Anda di halaman 1dari 8

ANALISIS NOVEL

“ TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK”


Karya : Buya Hamka

Disusun Oleh :
JUMIANI SHINTA TRILESTARI
NIM. 1811290038

Dosen Pengampuh :
ANDRIADI, MA

PROGRAM STUDI TADRIS BAHASA INDONESIA


FAKULTAS TARBIYAH DAN TADRIS
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
BENGKULU
2018

0
ANALISIS NOVEL :
A. Alur
Dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka
menggunakan alur maju mundur, karena menceritakan hal-hal yang sudah
lampau atau masa lalu dan kembali lagi membahas hal yang nyata atau
kembali ke cerita baru dan berlanjut. Ada lima tingkatan alur yakni :
1. Penyituasian
Tahap penyituasian, tahap yang terutama berisi pelukisan dan
pengenalan situasi latar dan tokoh-tokoh cerita. Tahap ini merupakan
tahap pembukaan cerita, memberikan informasi awal dan lain-lain.
Berikut ini merupakan tahap awal dari roman Tenggelamnya Kapal
Van Der Wijck karya Hamka yang berkaitan dengan tahap penyituasaian.
“Di tepi pantai, di antara kampong Bara dan kampung Mariso
berdiri sebuah rumah bentuk Makasar, yang salah satu jendelanya
menghadap ke laut. Di sanalah seorang anak muda yang berusia kira-kira
19 tahun duduk termenung seorang diri menghadapkan mukanya ke laut.
Meskipun matanya terpentang lebar, meskipun begitu asyik dia
memperhatikan keindahan alam di lautan Makasar, rupanya pikiranya
telah melayang jauh sekali, ke balik yang tak tampak di mata, dari lautan
dunia pindah ke lautan khayal 1
2. Konflik
Tahap pemunculan konflik, masalah-masalah dan peristiwa-
peristiwa yang menyulut terjadinya konflik mulai dimunculkan. Jadi tahap
ini merupakan tahap awal munculnya konflik, dan konflik itu sendiri akan
berkembang dan atau dikembangkan menjadi konflik, dan konflik itu
sendiri akan berkembang dan atau dikembangkan menjadi konflik-konflik
pada tahap berikutnya.
Kejadian dan konflik yang dialami tokoh Hayati dan Zainuddin
dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka bisa
dilihat dari penggalan cerita berikut ini:

1
Hamka,Buya.Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.Jakarta:PT.Bulan Bintang, 1984.h. 10

1
“Sesungguhnya persahabatan yang rapat dan jujur diantara kedua
orang muda itu, kian lama kian tersiarkan dalam dudun kecil itu. Di dusen
belumlah orang dapat memendang kejadian ini dengan penyelidikan yang
seksama dan adil. Orang belum kenal percintaan suci yang terdengar
sekarang, yang pindah dari mulut ke mulut, ialah bahwa Hayati,
kemenakan Dt……..telah ber “intaian” bermain mata, berkirim-kirim
surat dengan anak orang Makasar itu. Gunjing, bisik dan desus perkataan
yang tak berujung pangkal, pun ratalah dan pindah dari satu mulut ke
mulut yang lain, jadi pembicaran dalam kalangan anak muda-muda yang
duduk di pelatar lepau petang hari. Hingga akhirnya telah menjadi
rahasia umum. Orang-orang perempuan berbisik-bisik di pancuran
tempat mandi, kelak bila kelihatan Hayati mandi di sana, mereka pun
berbisik dan mendaham, sambil melihat kepadanya dengan sudut
mata.Anak-anak muda yang masih belum kawin dalam kampung sangat
naik darah.Bagi mereka adalah perbuatan demikian merendahkan derajat
mereka seakan -akan kampung tak berpenjaga.yang terutama sekali yang
dihinakan orang adalah persukuan Hayati, terutama mamaknya sendiri
Dt…yang dikatakan buta saja matanya melihat kemenakannya membuat
malu, melangkahi kepala ninik –mamak2.
3. Tahap Peningkatan Konflik
Konflik yang telah dimunculkan pada tahap sebelumnya semakin
berkembang dan dikembangkan kadar intensitasnya. Tahap peningkatan
konflik dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka
terjadi ketika Zainuddin dan Aziz sama-sama mengirimkan surat kepada
orang tua Hayati, dari lamaran kedua pemuda itu, ternyata lamaran Aziz
yang diterima karena orang tua Hayati mengetahui latar belakang pemuda
yang kaya raya itu, sedangkan lamaran Zainudin ditolak karena orang tua
Hayati tidak ingin anaknya bersuamikan orang miskin. Hal ini bisa terlihat
dari penggalan cerita berikut ini:

