Anda di halaman 1dari 44

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Tegangan geser terjadi secara pararel pada bidang material, benda dengan
tegangan normal yng terjadi tegak lurus dengan bidang. Kondisi teganan geser
dapat terjadi dengan melakukan geseran secara langsung (direct shear) dan
tegangan puntir (torsional stress). Fenomena geseran secara langsung dapat
dilihat pada saat kita menancapkan paku ke balok kayu. Pada setiap permukaan
di paku dan di kayu yang bersinggungan langsung dengan paku akan mengalami
geseran secara langsung. Sedangankan fenomena tegangan puntiran, dapat terjadi
apabila suatu spesimen mengalami momen torsi. Dengan adanya tegangan geser,
maka respon yang diterima material pun berbeda.
Uji puntir pada suatu spesimen dilakukan untuk menentukan elastisitas suatu
material. Specimen yang digunakan pada pengujian puntir adalah batang dengan
penampang lingkaran karena bentuk penampang ini sederhana sehingga mudah
diukur. Spesimen tersebut hanya dikenai beban puntiran pada salah satu ujungnya
karena dua pembebanan akan memberikan ketidakkonstanan sudut puntir yang
diperoleh dari pengukuran.

1.2.Tujuan Percobaan
1. Untuk mengetahui puntir dan bending
2. Untuk mengetahui momen puntir dan sudut puntir
3. Untuk mengetahui kekuatan aluminium dan tembaga
4. Untuk mengetahui tegangan geser dan regangan geser

1.3.Manfaat Percobaan
Mengetahui bagaimana pengaplikasian tegangan puntir dan momen puntir
dalam kehidupan sehari-hari
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1.Tegangan Puntir
Tegangan puntir merupakan tegangan yang diakibatkan oleh gaya putar.
Tegangan puntir sering terjadi pada poros roda gigi dan batang torsi pada mobil,
juga saat melakukan pengeboran. Jadi, merupakantegangan tangensial.

Gambar 2.1. Tegangan Puntir


Sumber :https://id.scribd.com/doc/212241855/Tegangan-puntir
Benda yang mengalami beban puntir akan menimbulkan tegangan puntir
sebesar :
𝑊𝑝
𝜏𝑡 =
𝑀𝑡
Dengan: τt = tegangan puntir
Wp= momen tahanan polar
Mt= momen puntir
2.2. Defenisi Bending
Pembengkokan (logam) atau penekukan atau bending adalah proses
deformasi secara plastik dari logam terhadap sumbu linier dengan hanya sedikit
atau hampir tidak mengalami perubahan luas permukaan dengan bantuan
tekanan piston pembentuk dan cetakan (die). Sepotong besi dapat menjadi
bengkok akibat tekanan mesin sederhana dengan menggunakan pres yang
disebut bending. Biasanya pekerjaan bending menggunakan sepotong besi
panjang, lembaran logam ataupun piring. Bending biasanya memakai die
berbentuk V, U, W atau yang lainnya. Bending menyebabkan logam pada sisi
luar sumbu netral mengalami tarikan, sedangkan pada sisi lainnya mengalami
tekanan.
2.3. Puntiran poros penampang lingkaran
Akibat puntiran murni pada poros berpenampang lingkaran adalah
timbulnya tegangan geser murni dalam bahan. Bila poros dibagi menjadi dua
bagian oleh bidang transversal khayal, akan terlihat bahwa permukaan-
permukaan pada kedua pihak dari bidang ini cenderung berputar, relatif yang
dianggap terdiri dari lapisan-lapisan tipis transversal yang jumlahnya tak
terhingga, masing-masing relative berputar sedikit terhadap lapisan berikutnya
bila torsi diberikan, akibatnya poros akan terpuntir. Pergerakan angular salah
satu ujung relative terhadap yang lain disebut sudut puntiran. Tegangan puntir
disebabkan oleh momen puntir yang bekerja pada penampang batang.
Dalam menganalisa tegangan puntir, momen torsi yang biasanya
dinyatakan dalam vektor rotasi diubah menjadi vektor translasi dengan
menggunakan aturan tangan kanan. Lipatan jari tangan menunjukkan arah vektor
rotasi dan jari jempol menunjukkan vektor translasi. Seperti halnya gaya aksial,
tegangan puntir muncul (momen puntir ada) bila batang tersebut dipotong.
Metode irisan tetap digunakan untuk mendapatkan momen puntir dalam,
sehingga tegangan puntir dapat dicari.

Gambar 10. Poros yang mengalami Puntiran


Sumber : http://iwansugiyarto.blogspot.com/2011/11/puntiran.html
Untuk mencari hubungan antara momen puntir dalam dengan tegangan pada
penampang batang bulat, perlu dibuatkan asumsi sbb:
1 .Potongan normal tetap di bidang datar sebelum maupun sesudah puntiran.
2. Regangan geser berbanding lurus terhadap sumbu pusat.
3. Potongan normal tetap berbentuk bulat selama puntiran.
4. Batang dibebani momen puntir dalam bidang tegak lurus sumbu batang.
5. Tegangan puntir tidak melebihi batas proporsional.
6. Tegangan geser berubah sebanding dengan regangan linear.
2.4. Tali baja anti punter
Tali/kawat baja sering dipakai pada mesin-mesin pengangkat sebagai salah
satu perangkat mesin pemindah bahan. Dibandingkan dengan rantai, tali baja
mempunyai keunggulan sebagai berikut :
a. Lebih ringan
b. Lebih tahan terhadap sentkan
c. Operasi yang tenang walaupun pada kecepatan operasi yang tinggi
d. Keandalan operasi yang lebih tinggi
Tali baja terbuat dari kawat baja dengan kekuatan b = 130 sampai 200 kg/mm2.
dimana dalam proses pembuatannya kawat baja diberi perlakuan panas tertentu
dan digabung dengan penarikan dingin, sehingga menghasilkan sifat mekanis
kawat baja yang tinggi.
Salah satu hal yang dapat menyebabkan puntiran pada kawat baja yaitu
proses pembuatan yang dilakukan dengan pemintalan (penganyaman) yang akan
menyebabkan timbulnya gaya internal pada kawat baja. Hal lain yang dapat
menyebabkan puntiran adalah kawat diberi pembebanan maka pintalan tadi
cenderung akan mengecil sehingga juga akan menyebabkan puntiran pada kawat.
Pada saat tali ditekuk maka akan timbul gaya-gaya yang rumit pada kawat yang
terdiri dari tarikan, tekanan dan puntiran, oleh karena itu sangatlah sulit untuk
mendeteksi gaya-gaya yang terjadi.
Sumber : http://iwansugiyarto.blogspot.com/2011/11/puntiran.html

2.5.Tegangan Geser
Tegangan geser merupakan tegangan yang bekerja sejajar atau
menyinggung permukaan. Perjanjian tanda untuk tegangan geser sebagai berikut:
Tegangan geser yang bekerja pada permukaan positif suatu elemen adalah positif
apabila bekerja dalam arah positif dari salah satu sumbu-sumbu positif dan
negatif apabila bekerja dalam arah negatif dari sumbu-sumbu. Tegangan geser
yang bekerja pada permukaan negatif suatu elemen adalah positif apabila bekerja
dalam arah negatif sumbu dan negatif apabila bekerja dalam arah positif.
Sifat-sifat suatu bahan dalam keadaan geser dapat ditentukan secara
eksperimental dari uji-uji geser langsung (direct shear) atau puntiran (torsion).
Uji-uji yang kemudian dilakukan dengan memuntir pipa-pipa berongga, sehingga
menghasilkan suatu keadaan geser murni.
Sebagai suatu contoh dapat dilihat pada sambungan baut. Tegangan geser
pada baut diciptakan olah aksi langsung dari gaya-gaya yang mencoba mengiris
bahan. Tegangan geser dapat diperoleh dengan membagi gaya geser terhadap
luas.

