Anda di halaman 1dari 120

ANALISIS PERKEMBANGAN, UPAYA PENINGKATAN, DAN PREDIKSI PENDAPATAN PAJAK SARANG BURUNG Studi Kasus pada Pemerintah Kabupaten Cilacap

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Program Studi Akuntansi

Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Program Studi Akuntansi Oleh: Emerensia Mutiasari NIM: 062114045 PROGRAM STUDI

Oleh:

Emerensia Mutiasari

NIM: 062114045

PROGRAM STUDI AKUNTANSI JURUSAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2010

i

ii

ii

iii

iii

iv

iv

v

v

MOTTO

“God doesn`t make no junk!”. Siapa bilang kamu tidak berharga? Tuhan tidak membuat ciptaan yang jelek. Semua baik, termasuk kamu! (Ethel Wathers)

“Sukses adalah seberapa tinggi kamu terpental ketika kamu jatuh (Goerge Palton)

“Untuk hidup sukses, sesuatu yang baik harus dilakukan walaupun itu susah, sulit, dan menyedihkan.”

vi

PERSEMBAHAN

Skripsi ini kupersembahkan untuk:

Tri Tunggal Mahakudus serta Bunda Maria

Papa dan Mama (Rion Suprihadi dan Lucia Dwi A.S) serta kedua adikku

(Bonaventura C.P dan Garnida Anggit C.V) tercinta.

Petrus Catur Yunianto dan keluarga yang sangat aku sayangi.

vii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Bapa Yang Maha Kasih atas

segala kasih, berkat, dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan

skripsi ini. Penulisan skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi salah satu syarat

memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Jurusan Akuntansi Universitas Sanata

Dharma

Yogyakarta

sebagai

pembelajaran

diperoleh selama di bangku kuliah

dalam

menerapkan

ilmu

yang

Penulis menyadari bahwa dalam proses penyusunan skripsi ini banyak

mengalami hambatan namun berkat doa, dukungan, bimbingan, dan nasehat

berbagai pihak, maka penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Oleh

karena itu dengan terselesaikannya skripsi ini selayaknya penulis menyampaikan

rasa terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Dr. Ir. P. Wiryono Priyotamtama, SJ., selaku Rektor Universitas Sanata

Dharma Yogyakarta.

2. Drs. YP. Supardiyono, M.Si., Akt., QIA, selaku Dekan Fakultas Ekonomi

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

3. Drs. Yusef Widya Karsana, M.Si., Akt., QIA, selaku Ketua Jurusan Akuntansi

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

4. Firma Sulistiyowati, S.E., M.Si, QIA, selaku Dosen Pembimbing terimakasih

atas bimbingan dan masukan yang sangat berarti bagi penulis.

viii

5.

M. Trisnawati Rahayu, S.E, M.Si, Akt., QIA, terimakasih atas bimbingan,

bantuan dan masukan yang sangat berarti bagi penulis selama penulis duduk

di bangku kuliah.

6. Kepala Badan Kesbangpol dan Linmas Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

beserta

staf

yang

telah

rekomendasi penelitian.

memudahkan

penulis

dalam

mengurus

surat

7. Kepala Badan Kesbangpol dan Linmas Provinsi Jawa Tengah beserta staf

yang telah membantu penulis dalam mengurus surat rekomendasi penelitian.

8. Kepala Badan Kesbangpol dan Linmas Kabupaten Cilacap beserta staf yang

membantu penulis untuk mengurus surat rekomendasi penelitian di Dinas

Pengelola Keuangan Daerah Kabupaten Cilacap.

9. Kepala DPKD Kabupaten Cilacap beserta staf yang telah mengijinkan penulis

melaksanakan penelitian.

10. Segenap dosen dan seluruh staf Fakultas Ekonomi yang telah memberi

bimbingan dan bantuan selama penulis duduk di bangku kuliah.

11. Papa dan Mamaku, serta adik-adikku (Aven&Viery) yang tak henti-hentinya

memberikan doa, cinta, semangat, dukungan dan perhatian bagi penulis.

12. Kekasihku Petrus Catur Yunianto dan keluarga di Batam yang senantiasa

memberikan

doa,

dukungan,

menyelesaikan skripsi ini.

saran

dan

kritik

bagi

penulis

dalam

13. Eyang Christ, Mbah Tami, Pak De Yudi, Bu De Nunuk, Mas Herry, Mbak

Leni, Mas Tommy, Mbak Christ, Mas Tono, Mbak Elly, Mas Onny, Mbak

ix

Nancy, Om Nu dan Bulik Suci. Terimakasih atas segala dukungannya baik

material maupun spiritual.

14. Sepupu-sepupuku: Mbak Dian, Mbak Lintang, Mas Dhimas, Dik Putri, Dik

Rafa, Dik Chandra, Dik Bayu, Dik Ocel, Dik Gissel, Dik Shinta dan Dik Aji.

Terimakasih atas doa dan semangatnya.

15. Teman-teman akuntansi angkatan 2006: Ika, Rara, Ria, Merry, Fani, Pranti,

Benny, Ino, Frans dan semuanya yang tidak bisa penulis sebutkan satu

persatu. Terimakasih atas saran, kritik, semangat dan kebersamaan selama ini.

I love U, guys

16. Anak-anak Kost Brojodento 5A: Ria, Henny, Sofi, Yenni, Tata, Siska, Aik.

Terimakasih atas semangat dan kebersamaan selama ini.

17. Semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung membantu penulis

dalam menyelesaikan skripsi ini.

Penulis

menyadari

skripsi

ini

jauh

dari

sempurna untuk

itu

penulis

mengharapkan saran dan kritik dari pembaca yang berguna bagi penyempurnaan

skripsi ini. Akhir kata semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi

pembaca.

Yogyakarta, 31 Juli 2010

Emerensia Mutiasari

x

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL

i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING

ii

HALAMAN PENGESAHAN

iii

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

iv

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI

v

MOTTO

vi

HALAMAN PERSEMBAHAN

vii

HALAMAN KATA PENGANTAR

viii

HALAMAN DAFTAR ISI

xi

HALAMAN DAFTAR TABEL

xiv

HALAMAN DAFTAR GAMBAR

xv

HALAMAN DAFTAR LAMPIRAN

xvi

ABSTRAK

xviii

ABSTRACK

xix

BAB I

PENDAHULUAN

1

A. Latar Belakang Masalah

1

B. Rumusan Masalah

2

C. Tujuan Penelitian

3

D. Manfaat Penelitian

3

E. Sistematika Penulisan

4

BAB II

LANDASAN TEORI

6

A. Pengertian Pajak

6

B. Fungsi Pajak

8

C. Jenis-jenis Pajak

8

D. Syarat Pemungutan Pajak

10

E. Tata Cara Pemungutan Pajak

11

F. Tarif Pajak

15

xi

G.

Penerimaan Daerah

16

 

H. Pajak Daerah

18

I. Pajak Sarang Burung

20

J. Tata Cara Perhitungan dan Penetapan Pajak Daerah Kabupaten Cilacap

22

K. Tata Cara Pembayaran Pajak Daerah Kabupaten Cilacap

24

L. Analisis SWOT

24

BAB III

METODE PENELITIAN

27

A. Jenis Penelitian

27

B. Tempat dan Waktu Penelitian

27

C. Subyek dan Obyek Penelitian

27

D. Data yang akan dicari

28

E. Teknik Pengumpulan Data

28

F. Teknik Analisis Data

29

BAB IV

GAMBARAN UMUM KABUPATEN CILACAP

32

A. Sejarah Kabupaten Cilacap

32

B. Keadaan Geografis

35

C. Penduduk dan Tenaga Kerja

37

D. Transportasi

40

E. Perekonomian

41

F. Pariwisata

43

BAB V

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

44

A. Deskripsi Data

44

B. Analisis Data

46

C. Pembahasan

57

BAB VI

PENUTUP

62

A. Kesimpulan

62

B. Keterbatasan Penelitian

63

C. Saran

64

xii

DAFTAR PUSTAKA

65

LAMPIRAN

67

xiii

DAFTAR TABEL

 

Halaman

Tabel 5.1

Realisasi Pendapatan Pajak Daerah Kabupaten Cilacap tahun 2005 sampai dengan tahun 2009

45

Tabel 5.2

Realisasi Pendapatan Pajak Sarang Burung Kabupaten Cilacap tahun 2005 sampai dengan tahun 2009

46

Tabel 5.3

Jarak tahun yang akan diprediksi dengan tahun tengah (Nilai X)

53

Tabel 5.4

Perhitungan Tren Pajak sarang burung Kabupaten Cilacap tahun 2010 sampai dengan tahun 2014 dengan Metode Least Square

53

Tabel 5.5

Angka Indeks Pajak Sarang Burung Kabupaten Cilacap Tahun 2005 sampai dengan tahun 2009

57

Tabel 5.6

Prediksi Pendapatan Pajak Sarang Burung Kabupaten Cilacap tahun 2010 sampai dengan tahun 2014

60

xiv

DAFTAR GAMBAR

 

Halaman

Gambar 5.1 Perkembangan Pendapatan Pajak Sarang Burung Pemerintah Kabupaten Cilacap tahun 2005 sampai dengan tahun 2009

58

Gambar 5.2 Prediksi Pendapatan Pajak Sarang Burung Pemerintah Kabupaten Cilacap tahun 2010 sampai dengan tahun 2014

60

xv

DAFTAR LAMPIRAN

 

Halaman

Lampiran I

Pedoman Wawancara

67

Lampiran II

Letak Geografis, Ketinggian Tempat Tertentu, dan

Banyaknya Penduduk dan Pertumbuhannya di

Lampiran III

Batas Wilayah Kabupaten Cilacap Tahun 2008

Kabupaten Cilacap Tahun 1988-2008

69

70

Lampiran IV

Anggaran dan Realisasi Pendapatan Daerah Pemerintah Kabupaten Cilacap Tahun Anggaran 2005

71

Lampiran V

Anggaran dan Realisasi Pendapatan Daerah Pemerintah

Anggaran dan Realisasi Pendapatan Daerah Pemerintah

Lampiran VI

Kabupaten Cilacap Tahun Anggaran 2006

Kabupaten Cilacap Tahun Anggaran 2007

77

82

Lampiran VII Anggaran dan Realisasi Pendapatan Daerah Pemerintah Kabupaten Cilacap Tahun Anggaran 2008

