Anda di halaman 1dari 174

NANOPARTIKEL DAN NANOFLUIDA

PERPINDAHAN PANAS
Sintesis, Karakterisasi dan Aplikasi
Dilarang mereproduksi atau memperbanyak seluruh atau sebagian
dari buku ini dalam bentuk atau cara apapun tanpa izin tertulis dari penerbit.

© Hak cipta dilindungi oleh Undang-undang No. 28 Tahun 2014


All Right Reserved
NANOPARTIKEL DAN NANOFLUIDA
PERPINDAHAN PANAS
Sintesis, Karakterisasi dan Aplikasi

Penulis:
Drs. Dani Gustaman Syarif, M.Eng

BATAN Press
NANOPARTIKEL DAN NANOFLUIDA
PERPINDAHAN PANAS
Sintesis, Karakterisasi dan Aplikasi

Penulis: Drs. Dani Gustaman Syarif, M.Eng

Cetakan Pertama, Desember 2016

Editor : Prof. M. Ridwan


Reviewer : Dr. Anhar Riza Antariksawan
Copy Editor : Eko Purwito Hidayat, M.Si
Desain Sampul : Agus Rial
Tata Letak : Aan D’Tech

Diterbitkan oleh:
BATAN Press, anggota IKAPI
Jl. Lebak Bulus Raya No. 49
Ged. Perasten Kawasan Nuklir Pasar Jumat
Jakarta Selatan 12440
Telp : +62 21 7659401; Fax : +62 21 75913833
Email : batanpress@batan.go.id

Perpustakaan Nasional RI. Data Katalog dalam Terbitan (KDT)


Pengantar Penerbit

N anofluida secara definisi adalah fluida atau sederhananya cairan yang


terdiri dari partikel-partikel penyusun yang berukuran sangat kecil da-
lam orde nanometer (10-9m), partikel kecil ini disebut juga nanopartikel.
Penelitian dalam bidang nanofluida banyak dilakukan khususnya dalam
aplikasinya sebagai pendingin dalam sistem penukar panas (heat exchang-
er). Selain itu juga masih banyak aplikasi lain yang dapat dimanfaatkan
terkait nanofluida.
Di Indonesia sendiri penelitian tentang nanofluida sudah dilakukan
di beberapa lembaga penelitian. Buku ini memberikan penjelasan tentang
beberapa aspek mendasar mengenai nanofluida, selain itu juga beberapa
penelitian dan kegiatan yang telah dilakukan terkait dengan perkemban-
gan teknologi nanofluida khususnya di Indonesia.
Buku ini dapat dijadikan sebagai salah satu rujukan bagi berbagai
pihak yang ingin melaksanakan penelitian dan pengembangan atau ingin
mengetahui lebih jauh tentang nanofluida. Dengan diterbitkannya buku
ini oleh BATAN Press diharapkan dapat mendorong para pihak terkait
sehingga teknologi nanofluida di Indonesia dapat lebih maju dan lebih
bermanfaat lagi di berbagai bidang.

BATAN Press

v
vi
Kata Pengantar

S aat ini nanoteknologi berkembang amat pesat di seluruh dunia.


Perkembangannya mepengaruhi berbagai bidang Ilmu dan Teknologi
(Iptek). Salah satu bidang Iptek yang perkembangannya dipengaruhi oleh
nanoteknologi adalah Iptek Nuklir. Nanofluida yang merupakan salah satu
produk nanoteknologi dewasa ini sedang dikembangkan di dunia untuk
berbagai aplikasi dan salah satunya aplikasi nuklir. Penerapan nanofluida
di Pusat Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) sangat menjanjikan dalam
peningkatan tingkat keselamatan dan keekonomiannya. Pada buku ini
dibahas mengenai material khususnya nanomaterial dan nanofluida. Data
tentang nanomaterial dan nanofluida yang dibahas dapat membantu para
peneliti, mahasiswa, dan siapapun yang tertarik dengan nanofluida untuk
menggunakannya sebagai pengetahuan maupun sebagai pembanding
untuk melakukan penelitian yang lebih baik.
Sesuai dengan judulnya, buku ini terdiri atas lima bagian utama yaitu
sintesis material, karakterisasi material, penyiapan nanofluid, karakterisasi
nanofluida, dan aplikasi nanofluida. Masing-masing terdiri beberapa bagian
yang mendukungnya. Di bagian keramik dijelaskan secara garis besar
tentang bahan keramik, sifat-sifatnya dan aplikasinya. Di bagian sintesis
dijelaskan mengenai metode-metode sintesis yang banyak digunakan
untuk mendapatkan nanomaterial atau nanopartikel. Kemudian, di bagian
karakterisasi nanopartikel dijelaskan dasar-dasar metode karakterisasi
material. Selanjutnya di bagian penyiapan nanofluida dijelaskan tentang
metode penyiapan nanofluida yang saat ini banyak digunakan di seluruh
dunia. Cara-cara karakterisasi nanofluida dijelaskan di bagian karakterisasi
nanofluida yang merupakan bagian penting dalam penelitian nanofluida.
Potensi aplikasi nanofluida juga dijelaskan di bagian akhir buku ini.
Terima kasih kepada mahasiswa-mahasiswa bimbingan saya yang
berasal dari berbagai perguruan tinggi di Bandung dan luar Bandung yang
secara tidak langsung telah memotivasi saya untuk menulis buku ini. Juga
rekan peneliti di Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dan Kepala Pusat

vii
Sains dan Teknologi Nuklir Terapan (PSTNT) BATAN Bandung yang telah
mendorong saya untuk segera menyelesaikan penulisan buku sebagai
salah satu kewajiban Peneliti Utama di BATAN.
Buku ini saya persembahkan kepada Istriku Ooy, dan anak-anakku
Hazmy dan Midori serta menantuku Dini yang telah dengan sabar
menemani dan memberi semangat.
Saya sangat berterima kasih kepada pembaca yang bersedia memberi
kritik dan saran untuk perbaikan buku ini. Semoga buku ini bermanfaat.

Bandung, September 2016


Penulis

viii
Daftar Isi

Halaman
Pengantar Penerbit v
Prakata vii
Daftar Isi ix
Daftar Tabel xi
Daftar Gambar xii

BAB I PENDAHULUAN 1

BAB II KERAMIK 7
II.1 Keramik Modern dan Aplikasinya 7
II.2 Keramik Komposit dan Larutan Padat 9
II.3 Teknik Mengubah Sifat Keramik 14
II.3.1 Teknik Doping 14
II.3.2 Pengaturan Struktur Mikro 16
II.3.3 Teknik Redoks 18
II.4 Nanopartikel Keramik dan Aplikasinya 19
II.4.1 Keramik Al2O3 22
II.4.2 Keramik ZrO2 23

BAB III SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL 27


III.1. Sintesis Nanopartikel/Nanopowder 27
III.1.1 Cara Kimia 27
III.1.2 Cara Fisika 51
III.2 Karakterisasi Nanopartikel 55
III.2.1 Dasar-dasar Kristalografi dan Difraksi Sinar-X 55
III.2.2. Pengukuran luas permukaan jenis 59
III.2.3. TEM 70
III.2.4. X-ray Fluorescence (XRF) 72
III.2.5. Pengukuran luas permukaan jenis 77

ix
BAB IV PENYIAPAN DAN KARAKTERISASI NANOFLUIDA 79
IV.1 Penyiapan nanofluida 79
IV.1.1 Metode satu langkah (one step method) 79
IV.1.2. Metode dua langkah (MDL) 81
IV.2 Karakterisasi nanofluida 85
IV.2.1 Pengukuran pH 85
IV.2.2 Viskositas dan Pengukurannya 86
IV.2.3 Electric Double Layer (EDL) 87

BAB V VISKOSITAS, KONDUKTIVITAS TERMAL, DAN CHF 95


V.1 Viskositas nanofluida 95
V.1.1 Pengaruh Konsentrasi 95
V.1.2 Pengaruh Suhu 99
V.2 Konduktivitas termal nanofluida 101
V.3 Fluks panas kritis (Critical Heat Flux, CHF) 105

BAB VI PENERAPAN NANOFLUID PADA PERPINDAHAN PANAS


KONVEKSI 111
VI.1 Aplikasi pada Penukar Panas 111
VI.2 Aplikasi pada Reaktor Nuklir 116
VI.3 Kegiatan Penelitian Nanofluida di PSTNT BATAN 119
VI.4 Aplikasi pada Radiator 127
VI.5 Aplikasi pada Refrigerator 127
VI.6 Permesinan Logam (Metal Machining) 128
VI.7 Elektronika 129

BAB VII PENUTUP 131

DAFTAR PUSTAKA 133


LAMPIRAN 147
INDEX 152
RIWAYAT HIDUP 159

x
Daftar Tabel

Halaman
Tabel 2.1. Karakteristik dan Aplikasi Keramik Modern [3-13] 9
Tabel 2.2. Daftar harga koefisien absorpsi neutron termal
beberapa unsur atau senyawa [43] 21
Tabel 2.3. Sifat-sifat keramik Al2O3 [55] 25
Tabel 2.4. Sifat-sifat keramik ZrO2 [55] 26
Tabel 5.1. Persamaan viskositas sebagai fungsi konsentrasi
nanopartikel [122] 99
Tabel 5.2. Persamaan konduktivitas termal sebagai fungsi
konsentrasi nanopartikel [125] 104
Tabel 5.3. CHF pool boiling beberapa nanofluida [128] 109

xi
Daftar Gambar

Halaman
Gambar 2.1. Memperlihatkan citra TEM nanopartikel komposit
Fe3O4-SiO2 dengan jumlah TEOS yang berbeda, 3 ml
(a dan b), 7 ml (c dan d), dan 10 ml (e dan f) [15] 10
Gambar 2.2. Konduktivitas termal komposist Cu2O-TiO2 fungsi
komposisi [16] 11
Gambar 2.3. Citra TEM Fe3O4-Fe2O3 nanokomposit struktur
coreshell [17] 11
Gambar 2.4. Nanopartikel YSZ hasil proses solgel dan pola
difraksinya [18] 13
Gambar 2.5. Struktur mikro keramik Fe2O3 untuk thermistor
disinter pada suhu 1100ºC[35] 17
Gambar 2.6. Struktur Al2O3 alfa [56] 23
Gambar 2.7. Struktur kristal ZrO2 [56] 24
Gambar 3.1. Serbuk Fe3O4 nanopartikel hasil proses presipitasi
(a), dan pola 28
Gambar 3.2. Teknologi solgel dan produknya [58] 31
Gambar 3.3. Diagram alir sintesis ZrO2 dengan solgel prekursor
alkosida 32
Gambar 3.4. Serbuk ZrO2 hasil proses solgel sesuai Gambar 3.3. 33
Gambar 3.5. Skema proses pengkelatan selama pembentukan
sol untuk sintesis Al2O3 34
Gambar 3.6. Serbuk Al2O3 nanopartikel hasil proses solgel Pechini
dikalsinasi pada suhu 900ºC selama 3 jam (kiri) dan
pola XRD nya (kanan) [62] 34
Gambar 3.7. Skema pembentukan gel selama proses solgel
Pechini material 35
Gambar 3.8. Serbuk YSZ hasil proses Pechini (kiri) dan pola
XRD nya (kanan) [64] 36

xii
Gambar 3.9. Pola difraksi sinar-x serbuk LiMn2O4
nanopartikel [65] 37
Gambar 3.10. Sintesis ferit Zn-Ni-Cu dengan metode solgel
Pechini [66] 37
Gambar 3.11. Proses selfcombustion [67] 38
Gambar 3.12. Pola difraksi (XRD) serbuk Ni1-zFe2+zO4 yang
berstruktur kubik spinel 39
Gambar 3.13. Pola difraksi (XRD) serbuk LaCo0.6Fe0.4O3
nanopartikel hasil sintesis [69] 40
Gambar 3.14. Skema proses spray pyrolysis [70] 41
Gambar 3.15. Pola difraksi ZnO nanopartikel hasil sintesis [71] 42
Gambar 3.16. Otoklaf untuk sintesis metode hidrotermal [73] 43
Gambar 3.17. Tekanan otoklaf pada berbagai suhu dan fraksi
ruang otoklaf yang terisi [74] 44
Gambar 3.18. Al2O3 nanorod hasil hidrotermal pada suhu 150ºC
selama 12 jam dipotret dengan FESEM [76] 44
Gambar 3.19. Serbuk ZrO2 awal sebelum proses hidrotermal [76] 45
Gambar 3.20. Serbuk ZrO2 setelah proses hidrotermal [76] 46
Gambar 3.21. Pola difraksi La9,33Si6O26 hasil sintesis metode
hidrotermal pada suhu 240ºC selama 72 jam,
dikeringkan dan dipanaskan (a) 120ºC selama
24 jam, (b) 1100ºC selama 17 jam, dan (c) 1600ºC
selama 3 jam [77] 46
Gambar 3.22. Grafen dan bahan karbon lainnya [79] 47
Gambar 3.23. Bentuk idealisasi grafit oksida [81] 48
Gambar 3.24. Contoh grafen [83] 50
Gambar 3.25. Sebuah alat HEM jenis shaker (a) dan vial tempat
penggerusan (b) [88] 53
Gambar 3.26. Sebuah alat HEM jenis attritor, a. Gambar alat,
dan b. Skema sistem attritor [88] 53
Gambar 3.27. Prinsip kerja HEM [89] 54

xiii
Gambar 3.28. Data hubungan antara ukuran partikel TiB2 dan waktu
milling sintesis dengan memakai alat attritor [88] 54
Gambar 3.29. Ilustrasi peristiwa saling menguatkan dan
melemahkan gelombang yang didifraksi 55
Gambar 3.30. Difraksi sinar-X pada kristal 56
Gambar 3.31. Ilustrasi produksi sinar-X dari sebuah atom 57
Gambar 3.32. Proses terjadinya sinar-X karakteristik 58
Gambar 3.33. Contoh puncak pola difraksi 59
Gambar 3.34. Contoh sebuah SEM [96] 60
Gambar 3.35. Skema prinsip kerja SEM[97] 61
Gambar 3.36. Interaksi antara elektron dan bahan 64
Gambar 3.37. Contoh foto sampel dipotret menggunakan elektron
BSE (kiri) dan SE (kanan) [98] 64
Gambar 3.38. Contoh hasil analisis sampel Al2O3 dengan EDX [99] 66
Gambar 3.39. Contoh hasil analisis sampel dengan EDX di dua
titik [100] 67
Gambar 3.40. Contoh hasil analisis EDX mode mapping. [101] 68
Gambar 3.41. Contoh foto FE-SEM dari sampel Y3Al5O12 (YAG)
yang disinte 70
Gambar 3.42. TEM secara skematis [104] 71
Gambar 3.43. Contoh foto sampel ZrO2 nanopartikel diambil
memakai TEM [105] 72
Gambar 3.44. Skema peristiwa pembentukan radiasi
fluoresen [106] 73
Gambar 3.45. Skema cara kerja XRF [107] 74
Gambar 3.46. Contoh hasil analisis Cu(In,Ga)Se2 dengan
XRF [107] 75
Gambar 3.47. Contoh hasil analisis sampel Al2O3 dengan
XRF [108] 76
Gambar 3.48. Surface Area Meter dari Quantacrome [110] 77

xiv
Gambar 4.1. Penyiapan nanofluida dengan menggunakan
metode satu langkah [112] 80
Gambar 4.2. Prosedur penyiapan nanofluida dengan metode
dua langkah (MDL) 82
Gambar 4.3. Prosedur penyiapan nanofluida dengan metode
dua langkah (MDL) 82
Gambar 4.4. Alat ultrasonikasi nanofluid [114] 83
Gambar 4.5. Penampilan visual nanofluida Air-Al2O3 dari
bahan lokal Bauksit [115] 83
Gambar 4.6. Mekanisme stabilisasi sterik menggunakan
asam sitrat [116] 84
Gambar 4.7. Contoh nanofluida Air-Fe3O4 dengan dispersan
asam sitrat setelah 84 hari [117] 85
Gambar 4.8. Alat ukur pH (pH meter) [118] 85
Gambar 4.9. Vibro viscometer buatan AND tipe SV10 [119] 87
Gambar 4.10. Electric Double Layer (EDL) [121] 90
Gambar 4.11. Electric Double Layer (EDL) dengan penggambaran
yang berbeda [120] 91
Gambar 4.12. Teknik stabilisasi suspensi 92
Gambar 4.13. Mekanisme sedimentasi sebuah suspensi 93
Gambar 4.14. Peta data kestabilan suspensi atau koloid
berdasarkan harga potensial zeta 93
Gambar 4.15. Potensial zeta contoh nanofluida Air-ZrO2 [64] 94
Gambar 5.1. Viskositas nanofluida Air-Fe3O4 [10] 96
Gambar 5.2. Viskositas nanofluida dengan air sebagai fluida
dasar sebagai fungsi konsentrasi nanopartikel [124] 96
Gambar 5.3. Viskositas nanofluida dengan gliserol sebagai fluida
dasar sebagai fungsi konsentrasi nanopartikel [125] 97
Gambar 5.4. Viskositas nanofluida Air-Al2O3 sebagai fungsi
konsentrasi nanopartikel [126] 97
Gambar 5.5. Viskositas nanofluida dengan fluida dasar gliserol
sebagai fungsi suhu [124] 100

xv
Gambar 5.6. Viskositas nanofluida (Air-Etilen glikol-SiO2)
sebagai fungsi suhu [126] 100
Gambar 5.7. Konduktivitas termal relatif nanofluida sebagai
fungsi βφ, 103
Gambar 5.8. Konduktivitas termal nanofluida etilen glikol-Fe
pada suhu 35ºC sebagai fungsi konsentrasi
nanopartikel [130] 103
Gambar 5.9. Prediksi model untuk nanofluida Air-Al2O3 [130] 105
Gambar 5.10. Skema metode pengukuran CHF pool boiling [131] 106
Gambar 5.11. CHF nanofluida Air-ZnO sebagai fungsi konsentrasi
nanopartikel ZnO, dan CHF air [131] 108
Gambar 5.12. CHF nanofluida sebagai fungsi konsentrasi
nanopartikel, dan CHF air [132] 109
Gambar 5.13. Gambar permukaan pemanas sesudah pengukuran
CHF pool boiling dari nanofluida dengan konsentrasi
a. 10-4%, dan b. 10-1% [134] 110
Gambar 6.1. Sebuah heat exchanger mini (MICHX=Minichannel
Heat Exchanger) [130] 112
Gambar 6.2. Pengaruh bilangan Reynolds dan konsentrasi
nanopartikel terhadap koefisien perpidahan panas
MICHX [130] 112
Gambar 6.3. Pengaruh bilangan Reynolds dan konsentrasi
nanopartikel terhadap pressure drop MICHX [130] 113
Gambar 6.4. Sistem penukar panas dua pipa untuk mengukur
kofisien perpindahan panas lokal [131] 113
Gambar 6.5. Koefisien perindahan panas sebagai fungsi bilangan
Reynolds dengan nanofluida Air-CuO pada berbagai
konsentrasi [131] 114
Gambar 6.6. Sistem penukar panas jenis radiator (Radiator
type heat exchanger) [132] 115
Gambar 6.7. Koefisien perpindahan panas fungsi laju alir
fluida [132] 115
Gambar 6.8. CHF pada kurva pendidihan air [4] 118

xvi
Gambar 6.9. Nanofluida Air-Fe3O4 buatan PSTNT-BATAN [136] 119
Gambar 6.10. Citra TEM nanopartikel Fe3O4 yang dibuat dengan
metode kopresipitasi yang dikombinasi dengan
karbotermal [10] 120
Gambar 6.11. Peningkatan CHF nanofluida Air-Fe3O4 sebagai
fungsi konsentrasi nanopartikel Fe3O4 [10] 120
Gambar 6.12. Citra TEM nanopartikel ZrO2 [137] 121
Gambar 6.13. Konduktivitas termal efektif nanofluida Air-ZrO2
fungsi konsentrasi nanopartikel ZrO2 [137] 122
Gambar 6.14. Penampang lintang konfigurasi segitiga dan
segiempat, dan untai uji perpindahan panas [138] 123
Gambar 6.15. Hubungan antara bilangan Nusselt dan bilangan
Rayleigh untuk sub. channel segitiga [138] 124
Gambar 6.16. Hubungan antara bilangan Nusselt dan bilangan
Rayleigh untuk sub. channel segiempat [138] 124
Gambar 6.17. Citra TEM (kiri) dan pola XRD (kanan) nanopartikel
Al2O3 hasil kalsinasi Al(OH)3 suhu 900ºC [138] 125
Gambar 6.18. Peningkatan CHF fungsi konsentrasi nanopartikel
nanofluid Air-Al2O3 hasil kalsinasi Al(OH)3
suhu 900ºC[139] 125
Gambar 6.19. Citra TEM (kiri) dan pola XRD (kanan) nanopartikel
Al2O3 hasil kalsinasi Al(OH)3 suhu 600ºC [139] 126
Gambar 6.20. Peningkatan CHF nanofluida EG-Al2O3 fungsi
konsentrasi nanopartikel hasil kalsinasi Al(OH)3
suhu 600ºC[140] 127
Gambar 6.21. Contoh proses permesinan logam menggunakan
fluida pendingin [147] 129
Gambar 6.22. Contoh sebuah komputer yang dilengkapi sistem
pendingin dengan fluida [148] 130

xvii
xviii
BAB I
PENDAHULUAN

F luida banyak digunakan dalam sistem perpindahan panas seperti


reaktor nuklir, otomotif, industri, dan lain-lain. Namun koefisien
perpindahan panas fluida konvensional seperti air, etilen glikol, dan
minyak sangat rendah karena konduktivitas termal mereka relatif
sangat kecil. Sejak lama usaha untuk meningkatkan konduktivitas
termal fluida kemudian terus dilakukan. Sejak tahun 1892 usaha untuk
meningkatkan kemampuan perpindahan panas fluida dasar telah
dilakukan yang dipelopori oleh Maxwel [1]. Pada saat itu dilakukan
pencampuran serbuk dari bahan tertentu ukuran mikrometer
dengan fluida yang selanjutnya dalam konteks nanofluida disebut
sebagai fluida dasar (fluida tanpa serbuk atau partikel), membentuk
suspensi. Namun hingga ditemukannya nanofluida pada tahun 1995
melalui penelitian Prof. Choi dari MIT Amerika Serikat [2], penelitian
suspensi tersebut tidak kunjung mencapai aplikasi komersial.
Penyebabnya adalah ukuran partikel serbuk yang digunakan relatif
sangat besar sehingga menimbulkan masalah yaitu partikel sangat
mudah mengendap sehingga menyumbat berkas pipa penyalur
fluida, dan menimbulkan pressure drop yang besar.
Penemuan Choi dkk. membawa angin segar dalam usaha
meningkatkan perpindahan panas berbagai sistem pendingin. Choi
juga membuat suspensi berupa komposit nanopartikel dan fluida
dasar dengan menggunakan nanopartikel berukuran 1-100 nm.
Dengan ukuran partikel yang sangat kecil seperti ini masalah yang
ditimbulkan oleh suspensi dari partikel yang berukuran besar secara
teoritis dapat dipecahkan. Nanopartikel tidak mudah mengendap
sehingga tidak menyumbat berkas pipa serta tidak menimbulkan

1
BAB I | PENDAHULUAN

pressure drop yang besar. Meski awalnya nanofluida dikreasi untuk


keperluan perpindahan panas namun kemudian berkembang
ke berbagai bidang aplikasi. Bahkan kemajuan yang luar biasa
justru terjadi di bidang-bidang selain perpindahan panas seperti
lingkungan dan kesehatan.
Berdasarkan data penelitian tentang nanofluida yang telah
terkumpul, nanofluida dapat diterapkan pada berbagai bidang, di
antaranya, di bidang nuklir. Nanofluida sedang diteliti dan dikaji
untuk diterapkan di bidang nuklir khususnya PLTN [3,4]. Penggunaan
nanofluida diproyeksikan untuk menggantikan fluida pendingin
yang digunakan di sistem pendingin primer reaktor Pressurized
Water Reactor (PWR). Jika penerapannya dapat dilakukan, maka
diduga akan dihasilkan peningkatan nilai ekonomi yang cukup
signifikan [3,4]. Peningkatan nilai Critical Heat Flux (CHF) dari
nanofluida dapat meningkatkan rapat daya reaktor. Artinya rapat
daya reaktor dapat ditingkatkan dengan tingkat keselamatan yang
sama jika nanofluida digunakan sebagai pendingin [4]. Pendingin
dengan CHF yang besar yang digunakan sebagai pendingin ECCS
(Emergency Core Cooling System) dan RVCS (Reactor Vessel Cooling
System) dapat meningkatkan tingkat keselamatan sebuah PLTN
[3,4]. Namun masalah yang harus diatasi agar nanofluida dapat
diterapkan di reaktor beberapa di antaranya adalah pengendapan
nanopartikel dan interaksi kimia antara nanofluida dan bahan-bahan
logam di dalam reaktor. Yang juga sangat penting adalah regulasi
untuk dapat mengadopsi nanofluida di dalam reaktor karena
berdasarkan persyaratan [5] sejauh ini tidak diizinkan memasukkan
material tertentu kedalam pendingin di dalam reaktor melebihi
batas konsentrasi tertentu yang sangat kecil.
Kedua, di bidang elektronik. Kecenderungan yang terjadi di
bidang elektronik khususnya komputer adalah semakin padatnya
chips dan cepatnya proses data [6,7]. Pada kondisi ini disipasi panas

2
BAB I | PENDAHULUAN

menjadi hal yang penting. Agar kondisi lingkungan memungkinkan


peralatan elektronik beroperasi dengan baik, maka diperlukan
pendinginan yang efektif. Jika perubahan geometri tidak dapat
dipilih, maka penggunaan fluida dengan kapasitas perpindahan
panas yang sangat baik sangat diperlukan. Nanofluida yang
berdasarkan data literatur mepunyai konduktivitas termal yang lebih
baik dari pada konduktivitas termal fluida dasar sangat sesuai untuk
diaplikasikan sebagai bahan pendingin elektronik [6,7].
Ketiga, di bidang transportasi. Jika pendinginan mesin otomotif
dapat dilakukan lebih efektif, maka penggunaan otomotif atau alat
tranportasi lainnya akan lebih ekonomis [7]. Untuk keperluan ini
nanofluida mempunyai potensi yang sangat besar. Jika pendinginan
dapat dibuat lebih baik, maka radiator dapat dibuat lebih kecil dan
lebih ringan [7]. Dengan ini kendaraan dapat lebih ringan, jumlah
pemakaian bahan bakar akan berkurang [7]. Penerapan nanofluida
dapat mengurangi friksi dan gesekan dalam pengoperasian pompa
dan kompresor sehingga menghasilkan penghematan bahan
bakar [8]. Selain itu, dengan pemakaian nanofluida tidak hanya
meningkatkan efisiensi dan ekonomi mesin otomotif tetapi juga
mempengaruhi rancangan struktur otomotif [8].
Keempat, aplikasi pendinginan di industri. Aplikasi nanofluida
pada pendinginan industri dapat menghemat energi dan mengurangi
emisi polusi [8]. Hal ini terjadi jika air sebagai bahan pendingin
diganti dengan nanofluida. Untuk industri di Amerika Serikat
sebagai contoh, pergantian air untuk pendinginan dan pemanasan
dengan nanofluida berpotensi menghemat energi sebesar 1 Triliun
Btu [8]. Dalam industri listrik penggunaan nanofluid dalam siklus
pendinginan tertutup dapat menghemat sekitar 10-30 Triliun Btu
[8]. Penghematan ini setara dengan pengurangan sekitar 5,6 juta
metrik ton CO2, 8.600 metrik ton NO2, dan 21.000 ton metrik SO2 [8].

