pendapatan atau melibatkan kajian histrorisnya. Bagi mereka selama masih ada

7
titik persinggungan dengan kegiatan wisata atau hiburan, maka golf dikenakan
pajak daerah/ hiburan, tanpa memperduli pandangan orang atau negara lain.
Pungutan PPN masukan dan pajak daerah bagi perusahaan golf tidak sama dengan
pajak penjualan, semuanya di perlakukan sebagai ‘’dibiayakan’’ dalam
pembukuan perusahaan golf, disatu sisi pengenaan PPN masukan dengan tariff
10% dari nilai pembelian barang dan jasa harus dibiayakan, atas pembayaraan
pajak daerah 10% dari pendapatan golf ke kas daerah juga harus di biayakan.

Dampak positif
Upaya yang harus ditempuh untuk menuju terciptanya kondisi yang lebih teknis
dalam pemajakan atas pendapatan industry golf adalah:
 Tercipatnya iklim perpajakan yang lebih mendorong tumbuh dan
berkembangnya industry golf serta pembinaan atau pengembangan olah
taga di Indonesia
 Terciptanya moral perpajakan yang leih baik. Untuk membidik
pendapatan daerah yang lebih tinggi, tidak perlu dilakukan dengan
‘’mendegradas I’’ klasifikasi pajak yang mestinya pajak pusat menjadi
pajak daerah
 Merapatkan mata rantai pemejakan PPN untuk mencegah distrosi agar
hak pengkreditan pajak masukan tidak terganggu
 Mengikatkan kepastian hukum tentang PPN atas pendapatan golf
 Prisip keadilan dalam proses pemajakan dikedepankan
 Menghilangkan pemejakan ganda yang merugikan pengusaha golf akibat
high cost economy

(II) aspek perpajakan hotel dan tax plainingnya

Pendahuluan
Ditengah tingginya pertumbuhan hospitality industry salah satu peluang
bisnis menjanjikan adalah menjadi penusaha hotel. Usaha perhotelan (hotel
berbintang) di seluruh Indonesia tahun 2010 mengalami pertumbuhan sebesar

8
yang cukup signifikan. Menurut kepala BPS rusman heriawanpertumbuhan
ekonomi kuartal pertama tahun 2010 sebesar 5,7 persen , hotel dan restoran
tumbuh sebesar 9,3 persen. Hotel adalah fasilitas penyediaan jasa penginapan atau
peristirahatan termasuk jasa terkait dengan dipungut bayaran. Hotel ini
mencakup juga motel,losmen,gubuk pariwisata, wisma pariwisata,pesanggrahan,
rumah penginapan, serta rumah kos dengan jumlah kamar lebih 20. Pajak hotel
merupakan pajak daerah masng-masing daerah memiliki peraturah daerah sendr.
Pada dasarnya subjek dan objek pajak sama saja disemua propinsi. Dalam
mengukur kinerja hotel ada benchamark yang dapat digunakan sebagai indicator
pengukur kesuksesaan manajeman hotel misalnya accupany rste, F&B ratio,
tergantung pada besarnya investasi. Biasanya hotel juga dengan acupany rate
dibawah 50% masih belum memperoleh laba operasi. Tax plaining sangat penting
untuk diterapkan dalam stretegi manajeman perusahaan hotel terkait dengan
strategi penerapan peraturan perpajakan secara efektif dan efisien untuk
kelangsungan usaha. Perencanaan pajak adalah suatu keniscayaan bagi setiap
perusahaan yang menginginkan adanya tax saving, sepanjang cara-cara yang
ditempuh masih dalam koridor UU perpajakan. Menyusun perencanaan pajak
sejak dini, perusahaan akan bias terhindar dari segala hal yan bias mengakibatkan
meningkatnya beban pembayaraan pajak dikemudian hari. Pemahaman konsep
PPN dan Pajak hotel ini sangat diperlukan bagi pengusaha hotel dalam praktik
dilapangan masih banyak pengusaha tidak bias membedakan mana jenis usaha
yang terkena pajak daerah dan yang terkena pajak pertambahan nilai. Kebetulan
tarifnya sama yaitu 10%. Pajak hotel dikategorikan sebagai pajak daerah, tidak ad
faktur pajak yang diberikan kepada penyewa karena atas pembebanan pajak
daerah langsung dapat dibiayakan oleh penyewa kamar hotel.

