Anda di halaman 1dari 22

FX: Trader's Battlefield

Memahami Kenyataan
Saya mencoba untuk menulis pada thread ini, sesuatu yang mungkin saja sudah anda tahu, baca, atau pernah
dengar tentang dunia FX. Namun saya akan mengulasnya dari perspektif berbeda agar anda mendapat
informasi berimbang tentang dunia finansial khusunya trading FX. Thread ini merupakan komplementer dari
thread Analisa Supply dan Demand yang telah mulai saya bahas pada forum ini.

Telah lama saya melihat bahwa masih banyak miskonsepsi tentang FX, yang tercermin pada pertanyaan atau
komentar para trader. Hal ini bukanlah sesuatu yang baru, karena sudah menjadi rahasia umum bahwa
semakin sedikit yang anda tahu tentang dunia FX yang sebenarnya, semakin baik bagi pelaku industri ini.
Semoga thread ini dapat melengkapi pemahaman kita tentang dunia FX. Materi yang akan disampailan berasal
dari beberapa majalah keuangan seperti Barron's, Traders Magazine, Euromoney, Report BIS, literatur dari The
Fed of NY, serta beberapa buku trading yang saya pikir cukup representatif.

Forex trading telah menjadi magnet bagi para investor dan spekulator di seluruh penjuru dunia. Sudah banyak
buku dan literatur yang membahas tentang dunia FX, baik berupa pengenalan dasar, analisa, dan trading
system. Kebanyakan dari buku-buku ini ditulis oleh orang-orang yang memang berkompeten dalam bidangnya,
namun sayangnya mereka bukanlah pelaku yang terlibat langsung dalam day-to-day FX operational. Boleh
dibilang kebanyakan narasumber adalah outsider, sedikit sekali yang memang merupakan insider. Memang kita
mengalami kesulitan dalam memilah who's insider or outsider ini, hampir semuanya mengaku expert atau guru.

Salah satu miskonsepsi yang terbesar adalah bahwa FX ini merupakan bisnis yang elegan, padahal faktanya
trading FX tidak lebih dari "rumah jagal" dimana pembantaian terjadi setiap hari terutama bagi para pemula
yang dicincang tiap hari. Volume trading FX yang luar biasa besarnya, dimana setiap hari yang menang dan
kalah hanya dilihat dari P/L, menyebabkan bermunculannya literatur-literatur yang yang terkadang
menyesatkan malah sering menipu, yang memberi janji surga bahwa trading itu "mudah". Jika memang
sedemikian mudahnya trading FX ini, tentu kecil kemungkinan investor sekaliber Warren Buffet mengalami
kerugian sebesar $850 juta, atau spekulator kakap George "King" Soros yang rugi $600 juta sebanyak dua kali
pada tahun 1994. Apa mereka tidak membaca buku-buku trading FX? Jika legenda macam ini sampai
mengalami kerugian hingga milliaran juta dollar, apa yang membuat kita menganggap bahwa FX itu mudah?

Retail trader mungkin merasa ada "missing link" antara pengalaman trading sehari-hari dengan apa yang ditulis
oleh akademisi dengan sedikit pengalaman trading atau yang ditulis para scammer. Kita tahu bahwa FX market
sekarang ini telah menjangkau hampir tiap lapisan masyarakat dengan harapan besar untuk dapat menjadi
kendaaran menuju kekayaan. Namun ada yang dilupakan terutama oleh pemula, bahwasanya mereka
sebetulnya sedang menginjakan kaki ke medan tempur. Dimana telah bergelimpangan sebelumnya sisa-sisa
account trader beserta "sistem trading" yang genius.

Banyak disebut bahwa 90% trader tidak bertahan lama, tapi hal ini tidak akan anda temui dalam publisitas
broker FX. Untuk dapat meraih profit, retail trader harus menyadari bahwa secara fundamental pasar ini
dibangun oleh profesional dan bagi profesional, baik dari sisi konvensi maupun prosedur yang berlaku. Dalam
pasar dimana pengaruh retail dapat disebut kecil (walaupun terus tumbuh), harapan sukses banyak orang
dapat padam ditengah jalan. Broker FX retail yang kian menjamur, akan mengerahkan segenap upaya agar
anda mempercayai bahwa trading mata uang (currency) adalah bentuk investasi finansial kelas tinggi. Padahal
realitanya, kombinasi cara trading kebanyakan orang dan praktek bisnis yang kotor, membuat trading spot FX
lebih mirip seperti kasino di Las Vegas daripada yang terlihat di Wall Street. Tidak heran jika akhirnya banyak
kalangan yang menentang kegiatan trading FX ini. Dan banyak pula dari anda yang mendapat resistensi baik
dari keluarga maupun orang-orang terdekat. Karena bagi mereka, aspek gambling terlihat begitu mencolok.

Generasi baru broker FX online bisa disebut fotocopy dari atribut yang melekat pada kasino-kasino Vegas, yakni
peluang menang terbesar ada pada broker. Termasuk dalam hal ini:

1. "The house" selalu memiliki keuntungan (spread)


2. "The house" menjejali dan secara aktif mempromosikan ketamakan (dengan memberikan trading
signal, leverage yang berlebihan, platform trading yang keren padahal mirip slot machines)
3. "The house" mengadopsi berbagai macam teknik yang penuh kecurangan termasuk cheating dan
membatasi winning players.

Kesemua hal diatas adalah untuk memastikan bahwa "house" (broker) dalam jangka panjang selalu berada
selangkah di depan trader dan memetik keuntungan (money) dari semua basis klien-nya.

Dealer's in Da House

Sebenarnya banyak trader retail yang memiliki trading sistem yang mumpuni, tapi masih saja mencetak
banyak kerugian. Mereka melihat peluang profit, namun tidak mampu memetiknya. Rasanya seperti ada yang
tidak nyambung....tapi apa? Meskipun sudah mempelajari chart berjam-jam, melakukan berbagai analisa,
mempelajari formasi candle, dan melihat historical price, sangat jarang dari kita meluangkan waktu untuk
konsentrasi pada pembunuh nomor satu yakni dealer forex. Karakter bayangan yang mengincar spekulan kecil,
adalah mahluk yang memiliki andil besar mengubah winning trade menjadi losing trades dalam sekejap.

Baik kasino ataupun broker, memiliki orang-orang dengan kemampuan yang dapat mengubah peluang secara
agresif berpindah tangan. Mereka khususnya bertugas menghentikan laju kemenangan pemain dengan profit

1
banyak atau konsisten. Tindakan langsung dan memang disengaja ini dapat menghacurkan trading sistem yang
paling canggih sekalipun. Sering tidak anda melihat harga menyentuh stop, sebelum berbalik lagi dan
meninggalkan stop tersebut sebaga hi/lo hari itu? Bad luck? mungkin saja, tapi bagaimana jika hal ini terjadi
lebih dari satu kali? Pernah merasa bahwa seakan-akan market "sengaja mengincar" anda? hehehe...pada zero
sum game ini jawabnya adalah iya. Suka atau tidak suka, market ini memang tidak fair bagi klien kecil, nanti
kita bahas lebih lanjut.

Dealer adalah lawan tangguh dari trader retail, karena tindakan mereka berdasarkan informasi yang lebih baik.
Meskipun sulit, bukan berarti bahwa kita tidak memiliki peluang sama sekali. Bagaimanapun juga tindakan para
dealer ini sebenarnya dapat diprediksi dan dideteksi. Kita tahu apa yang mereka kejar (your money) dan kita
dapat memperkirakan cara mereka mengejarnya (running stops, price shading, fading moves, dll); yang kita
perlukan adalah cara mengeksploitasi aksi-aksi mereka ini. Ada beberapa cara untuk membantu anda dalam
identifikasi, menghindari jebakan, dan melakukan serangan balik. Teknik-teknik ini, umumnya dilakukan oleh
hegde fund dan CTA (Commodity Trading Advisor) dalam mengeksploitasi lubang yang ditinggalkan dealer,
dapat juga kita aplikasikan dalam kegiatan trading sehari-hari. Jangan salah, banyak uang yang dapat
diperoleh dalam trading FX ini. Menghindari jebakan yang disebar para dealer adalah salah satu cara untuk
meningkatkan kinerja P/L, namun bukan satu-satunya cara.

Market

Kita mengetahui bahwa pasar itu efisien, tapi tidak sempurna. Titik dimana buyer dan seller sepakat tidak
selalu mencerminkan "ekuilibrium". Semakin banyaknya hedge fund yang lapar arbitrase dapat dijadikan
indikator ketidak sempurnaan ini. Karena harga adalah ciptaan manusia yang mencerminkan bias realita
ekonomi, market dapat saja berada dalam kondisi disekuilibrium untuk periode waktu yang cukup lama. Orang-
orang yang bekerja day-to-day di market (trader, dealer, pit trader) menyadari bahwa, at least short run,
market dapat dimanipulasi dan menjadi sangat irrasional. Faktor psikologi (fear, greed, hope) dapat
menjungkar balikan realita ekonomi fundamental. Dan kita bisa yakini bahwa sepanjang ada faktor keterlibatan
manusia dalam pasar keuangan, maka pola perilaku yang menyimpang akan selalu muncul. Logika kadang
disingkirkan, sementara fear/greed/hope dikedepankan. Karena pada akhirnya, uang atau bonus adalah yang
menjadi target utama trader/money manager.

Trader yang mengabaikan pola perilaku ini dapat mengalami kesulitan saat berhadapan dengan pasar yang
bergejolak dan emosional. Salah satu ungkapan terkenal yang mencerminkan kondisi ini adalah: "The market
can stay irrational longer than you can stay solvent". Dan pasar keuangan memiliki kuburan yang dihuni oleh
trader yang terkapar oleh 1% pergerakan irrasional. Salah satu contohnya adalah legenda Hegde Fund, Julian
Robertson. Pada tahun 1990-an saat market yang irrasional karena demam teknologi terus menanjak naik
(tech buble), Robertson (secara rasional) melakukan fading moves (posisi berlawanan dengan arah pasar).
Yang terjadi kemudian adalah ia mengalami kerugian luar biasa, dana sebesar $22 billion menjadi $6 billion
hanya dalam satu malam. Kata-kata perpisahannya menggambarkan secara pas tentang kondisi ini:
"The key to Tiger's success over the years has been a steady commitment to buying the best stocks and
shorting the worst. In a rational environment, this strategy functions well. But in an irrational market, where
earnings and price considerations take a back seat to mouse clicks and momentum, such logic as we have
learned, does not count for much."

