Anda di halaman 1dari 16

MATERI PERKULIAHAN

HUKUM ISLAM

I. KERANGKA DASAR, RUANG LINGKUP, CIRI-CIRI DAN TUJUAN HUKUM


ISLAM

1. Hukum Islam Dalam Kurikulum Fakultas Hukum


Apa sebabnya Hukum Islam ada di dalam Kurikulum Fakultas Hukum ?

Jawabannya, antara lain, adalah sebagai berikut:

Karena Alasan Sejarah (Rechts Hogeschool – diajarkan hukum Islam)

Karena Alasan Penduduk (mayoritas Penduduk Islam)

Karena Alasan Yuridis

a. secara normative, secara normative adalah (bagian) hukum Islam yang mempunyai
sanksi kemasyarakatan apabila norma-normanya dilanggar.
b. secara formal yuridis adalah (bagian) hukum Islam yang mengatur hubungan manusia
dengan manusia lain dan benda dalam masyarakat. Bagian hukum Islam ini menjadi
hukum positif berdasarkan atau karena ditunjuk oleh peraturan perundang-undangan,
seperti misalnya hukum perkawinan, hukum kewarisan, hukum wakaf yang telah
dikompilasikan (1988), hukum zakat dan sebagainya. Untuk menegakkan hukum Islam
yang telah menjadi bagian hukum positif itu, sejak tahun 1882 didirikan Pengadilan
Agama di Jawa dan Madura. Dalam system peradilan di Indonesia kedudukan pengadilan
agama ini semakin kokoh, terutama setelah Undang-undang Republik Indonesia No. 14
Tahun 1970 dan Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, berlaku. Untuk
menyempurnakan susunan perlengkapan pengadilan agama dan melaksanakan
ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan kehakiman termuat dalam Undang-undang No.
14 Tahun 1970 itu, bulan januari 1989 pemerintah menyampaikan RUU Peradilan
Agama pada DPR RI Untuk disetujui. Tanggal 29 Desember 1989 RUU-PA itu disahkan
oleh Presiden menjadi Undang-undang Peradilan Agama, dengan Undang-undang
Nomor 7 Tahun 1989.

Alasan Konstitusional

Di bawah Bab Agama, dalam pasal 29 ayat (1) Undang-undang Dasar 1945 dinyatakan
bahwa Negara (Republik Indonesia) berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa.
Alasan Ilmiah

Sebagai bidang ilmu, hukum Islam telah lama dipelajari secara ilmiah, bukan saja oleh orang-
orang Islam sendiri tetapi juga oleh orang-orang non muslim. Orang Barat non muslim ini,
yang biasa disebut dengan istilah orientalis, mempelajari hukum Islam dengan berbagai
tujuan yang senantiasa berubah-ubah. Mula-mula mereka mempelajari agama Islam dan
hukum Islam untuk mempertahankan kesatuan wilayah negara mereka dari pengaruh
kekuasaan Islam.

2. Kerangka Dasar Agama dan Ajaran Islam

Dengan mengikuti sistematik Iman, Islam dan Ikhsan yang berasal dari hadis Nabi
Muhammad SAW, kerangka dasar agama Islam, terdiri dari :

(1) akidah,

(2) syari’ah

dan (3) akhlak.

Pada komponen syari’ah dan akhlak ruang lingkupnya jelas mengenai ibadah, muamalah dan
sikap terhadap Khalik (Allah) serta makhluk. Pada Komponen akidah, ruang lingkup itu akan
tampak pula jika dihubungkan dengan iman kepada Allah dan para Nabi serta Rasul-Nya.

Yang dimaksud dengan

Ad (1) akidah, secara etimologis (menurut ilmu bahasa yang menyelidiki asal usul kata serta
perubahan-perubahan dalam bentuk dan makna) adalah ikatan, sangkutan. Dalam pengertian
teknis makna akidah adalah iman, keyakinan yang menjadi pegangan hidup setiap pemeluk
agama Islam. Akidah, karena itu, selalu ditautkan dengan rukun iman atau arkanul iman yang
merupakan asas seluruh ajaran Islam.

Yang dimaksud dengan

Ad (2) syari’ah, dalam pengertian etimologis adalah jalan yang harus ditempuh (oleh setiap
ummat Islam). Dalam arti teknis, syari’ah adalah seperangkat norma Illahi yang mengatur
hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan manusia lain dalam kehidupan
social, hubungan manusia dengan benda dan alam lingkungan hidupnya. Norma Illahi yang
mengatur tata hubungan itu berupa (a) kaidah ibadah dalam arti khusus atau yang disebut
juga kaidah ibadah murni, mengatur cara dan upacara hubungan langsung manusia dengan
Tuhan, dan (b) kaidah muamalah yang mengatur hubungan manusia dengan manusia lain dan
benda dalam masyarakat.

Pada pokoknya perbedaan antara hukum Islam yang disebut (hukum) syari’at dan hukum
Islam yang disebut (hukum) fikih adalah sebagai berikut:
a. Syari’at, terdapat di dalam al-Qur’an dan kitab-kitab Hadis. Kalau kita berbicara tentang
syari’at, yang dimaksud adalah wahyu Allah dan sunnah Nabi Muhammad sebagai
Rasulnya.Fikih terdapat dalam kitab-kitab fikih. Kalau kita berbicara tentang fikih, yang
dimaksud adalah pemahaman manusia yang memenuhi syarat tentang syari’at dan hasil
pemahaman itu.
b. syari’at bersifat fundamental dan mempunyai ruang lingkup yang lebih luas karena ke
dalamnya, oleh banyak ahli, dimasukkan juga akidah dan akhlak. Fikih bersifat
instrumental, ruang-lingkupnya terbatas pada hukum yang mengatur perbuatan manusia,
yang biasanya disebut sebagai perbuatan hukum.
c. syari’at adalah ketetapan Allah dan ketentuan Rasulnya, karena itu berlaku
abadi; fikih adalah karya manusia yang tidak berlaku abadi, dapat berubah dari masa ke
masa.
d. syari’at hanya satu, sedang fikih mungkin lebih dari satu seperti (misalnya) terlihat pada
aliran-aliran hukum yang disebut dengan istilah mazahib atau mazhab-mazhab itu.
e. syari’at menunjukkan kesatuan dalam Islam, sedang fikih menunjukkan keragamannya
(Asaf A.A.Fyzee, 1955: 17, H.M.Rasjidi, 1958: 403, Ahmad Ibrahim, 1965:2, M. Khalid
Masud, 1977:22, S.H.Nasr, 1981:60, Masyfuk Zuhdi, 1987:1).

Disamping akidah dan syari’ah, baik ibadah maupun muamalah tersebut di atas, agama Islam
meliputi juga

Ad (3) akhlak, Akhlak berasal dari khuluk yang berarti perangai, sikap, tingkah laku, watak,
budi pekerti. Perkataan itu mempunyai hubungan dengan sikap, perangai, tingkah laku atau
budi pekerti manusia terhadap Khalik (pencipta alam semesta) dan makhluk (yang
diciptakan).

3. Ruang-lingkup Hukum Islam

Hukum Perdata (Islam) adalah (1) munakahat mengatur segala sesuatu yang berhubungan
dengan perkawinan, perceraian serta akibat-akibatnya; (2) wirasahmengatur segala masalah
yang berhubungan dengan pewaris, ahli waris, harta peninggalan serta pembagian warisan.
Hukum Kewarisan Islam ini disebut juga hukumfara’id; (3) muamalat dalam arti yang
khusus, mengatur masalah kebendaan dan hak-hak atas benda, tata hubungan manusia dalam
soal jual beli, sewa-menyewa, pinjam-meminjam, perserikatan, dan sebagainya.

Hukum publik (Islam) adalah (4) jinayat yang memuat aturan-aturan mengenai perbuatan-
perbuatan yang diancam dengan hukuman baik dalam jarimah hudud maupun dalamjarimah
ta’zir. Yang dimaksud dengan jarimah adalah perbuatan pidana. Jarimah hududadalah
perbuatan pidana yang telah ditentukan bentuk dan batas hukumannya dalam al-Qur’an dan
Sunnah Nabi Muhammad (hudud jamak dari hadd = batas). Jarimah ta’ziradalah perbuatan
yang bentuk dan ancaman hukumannya ditentukan oleh penguasa sebagai pelajaran bagi
pelakunya (ta’zir = ajaran atau pengajaran); (5) ah-ahkam as-sulthaniyah membicarakan soal-
soal yang berhubungan dengan kepala negara, pemerintahan, baik pemerintah pusat maupun
daerah, tentara, pajak dan sebagainya; (6)siyar mengatur urusan perang dan damai, tata
hubungan dengan pemeluk agama dan negara lain; (7) mukhashamat mengatur soal peradilan,
kehakiman, dan hukum acara.

Ciri-ciri Hukum Islam

1. merupakan bagian dan bersumber dari agama Islam;

2. mempunyai hubungan yang erat dan tidak dapat dipisahkan dari iman atau akidah dan
kesusilaan atau akhlak Islam;

3. mempunyai dua istilah kunci yakni: syari’at, fikih. terdiri dari dua bidang utama yakni:
ibadat,muamalat.

4. strukturnya berlapis terdiri dari:

- nas atau teks al-Qur’an

- sunnah Nabi Muhammad

- hasil ijtihad manusia yang memenuhi syarat tentang al-Qur’an dan as-sunnah

- pelaksanaannya dalam praktek baik berupa keputusan hakim maupun berupa amalan-
amalan umat Islam dalam masyarakat.

mendahulukan kewajiban dari hak, amal dari pahala;

dapat dibagi menjadi dua yaitu: hukum taklift, hukum wadh’I;

berwatak universal, berlaku abadi untuk ummat Islam dimanapun mereka berada, tidak
terbatas pada ummat Islam di suatu tempat atau negara pada suatu masa saja;

menghormati martabat manusia sebagai kesatuan jiwa dan raga, rohani dan jasmani serta
memelihara kemuliaan manusia dan kemanusiaan secara keseluruhan;

pelaksanaannya dalam praktek digerakkan oleh iman dan akhlak ummat Islam.

4. Tujuan Hukum Islam

Tujuan hukum Islam dapat dilihat dari dua segi yakni:

a. dari segi Pembuat Hukum Islam itu sendiri yaitu Allah dan Rasul-Nya.

Tujuan hukum Islam itu adalah:

1) untuk memenuhi keperluan hidup manusia yang bersifat primer, sekunder dan tersier.
Kebutuhan primer itu adalah kebutuhan utama yang harus dilindungi dan dipelihara sebaik-
baiknya oleh hukum Islam agar kemaslahatan hidup manusia itu benar-benar terwujud.
Kebutuhan sekunder adalah kebutuhan yang diperlukan untuk mencapai kehidupan primer.
Kebutuhan tersier adalah kebutuhan hidup manusia selain dari sifatnya primer dan sekunder
itu yang perlu diadakan dan dipelihara untuk kebaikan hidup manusia dalam masyarakat;

2) untuk ditaati dan dilaksanakan oleh manusia dalam kehidupannya sehari-hari;

3) supaya dapat ditaati dan dilaksanakan dengan baik dan benar, manusia wajib
meningkatkan kemampuannya untuk memahami hukum Islam dengan mempelajari usul al
fiqh yakni dasar pembentukan dan pemahaman hukum Islam sebagai metodologinya.

b. dari segi manusia yang menjadi pelaku dan pelaksana hukum Islam itu.

Tujuan hukum Islam adalah untuk mencapai kehidupan yang berbahagia dan
mempertahankan kehidupan itu.

