Anda di halaman 1dari 14

PROPOSAL TERAPI AKTIFITAS KELOMPOK

HALUSINASI

A. Latar Belakang Masalah


Persepsi adalah daya mengenal barang, kualitas atau hubungan serta
perbedaan antara hal ini melalui proses mengamati, mengetahui, dan
mengartikan setelah panca inderanya mendapat rangsang. Jadi persepsi itu
dapat terganggu oleh gangguan otak (karena kerusakan otak, keracunan obat,
halusinasi nogenik), oleh gangguan jiwa (emosi tertentu dapat mengakibatkan
ilusi : psikosa dapat menimbulkan halusinasi), atau oleh pengaruh lingkungan
sosio-budaya (mempengaruhi persepsi karena penilaian yang berbeda dan
orang dari lingkungan sosio budaya yang berbeda pula). (W. F Maramis 1998).
Halusinasi adalah persepsi panca indera tanpa sumber rangsangan sensorik
eksternal, yang terjadi dalam keadaan sadar/bangun, dasarnya mungkin
organik, fungsional psikotik ataupun histerik. Halusinasi ini dapat
mengakibatkan klien bicara sendiri, senyum sendiri, dan tertawa sendiri,
ekspresi muka tegang, mudah tersinggung, menarik diri, dan menghindar dari
orang lain, konsentrasi tidak dapat membedakan nyata dan tidak nyata bahkan
dapat menimbulkan curiga, bermusuhan, merusak (diri sendiri, orang lain dan
lingkungan).
Terapi Aktifitas Kelompok merupakan suatu upaya mempasilitasi psiko
therapi terhadap sejumlah klien pada waktu yang sama dengan jalan
berdiskusi satu sama lain yang dipimpin oleh seorang terapis atau petugas
kesehatan jiwa yang terlatih untuk memantau dan meningkatkan hubungan
interpersonal antar anggota.
Keuntungan yang dapat diperoleh individu melalui Terapi Aktivitas
Kelompok adalah :
1. Dukungan
2. Pendidikan
3. Meningkatkan kemampuan dalam memecahkan masalah
4. Meningkatkan hubungan interpersonal

1
5. Meningkatkan uji realitas, reality testing pada klien, gangguan orientasi,
(Bierckhead, 1999).

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Agar klien mampu memahami halusinasi dan cara mengatasi halusinasi.
2. Tujuan Khusus
Setelah dilakukan Terapi Aktivitas Kelompok klien dapat :
a. Menjelasakan pengertian halusinasi
b. Menyebutkan macam-macam halusinasi
c. Menyebutkan penyebab halusinasi
d. Menyebutkan tanda dan gejala halusinasi
e. Mendemonstrasikan cara mengatasi halusinasi

C. Teori Tentang Halusinasi


1. Pengertian Halusinasi
Halusinasi adalah pencerapan tanpa adanya rangsangan apapun pada panca
indra seorang klien yang terjadi dalam keadaan sadar dasarnya mungkin
organik, fungsional, psikotik atau histerik (Maramis, 2004: 119)
Halusinasi adalah persepsi klien terhadap lingkungan tanpa stimulasi yang
nyata, artinya klien menginterprestasikan sesuatu yang nyata tanpa
stimulasi / rangsangan dari luat (ekstrenal). (Keliat, 1998)
2. Rentang Respon Neurobiologik
Gejala psikosis menyebar dalam lima kategori utama fungsi otak yaitu
kognisi, persepsi, emosi, perilaku dan sosialisasi yang juga saling
berhubungan. Perilaku berhubungan dengan persepsi, persepsi mengacu
pada identifikasi dan interprestasi awal dari suatu stimulasi berdasarkan
informasi yang diterima melalui panca indra. Oleh karena itu respon
individu dalam menghadapi perubahan berhubungan dengan fungsi
neurobiologik dan individu akan berada dalam rentang respon adaptif dan
maladaptif. Digambarkan dalam gambar rentang respon neurobiologik
dibawah ini

