Anda di halaman 1dari 4

Bakteri patogen Escherichia coli merupakan bakteri yang biasa ditemukan di saluran cerna dan

sering kali mengkontaminasi saluran air pembuangan. E. coli menjadi salah satu indikator
kontaminan standar di dalam meriksaan segala jenis makanan dan minuman. Menurut standart
Nasional Indonesia (SNI) syarat e. Coli dalam minuman yang aman dikonsumsi adalah (nol) koloni
per 100 ml. Terdapat 3 jenis bakteri E. coli yang menjadi fokus penelitian di dunia, yaitu ETEC,
EHEC, dan EIEC. Enterotoxigenic E. coli dapat menyebabkan gastorenteritis pada balita,
mengakibatkan jutaan balita menderita dan atau meninggal. ETEC seringkali menjangkiti negara-
negara berkembang. Enterohemorrhagic E.coli merupakan jenis E. coli yang diketahui telah
banyak mengkontaminasi bahan mentah makanan. Serotipe ETEC ini dapat menyebabkan sakit
perut bagian dalam, muntaber, adan sindrom hemolytic uremic. Enteroinvasive E. coli
menyerupai bakteri shigella. EIEC memiliki kemampuan bermultifikasi di dalam usus besar,
sehingga dapat menginfeksi saluran cerna hingga mengeluarkan darah.

Ventilasi rumah
Ventilasi rumah memiliki banyak fungsi. Fungsi pertama adalah untuk menjaga
pertukaran aliran udara dalam rumah tersebut agar tetap segar dan optimal. Hal ini
berarti keseimbangan O2 yang diperlukan untuk penghuni rumah tersebut tetap terjaga.
Kurangnya ventilasi dalam rumah akan menyebabkan kurangnya O2 dalam rumah
yang berarti kadar CO2 yang bersifat racun akan meningkat. Fungsi kedua adalah
untuk membebaskan udara dari bakteri-bakteri, terutama bakteri patogen. Ada dua
macam ventilasi yakni ventilasi alamiah dan ventilasi buatan. Ventilasi alamiah adalah
di mana aliran udara di dalam ruangan tersebut terjadi secara alamiah melalui jendela,
lubang angin maupun lubang yang berasal dari dinding dan sebagainya. Ventilasi
buatan adalah ventilasi yang menggunakan alat khusus untuk mengalirkan udara,
misalnya kipas angin dan mesin penghisap udara (AC). Ventilasi yang baik berukuran
10% sampai 20% dari luas lantai. Ventilasi yang baik akan memberikan udara segar
dari luar, suhu optimum 22-24°C dan kelembapan 60%

Jarak rumah-ternak
Lokasi tempat pemeliharaan diupayakan agar tidak terlalu dekat dengan bangunan
rumah dan memiliki sirkulasi udara yang baik serta mendapatkan pencahayaan
matahari secara maksimal, sehingga kondisi lokasi dapat terpelihara dalam kondisi
kering. Penataan letak bangunan kandang dan bukan kandang didalam lokasi usaha
peternakan ayam hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. jarak antara tiap-tiap kandang minimal 1 kali lebar kandang dihitung dari
tepi atap kandang
2. jarak terdekat antara kandang dengan bangunan lain bukan kandang
minimal 25 m;
3. bangunan-bangunan kandang, kandang isolasi, dan bangunan lainnya
harus ditata supaya aliran air, saluran pembuangan limbah, udara, dan
penghantar lain tidak menimbulkan pencemaran penyakit.

Etiologi skabies
Penyebab penyakit skabies sudah lama dikenal lebih dari 100 tahun yang lalu
sebagai akibat infestasi tungau yang dinamakan Acarus scabiei atau pada
manusia disebut Sarcoptes scabiei varian hominis. Sarcoptes scabiei
termasuk filum Arthropoda, kelas Arachnida, ordo Acarina, super famili
Sarcoptei

Faktor risiko
Faktor yang menunjang perkembangan penyakit ini antara lain sanitasi
lingkungan yang kurang baik, kumuh, hygiene yang buruk, pengetahuan yang
kurang, usia, jenis kelamin dan perkembangan demografi .
1. Pengetahuan
Menurut penelitian Pratiwi (2015) menunjukkan hubungan yang bermakna
antara tingkat pengetahuan dengan kejadian skabies
2. Personal hygiene
Personal hygiene ini ternyata merupakan faktor yang berperan dalam
penularan skabies.
3. Sanitasi lingkungan
terdapat perbedaan kejadian skabies yang bermakna antara seseorang yang
hidup dengan sanitasi lingkungan yang baik dengan seseorang yang hidup
dengan sanitasi lingkungan yang buruk.
4. Usia
Skabies menyerang semua ras dan kelompok umur dan yang tersering
adalah kelompok anak usia sekolah dan dewasa muda (remaja). Prevalensi
skabies pada populasi umum dan cenderung tinggi pada anak-anak serta
remaja terutama di negara-negara yang sedang berkembang.
5. Jenis kelamin
laki-laki lebih berisiko terkena skabies dari pada perempuan

Endemik
Penyakit-yang-umum yang terjadi pada laju yang konstan namun cukup
tinggi pada suatu populasi disebut sebagai endemik. Suatu infeksi
dikatakan sebagai endemik (dari bahasa Yunani en- di dalam + demos
rakyat) pada suatu populasi jika infeksi tersebut berlangsung di dalam
populasi tersebut tanpa adanya pengaruh dari luar.

IPLT
Pengolahan lumpur tinja yang digunakan pada IPLT menggunakan
pengolahan secara biologis dengan memanfaatkan mikroba
untuk menguraikan material organik yang berada
didalamnya. Mikroba sebagai makhluk hidup
menggunakan lumpur tinja sebagai sumber nutrien untuk
hidup dan berkembang biak. Oleh karena sifatnya sebagai
makhluk hidup, maka pengolahan limbah dengan mikroba
memerlukan kehati-hatian terkait dengan kualitas influent
yang masuk karena akan mempengaruhi kinerja mikroba.
Sebuah IPLT pada umumnya akan terdiri dari beberapa kolam,
yaitu:
1) Kolam/Bak Pengumpul
2) Kolam Anaerobik/Kolam Fakultatif
3) Kolam Maturasi
4) Kolam Pengeringan Lumpur
Adapun operasi dan pemeliharaan masing-masing adalah sebagai
berikut:
Operasional Kolam/Bak Pengumpul
Bak pengumpul telah dijelaskan pada bagian segingga sehingga
tidak akan diuraikan lagi. Namun, perlu diingatkan agar
pengaliran effluent dari bak pengumpul ke dalam kolam anaerobik
jangan sampai merusak lapisan kerak buih yang berfungsi untuk
mencegah keluarnya bau ke lingkungan di sekitar kolam.

Operasional Kolam Anaerobik /Kolam Fakultatif


Kolam anaerobik dapat diletakkan setelah bak pengumpul, atau
juga dapat berfungsi sebagai penerima apabila bak pengumpul
tidak ditemukan. Hal yang harus diperhatikan pada kolam ini
adalah:
Kolam ini beroperasi tanpa adanya oksiden terlarut DO (dissolved
oxygen)
Pembersihan terhadap screen harus dilakukan secara regular agar
tidak mengganggu pengisian kolam
Apabila pengoperasian bar screen secara otomatis maka perlu
diberikan oli/pelumas pada alat-alat mekanik
Tanaman disekitar tanggul kolam diusahakan pendek (tanaman
perdu) dan jangan sampai meluas ke dalam kolam
Buih (scum) dan alga dari kolam fakultatif dikurangi dan
dibersihkan
Inlet dan outlet dari kolam untuk pengaliran air harus bebas dari
akumulasi lumpur
Pemeriksaan rutin terhadap kerusakan tanggul akibat gangguan
binatang, dan apabila perlu ditambah dengan racun atau perangkap
binatang
Pemagaran untuk menghindari hal-hal yang mungkin terjatuh ke
dalam kolam

Operasional Kolam Maturasi


Penempatannya adalah setelah Kolam Fakultatif dengan proses
aerobik penuh sehingga kolam ini relatif dangkal (< 1 m) dan
mempunyai waktu tinggal (retention time) selama 5-7 hari.
Operasi dan pemeliharaannya adalah sebagai berikut:
▪ Inlet dan outlet harus dijaga kelancaran pengolahannya, dimana
inlet harus bebas dari lumpur
▪ Alga yang terbentuk tidak boleh tinggal dan harus dibuang dari
permukaan karena berpotensi menimbulkan bau
▪ Tidak boleh adanya tumbuhan/tanaman keras disektiar tanggul
kolam, namun rumput boleh asalkan disekeliling tanggung
▪ Pencatatan debit, kualitas efluen, inlet dan outlet dilakukan agar
proses dapat dikontrol dari segi kualitas (efluen, beban aliran
hidrolik dan organik) maupun kuantitas (kebocoran, dsb)
▪ Pemeriksaan rutin terhadap kerusakan tanggul akibat gangguan
binatang, dan apabila perluditambah dengan racun atau perangkap
binatang
Pemagaran untuk menghindari hal-hal yang mungkin terjatuh ke
dalam kolam