Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM

FITOFARMAKA

TUGAS 1

PEMBUATAN EKSTRAK RIMPANG Kaempferia galanga

(Ekstrak Rimpang Kencur)

Dengan Metode Maserasi Perendaman

Ariffiana Kusuma Dewi

Nim: 201510410311020

Kelas: Farmasi A

Kelompok 7

PRODI FARMASI

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

2018
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Kencur (Kaempferia galanga L.) merupakan tanaman tropis yang banyak tumbuh di
berbagai daerah di Indonesia sebagai tanaman yang dipelihara. Tanaman ini banyak
digunakan sebagai ramuan obat tradisional dan sebagai bumbu dalam masakan sehingga para
petani banyak yang membudidayakan tanaman kencur sebagai hasil pertanian yang
diperdagangkan. Bagian dari kencur yang diperdagangkan adalah buah akar yang ada di
dalam tanah yang disebut rimpang kencur atau rizoma (Barus, 2009).
Rimpang kencur sudah dikenal luas di masyarakat baik sebagai bumbu makanan atau untuk
pengobatan, diantaranya adalah batuk, mual, bengkak, bisul dan jamur. Selain itu minuman beras
kencur berkhasiat untuk menambah daya tahan tubuh, menghilangkan masuk angin, dan
kelelahan, dengan dicampur minyak kelapa atau alkohol digunakan untuk mengurut kaki keseleo
atau mengencangkan urat kaki. Komponen yang terkandung di dalamnya antara lain saponin,
flavonoid, polifenol dan minyak atsiri. Tanaman ini termasuk kelas monocotyledonae, bangsa
Zingiberales, suku Zingiberaceae dan, marga Kaempferia (Winarto, 2007).
- Kencur diketahui memiliki kandungan kimia seperti saponin, flavonoid, polifenol, dan
minyak atsiri. Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengetahui potensi ekstrak
kencur sebagai obat herbal, salah satunya adalah antifungal. Penelitian modern lainnya
juga membuktikan bahwa kandungan kimia di dalam rimpang kencur memiliki banyak
manfaat, seperti kemampuannya sebagai substansi antiinflamasi, antialergi, dan
analgesic. Minyak atsiri di dalam rimpang kencur mengandung etil sinnamat dan metil p-
metoksisinamat yang banyak digunakan di dalam industri kosmetika dan dimanfaatkan
sebagai obat asma dan anti jamur. Banyaknya manfaat kencur memungkinkan
pengembangan pembudidayaannya dilakukan secara intensif yang disesuaikan dengan
produk akhir yang diinginkan. (Winarto, 2007). Oleh karena itu pada praktikum ini
dilakukan pembuatan ekstraksi rimpang kencur ((Kaempferia galanga) dengan metode
maserasi perendaman.
1.2 Tujuan
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka tujuan praktikum kali ini adalah :
- Mahasiswa dapat memahami bagaimana prisip dasar dan tekhnik isolasi senyawa Etil
Para Metoksi Sinamat (EPMS) dari rimpang kencur (Kaempferia galanga) dengan
metode maserasi
- Mahasiswa dapat memahami perbedaan metode ekstraksi rimpang kencur ((Kaempferia
galanga)
1.3 Manfaat
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka manfaat praktikum kali ini adalah :
- Mahasiswa mampu melakukan ekstraksi rimpang kencur ((Kaempferia galanga) dengan
metode maserasi
- Mahasiswa mampu melakukan ekstraksi dengan cara baik dan benar
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Rimpang Kencur

Kencur (Kaempferia galanga L) merupakan tanaman tropis yang banyak tumbuh


diberbagai daerah di Indonesia sebagai tanaman yang dipelihara. Tanaman ini banyak digunakan
sebagai ramuan obat tradisional dan sebagai bumbu dalam masakan sehingga para petani banyak
yang membudidayakan tanaman kencur sebagai hasil pertanian yang diperdagangkan dalam
jumlah yang besar. Bagian dari tanaman kencur yang diperdagangkan adalah buah akar yang
tinggal didalam tanah yang disebut dengan rimpang kencur atau rizoma (Soeprapto,1986).