3
BAB I | PENDAHULUAN

Kelima, dalam pemanasan gedung. Di gedung-gedung di negara


beriklim dingin terdapat sistem pemanas untuk menghangatkan
ruangan. Penggunaan nanofluida pada heat exchanger dapat
mengurangi laju alir massa dan volume fluida yang kemudian
berdampak pada pengurangan daya pemompaan [8]. Pemakaian
nanofluida juga tidak memerlukan sistem pemanas yang besar
tetapi energi yang dialirkan sama dengan yang dialirkan sistem
pemanas yang lebih besar [8]. Pemakaian sistem pemanas yang kecil
mengurangi jumlah limbah yang dibuang pada saat sudah tidak
dapat dipakai lagi.
Persoalan nanofluida ternyata sangat kompleks. Tidak hanya
persoalan ukuran partikel yang harus sangat kecil (nanometer) yang
berdasarkan hukum Stoke akan sukar mengendap karena kecepatan
jatuhnya kecil [9]. Kenyataannya penelitian nanofluida sangat
kompleks melibatkan proses fisiko kimia. Selain ukuran partikel,
bentuk partikel dan distribusi partikel, interaksinya dengan fluida
dasar juga sangat penting. Karakteristik nanofluida ternyata sangat
berbeda dengan suspensi biasa yang terbuat dari partikel berukuran
mikrometer. Viskositas dan konduktivitas termalnya tidak memenuhi
mekanisme yang telah ada. Sebagai contoh prediksi Einstein tentang
hubungan antara konsentrasi partikel dan viskositas sebuah suspensi
tidak berlaku untuk nanofluida [10,11]. Begitu juga berbagai hasil
penelitian tentang pengaruh nanofluida terhadap konduktivitas
termal nanofluida tidak konsisten antara satu peneliti dan peneliti
lainnya [7,12]. Keharusan untuk tidak menggunakan dispersan atau
surfaktan dalam pembuatan nanofluida untuk pendingin reaktor
menjadikan tantangan tersendiri yang lebih berat tetapi menarik.
Suhu yang relatif tinggi dapat merusak karakteristik nanofluida yang
distabilkan dengan dispersan karena dispersan yang umumnya
dari bahan organik dapat berubah pada suhu operasi reaktor
yang relatif tinggi. Selain itu radiasi yang tinggi di dalam reaktor

4
BAB I | PENDAHULUAN

juga dapat merusak sifat dispersan atau surfaktan yang kemudian


mempengaruhi karakteristik nanofluid [4].
Buku ini menerangkan hal-hal penting terkait sintesis dan
karakterisasi nanopartikel, dan penyiapan serta karakterisasi
nanofluida. Nanopartikel yang banyak dijelaskan adalah nanopartikel
dari bahan keramik karena sejauh ini bahan keramik banyak
dikembangkan untuk pembuatan nanofluida. Namun nanofluida
dapat juga dibuat dari bahan nanopartikel logam. Oleh karena itu
meskipun tidak lengkap, hal-hal mendasar mengenai bahan keramik
diterangkan di Bab II buku ini. Selanjutnya di Bab III dari buku ini
dibahas mengenai sintesis nanomaterial atau nanopartikel yang
sebagian besar dari bahan keramik, setelah itu dijelaskan mengenai
karakterisasinya. Secara garis besar terdapat dua metode sintesis
nanopartikel yaitu metode top-down dan bottom-up. Cara sintesis
nanopartikel akan mempengaruhi karakteristik baik nanopartikel itu
sendiri maupun nanofluida yang dibuat dari nanopartikel tersebut.
Sementara karakterisasi nanopartikel sangat penting untuk dapat
memahami karakteristik nanofluida. Setelah bagian nanopartikel,
selanjutnya di Bab IV dijelaskan mengenai penyiapan dan
karakterisasi nanofluida. Terdapat dua cara atau metode penyiapan
nanofluida yaitu one step method atau metode satu langkah (MSL),
dan two step method atau metode dua langkah (MDL). Karakterisasi
nanofluida dijelaskan karena karakteristik nanofluida merupakan
bagian penting yang memberikan gambaran tentang kualitas
nanofluida dan kemungkinan aplikasinya.
Setelah sebelumnya dijelaskan mengenai nanopartikel dan
nanofluida, di bagian lain dari buku ini yaitu di Bab V dijelaskan
mengenai karakteristik penting dari nanofluida dengan menampilkan
data-data yang sampai saat ini telah diperoleh oleh banyak peneliti
di dunia yaitu viskositas, konduktivitas termal, dan critical heat flux
(CHF). Di bagian akhir yaitu di BAB VI dan VII dijelaskan mengenai

5
BAB I | PENDAHULUAN

aplikasi nanofluida pada perpindahan panas baik untuk aplikasi


nuklir maupun aplikasi non-nuklir. Bagian ini juga merupakan
gambaran mengenai status perkembangan terkini penelitian
tentang nanofluida.

6
BAB II
KERAMIK

S ecara garis besar keramik diketahui sebagai salah satu jenis


bahan. Jenis bahan lainnya adalah logam dan polimer. Keramik
sebagai bahan telah dikenal lama sejak ribuan tahun yang lalu.
Penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari sangat luas hingga
saat ini dan diprediksi hingga kurun waktu yang lama ke depan
masih akan digunakan oleh manusia dalam kehidupan sehari-
harinya. Secara tradisonal orang mengenal keramik sebagai barang
seni dan alat rumah tangga seperti guci, piring, mangkok, kuali,
tungku, keramik dinding, keramik lantai dan lain-lain. Barang-
barang ini dibuat dari bahan tanah lempung dan porselen atau
secara umum dari bahan silikat. Secara modern keramik digunakan
di berbagai bidang yang teknologinya lebih tinggi dari teknologi
keramik tradisional. Keramik modern dibuat dari bahan-bahan
yang kemurniannya sangat terkontrol. Contoh aplikasi keramik
modern di antaranya untuk sensor (sensor gas, sensor panas, sensor
tekanan, sensor pH, dan lain-lain), bahan bakar reaktor nuklir, busi,
fotokatalis, substrat, elektrode, elektrolit, dan absorban. Aplikasi
keramik modern lainnya adalah sebagai bahan nanofluida yang
menjadi topik buku ini.

II.1. Keramik Modern dan Aplikasinya


Barsoum [13] mendefinisikan keramik sebagai senyawa padat
yang dibentuk dengan aplikasi panas, dan kadang-kadang panas
dan tekanan, mengandung paling sedikit satu logam dan sebuah
unsur NMES (Non metallic elemental solids) atau non logam,
kombinasi paling sedikit dua NMES, atau sebuah kombinasi dari

7
BAB II | KERAMIK

paling sedikit dua NMES dan sebuah non logam. Berdasarkan


definisi itu, bahan keramik banyak sekali jenisnya. Keramik dapat
berbentuk keramik oksida seperti MgO, ZnO, Fe2O3, dll (bahan ini
terbentuk dari logam dan nonlogam) dan SiO2 (bahan ini terbentuk
dari NMES dan nonlogam), keramik karbida seperti SiC (bahan ini
terbentuk dari dua NMES), dan TiC (bahan ini terbuat dari logam
dan NMES), dan keramik nitrida seperti TiN (bahan ini terbentuk
dari logam dan NMES). Keramik tidak terbatas senyawa biner
seperti contoh-contoh yang telah disebutkan. Keramik juga dapat
terbentuk dari tiga unsur atau lebih seperti BaTiO3, YBa2Cu3O7,
dan Ti3SiC2. Secara umum keramik yang memiliki konduktivitas
termal yang lebih besar dari pada konduktivitas termal fluida dan
tidak bereaksi menjadi senyawa lain dengan fluida (stabil secara
kimia dengan lingkungannya) serta berukuran nanometer, sesuai
untuk nanofluida [7,8]. Dengan demikian banyak keramik dalam
bentuk senyawa karbida, oksida, maupun nitrida dengan berbagai
struktur kristal berpotensi untuk dimanfaatkan menjadi nanofluida
[7,8]. Tentu saja persyaratan lainnya harus dipenuhi oleh keramik
untuk dapat dimanfaatkan menjadi nanofluida. Persyaratan tersebut
sangat tergantung pada jenis aplikasi nanofluida yang akan dipilih.
Pada Tabel 2.1 diperlihatkan karakteristik dan aplikasi keramik
modern termasuk nanofluida.

8
BAB II | KERAMIK

Tabel 2.1. Karakteristik dan Aplikasi Keramik Modern [3-13].


Karakteristik Aplikasi
Thermal
- Insulasi - Untuk isolasi bagian dalam dinding tungku suhu
tinggi (Fiber Silika, Alumina, dan Zirkonia).
- Refraktori - Bagian dalam tungku suhu tinggi peleburan
logam
- Konduktivitas Termal - Heat sinks perangkat elektronik, nanofluid
Aplikasi Nuklir
- Fisi - Bahan bakar nuklir (UO3,UC), kelongsong bahan
bakar (C,SiC), moderator neutron (C,BeO)
- Fusi - Bahan menernak tritium (Zirkonat,Li silikat), fusion
reactor lining (C, SiC,Si3N4, B4C)
Kimia
- Katalisis - Filter (Zeolit), purifikasi
- Antikorosi - Heat exchanger (SiC), peralatan kimia
- Biokompatibilitas - Artificial joint prostheses (Al2O3)
Mekanik
- Kekerasan - Alat potong (Al2O3 yang diperkuat SiC wisker)
- Suhu tinggi - Turbin blade, stator, keramik untuk mesin (Si3N4)
- Ketahanan gesek - Bearing (Si3N4)

II.2. Keramik Komposit dan Larutan Padat


Dalam penggunaannya keramik dapat diaplikasikan dalam
bentuk komposit dan larutan padat. Keramik komposit adalah
keramik yang dibentuk dari dua atau lebih keramik yang tidak
saling bereaksi atau saling melarutkan. Contoh keramik komposit
di antaranya adalah keramik yang dibentuk dari Al2O3 dan ZrO2
atau disebut keramik Al2O3-ZrO2. Keramik ini biasanya diaplikasikan
sebagai refraktori, keramik struktural atau cutting tool. Pembuatan
keramik seperti ini dilakukan untuk memperbaiki sifat keramik
tunggalnya. Teknik penguatan dengan penambahan ZrO2
sudah sangat terkenal. Penguatan terjadi melalui transformation
toughening. [14]. Keramik untuk nanofluida juga dapat berasal

9
BAB II | KERAMIK

dari keramik komposit. Meskipun tujuannya bukan diarahkan


untuk memperbaiki sifat termalnya dan lebih kepada stabilitas dan
biokompatibilitasnya, keramik komposit telah digunakan untuk
nanofluida magnetik seperti Fe3O4-SiO2 [15]. Citra TEM nanopartikel
komposit Fe3O4-SiO2 diperlihatkan pada Gambar 2.1. Contoh
kedua keramik komposit adalah nanopartikel Cu2O-TiO2[16]. Di
sini keramik nanokomposit Cu2O-TiO2 digunakan untuk nanofluida
penyerap sinar matahari (solar absorber). Harga konduktivitas termal
komposit sebagai fungsi komposisi diperlihatkan pada Gambar 2.2.
Contoh lain keramik nanokomposit dengan struktur core shell yaitu
nanokomposit Fe3O4-Fe2O3 yang diaplikasikan untuk fotokatalis
(termasuk aplikasi nanofluida pula). Gambar 2.3 memperlihatkan
citra TEM nanokomposit Fe3O4-Fe2O3 struktur core shell [17].

Gambar 2.1. Memperlihatkan citra TEM nanopartikel komposit Fe3O4-SiO2


dengan jumlah TEOS yang berbeda, 3 ml (a dan b), 7 ml (c dan d), dan 10
ml (e dan f) [15].

10
BAB II | KERAMIK

Gambar 2.2. Konduktivitas termal komposist Cu2O-TiO2


fungsi komposisi [16].

Gambar 2.3. Citra TEM Fe3O4-Fe2O3 nanokomposit


struktur coreshell [17].


Keramik larutan padat adalah keramik yang dibuat dari dua
atau lebih keramik dimana sebagian dari penyusunnya larutan
padat di dalam keramik utamanya. Artinya ion-ion keramik yang
ditambahkan masuk ke kisi kristal keramik utamanya. Seperti
juga keramik komposit, pembuatan keramik bentuk larutan padat

11
BAB II | KERAMIK

dilakukan untuk memperoleh keramik dengan sifat yang lebih baik.


Contoh keramik bentuk larutan padat di antaranya keramik ZrO2
yang doping CaO dan Y2O3 membentuk CaO stabilized zirconia (CSZ)
dan Y2O3 stabilized zirconia (YSZ). Di sini CaO dan Y2O3 larut padat
di dalam ZrO2. Pembuatan keramik ini dilakukan untuk memperbaiki
konduktivitas ionik atau sifat mekanik keramik zirkonia. Keramik
ZrO2 dengan penambahan 3% mol Y2O3 yang membentuk keramik
larutan padat (disebut 3YSZ) mempunyai ketangguhan retak
(Fracture toughness) yang sangat baik [13]. Salah satu aplikasinya
adalah sebagai bahan untuk gigi tiruan. Sementara itu keramik ZrO2
dengan penambahan 8% mol Y2O3 yang membentuk keramik larutan
padat (disebut 8YSZ) mempunyai konduktivitas ionik yang sangat
baik[18]. Keramik ini dapat diaplikasikan sebagai elektrolit padat
untuk Solid Oxide Fuel Cell (SOFC) atau sebagai sensor oksigen dan
hidrogen. Keramik larutan padat secara teoritis dapat diaplikasikan
sebagai keramik nanofluida. Keramik 8YSZ yaitu larutan padat Y2O3
sebanyak 8% mol di dalam ZrO2 dapat digunakan sebagai keramik
nanofluida. Gambar visual nanopartikel dan pola difraksi 8YSZ hasil
sintesis dengan cara solgel diperlihatkan pada Gambar 2.4 [18].
Secara umum terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi
pembentukan larutan padat yaitu [13]:
1. Faktor struktur kristal.
Pembentukan larutan padat akan berlangsung sempurna jika
struktur kristal keramik yang membentuk larutan padat sama.
2. Faktor valensi.
Valensi keramik yang membentuk larutan padat harus sama.
Jika tidak, maka akan terbentuk cacat untuk mempertahankan
netralisasi muatan.
3. Faktor ukuran jari-jari ion.
Jika jari-jari ion dari keramik yang ditambahkan berbeda

12
BAB II | KERAMIK

dengan jari-jari ion keramik yang menerima (host), maka akan


terbentuk regangan. Makin besar perbedaan jari-jari ion, maka
energi regangan akan makin besar. Agar pembentukan larutan
padat berlangsung sempurna, maka energi regangan yang
terbetuk harus sangat kecil. Secara umum, perbedaan ukuran
jari-jari ion antara keramik yang ditambahkan dan keramik host
harus lebih kecil dari 15%.
4. Faktor afinitas.
Sedapat mungkin perbedaan afinitas kimia antara keramik yang
ditambahkan dan yang menerima tidak berbeda jauh.

A B
Gambar 2.4. Nanopartikel YSZ hasil proses solgel dan
pola difraksinya [18].

Keramik larutan padat lainnya adalah keramik dengan struktur


spinel untuk termistor NTC (Negative Temperature Coeficient) yaitu
piranti listrik/elektronik yang tahanan listriknya menurun dengan
kenaikan suhu dan sebaliknya tahan listriknya naik dengan turunnya
suhu. Keramik Ni0,6Mn2,4-xTixO4 [19] dan Ni0,75Mn1,25Co1-xFexO4
[20] adalah dua contoh keramik larutan padat struktur spinel yang
biasanya dipakai sebagai termistor NTC. Bentuk umum keramik ini

13
BAB II | KERAMIK

adalah AB2O4 dengan A dan B adalah logam. Keramik larutan padat


juga digunakan untuk varistor yaitu komponen listrik/elektronik yang
digunakan untuk melindungi berbagai peralatan listrik/elektronik
dari tegangan transien seperti petir dan percikan listrik. Biasanya
varistor dibuat dari ZnO sebagai keramik dasar dengan dopan seperti
CoO dan NiO yang larut di dalam ZnO [21]. Keramik larutan padat
seperti ini yang berukuran nanometer juga berpotensi diaplikasikan
untuk nanofluida barbasis air karena memiliki konduktivitas termal
lebih besar dari konduktivitas air bahkan TiO2 dan SiO2 [8].

II.3. Teknik Mengubah Sifat Keramik


Sifat keramik dapat diubah melalui berbagai cara. Tiga cara
di antaranya adalah doping, pengaturan struktur mikro, dan reaksi
redoks (reduksi oksidasi).

II.3.1. Teknik Doping


Jika keramik valensi tertentu misalnya dua yaitu ZnO didoping
dengan keramik valensi lebih besar misalnya tiga yaitu Fe2O3 dan
membentuk larutan padat, maka dapat terjadi reaksi seperti
persamaan (2-1).

…….....……………………………………(2-1)

Dari persamaan (2-1) dapat dilihat bahwa keramik ZnO


mengalami penambahan elektron sehingga membuat konduktivitas
listrik keramik ini membesar atau tahanan listrik keramik ini mengecil.
Kemudian, sebaliknya jika keramik valensi tertentu misalnya tiga
yaitu Fe2O3 didoping dengan keramik valensi lebih kecil misalnya
dua yaitu ZnO dan membentuk larutan padat, maka dapat terjadi

14
BAB II | KERAMIK

reaksi seperti persamaan (2-2).

..…………………………………………(2-2)

Dari persamaan (2-2) dapat dilihat bahwa di dalam keramik


Fe2O3 terbentuk cacat kekosongan oksigen. Jika cacat ini menempati
posisi tertentu di dalam bandgap (celah pita), maka posisi tersebut
memiliki energi tertentu (state energy). Jika bahan diberikan energi
dari luar yang cukup besar dan lebih besar dari energi eksitasi
elektron dari cacat tersebut, maka elektron dapat dilepaskan ke
pita konduksi sehingga membuat konduktivitas listrik keramik ini
membesar atau tahanan listrik keramik ini mengecil.
Untuk keramik elektrolit padat seperti ZrO2 pemberian doping
keramik dengan valensi tiga seperti Y2O3 dan membentuk larutan
padat, maka dapat menghasilkan reaksi seperti persamaan (2-3)
yang merupakan reaksi ionic [18].

………………………………….......………(2-3)

Dari persamaan (2-3) diketahui bahwa di dalam keramik ZrO2


terbentuk cacat kekosongan oksigen. Karena untuk keramik elektrolit
padat pembawa muatannya adalah ion, dalam hal ini ion oksigen,
maka terbentuknya cacat kekosongan akan membuat konduktivitas
ionik bahan ZrO2 membesar. Seperti telah diterangkan sebelumnya
keramik yang dibentuk dengan reaksi persamaan (2-3) adalah
keramik 3YSZ dan 8YSZ. Dua keramik ini memiliki konduktivitas ionik
yang besar. Keramik 8YSZ memiliki konduktivitas ionik yang lebih
besar dari pada keramik 3YSZ karena memiliki cacat kekosongan
oksigen yang lebih banyak [18].
Pembentukan larutan padat juga dapat mengubah sifat termal
khususnya konduktivitas panas. Konduktivitas panas keramik ZrB2
diketahui meningkat dengan penambahan ZrC dengan konsentrasi

15
BAB II | KERAMIK

1-2% [34]. Keramik ZrC yang ditambahkan membentuk larutan


padat di dalam ZrB2.
Perubahan sifat listrik dapat terjadi pula jika doping tidak
menghasilkan larutan padat tetapi menghasilkan komposit.
Tahanan listrik sebuah keramik dapat meningkat bila doping dengan
keramik lain tidak membentuk larutan padat tetapi membentuk
komposit. Dalam hal ini keramik doping tersegregasi ke batas butir
dan menghambat proses penyinteran sehingga menghasilkan
keramik dengan ukuran butir yang kecil. Dengan struktur mikro
yang demikian, tahanan listrik menjadi lebih besar. Keramik dengan
ukuran butir yang kecil, memiliki banyak batas butir dan batas butir
tersebut merupakan scattering center bagi pembawa muatan.
Selain sifat listrik, sifat mekanik keramik pun dapat diubah
dengan membentuk keramik komposit. Seperti telah diterangkan
sebelumnya, keramik Al2O3 yang ditambah partikel kedua dari
keramik ZrO2 yang membentuk keramik Al2O3-ZrO2 dapat memiliki
sifat mekanik yang lebih baik. Kekuatan keramik komposit Al2O3-ZrO2
dapat meningkat melalui mekanisme transformation toughening.
Keramik 3YSZ yang telah dibahas sebelumnya memiliki sifat mekanik
yang sangat baik [13].

II.3.2. Pengaturan Struktur Mikro


Berdasarkan struktur mikronya, karakteristik listrik keramik dapat
diubah dengan mengatur parameter prosesnya. Di antara berbagai
parameter, tiga parameter diterangkan di sini yaitu suhu dan waktu
pembakaran atau penyinteran (sintering), dan ukuran partikel serbuk
awalnya. Agar tahanan listrik keramik kecil, maka ukuran butir
(grain) nya harus besar. Begitu sebaliknya, agar tahanan listrik kecil,
maka ukuran butir harus kecil. Dengan catatan porositasnya sama.

16
BAB II | KERAMIK

Untuk memperoleh keramik dengan ukuran butir yang besar, dapat


dilakukan dengan menyinter keramik pada suhu tinggi dan/atau
dengan waktu yang lama. Keramik dengan ukuran butir yang besar
juga dapat dilakukan dengan menggunakan serbuk awal dengan
ukuran partikel yang sangat kecil (nanopartikel). Porositas juga
mempengaruhi tahanan listrik keramik. Keramik dengan porositas
yang besar, memiliki tahanan listrik yang besar pula. Demikian
sebaliknya, keramik dengan porositas yang kecil memiliki tahanan
listrik yang kecil. Agar porositas keramik kecil, maka penyinteran
atau pembakaran harus dilakukan pada suhu yang tinggi dan waktu
yang lama. Batas butir dan pori merupakan scattering center bagi
pembawa muatan sehingga pengaruhnya terhadap sifat listrik
keramik sangat besar. Tahanan listrik (elektronik) keramik termistor
NTC dan tahanan listrik (ionik) keramik 8YSZ untuk elektronik padat
dapat diatur dengan mengatur struktur mikronya. Gambar 2.5
memperlihatkan keramik Fe2O3 untuk termistor NTC dengan ukuran
butir yang berbeda. Tahanan listrik (elektronik) keramik (b) pada
Gambar 2.5 lebih kecil dari pada tahanan listrik keramik (a).

a b

Gambar 2.5. Struktur mikro keramik Fe2O3 untuk thermistor disinter pada
suhu 1100ºC[35]. a. Serbuk sebelum digerus dengan ball mil, b. Serbuk
setelah digerus dengan ball mil.

17
BAB II | KERAMIK

Sifat mekanik keramik dapat diubah pula melalui pengaturan


struktur mikro. Keramik dengan butir yang kecil seperti terlihat
pada Gambar 2.5(a) cenderung memiliki kekerasan yang lebih besar
dibandingkan dengan keramik pada Gambar 2.5(b) karena memiliki
ukuran butir yang lebih kecil. Sifat mekanik keramik juga dapat
berubah dengan membuat struktur mikro mengandung banyak
atau sedikit pori. Banyaknya pori berbanding terbalik dengan sifat
mekanik keramik. Sifat mekanik seperti kekerasan dan ketangguhan
patah keramik cenderung memburuk dengan banyaknya pori.
Keadaan ini berlaku untuk keramik berbentuk bulk. Sampai saat ini
belum ditemukan studi yang membahas pengubahan sifat mekanik
serbuk keramik untuk aplikasi nanofluida. Kemungkinan karena sifat
mekanik keramik dalam bentuk serbuk belum terlihat urgensinya
untuk aplikasi nanofluida.
Konduktivitas termal keramik juga dapat diubah dengan
mengubah struktur mikronya yaitu dengan mengkreasi atau
membuang pori. Keramik yang banyak mengandung pori cenderung
memiliki konduktivitas termal yang lebih kecil dibandingkan dengan
keramik yang tidak mengandung pori [13].

II.3.3. Teknik redoks


Beberapa bahan keramik mempunyai sifat listrik yang sangat
dipengaruhi oleh lingkungannya. Bahan seperti Fe2O3 tahanan
listriknya dapat diperkecil dengan mereduksinya di dalam gas
reduktif. Akibat reduksi, bahan Fe2O3 yang stoikiometris akan
menjadi Fe2O3 yang non-stoikiometris yaitu Fe2O3-x. Reaksi kimianya
diperlihatkan pada persamaan (2-4). Di dalam Fe2O3 sebagain
Fe3+ direduksi menjadi Fe2+. Dengan kondisi yang barunya, di
dalam bahan terbentuk elektron tambahan yang menyebabkan
konduksitivitas listrik membesar. Sebaliknya jika ingin memperkecil

18
BAB II | KERAMIK

konduktivitas ionik, bahan yang non-stoikiometris (kekurangan


oksigen) dioksidasi di dalam oksigen menjadi stoikiometris seperti
persamaan (2-5).

…………………………..…………….(2-4)
………………….…………………….……….(2-5)

II.4. Nanopartikel Keramik dan Aplikasinya


Keramik yang telah dijelaskan umumnya dalam bentuk bulk,
thick film, dan thin film. Penjelasan mengenai keramik tersebut
dapat dijadikan sebagai pengetahuan dalam memahami keramik. Di
bagian ini dijelaskan keramik dalam bentuk serbuk ukuran nanometer
(nanopartikel) dan aplikasinya. Sejalan dengan perkembangan
nanoteknologi berkembang pula penelitian dan aplikasi keramik
khususnya nanoceramic. Keramik nanopartikel banyak sekali
aplikasinya. Beberapa di antaranya adalah nanopartikel untuk bidang
kesehatan seperti Fe3O4 untuk Magnetic Resonance Imaging (MRI)
dan terapi kanker [36], nanopartikel untuk bidang lingkungan seperti
Fe2O3 dan Fe3O4 untuk adsorben [37], nanopartikel TiO2, ZnO, Fe2O3
untuk fotokatalis [38-40], dan nanopartikel seperti TiO2, Al2O3, ZnO,
Fe2O3, CuO, Fe3O4, dan ZrO2 [7,41-42] untuk nanofluida perpindahan
panas yang menjadi topik buku ini. Keramik nanopartikel mempunyai
karakteristik yang sangat istimewa dan lebih baik dari bentuk bulk
nya karena mempunyai perbandingan luas permukaan terhadap
volume yang sangat besar.
Jika difokuskan pada aplikasi nuklir khususnya reaktor nuklir
bertipe LWR (Light Water Reactor) yang terdiri dari PWR (Pressurized
Water Reactor) dan BWR (Boiling Water Reactor) terdapat beberapa
daerah aplikasi utama yaitu reaktor bagian dalam (bagian yang
mengandung bahan bakar) dan luar tangki (vessel) untuk PWR

19
BAB II | KERAMIK

dan BWR, dan sistem pendingin sekunder untuk PWR. Daerah


aplikasi ini mempengaruhi pemilihan keramik yang dipakai. Untuk
aplikasi di dalam vessel sebagai pendingin primer keramik harus
mempunyai keoefisien absorbsi neutron termal yang kecil dan
tidak mudah teraktivasi oleh neutron. Berdasarkan harga koefisien
absorpsi neutron termal Pada Tabel 2.2 [43] yang lebih kecil dari
tampang lintang neutron termal hidrogen sebagai komponen
utama air (H2O), untuk daerah ini terdapat 8 jenis bahan yaitu 7
bahan keramik yaitu PbO/PbO2, BeO, Bi2O3, MgO, Al2O3, SiO2, dan
ZrO2 serta 1 bahan non keramik yaitu C (Karbon). Untuk sistem
pendingin sekunder di reaktor jenis PWR, banyak keramik yang
dapat diaplikasikan selain 7 keramik yang telah disebutkan, di
antaranya Fe3O4 [10], NiO[44], ZnO [45,46], CuO[45,47-49], TiO2
[45,49-51], Fe2O3 [52], WO3[53], dan SnO2[54], baik dalam bentuk
keramik larutan padat maupun keramik komposit, dalam bentuk
baik keramik biner maupun keramik terner.
Untuk aplikasi di daerah luar vessel untuk Reactor Vessel Cooling
System (RVCS), keramik yang digunakan pada sistem pendingin
sekunder juga dapat dipakai. Sementara untuk Emergency Core
Cooling System (ECCS) keramik harus sama dengan keramik untuk
sistem pendingin primer yaitu PbO/PbO2, BeO, Bi2O3, MgO, Al2O3,
SiO2, dan ZrO2 serta C. Pertimbangannya, pada saat kecelakaan
terjadi, inti reaktor (reactor core ) yang disiram cairan pendingin
(nanofluida) tidak boleh terkontaminasi oleh unsur yang mudah
teraktivasi karena unsur yang teraktivasi dapat menimbulkan radiasi
pengion. Radiasi tersebut akan menambah jumlah radiasi yang
ditimbulkan oleh bahan bakar reaktor.
Dari beberapa keramik yang telah disebutkan, dua di antaranya
yaitu Al2O3 dan ZrO2 ditambah Fe3O4 dan Fe2O3 menjadi perhatian
PSTNT BATAN yang sejak tahun 2011 melakukan penelitian
nanofluida. Salah satu pertimbangannya karena bahan dasar dari

20
BAB II | KERAMIK

keramik-keramik tersebut banyak tersedia di Indonesia berupa


mineral atau limbah. Al2O3 dapat diekstraksi dari mineral bauksit
yang terdapat di Sulawesi dann Kalimantan, dan ZrO2 dari pasir
zirkon yang tersedia di Pulau Bangka-Belitung, serta Fe3O4 dan
Fe2O3 dapat diperoleh dari pasir besi, hematit, dll. yang tersedia di
antaranya di Pulau Jawa bagian selatan. Keramik Fe3O4 dan Fe2O3
sesuai untuk aplikasi pendingin sekunder reaktor PWR dan ERVCS,
dan aplikasi non-nuklir bidang otomotif, lingkungan dan kesehatan,
pendinginan gedung, dll.

Tabel 2.2. Daftar harga koefisien absorpsi neutron termal


beberapa unsur atau senyawa [43].

No. Unsur/ Koefisien absorbsi No. Unsur/ Koefisien absorbsi


Senyawa neutron termal Senyawa neutron termal
(barns) (barns)
1 Al 0,23 18 D2O 0,0013
2 Sb 5,4 19 H 0,332
3 Ba 1,2 20 Fe 2,55
4 Be 0,0092 21 La 9,0
5 Bi 0,033 22 Pb 0,17
6 B 759 23 Mg 0,063
7 Cd 2450 24 Mo 2,65
8 C 0,0034 25 Ni 4,43
9 Ce 0,63 26 Nb 1,15
10 Cr 3,1 27 Si 0,16
11 Co 37,2 28 Ta 21
12 Cu 3,79 29 Sn 0,63
13 Dy 930 30 Ti 6,1
14 Eu 4600 31 W 18,5
15 Gd 49000 32 Y 1,28
16 Ga 2,9 33 Zn 1,10
17 O 0,00027 34 Zr 0,185

21
BAB II | KERAMIK

Berikut ini adalah gambaran dari Al2O3 dan ZrO2 yang menjadi
keramik utama yang diteliti di PSTNT BATAN sejak 2011.

II.4.1. Keramik Al2O3


Al2O3 (alumina) mempunyai berbagai struktur (polimorp)
yaitu (α, χ, η, δ, θ, γ, dan ρ) Al2O3. Alfa Alumina (α-Al2O3) disebut
juga sebagai korundum adalah alumina yang paling stabil.
Alumina alfa mempunyai titik leleh 2054ºC[13]. Keramik alumina
mempunyai konduktivitas listrik yang rendah oleh karena itu sering
dimanfaatkan untuk isolator listrik. Karena sifat mekaniknya sangat
baik keramik Al2O3 sering digunakan untuk bahan struktur. Di antara
berbagai keramik, Al2O3 mempunyai konduktivitas termal yang
relatif besar yaitu sebesar 35 W/K [55]. Konduktivitas panas yang
relatif baik menyebabkan Al2O3 digunakan sebagai keramik substrat
elektronik. Konduktivitas termal yang baik juga dibutuhkan untuk
aplikasi nanofluida. Secara kimia Al2O3 juga sangat stabil artinya
tahan terhadap lingkungannya karena itu sering dipakai untuk
bahan tungku bagian dalam dan luar. Al2O3 umumnya diproduksi
dari mineral bauksit dengan proses bayer. Bauksit di Indonesia di
antaranya terdapat di Pulau Sulawesi. Koefisien absorbsi neutron
termalnya yang kecil, bahkan lebih kecil dari air (0,33 barns)[43] yang
digunakan sebagai pendingin reaktor PWR dan BWR, menyebabkan
Al2O3 dalam ukuran nanometer sangat sesuai untuk nanofluida
reaktor nuklir. Alumina untuk nanofluid aplikasi reactor nuklir harus
memiliki kemurnian yang tinggi, terutama tidak boleh mengandung
impuritas yang mengganggu ekonomi neutron di dalam reaktor
nuklir, menimbulkan masalah radiasi (akibat aktivasi impuritas oleh
neutron), dan masalah korosi baik pada bahan bakar maupun pada
tangki (vessel). Nanopartikel alumina dapat diproduksi dengan cara
kimia seperti solgel, presipitasi dan spray pirolysis. Pada Gambar

22
BAB II | KERAMIK

2.6 diperlihatkan struktur alumina alfa. Sementara pada Tabel 2.2


diperlihatkan sifat-sifat keramik Alumina [55].

Gambar 2.6. Struktur Al2O3 alfa [56].

II.4.2. Keramik ZrO2


ZrO2 merupakan keramik polimorp, artinya berstruktur lebih dari
satu yaitu monoklinik, tetragonal, dan kubus. Keramik ini mempunyai
titik leleh 2677ºC[13]. Keramik ini mempunyai konduktivitas listrik
yang lebih rendah dari pada Al2O3. Sama dengan Al2O3 sering pula
dimanfaatkan untuk isolator listrik. Karena sifat mekanik keramik
ini sangat baik, keramik ZrO2 digunakan pula untuk bahan struktur
terutama setelah ditambah keramik lain seperti Y2O3, MgO, dan CaO.
Dibanding dengan Al2O3, ZrO2 mempunyai konduktivitas termal
yang relatif lebih kecil yaitu 2,7 W/m.K [55]. Secara kimia ZrO2 juga
sangat stabil artinya tahan terhadap lingkungannya. Sama seperti

23
BAB II | KERAMIK

Al2O3, keramik ZrO2 juga sering dipakai untuk bahan tungku. Seperti
juga Al2O3, karena koefisien absorbsi neutron termalnya kecil, lebih
kecil dari air (0,33 barns) yang digunakan sebagai pendingin reaktor
PWR dan BWR, ZrO2 dalam ukuran nanometer sangat sesuai untuk
nanofluida reaktor nuklir. Struktur kristal ZrO2 diperlihatkan pada
Gambar 2.7. Dibanding dengan Al2O3, keramik ZrO2 lebih berat
pada volume yang sama. Keramik ZrO2 biasanya diperoleh dari pasir
zirkon (ZrSiO4) yang banyak terdapat di Pulau Bangka dan Belitung,
serta Pulau Kalimantan. Nanopartikel ZrO2 dapat diproduksi dengan
cara kimia seperti solgel, presipitasi dan spray pirolysis. Tabel 2.3
memperlihatkan sifat-sifat keramik ZrO2 [55].

Gambar 2.7. Struktur kristal ZrO2 [56].

24
BAB II | KERAMIK

Tabel 2.3. Sifat-sifat keramik Al2O3 [55].

No. Sifat Satuan Keterangan Harga


Sifat Fisika
1 Rumus kimia Al2O3
2 Rapat massa g/cm3 3,7-3,97
3 Struktur Kristal hexagonal
4 Warna Putih/gading
5 Kekerasan Mohs 69
Kekersan Knoop(kg/mm) 2000
Sifat Mekanik
6 Kekuatan tekan MPa (Suhu ruang) 2070-2620
7 Kekuatan tarik MPa (Suhu ruang) 260-300
8 Young Modulus GPa 393
9 Flexural strength MPa(Suhu ruang) 310-379
10 Bilangan Poisson 0,27
11 Ketangguhan retak MPa x m1/2 4,5
Sifat Panas
12 Thermal shock ∆T (ºC) 200
resistance
13 Konduktivitas panas W/m.K(Suhu ruang) 35
14 Koefisien ekspansi µm/m.K 8,4
panas linear
15 Panas jenis Cal/g.ºC 0,21
Sifat Listrik
16 Konstanta dielektrik 1MHz (Suhu ruang) 9,6
17 Kekuatan dielektrik kV/mm 15
18 Resistivitas listrik Ohm.m (Suhu ruang) >1014

25
BAB II | KERAMIK

Tabel 2.4. Sifat-sifat Keramik ZrO2 [55].

No. Sifat Satuan Keterangan Harga


Sifat Fisika
1 Rumus kimia ZrO2
2 Rapat massa g/cm 3
6,04
3 Struktur Kristal Tetragonal
4 Warna Putih
5 Kekerasan Mohs 6,5
Kekersan Knoop(kg/mm) 1600
Sifat Mekanik MPa (Suhu ruang) 2500
6 Kekuatan tekan MPa (Suhu ruang) 2500
7 Kekuatan tarik MPa (Suhu ruang) 248
8 Young Modulus Gpa 207
9 Flexural strength MPa(Suhu ruang) 900
10 Bilangan Poisson 0,32
11 Ketangguhan retak MPa x m1/2 13,0
Sifat Panas
12 Thermal shock ∆T (ºC) 280-360
resistance
13 Konduktivitas panas W/m.K(Suhu ruang) 2,7
14 Koefisien ekspansi µm/m.K 11
panas linear
15 Panas jenis Cal/g.ºC 0,1
Sifat Listrik
16 Konstanta dielektrik 1MHz (Suhu ruang) 26
17 Kekuatan dielektrik kV/mm 9,0
18 Resistivitas listrik Ohm.m (Suhu ruang) >104

26
BAB III
SINTESIS DAN KARAKTERISASI
NANOPARTIKEL

III.1. Sintesis nanopartikel/nanopowder


Sintesis nanopartikel dapat dilakukan dengan cara kimia dan
cara fisika. Cara kimia dikenal sebagai metode bottom-up sementara
cara fisika dikenal sebagai metode top-down.

III.1.1. Cara Kimia


Sintesis cara kimia atau bottom-up banyak sekali jenisnya. Pada
buku ini dijelaskan beberapa di antaranya yaitu presipitasi dan
kopresipitasi, solgel, spray pyrolysis, dan hidrotermal.

III.1.1.1. Metode presipitasi dan kopresipitasi


Proses sintesis ini relatif sederhana menggunakan prekursor
bentuk larutan garam logam atau logam hidroksi. Bila larutan
prekursor hanya terdiri atas satu jenis, maka prosesnya disebut
presipitasi, dan bila larutan prekursornya jamak lebih dari satu
jenis, maka prosesnya disebut kopresipitasi. Proses kopresipitasi
yang terkenal (klasik) adalah proses yang dilakukan untuk sintesis
Fe3O4 nanopartikel untuk ferrofluid atau aplikasi biomedis seperti
hipertermia untuk terapi kanker dan lain-lain. Sintesis dilakukan
dengan memakai FeCl2 dan FeCl3 sebagai precursor. FeCl2 dapat
diganti dengan FeSO4. Dua bagian FeCl3 dalam mol dan satu
bagian FeCl2 dalam mol dilarutkan di dalam air. Kemudian NH4OH

27
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

ditambahkan kedalam larutan hingga terjadi pengendapan dengan


endapan berwarna hitam pada pH > 8. Endapan Fe3O4 dikeringkan
dan digerus untuk mendapatkan Fe3O4 nanopartikel. Reaksi
pembentukan Fe3O4 diperlihatkan pada persamaan (3-1).

....…(3-1)

Sintesis Fe3O4 nanopartikel dengan cara presipitasi salah


satunya dilakukan dari bahan Fe3O4 yang ukuran partikelnya
relatif besar misalnya dalam mikrometer. Partikel dengan ukuran
bukan nanometer dilarutkan dengan asam klorida, setelah larut
diendapkan lagi dengan menambahkan ammonia hingga pH lebih
besar dari 8. Endapan yang diperoleh adalah Fe3O4 nanopartikel.
Contoh Fe3O4 nanopartikel yang diperoleh dengan cara ini adalah
yang diperlihatkan pada Gambar 3.1.

Gambar 3.1. Serbuk Fe3O4 nanopartikel hasil proses presipitasi (a),


dan pola difraksinya (b) [10].

Contoh sintesis kopresipitasi untuk lebih dari satu prekursor


adalah sintesis Co1-xZnxFe2O4 berikut ini [57]. Sintesis Co1-

28
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

xZnxFe2O4 nanopartikel dilakukan menggunakan prekursor


FeCl3.6H2O, CoCl2.6H2O dan ZnCl2. Ketiga prekursor ini dicampur
hingga homogen sambil dipanaskan pada suhu 80ºC. Kemudian,
larutan NaOH (2M) ditambahkan kedalam larutan campuran hingga
terjadi pengendapan pada pH sekitar 10. Pemanasan larutan pada
suhu 80ºC dilanjutkan selama 1 Jam. Pengendapan terjadi sesuai
reaksi persamaan (3-2).

...........................................….(3-2)

Contoh kopresipitasi lainnya adalah sintesis BaZrO3 berikut


ini. Sejumlah BaCl2.2H2O dan ZrOCl2.8H2O dilarutkan di dalam 50
ml air. Kemudian larutan campuran tersebut ditambahkan kedalam
larutan 100 ml NaOH sambil dipanaskan 80ºC dan diaduk. Endapan
yang terbentuk dicuci dan dikeringkan pada suhu 110ºC.

III.1.1.2. Metode solgel


Proses solgel adalah proses pembentukan zat anorganik
melalui reaksi kimia pada suhu rendah dalam larutan melalui proses
perubahan dari sol ke gel. Sol adalah suspensi koloid stabil yang
fasa terdispersinya berbentuk padat berukuran sangat kecil partikel
atau polimer yang memungkinkan tersuspensi oleh gerak Brown
dan fasa pendispersinya adalah cairan. Gel adalah jaringan kontinyu
tiga dimensi yang melingkupi fasa cair. Di dalam gel jaringan
terbentuk dari aglomerasi partikel koloid. Di dalam gel polimer
partikel mempunyai substruktur polimer yang terbuat dari agregat
partikel subkoloid. Umumnya partikel sol berinteraksi dengan gaya
van der Waals atau ikatan hydrogen. Sebuah gel dapat terbentuk
pula dari gabungan rantai polimer. Metode solgel dikembangkan

29
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

sejak tahun 1960 an yang tujuan awalnya untuk memenuhi


kebutuhan metode sintesis baru di industri nuklir. Pada waktu itu
diperlukan sebuah metode yang dapat mengurangi produksi debu,
memungkinkan penyinteran pada suhu yang lebih rendah, sekaligus
dapat dikendalikan dari jarak jauh (remote control). Metode solgel
dapat digunakan untuk membuat berbagai bentuk produk seperti
struktur porus, fibers, serbuk, dan film tipis.
Langkah proses solgel dilaksanakan sesuai produk yang akan
dibuat. Jika produknya berupa film tipis (thin film), maka prekursor
langsung dilapiskan pada substrat, lalu dipanaskan pada suhu
tertentu, atau prekursor dihidrolisis dan dipolimerisasi terlebih
dahulu menjadi sol, lalu sol dilapiskan pada substrat kemudian
dipanaskan pada suhu tertentu. Jika produknya berupa serbuk
nanopartikel, maka dapat dilakukan dengan dua jalur. Pertama, sol
diendapkan lalu dipanaskan dan hasilnya digerus (precipitation).
Kedua, sol dipanaskan pada suhu rendah hingga menghasilkan
gel basah (wet gel), lalu dipanaskan pada suhu lebih tinggi untuk
menghasilkan xerogel. Kemudian xerogel dikalsinasi pada suhu
tertentu, dan hasilnya digerus. Untuk menghasilkan produk benda
padat tertentu, xerogel dapat langsung disinter. Untuk menghasilkan
keramik fiber, sol dispin lalu dipanaskan. Secara garis besar proses
solgel dapat dilihat pada Gambar 3.2.

30
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

Gambar 3.2. Teknologi solgel dan produknya [58].

Proses solgel dapat dilakukan pada suhu rendah dan produknya


mempunyai kehomogenan tingkat molekul (molecular-level
homogenity). Prekursor untuk sintesis solgel biasanya dalam bentuk
alkosid logam (metal alkoxides) berbentuk M(OR)z atau garam logam
(metal salts) berbentuk di antaranya klorida, oksiklorida, dan nitrat.
Dalam proses solgel terdapat beberapa jalur proses di antaranya
jalur hidrolisis dan poli kondensasi, dan jalur Pechini. Jika prekursor
berbentuk logam alkosid, perubahan bentuk sol menjadi bentuk gel
terjadi melalui reaksi hidrolisis dan reaksi kondensasi.
Hidrolisis
M-O-R + H2O M-OH + R-OH (hidrolisis) ……...........………......…..(3-3)
Kondensasi
M-OH + HO-M M-O-M + H2O (kondensasi air)……...............…..(3-4)
M-O-R + HO-M M-O-M + R-OH (kondensasi alkohol)…....…..(3-5)
dengan, (M = Si, Zr, Ti, dll.).

31
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

Salah satu contoh sintesis dengan cara ini adalah sintesis TiO2
yang dilakukan oleh Simonsen dan Sogaard [59] berikut.
Ti-OR + H2O Ti-OH+ROH Hidrolisis
Ti-OH + OR-Ti Ti-O-Ti + ROH Kondensasi
Ti-OH + HO-Ti Ti-O-Ti + H2O Kondensasi
Contoh sintesis lainnya adalah sintesis ZrO2 yang dilakukan
oleh Agoudji dkk. [60] berikut.
Zr(OR)3OR+H2O Zr(OR)3OH +ROH Hidrolisis
Zr(OR)3OH +Zr(OR)3OR (OR)3Zr-O-Zr(OR)3 +ROH Kondensasi
atau
Zr(OR)3OH +Zr(OR)3OH (OR)3Zr-O-Zr(OR)3 +H2O Kondensasi
dengan, OR =OC3H7
Diagram alir proses solgel jalur alkosid untuk membuat ZrO2
nanopartikel dari Agoudji dkk. [60] diperlihatkan pada Gambar 3.3.

Gambar 3.3. Diagram alir sintesis ZrO2 dengan solgel prekursor alkosida.

32
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

Gambar 3.4. Serbuk ZrO2 hasil proses solgel sesuai Gambar 3.3.

III.1.1.2.1. Metode Pechini (Pechini Method)


Proses solgel Pechini adalah proses solgel yang menggunakan
asam sitrat sebagai pengkelatnya. Proses ini dikreasi pertama kali
oleh Maggio Pechini pada tahun 1967 [61]. Penggunaan asam sitrat
sebagai pengkelat dilakukan karena asam sitrat merupakan agen
pengkompleks yang efektif dan relatif murah. Contoh proses solgel
Pechini adalah sintesis Al2O3 nanopartikel berikut ini. Sejumlah
AlCl3 dan asam sitrat dilarutkan di dalam air dengan perbandingan
mol ion logam dan asam sitrat 1:1. pH larutan diatur hingga pH 5
dengan menambahkan NH4OH. Larutan ini membentuk sol. Skema
proses pengkelatan selama proses pembentukan sol diperlihatkan
pada Gambar 3.5. Larutan sol yang terbentuk dipanaskan pada suhu
80ºC hingga membentuk gel. Gel dipirolisis pada suhu 200ºC hingga
membentuk gel kering. Selanjutnya gel kering (xerogel) dikalsinasi
pada suhu 900ºC selama 3 Jam. Serbuk Al2O3 nanopartikel hasil
sintesis yang merupakan γ-Al2O3 dan pola difraksi sinar-X nya
diperlihatkan pada Gambar 3.6.

33
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

Gambar 3.5. Skema proses pengkelatan selama pembentukan sol


untuk sintesis Al2O3.

Gambar 3.6. Serbuk Al2O3 nanopartikel hasil proses solgel Pechini


dikalsinasi pada suhu 900ºC selama 3 jam (kiri) dan pola XRD nya (kanan)
[62].


Contoh kedua proses solgel Pechini adalah proses sintesis
ferit Cd1-xZnxFe2O4 berikut. Bahan-bahan Fe(NO3)3.9H2O,
Zn(NO3)2.6H2O, Cd(NO3)2.4H2O, asam sitrat dan etilen glikol dengan
perbandingan mol asam sitrat:etilen glikol:ion logam=2:1:1
dilarutkan di dalam air.

34
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

Larutan kemudian dipanaskan pada suhu 110ºC di atas


sebuah hotplate sambil diaduk dengan pengaduk magnet hingga
terbentuk gel. Proses pembakaran kemudian dilakukan pada gel
ini pada suhu 700ºC selama 2 jam di dalam tungku mafel. Reaksi
redoks selama sintesis mengikuti persamaan (3-6). Proses Pechini
di sini merupakan modifikasi karena terdapat perbedaan yaitu
penambahan etilen glikol. Etilen glikol di sini digunakan sebagai
pemercepat proses pembakaran. Selama proses solgel Pechini
terjadi proses pembentukan gel seperti skema Gambar 3.7.

(1-x)Cd(NO3)2 + 2Fe(NO3)3 + x Zn(NO3)2 Cd1-xZnxFe2O4 + gas ....( 3-6 )

Gambar 3.7. Skema pembentukan gel selama proses solgel Pechini


material Cd1-xZnxFe2O4 [63].

35
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

Contoh ketiga proses solgel Pechini adalah sintesis YSZ


berikut ini. Sejumlah ZrOCl2.8H2O (ZOC), yttrium nitrat dan asam
sitrat dilarutkan di dalam air dengan perbandingan mol ion
logam dan asam sitrat 1:1. pH larutan diatur hingga pH 5 dengan
menambahkan NH4OH. Larutan sol yang terbentuk dipanaskan pada
suhu 80ºC hingga membentuk gel. Gel dipirolisis pada suhu 200ºC
hingga membentuk gel kering. Selanjutnya gel kering (xerogel)
dikalsinasi pada suhu 800ºC selama 3 jam. Gambar visual serbuk
YSZ nanopartikel yang terbentuk dan pola d XRD nya diperlihatkan
pada Gambar 3.8.

Gambar 3.8. Serbuk YSZ hasil proses Pechini (kiri) dan


pola XRD nya (kanan) [64].

Contoh keempat adalah sintesis LiMn2O4 nanopartikel berikut


ini. Sejumlah 0,01 mol Li(CH3COO)·H2O, 0,02 mol Mn(CH3COO)2.4H2O
dilarutkan di dalam air, lalu ditambah larutan 0,03 mol asam sitrat
sambil diaduk. Sesudah semua garam larut sempurna, larutan
dipanaskan pada suhu 80ºC selama 2 jam. Setelah penguapan
pada suhu 80-100ºC, terjadi perubahan sol menjadi gel kental. Gel
dipanaskan pada suhu 120ºC selama 3 jam untuk memperoleh gel
kering. Gel kering dikalsinasi pada suhu 550ºC selama 3 jam untuk
memperoleh serbuk LiMn2O4. Pola difraksi bahan hasil sintesis
diperlihatkan pada Gambar 3.9.

36
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

Gambar 3.9. Pola difraksi sinar-x serbuk LiMn2O4 nanopartikel [65].

Contoh kelima adalah sintesis Zn-Ni-Cu Ferrite berikut ini.


Proses sintesisnya diperlihatkan pada Gambar 3.10.

Gambar 3.10. Sintesis ferit Zn-Ni-Cu dengan metode solgel Pechini [66].

37
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

Terdapat kecenderungan untuk melakukan sintesis nanopartikel


yang ramah lingkungan atau dikenal sebagai green synthesis. Proses
solgel yang diterangkan sebelum ini menggunakan asam sitrat
komersial yang ada di pasaran. Untuk mendapatkan proses solgel
yang ramah lingkungan asam sitrat dapat diganti dengan ekstrak
buah lemon atau belimbing wuluh. Sintesis ramah lingkungan
dengan cara solgel menggunakan citrus aurantifolia dari buah-
buahan lokal sebagai pengkelat telah dilakukan oleh Samat dkk.,
tahun 2013 untuk menghasilkan ZnO nanopartikel dari prekursor
Zn asetat.

III.1.1.2.2. Self combustion


Proses selfcombustion atau selfcombustion synthesis (SCS)
hampir sama dengan proses solgel Pechini namun proses
pemanasannya sedikit berbeda. Pada proses Pechini gel dipanaskan
di dalam tungku dengan kecepatan tertentu sementara pada SCS,
gel dipanaskan secara mendadak dengan pembakaran (self ignition).
Pembakarannya dapat menggunakan tungku atau pemanas terbuka
seperti kompor atau api dari arang atau kayu. Ilustrasi prosesnya
dapat dilihat pada Gambar 3.11. Pada proses ini diperlukan bahan
bakar agar mudah terbakar. Bahan yang digunakan biasanya glycine,
hydrazine dan asam sitrat.

Gambar 3.11. Proses selfcombustion [67].

38
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

Contoh sintesis dengan metode SCS adalah sintesis serbuk Ni1-


z
Fe2+zO4 ukuran nanometer yang dilakukan Sutka [65] berikut ini.
Senyawa Ni(NO3)2.6H2O dan Fe(NO3)3.9H2O dengan perbandingan
molar yang sesuai komposisi Ni1-zFe2+zO4 dilarutkan di dalam air.
Asam sitrat ditambahkan kedalam larutan dengan perbandingan
molar terhadap senyawa nitrat 1:1. pH larutan diatur menjadi 7
memakai NH4OH. Larutan campuran dipanaskan pada suhu 80ºC
hingga membentuk gel kering. Gel kemudian dipanaskan pada suhu
250ºC untuk menimbulkan reaksi selfcombustion dan menghasilkan
hasil bakar seperti kertas terbakar yang ringan (disebut juga
sebagai as-burnt powder atau loose powder). Reaksi selfcombustion
adalah reaksi oksidasi-reduksi. Di sini ion NO3- menjadi oksidan
atau pengoksidasi dan kelompok hidroksil menjadi reduktan atau
pereduksi. Reaksi dapat berlangsung sempurna ketika perbandingan
antara oksidan dan reduktan 1:1. Reaksi pembakaran nitrat-sitrat
berlangsung sesuai persamaan (3-7) dan pola difraksi serbuk yang
dihasilkan diperlihatkan pada Gambar 3.12.
Ni(NO3)2 + 2Fe(NO3)3 + 3C6H8O7 NiFe2O4 + 4N2 + 18CO2 + 12 H2O …(3-7)

Gambar 3.12. Pola difraksi (XRD) serbuk Ni1-zFe2+zO4 yang berstruktur


kubik spinel.

39
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

Contoh lainnya adalah sintesis serbuk LaCo0.6Fe0.4O3 ukuran


nanometer berikut ini yang dilakukan oleh Megha, dkk.[69]. Senyawa
yang digunakan adalah La(NO3)3.6H2O, Co(NO3)2.6H2O, Fe(NO3)3.9H2O,
asam sitrat, etilen glikol (kemurnian 99–99.99%), dan air. Larutan
prekursor disiapkan dari logam nitrat, asam sitrat, asam nitrat dan air
(bebas ion). Larutan digetarkan dengan gelombang ultrasonik agar
larut sempurna. Perbandingan molar antara asam sitrat dan kation
logam adalah 2:1. Larutan dipanaskan pada suhu 60ºC sambil diaduk
dengan magnetic stirrer. Etilen glikol ditambahkan kedalam larutan
dengan perbandingan molar 3:1 terhadap asam sitrat. Larutan
kemudian dipanaskan pada suhu 90ºC di atas hot plate, dilanjutkan
pada suhu 100ºC hingga membentuk gel. Gel kemudian dipanaskan
di dalam hot mantle pada suhu 350ºC. Gel yang dipanaskan
mengalami dehidrasi untuk membentuk kompleks polimer diikuti
dengan dekomposisi bersamaan dengan proses swelling yang dasyat
menghasilkan produk berwarna hitam yang sangat ringan (foamed
black product atau loose black product). Produk berwarna hitam
yang dihasilkan dikalsinasi pada suhu 500-1000ºC selama 6 Jam.
Gambar 3.13 memperlihatkan pola difraksi serbuk LaCo0.6Fe0.4O3
nanopartikel hasil sintesis.

Gambar 3.13. Pola difraksi (XRD) serbuk LaCo0.6Fe0.4O3 nanopartikel


hasil sintesis [69].

40
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

III.1.1.3. Spray Pyrolisis


Spray pyrolysis adalah proses aerosol untuk mengatomisasi
larutan membentuk droplet dan memanaskan droplet tersebut
untuk menghasilkan partikel padat. Proses ini relatif sederhana,
reprodusibel, ukuran partikel mudah untuk dikontrol, dan murah.
Secara skematis proses spray pyrolysis diperlihatkan pada Gambar
3.14. Larutan awal diatomisasi, lalu ditiup dengan gas ke dalam
tungku. Di dalam tungku droplet yang terbentuk dipanaskan hingga
berubah menjadi serbuk/partikel oksida (mengalami oksidasi) dan
ditampung di presipitator. Karakteristik hasil sintesis dipengaruhi
oleh beberapa parameter di antaranya konsentrasi material awal,
suhu, dan tekanan saat atomisasi.

Gambar 3.14. Skema proses spray pyrolysis [70].

