Anda di halaman 1dari 7

PENGARUH PERUBAHAN ALIRAN ALAMI SUNGAI TERHADAP

KEANEKARAGAMAN HAYATI FAUNA PERAIRAN


(Makalah Domestika dan Pengembangan Sumberdaya Ikan Lokal)

Oleh

PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIAN


JURUSAN PERIKANAN DAN KELAUTAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2018
I. PENDAHULUAN

Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu wilayah daratan yang merupakan kesatuan
ekosistem dengan sungai dan anak-anak sungainya yang berfungsi menampung, menyimpan,
dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau laut secara alami, yang batas
di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah pengairan
yang masih terpengaruh aktivitas daratan. Daerah Aliran Sungai memiliki peran yang sangat
penting bagi siklus hidrologi, kemampuannya menjaga dan menjadi tempat untuk
mengalirkan air dari hulu ke hilir sebagai sumber kehidupan menjadi jaminan yang akan
menyatukan komponen biotik dan abiotik dalam menjaga keseimbangan lingkungan.

Sungai dapat menjadi potensi penyeimbang yang ditunjukkan oleh daya gunanya antara lain
untuk pertanian, energi dan transportasi, namun juga dapat mengakibatkan banjir, pembawa
sedimentasi, pembawa limbah dan dampak kegiatan lain. Aktivitas penebangan hutan di hulu
akan menyebabkan sedimentasi dan banjir di hilir, demikian juga aktivitas industri di hulu
sungai menyebabkan polusi air di hilir sehingga masyarakat pengguna air di hilir dirugikan.
Sebaliknya upaya konservasi dan rehabilitasi hutan di hulu akan memperbaiki tata air dan
memperkecil sedimentasi dan banjir di daerah hilir.

Kawasan hulu DAS mempunyai peranan yang penting sebagai penyedia air untuk dialirkan
ke hilir bagi berbagai kepentingan seperti pertanian, pemukiman, industri dan lain
sebagainya. Daerah hulu merupakan faktor produksi dominan yang sering mengalami konflik
kepentingan penggunaan lahan oleh kegiatan pertanian, pariwisata, pertambangan,
pemukiman dan lain-lain. Kemampuan pemanfaatan lahan di hulu sangat terbatas, sehingga
kesalahan pemanfatan akan berdampak negatif pada daerah hilirnya. Konservasi daerah hulu
perlu mencakup aspek-aspek yang berhubungan dengan produksi air. Secara ekologis, hal
tersebut berkaitan dengan ekosistem daerah tangkapan air yang merupakan rangkaian proses
alami siklus hidrologi yang memproduksi air permukaan dalam bentuk mata air, aliran air dan
sungai. Dalam hubungannya dengan 2ystem hidrologi, DAS mempunyai karakteristik yang
spesifik serta berkaitan dengan unsur utamanya seperti jenis tanah, tata guna lahan, topografi,
kemiringan dan panjang lereng. Karakteristik biofisik DAS tersebut dalam merespons curah
hujan yang jatuh di dalam wilayah DAS tersebut dapat memberikan pengaruh terhadap besar-
kecilnya evapotranspirasi, infiltrasi, perkolasi, air larian, aliran permukaan, kandungan air
tanah, dan aliran sungai.
II. ISI

Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu wilayah daratan yang merupakan kesatuan
ekosistem dengan sungai dan anak-anak sungainya yang berfungsi menampung, menyimpan,
dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau laut secara alami, yang batas
di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah pengairan
yang masih terpengaruh aktivitas daratan. Daerah Aliran Sungai memiliki peran yang sangat
penting bagi siklus hidrologi, kemampuannya menjaga dan menjadi tempat untuk
mengalirkan air dari hulu ke hilir sebagai sumber kehidupan menjadi jaminan yang akan
menyatukan komponen biotik dan abiotik dalam menjaga keseimbangan lingkungan.

Menurut Setyowati (2008), Proses hidrologi yang berlangsung dalam ekosistem DAS
bermanfaat bagi pengembangan sumberdaya air dalam skala DAS. Dalam sistem hidrologi
ini, peranan vegetasi sangat penting karena kemungkinan intervensi manusia terhadap unsur
tersebut sangaat besar. Vegetasi dapat merubah sifat fisika dan kimia tanah dalam
hubungannya dengan air, dapat mempengaruhi kondisi permukaan tanah, dan dengan
demikian mempengaruhi besar kecilnya aliran permukaan.

DAS merupakan lokasi yang potensial sebagai habitat berbagai makhluk hidup, terutama
fauna vertebrata, baik fauna darat maupun air. Pada umumnya, pada tepian sungai terdapat
dan tumbuh berbagai jenis vegetasi yang disebut vegetasi riparian. Vegetasi riparian ini selain
berfungsi untuk menjaga erosi tepian sungai juga merupakan habitat yang cocok bagi
berbagai jenis fauna vertebrata. Fauna vertebrata darat yang sering dijumpai di sekitar
vegetasi riparian sungai adalah burung, mamalia kecil hingga sedang, katak dan kodok,
serta reptil seperti ular dan kadal. Bahkan sebagian besar fauna tersebut menjadikan vegetasi
riparian sebagai sarang tempat tinggal mereka. Fauna vertebrata darat sering dijumpai berada
di sekitar sungai. Selain bertempat tinggal di sana, mereka juga mencari makanan/mangsa
berupa fauna air.