87

Lampiran VIII Anggaran dan Realisasi Pendapatan Daerah Pemerintah Kabupaten Cilacap Tahun Anggaran 2009

91

Lampiran IX

Surat Rekomendasi dari Universitas Sanata Dharma

94

Lampiran X

Surat Rekomendasi dari Badan Kesbanglinmas Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

95

Lampiran XI

Surat Rekomendasi dari Badan Kesbanglinmas Provinsi Jawa Tengah

97

Lampiran XII Surat Rekomendasi dari Badan Kesbanglinmas Pemerintah Kabupaten Cilacap

98

xvi

Lampiran XIII Surat Rekomendasi dari BAPPEDA Pemerintah Kabupaten Cilacap

100

Lampiran XIV Surat Keterangan dari Dinas Pengelola Keuangan Daerah Pemerintah Kabupaten Cilacap

101

xvii

ABSTRAK

ANALISIS PERKEMBANGAN, UPAYA PENINGKATAN, DAN PREDIKSI PENDAPATAN PAJAK SARANG BURUNG Studi Kasus pada Pemerintah Kabupaten Cilacap

Emerensia Mutiasari

062114045

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

2010

Tujuan penulisan adalah untuk mengetahui (1) perkembangan pendapatan pajak sarang burung tahun anggaran 2005 sampai dengan tahun 2009, (2) upaya- upaya apa saja yang dapat meningkatkan pajak sarang burung yang dianalisis dengan menggunakan analisis SWOT, dan (3) prediksi pendapatan pajak sarang burung tahun 2010 sampai dengan tahun 2014. Jenis penelitian adalah studi kasus. Data diperoleh dengan melakukan wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini ada tiga jenis yaitu: (1) teknik analisis indeks berantai, digunakan untuk menjawab masalah pertama yaitu bagaimana perkembangan pendapatan pajak sarang burung tahun anggaran 2005 sampai dengan tahun 2009; (2) teknik analisis SWOT, digunakan untuk menjawab masalah kedua yaitu upaya-upaya apa saja yang dapat meningkatkan pajak sarang burung; dan (3) teknik analisis tren, digunakan untuk menjawab masalah terakhir yaitu prediksi pendapatan pajak sarang burung tahun 2010 sampai dengan tahun 2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Perkembangan pendapatan pajak sarang burung di Kabupaten Cilacap untuk tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 mengalami peningkatan dan penurunan. Hal ini ditunjukkan dengan angka indeks pada tahun 2005 sebesar 100%, tahun 2006 sebesar 101%, tahun 2007 sebesar 102%, tahun 2008 sebesar 99%, dan tahun 2009 sebesar 103%. (2) Upaya-upaya yang harus dilakukan untuk meningkatkan pendapatan pajak sarang di Kabupaten Cilacap yaitu adanya sosialisasi tentang peraturan-peraturan yang berkaitan dengan pajak sarang burung dan penyuluhan bagi para pengusaha sarang burung tentang pentingnya membayar pajak, adanya pengawasan yang optimal bagi pihak yang berwenang dalam pengelolaan pajak, adanya sanksi tegas pada para wajib pajak yang tidak taat membayar pajak, dan adanya asas timbal balik yang dapat dirasakan dan dinikmati oleh para wajib pajak. (3) Prediksi pendapatan pajak sarang burung di Kabupaten Cilacap untuk tahun 2010 sampai dengan tahun 2014 secara berurutan adalah Rp19.595.000,00; Rp19.790.000,00; Rp19.985.000,00; Rp20.180.000,00; Rp20.375.000,00. Hasil ini menunjukkan bahwa prediksi pendapatan pajak sarang burung di Kabupaten Cilacap untuk tahun-tahun mendatang mengalami kecenderungan naik.

xviii

ABSTRACT

AN ANALYSIS OF DEVELOPMENT, IMPROVEMENT EFFORTS, AND INCOME PREDICTION OF NEST TAX A Case Study at Cilacap Government

Emerensia Mutiasari

062114045

Sanata Dharma University Yogyakarta

2010

The aim of writing this paper was to find out about three things. The first was development of the nest tax income from 2005 up to 2009, the second was what efforts could be used to increase the nest tax using SWOT analysis, and the third was the income prediction of the nest tax from 2010 up to 2014. The type of this research was a case study. The data were gathered through interview and documentation. There were three data analysis techniques used in this research. The first was Chain’s Index analytical technique used to answer the first problem, that was how was the development of the nest tax income from 2005 up to 2009. The second was SWOT analytical technique used to answer the second problem, that was what efforts could be used to increase the nest tax. The third was trend analytical technique used to answer the last problem, that was the income prediction of the nest tax from 2010 up to 2014. The results showed that first, the increase of the nest tax income in Cilacap regency from 2005 up to 2009 fluctuated meaning that it sometimes increase and sometimes decrease. It could be seen from the index number: in 2005 it reached 100%, in 2006 it reached 101%, in 2007 it increased and reached 102%, in 2008 it decreased and was only 99%, and in 2009 it increased again and reached 103%. Then, the second was the efforts that might be done to increase the nest tax income in Cilacap Regency were by conducting socialization about the rules related to the nest tax, conducting an illumination about the importance of paying taxes to the nest entrepreneur, optimally supervising the parties responsible in managing the tax, applying strict punishment to those who did not pay the tax, and applying reciprocal principle so that the tax payer could feel and enjoy the benefits. Then third, the amount of the income prediction of the nest tax in Cilacap regency consecutively from 2010 up to 2014 was Rp19.595.000,00; Rp19.790.000,00; Rp19.985.000,00; Rp20.180.000,00; Rp20.375.000,00. These results showed that the income prediction of the nest tax in Cilacap regency in the coming years would increase.

xix

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Undang-Undang No. 12 Tahun 2008 tentang Pemerintahan Daerah

merupakan salah satu landasan yuridis bagi pengembangan otonomi daerah di

Indonesia.

Dalam

undang-undang

ini

disebutkan

bahwa

pengembangan

otonomi

daerah

diselenggarakan

dengan

memperhatikan

prinsip-prinsip

demokrasi,

peran

serta

masyarakat,

pemerataan

dan

keadilan

serta

memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah. Otonomi yang diberikan

Pemerintah

Pusat

kepada

daerah

dilaksanakan

dengan

memberikan

kewenangan

yang luas,

nyata dan bertanggungjawab kepada Pemerintah

daerah secara proporsional. Pemerintah pusat memberikan kesempatan dan

kewenangan yang sangat luas bagi pemerintah daerah dalam menghimpun

berbagai jenis pendapatan daerah yang konvensional yaitu dari pajak daerah

dan retribusi daerah.

 

Sejalan

dengan

kewenangan

otonomi

daerah

tersebut

pemerintah

daerah

diharapkan

lebih

mampu

menggali

sumber-sumber

keuangan

khususnya

untuk

memenuhi

kebutuhan

pembiayaan

pemerintahan

dan

pembangunan daerah melalui Pendapatan Asli Daerah (PAD), mengingat PAD

sangat penting dalam penerimaan daerah sebagai cermin kemampuan daerah

dalam melaksanakan otonomi. Kemandirian daerah dalam PAD tidak hanya

dalam menentukan jenis pungutan saja, tetapi daerah juga diberi keluasaan

untuk menetapkan besarnya tarif atas pungutan sehingga akan mempengaruhi

1

2

pada

pengalokasian

Daerah.

anggaran

dalam

Anggaran

Pendapatan

dan

Belanja

Cilacap adalah salah satu dari tiga kawasan industri utama di Jawa

Tengah, selain Semarang dan Surakarta. Perekonomian Kabupaten Cilacap

tidak hanya berasal dari sektor industri tetapi juga berasal dari sektor pertanian

dan pariwisata. Namun potensinya yang cukup besar akan penerimaan pajak

masih belum banyak tersentuh. Padahal semakin besar sumber pendapatan

yang berasal dari potensi daerah dan bukan dari bantuan pemerintah pusat,

maka daerah akan semakin mampu untuk lebih mensukseskan pembangunan

di daerah sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya. Sumber pendapatan pajak

daerah Kabupaten Cilacap yang masih perlu dimaksimalkan antara lain pajak

sarang burung.

B. Rumusan Masalah

Dalam skripsi ini penulis ingin membahas hal-hal sebagai berikut:

1. Bagaimana perkembangan pendapatan pajak sarang burung di Pemerintah

Kabupaten Cilacap tahun 2005 sampai dengan tahun 2009?

2. Bagaimana

upaya

meningkatkan

pendapatan

pajak

sarang

burung

di

Pemerintah

Kabupaten

Cilacap

yang

dianalisis

dengan

menggunakan

analisis SWOT?

 

3. Bagaimana

prediksi

pendapatan

pajak

sarang

burung

di

Pemerintah

Kabupaten Cilacap tahun 2010 sampai dengan tahun 2014?

3

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk:

1. Mengetahui perkembangan pendapatan pajak sarang burung di Pemerintah

Kabupaten Cilacap tahun 2005 sampai dengan tahun 2009.

2. Mengetahui upaya-upaya apa saja yang dapat meningkatkan pendapatan

pajak sarang burung di Pemerintah Kabupaten Cilacap yang dianalisis

dengan menggunakan analisis SWOT.

3. Mengetahui

prediksi

pendapatan

pajak

sarang

burung

di

Pemerintah

Kabupaten Cilacap tahun 2010 sampai dengan tahun 2014.

D. Manfaat Penelitian

Setelah melakukan penelitian ini, diharapkan hasil penelitian ini dapat

bermanfaat bagi semua pihak, antara lain:

1. Bagi Pemerintah Daerah

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan masukan dalam

upaya-upaya

untuk

lebih

meningkatkan

PAD,

terutama

dalam

hal

penggalian sumber-sumber PAD khususnya pada sektor pajak daerah.

2. Bagi Penulis

Dengan mengadakan penelitian ini, penulis dapat menerapkan

teori-teori yang telah dipelajari ke dalam suatu praktek nyata di daerah

untuk lebih memperdalam pemahaman penulis mengenai teori tersebut

khususnya yang berkaitan dengan pajak daerah.

4

3. Bagi Universitas Sanata Dharma

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu referensi di

universitas khususnya bagi para mahasiswa atau pembaca lainnya yang

memerlukan

informasi-informasi

tertentu

dalam

hubungan

dengan

masalah yang dibahas oleh penulis tentang pajak sarang burung.

