Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN

PRAKTIKUM OPERASI KINETIKA DAN PENGENDALIAN REAKTOR

KALIBRASI DAYA REAKTOR KARTINI

Disusun oleh

Nama : Miftahul Fadillah Respati


NIM : 031600481
Tanggal Praktikum : 15 November 2018
Kelompok :1

JURUSAN TEKNOFISIKA NUKLIR


PROGRAM STUDI ELEKTRO MEKANIKA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL
YOGYAKARTA
2018
A. TUJUAN

Tujuan melakukan kalibrasi daya Reaktor adalah :

1. Untuk menentukan besarnya daya pada saat Reaktor dioperasikan pada suatu tingkat
daya tertentu (konstan).
2. Mengatur (menentukan) penunjukan meter daya yang tertampil pada ruang kendali

B. DASAR TEORI

Pada saat Reaktor dioperasikan dalam kondisi kritis pada suatu tingkat daya tertentu
(konstan), maka terjadi reaksi fisi (pembelahan) bahan baker U-235 dengan neutron awal
(sumber) sehingga melahirkan neutron baru, radiasi gamma dan energi panas. Banyaknya
reaksi fisi yang terjadi setiap detik per satuan volume sebanding dengan Ф x Σf.
Banyaknya reaksi pembelahan tiap detik untuk menghasilkan daya 1 watt adalah 3,2 x
1010 pembelahan, sehingga pada saat terjadi reaksi fisi pada kondisi tertentu dapat ditulis
dalam bentuk persamaan :

Σ𝑓
𝑃= ∫ 𝜙(𝑉) 𝑑𝑉
3,2𝑥1010

dimana : Σf = Tampang lintang makroskopis

V = Volume Reaktor

Penentuan daya Reaktor dapat dilakukan pula dengan memanfaatkan energi (panas)
yang dibangkitkan akibat dari reaksi fisi bahan baker U-235, yaitu dengan metode
kalorimetri dimana pembangkitan panas akan diterima oleh pendingin primer (teras
Reaktor) sedemikian sehingga mengakibatkan kenaikan suhu pada pendingin primer
tersebut.

C. METODOLOGI

Ada 2 metode dalam melakukan kalibrasi daya reaktor:

1. Dengan Metode Penentuan Fluks Teras Reaktor

Dengan menentukan besarnya fluks neutron Ф (n cm-2 det-1 ) teras Reaktor, dan
menentukan besarnya volume teras Reaktor maka dapat dihitung besar daya Reaktor
2. Dengan Metode Kalorimetri.

Pada dasarnya metode kalorimetri adalah energi (kalor) yang dibangkitkan dalam
suatu bejana akan mengakibatkan kenaikan suhu air pendingin dalam bejana tersebut,
dengan asumsi bahwa seluruh panas dari hasil reaksi fisi akan digunakan untuk kenaikan
suhu air tangki Reaktor, dan tidak ada panas yang hilang.

Ada 2 (dua) macam metode kalorimetri yaitu :

a. Metode Stationer.

Metode stationer yaitu pada saat Reaktor dioperasikan pada daya tertentu diusahakan
suhu pendingin primer tidak naik, dengan cara menghidupkan system pendingin untuk
mengambil panas yang dibangkitkan dari reaksi fisi bahan bakar U-235.

Pengambilan panas ini melalui system penukar panas (HE = Heat Exchanger),
sehingga suhu air primer pada tangki Reaktor tidak naik.

b. Metode Non Stationer

Merupakan suatu metode dimana pada saat Reaktor dioperasikan pada tingkat daya
tertentu (konstan), dibiarkan suhu air pendingin primer (dalam tangki) reaktor naik secara
alamiah, dengan cara mematikan system pendingin primer tersebut, sehingga suhu air
pendingin primer (air tangki Reaktor ) akan naik secara kontinu. Seluruh energi panas (Q)
dari hasil fisi bahan bakar dimanfaatkan untuk kenaikan suhu air pendingin dan
diasumsikan energi panas tersebut tidak ada yang hilang (peristiwa adiabatik).

Prinsip kalorimetri adalah banyaknya energi panas yang berasal dari hasil reaksi fisi
(Q) sama dengan yang diterima dalam pendingin primer, dan dapat ditulis pada persamaan
berikut :

𝑄 = 𝑚. 𝐶. Δ𝑇

dimana : m = masa air pendingin

C = kapasitas panas

ΔT = kenaikan suhu ( 0C )

Daya merupakan besarnya energi tiap satua waktu, sehingga:

𝑑𝑄 𝑑𝑇
𝑃= = 𝑚. 𝐶.
𝑑𝑡 𝑑𝑡
dengan: m x C = H = harga air; untuk Reaktor Kartini H = 19,0476 KWH/0C

dT/dt = kenaikan sutu air tangki Reaktor tiap satuan waktu.