Derajat keasaman (pH) merupakan nilai untuk mengetahui tingkat keasaaman atau kebasaan
suatu perairan. Nilai pH yang baik digunakan untuk kehidupan organisme berkisar antara 6-9.
Kondisi pH yang terlalu rendah akan dapat mematikan organisme dan meningkatkan
kelarutan logam berat di perairan. Oksigen merupakan senyawa yang sangat penting bagi
kehidupan organisme terutama untuk proses pernafasan, metabolisme, dan fotosintesis. Oleh
karena itu, keberadaannya dalam bentuk terlarut di perairan menjadi faktor penting untuk
kelangsungan hidup semua organisme. Kadar DO yang baik bagi pertumbuhan ikan adalah di
atas 5 mg/L.

Erosi tanah oleh air hujan menjadi isu utama pengelolaan DAS dan pembangunan di
Indonesia, sekaligus merupakan penciri terjadinya degradasi lahan dan penyebab menurunnya
produktivitas lahan (Baja et al, 2009). Erosi membawa partikel tanah ke dalam air dalam
bentuk sedimen dan menetap di daerah yang lebih rendah seperti sungai, danau, saluran
irigasi, dan beberapa tempat lainnya (Setyawan et al, 2017). Semakin tinggi tingkat erosi
yang terjadi di bagian hulu sungai maka jumlah sedimen di bagian hilir sungai akan semakin
banyak. Penumpukan sedimen yang semakin besar dapat mengurangi kapasitas tampung
sungai terhadap air hujan yang berintensitas tinggi, sehingga berpotensi menyebabkan banjir
terutama di musim hujan (Ardiansyah et al, 2013). Pengukuran terhadap nilai erosi dan
sedimentasi sangat penting dilakukan sebagai indikator untuk mengevaluasi kegiatan
pengelolaan DAS khususnya dari aspek lahan.

Sebagai suatu kesatuan tata air, DAS dipengaruhi kondisi bagian hulu, khususnya kondisi
biofisik daerah tangkapan dan daerah resapan air yang di banyak tempat rawan terhadap
ancaman gangguan manusia. Hal ini mencerminkan bahwa kelestarian DAS ditentukan oleh
pola perilaku, keadaan sosial-ekonomi dan tingkat pengelolaan yang sangat erat kaitannya
dengan pengaturan kelembagaan (institutional arrangement). Tidak optimalnya kondisi DAS
antara lain disebabkan tidak adanya adanya ketidak terpaduan antar sektor dan antar wilayah
dalam pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan DAS tersebut. Dengan kata lain,
masing-masing berjalan sendiri-sendiri dengan tujuan yang kadangkala bertolak belakang.
Sulitnya koordinasi dan sinkronisasi tersebut lebih terasa dengan adanya otonomi daerah
dalam pemerintahan dan pembangunan dimana daerah berlomba memacu meningkatkan
Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan memanfaatkan sumberdaya alam yang ada.

Permasalahan ego-sektoral dan ego-kedaerahan ini akan menjadi sangat komplek pada DAS
yang lintas kabupaten/kota dan lintas propinsi. Oleh karena itu, dalam rangka memperbaiki
kinerja pembangunan dalam DAS maka perlu dilakukan pengelolaan DAS secara terpadu.
Pengelolaan DAS terpadu dilakukan secara menyeluruh mulai keterpaduan kebijakan,
penentuan sasaran dan tujuan, rencana kegiatan, implementasi program yang telah
direncanakan serta monitoring dan evaluasi hasil kegiatan secara terpadu.

Pentingnya asas keterpaduan dalam pengelolaan DAS erat kaitannya dengan pendekatan yang
digunakan dalam pengelolaan DAS, yaitu pendekatan ekosistem. Ekosistem DAS merupakan
sistem yang kompleks karena melibatkan berbagai komponen biogeofisik dan sosial ekonomi
dan budaya yang saling berinteraksi satu dengan lainnya. Kompleksitas ekosistem DAS
mempersyaratkan suatu pendekatan pengelolaan yang bersifat multi-sektor, lintas daerah,
termasuk kelembagaan dengan kepentingan masing-masing serta mempertim- bangkan
prinsipprinsip saling ketergantungan. Hal-hal yang penting untuk diperhatikan dalam
pengelolaan DAS :
a) Terdapat keterkaitan antara berbagai kegiatan dalam pengelolaan sumberdaya alam dan
pembinaan aktivitas manusia dalam pemanfaatan sumberdaya alam.
b) Melibatkan berbagai disiplin ilmu dan mencakup berbagai kegiatan yang tidak selalu
saling mendukung.
c) Meliputi daerah hulu, tengah, dan hilir yang mempunyai keterkaitan biofisik dalam bentuk
daur hidrologi.
DAFTAR PUSTAKA

Ardiansyah, T., Lubis, K. S., & Hanum, H. (2013). Kajian Tingkat Bahaya Erosi di Beberapa
Penggunaan Lahan di Kawasan Hilir DAS Padang. Jurnal Online Agroekoteknologi
ISSN, 2, 436–446.
Baja, S., Ramli, M., & Lias, S. A. (2009). Spatial-based assessment of land use, soil erosion,
and water protection in the Jeneberang valley, Indonesia. Biologia, 64(3), 522–526.
Setyawan, C., Lee, C. Y., & Prawitasari, M. (2017). Application Of GIS Software For
Erosion Control In The Watershed Scale. International Journal of Scientific &
Technology Research, 6(1), 57–61.
Setyowati, D.L., 2008. Pemodelan Ketersediaan Air untuk Perencanaan Pengendalian Banjir
Kali. Blorong Kabupaten Kendal. Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang.