Anda di halaman 1dari 13

KIPRAH ULAMA AWAL

DI NUSANTARA
ON 26 AUG 2016 BY NITAADIYATI30 IN MEDIA ISLAM

Penyebaran Islam dan perkembangan Islam di Nusantara yang dimulai sejak masuknya
Islam di Nusantara ini, tidak lepas dari dakwah-dakwah yang dilakukan oleh tokoh-tokoh
Islam, dan terus berkembang dengan datangnya para kaum perintis pembaruan Islam dari
daerah-daerah Timur.

Penyebaran Islam di Nusantara ini juga tidak bisa dipisahkan dari ajaran tasawuf. Bahkan
“Islam Pertama” yang dikenal di Nusantara ini sesungguhnya adalah Islam yang
disebarkan dengan pendekatan sufistik. Para penyebar Islam di Nusantara itu, umumnya
para da’i yang memiliki pengetahuan dan pengalaman tasawuf.

Mereka diantaranya adalah Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani, Nuruddin ar-Raniri,


Abd, dan banyak lagi yang lainnya. Mereka adalah orang yang sangat berpengaruh dalam
penyebaran Islam di Nusantara ini, khususnya di Aceh.

Pada makalah ini akan membahas beberapa tokoh yang disebutkan di atas terkait
bagaimana biografi, karya-karyanya dan pengaruhnya dalam merintis perkembangan
Islam di Nusantara.

 HAMZAH FANSURI

Hamzah Fansuri adalah seorang cendikiawan, ulama tasawuf, sastrawan, dan budayawan
terkemuka. Ia diperkirakan telah menjadi penulis pada masa Kesultanan Aceh diperintah
oleh Sultan Alauddin Riayat Syah Sayid al-Mukammal (1588-1604) maka dapat ditarik
benang merah jika Hamzah Fanshuri hidup antara pertengahan abad ke-16 hingga awal
abad ke-17. Ia berasal dari Fansur yakni sebuah kota pantai di barat Sumatera bagian
utara, arah ke selatan daerah Aceh (sekarang sebagian masuk dalam wilayah Sumatera
Utara). Ciri khas negeri Fansur itu adalah penghasil kapur barus yang sangat terkenal di
dunia pada saat itu. Ia sering melakukan perjalanan untuk menuntut ilmu, antara lain ke
Kudus, Banten, Johor, Siam, India, Persia, Irak, Mekah, Madinah, dan lain-lain. Setelah
pengembaraannya selesai, ia kembali ke Aceh dan mengajarkan ilmunya.

Pada mulanya ia berdiam di Barus lalu ke Banda Aceh, kemudian ia mendirikan dayah di
Oboh, Singkil.Hamzah Fansuri termasuk orang yang sangat gemar dan mementingkan
dalam mencari ilmu, terutama ilmu agama, khususnya tasawuf. Untuk itu, ia tidak segan-
segan berpergian jauh dalam waktu lama untuk tujuan itu. Namun, perjalanannya tidak
hanya untuk mencari ilmu pengetahuan tetapi juga untuk kepentingan amalan agama,
terutama berkaitan dengan ajaran tasawuf yang dianutnya. Hamzah Fansuri dapat
dikatakan tokoh tasawuf dari Aceh yang membawa faham wahdatul wujud. Ajaran
Hamzah Fansuri ini banyak bersumber dari pemikiran Ibnu Arabi. Ajaran wahdatul wujud
adalah ajaran yang meyakini bahwa Tuhan dapat bersatu dengan makhluknya atau serupa
dengan pengertian pantheisme. Jasanya yang paling menonjol dalam bidang pendidikan
adalah usahanya memperkaya bahasa Melayu menjadi bahasa ilmu pengetahuan yang
tidak kalah dengan bahasa-bahasa ilmu pengetahuan dunia lain. Oleh karena itu, Hamzah
Fansuri dianggap sebagai perintis penggunaan bahasa Melayu menjadi bahasa ilmu
pengetahuan yang hingga kini semakin berkembang pesat.