Dalam perspektif trader, ini berarti bahwa market always right. Kadang hal ini membuat kita bertanya-tanya:
siapa yang rasional dan siapa yang tidak rasional? Market hanya sekedar pasar yang dibutuhkan volatilitasnya,
karena disanalah kunci trader untuk mendapatkan profit. Sepanjang orang masih melakukan jual beli, short
term spekulator akan beraksi karena mereka tahu bahwa uang dapat diperoleh pada kedua sisi dagang ini.
Bear makes money, Bull makes money, Pig gets slaughtered. Yang dipedulikan hanyalah cara memaksimalkan
profit dengan mengantisipasi gerak harga berikutnya. Disinilah kita melihat mengapa akademisi serasa tidak
nyambung atau jauh dari realita, karena mereka terpisah dari trading floor of the world.

Market FX

Dari semua pasar keuangan, market FX mungkin yang paling murni dalam hal supply dan demand sebagai
penentu harga. Unregulated serta volume trading yang luar biasa bermakna bahwa intervensi pemerintah
hanya memiliki sedikit efek dan sesaat sifatnya. Bagaimanapun juga dengan turnover lebih dari $2 T, intervensi
tidak berdampak panjang karena pada akhirnya ratusan ribu trader di seluruh penjuru dunia lah, yang
bertindak selaku "invisble hand" dalam teori Adam Smith untuk menggerakan harga.

2
Market FX lebih sering dijadikan kendaraan untuk berbagai motivasi. Seorang protfolio manager di US yang
berencana membeli saham-saham Jepang atau sebuah perusahaan di Singapore yang ingin mengimpor barang
dari Indonesia dapat menjadi partisipan market FX. Namun transakasi mata uang yang dilakukan keduanya
bukanlah berdasarkan motivasi profit. Sang portfolio manager hanya memerlukan yen untuk membeli saham,
dan importir membutuhkan rupiah untuk membeli barang. Dari sinilah muncul peluang arbitrase, yang
dieksploitasi oleh partisipan pasar yang lebih aktif. Coba amati distribusi turnover market FX secara geografis:

3
Untuk memahami motivasi bank terlibat dalam pasar ini, anda dapat melihatnya dari transaksi antara dealing
desk FX bank besar dengan prop trading group (bank kecil), dengan cepat anda akan melihat milyaran dollar
profit. Earning (pendapatan) off balance sheet adalah tujuan kebanyakan bank, dan spot dealing FX masuk
dalam kategori ini.

Karena angka-angka yang menggiurkan inilah yang membuat FX sebagai playground hanya bagi sedikit bank-
bank terbesar. Dan karena FX adalah sumber credit market, dominasi bank-bank ini sulit dipatahkan dan masih
akan berlanjut hingga tahun-tahun mendatang. Dari data BIS, 75% turnover terkonsentrasi pada industri
perbankan.

4
Dan menurut data dari euromoney hanya 10 bank yang mendominasi 72% turnover market FX. Inilah
predator-predator dalam lautan investasi:

Tidak seperti market lainnya, sebuah transaksi FX bukanlah pertukaran cash dengan aset lain (saham,
komoditi, obligasi), tetapi lebih merupakan pertukaran cash hari ini dengan imbalan cash pada periode
tertentu. Interbank market beroperasi berdasarkan prrinsip yang kurang lazim, dimana satu pihak bergantung
pada pihak lain untuk memenuhi kewajibannya tanpa memberikan fasilitas kredit. Bisa dibayangkan, dealing
macam ini akan sangat tergantung pada siapa yang memiliki credit rating tertinggi. Karenanya bank besar lebih
suka dealing dengan bank besar lainnya. Akibatnya, hanya sekelompok kecil bank komersial dan bank sentral
yang mengelola mayoritas turnover FX bagi kepentingan antar mereka sendiri. Anda bisa sebut hal ini sama
dengan istilah kartel.

Teknologi memang sedikit mulai menguak jaringan tradisional yang tertutup rapi ini, walau belum seperti yang
anda bayangkan. Banyak bank yang sekarang beroperasi baik melalui electronic dealing platform milik sendiri
atau menyediakan likuiditas melalui matching system. Produk dari EBS, Currenex, FXall, memungkinkan bank
untuk menjangkau basis klien dengan tetap memiliki kontrol penuh atas resiko yang mungkin timbul. Coba
pikir, siapa sih yang menjadi pemilik dari platform-platform ini? Realitanya adalah bahwa kelompok bank yang
sama inilah yang hingga saat ini tetap mengkontrol market FX.

Unfair Battlefield

Sejak awal, market FX didesign untuk memastikan bahwa "insider" memmiliki keunggulan yang cukup besar
terhadap "outsider". Karena sifat yang tertutup rapi dan kurangnya regulasi, market FX secara fundamental
merupakan market yang tidak adil (unfair) bagi kalangan non-profesional. Sebagai contoh, pada beberapa
negara berkembang, Citi atau UBS mungkin adalah satu-satunya penyedia likuiditas, jadi siapa saja yang ingin
berdagang mata uang "dipaksa" untuk menerima aturan main mereka. Posisi pemain dalam hirarki market FX
tergantung pada akses informasi dan kecepatan memperoleh data. Dan dengan tidak adanya clearing
house/exchange, maka akan menjadi sulit bagi non-profesional untuk mendapatkan informasi serta gambaran
akurat tentang kondisi pasar.

Seringkali keterbatasan ini, yang membuat kita berada dalam posisi yang mudah dimainkan. Disinilah letak
perbedaan FX dengan market keuangan tradisional lainnya. Apa yang seharusnya ilegal pada market lain, di FX
hal tersebut dianggap bagian dari permainan. Insider trading, fading moves, price shading, dll adalah hal
lumrah yang terjadi pada dunia FX, dan tidak memiliki implikasi hukum. Lihat saja kasus-kasus yang banyak
terjadi pada beberapa broker di negara kita, hampir semua broker lolos dari jerat hukum. Jarang sekali kita
melihat suatu kasus yang melibatkan konsumen dan brokernya berakhir di meja pengadilan. Posisi konsumen
berada dalam hirarki terbawah dan sangat tidak menguntungkan. Kasus penggelapan adalah salah satu contoh
yang lumrah, dan umumnya konsumen memliki daya tawar yang rendah. I might say there's no bargaining
power.

Tidak adanya pengawasan pemerintah dan sentralisasi data volume sebagai bahan perbandingan, membuat
bank bebas melakukan hampir semua diinginkan terhadap konsumennya yang tidak waspada. Tidak seperti
exchange-traded-market (NYSE/FTSE/BEJ) dimana market maker bertanggung jawab untuk memberikan quote
price yang sama pada dua belah pihak, dealer FX bebas memberikan quote yang diinginkan kepada kliennya.
Spread dapat melebar dan menyempit secara misterius, dan faktor "siapa elu" menjadi sangat dominan.
Pelanggan yang baik dan besar mendapat perlakuan istimewa (layaknya salesman yang berikan harga spesial).
Dealer bebas berperilaku macam ini, karena mereka bisa jadi satu-satunya referensi di kota yang
bersangkutan. Dan mereka tahu bahwa tidak banyak yang bisa dilakukan pelanggan dalam hal ini. Persis
seperti kita merasa dikadali oleh money changer yang berada di bandara udara. Rate yang diberikan money
5
changer di bandara jauh lebih mahal daripada di kota. Kalau Goldman Sachs satu-satunya yang bersedia
menerima order anda, pilihannya hanya : take it or leave it.

Great Trader: si mahluk langka

Salah satu ciri yang melekat pada trader-trader sukses adalah kemampuannya walk the walk, and talk the talk.
Bagi sebagian orang sebetulnya diatas kertas mereka mampu melakukan proses pengambilan keputusan yang
objektif, namun jika sudah melibatkan uang, seketika itu objektifitas menjadi kabur. Ini karena begitu mereka
masuk pasar, emosi mulai mengambil peran besar. Beralih dari demo ke real account, keraguan sering
menyelimuti pikiran. Coba ingat-ingat, saat anda mengambil keputusan investasi yang paling anda sesali,
biasanya hal tersebut dikarenakan terlalu cepat (harusnya saya tidak beli saham X kemarin), atau karena tidak
mengambil keputusan sama sekali (harusnya saya beli pair EU tadi pagi). Apapun itu, salah penilaian paling
sering diakibatkan oleh desakan emosi. Mental yang kuat adalah alasan yang membuat seorang trader menjadi
berhasil. Sering juga great trader disebut-sebut berdarah dingin, seperti ada air es yang berjalan dalam
nadinya.

Trader adalah satu dari sedikit profesi yang memungkinkan anda dengan cepat dapat menilai seberapa hebat
diri anda, karena cukup dalam satu lirikan ke posisi P/L, anda sudah tahu jawabannya. Bagi trader ukuran
keberhasilan sangat sederhana: money. Semakin banyak anda memperoleh uang, makin hebat diri anda. Jika
anda bisa memperoleh lebih banyak profit dibanding kawan yang trading bersama, anda berarti lebih hebat. Hal
ini yang mengubah trading menjadi tempat para individual membangun legitimasi dengan mendemonstrasikan
kehebatannya. The best talent, the sharpest brain, the greediest and the cruelest mind lengkap dah...

Jika anda menang, maka ada yang kalah. Aspek pertempuran ini yang sering diabaikan pemula dan
menyebabkan mereka menanggung kerugian dan berakhir sebagai pihak yang kalah perang. Kita sebaiknya
berpikir bahwa manusia yang duduk didepan komputer terutama dealer-dealer broker/bank, dimanapun
mereka berada adalah pesaing yang akan mengerahkan segala daya upaya dalam kuasa mereka (termasuk
membengkokan aturan main) untuk merebut uang anda.