5. Salah Faham Terhadap Islam dan Hukum Islam

Kesalahfahaman terhadap Islam disebabkan karena banyak hal, namun yang relevan dengan
kajian ini adalah karena (1) salah memahami ruang lingkup ajaran Islam, (2) salah
menggambarkan kerangka dasar ajaran Islam, (3) salah mempergunakan metode mempelajari
Islam.

Kesalahfahaman:

(1) mengenai ruang lingkup ajaran Islam terjadi, misalnya, karena orang menganggap semua
agama itu sama dan ruang lingkupnya sama juga.

(2) terjadi karena orang salah menggambarkan kerangka dasar ajaran agama Islam.

Orang menggambarkan bagian-bagian agama Islam itu tidak secara menyeluruh sebagai satu
kesatuan, tetapi sepotong-sepotong atau sebagian-sebagian saja. Misalnya orang
menggambarkan atau membuat gambaran yang memberi kesan seakan-akan agama Islam itu
isinya hanyalah mengenai akidah atau iman saja, atau agama Islam itu hanya tentang syari’ah
atau hukum belaka, atau agama Islam itu hanyalah ajaran akhlak semata-mata, tanpa
meletakkan dan menghubungkan bagian-bagian itu dalam rangka dasar keterpaduan ajaran
Islam secara menyeluruh.

(3) terjadi karena salah mempergunakan metode mempelajari Islam.

II. SUMBER-SUMBER, ASAS-ASAS HUKUM ISLAM DAN AL-AHKAM AL-


KHAMSAH
1. Pengertian Sumber Hukum Islam

Sumber merupakan asal sesuatu, sedangkan sumber hukum Islam adalah asal tempat
pengambilan hukum Islam. Di Indonesia kadang-kadang disebut dengan dalil; dasar atau
pokok hukum Islam. Allah Swt. telah menentukannya sumber tersebut dalam Surat An-nisa
(4) ayat 59, setiap muslim wajib menaati (mengikuti) kamauan atau kehendak Allah,
kehendak Rasul dan kehendak Ulil Amri yakni orang yang mempunyai kekuasaan atau
penguasa.

2. Sumber-sumber Hukum Islam

A. Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah sumber hukum Islam pertama dan utama. Ia memuat kaidah-kaidah hukum
fundamental yang perlu dikaji dengan teliti dan dikembangkan lebih lanjut. Al-Qur’an adalah
kitab suci yang memuat wahyu (firman-firman ) Allah, Tuhan Yang maha Esa, asli seperti
yang disampaikan oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad sebagai Rasul-Nya sedikit
demi sedikit selama 22 tahun 2 bulan 22 hari, mula-mula di Mekah kemudian di Medinah
untuk menjadi pedoman atau petunjuk bagi ummat manusia dalam hidup dan kehidupannya
mencapai kesejahteraan di dunia ini dan kebahagiaan di akhirat kelak.

B. As-Sunnah

As-Sunnah adalah sumber hukum Islam kedua setelah al-Qur’an berupa perkataan (sunnah
qauliyah), perbuatan (sunnah fi’liyah) dan sikap diam (sunnah taqririyah atausunnah
sukutiyah) Rasulullah yang tercatat (sekarang) dalam kitab-kitab hadits. Ia merupakan
penafsiran serta penjelasan otentik tentang al-Qur’an. Melalui kitab-kitab hadis, seorang
muslim mengenal Nabi dan isi al-Qur’an. Tanpa as-sunnah sebagian besar isi al-Qur’an akan
tersembunyi dari mata manusia. Di dalam al-Qur’an tertulis misalnya perintah untuk
mengerjakan shalat. Tanpa as-sunnah orang tidak akan tahu bagaimana cara mengerjakannya.
Sunnah dari Nabi Muhammad itu mempunyai fungsi sebagai petunjuk pelaksanaan kaidah-
kaidah fundamental yang terdapat dalam Al-Qur’an atau sebagai penjelasan atau tafsiran
yang otentik mengenai ayat-ayat al-Qur’an atau sebagai kaidah-kaidah hukum baru yang
perlu dikembangkan atau dirumuskan lebih lanjut oleh akal fikiran manusia yang memenuhi
syarat merumuskannya).

C. Arra’yu

Arra’yu (akal fikiran manusia yang memenuhi syarat untuk berijtihad karena pengetahuan
dan pengalamannya, dengan mempergunakan berbagai jalan (metode) atau cara), diantaranya
adalah (a) ijma, (b) qiyas, (c) istidlal, (d) al-mashalih al-mursalah, (e)istihsan (g) urf. sumber
hukum Islam ketiga merupakan akal fikiran manusia yang memenuhi syarat untuk berusaha,
berikhtiar dengan seluruh kemampuan yang ada padanya memahami kaidah-kaidah hukum
yang fundamental yang terdapat dalam al-Qur’an, kaidah-kaidah hukum yang bersifat umum
yang terdapat dalam sunnah Nabi dan merumuskannya menjadi garis-garis hukum yang dapat
dilaksanakan pada suatu kasus tertentu. Atau berusahamerumuskan garis-garis atau kaidah-
kaidah hukum yang “pengaturannya” tidak terdapat di dalam kedua sumber utama hukum
Islam itu. Dasar hukum untuk mempergunakan akal fikiran atau ra’yu untuk berijtihad dalam
pengembangan hukum Islam itu adalah (1) al-Qur’an surat an-Nisa (4) 59 (yang telah disebut
diatas) yang mewajibkan juga orang mengikuti ketentuan ulil amri (orang yang mempunyai
kekuasaan atau “penguasa”) mereka, (2) hadis Mu’az bin Jabal yang menjelaskan bahwa
Mu’az sebagai penguasa (ulil amri) di Yaman dibenarkan oleh Nabi
mempergunakan ra’yunya untuk berijtihad, dan (3) contoh yang diberikan oleh ulil amrilain
yakni Khalifah II Umar bin Khattab, beberapa tahun setelah Nabi Muhammad wafat, dalam
memecahkan berbagai persoalan hukum yang tumbuh dalam masyarakat, pada awal
perkembangan Islam.

Tidak semua orang dapat berijtihad. Yang dapat menjadi mujtahid yakni orang yang berhak
berijtihad adalah mereka yang memenuhi antara lain syarat-syarat berikut:

1) menguasai bahasa Arab untuk dapat memahami al-Qur’an dan kitab-kitab hadis yang
tertulis dalam bahasa Arab.

2) mengetahui isi dan system hukum al-Qur’an serta ilmu-ilmu untuk memahami al-Qur’an.

3) mengetahui hadis-hadis hukum dan ilmu-ilmu hadis yang berkenaan dengan


pembentukan hukum.

4) mengasai sumber-sumber hukum Islam dan cara-cara (metode) menarik garis-garis


hukum dari sumber-sumber hukum Islam itu.

5) mengetahui dan menguasai kaidah-kaidah fikih (qawa’id-alfiqhiyyah, baca: qawaidul


fikkiyah).

6) mengetahui rahasia dan tujuan-tujuan hukum Islam.

7) jujur, dan ikhlas. Syarat-syarat ini diperlukan untuk seorang mujtahid mutlak dimasa
lampau namun kini untuk melakukan ijtihad yang peringkatnya lebih rendah dari mujtahid
mutlak syarat-syarat yang berat tersebut di atas, dapat diringankan. Selain dari syarat-syarat
tersebut di atas yang dapat diperingan, untuk melakukan ijtihad pada waktu ini, seorantg
mujtahid seyogyanya.

8) menguasai ilmu-ilmu social (antropologi, sosiologi) dan ilmu-ilmu yang relevan dengan
masalah yang diijtihad itu, (9) serta dilakukan secara kolektif (jama’I) bersama para ahli
(disiplin ilmu) lain.

3. Asas-asas Hukum Islam

A. Asas-asas umum

Asas-asas umum hukum Islam yang meliputi semua bidang dan segala lapangan hukum Islam
adalah:

(1) asas keadilan;


(2) asas kepastian hukum;

(3) asas kemanfaatan.

B. Asas-asas dalam lapangan hukum pidana

Asas-asas dalam lapangan hukum pidana Islam antara lain adalah:

(1) asas legalitas;

(2) asas larangan memindahkan kesalahan pada orang lain;

(3) asas praduga tidak bersalah.

C. Asas-asas dalam lapangan hukum perdata

Asas-asas dalam langan hukum perdata Islam antara lain adalah

(1) asas kebolehan atau mubah;

(2) asas kemaslahatan hidup;

(3) asas kebebasan dan kesukarelaan;

(4) asas menolak mudharat;

(5) asas adil dan berimbang;

(6) asas mendahulukan kewajiban dari hak;

(7) asas larangan merugikan diri sendiri dan orang lain;

(8) asas kemampuan berbuat;

(9) kebebasan berusaha;

(10) asas mendapatkan hak karena usaha dan jasa;

(11) asas perlindungan hak;

(12) asas hak milik berfungsi social;

(13) asas yang beriktikad baik harus dilindungi;

(14) asas resiko dibebankan pada benda atau harta, tidak pada tenaga atau pekerja;

(15) asas mengatur, sebagai petunjuk;

(16) asas perjanjian tertulis atau diucapkan di depan saksi.


D. Asas-asas Hukum Perkawinan

Dalam ikatan Perkawinan sebagai salah satu bentuk perjanjian (suci) antara seorang pria
dengan seorang wanita, yang mempunyai segi-segi perdata, berlaku beberapa asas,
diantaranya adalah (1) Kesukarelaan, (2) persetujuan kedua belah fihak,(3) kebebasan
memilih, (4) kemitraan suami-istri, (5) untuk selama-lamanya, dan (6) monogamy
terbuka(karena darurat).

E. Asas-asas Hukum Kewarisan

Asas hukum kewarisan Islam yang dapat disalurkan dari al-Qur’an dan as-Sunnah, seperti
yang disinggung di muka, di antaranya adalah
(1) ijbari, (2) bilateral, (3) individual, (4)keadilan berimbang, dan (5) akibat kematian.

4. Al-AHKAM AL-KHAMSAH

Ahkam adalah jamak dari hukum. Khamsah artinya lima. Dengan demikian yang dimaksud
dengan al-ahkam al-khamsah yang disebut juga hukum taklifi adalah lima macam kaidah atau
lima kategori pernilaian mengenai benda dan tingkah laku manusia dalam Islam, yaitu:

(1) Ja’iz ialah ukuran pernilaian dalam lingkup hidup kesusilaan perseorangan. Ukuran
penilaian tikah laku ini dikenakan bagi perbuatan-perbuatan yang sifatnya pribadi yang
semata-mata diserahkan kepada pertimbangan dan kemauan orang itu sendiri untuk
melakukannya. Ia bebas untuk menentukan apakah ia akan atau tidak akan melakukan
perbuatan itu. Akibatnya mungkin akan mendatangkan kebahagiaan dan kepuasan bagi
dirinya, mungkin juga kesedihan atau kekecewaan yang diperolehnya, walaupun ia yakin
benar pada mulanya bahwa tindakannya itu akan membawa kebaikan bagi dirinya. Dari sini
manusia memperoleh pelajaran atau pengalaman bahwa ia bebas berbuat, tetapi tidak bebas
untuk menguasai hasil perbuatannya menurut keinginan semula (Hazairin, 1974:31).

(2) Sunat, yakni ukuran pernilaian bagi perbuatan yang dianjurkan, digemari, disukai dalam
masyarakat karena baik tujuannya (sunat).