Dalam buku Hamzah Fansuri Penyair Aceh, Prof. A. Hasymi menyebut bahwa Syeikh
Hamzah Fansuri hidup dalam masa pemerintahan Sultan Alaidin Riayat Syah IV Saiyidil
Mukammil (997-1011 H-1589-1604 M) sampai ke permulaan pemerintahan Sultan
Iskandar Muda Darma Wangsa Mahkota Alam (1016-1045 H-1607-1636 M).

Dari berbagai sumber disebutkan bahwa Syeikh Hamzah al-Fansuri telah belajar berbagai
ilmu yang memakan waktu lama. Selain belajar di Aceh sendiri beliau telah mengembara
ke berbagai tempat, di antaranya ke Banten, bahkan sumber yang lain menyebut bahwa
beliau pernah mengembara keseluruh tanah Jawa, Semenanjung Tanah Melayu, India,
Parsi dan Arab. Dikatakan bahwa Syeikh Hamzah al-Fansuri sangat mahir dalam ilmu-
ilmu fikih, tasawuf, falsafah, mantiq, ilmu kalam, sejarah, sastra dan lain-lain. Dalam
bidang bahasa pula beliau menguasai dengan kemas seluruh sektor ilmu Arabiyah, fasih
dalam ucapan bahasa itu, berkebolehan berbahasa Urdu, Parsi, Melayu dan Jawa.

2. Syair-syair hamzah fansuri

Syair-syair Syeikh Hamzah Fansuri terkumpul dalam buku-buku yang terkenal, dalam
kesusasteraan Melayu / Indonesia tercatat buku-buku syairnya antara lain :

 Syair burung pingai

Bercerita tentang burung pinggai yang melambangkan jiwa manusia dan Tuhan. Dalam
syair itu, Hamzah Fansuri mengangkat satu masalah yang banyak dibahas dalam tasawuf,
yaitu hubungan satu dan banyak. Yang esa adalah Tuhan dengan alamnya yang beraneka
ragam.

 Syair dagang

Tentang kesengsaraan seorang anak dagang yang hidup di rantau.

 Syair burung pungguk

Bercerita tentang hubungan manusia dengan Tuhan.

 Syair sidang faqir


 Syair ikan tongkol
 Syair perahu

Melambangkan tubuh manusia sebagai perahu layar di laut. Pelayaran itu penuh
marabahaya. Apabila manusia kuat memegang keyakinan akan Tuhan maka dapat dicapai
suatu tahap yang menunjukkan tidak adanya perbedaan antara Tuhan dengan hambanya.

Karangan-karangan Syeikh Hamzah Fansuri yang berbentuk kitab ilmiah antara lain :

 Asfarul ‘arifin fi bayaani ‘ilmis suluki wa tauhid


 Syarbul ‘asyiqiin
 Al-Muhtadi
 Ruba’i Hamzah al-Fansuri
Karya-karya Syeikh Hamzah Fansuri baik yang berbentuk syair maupun berbentuk prosa
banyak menarik perhatian para sarjana baik sarjana barat atau orientalis barat maupun
sarjana tanah air. Yang banyak membicarakan tentang Syeikh Hamzah Fansuri antara lain
Prof. Syed Muhammad Naquib dengan beberapa judul bukunya mengenai tokoh sufi ini,
tidak ketinggalan seumpama Prof. A. Teeuw juga r.O Winstedt yang diakuinya bahwa
Syeikh Hamzah Fansuri mempunyai semangat yang luar biasa yang tidak terdapat pada
orang lainnya. Dua orang yaitu J. Doorenbos dan Syed Muhammad Naquib al-Attas
mempelajari biografi Syeikh Hamzah Fansuri secara mendalam untuk mendapatkan Ph.D
masing-masing di Universitas Leiden dan Universitas London. Karya Prof. Muhammad
Naquib tentang Syeikh Hamzah Fansuri antaranya :

 The Misticim of Hamzah Fansuri (disertat 1966), Universitas of Malaya Press 1970
 Raniri and The Wujudiyah, IMBRAS, 1966
 New Light on Life of Hamzah Fansuri, IMBRAS, 1967
 The Origin of Malay Shair, Dewan Bahasa dan Pustaka, 1968[1][3]

Menurut beberapa pengamat sastra sufi, sajak-sajak Syaikh Hamzah al-Fansuri tergolong
dalam Syi’r al- Kasyaf wa al-Ilham, yaitu puisi yang berdasarkan ilham dan
ketersingkapan (kasyafi yang umumnya membicarakan masalah cinta Ilahi).