Kenaikan suhu air tangki Reaktor terjadi secara kontinu sebagai fungsi waktu,
sehingga untuk menentukan daya Reaktor dT/dt dapat di hitung dengan regresi linier.
Langkah percobaan : (metode non stationer)

1. Reaktor dioperasikan hingga mencapai daya sesuai yang dikehendaki untuk


dikalibrasi ( misal : 100 kW)
2. Mematikan sistem pendingin primer, sehingga suhu air tangki Reaktor dibiarkan
naik secara kontinyu.
3. Setelah daya konstan (beberapa saat) mulai dilakukan pengamatan penunjukan
suhu air pendingin primer dalam tangki Reaktor setiap selang waktu 5 menit hingga
10 data.
4. Lakukan perhitungan dengan metode non stationer, dengan menggunakan regresi
linier.
5. Membandingkan hasil perhitungan dengan meter penampil daya pada sIstem
kendali reaktor, kemudian dihitung penyimpangan dayanya.

D. ANALISIS DATA
1. Dengan Metode Tabel
𝑑𝑇 (𝑛 𝑥 Σ(𝑡𝑖 𝑥 Δ𝑇𝑖 )) − (Σ𝑡𝑖 𝑥 ΣΔ𝑇𝑖 )
=
𝑑𝑡 (𝑛 𝑥 Σ𝑡𝑖2 ) − (Σ𝑡𝑖 )2

n Ti Ti Dti DTi.ti ti^2


1 0 30,4 0 0 0
2 5 31,1 0,7 3,5 25
3 10 31,4 1 10 100
4 15 31,8 1,4 21 225
5 20 32,3 1,9 38 400
6 25 32,6 2,2 55 625
7 30 33 2,6 78 900
8 35 33,3 2,9 101,5 1225
9 40 33,7 3,3 132 1600
10 45 33,9 3,5 157,5 2025
Σ 225 323,5 19,5 596,5 7125

dT/dt = 0,0765
2. Dengan Metode Grafik Regresi Linier

dT/dt = m = 0,0765

Sehingga Daya reaktor dapat ditentukan; H = 19,0476 kWh/ °C

𝑑𝑇
𝑃 = 60. 𝐻. = 87,43 𝑘𝑊
𝑑𝑡

Daya pada meter daya 100 kW


Daya hasil pengukuran 87,34 kW
Penyimpangan 12,66 %
E. PEMBAHASAN

Kalibrasi daya dimaksudkan untuk menyamakan daya yang terukur dengan daya yang
terhitung. Daya yang terukur adalah daya yang tampil pada layar operasi reaktor.
Kemudian dibandingkan dengan daya yang dihitung berdasarkan suhu pendingin primer.
Daya yang terukur pada layar adalah 100kW. Sedangkan, daya yang didapat dari hasil
perhitungan adalah 87,34 kW. Penyimpangan dari kedua nilai tersebut adalah 12,66%.
Padahal, penyimpangan kalibrasi daya maksimal adalah 10%. Jika terjadi penyimpangan
diatas 10%, maka perlu dilakukan kembali kalibrasi daya dengan cara mengatur posisi
detektor daya pada reaktor.
Namun, penyimpangan ini bisa saja bukan terjadi karena daya reaktor yang perlu
dikalibrasi ulang. Hasil pengukuran dan pengamatan praktikan juga dapat mempengaruhi
data yang didapat, sehingga berpengaruh juga pada hasil daya terhitung. Kesalahan
praktikan bisa disebabkan oleh tidak tepat waktu saat pembacaan temperatur, pembacaan
temperatur yang salah, atau salah dalam perhitungan,

F. KESIMPULAN

Setelah melakukan Praktikum Operasi Kinetika dan Pengendalian Reaktor dengan


judul Kalibrasi Daya Reaktor Kartini, dapat disimpulkan beberapa poin.
Daya reaktor dapat diketahui dengan beberapa cara seperti penentuan fluks teras
reaktor maupun metode kalorimeter. Metode yang dilakukan pada percobaan ini adalah
Metode Kalorimeter Non-Stationer, yaitu berdasarkan pengukuran temperatur pendingin
primer terhadap waktu.
Daya yang terhitung pada layar operasi reaktor adalah 100 kW, sedangkan daya dari
hasil perhitungan adalah 87,34 kW. Maka, penyimpangannya adalah 12,66% dengan
maksimal penyimpangan 10%.
Karena penyimpangan yang telah melebihi angka maksimal, detektor daya reaktor
harus dikalibrasi ulang. Namun, jika kesalahan terjadi oleh praktikan (human error), maka
perlu dilakukan kembali percobaan yang sama dengan ketelitian yang lebih tinggi.