Contoh sintesis dengan spray pyrolysis adalah proses sintesis


ZnO nanopartikel berikut ini yang dilakukan oleh Reza dkk.[71].
Seng asetat dehidrat (Zn(CH3COO)2.2H2O) dengan kemurnian 99.5%
dijadikan prekursor. Larutan prekursor disiapkan dari zat tersebut
dan aquades. Beberapa tetes asam cuka ditambahkan kedalam

41
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

larutan untuk menyetabilkan larutan sol yang terbentuk. Untuk


mendapatkan konsentrasi optimal dilakukan variasi konsentrasi
sebesar 5, 15, 20 dan 25% berat. Udara kering digunakan sebagai
pembawa larutan prekursor ke nebulizer dan juga menyuplai tekanan
yang diperlukan untuk mengatomisasi larutan. Larutan prekursor
dialirkan ke nebulizer, diatomisasi dengan tekanan 7 bar, dan
dikirimkan ke tungku dengan suhu kerja 1200ºC, hasilnya ditampung
di presipitator. Seng asetat yang tidak bereaksi dibersihkan dengan
cara mencuci nanopartikel menggunakan air. Pola difraksi sinar-X
nanopartikel yang dihasilkan diperlihatkan pada Gambar 3.15.

Gambar 3.15. Pola difraksi ZnO nanopartikel hasil sintesis [71].


a. ZnO 5%, b. ZnO 15%, c. ZnO 20%, d. ZnO 25%, e. ZnO 20%(a), dan
f. ZnO 20%(b).

III.1.1.4. Metode Hidrotermal


Sintesis hidrotermal secara umum didefinisikan sebagai sintesis
kristal atau pertumbuhan kristal di bawah suhu dan tekanan tinggi
air, dari zat-zat yang tidak dapat larut pada suhu dan tekanan biasa
(<100ºC, <1 atm) [72]. Proses reaksi selama proses hidrotermal
berlangsung di dalam otoklaf. Untuk skala laboratorium, otoklaf yang

42
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

biasa digunakan adalah otoklaf seperti terlihat pada Gambar 3.16.


Proses sintesis hidrotermal adalah sintesis yang sederhana dan ramah
lingkungan. Suhu proses relatif rendah. Prekursor yang digunakan
biasanya berupa garam logam yang banyak tersedia di pasaran.
Seiring dengan perkembangan teknologi, proses hidrotermal juga
berkembang dengan modifikasi-modifikasi sehingga muncul sintesis
yang dikenal sebagai microwave hydrothermal synthesis, ultrasonic-
hydrothermal synthesis, electrochemical-hydrothermal synthesis, dan
mechano-chemical hydrothermal synthesis.
Tekanan yang timbul di dalam sebuah otoklaf dipengaruhi oleh
volume air dan prekursor atau ruang kosong yang tersisa. Gambar
3.17 memperlihatkan tekanan di dalam otoklaf sebagai fungsi suhu
dan volume ruang otoklaf yang terisi. Sebagai contoh sesuai Gambar
3.18, jika sebuah otoklaf terisi 70% dari volume total, maka pada
suhu 400ºC akan memiliki tekanan sekitar 900 bar.
Untuk kemudahan reaksi, biasanya ditambahkan pula
mineralizer yang mempermudah kristalisasi tetapi tidak ikut serta
dalam reaksi. Dengan mineralizer kepolaran pelarut ditingkatkan
sehingga kelarutan suatu zat terlarut dapat ditingkatkan. Zat yang
biasa digunakan adalah zat hidroksida seperti NaOH dan KOH.

a b

Gambar 3.16. Otoklaf untuk sintesis metode hidrotermal [73]. a. Bentuk


utuh, b. Bentuk parsialnya.

43
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

Gambar 3.17. Tekanan otoklaf pada berbagai suhu dan fraksi ruang
otoklaf yang terisi [74].

Salah satu sintesis Al2O3 yang sangat efisien dengan metode


hidrotermal adalah sintesis yang dilakukan oleh Shah dkk. berikut
[75]. Pada sebuah percobaan, 5 mg serbuk Al dicampurkan dengan
air sebanyak 10 ml, lalu digetarkan dengan gelombang ultrasonik
selama 20 menit. Suspensi kemudian dipanaskan di dalam otoklaf
pada suhu 50-200oC selama 12-24 jam. Al2O3 nanopartikel yang
dihasilkan berbentuk rod (nanorod). Pada proses ini tidak diperlukan
katalisator seperti NaOH atau KOH. Contoh Al2O3 nanorod hasil
pemanasan pada suhu 150ºC selama 12 jam diperlihatkan pada
Gambar 3.18.

Gambar 3.18. Al2O3 nanorod hasil hidrotermal pada suhu 150ºC selama
12 jam dipotret dengan FESEM [76].

44
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

Proses hidrotermal juga dapat digunakan untuk memproduksi


nanopartikel (ukuran nanometer) dari material bukan nanopartikel
(ukuran mikrometer). Usaha untuk membuat ZrO2 nanopartikel
dari ZrO2 bukan nanopartikel telah dilakukan oleh Behbahani dkk.
[73]. Proses yang dilakukan mereka adalah sebagai berikut. 0,085 g
serbuk ZrO2 komersial dicampur dengan 75 ml larutan NaOH 10M.
Campuran diaduk dengan pengaduk magnet selama 3 jam dengan
kecepatan 850 rpm. Campuran yang telah diaduk ditempatkan di
dalam otoklaf volume 100 ml, lalu dipanaskan pada suhu 150ºC
selama 85 jam. Serbuk ZrO2 yang dihasilkan berukuran puluhan
nanometer seperti diperlihatkan pada Gambar 3.19 sementara
serbuk ZrO2 sebelum proses hidrotermal berukuran ratusan
nanometer seperti diperlihatkan pada Gambar 3.20. Mekanisme
proses perubahan ukuran partikel terjadi melalui reaksi ZrO2 dengan
NaOH pekat yang menyebabkan sebagian ikatan Zr-O-Zr putus
dan membentuk kompleks. Kompleks kemudian berubah menjadi
partikel ZrO2 ukuran nanometer.

Gambar 3.19. Serbuk ZrO2 awal sebelum proses hidrotermal [76].

45
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

Gambar 3.20. Serbuk ZrO2 setelah proses hidrotermal [76].

Contoh sintesis dengan hidrotermal lainnya adalah sintesis bahan


apatit sebagai berikut [77]. La2O3 dan Na2SiO3 dengan jumlah sesuai
dengan perbandingan stokiometris material yang akan disintesis,
dicampur hingga homogen kemudian dicampurkan ke dalam larutan
NaOH 3 M sebagai mineraliser dan dipanaskan pada suhu 240ºC
selama 3-4 hari. Produk yang terbentuk kemudian dicuci dengan
aqua DM lalu dikeringkan melalui pemanasan pada suhu 120ºC. Pola
difraksi serbuk hasil sintesis diperlihatkan pada Gambar 3.21.

Gambar 3.21. Pola difraksi La9,33Si6O26 hasil sintesis metode hidrotermal


pada suhu 240ºC selama 72 jam, dikeringkan dan dipanaskan (a) 120ºC
selama 24 jam, (b) 1100ºC selama 17 jam, dan (c) 1600ºC selama 3 jam [77].

46
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

III.1.1.5. Sintesis Grafit Oksida dan Grafen


Pada buku ini nanomaterial yang banyak dibahas adalah
nanomaterial dari bahan keramik. Meskipun bukan keramik, grafit
oksida (GO) dan grafen merupakan material penting yang dapat
pula dimanfaatkan untuk nanofluida. Grafen merupakan keluarga
karbon yang mempunyai koefisien absorpsi neutron termal yang
sangat kecil [43]. Sejak ditemukan pada tahun 2004 oleh Andre K.
Geim dan Konstantin S. Novoselov dari Universitas Manchester,
UK [78] grafen telah diteliti secara luas di seluruh dunia. Grafen
adalah lapisan tunggal karbon dua dimensi (2D) yang tersusun
dalam bentuk kisi heksagonal dengan jarak karbon-karbon
0,142nm [81]. Material ini sangat menarik baik untuk studi
fundamental maupun untuk aplikasi masa depan karena memiliki
karakteristik yang unik. Ilustrasi grafen dan bahan karbon lainnya
diperlihatkan pada Gambar 3.22 [78]. Grafen merupakan bahan
pembentuk (dasar) dari bahan karbon lainnya seperti fulerence
(0D), SWCNT (Single Wall Carbon Nanotube) (1D), DWCNT
(Double Wall Carbon Nanotube) (1D), MWCNT (Multi Wall Carbon
Nanotube) (1D), dan grafit (3D).

Gambar 3.22. Grafen dan bahan karbon lainnya [79].

47
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

GO adalah senyawa yang mempunyai struktur lapisan seperti


grafit tetapi beberapa karbonnya mengandung karbon, oksigen
dan hidrogen [80]. GO berupa padatan berwarna kekuningan. GO
dan grafen dapat dihasilkan dengan berbagai cara namun cara yang
terkenal untuk memperoleh grafit oksida dengan skala besar adalah
metode Hummer [80]. Grafen dapat dibuat dari GO yang diperoleh
dengan metode Hummer.

Gambar 3.23. Bentuk idealisasi grafit oksida [81].

III.1.1.5.1. Sintesis Grafen Oksida (GO)


Proses sintesis GO berikut ini menggunakan metode Hummer.
Pada sebuah contoh sintesis GO proses dilakukan sebagai berikut
[82]. Proses sintesis dimulai dengan stirring 2 gram serbuk grafit
dan 4 gram NaNO3 dengan 98 ml H2SO4 98% selama 4 jam dengan
kecepatan tinggi di dalam ice bath dengan suhu 0ºC. Setelah proses
stirring berjalan selama 1 jam, 8 gram KMnO4 dan 4 gram NaNO3
mulai ditambahkan sedikit demi sedikit dan bertahap larutan akan
berubah warna menjadi hitam kehijauan selama proses penambahan
zat tersebut.

48
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

Setelah proses Hummer selesai dilakukan, dilanjutkan dengan


proses pengadukan pada suhu 35ºC selama 24 jam. Larutan yang
awalnya berwarna hijau keunguan akan perlahan berubah menjadi
coklat muda dan lebih kental. 200 ml aquades ditambahkan secara
bertahap kedalam larutan tersebut dan diaduk kurang lebih selama
1 jam atau sampai larutan tersebut homogen. Dengan penambahan
200 ml aquades tersebut, larutan akan berubah menjadi coklat tua.
Setelah larutan homogen, ditambahkan 15 ml hidrogen peroksida
(H2O2) secara bertahap. Larutan akan berubah warna dari coklat
tua menjadi kuning keemasan. Setelah itu, fasa padat dan cair dari
larutan tadi dipisahkan. Pemisahan dipercepat dengan menggunakan
centrifuge 2000 rpm selama kurang lebih 1 jam. Fasa padat yang
sudah terpisah dari fasa cair, dicuci menggunakan 10 ml HCl 35%
dan aquades beberapa kali sampai pH larutan netral. Larutan grafit
oksida dititrasi menggunakan BaCl2 0.1 M untuk melihat apakah ion
SO4- masih ada di dalam larutan atau tidak. Ketika pH larutan netral
dan tidak ada lagi SO4-, maka dilakukan proses pengeringan pada
grafit oksida pada suhu 110ºC selama 12 jam.

III.1.1.5.2. Sintesis Grafen


Proses sintesis grafen berikut ini merupakan contoh proses
yang diambil dari literatur [82]. Proses sintesis grafen diawali
dengan pelarutan 40 mg grafit oksida dengan 40 ml aquades.
Proses pengadukan dilakukan sampai larutan grafit oksida menjadi
homogen. Setelah itu grafit oksida yang sudah terlarut dalam aquades
digetarkan dengan gelombang ultrasonik yang berfungsi untuk
mengelupas (exfoliate) grafit oksida menjadi lembaran-lembaran
kecil grafen oksida. Proses ultrasonikasi dilakukan menggunakan
gelombang ultrasonik dengan frekuensi lebih dari 20.000 Hz selama
120 menit. Proses reduksi dilakukan dengan cara menambahkan

49
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

10 ml HCl 35% yang berfungsi untuk membuat larutan menjadi


asam karena proses reduksi berlangsung pada suasana asam,
dengan menambahkan 0,8 gram, 1,6 gram, dan 2,4 gram serbuk
Zn sebagai pereduksi kedalam 40 ml larutan grafit oksida. Reaksi
reduksi berlangsung dalam kondisi diam agar proses reaksi reduksi
berlangsung maksimal.
Setelah proses reduksi selesai, larutan diaduk dengan magnetic
stirrer selama 1 jam agar larutan menjadi homogen dan setelah itu
ditambahkan lagi 10 ml HCl 35% yang berfungsi menghilangkan
sisa-sisa seng (zinc) yang tidak bereaksi di dalam larutan. Setelah itu
dilakukan proses pencucian secara berulang kali dengan aquades
sampai pH netral dan tidak ada lagi seng. Contoh serbuk grafen
diperlihatkan pada Gambar 3.24

Gambar 3.24. Contoh grafen [83].

50
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

III.1.2. Cara Fisika


III.1.2.1. High Energy Milling (HEM)
Sintesis nanopartikel dalam bentuk serbuk dengan cara
fisika di antaranya dilakukan dengan metode High Energy Milling
(HEM). Sintesis dengan cara fisika tersebut masuk kedalam metode
sintesis Top-down. Dengan cara ini biasanya partikel berukuran
besar (dalam mikron) digerus (proses milling) dengan HEM
hingga berukuran nanometer. Bahan yang ukuran partikelnya akan
diperkecil dimasukkan kedalam vial (biasanya berbentuk silinder)
bersamaan dengan bola-bola terbuat dari bahan logam atau
keramik. Vial kemudian dikocok atau diputar dengan kecepatan
tinggi menggunakan alat HEM. Alat HEM dapat juga dimanfaatkan
untuk pembuatan paduan (Alloy) dalam hal ini proses milling
disebut Mechanical Alloying (MA). Sintesis material secara reaksi
zat padat pada suhu ruang melalui proses milling energi tinggi
disebut juga sebagai Mechanochemical Alloying. Sedangkan milling
untuk memperkecil ukuran partikel lebih sesuai disebut sebagai
Mechanical Milling (MM).
Faktor yang mempengaruhi karakteristik serbuk yang dihasilkan
adalah kecepatan milling, waktu milling, perbandingan massa antara
bola-bola penggerus dan serbuk umpan (BPR=Ball to powder weight
ratio), dan proporsi pengisian ruang di dalam vial. Kecepatan milling
sangat berpengaruh terhadap hasil akhir proses milling, tetapi
berbeda-beda sesuai jenis alat milling. Di atas kecepatan tertentu
bola-bola penggiling justru tidak mempunyai efek terhadap proses
milling serbuk. Di bawah kecepatan ini peningkatan kecepatan akan
meningkatkan efektivitas efek bola-bola penggiling terhadap proses
milling. Waktu milling juga berpengaruh dalam proses milling.
Namun waktu milling yang lama dapat meningkatkan tingkat
kontaminasi.

51
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

Perbandingan massa antara bola-bola penggerus dan bahan


yang akan digerus (umpan) dapat bervariasi sesuai kebutuhan.
Beberapa penelitian menggunakan BPR sebesar 5:1 [84], 10;1
[85], 35:1 [86], dan 40:1 [87]. Umumnya sintesis dengan HEM
menggunakan BPR 10:1. Untuk sintesis dengan milling skala besar
menggunakan attritor biasanya memakai BPR yang besar misalnya
50:1 atau 100:1. Parameter penting lain selain waktu dan kecepatan
milling serta BPR adalah proporsi ruang yang boleh diisi oleh serbuk
yang akan digerus dengan alat ball mill dan bola-bola penggiling/
penggerus. Diperlukan ruang yang cukup agar serbuk dan bola-
bola untuk bergerak. Proporsi ruang untuk serbuk dan bola-bola,
dan ruang kosong berbeda-beda tergantung jenis alat millingnya.
Umumnya ruang yang terisi adalah 50% dari volume ruang total,
tetapi untuk jenis attritor ruang kosong adalah 20-30%. Contoh
alat HEM jenis shaker dapat dilihat pada Gambar 3.25a, dan contoh
vial tempat penggerusan dapat dilihat pada Gambar 3.25b. Contoh
alat HEM bentuk attritor diperlihatkan pada Gambar 3.26. Untuk
menghindari oksidasi biasanya vial diisi gas inert seperti He atau Ar,
atau divakum. Kelemahan proses sintesis nanopartikel dengan HEM
adalah kemungkinan kontaminasi dari bola-bola penggerusnya, dan
ukuran partikel yang dihasilkan tidak uniform (polydispersed).
Prinsip proses penghancuran bahan dengan HEM diperlihatkan
pada Gambar 3.27. Selama proses milling, vial akan berputar ke satu
arah sementara itu bola-bola penggiling akan berputar mengikuti
arah gerak vial, kemudian pada posisi tertentu bola akan jatuh
menimpa/menumbuk serbuk. Partikel serbuk yang tertumbuk
secara terus menerus akan pecah dan terbelah menjadi partikel
yang lebih kecil. Ukuran partikel yang digerus dengan alat ball mill
akan mengecil sesuai lamanya waktu milling. Makin besar waktu
milling, makin kecil ukuran partikel yang digerus dengan alat ball
mill, namun perubahan ukuran partikel tidak linear (eksponensial)

52
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

terhadap perubahan waktu milling seperti diperlihatkan pada


Gambar 3.28. Untuk waktu milling tertentu, ukuran partikel produk,
ditentukan oleh ukuran partikel umpan.

Gambar 3.25. Sebuah alat HEM jenis shaker (a) dan vial tempat
penggerusan (b) [88].

Gambar 3.26. Sebuah alat HEM jenis attritor, a. Gambar alat, dan b.
Skema sistem attritor [88].

53
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

Gambar 3.27. Prinsip kerja HEM [89].

Gambar 3.28. Data hubungan antara ukuran partikel TiB2 dan waktu
milling sintesis dengan memakai alat attritor [88].

54
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

III.2. Karakterisasi Nanopartikel


III.2.1. Difraksi sinar-X (X-ray Diffraction, XRD)
Difraksi sinar-X merupakan peristiwa fisika ketika sinar-X
yang jatuh mengenai kristal bahan tertentu dihamburkan oleh
kristal tersebut. Sinar-X yang dihamburkan oleh kristal ada yang
saling menguatkan (menghasilkan puncak) dan ada yang saling
melemahkan (tidak menghasilkan puncak). Pola yang demikian
disebut difraksi. Ilustrasi peristiwa gelombang datang yang saling
menguatkan dan saling melemahkan dapat dilihat pada Gambar
3.29. Difraksi terjadi ketika gelombang elektromagnetik mengenai
bahan dengan struktur yang periodik. Jarak yang berulang dalam
struktur periodik tersebut harus sekitar panjang gelombang
elektromagnetik yang berinteraksi. Sinar-X mempunyai panjang
gelombang yang berdekatan dengan jarak antar atom di dalam
kristal. Ilustrasi peristiwa difraksi sinar-X pada kristal diperlihatkan
pada Gambar 3.39.

Gambar 3.29. Ilustrasi peristiwa saling menguatkan dan melemahkan


gelombang yang didifraksi.

55
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

Hubungan antara sudut difraksi sinar-X dan panjang


gelombangnya pertama kali ditemukan oleh Sir W. Lawrence Bragg.
Hubungan tersebut dikenal dengan hukum Bragg [13]. Dari Gambar
3.30, persamaan Bragg persamaan (3-8) dapat diturunkan.

Gambar 3.30. Difraksi sinar-X pada kristal.

Selisih antara panjang lintasan sinar 1 dan panjang lintasan


sinar 2 = 2a = . Untuk menimbulkan difraksi yang saling
menguatkan perbedaan panjang lintasan tersebut harus sama
dengan kelipatan dari λ ditulis nλ. Sehingga persamaan Bragg dapat
ditulis sebagai berikut:
…………………………..(3-8)
Dengan, λ = panjang gelombang sinar-X
θ = sudut difraksi
n = bilangan yang mewakili orde puncak difraksi
d = jarak antar bidang

56
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

Sinar-X yang digunakan adalah sinar-X karakteristik yaitu


sinar-X yang berasal dari tumbukan elektron atau gelombang
elektromagnetik dengan atom yang diilustrasikan pada Gambar
3.31. Gelombang elektromagnetik atau elektron yang menumbuk
elektron di sebuah kulit di dalam sebuah atom (misalnya di kulit
K) menyebabkan elektron di kulit tersebut tereksitasi. Bila elektron
dari kulit L mengisi tempat dikulit K yang ditinggalkan, energi akan
terlepas dalam bentuk sinar-X. Sinar-X ini disebut sinar-X karakteristik
Kα. Jika yang mengisi kekosongan di kulit K adalah elektron dari
kulit M, maka sinar-X yang dihasilkan adalah sinar-X karakteristik Kβ.
Jika dilihat lebih teliti sebenarnya sinar-X karakteristik Kα dari kulit
K terdiri dari dua jenis sinar seperti diperlihatkan oleh Gambar 3.32
yaitu Kα1 dan Kα2. Kα1 adalah sinar-X karakteristik yang dihasilkan
dari eksitasi elektron dari kulit L3 dan sinar-X karakteristik Kα2 adalah
sinar-X karakteristik yang dihasilkan dari eksitasi elektron dari kulit
L2. Energi dari kedua sinar-X ini hampir sama.

Gambar 3.31. Ilustrasi produksi sinar-X dari sebuah atom.

57
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

Gambar 3.32. Proses terjadinya sinar-X karakteristik.

Difraksi sinar-X juga dapat digunakan untuk menghitung


ukuran kristalit (crystallite size) dengan menggunakan persamaan
Debye Scherrer (3-9). Persamaan ini juga dapat digunakan untuk
memprediksi ukuran partikel dari partikel berukuran nanometer
(nanopartikel) khususnya yang berukuran < 50 nm. Puncak-puncak
difraksi pada pola difraksi nanopartikel berukuran besar atau lebar
(gemuk). Persamaan Debye Scherrer ditulis sebagai berikut [90]:
0,9λ
L= …………............……………………….........………………………………………(3-9)
B cos θ
dengan, L = ukuran partikel, B adalah lebar setengah puncak
(FWHM=Full Width at Half Maximum) dalam radian, λ adalah
panjang gelombang sinar-X, dan θ adalah sudut difraksi (setengah
dari sudut Brag 2θ). Persamaan ini berlaku untuk partikel berbentuk
bulat (spherical).

58
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

Sebagai contoh, berikut dilakukan penentuan ukuran partikel


dari pola difraksi Gambar 3.33. Dari Gambar 3.33 diketahui FWHM
adalah 1,1 derajat atau 0,19 radian, dan sudut θ adalah setengah dari
sudut 2θ = 50,4 derajat = 25,2 derajat atau 0,44 radian. Harga cos θ
adalah 0,905 dan harga λ adalah 0,15406 nm. Dengan memasukkan
harga-harga ini kedalam persamaan (3-9) diperoleh L atau ukuran
partikel sebesar 8 nm. Agar lebih akurat kurva puncak sebaiknya
difit terlebih dahulu menggunakan software, misalnya origin.

Gambar 3.33. Contoh puncak pola difraksi.

III.2.2. Scanning Electron Microscope (SEM)


Scanning Electron Microscope (SEM) pada dasarnya adalah
sebuah alat untuk melihat struktur mikro atau morfologi dan untuk
mengetahui kandungan unsur bahan dengan menggunakan berkas
elektron sebagai “sinar”. Sebagai alat untuk mengamati benda,
prinsip alat ini seperti mikroskop optik. Adanya SEM justru untuk
melengkapi mikroskop optik yang tidak mampu melihat benda
yang sangat kecil. Foto sebuah SEM dapat dilihat pada Gambar 3.34.

59
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

Dengan menggunakan Gambar 3.35 sebagai penuntun, secara


garis besar cara kerja sebuah SEM adalah sebagai berikut, elektron
yang dihasilkan electron gun yang dipercepat oleh tegangan
tinggi antara anode dan katode akan menumbuk sampel. Elektron
difokuskan menggunakan lensa magnetik dan dipindai (scanned)
menggunakan koil pemindai (scanning coils). Elektron yang
menumbuk sampel menghasilkan elektron SE (Secondary electron),
elektron ini ditangkap oleh detektor SE dan diteruskan ke layar
CRT atau TV. Juga elektron yang menumbuk sampel menghasilkan
elektron BSE yang ditangkap dengan detektor BSE dan diteruskan ke
CRT atau TV. Selain dihasilkan elektron untuk melihat, dari tumbukan
elektron pada sampel juga menghasilkan sinar-X karakteristik
yang ditangkap oleh detektor EDX atau WDX untuk mengetahui
kandungan unsur di dalam sampel.

Gambar 3.34. Contoh sebuah SEM [91].

60
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

Gambar 3.35. Skema prinsip kerja SEM[92].

III.2.2.1. Daya pisah dan perbesaran


Kemampuan untuk “melihat” yang dimiliki sebuah mikroskop
bergantung pada daya pisahnya dan daya pisah bergantung pada
panjang gelombang (λ). Daya pisah adalah jarak minimum dua titik
yang dapat dibedakan sebagai dua titik berbeda dan terpisah. Daya
pisah merupakan ukuran kejelasan citra dan berhubungan dengan
panjang gelombang sinar yang digunakan. Panjang gelombang
sinar tampak yang besar membuat kemampuan mikroskop optik
untuk membedakan dua titik menjadi kecil. Artinya, perbesaran
mikroskop optik kecil. Daya pisah secara matematis diperlihatkan
pada persamaan (3-19). Seperti terlihat pada persamaan 3-19, makin
besar panjang gelombang makin besar D yang artinya jarak dua titik

61
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

yang dapat dibedakan makin besar.

………………………………...............................……………….(3-19)

dengan, D=daya pisah, λ=panjang gelombang, β adalah ½ sudut


buka lensa objektif, dan n adalah indeks bias.
SEM memiliki sinar elektron yang panjang gelombangnya dapat
diatur. Pengaturan panjang gelombang dilakukan dengan mengatur
tegangan tinggi antara anode dan katode pada tabung penghasil
elektron (V) dan menggunakan persamaan De Broglie. Kecepatan
elektron berkaitan dengan panjang gelombang, hubungan antara
kecepatan elektron dan tegangan tinggi diperlihatkan oleh
persamaan (3-20).

…………………………………………........…………………….(3-20)

dengan, m adalah massa elektron, v adalah kecepatan elektron,


e adalah muatan elektron, dan V tegangan tinggi pada tabung
penghasil elektron.
Dengan menggunakan persamaan De Broglie, diperoleh
hubungan antara panjang gelombang dan kecepatan elektron
seperti persamaan (3-21).

..........………………………………………….………………………(3-21)

dengan, h adalah konstanta Plank = 6x10-34 J s.


Dengan memasukkan persamaan (3-20) ke persamaan (3-21),
diperoleh persamaan (3-22) berikut.

…………………........…………………………………………..(3-22)

62
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

Dengan demikian, daya pisah sebagai fungsi tegangan SEM


dapat ditulis menjadi persamaan (3-23) berikut:

………………………………….......…………………(3-23)

Terlihat dari persamaan (3-23), makin besar tegangan tinggi


SEM, makin kecil D yang artinya jarak antar dua titik yang masih
dapat dibedakan makin kecil. Dengan kata lain mikroskop makin
teliti. Di ruang vakum n=1, untuk sudut kecil sin β = β.
Untuk melihat benda, elektron yang digunakan adalah
elektron sekunder (SE, secondary electron) dan elektron hamburan
balik (BSE, backscattered electron). Kedalaman tempat elektron
sekunder dihasilkan lebih dangkal dari pada kedalaman tempat
elektron BSE dihasilkan, tetapi lebih dalam dari pada kedalaman
tempat elektron auger dihasilkan seperti dapat dilihat pada
Gambar 3.36. Di dalam SEM terdapat masing-masing detektor
untuk menangkap elektron SE dan elektron BSE. Elektron SE
digunakan untuk melihat topografi/morfologi sampel/objek.
Sementara elektron BSE digunakan untuk melihat kontras atau
fase tertentu di dalam sampel. Elektron BSE memberikan citra
warna terang dan gelap berdasarkan berat atom unsur pada
sampel. Citra terang berasal dari unsur dengan berat atom besar
dan citra gelap berasal dari unsur dengan berat atom kecil. Contoh
foto sampel yang dihasilkan menggunakan elektron SE dan BSE
untuk sampel yang sama diperlihatkan pada Gambar 3.37.

63
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

Gambar 3.36. Interaksi antara elektron dan bahan.

Gambar 3.37. Contoh foto sampel dipotret menggunakan elektron BSE


(kiri) dan SE (kanan) [93].

64
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

III.2.2.2. Analisis unsur


Selain untuk melihat, SEM juga berfungsi sebagai alat untuk
mengetahui kandungan unsur di dalam bahan. Prinsipnya dengan
memanfaatkan sinar-X karakteristik yang dihasilkan sampel
atau objek yang terkena oleh tumbukan elektron (Lihat Gambar
3.46). Informasi kandungan unsur dapat diperoleh melalui dari
energi atau panjang gelombang sinar-X yang dipancarkan. Jika
menggunakan energi sinar-X untuk mendeteksi unsur, maka teknik
untuk mendeteksinya disebut EDS (Energy Dispersive Spectroscopy)
atau EDX (Energy Dispersive X-ray Spectroscopy) dan jika panjang
gelombang sebagai dasar untuk medeteksi unsur, maka teknik untuk
mendeteksinya disebut WDS (Wavelength Dispersive Spectroscopy)
atau WDX (Wavelength X-ray Dispersive Spectrosopy). Contoh hasil
analisis EDX pada luasan tertentu pada sebuah sampel diperlihatkan
pada Gambar 3.38. Sementara itu untuk contoh hasil analisis EDX
pada dua titik berbeda pada sebuah sampel diperlihatkan pada
Gambar 3.39.
Fasilitas EDX pada SEM juga dapat digunakan untuk mengetahui
lokasi berbagai unsur di dalam sebuah sampel (peta unsur). Teknik
untuk itu disebut mapping atau tepatnya X-ray mapping. Mapping
dapat digunakan untuk mengetahui distribusi unsur tertentu
yang didopingkan kedalam material tertetntu. Juga cara ini dapat
digunakan untuk mengetahui apakah sebuah larutan padat sudah
terbentuk sempurna atau belum. Sebuah contoh hasil analisis EDX
dengan mapping diperlihatkan pada Gambar 3.40.

65
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

Gambar 3.38. Contoh hasil analisis sampel Al2O3 dengan EDX [94].

66
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

Gambar 3.39. Contoh hasil analisis sampel dengan EDX di dua titik [95].

67
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

Gambar 3.40. Contoh hasil analisis EDX mode mapping. [96].

Sebagai dasar analisis mapping, digunakan citra SEM yang


diambil dengan menggunakan elektron BSE (di sini gambar sampel
dengan kode Grey). Sesuai contoh Gambar 3.40, mapping dilakukan
untuk unsur C, O, Na, Mg, Al, Si, K, Ca, Fe, dan Zr. Hasil mapping C
memperlihatkan kadar C yang rendah dan tersebar diseluruh bagian
sampel. Hasil mapping O, memperlihatkan kadar O yang tinggi dan
tersebar di seluruh bagian sampel, namun di bagian bawah (daerah
terang pada Gambar kode grey) kadarnya sedikit lebih rendah.

68
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

Adanya O pada sampel ini memperlihatkan kemungkinan sampel


merupakan keramik. Hasil mapping Na meperlihatkan kadar yang
rendah dan tersebar di seluruh bagian sampel. Hasil mapping Mg
memperlihatkan kadar yang tinggi dan menumpuk di suatu lokasi
di bagian kiri, di bagian daerah terang gambar kode grey kadarnya
sedikit lebih rendah. Hasil mapping Al sama dengan hasil mapping
Mg, memperlihatkan lokasi yang sama. Hasil mapping Si berlawanan
dengan hasil mapping Mg dan Al. Hasil mapping K sama dengan
hasil mapping C. Hasil analisis mapping Ca sama dengan hasil
mapping Mg dan Al. Hasil mapping Fe sama dengan hasil mapping
Mg. Hasil mapping Zr sangat khas berbeda dengan lainnya. Tampak
Zr berkumpul hampir seluruhnya di daerah warna terang gambar
kode grey. Bagian gambar warna terang di gambar kode grey
adalah inklusi yang mengandung banyak Zr. Sampel kemungkinan
besar merupakan keramik yang mengandung Mg, Si, Al, Ca, Fe, dan
inklusi atau bagian yang tidak larut ZrO2.

III.2.2.3. FE-SEM
Field Emission SEM (FE-SEM) adalah hasil pengembangan SEM
konvensional. Perbedaannya terletak pada sumber elektronnya.
Sumber elektron FE-SEM jauh lebih kecil dari pada sumber elektron
SEM konvensional karena bantuan medan listrik. Penghasil elektron
FE-SEM (field emission gun) dapat memancarkan elektron 1000 kali
lebih banyak dari pada sumber elektron wolfram (Tungsten) pada
SEM [91]. Selain itu pada FE-SEM energi elektronnya lebih besar dan
charging jauh lebih sedikit sehingga FE-SEM menghasilkan gambar
yang lebih jelas (clear) dengan resolusi spasial yang jauh lebih
baik dari pada resolusi spasial SEM konvensional. Sebagai contoh,
untuk arus berkas (beam current) 0,1 nA, spot size sebuah SEM pada
tegangan 20 KV sekitar 30 nm, sementara spot size sebuah FE-SEM

69
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

untuk tegangan yang sama hanya 2,7 nm [97]. Contoh foto yang
diambil dengan FE-SEM dapat dilihat pada Gambar 3.41.

Gambar 3.41. Contoh foto FE-SEM dari sampel Y3Al5O12 (YAG) yang
disinter dengan Spark Plasma Sintering (SPS) [98].

III.2.3. TEM
Transmission Electron Microscope (TEM) adalah salah satu jenis
mikroskop elektron yang prinsip kerjanya mirip dengan prinsip
kerja SEM. Perbedaannya terletak pada cara elektron digunakan
untuk “melihat”. Pada SEM elektron dijatuhkan di permukaan dan
sedikit masuk kedalam sampel tetapi tidak tembus, sementara
pada TEM, elektron ditembuskan melalui sampel. Sampel untuk
SEM tidak perlu tipis, sedangkan sampel untuk TEM harus sangat
tipis, karena elektron harus tembus. Tegangan kerja TEM juga lebih
besar dari pada tegangan kerja SEM. Sebuah TEM secara skematis

70
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

diperlihatkan pada Gambar 3.42. Elektron yang dihasilkan filamen


diakselerasi dengan tegangan tinggi untuk dapat menembus
sampel. Contoh hasil pemotretan dengan TEM dapat dilihat pada
Gambar 3.43. Berkas elektron difokuskan memakai lensa magnetik.
Setelah menembus sampel berkas elektron diproyeksikan memakai
lensa magnetik proyektor.

Gambar 3.42. TEM secara skematis [99].

71
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

Gambar 3.43. Contoh foto sampel ZrO2 nanopartikel diambil memakai


TEM [100].

Keuntungan TEM adalah perbesaran dan resolusinya yang


sangat besar, dapat digunakan untuk berbagai bidang baik ilmiah,
pendidikan, maupun industri, dapat digunakan untuk mendapatkan
informasi baik unsur maupun senyawa, dan gambar yang dihasilkan
detil dan berkualitas tinggi. Sementara kelemahannya adalah sangat
mahal, preparasi sampelnya tidak sederhana, pengoperasian dan
analisis memerlukan orang yang terlatih, sampel terbatas pada
sampel yang transparan, memerlukan pemeliharaan yang khusus,
dan gambar yang dihasilkan hitam-putih.

III.2.4. X-ray Fluorescence (XRF)


XRF adalah alat yang bekerja berdasarkan fluoresensi sinar-X.
Alat ini dapat digunakan untuk mengukur ketebalan lapisan
(coating) dan untuk menganalisis bahan (material). Penentuan unsur
secara kualitatif dan kuantitatif pada sampel bahan dapat dilakukan

72
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

dengan XRF. Keuntungan XRF di antaranya adalah bersifat tidak


merusak (non-destructive), cepat, bersih, aman, dan aplikasinya luas.

Gambar 3.44. Skema peristiwa pembentukan radiasi fluoresen [101].

Prinsip kerja XRF adalah sebagai berikut. Sampel pertama-


tama akan ditembak dengan sinar-X. Elektron dari kulit dalam yang
terkena sinar-X akan keluar. Elektron dari kulit luar akan mengisi
kekosongan tersebut seraya memancarkan radiasi fluoresen yang
khas untuk setiap material. Pembentukan radiasi fluoresen secara
skema diperlihatkan pada Gambar 3.44. Terlihat pada Gambar 3.44,
satu elektron di kulit K dikeluarkan. Lubang yang terbentuk dapat
diisi baik oleh elektron dari kulit L maupun elektron dari kulit M.
Dalam proses ini dihasilkan radiasi Kα dan Kβ. Sinar fluoresen Kα
akan dipancarkan jika elektron dari kulit L yang mengisi kekosongan,
dan sinar fluoresen Kβ jika elektron dari kulit M yang mengisi
kekosongan. Sinar fluoresen akan ditangkap oleh detektor.

73
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

Gambar 3.45. Skema cara kerja XRF [102].

Skema sebuah instrumen XRF diperlihatkan pada Gambar 3.45.


Katode pada sebuah tabung sinar-X menghasilkan berkas elektron
yang ditembakkan ke anode dengan menggunakan tegangan tinggi.
Dari anode dihasilkan berkas sinar-X primer yang dipancarkan
dengan cara membuka shutter ke sampel. Shutter sekaligus berfungsi
sebagai alat keselamatan karena dapat menutup akses ke ruang
pengukuran (measurement chamber). Intensitas radiasi fluoresen
yang mengenai sampel/ukuran spot diatur dengan sebuah aperture.

74
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

Elektron yang mengenai sampel menghasilkan radiasi fluoresen


sinar-X yang ditangkap oleh sebuah detektor untuk menghasilkan
gambar spektrum. Dengan cermin dan lensa sebagian informasi
gambar sampel yang diperoleh menggunakan lampu cahaya biasa
dikirimkan ke sebuah kamera video untuk mendapatkan data lokasi
pada sampel. Radiasi fluoresen yang dipancarkan sampel ditangkap
oleh sebuah detektor (Energy dispersive detector) kemudian diolah
menggunakan rangkaian elektronik khusus. Spektrum yang
dihasilkan memperlihatkan spektrum atau puncak-puncak yang
khas untuk unsur kimia di dalam sampel. Contoh hasil analisis
komposisi sampel menggunakan XRF diperlihatkan pada Gambar
3.46 dan 3.47.

Gambar 3.46. Contoh hasil analisis Cu(In,Ga)Se2 dengan XRF [102].

75
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

Gambar 3.47. Contoh hasil analisis sampel Al2O3 dengan XRF [103].

76
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

III.2.5. Pengukuran luas permukaan jenis


Luas permukaan jenis merupakan karakteristik penting serbuk
khususnya nanopartikel. Besaran ini menggambarkan seberapa kecil
nanopartikel dan seberapa keropos sebuah sampel. Luas permukaan
jenis serbuk berbanding terbalik dengan ukuran partikel. Hubungan
antara luas permukaan dan ukuran partikel diwakili oleh persamaan
(3-24) berikut [104].

………………………...................................................…………..(3-24)

dengan, S adalah luas permukaan jenis, ρ adalah densitas partikel,


d adalah ukuran partikel. Sebuah alat ukur luas permukaan jenis
serbuk diperlihatkan pada Gambar 3.48.

Gambar 3.48. Surface Area Meter dari Quantacrome [105].

77
BAB III | SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL

78
BAB IV
PENYIAPAN DAN KARAKTERISASI
NANOFLUIDA

IV.1. Penyiapan nanofluida


Penyiapan nanofluida adalah langkah yang sangat penting
karena akan menentukan karakteristik nanofluida. Untuk nanofluida
perpindahan panas tujuan utama yang harus dicapai adalah
peningkatan perpindahan panas dibandingkan dengan fluida
dasarnya. Langkah penyiapan akan mempengaruhi karakteristik
nanofluida seperti viskositas, pH, sedimentasi, dan potensial
zeta. Semua karakteristik ini akan mempengaruhi kemampuan
perpindahan panas nanofluida.

IV.1.1. Metode satu langkah (one step method)


Metode satu langkah (MSL) sejauh ini dapat dilakukan dengan
metode fisika yaitu evaporasi, dan metode kimia yaitu yang salah
satunya dikembangkan oleh S.A.Kumar, dkk. pada tahun 2009 [106].

IV.1.1.1. Evaporasi (Evaporation)


Penyiapan nanofluida dengan metode satu langkah (MSL)
menggunakan teknik evaporasi dilakukan dengan cara memanaskan
bahan hingga mencapai titik evaporasi di mana pada kondisi ini
bahan akan menguap. Pada saat bersamaan fluida seperti air diputar
hingga melingkupi bahan yang menguap sehingga uap bahan akan
terkondensasi dan masuk kedalam fluida sebagai nanopartikel.

79
BAB IV | PENYIAPAN DAN KARAKTERISASI NANOFLUIDA

Dalam proses ini akan dihasilkan nanofluida dengan konsentrasi


nanopartikel ditentukan dari jumlah bahan yang dievaporasi dan
jumlah fluida yang dipakai. Secara ilustratif proses penyiapan
nanofluida dengan metode MSL diperlihatkan pada Gambar 4.1.
Penyiapan nanofluida dengan teknik ini pertama kali dilakukan oleh
Choi di MIT [107] dengan menggunakan logam Cu dan fluida air.
Metode ini sangat sesuai untuk bahan-bahan yang memiliki titik
uap yang relatif rendah seperti logam Cu, Sn, Ag, dan Al, dan untuk
menghindari oksidasi. Untuk bahan keramik seperti ZrO2 dan Al2O3
yang titik uapnya sangat tinggi yaitu 4300ºC dan 2977ºC metode
ini tidak efektif dan efisien. Untuk bahan yang mempunyai titik
uap yang tinggi seperti ZrO2 dan Al2O3 lebih efektif dan ekonomis
jika dilakukan dengan metode dua langkah (MDL). Metode satu
langkah memiliki kelemahan yaitu tidak dapat diaplikasikan
untuk memproduksi nanofluida dalam jumlah yang banyak (tidak
ekonomis).

Resistively Heated
Crucible

Liquid
Cooling System

Gambar 4.1. Penyiapan nanofluida dengan menggunakan metode satu


langkah [107].

80
BAB IV | PENYIAPAN DAN KARAKTERISASI NANOFLUIDA

IV.1.1.2. Metode kimia


Salah satu metode sintesis nanofluida metode satu langkah cara
kimia adalah yang dikembangkan oleh S.A. Kumar, dkk. pada tahun
2009 [106]. Secara singkat salah satu contoh sintesis nanofluida yang
dilakukan Ananda Kumar dkk. adalah sebagai berikut. Sejumlah 25
ml etilen glikol dimasukkan kedalam gelas beker 500 ml. Ke dalam
beker ini juga dimasukkan 15 ml copper sulphate pentahydrate
(0,1M), 50 ml sodium laurel sulphate sebagai surfaktan dan 100
ml air. Beberapa tetes minyak tanah (kerosene) ditambahkan untuk
mencegah oksidasi nanofluid yang disiapkan. Campuran kemudian
diaduk dengan magnetic stirrer selama 15 menit. Selanjutnya 30 ml
sodium hypophosphite ditambahkan sambil diaduk selama 30 menit.
Warna campuran berubah dari biru menjadi merah tua setelah reaksi
berlangsung. Setelah didinginkan ke suhu ruang nanofluida Air-Cu
diperoleh. Reaksi yang berlangsung selama proses diperlihatkan
pada persamaan (4-1).

3NaH2PO2 + 3H2O + CuSO4 3NaH2PO3 + H2SO4 + 2H2 + Cu ....(4-1)

IV.1.2. Metode dua langkah (MDL)


Metode dua langkah relatif lebih sederhana dibandingkan
dengan metode satu langkah. Pada metode ini nanopartikel
disiapkan terlebih dahulu dengan berbagai cara seperti presipitasi,
solgel, spray pyrolysis, HEM, dll. Setelah itu untuk mendapatkan
nanofluida dilakukan langkah pencampuran nanopartikel dengan
fluida dasar (base fluid) seperti air, etilen glikol, dan minyak,
langkah ini juga disebut juga pendispersian nanopartikel kedalam
fluida dasar, dilanjutkan dengan penggetaran dengan gelombang
ultrasonik atau disebut dengan ultrasonikasi. Proses penyiapan
nanofluida dengan metode MDL diperlihatkan pada Gambar

81
BAB IV | PENYIAPAN DAN KARAKTERISASI NANOFLUIDA

4.2. Metode pada Gambar 4.2 dilakukan untuk nanofluida tanpa


dispersan atau surfaktan yang akan digunakan untuk aplikasi yang
tidak mengizinkan untuk menggunakan dispersan dan surfaktan,
misalnya pendingin primer di reaktor nuklir. Untuk aplikasi selain
itu, dispersan atau surfaktan dapat ditambahkan sesuai Gambar 4.3.
Alat ultrasonikasi dapat dilihat pada Gambar 4.4.

Gambar 4.2. Prosedur penyiapan nanofluida dengan metode dua


langkah (MDL).

Gambar 4.3. Prosedur penyiapan nanofluida dengan metode dua


langkah (MDL) menggunakan dispersan atau surfaktan.

82
BAB IV | PENYIAPAN DAN KARAKTERISASI NANOFLUIDA

Gambar 4.4. Alat ultrasonikasi nanofluid [109].

Contoh nanofluida yang disiapkan dengan metode dua langkah


(MDL) diperlihatkan pada Gambar 4.5.

(a)

(b)
Gambar 4.5. Penampilan visual nanofluida Air-Al2O3 dari bahan lokal
Bauksit [110]. (a). Kondisi awal, dan (b) Setelah 3 hari.

83
BAB IV | PENYIAPAN DAN KARAKTERISASI NANOFLUIDA

IV.1.2.1. MDL menggunakan dispersan


Untuk serbuk nanopartikel bukan Fe3O4 dapat dilakukan
menggunakan cara seperti pada Gambar 4.3, namun untuk serbuk
Fe3O4 cara penyiapannya berbeda. Terdapat dua jenis nanofluida
dari bahan Fe3O4 nanopartikel. Pertama, nanofluida dengan fluida
dasar polar seperti air dan nanofluida dengan fluida dasar non-
polar seperti minyak tanah (kerosene).
Salah satu contoh nanofluida dengan fluida dasar air adalah
nanofluida air-Fe3O4 dengan menggunakan dispersan/surfaktan
asam sitrat. Nanofluida dipersiapkan sebagai berikut. Serbuk Fe3O4
nanopartikel dicampur dengan air. Kedalam campuran ditambahkan
asam sitrat, lalu kedalam campuran ditambahkan NH4OH hingga pH
7. Nanofluida kemudian digetarkan dengan gelombang ultrasonik
selama 2 jam. Mekanisme stabilisasi Fe3O4 nanopartikel dengan
asam sitrat yang disebut stabilisasi sterik diilustrasikan pada Gambar
4.6. Contoh nanofluida air-Fe3O4 diperlihatkan pada Gambar 4.7.

Gambar 4.6. Mekanisme stabilisasi sterik menggunakan asam sitrat [111].

84
BAB IV | PENYIAPAN DAN KARAKTERISASI NANOFLUIDA

Gambar 4.7. Contoh nanofluida Air-Fe3O4 dengan dispersan asam sitrat


setelah 84 hari [112].

IV.2. Karakterisasi nanofluida


IV.2.1. Pengukuran pH
Salah satu karakteristik nanofluida yang harus diketahui adalah
pH. Data pH sangat penting karena kestabilan nanofluida sangat
dipengaruhi oleh pH. Definisi pH dan pOH adalah sebagai berikut:
pH = – log[H+] .…........….…………………………………………………….(4-2)
pOH = – log[H-] ………................…………………………………………...(4-3)
Contoh alat ukur pH diperlihatkan pada Gambar 4.8.

Gambar 4.8. Alat ukur pH (pH meter) [113].

85
BAB IV | PENYIAPAN DAN KARAKTERISASI NANOFLUIDA

Untuk asam dan basa lemah konsentrasi ion H+ atau OH- sedikit
berbeda dengan konsentrasi spesies yang sama untuk asam dan
basa kuat. Dalam hal ini konstanta ionisasi harus dipertimbangkan.
Untuk asam lemah konsentrasi ion H+ dihitung dengan persamaan
dengan Ka adalah konstanta ionisasi asam dan M adalah
konsentrasi larutan. Sementara itu untuk basa lemah konsentrasi ion
OH- dihitung dengan persamaan dengan Kb adalah
konstanta ionisasi basa dan M adalah konsentrasi larutan.

IV.2.2. Viskositas dan Pengukurannya


IV.2.2.1. Satuan Viskositas
Satuan tradisional viskositas adalah Poise (P) di mana,
1 Poise = 1P = 1 g/cm.s.
1 P = 100 cP
Satuan cP biasanya digunakan untuk cairan encer. Misalnya, air
mempunyai viskositas 1 cP pada suhu 20,22ºC. Untuk minyak yang
kental satuannya biasanya dalam P. Misalnya, minyak motor pada
suhu 20ºC, mempunyai viskositas sebesar 8 P.

IV.2.2.2. Viskositas Kinematis


η adalah viskositas dinamis. Viskositas kinematis adalah
viskositas dinamis dibagi dengan densitas yaitu:

……………………………………………………….......................……(4-6)

Alat ukur viskositas bermacam-macam jenisnya dan salah


satu alat ukur viskositas diperlihatkan pada Gambar 4.9. Alat ini
berbasis getaran sehingga disebut vibro viscometer dengan rentang

86
BAB IV | PENYIAPAN DAN KARAKTERISASI NANOFLUIDA

pengukuran 0,3-10.000 mPa.s.

Gambar 4.9. Vibro viscometer buatan AND tipe SV10 [114].

IV.2.3 Electric Double Layer (EDL)


Suspensi atau dispersi banyak diperlukan dalam kehidupan
sehari-hari seperti tinta, keramik, pembersih abrasif, dan obat.
Nanofluida adalah salah satu jenis suspensi. Salah satu ukuran
atau karakteristik penting dari suspensi adalah kestabilan. Untuk
mengontrol mutu, unjuk kerja, sekaligus menjaga konsistensi
produksi, maka kestabilan suspensi harus dijaga pada tingkat
tertentu. Agar dapat menjaga kestabilan suspensi pada tingkat yang
baik, maka hal-hal yang mendasarinya seperti pembentukan muatan,
electric double layer, dan potensial zeta yang akan diterangkan
sesudah ini, perlu diketahui.
Material yang masuk ke dalam medium polar seperti air akan
secara spontan memiliki muatan listrik permukaan. Umumnya antar

87
BAB IV | PENYIAPAN DAN KARAKTERISASI NANOFLUIDA

muka (interface) di dalam medium air bermuatan negatif. Mekanisme


pemuatan permukaan terjadi melalui [115], 1. Perbedaan afinitas
elektron, 2. Ionisasi grup permukaan, 3. Adsorpsi ion diferensial
dari larutan elektrolit, 4. Dissolusi ion diferensial dari kisi kristal, 5.
Anisotropi permukaan, dan 6. Substitusi isomorf.
Mekanisme 1 bertanggung jawab dalam pembentukan
potensial kontak antara logam-logam yang berbeda. Mekanisme
ini penting dalam korosi dan pengaruh termoelektrik. Mekanisme
2 dijumpai pada semua permukaan oksida logam (M-OH) dan
material yang mengandung grup karboksil dan atau amino. Grup
amino ini termasuk protein, polimer ionik, dan polielektrolit yang
banyak digunakan di bidang farmasi. ionisasi dan/atau dissosiasi
grup-grup ini, dan muatan molekular, termasuk jenis muatannya,
dipengaruhi oleh pH medium dispersi. Pada mekanisme 3, muatan
permukaan bersih timbul dari proses adsorpsi ion bermuatan yang
berbeda jenis yang tidak sama. Mekanisme 3 terjadi pada suspensi
material liofobik seperti polimer lateks. Zat padat ionik seperti CaCO3,
hidroksiapatit [Ca5(PO4)3(OH)], dan barit (BaSO4) mendapat muatan
permukaan melalui mekanisme 4 dengan pelepasan (dissolusi) tidak
sepadan (unequal) dari ion bermuatan dengan muatan berlawanan.
Penambahan sedikit ion Ca2+ (misalnya memakai CaCl2) dapat
dilakukan untuk mengatur muatan bersih dari suspensi CaCO3
dalam air.
Mekanisme 5 timbul dari anisotropi sebagian besar kisi
kristal. Pembentukan muatan terjadi karena cacat tipe n dan p di
dalam kristal. Untuk oksida mineral, pembentukan muatan ini
menghasilkan grup hidroksil ampoterik yang dapat menghasilkan
reaksi dengan baik H+ maupun OH-. Salah satu contoh adalah silika.
Muatan permukaannya negatif karena grup silanol (-SiOH) adalah
asam lemah. Oksida dari sebagian besar logam valensi 2 dan 3
seperti MgO dan Al2O3 bersifat ampoter. Setiap dissolusi (pelarutan)

88
BAB IV | PENYIAPAN DAN KARAKTERISASI NANOFLUIDA

cenderung dalam bentuk hidroksida. Perubahan pH larutan dapat


menyebabkan pengendapan kembali ke permukaan oksida yang
kemudian mengubah kimia permukaan dan muatan.
Mekanisme 6 adalah substitusi isomorf yaitu mekanisme yang
lebih ekstrim dari mekanisme 5. Ini terjadi pada material clay (yaitu
montmorillonite dan vermiculite) di mana muatan negatif yang
besar muncul karena perbedaan valensi antara ion Al3+ dan Si4+ di
dalam struktur kristal alumino-silikat. Muatan permukaan (netto)
dari clay tergantung pada riwayatnya.
Meskipun elektrolit tidak dapat mengionisasi medium nonpolar
(pelarut dengan dielektrik yang kecil sekitar 2 seperti alkana [yang
terkecil metan CH4]) secara penuh, partikel yang terdispersi di
dalam medium seperti itu akan mendapatkan muatan dan gaya
elektrostatik, yang penting dan menentukan dalam stabilisasi
suspensi non-aqueous. Polimer asam (PVC, polyvinylchloride)
atau polimer basa (PMMA, polymethylmethacrylate) merupakan
pembentuk suspensi yang efektif untuk dispersi partikel di dalam
media non-aqueous.
Partikel yang masuk kedalam medium akan secara spontan
membentuk muatan pada permukaannya. Pembentukan muatan
bersih pada permukaan partikel mempengaruhi distribusi ion di
sekitar daerah antar muka (interface) dan menyebabkan peningkatan
konsentrasi ion dengan muatan berlawanan di sekitar permukaan.
Keadaan ini menghasilkan electric double layer (EDL) seperti terlihat
pada Gambar 4.10 dan 4.11. Lapisan cairan di sekitar partikel terdiri
dari dua bagian, pertama di bagian dalam yang disebut stern layer di
mana ion-ion terikat secara kuat (immobile), dan kedua, bagian luar
yaitu daerah difusi (diffuse region) di mana ion-ion kurang terikat
secara kuat (dapat berdifusi). Di daerah difusi terdapat slipping
plane atau shear plane. Potensial di daerah slipping atau shear

89
BAB IV | PENYIAPAN DAN KARAKTERISASI NANOFLUIDA

plane disebut sebagai potensial zeta (zeta potential, diberi notasi


ζ). Potensial zeta dapat didefinisikan sebagai perbedaan potensial
elektrostatik antara titik rata-rata pada shear plane dan satu titik di
cairan yang jauh dari setiap partikel.
Potensial zeta tidak dapat diukur secara langsung. Besaran
yang dapat diukur dari sebuah suspensi adalah mobilitas (µ).
Dari mobilitas potensial zeta dapat ditentukan menggunakan
persamaan (4-7).

µ = ( ε1.ε2. ζ )/η………………………………………......................…………(4-7)

dengan, ζ adalah potensial zeta, µ adalah mobilitas muatan, ε1


adalah dielektrik partikel, ε2 adalah tetapan dielektrik medium, dan
η adalah viskositas suspensi.

Gambar 4.10. Electric Double Layer (EDL) [116].

90
BAB IV | PENYIAPAN DAN KARAKTERISASI NANOFLUIDA

.
Gambar 4.11. Electric Double Layer (EDL) dengan penggambaran yang
berbeda [115].

Yang mempengaruhi karakteristik suspensi hasil dispersi partikel


zat padat ke dalam cairan adalah ukuran partikel dan distribusinya,
bentuk atau morfologi partikel, luas permukaan, muatan permukaan,
jumlah dan distribusi muatan, dissosiasi, penyerapan permukaan
(preferential adsorption), keseimbangan hidrofobik/hidrofilik,
tegangan permukaan dan sudut kontak [115] .
Untuk menjaga agar sebuah suspensi stabil dapat dilakukan
beberapa langkah yaitu: 1. mencegah koagulasi dengan membuat
repulsi partikel tetap berlangsung, 2. memperlambat laju jatuh
partikel dengan memperbesar viskositas, dan 3. membentuk struktur
jaringan. Langkah ke 1, dapat dilakukan dengan stabilisasi sterik
seperti Gambar 4.12a dan stabilisasi elektrostatik seperti Gambar
4.12b. Langkah 2 dilakukan dengan memperhatikan persamaan

91
BAB IV | PENYIAPAN DAN KARAKTERISASI NANOFLUIDA

Stoke (4-8)[9]. Langkah ke 3 diwujudkan dengan membentuk


struktur seperti Gambar 4.12c. Stabilisasi sterik ialah stabilisasi
menggunakan polimer untuk melapisi permukaan partikel yang
dapat menghasilkan gaya tolak antar partikel. Stabilisasi elektrostatik
atau stabilisai muatan ialah stabilisasi yang dilakukan dengan
mengubah konsentrasi ion di dalam sistem.

a. b. c.
Gambar 4.12. Teknik stabilisasi suspensi. a. Sterik, b. Elektrostatik,
dan c. Struktur jaringan. (a dan b dari [115] dan c dari [117] ).

Persamaan Stoke dapat ditulis sebagai berikut [9]:

………………………..……………………………….......................….….(4-8)

dengan, v adalah kecepatan jatuh partikel, ∆ρ adalah perbedaan


densitas antara partikel dan medium, g adalah gaya grafitasi bumi,
a adalah diameter partikel, dan η adalah viskositas suspensi. Sebuah
suspensi dapat mengalami sedimentasi melalui mekanisme seperti
Gambar 4.13.

92
BAB IV | PENYIAPAN DAN KARAKTERISASI NANOFLUIDA

Gambar 4.13. Mekanisme sedimentasi sebuah suspensi.

Potensial zeta dapat digunakan untuk mengetahui apakah


sebuah suspensi atau koloid stabil atau tidak karena merupakan
indeks besaran interaksi antar partikel. Jika partikel mempunyai
potensial yang besar baik negatif maupun positif, maka partikel-
partikel akan saling menolak, menghasilkan kestabilan dispersi.
Jika partikel-partikel mempunyai potensial zeta kecil, maka tidak
ada gaya untuk mempertahankan agar partikel-partikel tidak saling
menempel. Jika potensial zeta lebih besar dari +30mV atau lebih
kecil dari -30 mV, maka suspensi atau koloid stabil. Keadaan ini
diperlihatkan pada Gambar 4.14.

Gambar 4.14. Peta data kestabilan suspensi atau koloid berdasarkan


harga potensial zeta.

93
BAB IV | PENYIAPAN DAN KARAKTERISASI NANOFLUIDA

Jika kedalam sebuah suspensi ditambahkan cairan basa, maka


partikel di dalamnya akan mendapatkan tambahan muatan negatif.
Kemudian, jika kedalam suspensi ini ditambahkan cairan asam, maka
akan dicapai sebuah keadaan di mana muatan netral. Penambahan
asam selanjutnya akan menyebabkan partikel di dalamnya akan
mendapatkan tambahan muatan positif. Secara umum potensial zeta
akan positif pada harga pH rendah dan akan rendah atau negatif
pada pH tinggi. Kemungkinan akan ada titik di mana kurva melewati
potensial zeta yang berharga nol. Titik ini disebut titik isoelektrik
(isoelectric point, IOP) di mana sebuah suspensi atau koloid paling
tidak stabil. Keadaan ini terlihat pada hasil pengukuran potensial
zeta untuk sebuah nanofluida Air-ZrO2 yang diperlihatkan pada
Gambar 4.15.

Gambar 4.15. Potensial zeta contoh nanofluida Air-ZrO2 [64].

94
BAB V
VISKOSITAS, KONDUKTIVITAS
TERMAL, DAN CHF

V.1. Viskositas nanofluida


Viskositas merupakan salah satu karakteristik nanofluida yang
penting selain konduktivitas termal. Untuk aliran laminar pressure
drop berbanding lurus dengan viskositas. Koefisien perpindahan
panas konvektif juga dipengaruhi oleh viskositas [118]. Viskositas
nanofluida dipengaruhi oleh konsentrasi nanopartikel dan suhu [11].

V.1.1. Pengaruh Konsentrasi


Viskositas sebuah campuran yang terbuat dari fluida dan
partikel diprediksi dengan menggunakan persamaan klasik Einstein
(5-1) [10]:

……….............................................…………….(5-1)

dengan, η = viskositas campuran, η o = viskositas fluida dasar,


dan φ = fraksi volume partikel. Persamaan Einstein berlaku untuk
konsentrasi yang kecil. Berdasarkan persamaan (5-1) viskositas
hanya dipengaruhi oleh konsentrasi partikel.
Untuk nanofluida di mana partikelnya berukuran nanometer,
persamaan (5-1) tidak sesuai lagi. Gejala ini terlihat dari data
viskositas nanofluida pada Gambar 5.1, 5.2, 5.3, dan 5.4. Seperti
dapat dilihat pada Gambar 5.1 s/d 5.4, penambahan nanopartikel
telah meningkatkan viskositas nanofluida secara signifikan.

95
BAB V | VISKOSITAS, KONDUKTIVITAS TERMAL, DAN CHF

Gambar 5.1. Viskositas nanofluida Air-Fe3O4 [10].

Gambar 5.2. Viskositas nanofluida dengan air sebagai fluida dasar


sebagai fungsi konsentrasi nanopartikel [119].

96
BAB V | VISKOSITAS, KONDUKTIVITAS TERMAL, DAN CHF

Gambar 5.3. Viskositas nanofluida dengan gliserol sebagai fluida dasar


sebagai fungsi konsentrasi nanopartikel [120].

Gambar 5.4. Viskositas nanofluida Air-Al2O3 sebagai fungsi konsentrasi


nanopartikel [121].

97
BAB V | VISKOSITAS, KONDUKTIVITAS TERMAL, DAN CHF

Untuk mengetahui hubungan yang lebih tepat antara viskositas


nanofluida dan konsentrasi partikel, telah dilakukan berbagai
modifikasi persamaan klasik Einstein. Pada Tabel 5.1 ditampilkan
berbagai persamaan viskositas fungsi konsentrasi nanopartikel.
Dari Gambar 5.4 terlihat dengan jelas, bahwa perubahan viskositas
terhadap perubahan konsentrasi nanopartikel tidak bersesuaian
dengan model Einstein, Graham, Batchelor, dan Brinkman. Selain
itu, adanya persamaan-persamaan seperti yang ditampilkan pada
Tabel 5.1 memperlihatkan bahwa persamaan yang berlaku umum
yang mengekspresikan hubungan antara viskositas dan konsentrasi
nanopartikel belum tersedia. Persamaan-persaman pada Tabel 5.1
hanya berlaku untuk kasus khusus. Kenyataan ini memperlihatkan
bahwa studi lebih lanjut untuk dapat menerangkan gejala yang
terjadi pada nanofluida khususnya tentang perubahan viskositas
akibat kehadiran nanopartikel masih harus terus dilakukan.

98
BAB V | VISKOSITAS, KONDUKTIVITAS TERMAL, DAN CHF

Tabel 5.1. Persamaan viskositas sebagai fungsi konsentrasi


nanopartikel [122].

No. Persamaan Pengembang dan data penting


1. Brinkman, untuk konsentrasi lebih
besar dari persamaan Einstein
2. Ward

3. Lundgren dan Taylor

4. Batchelor
5. Wang, dkk.
6. Chen, dkk., didasarkan atas regresi
non-linear
7. Abedian dan Karchanov, partikel
bulat padat
8. Massimo Corsione, nanopartikel
TiO2, Al2O3, SiO2, Cu, 25-200 nm

M berat molekul fluid dasar, N


adalah bilangan Avogadro, ρfo
adalah densitas fluida dasar suhu
20°C (T0= 20°C).

V.1.2. Pengaruh Suhu


Selain dipengaruhi oleh konsentrasi nanopartikel, nanofluida
juga dipengaruhi oleh suhu. Seperti dapat dilihat pada Gambar
5.5 viskositas menurun dengan pertambahan suhu. Penurunan
viskositas akibat peningkatan suhu terjadi karena pengurangan
gaya antar partikel atau molekul ketika suhu dinaikkan.

99
BAB V | VISKOSITAS, KONDUKTIVITAS TERMAL, DAN CHF

Gambar 5.5. Viskositas nanofluida dengan fluida dasar gliserol


sebagai fungsi suhu [119].

Gambar 5.6. Viskositas nanofluida (Air-Etilen glikol-SiO2)


sebagai fungsi suhu [121].

100
BAB V | VISKOSITAS, KONDUKTIVITAS TERMAL, DAN CHF

Dari Gambar 5.5 dan 5.6 diketahui bahwa hubungan antara


viskositas dan suhu secara umum mengikuti hukum Arhenius
persamaan (5-2). Suhu T dan To dalam derajat Kelvin.

………………............................………………..……..(5-2)

Pada beberapa kasus hubungan antara viskositas dan suhu


diekspresikan dalam bentuk persamaan yang berbeda dengan
persamaan (5-2). Salah satu contoh adalah persamaan (5-3).

…………......................…………………….............……..(5-3)

Sebagai contoh, dari data pada Gambar 5.6 untuk nanofluida


Air+25%Etilen glikol +0,05% SiO2 dan Air+25% Etilen glikol +0,1%
SiO2 hubungan antara viskositas dan suhu dengan menggunakan
persamaan (5-3) dihasilkan persamaan (5-4) dan (5-5).

....(5-4)
.......(5-5)

V.2. Konduktivitas termal nanofluida


Selain viskositas, konduktivitas termal juga merupakan
karakteristik penting dari nanofluida dan merupakan sasaran utama
dari pengembangan nanofluida perpindahan panas. Nanopartikel
adalah unsur penting dalam nanofluida sehingga keterkaitannya
dengan konduktivitas termal adalah hal yang harus diketahui. Di masa
lalu sebelum adanya nanofluida keterkaitan antara konduktivitas
termal sebuah campuran fluida dan partikel diterangkan oleh
persamaan Maxwel persamaan (5-6) [123]. Maxwell adalah
orang pertama yang mengembangkan fluida pendingin dengan
mencampurkan partikel dengan fluida, tetapi ukuran partikelnya
belum dalam skala nanometer.

101
BAB V | VISKOSITAS, KONDUKTIVITAS TERMAL, DAN CHF

…….…………………….(5-6)

KNF adalah konduktivitas termal nanofluida, Kp adalah konduktivitas


termal nanopartikel, Kf adalah konduktivitas termal fluida dasar, dan
φ adalah konsentrasi nanopartikel dalam persen volume.
Persamaan Maxwell ternyata tidak dapat diterapkan pada
nanofluida. Sebagaimana terlihat pada Gambar 5.7, persamaan
Maxwell melenceng dari data konduktivitas termal nanofluida.
Kenyataan ini memperlihatkan bahwa hubungan antara
konduktivitas termal dan konsentrasi nanopartikel tidak dapat
diterangkan dengan teori medium efektif yang merupakan dasar
teori Maxwell. Pengembangan model Maxwell kemudian dilakukan
oleh beberapa peneliti di antaranya Hamilton dan Crosser, dan Yu
dan Choi. Persaman hasil pengembangan mereka ditampilkan pada
Tabel 5.2. Seperti dapat dilihat pada Gambar 5.8, model mereka
pun tidak sesuai untuk nanofluida. Sejauh ini belum ada persamaan
(model) yang dapat dengan baik menerangkan hubungan antara
konduktivitas termal nanofluida dan konsentrasi nanopartikel yang
berlaku secara umum. Oleh karena itu berbagai model dikembangkan
untuk kasus-kasus khusus.

102
BAB V | VISKOSITAS, KONDUKTIVITAS TERMAL, DAN CHF

Gambar 5. 7. Konduktivitas termal relatif nanofluida sebagai fungsi βφ,


di mana β=[kp-kbf]/[kp+2kbf] dan φ adalah fraksi volume
nanopartikel [124].

Gambar 5.8. Konduktivitas termal nanofluida etilen glikol-Fe pada suhu


35ºC sebagai fungsi konsentrasi nanopartikel [125].

103
BAB V | VISKOSITAS, KONDUKTIVITAS TERMAL, DAN CHF

Tabel 5.2. Persamaan konduktivitas termal sebagai fungsi konsentrasi


nanopartikel [125].

Pengembang dan
No. Persamaan
hal penting

1. Hamilton and Crosser,


solid to liquid ratio > 100,
silindrikal n=6 dan sferikal
n=3.

2. Yu and Choi, efek


ketebalan nanolayer
cairan, γ adalah
perbandingan antara
ketebalan nanolayer dan
jari-jari partikel, sama
dengan 0,1.

Beberapa model untuk kasus khusus telah dikembangkan dan


berhasil menerangkan hubungan antara konduktivitas termal dan
konsentrasi nanopartikel untuk kasus tersebut. Contoh kasus yang
modelnya sesuai dengan data percobaan diperlihatkan pada Gambar
5.9. Model dikembangkan dengan mempertimbangkan faktor
bentuk nanopartikel. Model ini dikembangkan untuk konsentrasi
rendah. Dari Gambar 5.9 dapat dilihat bahwa model Maxwell,
Hamilton-Crosser (H-C), Jeffery, dan Xue tidak sesuai dengan data
percobaan. Model yang sesuai adalah model pada persamaan (5-
7) [125] yang dibuat dengan mempertimbangkan faktor bentuk
dengan n=4.1.

104
BAB V | VISKOSITAS, KONDUKTIVITAS TERMAL, DAN CHF

…………................……………………….(5.7)

dengan υ , k1, dan k2 masing-masing adalah fraksi volume


nanopartikel, konduktivitas termal nanopartikel, dan konduktivitas
termal fluida (air).

Gambar 5.9. Prediksi model untuk nanofluida Air-Al2O3 [125].

V.3. Fluks panas kritis (Critical Heat Flux, CHF)


Fluks panas kritis atau CHF merupakan karakteristik nanofluida
yang penting pula selain viskositas dan konduktivitas termal.
Nanofluida dengan CHF yang besar sangat dibutuhkan untuk
pendingin yang digunakan dalam ECCS (Emergency Core Cooling
System) dan RVCS (Reactor Vessel Cooling system), pendinginan

105
BAB V | VISKOSITAS, KONDUKTIVITAS TERMAL, DAN CHF

elektronik, refrigerasi dan kriogenik, serta sebagai fluida pendingin


quenching dalam pembentukan logam. CHF didefinisikan sebagai
fluks panas puncak di mana sebuah permukaan penguapan mampu
menahan penguapan nukleasi (nucleate boiling). Banyak metode
dapat digunakan untuk mengukur CHF, dan salah satunya adalah
dengan menggunakan prinsip sesuai Gambar 5.10 [126]. Pengukuran
dimulai dengan penyiapan nanofluida pada suhu saturasi pada
tekanan atmosfir. Arus listrik ( I ) diberikan ke kawat, misalnya Ni-Cr,
dengan pertambahan tetap. Pada saat tertentu setelah diberi arus
listrik, kawat akan berwarna merah dan kemudian saat CHF terjadi,
kawat putus tiba-tiba. Selama pemberian arus listrik, tegangan
yang diterima kawat ( V ) diukur. Harga CHF dihitung menggunakan
persamaan (5-8).

Gambar 5. 10. Skema metode pengukuran CHF pool boiling [126].

106
BAB V | VISKOSITAS, KONDUKTIVITAS TERMAL, DAN CHF

……….............................................…………..…………………..(5-8)

dengan, q” adalah CHF, V adalah tegangan listrik maksimum saat


kawat putus, I adalah arus listrik saat kawat putus, D adalah diameter
kawat, dan L panjang kawat. Panas pada kawat saat putus adalah
maksimum. Ketika panas ditambah dengan cara memperbesar arus
listrik, panas terus dipindahkan ke sekeliling (fluida). Suatu saat
fluida akan terpisah dari permukaan kawat dan saat itu panas yang
diterima kawat akan sangat besar dan menyebabkan kawat putus.
Pada saat itu kawat menerima panas maksimum yang disamakan
dengan CHF.
Untuk validasi, sebelum dilakukan pengukuran CHF nanofluida,
terlebih dahulu dilakukan pengukuran CHF air. Harga CHF yang
diperoleh kemudian dibandingkan dengan hasil perhitungan
menggunakan rumus korelasi CHF dari Zuber [126,127] pada
persamaan (5-9) yang telah banyak digunakan untuk memvalidasi
pengukuran CHF pool boiling pada tekanan atmosfir.

…….....…………………………….(5-9)

dengan Q '' adalah heat flux, ρ g adalah densitas gas, ρ f adalah


densitas fluida, h fg adalah panas laten penguapan, g adalah
percepatan grafitasi, dan σ adalah tegangan permukaan.
Banyak data memperlihatkan bahwa nanofluida mempunyai CHF
yang jauh lebih besar dari pada fluida dasar. Hal ini memperlihatkan
pengaruh kehadiran nanopartikel. Beberapa di antara banyak data
yang memperlihatkan keistimewaan nanofluida tersebut adalah
data Gambar 5.11, Gambar 5.12, dan Tabel 5.3. Peningkatan CHF

107
BAB V | VISKOSITAS, KONDUKTIVITAS TERMAL, DAN CHF

nanofluida dibandingkan dengan fluida dasarnya terjadi karena


pengaruh nanopartikel. Nanopartikel telah menempel di permukaan
kawat, memperluas permukaan dan meningkatkan wetabilitas, lalu
meningkatkan perpindahan panas dari kawat ke nanofluida. Kawat
di dalam nanofluida belum putus sebelum mencapai jumlah panas
tertentu (CHF). Karena perpindahan panas dari kawat ke nanofluida
berlangsung lebih baik, maka CHF nanofluida lebih besar dari pada
CHF air.

Gambar 5.11. CHF nanofluida Air-ZnO sebagai fungsi konsentrasi


nanopartikel ZnO, dan CHF air [126].

Gambar 5.12. CHF nanofluida sebagai fungsi konsentrasi nanopartikel,


dan CHF air [127].

108
BAB V | VISKOSITAS, KONDUKTIVITAS TERMAL, DAN CHF

Tabel 5.3. Peningkatan CHF pool boiling beberapa nanofluida [128].

Data Gambar 5.13 memperlihatkan bukti bahwa nanopartikel


menempel di atas permukaan kawat selama pengukuran CHF.
Seperti terlihat pada Gambar 5.13, luas permukaan kawat dengan
konsentrasi nanopartikel yang lebih besar (b) lebih besar dari pada
luas permukaan kawat dengan konsentrasi nanopartikel yang lebih
kecil (a). Luas permukaan yang besar dan wetabilitas nanofluida
juga lebih besar, yang kemudian meningkatkan perpindahan panas
dari kawat ke nanofluida. Akibatnya, CHF nanofluida lebih besar dari
pada CHF fluida dasar.

109
BAB V | VISKOSITAS, KONDUKTIVITAS TERMAL, DAN CHF

Gambar 5.13. Gambar permukaan pemanas sesudah


pengukuran CHF pool boiling dari nanofluida dengan konsentrasi
a. 10-4 %, dan b. 10-1% [129].

110
BAB VI
STUDI PENERAPAN NANOFLUIDA PADA
PERPINDAHAN PANAS KONVEKSI

N anofluida berpotensi untuk diaplikasikan pada berbagai bidang,


beberapa di antaranya adalah aplikasi sebagai pendingin pada
penukar panas, reaktor nuklir, radiator, refrigerator, dan permesinan
logam.

VI.1. Aplikasi pada Penukar Panas


Studi penerapan nanofluida pada perpindahan panas
konveksi telah banyak dilakukan. Penerapan nanofluida ATF-Al2O3
(ATF=Automatic Transmission Fluid) pada sebuah heat exchanger
yang gambar visualnya diperlihatkan pada Gambar 6.1 adalah
salah satunya [130]. Pengaruh nanofluida terhadap perpindahan
panas konveksi digambarkan oleh data Gambar 6.1. Pada Gambar
6.2 terlihat konsentrasi nanopartikel dalam nanofluida dapat
memperbesar harga koefisien perpindahan panas (h). Namun
penggunaan nanofluida ATF-Al2O3 relatif memperbesar pressure
drop seperti diperlihatkan pada Gambar 6.3. Peningkatan pressure
drop adalah hal yang tidak diinginkan. Keuntuntungan karena
peningkatan perpindahan panas berkompetisi dengan kerugian
karena peningkatan pressure drop. Oleh karena diusahakan
konsentrasi nanopartikel kecil untuk meminimalkan pressure drop.

111
BAB VI | STUDI PENERAPAN NANOFLUIDA PADA PERPINDAHAN PANAS KONVEKSI

Gambar 6.1. Sebuah heat exchanger mini (MICHX=Minichannel Heat


Exchanger) [130].

Gambar 6.2. Pengaruh bilangan Reynolds dan konsentrasi nanopartikel


terhadap koefisien perpidahan panas MICHX [130].

112
BAB VI | STUDI PENERAPAN NANOFLUIDA PADA PERPINDAHAN PANAS KONVEKSI

Gambar 6.3. Pengaruh bilangan Reynolds dan konsentrasi nanopartikel


terhadap pressure drop MICHX [130].

Studi lainnya terkait penerapan nanofluida pada perpindahan


panas konvektif telah dilakukan pada sistem seperti Gambar 6.4.
Pada studi ini digunakan nanofluida Air-CuO.

Gambar 6.4. Sistem penukar panas dua pipa untuk mengukur kofisien
perpindahan panas lokal [131].

113
BAB VI | STUDI PENERAPAN NANOFLUIDA PADA PERPINDAHAN PANAS KONVEKSI

Gambar 6-5 memperlihatkan bahwa nanofluida Air-CuO dapat


memperbesar koefisien perpindahan panas sistem pada Gambar
6.5, dibandingkan dengan air. Peningkatan konsentrasi nanopartikel
CuO memperbesar koefisien perpindahan panas.

Gambar 6.5. Koefisien perindahan panas sebagai fungsi bilangan


Reynolds dengan nanofluida Air-CuO pada berbagai konsentrasi [131].

Penerapan nanofluida pada perpindahan panas konvektif juga


dilakukan pada sistem seperti Gambar 6.6 [132]. Pada studi ini
digunakan nanofluida Air-Al2O3. Gambar 6.7 memperlihatkan bahwa
nanofluida Air-Al2O3 dapat memperbesar koefisien perpindahan
panas pada penukar panas Gambar 6.6, dibandingkan dengan air.

114
BAB VI | STUDI PENERAPAN NANOFLUIDA PADA PERPINDAHAN PANAS KONVEKSI

Gambar 6.6. Sistem penukar panas jenis radiator


(Radiator type heat exchanger) [132].

Gambar 6.7. Koefisien perpindahan panas fungsi laju


alir fluida [132].

115
BAB VI | STUDI PENERAPAN NANOFLUIDA PADA PERPINDAHAN PANAS KONVEKSI

VI.2. Aplikasi pada Reaktor Nuklir


Pada saat ini fluida pendingin yang digunakan untuk pendingin
primer reaktor nuklir tipe air ringan (LWR, Light Water Reactor) adalah
air (H2O). Untuk peningkatan nilai ekonomi dan keselamatan reaktor
nuklir pendingin konvensional ini dapat diganti dengan nanofluida.
Peningkatan tingkat ekonomi dapat dicapai dengan meningkatkan
rapat daya (power density) yaitu daya per volume teras reaktor (Reactor
core) [128]. Dengan mengaplikasikan nanofluida, karena memiliki
karakteristik perpindahan panas yang lebih baik, maka pada tingkat
keselamatan yang sama, peningkatan rapat daya dapat dilakukan
[128]. Nanofluida dapat dibuat dengan menggunakan fluida dasar
air dan nanopartikel ZrO2 atau Al2O3. Secara potensial, reaktor
air berat (HWR, Heavy Water Reactor) pun dapat menggunakan
nanofluida sebagai bahan pendinginnya dengan air berat sebagai
fluida dasarnya. Selain untuk pendingin primer, nanofluida juga
dapat digunakan sebagai fluida di ECCS (Emergency Core Cooling
System) dan RVCS (Reactor Vessel Cooling System). Kedua sistem
ini digunakan pada saat darurat atau kecelakaan. ECCS digunakan
untuk mendinginkan teras reaktor dan RVCS digunakan untuk
mendinginkan reactor vessel saat darurat atau kecelakaan.
Pemilihan fluida untuk memindahkan panas yang diproduksi
oleh reaktor nuklir dilakukan dengan mempertimbangkan
karakteristik panas, sifat fisika-kimia, sifat nuklir, dan keekonomian
fluida tersebut [133]. Karakteristik panas berhubungan dengan daya
pemompaan (pumping power), kapasitas pemindahan panas teras
reaktor (reactor core heat removal capacity) dan fungsi fluida dalam
pengangkutan panas, sifat fisika-kimia berkaitan dengan kestabilan
dan sifat termodinamik fluida di bawah pengaruh panas dan radiasi,
dan aktivitas kimia yaitu toksisitas dan korosi, sifat nuklir berkaitan
dengan kemampuan penyerapan neutron, moderasi neutron termal,
dan aktivasi, dan terakhir keekonomian berkaitan dengan biaya

116
BAB VI | STUDI PENERAPAN NANOFLUIDA PADA PERPINDAHAN PANAS KONVEKSI

produksi, penyimpanan dan pengolahan fluida purna pakai [133].


Sehingga nanofluida yang baik adalah nanofluida yang stabil artinya
tidak berubah karena panas dan radiasi, dapat memindahkan panas
sebanyak-banyaknya, tidak menimbulkan korosi, tidak aktif dan
memancarkan radiasi karena berada di lingkungan reaktor, tidak
menyerap neutron termal sehingga tidak mengganggu ekonomi
neutron, dan murah dalam produksi, penyimpanan dan pengolahan
purna pakainya. Kriteria ini berlaku untuk pendingin primer atau
di lingkungan pendingin primer. Kriteria dapat dikurangi untuk
pemakaian nanofluida di luar pendingin primer yaitu di pendingin
sekunder (Reaktor PWR) dan di External Reactor Vessel Cooling System
(ERVCS). Nanofluida untuk aplikasi di bagian ini tidak memerlukan
kriteria sifat neutron.
Untuk aplikasi pendingin primer, nanopartikel yang digunakan
harus memiliki koefisien absobsi neutron termal yang kecil.
Berdasarkan kriteria ini beberapa senyawa keramik dapat dipilih
seperti MgO, Al2O3, dan ZrO2 [41,62,64,128,134]. Untuk sistem
pendingin sekunder (PWR) dan ERVCS dapat menggunakan berbagai
macam nanopartikel selain MgO, Al2O3 dan ZrO2 seperti Fe2O3,
Fe3O4, CuO, NiO, ZnO, TiO2, dan SiO2 [10,44-52]. Nanopartikel yang
telah disebutkan dapat digunakan untuk aplikasi non-nuklir seperti
otomotif, elektronik, lingkungan dan kesehatan, solar heating,
bangunan, dan industri. Nanofluida untuk Emergency Core Cooling
System (ECCS) sama dengan nanofluida untuk sistem pendingin
primer.
Pertimbangan penerapan nanofluida di reaktor nuklir,
khususnya jenis reaktor berpendingin air ringan (LWR), didasarkan
pada dua fenomena fisika yaitu CHF dan perpindahan panas
pendinginan cepat (quenching heat transfer) [4]. CHF adalah batas
tertinggi perpindahan panas dari rejim nucleate boiling ke film
boiling seperti diilustrasikan pada Gambar 6.8 [4]. Fenomena ini

117
BAB VI | STUDI PENERAPAN NANOFLUIDA PADA PERPINDAHAN PANAS KONVEKSI

dapat disebabkan oleh pengurangan aliran fluida atau perubahan


fluks panas. Ketika CHF terjadi bahan bakar mengalami overheat
dan rusak, lalu menyebabkan pelepasan produk fisi. Oleh karena
itu pembatasan daya reaktor harus dilakukan untuk mencegah
terjadinya CHF. Quenching adalah pendinginan cepat sebuah objek
panas oleh fluida yang dingin. Peristiwa ini terjadi pada saat ada
kecelakaan kehilangan pendingin (LOCA). Setelah LOCA, ECCS
mengalirkan air bersuhu ruang ke teras reaktor untuk menurunkan
suhu bahan bakar yang tidak lagi didinginkan oleh pendingin
primer. Berdasarkan data ini diketahui bahwa peningkatan nilai CHF
(dalam hal ini adalah selisih antara CHF nanofluida dan CHF fluida
dasar dibagi CHF fluida dasar) dan kemampuan proses quenching
yang cepat dibutuhkan untuk meningkatkan keselamatan reaktor
nuklir. Penerapan nanofluida dapat memenuhi kebutuhan ini karena
nanofluida memiliki wetabilitas yang lebih baik dibandingkan
dengan fluida dasar yang menyebabkan CHF yang lebih besar. Di
sisi lain karena nanofluida memiliki konduktivitas termal yang lebih
besar, maka proses perpindahan panas dari logam yang didinginkan
dengan nanofluida dapat berlangsung lebih cepat dibandingkan
dengan logam yang didinginkan dengan fluida dasarnya.

