Anda di halaman 1dari 16

Praktikum Perpetaan Topografi

II. PETA TOPOGRAFI

2.1 Pengertian Peta Topografi


Peta topografi yaitu peta yang menggambarkan bentuk relief (tinggi rendahnya)
permukaan bumi. Dalam peta topografi digunakan garis kontur (countur line) yaitu
garis yang menghubungkan tempat-tempat yang mempunyai ketinggian sama.
Kelebihan peta topografi:
• Untuk mengetahui ketinggian suatu tempat.
• Untuk memperkirakan tingkat kecuraman atau kemiringan lereng.
Pernahkah Anda menggunakan dan melihat peta topografi? Ciri utama peta topografi
adalah menggunakan garis kontur. Untuk lebih jelas mengenai peta topografi dan
garis kontur dapat Anda lihat pada gambar 2.1, 2.2, dan 2.3.
Beberapa ketentuan pada peta topografi:
1. Makin rapat jarak kontur yang satu dengan yang lainnya menunjukkan daerah
tersebut semakin curam. Sebaliknya semakin jarang jarak antara kontur
menunjukkan daerah tersebut semakin landai.
2. Garis kontur yang diberi tanda bergerigi menunjukkan depresi (lubang/cekungan)
di puncak, misalnya puncak gunung yang berkawah.
3. Peta topografi menggunakan skala besar, antara 1 : 50.000 sampai 1 : 100.000.

II-1
Praktikum Perpetaan Topografi

Berikut ini beberapa contoh Peta topografi.

Gambar 2.1. Garis kontur dengan interval (jarak antara 2 kontur) 40 meter.

Gambar 2.2. Jarak kontur.


Berdasarkan jarak antara kontur dan tanda pada kontur, Anda dapat menyimpulkan
bahwa: Pada peta 1A adalah daerah curam karena jarak antara garis konturnya rapat
dan B adalah daerah landai karena jarak konturnya jarang. Sedangkan pada peta 2,D
adalah daerah curam karena jarak konturnya rapat,E adalah daerah landai karena
jarak konturnya jarang, dan C adalah daerah depresi (lubang/cekungan) di puncak
karena diberi tanda bergerigi.
Menunjukkan kenampakan gunung dengan puncaknya yang digambarkan menjadi
peta kontur. Pada gambar tersebut, A daerah curam, B daerah landai dan C daerah
cekungan di puncak.

II-2
Praktikum Perpetaan Topografi

Gambar 2.3 perubahan penurunan dari dari kenampakan akan menjadi peta kontur

2.2 skala Peta


Skala peta, dapat diartikan sebagai perbandingan (rasio) antara jarak dua titik pada
peta dan jarak sesungguhnya kedua titik tersebut di permukaan bumi atau di
lapangan, dan pada satuan yang sama. Skala peta adalah informasi yang mutlak harus
dicantumkan agar pemakai dapat mengukur jarak sesungguhnya pada peta. Misalnya
peta skala 1:250.000 artinya jarak 1 cm di peta sama dengan jarak 250.000 cm di
lapangan (jarak horizontal). Skala pada peta dapat ditulis dengan dua cara yaitu
dengan cara menulis skala angka atau skala garis, tentang macam-macam skala peta
ini akan dibahas terpisah pada postingan yang lain.
Rumus Skala Peta
Rumus skala peta digunakan untuk menentukan atau menghitung besar skala dari
suatu peta. Rumus ini sangatlah sederhana, hanya memuat perhitungan biasa. Kami
yakin semuanya dapat menggunakan rumus skala peta ini dengan baik. Seperti apa
rumusnya? Berikut ini adalah rumus mencari besar skala dari suatu peta:
Rumus Mencari Skala
Skala = Jarak pada peta : Jarak sesungguhnya.
Mari kita coba rumus skala peta di atas melalui contoh soal berikut ini:
Diketahui jarak kota A dan kota B dalam peta adalah 20 cm. Sedangkan jarak