Salah satu atribut yang harus dimiliki adalah meminimalisir resiko pada saat-saat yang penuh ketidakpastian.
Berhadapan dengan situasi yang tidak pasti, berarti anda harus pro-aktif dan memaksa lawan membuat
kesalahan. Ed Lasker, salah seorang pecatur hebat, terkenal dengan sikapnya yang dingin. Menurutnya jika
ingin menggapai kemenangan, anda harus bertanya pada diri sendiri: "Kira-kira apa yang sekarang sedang
dipikirkan lawan saya?" "Apa yang harus saya lakukan agar ia membuat kesalahan?" "Apa yang mereka
(dealer) lakukan jika harga turun (naik)?" Lasker menjelaskan bahwa ia terkadang mencapai kemenangan
dengan membuat lawannya merasa bosan, atau memancing lawannya untuk bertindak agresif padahal itu
bukan sifat mereka.

Trader FX

Spekulator FX kadang dianggap sebagai "economic war criminals" di sebagian negara berkembang, karena
mereka mengincar mata uang yang lemah dan tidak memiliki fundamental yang kuat. Tapi jika hal ini
dikonfrontir, mereka akan menjawab bahwa mereka hanyalah instrumen dari kekuatan makro ekonomi global.
Seperti ungkapan Soros yang terkenal: "Sebagai pelaku pasar, saya tidak perlu memikirkan akibat dari
tindakan (finansial) yang saya lakukan". Dengan kata lain, ia tidak membuat imbalances, mengapa mesti
disalahkan saat ia justru membantu harga mencapai balance-nya?

Trader FX adalah jenis spekulator yang unik dan penuh dedikasi kepada pekerjaannya, jam kerja yang kadang
berlebihan, dan menganggap dirinya terlibat dalam peristiwa-peristiwa makro dunia. Coba pikir apa dampak
gempa bumi di Tokyo dengan mata uang Swiss Frank? Atau bagaimana reaksi US dollar terhadap data inflasi
Jerman? Coba jelaskan hal ini pada istri/pacar atau kawan anda..bisa-bisa anda dianggap gila hehehe.......
Kemampuan untuk memilah, memproses, dan mengambil keputusan dari data yang terlihat tidak berkaitan
dalam waktu singkat adalah yang membedakan trader FX dalam spektrum tersendiri dalam komunitas finansial.
Mereka yang mampu merangkai puzzle ini dalam waktu singkat berada pada posisi teratas dalam hirarki trader.
Aktivitas ekonomi dunia saat ini merupakan mesin pertumbuhan yang saling berkorelasi dan oli mesin nya
adalah foreign exchange. Para legenda FX menjadikan karir mereka cemerlang dengan memiliki kemampuan
untuk memahami apa pengaruh event X terhadap mata uang Y, sebelum orang lain mengetahuinya. Tahun
1988, sebagai contoh, Andrew Krieger dari Banker's Trust pernah ditanya tentang mengapa ia mengambil posisi
short Kiwi, jawabnya: "Berapa besar sih monetary supply dari New Zealand?" Percaya atau tidak, posisi short
(melalui instrumen derivatif) tersebut melebihi seluruh pasokan uang dari pemerintah New Zealand!

Tapi tidak semua cerita berakhir manis, saat rasa percaya diri berubah menjadi keangkuhan efeknya bisa
sangat menghancurkan. Seperti beberapa contoh di bawah ini, mereka adalah trader yang disebut dengan
istilah "rouge trader" karena menghancurkan institusinya sendiri:

1. Yasui Hamanaka, trader dari Sumitomo Corp. Ia dijuluki "Mr. 5%" karena posisi yang diambil sangat
besar, dan disebut menguasai 5% market tembaga dunia. Buruknya ia melakukan hal ini selama 10
tahun karirnya dengan kontrak palsu dan entry fiktif dengan maksud menutup kerugian yang
menggunung. Pada saat perbuatan ini diketahui, ia terlilit kerugian $2.6 billion, dan akhirnya harus
menjalani hukumani 8 tahun penjara.

6
2. Nick Leeson, trader jempolan dari Barring Bank. Trading derivative yang dilakukan (terkenal dengan
sebutan 88888 account) menyebabkan bank tersebut rugi hingga $1.2 billion, dan akhirnya bangkrut
dalam waktu tidak lama kemudian.
3. John Rusnak, rogue trader dari Allied Irish Bank. Posisi trade FX yang tidak terkontrol menyebabkan
bank tersebut mengalami kerugian $ 691 million.
4. Peter Young, star trader dari Morgan Grenfell. Orang lebih mengingat Peter karena mengenakan gaun
wanita saat disidang pengadilan daripada kerugian yang dibuat (hanya $350 million..qqqq). Ia sengaja
melakukan hal ini agar dianggap gila dan dibebaskan dari segala tuduhan. Dan ternyata majelis hakim
memutuskan ia bebas karena dianggap tidak waras mengikuti jalannya persidangan....hahahaha....

FX Dealer

Untuk memahami bagaimana dealer bekerja, anda cukup memahami pola pikir mereka yakni
mengejar/mengambil/merebut uang kita. Jika bank besar diumpamakan sebagai grosir, maka dealer adalah
salesman yang bekerja menjual habis barang dagangan. Dalam bahasa dealer ini disebut "chopping woods",
dan mereka secara regular akan menyesuaikan profit margin sesuai order flow agar barang dagangan laku.
Sama saja seperti orang dagang lainnya, ada barang yang dijual mahal, ada yang murah, dan kadang ada yang
rugi. Yang penting laku dan pada akhirnya pembukuan masih menghasilkan untung. Jadi terkadang untuk
menjaga hubungan jangka panjang dengan klien besar, mereka mau menerima komisi yang kecil (atau sedikit
rugi) dalam mengakomodasi sebuah transaksi. Jadi dengan gaya dealing yang cepat dan akomodatif dalam
memutar inventori, mereka bekerjanya lebih mirip seperti calo-calo tiket di Senayan dibanding dengan pekerja
kerah putih. Pernah lihat calo Senayan kan....?

Semboyan dealer adalah "Always be Fading". Fading artinya melakukan trade berlawanan dengan arah harga
yang sedang berlangsung, contohnya fading higher artinya melakukan short/sell saat harga rally/naik. Market
jarang bergerak satu arah, dan dealer memahami betul bahwa gerak pada intra-day moves 80% range-bound
(bergerak dalam kisaran tertentu). Sehingga jika ada gerak yang tajam (gap/trending sharply) kemungkinan
besar akan di faded oleh dealer yang punya kantong duit cukup dalam karena mengetahui bahwa harga akan
kembali pada posisi awal yang menguntungkan mereka...ini terjadi berkali-kali.

Cara favorit lain yang sering diterapkan spot dealer adalah yang disebut "Head Fake", anda jangan pernah
mempercayai gerak harga sesaat setelah major news keluar. Karena gerak tersebut lebih sering menyesatkan,
disini dealer sering menggunakan news release sebagai tempat menghajar posisi-posisi trader yang lemah,
istilahnya di "flush out", seperti kita menggunakan toilet untuk membersihkan kotoran. Head fake artinya harga
bergerak tajam misalnya turun, kemudian berbalik arah yang membuat trader lain sering terjebak dan
terperangah.
"never trust the first price"

Apakah dealer bisa mengalami kerugian? jawabnya iya. Mimpi buruk para dealer adalah trending market, yang
membuat mereka terpaksa mengambil posisi berlawanan dari arah gerak market dan beresiko pada
bertambahnya posisi rugi, atau menghentikan pemberian price quote yang beresiko kehilangan klien. Harga
dapat saja bergerak sangat cepat searah trend yang membuat dealer memiliki sedikit waktu untuk menekan
exposure atau resiko yang ditanggung, dan ini yang sering bikin stress si dealer hehehe....
Umumnya, one-way market (trending) adalah berita buruk bagi dealer, karena harga tidak retrace (kalaupun
ada, itu hanya retrace kecil) dan mereka terpaksa menjual barang dagangannya dengan harga rugi. Namun
bagaimanapun juga, bagi dealer dan institusinya ini adalah "biaya dalam menjalankan bisnis".

Trader vs Dealer

Layaknya dua petinju di atas ring, keduanya saling baku hantam dengan sengit sepanjang ronde berlangsung.
Trader melakukan aksi "cubit-cubitan", dealer disebut melakukan "aksi rampok". Keduanya memiliki alasan

7
yang sama, yakni memperoleh untung dan memiliki hubungan layaknya orang sedang jatuh cinta, ada love and
hate (walaupun banyak bencinya kali yah?) ...qqqq
Tapi tetap saja, masing-masing pihak saling membutuhkan satu sama lain. Seperti bisnis lainnya, hubungan
yang terjalin baik dengan pihak konsumen merupakan kunci fundamental keberhasilan di pasar. Seorang trader
mungkin saja merasa kesal pada harga yang diberikan dealer, namun tetap menjaga hubungan karena sang
dealer (untung bukan sang kodok) mampu menjalankan order besar pada saat dibutuhkan. Anda boleh saja
memiliki ide/analisa yang mumpuni, tapi jika tidak ada lawan yang menerima order, maka analisa menjadi
tidak berarti.

Tentu saja berhubungan baik bukan berarti kita tidak mengincar kelemahan lawan. Tiap kali seorang trader
me-request quote price, dia tahu bahwa lawan di ujung sana adalah perampok yang mencoba mengambil
uangnya. Dealer tahu secara langsung posisi lemah trader (melalui margin deposit), atau tidak langsung
(melalui kontak industri) dan secara aktif mendorong pasar melawan posisi kita. Singkatnya inilah episode Tom
and Jerry yang pindah ke jaringan komputer di segala penjuru dunia...hehehe

Beberapa tipe/jenis dealer FX:

1. Forward/Swap Dealer: kelompok selebritis, yang lebih konsen pada unsur "waktu" ketimbang
harga. Mereka secara konstan harus memperhatikan tanggal dan ekspirasi dari posisi yang dipegang.
Kalkulasi lebih rumit apalagi jika hal tersebut dilakukan dalam waktu singkat karena klien meminta
harga yang penuh jebakan. Dalam hal ini mereka harus segera bisa memberikan price quote atau
beresiko kehilangan klien.
2. Spot Dealer: Inilah calo tiket di senayan. Lebih banyak mengandalkan nyali dibanding menggunakan
otak. Mereka dapat secara instan menghitung averages dan tiap saat lebih konsen pada net exposure.
Kelakuannya mirip singa yang mencium bau darah, dan siap menerkam tiap saat.
3. Retail Spot Dealer: Biasanya mantan bank dealer yang sudah "pensiun" atau yang mencari kerjaan
yang tidak terlalu under-pressured. Posisinya ditengah-tengah antara retail market dan interbank.
Kerjanya agak santai karena lebih banyak memantau alur posisi klien dan jika ada resiko segera di-
offset (ditekan) melalui market maker yang menjadi referensi mereka. Kadang-kadang suka juga
untuk "menyergap" posisi klien dengan senang hati jika ada kesempatan melakukannya. Head dealer
di salah satu FCM (Future Commission Merchants atau retail FX broker) kalau kerja suka pakai topi
dengan tulisan "F**K YOU"....hahahaha......

FX Market: Capitalism at Work


Kemajuan teknologi yang sangat cepat memberi dampak besar pada operasional market FX. Mulai dari sistem
back office hingga ke trading floor semua mengalami perubahan, dan umumnya membuat pekerjaan menjadi
lebih cepat, lebih akurat, dan dapat lebih diandalkan. Bank dealer saat ini tidak dapat melakukan manipulasi
harga sesering mungkin, karena akses kepada informasi makin terbuka sedikit demi sedikit. Teknologi juga
melahirkan generasi baru kompetisi yang lebih terbuka dengan menghadirkan platform-platform trading seperti
Reuter, EBS, FXall, Currenex, dll.

Saat ini trader cukup hanya menekan tombol mouse sudah bisa memperoleh price quote. Dengan semua
penyedia likuiditas memasukan input harga pada platform yang sama, secara teori perdagangan mata uang ini
akan lebih baik. Tetapi jangan keburu senang dulu, karena selalu ada celah bagi dealer melakukan aksinya.

Perkembangan pesat teknologi juga mendorong pertumbuhan turnover FX dari tahun ke tahun. Market FX
adalah yang terbesar dan paling likuid ketimbang market lain dengan perputaran uang lebih dari $2 T. Jika hal
ini terlihat sangat besar, ya memang market FX itu besar sekali. Bandingkan dengan turnover di NYSE yang
hanya sekitar $50 billion per hari atau market surat hutang pemerintah USA sebesar $800 billion, kecil sekali
dibanding FX.

8
International trade bisa menjadi salah satu faktor pendorong pertumbuhan, karena nilai perdagangan global
mencapai $40 T per tahun. Transaksi dan hedging perusahaan-perusahaan dagang berkontribusi pada
pertumbuhan market FX.

Selain itu adalah hedge fund (selalu jadi kambing hitam) dengan alokasi porfolio sekitar $1 T per tahun.
Yang penting bagi kita adalah dengan mengetahui pertumbuhan volume yang tinggi setiap tahun, akan
dapat menjelaskan situasi market FX saat ini.

Asset Class

Sepuluh tahun yang lalu, mayoritas Fund atau Asset Manager kurang menaruh perhatian kepada forex
karena menganggap forex hanyalah pelengkap penderita dari transakasi pembelian/penjualan asset yang
dikelola. Jika sebuah Mutual Fund besar ingin membeli saham -saham Eropa, mereka hanya tinggal
menghubungi bank kustodian dan memerintahkan pihak bank untuk mengatur segala keperluannya. Mutual
Fund tidak ingin repot dalam transaksi yang berlangsung, semakin sederhana prosesnya semakin baik,
karena kompentensinya adalah terletak pada pemilihan saham sebagai sarana investasi. Hal ini berlangsung
sedari dulu dan sangat logis dilakukan pada saat ekonomi berjalan normal. Namun semuanya berubah saat
ekonomi mengalami masa ketidak pastian dan yield (imbal hasil) yang rendah membuat Mutual Fund mulai
menghitung ulang tiap dana yang diinvestasikan.

Sejak bursa saham crash dan terutama sejak peristiwa 9/11, pekerjaan Asset Manager bertambah berat
dan mereka mulai melirik forex dengan pandangan bersahabat. Mereka mulai menyadari bahwa
mengalokasikan dana pada forex adalah bagian dari diversifikasi portfolio, dan sejak itulah forex menjadi
bagian integral asset class yang harus dioptimalkan yield-nya untuk menghasilkan alpha (return yang
tinggi)

Perubahan persepsi ini terbukti mengubah medan tempur FX secara radikal, dan akhirnya menjadi kekuatan
utama yang menggerakan market FX saat ini. Makin banyak Fund yang kini terlibat aktif dalam mengelola
portfolio FX, baik dilakukan sendiri atau menggunakan jasa Currency Overlay Manager (COM). Perubahan
cara pandang dan pencarian yield yang tinggi pada akhirnya membangkitkan kembali apa yag disebut
sebagai carry trade yang berarti meminjam instrumen dengan yield rendah kemudian di investasikan pada
instrumen dengan yield tinggi. Contohnya meminjam USD untuk dibelikan pound sterling /saham / gold dll.
Inilah yang menyebabkan suatu strong trend berlangsung dalam waktu yang cukup lama, salah satu
9
alasannya adalah pemerintah dalam hal ini bank sentral tidak serta merta mengubah-ubah suku bunganya
dalam periode waktu yang singkat.

Black Wednesday, 1992

Mungkin salah satu cerita trading FX yang paling terkenal adalah saat George Soros melakukan short pound
sterling yang mampu mematahkan pertahanan bank sentral Inggris (BOE). Pada bulan September 1992, Soros
dan beberapa spekulator lain mulai melakukan akumulasi posisi short selling pada pound dengan asumsi bahwa
ekonomi UK sedang dilanda inflasi tinggi dan anjloknya sektor properti (persis seperti yang terjadi di USA tahun
lalu).

Saat itu, Inggris baru saja masuk kedalam pakta ERM (cikal bakal euro) dengan posisi harga GBP/DEM 2.95,
dan pair ini hanya diperbolehkan untuk diperdagangkan pada kisaran sempit dimana ambang bawah kisaran di
set pada 2.778. Jika harga jatuh di bawah level tersebut, BOE akan masuk intervensi untuk mengangkat nilai
mata uangnya. Pada tanggal 13 September 1992 (tanggal sial juga nih), sekarang terkenal sebagai "Black
Wednesday", beberapa pemain besar termasuk Soros dan Goldman Sachs mengetahui bahwa BOE tidak akan
mampu mempertahankan pound selamanya, sehingga mereka memutuskan untuk berspekulasi menyerang
pound secara besar-besaran.

Menteri keuangan Inggris saat itu berusaha meredam serangan ini dengan mencoba membangkitkan demand
akan pound melalui kenaikan suku bunga yang dilakukan tidak hanya sekali, namun dua kali dalam sehari.
Tetapi hasilnya nihil, pada malam harinya semua menjadi jelas bahwa departemen keuangan dan bank sentral
tidal mampu untuk mengangkat nilai pound, sehingga menyebabkan mereka melempar handuk tanda
menyerah. Hal ini pula yang membuat Inggris akhirnya keluar dari ERM. Sejak itu pound bebas
diperdagangkan, tidak lagi berada pada suatu kisaran tertentu. Pada akhirnya pound memang jatuh hingga
2.20 DM. Pemerintah Inggris diberitakan mengalami kerugian hingga 3 billion pound dalam upaya mengangkat
nilai mata uangnya, sementara Soros tersenyum menikmati profit sekitar $1 billion.

Moral cerita: Jika semua komponen analisa telah mengerucut dan mendukung bias keputusan, lakukan home-
run trade.

FX Players

Kita perlu memahami para pelaku pasar uang dan motivasinya agar dapat benar-benar memahami gerak
pasar. Meskipun lebih dari setengah turnover FX ditangani oleh interbank market (trading antar bank),
persentasenya makin menurun karena pertumbuhan partisipasi generasi investor baru yang makin canggih,
sepert hedge fund dan CTA yang makin menunjukan jati dirinya ditengah persaingan pemain lama (bank-bank
global). Karrenanya kita bagi para pelaku ini dalam empat kelompok besar yakni, market maker, corporate,
spekulator, dan bank sentral.

Market Makers (Dealers)

Dibanding pelaku lain di market FX, market maker bukanlah konsumen pasar (non-customers), keberadaannya
adalah untuk memberikan layanan jasa kepada klien yang membayarnya (fee based). Perbankan adalah satu-
satunya partisipant yang memiliki banyak uang dalam membiayai aktivitas perdagangan internasional atau
proses Merger & Acquisition yang membutuhkan dana miliaran dollar sebagai contoh, tapi karena tidak semua
orang bisa melakukan trade langsung dengan bank, munculah perusahaan-perusahan broker yang menangani
"sisa limpahan" klien bank. Tidak seperti bank dealer yang tujuan utamanya adalah membentuk/mencari harga
terbaik bagi klien korporat, dealer di broker FX memainkan peran ganda seorang makelar yakni mencocokan
order dari basis kliennya serta memungut spread dari klien tersebut (mirip specialist di NYSE). Spekulator
sering menggunakan mereka (broker dealer) untuk tidak terlihat mecolok dalam berspekulasi, sementara prop
desk (bank-bank kecil) menggunakannya dalam berarbitrase, sementara retail memanfaatkannya karena
ukuran dan kemudahan persyaratan.

Meskipun peran seorang dealer di pasar secara teoritis, adalah sebagai penyedia likuiditas bagi pelanggan,
faktanya berbicara lain. Dealer adalah mesin perusahaan yang diharapkan untuk menghasilkan uang (profit)
dengan cara melakukan trade melawan posisi basis client-nya.

Corporate Account

Perusahan multinasional adalah tulang punggung dari market FX, karena skala dan intensitasnya menjadikan
mereka pelaku utama. Bersama dengan lembaga-lembaga dana pensiun atau asuransi, perusahaan semacam
Coca Cola, IBM, maupun General Electric adalah "real money" ketimbang mayoritas retail trader yang trading
menggunakan leverage. MNC (multi national corp) melakukan transaksi (menerima dan membayar) dari
seluruh penjuru dunia setiap harinya. Bisa dibayangkan berapa besar kebutuhan mereka akan FX yang
diakomodasi perbankan tiap hari. Alur transakasi ini yang secara hati-hati di hegde dan direncanakan bagi
keperluan budgeting dan proyeksi laporan keuangan. Karena kelompok ini tidak bertujuan spekulasi, maka
semakin rendah volatilitas (gejolak) pasar, makin baik bagi mereka.

Speculator (Hedge Fund, CTA, Prop Desk, COM)

Kelompok ini adalah yang paling menarik untuk ditelaah. Tujuan utamanya adalah menghasilkan profit dari

10
pergerakan pasar, sangat berbeda dibanding corporate yang menggunakan FX sebagai sarana pembiayaan atau
broker yang mencari untung dari fee dan spread. Pemain besar dalam kelompok ini termasuk prop desk (bank
kecil yang melakukan transaksi account-nya sendiri), hedge fund, commodity trading advisor (CTA), dan
Currency Overlay Manager (COM). Trader-trader ini berani mengambil resiko (risk appetite) namun karena
menggunakan leverage maka mereka paling rentan mengalami kerugian besar yang menyebabkan
kebangkrutan. Seperti dealer, merekalah yang banyak berperan dalam intra day moves.

Bank Sentral

Bank sentral di seluruh dunia bertindak sebagai administrator pada market FX. Setiap bank sentral
bertanggung jawab menjaga nilai tukar mata uangnya, dan bukan rahasia jika mereka sering turun
menggerakan pasar sesuai kemauannya. Bank sentral adalah pihak yang paling gerah dengan keberadaan para
spekulan, tudingan dan kambing hitam atas gejolak pasar uang sering dialamatkan ke mereka. Karena CB
paling bahagia jika melihat spekulator terkapar, maka intervensi pasar dilakukan pada moment strategis untuk
membuat spekulan terjebak dalam posisi yang tidak menguntungkan. Sebagian negara-negara kecil malahan
menutup pintu sama sekali akan keberadaan spekulan-spekulan dengan membatasi aliran modal yang keluar
masuk negara bersangkutan.

Pelaku pada market FX teratur rapi dalam suatu bentuk hirarki piramida, dimana orang yang menempati posisi
puncak dipastikan memiliki informasi dan membaginya kepada penghuni piramid dibawahnya. Di dunia
keuangan, yang namanya penghuni kelas bawah dari suatu piramida ditempati oleh "publik", pada umumnya
adalah konsumen retail yang unsophisticated. Karena bank dan broker berlaku layaknya pemberi (giver), maka
jika anda adalah seorang retail trader yang membayar 5 pips spread untuk mendapatkan 20 pips trade maka
bisa dikatakan bahwa anda masuk dalam kategori "Publik".

Sebaliknya hedge funds dan spekulator canggih lainnya berada pada puncak piramida. Karena kecepatan
memperoleh/mengolah informasi serta pengetahuannya akan kondisi market, pemain-pemain canggih ini
mampu mengubah peta pertempuran dengan mejadikan bank atau broker (apalagi retail) sebagai mangsa,
karena bank atau broker lebih fokus pada memungut fee/spread daripada mengidentifikasi peluang arbitrase.
Sudah menjadi "tugas" daripada hedge fund untuk semaksimal mungkin menggaet dan mengkantongi sebagian
profit bank (bank sendiri profitnya bisa disebut risk-free, atau sangat minim resiko).

Karena posisi pemain dalam piramid ditentukan oleh ketersedian informasi dan kecepatan dalam mengolahnya
sebagai penunanjang keputusan investasi (itu sebabnya big money player seperti Goldman Sach haus akan
super komputer), maka retail trader berada dalam posisi yang terjepit/tertekan karena kesulitan dalam
memperoleh akses informasi yang berimbang. Hal inilah yang membuat retail trader selalu mendapat peran
sebagai publik.

Peran Spekulan Kecil

Retail trader sering juga disebut small speculator menempati posisi yang unik dalam di dunia FX, layaknya
pom-pom girl yang meramaikan suatu pertandingan. Walaupun sering menjadi mangsa, tetapi mereka
bukannya patah semangat dan tidak selalu menjadi pelengkap penderita. Banyak spekulan kecil yang berhasil,
walau menghadapi banyak keterbatasan. Kombinasi dari faktor kepercayaan diri serta skill yang mumpuni,
membuat bank trader merasa iri akan keahlian/keuletan spekulan kecil. Salah satu contohnya adalah Yukiko
Ikebe, seorang ibu rumah tangga berumur 61 tahun di Tokyo yang didakwa melakukan penggelapan pajak dari
trading profit sebesar kurang lebih 400 juta yen. Berita tentang ibu tua ini, membuat Head of Foreign Exchange
Societe Generale di Tokyo mengatakan "Dia membuat profit lebih banyak dari yang kita buat.....Find her and
Hire her!!" Individual-individual yang sukses di FX telah belajar untuk tidak melawan (fight) pasar, karena
pasar tidaklah melawan mereka. Jadi individual macam ini fokusnya adalah menerima apa yang Mr. Market
berikan dan dari contoh ibu Ikebe, pemberian Mr. Market banyak sekali..........

Sayangnya para superstars ini jumlahnya sedikit dan langka, karena mayoritas retail trader umumnya tidak
cukup bekal untuk bertahan lama dalam pertempuran FX. Jika market maker (dealer) mengambil posisi
melawan posisi basis klien-kliennya, maka dapat disimpulkan bahwa para klien selalu dalam posisi yang salah
tiap saat....wrong side of the trade most of the time sehingga market maker dapat memberikan profit bagi
perusahaannya.

Spekulan kecil pada pasar finansial manapun dijadikan sebagai contrarian indicator yang paling berharga dan
secara aktif dipantau para money/fund manager. Karena mereka hampir selalu salah, maka posisi yang diambil
para spekulan kecil dapat dijadikan sebagai acuan mengambil posisi yang berlawanan. Kurangnya pemahaman

11
akan money management yang baik dan faktor psikologis membuat banyak spekulan kecil dilindas oleh
pergerakan harga.

Tapi anda jangan patah semangat, ambilah contoh dari ibu Yukibe (Tokyo), KG (Indonesia), Hoosain Harneker
(Afsel), Rob Booker (100 pips trader, West Virginia), Chuck Hays (the coolest man, Minnesota), Franki Law
(Technical Analyst, Hongkong) dan yang lainnya. Mereka semua telah "membayar uang sekolah" dan
memahami untuk tidak melawan pasar. Seperti yang diucapkan oleh Sun Tzu "Kenali kawanmu dengan baik,
tapi kenali musuhmu lebih baik lagi".........

Originally Posted by bluebirru


thanks buat infonya ...
btw saya mau tanya bung sami ... pertanyaanya agak nyeleneh nih tp tlg di jawab ya..........
apa benar jika semua trader dalam satu broker ex. fxind, marketiva, fx4u dll selalu provit (dlm setiap bulan)
apakah broker tersebut akan mengalami kerugian ?? jika tidak siapa yang rugi? apakah para profesional atau
lainnya??
mohon penjelasannya (oh ya temen? lain juga boleh jawab)
@Bro Blue: Semua klien dari broker profit? hehehe....bagi perusahaan brokerage kerugian yang diakibatkan
oleh posisi trade melawan basis klien adalah "biaya" menjalankan bisnis. Semua telah dikalkulasi sebelum
mereka mendirikan perusahaan. Dan karena banyak kasus negatif dalam hubungan broker-klien, maka
lembaga-lembaga pengawas sepert NFA di US meningkatkan persyaratan yang tinggi bagi sebuah brokerage.
Misalnya dengan menaikan modal setor hingga $20 juta, agar perusahaan tersebut memiliki cukup dana dalam
menjalankan usahanya. Aturan ini dibuat secara tersurat untuk perlindungan klien, tapi secara tersirat juga
berarti bahwa regulator memahami dan memaklumi aktivitas broker yang melawan posisi klie-kliennya (big
boss paham dan hanya manggut-manggut aja koq...hehehehe)

Jadi kalo semua klien dalam satu broker profit, belum tentu brokerage tersebut bangkrut. Ada parameter yang
digunakan dalam mengambil resiko trading melawan posisi klien, jika posisi tersebut melebihi parameternya,
maka broker umumnya melempar order ke market maker lain atau interbank untuk meng-offset kerugian. Jadi
resiko loss telah di-cover bisa dengan cara hedging position. Katakan anda buy, dealer sell, harga naik dan
dealer rugi. Untuk menekan kerugian, dealer buka posisi baru yakni buy pada intermarket atau melalui market
maker lain...kira-kira demikian, semoga membantu.

"A broker will only make you broker"....Wall Street saying

Anda harus memahami bahwa retail FX bukanlah interbank FX. Terserah apapun yang broker anda katakan dan
lakukan agar anda percaya hal ini. Harga (price quote) bukan interbank, ukuran volume (size) bukan interbank,
counterparty bukan interbank, dan aturan mainpun (rules) bukan interbank. Jadi apa yang dimaksud dengan

12
interbank? Pemain utama FX market adalah bank-bank terbesar dunia, yang saling berhubungan satu sama lain
dalam melakukan aktivitas trading. Dan secara exclusive hanya berisi sedikit pemain saja. Salah satu aturan
main pada interbank jika dilihat dari size transaksi adalah minimum ticket $5 juta per quote order, dan atau $2
juta jika melalui interbank brokers. Tidak ada spot desk bank yang mau meladeni order retail trader yang size-
nya sangat-sangat kecil itu (tiny amount). Retail trader tidak memiliki akses pada interbank market karena
tidak memiliki hubungan credit yang layak dengan big player ini.
Spoiler :

Sekarang ini marak propaganda marketing yang dilakukan broker tentang penggunaan ECN, sehingga banyak
trader awam menganggap bahwa ECN adalah interbank market, padahal tidak demikian praktek sebenarnya.
Electronic Communication Network (ECN) sendiri berarti market elektronik yang memudahkan trader saling
berhubungan pada suatu sistem pencocokan harga otomatis antara buy dan sell order.
Spoiler :

Nah harga bid/ask yang tertera pada monitor ECN anda itu berasal dari mana? apakah riil interbank market
atau harga konsensus dari klien-klien broker tersebut? ECN lebih mengarah pada harga yang diberikan bank
referensi kepada market maker atau broker berdasarkan credit rating broker tersebut. Makin baik credit rating
broker anda makin baik pula harga yang diberikan. ECN based brokers juga bertindak sebagai counterparty
pada transaksi FX, namun perannya lebih banyak pada settlement ketimbang pembentukan harga. Spread
currency pair pada ECN tergantung pada aktivitas pair tersebut, pada saat-saat aktif anda kadang
mendapatkan no spread terutama pada pair major (EU, GU, UJ, UCHF) dan beberapa cross pair. Jadi
kemungkinan manipulasi harga masih terbuka lebar bagi market maker/broker baik dalam mengejar stops atau
tidak membiarkan customer-nya mendapatkan target profit. Bukan hal yang aneh, jika sebagian market
maker/broker menggerakan currency quotes 10-15 pips dari interbank quote. Ini salah satu cara yang yang
dilakukan FCM (Future Commision Merchant) dalam mengejar profit. Dibawah ini adalah skema bagaimana
sebuah broker beroperasi:

13
Profit yang diperoleh FCM dibagi antara market maker dan intoducing broker-nya:

Ada baiknya anda membandingkan platform trading dari broker yang berbeda untuk mendapatkan gambaran
data feed yang diberikan, karena manipulasi harga dapat saja terjadi.