(3) Makruh, yakni ukuran pernilaian bagi perbuatan yang dibenci, dicela oleh masyarakat
karena tujuannya adalah buruk. Akibatnya, orang yang melakukan perbuatan yang kaidahnya
makruh ini mendapat celaan umum, yang mungkin bentuknya berupa perkataan atau mungkin
pula berupa sikap yang tidak menyenangkan, bahkan mungkin sampai pada sikap
pemboikotan dari pergaulan.

(4) Wajib, Bila perbuatan yang ukurannya sunat dirasakan kebaikannya dalam kehidupan
masyarakat, dan masyarakat ingin mengukuhkannya menjadi perbuatan yang tidak boleh
diabaikan, masyarakat itu akan meningkatkannya menjadi wajib. Jika telah demikian, siapa
yang meninggalkannya akan mendapatkan hukuman berupa penderitaan atas harta, badan,
martabat, kebormatan diri, kemerdekaan bergerak bahkan sampai pada ancman hukuman
mati.

(5) Haram, demikian juga halnya dengan perbuatan yang berkaidah makruh. Ia dapat
ditingkatkan menjadi haram, jika masyarakat memandang perbuatan tercela itu demikian
kejinya sehingga lebih baik menjadi perbuatan yang terlarang. Dan barang siapa melanggar
larangan itu ia akan dikenakan ganjaran hukuman pula.

Dari uraian di atas ini jelaslah bahwa wajib itu adalah peningkatan sunat (h) sedang haram
adalah kelanjutan peningkatan makruh. Atau dengan perkataan lain wajib berasal dari sunat
dan haram bersumber pada makruh. Dan karena sunat dan makruh bersumber kepada jaiz,
maka wajib dan haram berpokok pangkal pada jaiz pula.

Al-ahkam al-khamsah adalah lima pernilaian yang disebut norma atau kaidah dalam ajaran
Islam. Al-ahkam al-khamsah itu (1) meliputi selutuh lingkungan hidup dan kehidupan. (2)
didalam lingkungan hidup kesusilaanpribadi, berlaku satu kaidah (ja’iz). Di lingkungan
kesusilaan umum atau disebut juga dengan istilah moral social terdapat dua kategori kaidah
yakni sunat (h) dan makruh. Di lingkungan hukum duniawi terdapat dua kaidah yang disebut
dengan istilah wajib dan haram. (3) kelima-limanya berlaku di ruang lingkup keagamaan
yang meliputi semua lingkungan hidup tersebut di atas. Ia menjadi ukuran perbuatan manusia
baik di bidang ibadah maupun di lapangan muamalah. (4) Di lingkungan hidup kesusilaan
dan hukum, ukuran itu dapat berubah-ubah. Penguasa, misalnya, dapat mengubah ukuran
perbuatan sunat menjadi wajib, makruh menjadi haram. (5) di ruang lingkup keagamaan
dilarang mengubah yang halal menjadi haram, haram menjadi halal. Perintah Allah baik
suruhan maupun larangan-nya, tidak boleh digeser-geser. Yang haram tetap haram, yang
wajib tetap wajib. Ia berlaku abadi sepanjang masa, tidak terbatas pada ruang dan waktu
tertentu. (6) pengelompokan ke dalam lingkungan hidup kesusilaan, hukum dan keagamaan
di atas adalah untuk memudahkan pemahaman dipandang dari segi siapa yang memberi
sanksi (padahan) jika norma-norma itu dilanggar. Dalam kesusilaan (pribadi dan masyarakat)
yang memberi sanksi adalah diri sendiri berupa kepuasan atau kekecewaan, anggota
masyarakat berupa pujian atau celaan. Dalam lingkungan hukum duniawi yang memberi
sanksi adalah penguasa berupa ganti kerugian atau denda atau hukuman pidana. Dalam
lingkup keagamaan yang meliputi kesusilaan dan hukum duniawi yang memberi sanksi
adalah tuhan, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak berupa pahala dan dosa (Hazairin,
1982:73, 74, kemal Faruki, 1966:43).

III. HUKUM ISLAM DI INDONESIA

1. Kedudukan Hukum Islam Dalam Tata Hukum Indonesia

Sistem hukum Indonesia, sebagai akibat dari perkembangan sejarahnya bersifat majemuk.
Disebut demikian karena sampai sekarang di dalam Negara Republik Indonesia berlaku
beberapa system hukum yang mempunyai corak dan susunan sendiri. Yang dimaksud adalah
system hukum adat , system hukum Islam dan system hukum Barat. Ketiga system hukum itu
mulai berlaku di Indonesia pada waktu yang berlainan. Hukum Adat telah lama ada dan
berlaku di Indonesia, walaupun sebagai system hukum baru dikenal pada pemrulaan abad ke-
20 ini. Hukum Islam telah ada di kepulauan Indonesia sejak orang Islam datang dan
bermukim di nusantara ini. Menurut pendapat yang disimpulkan oleh seminar Masuknya
Islam ke Indonesia yang diselenggarakan di Medan 1963, Islam telah masuk ke Indonesia
pada abad pertama Hijriah atau pada abad ketujuh/kedelapan Masehi. Pendapat lain
mengatakan bahwa Islam baru sampai ke Nusantara ini pada abad ke 13 Masehi
(P.A.Hoesein Djajadiningrat, 1961:119).