2
Respon adaptif Respon maladaptif
- Pikiran logis - Pikiran kadang - Kelainan pikiran
menyimpang /delusi
- Persepsi akurat - Ilusi - Halusinasi
- Emosi konsisten - Reaksi emosional - Ketidakmampuan
dengan pengalaman berlebihan atau untuk emosi
kurang
- Perilaku sesuai - Perilaku ganjil atau - Ketidakteraturan
tal lazim
- Hubungan sosial - Menarik diri - Isolasi sosial
Gambar 2.1
Rentang Respon Neurobiologik
(Stuart & Sundeen, 1998: 302)
3. Proses Terjadinya Halusinasi
a. Faktor Predisposisi
1) Faktor Perkembangan
Hambatan perkembangan akan mengganggu hubungan
interpersonal yang dapat meningkatkan stress dan kecemasan yang
dapat berakhir dengan gangguan persepsi. Klien mungkin menekan
perasaannya sehingga pematangan fungsi intelektual dan emosi
tidak efektif
2) Faktor Sosial Budaya
Berbagai faktor di masyarakat yang membuat seseorang atau
individu disingkirkan atau diasingkan
3) Faktor Psikologis
Hubungan interpersonal yang tidak harmonis, peran ganda atau
peran yang bertentangan dapat menimbulkan kecemasan berat yang
akhirnya terjadi pengingkaraan terhadap kenyataan

4) Faktor Biologis

3
Struktur otak yang abnormal ditemukan pada klien dengan
gangguan orientasi realitas. Dapat ditemukan atropi otak,
pembesaran vertikal, perubahan besar dalam bentuk sel kortikal
dan limbik.
5) Faktor Genetik
Gangguan orientasi realita umumnya ditemukan pada klien
Schizofrenia. Penderita Schizofrenia ditemukan cukup tinggi pada
keluarga yang anggota keluarganya menderita Schizofrenia dan
akan lebih tinggi jika orang tua mempunyai riwayat Schizofrenia.
Dari hasil penelitian kembar monozygot memberi pengaruh lebih
tinggi dari kembar dizygot pada perkembangan Schizofrenia.
b. Faktor Presipitasi
1) Faktor Biokimia
Berbagai penelitian tentang depamine, norephinerin, zat
haslusinogen diduga berkaitan dengan gangguan orientasi realitas.
2) Stresor Sosial Budaya
Stres dan kecemasan akan meningkat bila terjadi penurunan
stabilitas keluarga, perpisahan dengan orang yang penting atau
disingkirkan dari kelompok.
3) Faktor Psikologis
Intensitas kecemasan yang ekstrim dan memanjang disertai
terbatasnya kemampuan mengatasi masalah memungkinkan
berkembangnya gangguan orintasi realitas. Klien mengembangkan
koping untuk menghindari kenyataan yang tidak menyenangkan
(Kliat, 1998)
4. Tahapan Terjadinya Halusinasi
Stuart & Sundeen menjelaskan tahapan terjadinya halusinasi terbagi dalam
empat fase antara lain:
a. Fase pertama
Secara umum halusinasi bersifat menyenangkan. Pada fase ini klien
mengalami keadaan emosi seperti ansietes, kesepian, merasa bersalah
dan takut serta mencoba untuk memusatkan pada penenangan pikiran

4
untuk mengurangi ansietes / kecemasan, diam dan dipenuhi oleh
sesuatu hal yang mengasikan.
b. Fase Kedua
Pada fase ini klien mulai merasa kehilangan kendali dan mungkin
berusaha untuk menjauhkan dirinya dari sumber yang dipersepsikan.
Pengalaman sensori bersifat menjijikan dan menakutkan. Dipenuhi
dengan pengalaman sensori dan memungkinkan kehilangan
kemampuan untuk membedakan antara halusinasi dengan realitas.
c. Fase Ketiga
Pad fase ini halusinasi lebih menonjol, klien lebih cenderung
mengikuti petunjuk yang diberikan oleh halusinasinya dari pada
menolaknya. Klien menyerah untuk melawan pengalaman halusinasi
dan membiarkan halusinasi menguasai dirinya, klien mungkin merasa
kesepian jika halusinasinya berakhir.
d. Fase Keempat
Halusinasi yang semula menyenangkan berubah menjadi ancaman, jika
klien tidak mau mengikuti perintah halusinasinya sehingga klien tidak
mampu melakukan aktivitas dan interaksi dengan lingkungannya.
Kondisi seperti ini bisa berlangsung dalam beberapa jam atau hari bila
tidak ada intervensi terapeutik.
5. Tanda dan Gejala Halusinasi
Tanda dan gejala halusinasi diantaranya:
a. Bicara, senyum dan tertawa sendiri.
b. Mengatakan mendengar suara, melihat, mengecap, menghirup sesuatu
yang tidak nyata.
c. Merusak diri sendiri dan orang lain.
d. Tidak dapat memusatkan perhatian/konsentrasi.
e. Pembicaraan kacau, kadang-kadang tidak masuk akal.
f. Sikap curiga / bermusuhan.
g. Sulit membuat keputusan.
h. Ekspresi wajah tegang.