14
Let's Fight Back

Jika anda merasa kecewa dengan mengetahui bahwa begitu banyak kelemahan yang dimiliki oleh individual
trader, jangan kecil hati karena masih banyak sumber daya yang dapat kita manfaatkan dalam upaya
memenangi pertempuran ini. Ada beberapa hal sederhana yang harus kita persiapkan sebelum menginjakan
kaki dalam medan tempur yakni:

Gunakan Data Price Feed Yang Berbeda


Sebagai trader, anda harus dalam keadaan siaga setiap saat, objektif, dan memiliki pandangan luas akan
medan tempur. Jangan membatasi diri dengan hanya menggunakan platform charting yang disediakan broker
anda. Usahakan memiliki 2 atau 3 charting software lain, anggap saja seperti anda mendapat "second opinion".
Karena jika hanya terpaku pada platform yang berasal dari broker tertentu, anda tidak tahu apakah suatu
gerak harga dimanipulasi atau hanya mengejar stop, dimana gerak tersebut tidak sejalan dengan gerak market
pada umumnya. Platform dari broker anda hanya digunakan untuk menempatkan order, tetapi strategi
dan analisa harus berasal dari platform yang anda temukan paling objektif dan tidak bias. Walaupun kita tidak
memiliki kemewahan untuk menggunakan Reuters, EBS, atau Bloomberg Professional, masih ada beberapa
platform yang layak untuk dijadikan second opinion.

Buat dan Simpan Jurnal Trading


Kebanyakan individual trader enggan melaporkan kecurangan sekiranya ada, karena tidak memiliki catatan
trading yang rinci. Trading record sangat berguna untuk menjadi alat bukti saat anda merasa "dikadali", order
yang tidak dipenuhi semestinya, atau log trading anda dihilangkan. Kasus-kasus seperti ini banyak terjadi, dan
salah satunya menimpa seorang trader dari Iran yang mampu mengelola modal awal sebesar US$ 100 menjadi
US$ 8,000 dalam waktu seminggu pada Desember 2008 lalu. Brokernya (In**) tidak mengakui profit yang
dibuat, dan berupaya menghilangkan record file transaksi. Beruntung trader Iran tersebut menyimpan log file
dari platform MT4 dan menjadikannya alat bukti, sehingga broker tidak berkutik dan memberikan seluruh profit
serta modal awal kepada kliennya itu. Jadi ada baiknya anda membuat copy secara berkala dari log file yang
ada pada platform trading anda dan menyimpannya pada folder lain. Selain itu upayakan untuk selalu
mengambil screenshoot setiap kali entry/exit, cause you never know when you need it most.

Laporkan Jika Terjadi Kecurangan


Anda dapat melaporkan jika terjadi kecurangan pada lembaga yang berwenang seperti NFA di US, FSA di UK,
FINMA Swiss, atau menggunakan jasa Forex Peace Army sebuah organisasi non-profit yang didirikan sesama
trader. Jangan melakukan dealing dengan broker yang bukan member dari lembaga resmi, kunjungi situs NFA,
FSA, dan CFTC untuk memperoleh informasi yang lebih akurat.

Trading di CME
Jika sudah bosan dengan perilaku manipulasi yang ada pada spot market ada baiknya anda mulai menjajaki
trading di future market (real market). Para hedge fund dan individual trader lainnya sudah bertahun-tahun
menggunakan CME untuk melakukan transaksi FX. Coba pelajari pada situs CME apa saja yang ditawarkan
mereka, mungkin saja cocok untuk anda.

Jasa Pihak Ketiga


Karena perkembangan pasar yang cepat, kita melihat banyak tumbuhnya jasa-jasa layanan untuk
mempermudah trading bagi individual trader yang disediakan oleh pihak ketiga. Jasa ini umumnya berupa data
feed, trading sinyal, dan managed account. Anda jangan mudah percaya pada layanan yang sifatnya
gratis/free, karena logikanya mereka tidak akan dapat beroperasi tanpa dukungan dana. Dan umumnya
penyandang dana tersebut adalah broker-broker. Tentu saja ada banyak penyedia layanan yang bonafide baik
analyst/ technician/akademisi yang menyediakan jasa pada institusi keuangan. Service provider yang baik
umumnya memiliki ciri:

1. Jasa layanan yang tidak murah.


2. Memiliki track record yang mumpuni, bukan hanya sekedar website yang tampak indah.
3. Memiliki pengalaman trading FX (Prop Trader, Pit Trader, Bank Treasury dll), karena mereka
mengetahui real world dari trading FX ini.
4. Memiliki konsideran waktu dan money management pada analisa yang diberikan.

Intinya sebagai trader kita harus mempersiapkan segala sesuatunya dalam antisipasi segala kemungkinan yang
timbul. Setiap trader yang berpengalaman telah membayar "uang sekolah" pada Mr. Market. Jangan terlalu
berharap banyak pada sistem trading yang ditawarkan seharga ratusan apalagi hanya puluhan dollar akan
memberikan anda kesuksesan. Sukses adalah hasil langsung dari kerja keras dan determinasi, anda harus
percaya dengan analisa serta kemampuan diri sendiri. Ingat saja bahwa kepercayaan diri adalah atribut yang
melekat pada seorang great trader.

Confidence is the basis of all trade, and with it nothing but good can happen.....Vince Lombardi

15
Bergabung dengan Klub 10%

Setiap orang yang pernah melakukan kegiatan trading pasti mengetahui bahwa trading adalah pertempuran
yang sangat melelahkan baik fisik maupun mental psikologis. Walaupun trading tidak mudah, justru banyak
dari kita yang malah menambah susah diri sendiri dengan langsung trading tanpa memahami style trading
yang sesuai dengan personalitasnya. Sebagian orang ada yang cocok sebagai swinger tapi tergoda untuk
menjadi day trader dan sebaliknya. Trading yang bertentangan dengan kepribadian pada akhirnya berdampak
pada pengambilan keputusan yang buruk, loss, dan rasa tidak nyaman.

Sekiranya anda telah memiliki skill dan determinasi untuk menjadi seorang trader yang mumpuni, menentukan
tipe trader yang diidamkan (bukan sekedar winning trader) adalah langkah kritis yang memerlukan refleksi diri.
Luangkan waktu untuk menentukan pendekatan trading yang cocok dengan kepribandian anda. Sebagai
contoh, jika anda merasa diri anda adalah orang yang sabar, metodologis, dan secara umum dapat menjaga
keseimbangan emosional, mungkin pendekatan trading menggunakan longer time frame lebih tepat. Apakah
anda suka bermain video game, menyenangi olahraga balap, emosional, menjadi day trader mungkin lebih
cocok karena gejolak harga dan andrenalin yang terjadi intraday. Dan kalau anda suka catur, marathon, politik,
memilih positional trading adalah pilihan logis. Menemukan gaya yang pas akan meminimalisir pertempuran
personal. Dan jika anda seorang pemula, langkah awal yang diperlukan adalah menemukan gaya trading yang
sesuai dengan kepribadian diri sendiri.

Perbedaan antara orang yang mengambil posisi longer term dan shorter term lebih dari sekedar faktor teknikal.
Bagi sebagian orang, terasa menyakitkan melihat profit yang melayang akibat gerak retracement sehingga
lebih suka menerima small loss tiap hari dari pada liat profit bergejolak. Padahal best trader tidak terpengaruh
sama sekali dengan gejolak profit, namun mereka jumlahnya sedikit sekali.

Setiap trader, baik yang belajar otodidak ataupun melalui lembaga formal, harus selalu mempertanyakan diri
sendiri "Apakah saya mengalami kemajuan?" Menjawab dengan jujur pertanyaan ini akan menyelamatkan anda
baik dari segi waktu maupun uang. Karena tidak ada gunanya menghabiskan waktu dan uang bagi sesuatu
yang jelas-jelas tidak cocok dengan keahlian kita. Jika anda merasa berkembang (diukur dari P/L), tekuni
profesi trading ini. Namun jika bertahun-tahun anda tidak melihat kemajuan dalam trading, anda harus
memiliki keberanian untuk menghentikannya. Ada orang yang memang memiliki skill sebagai arsitek karena
kepandaian design, ada yang lebih tepat jadi atlet, ada yang pas sebagai engineer, tekuni sesuatu yang
memang anda merasa pas dan tepat pada posisi itu.

Jika anda telah memahami karakter pribadi, maka perjalanan untuk menjadi member dari KLUB 10% dapat
dimulai. Saya rasa anda mengetahui keberadaan klub ini yang elite dan ekslusif. Tidak ada garansi 100% untuk
mencetak uang dengan mudah di bisnis ini seperti yang diiklankan oleh pembuat system atau scammer yang
bertebaran di internet. Market pastinya lebih besar dari anda, lebih besar dari saya, dan lebih cerdas dari kita
semua. The best trader saja lebih sering salah ketimbang benar. Tapi dengan money management dan
pemahaman kondisi psikologis, dapat membuat perbedaan besar antara best trader dan mediocre trader.