Mengenai kedudukan hukum Islam dalam system hukum Indonesia yang bersifat majemuk
itu dapat ditelusuri dalam uraian berikut:

Ketika singgah di Samudra Pasei pada tahun 1345 Masehi, Ibnu Batutah, seorang
pengembara, mengagumi perkembangan Islam di negeri tersebut. Ia mengagumi kemampuan
Sultan al-Malik al-Zahir berdiskusi tentang berbagai masalah Islam dan ilmu fikih. Menurut
pengembara Arab Islam Maroko itu, selain sebagai seorang raja, al-malik al-zahir yang
menjadi sultan pasei ketika itu adalah juga seorang fukaha (ahli hukum) yang mahir tentang
hukum islam. Yang dianut di kerajaan pasei pada waktu itu adalah hukum islam mazhab
syafi’I (syaifuddin zuhri, 1979:204-205). Menurut hamka, dari paseilah disebarkan faham
syafi’i ke kerajaan-kerajaan Islam lainnya di Indonesia. Bahkan setelah kerajaan Islam
Malaka berdiri (1400-1500 M) para ahli hukum Islam Malaka datang ke Samudra Pasei untuk
meminta kata putus mengenai berbagai masalah hukum yang mereka jumpai dalam
masyarakat (Hamka 1976:53).

Hukum islam diikuti dan dilaksanakan juga oleh para pemeluk agama islam dalam kerajaan-
kerajaan Demak, Jepara, Tuban, Gresik, Ngampel dan kemudian Mataram. Ini dapat
dibuktikan dari karya para pujangga yang hidup di masa itu. Di antara karya tersebut dapat
disebut misalnya Sajinatul Hukum (Moh.Koesnoe, 1982:2).

Dari beberapa contoh dan uraian singkat tersebut di atas dapatlah ditarik suatu kesimpulan
bahwa sebelum Belanda mengukuhkan kekuasaannya di Indonesia, hukum Islam sebagai
hukum yang berdiri sendiri telah ada dalam masyarakat, tumbuh dan berkembang di samping
kebiasaan atau adat penduduk yang mendiami kepulauan Nusantara ini. Menurut Soebardi,
terdapat bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Islam berakar dalam kesadaran penduduk
kepulauan Nusantara dan mempunyai pengaruh yang bersifat normative dalam kebudayaan
Indonesia (S.Soebardi, 1978:66). Pengaruh itu merupakan penetration pasifique, tolerante et
constructive: penetrasi secara damai toleran dan membangun (de Josselin de jong dalam
Kusumadi 1950:50).

Pada tahun 1596 VOC merapatkan kepalanya ke Banten, jawa barat dengan maksud untuk
berdagang namun kemudian haluannya berubah yaitu ingin menguasai untuk mencapai tujuan
tersebut VOC mendirikan benteng dan mengadakan perjanjian dengan kerajaan yang ada
dijawa, kaena hak yang di peroleh VOC itu dua macam yaitu sebagai pedagang dan sebagai
badan pemerintahan. Untuk mempermudanya mereka sedikit demi sedikit menerapkan
hukum yang di bawahnya.
Dalam kehidupan Bangsa Indonesia yang beragama Islam sehari-harinya menggunakan
hukum Islam sehingga VOC terpaksa memperhatikan hukum yang diikuti rakyat sehari-hari,
sebagimana dalam statuta Jakarta 1642 disebutkan bahwa mengenai soal kewarisan bagi
orang Indonesia yang beragama Islam harus di pergunakan hukum Islam. Berdasarkan
pemikiran tersebut maka pemerintah VOC meminta kepada D.W.Freijer untuk menyusun
suatu compendium yang memuat hukum perkawinan dan hukum kewarisan Islam setelah
disempurnakan dan di perbaiki oleh Alim Ulama kitab tersebut diterima oleh pemerintah
VOC dan di pergunakan oleh Pengadilan dalam menyelesaikan sengketa yang terjadi
dikalangan umat Islam pada tahun 1760, ( Supomo-Djokosutono,1955:26 ).

Dalam penerapan hukum Islam walaupun ditentukan oleh peraturan perundang-undangan


dapat berlaku langsung tanpa melalui hukum adat, negara wajib mengatur sesuatu masalah
sesuai dengan hukum Islam, selama pengaturan itu hanya berlaku bagi pemeluk agama Islam,
kedudukan hukum Islam dalam sistem hukum Indonesia adalah sama sederajat dengan
hukum Adat dan hukum Barat, karena itu hukum Islam juga menjadi suber pembentukan
hukum Nasional yang akan datang di samping hukum Adat, hukm Barat dan hukum lainya
yang tumbuh dan berkembang dalam Negara republik Indonesia.

2. Hukum Islam Dan pembinaan Hukum Nasional

Hukum Islam merupakan hukum yang universal karena Islam merupakan Agama yang
universal sifatnya, yaitu berlaku untuk umat Islam dimana saja Ia berada. Apapun
nasionalisnya. Hukum nasional adalah hukum yang berlaku bagi bangsa tertentu di suatu
negara nasional tertentu. Dalam kasus Indonesia, hukum nasional itu mungkin juga berarti
hukum yang dibangun oleh bangsa Indonesia setelah Indonesia mardeka dan berlaku bagi
penduduk Indonesia, terutama warga Negara Republik Indonesia, sebagai pengganti hukum
kolonial dahulu.

Untuk membangun dan membina hukum nasional di perlukan politik hukum tertentu,
politik hukum nasional pokok-pokoknya ditetapkan dalam Garis-garis Besar Haluan negara,
dirinci lebih lanjut oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia atau babinkumnas, dengan
koordinasi diharapkan akan hadir hukum nasional di tanah air. Untuk mewujudkan hukum
nasional sangatlah perlu ekstra hati-hati karena di antara agama yang dipeluk oleh warga
negara Indonesia itu ada agama yang tidak dapat dipisahkan dari hukum. Agama Islam,
misalnya, adalah agama yang mengandung hukum yang mengatur hubungan manusia dengan
manusia lain dan benda dalam masyarakat. Oleh karena itu erat hubungan antara agama
(dalam arti sempit) dengan hukum dalam Islam. Sehingga dalam pembangunan hukum
nasional di negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, unsur hukum agama ini
harus benar-benar diperhatikan. Untuk itu perlu wawasan dan kebijaksanaan hukum nasional.
IV. PERADILAN AGAMA

Pendahuluan

Peradilan adalah proses pemberian keadilan di suatu lembaga yang disebut pengadilan.
Pengadilan adalah lembaga atau badan yang bertugas menerima, memeriksa, mengadili dan
menyelesaikan setiap perkara yang diajukan kepadanya. Dalam mengadili dan menyelesaikan
suatu perkara yang dilakukan oleh hakim tunggal atau majelis.