2
Hamka,Buya.Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.Jakarta:PT.Bulan Bintang, 1984.h.57

2
“Kalam dia tertolak lantaran dia tidak ber-uang maka ada
tersedia uang Rp.3000,- yang dapat dipergunakan untuk menghadapi
gelombang kehidupan sebagai seorang mahluk yang tawakkal.”3
4. Klimaks
Klimaks sebuah cerita akan dialami oleh tokoh (tokoh utama) yang
berperan sebagai pelaku dan penderita terjadinya konflik utama. Dalam
Roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka, tahap klimaks
terjadi ketika Aziz meminta supaya Zainuddin menikahi Hayati. Sekalipun
dalam hati Zainuddin masih mencintai Hayati, Zainuddin menolak
permintaan Aziz. Bahkan Zainuddin memulamgkan Hayati ke kampung
halamannya dengan menggunakan Kapal Van Der Wijck. Hal ini bisa
dilihat pada pernyataan berikut:
“Bila terjadi akan itu, terus dia berkata: “Tidak Hayati ! kau mesti
pulang kembali ke Padang! Biarkan saya dalam keadaan begini.
Pulanglah ke Minangkabau! Janganlah hendak ditumpang hidup saya ,
orang tak tentu asal ….Negeri Minangkabau beradat !.....Besok hari senin,
ada Kapal berangkat dari Surabaya ke Tanjung Periuk, akan terus ke
Padang! Kau boleh menumpang dengan kapal itu, ke kampungmu” 4
5. Penyelesaian
Tahap penyelasaian dalam Roman Tenggelamya Kapal Van Der
Wijck karya Hamka ketika Zainuddin mendapat kabar bahwa Kapal yang
ditumpangi Hayati tenggelam, sedangkan Hayati dirawat di Rumah Sakit
Tuban. Dengan diterima Muluk sahabatnya Zainuddin menengok wanita
yang sangat dicintainya itu. Rupanya pertemuan mereka itu adalah
pertemuan yang terakhir karena Hayati menghembuskan nafasnya yang
terakhir dalam pelukan Zainuddin. Kejadian itu membuat Zainuddin
merasakan penyesalan yang berkepanjangan hingga Zainuddin jatuh sakit
dan meninggal dunia. Zainuddin dimakamkan di sebelah makam Hayati.

3
Hamka,Buya.Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.Jakarta:PT.Bulan Bintang, 1984.h.118
4
Hamka,Buya.Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.Jakarta:PT.Bulan Bintang, 1984.h.189

3
B. Penokohan
1. Zainuddin (Tokoh Protagonis)
Seorang pemuda yang baik hati, alim, sederhana, memiliki ambisi
dan cita-cita yang tinggi, pemuda yang setia, sering putus asa, hidupnya
penuh kesengsaraan oleh cinta, tetapi memiliki percaya diri yang tinggi,
mudah rapuh, orang yang keras kepala
Bukti:“Zainuddin seorang yang terdidik lemah lembut, didikan
ahli seni, ahli sya’ir, yang lebih suka mengalah untuk kepentingan orang
lain”. 5

2. Hayati (Tokoh Protagonis)


Perempuan yang baik, lembut, ramah dan penurut adat. Perempuan
yang pendiam, sederhana, dan memiliki kesetiaan. Perempuan yang
menghormati ninik mamaknya, penyayang, memiliki belas kasihan, orang
yang tulus, sabar dan terkesan mudah dipengaruhi.

3. Aziz (Tokoh Antagonis)


Seorang laki-laki yang pemboros, suka berfoya-foya, tidak setia,
tidak memiliki tujuan hidup, orang kaya dan berpendidikan, orang yang
tidak beriman, tidak bertanggung jawab dan dalam hidup hanya
bersenang-senang senang menganiaya istrinya dan putus asa.
Bukti: “…..ketika akan meninggalakan rumah itu masih sempat
juga Aziz menikamkan kata-kata yang tajam ke sudut hati Hayati…..sial”6.

4. Khadijah
Perempuan yang berpendidikan, berwatak keras, senang
mempengaruhi orang lain, orang kaya, penyayang teman, merupakan
orang kota, memiliki keinginan yang kuat.