Gambar 2.2. (a) Diagram Tegangan Geser


Sumber :https://id.scribd.com/doc/59231370/TEGANGAN-GESER
𝐹𝑠
𝜏=
𝐴
Dimana : 𝜏 = Tegangan geser (Mpa)
𝐹𝑠 = Gaya geser (N)
𝐴 = Luas penampang (mm2)

Gambar 2.2. (b) Tegangan Geser Pada Baut


Sumber :https://id.scribd.com/doc/59231370/TEGANGAN-GESER

Bagian awal dari diagram tegangan-regangan geser sebuah garis lurus,


seperti dalam keadaan tarik. Untuk daerah elastis linier, tegangan geser
berbanding lurus dengan regangan geser, jadi diperoleh persamaan berikut bagi
hukum Hooke untuk keadaan geser.
𝜏 = 𝐺𝛾
Dimana : 𝜏 = Tegangan geser (Mpa)
𝐺 = Modulus geser (N/m2)
𝛾 = Regangan geser (rad)
 Tegangan geser pada permukaan-permukaan yang berhadapan besarnya sama
tapi arahnya berlawanan.
 Tegangan geser pada permukaan-permukaan yang saling tegak lurus besarnya
sama tetapi memiliki arah-arah yang sedemikian rupa sehingga kedua
tegangan mengarah ke, atau menjauhi garis perpotongan kedua permukaan.
Selain gaya aksial, puntir, dan momen lentur yang dapat bekerja pada
penampang ada pula gaya geser (gaya lintang). Adanya gaya geser maka timbul
tegangan geser pada penampang. Sebuah segmen kecil pada balok seperti pada
Gambar (a) akan bekerja tegangan geser. Apabila segmen kecil tersebut
diperbesar maka tegangan geser bekerja tegak lurus sumbu batang dan sejajar
dengan sumbu batang seperti terlihat pada Gambar (b).

Gambar 2.2. (c) Tegangan geser balok


Sumber :https://www.academia.edu/31961165/Tegangan_Geser_Balok
Geser yang bekerja dalam arah horizontal (sejajar dengan sumbu balok)
dapat dibuktikan pada dua buah papan dilenturkan bersama maka diantara
pertemuan bidang memanjang papan akan terjadi geser. Gambar (a)
menunjukkan pada balok belum bekerja beban, sehingga papan masih lurus dan
ujung-ujungnya masih rata satu dengan yang lain. Pada Gambar (b), beban
sudah bekerja sehingga balok melengkung, apabila diperhatikan ujung-ujungnya
maka sudah tidak rata lagi, ini yang membuktikan sudah terjadi geser pada
pertemuan kedua bidang papan. Untuk mengatasi geser maka kedua papan dapat
dipaku atau dilem.
Gambar 2.2. (d) Balok melengkung
Sumber :https://www.academia.edu/31961165/Tegangan_Geser_Balok
Tinjau segmen sepanjang ∆x pada balok seperti terlihat pada Gambar (a)
dengan luas penampang A. Luas penampang A adalah luasan yang dihitamkan
seperti terlihat pada Gambar (b) Pada segmen ∆x bekerja tegangan pada arah x,
diuraikan pada Gambar (c)

Gambar 2.2. (e) Tinjauan segmen tegangan geser


Sumber :https://www.academia.edu/31961165/Tegangan_Geser_Balok
Resultan gaya tekan akibat lentur pada potongan s’ selauas A :

Resultan gaya tekan akibat lentur pada potongan s selauas A :


Gaya geser pada sisi bawah segmen = 𝜏.b.∆x
Kesetimbangan pada sumbu x, ∑Fx = 0

sehingga :

dengan :
𝜏 : tegangan geser
D : gaya geser (gaya lintang)
S : statis momen
b : lebar bidang geser
Ix : momen inersia
2.6. Regangan Geser
Regangan geser terjadi akibat tegangan geser. Tegangan geser tidak mempunyai
kecenderungan untuk memperpanjang atau memperpendekelemen dalam arah x, y,
dan z , tetapi tegangan geser akan menghasilkan perubahan bentuk seperti terlihat
pada gambar dibawah ini.

Gambar 2.3.Skema regangan geser


Sumber :https://id.scribd.com/doc/212278251/Regangan-Normal-Geser

𝜎𝑥𝑦
𝛾=
𝐺
𝜎𝑦𝑧
𝛾=
𝐺
dengan: G = konstanta perbandingan elastisitas modulus geser

Regangan geser disimbolkan dengan 𝛾 (gamma), yang merupakan


perubahan bentuk pada gambar diatas. Satuan regangan geser adalahradian.
Sehingga regangan geser dapat dinyatakan dengan :
𝐸
𝐺=
2(1 − 𝑣)
𝜎
𝐸=
𝜀
dengan: E = modulus young
v = konstanta kenyal
2.7. Momen Inersia
Momen inersia dapat disebut juga Momen Kedua atau Momen
Kelembaman. Data momen inersia suatu penampang dari komponen struktur
akan diperlukan pada perhitungan-perhitungan tegangan lentur, tegangan geser,
tegangan torsi, defleksi balok, kekakuan balok/kolom dan sebagainya. Luasan A
pada gambar (2.4.a) merupakan bidang datar yang menggambarkan penampang
dari suatu komponen struktur, dengan dA merupakan suatu luasan/elemen kecil.

Gambar 2.4.(a) Momen inersia bidang datar


Sumber :https://www.academia.edu/31961160/Momen_Inersia_Bidang_Datar
Secara metematis momen inersia ditentukan dengan persamaan-persamaan
berikut :
Momen Inersia terhadap sumbu x :

Momen Inersia terhadap sumbu y :

Momen Inersia kutub :

Momen Inersia Perkalian (Product of Inertia) :

Momen inersia pada Persamaan x, Persamaan y, dan Persamaan p selalu


bertanda positif, sedangkan momen inersia perkalian pada Persamaan xy dapat
bertanda negatif.
Momen inersia pada keempat persamaan diatas penggunaannya terbatas
pada momen inersia bidang tunggal, sedangkan secara umum banyak
bidang/penampang merupakan gabungan dari beberapa penampang tunggal.
Misalnya penampang yang berbentuk L adalah gabungan dari dua penampang
segi empat. Untuk menyelesaikan momen inersia pada penampang gabungan
diperlukan pengembangan dari Persamaan x, y, p dan xy yang disebut dengan
Teori Sumbu Sejajar.
Teori Sumbu Sejajar

Gambar 2.4. (b) Momen inersia sumbu sejajar


Sumber :https://www.academia.edu/31961160/Momen_Inersia_Bidang_Datar
Momen inersia terhadap sumbu x :

Sumbu xo melalui titik berat bidang A, maka ∫ 𝑦𝑑𝐴, sehingga :

Momen inersia terhadap sumbu y :

Sumbu yo melalui titik berat bidang A, maka ∫ 𝑥𝑑𝐴 , sehingga :


Momen inersia polar :

Sumbu xo dan sumbu yo melalui titik berat luasan A, maka ∫ 𝑥𝑑𝐴 = 0 dan
∫ 𝑦𝑑𝐴 = 0
Sehingga :

Momen inersia perkalian :

Sumbu xo dan sumbu yo melalui titik berat luasan A, maka ∫ 𝑥𝑑𝐴 = 0 dan
∫ 𝑦𝑑𝐴 = 0
Sehingga :

2.8. Hukum Hooke


Secara grafis modulus elastisitas bahan E adalah tg α, sehingga Hukum
Hooke untuk beban uniaksial:
𝜎
𝐸=
𝜀
atau
𝜎 = 𝐸𝜀
Berhubung regangan tidak berdimensi maka satuan modulus elastisitas
sama saja dengan satuan tegangan. Dari kurva pada Gambar (a) dan Gambar (b)
maka hukum Hooke hanya berlaku sampai batas proporsional bahan dengan kata
lain hukum Hooke hanya berlaku pada saat bahan dalam kondisi elastis.
Perbandingan Poisson
Disamping terjadinya deformasi dalam arah gaya yang bekerja, ternyata
terjadi pula deformasi pada arah tegak lurus gaya yang bekerja, yaitu
perpanjangan dan perpendekan dalam arah lateral (melintang). Apabila sebatang
baja ditarik maka dalam arah aksial maka akan terjadi perpanjangan dalam arah
aksial, dan perpendekan dalam arah lateral. Demikian pula sebaliknya apabila
sebatang baja ditekan dalam arah aksial maka akan terjadi perpendekan dalam
arah aksial, dan perpanjangan dalam arah lateral. Hal ini disebabkan oleh efek
Poisson v (nu), tanda negatip artinya perpendekan dan sebaliknya perpanjangan
untuk tanda positif.
𝑟𝑒𝑔𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑙𝑎𝑡𝑒𝑟𝑎𝑙
𝑣=−
𝑟𝑒𝑔𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑎𝑘𝑠𝑖𝑎𝑙