4. Bagi Pembaca

Semoga hasil penelitian ini dapat membantu pembaca sekalian

dalam mengembangkan wawasan dan pemahamannya mengenai masalah

perekonomian daerah.

E. Sistematika Penulisan

Bab I

Pendahuluan

 

Bab

ini

diuraikan

tentang

latar

belakang

masalah,

rumusan

masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian serta sistematika

penulisan.

 

Bab II

Landasan Teori

 

Bab ini dijelaskan mengenai hasil kajian pustaka yang relevan

dengan permasalahan yang diangkat.

 

Bab III

Metode Penelitian

 

Bab ini menjelaskan mengenai jenis penelitian, tempat dan waktu

penelitian, data yang dicari, teknik pengumpulan data dan teknik

analisis data.

5

Bab IV

Gambaran Umum Kabupaten Cilacap

 

Bab ini menjelaskan sejarah

berdirinya Kabupaten Cilacap, letak

geografis,

pembagian

administratif,

wacana

pemekaran,

transportasi, perekonomian dan pariwisata.

Bab V

Analisis dan Pembahasan

 

Bab

ini

membahas

analisis

data

yang

diperoleh

dari

Dinas

Pengelola

Keuangan

Daerah

Kabupaten

Cilacap

dengan

menggunakan metode dan teknik

yang diuraikan pada bagian

metode penelitian.

 

Bab VI

Penutup

 

Bab ini berisi kesimpulan dari seluruh langkah proses analisis data

dan pembahasan serta berisi beberapa saran yang diharapkan dapat

berguna bagi pihak Pemerintah Kabupaten Cilacap.

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Pengertian Pajak

Ada bermacam-macam batasan atau definisi tentang “pajak” yang

dikemukakan oleh para ahli, yaitu:

Menurut Andriani dalam Zain (2008: 10)

“Pajak adalah iuran masyarakat kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan- peraturan umum (Undang-undang) dengan tidak mendapat prestasi kembali yang langsung dapat ditunjuk dan yang daya gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubung tugas negara untuk menyelenggarakan pemerintahan.”

Menurut Soemitro dalam Zain (2008: 11)

“Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang- undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapatkan jasa timbal (kontra prestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum.”

Menurut Sommerfeld Ray M., Anderson Herschel M., & Brock Horace R

dalam Zain (2008: 11)

“Pajak adalah suatu pengalihan sumber dari sektor swasta ke sektor pemerintah, bukan akibat pelanggaran hukum, namun wajib dilaksanakan, berdasarkan ketentuan yang ditetapkan lebih dahulu, tanpa mendapat imbalan yang langsung dan proporsional, agar pemerintah dapat melaksanakan tugas- tugasnya untuk menjalankan pemerintahan.”

6

7

Menurut Soeparman Soemahamidjaja dalam Pudyatmoko (2002: 2):

“Pajak adalah iuran wajib, berupa uang atau barang, yang dipungut oleh penguasa berdasarkan norma-norma hukum, guna menutup biaya produksi barang-barang dan jasa-jasa kolektif dalam mencapai kesejahteraan umum.”

Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri yang

melekat pada pengertian pajak (Pudyatmoko, 2002: 4) yaitu :

1. Pajak dipungut berdasarkan undang-undang serta aturan pelaksanaannya

yang sifatnya dapat dipaksakan.

2. Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukkan adanya kontra prestasi

individual oleh pemerintah.

3. Pemungutannya dapat dilakukan baik oleh pemerintah pusat maupun

pemerintah daerah, karena itu ada istilah pajak pusat dan pajak daerah.

4. Hasil

dari

uang

pajak

dipergunakan

untuk

membiayai

pengeluaran

pemerintah baik pengeluaran rutin maupun pengeluaran pembangunan,

dan

apabila

terdapat

kelebihan

maka

membiayai public investment.

sisanya

dipergunakan

untuk

5. Disamping mempunyai fungsi sebagai alat untuk memasukkan dana dari

rakyat ke dalam kas negara (fungsi budgetair), pajak juga mempunyai

fungsi lain, yakni fungsi mengatur.

8

B. Fungsi Pajak

Mardiasmo dalam bukunya yang berjudul Perpajakan menyatakan

bahwa fungsi pajak dibagi menjadi dua yaitu (Mardiasmo, 2008: 4) : fungsi

penerimaan (budgetair) dan fungsi mengatur (regulerend). Dalam fungsi

penerimaan (budgetair) pajak berfungsi sebagai sumber dana bagi pemerintah

untuk membiayai pengeluaran-pengeluarannya seperti contoh dimasukkannya

pajak dalam APBN sebagai penerimaan dalam negri sedangkan dalam fungsi

mengatur (regulerend) pajak berfungsi sebagai alat untuk mengatur atau

melaksanakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang sosial dan ekonomi

seperti

pajak

yang

tinggi

dikenakan

terhadap

minuman

keras

untuk

mengurangi konsumsi minuman keras, pajak yang tinggi terhadap barang-

barang mewah untuk mengurangi gaya hidup konsumtif dan tarif pajak untuk

ekspor sebesar 0% untuk mendorong ekspor produk Indonesia di pasaran

dunia.

C. Jenis-jenis Pajak

Pajak

dapat

dikelompokkan

ke

dalam

berbagai

jenis

dengan

menggunakan kriteria-kriteria tertentu (Mardiasmo, 2008: 5-6) :

1. Menurut pihak yang memungut/lembaga pemungutnya, pajak digolongkan

menjadi dua yaitu pajak pusat dan pajak daerah.

a)

Pajak pusat yakni pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat dan

digunakan untuk membiayai rumah tangga negara. Contoh : PPh, PPN,

PPnBM, dan Bea Materai.

9

b)

Pajak daerah yaitu pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah dan

digunakan untuk membiayai rumah tangga daerah. Pajak daerah terdiri

dari pajak propinsi dan pajak kabupaten atau kota. Yang termasuk

pajak propinsi adalah pajak kendaraan bermotor dan kendaraan di atas

air,

pajak

bahan

bakar

kendaraan

bermotor.

Sedangkan

pajak

kabupaten atau kota terdiri dari pajak hotel, pajak restoran, pajak

hiburan, pajak reklame, dan pajak penerangan jalan.

2. Menurut sifatnya, pajak dibagi menjadi dua yaitu pajak langsung dan

pajak tidak langsung.

a) Pajak langsung yaitu pajak yang harus dipikul sendiri oleh wajib pajak

dan tidak dapat dibebankan atau dilimpahkan kepada orang lain.

Contoh : PPh.

b) Pajak

tidak

langsung

yaitu

pajak

yang

pada

akhirnya

dapat

dibebankan atau dilimpahkan kepada orang lain. Contoh : PPN.

3. Menurut sasaran/obyeknya, pajak dikelompokkan menjadi dua yaitu :

a) Pajak subjektif yaitu pajak yang berpangkal atau berdasarkan pada

subyeknya,

dalam

arti

memperhatikan

keadaan

diri

wajib

pajak.

Contoh

:

PPh

dimasukkan

dalam

pajak

subjektif

karena

untuk

memungut pajak atas penghasilan tentu melihat dulu berapa besar

penghasilan yang diterima seorang wajib pajak dan kemampuan wajib

pajak tersebut untuk membayar pajaknya.

10

b) Pajak obyektif yakni pajak yang berpangkal pada obyeknya, tanpa

memperhatikan keadaan diri wajib pajak. Contoh : PPN dan PPnBM.

Dalam hal ini pemungut tidak memperhatikan keadaan diri wajib

pajak karena dengan sendirinya apabila seseorang mampu membeli

barang mewah tentu dia akan mampu juga untuk membayar PPN dan

PPnBM tersebut.

D. Syarat Pemungutan Pajak

Agar

pemungutan

pajak

tidak

menimbulkan

hambatan

atau

perlawanan, maka pemungutan pajak harus memenuhi syarat-syarat sebagai

berikut (Mardiasmo, 2008: 2-3):

1. Pemungutan pajak harus adil (syarat keadilan).

Syarat keadilan berarti pemungutan pajak harus sesuai dengan tujuan

hukum yaitu untuk mencapai keadilan, undang-undang dan pelaksanaan

pemungutannya harus adil. Adil dalam perundang-undangan diantaranya

berarti mengenakan pajak secara umum dan merata serta disesuaikan

dengan kemampuan masing-masing. Sedang adil dalam pelaksanaannya

yakni

dengan

memberikan

hak

bagi

wajib

pajak

untuk

mengajukan

keberatan, penundaan dalam pembayaran dan mengajukan banding kepada

Majelis Pertimbangan Pajak.

11

2. Pemungutan pajak harus berdasarkan undang-undang (syarat yuridis).

Di Indonesia, pajak diatur dalam UUD 1945 pasal 23 ayat 2. Hal ini

memberikan jaminan hukum untuk menyatakan keadilan, baik bagi negara

maupun warganya.

3. Tidak mengganggu perekonomian (syarat ekonomis).

Pemungutan pajak tidak boleh mengganggu kelancaran kegiatan

produksi maupun perdagangan sehingga tidak menimbulkan kelesuan

perkenomoian masyarakat.

4. Pemungutan pajak harus efisien (syarat finansiil).

Sesuai

fungsi

budgetair,

biaya

pemungutan

pajak

harus

dapat

ditekan sehingga lebih rendah dari hasil pemungutannya.

5. Sistem pemungutan pajak harus sederhana.

Sistem

pemungutan

yang

sederhana

akan

memudahkan

dan

mendorong masyarakat dalam memenuhi kewajiban perpajakannya. Syarat

ini telah dipenuhi oleh undang-undang perpajakan yang baru.

E. Tata Cara Pemungutan Pajak

1. Stelsel Pajak.

Cara pemungutan pajak dilakukan berdasarkan tiga stelsel (Waluyo, 2000:

9-10) :

a)

Stelsel nyata (real stelsel), pengenaan pajak didasarkan pada objek

(penghasilan

yang

nyata)

sehingga

pemungutannya

baru

dapat

dilakukan pada akhir tahun pajak yakni setelah penghasilannya yang

12

sesungguhnya

telah

dapat

diketahui.