5
Hamka,Buya.Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.Jakarta:PT.Bulan Bintang, 1984.h.27
6
Hamka,Buya.Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.Jakarta:PT.Bulan Bintang, 1984.h.181

4
C. Latar
1. Latar tempat
a. Mengkasar (tempat Zainuddin dilahirkan)
b. Dusun Batipuh (tempat Hayati tinggal dan bertemu dengan Zainuddin
pertama kali
c. Padang Panjang (Tempat Zainuddin pindah dari Batipuh untuk
mendalami ilmu, tempat Khadijah tinggal, tempat adanya pacuan kuda
dan Pasar Malam)
d. Jakarta/ Batavia (Tempat Zainuddin dan temannya Muluk pertama kali
pindah ke Jawa)
e. Surabaya (Tempat Zainuddin tinggal dan menjadi penulis, tempat
pindahan kerja Aziz dan Hayati)
f. Lamongan (di rumah sakit, tempat terakhir kalinya Zainuddin dan
Hayati berdialog sebelum meninggal)
2. Latar Waktu
a. Siang
b. Malam
Penggambaran Waktu tidak begitu tergambar jelas dalam cerita hanya
mengalir siang dan malam.
3. Latar Suasana
a. Mengharukan (saat Hayati menerima cinta Zainuddin ketika Zainuddin
menyatakan lewat surat dan bertemeu di bentang sawah milik Datuk)
b. Menyedihkan (ketika Zainuddin hiup dengan sengsara, permintaan
Zainuddin di tolak oleh keluarga Hayati, ketika Hayati meninggal)

D. Judul
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

E. Sudut Pandang
Pada roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka
menggunakan sudut pandang orang ketiga tunggal karena menyebutkan dan

5
menceritakan secara langsung karakter pelakunya secara gamblang. Penggalan
cerita pada roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka sebagai
berikut : “Mula-mula datang, sangatlah gembira hati Zainuddin telah sampai
ke negeri yang selama ini jadi kenang-kenagannya.” 7

F. Simbolisme
1. Kejujuran
Hidup manusia hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri dan bagi
sesamanya, kalau hidup itu dilandaskan pada sendi-sendi kejujuran.
Kejujuran dalam bahasa berarti : Kita mengikuti kaidah-kaidah yang baik
dan benar dalam berbahasa. 8
2. Sopan Santun
Yang dimaksud sopan santun adalah memberi penghargaan atau
menghormati orang yang diajak berbicara, khususnya pendengar atau
pembaca. Rasa hormat dimanisfestasikan melalui kejelasan dan
kesingkatan Keraf 9

G. Gaya dan Nada


Dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka
menggunakan kalimat yang sangat kompleks karena menggunakan bahasa
melayu yang baku. Seperti dalam penggalan cerita berikut ini:
“Lepaskan Mak, jangan bermenung juga,” bagaimana Mamak tidak akan
bermenung, bagaimana hati mamak tidak akan berat…”10

H. Ironi
Ada dari pintu sayang, ada dari pintu kasih, ada dari pintu rindu, tetapi
yang paling aman dan kekal, ialah cinta yang melalui pintu kasihanitu. 11

7
Hamka,Buya.Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.Jakarta:PT.Bulan Bintang, 1984.h.26
8
Hamka,Buya.Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.Jakarta:PT.Bulan Bintang, 1984.h.113
9
Hamka,Buya.Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.Jakarta:PT.Bulan Bintang, 1984.h.114
10
Hamka,Buya.Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.Jakarta:PT.Bulan Bintang, 1984.h.22
11
Hamka,Buya.Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.Jakarta:PT.Bulan Bintang, 1984.h.36

6
Dari kutipan diatas, diceritakan bahwa Hayati merasa kasihan melihat
Zainuddin, lama kelamaan dia mulai sayang, rindu dan menyatakan bahwa
cinta diaterhadap Zainuddin muncul dari rasa kasihan dia terhadapnya.

I. Tema
Dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka ini
tentang kasih tak sampai. Sangat kental dengan budaya Minang yang sangat
patuh akan peraturan adat.
Adapula penggalan ceritanya: “…….apa yang dikerjakannya, padahal
cinta adalah sebagai kemudi dari bahtera kehidupan. Sekarang kemudi itu
dicabut, kemana dia hendak berlabuh, teroleng terhempas kian kemari,
daratan tak nampak, pulau kelihatan. Demikianlah nasib anak muda yang
maksudnya tiada sampai12

J. Daftar Pustaka
Hamka,Buya.Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.Jakarta:PT.Bulan Bintang,
1984.

12
Hamka,Buya.Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.Jakarta:PT.Bulan Bintang, 1984.123