3. Pemikiran Hamzah Fanzuri

Di bidang keilmuan Syeikh Hamzah Fansuri telah mempelajari penulisan risalah tasawuf
atau keagamaan yang demikian sistematis dan bersifat ilmiah. Sebelum karya-karya
Syeikh muncul, masyarakat muslim Melayu mempelajari masalah-masalah agama,
tasawuf dan sastra melalui kitab-kitab yang ditulis di dalam bahasa Arab atau Persia. Di
bidang sastra Syeikh mempelopori pula penulisan puisi-puisi filosofis dan mistis bercorak
Islam, kedalaman kandungan puisi-puisinya sukar ditandingi oleh penyair lan yang
sezaman ataupun sesudahnya. Penulis-penulis Melayu abad ke-17 dan 18 kebanyakan
berada di bawah bayang-bayang kegeniusan dan kepiawaian Syeikh Hamzah Fansuri. Di
bidang kesusastraan pula Syeikh Hamzah Fansuri adalah orang pertama yang
memperkenalkan syair, puisi empat baris dengan skema sajak akhir a-a-a-a syair sebagai
suatu bentuk pengucapan sastra seperti halnya pantung sangat populer dan digemari oleh
para penulis sampai pada abad ke-20.

Di bidang kebahasaan pula sumbangan Syeikh Hamzah Fansuri sukar untuk dapat di
ingkari. Pertama, sebagai penulis pertama kitab keilmuan di dalam bahasa Melayu,
Syeikh Hamzah Fansuri telah berhasil mengangkat martabat bahasa Melayu dari
sekedar lingua franca menjadi suatu bahasa intelektual dan ekspresi keilmuan yang
canggih dan modern. Dengan demikian kedudukan bahasa Melayu di bidang penyebaran
ilmu dan persuratan menjadi sangat penting dan mengungguli bahasa-bahasa Nusantara
yang lain, termasuk bahasa Jawa yang sebelumnya telah jauh lebih berkembang. Kedua,
jika kita membaca syair-syair dan risalah-risalah tasawuf Syeikh Hamzah Fansuri, akan
tampak betapa besarnya jasa Syeikh Hamzah Fansuri dalam proses Islamisasi bahasa
Melayu dan Islamisasi bahasa adalah sama dengan Islamisasi pemikiran dan kebudayaan.

Di bidang filsafat, ilmu tafsir dan telaah sastra Syeikh Hamzah Fansuritelah pula
mempelopori penerapan metode takwil atau hermeneutikakeruhanian, kepiawaian Syeikh
Hamzah Fansuri di bidang hermeneutika terlihat di dalam Asrar al-‘arifin (rahasia ahli
makrifat), sebuah risalah tasawuf klasik paling berbobot yang pernah dihasilkan oleh ahli
tasawuf nusantara, disitu Syeikh Hamzah Fansuri memberi tafsir dan takwil atas puisinya
sendiri, dengan analisis yang tajam dan dengan landasan pengetahuan yang luas
mencakup metafisika, teologi, logika, epistemologi dan estetika. Asrar bukan saja
merupakan salah satu risalah tasawuf paling orisinal yang pernah ditulis di dalam bahasa
Melayu, tetapi juga merupakan kitab keagamaan klasik yang paling jernih dan cemerlang
bahasanya dengan memberi takwil terhadap syair-syairnya sendiri Syeikh Hamzah
Fansuri berhasil menyusun sebuah risalah tasawuf yang dalam isinya dan luas cakrawala
permasalahannya.