Klasifikasi Kaempferia galanga L di dalam dunia botani adalah sebagai berikut:

Gambar 1. Tanaman Kencur


Kerajaan : Plantae

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Liliopsida

Ordo : Zingiberales

Family : Zingiberaceae

Up Family : Zingiberoidae
Genus : Kaempferia

Spesies : Kaempferia galanga

2.2 Kandungan Kimia dari Kencur

Kandungan kimia rimpang kencur telah dilaporkan oleh Afriastini,1990 yaitu (1) etil
sinamat, (2) etil p-metoksisinamat, (3) p-metoksistiren, (4) karen (5) borneol, dan (6) paraffin

Gambar 2. Kandungan kimia rimpang kencur


Diantara kandungan kimia ini, etil p-metoksisinamat merupakan komponen utama dari
kencur (Afriastini,1990). Tanaman kencur mempunyai kandungan kimia antara lain minyak atsiri
2,4-2,9% yang terjadi atas etil parametoksi sinamat (30%). Kamfer, borneol, sineol, penta
dekana. Adanya kandungan etil para metoksi sinamat dalam kencur yang merupakan senyawa
turunan sinamat (Inayatullah, 1997 dan Jani, 1993).
Manfaat yang di peroleh dari penanaman kencur adalah untuk meningkatkan produktivitas
lahan pertanian dan sekaligus menambah penghasilan petani. Dari rimpang kencur ini dapat
diperoleh berbagai macam keperluan yaitu: minyak atsiri, penyedap makanan minuman dan
obat-obatan. Berbagai jenis makanan mempergunakan sedikit rimpang atau daun kencur
sehingga memberikan rasa sedap dan khas yaitu dalam pembuatan gado-gado, pecal dan urap.
Rimpang kencur yang digerus bersama- sama beras kemudian diseduh dengan air masak dan
diberi sedikit gula atau anggur dapat digunakan sebagai minuman. Minuman ini berguna bagi
kesehatan tubuh, jenis minuman ini sudah diperiksa dipabrik-pabrik berupa minuman beras
kencur. Rimpang kencur di pergunakan untuk meramu obat-obatan tradisional yang sudah
banyak di produksi oleh pabrik-pabrik jamu maupun dibuat sendiri, rimpang mempunyai khasiat
obat antara lain untuk menyembuhkan batuk dan keluarnya dahak, mengeluarkan angin dari
dalam perut, bisa juga untuk melindungi pakaian dari serangga perusak, caranya rimpang kering
kencur disimpan diantara lipatan-lipatan kain (Afrianstini, 1990).
Kencur (Kamferia galanga L) adalah salah satu jenis temu-temuan yang banyak
dimanfaatkan oleh rumah tangga dan industri obat maupun makanan serta minuman dan industri
rokok kretek yang memiliki prospek pasar cukup baik. Kandungan etil p-metoksisinamat
(EPMS) didalam rimpang kencur menjadi bagian yang penting didalam industri kosmetik karena
bermanfaat sebagai bahan pemutih dan juga anti eging atau penuaan jaringan kulit (Rosita,2006).

2.3 Pembuatan Ekstrak Rimpang Kaempferia galanga

Ekstraksi adalah pemisahan zat target dan zat yang tidak berguna dimana teknik
pemisahan berdasarkan perbedaan distribusi zat terlarut antara dua pelarut atau lebih yang saling
bercampur. Pada umumnya, zat terlarut yang diekstrak bersifat tidak larut atau sedikit larut
dalam suatu pelarut tetapi mudah larut dengan pelarut lain (Harbone, 1987).

Ekstrak adalah sediaan kental yang diperoleh dengan mengekstraksi senyawa aktif dari
simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau
hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian
hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan. (Tim Dosen, 2018)

Berdasarkan konsistensinya ekstrak dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu :

1. Ekstrak cair : ekstrak cair, tingtur, maserat minyak (Extracta Liquida)


2. Semi solid : ekstrak kental (Extracta Spissa)
3. Kering : ekstrak kering (Extracta Sicca)
Beberapa metode ekstraksi yang dapat digunakan yaitu :

1. Ektraksi dengan menggunakan pelarut


a. Cara dingin : Maserasi, Perkolasi
b. Cara panas : Refluks, Soxhlet, Digesti, Infus, Dekok.
2. Ekstraksi dengan menggunakan uap (Destilasi uap)
3. Metode lain : ekstraksi berkesinambungan, superkritikal karbondioksida, ekstraksi
ultrasonic, ekstraksi energy listrik. (Tim Dosen, 2018)

a. Metode Maserasi

Maserasi adalah pemisahan zat target dengan zat sisa menggunakan prinsip sifat polaritas
dimana akan ada pelarut yang sifat polaritasnya sesuai dengan zat target. Maserasi merupakan
metode yang paling sederhana dalam pemisahan zat, yaitu dengan cara merendam bahan alam
yang telah dikeringkan dalam suatu campuran pelarut (Pratiwi,2009)

Keuntungan dari metode ini adalah dapat digunakan secara praktis serta menggunakan alat
dan bahan sederhana serta dapat menghasilkan ekstrak dalam jumlah banyak. Selain itu, senyawa
dalam simplisia relatif terhindar dari perubahan kimia oleh senyawa-senyawa atau adanya
pemanasan (Pratiwi,2009)

Pada ekstraksi dengan metode maserasi, bahan diekstraksi langsung sesuai dengan jam
yang telah ditentukan, kemudian disaring dan pelarutnya diuapkan dengan rotary evaporator
hingga tidak terdapat pelarut yang menetes

b. Metode Maserasi Kinetika

Pada penyarian dengan cara maserasi, perlu dilakukan pengadukan. Pengadukan


diperlukan untuk meratakan konsentrasi larutan di luar butir serbuk simplisia, sehingga dengan
pengadukan tersebut tetap terjaga adanya derajat perbedaan konsentrasi yang sebesar-besarnya
antara larutan di dalam sel dengan larutan di luar sel. Penggunaan mesin pengaduk yang berputar
terus-menerus, waktu proses maserasi dapat dipersingkat menjadi 6 sampai 24 jam (Direktorat
Jendral Pengawasan Obat dan Makanan RI, 1986).

Salah satu unsur dalam maserasi adalah pengadukan. Pada alat maserasi orbital shaker
pengadukan memiliki satuan rpm (kecepatan putar). Selain itu, unsur lain yang berperan dalam
proses maserasi ini adalah waktu. Diharapkan semakin lama sejumlah simplisia dimaserasi maka
ekstrak yang didapat semakin banyak. Namun demikian waktu tetap perlu dibatasi, karena
menurut Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan RI (1986) apabila terlalu lama
simplisia tersebut akan ditumbuhi mikroorganisme
c. Metode Maserasi Ultrasonik

Ini adalah metode maserasi yang dimodifikasi dimana ekstraksi difasilitasi dengan
menggunakan ultrasound (pulsa frekuensi tinggi, 20 kHz). Ekstrak ditempatkan dalam botol.
Vial ditempatkan dalam penangas ultrasonik, dan USG digunakan untuk menginduksi mekanik
pada sel melalui produksi kavitasi dalam sampel. Kerusakan seluler meningkat pelarutan
metabolit dalam ekstraksi pelarut dan meningkatkan hasil. Efisiensi ekstraksi tergantung pada
frekuensi instrumen, dan panjang dan suhu sonikasi. Ultrasonication adalah jarang diterapkan
untuk ekstraksi skala besar; itu adalah sebagian besar digunakan untuk awal ekstraksi dari
sejumlah kecil bahan. Hal ini umumnya diterapkan untuk memfasilitasi ekstraksi metabolit
intraseluler dari kultur sel tanaman. Penggunaan ultrasonik pada dasarnya menggunakan prinsip
dasar yaitu dengan dengan mengamati sifat akustik gelombang ultrasonik yang dirambatkan
melalui medium yang dilewati. Pada saat gelombang merambat, medium yang dilewatinya akan
mengalami getaran. Getaran akan memberikan pengadukan yang intensif terhadap proses
ekstraksi. Pengadukan akan meningkatkan osmosis antara bahan dengan pelarut sehingga akan
meningkatkan proses ektraksi
Keuntungan metode ekstraksi dengan bantuan ultrasonic:
a. Mempercepat waktu ekstraksi
b. Lebih efisien dalam penggunaan pelarut.
c. Tidak ada kemungkinan pelarut yang digunakan dalam ekstraksi menguap sampai
kering.Berbeda halnya apabila menggunakan hot plate, terutama apabila menggunakan
sedikit pelarut dalam proses peleburan atau pelarutan.
d. Aman digunakan karena prosesnya tidak mengakibatkan perubahan yang signifikan
pada struktur kimia, partikel, dan senyawa-senyawa bahan yang digunakan.
e. Meningkatkan ekstraksi lipid dan protein dari biji tanaman, seperti kedelai (misalnya
tepung kedelai atau yg dihilangkan lemak) atau bibit minyak lainnya.
Kekurangan dari metode ekstraksi dengan bantuan ultrasonic:
a. Membutuhkan biaya yang tidak sedikit, karena relatif mahal.
b. Membutuhkan curing pada prosesnya.

d. Perkolasi
Perkolasi merupakan proses penyarian serbuk simplisia dengan pelarut yang cocok dengan
melewatkan secara perlahan-lahan melewati kolom. Serbuk simplisia dimasukkan kedalam
perkolator, dengan cara mengalirkan cairan melalui kolom dari atas ke bawah melalui celah
untuk keluar ditarik oleh gaya berat seberat cairan dalam molom. Pembaharuan bahan pelarut
secara terus-menerus sehingga memungkinkan berlangsungnya maserasi bertingkat. Kekurangan
dari metode ini adalah tidak boleh digunakan pada ekstrak yang mengandung bahan yang bisa
mengembang atau pati/amylum (Ansel, 1989).

Kecuali dinyatakan lain, metode perkolasi dilakukan sebagai berikut: Basahi 10 bagian
simplisia atau campuran simplisia dengan derajat halus yang cocok dengan 2,5 bagian sampai 5
bagian penyari, masukkan ke dalam bejana tertutup sekurang-kurangnya selama 3 jam.
Pindahkan massa sedikit demi sedikit kedalam perkolator sambil tiap kali ditekan hati-hati,
tuangi dengan cairan penyari secukupnya sampai cairan mulai menetes dan diatas simplisia
masih terdapat selapis cairan penyari, tutup perkolator, biarkan selama 24 jam. Biarkan cairan
menetes dengan kecepatan 1 ml per menit, tambahkan berulang-ulang cairan penyari secukupnya
sehingga selalu terdapat selapis cairan diatas simplisia, hingga diperoleh 80 bagian perkolat.
Peras massa, campurkan cairan perasan kedalam perkolat, tambahkan cairan penyari secukupnya
sehingga diperoleh 100 bagian. Pindahkan kedalam sebuah bejana, tutup, biarkan selama 2 hari
ditempat sejuk, terlindung dari cahaya. Enap tuangkan atau saring. Perkolat disuling atau
diuapkan dengan tekanan rendah pada suhu tidak lebih dari 500C hingga konsistensi yang
dikehendaki. Pada pembuatan ekstrak cair, 0,8 bagian perkolat pertama dipisahkan, perkolat
selanjutnya diuapkan hingga 0,2 bagian, campur dengan perkolat pertama. Pembuatan ekstrak
cair dengan penyari etanol, dapat juga dilakukan dengan cara reperkolasi tanpa menggunakan
panas (BPOM RI, 2010).
e. Refluks

Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik didihnya selama waktu
tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif konstan dengan adanya pendingin balik.
Umumnya dilakukan pengulangan proses pada residu pertama sampai 3-5 kali sehingga dapat
termasuk proses ekstraksi sempurna (Depkes RI, 2000).
Dilakukan dengan menggunakan alat destilasi, dengan merendam simplisia dengan pelarut
/ solven dan memanaskannya hingga suhu tertentu. Pelarut yang menguap sebagian akan
mengembung kembali kemudian masuk ke dalam campuran simplisia kembali, dan sebagian ada
yang menguap (Depkes RI, 2000).

f. Soxhlet
Cara pembuatan ekstrak dengan metode soxhletasi dilakukan sebagai berikut: Bahan yang
akan diekstraksi diletakkan dalam sebuah kantung ekstraksi (kertas atau karbon) dibagian dalam
alat ekstraksi dari gelas yang bekerja kontinyu (percolator). Wadah gelas yang mengandung
kantung diletakkan antara labu penyulingan dengan pendingin aliran balik dan dihubungkan
dengan labu melalui pipa. Labu tersebut berisi bahan pelarut yang menguap dan mencapai ke
dalam pendingin aliran balik melalui pipet, berkondensasi didalamnya, menetes ke atas bahan
yang diekstraksi. Larutan berkumpul didalam wadah gelas dan setelah mencapai tinggi
maksimalnya, secara otomatis dipindahkan kedalam labu. Dengan demikian zat yang terekstraksi
terakumulasi melalui penguapan bahan pelatur murni berikutnya (Voight, 1984).
BAB III

PROSEDUR KERJA

Alat dan bahan

Alat :
- Erlenmeyer
- Corong gelas
- Gelas ukur
- Aluminium foil
- Timbangan analitik
- Sudip
- Batang pengaduk
- Loyang
- Rotavapor

Bahan :
- Serbuk rimpang kencur
- Etanol 96%
- Cab-o-sil
a. Metode Maserasi

Timbang 400g Masukkan ke Tambahkan 1000ml


serbuk rimpang bejana maserasi etanol 96%, aduk
kencur

Tutup bejana dengan alumunium, diamkan Hasil, ditambah 600ml


selama 24 jam, hasil disaring etanol 96%, aduk

Diamkan selama 24jam,


Tampung filtrat Residu ditambah
hasil disaring
1200ml etanol 96%

Diamkan selama 24jam, Residu ditambah Tampung filtrat


hasil disaring 1200ml etanol 96%

Filtrat yang terkumpul di Ratakan ekstrak


Tampung filtrat
rotavapor ad ±400ml kedalam loyang

Diamkan semalam ( sampai kering ),


homogenkan dan simpan dalam wadah Taburkan cab-o-sil sebanyak 5%
serta beri label identitas dari ekstrak ( 20g ) ad rata
Prosedur Kerja
1. Ditimbang 400g serbuk rimpang kencur, dimasukkan dalam bejana maserasi.
2. Ditambahakan 1000ml etanol 96%, aduk sampai serbuk terbasahi.
3. Hasil no. 2 ditambahkan 600ml etanol 96%, aduk sampai homogen, tutu bagian
mulut bejana dengan alumunium, dan diamkan selama 24jam.
4. Hasil maserasi no. 2 disaring. Tampung filtrat dan lakukan kebali maserasi dengan
1200ml etaol 96% pada residu selama 24 jam.
5. Disaring hasil maserasi no. 3. Tampung filtrat dan lakukan kembali maserasi dengan
1200ml etanol pada residu selama 24 jam.
6. Disaring kembali maserasi no.4. kumpulkan semua filtrat menjadi satu.
7. Kaliberasi labu pada rotavapor (berisi ekstrak), berikan tanda pada volume 400ml.
8. Filtrat yang terkumpul dilakukan pemekatan dengan rotavapor yaitu peguapan
dengan penurunan tekanan higga volume tersisa ±400ml (tanda kaliberasi) dan
pindahkan hasilnya kedalam loyang. Ratakan ekstrak pada loyang.
9. Ditambahkan cab-o-sil sebanyak 5% dari ekstrak (20g) dengan ditaburkan sedikit
demi sedikit secara merata. Ekmudian diamkan selama semalam (sampai kering).
10. Homogenkan dan simpan pada wadah tertutup (botol selai)
11. Berikan label identitas pada wadah.
b. Metode Maserasi Kinetika

Timbang 400g Masukkan ke Tambahkan 1000ml


serbuk rimpang bejana maserasi etanol 96%, aduk
kencur

Tutup bejana dengan alumunium, aduk pada Hasil, ditambah 600ml


kecepatan tertentu selama 2jam, saring etanol 96%, aduk

Aduk pada kecepatan


Tampung filtrat Residu ditambah
tertentu selama 2jam,
1200ml etanol 96%
saring

Aduk pada kecepatan Residu ditambah Saring dan


tertentu selama 2jam, 1200ml etanol 96% tampung filtrat
saring

Saring dan Filtrat yang terkumpul di Ratakan ekstrak


tampung filtrat rotavapor ad ±400ml kedalam loyang

Diamkan selama semalam. Homogenkan Taburkan cab-o-sil sebanyak 5%


dan simpan dalm wadah serta beri label dari ekstrak ( 20g ) ad rata
identitas
Prosedur Kerja
1. Ditimbang 400 serbuk rimpang kencur, dimasukkan dalam bejana maserasi.
2. Ditambahkan 1000ml etanol 96%, aduk sampai serbuk terbasahi
3. Hasil no. 2 ditambhakan 600ml etanol 96%, aduk sampai homogen, tutup bagian
mulut bejana dengan alumunium, lakukan pengadukan pada kecepatan tertentu (
semua serbuk simplisia teraduk ) selama 2 jam ( catat kecepatan yang digunakan )
4. Hasil maserasu pada no. 2 disaring. Tamung fltrat dan lakukan kembali maserasi
kinetika dengan 1200ml etanol 96% pada residu selama 2 jam pada kecepatan yang
sama ( perlakuan no. 3 )
5. Hasil maserasi pada no. 3 disarng. Tampung filtrat dan lakukan kembali maserasi
kinetika dengan 1200ml etanol 96% pada residu selama 2 jam pada kecepatan yang
sama ( perlakuan no. 3 )
6. Disaring kembali maserasi no.4. Kumpulkan semua filtrat menjadi satu.
7. Keliberasi labu pada rotavapor (berisi ekstrak), berikan tanda pada volume 400ml.
8. Filtrat yang terkumpul dilakukan pemekatan dengan rotavapor yaitu penguapan
dengan penutunan tekanan hingga volume tersisa ±400ml (tanda kaliberasi) dan
pindahkan hasilnya kedalam loyang. Ratakan ekstrak pada loyang.
9. Ditambahkan cab-o-sil sebanyak 5% dari ekstrak (20g) dengan ditaburkan sedikit
demi sedikit secara merata. Kemudian diamkan selama semalam (sampai kering).
10. Homogenkan dan simpan pada wadah tertutup (botol selai).
11. Berikan label identitas pada wadah.
c. Metode Maserasi Ultrasonik

Timbang 50g Masukkan ke Ulangi sebanyak 7


serbuk rimpang bejana maserasi kali
kencur

Hasil, tutup mulut bejana dengan Ditambah 200ml etanol 96% pada
alumunium, masukkan ke bejana masing – masing bejana , aduk
ultrasonik

Masing – masing residu


Getarkan selama Hasil disaring dan ditambah 200ml etanol
15menit tampung filtrat 96%

Masing – masing residu


ditambah 200ml etanol Hasil disaring dan Getarkan selama
96% tampung filtrat 15menit

Hasil disaring dan Filtrat yang terkumpul


Getarkan selama kumpulkan semua di rotavapor ad
15menit filtrat ±400ml

Diamkan selama Taburkan cab-o-sil


semalam. Homogenkan sebanyak 5% dari Ratakan ekstrak
dan simpan dalam ekstrak ( 20g ) ad rata kedalam loyang
wadah serta beri label
identitas
Prosedur Kerja
1. Ditimbang 50 g serbuk rimpang kencur, dimasukkan dalam bejana maserasi
(Erlenmeyer 250 ml).
2. Ulangi perlakuan no. 1 sebanyak 7 kali.
3. Ditambahkan 200 ml etanol 96% pada masing-masing bejana maserasi (8
erlenmeyer), aduk sampai serbuk terbasahi.
4. Hasil no. 3 tutup bagian mulut bejana dengan aluminium, masukkan dalam bejana
ultrasonic, dan digetarkan selama 15 menit. (catat getaran ultrasonik yang
digunakan).
5. Hasil maserasi pada no. 4 disaring (8 erlenmeyer). Tampung filtrat dan lakukan
kembali maserasi dengan getaran ultrasonik dengan 200 ml etanol 96% pada masing-
masing residu (8 erlenmeyer) selama 15 menit (perlakuan no. 4).
6. Hasil maserasi pada no. 5 disaring. Tamping filtrate dan lakukan kembali maserasi
dengan getaran ultrasonic dengan 200 ml etanol 96% pada masing-masing residu (8
erlenmeyer) selama 15 menit (perlakuan no. 4).
7. Disaring kembali maserasi no 6. Kumpulkan semua filtrate menjadi satu.
8. Kaliberasi labu pada rotavapor (berisi ekstrak), berikan tanda pada volume 400 ml.
9. Filtrate yang terkumpul dilakukan pemekatan dengan rotavapor yaitu penguapan
dengan penurunan tekanan hingga volume tersisa ± 400 ml (tanda kaliberasi) dan
pindahkan hasilnya kedalam Loyang. Ratakan ekstrak pada Loyang.
10. Ditambahkan cab-o-sil sebanyak 5% dari ekstrak (20 g) dengan ditaburkan sedikit
demi sedikit secara merata. Kemudian diamkan selama semalam (sampai kering).
11. Homogenkan dan simpan pada wadah tertutup (botol selai). Berikan label identitas
pada wadah.
BAB IV
HASIL dan PEMBAHASAN
HASIL

Gambar 3. Proses Penyaringan Pembuatan Gambar 4. Proses Pemekatan Pembuatan


ekstraksi rimpang kencur ((Kaempferia ekstraksi rimpang kencur ((Kaempferia
galanga) dengan metode maserasi galanga) dengan metode maserasi
perendaman. perendaman.

Gambar 5. Proses Pengeringan Pembuatan


ekstraksi rimpang kencur ((Kaempferia
galanga) dengan metode maserasi
perendaman.
PEMBAHASAN
BAB V
KESIMPULAN
Daftar Pustaka

Barus R, 2009, Amidasi p-metoksinamat yang Diisolasi dari Kencur (Kaempferia galangal, L)
[Tesis], Sumatera Utara, Program Pascasarjana USU.
Winarto, W. P., 2007, Tanaman Obat Indonesia Untuk Pengobatan Herbal, 152- 153, Jakarta,
Karyasari Herba Media.
Soeparto. S.1986. Jamu Jawa Asli. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta.
Rosita. S. M. D. O. Rostiana dan W. Haryudin.2006. Respon Kencur (Kaempferia Galanga
Linn) Terhadap Pemupukan. Prosiding Seminar Nasional dan Pemeran Tumbuhan
obat Indonesia XXVIII
Inayatullah. M. S.1997. Standarisasi Rimpang Kencur dengan Parameter Etil Para Metoksi
sinamat. Skripsi Fakultas Farmasi Universitas Erlangga.Surabaya
Jani.1993.Uji Aktifitas Tabir Matahari Senyawa Para Metoksi Transinamat dari Rimpang
Kencur (Kaempferia Galanga Linn). Skripsi Fakultas Farmasi Universitas. Surabaya
Afriastini.J.J. 1990. Bertanam Kencur. Wakarta Penebar Swadaya. Jakarta
Pratiwi, Endah. 2010. Perbandingan Metode Maserasi, Remaserasi, Perkolasi dan Reperkolasi
dalam Ekstraksi Senyawa Aktif Andrographolide dari Tanaman Sambiloto (Andrographis
paniculata (burm.f.) Nees). Institut Pertanian Bogor.
Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan RI, 1986
Ansel, H.C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Edisi ke-4. Jakarta: UI-Press.
Ditjen POM. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Cetakan Pertama.
Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Voigt, R., 1994, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, Edisi 5, 561, 577, diterjemahkan oleh
Soewandi, N. S., dan Widianto, B. M., Gadjah Mada University Press, Yogyakarta