Peradilan Agama adalah proses pemberian keadilan berdasarkan hukum agama Islam
kepada orang-orang Islam yang dilakukan di Pengadilan Agama di berbagai tingkat. Sebagai
lembaga peradilan, peradilan agama dalam bentuknya yang sederhana berupa tahkim yaitu
lembaga penyelesai sengketa antara orang–orang Islam yang dilakukan oleh para ahli agama,
telah lama dalam masyarakat Indonesia yakni sejak agama Islam datang ke indonesia.
Lembaga tahkim yang menjadi asal-usul peradilan agama tersebut.

Pengadilan Agama di wilayah Jawa dan Madura (priesterraad atau Raad Agama dan
Madura) dan sebagaian bekas residensi Kalimantan Selatan dan Timur (kerapatan Qodhi)
lahir pada suasAna kolonial, sedangkan Pengadilan Agama diluar kedua wilayah ini
(Mahkamah Syari’ah) lahir dalam suasana kemerdekaan. Sejarah pertumbuan ini
mengakibatkan wewenang berbedah, sehingga disamakan oleh Undang-undang No. 14 tahun
1970 (tentang ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman ) dengan sebutan
Pengadilan Agama dan diseragamkan oleh Menteri Agama Republik Indonesia pada tahun
1980, namun kekuasaan tetap berbeda. Pengadilan agama di Jawa dan Madura serta
sebagaian bekas residensi Kalimatan Selatan dan Timur tidak berwenang mengadili perkara
perkawinan dan perwakafan sebagai dari teori resepsi yang dianut oleh ilmuwan dan
pemerintah Belanda, sejak 1 april 1937. pengadilan Agama sediri tidak dapat melakukan
putusannya sendiri, karena dalam susunannya tidak terdapat juru sita melainkan harus ada
pernyataan dapat dijalankan ( fiat eksekusi ) dari Pengadilan Negeri dan sebaliknya. Fiat
eksekusi ini diciptakan oleh Pemerintah Belanda untuk mengawasi keberadaan Pengadilan
Agama. Tetapi dilanjutkan dalam UU Perkawinan No. 1 tahun 1974 pasal 63 ayat 2 berbunyi
setiap keputusan Pengadilan Agama dikukuhkan oleh Pengadilan Negeri maksudnya
pengukuan harus dilaksanakan kendati bersifat adminitratif selamah putusan tersebut sudah
memiliki kekuatan tetap. Pada tanggal 8 Desember 1988 Presiden RI mengajukan rancangan
UU Peradilan Agama kepada DPR untuk dibicarakan dan disetujui sebagai pengganti
peraturan tentang Peradilan Agama, dan pada hari kamis 14 Desember 1989 rencana tersebut
disetujui. Lima belas hari kemudian tanggal 29 Desember 1989 disahkan menjadi UU No. 7
tahun1989 dan sekaligus di undangkan. Dengan Undang-undang ini, pemeluk Agama Islam
yang menjadi bagian terbesar penduduk Indonesia, di beri kesempatan untuk menaati hukum
Islam yang menjadi bagian mutlak ajaran agamanya, sesuai dengan jiwa pasal 29 UUD 45
terutama ayat 2.

Undang-undang Peradilan agama


Undang-undang Peradilan Agama yang telah disahkan dan diuandangkan itu terdiri dari
VII bab, 108 pasal dengan sistematik dan garis-garis besar isinya sebagai berikut : Bab I
tentang ketentuan umum, Bab II sampai dengan Bab III mengenai susunan dan kekuasaan
Peradilan Agama, Bab IV tentang hukum acara, Bab V ketentuan-ketentuan lain, Bab VI
ketentuan peradilan dan Bab VII ketentuan penutup.

Pada uraian berikut akan dikemukakan beberapa hal pokok yang dimuat dalam bab dan
bagian-bagianya. Dalam Bab I disebutkan bahwa Peradilan Agama adalah peradilan bagi
orang-orang Islam, terdiri dari (1) Pengadilan Agama sebagai pengadilan tingkat pertama,
dan (2) Pengadilan Tinggi Agama dalam tingkat banding. Kedua-duanya merupakan
pelaksanaan kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan yang beragama Islam.
Penagdialn Agama berkedudukan di kotamadya atau ibukota kabupaten sedangkan
Pengadilan Tinggi Agama berkedudukan di ibukota propensi dan keduanya berpucuk kepada
Mahkama Agung sebagai pengadilan negara tertinggi.

Susunanya

Mengenai susunannya diatur dalam tiga bagian di Bab II. Bagain pertama atau bagian
umum menyebut susunan Pengadilan Agama yang terdiri dari pimpinan yakni seorang ketua
dan seorang wakil ketua, hakim anggota, panitera, sekertari dan jurusita. Susunan dari
Pengadilan Tinggi Agama terdiri dari pimpinan yaitu seorang ketua dan seorang wakil ketua,
hakim tinggi (agama) sebagai hakim anggota, panitera dan sekertaris. Bagian kedua mengatur
tentang syarat, tata cara pengangkatan dan pemberhentian ketua, wakil ketua,hakim, panitera
dan jurisita Peradilan Agama. Disebutkan dalam bagian kedua untuk menduduki jabatan yang
ada dalam Peradilan Agama selain harus memenui syarat umum calon pegawai tersebut harus
beragama Islam,hal ini bukan diskriminasi melainkan di perlukan agar pencari keadilan yang
beragama yang datang ke Pengadilan Agama merasa mantap hati dan perasaanya
melaksanakan ibadah umum berurusan dengan orang yang seagama. Kecuali untuk juru sita.