Stelsel

nyata

mempunyai

kebaikan dan kekurangan. Kebaikan stelsel ini adalah pajak yang

dikenakan lebih realistis. Sedangkan kelemahannya adalah pajak baru

dapat

dikenakan

diketahui).

pada

akhir

periode

(setelah

penghasilan

riil

b) Stelsel anggapan (fictive stelsel), pengenaan pajak didasarkan pada

satu anggapan yang diatur oleh undang-undang misalnya penghasilan

suatu tahun dianggap sama dengan tahun sebelumnya sehingga pada

awal tahun pajak telah dapat ditetapkan besarnya pajak yang terutang

untuk tahun pajak berjalan. Kebaikan stelsel ini adalah pajak dapat

dibayar selama setahun berjalan tanpa harus menunggu pada akhir

tahun. Sedangkan kelemahannya adalah pajak yang dibayar tidak

selalu berdasarkan pada keadaan yang sesungguhnya.

c) Stelsel campuran, stelsel ini merupakan kombinasi antara stelsel nyata

dan

stelsel

anggapan.

Pada

awal

tahun,

besarnya

pajak

dihitung

berdasarkan suatu anggapan kemudian pada akhir tahun besarnya

pajak disesuaikan dengan keadaan yang sebenarnya. Bila besarnya

pajak

menurut

kenyataan

lebih

besar

daripada

pajak

menurut

anggapan, maka wajib pajak harus menambah. Sebaliknya jika lebih

kecil kelebihannya dapat diminta kembali.

13

2. Sistem Pemungutan Pajak.

Sistem pemungutan pajak dapat dibagi menjadi (Waluyo, 2000: 10) :

a) Official assesment system, adalah suatu sistem untuk menentukan

besarnya

pajak

yang

terutang.

Ciri-ciri

dari

sistem

ini

adalah

wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang ada pada fiskus

atau pemerintah, wajib pajak bersifat pasif dan utang pajak timbul

setelah dikeluarkan surat ketetapan pajak oleh fiskus.

b) Self assesment system, adalah suatu sistem pemungutan pajak yang

memberi wewenang, kepercayaan, tanggung jawab kepada wajib pajak

untuk menghitung, membayar dan melaporkan sendiri besarnya pajak

yang harus dibayarkan. Ciri-ciri dari sistem ini adalah wewenang

untuk menentukan besarnya pajak terutang ada pada wajib pajak

sendiri,

wajib

pajak

aktif

mulai

dari

menghitung,

menyetor

dan

melaporkan sendiri pajak yang terutang. Fiskus tidak ikut campur

tangan dan hanya mengawasi.

c) Witholding assesment system, adalah suatu sistem pemungutan pajak

yang memberi wewenang kepada pihak ketiga untuk menentukan

besarnya pajak yang terutang oleh wajib pajak. Ciri-cirinya adalah

wewenang menentukan besarnya pajak yang terutang ada pada pihak

ketiga, pihak selain fiskus dan wajib pajak.

14

3. Asas Pemungutan Pajak

Terdapat tiga asas yang digunakan untuk memungut pajak (Waluyo, 2000:

10) :

a) Asas Domisili (Asas Tempat Tinggal). Dalam asas ini pemungutan

pajak tergantung domisili atau tempat tinggal seseorang dalam suatu

negara. Negara berhak mengenakan pajak atas seluruh penghasilan

wajib pajak yang bertempat tinggal di wilayahnya, baik penghasilan

yang berasal dari dalam maupun dari luar negri. Asas ini berlaku untuk

wajib pajak dalam negri.

b) Asas Kebangsaan. Dalam asas ini pemungutan pajak didasarkan pada

kebangsaan

seseorang.

Pengenaan

pajak

dihubungkan

dengan

kebangsaan suatu negara. Misalnya pajak bangsa asing di Indonesia

dikenakan pada setiap orang yang bukan berkebangsaan Indonesia

yang bertempat tinggal di Indonesia. Asas ini berlaku untuk wajib

pajak luar negri.

c) Asas Sumber. Dalam asas ini pemungutan pajak tergantung dari atau

didasarkan pada adanya sumber pendapatan atau penghasilan yang

bersumber di wilayahnya tanpa memperhatikan tempat tinggal wajib

pajak.

15

F. Tarif Pajak

Ada empat macam tarif pajak yaitu (Waluyo dan Wiryawan, 2000: 11-12):

1. Tarif Proporsional (Sebanding)

Tarif proporsional adalah tarif dengan prosentase tetap berapapun

jumlah

yang

menjadi

dasar

pengenaan

pajak.

Dalam

hal

ini

dapat

digambarkan pada saat penyerahan barang kena pajak di dalam daerah

pabean akan dikenakan pajak pertambahan nilai sebesar 10%.

2. Tarif Progresif

Tarif

progresif

adalah

tarif

dengan

prosentase

yang

semakin

meningkat atau naik apabila jumlah yang menjadi dasar pengenaan pajak

meningkat. Seperti pada pasal 17 UU PPh No. 36 tahun 2008, tarif pajak

semakin meningkat sesuai dengan tingkat penghasilan yang diperoleh.

Dengan

memperhatikan

kenaikan

persentase

progresif dapat dibagi menjadi :

tarifnya,

tarif

a) Tarif progresif-progresif, dalam hal ini kenaikan persentase pajaknya

semakin besar.

b) Tarif progresif tetap, kenaikan persentasenya tetap.

c) Tarif progresif-degresif, kenaikan persentasenya semakin kecil.

3. Tarif Degresif

Tarif degresif adalah tarif dengan persentase tarif pajak yang

semakin menurun apabila jumlah yang menjadi dasar pengenaan pajak

menjadi semakin besar.

16

4. Tarif Tetap

Tarif Tetap adalah tarif dengan jumlah angka yang tetap berapapun

jumlah yang menjadi dasar pengenaan. Misalnya besar tarif Bea Materai

untuk cek dan bilyet giro dengan nominal berapapun adalah Rp6.000,00.

G. Penerimaan Daerah

Untuk meningkatkan jumlah pendapatan daerah, pemerintah daerah

harus

mampu

menggali

sumber-sumber

penerimaan

dalam

rangka

pelaksanaan otonomi daerah. Sumber-sumber penerimaan daerah antara lain

meliputi:

1. Pendapatan Asli Daerah (PAD)

PAD

merupakan

sumber

utama

bagi

daerah

dalam

rangka

pelaksanaan desentralisasi. PAD suatu daerah meliputi: pajak daerah,

retribusi daerah, hasil BUMD, dan pengelolaan kekayaan daerah serta

pendapatan lain. Dana perimbangan dan penerimaan lain merupakan

sumber pendapatan tambahan untuk mendukung PAD sedangkan unsur

terpenting

dalam

PAD

adalah

pajak

daerah

dan

retribusi

daerah.

Penerimaan daerah dari bagian laba perusahaan daerah (BUMD) relatif

kecil karena jika BUMD tersebut rugi maka tidak ada kontribusi terhadap

PAD.

17

2. Dana Perimbangan

Dana

perimbangan

merupakan

dana

yang

bersumber

dari

penerimaan APBN yang dialokasikan kepada daerah untuk membiayai

kebutuhan daerah dalam rangka desentralisasi. Dana ini digunakan oleh

pemerintah

pusat

dengan

tujuan

untuk

menyeimbangkan

hubungan

keuangan pusat dan daerah serta hubungan keuangan antar daerah.

Unsur-unsur penerimaan dalam dana pembangunan ini, antara lain:

a) Dana Bagi Hasil

Dana bagi hasil bersumber dari pajak dan sumber daya alam,

seperti Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Bea Perolehan Hak atas

Tanah dan Bangunan (BPHTB), penerimaan kehutanan, penerimaan

pertambangan

umum,

penerimaan

perikanan,

pertambangan minyak dan lain-lain.

b) Dana Alokasi Umum (DAU)

penerimaan

DAU adalah dana yang berasal dari APBN yang dialokasikan

kepada daerah dengan tujuan untuk pemerataan kemampuan keuangan

antar

daerah

untuk

membiayai

kebutuhan

pengeluarannya

dalam

rangka pelaksanaan desentralisasi.

 

c) Dana Alokasi Khusus (DAK)

 
 

DAK

adalah

dana

yang

juga

berasal

dari

APBN

yang

dialokasikan

kepada

daerah

untuk

membantu

daerah

membiayai

kebutuhan tertentu atau apabila daerah mengalami masalah-masalah

khusus.

18

3. Penerimaan Lain-lain yang Sah

Bagian ini merupakan seluruh pendapatan daerah selain PAD dan

dana perimbangan yang meliputi hibah, dana darurat dan pendapatan lain-

lain yang ditetapkan pemerintah.

H. Pajak Daerah

1. Pengertian Pajak Daerah

Berdasarkan UU Nomor 28 Tahun 2009 tentang pajak daerah dan

retribusi daerah yang dimaksud dengan:

“Pajak daerah, yang selanjutnya disebut pajak adalah kontribusi wajib

kepada daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat

memaksa berdasarkan undang-undang dengan tidak mendapatkan imbalan

secara langsung dan digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar-

besarnya kemakmuran rakyat.”

Dari definisi di atas jelas bahwa pajak daerah merupakan iuran

wajib yang dapat dipaksakan kepada setiap orang (wajib pajak) tanpa

kecuali.

2. Jenis Pajak Daerah

Berdasarkan

mencakup:

UU

Nomor

28

Tahun

2009

jenis

a) Jenis pajak propinsi terdiri dari :

1) Pajak Kendaraan Bermotor;

2) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor;

pajak

daerah

19

3) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor;

4) Pajak Air Permukaan, dan

5) Pajak Rokok.

b) Jenis pajak kabupaten/kota terdiri dari :

1) Pajak Hotel;

2) Pajak Restoran;

3) Pajak Hiburan;

4) Pajak Reklame;

5) Pajak Penerangan Jalan;

6) Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan;

7) Pajak Parkir;

8) Pajak Air Tanah;

9) Pajak Sarang Burung Walet;

10) Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan, dan

11) Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.

Daerah

dilarang

memungut

pajak

selain

jenis

pajak

yang

ditetapkan oleh Undang-Undang No. 28 Tahun 2009. Jenis-jenis pajak

daerah di atas dapat tidak dipungut apabila potensinya kurang memadai

dan atau disesuaikan dengan kebijakan daerah yang ditetapkan dengan

peraturan daerah.