Gambar 6.8. CHF pada kurva pendidihan air [4].

118
BAB VI | STUDI PENERAPAN NANOFLUIDA PADA PERPINDAHAN PANAS KONVEKSI

VI.3. Kegiatan Penelitian Nanofluida di PSTNT BATAN


Penelitian nanofluida di PSTNT-BATAN Bandung dimulai pada
tahun 2011. Penelitian nanofluida ini difokuskan untuk aplikasi nuklir
namun nanofluida yang diteliti juga dapat diaplikasikan untuk non-
nuklir. Pada kegiatan ini, nanofluida diusahakan dapat dibuat dari
nanopartikel yang disintesis dari bahan dasar (raw materials) yang
berlimpah di Indonesia. Nanopartikel yang telah dibuat adalah
Fe3O4, Fe2O3, ZrO2, dan Al2O3.
Nanopartikel Fe3O4 disintesis dengan metode kopresipitasi
[135] dan kombinasi kopresipitasi dan reaksi karbotermal [10] dari
serbuk Fe2O3 yang diekstraksi dari mineral lokal yarosit. Nanofluida
Air-Fe3O4 yang sangat stabil telah berhasil dibuat dari nanopartikel
yang dihasilkan. Contoh nanofluida Air-Fe3O4 tersebut diperlihatkan
pada Gambar 6.9. Sementara itu citra TEM dari nanopartikel Fe3O4
yang dibuat dengan metode kopresipitasi yang dikombinasi dengan
karbotermal diperlihatkan pada Gambar 6.10 [10].

a b
Gambar 6.9. Nanofluida Air-Fe3O4 buatan PSTNT-BATAN [136].
Kondisi nanofluida, a. Setelah 598 hari, b. Setelah 820 hari.

119
BAB VI | STUDI PENERAPAN NANOFLUIDA PADA PERPINDAHAN PANAS KONVEKSI

Gambar 6.10. Citra TEM nanopartikel Fe3O4 yang dibuat dengan metode
kopresipitasi yang dikombinasi dengan karbotermal [10].

Karakteristik termal nanofluida Air-Fe3O4 yang dibuat


khususnya CHF sangat baik. Nilai CHF (CHF enhancement) nanofluida
Air-Fe3O4 meningkat dengan pertambahan konsentrasi nanopartikel
Fe3O4 seperti dapat dilihat pada Gambar 6.11.

Gambar 6.11. Peningkatan CHF nanofluida Air-Fe3O4 sebagai fungsi


konsentrasi nanopartikel Fe3O4 [10].

120
BAB VI | STUDI PENERAPAN NANOFLUIDA PADA PERPINDAHAN PANAS KONVEKSI

Selain nanofluida dari nanopartikel Fe3O4, di BATAN telah


dilakukan pula sintesis nanopartikel ZrO2 dari bahan zirkon (ZrSiO4)
lokal. Nanopartikel ZrO2 disintesis dari ZrOCl2.8H2O (ZOC) yang
diekstraksi dari mineral zirkon dengan metode fusi kaustik [41].
Metode sintesis yang dipilih adalah solgel dengan menggunakan
gula sebagai agen pembatas (capping agent). Citra TEM dari
nanopartikel ZrO2 yang diperoleh diperlihatkan pada Gambar
6.12. Konduktivitas termal nanofluida Air-ZrO2 sebagai fungsi
konsentrasi diperlihatkan pada Gambar 6.13. Konduktivitas termal
efektif nanofluida membesar dengan membesarnya konsentrasi
nanopartikel. Konduktivitas termal efektif adalah perbandingan
antara konduktivitas termal nanofluida dan konduktivitas fluida
dasar (base fluid). Seperti terlihat pada Gambar 6.13, peningkatan
konduktivitas termal efektif nanofluida pada konsentrasi 1% berat
adalah 5,5%.

Gambar 6.12. Citra TEM nanopartikel ZrO2 [137].

121
BAB VI | STUDI PENERAPAN NANOFLUIDA PADA PERPINDAHAN PANAS KONVEKSI

Gambar 6.13. Konduktivitas termal efektif nanofluida Air-ZrO2 fungsi


konsentrasi nanopartikel ZrO2 [137].

Untuk melihat pengaruh nanofluida Air-ZrO2 yang telah dibuat


terhadap perpindahan panas pada sistem pendingin reaktor nuklir,
telah dilakukan studi perpindahan panas dengan menggunakan
untai uji yang telah dibuat secara mandiri di PSTNT-BATAN [138].
Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mendapatkan persamaan
korelasi baru untuk menghitung koefisien perpindahan panas
konveksi alamiah, paksa dan kombinasinya dari nanofluida Air-ZrO2
di pipa silinder vertikal susunan segi tiga dan segi empat [138].
Pipa silinder adalah simulasi dari berkas silinder bahan bakar sebuah
reaktor nuklir atau pipa dari sebuah heat exchanger. Foto untai uji
dapat dilihat pada Gambar 6.14.
Data pada Gambar 6.15 dan 6.16 memperlihatkan bahwa
nanofluida khususnya nanofluida Air-ZrO2 dapat meningkatkan
perpindahan panas. Dari studi didapatkan persamaan korelasi
perpindahan panas konveksi alamiah yang diperlihatkan pada
persamaan (6-1) [138].

122
BAB VI | STUDI PENERAPAN NANOFLUIDA PADA PERPINDAHAN PANAS KONVEKSI

....………………………………………………..(6-1)

dengan adalah bilangan Nusselt, dan adalah konstanta,


adalah bilangan Rayleigh, adalah posisi, dan adalah diameter
hidrolik. Untuk sub. buluh segitiga a=16,22 dan b=0,0696, dan
untuk sub. buluh segiempat a=10,09, dan b = 0,0702. Bilangan
Nusselt adalah bilangan tak berdimensi (bilangan non-dimensional)
yang merupakan perbandingan antara panas konveksi dan
panas konduksi. Bilangan Nusselt menggambarkan peningkatan
perpindahan panas melalui fluida sebagai hasil dari perpindahan
konveksi relatif terhadap perpindahan konduksi yang melintasi
lapisan fluida yang sama. Untuk konveksi alamiah bilangan Nusselts
merupakan fungsi bilangan Rayleigh. Bilangan Rayleigh adalah
perbandingan gaya apung dan gaya viskositas dengan difusivitas
momentum dan termal. pada konveksi alamiah.

Gambar 6.14. Penampang lintang konfigurasi segitiga dan segiempat,


dan untai uji perpindahan panas [138].

123
BAB VI | STUDI PENERAPAN NANOFLUIDA PADA PERPINDAHAN PANAS KONVEKSI

Gambar 6.15. Hubungan antara bilangan Nusselt dan bilangan Rayleigh


untuk sub. channel segitiga [138].

Gambar 6.16. Hubungan antara bilangan Nusselt dan bilangan Rayleigh


untuk sub. channel segiempat [138].

Selain nanopartikel Fe3O4, dan ZrO2, di BATAN dilakukan pula


sintesis nanopartikel Al2O3 dari bahan bauksit lokal. Nanopartikel
Al2O3 disintesis dari Al(OH)3 yang diekstraksi dari mineral bauksit

124
BAB VI | STUDI PENERAPAN NANOFLUIDA PADA PERPINDAHAN PANAS KONVEKSI

dengan metode bayer [139,140]. Nanopartikel Al2O3 diperoleh


dengan mengkalsinasi Al(OH)3 pada suhu 900ºC selama 3 jam
[139]. Citra TEM dan pola difraksi sinar-X dari nanopartikel Al2O3
yang diperoleh diperlihatkan pada Gambar 6.17. Peningkatan CHF
nanofluida Air-Al2O3 sebagai fungsi konsentrasi diperlihatkan pada
Gambar 6.18. Peningkatan CHF nanofluida membesar dengan
membesarnya konsentrasi nanopartikel. Seperti terlihat pada
Gambar 6.18, harga peningkatan CHF nanofluida sebesar 161%
dicapai pada konsentrasi nanopartikel sebesar 0,5% volume.

Gambar 6.17. Citra TEM (kiri) dan pola XRD (kanan) nanopartikel Al2O3
hasil kalsinasi Al(OH)3 suhu 900ºC [138].

Gambar 6.18. Peningkatan CHF fungsi konsentrasi nanopartikel nanofluid


Air-Al2O3 hasil kalsinasi Al(OH)3 suhu 900ºC[139].

125
BAB VI | STUDI PENERAPAN NANOFLUIDA PADA PERPINDAHAN PANAS KONVEKSI

Studi nanofluida menggunakan nanopartikel Al2O3 dari


bahan bauksit lokal tetapi dengan menggunakan etilen glikol
(EG) sebagai fluida dasar juga dilakukan. Nanopartikel Al2O3 yang
dipakai juga disintesis dari Al(OH)3 yang diekstraksi dari mineral
bauksit dengan metode bayer [140] tetapi prosesnya berbeda
dari penelitian sebelumnya. Nanopartikel Al2O3 diperoleh dengan
mengkalsinasi Al(OH)3 pada suhu 600ºC selama 3 jam [140]. Citra
TEM dan pola difraksi sinar-X dari nanopartikel Al2O3 yang diperoleh
diperlihatkan pada Gambar 6.19. Peningkatan CHF nanofluida Air-
Al2O3 sebagai fungsi konsentrasi diperlihatkan pada Gambar 6.20.
Peningkatan CHF nanofluida membesar dengan membesarnya
konsentrasi nanopartikel. Seperti terlihat pada Gambar 6.20, harga
peningkatan CHF nanofluida maksimum adalah 54% yang dicapai
pada konsentrasi nanopartikel sebesar 0,095% volume.

Gambar 6.19. Citra TEM (kiri) dan pola XRD (kanan) nanopartikel Al2O3
hasil kalsinasi Al(OH)3 suhu 600ºC [139].

126
BAB VI | STUDI PENERAPAN NANOFLUIDA PADA PERPINDAHAN PANAS KONVEKSI

Gambar 6.20. Peningkatan CHF nanofluida EG-Al2O3 fungsi konsentrasi


nanopartikel hasil kalsinasi Al(OH)3 suhu 600ºC[140].

VI.4. Aplikasi pada Radiator


Pada saat ini fluida pendingin yang digunakan untuk radiator
pada otomotif adalah air atau fluida tertentu dengan bahan utama
air yang tersedia secara komersial. Untuk peningkatan efisiensi
pendingin konvensional ini dapat diganti dengan nanofluida.
Nanofluida untuk keperluan ini dapat dibuat dengan menggunakan
air atau pendingin komersial sebagai fluida dasar. Beberapa peneliti
telah mempelajari aplikasi nanofluida sebagai pendingin radiator
[141-144].

VI.5. Aplikasi pada Refrigerator


Refrigerasi adalah proses pengaturan dan pengontrolan suhu
di bawah suhu lingkungan untuk berbagai tujuan di antaranya
mendinginkan produk tertentu. Contoh penting tujuan refrigerasi
adalah untuk pengawetan makanan, dan untuk memperoleh
suasana nyaman manusia. Selama ini refrigerant yang digunakan

127
BAB VI | STUDI PENERAPAN NANOFLUIDA PADA PERPINDAHAN PANAS KONVEKSI

telah tersedia secara komersial seperti R134, R152 [145]. Untuk


meningkatkan efisiensi, refrigerant ini dapat diganti dengan
nanofluida dengan menambahkan nanopartikel kedalam refrigerant
komersial. Raja dkk. [146] memperlihatkan adanya pengurangan
konsumsi energi sebesar 26,1% setelah menggunakan nanofluida
minyak mineral (mineral oil)-TiO2 dengan konsentrasi TiO2 sebesar
0,1% berat untuk menggantikan minyak polyol-ester pada sebuah
refrigerator.

VI.6. Permesinan Logam (Metal Machining)


Pada proses permesisnan logam, untuk menghindari kerusakan
benda kerja dilakukan pendinginan selama proses permesinan. Fluida
pendingin yang digunakan harus tidak menimbulkan kerusakan
pada alat dan benda kerja, dan tidak boleh membahayakan operator.
Selama ini fluida yang digunakan biasanya adalah oli atau fluida
khusus yang telah tersedia secara komersial. Untuk meningkatkan
tingkat ekonomi proses permesinan logam, fluida pendingin
konvensional dapat diganti dengan nanofluida. Nanofluida untuk
keperluan ini dapat dibuat dengan cara mendispersikan nanopartikel
kedalam fluida konvensional/komersial sebagai fluida dasar. Contoh
proses permesinan logam dengan bantuan fluida pendingin
diperlihatkan pada Gambar 6.21.

128
BAB VI | STUDI PENERAPAN NANOFLUIDA PADA PERPINDAHAN PANAS KONVEKSI

Gambar 6.21. Contoh proses permesinan logam menggunakan fluida


pendingin [147].

VI.7. Elektronika
Komputer generasi kini dan akan datang akan sangat efektif
di mana densitas komponennya sangat tinggi. Pada kondisi
seperti itu disipasi panas menjadi hal yang penting yang harus
diperhatikan. Pembuangan panas yang efektif dapat dilakukan
dengan menerapkan nanofluida sebagai pendingin. Untuk aplikasi
nanofluida sebagai pendingin komputer, nanopartikel yang dapat
digunakan lebih fleksibel dapat menggunakan hampir semua
material di antaranya Al2O3 [8]. Fluida dasarnya juga fleksibel
selain air dapat juga digunakan etanol, minyak, dll. Contoh sebuah
komputer yang dilengkapi dengan sistem pendingin berbasis fluida
diperlihatkan pada Gambar 6.22.

129
BAB VI | STUDI PENERAPAN NANOFLUIDA PADA PERPINDAHAN PANAS KONVEKSI

Gambar 6.22. Contoh sebuah komputer yang dilengkapi sistem


pendingin dengan fluida [148].

130
BAB VII
PENUTUP

D alam buku ini buku telah diuraikan mengenai nanofluida dengan


uraian yang terdiri dari sintesis dan karakterisasi nanomaterial,
penyiapan nanofluida, karakterisasi nanofluida, dan aplikasi
nanofluida di berbagai bidang serta hasil riset yang terkait. Bagian
aplikasi di bidang nuklir menjadi perhatian khusus dalam buku ini.
Sintesis nanopartikel terutama dari bahan keramik dan
pembuatan nanofluida telah dipaparkan. Diketahui terdapat banyak
metode sintesis nanopartikel keramik. Pemilihannya dapat dilakukan
berdasarkan aplikasi yang akan dipilih. Nanopartikel adalah bagian
yang sangat penting dari nanofluida. Karakteristik nanofluida
ditentukan oleh karakteristik nanopartikelnya, dan karakteristik
nanopartikel sangat dipengaruhi oleh metode sintesis. Bahan alam
sebagai bahan dasar untuk sintesis nanopartikel banyak terdapat di
Indonesia seperti mineral zirkon untuk ZrO2, bauksit untuk Al2O3,
monazite untuk CeO2, pasir besi untuk Fe2O3 dan Fe3O4, dan dolomit
untuk MgO. Terdapat dua metode penyiapan nanofluida yaitu
metode satu langkah (MSL) dan metode dua langkah (MDL), namun
yang banyak digunakan selama ini adalah metode dua langkah.
MDL lebih sederhana dari pada MSL.
Dalam penggunaannya nanofluida dapat dibagi menjadi dua
yaitu untuk aplikasi nuklir dan non-nuklir. Aplikasi nuklir khususnya
untuk fluida pendingin primer (di teras reaktor) memiliki persyaratan
yang lebih ketat daripada aplikasi non-nuklir seperti otomotif,
elektronik, dan pembentukan logam, dan aplikasi nuklir non-
pendingin primer seperti External RVCS, dan pendingin sekunder
(reaktor PWR).

131
BAB VII | PENUTUP

Kekurangan dari nanofluida khususnya nanofluida tanpa


dispersan adalah adanya pengendapan setelah waktu tertentu.
Sehingga diperlukan penelitian untuk meningkatkan kestabilan
nanofluida agar tidak mengendap untuk kurun waktu yang lama.
Di sisi lain, sejauh ini belum ditemukan studi yang mempelajari
pengaruh iradiasi neutron dan gamma terhadap nanopartikel dan
nanofluida meskipun banyak studi yang mempelajari nanofluida
untuk aplikasi reaktor nuklir. Oleh karena itu di masa datang perlu
dilakukan pula penelitian pengaruh iradiasi neutron dan gamma
terhadap karakteristik nanopartikel dan nanofluida.
Selama ini kebanyakan studi nanofluida dilakukan pada tekanan
atmosfir, untuk keperluan aplikasi sebagai pendingin primer PWR di
masa datang perlu dilakukan studi pengaruh tekanan tinggi (sesuai
kondisi reaktor PWR) terhadap kestabilan nanofluida. Selain itu
pengaruh erosi dan korosi oleh nanofluida terhadap bahan logam
kelongsong bahan bakar dan tangki reaktor juga perlu dipelajari.
Adanya bahan kimia di dalam air pendingin seperti asam borat (boric
acid) dan LiOH dapat mempengaruhi karakteristik kimia nanofluida.
Oleh karena itu, pengaruh bahan kimia ini terhadap kestabilan
nanofluida juga perlu dipelajari.

132
DAFTAR PUSTAKA
1. Sudarmadji, FME Transactions (2015) 43, 40-46.
2. Stephen Choi, Nanofluid Technology: Current Status and Future Re-
search,1998.
3. In Cheol Bang, Gyun Heong Heo, Yong Hun Jeong, Sun Heo, An
axiomatic design approach of nanofluid-engineered nuclear safety
featutres for generation III+ reactors, Nuclear Engineering and Tech-
nology, 41(9) (2009)1157-1170.
4. J. Buongiorno, L.W. Hu, Nanofluid Heat Transfer Enhancement
for Nuclear Reactor Applications, Journal of Energy and Power
Engineering 4(6) (2010) pp.1-8.
5. A. Gadalla dan M. M. El-Fawal, Impacts of cooling water quality on
operational safety of water cooled reactor, Eleventh International
Water Technology Conference, IWTC11 2007 Sharm El-Sheikh, Egypt.
6. D.K. Devendiran, V.A. Amirtham, A review on preparation,
characterization, properties and application of nanofluids, Renewable
and Sustainable Energy Review 60 (2016) pp. 21-40.
7. Xiang-Qi Wang dan Arun S. Mujumdar, A Review on nanofluids-Part
II:Experiment and Applications, Brazilian Journal of Chemical Engi-
neering Vol. 25 (4) (2008) pp. 631-648.
8. Wei Yu and Huaqing Xie, A Review on Nanofluids: Preparation, Stabil-
ity Mechanisms, and Applications, Journal of Nanomaterials Volume
2012, Article ID 435873, (2012) pp. 1-17 doi:10.1155/2012/435873.
9. Ibrahim Palabiyik, Sanjeeva Witharana, Zenfira Musina, Yulong Ding,
Stability of glycol nanofluids – the consensus between theory and
measurement, Institute of Particle science and Engineering, School
of Process, Environmental and Materials Engineering, University of
Leeds, switharana@ieee.org.

133
Dafar Pustaka

10. D.G. Syarif, D.H. Prajitno, Synthesis and Characterization of Fe3O4


Nanoparticles for Nanofluids from Local Material through Carboth-
ermal Reduction and Precipitation, Journal of The Australian Ceramic
Society 54(2), 2016.
11. M. K. Meybodi, S. Naseri, A. Shokrollahi, A. Darysafar, Prediction of
viscosity of water-based Al2O3, TiO2, SiO2, and CuO nanofluids using
a reliable approach, Chemometrics and Intelligent Laboratory Sys-
tems 149 (2015)60-69.
12. M.H. Esfe, S. Saedodin, O. Mahdian, S. Wongwises, Efficiency of fer-
romagnetic nanoparticles suspended in ethylene glycol for applica-
tion in energy devices:Effects of particle size, temperature, and con-
centration, International Communications in Heat and Mass Transfer
58 (2014) 138-146.
13. M. Barsoum, Fundamentals of Ceramics, Mc.Graw-Hill, 1997.
14. M.M. Hossen, F.U.Z Chowdhury, M.A. Gafur, A.K.M.A. Hakim, S.Nas-
rin, Investigation of mechanical properties of Al2O3-20%w ZrO2 com-
posites as a function of sintering temperature, European Scientific
Journal 10(9) ( 2014)399-411.
15. L. Chen, Z. Xu, H. Dai, S. Zhang, Facile synthesis and magnetic
properties of monodisperse Fe3O4/SiO2 nanocomposite
microspheres with embedded structure via a direct solution-based
route, Journal of Alloys and Compounds 497 (2010)221-227.
16. Subramaniyan dan R. Ilangovan, Thermal Conductivity of Cu2O-
TiO2 Composite -Nanofluid Based on Maxwell model, International
Journal of Nanoscience and Nanotechnololgy Vol. 11, No. 1, (2015)
pp. 59-62.
17. Y. Tian, D. Wu, X. Jia, B. Yu, S. Zhan, Journal of Nanomaterials Vol.
2011, Article ID 837123, 5 pages.
18. Dani Gustaman Syarif, Disertasi S3, ITB, 2014.

134
Dafar Pustaka

19. C.J. Ma, Y.F. Liu, Y.O. Lu, H. Qian, Preparation and electrical properties
of Ni0.6Mn2.4-xTixO4 NTC ceramics, Journal of Alloys and Com-
pounds 650 (2015) 931-935.
20. K.Park, D.Y.Bang, Electrical properties of Ni-Mn-Co-Fe oxide thick
film NTC thermistors prepared by screen printing, J. Mat,Sci.:Materi-
als in electronics 14(2003)81-87.
21. W.Yang, D.Zhou, G. Yin, R. Wang, Y. Zhang, Characterization of ZnO
based varistor derived from nano ZnO powders and ultrafine dop-
ants, J. Mater.Sci. technol. Vol 21(2) (2005)183-186.
22. Dani G. Syarif, Collection of PSTNT BATAN.
23. Dani Gustaman Syarif, Guntur D.S., M. Yamin, A. Gustiadi, Pembuatan
Keramik Bahan Bakar Matriks Inert Dengan Bahan Fisil UO2 Bentuk
Serbuk, Laporan Teknis, PTNBR-BATAN, 2010.
24. Ahmed Ijaz, Ceramic materials & their processing, http://www.slide-
share.net/aliraza62742/ceramic-materials-their-processing, 2015.
25. Anonim, Mechanical Engineering, A Complete Online Guide for Ev-
ery Mechanical Engineer, http://www.mechanicalengineeringblog.
com/46-methods-of-compacting-powder-metallurgy/, 2015.
26. Anonim, Injection moulding Design, process, Applications, Advan-
tages, Disadvantage, http://mechanicalbuzz.com/injection-mould-
ing-design-process-applications-advantages-disadvantage.html,
2015.
27. Anonim, Produk ekstrusi, Ceramic Substrates & Components (CSC)
Ltd, http://www.ceramic-substrates.co.uk/bespoke-ceramics/ceram-
ic-extrusions, 2015.
28. Anonim, Ceramic Injection Moulding, http://www.multi-lab.co.uk/
services/cim.htm].
29. Anonim, Screen and stencil printing, http://www.mtarr.co.uk/cours-
es/topics/0222_print/index.html, 2015.

135
Dafar Pustaka

30. Dani G. Syarif, Collection of PSTNT BATAN.


31. Anonim, http://www.mtixtl.com/MicrometerAdjustableFilmAppli-
cator-150mmEQ-Se-KTQ-150.aspx, 2015.
32. Anonim, Schematic of the PLD Deposition, http://www.polifab.po-
limi.it/equipments/lasse/, 2015
33. Anonim, http://www.mtixtl.com/DesktopSpinCoater-VTC-50.aspx,
2015.
34. G. J. K. Harrington, Effect of solid solutions and second phases on
the thermal conductivity of zirconium diboride ceramics, Disertasi,
Missouri University of Science and Technology, 2014.
35. Dani Gustaman Syarif, Aditianto Ramelan, Electrical Characteristics
of NTC Thermistor Ceramics Made of Mechanically Activated Fe2O3
Powder Derived from Yarosite, AIP Proceedings, 2007.
36. N. Arsalani, H. Fattahi, M. Nazarpoor, Synthesis and characterization
of PVP-functionalized superparamagnetic Fe3O4 nanoparticles as an
MRI contrast agent, Express Polymer Letters 14(2010)pp.329-338.
37. G.Z. Kyzas, J. Fu, K.A. Matis, The change from past to future for ad-
sorbent materials in treatment of dyeing wastewaters, Materials
2013, 6 (2013) pp.5131-5158.
38. E. Etacheri, C.D. Valentin, J. Scneider, D. Bahnemann, S.C. Pillai, Visible
light activation of TiO2 photocatalyst: Advances in theory and exper-
iments, Journal of Photochemistry and Photobiology C: Photochem-
istry Reviewers 25(201) 1-29.
39. K.M. Lee, C.W. Lai, K.S. Ngai, J.C. Juan, Recent developments of Zinc
oxide based photocatalyst in water treatment technology: A review,
Water Research 88 (2016) 428-448.
40. M. Misha, D.M. Chun, α-Fe2O3 as a photocatalytic material: A review,
Applied Catalyst A: General 498 (2015) 126-141.

136
Dafar Pustaka

41. D. G. Syarif dan D. H. Prajitno, Characteristics of Water-ZrO2 Nanoflu-


id Made from Solgel Synthesized ZrO2 Nanoparticle Utilizing Local
Zircon, Journal of Materials Science and Engineering B 3 (2) (2013)
122-127.
42. R. Saleh, N. Putra, S.P. Prakoso, W.N. Septiadi, Experimental investiga-
tion of thermal conductivity and heat pipe thermal performance of
ZnO nanofluids, International Journal of Thermal Sciences 63 (2013)
125-132.
43. J.R. Lamarsh, Introduction to Nuclear Engineering 2nd Edition,
Addison-Wesley Pub.Co., 1983.
44. Meher Wan, S. K. Verma, D. K. Pandey and R. R. Yada, Synthesis
and frequency dependent ultrasonic characterization of NiO-EG
nanofluids, Proceedings of Meetings on Acoustics, Volume 19, 2013,
pp.1-5.
45. K.S. Reddy, N. R. Kamnapure, S. Srivastava, Nanofluid and
nanocomposite applications in solar energy conversion systems for
performance enhancement: a Review, International Journal of Low-
Carbon Technologies 0 (2016) pp.1–23. Macam2 oksida and C.
46. S. C. Hiswankar, J. M. Kshirsagar, Determination Of Critical Heat
Flux In Pool Boiling Using ZnO Nanofluids, International Journal of
Engineering Research & Technology (IJERT) Vol. 2(7), (2013) pp.2091-
2095.
47. M. Sahooli, S. Sabbaghi, M. Shariaty Niassar, Preparation of CuO/
Water Nanofluids Using Polyvinylpyrolidone and a Survey on Its
Stability and Thermal Conductivity, International Journal Nanoscience
and Nanotechnology, Vol. 8, No. 1 (2012) pp. 27-34.
48. N. Bozorgan, K. Krishnakumar, N. Bozorgan, Numerical Study on
Application of CuO-Water Nanofluid in Automotive Diesel Engine
Radiator, Modern Mechanical Engineering 2, (2012) pp. 130-136.
http://dx.doi.org/10.4236/mme.2012.24017.