Pada keadaan ekstrim harga v ada yang serendah 0,1 (pada beberapa jenis
beton) dan ada pula yang tinggi sebesar 0,5 (pada karet).
Hukum Hooke pada Pembebanan Triaksial
Sebuah balok yang sisinya a, b, dan c diberi tegangan tarik aksial pada
masing-masing sisinya. Tegangan normal yang terjadi dinyatakan oleh σx, σy,
dan σz seperti terlihat pada Gambar (b).

(a) (b)
Gambar 2.5. Hukum Hooke pada pembebanan triaksial
Sumber :https://id.scribd.com/document/330823356/Mekanika-Bahan-Bab-4
Tegangan dalam arah x sebesar σx mengakibatkan regangan positip arah x
sebesar:
Tegangan dalam arah y sebesar σy mengakibatkan regangan negatip arah x,
sebesar:

sehingga :

Tegangan dalam arah z sebesar σz mengakibatkan regangan negatip arah x,


sebesar:

Sehingga regangan total arah x sebesar :

Regangan-regangan dalam arah y dan arah z dapat pula diperoleh dengan jalan
yang sama, sehingga regangan-regangan dalam ketiga arah:

Hukum Hooke untuk Tegangan Geser dan Regangan Geser

Gambar 2.5. (c) Tegangan geser


Sumber :https://id.scribd.com/document/330823356/Mekanika-Bahan-Bab-4
Tegangan geser yang bekerja pada benda adalah τyz, Gambar (c).
Apabila hanya pasangan τyz yang bekerja maka benda belum setimbang,
supaya benda menjadi setimbang maka harus pula bekrja pasangan tegangan
geser τzy yang sama besar dengan τyz Gambar (d). Akibat bekerjanya tegangan
geser τyz dan τzy maka benda akan mengalami deformasi seperti Gambar (e).
Regangan geser yang terjadi pada benda adalah ϒ yang merupakan besaran
yang tidak berdimensi, besar regangan geser akan sebanding dengan gaya geser
yang bekerja pada benda, sehingga:

dengan : G = Modulus geser (N/m2)


Nilai modulus geser juga dapat ditentukan melalui rumus:

Gambar 2.5.Regangan geser


Sumber :https://id.scribd.com/document/330823356/Mekanika-Bahan-Bab-4

2.9. Diagram Tegangan dan Regangan


Diagram (kurva) tegangan-regangan seperti pada gambar
dibawah memperlihatkan antara 0 ke σy disebut daerah elastis, sedangkan titik
σy adalah batas luluh (yield). Titik σu merupakan tegangan maksimal dimana
bila beban dilepas maka bahan tersebut tidak akan kembali ke bentuk semula.
Bila diberi beban sampai melebihi titik σpatah,maka bahan akan menjadi putus.
Dari titik σy ke titik σu bahan tersebut mengalami deformasi plastis sempurna.
Sedangkan σu sampai σpatah terjadi deformasi plastis tak sempurna dimana
batang mulai mengecil dan akhirnya patah.