20

I. Pajak Sarang Burung

Menurut Undang-Undang No. 28 Tahun 2009 pajak sarang burung

walet adalah pajak atas kegiatan pengambilan dan atau pengusahaan sarang

burung. Burung walet adalah satwa yang termasuk marga collocalia,yaitu

collocalia

fuchliap

harga,

collocalia

maxina,

collocalia

esculanta

dan

collocalia linchi. Objek pajak sarang burung walet adalah pengambilan dan

atau pengusahaan sarang burung walet. Yang tidak termasuk objek pajak

sarang burung walet adalah pengambilan sarang burung walet yang telah

dikenakan

Penerimaan

Negara

Bukan

Pajak

(PNBP)

dan

kegiatan

pengambilan sarang burung walet yang ditetapkan dengan peraturan daerah.

Subjek pajak sarang burung walet adalah orang pribadi atau badan yang

melakukan pengambilan dan atau mengusahakan sarang burung walet.

Dasar pengenaan pajak sarang burung adalah nilai jual sarang burung

walet. Nilai jual sarang burung walet

dihitung berdasarkan perkalian antara

harga pasaran umum sarang burung walet

yang berlaku di daerah yang

bersangkutan dengan volume sarang burung walet. Tarif pajak sarang burung

walet ditetapkan paling tinggi sebesar 10%. Tarif pajak sarang burung walet

ditetapkan dengan peraturan daerah.

Besaran pokok pajak sarang burung walet yang terutang dihitung

dengan cara mengalikan tarif dengan dasar pengenaan pajak. Pajak sarang

burung walet yang terutang dipungut di wilayah daerah tempat pengambilan

dan atau pengusahaan sarang burung walet.

21

Sedangkan menurut Peraturan Pemerintah Kabupaten Cilacap Nomor

19 Tahun 2003 tentang Pajak Pengelolaan dan Pengusahaan Sarang Burung,

yaitu:

1. Pengertian

Pajak

sarang

burung

adalah

pajak

yang

dikenakan

terhadap

pengelolaan dan pengusahaan sarang burung.

Sarang burung adalah sarang burung walet atau sebangsanya yang

dapat diperdagangkan dan digunakan sebagai bahan makanan atau obat-

obatan yang terdapat dalam wilayah Kabupaten Cilacap.

Tempat

pengelolaan

dan

pengusahaan

bangunan-bangunan,

gua-gua dan tempat lain

pemeliharaan sarang burung.

2. Obyek dan Subyek Pajak

adalah

rumah-rumah,

yang digunakan untuk

Obyek pajak adalah sarang burung walet atau sebangsanya yang

dapat diperdagangkan dan yang digunakan sebagai bahan makanan dan

obat-obatan.

Subyek

pajak

adalah

orang

pribadi

atau

badan

hukum

yang

mengelola dan atau mengusahakan sarang burung di wilayah Kabupaten

Cilacap.

22

3. Dasar Pengenaan, Tarif dan Cara Perhitungan Pajak

Dasar pengenaan pajak adalah jumlah nilai jual hasil panen yang

dilakukan oleh pengusaha. Tarif pajak ditetapkan sebesar 6% dari jumlah

nilai jual hasil panen sarang burung. Besarnya pajak terutang dihitung

dengan cara mengalikan tarif dengan dasar pengenaan pajak.

4. Masa Pajak

Pajak terutang dalam masa pajak terjadi pada saat melaksanakan

panen sarang burung. Tahun pajak adalah jangka waktu yang lamanya 1

(satu) tahun takwim kecuali apabila wajib pajak menggunakan tahun buku

yang tidak sama dengan tahun takwim.

J. Tata Cara Perhitungan dan Penetapan Pajak Daerah Kabupaten Cilacap

Berdasarkan Surat Pemberitahuan Pajak Daerah (SPTPD), Bupati

menetapkan pajak terutang dengan menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Daerah

(SKPD). Apabila SKPD tidak atau kurang dibayar setelah lewat waktu paling

lama 30 hari sejak diterimanya SKPD dikenakan sanksi administrasi berupa

bunga 2% sebulan dan ditagih dengan menerbitkan Surat Tagihan Pajak

Daerah (STPD).

SPTPD yang telah diisi oleh wajib pajak digunakan sebagai bahan

untuk menghitung, memperhitungkan dan menetapkan pajak sendiri yang

terutang. Dalam jangka waktu 5 tahun sesudah saat terutang pajak, bupati

dapat menerbitkan: Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar (SKPDKB),

23

Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan (SKPDKBT) dan

Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil (SKPDN). SKPDKB diterbitkan apabila:

1. Berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain pajak yang terutang

tidak atau kurang dibayar dikenakan sanksi administrasi berupa bunga

sebesar 2% sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau terlambat bayar

untuk jangka waktu paling lama 24 bulan dihitung sejak saat terutangnya

pajak.

2. SPTPD tidak disampaikan dalam jangka waktu yang ditentukan dan telah

ditegur secara tertulis, dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar

2% sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar untuk

jangka waktu paling lama 24 bulan dihitung sejak saat terutangnya pajak.

3. Kewajiban mengisi SPTPD tidak dipenuhi, pajak yang terutang dihitung

secara jabatan dan dikenakan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar

25% dari pokok pajak ditambah sanksi administrasi berupa bunga sebesar

2% sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar untuk

jangka waktu paling lama 24 bulan dihitung sejak saat terutangnya pajak.

SKPDKBT diterbitkan apabila ditemukan data baru atau data yang

semula belum terungkap yang menyebabkan penambahan jumlah pajak yang

terutang, akan dikenakan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100%

dari jumlah kekurangan pajak tersebut. SKPDN diterbitkan apabila jumlah

pajak yang terutang sama besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak

tidak terutang dan tidak ada kredit pajak. Apabila kewajiban membayar pajak

dalam SKPDKB dan SKPDKBT tidak atau tidak sepenuhnya dibayar dalam

24

jangka waktu yang telah ditentukan, ditagih dengan menerbitkan STPD

ditambah dengan sanksi administrasi berupa bunga 20% sebulan dan ditagih

dengan menerbitkan STPD.

K. Tata Cara Pembayaran Pajak Daerah Kabupaten Cilacap

Pembayaran pajak dilakukan di kas daerah atau tempat lain yang

ditunjuk oleh bupati sesuai waktu yang ditentukan dalam SKPD, SKPDKB,

SKPDKBT dan STPD. Apabila pembayaran pajak dilakukan di tempat lain

yang

ditunjuk,

hasil

penerimaan

pajak

harus

disetorkan

ke

kas

daerah

selambat-lambatnya 1x24 jam atau dalam waktu yang ditentukan oleh bupati.

Pembayaran

pajak

dilakukan

dengan

menggunakan

Surat

Setoran

Pajak

Daerah (SSPD). Pembayaran pajak harus dilakukan sekaligus atau lunas.

Angsuran pembayaran pajak harus dilakukan secara teratur berturut-turut

dengan dikenakan bunga sebesar 2% sebulan dari jumlah pajak yang belum

atau kurang bayar.

L. Analisis SWOT

Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis

untuk merumuskan strategi perusahaan (Rangkuti, 1997: 18-20). Analisis

SWOT berguna untuk menganalisis faktor-faktor di dalam organisasi yang

memberikan andil terhadap kualitas pelayanan atau salah satu komponennya

sambil mempertimbangkan faktor-faktor eksternal.

25

Analisis SWOT terdiri dari empat faktor, yaitu:

1. Strengths (kekuatan)

Merupakan

kondisi

kekuatan

yang

terdapat

dalam

organisasi,

proyek atau konsep bisnis yang ada. Kekuatan yang dianalisis merupakan

faktor yang terdapat dalam tubuh organisasi, proyek atau konsep bisnis itu

sendiri.

2. Weakness (kelemahan)

Merupakan kondisi kelemahan yang terdapat dalam organisasi,

proyek

atau

konsep

bisnis

yang

ada.

merupakan faktor yang terdapat dalam

konsep bisnis itu sendiri.

3. Opportunities (peluang)

Kelemahan

yang

dianalisis

tubuh organisasi, proyek atau

Merupakan kondisi peluang berkembang di masa datang yang

terjadi. Kondisi yang terjadi merupakan peluang dari luar organisasi,

proyek atau konsep bisnis itu sendiri. Misalnya kompetitor, kebijakan

pemerintah dan kondisi lingkungan sekitar.

4. Threats (ancaman)

Merupakan kondisi yang mengancam dari luar. Ancaman ini dapat

mengganggu organisasi, proyek atau konsep bisnis itu sendiri.

Secara mudah analisis SWOT bisa dikelompokkan dalam dua kategori,

yaitu internal organisasi (strengths dan weakness) dan eksternal organisasi

(opportunities dan threats).

26

Analsis SWOT dapat dibagikan dalam lima langkah:

1. Menyiapkan sesi SWOT.

2. Mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan.

3. Mengidentifikasi kesempatan dan ancaman.

4. Melakukan ranking terhadap kekuatan dan kelemahan.

5. Menganalisis kekuatan dan kelemahan.

BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian yang dilakukan termasuk jenis penelitian studi kasus yaitu

penelitian terhadap suatu obyek tertentu dan hasil yang diperoleh dari analisis

data hanya berlaku untuk obyek tertentu serta dalam waktu tertentu.

B. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat

Penelitian:

Penelitian

dilakukan

di

Keuangan Daerah Kabupaten Cilacap.

2. Waktu: 16 Februari- 31 Maret 2010

Kantor

Dinas

Pengelola

C. Subyek dan Obyek Penelitian

1. Subyek Penelitian

Subyek penelitian adalah orang-orang atau badan

yang berhubungan

dengan obyek penelitian atau mereka yang memberikan informasi tentang

obyek penelitian. Dalam penelitian ini yang menjadi subyek penelitian

adalah staf dinas pengelola keuangan daerah Kabupaten Cilacap.

2. Obyek Penelitian

Obyek penelitian adalah sesuatu yang menjadi pokok penelitian. Dalam

penelitian ini yang menjadi obyek penelitian adalah data pendapatan asli

daerah Kabupaten Cilacap yang berasal dari sektor pajak, khususnya pajak

sarang

burung

selama

tahun

27

2005

sampai

dengan

tahun

2009.

28

D. Data yang akan dicari

Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah, sebagai berikut:

1. Gambaran umum Kabupaten Cilacap.

2. Data PAD Kabupaten Cilacap dari sektor pajak khususnya pajak sarang

burung selama tahun 2005 sampai dengan tahun 2009.