Aspek Pajak Pertambahan Nilai


Hotel adalah subjek pajak daerah. Setiap pembelian barang konsumsi dan
barang modal terkena PPN sedangkan pendapatan hotel buka merupakan objek
PPN. Akibatnya terjadi penumpukan PPN masukan sedangkan PPN keluaraan
praktis nihil jumalahnya tidak signifikan. Bila hal ini dibiarkan tanpa adanya plan
of action yang jelas, ketidakseimbangan cash flow terjadi dan mengganggu daya

9
dukung cash manajement perusahaan. Cash flow adalah urat nadi yang
menentukan kesehataan perusahaan dan itu sistem pengamanan harus
diprioritaskan. Admnistrasi dan perencanaan harus tertata dan dikelola dengan
baik dan kokoh dan sebab harus dijadikan salah satu barometer kinerja finansial.

Aspek Pajak Penghasilan


a. Tax shifting
Selan baya F&B restoran, pengeluaran biaya yang paling besar disektor
usaha hotel adalah biaya tenaga kerja. Hotel adalah bidang usaha yang
menyerap banyak tenaga kerja manusia. Tahap awal recruitement
perusahaan harus menggantisipasi terjadinya penggeseran beban pajak
penghasilan karyawan agar tidak menjadi beban perusahaan dikemudian
hari. Kebijakan bertujuan untuk menghemat beban pajak perusahaan mulai
didirikan strategi ini diimplementasikan semua tingkat karyawan, semua
biaya ikutan seperti lembur, tunjangan, transportasi, THR, pesangon,
pengganti cuti, akan mengacu pada kebijakan dasar itu.
b. Memerdayakan tenaga outsourcing
Cara lain resiko atau beban pajak adalah dengan memberdayakan tenaga
sebanyak mungkin sepanjang tidak melanggar regulasi pemerintah .
pengarahan tenaga kerja bukan kebijakan yang populsi dimata pekerja dan
memliki hubungan dalam serkat pekerja dan ketenaga kerjaan dari aspek
perpajakan kita menemukan perlakuan kerjaan yang berbeda dalam
perhitungannya berdampak timbulnya mengenai sanksi perpajakan terkat
dengan ppn dan pengenaan sanksi perpajakan.

Dilema Event Organizer


Dalam konteks penyelenggaraan Jasa Pelatihan Publik, jika
karakteristiknya sudah solid seperti tema acara pelatihan yang sudah menjadi
trade mark, memiliki program reguler atau berupa paket in house traning, service
blueprint yang standar, dengan target audience yang jelas dan calon sponsor
potensialnya yang mendukung, kenapa tidak meningkatkan status dari

10
penyelenggara kegiatan EO menjadi penyelenggara jasa pelatihan dari sebuah
institusi pendidikan. Perubahan ini membawa konsekuensi, kalau tadinya
merupakan profesi penyelenggara kegiatan, sekarang berubah bentuknya menjadi
Pusat Jasa Pelatihan/Pendidikan Tenaga Kerja atau Sumber Daya Manusia. Untuk
menjamin kepastian hukum dalam bidang perizinan usaha serta perlakuan
perpajakannya, restrukturisasi bisnis saja tidak cukup, dan bisa dipersoalkan oleh
instansi terkait, misalnya dalam perlakuan perpajakannya dan lain-lain. Oleh
sebab itu, izin penyelenggaraan pelatihan tenaga kerja yang dikeluarkan oleh
kepala dinas tenaga kerja departemen tenaga kerja (depnaker) mutlak diperlukan

Aspek Perpajakannya
a. Jasa Event Organizer
Berdasarkan pasal 4 ayat 1 UU PPN No.42 tahun 2009 disebutkan
bahwa PPN dikenakan atas penyerahan Jasa Kena Pajak di dalam daerah
pabean yang dilakukan oleh pengusaha. Dengan memperhatikan Pasal 4 A
ayat (3), jelas bahwa jasa EO tidak terdaftar dalam kelompok jasa tertentu
yang tidak dikenai pajak pertambahan nilai, dan oleh sebab itu jasa EO adalah
merupakan objek pengenaan PPN dengan tarif umum 10%. UU No.36 Tahun
2008 yang selanjutnya peraturan pelaksanaanya diatur dengan peraturan
menteri keuangan No.244/PMK.03/2008 ditegaskan bahwa Jasa EO
merupakan objek pengenaan PPh Pasal 23 di potong Pajak Penghasilan
sebesar 2% dari jumlah bruto tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai.

b. Jasa Pendidikan/Pelatihan Publik


Tabel 1-Event Organizer
No Items Jasa PPN PPh Pasal 23
1 Jasa Penyelengara kegiatan Dikenakan PPN Dipotong PPh Ps.23
10% dari tagihan oleh klien-tarif 2%
jasa
2 Jasa In House Traning Dikenakan PPN Dipotong PPh Ps.23
10% dari tagihan oleh klien-tarif 2%
jasa

11
No Items Jasa PPN PPh Pasal 23
1 Jasa Penyelengara kegiatan Tidak Dikenakan Tidak Dipotong PPh
PPN Ps.23 oleh klien
2 Jasa In House Traning Tidak Dikenakan Tidak Dipotong PPh
PPN Ps.23 oleh klien

Berdasarkan tabel 1 dan 2 pengusaha bisa melihat pilihan mana


yang lebih memberikan kemudahan dan keuntungan buat perusahaan. Bagi
institusi penyelenggara kegiatan pelatihan publik yang semula harga jasa
pelatihannya sudah termasuk PPN, maka pilihan pada tabel 2 akan lebih
menguntungkan dengan alasan sebagai berikut:
Penghematan biaya kalau semula harus bayar sendiri PPNnya 10%
(karena tagihan inclusive PPN), sekarang tidak perlu dikenakan PPN.
Saving cost 10% dari nilai omzet. Cash flownya juga lebih favourable
ketimbang pilihan pada tabel 1 karena atas invoicenya tidak perlu ada
pemotongan PPh Pasal 23 oleh klien, sehingga dana yang diterima dari
klien utuh 100%

Tax Planning
Semua billing kepada klien harus dibuat sebagai “pelatihan jasa publik”.
Surat pengantar faktur penjualan atau investor yang diserahkan kepada klien,
menyebutkan klien untuk memotong pajak pemotongan dengan mengacu pada
pasal undang-undang pajak yang bersangkutan tidak diperlukan
Agar diakui secara hukum oleh pemerintah sebagai institusi pendidikan
atau lembaga pelatihan atau sebagai perusahaan kasa penyelenggara pelatihan
publik/program kursus, menjadi prioritas utama dan pertama untuk mendapatkan
Sertifikat Ijin Usaha dari Departemen Tenaga Kerja untuk diakui.

Fenomena Keadilan dalam Sistem PPh Final


Secara historis, PPh final mulai marak sejak 1995 menyusul
diberlakukannya UU pajak penghasilan 1994. Dalam Pasal 4 ayat 2. Usulan PPh
final untuk jasa kontruksi mengemuka saat asosiasi Gabungan Pelaksana
Kontruksi seluruh Indonesia mengadakan kongres di Surabaya kemudian disetujui
oleh pemerintah

12
Justifikasi yang juga menjadi Keuntungan PPh Final
 Bagi wajib pajak, tarif PPh final sangat menguntungkan jika grafik
pertumbuham ekonomi naik saat bisnis jasa kontruksi sedang booming.
Dalam situasi ini, pelaku bisnis mampu meraup keuntungan yang besar.
Pengenaan PPh final yang sifatnya flat terhadap penghasilan bruto jauh
lebih menguntungkan dibanding dengan tarif progresif 10%, 15% dan 30
% sebagaimana diatur dalam Pasal 17 UU PPh th 2000, bahkan untuk
Jasa-jasa kena pajak tertentu misalnya Usaha Jasa Kontruksi, dengan tarif
yang berlaku di UU PPh No.36 th 2008 juga masih menguntungkan.
 Pembenaran dalam penerapan sistem PPh final adalah jaminan bahwa
penerimaan pahak dari sektor ini akan meningkat dibandingkan dengan
saat dikenakan tarif umum. Pajak final dikenakan atas basis nilai transaksi,
tanpa memandang asal-usul penghasilan tersebut

Kelemahan PPh Final


 Sebaliknya bagi wajib pajak, tarif PPh final menjadi bumerang pada saat
grafik pertumbuhan ekonomi trendnya menurun atau pada saat mereka
menderita rugi, sebab pengenaan PPh final dikenakan terhadap
penghasilan bruto, bukan penghasilan neto.
 Kehilangan hak kompensasi rugi fisikal untuk mengompensasi kerugian
yang diderita.
 Kemudahan dan kesederhanaan serta kepastian hukum dalam menghitung
pengenaan Pajak Penghasilan agar tidak menambah beban administrasi
Wajib Pajak maupun direktorat jendral pajak mengalahkan aspek
pentingnya keadilan dalam pemajakan jasa kontruksi.
Dengan mengatasnamakan keadilan pajak, pemerintah menerbitkan PP Nomor
140/2000. Melalui PPn ini, penghasilan yang diterima perusahaan jasa konstruksi,
pengawas, perncanaan, dan konsultan kembali ke tarif umum kecuali mereka yang
omzetnya di bawah Rp 1 miliar. Tarif untuk perusahaan skala kecil sama dengan
PP 73/1996, yaitu 2% untuk jasa pelaksana kontruksi, dan 4% untuk jasa
perencana dan pengawas kontruksi. Namun jasa konsultan hilang dari PP
140/2000

13
1. Atas penghasilan yang diterima atau diperoleh WP DN dan BUT dari
usaha dibidang jasa kontruksi yang memenuhi dua syarat yaitu kualifikasi
sebagai usaha kecil berdasarkan sertifikat yang dikeluarkan oleh lembaga
yang berwenang dan tang mempunyai nilai pengadaan sampai 1 miliah
rupiah dikenakan pajak penghasilan yang bersifat final dengan tariff
 2% dari jumlah bruto yang diterima WP penyedia jasa pelakasana
kontruksi
 4% dari jumlah bruto yang diterima WP penyedia jasa perencana
kontruksi
 4% dari jumlah bruto yang diterima WP penyedia jasa pengawasan
kontruksi
2. Atas penghasilan yang diterima atau diperoleh WP, DN, BUT dari usaha
dibidang jasa kontruksi yang tidak memenuhi salah satu syarat sebagai
usaha kecil berdasarkan sertifikat yg dikeluarkan oleh lembaga yang
berwenang atau yang mempunyai nilai pengadaan sampai 1 miliar rupiah
dikenakan pajak penghasilan berdasarkan ketentuan umum UU PPh dan
merupakan objek pemotongan PPh pasal 23.
Tarif Pajak Penghasilan yang bersifat final (PP No.51 tahun 2008)
ditetapkan sebagai berikut:
 2% untuk Pelaksana kontruksi yang dilakukan Penyedia Jasa dengan
kualifikasi usaha kecil
 4% untuk Pelaksanaan kontruksi yang dilakukan penyedia jasa yang
tidak memiliki kualifikasi usaha
 3% untuk Pelaksanaan kontruksi yang dilakukan oleh penyedia jasa
selain penyedia jasa sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b
 4% untuk Perencanaan kontruksi atau Pengawasan kontruksi yang
dilakukan oleh penyedia jasa yang memiliki kualifikasi usaha
 6% untuk Perencanaan kontruksi atau pengawasan kontruksi yang
dilakukan oleh penyedia jasa yang tidak memiliki kualifikasi usaha

Ambivalensi Pemajakan Usaha Jasa Kontruksi


Pertimbangan yang mendasari penetapan penghasilan yang dapat dikenai
pajak bersifat final, antara lain:
 Kesederhanaan dalam pemungutan pajak
 Berkurangnya beban administrasi baik bagi wajib pajak maupun
Direktorat Jendral Pajak

14
 Pemerataan dalam pengenaan pajaknya
 Memperhatikan perkembangan ekonomi moneter, atas penghasilan-
penghasilan tersebut perlu diberikan perlakuan tersendiri dalam pengenaan
pajaknya. Perlakuan tersendiri dalam pengenaan pajak atas jenis
penghasilan tersebut termasuk sifat, besarnya, dan tata cara pelaksanaan
pembayaran, pemotongan atau pemungutan diatur dengan Peraturan
Pemerintah.

15