SYAMSUDDIN AS-SUMATRANI

1. Biografi
Syamsuddin as-Sumatrani, nama lengkapnya adalah Syekh Syamsuddin bin Abdillah as-
Sumatrani, sering pula disebut dengan Syamsuddian Pasai. Ia adalah ulama besar yang
hidup di Aceh pada beberapa dasawarsa terakhir abad ke-16 dan tiga dasawarsa pertama
abad ke-17. Menurut para sejarawan, penisbahan namanya dengan sebutan Sumatrani
ataupun Pasai mengisyaratkan adanya dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, orang
tuanya adalah orang Pasai (Sumatra). Dengan demikian maka dapat diduga bahwa ia
sendiri dilahirkan dan dibesarkan di Pasai. Jika pun ia tidak lahir di Pasai, maka
kemungkinan kedua bahwa sang ulama terkemuka pada zamannya ini telah lama
bermukim di Pasai bahkan ia meninggal dan dikuburkan di sana. Ia adalah Syaikhul
Islam di Kesultanan Aceh pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1670-1636).
Sebagai seorang ulama Tasawuf ia memiliki banyak pengikut.

Bersama Hamzah Fansuri, Syamsuddin merupakan tokoh aliran wujudiyyah (penganut


aliran wahdatul wujud). Mengenai hubungan Hamzah Fansuri dengan Syamsuddin
Sumatrani, sejarawan A. Hasjmy cenderung memandang Syamsuddin Sumatrani sebagai
murid dari Hamzah Fansuri. Pandangannya ini diperkuat dengan ditemukannya dua karya
tulis Syamsuddin Sumatrani yang merupakan ulasan (syarah) terhadap pengajaran
Hamzah Fansuri. Tidak banyak literatur yang dapat mengungkapkan identitas
Syamsuddin dengan rinci, kecuali beberapa kitab lama seperti Hikayat Aceh dan Bustan
as-Salatin karangan Nuruddin ar-Raniri (w. 1658/1069). Kitab ini banyak menguraikan
para ulama yang datang dan mengajar di Aceh pada abada ke-16 dan ke-17, buku-buku
yang meraka karang, serta ilmu-ilmu yang diajarkan.

2. Karya-karya syamsuddin as-sumatrani

Syamsuddin menulis banyak buku berbahasa Arab dan Melayu (dengan judul bahasa
Arab). Karya tulis ini tidak banyak diketahui karena telah dibakar oleh Nuruddin ar-
Raniri atas perintah Sultan Iskandar Tsani (1636-1641). Ajaran Syamsuddin dan Hamzah
Fansuri ditentang oleh Nuruddin ar-Raniri karena dinilai sesat serta dianggap sebagai
ajaran panteisme. Kitab-kitab Syekh Syamsuddin yang ditemukan juga tidak lengkap. Di
antara bukunya adalah Mirat al-Mu’min (Warisan orang yang beriman) dan Mirat al-
Muhaqiqina (warisan orang yang yakin).

Karya-karya yang lain meliputi :

 Jawahirul Haqaaiq
 Tanbiihut Thullab fi Ma’rifat Maliki Wahhab
 Risaalatu Baiyin Mulahazat al-Muwahhidiin Muhtadi fi Zikrillahi
 Kitabul Harakah
 Nurud Daqaaiq

Hawash Abdullah membagi beberapa kategori buku karangan Syamsuddin dalam


beberapa kelompok. Kelima kitab di atas merupakan kitab karangan Syamsuddin dalam
bahasa Arab, selain itu ada kitab yang ditulis dalam bahasa Melayu serta beberapa kitab
yang belum dapat diidentifikasi ditulis dalam bahasa Arab atau Melayu.