3. Data mengenai peraturan daerah yang berkaitan dengan pajak sarang

burung di Kabupaten Cilacap.

E. Teknik Pengumpulan Data

Dalam

proses

pengumpulan

data

yang

diperlukan,

penulis

menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:

1. Dokumentasi

Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan mengumpulkan data dan

informasi-informasi berdasarkan sumber data.

2. Wawancara

Teknik pengumpulan data yang dilakukan untuk memperoleh informasi

yang berkaitan dengan tujuan penelitian yang dilakukan secara langsung

pada subyek penelitian.

29

F. Teknik Analisis Data

Dalam menganalisis data, penulis menggunakan teknik analisis data

kuantitatif dan kualitatif sebagai berikut:

1. Untuk

menjawab

rumusan

masalah

yang

pertama

yaitu

tentang

perkembangan pendapatan pajak sarang burung selama tahun 2005 sampai

dengan tahun 2009 digunakan analisis indeks berantai (Budiyuwono,

1987: 179) dengan rumus sebagai berikut:

Angka Indeks Pajak Sarang Burung

rumus sebagai berikut: Angka Indeks Pajak Sarang Burung Dari hasil perhitungan angka indeks ini, dapat dilihat

Dari hasil perhitungan angka indeks ini, dapat dilihat perkembangan

jumlah pendapatan pajak sarang burung selama lima tahun mulai tahun

2005 sampai dengan tahun 2009. Berapa persen perubahan pendapatan

pajak sarang burung dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

2. Dalam

menjawab

rumusan

masalah

kedua

tentang

bagaimana

upaya

meningkatkan pendapatan pajak sarang burung di pemerintah Kabupaten

Cilacap, yaitu dengan menggunakan analisis SWOT. Adapun unsur-unsur

yang digunakan, yaitu:

1) Strength (kekuatan).

Analisis untuk mengetahui kekuatan atau keunggulan dari pajak

sarang burung yang dapat dipengaruhi oleh lingkungan internal.

30

2) Weaknes (kelemahan).

Analisis

untuk

mengetahui

kekurangan-kekurangan

pemerintah

daerah Kabupaten Cilacap dalam pemungutan pajak sarang burung.

3) Opportunity (kesempatan).

Merupakan kesempatan atau peluang yang dapat memungkinkan

peningkatan pendapatan pajak sarang burung.

4) Threat (ancaman).

Merupakan

kemungkinan

yang dapat terjadi dan menghambat

peningkatan pendapatan pajak sarang burung.

3. Untuk menjawab rumusan masalah terakhir tentang prediksi pendapatan

pajak sarang burung untuk periode tahun 2010 sampai dengan tahun 2014

di pemerintah Kabupaten Cilacap, menggunakan perhitungan peramalan

dengan

analisis

tren

metode

least

square

-

jumlah

kuadrat

terkecil

(Budiyuwono, 1995: 211-212). Persamaan garis tren yang digunakan:

Y’ = a + bX

Di

mana:

Y’

= Nilai tren pajak sarang burung

X

= Tahun tertentu yang akan diteliti

a

= Jumlah Y pada saat X=0 atau besarnya pendapatan pajak

 

sarang burung pada tahun tengah.

 

b

= Jumlah kenaikan/penurunan pendapatan pajak sarang burung

per tahun.

31

Dengan metode least square, maka nilai a dan b dapat dicari dengan

rumus sebagai berikut:

nilai a dan b dapat dicari dengan rumus sebagai berikut: Di mana:   a = Jumlah

Di

mana:

 

a

= Jumlah Y pada saat X=0 atau besarnya pendapatan pajak sarang

 

burung pada tahun tengah.

 

Y

= Jumlah realisasi pendapatan pajak sarang burung.

n = Jumlah tahun yang akan diprediksi.

 
 

Di

mana:

b

=

Jumlah kenaikan/penurunan pendapatan pajak sarang burung per

 

tahun.

X

= Jarak antara tahun yang akan diprediksi dengan tahun tengah.

BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN CILACAP

A. Sejarah Kabupaten Cilacap

1. Zaman Kerajaan Jawa

Penelusuran sejarah zaman kerajaan jawa diawali sejak zaman

kerajaan Mataram Hindu sampai dengan kerajaan Surakarta. Pada akhir

zaman kerajaan Majapahit (1294-1478) daerah cikal-bakal Kabupaten

Cilacap terbagi dalam wilayah-wilayah kerajaan Majapahit, Adipati Pasir

Luhur dan kerajaan Pakuan Pajajaran, yang wilayahnya membentang dari

timur ke arah barat :

a) Wilayah Ki Gede Ayah dan wilayah Ki Ageng Donan dibawah

kekuasaan kerajaan Majapahit.

b) Wilayah kerajaan Nusakambangan dan wilayah Adipati Pasir Luhur

c) Wilayah kerajaan Pakuan Pajajaran.

Menurut Husein Djayadiningrat, kerajaan Hindu Pakuan Pajajaran

setelah diserang oleh kerajaan Islam Banten dan Cirebon jatuh pada tahun

1579, sehingga bagian timur kerajaan Pakuan Pajajaran diserahkan kepada

kerajaan Cirebon. Oleh karena itu seluruh wilayah cikal-bakal Kabupaten

Cilacap disebelah timur dibawah kekuasaan kerajaan Islam Pajang dan

sebelah

barat

diserahkan

kepada

kerajaan

Cirebon.

Kerajaan

Pajang

diganti dengan kerajaan Mataram Islam yang didirikan oleh Panembahan

Senopati pada tahun 1587-1755, maka daerah cikal bakal Kabupaten

32

33

Cilacap

yang

semula

di

bawah

kekuasaan

kerajaan

Islam

Pajang

diserahkan kepada kerajaan Mataram.

 

Pada tahun

1595

kerajaan

Mataram

mengadakan

ekspansi

ke

Kabupaten Galuh yang berada di wilayah kerajaan Cirebon. Menurut

catatan harian kompeni Belanda di Benteng Batavia, tanggal 21 Pebruari

1682 diterima surat yang berisi terjemahan perjalanan darat dari Citarum,

sebelah utara Karawang ke Bagelen. Nama-nama yang dilalui dalam

daerah

cikal-bakal

Limbangan.

Kabupaten

Cilacap

2. Zaman Penjajahan Belanda

adalah

Dayeuhluhur

dan

Karena daerah Banyumas Selatan dianggap terlalu luas untuk

dipertahankan

oleh

Bupati

Purwokerto

dan

Bupati

Banyumas

maka

dengan beslui tanggal 27 Juni 1841 Nomor 10 ditetapkan :"patenschap"

Dayeuhluhur dipisahkan dari Kabupaten Banyumas dan dijadikan satu

afdeling tersendiri yaitu : afdeling Cilacap dengan ibu kota Cilacap, yang

menjadi tempat kedudukan kepala bestuur Eropa asisten residen dan

kepala bestuur pribumi Rangga atau onder regent. Dengan demikian

pemerintah pribumi dinamakan onder regentschap setaraf dengan Patih

Kepala

Daerah

Dayeuhluhur.

Bagaimanapun

pembentukan

afdeling

memenuhi keinginan Bupati Purwokerto dan Banyumas yang sudah lama

ingin mengurangi daerah kekuasaan masing-masing dengan Patenschap

Dayeuhluhur dan Distrik Adiraja.

34

Adapun

batas

Distrik

Adiraja

yang

bersama

pattenschap

Dayeuhluhur membentuk Onder Regentschap Cilacap menurut rencana

Residen Banyumas De Sturier tertanggal 31 Maret 1831 adalah sebagai

berikut : Dari muara Sungai Serayu ke hulu menuju titik tengah ketinggian

Gunung Prenteng. Dari Gunung Prenteng menuju puncak, turun ke arah

tenggara pegunungan Kendeng, menuju puncak Gunung Gumelem (Igir

Melayat). dari puncak Gunung Gumelum ke arah selatan mengikuti batas

wilayah Karesidenan Banyumas menuju ke laut, kemudian kearah barat

sepanjang pantai menuju muara Sungai Serayu. Dari batas-batas Distrik

Adiraja dapat diketahui bahwa Distrik Adiraja sebagai cikal-bakal eks

Kawedanan Kroya lebih besar dari pada eks. Kawedanan Kroya , karena

waktu itu belum terdapat Distrik Kalireja, yang dibentuk dari sub bagian

Distrik Adiraja dan sebagai Distrik Banyumas. Sehingga luas kawasan

Onder Regentschap Cilacap masih lebih besar dari luas Kabupaten Cilacap

sekarang.

Pada masa residen Banyumas ke-9 Van de Moore mengajukan

usul Pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 3 Oktober 1855 yang

ditandatangani Gubernur Jenderal Duijmaer Van Tuist, kepada Menteri

Kolonial Kerajaan Belanda dalam Kabinet Sreserpt pada tanggal 29

Desember 1855 Nomor 86, dan surat rahasia Menteri Kolonial tanggal 5

Januari 1856 Nomor 7/A disampaikan kepada Gubernur Jenderal Hindia

Belanda. Usul pembentukan Kabupaten Cilacap menurut Menteri Kolonial

bermakna dua yaitu permohonan persetujuan pembentukan Kabupaten

35

Cilacap dan organisasi bestir pribumi serta pengeluaran anggaran yang

tinggi per tahun keduanya memerlukan persetujuan Raja Belanda,setelah

menerima surat rahasia Menteri Kolonial Pemerintah Hindia Belanda

dengan besluit Gubernur Jenderal tanggal 21 Maret 1856 Nomor 21 antara

lain

menetapkan

Onder

Regentschap

Cilacap

Regentschap (Kabupaten Cilacap).

ditingkatkan

menjadi

B. Keadaan Geografis

1. Letak Geografis

Kabupaten Cilacap merupakan salah

satu bagian dari wilayah

Provinsi Jawa Tengah, terletak diantara 108o4'30" – 109o30'30" Bujur

Timur dan 7o30' – 7o45'20" Lintang Selatan. Luas wilayah Kabupaten

Cilacap mencapai 225.360,840 Ha, terbagi menjadi 24 kecamatan, 15

kelurahan, dan 269 desa.

Batas

wilayah

Kabupaten

Cilacap,

meliputi

sebelah

Selatan

berbatasan Laut Selatan (Samudra Indonesia), sebelah Utara berbatasan

dengan

Kabupaten

Banyumas

dan

Kabupaten

Brebes,

sebelah

timur

berbatasan dengan Kabupaten Kebumen, dan sebelah Barat berbatasan

dengan Provinsi Jawa Barat.

