Anda di halaman 1dari 39

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Lambung adalah organ yang memiliki kapasitas penyimpanan dan pencampuran.


Bagian fundus dan badan lambung mampu mengembang untuk mengakomodasi
makanan tanpa banyak meningkatkan tekanan dalam lambung. Selaput lambung tidak
memiliki jonjot, tetapi terdiri atas sejumlah besar terowongan lambung yang
memperbesar kapasitas penyimpanan lambung. Daerah antrum bertanggung jawab atas
pencampuran dan penghalusan isi lambung (Siregar dan Wikarsa, 2008).

Salah satu sediaan dengan pelepasan obat yang dimodifikasi adalah sediaan
dengan pelepasan diperlambat. Banyak metode yang dapat digunakan untuk membuat
sediaan lepas lambat, salah satunya adalah sediaan yang dirancang untuk tetap tinggal di
dalam lambung. Bentuk sediaan yang dapat dipertahankan di dalam lambung disebut
Gastro Retentive Drug Delivery System (GRDDS).

GRDDS dapat memperbaiki pengontrolan penghantaran obat yang memiliki


indeks terapetik sempit dan diabsorbsi dengan baik di lambung. Beberapa teknik yang
termasuk dalam sistem ini antara lain: sistem penghantaran bioadhesive yang melekat
pada permukaan mukosa (mucoadhesive), sistem penghantaran yang dapat
meningkatkan ukuran obat (swelling) sehingga tertahan di lambung karena tidak dapat
melewati pilorus dan sistem penghantaran dengan mengontrol densitas termasuk
floating system dalam cairan lambung (Gohel et al., 2004).

Sistem Mengapung (Floating System) ini pertama kali diperkenalkan oleh Davis
pada tahun 1968, merupakan suatu sistem dengan densitas yang kecil, memiliki
kemampuan mengambang kemudian mengapung dan tinggal di dalam lambung, obat
dilepaskan perlahan pada kecepatan yang dapat ditentukan. Hasil yang diperoleh adalah
peningkatan GRT dan pengurangan fluktuasi konsentrasi obat di dalam plasma .

1
Sistem mengapung pada lambung berisi obat yang pelepasannya perlahan-lahan dari
sediaan yang memiliki densitas yang rendah/Floating Drug Delivery System (FDDS)
juga biasa disebut Hydrodinamically Balanced System (HBS). FDDS/ HBS memiliki
densitas bulk yang lebih rendah daripada cairan lambung. FDDS tetap mengapung di
dalam lambung tanpa mempengaruhi motilitas dan keadaan dari lambung. Sehingga
obat dapat dilepaskan pada kecepatan yang diinginkan dari suatu sistem .

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa yang dimaksud dengan Gastroretentive Drug Delivery System ?
1.2.2 Apa yang dimaksud dengan Floating Drug Delivery System ?
1.2.3 Bagaimana mekanisme perjalanan obat dengan Floating Drug Delivery
System ?
1.2.4 Apa kekurangan dan kelebihan obat dengan mekanisme Floating Drug
Delivery System ?

1.3 Tujuan Penulisan


1.3.1 Untuk mengetahui definisi dari Gastroretentive Drug Delivery System ?
1.3.2 Untuk mengetahui definisi dari Floating Drug Delivery System ?
1.3.3 Untuk mengetahui mekanisme perjalanan obat dengan Floating Drug
Delivery System ?
1.3.4 Untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan obat dengan mekanisme
Floating Drug Delivery System ?

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Lambung dan Meknisme Pencernaan


2
2.1.1 Anatomi Lambung
Secara anatomik, lambung memiliki lima bagian utama, yaitu kardiak,
fundus, badan (body), antrum, dan pilori (gambar 2.1). Kardia adalah daerah kecil
yang berada pada hubungan gastroesofageal (gastroesophageal junction) dan
terletak sebagai pintu masuk ke lambung
Fundus adalah daerah berbentuk kubah yang menonjol ke bagian kiri di
atas kardia. Badan (body) adalah suatu rongga longitudinal yang berdampingan
dengan fundus dan merupakan bagian terbesar dari lambung. Antrum adalah
bagian lambung yang menghubungkan badan (body) ke pilorik dan terdiri dari
otot yang kuat. Pilorik adalah suatu struktur tubular yang menghubungkan
lambung dengan duodenum dan mengandung spinkter pilorik (Schmitz & Martin,
2008).

Gambar 2.1 Pembagian daerah anatomi lambung


(Tortora & Derrickson, 2009)

2.1.2 Histologi Lambung


Dinding lambung tersusun dari empat lapisan dasar utama, sama halnya
dengan lapisan saluran cerna secara umum dengan modifikasi tertentu yaitu
lapisan mukosa, submukosa, muskularis eksterna, dan serosa (Schmitz & Martin,
2008).

3
1. Lapisan mukosa terdiri atas epitel permukaan, lamina propia, dan muskularis
mukosa. Epitel permukaan yang berlekuk ke dalam lamina propia dengan
kedalaman yang bervariasi, dan membentuk sumur-sumur lambung disebut
foveola gastrika. Epitel yang menutupi permukaan dan melapisi lekukan-
lekukan tersebut adalah epitel selapis silindris dan semua selnya menyekresi
mukus alkalis. Lamina propia lambung terdiri atas jaringan ikat longgar yang
disusupi sel otot polos dan sel limfoid. Muskularis mukosa yang memisahkan
mukosa dari submukosa dan mengandung otot polos (Tortora & Derrickson,
2009).
2. Lapisan sub mukosa mengandung jaringan ikat, pembuluh darah, sistem
limfatik, limfosit, dan sel plasma. Sebagai tambahan yaitu terdapat pleksus
submukosa (Meissner) (Schmitz & Martin, 2008).
3. Lapisan muskularis propia terdiri dari tiga lapisan otot, yaitu (1) inner
oblique, (2) middle circular, (3) outer longitudinal. Pada muskularis propia
terdapat pleksus myenterik (auerbach) (Schmitz & Martin, 2008). Lapisan
oblik terbatas pada bagian badan (body) dari lambung (Tortora & Derrickson,
2009).
4. Lapisan serosa adalah lapisan yang tersusun atas epitel selapis skuamos
(mesotelium) dan jaringan ikat areolar (Tortora & Derrickson, 2009). Lapisan
serosa adalah lapisan paling luar dan merupakan bagian dari viseral
peritoneum (Schmitz & Martin, 2008).

2.1.3 Mekanisme Pencernan

Lambung adalah organ yang memiliki kapasitas penyimpanan dan


pencampuran. Bagian fundus dan badan lambung mampu mengembang untuk
mengakomodasi makanan tanpa banyak meningkatkan tekanan dalam lambung.
Selaput lambung tidak memiliki jonjot, tetapi terdiri atas sejumlah besar
terowongan lambung yang memperbesar kapasitas penyimpanan lambung.
Daerah antrum bertanggung jawab atas pencampuran dan penghalusan isi
lambung (Siregar dan Wikarsa, 2008).

Saluran cerna selalu memiliki daya gerak. Pada sistem pencernaan makanan
terdapat dua daya gerak, yaitu cara digestif dan cara interdigestif. Daya gerak
interdigestif dicirikan oleh pola siklus yang terdiri dari empat fase, yaitu :
4
Fase I : periode tidak ada kontraksi;

Fase II : periode kontraksi berselang sebentar-sebentar;

Fase III : periode kontraksi tetap pada frekuensi maksimal yang bermigrasi
secara distal;

Fase IV : periode transisi fase III ke fase I.

Siklus lengkap yang mencakup keempat fase memiliki durasi rata-rata 90-120
menit pada manusia dan anjing. Kondisi tertentu seperti pertumbuhan bakteri,
ketegangan mental, dan variasi siang hari atau kombinasinya dapat
mempengaruhi durasi masingmasing fase dan juga siklus total (Chien, 1992).

Setiap sistem lepas lambat yang menghantarkan zat aktif dan didesain
untuk tinggal di dalam saluran cerna selama keadaan puasa hendaknya mampu
menghindari kerja fase III. Hal tersebut bertujuan untuk meningkatkan waktu
tinggal zat aktif dalam saluran cerna (Chien, 1992).

Bentuk sediaan padat dapat tinggal di lambung pada kondisi puasa selama
kira-kira 0-120 menit, bergantung pada kedekatan waktu pencernaan aktivitas
fase III berikutnya. Selama fase I, ketika minim kontraksi, cairan atau solid tidak
bergerak atau sedikit bergerak di dalam usus halus. Sebaliknya, pada fase II dan
III, aliran bahan dalam pembuluh usus halus menjadi semakin cepat. Selain itu
terjadi pemisahan cairan dan solid; cairan cenderung bermigrasi selama fase II

5
dan solid selama fase III. Aktivitas motor usus halus selama keadaan puasa
kemungkinan tidak cukup kuat untuk memindahkan solid (Chien, 1992).

Mekanisme pengayaan terjadi pada saat lambung dalam keadaan kenyang


dan dipengaruhi oleh viskositas makanan. Bentuk sediaan cenderung tinggal di
daerah antrum jika solid berukuran besar karena penghalusan makanan terjadi di
daerah tersebut. Sebaliknya, bentuk sediaan unit ganda terdispersi dan
dikosongkan bersama dengan makanan sehingga menunjukkan derajat distribusi
yang besar. Total waktu pengosongan lambung beragam dalam rentang antara 2-
6 jam (Chien, 1992).

Mayoritas bentuk sediaan yang diberikan secara oral dalam keadaan puasa
akan dikosongkan dalam waktu 90 menit. Pada saat kondisi kenyang, tablet dan
kapsul yang tidak terdisintegrasi akan tinggal dalam lambung selama 2-6 jam
dan baru mulai dikosongkan di permulaan keadaan puasa, sedangkan bentuk
sediaan terdisintegrasi dan partikel-partikel kecil dikosongkan bersama dengan
makanan. Waktu transit total makanan dan bentuk sediaan dari lambung sampai
katup ileosekal manusia kira-kira 3-6 jam dalam keadaan puasa, dan 6-10 jam
dalam keadaan kenyang (Chien, 1992).

2.2 Definisi Tablet


Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa
bahan pengisi.Berdasarkan metode pembuatan dapat digolongkan sebagai tablet
cetak dan tablet kempa. (FI IV, Hal 4)Tablet merupakan bentuk sediaan farmasi
yang paling banyak tantangannya didalammendesain dan membuatnya.
Misalnya kesukaran untuk memperoleh bioavailabilitas penuhdan dapat
dipercaya dari obat yang sukar dibasahi dan melarutkannya lambat, begitu
jugakesukaran untuk mendapatkan kekompakan kahesi yang baik dari zat amorf
atau gumpalan. Namun demikian, walaupun obat tersebut baik kempanya,
melarutnya, dan tidak mempunyaimasalah bioavailabilitas, mendesain dan
memproduksi obat itu masih penuh tantangan, sebabmasih banyak tujuan
bersaing dari bentuk sediaan ini.
2.2.1 Kriteria Tablet
Suatu tablet harus memenuhi kriteria sebagai berikut :

6
1. Harus mengandung zat aktif dan non aktif yang memenuhi
persyaratan;
2. Harus mengandung zat aktif yang homogen dan stabil;
3. Keadaan fisik harus cukup kuat terhadap gangguan fisik/mekanik;
4. Keseragaman bobot dan penampilan harus memenuhi persyaratan
5. Waktu hancur dan laju disolusi harus memenuhi persyaratan;
6. Harus stabil terhadap udara dan suhu lingkungan
7. Bebas dari kerusakan fisik;
8. Stabilitas kimiawi dan fisik cukup lama selama penyimpanan;
9. Zat aktif harus dapat dilepaskan secara homogen dalam waktu
tertentu;
10. Tablet memenuhi persayaratan Farmakope yang berlaku.
(Proceeding Seminar Validasi, Hal 26).

2.2.2 Komponen Tablet


1. Bahan Aktif
a. Bahan Aktif yang tidak larut, dimaksudkan untuk bekerja secara
local pada saluran, misalnya dari golongan antasid dan adsorben.
b. Bahan Aktif yang tidak larut, dimaksudkan sebagai obat sistemik
setelah bahan obat terdissolusi pada saluran pencernaan.

2. Bahan Tambahan
Pada umumnya tablet memerlukan bahan tambahan.
a. Bahan Pengisi (Diluent)
Zat inert yang ditambahkan dalam formulasi tablet yang dimaksudkan
untuk mencapai bobot tablet dan volume yang diinginkan, terutama untuk bahan
aktif dalam jumlah sedikit.
Bahan Pengisi yang sering digunakan:

Nama Bahan Konsentrasi ( % )

Laktosa 65 – 85

Starch 1500 5 – 10

Amylum 11 - 14

b. Bahan Pengikat (Binder)


Zat yang ditambahkan dalam formula tablet untuk meningkatkan ikatan
antara partikel dalam proses granulasi maupun cetak langsung. Bahan Pengikat
juga mencegah penghamburan serbuk apabila di kompresi.
Bahan Pengikat yang sering digunakan:
7
Binder (Pengikat Kering)

Nama Bahan Konsentrasi (%)

PVP 2–5

Sukrosa 1–5

Na. Alginat 2 – 25

Pregelatinzed 2–5

Tragacanth 1–5

Derivat Sellulosa 1–5

Pasta Amylum 1–5

Adhesive (Pengikat Basah)

Nama Bahan Konsentrasi (%)

Amylum 5 – 10

Gelatin 1– 5

Metil Sellulosa 1– 5

Gom Arab 0 – 2,5

c. Bahan Penghancur (Desintegran)


Zat yang ditambahkan dalam formula tablet yang membantu
mempercepat waktu hancur tablet dalam saluran cerna. Zat ini dalam formula
tablet merupakan zat pendispersi bagi masa tablet kompak dalam lingkungan
lambung.
Mekanisme kerja bahan penghancur:
1. Membentuk kapiler : Gol amylum sellulosa
2. Membentuk gas : Sitrat, bikarbonat.
3. Mengembang : Gom arab dan gol Sellulosa
amylum
Bahan Penghancur yang sering digunakan:
Nama Bahan Konsentrasi (%)
Avicell 5 – 20
Amylum Kering -
Explotab 5 – 15
As. Alginat 5 – 15

8
d. Lubrikan
Penggolongan:
1. Lubrikan Sejati
Lubrikan yang mengurangi gaya gesekan antara partikel pada waktu
kompresi dan pengeluaran tablet dari die.
Lubrikasi bekerja dengan 2 mekanisme:
 Lubrikan Cairan
Dimaksudkan untuk memberikan lapisan pada dua permukaan.
 Ikatan polar dari partikel dengan rantai karbon pada
permukaan logam dinding die.
Berdasarkan Kelarutannya:
 Lubrikan yang larut dalam air.
Pada umumnya dipakai untuk tablet yang harus larut dalam air,
seperti tablet effervescent.
 Lubrikan yang tidak larut dalam air.
Lebih aktif dari lubrikan yang larut dalam air.
Lubrikan yang sering digunakan:
Bahan Lubrikan
Nama Bahan Konsentrasi (%)
Stearat (Mg, Na, Ca) 0,25 – 2
Asam Stearat 0,25 – 2
Talkum 1–5

2. Anti Adheren
Zat yang dimaksudkan untuk memudahkan pengeluaran tablet dari
cetakan dan mencegah lekatan punch pada dinding cetakan.
Anti Adheren yang sering digunakan:
Bahan Anti Adheren
Nama Bahan Konsentrasi (%)
Talkum 1– 5
Cab-o-sil 1– 3
Amylum Maydis 3 – 10

3. Glidan
Zat yang digunakan untuk memperbaiki aliran serbuk ke dalam cetakan agar
memperoleh tablet yang memenuhi syarat.
Glidan yang sering digunakan:

Bahan Glidan

Nama Bahan Konsentrasi (%)


Talkum 5
Aerosil 1–3

9
Amylum Maydis 5 – 10
Cab-o-sil 1–3

e. Bahan Pewarna
Penambahan bahan pewarna pada tablet dimaksudkan untuk:
 Membedakan dengan produk lain atau dosis yang berbeda, terutama
untuk bahan obat yang bersifat beracun.
 Menutupi warna yang tidak baik atau tidak dapat diaduk sampai
homogen.
 Meningkatkan daya tarik atau penampilan.
Contoh bahan pewarna yang sering digunakan : Carmine, Riboflavin
Sulfat, FD dan C Yellow No.10, FD dan C Red Nol.3, Carramel,
Tartrazine.
f. Pewangi
Biasanya ditambahkan untuk formula tablet hisap atau tablet kunyah
sebagai penambah wangi. Contoh: Cherry, Apple, Lemon.
g. Pemanis
Digunakan untuk megurangi rasa tidak enak (pahit), dan biasanya
ditambahkan terutama pada tablet kunyah. Contoh: Glyserin, Lactose,
Sorbitol, Sucrose.
h. Pengawet
Digunakan untuk mencegah terjadinya perubahan mutu yang tidak
baik. Contoh: Methyl paraben, Prophyl paraben, Nipagin.

i. Adsorben
Digunakan untuk mengadsorpsi cairan yang ditambahkan pada formula
tablet. Contoh: Bentonite, Kaoline, Sellulosa, Microcrystalin.

2.2.3 Jenis-Jenis Tablet


Tablet Kempa Tujuan Saluran Pencernaan
a. Tablet Konvensional Biasa
Tablet yang dibuat atau dikempa dengan siklus kompresi tunggal yang
biasanya terdiri dari zat aktif sendiri atau kombinasi dengan bahan
eksipien seperti :
 Pengisi (memberi bentuk) : laktosa
 Pengikat (memberi adhesivitas/kelekatan saat bertemu saluran
pencernaan): musilago amili, amilum
 Desintegrator (mempermudah hancurnya tablet)

10
b. Tablet Kempa Multi/Kempa Ganda
Adalah tablet konvensional yang dikompresi lebih dari satu
siklus kompresi tunggal sehingga tablet akhir tersebut terdiri atas 2 atau
lebih lapisan. Disebut juga sebagai tablet berlapis. Keuntungannya dapat
memisahkan zat aktif yang inkompatibel (tidak tersatukan).

c. Tablet Lepas Lambat


Tablet yang pelepasan zat aktifnya dimodifikasi sehingga tablet
tersebut melepaskan dosis awal yang cukup untuk efek terapi yang
kemudian disusul dengan dosis pemeliharaan sehingga jumlah zat aktif
atau konsentrasi zat aktif dalam darah cukup untuk beberapa waktu
tertentu. (misal tablet lepas lambat 6 jam, 12 jam, dsb).

d. Tablet Lepas Tunda (Tablet Salut Enterik)


Adalah tablet yang dikempa yang disalut dengan suatu zat yang
tahan terhadap cairan lambung, reaksi asam, tetapi terlarut dalam usus
halus.

e. Tablet Lepas Terkendali


Yang pelepasan zat aktifnya terkendali pada waktu-waktu tertentu.

f. Tablet Salut Gula


Adalah tablet kempa yang disalut dengan beberapa lapis lapisan
gula baik berwarna maupun tidak.Tujuan: melindungi zat aktif terhadap
lingkungan udara (O2, lembab), menutup rasa dan bau tidak enak,
menaikkan penampilan tablet.

g. Tablet Salut Film


Tablet kempa yang disalut dengan salut tipis, bewarna atau tidak
dari bahan polimer yang larut dalam air yang hancur cepat di dalam
saluran cerna.Penyalutan tidak perlu berkali-kali.

h. Tablet Efervesen
Tablet kempa yang jika berkontak dengan air menjadi berbuih
karena mengeluarkan CO2.Tablet ini harus dilarutkan dalam air baru
diminum.

i. Tablet Kunyah

11
Tablet kempa yang mengandung zat aktif dan eksipien yang harus
dikunyah sebelum ditelan.

2.2.4 Persyaratan Tablet


a. Release bahan aktif (Hancur, Dissolusi, Adsorpsi).
b. Stabil
Kemampuan produk untuk bertahan dalam batas yang ditetapkan dan
sepanjang periode penyimpanan dan penggunaan sifat dan
karakteristiknya sama yang dimiliki pada produk yang dibuat.
c. Keseragaman Bobot
Perbedaan berat antar tablet untuk bahan aktif > 50 % ; 50 mg.

Bobot rata-rata Penyimpanan bobot rata-rata


dalam %

≤ 25 mg 15% 30%

26 mg – 150 mg 10% 20%

151 mg – 500 mg 7,5% 15%

> 500 mg 5% 10%

d. Keseragaman Kandungan
1. Untuk Bahan Aktif < 50 % ; 50 mg.
1. Untuk Tablet Salut, syaratnya:
Terima jika ≤ 100 %, 85-115 %, Standar Deviasi ≤ 6 %
Jika di dalam tablet hanya 75-125 %, Standar Deviasi > 6 %
Terima jika tidak lebih 1 tablet 85-115 %, Standar deviasi ≤ 7,8 %

e. Waktu Hancur
Untuk bahan aktif yang mudah larut, syaratnya:
Semua tablet harus sempurna, bila 1 atau 2 tablet tidak hancur sempurna,
ulangi pengujian dengan 12 tablet lain. Tidak kurang dari 16 atau 18 tablet
uji harus sempurna.

f. Laju Dissolusi
Untuk obat yang kelarutan bahan aktifnya terbatas.

g. Friabilitas atau Keregasan

12
Jumlah persen atau banyaknya serpihan yang terlepas, kepingan, retak,
sumbing, terutama pada waktu tablet akan dilepas.

h. Kekerasan
Kekerasan tablet yang baik adalah untuk tablet kecil 4 – 5 Kg/cm dan untuk
tablet besar 7 – 11 Kg/ cm 2.

i. Keseragaman Ukuran
Diameter tablet tidak lebih dari 3 kali dan tidak kurang dari 1 1/3 kali tebal
tablet.

2.2.5 Sifat Fisika Kimia Tablet


a. Tensile Strengh
Belum ada satupun kompendia/farmakope yang mencantumkan cara
pengukuran tensile strengh. Tensile strengh telah digunakan secara luas
untuk mengukur kekuatan mekanik tablet. Tensile strengh adalah tenaga
yang dibutuhkan untuk memecahkan tablet dalam uji kompresidiametral
(diametral compresion test).
b. Brittle Fracture index (BFI)
Ada atau tidaknya retakan yang terjadi pada tablet sangat tergantung
pada kemampuan meterial untuk membebaskan energi setelah kompresi
berlangsung. Material yangmampu membebaskan energi segera setelah
kompresi berlangsung lebih sedikit mengalamilaminasi/capping lebih kecil
dibandingkan tablet yang dibuat dari serbuk.
c. Ketebalan Tablet
Agar mendapatkan tablet yang seragam tebalnya selama produksi
dan diantara produksidalam formula yang sama, harus dilakukan
pengawasan supaya volume bahan yang diisikan dantekanan yang
diberikan tetap sama. Tablet dari hasil produksi yang sama dimana
ukurannyaberfariasi tidak saja akan membingungkan pasien tetapi juga
akan menimbulkan masalah dalampengemasannya. Tablet diukur dengan
jangka lengkung selama proses produksi supaya yakinketebalannya sudah
selesai (Ansel, dkk., 1995).

d. Keseragaman Bobot Tablet

13
Jumlah bahan yang dimasukkan ke dalam cetakan yang akan
dicetak menentukan berattablet yang dihasilkan. Volume bahan yang
diisikan (granul dan serbuk) yang mungkin masuk kedalam cetakan harus
disesuaikan dengan beberapa tablet yang telah lebih dahulu dicetak
supayatercapai berat tablet yang diharapkan. Berat tablet juga tergantung
pada tekanan yang diberikanpada waktu pencetakan tablet (Ansel, dkk.,
1995).Keseragaman bobot tablet ditentukan berdasarkan banyaknya
penyimpangan bobot tiap tablet terhadap bobot rata-rata dari semua tablet
sesuai syarat yang ditentukan dalam Farmakope Indonesia.

e. Kekerasan tablet
Tablet harus mempunyai kekuatan atau kekerasan tertentu serta
tahan atas kerapuhanagar dapat bertahan terdapat berbagai guncangan
mekanik pada saat pembuatan, pengepakan danpengiriman.Kekerasan
merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan daya tahan tablet
terhadap guncangan mekanik selama pengemasan dan pengiriman yang
ditunjukkan dengan adanya kikisan dan pecahan. Tablet umumnya
mempunyai kekerasan antara 4-8 kg (Parrott, 1971).

f. Kerapuhan tablet
Kerapuhan adalah parameter lain dari ketahanan tablet dalam
pengikisan dan guncangan.Besaran yang dipakai adalah persen bobot
yang hilang selama pengujian dengan alat friabilator.Faktor-faktor yang
mempengaruhi kerapuhan antara lain banyaknya kandungan serbuk
(fines).Kerapuhan di atas 1,0% menunjukkan tablet yang rapuh dan
dianggap kurang baik.

g. Waktu hancur tablet


Supaya komponen obat sepenuhnya tersedia untuk diabsorbsi
dalam saluran pencernaan, maka tablet harus hancur dan melepaskan
obatnya ke dalam cairan tubuh untuk dilarutkan (Ansel, dkk., 1995).
Kecuali dinyatakan lain, waktu hancur untuk tablet tidak bersalut
adalahtidak lebih dari 15 menit .

2.3 Gastro Retentive Drug Delivery System (GRDDS)

14
Banyak metode yang dapat digunakan untuk membuat sediaan lepas
lambat, salah satunya adalah sediaan yang dirancang untuk tetap
tinggal/dipertahankan di lambung, yang disebut dengan gastroretentive drug
delivery system (GRDDS). GRDDS dapat memperbaiki pengontrolan
penghantaran obat-obat yang memiliki kriteria: untuk aksi lokal di lambung,
diabsorbsi secara cepat dan baik di lambung, tidak stabil dan terdegradasi di
dalam saluran intestinal/kolon, kelarutannya rendah pada pH alkalis, memiliki
waktu eliminasi yang pendek serta memiliki indeks terapi yang sempit (Rocca et
al., 2003).

Beberapa keuntungan dari GRDDS antara lain: meningkatkan


bioavailabilitas, dapat mengendalikan penghantaran obat dan mengurangi
frekuensi pengobatan, mengurangi fluktuasi konsentrasi obat, meningkatkan
selektivitas pada aktivasi reseptor, mengurangi aktivitas perlawanan dari tubuh,
memperpanjang batas waktu konsentrasi efektif, meminimalkan aktivitas
merugikan pada usus besar, serta menempatkan penghantaran obat yang spesifik
(Garg and Gupta, 2008).

Secara umum GRDDS terdiri dari sistem mengembang (swelling), sistem


bioadhesive/mucoadhesive dan sistem mengapung (floating).

2.4 Floating Drug Delivery System (FDDS)

Sistem mengapung pertama kali diperkenalkan oleh Davis pada tahun


1968. Floating system merupakan sistem dengan densitas kecil, yang memiliki
kemampuan mengambang kemudian mengapung serta tinggal di lambung untuk
beberapa waktu. Pada saat sediaan mengapung di lambung, obat dilepaskan
perlahan pada kecepatan yang dapat ditentukan. Hasil yang diperoleh adalah
peningkatan gastric residence time dan pengurangan fluktuasi konsentrasi obat
dalam plasma (Chawla et al., 2003).

Sistem mengapung pada lambung berisi bahan aktif yang dilepaskan


perlahan-lahan dari sediaan yang memiliki densitas kecil, disebut floating drug
delivery system (FDDS). FDDS memiliki bulk density yang lebih rendah dari
cairan lambung. FDDS tetap mengapung dalam lambung tanpa mempengaruhi

15
kondisi lambung dan obat dilepaskan perlahan dari sediaan pada kecepatan yang
diinginkan (Anonim, 2003).

Bentuk sediaan sistem mengapung banyak diformulasi dengan


menggunakan matriks-matriks hidrofilik dan dikenal dengan istilah
hydrodynamically balanced system (HBS). Hal tersebut dikarenakan pada saat
polimer terhidrasi, terjadi penurunan intensitas akibat matriks yang
mengembang, sehingga menjadi gel penghalang di permukaan bagian luar.
Bentuk sediaan ini diharapkan tetap mengapung selama 3-4 jam dalam lambung
tanpa dipengaruhi oleh kecepatan pengosongan lambung karena densitasnya
lebih rendah dari medium dalam lambung. Polimer yang direkomendasikan
untuk formulasi bentuk floating adalah turunan selulosa, khususnya hidroksi
propil metil selulosa (HPMC) (Moes, 2003). Sistem mengapung dapat
diklasifikasikan menjadi dua kelompok, yaitu :

1. Non-Effervescent system
Sistem ini biasanya menggunakan matriks yang memiliki daya
pengembangan tinggi seperti selulosa, jenis hidrokoloid, polisakarida dan
polimer seperti polikarbonat, poliakrilat, polimetakrilat dan polistiren. Salah
satu cara formulasi bentuk sediaan sistem mengapung ini yaitu dengan
mencampur zat aktif dengan gel hidrokoloid. Hidrokoloid akan mengembang
ketika kontak dengan cairan lambung setelah pemberian oral, tinggal dengan
bentuk yang utuh dan memiliki bulk density yang lebih kecil dari kesatuan
lapisan luar gel. Struktur gel bertindak sebagai reservoir obat yang akan
dilepaskan perlahan dan dikontrol oleh difusi melalui lapisan gel (Anonim,
2003).
2. Effervescent system
Sistem ini diformulasi menggunakan polimer yang dapat mengembang
seperti methocel, polisakarida, kitosan ditambah dengan komponen
effervescent, seperti natrium bikarbonat dan asam sitrat atau asam tartrat.
Matriks akan membentuk gel ketika kontak dengan cairan lambung,
kemudian terbentuklah gas karbondioksida (CO2) yang dihasilkan dari
sistem effervescent. Gas tersebut akan terperangkap dalam
gelyfiedhydrocolloid yang mengakibatkan tablet akan mengapung,

16
meningkatkan pergerakan sediaan, sehingga akan mempertahankan daya
mengapungnya (Anonim, 2003).

2.5 Contoh Obat

Formula

Perbandingan Beberapa Formula


N F F F F
Fungsi
Nama Zat 1 2 3 Baru
A 2 2 2 2
Zat Aktif
Ranitidin 150 mg 150 mg 150 mg 150 mg
H 3 2 4 3
Matriks
HPMC K4M 30 mg 25 mg 40 mg 35 mg
X
- - - 3
Xanthan Matriks
- - - 35 mg
Gum
H 1 - - -
Matriks
PMC K100M 165 mg - - -
N - 3 - -
Matriks
NaCMC - 3 mg - -
M
4 5 5 5
Magnesium Pelincir
4 mg 5 mg 5 mg 5 mg
Stearat
T 2 1 1 1
Pelicin
Talk 2 mg 1 mg 1 mg 1 mg
L 6 2 2 2
Pengisi
Laktosa 60 mg 25 mg 25 mg 20 mg
N 5 - - - Bahan
Na2CO3 50 mg - - - Effervescent
M
Micro - - 5 -
Matriks
Crystalline - - 5 mg -
Cellulose
S - - - Matriks

17
Sodium
- - 15 mg -
Alginate

3.2 Pembuatan Formula Tablet


Tablet dibuat secara kempa langsung. Untuk setiap formula, bahan-
bahan ditimbang untuk pembuatan 100 tablet dengan bobot tablet sekitar
350 mg dengan dosis ranitidine 150 mg/tablet. Ranitidin dicampur
dengan HPMC, Xanthan Gum, laktosa, magnesium stearat, dan talk, lalu
digerus hingga homogen. Massa serbuk yang diperoleh lalu evaluasi
kemudian dikempa menjadi tablet.

BAB III
PRAFORMULASI

1. Ranitidin (USP 2)

Nama & Struktur Ranitidin : NN-Dimethyl-5-[2-(1-methylamino-2-


Kimia
nitrovinylamino)ethylthiomethyl]furfurylamine ;
:
Ranitidin hidroklorida. (C13H22N4O3S),
C13H22N4O3S,HCl. (1)
Sifat Fisikokimia : Ranitidin hidroklorida (USP 29) : serbuk kristalin

18
berwarna putih sampai kuning pucat, praktis tidak
berbau. Sangat mudah larut dalam air, agak sukar
larut dalam alkohol. Larutan 1% dalam air
mempunyai pH 4,5-6,0. Penyimpanan (serbuk) :
dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari
cahaya

2. Hidroksi Propil Metil Seluosa (HPMC)

Pemerian : serbuk putih tidak berbau dan tidak memiliki rasa, larut
dalam air
Kelarutan : larut dalam air dingin, praktis tidak larut dala kloroform,
etanol, dan eter, tetapi tidak larut dalam campuran etanol
dan diklorometan, dalam campuran metanol dan
diklorometan, dan campuran air dan alkohol
Stabilitas : stabil dan harus disimpan dalam wadah tertutup baik
ditempat sejuk dan kering
OTT : inkompatibel dengan agen pengoksidasi, jika non ionic
maka tidak akan membentuk kompleks dengan garam
metalik, atau ion organik menjadi endapan yang tidak larut.
Tidak boleh dicampur dengan bahan yang mengandung
aspirin, beberapa vitamin garam-garam alkaloid.
Fungsi : penyalut tablet, pengikat tablet, stabilizing tablet, agen
peningkat viskositas

Sifat fisika kiia HPMC ditentukan oleh kandungan gugus metoksi,


hidroksipropil dan berat molekulnya. Sifat pengembangan ( swelling )
dan kelarutan HPMC tergantung pada berat molekul, derajat substitusi
cross-linking
HPMC mempunyai sifat larut dalam air sehingga mengahsilkan larutan
yang jernih dan dapat menghasilkan tablet yang cukup keras. Dapat
digunakan sebagai pengikat tablet pada konsentrasi 2 % sampai 5 %

19
3. Xanthan Gum
Nama Resmi : Xanthan Gum
Nama Lain : Jagung Gula Permen
Karet Pemerian : serbuk putih Rumus molekul : C35H49O29
Penyimpanan : Disimpan dalam wadah terlindung cahayai,
tertutup baik, tempat kering dan sejuk.
Kegunaan : Zat tambahan

4. Na CMC
Nama Resmi : Natrium Carboxymetyl Celullosa
Nama Lain : Na CMC
Pemerian : berbentuk tepung, putih, bersih
Berat molekul : 265.204
Rumus molekul : C8H16NaO8
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik Kegunaan : Sebagai
pengental
5. Magnesium Stearat

Pemakaian : Digunakan di dalam formulasi farmasetika


sebagai lubrikan dengan konsentrasi antara 0,25-
5%.
Kelarutan : Praktis tidak larut etanol, etanol 95%, eter, dan
air. Sedikit larut dalam benzen hangat dan etanol
95% hangat.
Stabilitas dan Penyimpanan : Stabil dan disimpan di wadah yang
kering dan tertutup rapat.
OTT : Asam kuat, alkali, dan garam besi.
Hindari pencampuran dengan bahan
oksidator kuat
6. Talkum (HOPE, 5th,767)
Pemakaian : Digunakan di dalam formulasi tablet sebagai
pengisi dan lubrikan. Konsentrasi yang digunakan
sebagai lubrikan 1-10%.

20
Kelarutan : praktis tidak larut dalam dilute acids and alkalis,
pelarut organik dan air
Ph : 6,5 -10 untuk dispersi 20% b/v
Stabilitas dan Penyimpanan : Stabil, dapat disterilkan dengan
pemanasan pada suhu 160°C tidak lebih
dari sejam, juga dapat disterilkan
dengan otilen oksida atau penyinaran
gamma.
OTT : Senyawa ammonium kuatener

7. Laktosa (HOPE hal 252-261) Saccharum lactis


Pemerian : Serbuk atau partikel kristalin; putih sampai agak putih;
tidak berbau; rasa manis
Fungsi : Pengisi tablet (konsentrasi 65-85% b/b)
Kelarutan :
Pelarut Kelarutan
Etanol 95% Praktis tidak larut
Air 1:5,24 pada suhu 20 C
1:3,05 pada suhu 40 C
1:2,30 pada suhu 50 C
1:1,71 pada suhu 60 C
1:0,96 pada suhu 80 C
Stabilitas : Pada kondisi lembab (RH>80%) dapat terjadi
pertumbuhan kapang. Selama disimpan, laktosa
dapat berubah warna menjadi kecoklatan. Reaksi
ini dipercepat oleh panas dan kondisi lembab.
Harus disimpan dalam wadah tertutup baik pada
tempat sejuk dan kering.
Inkompatibilitas : Laktosa dapat berubah warna menjadi coklat
jika bereaksi dengan senyawa yang mengandung
gugus amin primer (rekasi maillard). OTT : asam
amino, aminofilin, amfetamin, lisinopril

8. Natrium Karbonat (Depkes RI, 1979 Halaman 400)

21
Nama resmi : NATRII KARBONAS
Nama lain : Natrium Karbonat
Rumus kimia : Na2CO3
Berat molekul : 106
Pemerian : hablur tidak berwarna, atau serbuk hablur putih
Kelarutan : mudah larut dalam air, lebih mudah larut dalam air
mendidih
Kegunaan : sebagai zat tambahan.

9. Avicel (HOPE 5th hal 132-135 )


Nama Lain : Mikrokristalin Selulosa (C6H10O5)n dimana n 220
Pemerian : Serbuk kristalin; putih; tidak berbau; tidak berasa;
tersusun atas partikel-partikel berpori; higroskopis
Fungsi : Pengisi tablet (konsentrasi 20-90% b/b);
penghancur tablet (konsentrasi 5-15% b/b);
adsorben (20-90%). Dapat digunakan untuk metode
kempa langsung maupun granulasi basah.
Kelarutan : Sukar larut dalam larutan NaOH 5% b/v; praktis
tidak larut dalam air, asam encer dan sebagian besar
pelarut organik
Stabilitas : Avicel stabil, meskipun higroskopis. Harus
disimpan dalam wadah tertutup baik pada tempat
sejuk dan kering.
Inkompatibilitas : Agen pengoksidasi kuat

3.2 Formula Acuan

Bahan Jumlah (mg) Kegunaan

Levofloxacin 500 mg Zat aktif

Sodium bikarbonat 200 mg Bahan Efervecent

Citrit acid 20 mg Bahan Effervecent

HPMC K30 M 200 mg Matriks

PVP K30 75 mg Pengikat 22

Magnesium Stearat 15 mg Lubrikan

Talk 10 mg Pengisi
Bahan Jumlah Kegunaan

Famotidine 40 mg Zat aktif


Sodium Bikarbonat 70 mg Bahan effervecent
Citrit Acid 25 mg Bahan effervecent
HPMC K15 M 50 mg Matriks
Carbopol 924 P 25 mg Matriks
PVP K30 15 mg Pegikat

Aerosil 4 mg Pelicin
Bahan Jumlah (mg) Kegunaan
Magnesium Stearat 4 mg Lubrikan
Famotidine 40 mg Zat aktif
Talk 8 mg Pengisi
Sodium bikarbonat 20 mg Bahan Efervecent
MCC 124 mg Pengisi
Citrit acid 4 mg Bahan Effervecent

HPMC K100 M 60 mg Matriks

PVP K30 20 mg Pengikat

Magnesium Stearat 2 mg Lubrikan

Talk 4 mg Pengisi

3.3 Formula Baru

Bahan Jumlah Kegunaan

Ranitidine HCl 150 mg Zat aktif

Natrium karbonat 15 % Bahan Efervecent

HPMC K100 M 60 mg Matriks

Manitol 10 % Pelicin

PVP K30 20 mg Pengikat

Magnesium Stearat 5 mg Lubrikan

Laktosa 80 mg Pengisi

23
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Floating System


Bentuk floating system banyak diformulasi dengan menggunakan
matriks hidrofilik dan dikenal dengan sebutan hydrodynamically balanced
system (HBS), karena saat polimer berhidrasi intensitasnya menurun akibat
matriknya mengembang, dan dapat menjadi gel penghalang di permukaan luar.
Bentuk-bentuk ini diharapkan tetap dalam keadaan mengapung selama tiga atau
empat jam dalam lambung tanpa dipengaruhi oleh laju pengosongan lambung
karena densitasnya lebih rendah dari kandungan kriteria. Hidrokoloid yang
direkomendasikan untuk formulasi bentuk floating adalah cellulose ether
polymer, khususnya hydroxypropyl methylcellulose (Moes, 2003). Isi lambung
minimal diperlukan untuk mencapai prinsip retensi pengapungan, tingkat
minimal gaya apung (F) juga dibutuhkan untuk menjaga bentuk sediaan
mengapung pada permukaan makanan. Formulasi bentuk sediaan ini harus
memenuhi kriteria sebagai berikut :
1. Harus memiliki struktur yang cukup untuk membentuk sebuah penghalang
gel kohesif.
2. Harus menjaga berat jenis keseluruhan lebih rendah dari isi lambung
(1,004-1,010).
3. Harus larut perlahan sehingga sesuai sebagai reservoir obat.

Pada saat sistem mengambang di isi


lambung terjadi, maka obat dilepaskan perlahan
pada tingkat yang diinginkan dari sistem. Setelah
pelepasan obat, sistem residual dikosongkan dari
lambung. Namun, selain kandungan lambung
minimal yang diperlukan untuk memungkinkan

24

Gambar. skematis dari alat linear force


transmitter device (FTD) (Timmermans
& Moës, 1990).
pencapaian yang tepat dari prinsip retensi apung, tingkat gaya apung minimal
juga diperlukan untuk menjaga bentuk sediaan apung di permukaan makanan.

Untuk mengukur kinetika gaya apung, dibutuhkan sebuah alat untuk


penentuan bobot yang dihasilkan. Alat tersebut beroperasi dengan mengukur
secara terus menerus gaya yang ekevalen dengan F sebagai fungsi dari waktu
yang dibutuhkan untuk menjaga benda/obat sampai benar-benar tenggelam
kedalam cairan (Maheta et al., 2014), (Timmermans & Moës, 1990).

Secara skematis alat tersebut bekerja Seperti ditunjukkan dalam Gambar.


Dimana pada bagian (1) melakukan fungsi ganda menjaga benda uji (2) di dalam
media cairan yang dipilih (3) transmisi gaya F yang bekerja/bereaksi, baik ke
atas atau ke bawah (4), menuju ke modul pengukuran elektromagnetik (5) yang
terhubung di bagian bawahnya (Timmermans & Moës, 1990).

F = F buoyancy - F gravity = (Df - Ds) gv

Dimana ;
F = total vertical force /total gaya vertikal
Df = fluid densit / densitas cairan
Ds = object density / densitas objek (obat)
v = volume dan,
g = acceleration due to gravity

Gambar. Mekanisme Floating System(Maheta et al., 2014).

4.2 Mekanisme Floating System

Mekanisme Floating System dibagi menjadi 2 berdasarkan bentuk sediaan


obat :
25
1. Bentuk sediaan tunggal (Tablet , Kapsul)
Sistem yang seimbang secara hidrodinamis (Hydrodynamically
Balance Systems = HBS) yang dapat berupa tablet atau kapsul, dirancang
untuk memperpanjang waktu tinggal sediaan di dalam saluran cerna
(dalam hal ini di lambung) dan meningkatkan absorpsi. Sistem dibuat
dengan menambahkan 2075% b/b hidrokoloid tunggal atau campuran ke
dalam formula tablet atau kapsul. Pada sistem ini akan dicampurkan
bahan aktif obat, hidrokoloid (20-75% dari bobot tablet) dan bahan bahan
pembantu lain yang diperlukan (pada umumnya proses pencampuran ini
diikuti dengan proses granulasi), selanjutnya granul dicetak menjadi tablet
atau diisikan ke dalam kapsul.
Setelah dikonsumsi, di dalam lambung, hidrokoloid dalam tablet atau
kapsul berkontak dengan cairan lambung dan menjadi mengembang.
Karena jumlahnya hidrokoloidnya banyak (sampai 75%) dan mengembang
maka berat jenisnya akan lebih kecil dari berat jenis cairan lambung.
Akibatnya sistem tersebut menjadi mengapung di dalam lambung. Karena
mengapung sistem tersebut akan bertahan di dalam lambung, tidak mudah
masuk ke dalam pylorus dan terus ke usus. Hidrokoloid yang mengembang
akan menjadi gel penghalang yang akan membatasi masuknya cairan
lambung ke dalam sistem dan berkontak dengan bahan aktif obat,
sekaligus akan mengatur pelepasan bahan aktif obat dari system terapung
itu ke dalam cairan lambung.

Formulasi sediaan tunggal mengalami masalah seperti saling menempel


atau terhambat dalam saluran cerna yang mungkin memiliki potensi
bahaya yang dapat mengiritasi saluran cerna. Sistem ini tidak layak dan
irreproducible dan memperlambat waktu tinggal dalam lambung jika
diberikan secara oral.

2. Bentuk sediaan jamak


Sediaan jamak ini dapat berupa granul atau mikrosfer yang
mengandung komponen polimer yang dapat mengembang saat berkontak
dengan cairan lambung sehingga membentuk koloid penghalang yang
mengendalikan kecepatan penetrasi cairan ke dalam sistem dan kecepatan

26
pelepasan obat dari sistem sediaan. Adanya udara yang terperangkap
dalam polimer yang mengembang akan menurunkan bobot jenis sehingga
mikrosfer dapat mengapung.
Sistem ini merupakan pilihan yang baik karena dapat mengurangi
variabilitas pada absorbsi dan mengurangi kemungkinan dosis dumping
(konsentrasi obat meningkat sehingga menghasilkan toksisitas obat).

4.3 Bahan tambahan yang digunakan untuk formulasi FDDS

Polimer dan bahan tambahan lain yang digunakan untuk formulasi


FDDS adalahsebagai berikut:

1. Hidrokoloid (20% - 75%) : dapat berupa sintetik, anionik atau non-


ionik seperti gom hidrofilik, modifikasi derivat selulosa. Misalnya :
Akasia, pektin, kitosan, agar, kasein, bentonit, veegum, HPMC (K4M,
K100M dan K15M), gom gellan (Gelrite®), Na CMC, MC, HPC.
Bahan matriks yang paling sering digunakan adalah hydroxypropyl
methylcellulose (HPMC) merupakan turunan selulosa yang bersifat
hidrofilik yang dapat mengendalikan pelepasan kandungan obat
didalamnya ke dalam medium pelarut. HPMC dapat membentuk
lapisan hidrogel yang kental di sekeliling sediaan setelah kontak
dengan cairan medium pelarut. Gel ini merupakan penghalang fisik
lepasnya obat dari matriks. Proses pelepasan obat dari matriks
penghalang dapat terjadi dengan mekanisme erosi dan difusi.
2. Bahan Lemak inert (5% - 75%): Edible, bahan lemak inert memiliki
berat jenis kurang dari 1 dapat digunakan untuk mengurangi sifat
hidrofilik dari formulasi dan sebaliknya dapat meningkatkan
keterapungan. Misalnya : Beeswax (Cera), asam lemak, lemak
alkohol rantai panjang, Gelucires® 39/01 dan 43/01.
3. Bahan effervescent : NaHCO3, asam sitrat, asam tartrat, diNatrium
Glisin Karbonat, Sitroglisin.
4. Meningkatkan kecepatan pelepasan (5% - 60%) : laktosa, manitol
5. Memperlambat kecepatan pelepasan (5% - 60%) Misalnya : Dikalsium
phospat, talk, magnesium stearat
6. Bahan meningkatkan keterapungan (di atas 80%), misalnya etil selulosa
7. Bahan densitas rendah : serbuk busa polypropilen (Accurel MP 1000®).

27
4.4 Pengaruh Beragam Formulasi Pada Sifat Floating

Banyak hal yang mempengaruhi sifat mengapungnya sediaan FDDS


karena adanya variasi bahan tambahan yang digunakan. Variasi rasio HPMC /
carbopol dan penambahan Mg Stearat menentukan sifat floating. Penambahan
Mg Stearat dapat meningkatkan sifat floating secara signfikan. Namun
jumlah hidroksi propil metalselulosa yang tinggi tidak mempengaruhi
kemampuan mengapung secara signifikan. Rasio HPMC : Carbopol lebih tinggi
menunjukkan sifat floating lebih baik.

Formulasi floating menggunakan polimer yang mengembang seperti


HPMC dan HPC tidak menunjukkan reprodusibiltas pada pelepasan dan waktu
tinggal karena pembengkakan sangat bergantung pada isi lambung dan
osmolaritas medium dan formulasi tertentu diamati akan tenggelam pada
medium disolusi setelah waktu tertentu. Lag time floating pada formulasi
tersebut = 9 – 30 menit. Kemampuan pembentukan gel dan kekuatan gel
polisakarida bervariasi dari batch ke batch karena variasi pada panjang rantai
dan tingkat substitusi dan situasi ini diperburuk pada formulasi effervescent
dengan gangguan dari struktur gel melalui evolusi CO 2 . Pembentuk gel
bereaksi sangat sensitif terhadap perbedaan osmolaritas media pelepasan,
dengan peningkatan pelepasan.

Suatu studi menjelaskan pengaruh tiga bahan pengisi yaitu Mikrokristalin


selulosa (MCC), dikalsium pospat dan laktosa pada sifat floating dari tablet
bersalut. Tablet yang mengandung laktosa mengapung lebih cepat daripada tablet
yang mengandung kalsium pospat (pengisi anorganik). Hal ini dapat dijelaskan
3
karena tablet yang mengandung laktosa memiliki densitas lebih rendah (1 g/cm
pada kekerasan 30 N), sedangkan tablet yang mengandung dikalsium pospat
3
memiliki densitas lebih tinggi (1,9 g/cm pada kekerasan 30 N).

Laktosa memiliki kelarutan dalam air lebih tinggi dan menunjukkan

28
aktivitas osmotik dan uptake dari medium lebih cepat pada inti tablet selama
penyalutan. MCC, pengisi yang tidak larut dengan uptake air yang lebih
tinggi dan kemampuan desintegrasi, mengakibatkan robeknya penyalutan
dan desintegrasi tablet, CO 2 tidak berakumulasi pada penyalutan dan lepas
melalui lapisan film yang robek, sehingga floating tidak terjadi.

4.5 Evaluasi Floating Drug Delivery System

Berbagai parameter yang perlu dievaluasi pengaruhnya terhadap


formulasi gastroretensive floating terutama dapat dikategorikan ke
dalam kelas yang berbeda sebagai berikut :

1. Parameter fisik : ukuran diameter, flexibilitas dan BJ


2. Parameter kontrol : Waktu floating, dissolusi, specific gravity,
keseragaman kandungan dan kekerasan dan friabilitas (jika tablet).
3. Parameter geometrik : Bentuk
4. Parameter fisiologi : Usia, jenis kelamin, postur tubuh dan makanan
5. Tes keterapungan dan pelepasan obat secara invitro dilakukan pada
cairan lambung dan usus buatan, suhu konstan pada 37oC. Pada
prakteknya waktu floating ditentukan oleh alat disentrigator USP
mengandung 900 ml 0,1 N HCl sebagai medium percobaan
dipertahankan suhu pada 37oC. Waktu yang dibutuhkan sediaan HBS
untuk mengapung disebut floatation time.
6. Uji disolusi dilakukan dengan menggunakan alat disolusi USP.
Sampel diambil secara periodik dari medium disolusi, diisi ulang
dengan medium baru volume yang sama setiap kali, dan dianalisa isi
obatnya setelah pengenceran yang tepat.
6.1. Uji disolusi modifikasi menurut BP (1993) / USP (1990)
Dayung diletakkan pada permukaan medium disolusi. Hasil
yang diperoleh menunjukkan profil pelepasan disolusi biphasic
reproducible saat kecepatan dayung ditingkatkan dari 70
menjadi 100 rpm dan pH medium disolusi bervariasi dari 6,0 –
8,0.
6.2 Uji Disolusi modifikasi menurut Gohel (2004)

29
Uji disolusi yang dilakukan untuk evaluasi bentuk sediaan
floating system berbeda dengan sediaan konvensional, baik dari
segi alat maupun lamanya proses disolusi. Salah satu metode
disolusi untuk sediaan floating yang sangat baik, seperti yang
dipublikasikan oleh Gohel et al., 2004. Dalam uji disolusi
floating ini, digunakan gelas beker yang dimodifikasi dengan
menambahkan suatu saluran tempat sampling yang menempel
pada dasar bekerglass. Medium yang digunakan disesuaikan
dengan keadaan dilambung baik pH, jumlah cairan maupun
kecepatan motilitas lambung (Gohel et al., 2004).

Gambar Desain alat disolusi untuk floating (Gohel et al., 2004).

Cara kerja uji disolusi menurut Gohel adalah sebagai berikut :

 Tablet dimasukkan ke dalam Bekerglass (dimodifikasi untuk disolusi


seperti pada Gambar 4.1), yang berisi media disolusi larutan HCl pH
3,0 sebanyak 100 mL suhu diatur pada 37±0,5.ºC.
 Stirrer dijalankan dengan kecepatan pengadukan 50 rpm selama 5
jam.
 Larutan disampling sebanyak 5,0 mL pada waktu tertentu.
 Kadar ditetapkan dengan metode spektrofotometri.

7. Uji Floating
Pengamatan sifat mengembang dan mengapung dilakukan secara
visual, dengan cara tablet dimasukkan dalam beker gelas 100 mL yang
berisi larutan HCl pH 3,0 kemudian diamati sifat pengembangan dan
pengapungannya selama 5 jam.

30
8. Sistem untuk memeriksa berlanjutnya sifat floating
Sistem untuk memeriksa berlanjutnya sifat floating digunakan
keranjang stainless steel dihubungkan dengan tali logam dan
digantungkan pada neraca elektronik asartorius. Benda yang
mengapung dimasukkan pada affixed penangas air yang ditutup untuk
mencegah penguapan air. Gaya mengapung ke atas diukur dengan
neraca dan data ditransmisikan pada PC melalui interfase RS232C
menggunakan program sarto wedge.

Medium uji untuk mengukur kinetika floating menggunakan cairan


lambung buatan (pH 1,2) 900 ml suhu dipertahankan pada 37oC, data
diambil pada interval waktu 30 detik; baseline dicatat dan dibagi dari
tiap pengukuran. Keranjang disolusi memiliki penyangga pada bagian
dasarnya untuk mengukur gaya ke bawah.

9. Berat jenis FDDS


Berat jenis FDDS dapat ditentukan dengan metode pemindahan
menggunakan benzen analitik sebagai media pengganti. BJ awal
(Bentuk kering) dari sediaan dan perubahan kekuatan floating
dengan waktu harus ditandai sebelum perbandingan in vivo antara
Unit Floating (F) dan unit non floating (NF). Selanjutnya optimalisasi
formulasi floating harus segera direalisasi dalam hal stabilitas dan
daya tahan kekuatan floating yang dihasilkan, sehingga menghindari
variasi dalam kemampuan floating yang mungkin terjadi selama studi
in vivo.

10. Uji berat resultan


Alat ukur in vitro telah disusun untuk menentukan kemampuan
floating yang sebenarnya dari sediaan yg mengapung sebagai fungsi
dari waktu. Uji ini mengukur gaya ekivalen dengan gaya F yang
dibutuhkan untuk menjaga objek benar-benar tenggelam dalam cairan.
Gaya ini menentukan berat resultan dari objek ketika tenggelam dan
dapat digunakan untuk mengukur kemampuan mengapungnya atau
tak-mengapung.

31
Besar dan arah gaya dan berat resultan sesuai dengan jumlah vektorial
dari keterapungan (F apung) dan gaya gravitasi (F grav) yang bekerja
pada objek seperti pada persamaan :

F = F apung – F grav

F = d f g V – d s g V = ( d f – d s ) gV

F = (d f – M / V) gV

Dimana;

F = gaya vertikal total (berat resultan objek)

g = percepatan gravitasi d f = densitas fluid

d s = densitas objek

M = massa objek

V = Volume objek

Gambar. Pengaruh berat resultan selama proses pengapungan pada


sediaan FDDS.

32
Berat resultan (+) menandakan bahwa gaya F diberikan ke atas dan
objek itu mampu mengambang. Sedangkan berat resultan (-) berarti
bahwa gaya F ke bawah dan benda tenggelam.

Persimpangan dari garis dasar nol oleh kurva berat resultan dari (+)
terhadap nilai-nilai (-) menunjukkan transisi dari bentuk sediaan
dari kondisi floating ke non floating. Perpotongan garis pada
sumbu waktu sesuai dengan waktu floating bentuk sediaan.

11. Metode γ- Scintigraphy


Pada studi invivo sediaan floating yang tertahan di lambung
biasanya ditentukan dengan gamma scntigraphy atau
roentgenography. Penelitian dilakukan pada subjek manusia muda
dan sehat, baik dilakukan pada kondisi berpuasa atau tidak
menggunakan sediaan floating dan non-floating (kontrol). γ-
Scintigraphy merupakan metode evaluasi FDDS yang modern
untuk mengevaluasi formulasi gastroretentive pada
sukarelawan sehat. Emisi γ radioisotop dicampurkan ke dalam
CR-DFs (Cathoda Ray direction Finder). Sejumlah isotop stabil
mis. 152 Sm dicampurkan ke dalam DF selama pembuatan. Metode
ini digunakan untuk membantu memantau lokasi bentuk sediaan
dalam GIT dan dapat memprediksi dan menghubungkan waktu
pengosongan lambung dan lintasan bentuk sediaan pada GIT.

Kelemahan dari metode ini dapat berupa pasien terkena radiasi


pengion, terbatasnya informasi topografi, teknik resolusi rendah,
pemakaiannya sulit dan persiapan radiofarmasinya mahal.

12. Radiology
Metode ini sebagai evaluasi preklinis dari gastroretentivity. Lebih
unggul dibandingkan γ- Scintigraphy karena lebih sederhana dan
lebih murah. Bahan pengkontras biasanya digunakan Barium sulfat.

13. Gastroscopy

33
Endoskopi oral menggunakan fiberoptic dan video. Digunakan
untuk memeriksa secara visual efek memperlambat waktu
tinggal FDDS dalam lambung.

14. Ultrasonography (USG)


Gelombang ultrasonik merefleksikan secara substansial perbedaan
suara melalui permukaan dan menampilkan organ perut.
Karakterisasi meliputi penilaian lokasi intragastrik dari hidrogel,
penetrasi pelarut ke dalam gel dan interaksi antara dinding
lambung dan FDDS selama peristalsis.

15. Magnetic Resonance Imaging (MRI)


Peralatan yang bernilai pada penelitian GIT untuk menganalisis
pengosongan lambung, motilitas dan distribusi intragastrik bahan
makanan dan model obat. Keuntungan alat ini dapat berupa kontras
jaringan lunak tinggi, resolusi spasial dan temporal yang tinggi, dan
tidak menimbulkan radiasi

4.7 Aplikasi FDDS

FDDS menawarkan aplikasi untuk obat yang memiliki bioavalabilitas


rendah karena sempitnya daerah absorbsi pada bagian atas GIT. FDDS
mempertahankan bentuk sediaan pada tapak absorbsi dan juga meningkatkan
bioavailabilitas. Dapat diringkas sebagai berikut :

1. Sustained drug delivery


Sistem HBS tetap berada di lambung dalam periode yang lama dan karenanya
dapat melepaskan obat dalam jangka waktu lama. Masalah waktu tinggal di
lambung yang singkat dihadapi dengan formulasi CR oral maka dapat diatasi
dengan sistem ini. Sistem ini memiliki bulk density < 1 , sehingga sistem ini
dapat mengapung pada isi lambung. Sistem ini ukurannya relatif besar
sehingga tidak dapat melewati pilorus.
Misalnya kapsul floating SR nikardipin hidroklorida dikembangkan dan
dievaluasi secara in vivo. Formulasi dibandingkan dengan sediaan kapsul

34
MICARD yg tersedia di pasaran dengan menggunakan kelinci. Kurva
konsentrasi plasma dengan waktu pada pemberian kapsul floating SR
menunjukkan durasi yang lebh lama (16 Jam) dibandingkan dengan kapsul
MICARD konvensional (8 Jam).

2. Penyampaian Obat Pada Tapak Khusus


Sistem ini sangat menguntungkan untuk obat yang khusus diabsorbsi dari
lambung atau bagian proksimal usus halus, seperti Riboflavin dan furosemid.
Misalnya furosemid terutama diabsorbsi dari lambung diikuti oleh duodenum.
Telah dilaporkan bahwa sediaan floating monolitik dengan waktu tinggal di
lambung yg lama dikembangkan dan bioavailabilitas meningkat. Pada sediaan
tablet floating AUC diperoleh sekitar 1,8 x daripada tablet furosemid
konvensional.

3. Peningkatan Absorbsi
Obat yang memiliki bioavailablitas rendah karena tapak absorbsi khusus dari
bagian atas GIT adalah kandidat potensial untuk diformulasikan sebagai
FDDS sehingga memaksimalkan absorbsinya.
Misalnya pada bentuk sediaan floating dapat dicapai peningkatan
bioavailabilitas yg signifikan (42,9%) dibandingkan dengan sediaan tablet
LASIX yang tersedia di pasaran (33,4%) dan produk salut enterik LASIX-
long (29,5%).

4.1.1 Keuntungan FDDS

1. Sistem Gastroretentive menguntungkan untuk obat yang


diabsorbsi di lambung Misal : Garam Fero, Antasida
2. Formulasi HBS berguna untuk zat asam seperti aspirin (obat sejenis
lainnya) yang dapat menyebabkan iritasi bila kontak dengan
dinding lambung.
3. Pemberian sediaan floating seperti tablet atau kapsul yang
dapat memperpanjang pelepasan obat akan mengakibatkan disolusi
obat pada cairan lambung. Sediaan tersebut melarut dalam
cairan lambung sesuai untuk absorbsi pada usus halus setelah
pengosongan isi lambung. Sehingga diharapkan obat akan

35
sepenuhnya diabsorbsi dari sediaan floating jika tetap dalam bentuk
larutan bahkan pada pH basa dari usus.
4. Ketika ada gerakan usus yang kuat dan waktu tinggal obat yang
singkat seperti keadaan diare, absorbsi obat yang sedikit
diharapkan. Pada keadaan seperti ini mungkin menguntungkan
untuk menjaga obat dalam kondisi mengapung pada lambung untuk
mendapatkan respon yang lebih baik.

4.1.2 Kelemahan FDDS :

1. Sistem Floating tidak layak untuk obat-obatan yang memiliki


masalah dalam kelarutan atau stabilitas pada GIT.
2. Sistem ini membutuhkan cairan level tinggi pada lambung untuk
penyampaian obat mengapung dan tersalut dengan baik.
3. Obat yang diserap secara signifikan di seluruh GIT, hanya yang
mengalami metabolisme lintas pertama kandidat yang diinginkan.
4. Beberapa obat yang termasuk pada sistem floating menyebabkan
iritasi pada mukosa lambung.

4.1.3 Sediaan FDDS

Tabel Obat yang digunakan pada formulasi sediaan FDDS


berdasarkan tipe bentuk sediaan

36
37
BAB V
KESIMPULAN

Dari uraian mengenai Floating Drug Delivery System maka dapat


disimpulkan bahwa FDDS merupakan sediaan yang potensial untuk menahan
retensi lambung, hal ini disebabkan karena floating system merupakan sistem
dengan densitas yang kecil, yang memiliki kemampuan mengembang kemudian
mengapung dan tinggal di lambung untuk beberapa waktu sehingga menyebabkan
antara lain:

1. Sistem ini tetap berada di lambung dalam periode yang lama dan
karenanya dapat melepaskan obat dalam jangka waktu lama.
2. Dapat memaksimalkan absorbsi obat yang memiliki bioavailabilitas
yang rendah.
3. Menguntungkan untuk obat yang dimaksudkan untuk aksi lokal ataupun
obat yang diabsorbsi di lambung seperti antasida.
4. Menguntungkan untuk zat asam seperti aspirin (obat sejenis lainnya)
yang dapat menyebabkan iritasi bila kontak dengan dinding lambung.

DAFTAR PUSTAKA

38
Chawla, G. (2003). A means to address regional variability in intestinal drug absorption.
Pharm tech, 27, 50–68.

Gohel, M. C., Mehta, P. R., Dave, R. K., & Bariya, N. H. (2004). A More Relevant
Dissolution Method for Evaluation of a Floating Drug Delivery System.
dissolutiontech, 11, 22–26.

Maheta, H., Patel, M., Patel, K., & Patel, M. (2014). Review: An Overview on Floating
Drug Delivery System. PharmaTutor, 2(3), 61–71.

Timmermans, J., & Moës, A. J. (1990). How well do floating dosage forms float?
International Journal of Pharmaceutics, 62(2–3), 207–216. doi:10.1016/0378-
5173(90)90234-U

39