137
Dafar Pustaka

49. S. B. Prakash, K. N. Kotin, P. Kumar, Preparation and characterization


of Nanofluid (CuO – Water, TiO2 – Water), International Journal of
Science and Engineering 1(3) (2015) pp.14-20.
50. C.S. Jwo, D.C. Tien, T.P. Teng, H. Chang, T.T. Tsung, C.Y.Liao, C.H.Lin,
Preparation and UV Characterization of TiO2 nanoparticles
synthesized by SANSS, Rev. Advanced Material Science 10 (2005)
283-288.
51. M. S. Patil, J.H. Seo, S.J. Kang, M.Y. Lee, Review on Synthesis, Thermo-
Physical Property, and Heat Transfer Mechanism of Nanofluids,
Energies 2016, 9 (840) (2016) pp.1-17; doi:10.3390/en9100840.
52. L. Colla, Experimental characterization of nanofluids as heat transfer
media, University of Padova.
53. M.K.Nazarabad, E. K. Goharshadi, M. H. Entezari, P. Nancarrow,
Rheological properties of the nanofluids of tungsten oxide
nanoparticles in ethylene glycol and glycerol, Microfluid-Nanofluid,
2015, DOI 10.1007/s10404-015-1638-5.
54. S. Habibzadeha, A. K. Beydokhtia, A. A. Khodadadia, Y. Mortazavia,
S. Omanovicb, M. S. Niassara,Stability and thermal conductivity
of nanofluids of tin dioxide synthesized via microwave-induced
combustion route, Chemical Engineering Journal 156 (2010) pp.471–
478. SnO2
55. Anonim, Materials properties chart, https://www.ceramicindustry.
com/.
56. Y.M. Chiang, dkk, D. Birnie III, W.D. Kingery, Physical Ceramics, John
Wiley and Sons 1997.
57. D. S. Nikam,   S. V. Jadhav,   V. M. Khot,   R. A. Bohara,   C. K. Hong,   S.
S. Mali, and   S. H. Pawar, Cation distribution, structural, morpholog-
ical and magnetic properties of Co1−xZnxFe2O4 (x = 0–1) nanopar-
ticles, RSC Advances Issue 3, 2015.
58. Anonim, https://en.wikipedia.org/wiki/Sol-gel, 2015.

138
Dafar Pustaka

59. M.E. Simonsen and E.G. Sogaard, Journal of Solgel Science and Tech-
nology 53 (2010)485-497.
60. N. Agoudji, S. Kermadi, A. Larbot, Desalination 223 (2008) 417–424.
61. Y. Dimitriev, Y. Ivanova, R. Iordanova,Journal of the University of
Chemical Technology and Metallurgy, 43, 2, 2008, 181-192.
62. D. G. Syarif, D. H. Prajitno, Synthesis and Characterization of Al2O3
Nanoparticles and Water-Al2O3 Nanofluids for Nuclear Reactor
Coolant, Advanced Materials Research Vol. 1123 (2015) pp 270-273.
63. M. Gupta, et al., J. Analytical and Applied Pyrolisis 116(2015)75-85.
64. D.G. Syarif, Characteristics of water-ZrO2 nanofluids with different pH
utilizing local ZrO2 nanoparticles prepared by precipitation method,
Advanced Materials Research vol.896 (2014) pp.163-167.
65. Rajesh and Dubey, Nanoscience and Nanoengineering 1(3)
(2013)139-141.
66. Elaa Qumezzine, Sobhi Hcini, Mohamed Baazaoui, E.K. Hlil, Mo-
hamed Ou mezzine, Powder Technology 278 (2015)189-195.
67. Anonim, https://engineering.purdue.edu/H2Lab/Sodium_Borohy-
dride/index.html.,2015.
68. A. Sutka, The role of stoichiometry on gas response of nanostruc-
tured sol-gel auto combustion derived nickel ferrite, Sensor Letters
vol 11 (2013)2010-2013.
69. U. Megha et al., Nanosized LaCo0.6Fe0.4O3 perovskites synthesized
by citrate sol gel auto combustion method Processing and Applica-
tion of Ceramics 8 [2] (2014) 87–92.
70. F. Iskandar, Adv. Powder Techn. 20 (2009) 283.
71. Ghaffarrian Hamid Reza, Saiedi Mahboobeh, Sayyadnejad Moham-
mad Ali, Rashidi Ali Morad, Synthesis ZnO nanoparticles by spray
pyrolysis method, Iran J. Chem. Chem. Eng. 30[1] (2011)1-6.

139
Dafar Pustaka

72. Hiromichi Hayashi, Yukiya Hakuta, Hydrothermal Synthesis of Metal


Oxide Nanoparticles in Supercritical Water, Materials 2010, 3, 3794-
3817; doi:10.3390/ma3073794.
73. Dani Gustaman Syarif, Private collection.
74. K. M. O. Jensen, July 2013, Disertasi doktor, Jurusan Kimia, Universi-
tas Aarhus, Denmark.
75. M. A. Shah and J. Kumar, Synthesis and Characterization of α-Al2O3
Nanorods prepared by a Simple Aluminum-Water Reaction, African
Physical Review 2:0005, pp. 48-51, 2008.
76. A. Behbahani, S. Rowshanzamir, A. Esmaeilifar, Procedia Engineering
42 ( 2012 ) 908 – 917.
77. A. R.Noviyanti, B. Prijamboedi, N. Marsih, dan Ismunandar, Hydro-
thermal Preparation of Apatite-Type Phases La9.33Si6O26 and
La9M1Si6O26.5 (M = Ca, Sr, Ba), ITB J. Sci., Vol. 44 A, No. 2 (2012)
193-203.
78. Anonim, Scientific Background on the Nobel Prize in Physics 2010 of
Graphene, The Royal Swedish Academy of Sciences.
79. H. He, J. Klinowski, M. Forster, A. Lerf, A new structural model for
graphite oxide, Chemical Physics Letters 287 1998 53–56.
80. L. Shahriary, A. A. Athawale, Graphene Oxide Synthesized by using
Modified Hummers Approach, International Journal of Renewable
Energy and Environmental Engineering ISSN 2348-0157, Vol. 02, No.
01 (2014) 58-63.
81. Anonim, Graphene, http://archive.cnx.org/contents/790bacf3-6512-
4957-bbed-ac887a4fca7c@4/graphene, 2016.
82. M. R. Ilhami dan D. Susanti, Pengaruh Massa Zn dan Temperatur Hy-
drotermal Terhadap Struktur dan Sifat Elektrik Material Graphene,
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 3, No. 2, (2014) F-185-F-190.

140
Dafar Pustaka

83. Anonim, http://www.rsc.org/chemistryworld/News/2008/Decem-


ber/10120801.asp, 2016.
84. Mujamilah, Jurnal Sains Materi Indonesia, Vol. 13 (3) (2012)159-167.
85. Prabhu, Materials Science and Engineering A 425 (2006) 192–200.
86. Molaei, Materials Chracterization 63 (2012) 83-89.
87. Pradhan et al, Materials Chemistry and Physics 93 (2005) 224–230.
88. Suryanarayana, Progress in Materials Science 46 (2001) 1-184.
89. Anonim, Ball mill, Wikipedia.
90. B.S. Ravikumar, H. Nagabhushana, S.C. Sharma, Y.S. Vidya, K.S. Anan-
tharaju, Spectrochimica Acta Part A: Molecular and Biomolecular
Spectroscopy 136 (2015) pp.1027–1037.
91. Anonim, Geochemical Instrumentation and Analysis http://serc.
carleton.edu/research_education/geochemsheets/techniques/SEM.
html, 2015.
92. Anonim, .[https://www.purdue.edu/ehps/rem/rs/sem.htm], 2015.
93. Anonim,http://www.hitachi-hightech.com/ca/product_de-
tail/?pn=em-tm3030plus, 2015.
94. Dani Gustaman Syarif, Data of PSTNT-BATAN.
95. Bob Hafner, Characterization Facility, University of Minnesota, 2015.
96. Anonim, www.intechopen.com, 2015.
97. Matthew R. Phillips, University of Technology Sydney, matthew.phil-
lips@uts.edu.au, 2015.
98. P. Palmero, Structural Ceramic Nanocomposites: A Review of Prop-
erties and Powders’ Synthesis Methods, Nanomaterials 2015, 5, 656-
696; doi:10.3390/nano5020656.
99. Anonim, http://www.hk-phy.org/atomic_world/tem/tem02_e.html,
2015.

141
Dafar Pustaka

100. Dani Gustaman Syarif, Data of PSTNT-BATAN.


101. Anonim, http://xrf-spectroscopy.com/, 2015.
102. Anonim, https://www.helmholtz-berlin.de/projects/pvcomb/analy-
tik/xrf_en.html, 2015.
103. Dani Gustaman Syarif, Technical report, PSTNT-BATAN.
104. M.C. Mascolo, Yongbing Pei, T.A. Ring, Materials 6 (2013)5549-5567.
105. Dani G. Syarif, Collection of PSTNT-BATAN.
106. S.A. Kumar, K.S. Meenakshi, B.R.V. Narashimhan, S. Srikant, G. Art-
hanareeswaran, Material Chemistry and Physic 113 (2009) 57-62.
107. Stephen U. S. Choi and J. A. Eastman, Enhancing Thermal Conduc-
tivity of Fluids with Nanoparticles, ASME International Mechanical
Engineering Congress & Exposition, November 12-17, 1995, San
Francisco, CA.
108. Kostic, ppt, www.kostic.niu.edu, 2015.
109. Dani G. Syarif, Koleksi PSTNT-BATAN.
110. Dani G. Syarif, DataPSTNT-BATAN.
111. S. Nigam et al. / Journal of Magnetism and Magnetic Materials 323
(2011) 237–243.
112. D.G. Syarif, Data PSTNT-BATAN Bandung.
113. D.G. Syarif, Koleksi PSTNT BATAN Bandung.
114. D.G. Syarif, Koleksi PSTNT BATAN Bandung.
115. Particle Sciences, Technical Brief 2012 Vol 2.
116. http://www.silver-colloids.com/Tutorials.
117. Anonim, www.malvren.com, 2015.
118. Anonymous, Understanding heat transfer coefficient, Advanced
Thermal Solution.Inc., www.qats.com.

142
Dafar Pustaka

119. Rodolphe Heyd, Nanofluids for Heat Transfer, CRMD UMR6619


CNRS/Orléans University, France, www.intechopen.com.
120. Fei Duan, Dingtian Kwek, Alexandru Crivoi, Viscosity affected by
nanoparticle aggregation in Al2O3-water nanofluids, Nanoscale Re-
search Letters 2011, 6:248.
121. N. Jamshidi, M. Farhadi, D.D. Ganji, K. Sedighi, Experimental investi-
gation on the viscosity of nanofluids, IJE Transactions B:Application
25(3) (2012) 201-209.
122. Mandeep Singh, Lal Kundan, Experimental study on thermal conduc-
tivity and viscosity of Al2O3 nanotransformer oil, International Jour-
nal on Theoritical and Applied Research in Mechanical Engineering
(IJTARME), Vol 2, Issue 3, 2013, pp.125-129.
123. J.H. Lee, S.H. Lee, C.J. Choi, S.P. Jang, S.U.S. Choi, A review of thermal
conductivity data, mechanisms and models for nanofluids, Interna-
tional Journal of Micro-Nano Scale Transport 1(4) (2010) 269-322.
124. M.H. Esfe, S. Saedodin, O. Mahdian, S. Wongwises, Efficiency of fer-
romagnetic nanoparticles suspended in ethylene glycol for applica-
tion in energy devices:Effects of particle size, temperature, and con-
centration, International Communications in Heat and Mass Transfer
58 (2014) 138-146.
125. H. Hezaveh, M.K. Moraveji, Modeling effective thrmal conductivity of
Al2O3 nanoparticles in water and ethylene glycol based on shape fac-
tor, International Journal of Chemical Engineering and Applications
2(1) (2011)pp.1-4.
126. S.C. Hiswankar, J.M.Kshirsagar, Determination of critical heat flux in
pool boiling using ZnO nanofluids, International Journal of Engi-
neering Research and Technology (IJERT) 2(7)(2013)pp.2091-2095.
127. H.D. Kim, Enhancement of critical heat flux in nucleate boiling of
nanofluids: a state of the art review, Nanoscale Research Letters
2011, 6 (415)(2011)1-18.

143
Dafar Pustaka

128. J. Buongiorno, L.W. Hu, Nanofluids heat transfer enhancement for


nuclear reactor applications, Proceedings of the ASME 2009 2nd
micro/nanoscale heat and mass transfer international conference
MNHMT2009, Shanghai 2009.
129. H.D. Kim, J.B. Kim, M.W. Kim, Experimental study on CHF characteristics
of water-TiO2 nanofluids, Nuclear Engineering and Technology 38(1)
(2006) 61-68.
130. M. Ismail, S. Fotowat, A. Fartaj, Simulation of Al2O3-ATF nanofluid in
a compact heat exchanger, Prosccedings of the 2nd International
Conference on Fluid Flo, Heat and mass transfer, Ottawa, Canada,
2015. ATF=Automatic transmission fluid.
131. S. Senthilraja, KCK. Vijayakumar, Analysis of heat transfer coeffi-
cient of CuO/Water nanofluids using double pipe heat exchanger,
International Journal of Engineering Research and Technology 6(5)
(2013)675-680.
132. R.J. Issa, Heat transfer investigation of aluminum oxide nanofluids
in heat exchangers, European Scientific Journal July 2016 (Special
Edition).
133. Marcelo S. Rocha, Eduardo L.L. Cabral, Gaianê Sabundjian, Helio
Yoriyaz, Ana Cecília S. Lima, Antônio Belchior Junior, Adelk C. Prado,
Tufic M. Filho, Delvonei A. Andrade, Julian M.B. Shorto, Roberto N.
Mesquita, Francisco A. Souza, Larissa Otubo, Benedito D. Baptista
Filho, Perspective of heat transfer enhancement in nuclear reactors
toward nanofluids applications, 2013 International Nuclear Atlantic
Conference - INAC 2013 Recife, PE, Brazil, November 24-29, 2013.
134. Z.K. Kadhim, M.S. Kassim, A.Y.A. Hassan, Effect of MgO nanofluid on
heat transfer characteristics for integral finned tube heat exchanger,
International Journal of Mechanical Engineering and Technology
(IJMET) 7(2), (2016) pp. 11-24.

144
Dafar Pustaka

135. Dani Gustaman Syarif, Djoko Hadi Prajitno, Synthesis and characteri-
zation of Fe3O4 nanoparticles and water-Fe3O4 nanofluids, The 10th
International Forum on Strategic Technology 2015 June 3-June 5,
Bali 2015.
136. Dani G. Syarif, Data of PSTNT-BATAN.
137. Dani G. Syarif, Djoko H. Prajitno, Characteristics of water-ZrO2
nanofluid made from solgel synthesized ZrO2 nanoparticles utilizing
local zircon, Journal of Materials Science and Engineering B3(2)
(2013)pp.122-127.
138. E. Umar, K. Kamajaya, N.P. Tandian, Experimental study of natural con-
vective heat transfer of water-ZrO2 nanofluids in vertical sub channel,
Contemporary Engineering Sciences 8 (33) (2015)1593-1605.
139. Dani Gustaman Syarif*, Djoko Hadi Prajitno, Efrizon Umar, Synthesis
of Al2O3 Nanoparticles from Local Bauxite for Water- Al2O3 Nanoflu-
ids, The 5th International Conference on Advanced in Nuclear Sci-
ences and Engineering (ICANSE) 2015, November 18th-20th, 2015,
Bandung, Indonesia.
140. Dani Gustaman Syarif, Characteristics of Ethylene Glycol-Al2O3
Nanofluids Prepared By Utilizing Al2O3 Nanoparticles Synthesized
from Local Bauxite, ICOPIA 2016, Bali 2016.
141. K.Sirisha, P.V.Kumar, Performance enhancement of an automotive
radiator using ethylene glycol and Al2O3 nanofluid as a coolant,
International Journal of Science and Research (IJSR) 4(9) (2013)
pp.43-46.
142. .S. Amrutkar, S.R. Patil, Automotive radiator performance-Review,
International Journal of Engineering and Advanced Technology
(IJEAT) 2(3)(2013) pp.563-565.
143. N.S. Nhrikhande, V.M.Kriplani, Heat transfer enhancement in auto­
mobile radiator using nanofluids: A Review, International Journal of
Engineering Research and Technology (IJERT) 3(3) (2014) pp.174-177.

145
Dafar Pustaka

144. P.S. Sasank, V.G. Naik, T.N. Nagarjuna, S.J. Kishore, Emprical review
on car radiator using H2O-Al2O3, International Journal of Innovative
Research in Science, Engineering and Technology 3(10)(2007)
pp.16555-16559.
145. T. Coumaressin and K. Palaniradja, Performance Analysis of a Refrig-
eration System Using Nano Fluid, International Journal of Advanced
Mechanical Engineering 4 (4) (2014) pp. 459-470.
146. M. Raja, R. Vijayan, P. Dineshkumar, M. Venkatesan, Review on nano-
fluids characterization, heat transfer characteristics and applications,
Renewable and Sustainable Energy Review 64(2016) pp.163-173.
147. Anonymous, MetLube®  Metalworking Fluid, http://pantheonchem-
ical.com/metlube-metalworking-fluid/.
148. Ice Dragon Cooling, [http://www.overclockersclub.com/reviews/
ces2013/12.htm].

146
LAMPIRAN

Contoh pemberian indeks dan penentuan struktur kristal dari


sebuah pola difraksi.

Penentuan struktur kristal dilakukan pada pola difraksi Gambar L1.


Intensity (counts)

150

100

50

0
15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75
2Theta (°)

Gambar L1. Pola difraksi sebuah sampel.

1. Tentukan parameter kisi.


2. Indeks puncak-pucaknya.
3. Tentukan struktur kristalnya.
Langkah pengerjaan:
1. Indentifikasi puncak-puncaknya.
2. Tentukan Sin2θ.

147
LAMPIRAN

3. Hitung Sin2θ/Sin2θmin dan kalikan dengan bilangan bulat


(interger) yang sesuai.
4. Pilih dari langkah 3, h2+k2+l2 yang menghasilkan bilangan
bulat (interger).
5. Bandingkan hasilnya dengan deretan harga h2+k2+l2
untuk mengidentifikasi kisi Bravais, misalnya BCC
h2+k2+l2 = 2,4,6,8,10,12,14,16…… dan FCC h2+k2+l2 =
3,4,8,11,12,16,19,20,24,27,32,
6. Tentukan parameter kisi.

Langkah 1: Identifikasi puncak.

1x Sin2θ/ 2x Sin2θ/ 3x Sin2θ/


No. 2θ Sin2θ h2+k2+l2 hkl a(A)
Sin2θmin Sin2θmin Sin2θmin

1 19.96              
2 32.03              
3 37.3              
4 39              
5 46.31              
6 62              
7 68              

Langkah 2: Tentukan Sin2θ

1x Sin2θ/ 2x Sin2θ/ 3x Sin2θ/


No. 2θ Sin2θ h2+k2+l2 hkl a(A)
Sin2θmin Sin2θmin Sin2θmin

1 19.96 0.03            
2 32.03 0.07604            
3 37.3 0.10216            
4 39 0.11132            
5 46.31 0.15447            
6 62 0.26502            
7 68 0.31000            

148
LAMPIRAN

Langkah 3: Hitung Sin2θ/ Sin2θmin dan kalikan dengan bilangan bulat


(interger) yang sesuai.

1x Sin2θ/ 2x Sin2θ/ 3x Sin2θ/


No. 2θ Sin2θ h2+k2+l2 hkl a(A)
Sin2θmin Sin2θmin Sin2θmin

1 19.96 0.03 1 2 3      

2 32.03 0.07604 2.534292 5.06858 7.602876      

3 37.3 0.10216 3.404957 6.80991 10.21487      

4 39 0.11132 3.710086 7.42017 11.13026      

5 46.31 0.15447 5.148391 10.2968 15.44517      

6 62 0.26502 8.832809 17.6656 26.49843      

7 68 0.31 10.41 20.82 31.24  

Langkah 4: Pilih dari langkah 3, h2+k2+l2 yang menghasilkan deretan


bilangan bulat (interger).

1x Sin2θ/ 2x Sin2θ/ 3x Sin2θ/


No. 2θ Sin2θ h2+k2+l2 hkl a(A)
Sin2θmin Sin2θmin Sin2θmin

1 19.96 0.03 1 2 3      
2 32.03 0.07604 2.534292 5.06858 7.602876      
3 37.3 0.10216 3.404957 6.80991 10.21487      
4 39 0.11132 3.710086 7.42017 11.13026      
5 46.31 0.15447 5.148391 10.2968 15.44517      
6 62 0.26502 8.832809 17.6656 26.49843      
7 68 0.31 10.41 20.82 31.24  

149
LAMPIRAN

Langkah 5: Bandingkan hasilnya dengan deretan harga h2+k2+l2 untuk


mengidentifikasi kisi Bravais , misalnya BCC h2+k2+l2 = 2,4,6,8, ……..

1x Sin2θ/ 2x Sin2θ/ 3x Sin2θ/


No. 2θ Sin2θ h2+k2+l2 hkl a(A)
Sin2θmin Sin2θmin Sin2θmin

1 19.96 0.03 1 2 3 3 111 7.70245


2 32.03 0.07604 2.534292 5.06858 7.602876 8 220 7.90105
3 37.3 0.10216 3.404957 6.80991 10.21487 11 311 7.99298
4 39 0.11132 3.710086 7.42017 11.13026 12 222 7.99773
5 46.31 0.15447 5.148391 10.2968 15.44517 16 400 7.83957
6 62 0.26502 8.832809 17.6656 26.49843 27 511 7.77501
7 68 0.31 10.41 20.82 31.24 32 440 7.78429

Langkah 6: Tentukan parameter kisi.

1x Sin2θ/ 2x Sin2θ/ 3x Sin2θ/


No. 2θ Sin2θ h2+k2+l2 hkl a(A)
Sin2θmin Sin2θmin Sin2θmin

1 19.96 0.03 1 2 3 3 111 7.70245


2 32.03 0.07604 2.534292 5.06858 7.602876 8 220 7.90105
3 37.3 0.10216 3.404957 6.80991 10.21487 11 311 7.99298
4 39 0.11132 3.710086 7.42017 11.13026 12 222 7.99773
5 46.31 0.15447 5.148391 10.2968 15.44517 16 400 7.83957
6 62 0.26502 8.832809 17.6656 26.49843 27 511 7.77501
7 68 0.31 10.41 20.82 31.24 32 440 7.79591

55.00471
7.85792

150
LAMPIRAN

Intensity (counts)
150

100

50

0
15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75
2Theta (°)

Gambar L1-1. Pola difraksi setelah diindeks.

Diketahui bahwa sampel memiliki struktur kristal FCC


berdasarkan pola h2+k2+l2 = 3,4,8,11,12,16,19,20,24,27,32,……
dengan parameter kisi 7.85792 A.

Gambar L1-2. Aturan seleksi refleksi kristal kubus.

151
INDEKS

asam sitrat 33, 34, 36, 38, 39, 40, 84, 85

bilangan Nusselt 123, 124


bottom-up 5, 27
Bragg 56
Bravais 148, 150

cacat 12, 15, 88


CHF 2, 6, 95, 105, 106, 107, 108, 109, 110, 117, 118, 120, 125, 126, 127,
core shell 10

Debye Scherrer 58
dispersan 4, 5, 82, 84, 85, 132

ECCS 2, 20, 105, 116, 117, 118


EDS 65
EDX 60, 65, 66, 67, 68
ekstrusi 135
Electric Double Layer 87, 89, 90, 91
Elektronika 129

152
F

Faktor struktur 12
fluida pendingin 2, 101, 106, 116, 127, 128, 129, 131

grafen 37, 38, 39, 40, 136


grafit oksida 37, 38, 39, 136

HEM 40, 41, 42, 43, 75, 132, 136


hidrotermal 20, 33, 34, 35, 36, 37, 136
hukum Stoke 2
Hummer 38, 39

Indeks Miller 50, 51, 53, 54, 133, 137


Injection moulding 14, 126

kekosongan oksigen 15
KERAMIK vii, 5, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23,
24, 25, 26
komposit 1, 9, 10, 11, 16, 20
konduksi 15, 18, 123
konduktivitas ionik 12, 15, 19
konduktivitas termal 1, 3, 4, 5, 8, 9, 10, 11, 14, 18, 22, 23, 95, 101, 102,
103, 104, 105, 118, 121, 122
Konveksi 111, 122, 123
kopresipitasi 27, 28, 29, 119, 120
kristalit 58

153
L

larutan padat 9, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 65


Luas permukaan jenis 77
LWR 19, 116, 117

Metode dua langkah 5, 80, 81, 82, 83, 131


Metode satu langkah 5, 79, 80, 81, 131

nanofluida v, vii, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 8, 9, 10, 12, 18, 19, 20, 22, 24, 47, 79, 80,
81, 82, 83, 84, 85, 94, 95, 96, 97, 98, 99, 100, 101, 102, 103, 105, 106, 107,
108, 109, 110, 111, 113, 114, 116, 117, 118, 119, 120, 121, 122, 125, 126,
127, 128, 129, 131, 132, 156
nanopartikel v, vii, 1, 2, 5, 10, 12, 13, 17, 19, 24, 27, 28, 29, 32, 33, 34, 36,
37, 38, 40, 41, 42, 44, 45, 52, 55, 58, 72, 77, 79, 80, 81, 84, 95, 96, 97, 98,
99, 101, 102, 103, 104, 105, 107, 108, 109, 111, 112, 113, 114, 116, 117,
119, 120, 121, 122, 124, 125, 126, 127, 128, 129, 131, 132

otomotif 1, 3, 21, 117, 127, 131

Parameter kisi 147, 148, 150, 151


Pechini 31, 33, 34, 35, 36, 37, 38
pengkelat 33, 34, 38
perpindahan panas 1, 2, 3, 6, 19, 79, 95, 101, 108, 109, 111, 113, 114, 115,
116, 117, 118, 122, 123
pH 7, 28, 29, 33, 36, 39, 49, 50, 58, 79, 84, 85, 88, 89, 94
PLD 136
Potensial zeta 79, 87, 90, 93, 94
presipitasi 22, 27, 28, 81
pressure drop 1, 2, 95, 111, 113

154
R

Radiasi 4, 20, 22, 73, 74, 75, 116, 117, 132


reaktor nuklir 1, 7, 19, 22, 24, 82, 111, 116, 117, 118, 122
refrigerant 127, 128
Refrigerator 111, 127, 128
Reynolds 112, 113, 114
RVCS 2, 20, 105, 116, 131

scattering center 16, 17


screen printing 135
selfcombustion 38, 39
SEM 59, 60, 63, 65, 68, 69, 70
solgel 12, 13, 22, 24, 27, 29, 30, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38, 81, 121, 137,
139, 145
Spray pyrolysis 27, 41, 81, 139
Stoke 4, 92
Struktur Mikro 14, 16, 17, 18, 59
suspensi 1, 4, 29, 44, 87, 88, 89, 90, 91, 92, 93, 94

Teknik Doping 14
TEM 10, 11, 70, 71, 72, 119, 120, 121, 125, 126
top-down 5, 27, 51

Viskositas 4, 5, 79, 86, 90, 91, 92, 95, 96, 97, 98, 99, 100, 101, 105, 123

XRD 34, 36, 55, 125, 126


XRF 73, 74, 75, 76

155
RIWAYAT HIDUP

D ani Gustaman Syarif, Peneliti Utama di Badan


Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), danigus@
batan.go.id. Dilahirkan di Purworejo Jawa Tengah
22 Mei 1961. Menamatkan sekolah dari tingkat SD
hingga S1 di Jakarta. Tamat S1 dari Jurusan Fisika
UI bidang studi Fisika Material. Melanjutkan kuliah
S2 di Hiratsuka Jepang bidang Material Nuklir dan
tamat tahun 1995. Pendidikan tingkat doktoral
dijalani di ITB Bidang Studi Rekayasa Pertambangan substudi Material
Keramik dan tamat tahun 2014 dengan predikat Cum Laude. Karir
penulis sebagai peneliti di BATAN dirintis sejak tahun 1985. Pada
tahun 2008 telah mencapai jenjang tertinggi sebagai peneliti yaitu
sebagai Peneliti Utama golongan IVE di Bidang Material Keramik.
Sejak tahun 1998 telah memperoleh berbagai hibah penelitian dari
Kemenristek dan Kemendikbud. Bidang penelitian yang ditekuni
di antaranya material bahan bakar nuklir, material sensor, material
varistor, material termistor, material Solid Oxide Fuel Cell (SOFC),
material fotokatalis, dan nanofluida. Karya tulis ilmiah penulis telah
dipublikasikan di berbagai forum seminar baik nasional maupun
internasional seperti QIR, IPDD, ICME, ICOPIA, ICMNS, IFOST, dan
ICAMST, serta diterbitkan pula di Jurnal Internasional seperti Journal
of Applied Surface Science dan Journal of The Australian Ceramic
Society. Penulis juga memiliki beberapa paten (granted).

156