Kekuasaan Peradilan Agama

Bab III mengatur kekuasaan Pengadilan dalam lingkungan Peradilan Agama. Dalam pasal 49
ayat 1 disebutkan bahwa Pengadilan Agama bertugas dan berwenang memeriksa, memutus
dan menyelesaikan perkara-perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama
Islam di bidang (a) perkawinan, (b) kewarisan, Wasiat, dan hibah yang dilakukan
berdasarkan hukum Islam, (c) wakaf dan shodaqoh. Dan penjelasan Undang-undang
Peradilan Agama ini, pasal 49 ayat (1) di atas dinyatakan cukup jelas. Mengenai bidang
perkawinan pasal 49 ayat (2) menyebutkan bahwa yang dimaksudkan ialah hal-hal yang
diatur dalam atau berdasrkan undang-undang mengenai perkawinan yang berlaku, Pasal di
rinci lebih lanjut ke dalam 22 butir.
Hukum Acara

Hukum Acara Peradilan Agama diatur dalam Bab IV. Bagian pertama yang mengatur
tentang hal-hal yang bersifat umum. Diantaranya disebutkan bahwa Hukum Acara yang
berlaku pada Pengadilan dalam lingkungan Pengadilan Agama adalah hukum Acara Perdata
yang berlaku pada Pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum, kecuali tentang hal-hal
yang telah daitur secara khusus dalam Undang-undang ini. Hal-hal yang diatur secara khusus
dalam Undang-undang Peradilan Agama, disebutkan dalam bagaian kedua Undang-undang
ini yaitu pemerksaan sengketa perkawinan, mengenai (a). cerai talak yang datang dari suami;
(b). cerai gugat yang datang dari isteri atau dari suami; dan (c). cerai karena alasan zina.

Proses pemeriksaan sengketa perkawinan di Pengadilan Agama memberikan hak yang


sama mereka dapat mengajukan gugatan dan pembelaan. Isteri (penggugat) dapat
mengajukan gugatan ditempat kediamannya.

Ketentuan-ketentuan Lain

Bab V menyebut ketentuan-ketentuan lain mengenai admitrasi peradilan, pembagaian


tugas hakim dan penitera dalam melaksanakan tugas masing-masing, serta jurusita untuk a.
melaksanakan semua perintah yang diberikan oleh ketua sidang. b. meyampaikan
pengumuman-pengumuman, teguran pemberitahuan penetapan atau putusan pengadilan
berdasarkan undang-undang. c. melaksanakan penyitaan atas perintah ketua pengadilan. d.
membuat berita acara penyitaan, yang salinanya resminya diserahkan kepada pihak-pihak
yang berkepentingan. Jurusita Pengadilan Agama berwenang melakukan tugasnya didaerah
hukum pengadilan yang bersangkutan, jurusita tidak terdapat dalam susunan Peradilan
Agama sebelum undang-undang ini berlaku.

Ketentuan Peralihan

Bab VI mengenai ketentuan peradilan, disebutkan tentang 1. semua Badan Peradilan


Agama yang telah ada dinyatakan sebagai Peradilan Agama menurut undang-undang. 2.
Semua peraturan pelaksanaan yang telah ada mengenai peradilan Agama dinyatakan tetap
berlaku sepanjang peraturan itu tidak bertentangan dengan undang-undang yang baru dan
selama ketentuan baru berdasarkan undang-undang yang baru belum dikeluarkan.

Ketentuan Penutup

Bab VII tentang ketentuan penutup. Dalam bab terakhir ini di tegaskan bahwa pada saat
mulai berlakunya Undang-undang Peradilan Agama ini,semua peraturan tentang peradilan
agama di jawa dan madura, di sebagaian lain wilayah RI, dinyatakan tidak berlaku lagi.
Dengan disahkan undang-undang Peradilan Agama perubahan penting dan
mendasar telah terjadi diantaranya:

1. Peradilan agama telah menjadi peradilan yang mandiri, kedudukannya telah sejajar dan
sederajat dengan peradilan umum;

2. Nama, susunan wewenang (kekusaan) dan hukum acaranya telah sama seragam yang
akan memudakan terwujudnya ketertiban dan kepastian hukum yang bertindak keadilan
dalam Peradilan Agama;

3. Perlindungan wanita lebih ditingkatkan, dengan jalan, antara lain, memberihak yang
sama kepada isteri dalam proses dan membela kepentingannya di muka Pengadilan Agama;

4. lebih memantapkan upaya penggalian berbagai azaz dan kaidah Hukum Islam sebagai
salah satu bahan baku dalam penyusunan dan pembinaan hukum nasional melalui
yurisprodensi;

V. KOMPILASI HUKUM ISLAM

Poin pokok di dalam Kompilasi Hukum Islam terdiri dari buku I tentang hukum
perkawinan, buku II tentang hukum kewarisan, dan buku III tentang hukum perwakafan
sesuai dengan wewenang dari pada Peradilan Agama sekarang ini.

Yang telah diterima baik oleh Para Ulama’, Sarjana Hukum Islam seluruh Indonesia
dalam lokakarya yang di selenggarakan di Jakarta tanggal 2 sampai dengan 5 Februari 1988
melalui Intruksi Presiden nomer 1 tahun 1991 tanggal 10 Juni 1991 telah ditentukan sebagai
pedoman instansi pemerintah dan masyarakat yang memerlukannya, dalam masalah
perkawinan,kewarisan, perwakafan, dalam rangka melaksanakan Instruksi Presiden tersebut
Menteri Agama mengeluarkan keputusan nomer 154 tahun 1991 tanggal 22 Juli
1991 tentang meminta kepada seluruh instansi Departemen Agama, termasuk Peradilan
Agama di dalamnya, termasuk instansi Pemerintah untuk menyebarluaskan Kompilasi
Hukum Islam yang dimaksud.