Wilayah

tertinggi

adalah

Kecamatan

Dayeuhluhur

dengan

ketinggian 198 m

dari permukaan laut, dan wilayah terendah adalah

Kecamatan Cilacap Tengah dengan ketinggian 6 m dari permukaan laut.

Jarak terjauh dari Barat ke Timur adalah dari Dayeuhluhur sampai ke

36

Nusawungu sepanjang 152 Km, dan dari Utara ke Selatan adalah dari

Cilacap ke Sampang sepanjang 35 Km.

Jarak dengan kota besar terdekat adalah ke Yogyakarta sepanjang

±200 Km, dan jarak ke kota-kota besar lainnya, yaitu ke Semarang

sepanjang

±250

Km,

ke

Bandung

sepanjang

±250

Km,

ke

Jakarta

sepanjang ±500 Km, dan ke Surabaya sepanjang ±600 Km.

2. Luas Penggunaan Lahan

Secara

administratif

Kabupaten

Cilacap

terbagi

menjadi

24

kecamatan. Luas wilayah Kabupaten Cilacap pada Tahun 2008 tercatat

seluas 225.361 Ha (termasuk Pulau Nusakambangan seluas 11.511 Ha)

atau sekitar 6,94% dari luas Propinsi Jawa Tengah. Luas wilayah tersebut

terbagi menjadi dua bagian yaitu lahan sawah dan lahan kering, lahan

sawah seluas 63.093 Ha atau 29,50% dan 150.757 Ha atau 70,50%

merupakan lahan kering atau bukan lahan sawah.

Menurut

penggunaannya

lahan

bukan

sawah

terbagi

dalam

berbagai penggunaan yaitu 32.920 Ha merupakan pekarangan/bangunan

atau sekitar 15,39%, tegal/kebun seluas 45.213 Ha atau sekitar 21,14%,

ladang/huma seluas 719 Ha atau sekitar 0,34%, hutan rakyat seluas 4.206

Ha atau 1,97%, hutan negara seluas 43.519 Ha atau 20,35%, perkebunan

rakyat seluas 9.579 Ha atau 4,48% dan untuk penggunaan lainnya seluas

10.596 Ha atau 4,95%. Sedangkan luas rawa-rawa, tambak, kolam/empang

adalah 3.794 Ha.

37

3. Keadaan Iklim

Berdasarkan

data

dari

Stasiun

Meteorologi

dan

Geofisika

Kabupaten Cilacap, banyaknya curah hujan tertinggi terjadi pada bulan

November (10.360 mm) dan terendah bulan Juli (0 mm). Dan jumlah hari

hujan terbanyak terjadi pada bulan November sebanyak 20 hari, sedangkan

jumlah hari hujan paling sedikit terjadi pada bulan Juli sebanyak 0 hari.

Suhu maksimum 34,60oC terjadi pada bulan Maret, suhu minimum 19oC

terjadi pada bulan Juli.

C. Penduduk dan Tenaga Kerja

1. Jumlah dan Komposisi Penduduk

Penduduk

Kabupaten

Cilacap

setiap

tahun

terus

bertambah,

menurut

hasil

registrasi

penduduk

pada

akhir

tahun

2008

mencapai

1.738.603 jiwa yang terdiri dari laki-laki 870.295 jiwa dan perempuan

868.308 jiwa. Selama 5 tahun terakhir rata-rata pertumbuhan penduduk

per tahun sebesar 0,40%, dengan pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun

2008 (sebesar 0,47%), dan terendah pada tahun 2004 (sebesar 0,31%),

pertumbuhan ini merupakan pertumbuhan penduduk yang terendah sejak

tahun 1987.

 

Komposisi

penduduk

berdasarkan

jenis

kelamin

menunjukkan

jumlah

penduduk

laki-laki

sedikit

lebih

banyak

dibanding

penduduk

perempuan, yang diindikasikan dengan angka sex ratio sebesar 1001.

Sementara

itu

dari

distribusi

penduduk

menurut

kecamatan,

38

memperlihatkan

Kecamatan

Majenang

adalah

yang

paling

banyak

penduduknya yaitu sebesar 123.008 jiwa atau sebesar 7,08%, diikuti

Kecamatan Kroya sebesar 102.013 jiwa atau sebesar 5,87%. Kemudian

Kecamatan Gandrungmangu sebesar 101.325 jiwa atau sebesar 5,82%.

Sedangkan yang berpenduduk paling kecil adalah Kecamatan Kampung

Laut yaitu sebesar 15.349 jiwa atau sebesar 0,88%.

Bila diamati dari umur penduduk, diperoleh jumlah penduduk yang

berusia dibawah 15 tahun (penduduk anak-anak) adalah 404.109 jiwa atau

sebesar 23,34%, yang berarti penduduk Kabupaten Cilacap termasuk

kategori umur “sedang”. Dari umur penduduk dapat diketahui pula angka

rasio ketergantungan penduduk Kabupaten Cilacap tahun 2008 sebesar

45,08%, yang berarti tiap 100 orang usia produktif harus menanggung 45

orang usia non produktif.

Bertambahnya penduduk menyebabkan kepadatan penduduk juga

meningkat

yaitu

dari

809

jiwa/km2

pada

tahun

2007

menjadi

813

jiwa/km2 pada tahun 2008. Seperti tahun sebelumnya penduduk yang

terpadat berada di Kecamatan Cilacap Selatan (sebesar 8.587 jiwa/km2),

dan yang paling rendah kepadatannya adalah Kecamatan Kampung Laut

(sebesar 105 jiwa/km2).

39

2. Tenaga Kerja

Dalam konsep ketenagakerjaan, angkatan kerja adalah penduduk

usia kerja yang bekerja ditambah penduduk pencari kerja. Data dari Dinas

Tenaga Kerja Kabupaten Cilacap menyebutkan banyaknya pencari kerja

yang mendaftarkan diri pada Dinas Tenaga Kerja mengalami kenaikan dari

21.359 orang pada tahun 2007 menjadi 27.482 orang pada tahun 2008,

atau

naik

sekitar

28,67%.

Pencari

kerja

tahun

2008

lebih

banyak

perempuan daripada laki-laki, masing-masing sebanyak 17.021 orang dan

10.461

orang, dan sebagian besar pencari kerja tahun 2008 berpendidikan

SLTP.

Terbatasnya lapangan kerja menjadikan tidak semua pencari kerja

segera mendapatkan tempat kerja. Penempatan tenaga melalui Dinas

Tenaga Kerja tahun 2008 sebanyak 11.514 atau sebesar 41,90% dari

jumlah

pencari

kerja.

Secara

persentase

angka

ini

lebih

rendah

dibandingkan

persentase

penempatan

tenaga

kerja

tahun

2007

yang

tercatat 47,22% (10.086 orang dari 21.359).

Penyaluran tenaga kerja ke luar negeri (AKAN) yang terdaftar di

Dinas Tenaga Kerja mengalami kenaikan sebesar 13,38% yaitu dari 9.239

orang pada tahun 2007 menjadi 10.666 orang pada tahun 2008. Sebagian

Angkatan

Kerja

Antar

Negara

(AKAN)

adalah

perempuan

91,86%,

sementara tenaga kerja laki-laki lebih banyak disalurkan sebagai Angkatan

Kerja Lokal (AKL) yaitu mencapai 77,41% dari seluruh AKL.

40

D. Transportasi

Dapat

dikatakan,

Kabupaten

Cilacap

memiliki

sarana

transportasi

cukup lengkap, karena infrastruktur jalannya meliputi jalan darat (kereta api

dan mobil/motor), laut (kapal), dan udara (pesawat terbang). Kabupaten

Cilacap dilalui jalan negara lintas selatan Pulau Jawa, yakni jalur Bandung-

Yogyakarta-Surabaya. Jalur kereta api juga melintasi wilayah kabupaten ini.

Stasiun Kroya adalah stasiun yang terbesar di Kabupaten Cilacap. Di sini

bertemu

dua

jalur

kereta,

dari

dan

dari

menuju

Yogyakarta/Surabaya Gubeng. Di samping melayani transportasi penumpang,

jalur kereta api ini juga melayani pergerakan barang baik itu semen, pupuk,

BBM, dan produk industri lainnya. Transportasi angkutan darat dilayani oleh

Panjang Jalan di Kabupaten Cilacap lebih dari 2.000 km. Jalan Nasional dan

Jalan Provinsi sebagaian besar dalam kondisi cukup baik dan baik. Di

beberapa bagian ruas jalan nasional mengalami kerusakan ringan, sedang,

sampai kerusakan berat, terutama jalan dari Kesugihan menuju Kota Cilacap.

Jalur jalan Cilacap-Wangon via Jeruklegi juga mengalami kerusakan.

yang dalam rencananya akan dijadikan bandara komersial, sementara ini

Perusahaan Merpati Nusantara Airlines melayani rute penerbangan Cilacap--

Jakarta--Cilacap 7 kali dalam seminggu. Pelabuhan Perikanan Samudera

Cilacap merupakan pelabuhan terbesar di pantai selatan Pulau Jawa. Ada 13

tempat pelelangan ikan di Cilacap, selain PPSC tersebut. Pelabuhan Tanjung

41

Intan adalah pelabuhan ekspor-impor terutama untuk komoditas pertanian.

Beberapa perusahaan besar memiliki pelabuhan khusus tersendiri, seperti

Pelabuhan Minyak Pertamina UP IV, pelabuhan Semen milik Holcim, dll.

E. Perekonomian

Pertanian

merupakan

sektor

utama

perekonomian

di

Kabupaten

Cilacap. Subsektor nelayan digeluti sebagian besar penduduk yang tinggal di

pesisir pantai selatan. Cilacap adalah satu dari tiga kawasan industri utama di

Jawa Tengah (selain Semarang dan Surakarta). Sektor perikanan laut masih

harus banyak digali dan dimaksimalkan. Potensinya yang begitu besar masih

belum

banyak

tersentuh.

