Anda di halaman 1dari 4

Klasifikasi gingivitis Berdasarkan Perjalanan, Lama, dan Penyebaran

1. Gingivitis akut
Timbul secara tiba-tiba dan dalam jangka waktu yang pendek.
2. Gingivitis subakut
Tahap yang lebih hebat dari kondisi gingivitis akut.
3. Gingivitis reccurent
Peradangan gusi yang dapat timbul kembali setelah dibersihkan dengan
perawatan atau hilang secara spontan dan dapat timbul kembali.
4. Gingivitis kronis
Timbul secara perlahan-lahan dalam waktu yang lama. Tidak terasa sakit
apabila tidak ada komplikasi dari gingivitis akut. Apabila dibiarkan lama
dapat menyebabkan periodontitis.
Gingivitis kronis merupakan bentuk gingivitis yang umum terdapat dan
sering tidak dikeluhkan. Beberapa keadaan dapat menjadi faktor predisposisi
terjadinya gingivitis kronis. Apabila penyebabnya tidak segera dihilangkan maka
akan mengakibatkan periodontitis.

Patofisiologi Gingivitis

1. Patofisiologi Gingivitis Akut

Gingivitis merupakan peradangan gusi yang paling sering terjadi dan


merupakan respon inflamasi tanpa merusak jaringan pendukung.Hal ini disebabkan
karena adanya akumulasi plak karena kebersihan mulut buruk, kalkulus, dan dapat
terjadi karena adanya iritasi mekanis atau trauma seperti tergigit. Trauma merupakan
salah satu penyebab dari gingivitis akut.
Plak akan berakumulasi dalam jumlah yang banyak di daerah interdental
yang sempit dan kemudian menyebar ke leher gigi. Gingivitis berawal dari daerah
margin gusi yang disebabkan oleh invasi bakteri atau rangsang endotoksin.
Endotoksin dan enzim dilepaskan oleh bakteri Gram negatif yang kemudian
menghancurkan substansi interseluler epitel dan menyebabkan ulser pada epitel
sulkus. Enzim dan toksin menembus jaringan pendukung di bawahnya, kemudian
menyebabkan dilatasi pembuluh darah yang ditandai dengan peradangan. Gusi akan
terlihat merah, terjadi perdarahan, dan dapat disertai eksudat.

Gambar 2.26 Akumulasi plak menyebabkan gingivitis

Berbeda dengan gingivitis kronis, gingivitis akut akan menimbulkan rasa


sakit yang terjadi secara cepat dan tiba-tiba. Apabila iritan dari gingivitis ini
dihilangkan, gingiva akan kembali sehat. Sedangkan pada gingivitis kronis, sudah
melibatkan nekrosis pulpa maka tidak timbul rasa sakit. Gingivitis akut biasa
ditandai dengan adanya sel PMN yang aktif dalam peradangannya.

Gambar 2.27 Perjalanan Gingivitis


2. Patofisiologi Gingivitis Kronis
Gingivitis kronis merupakan peradangan kronis yang terjadi pada jaringan
lunak disekitar gigi yang disebabkan oleh akumulasi plak, materi alba dan kalkulus.
Flora awal pada plak adalah kokus Gram positif dalam waktu 4-7 hari, kemudian
diikuti organisme Gram negatif filamen dan fusiform setelah 2 minggu.
Gingivitis kronis merupakan peradangan kronis yang terjadi pada jaringan
lunak di sekitar gigi yang disebabkan oleh akumulasi plak, materi alba dan kalkulus.
Salah satu tanda klinis yaitu adanya pembengkakan pada gusi serta pendarahan pada
gusi, contohnya saat menyikat gigi (Neville, dkk, 1991; hircsh 2004;Stephen 2004).
Gingivitis kronis pada anak ditandai oleh hilangnya serat kolagen di area sekitar
epitel junction.

Gambar 2.28 Gingivitis Kronik pada Gusi Labial Atas


(Orthodontic and Pediatric Dentistry, Colour Guide, Hal. 144)

Gejala lainnya dapat berupa:

1. Adanya perubahan warna gusi, dari yang normalnya berwarna pink/


merah muda menjadi merah tua yang di mulai dari margin gingiva sampai
attached gingiva.
2. Perubahan pada kontur gusim dari yang berbentuk seperti kerah baju
(margin gingiva) menjadi membulat dan datar.
3. Perubahan pada tekstur yang awalnya berstippling banyak menajdi
kurang berstippling.
4. Konsistensi berubah dari konsistensi yang kenyal/lunak menjadi fibrotik.
Untuk prevalensinya pada anak umur tiga tahun sekitar 5%, anak umur 6
tahun 50% dan anak umur 11-17 tahun sekitar 80-90%. Gingivitis yang tidak dirawat
akan berkembang menjadi periodontitis.

Gambar 2.29 Gingivitis pada Gigi yang sedang Erupsi


((Orthodontic and Pediatric Dentistry, Colour Guide, Hal. 144)