Kita sebagai manusia adalah tempatnya banyak kesalahan dan sering buat kesalahan yang sama berulang-
ulang, tapi teknik money management yang baik akan sangat membantu mengatasi kelemahan ini. Jika ada
satu-satunya unsur pasar yang dapat kita kontrol, tidak lain adalah money management itu sendiri. Lucunya
banyak salah paham masyarakat tentang trader yang dianggap suka mengambil resiko besar, padahal
realitanya the best trader adalah orang yang sangat konsen akan faktor resiko. Meminimalisir resiko sejak
perencanaan sebuah trade adalah keharusan. Kita sering dengar istilah RISK REWARD RATIO, perhatikan
bahwa kata RISK mendahului REWARD bukan sebaliknya. Untuk orang dagang bahasa gaulnya adalah "omong
pahit aja dulu, ntar dah yang manis-manis".

Kabar baiknya adalah good money management (MM) mudah diterapkan. Kalau trading sistem yang mumpuni
sulit ditemukan, sebaliknya MM yang baik mudah ditemukan. Aturannya pun tidaklah sulit, cara termudah
untuk mensesuaikan MM adalah dengan melihat langsung hasil trading anda. Sebagai contoh, jika average loss
yang sering anda alami lebih kecil ketimbang winning trade, mungkin dapat dipertimbangkan untuk
memperbesar posisi (lot diperbesar). Jika anda membukukan average loss yang lebih besar ketimbang profit,
maka ada baiknya memperkecil posisi trade. Apapun sistem MM yang ada, intinya hanya meminimalkan
kemungkinan bablasnya account anda. Sukses jangka panjang dalam bisnis ini hanya dapat dicapai dengan
mengakumulasi profit yang stabil serta sesekali mendapatkan home -run trade. Semakin mampu anda
melindungi equity di market, makin besar peluang untuk menggapai kesuksesan. Warren Buffet hanya punya 2
pedoman dalam berinvestasi:

1. DONT LOSE YOUR MONEY


2. WHATEVER YOU DO, JUST REMEMBER RULE #1

Maksudnya adalah semaksimal mungkin kita melindungi modal, karena itulah yang membuat anda dan saya
untuk dapat trade keesokan hari, minggu depan, bulan depan, dan tahun-tahun berikutnya. Lihat saja para
pedagang di pasar tradisional, warung kecil, atau tukang asongan sekalipun, mereka akan berusaha mati-
matian menjaga modal kerja. Istilahnya biar untung sedikit atau ada rugi, yang penting modal aman jangan
sampai bablas. Karena mereka dagang bukan hanya untuk hari ini saja, tapi untuk berketerusan. Hal ini yang
patut kita contoh agar kita tidak terjebak trading dengan penuh emosi, karena MM akan melindungi kita dari
sebuah emotional trade yang berujung pada DISASTER atau bencana.

16
Selingan Akhir Pekan

Sebagai individual trader kita mengahadapi banyak tantangan disamping keterbatasan baik teknologi maupun
akses informasi. Tapi ternyata mereka yang profesional pun kadang banyak membuat kesalahan-kesalahan
konyol, seperti beberapa kasus di bawah ini:

 2003; Saham dari perusahaan Internet Exodus yang telah bangkrut, pernah melonjak 59,000%
setelah seorang bank trader secara tidak sengaja membeli (bid) $100/lembar untuk saham yang
harganya hanya sekitar 17 cent saat itu.
 2002; Blunder luar biasa dari Bear Stern (bangkrut juga 2 tahun lalu) yang menjual saham senilai $4
milyar pada saat closing bell dari seharusnya $4 juta! Untungnya order yang baru terpenuhi sekitar
$600 juta sebelum mereka sadar apa yang terjadi.
 2001; Sesaat sebelum closing bell di UK market, seorang trader dari Lehman Bros (sudah bangkrut
juga 2 tahun lalu), melakukan kesalahan menjual saham sebesar $500 juta -100 kali lipat dari jumlah
yang seharusnya. Kejadian ini sempat membuat index FTSE jatuh lebih dari 2%!
 2001; Seorang trader dari UBS yang entah kemana pikirannya, bermaksud menjual 16 lembar saham
Dentsu pada harga 600,000 yen/lembar. Yang terjadi malah sebaliknya, ia menjual 600,000 lembar
saham tersebut seharga 16 cent/lembar!! Begitu sadar, si trader baru mengetahui kalau dia dalam
posisi rugi $120 juta!
 1998; Mungkin ini adalah blunder klasik terkonyol sepanjang masa yang dilakukan trader dari
perusahaan Solomon. Tanpa sengaja ia menjual bond (obligasi) pemerintah Perancis senilai 850 juta
pound sterling, hanya gara-gara mengantuk dan menyandarkan tangan pada papan keyboard yang
mengakibatkan tertekannya tombol EXECUTE!!

Well kita jangan kecil hati, mereka yang profesional saja sering membuat kesalahan konyol dan fatal. Jadi yaa
wajar lah kalau sesekali kita melakukan kesalahan, tapi jangan sering-sering apalagi sampai equity
hancur....hehehe

Have a nice weekend........

Bergabung dengan Klub 10%

Walaupun tata kelola money management yang baik adalah pondasi dari setiap trading system, FX Trader
dapat dikelompokan pada dua kutub yakni Fundamentalis dan Teknikalis. Di satu sisi fundamentalis mencoba
mencari korelasi dari sudut makro ekonomi seperti GDP, suku bunga, inflasi, current account balance, dll,
terhadap nilai intrinsik suatu mata uang. Fungsinya mirip Equity Manager yang mencari saham-saham
"undervalued" untuk ditempatkan pada portfolio mereka, maka fundamental trader menggunakan model
ekonomi untuk memperkirakan nilai tukar serta melakukan trading sekiranya terjadi deviasi dari nilai
teoritisnya.

Sementara di sisi lain, para teknikal analist tidak terlalu peduli pada faktor ekonomi yang mendasari
pergerakan harga, namun lebih memilih untuk konsen pada faktor: Price, Volume, dan Time. Bagi teknikalis
perilaku mata uang di waktu lampau adalah tool untuk menganalisa probabilitas gerak mata uang di waktu
mendatang. Meskipun pendekatan fundamental terlihat lebih logis, banyak riset yang menunjukan bahwa
teknikal trading lebih profitable di FX. Kalau di bursa saham mindset "value investor" adalah yang banyak
menjadi pilihan dan memberi return yang bagus, di FX hal ini hampir useless tidak berguna terutama untuk
short term trading. Baik karena intervensi bank sentral atau sentimen pasar, makanya tidak heran perkiraan
para ekonom tentang pasar uang menjadi sangat buruk. Artinya bagi short term trader, sebaiknya fokuskan
perhatian pada sisi teknis pasar karena memang lebih profitable tadi. Namun bukan berarti pula ini jalur cepat
menuju kekayaan.

Teknikal trading terbukti menjadi daya tarik bagi retail trader karena memberikan pemahaman "logis" dari
market yang lebih sering irrasional, dan akhirnya banyak pula yang berusaha menemukan apa yang sering
disebut sebagai "Holy Grail". Tapi bagi mereka yang terobsesi dalam menemukan indikator atau trading system
holy grail ini, sebaiknya meluangkan waktu untuk memahami pasar ketimbang berusaha menaklukannya.
Karena jika ada mesin ATM di market, papan namanya jelas yaitu BANK SENTRAL.

Benefit dari trading yang sistematik adalah membuat proses pengambilan keputusan menjadi jelas, rapi, dan
teratur. Meskipun pada akhirnya sistem trading anda menjadi profitable atau tidak, anda harus memiliki
pemahaman yang jelas dan memiliki alasan mengapa sebuah entry position dilakukan. Semakin sederhana
model atau sistem trading, makin elegan dan berguna sistem tersebut. Karena chart yang dipenuhi tumpukan
garis, indikator-indikator serta tools lainnya hanya akan mengalihkan perhatian anda dari object tempur itu
sendiri, yaitu Price Action. Jika anda seorang tentara yang berangkat ke medan perang kemudian melengkapi
diri dengan senjata M16, pelontar granat, M60, pistol, uzi, tambahkan granat tangan. Belum tiba di peperangan
sesungguhnya, anda sudah ngos-ngosan kehabisan napas, dan mudah dibantai oleh lawan-lawan anda. Pelajari
indikator teknikal namun pelajari juga cara mengabaikannya. Gunakan yang menurut anda bekerja dengan
baik, cukup satu M16 dan pistol sebagai pelengkap. Jangan maju perang dengan banyak beban. Karena kita
tahu tidak ada satupun sistem yang selalu profitable di market, oleh sebab itu kuncinya adalah identifikasi dan
memahami kekuatan dan kelemahan anda sendiri. Kalaupun ada instrument yang dapat bekerja dengan baik
dalam kondisi market apapun itu tidak lebih dari "Human Mind", jadi gunakanlah sesering mungkin.

17
Kinerja Money Manager

Saya banyak menerima pertanyaan tentang berapa sih return yang pantas dalam trading FX ini. Daripada
menjawab hal yang sama berulang-ulang, saya tuliskan saja disini. Menurut saya pribadi tidak ada ukuran
bahwa harus sekian dan sekian persen, yang penting adalah konsistensi. Dalam mengelola dana yang kita
inginkan adalah win loss ratio yang stabil, gejolak dalam profit loss adalah hal biasa. Yang terpenting pada
akhir sebuah periode, katakanlah bulanan, kita dapat mempertahankan performance yang mendukung
pertumbuhan bisnis ini dalam jangka panjang. Sama seperti bisnis lainnya, pertumbuhan yang diinginkan
adalah yang realistis bukan yang berlebihan hingga sulit dicapai dan memberi beban berlebihan pada psikologis
trading. Saya lampirkan kinerja beberapa money manager, sehingga anda mendapat gambaran dan
membandingkan kinerja anda.
Spoiler :

Jika selama ini anda sudah mampu memperoleh return 3-5% per bulan saja, itu sudah bagus dan masuk
kategori TOP 10 Money Manager kelas dunia.

