Anda di halaman 1dari 11

TUGAS REMEDIAL KEUANGAN PUBLIK

Evaluasi Kebijakan Dana Desa

Diajukan untuk memenuhi tugas remedial mata kuliah Keuangan Publik

Oleh :

Iqbal Amrullah (19)


NPM. 1302170929

DIPLOMA III AKUNTANSI

POLITEKNIK KEUANGAN NEGARA STAN

2018/2019
BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Pemerintah telah meluncurkan program Dana Desa sebagai salah satu
bentuk kontribusi dukungan langsung pemerintah kepada desa. Dimana Desa
selaku Entitas, mengelola dan mempertanggungjawabkan penggunaan Dana
Desa tersebut. Sejak disahkannya UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa,
kucuran Dana Desa yang pada awalnya hanya 9 Trilyun Rupiah telah menjadi 73
Trilyun Rupiah pada APBN 2019. Dimana setiap desa memperoleh dana 1 – 1,4
Milyar Rupiah.
Keberhasilan program ini tentunya menjadi harapan seluruh pihak, baik
masyarakat maupun pemerintah yang telah mengucurkan dana yang tidak sedikit.
Harapan agar perekonomian di desa dapat berkembang dan memberikan
manfaat bagi kemajuan masyarakat desa khususnya dan perekonomian nasional
secara umum.

2. Tujuan
Paper ini dibuat dengan tujuan untuk mengetahui cara pemerintah dalam
menilai keberhasilan Kebijakan Dana Desa, variabel – variabel apa saja yang
dapat menjadi indikator keberhasilan Dana Desa, dan mengutarakan pendapat
penulis terkait apakah Kebijakan Dana Desa ini berhasil beserta alasannya
dengan menggunakan data Statistik.

3. Rumusan Masalah
1) Bagaimana caranya pemerintah dapat menilai keberhasilan Kebijakan
Dana Desa ini?
2) Variabel – variabel apa saja yang dapat menjadi indikator
keberhasilannya?
3) Apakah Kebijakan Dana Desa ini berhasil?
BAB II
ISI

1. Dasar Teori

Melalui Nawacita, Presiden Joko Widodo mencanangkan program


pembangunan yang berorientasi pada penguatan daerah. Nawacita yang ketiga
tersebut adalah "Membangun Indonesia dari Pinggiran de-ngan Memperkuat
Daerah-Dae-rah dan Desa dalam Ke-rangka NKRI".

Untuk mewujudkannya, sejak tiga tahun terakhir telah dikucurkan dana besar
ke desa-desa melalui program dana desa. Dana Desa adalah dana yang
bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang diperuntukkan
bagi Desa dan Desa Adat yang ditransfer melalui Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah kabupaten/kota dan digunakan untuk membiayai
penyelenggaran pemerintahan, pembangunan, serta pemberdayaan masyarakat,
dan kemasyarakatan.

Desa merupakan representasi dari kesatuan masyarakat hukum terkecil yang


telah ada dan tumbuh berkembang se-iring dengan sejarah kehidupan
masyarakat Indonesia dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tatanan
kehidupan bangsa. Sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014
tentang Desa, Pemerintah mengalokasikan Dana Desa, melalui mekanisme
transfer kepada Kabupaten/Kota. Berdasarkan alokasi Dana tersebut, maka tiap
Kabupaten/Kota mengalokasikannya ke pada setiap desa berdasarkan jumlah
desa dengan memperhatikan jumlah penduduk (30%), luas wilayah (20%),
dan angka kemiskinan (50%). Hasil perhitungan tersebut disesuaikan juga
dengan tingkat kesulitan geografis masing-masing desa. Alokasi anggaran
sebagaimana dimaksud di atas, bersumber dari Belanja Pusat dengan
mengefektifkan program yang berbasis Desa secara merata dan berkeadilan.
Besaran alokasi anggaran yang peruntukannya langsung ke Desa ditentukan
10% (sepuluh perseratus) dari dan di luar dana Transfer Daerah (on top) secara
bertahap.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa
Yang Bersumber dari APBN, dengan luasnya lingkup kewenangan Desa dan
dalam rangka mengoptimalkan penggunaan Dana Desa, maka penggunaan
Dana Desa diprioritaskan untuk membiayai pembangunan dan pemberdayaan
masyarakat Desa. Penetapan prioritas penggunaan dana tersebut tetap sejalan
dengan kewenangan yang menjadi tanggungjawab Desa.

Menurut UU Desa, tujuan dari dana desa antara lain me-ningkatkan


pelayanan publik di desa, mengentaskan masyarakat dari kemiskinan,
memajukan perekonomian desa, mengatasi kesenjangan pembangunan
antardesa, serta memperkuat masyarakat desa sebagai subjek dari
pembangunan.

2. Pembahasan
Dana desa mulai dikucurkan pada 2015. Saat itu dianggarkan Rp20,7 triliun
dengan rata-rata setiap desa mendapatkan alokasi sebesar Rp280 juta. Pada
2016, dana desa meningkat menjadi Rp46,98 triliun dengan rata-rata setiap desa
mendapat Rp628 juta. Selanjutnya pada 2017 kembali meningkat menjadi Rp60
triliun dengan rata-rata setiap desa mendapat alokasi Rp800 juta.
Dana yang besar tersebut bertujuan untuk percepatan peningkatan
kesejahteraan masyarakat di daerah perdesaan. Setelah tiga tahun berjalan,
apakah dana desa telah efektif dalam mendongkrak percepatan kesejahteraan
masyarakat sesuai dengan yang diharapkan?
Cara untuk mengukur efektivitas dana desa dapat melalui perbandingan
pertumbuhan kesejahteraan masyarakat sebelum dan sesudah dana desa
dikucurkan yang dijabarkan melalui evaluasi output dan outcome, kinerja
penyaluran dan penggunaan, dan kendala dalam penyaluran dan penggunaan.
Indikator kesejahteraan yang digunakan antara lain indikator pengangguran,
kemiskinan, dan ketimpangan pendapatan.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), sebelum adanya dana desa
(2012-2014) rata-rata penurunan pengangguran pertahun sebesar 0,095%,
sedangkan setelah ada dana desa (2015-2017) rata-rata penurunan per tahun
sebesar 0,34%. Ternyata rata-rata penurunan angka pengangguran per tahun
lebih tinggi setelah dana desa dikucurkan.
Dengan kata lain penurunan angka pengangguran lebih efektif setelah
adanya dana desa yang juga berarti terjadi peningkatan lapangan kerja yang
cukup signifikan setelah dana dikucurkan bila dibandingkan dengan sebelumnya.
Sementara itu dari sisi indikator kemiskinan, rata-rata penurunan kemiskinan
per tahun sebelum adanya dana desa (2012-2014) sebesar 1,24%, sedangkan
setelah dana desa (2015-2017) sebesar 0,33%. Ternyata rata-rata penurunan
kemiskinan per tahun setelah dana desa dikucurkan malah lebih rendah daripada
sebelum dana desa dikucurkan sehingga dapat disimpulkan penurunan
kemiskinan setelah adanya dana desa belum efektif. Artinya dana desa belum
mampu mendongkrak daya beli masyarakat secara signifikan.
Selain melalui indikator pengangguran dan kemiskinan, efektivitas dana desa
juga dapat diukur melalui indikator ketimpangan, yaitu dengan rasio gini. Sebelum
bergulirnya dana desa (2012-2014), terjadi peningkatan rasio gini per tahun
sebesar 0,0005 poin, sedangkan setelah bergulirnya dana desa (2015-2017)
terjadi penurunan per tahun sebesar 0,0055 poin.
Artinya setelah dana desa bergulir, kesenjangan pendapatan masyarakat
semakin berkurang. Dari sisi ketimpangan, program dana desa menunjukkan
efektivitas yang lebih baik bila dibandingkan dengan sebelum program tersebut
bergulir.

Efektivitas dana desa dapat dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satu faktor
yang dapat menghambat keberhasilan program tersebut adalah terjadinya
penyimpangan dalam pengelolaannya. Dalam satu kesempatan, Presiden Joko
Widodo menyebutkan terdapat 900 kepala desa di Indonesia tersangkut kasus
penyalahgunaan anggaran dana desa pada 2017.
Menurut pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Laode Syarif, ada
enam modus penyimpangan dana desa, yaitu pengadaan barang dan jasa yang
tidak sesuai alias fiktif, mark-up anggaran yang tidak melibatkan masyarakat
dalam musyawarah desa, penyelewengan dana desa untuk kepentingan pribadi,
dan lemahnya pengawasan serta penggelapan honor aparat desa.
Menurut penulis, kebijakan dana desa ini dapat dibilang berhasil namun tidak
tanpa terkecuali. Alasan mengapa dana desa ini dapat dibilang berhasil adalah
karena terjadinya penurunan angka pengangguran dan penurunan rasio
ketimpangan yang menandakan tingkat kesejahteraan masyarakat meningkat.
Namun, disisi lain kendala yang dihadapi terutama masalah korupsi juga
menandakan Kebijakan Dana Desa ini tidak sepenuhnya berhasil, terbukti dari
adanya 900 kepala desa yang melakukan korupsi terhadap dana desa, angka
koruptor tersebut bukanlah angka yang sedikit apalagi dilakukan oleh kepala desa
yang seharusnya dapat menjalankan amanah dana desa ini dengan baik untuk
memajukan desa yang dipimpinnya.
BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan
Cara untuk mengukur efektivitas dana desa dapat melalui perbandingan
pertumbuhan kesejahteraan masyarakat sebelum dan sesudah dana desa
dikucurkan yang dijabarkan melalui evaluasi output dan outcome, kinerja
penyaluran dan penggunaan, dan kendala dalam penyaluran dan penggunaan.
Variabel – variabel yang dapat menjadi indikator keberhasilan Kebijakan
Dana Desa antara lain pengangguran, kemiskinan, dan ketimpangan pendapatan.
Kebijakan dana desa ini dapat dibilang berhasil namun tidak tanpa terkecuali.
Alasan mengapa dana desa ini dapat dibilang berhasil adalah karena terjadinya
penurunan angka pengangguran dan penurunan rasio ketimpangan yang
menandakan tingkat kesejahteraan masyarakat meningkat. Namun, disisi lain
kendala yang dihadapi terutama masalah korupsi juga menandakan Kebijakan
Dana Desa ini tidak sepenuhnya berhasil, terbukti dari adanya 900 kepala desa
yang melakukan korupsi terhadap dana desa

2. Saran
Ada dua sisi yang harus diantisipasi agar efektivitas dana desa lebih baik ke
depan, yakni dari sisi internal dan eksternal. Dari sisi internal, hal yang penting
adalah integritas dan kompetensi. Aparat desa harus memiliki integritas agar tidak
tergoda melihat dana yang besar untuk melakukan korupsi sehingga dana desa
dapat digunakan sepenuhnya untuk pembangunan. Aparat desa juga harus
meningkatkan kompetensinya agar bisa mengelola dana dengan baik dan
terhindar dari kesalahan yang tidak disengaja.
Dari sisi eksternal yang harus dioptimalkan adalah pendampingan dan
pengawasan. Pendamping desa harus mampu menjalankan fungsinya dalam
memberikan saran dan masukan kepada aparat desa sehingga terhindar dari
penyimpangan atau kesalahan. Pengawasan dimaksudkan agar pengelolaan
dana desa dilakukan sesuai dengan ketentuan. Pemberian sanksi harus dilakukan
untuk mengurangi terjadinya pelanggaran dan sebagai efek jera bagi yang berniat
tidak baik.
Kunci sukses desa untuk menyejahterakan masyarakat dalam membangun
desa adalah kuatnya sentuhan inisiasi, inovasi, kreasi, dan kerja sama antara
aparat desa dan masyarakat dalam mewujudkan apa yang menjadi cita-cita
bersama. Pembangunan desa tidak mungkin bisa dilakukan oleh aparat desa
sendiri, tetapi butuh dukungan, prakarsa, dan peran aktif dari masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA

Kementerian Keuangan Republik Indonesia. 2017. Buku Pintar Dana Desa: Dana
Desa Untuk Kesejahteraan Rakyat.

Kementerian Keuangan Republik Indonesia. 2017. Buku Saku Dana Desa: Dana
Desa Untuk Kesejahteraan Rakyat.

Wagiya, Sukaryo. 2018. Basis Data, Mengukur Keberhasilan Pembangunan Desa.


https://www.kompasiana.com/aryo3317/5b9a9130bde57563ea1a19e7/basis-
data-mengukur-keberhasilan-pembangunan-desa. Diakses pada 23 November
2018.

Maf. 2018. Mengukur Efektivitas Dana Desa.


https://nasional.sindonews.com/read/1284127/18/mengukur-efektivitas-dana-
desa-1519251295/15. Diakses pada 23 November 2018.

Sistem Informasi Pencairan Dana Desa Kabupaten Demak. 2016. Apa itu Dana
Desa. https://simperdededemak.wordpress.com/anggaran-dd-2/. Diakses pada
24 November 2018.

Alifah, Andin. 2018. Indikator Keberhasilan Dana Desa.


https://keuangan.co/isi/judul/4_Indikator_Keberhasilan_Dana_Desa. Diakses
pada 24 November 2018.