Sebaiknya

investasi

diarahkan

untuk

mengembangkan potensi tersebut. Di Cilacap terdapat 5 industri terbesar

diantara industri lain :

2. Pabrik Semen HOLCIM

3. Pabrik Tepung Panganmas Inti Persada

4. PLTU Karangkandri

5. Pengolahan Ikan PT Juifa Internasional

Dengan digalakkannya investasi, diharapkan banyak investor yang

berkeinginan untuk menanamkan modal di Cilacap. Infrastruktur yang ada

diharapkan lebih dapat ditingkatkan untuk mendukung program investasi

tersebut. Di samping itu di Kota Cilacap sendiri telah tersedia Kawasan

Industri yang terletak di Kelurahan Lomanis, Kecamatan Cilacap Tengah. Di

42

kawasan ini masih tersedia lahan yang dapat dikembangkan untuk industri.

Beberapa

kawasan

juga

telah

disiapkan

untuk

pengembangan

Kawasan

Industri Baru seperti di Desa Bunton Kec. Adipala dan di Desa Karangkandri

Kec. Kesugihan. Menurut penelitian yang pernah dilakukan, industri di

Cilacap

banyak

yang

bersifat

footloose,

sehingga

kurang

memberikan

dampak yang berarti bagi kesejahteraan penduduk di Kabupaten Cilacap

sendiri.

Pekerja migran dari kabupaten Cilacap juga menyumbangkan banyak

devisa, terutama karena kiriman uang mereka (remitan) ke daerah asal. Buruh

migran tersebut berasal dari seluruh kecamtan yang ada. Untuk saat ini

kencenderungan buruh migran menuju ke Asia Timur, tidak lagi ke Malaysia,

Singapura

atau

Brunei

Darussalam.

Beberapa

negara

asia

timur

yang

dijadikan

tujuan

adalah

Korea

Selatan

dan

Taiwan.

Apabila

dicermati,

remitan dan devisa dari buruh migran tersebut (TKI/TKW) merupakan

potensi

ekonomi

yang

besar.

Sebenarnya

pemerintah

daerah

perlu

mempersiapkan sumberdaya yang memadai agar pekerja migran dari Cilacap

lebih

banyak

mengisi

sektor formal

di

luar

negeri.

Sudah

tidak

dapat

dipungkiri

lagi

bahwa

remitan

yang

dikirimkan

merupakan

salah

satu

penggerak perekonomian di sebagian wilayah Kabupaten Cilacap. Untuk

memperlancar keperluan itu, pemerintah pusat membangun Kantor Imigrasi.

Untuk kecamatan Dayeuhluhur dan Wanareja, kecenderungan migrasi

tenaga kerja masih mengarah di kota-kota besar di Jawa Barat dan Jakarta

(migrasi internal). Terutama untuk tenaga kerja laki-laki berangkat pada saat

43

di desa sedang tidak ada pekerjaan di sektor pertanian. Buruh migran tersebut

seringkali

hanya

sebagai

buruh

migran

musiman.

Di

samping

sektor

pertanian, pendapatan Domestik Regional Brutto (PDRB) Kabupaten Cilacap

terutama diperoleh dari Sektor Industri, Gas, Listrik, dan Air Minum.

F.

Pariwisata

Kabupaten Cilacap tercatat memiliki beberapa objek wisata yang kerap

dikunjungi, baik oleh wisatawan domestik dan mancanegara. Dari sisi budaya,

setiap tahun Kabupaten Cilacap menyelenggarakan ritual Sedekah Laut yang

diikuti oleh ribuan nelayan setempat, dan dihadiri oleh ratusan ribu orang dari

berbagai daerah di Indonesia. Sedekah Laut ini dibiayai dengan Anggaran

Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Cilacap. Selain Sedekah

laut,

kesenian

daerah

yang

berkembang

di

daerah

ini

adalah

Banyumasan dan Ebeg (semacam Kuda Kepang di Kabupaten Magelang).

Adapun objek wisata Kabupaten Cilacap yang dapat dikunjungi adalah:

Bagi penggemar wisata kuliner, Cilacap mempunyai makanan khas

yang cukup terkenal, di antaranya tempe mendoan Cilacap, tahu masak, lotek

(sejenis pecel), dan tahu brontak.

BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data

Penelitian ini dilakukan pada data PAD Kabupaten Cilacap dengan

tujuan untuk mengetahui perkembangan, upaya peningkatan dan prediksi

pendapatan pajak sarang burung. Data yang diperlukan dalam penelitian ini

adalah data realisasi PAD khususnya pada sektor pajak daerah yang dapat

dipantau oleh Dinas Pengelola Keuangan Daerah Kabupaten Cilacap untuk

tahun 2005 sampai dengan tahun 2009. Data realisasi pendapatan pajak daerah

Pemerintah Kabupaten Cilacap tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 dapat

dilihat pada tabel 5.1. Data tersebut dapat menunjukkan tingkat kemampuan

daerah dalam bidang keuangan.

44

45

Tabel 5.1 Realisasi Pendapatan Pajak Daerah Pemerintah Kabupaten Cilacap Tahun 2005 sampai dengan Tahun 2009

Jenis Pajak Daerah

2005 (Rp)

2006 (Rp)

2007 (Rp)

2008 (Rp)

2009 (Rp)

Pajak Hotel

312.148.152

327.124.824

334.771.403

402.034.741

410.063.829

Pajak Restoran

197.173.297

221.557.134

216.302.000

589.605.227

716.039.174

Pajak Hiburan

112.598.951

89.291.133

107.983.018

121.359.362

121.241.112

Pajak Reklame Pajak Penerangan Jalan Pajak Bahan Galian Golongan C

259.408.535

309.850.313

453.759.208

501.945.003

561.050.387

19.332.509.062

23.101.882.535

23.270.111.076

28.429.479.344

30.491.429.528

9.102.442.501

8.004.487.362

8.439.833.257

11.040.254.047

11.947.244.850

Pajak Sarang Burung

18.650.000

18.750.000

19.150.000

19.000.000

19.500.000

Pajak Daerah

29.334.930.498

32.072.943.301

32.841.909.962

41.103.677.724

44.266.568.880

46

B. Analisis Data

1. Perkembangan Pendapatan Pajak Sarang Burung selama tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 dengan Analisis Indeks Berantai

Untuk mengetahui perkembangan pendapatan pajak sarang burung

digunakan

angka

indeks.

Angka

indeks

ini

berfungsi

sebagai

angka

perbandingan

yang

perubahan

relatifnya

dinyatakan

dalam

bentuk

prosentase terhadap yang lain, dengan memilih tahun 2005 sebagai tahun

dasar.

Berikut ini adalah data pendapatan pajak sarang burung dari tahun

2005 sampai dengan tahun 2009:

Tabel 5.2 Realisasi Pendapatan Pajak Sarang Burung Kabupaten Cilacap Tahun 2005 sampai dengan tahun 2009

Tahun

Realisasi Pendapatan Pajak Sarang Burung (Rp)

2005

18.650.000

2006

18.750.000

2007

19.150.000

2008

19.000.000

2009

19.500.000

Sumber: Laporan Anggaran dan Realisasi Pendapatan Daerah Kabupaten Cilacap

47

a. Tahun 2005

Pendapatan Pajak Sarang Burung Th. 2005

Angka indeks

=

x 100%

 

Pendapatan Pajak Sarang Burung Th. 2005

 

=

Rp18.650.000,00

x 100%

 

Rp18.650.000,00

 

=

100%

Angka indeks pada tahun 2005 sebesar 100% menunjukkan bahwa

pada tahun 2005 diasumsikan dalam keadaan normal (tidak terjadi

perubahan),

sehingga

dijadikan

sebagai

tahun

dasar

untuk

membandingkan

pendapatan

pajak

sarang

burung

di

tahun-tahun

berikutnya.

b. Tahun 2006

Pendapatan Pajak Sarang Burung Th. 2006

Angka indeks

=

x 100%

 

Pendapatan Pajak Sarang Burung Th. 2005

 

=

Rp18.750.000,00

x 100%

 

Rp18.650.000,00

 

=

101%

Angka indeks pada tahun 2006 sebesar 101% menunjukkan bahwa

terjadi peningkatan pendapatan pajak sarang burung sebesar 1% dari

tahun sebelumnya (tahun 2005).

48

c. Tahun 2007

Pendapatan Pajak Sarang Burung Th. 2007

Angka indeks

=

x 100%

 

Pendapatan Pajak Sarang Burung Th. 2006

 

=

Rp19.150.000,00

x 100%

 

Rp18.750.000,00

 

=

102%

Angka indeks pada tahun 2007 sebesar 102% menunjukkan bahwa

terjadi peningkatan pendapatan pajak sarang burung sebesar 1% dari

tahun sebelumnya (tahun 2006).

d. Tahun 2008

Pendapatan Pajak Sarang Burung Th. 2008

Angka indeks

=

x 100%

 

Pendapatan Pajak Sarang Burung Th. 2007

 

=

Rp19.000.000,00

x 100%

 

Rp19.150.000,00

 

=

99%

Angka indeks tahun 2008 sebesar 99% menunjukkan bahwa terjadi

penurunan sebesar 3% dari tahun sebelumnya (tahun 2007).

49

e.

Tahun 2009

Angka indeks

=

Pendapatan Pajak Sarang Burung Th. 2009

x 100%

 

Pendapatan Pajak Sarang Burung Th. 2008

 

=

Rp19.500.000,00

x 100%

 

Rp19.000.000,00

 

=

103%

Angka indeks tahun 2009 sebesar 103% menunjukkan bahwa terjadi

peningkatan pendapatan pajak sarang burung sebesar 4% dari tahun

sebelumnya (tahun 2008).

2. Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan pendapatan pajak sarang burung di Kabupaten Cilacap yang dianalisis dengan menggunakan analisis SWOT

Pajak daerah merupakan salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah

yang dapat diandalkan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan

dan pembangunan daerah, di mana ada tujuh sektor pajak daerah yang

dipungut di Kabupaten Cilacap, yaitu:

a. Pajak hotel

b. Pajak restoran

c. Pajak hiburan

d. Pajak reklame

e. Pajak penerangan jalan

f. Pajak bahan galian golongan C

g. Pajak sarang burung

50

Dari ketujuh sektor pajak daerah yang dipungut tersebut pendapatan

dari

pajak sarang burung masih rendah, sehingga diperlukan usaha-usaha

yang

dapat

meningkatkan

pendapatan

pajak

sarang

burung.

Untuk

mengetahui upaya-upaya peningkatan pendapatan pajak sarang burung

digunakan analisis SWOT (Strenght, Weaknes, Opportunity, dan Threat).

Adapun faktor-faktor yang digunakan, yaitu: