Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM FARMASI KLINIK

STUDI KASUS DENGAN DIAGNOSIS UTAMA GANGGUAN


KONSTIPASI

DISUSUN OLEH
GOLONGAN II/ KELOMPOK D

1. Pradita Widyaningrum
NIM : 15/379367/FA/10456
2. Pratiwi Saputri
NIM : 15/379368/FA/10457
3. Rahajeng Putri Larasati
NIM : 15/379370/FA/10459
4. Rini Ambarsari
NIM : 15/379371/FA/10460

PROGRAM SARJANA PROGRAM STUDI FARMASI


MINAT FARMASI KLINIK DAN KOMUNITAS
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2018
STUDI KASUS DENGAN DIAGNOSIS UTAMA GANGGUAN KONSTIPASI

A. TUJUAN PRAKTIKUM
1. Identifikasi masalah terkait DRPs pada kasus dengan diagnosis
konstipasi
2. Membuat rencana rekomendasi terapi, informasi, edukasi, serta
oemantauan terapi yang tepat

B. TINJAUAN PUSTAKA
1. Definisi
Konstipasi adalah persepsi gangguan buang air besar berupa
berkurangnya frekuensi buang air besar, sensasi tidak puas/lampiasnya
buang air besar, terdapat rasa sakit, perlu ekstra mengejan atau feses yang
keras. Disepakati bahwa buang air besar yang normal frekuensinya adalah 3
kali sehari sampai 3 hari sekali. Dalam praktek sehari-hari dikatakan
konstipasi bila buang air besar kurang dari 3 kali seminggu atau 3 hari tidak
buang air besar atau buang air besar diperlukan mengejan secara berlebihan
(Djojoningrat, 2009)
2. Etiologi
Etiologi konstipasi Adapun etiologi dari konstipasi sebagai berikut :
1. Pola hidup ; diet rendah serat, kurang minum, kebiasaan buang air besar
yang tidak teratur, kurang olahraga.
a. Diet rendah serat : Makanan lunak dan rendah serat yang berkurang
pada feses sehingga menghasilkan produk sisa yang tidak cukup
untuk merangsang refleks pada proses defekasi. Makan rendah serat
seperti ; beras, telur dan daging segar bergerak lambat di saluran
cerna. Meningkatnya asupan cairan dengan makanan seperti itu
meningkatkan pergerakan makanan tersebut (Siregar, 2004)
b. Kurang cairan/minum : Pemasukan cairan juga mempengaruhi
eliminasi feses. Ketika pemasukan cairan yang adekuat ataupun
pengeluaran (cth: urine, muntah) yang berlebihan untuk beberapa
alasan, tubuh melanjutkan untuk mereabsorbsi air dari chyme ketika
ia lewat di sepanjang kolon. Dampaknya chyme menjadi lebih kering
dari normal, menghasilkan feses yang keras. Ditambah lagi
berkurangnya pemasukan cairan memperlambat perjalanan chyme di
sepanjang intestinal, sehingga meningktakan reabsorbsi dari chyme
(Siregar, 2004).
c. Kebiasaan buang air besar (BAB) yang tidak teratur : Salah satu
penyebab yang paling sering menyebabkan konstipasi adalah
kebiasaan BAB yang tidak teratur. Refleks defekasi yang normal
dihambat atau diabaikan, refleks-refleks ini terkondisi untuk menjadi
semakin melemah. Ketika kebiasaan diabaikan, keinginan untuk
defekasi habis. Anak pada masa bermain bisa mengabaikan refleks-
refleks ini; orang dewasa mengabaikannya karena tekanan waktu
dan pekerjaan. Klien yang dirawat inap bisa menekan keinginan buar
air besar karena malu menggunakan bedpan atau karena proses
defekasi yang tidak nyaman. Perubahan rutinitas dan diet juga dapat
berperan dalam konstipasi. Jalan terbaik untuk menghindari
konstipasi adalah membiasakan BAB teratur dalam kehidupan
(Siregar, 2004).
2. Obat – obatan ; banyak obat yang menyebabkan efek samping konstipasi.
Beberapa di antaranya seperti ; morfin, codein sama halnya dengan obat-
obatan adrenergik dan antikolinergik, melambatkan pergerakan dari kolon
melalui kerja mereka pada sistem syaraf pusat. Kemudian, menyebabkan
konstipasi yang lainnya seperti: zat besi, mempunyai efek menciutkan dan
kerja yang lebih secara lokal pada mukosa usus untuk menyebabkan
konstipasi. Zat besi juga mempunyai efek mengiritasi dan dapat
menyebabkan diare pada sebagian orang (Siregar, 2004).
3. Kelainan struktural kolon ; tumor, stiktur, hemoroid, abses perineum,
magakolon.
4. Penyakit sistemik ; hipotiroidisme, gagal ginjal kronik, diabetes mellitus.
5. Penyakit neurologik ; hirschprung, lesi medulla spinalis, neuropati otonom.
6. Disfungsi otot dinding dasar pelvis.
7. Idiopatik transit kolon yang lambat, pseudo obstruksi kronis
8. Irritable Bowel syndrome tipe konstipasi (Djojoningrat, 2009).
3. Patofisiologi
Patofisiologi konstipasi Defekasi dimulai dari gerakan peristaltik usus
besar yang menghantar feses ke rektum untuk dikeluarkan. Feses masuk
dan merenggangkan ampula dari rekum diikuti relaksasi dari sfingter anus
interna. Untuk menghindari pengeluaran feses secara spontan, terjadi refleks
kontraksi dari sfingter anus eksterna dan kontraksi otot dasar pelvis yang
dipersarafi oleh saraf pudendus. Otak menerima rangsangan keinginan untuk
buang air besar dan sfingter anus eksterna diperintahkan untuk relaksasi,
sehingga rektum mengeluarkan isinya dengan bantuan kontraksi otot dinding
perut. Kontraksi ini akan menaikkan tekanan dalam perut, relaksasi sfingter
dan otot-otot levator ani (Pranaka, 2009).
Ketika serat yang dikonsumsi sedikit, kotoran akan menjadi kecil dan
keras. Konstipasi akan timbul, dimana dalam proses defekasi terjadi tekanan
yang berlebihan dalam usus besar (kolon) keluar dari otot, membentuk
kantong kecil yang disebut divertikula. Hemoroid juga bisa sebagai akibat
dari tekanan yang berlebihan saat defekasi (Wardlaw, Hampl, and
DiSilvestro, 2004). Hampir 50% dari pasien dengan penyakit divertikular atau
anorektal, ketika ditanya, menyangkal mengalami konstipasi/sembelit.
Namun, hampir semua pasien ini memiliki gejala ketegangan atau jarang
defekasi (Basson, 2010)
Patogenesis dari konstipasi bervariasi, penyebab multipel mencakup
beberapa faktor yaitu:
1. Diet rendah serat , karena motalitas usus bergantung pada volume isi
usus. semakin besar volume akan semakin besar motalitas.
2. Gangguan refleks dan psikogenik. Hal ini termasuk (1) fisura ani yang
terasa nyeri dan secara refleks meningkatkan tonus sfingter ani
sehingga semakin meningkatnya nyeri; (2) yang disebut anismus
(obstruksi pintu bawah panggul), yaitu kontraksi (normalnya relaksasi)
dasar pelvis saat rektum terenggang.
3. Gangguan transport fungsional, dapat terjadi karena kelainan
neurogenik, miogenik, refleks, obat-obatan atau penyebab iskemik
(seperti trauma atau arteriorsklerosis arteri mesentrika).
4. Penyebab neurogenik. Tidak adanya sel ganglion di dekat anus
karena kelainan kongenital (aganglionosis pada penyakit
Hirschsprung) menyebabkan spasme yang menetap dari segmen
yang terkena akibat kegagalan relaksasi reseptif dan tidak ada refleks
penghambat anorektal (sfingter ani internal gagal membuka saat
rektum mengisi).
5. Penyakit miogenik. distrofi otot, sklerosisderma, dermatomiosistis dan
lupus eritamatosus sistemik.
6. Obstruksi mekanis di lumen usus (misal, cacing gelang, benda asing,
batu empedu).
7. Pada beberapa pasien konstipasi dapat terjadi tanpa ditemukannya
penyebabnya. Stress emosi atau psikis sering merupakn faktor
memperberat keadaan yang disebut irritable colon (Silbernagl, 2006).
4. Faktor Resiko
1. Orang yang berusai lanjut
2. Wanita hamil
3. Kurang konsumsi serat atau dehidrasi
4. Kurang beraktivitas (biasanya pekerja kantoran)
5. Kelebihan berat badan atau obesitas
6. Mengonsumsi obat yang dapat menyebabkan sembelit seperti obat
anti nyeri, obat tidur, atau obat darah tinggi.
5. Manifestasi Klinik
Pada pasien yang mengalami kosntipaasi akan ditemukan tanda-tanda
ataupun gejala klinis sebagai berikut:
1. Ada rasa tidak nyaman dan kembung pada perut, kelelahan, sakit
kepala, mual dan muntah, pergerakan usus yang hilang, feses
dengan ukuran kecil, perasaan penuh, kesulitan, dan sakit saat
mengeluarkan feses.
2. Feses yang keras, feses yang kecil atau kering, perut kembung, nyeri
kram perut dan ketidaknyamanan pada perut, perut tegang atau
ngeluarkan suara, kelelahan, sakit kepala, mual dan muntah.
3. Konstipasi menunjukan gejala yang parah apabila ditandai dengan
gejala berlangsung lebih dari 3 minggu, terdapat darah
dalam feses,penurunan berat badan, demam, anoreksia, mual, dan
muntah atau setiap kali terjadi perubahan kebiasaan buang air besar
yang biasa terjadi secara signifikan.
4. Implikasi dari konstipasi dapat bervariasi mulai dari rasa tidak
nyaman sampai gejala kanker usus besar atau penyakit serius
lainnya. (Dipiro et al., 2008; Sukandar dkk., 2008)
6. Penatalaksanaan konstipasi
Sebagian tergantung pada pandangan pasien mengenai masalahnya
1. Diet dan Hidrasi
Pada pasien dengan gejala yang menggangu, langkah pertama
adalah mengoptimalkan asupan serat dan cairan.
2. Obat-obat pencahar, ada 4 tipe golongan obat pencahar
a. Memperbesar dan melunakkan masa feses, antara lain : Cereal,
Methyl Selulose, Psilium.
b. Melunakkan dan melicinkan feses, obat ini bekerja dengan
menurunkan tegangan permukaan feses, sehingga mempermudah
penyerapan air. Contoh Minyak Kasto, Golongan docusate.
c. Golongan osmotik yang tidak diserap, sehingga cukup aman
digunakan, misalnya pada penderita gagal ginjal, antara lain :
Sorbitol, Lactulose, Glycerin.
d. Merangsang peristaltik sehingga meningkatkan motilitas usus
besar (Pranaka, 2009).
7. Terapi farmakologi
Apabila modifikasi gaya hidup kurang berhasil, maka perlu ditambahkan
terapi farmakologi golongan laksatif. Ada 4 tipe obat golongan laksatif seperti
pada tabel dibawah ini.
Tabel 1.1 Golongan Obat Laksatif untuk Terapi Farmakologi Konstipasi
No Golongan Nama Obat Dosis Keterangan
Obat
1. Memperbesar Psyllium 4-6 g per Obat golongan ini kerjanya
dan Metilselulosa hari. relatif lambat (1-3 hari),
melunakkan isphagula Bervarias tetapi hanya sedikit yang
massa feses i sesuai berpengaruh terhadap
(Bulking produk aktivitas usus normal
Agents) dibandingkan dengan
laksatif lainnya.Bulking
Agentsmengandung partikel
yang dapat menyerap air
lebih banyak, sehingga
meningkatkan aktifitas usus
dalam membentuk feses.
2. Laksatif Laktulosa 15-30 mL Menyebabkan efek osmotik
Osmotik oral pada usus besar.
Sorbitol 30-50 g Digunakan pada konstipasi
per hari akut. Golongan osmotik
Garam 2-4 g 8% tidak diserap melainkan
magnesium suspensi dapat meningkakan sekresi
dalam air air kedalam usus. Sehingga
atau 5- cukup aman untuk
10g digunakan. Misalnya pada
dengan penderita gagal ginjal.
segelas
air
Macrogol ½ - 1
tube
perhari

Gliserin 3 g
perhari

3. Laksatif Bisacodyl 10mg Obat golongan ini bekerja


Stimulan rektal memiliki onset kerja yang
Senna ½-2 cepat dan hanya digunakan
tablet bila pengobatan yang lain
Sodium 2-15mg gagal. Obat ini bekerja pada
picosulfat per hari ujung saraf dinding usus,
PEG 4L memicu kontraksi otot, dan
electrolyte menyebabkan peristaltik
solution usus.

fenoftalein 30-270
mg/oral
4. Melunakkan Minyak 15-30 mL Obat ini bekerja dengan
atau pelumas mineral oral menurunkan tegangan
feses (lubricant permukaan feses, sehingga
laxatives) Docusate 50-360 mempermudah penyerapan
mg/hari air
(Sukandar dkk., 2008)
8. Terapi Non Farmakologi
Terapi utama yang dilakukan untuk penderita konstipasi adalah
perubahan gaya hidup. Karena pada umumnya konstipasi adalah kelainan
saluran cerna bukan suatu penyakit. Terapi farmakologi yang dilakukan dapat
berupa:
a. Diet tinggi serat (buah, sayuran dan sereal) sangat dianjurkan. Cara
ini sebaiknya dicoba sebelum pasien menggunakan laksatif. Serat
mampu meningkatkan massa dan berat feses serta mempersingkat
waktu transit di usus. Untuk mendukung manfaat serat ini,
diharapkan pasien meminum air sekitar 8-10 gelas sehari.
b. Minum susu dapat meningkatkan pergerakan dari usus.
c. Lakukan olahraga dan aktivitas fisik secara teratur untuk membantu
mencegah konstipasi. Olahraga yang dilakukan sesuai umur dan
kemampuan pasien akan memperlancar sirkulasi dan meningkatkan
tonus otot usus.
d. Latihan usus besar. Melatih usus besar adalah suatu bentuk latihan
perilaku yang disarankan pada pasien penderita konstipasi yang
tidak jelas penyebabnya. Pasien dianjurkan meluangkan waktu 5-10
menit setelah makan untuk melakukan gerakan yang bermanfaat
pada usus besar. Hal ini akan bermanfaat untuk refleks gastro kolon
untuk buang air, sehingga pasien diharapkan akan tanggap terhadap
tanda-tanda dan rangsangan untuk buang air dan tidak menahan
atau menunda dorongan untuk buang air besar.
e. Pembedahan hanya dilakukan bila dijumpai konstipasi kronis dan
tidak dapat diatas dengan cara-cara pengobatan farmakologi serta
non farmakologi lainnya. Prosedur pembedahan hanya dilakukan
apabila pasien mengalami konstipasi berat dengan masa transit yang
lambat, tidak diketahui penyebab pastinya dan tidak ada respon
dengan pengobatan yang sebelumnya

C. KASUS DAN PENGEMBANGANNYA


a. KASUS
Seorang perempuan berusia 54 tahun datang ke klinik dengan keluhan
utama peningkatan kram perut selama beberapa hari. BAB terakhir pasien
adalah adalah 6 hari yang lalu. Pasien mulai merasa tidak sehat sejak 4 hari
yang lalu dengan gejala kembung dan penurunan nafsu makan. Pasien
melaporkan bahwa kemarin ketika keram perut terasa paling berat, pasien
menggunakan laktulosa 1x 30 ml malam sebelum tidur, tetapi masih belum
BAB. Pasien menyatakan bahwa pasien biasanya BAB tiap hari, tanpa
mengejan, dan lancar. Pasien melaporkan bahwa pasien pernah mengalami
keluhan serupa sekitar 1 tahun yang lalu. Namun pada waktu itu gejala-
gejalanya merespon dengan laktulosa. Dokter mendiagnosis pasien
mengalami konstipasi. Hasil pemeriksaan dan riwayat medik pasien :
Fisik: TD 145/95 mmHg, RR 16/menit, nadi 60/menit, suhu 36,2 C.
Hasil lab: semua berada pada batas normal
Riwayat penyakit terdahulu hipertensi.
Riwayat pengobatan: Diltiazem CR 1x 450 mg PO, Atenolol 1 x 100 mg PO,
Laktulosa 1 x 30 ml PO.
Riwayat sosial: berhenti merokok lebih dari 20 tahun yang lalu, tidak minum
alkohol.
Riwayat alergi: tidak ada
b. PENGEMBANGAN KASUS
Keluhan Utama selama : peningkatan kram perut selama
beberapa hari beberapa hari
Riwayat penyakit : Konstipasi
Riwayat Penyakit Terdahulu : Hipertensi
Riwayat Penyakit Keluarga :-
Riwayat Sosial dan : Berhenti merokok lebih dari 20 tahun
Konsumsi Alkohol dan tidak mengkonsumsi alkohol
Riwayat Penggunaan Obat : 1. Diltiazem CR 1 x 480 mg PO
2. Atenolol 1 x 100 mg PO
3. Laktulosa 1 x 30 mg PO
Riwayat Alergi :-
Hasil Pemeriksaan Fisik : TD 145/95 mmHg
nadi 60/menit
RR 16/menit
T 36,2
D. ASSESSMEN DRUG RELATED PROBLEMS DAN RENCANA ASUHAN
KEFARMASIAN
Care Plan
Terapi saat Subjektif dan
Masalah Asesmen (Rekomendasi
ini Objektif
Terapi)
Konstipasi Laktulosa Subjektif :  Laktulosa Direkomendasikan
1 x 30 ml  BAB memiliki ES pemberian obat
PO terakhir 6 abdominal Microlax (Na-lauril
hari lalu pain yang sulfoasetat) 1 tube
 Perut memperpara untuk 1 kali
kembung h kram perut pemakaian, 15-30
 Penurun  Kemungkina menit sebelum BAB
an nafsu n konstipasi
makan disebabkan
 Kram karena ES
perut Diltiazem
yang juga
Objektif : - dikonsumsi
pasien
 Pasien
memerlukan
terapi
pengganti
Laktulosa
untuk
mengatasi
konstipasi
Hipertensi Diltiazem 1 Subjektif : -  Ada interaksi  Rekomendasi
x 480 mg antara penggantian
PO Objektif : diltiazem dan Diltiazem 1 x 480
Atenolol 1 TD 145/95 atenolol mg PO dengan
x 100 mg mmHg (mayor) Chlortalidone
PO  Penggunaan (antihipertensi
Diltiazem golongan
menimbulkan diuretik) 1 x 25
ES mg PO/ hari
konstipasi  Monitoring
tekanan darah

E. PEMBAHASAN ASESMEN DRPs


Pada kasus ini, terdapat lima macam DRP. Tiga diantaranya terkait masalah
konstipasi, dan dua lainnya terkait masalah hipertensi. DRP pertama dan kedua
dari masalah konstipasi yaitu DRP nomor 5 kategori reaksi obat yang merugikan,
karena produk obat menyebabkan sebuah reaksi yang tidak diharapkan atau
menimbulkan efek samping. Obat yang dimaksud yaitu Laktulosa dan Diltiazem
yang sedang dikonsumsi pasien saat ini. Laktulosa merupakan salah satu agen
laksansia yang diindikasikan untuk konstipasi (Sukandar dkk, 2008). Namun,
laktulosa mungkin memunculkan efek samping berupa kembung, kram perut, dan
perut terasa tidak nyaman (Sukandar dkk, 2008). Pasien mengeluhkan
peningkatan kram perut selama beberapa hari, dan menyampaikan bahwa kram
perut pasien terasa paling berat setelah pasien mengonsumsi laktulosa.
Kemungkinan besar, pasien mengalami efek samping dari laktulosa berupa
peningkatan rasa sakit kram perut. Maka dari itu, pasien memerlukan terapi
pengganti laktulosa untuk mengatasi konstipasinya, dan diharapkan tidak
menimbulkan efek samping yang serupa dengan efek samping laktulosa.
Selain itu, terdapat beberapa DRP terkait masalah hipertensi. Pertama yaitu
adanya interaksi antara obat diltiazem dan atenolol. Dalam buku Drug Interaction
Facts, disebutkan bahwa ada interaksi yang bersifat moderate antara atenolol dan
diltiazem, dengan efek symptomatic bradycardia (Tatro, 2009). Sementara dalam
website drugs.com, interaksi tersebut dikatakan sudah termasuk level mayor. DRP
kedua yaitu adanya efek samping dari diltiazem yaitu konstipasi (Aberg, 2009).
Bisa jadi, penggunaan obat diltiazem ini juga memperparah kondisi konstipasi dari
pasien, sehingga disarankan penggantian obat antihipertensi diltiazem menjadi
antihipertensi golongan lain.

F. PEMBAHASAN RENCANA ASUHAN KEFARMASIAN


Pada kasus tersebut, keluhan utama yang dialami pasien adalah konstipasi
yang disebabkan oleh adanya reaksi efek samping dari obat hipertensi yang
diminum secara rutin yaitu diltiazem CR. Penanganan yang dilakukan untuk
mengatasi konstipasi tersebut adalah dengan menggunakan Microlax enema yang
merupakan jenis laksatif osmotik. Obat pilihan pertama dalam mengatasi
konstipasi kronik adalah dengan laksatif osmotik atau bulk (Vitton et al., 2018). Hal
tersebut dikarenakan gejala konstipasi dapat segera diatasi dengan penggunaan
obat yang bekerja lokal jika dibandingkan dengan obat sistemik yang dapat juga
menyebabkan keparahan kram perut. Bahan-bahan yang terkandung dalam
Microlax enema adalah natrium lauril sulfoasetat 45 mg, natrium sitrat 450 mg,
asam sorbat 5 mg, sorbitol 4,465 mg dan PEG-400 625 mg. Pemilihan Microlax
sebagai obat yang direkomendasikan karena zat aktif PEG-400 lebih cepat
mencapai onset jika dibandingkan oleh Ispaghula husk (Mounsey, Raleigh and
Wilson, 2015). Efektifitas PEG-400 lebih baik dibandingkan dengan laktosa, dan
kejadian efek samping yang disebabkan oleh PEG-400 juga lebih rendah
(Mounsey, Raleigh and Wilson, 2015). Microlax digunakan sebanyak 1x
pemakaian, 15-20 menit sebelum buang air besar.
Diltiazem yang digunakan sebagai obat untuk mengontrol tekanan darah
pasien dapat menginisiasi terjadinya kram perut. Sehingga penggatian obat perlu
dilakukan untuk mengatasi keluhan kram perut dari pasien. Dikarenakan pasien
telah menggunakan kombinasi obat hipertensi, maka obat kombinasi diltiazem
tetap diberikan yaitu atenolol. Golongan obat yang digunakan untuk mengganti
diltiazem dapat berasal dari golongan ACEI, ARB atau Thiazid (James and Ortiz,
2014). Tekanan darah pasien yang telah diukur yaitu 145/95 mmHg masih belum
mencapai target terapi tekanan darah <140/90 mmHg yang ditujukan untuk pasien
hipertensi tanpa disetai penyakit degenerative lainnya (Kalra, Kalra and Agrawal,
2010). Obat yang dipilih untuk menggantikan diltiazem adalah chlortalidone yang
merupakan golongan thiazid. Kombinasi atenolol dan chlortalidone dipilih
dikarenakan cukup efektif menurunkan BP dan harga obat yang tidak terlalu tinggi
(Richards and Tobe, 2014). Dosis atenolol yang digunakan sama dengan dosis
terapi sebelumnya, sedangkan chlortalidone digunakan dosis 1x 25mg PO/ hari
(Bateman et al., 1979).

G. PARAMETER PEMANTAUAN

Efektivitas Efek Samping


Obat
Kondisi Klinik TTV dan Lab Kondisi Klinik TTV dan Lab
Na- Lauril Iritasi di bagian
Konstipasi - -
Sulfoasetat anus
pusing, bagian TD diatas Hiperkalemia,
Chlortalidone -
tengkuk sakit normal hipotensi

H. KOMUNIKASI, INFORMASI DAN EDUKASI


Microlax Atenolol Chlortalidone
Indikasi Konstipasi Hipertensi
Melancarkan BAB, Menurunkan tekanan darah hingga
meredakan target/ rentang normal
manifestasi konstipasi
Efek yang
(kram perut, perut
diharapkan
kembung, dan
penurunan nafsu
makan)
Segera setelah Apabila dikonsumsi secara teratur, efek
Efek akan
pemakaian (15-30 obat akan terlihat. Ditandai dengan
terlihat saat
menit) penurunan tekanan darah.
Tidak diperoleh efek Tidak diperoleh efek terapi yang
Dampak
terapi yang diharapkan, dan ada kemungkinan
penggunaan
diharapkan, muncul muncul efek samping.
obat yang
rasa perih dan iritasi
tidak benar
pada area anus.
 Muncul rasa perih ES = bradikadi, ES = hipokalemia,
dan iritasi pada hipotensi, edema gangguan
area anus (penanganan : epigastrik
(penanganan : segera (penanganan :
segera berkonsultasi segera
berkonsultasi dengan dokter) berkonsultasi
dengan dokter) dengan dokter)
 Penggunaan
berlebih dan jangka
panjang dapat
menyebabkan
Efek samping
diare (penanganan
dan
: segera meminum
penanganan
oralit)
 Muncul reaksi
alergi seperti
kemerahan pada
kulit pada pasien
yang alergi
terhadap
kandungan obat
(penangan : segera
berkonsultasi
dengan dokter)
Instruksi  Dosis = 1 tube  Dosis = 1 x 100  Dosis = 1 x 25
penggunaan untuk sekali mg per hari mg per hari
obat pemakaian  Cara pakai =  Cara pakai =
 Cara pakai = diminum sekali diminum sekali
dibuka tutupnya, sehari sehari
dikeluarkan enema/ (sebaiknya (sebaiknya pada
isi dari wadah lalu pada jam yang jam yang sama)
dioleskan pada sama)
aplikator.  Sebaiknya
Selanjutnya, diminum
aplikator setelah makan
dimasukkan ke untuk
dalam anus secara menghindari
perlahan. Lalu, adanya efek
ditekan wadahnya yang tidak
agar enema dapat diharapkan di
masuk ke area saluran cerna
anus. Kemudian, pada pasien
aplikator tertentu
dikeluarkan. (walaupun obat
 Obat ini digunakan ini tidak
15-30 menit dipengaruhi
sebelum BAB, ada atau
cukup digunakan tidaknya
sekali dan makanan)
diharapkan setelah
pemakaian, BAB
pasien akan
menjadi lancar.
Cara Disimpan dalam kemasan primernya, dan diletakkan di kotak obat
menyimpan yang terhindar dari sinar matahari langsung serta jangkauan
obat anak-anak
Durasi Cukup digunakan Dikonsumsi hingga tekanan darah
penggunaan sekali, dan diharapkan pasien terkontrol.
obat dapat segera memberi
efek melancarkan
BAB
 Dipastikan bahwa  Obat ini Obat ini mungkin
pasien tidak alergi mungkin membuat pasien
terhadap menimbulkan kehilangan kalium
kandungan obat abrupt dari tubuh,
 Dipastikan pasien withdrawal, sehingga sebaiknya
tidak memiliki sehingga pasien
kontraindikasi pengobatan mengonsumsi
Peringatan
dengan obat tidak boleh makanan yang
atau hal-hal
(misalnya : dihentikan kaya kalium
yang perlu
penderita wasir secara tiba-tiba, (seperti buah jeruk)
diperhatikan
akut, penderita melainkan atau sesuai dengan
radang usus besar) harus dilakukan saran dokter.
tappering dosis. Namun, perlu
diperhatikan juga
kandungan kalium
dalam tubuh tidak
berlebih.
 Muncul efek Apabila muncul efek yang tidak
samping yang tidak diharapkan.
diharapkan, atau
Penghentian
 Apabila BAB
obat
pasien sudah
kembali lancar dan
normal
Dosis 1 tube per pemakaian 100 mg/hari 100 mg/hari (untuk
maksimum hipertensi)
Konsultasi Apabila muncul efek  Apabila muncul efek yang tidak
kembali yang tidak diharapkan diharapkan
 Apabila tekanan darah pasien sudah
terkontrol, sehingga dapat
dipertimbangkan untuk menghentikan
pengobatan dan hanya menjalani
gaya hidup sehat
 Memperbanyak  Menjalani olahraga teratur
minum air putih (8-  Menjaga berat badan ideal
10 gelas belimbing  Mengurangi konsumsi garam
Informasi per hari)  Mengurangi konsumsi makanan
non-  Memperbanyak berlemak (misalnya : makanan yang
farmakologik konsumsi buah dan digoreng)
sayur hijau yang  Memperbanyak konsumsi sayur dan
kaya serat buah
 Menghindari stress

I. EVALUASI DAN FOLLOW UP


a. Evaluasi Hasil Terapi Konstipasi
- Frekuensi, konsistensi dan ukuran feses
- Rasa sakit/ pendarahan saat BAB
- Rasa sakit pada abdominal
- Gejala sistemik seperti demam, muntah, penurunan BB dan nafsu
makan)
- Pembacaan diet, kebiasaan dan terapi sebelumnya
- Monitoring kepatuhan dan efektifitas terapi
- Monitoring efek samping obat
b. Follow Up
- Datang dan konsultasi ke dokter ketika belum membaik
- Mendokumentasikan hasil tes dan daftar penggunaan obat
c. Evaluasi Hasi Terapi Hipertensi
- Menjaga tekanan darah arteri <140/90 mmHg
- Monitoring pengukuran tekanan darah ambulatory untuk mengontrol
24 jam
- Pembacaan tekanan darah ambulatory 2-4 minggu setelah diberikan
terapi awal
- Pembacaan dapat dilakukan setiap 3-6 bulan pada penderita tanpa
gejala yang telah mencapai tekanan darah normal
- Munculnya komplikasi kardiovaskuler dan hipertensi serebrovaskuler
- Pengukuran efikasi terapi
- Kepatuhan pasien mengkonsumsi obat
- Monitoring rutin efek samping obat kaptopril yaitu batuk kering,
angiodema, hiperkalemia dan hipotensi
d. Follow Up
- Pengukuran tekanan darah secara rutin oleh tenaga kesehatan
- Perubahan regimen dosis seiring pertambahan usia
- Penggantian obat ketika muncul side effect serius
- Monitoring faktor resiko hipertensi
- Monitoring kebiasaan hidup sehat

J. KESIMPULAN
1. DRP yang ditemukan dari kasus ini antara lain :
a. Obat menyebabkan sebuah reaksi atau efek samping yang tidak
diharapkan.
b. Terdapat interaksi antara dua obat yang dikonsumsi pasien.
2. Rencana rekomendasi terapi yang diusulkan antara lain :
a. Pemberian obat Microlax (enema) untuk mengatasi konstipasi sebanyak
1 tube untuk 1 kali pemakaian, 15-30 menit sebelum BAB.
b. Rekomendasi penggantian diltiazem dengan chlortalidone sebagai obat
antihipertensi dengan dosis 1 x 25 mg/ hari PO.
3. Rencana pemantauan terapi obat yang dilakukan :
a. Pemantauan efek samping obat
 Iritasi pada area anus
 Hipotensi
 Insomnia
 Telapak kaki dan tangan terasa dingin
 Pernafasan pendek
b. Pemantauan efektivitas obat
 Frekuensi, konsistensi dan ukuran kotoran/ feses
 Rasa sakit/ pendarahan saat BAB
 Rasa sakit pada abdominal
 Gejala sistemik seperti demam, muntah, penurunan BB dan nafsu
makan (?)
 Menjaga tekanan darah arteri <140/90 mmHg

K. DAFTAR PUSTAKA
Basson, M.D., 2010, Constipation. Available from
http://emedicine.medscape.com/article/184704 overview (Accesed 19
September 2018).
Bateman, D. et al. (1979) ‘Atenolol and chlorthalidone in combination for
hypertension.’, British Journal of Clinical Pharmacology, 7(4), pp. 357–363.
doi: 10.1111/j.1365-2125.1979.tb00946.x.
Dipiro, J.T., Talbert, R.L., Yee, G.C., Matzke, GR., Wells, B.G., and Posey, L.M,
2008, Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach, Seventh Edition,
McGraw Hill Madical.
Djojoningrat, D., 2009, Dispepsia Fungsional dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam, Jilid I, Edisi 5,InternaPublishing, Jakarta.
James, P. A. and Ortiz, E. (2014) ‘JNC 8 Hypertension Guideline Algorithm’, Jama,
311(5), pp. 507–520. doi: 10.1001/jama.2013.284427.
Martono, H., Pranaka, K, 2009, Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut), Balai
Penerbit FK UI, Jakarta.
Mounsey, A., Raleigh, M. and Wilson, A. (2015) ‘Management of constipation in
older adults’, American Family Physician, 92(6), pp. 500–504. doi: d12117
[pii].
Richards, T. R. and Tobe, S. W. (2014) ‘Combining other antihypertensive drugs
with β-blockers in hypertension: A focus on safety and tolerability’, Canadian
Journal of Cardiology. Canadian Cardiovascular Society, 30(5 S), pp. S42–
S46. doi: 10.1016/j.cjca.2013.08.012.
Silbernagl, S. 2006, In: Silbernagl, S., Lang, F. editor, Teks dan Atlas Berwarna
Patofisiologi, EGC, Jakarta.
Siregar, Charles. JP., 2004, Farmasi Rumah Sakit Teori dan Penerapan, Cetakan
I, Penerbit EGC, Jakarta.
Sukandar, Prof. Dr. Elin Yulinah, dkk, 2008, ISO Farmakoterapi, PT.ISFI, Jakarta.
Vitton, V. et al. (2018) ‘Clinical practice guidelines from the French National
Society of Coloproctology in treating chronic constipation’, (Table 1), pp. 1–7.
doi: 10.1097/MEG.0000000000001080.
Wardlaw, G.M., Hampl, J.S., and DiSilvestro, 2004, Perspective in Nutrition, 6th
ed, McGraw Hill, New York.

L. JAWABAN PERTANYAAN
1. Ulfah  Apa alasan penggantian obat hipertensi dari diltiazem dan atenolol
(golongan calcium channel blocker dan beta blocker) menjadi kaptopril
(golongan ACEI)? Padahal berdasarkan sebuah studi, kombinasi diltiazem-
atenolol cukup baik menurunkan TD (hingga ~165 mmHg) daripada diltiazem
atau atenolol tunggal.
Jawaban :
Karena, diltiazem diketahui menyebabkan efek samping konstipasi bagi
pasien setelah digunakan sekian lama dan terdapat interaksi antara diltiazem
dan atenolol, oleh karena itu diganti dengan obat yang titik tangkapnya
berbeda. Namun setelah berdiskusi dan mencari sumber literatur, diputuskan
bahwa obat diltiazem diganti menjadi obat chlortadilone yang merupakan
diuretik yang punya bukti menurunkan tekanan darah apabila di kombinasi
dengan atenolol
2. Sarah  Mengapa obat untuk konstipasi dipilih per rektal, dan bukan per
oral?
Jawaban :
Untuk di dapatkan efek yang lebih cepat dan tidak mempunyai efek terhadap
saluran pencernaan yang bisa berpotensi interaksi dengan obat hipertensi
3. Desta  Berapa batas penggunaan microlax? Apakah setiap merasa
kesulitan BAB boleh memakainya? Dan apakah ada kemungkinan muncul
efek samping?
Jawaban:
Microlax digunakan sekali pakai kemudian dibuang, batas pemakaiannya
satu kali, kemudian diharapkan pasien diharapkan sudah dapat BAB dengan
normal karena diltiazem juga sudah diganti sehingga kemungkinan efek
samping tidak muncul, Namun apabila masih terjadi konstipasi bisa di
konsultasikan pemakaian microlax kepada dokter
4. Dea  Tambahan untuk informasi memperbanyak konsumsi sayur hijau yang
kaya serat dan meningkatkan konsumsi air putih (8-10 gelas belimbing per
hari)
5. Lydia  Mengapa obat untuk konstipasi dipilih per rektal, dan bukan per oral?
Padahal microlax tidak murah, kurang nyaman digunakan, dan perlu
pemantauan saat digunakan karena merupakan sediaan khusus.
Jawaban:
Untuk di dapatkan efek yang lebih cepat dan tidak mempunyai efek terhadap
saluran pencernaan yang bisa berpotensi interaksi dengan obat hipertensi
6. Rizka  untuk pasien 54 tahun, apakah tidak apa-apa kalau harus menunggu
reaksi obat 15-30 menit?
Jawaban :
Obat konstipasi microlax memang seharusnya dipergunakan 15-30 menit
sebelum BAB, karena pasien konstipasi tidak seperti pasien biasa yang bisa
langsung buang air besar, maka seharusnya tidak masalah kalau digunakan
15-30 menit sebelum BAB