5
i. Tekanan darah meningkat, nadi cepat, nafas terengah-engah serta
banyak keringat.
(Keliat, 1998)
6. Jenis-Jenis Halusinasi
Halusinasi dibagi menjadi beberapa jenis yaitu:
a. Halusinasi penglihatan: tak berbentuk (suara, kilapan, atau pola
cahaya) atau berbentuk (orang, binatang, barang) berwarna atau tidak.
b. Halusinasi pendengaran yaitu berupa suara manusia, hewan, mesin,
barang, kejadian alam dan musik.
c. Halusinasi penciuman berupa mencium sesuatu bau.
d. Halusinsi pengecap berupa mengecap atau merasakan sesuatu.
e. Halusinasi perabaan yaitu merasa diraba, disentuh, ditiup, disinari.
f. Halusinasi kinestik yaitu merasa badannya atau anggota badannya
bergerak.
g. Halusinasi visceral yaitu perasaan tertentu timbul didalam tubuhnya.
h. Halusinasi hipnagogik terdapat ada kalanya pada seseorang yang
normal, tepat sebelum tidur persepsi sensorik bekerja salah.
i. Halusinasi hipnopompik sama halnya seperti halusinasi hipnagogik,
tetapi terjadi tepat sebelum terbangun dari tidur.
j. Halusinasi histerik yaitu timbul pada nerosa histerik karena konflik
emosional.
(Maramis, 2004: 119)
7. Cara Mengatasi Halusinasi
a) Menghardik halusinasi.

b) Bercakap-cakap dengan orang lain.

c) Melakukan aktivitas yang terjadwal.

d) Meminum obat secara teratur.

D. Metode
Metode yang digunakan dalam Terapi Aktivitas Kelompok ini adalah induktif
dan diskusi.

6
E. Media
Media yang digunakan antara lain :
1. Kursi
2. Karton, spidol
3. HP

F. Karakteristik Klien Sebagai Anggota Terapi Aktivitas Kelompok


1. Klien dengan halusinasi yang tidak terkontrol
2. Klien dengan kondisi fisiknya sehat
3. Klien dengan keadaan tenang dan kooperatif
4. Klien tidak mengalami prilaku agresif dan tidak ada indikasi amuk.

G. Nama-nama Klien
1. Tn. S
2. Tn. E
3. Tn. S
4. Tn. D

H. Alokasi Tempat dan Waktu


1. Tempat :
2. Waktu :
3. Hari/tanggal :

I. Strategi
1. Mengambil keputusan
2. Menjawab pertanyaan

J. Uraian Struktur kelompok


Pengorganisasian Terapis :
1. Leader
Tugas :
a. Memimpin jalannya Terapi Aktivitas Kelompok

7
b. Merencanakan, mengontrol dan mengatur jalannya Terapi Aktivitas
Kelompok
c. Membuka acara
d. Memimpin diskusi kelompok
e. Menutup acara diskusi
2. Co Leader
Tugas :
a. Mendampingi leader
b. Mengambil alih posisi leader jika terjadi blocking/menyimpang
c. Menyerahkan kembali posisi leader jika leader sudah aktif kembali
d. Menjadi motivator
3. Fasilitator
Tugas :
a. Mendampingi peserta diskusi
b. Memberi suport kepada peserta diskusi agar berperan aktif
c. Ikut serta dalam kegiatan Terapi Aktivitas Kelompok
d. Memberikan stimulus dan motipasi pada anggota kelompok untuk aktif
mengikuti jalannya Terapi Aktivitas Kelompok
4. Observer
Tugas :
a. Mencatat serta mengamati respon klien
b. Mengatasi jalannya Terapi Aktivitas Kelompok dari mulai sampai
selesai dengan format evaluasi kelompok

K. Tata Tertib
1. Peserta bersedia mengikuti kegiatan TAK
2. Peserta wajib hadir 10 menit sebelum TAK dimulai
3. Peserta berpakaian rapih, bersih dan sudah mandi
4. Peserta tidak diperkenankan makan, minum, merokok selama kegiatan
5. Peserta tidak boleh meninggalkan ruangan selama TAK berlangsung
6. Jika ingin mengajukan pertanyaan, peserta mengacungkan tangan dan
berbicara setelah dipersilahkan oleh leader

8
7. Peserta yang mengacaukan acara TAK akan dikeluarkan
8. Apabila selama TAK waktu sudah habis tapi TAK belum selesai akan
diminta persetujuan anggota untuk memperpanjang waktu sampai TAK
selesai

L. Strategi Pelaksanaan
1. Fase Orientasi (10 menit)
a. Terapis mempersiapkan ruangan, yang selanjutnya mengatur posisi
peserta
b. Terapis berdiri didepan, memberikan salam dan memperkenalkan
anggota kelompok (terapis klien), dan membuat kontrak waktu dengan
anggota
c. Terapis menjelaskan tujuan danaturan permainan serta tata tertib TAK
d. Terapis mempersilahkan klien mendemonstrasikan salah satu cara
untuk mengontrol halusinasi
2. Fase Kerja (30 menit)
a. Leader mempersilahkan terapis yang akan melaksanakan diskusi
tentang stimulasi persepsi : Halusinasi
b. Leader memberikan waktu melakukan persepsi kepada anggota
kelompok
c. Leader mempersilahkan klien untuk menyebutkan salah satu cara
mengontrol halusinasinya

3. Fase Terminasi (10 menit)


a. Leader meminta tanggapan klien terhadap kegiatan yang dilakukan
dan menanyakan bagaimana perasaan klien setelah mengikuti
kegiatan TAK
b. Leader menyimpulkan kegiatan yang telah dilakukan dan
memotivasi anggota kelompok untuk mengikuti kegiatan serupa
lagi
c. Menutup acara kegiatan sekaligus melakukan terminasi dengan
klien.

9
M. Program Antisipasi Masalah
Ada beberapa langkah yang dapat diambil dalam mengantisipasi kemungkinan
yang terjadi pada pelaksanaan TAK.
Langkau-langkah yang diambil dalam program antisipasi masalah adalah :
1. Apabila ada klien yang telah bersedia untuk mengikuti TAK tetapi pada
saat pelaksanaan TAK ternyata tidak bersedia maka langkah yang diambil
adalah : dengan mempersiapkan klien cadangan yang telah diseleksi sesuai
dengan kriteria dan disepakati oleh anggota kelompok lainnya.
2. Apabila dalam pelaksanaan ada anggota kelompok yang tidak mentaati
tata
tertib yang telah disepakati maka berdasarkan kesepakatan di tegur terlebih
dahulu dan bila masih terlihat tidak kooperatif maka dikeluarkan dari
kegiatan
3. Bila ada anggota kelompok yang ingin keluar, harus dibicarakan dengan
semua anggota kelompok.
4. Bila ada anggota kelompok yang melakukan tindakan kekerasan, leader
memberikan pada anggota TAK bahwa prilaku kekerasan tidak boleh
dilakukan.
5. Bila ada anggota kelompok yang melakukan kegiatan yang tidak sesuai
dengan tujuan, leader mengeksplorasi dalam kegiatan.
6. Bila ada anggota kelompok menemui anggota kelompok lain,ingatkan
kembali tata tertib yang telah disepakati.
7. Bila ada anggota kelompok yang diam, leader dan fasilitator memberikan
stimulan agar klien mau bicara.
8. Apabila waktu yang disepakati sudah habis tetapi kegiatan belum selesai,
dibuat kesepakatan baru tentang waktu kegiatan.

10
N. Setting Tempat

L CL
Keterangan :
K K
L : Leader
CL : Coleader F F
O : Observer
F : Fasilitator
K K
K : Klien

O. Evaluasi
Setelah selesai mengikuti TAK, stimulus persepsi halusinasi sesi 1,
kemampuan yang diharapkan adalah mengenal isi halusinasi, waktu terjadinya
halusinasi, situasi terjadinya halusinasi dan perasaan saat terjadi halusinasi.

P. Penutup
Demikian proposal ini kami buat, atas perhatian dan dukungannya dalam
pembuatan proposal ini kami ucapkan terimakasih.

Q. Daftar Pustaka
- Keliat, Budi Anna, 2004, Keperawatan Jiwa Therapi Aktivitas Kelompok,
Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
- Susana, AS., 2007, Terapi Modalitas dalam Keperawatan Kesehatan Jiwa,
Mitra Cendika Press, Yogyakarta.

11
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERATAN (SP)
KOMUNIKASI KEPERAWATAN
HALUSINASI

SP 1 Pasien : Membantu pasien mengenal halusinasi, menjelaskan cara-cara


mengontrol halusinasi, mengajarkan pasien mengontrol halusinasi
dengan cara pertama: menghardik halusinasi

Tanggal : Interaksi ke :
Jam :
A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi klien :
DS :
An.N mengatakan sering melihat pocong dan muncul pada malam hari
,durasinya 10 menit
DO :
 An.N bisa menyebutkan isi, frekuensi, dan cara yang dilakukan ketika halusinasi
muncul
 An.N kurang kooperatif
 An.N bingung
2. Diagnose keperawatan :
Gangguan persepsi sensori: Halusinasi
3. Tujuan khusus :
Pasien mengenali halusinasi yang dialaminya
4. Tindakan keperawatan
a. Membantu pasien mengenali halusinasi. Untuk membantu pasien mengenali
halusinasi Saudara dapat melakukannya dengan cara berdiskusi dengan pasien
tentang isi halusinasi (apa yang didengar/dilihat), waktu terjadi halusinasi,
frekuensi terjadinya halusinasi, situasi yang menyebabkan halusinasi muncul
dan respon pasien saat halusinasi muncul
b. Mengajarkan pasien untuk menghardik halusinasi
Tahapan tindakan meliputi:
1) Menjelaskan cara menghardik halusinasi
2) Memperagakan cara menghardik
3) Meminta pasien memperagakan ulang
4) Memantau penerapan cara ini, menguatkan perilaku pasien

12
B. STRATEGI KOMUNIKASI PELAKSANAAN TINDAKAN
KEPERAWATAN
1. Orientasi
a. Salam terapeutik
“Asalamualaikum….. . saya perawat yang akan merawat Ade nama saya inda
saya senang dipanggil inda nama ade siapa? Senang dipanggil apa?”
b. Evaluasi/validasi
Bagaimana perasaan An.S hari ini? Apa keluhan An.S saat ini”
c. Kontrak (topik, waktu, tempat)
“Baiklah, bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang apa yang selama ini
An.S lihat?dimana kita duduk? Diruang tamu?Berapa lama? Bagaimana kalau
10 menit”
2. Kerja
“Apakah An N melihat sesuatu?
“Apakah terus menerus terlihat atau sewaktu-waktu? Kapan yang paling
sering An.s lihat?berapa kali sehari An. N alami? pada keadaan apa pocong itu
terlihat? Apakah pada waktu sendiri?”
“apa yang An.S rasakan pada saat Melihat itu?”
“Apa yang Tn. S lakukan saat melihat pocong itu?Apakah dengan cara itu
pocong itu hilang?bagaimana kalau kita belajar cara-cara untuk mencegah
melihat pocong itu muncul?”
“An.N, ada empat cara untuk mencegah Melihat pocong itu muncul. Pertama
dengan menghardik, kedua dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain.
Ketiga melakukan kegiatan yang sudah terjadwal, dan yang keempat minum
obat dengan teratur”.
“Bagaimana kalau kita belajar satu cara dulu, yaitu dengan menghardik”.
“Caranya sebagai berikut saat melihat pocong tersebut, langsung An.N bilang
pergi saya tidak mau Lihat, saya tidak mau lihat,sambil menutup mata. Coba
An.N peragakan! nah begitu , bagus!coba lagi! Ya bagus An.N sudah bisa”
3. Terminasi
a. Evaluasi Respon
“Bagaimana perasaan An.n setelah peragaan latihan tadi?” coba An.n ulangi
cara menghardik seperti yang sudah saya ajarkan tadi”

13
b. Rencana Tindak lanjut
Kalau melihat pocong itu muncul lagi, silahkan coba cara tersebut!,
bagaimana kalau kita buat jadwal latihanya. Mau jam berapa saja latihannya?.
c. Kontrak yang akan datang (topic, waktu, tepat)
Bagaimana kalau kita bertemu lagi untuk belajar dan latihan mengendalikan
melihat pocong dengan cara yang kedua? Jam berapa? Bagaiana kalau besok
pagi? Berpa lama kita akan berlatih? Dimana tempatnya”. “Baiklah sampai
jumpa. Asalamualaikum”

C. KOMUNIKASI TERAPEUTIK
1. Teknik komunikasi terapeutik yang digunakan :
a. Menawarkan informasi
b. Eksplorasi
c. Reinforcement
2. Sukap komunikasi terapeutik yang digunakan :
a. Berhadapan
b. Kontak mata
c. Membungkuk ke arah klien
d. Terbuka dan rileks

14