Salam..........

corsair
Boleh nanya Pak Sami. Bukannya environment money manager yg di list tersebut sangat berbeda dengan
keadaan dari mayoritas kita sebagai retail trader, terutama dalam masalah leverage. Jadi sepertinya engga bisa
dibandingkan secara langsung, kecuali kita pakai low gearing juga.

Untuk performance, saya sendiri menggunakan perbandingan rata2 drawdown modal yg kita pernah alami :
rata2 peningkatan modal dihitung dari nilai drawdown terakhir. Mungkin ini bukan penghitungan yang ideal,
hanya saja ini membantu mengingatkan saya bahwa fluktuasi win / loss dari masing2 transaksi yang kita
lakukan bukanlah hal yang penting, selama kita masih memiliki ekspektansi yang positif.
@Pak Corsairs:
Jelas environment berbeda antara kita yang retail ini dibanding mereka para money manager tersebut. Apa
yang ingin saya sampaikan adalah bahwa trading is nothing more than other business as usual. sama aja bisnis
FX ini dengan bisnis lain sehari-hari. Sebuah bisnis dibangun untuk long-term sukses, dan bisnis yang awet
umumnya punya ciri, salah satunya membidik target ROI atau ROE yang Attainable (bisa dicapai) dan Realistis.
Ini semua tertuang dalam perencanaan bisnisnya, apa target tahunannya, kuartal atau bulanan. Bukan hanya
persentase return namun termasuk peningkatan skill dan sebagainya. Dalam aplikasi trading sehari-hari bisa
dipertajam kedalam sebuah Trading Plan atau Battle Plan.
18
Apa saja metode baik trading dan mengukur kinerja yang digunakan, selama metode itu memberikan feedback
positif, keep it and use it. Yang penting tidak membebani kita terutama dari sisi psikologis karena target yang
berlebihan. Justru apa yang Pak Corsair sampaikan tentang low gearing menunjukan sikap prudent dalam
pengelolaan dana. Orang yang selalu melaju dijalan dengan kecepatan tinggi, kemungkinan masuk rumah sakit
lebih besar ketimbang pulang ke rumah dengan selamat. Jadi tidak heran broker-broker menawarkan retail
dengan leverage tinggi malah ada yang 1000:1 kalau tidak salah. Karena mereka tahu, bahwa akan banyak
yang tabrakan ketimbang selamat dan awet. Be wise dengan leverage, makin besar dana yang dikelola
seharusnya makin prudent pendekatan tradingnya.

Salam......

Originally Posted by cabl333


Om Sami, saya mau nanya yang dimaksud positional trading itu seperti apa???
kalau boleh sekalian penjelasan tentang day trader dll
soalnya saya sampai sekarang masih sulit menentukan ingin main seperti apa
sering outlooknya bisa agak panjang tapi begitu ambil profit cuma dikit2 (padahal masih demo, gimana kalau
real hiks...T_T)
@Bung Cabl;
Wajar jika Bung Cabl merasa sulit menentukan tipikal trading style yang sesuai dengan karakteristik
kepribadian diri sendiri, karena memang tidak ada definisi yang pas menggambarkan perilaku seorang trader.
Trader itu sendiri ada berbagai macam dan variasi nya. Bagi kita yang trading FX mungkin dapat
disederhanakan dan dikelompokan dalam tiga bagian:

1. Day Trader atau Scalper;


dari namanya saja sudah jelas bahwa tipe ini memiliki frame pendek, mereka open dan close posisi pada hari
yang sama atau trade per sesi saja. Time frame yang digunakanpun umumnya dibawah hourly frame. Turnover
dari trade yang dilakukan dalam satu hari bisa tinggi, karena target profit yang dibidik juga tidak besar maka
volume dan frekuensi trading yang diperbesar agar memperoleh return memadai. Dan untuk memenuhi target
harian, tidak heran tipe ini melakukan trade pada pair yang memiliki volatilitas atau average day range yang
lebar seperti GBP/JPY, dengan tujuan mendapat ruang profit yang cukup bagi trade yang dilakukan. Perhatikan
pada gambar di bawah ini, seorang scalper akan melakukan trade pada kondisi market apapun, baik up, down,
atau konsolidasi.

2. Swing trader; tipe ini mengambil keuntungan dari gerak yang lebih panjang serta menggunakan time
frame yang lebih besar karena setelah entry mereka membidik perubahan arah atau reversal dari instrument
yang ditrade. Bisa saja posisi di hold beberapa hari atau minggu. Jadi mereka ini memanfaatkan tiap swing high
dan swing low dari gerak harga, seperti contoh di bawah ini.

19
Swing trader sebenarnya adalah bagian dari Momentum Trader yang memanfaatkan trend dan momentum
harga yang bergerak dalam satu arah. Mereka akan mengambil peluang dari trend utama pada setiap koreksi
dan atau saat terjadi breakout, seperti contoh gambar berikut;

Dengan demikian timing entry/exit menjadi krusial bagi swing/momentum trader ketimbang day trader, salah
satu alasannya adalah karena turnover yang lebih kecil. Namun keduanya memiliki kesamaan yakni lebih
menggunakan pendekatan analisa teknikal ketimbang fundamental.

3. Positional trader; ini adalah jenis trader yang hold posisi lama bisa bulanan malah tahunan karena
memutuskan untuk stay with the trend long enough, biasanya hingga trend utama pada frame yang paling
besar menunjukan tanda-tanda akan berakhir. Tipe ini adalah kebalikan dari intraday trader karena tujuannya
adalah mencapai potensi profit yang maksimal pada trend utama ketimbang mengikuti fluktuasi short term
yang terjadi dari hari ke hari. Mereka tidak in/out di pasar tiap hari atau tiap minggu. Walaupun mengambil
keputusan juga melihat sisi teknis, positional trader menggunakan modelling analisa fundamental untuk
mencari deviasi dari nilai tukar yang wajar, karena itu perspektifnya pun berbeda.
Portfolio Manager FX akan menganalisa dan mempertimbangkan indikator-indikator ekonomi, keputusan
pemerintah, suku bunga dll untuk mengambil keputusan trading. Banyaknya konsideran ini yang membuat
mereka meletakan trade hanya pada major pair yang liquid termasuk G7 dan sebagian kecil emerging market
yang dianggap favorit saja.

Semoga membantu..............v

20
Bergabung dengan Klub 10%

Salah satu dari beberapa trading system teknikal ada yang disebut Discretionary Trading yang mengandalkan
Perilaku Harga. Teknik ini membutuhkan pengalaman, feeling, dan pengamatan Price Action untuk mengambil
keputusan. Bagi FX trader ini berarti memahami apa yang menyebabkan harga bergerak tick by tick. Intraday
moves dibentuk oleh aliran dana (Flow) yang dapat merupakan bentuk spekulatif dari hedge fund ataupun
kegiatan hegding dari para exportir. Apapun motifnya, supply dan demand adalah aktor utama dibelakang
gerak harga, karenanya dalam FX tidak dikenal istilah Fair Price. Meskipun makro ekonomi berpihak pada dollar
contohnya, namun kebutuhan jangka pendek seperti merger dan akuisisi dapat mengubah keseimbangan harga
dengan cepat. Contoh terakhir adalah beberapa pekan lalu saat Prudential akan mengambil alih AIA anak
perusahaan AIG di Asia, dimana pelaku pasar mengantisipasi penjualan pound untuk biaya akuisisi ini dan
akhirnya menyebabkan nilai pound yang turun cukup besar. Bagi FX trader terutama short term trader,
perilaku harga adalah yang utama.

Mendapatkan "feeling" dari gerak pasar, diawali oleh pemahaman price action yang baik, seperti yang
dilakukan sang legenda Jesse Livermore. Price action adalah pertempuran tug-of-wars yang terjadi terus
menerus antara buyer dan seller di pasar, dan bagi trader berpengalaman dapat menjadi cermin dari jejak
yang ditinggalkan pelaku pasar. Karena gerak harga lebih dominan didikte oleh big boys, maka spekulan kecil
secara khusus mencari rekam jejak atau footprints yang ditinggalkan semua pemain besar. Membaca price
action memang lebih mudah dilakukan pada exchange traded market yang sentralisasi, seperti bursa saham
atau Future FX di CME karena ketersediaan informasi volume serta institutional block orders lebih mudah
dideteksi. Tetapi pada spot FX yang tidak ada flow informasi ini, masih bisa kita lihat intensi pelaku pasar
dengan melihat struktur chart dan perilaku harga saat mendekati level-level support resistance, pivot, ataupun
supply demand area. Membaca price action dengan benar tidaklah mudah diajarkan, dan pada akhirnya teknik
ini lebih cenderung merupakan Art ketimbang Science.

Struktur chart adalah representasi grafis dari perilaku harga, seringkali pola yang sama terjadi berulang-ulang
dan memberi kita informasi tentang intensi dan market's footing. Sebagai contoh, jika anda melihat sebuah
round number (angka bulat) yang kebetulan berdekatan dengan sebuah pivot atau support area, dimana
umumnya level tersebut akan dipertahankan oleh buyer. Kemudian harga berusaha menembus 10-20 pips dan
secara cepat balik kembali dan ini terjadi beberapa kali, maka kita tahu bahwa mereka (buyer side) berusaha
melindungi area ini karena bisa saja round number ini adalah letak dari large order di Option Market. Setelah
itu anda harus mengawasi gerak saat London atau NY open untuk melihat kecenderungan gerak harga, dimana
tekanan jual mulai hilang dan harga bisa naik kembali.

Contoh dari footprint yang ditinggalkan real-money:

21
Contoh tipikal price action yang spekulatif:

Untuk membaca price action dengan baik coba ajukan beberapa pertanyaan pada diri sendiri, misalnya;

1. Apa yang dilakukan pasar sesaat setelah news dikeluarkan? Gerak awal naik, dilanjutkan oleh sell-off
yang cepat (dealers melakukan fading move; no real demand)
2. Bagaimana perilaku harga saat mendekati resistance yang utama? Koreksi singkat dan kecil-kecil
(real-money demand; dealers sedang mengerjakan tumpukan buy order serta buy every dip) dan lain
sebagainya.

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan macam ini akan memberi anda pemahaman pasar dan menyesuaikan
posisi terhadap kondisi yang ada.

To be continued.........................

Taken from fx battlefield Thread at www.kgforexworld.com

Edited by Touch the sky

22