3. Pemikiran dan Pengaruh Syamsuddin as-Sumatrani

Nuruddin ar-Raniri, dalam Bustan as-Salatin menuliskan bahwa Syeikh (Syamsuddin as-
Sumatrani) itu alim pada segala ilmu dan ialah terkenal pengetahuannya pada Tasawuf
dan beberapa kitab yang dita’lifkannya. Paham Tasawuf Wujudiyyah Syamsuddin
menyatakan bahwa wujud hakiki itu hanya satu, yaitu wujud Tuhan. Wujud makhluk
tidak ia ingkari, tapi bila dibandingkan dengan wujud hakiki (Tuhan), wujud makhluk
hanya seperti bayangan saja dari wujud Tuhan. Sebagai wujud bayangan, makhluk ini
tidaklah berwujud karena dirinya sendiri, tetapi bergantung kepada wujud Tuhan. Ia
(Syamsuddin) juga mengingatkan para muridnya tentang perbedaan paham muwahhid
yang benar dengan paham kaum sesat (zindik). Menurut pandangan yang dianutnya,
seorang yang arif hanya menafikan (meniadakan) makhluk, takkala ia berada pada
martabat (taraf) fana, sedangan menurut pandangan yang kedua (sesat), makhluk
ditiadakan karena wujud Tuhan diyakini berada dalam kandungan makhluk itu.

Beberapa pandangan as-Sumatrani sebagai berikut; pertama, Tuhan adalah wujud yang
awal, sumber dari segala wujud dan kenyataan satu-satunya. Kedua, Zat adalah wujud
Tuhan, Ia adalah kesempurnaan dalam kemutlakan yang tinggi, sesuatu yang di luar
kemampuan manusia untuk memikirkannya. Zat itu wujud dan asal dari segala yang ada.
Wujud yang ada ini tidak berbeda dengan wujud Allah SWT. Wujud Allah mencakup
baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Ketiga, hakikat zat dan sifat dua puluh
adalah satu. Jadi zat itu adalah sifat. Selanjutnya dia mengungkapkan bahwa sifat Allah
kadim dan baqa, sedangkan sifat manusia fana. Allah SWT ada dengan sendirinya,
sedangakan manusia dibuat dan tidak ada. Hal ini seperti orang melihat cermin dengan
rupa yang terbayang dalam cermin; orang yang melihat cermin itu kadim sedangkan rupa
dalam cermin itu muhdat (baru diciptakan) serta fana. Kelima, ajaran wujud tercakup
dalam martabat tujuh, yang pada dasarnya seperti paham martabat tujuh al-Burhanpuri.
Pemikiran Syamsuddin selanjutnya dalah mengenai tafsiran kalimat syahadat seperti
kaum wujuddiah yang lain. Terakhir adalah pandangannya mengenai orang yang
memiliki ma’rifah (pengetahuan) yang sempurna adalah orang yang mengatahui aspek
perbedaan (tanzih), dan aspek kemiripan (tasybih) antara Tuhan dengan makhluk-Nya.
Adapun martabat tujuh yang dikembangkan syamsuddin itu meliputi:
martabat ahadiyyah (tanpa pembeda), martabat wahdah (pembedaan yang pertama),
martabat wahidiyyah (pembedaan yang kedua), martabat alam arwah (pangkal segala
nyawa), martabat alam mitsal (dunia ibarat), martabat alam ajsam (dunia kausal), dan
martabat alam insan (dunia kamil).

Pandangan Syamsuddin dalam Taswuf secara tidak langsung dipengaruhi oleh pola pikir
Ibn Arabi. Dia banyak belajar dari Hamzah Fansuri yang demikian kuatnya paham
wujudiah. Paham martabat tujuh inilah yang membedakan antara Syamsuddin Sumatrani
dengan gurunya Hamzah Fansuri, yang mana dalam ajaran Hamzah tidak ditemukan
pengajaran ini. Tetapi keduanya sangat menekankan pemahaman tauhid yang murni,
bahwa Tuhan tidak boleh disamakan atau dicampurkan dengan unsur alam. Dalam
pengajaran Hamzah Fansuri dikenal dengan la ta’ayyun. Sedangkan dalam pengajaran
Syamsuddin dikenal dengan aniyat Allah. Kedua ajaran Tasawuf ini dalam banyak aspek
tetap berpedoman pada sumber asalnya, yaitu ajaran Ibn Arabi maupun al-Jilli. Meskipun
demikian, Syekh Syamsuddin juga seorang yang sangat ahli di bidang lain. Hal ini terlihat
ketika ia menjabat sebagai penasihat keagamaan pada masa Sultan Iskandar Muda.
Pengetahuannya dalam bidang agama menjadikannya menempati posisi penting di
kerajaan.

