Anda di halaman 1dari 3

7.

bilik mata depan dangkal (mungkin tidak ditemui pada gleukoma sudut terbuka)
8. pupil lebar lonjong, tdak ada reflex terhadap cahaya.
9. TIO menigkat

Penatalaksanaan

Pengobatan dilakukan dengan prinsip untuk menurunkan TIO, membuka sudut yang
tertutup (pada glaucoma sudut tertutup), melakukan tindakan suportif (menguragi nyeri,
mual, muntah, serta menguangi radang), mencegah adanya sudut tertutup ulang serta
mencegah gangguan pada mata yang baik (sebelahnya).

Upaya menurunkan TIO dilakukan dengan member cairan hiperosmotik seperti gliserin
per oral atau dengan menggunakan manitol 20% intravena. Humor aquesus ditekn dengan
memberikan karbonik anhidrase seperti acetazolamide (acetazolam, diamox).
Dorzolamide (truShop), methazolamide (npthazane). Pnurunan humor aqueus dapat juga
dilakukan dengan memberikan agens penyekat beta adrenergic seperti latanoprost
(xalatan), timolal (timopic), atau levobunolal (begatan).

Untuk melancarkan aliran humor aqueus, dilakukan kontriksi pupil dengan miotikum
seperti pilocarpine hydrochloride 2-4% setiap 3-6 jam. Miotikum ini menyebabkan
pandangan kabur setelah 1-2 jam penggunaan. Pemberian miotikum dilakukan apabila
telah terdapat tanda-tanda penurunan TIO.

Penanganan nyeri, mual, muntah, da peradangan dilakukan dengan memberikan analgesic


seperti pethidine (Demerol), anti muntah atau kortikosteroid untuk reaksi radang.

Jika tindakan di atas tidak berhasil, dilakukan operasi ntuk membuka saluran schlemm
sehingga cairan yang banyak diproduksi dapat keluar dengan mudah. Tindakan
pembedahan dapat dilakukan seperti trabekulektomi dan laser trabekuloplasti. Bila
tindakan ini gagal, dapat dilakukan siklokrioterapi (pemasangan selaput beku).

Penatalaksaanan keperawatan lebih menekankan pada pendidikan kesehatan terhadap


penderita dan keluarganya karena 90% dari penyakit galukoma mrupkan penyakit kronis
dengan hasil pengobatan yang tidak permanen. Kegagalan dalam pengobatan untuk
mengontrol glaucoma dan adanya pngabaian untuk mempertahankan pengobata dapat
menyebabkan kehilangan pengelihatan progresif dan mengakibatkan kebutaan.

Klien yang mengalami glaucoma harus mendapatkan gambaran tentang penyakit ini serta
penatalaksanaannya, efek pengobatan, dan tujuan akhir pengobatan itu. Pendidikan
kesehantan yang diberikan harus menekankan bahwa pengobatan bukan untuk
mengembalikan fungsi pengelihatan, tetapi hanya mempertahankna fungsi pengelihatan
yang masih ada.

ASUHAN KEPERAWATAN

Pengkajian

1. Riwayat
a. Riwayat ocular
- Tanda peningkatn TIO : nyeri tumpul, mual, muntah, pandangan kabur.
- Pernah mengalami infeksi : uveitis, trauma, pembedahan.
b. Riwayat kesehatan
- Menderita diabetes militus, hipertensi, penyakit kardiovaskular,
serebrovaskular, gangguan tiroid.
- Keluarga menderita glaucoma.
- Pengguanaan obat kortikosteroid jangka lama : topical/sistemik.
- Penggunaan antidepresan trisiklik, antihistamin, fenotiazine.
c. Psikososial
Kemampua ktivitas, gangguan membaca, risiko jatuh, berkendaraan.
d. Pengkajian umum :
- Usia
- Gejala penyakit sistemik : diabetes militus, hipertensi, penyakit
kardiovaskular, hipertiroid.
- Gejala gastrointestinal : mual, muntah.
e. Pengkajian khusus mata
- Pengukuran TIO dengan tonometer (TIO > 23 mm Hg)
- Nyeri tumpul orbita
- Perimetri : menunjukkan penurunan luar lapang pandang
- Kmerahan (hyperemia mata)
- Gonioskopi menunjukkan sudut mata tertutup atau terbuka.

Diagnosis dan intervensi keperawatan

1. Penurunan persepsi ensori ; pengelihatan yang berhubungan dengan penuunan tajam


pengelihatan dan kejelasan pengelihatan.
Subjektif :
Menyatakan pengelihatan kabur, tidak jelas, penurunan area pengelihatan.
Obyektif :
a. Pemeriksaan lapang pandang menurun.
b. Penurunan kemampuan identifikasi lingkungan (benda, orang, tempat)

Tujuan :

Klien melaporkankemampuan yang lebih baik untuk proses rangsang pengelihatan


dan megkomunikasikan perubahan visual.

Kriteria hasil :

a. Klien mengidentifikasi faktor-faktoryag memengaruhi fungsi pengelihatan.


b. Klien mengidentifikasi da menunjukkan pola-pola alternatif untuk meningkatkan
penerimaan rangsang pengelihatan.

Intervensi Rasional
1. Kaji ketajaman peneglihatan klien. 1. Mngidentifikasi
2. Dekati klien dari sisi yang sehat.
kemampuan visual klien.
3. Identifikasi alternative untuk
2. Memberikan rangsangan
optimalisasi pengelihatan.
sensori, menguragi rasa
- Orientasikan klien terhadap
isolasi/terasing.
ruang rawat.
3. Memberikan keakuratan
- Ltakkan alat yang sering
pengelihatan dan
digunakan di dekat klien
perawatannya.
atau pada sisi mata yang
4. Meningkatkan
lebih sehat
kemampuan persepsi
- Berikan pencahayaan
sensori.
cukup.
- Letakkan alat di tempat
yang tepat.
- Hindari cahaya
menyilaukan.