II-3
Praktikum Perpetaan Topografi

sesungguhnya ketika diukur di lapangan adalah 200.000 cm. Berapakah besar


skalanya?
Jawab: Skala Peta = Jarak pada peta / jarak sesungguhnya = 20 cm : 200.000 cm = 1
: 2000.
Jadi, besar skala peta tersebut adalah 1 : 2000.
2.2.1 Skala Angka
Skala numerik atau angka adalah skala peta yang menggunakan angka atau
bilangan pecahan sebagai pembanding jarak. Skala ini dapat berupa
perbandingan cm maupun inchi berbanding mil. Di bawah ini, rumus standar
yang digunakan dalam perhitungan skala numerik.
JS = JPxS
Di mana JS adalah jarak sebenarnya JP adalah jarak pada peta
S adalah skala
Pada skala angka yang menggunakan satuan cm maka cara perhitungannya
adalah sebagai berikut.
Contoh
Skala 1: 50.000
Berarti 1 cm di peta = 50.000 cm pada jarak sebenarnya
= 500 m
= 0,5 km
Jadi 1 cm di peta sama dengan 0,5 km pada jarak sebenarnya. Untuk menghitung
jarak sebenarnya dari jarak yang ada di peta, digunakan rumus di atas.
2.2.2 Skala Batang
Skala grafis diletakkan di bagian tengah bawah dan untuk RBI umumnya
dinyatakan dalam kilometer. Skala grafis digambarkan dalam bentuk unit batang
disertai nilai per unit.
Contoh: satu unit batang mempunyai satuan panjang 2 km; satuan ini dapat
dibagi lagi menjadi 10 bagian. Jadi satu bagian kecil adalah 200 meter.

II-4
Praktikum Perpetaan Topografi

Gambar 2.4 Contoh Skala Grafis pada Peta

2.3 Garis Kontur


Garis Kontur – Pada pembahasan kali akan dijelaskan tentang pengertian garis
kontur pada peta, karakteristik garis kontur pada peta, macam-macam jenis garis
kontur pada peta, Rumus cara menghitung interval garis kontur pada peta.
Pengertian Garis Kontur (Contours)
Kontur (garis sama tinggi) adalah garis khayal di permukaan bumi yang
menghubungkan titik-titik yang sama tingginya dari atas permukaan laut yang
terdapat di peta topografi.
Garis-garis ini biasanya tidak lurus tetapi berbelok-belok dan tertutup, digambarkan
dengan warna cokelat (brown) di atas peta. Bentuk suatu kontur menggambarkan
bentuk permukaan bumi yang sebenarnya.
Kontur digambarkan dengan interval vertikal yang tetap, interval kontur adalah jarak
vertikal antara dua garis ketinggian yang ditentukan berdasarkan skalanya.
Besarnya interval kontur sesuai dengan skala peta dan keadaan di muka bumi.
Interval kontur selalu dinyatakan secara jelas di bagian bawah tengah di atas skala
grafis.
Tabel 2.1 perbandingan skala interval dan indeks kontur
Skala Peta Interval Kontur Indeks Kontur
1:10.000 5 meter 25 meter
1:25.000 12,5 meter 50 meter

II-5
Praktikum Perpetaan Topografi

1:50.000 25 meter 100 meter


1:100.000 50 meter 200 meter
1:250.000 100 meter 500 meter

Karakteristik Garis Kontur pada Peta


Daratan pada bumi ini terdiri dari berbagai bentuk, seluruh bentukan daratan tersebut
dapat digambarkan dengan menggunakan garis kontur. Penggambaran bentukan bumi
tersebut membuat pola-pola khusus pada garis kontur.
Selanjutnya pola-pola tersebut menjadi suatu karakter yang baku dalam
penggambaran kontur terhadap bentukan alam ini.
Diantara karakteristik dari kontur adalah sebagai berikut:
a. Garis-garis kontur pada peta topografi menggambarkan tinggi-rendahnya (relief)
permukaan bumi
b. Garis kontur menggambarkan bentuk tiga dimensi (3D) yang mempunyai unsur
panjang, lebar dan tinggi
c. Kontur bulat yang terkecil dari kontur-kontur yang ada merupakan puncakan dari
suatu gunung atau bukit
d. Kontur yang lebih rendah selalu mengelilingi kontur yang lebih tinggi, kecuali
untuk daerah khusus seperti depresi tanah
e. Kontur yang diberi garis-garis kecil (ticks) menyerupai buli mata merupakan
depresi tanah (cekungan) yang nilai ketinggian konturnya berkurang, seperti kawah
atau kaldera pada gunung api, dan danau.

II-6
Praktikum Perpetaan Topografi

Gambar 2.5 Proyeksi Penggambaran Kontur

f. Kontur tidak pernah saling berpotongan dan bercabang, jika kontur terlihat
bercabang atau berpotongan maka perpotongan dan percabangan tersebut terjadi
antara kontur dan lainnya (sungai atau jalan), dari segi warna akan terlihat jelas
berpotongan atau barcabang dengan bentukan lainnya
g. Punggungan gunung/bukit terlihat di peta sebagai rangkaian kontur menyerupai
berbentuk ‘U’ yang ujung lengkungannya selalu menjauhi puncak
h. Lembah terlihat di peta sebagai rangkaian kontur menyerupai berbentuk ‘V’ yang
ujung tajamnya menjorok ke dalam mendekati puncak, pada lembahan besar biasanya
terdapat aliran sungai
i. Kontur yang saling berhimpitan (2 kontur atau lebih) menunjukkan daerah yang
sangat curam, pada punggungan merupakan patahan/tebing dan pada lembahan
merupakan air terjun
j. Beda ketinggian antara kontur yang satu dengan yang lainnya/ interval kontur
(contour interval -CI-) adalah tetap walaupun kerapatan konturnya berubah-ubah
(rapat atau renggang). Perbedaan tinggi dua kontur yang berurutan adalah 1/2.000
dari skala.

Rumus Interval Kontur (CI = Contours Interval)

1/2.000 x penyebut skala = CI


Contoh :

II-7
Praktikum Perpetaan Topografi

Skala 1:25.000
Beda tinggi (contour interval) = 1/2.000 x 25.000 = 12,5 m
Skala 1:50.000
Beda tinggi (contour interval) = 1/2.000 x 50.000 = 25 m
k. Daerah datar/landai mempunyai kontur renggang/jarang-jarang, sedangkan
daerahterjal/curam mempunyai kontur rapat-rapat
Contour index merupakan kontur tebal yang pada umumnya terdapat nilai ketinggian
konturnya.
l. Kontur bantu yang digambarkan putus-putus menyatakan setengah nilai ketinggian
dari interval kontur yang berurutan
m. Sadlle/pelana merupakan lembahan yang terletak di antara dua garis
ketinggian/kontur yang sama tingginya tetapi terpisah antara satu kontur dengan
kontur lainnya

2.3.1 interfal Kontur


Interval kontur adalah jarak tegak antara dua garis kontur yang berdekatan. Jadi
juga merupakan jarak antara dua bidang mendatar yang berdekatan. Pada suatu
peta topografi interval kontur dibuat sama, berbanding terbalik dengan skala peta.
Semakin besar skala peta, jadi semakin banyak informasi yang tersajikan, interval
kontur semakin kecil.
2.3.2 Indeks Kontur
Indeks kontur adalah garis kontur yang penyajiannya ditonjolkan setiap kelipatan
interval kontur tertentu; mis. Setiap 10 m atau yang lainnya. Rumus untuk
menentukan interval kontur pada suatu peta topografi adalah:
Interval Kontur = 1/2000 x skala peta
Cara penarikan kontur dilakukan dengan cara perkiraan (interpolasi) antara
besarnya nilai titik-titik ketinggian yang ada dengan besarnya nilai kontur yang
ditarik, artinya antara dua titik ketinggian dapat dilewati beberapa kontur, tetapi
dapat juga tidak ada kontur yang melewati dua titik ketinggian atau lebih. Jadi

II-8
Praktikum Perpetaan Topografi

semakin besar perbedaan angka ketinggian antara dua buah titik ketinggian
tersebut, maka semakin banyak dan rapat kontur yang melalui kedua titik tersebut,
yang berarti daerah tersebut lerengnya terjal, sebaliknya semakin kecil perbedaan
angka ketinggian antara dua buah titik ketinggian tersebut, maka semakin sedikit
dan jarang kontur yang ada, berarti daerah tersebut lerengnya landai atau datar.
Dengan demikian, dari peta kontur tersebut, kita dapat membaca bentuk medan
(relief) dari daerah yang digambarkan dari kontur tersebut, apakah daerah tersebut
berlereng terjal (berbukit, bergunung), bergelombang, landai atau datar.

2.4 Penafsiran Peta Topografi


Membaca dan menafsirkan peta pada hakekatnya mempelajari/menganli medan
melalui berbagai simbol-simbol yang ada pada peta. Berdasarkan simbol-simbol yang
telah di analisis maka akan diperoleh kesimpulan. Dari kesimpulan tersebut dapat
diberikan penafsiran yang berhubungan dengan ubsur-unsur gografis lainnya.
Beberapa faktor yang dapat dibaca pada peta antara lain sebagai berikut :
1. Kenampakan pokok
Berbagai kenampakan pokok dalam peta dapat kita baca dan tafsirkan dari simbol-
simbol yang terdapat pada peta. Kenampakan pokok pada peta mencakup
kenampakan alam, sosial dan ekonomi. Berbagai kenampakan tersebut terwakili
secara sederhana oleh simbol yang telah dibuat, misalnya :
 Kota, puncak gunung, pelabuhan, bandara yang diwakili oleh simbol titik
 Sungai, jalan, batas wilayah yang diwakili oleh simbol garis
 Danau, waduk, lahan pertanian yang diwakli oleh simbol area
2. Jarak

II-9
Praktikum Perpetaan Topografi

Suatu kenampakan pokok pada peta dapat kita baca jaraknya dengan menggunakan
informasi skala yang sudah terdapat pada peta. Beberapa hal yang dapat kita ketahui
jaraknya misalnya :
a. Jarak lurus pada obyek antar titik.
Jarak lurus pada obyek antar titik pada peta dapat dapat kita hitung jarak lurusnya
dengan menghubungkan kedua titik tersebut dengan garis khayal.
b. Jarak berkelok pada simbol garis
Jalan, batas dan sungai bukan merupakan garis yang lurus, sehingga untuk dapat
dihitung jarak sebenarnya dapat dengan menggunakan benang .
3. Arah
Untuk menentukan arah di lapangan kita dapat menggunakan alat bantu misalnya
orientasi pada peta dan kompas.
4. Lokasi
Lokasi suatu obyek pada peta dapat kita ketahui dengan beberapa cara antara lain :
 Pararel Meridian
 Jarak dan Jarak
 Arah dan Jarak
 Arah dan Arah
5. Ketinggian
Peta menyajikan informasi ketinggian yang dapat kita baca dan tafsirkan melalui
titik-titi triangulasi, titik ketinggian dan garis kontur.

2.4.1 Penafsiran Relief Muka Bumi


Pengertian relief muka bumi adalah bentuk tonjolan dan cekungan yang ada di
bumi, baik di darat maupun di laut. Relief muka bumi yang ada di bumi,
membentuk daerah- daerah dengan ekosistem yang berbeda- beda. Ekosistem
tersebut membentuk habitat berdasarkan lokasi serta bentuk daerah ekosistem
tersebut berada. Ekosistem yang berada di daerah yang menonjol akan berbeda
dengan ekosistem yang berada di daerah yang cekung. Bentuk tonjolan dan
cekungan itu terjadi akibat adanya dua tenaga pembentuk permukaan bumi. Dua

II-10
Praktikum Perpetaan Topografi

tenaga itu adalah tenaga eksogen dan tenaga endogen (baca: Tenaga Pembentuk
Muka Bumi dan Akibatnya).
1. Tenaga Endogen
Tenaga endogen adalah tenaga yang berasal dari dalam bumi (Baca: Macam-
macam Tenaga Endogen dan Penjelasannya). Tenaga ini terjadi akibat adanya
tekanan yang berasal dari panas bumi yang ada di dalam bumi. Tenaga ini dapat
keluar menjadi berbagai macam bentuk. Ada tiga tenaga endogen yaitu
tektonisme, vulkanisme dan seisme.
 Tektonisme adalah tenaga yang berasal dari dalam bumi. Tenaga ini
mengakibatkan adanya tenaga yang mendorong atau menarik permukaan bumi.
Tektonisme menyebabkan terjadinya lipatan atau patahan, yang membuat
cekungan atau tonjolan pada permukaan bumi.
 Vulkanisme adalah gerakan magma yang berada di dalam bumi. Magma di
dalam bumi adalah salah satu elemen panas yang ada di dalam inti bumi.
Magma akan naik ke permukaan yang tekanannya lebih rendah. Akibatnya
timbul ledakan dari gunung api.
 Seisme adalah gempa bumi. Gempa bumi terjadi akibat adanya gerakan di
dalam bumi, akibat proses patahan dan lipatan.
2. Tenaga Eksogen
Tenaga eksogen adalah tenaga yang berasal dari luar bumi (baca: Jenis Tenaga
Eksogen Pengubah Muka Bumi). tenaga eksogen adalah tenaga yang bertugas
mengubah tampilan bumi akibat dari tenaga endogen. Tenaga eksogen mengikis
atau mengubah dengan bantuan air, udara maupun gletser. Tenaga eksogen dapat
terjadi melalui:
 Sedimentasi atau pengendapan materi yang terbawa oleh angin, air maupun
gletser.
 Pengikisan yang dilakukan oleh angin, air atau gletser. Pengikisan ini dapat
berupa erosi atau abrasi.
 Denudasi adalah daratan yang semakin lama semakin rendah akibat dari
pengikisan oleh air atau angin.

II-11
Praktikum Perpetaan Topografi

 Pelapukan batuan atau pelapukan jasad makhluk hidup yang menyababkan


pengendapan materi sedimen
Akibat dari dua tenaga pembentuk muka bumi, permukaan bumi menjadi tidak
rata. Perubahan permukaan bumi tidak terjadi hanya sekali, melainkan akan terus
terjadi selama bumi masih ada. Akibatnya perubahan relief permukaan bumi juga
terjadi pada pola hidup makhluk yang ada di atasnya. Perubahan tersebut
menjadikan pembentukan ekosistem baru. Bumi terdiri dari daratan dan lautan.
Kedua bagian bumi ini adalah hasil dari perubahan relief muka bumi. Relief
daratan maupun lautan juga mengalami tonjolan maupun cekungan, dan
membentuk dearah- daerah baru.
Relief Muka Bumi Daratan

Gambar 2.6 Relief Daratan


Relief muka bumi daratan adalah relief permukaan bumi yang terjadi di daratan
(Baca: Pengertian Relief Daratan Beserta Contohnya).. Permukaan bumi di daratan
mengalami tonjolan maupun cekungan, yang membentuk daerah baru, dan
melahirkan ekosistem yang lain. Relief muka bumi di daratan adalah relief yang
paling tampak dan dapat langsung di lihat.
Relief daratan memiliki banyak ekosistem. Hal ini diakibatkan bentuk bumi
daratan memiliki bentuk dan daerah yang berbeda- beda. Ekosistem di darat
seperti ekosistem sungai, ekosistem danau, ekosistem gurun, atau ekosistem hutan
seperti hutan hujan tropis maupun hutan musim. Terdapat 7 penampakan relief
muka bumi di darat akibat tenaga pembentuk muka bumi. Semua bentuk
penampakan ini dapat mengalami perubahan dengan seiring berjalannya waktu.

II-12
Praktikum Perpetaan Topografi

Perubahan tersebut juga akibat dari adanya tenaga eksogen maupun endogen.
Relief penampakan tersebut adalah gunung, pegunungan, dataran tinggi, dataran
rendah, sungai, rawa atau danau, dan pantai.
1. Gunung adalah salah satu relief permukaan bumi yang paling menonjol.
Gunung memiliki tinggi lebih dari 1000 m di atas permukaan laut. Gunung
dapat terbentuk akibat adanya lipatan dan patahan yang menekan kulit bumi ke
atas melalui tenaga di dalam bumi. selain itu akibat dari vulkanisme, dapat
membentuk gunung baru yang lebih rendah dari gunung pertama. Di dalam
peta, gunung disimbolkan dengan lambang segitiga. Lambang segitiga merah
melambangkan gunung aktif, dan lambang segitiga hitam melambangkan
gunung mati.
2. Pegunungan adalah jejeran gunung yang saling membentuk barisan sejajar yang
panjang. Pegunungan memiliki tinggi lebih dari 1000 m di atas permukaan laut.
Berbeda dengan pegunungan, perbukitan memiliki tinggi yang lebih rendah.
Tinggi dari perbukitan berkisar antara 200 hingga 300 m di atas permukaan
laut.
3. Dataran tinggi adalah dataran luas yang berada pada ketinggian 200 hingga
1000 m di atas permukaan laut. Dataran tinggi dapat terjadi akibat adanya
penumpukan materi sedimen, atau pengikisan gunung oleh air maupun angin.
dataran tinggi juga terjadi akibat dari sisa- sisa gunung api yang meletus, lalu
membentuk kaldera. Dataran tinggi pada peta digambarkan dengan warna
kuning atau coklat muda.
4. Dataran rendah adalah dataran luas yang berada pada ketinggian kurang dari
200 m di atas permukaan laut. Dataran rendah dapat terjadi akibat proses
sedimentasi yang di lakukan oleh alir sungai. Dataran ini juga bisa disebut
sebagai dataran aluvial. Dataran rendah juga bisa terjadi karena adanya patahan
atau lipatan yang menarik kulit bumi ke bawah.
5. Sungai adalah aliran air yang mengalir dari hulu ke hilir. Hulu biasanya berada
di gunung atau pegunungan yang mengalir ke bawah. Hulu berawal dari mata
air. Sedangkan hilir adalah tujjuan akhir dari sungai. Hilir biasanya menuju ke

II-13
Praktikum Perpetaan Topografi

laut. Sungai dapat mengalami penyempitan atau mengalami pemotongan sungai


terpotong akibat materi sedimen yang menumpuk.
6. Rawa aau danau adalah dataran yang tergenang oleh air. Dataran ini mengalami
penurunan atau mengalami cekungan ke bawah akibat patahan atau lipatan
yang dilakukan oleh bumi. saat deratan yang cekung ini terisi oleh air hujan,
maka terbentuklah rawa atau danay. Danau juga dapat terjadi akibat sisa- sisa
gunung api, danau ini di sebut sebagai danau kaldera.
7. Pantai adalah daratan yang berada paling dekat dengan laut. Garis pantai adalah
batasan antara daratan dan lautan. Pantai sendiri memiliki 4 jenis yaitu teluk,
tanjung, delta, dan gosong.
Relief Muka Bumi Lautan

Gambar 2.7 Relief Lautan


Relief muka bumi lautan adalah bentuk meninjol dan cekungan bumi yang terjadi
di laut. Proses terbentuknya relief di laut sama dengan yang terjadi di daratan.
Akibat dari tenaga eksogen dan endogen yang menyebabkan dasar laut memiliki
berbagai macam bentuk. Berbeda dengan di darat, permukaan di dasar laut dilihat
memalalui tingkat kedalaman dasar laut terhadap permukaan laut.
Relief permukaan laut juga memililki gunung dan pegunungan yang ada di dasar
laut. Yang membedakan adalah ekosistem yang ada di laut dan darat. Di laut
ekosistemnya di bedakan berdasarkan kedalaman dari permukaan laut. Laut yang
dangkal akan mendapatkan banyak matahari, sehingga jenis hewan di perairan ini
cenderung variatif. Sedangkan di laut dalam yang tidak mendapatkan cahaya

II-14
Praktikum Perpetaan Topografi

matahari, jumlah mahkluk hidupnya lebih sedikit. Relief permukaan bumi laut
memiliki 5 bentuk. Kelima bentuk tersebut adalah landasan kontinen, lereng
benua, tanjakan kontenantal, dasar laut dan gunung laut.
1. Landasan kontinental adalah landasan yang berada pada ketinggian kurang dari
200 meter dari permukaan laut. Landasan ini juga bisa disebut sebagai laut
dangkal atau dangkalan.
2. Lereng benua adalah kelanjutan dari landasan kontinental. Lereng ini berada
pada kedalaman lebih dari 200 m dari atas permukaan laut. Lereng benua dapat
memiliki kedalaman hingga 2 km. Di bumi sendiri, 13 persen dari total
permukaan bumi adalah lereng benua.
3. Tanjakan kontinental adalah transisi dari benua ke samudra. Pada tanjakan ini,
tempat akhir berkumpulnya materi sedimen yang terbawa oleh arus air laut dari
daratan. Akibabtnya, tenjakan ini memiliki tanjakan yang cukup curam.
4. Dasar laut adalah dataran di dasar laut yang berada pada kedalaman lebih dari
1000 m dari atas permukaan laut. Dataran ini juga bisa di sebut sebagai palung
laut. Dataran ini terjadi akibat tenaga bumi yang menarik kulit bumi ke bawah,
sehingga menghasilkan cekungan di dasar laut yang dalam. Bagian dari relief
bumi ini tidak mendaptkan sinar matahari, akibat dari lokasinya yang sangat
dalam.
5. Gunung laut adalah gunung yang berada di dalam laut. Gunung laut biasanya
berjenis gunung api. Gunung laut berada di dasar laut dan puncaknya terkedang
berada di atas permukaan laut. Gunung laut yang meletus di dalam laut dengan
kekuatan yang besar, dapat berpotensi timbulnya tsunami. Selain itu terdapat
pegunungan di dasar laut. Pegunungan ini adalah jejeran dari gunung- gunung
yang ada di dalam laut
2.4.2 Penafsiran Batuan
Peta geologi memberikan petunjuk tentang susunan lapisan batuan dan pada
umumnya memberikan informasi tentang formasi apa saja yang ada di daerah yang
dipetakan. Dasar untuk peta geologi biasanya adalah peta topografi. Peta geologi
adalah bentuk ungkapan data dan informasi geologi suatu daerah / wilayah /

II-15
Praktikum Perpetaan Topografi

kawasan dengan tingkat kualitas yang tergantung pada skala peta yang digunakan
dan menggambarkan informasi sebaran, jenis dan sifat batuan, umur, stratigrafi,
struktur, tektonika, fisiografi dan potensi sumber daya mineral serta energi yang
disajikan dalam bentuk gambar dengan warna, simbol dan corak atau gabungan
ketiganya.
Peta geologi memiliki informasi data geologi yang sangat diperlukan dalam
eksplorasi sumberdaya mineral dan migas dalam hal:
 Akurasi berupa ketelitian dalam hal memberikan setiap data geologi baik
permukaan maupun bawah permukaan.
 Kelengkapan informasi yang bisa diakses oleh pengguna.
 Keseragaman format (standardisasi) agar bisa digunakan semua pihak dan dapat
bertukar informasi dengan data lain yang terdapat di daerah yang sama.
 Format data (GIS) menjadi format dasar pada setiap peta geologi agar
memudahkan dalam penggunaannya secara global.
 Eksplorasi sumberdaya mineral (mineral-airtanah) & energi (migas
konvensional -unconventional).

II-16