NURUDDIN AL-RANIRI

1. Biografi

Syeikh Nur al-Din al-Raniri adalah seorang ulama yang terkenal dan masyhur. Beliau
tidak hanya terkenal di kalangan dunia Melayu saja, bahkan beliau juga terkenal di
kalangan pengarang-pengarang Barat. Beliau terkenal sebagai seorang pujangga dan
seorang ulama’, tetapi pengaruhnya lebih berkesan kepada Masyarakat Melayu
dalam bidang agama.

Nuruddin Ar-Raniri adalah negarawan, ahli fikih, teolog, sufi, sejarawan dan sastrawan
penting dalam sejarah Melayu pada abad ke-17. Nama aslinya adalah Nuruddin bin Ali
bin Hasanji bin Muhammad Hamid Ar-Raniri. Ia lahir di Ranir (Rander), Gujarat, India,
dan mengaku memiliki darah suku Quraisy, suku yang juga menurunkan Nabi
Muhammad SAW. Ayahnya adalah seorang pedagang Arab yang bergiat dalam
pendidikan agama.

Nuruddin adalah seorang polymath, yaitu orang yang pengetahuannya tak terbatas dalam
satu cabang pengetahuan saja. Pengetahuannya sangat luas, meliputi bidang sejarah,
politik, sastra, filsafat, fikih, dan mistisisme. Nuruddin mula-mula mempelajari bahasa
Melayu di Aceh, lalu memperdalam pengetahuan agama ketika melakukan ibadah haji ke
Mekah. Sepulang dari Mekah, ia mendapati bahwa pengaruh Syamsuddin as-Sumatrani
sangat besar di Aceh. Karena tidak cocok dengan aliran wujudiyah yang disebarkan oleh
Syamsuddin, Nuruddin pindah ke Semenanjung Melaka dan memperdalam ilmu agama
dan bahasa Melayu di sana.

Nuruddin Ar-Raniri diperkirakan datang ke Aceh pada tanggal 6 Muharram 1047 H (31
Mei 1658) pada masa pemerintahan Iskandar Thani. Yaitu setahun selepas Sultan
Iskandar Thani memerintah. Sebelum beliau belayar ke Aceh, beliau terlebih dahulu
pergi ke Pahang. Beliau pergi ke Pahang setelah beliau menamatkan pengajiannya di
Makkah. Pahang pada waktu itu berada di bawah taklukan Aceh, yang merupakan
sebuah kerajaan yang dikenali dengan Aceh Darussalam. Aceh pada waktu itu
merupakan sebuah pusatperdagangan, kebudayaan, politik serta pusat pengajian Islam
yang terkenal.

Pendidikan dasarnya dipercayai telah diperolehnya di tempat kelahirannya yaitu di Raniri


atau Rander yang berdekatan dengan Gujerat, India. Setelah mendapatkan pendidikan
awal dan menguasai sejumlah ilmu di Raniri, Ia berangkat ke Makkah dan Madinah pada
tahun 1030 H/1621 M.

Disana beliau sempat menjadi murid dan belajar kepada Syaikh Abu Hafs Umar Abd
Allah Ba Shaiban al-Tarimi al-Hadrami atau dikenali juga dengan nama lainnya iaitu
Sayyid Umar al-Aydrus. Dari ulama’ ini, beliau belajar dan mengambil bay’ah
Tariqah’iyyah. Syaikh dalam Tariqah Rifa’iyyah ini merupakan anak murid kepada
Syaikh Muhammad al-Aydrus.

Selain daripada Tariqah Rifa’iyyah, Syaikh Nur al-Din juga mengamalkan Tariqah
Qadariyah. Selain itu, beliau juga mempelajari Tariqah Aydarusiyyah, Tariqah
Shadhiliyyah dan Tariqah Suhrawardiyyah. Namun begitu, walaupun beliau mempelajari
banyak tariqah, beliau hanya diangkat sebagai khalifah dalam Tariqah Rifa’iyyah oleh
gurunya Ba Shayban.

Selama beliau tinggal dinegerinya Ranir dan selama bermukim di Tanah Arab, Nuruddin
ar-Raniri telah belajar bahasa Melayu, karena kedudukan bahasa Melayu pada waktu itu
sangat penting sebagai bahasa penghubung di Asia Tenggara, bahkan sampai ke Asia
Timur, sehingga sebelum hijrah ke Tanah Melayu dan Aceh, Nuruddin telah menguasai
bahasa Melayu dengan baik.

2. Karya-karya Nuruddin ar-Raniri


Nuruddin Ar-Raniri banyak menghasilkan tulisan yang bernilai tinggi baik berbahasa
Melayu Jawi dan karya berbahasa Arab dalam bebagai bidang. Karya karya beliau
mencakup bidang hadits, sejarah, perbandingan agama, fiqih, akidah, tasawwuf dan
bidang-bidang lain yang semuanya melebihi 30 buah buku. Beliau seorang ulama’
yang sangat berpengaruh dan mempunyai ilmu yang
tinggi terutama menerusi usahanya membenteras fahaman wujudiah yang berkembang
di nusantara pada ketika itu.

Karya-karya Nuruddin Ar-Raniri cukup banyak. Diantara karyanya yang telah diteliti dan
diterbitkan, yaitu:

1) Al-Sirat al-Mustakim. Kitab ini berisi ajaran tentng ibadah yakni shalat, puasa, zakat,
haji, hukum kurban, berburu, hukum halal dan haram dalam hal makanan); kitab ini
ditulis pada tahun 1044 H. (1634 M) dan selesai tahun 1054 H. (1644 M).

2) Durrat al-Fara’id bi Syarh al-‘Aqaid. Kitab ini mengenai akidah dan merupakan
saduran serta terjemahan dalam bahasa Melayu dari kitab Syarh al-‘aqaid an
Nasafiyyah karya Imam Sa’dudin al-Taftarani; ditulis sebelum tahun 1045 H (1635 M).

3) Hidayat al-Habib fi al Targhib wa al Tarhib. Kitab hadits ini berisi 831 haditsdalam
bahasa Arab dan Melayu. Kitab hadits ini mengenaibhadits untuk memuji pekerjaan yang
baik supaya orang menjauhkan diri dari pekerjaan jahat; ditulis pada tahun 1045 H. (1635
M). Dua kitab ini (no 2 dan 3),di tulis di semenanjung tanah Melayu dan dibawa ke
Aceh pada zaman Sultan Iskandar Tsani.

4) Bustan al-Salatin fi dzikr al-awwalin wa al-Akhirin.Ini adalah kitab sejarah yang


merupakan karya Nuruddin terbesar yang pernah dihasilkan orang dalam bahasa Melayu.
Kitab ini ditulis setelah Nuruddin berada di Aceh tujuh bulan lamanya, yaitu pada tanggal
17 Syawal 1047H (1637 M). mengenai kejadian tujuh petala langit dan bumi serta segala
nabi-nabi, raja-raja, dan mentri-mentri; yang kesemuanya terdiri dari tujuh bab.
5) Nubdzah fi da’wa al zhill ma’a sahibihi. Kitab ini ditulis dalam Bahasa Arab, dan
menerangkan perdebatan antara nuruddin ar-Raniri dan muridnya, Shams al-din mengenai
kesesatan ajaran Wujudiyyah.

6) Lata’if al-asrar (Kehalusan Rahasia).Kitab ini ditulis dalam Bahasa Melayu , yang
membahas mengenai ajaran tasawuf.

7) Asrar al-Insan fi Ma’rifat al-Ruh wa al-Rahman. Kitab ini ditulis dalam Bahasa
Melayu dan Arabyang membahas mengenai manusia, terutama ruh,sifat, dan hakikatnya,
serta hubungan manusia dengan Tuhan.

Selain yang disebutkan di atas, masih banyak lagi beberapa karya yang diterbitkan.

3. Pemikiran dan Pengaruh Nuruddin ar-Raniri

Al-Raniri merupakan sosok ulama yang memiliki banyak keahlian. Dia seorang sufi,
teolog, faqih (ahli hukum), dan bahkan politisi. Keberadaan Al-Raniri seperti ini sering
menimbulkan banyak kesalahpahaman, terutama jika dilihat dari salah satu aspek
pemikiran saja. Maka sangat wajar, jika beliau dinilai sebagai seorang sufi yang sibuk
dengan praktek-praktek mistik, padahal di sisi lain, Al-Raniri adalah seorang faqih yang
memiliki perhatian terhadap praktek-praktek syariat. Oleh karena itu, untuk
memahaminya secara benar, haruslah dipahami semua aspek pemikiran, kepribadian dan
aktivitasnya.

Keragaman keahlian Al-Raniri dapat dilihat kiprahnya selama. di Aceh. Meski hanya
bermukim dalam waktu relatif singkat, peranan Al-Raniri dalam perkembangan Islam
Nusantara tidak dapat diabaikan. Dia berperan membawa tradisi besar Islam sembari
mengeliminasi masuknya tradisi lokal ke dalam tradisi yang dibawanya tersebut. Tanpa
mengabaikan peran ulama lain yang lebih dulu menyebarkan Islam di negeri ini, Al-
Ranirilah yang menghubungkan satu mata rantai tradisi Islam di Timur Tengah dengan
tradisi Islam Nusantara.
Bahkan, Al-Raniri merupakan ulama pertama yang membedakan penafsiran doktrin dan
praktek sufi yang salah dan benar. Upaya seperti ini memang pernah dilakukan oleh para
ulama terdahulu, seperti Fadhl Allah Al-Burhanpuri. Namun, Al-Burhanpuri tidak
berhasil merumuskannya dalam penjabaran yang sisternatis dan sederhana, malahan
membingungkan para pengikutnya, sehingga Ibrahim Al-Kurani harus memperjelasnya.
Upaya-upaya lebih lanjut tampaknya pernah juga dilakukan oleh Hamzah Fansuri dan
Samsuddin Al-Sumaterani, tetapi keduanya gagal memperjelas garis perbedaan antara
Tuhan dengan alam dan makhluk ciptaannya.

Pemikiran-pemikiran ar-Raniri seperti yang dijelaskan di atas, ternyata mempunyai


pengaruh yang besar di seluruh Nusantara, sehingga peranan Nuruddin ar-Raniri dalam
perkembangan Islam di wilayah Melayu-Indonesia tak bisa diabaikan. Dia memainkan
peranan penting dalam membanwa tradiisi besar Islam-Sunni- ke wilayah ini dengan
mengalahkan kecendrungan kuat intrusi tradisi lokal ke dalam Islam. Tanpa mengabaikan
peranan ulama-ulama lain sebelumnya, ar-Raniri merupakan suatu mata rantai yang
sangat kuat, yang menghubungkan tradisi Islam di Timur Tengah dengan tradisi Islam di
Nusantara. Pemikiran Nuruddin ar-Raniri ini juga banyak diikuti murid-muridnya, dan
muridnya yang paling menonjol di Nusantara adalah al-Muqassari. Al-Muqassari sendir
secara tegas menyatakan bahea ar-Raniri adalah syaikh dan gurunya.

Oleh karena itu, dalam pandangan Al-Raniri, masalah besar yang dihadapi umat Islam,
terutama di Nusantara, adalah aqidah. paham immanensi antara Tuhan makhluknya
sebagaimana dikembangkan oleh paham Wujudiyyah merupakan praktek sufi yang
berlebihan. Mengutip doktrin Asy’ariyyah, Al-Raniri berpandangan bahwa antara Tuhan
dan alam raya terdapat perbedaan (mukhalkfah), sementara antara manusia dan Tuhan
terdapat hubungan transenden.