Gambar 2.6. Diagram ( kurva) tegangan-regangan


Sumber :https://id.scribd.com/document/339690773
Deformasi terjadi bila bahan mengalami gaya. Selama deformasi, bahan
menyerap energi sebagai akibat adanya gaya yang bekerja. Sekecil apapun gaya
yang bekerja, maka benda akan mengalami perubahan bentuk dan ukuran.
Perubahan ukuran secara fisik ini disebut sebagai deformasi. Deformasi ada dua
macam, yaitu deformasi elastis dan deformasi plastis.
Deformasi elastis adalah deformasi yang terjadi akibat adanya beban yang
jika beban ditiadakan, maka material akan kembali seperti ukuran dan bentuk
semula, sedangkan deformasi plastis adalah deformasi yang bersifat permanen
jika bebannya dilepas. Secara umum kekuatan suatu material diuji melalui uji
tarik dengan memberi gaya tarik pada bahan hingga bahan tersebut putus. Mesin
uji akan mencetak kurva dari besarnya tegangan terhadap regangan yang timbul
selama proses penarikan hingga putus.

Gambar 2.6. Deformasi elastis


Sumber :https://id.scribd.com/document/339690773
Penjelasan :
Batas proporsional σp (proportional limit) Titik sampai di mana penerapan
hukum Hooke masih bisa ditolerir. Tidak ada standarisasi tentang nilai ini.
Dalam praktek, biasanya batas proporsional sama dengan batas elastis.
Deformasi plastis (plastic deformation) Yaitu perubahan bentuk yang tidak
kembali ke keadaan semula. Pada Gambar5 yaitu bila bahan ditarik sampai
melewati batas proporsional dan mencapai daerah landing.
Tegangan luluh atas σuy (upper yield stress) Tegangan maksimum sebelum
bahan memasuki fase daerah landing peralihan deformasi elastis ke plastis.
Tegangan luluh bawah σly (lower yield stress)
Tegangan rata-rata daerah landing sebelum benar-benar memasuki fase
deformasi plastis. Bila hanya disebutkan tegangan luluh (yield stress), maka
yang dimaksud adalah tegangan ini.
Regangan luluh εy(yield strain) Regangan permanen saat bahan akan memasuki
fase deformasi plastis.
Regangan elastis εe(elastic strain) Regangan yang diakibatkan perubahan
elastis bahan. Pada saat beban dilepaskan regangan ini akan kembali ke posisi
semula.
Regangan plastis εp (plastic strain) Regangan yang diakibatkan perubahan
plastis. Pada saat beban dilepaskan regangan ini tetap tinggal sebagai perubahan
permanen bahan.
Regangan total (total strain) Merupakan gabungan regangan plastis dan
regangan elastis, εT = εe+εp. Perhatikan beban dengan arah OABE. Pada titik B,
regangan yang ada adalah regangan total. Ketika beban dilepaskan, posisi
regangan ada pada titik E dan besar regangan yang tinggal (OE) adalah regangan
plastis.
Tegangan tarik maksimum TTM (UTS, ultimate tensile strength) Pada gambar
ditunjukkan dengan titik C (σβ), merupakan besar tegangan maksimum yang
didapatkan dalam uji tarik.
Kekuatan patah (breaking strength) Pada gambar ditunjukkan dengan titik D,
merupakan besar tegangan di mana bahan yang diuji putus atau patah.
Tegangan luluh pada data tanpa batas jelas antara perubahan elastis
dan plastis. Untuk hasil uji tarik yang tidak memiliki daerah linier dan landing
yang jelas, tegangan luluh biasanya didefinisikan sebagai tegangan yang
menghasilkan regangan permanen sebesar 0.2%, regangan ini disebut offset-
strain
Hubungan tegangan dan regangan dapat diketahui dengan jelas pada
diagram tegangan dan regangan yang didasarkan dari data yang diperoleh dari
pengujian tarik. Ini juga berlaku hukum hooke yang menyatakan tegangan
sebanding dengan regangan. Dan tegangan (stress) adalah beban dibagi dengan
luas penampang bahan dan regangan (strain) adalah pertambahan panjang dibagi
panjang awal bahan. Persamaannya sebagai berikut :
𝐹
𝛿=
𝐴
dengan:
F = gaya tarikan (N)
A = luas penampang (mm2)
∆𝐿
𝜀=
𝐿
dengan:
∆L = pertambahan panjang (mm)
L = panjang awal (mm)

σP = Proporsional stress = pertambahan tegangan sebanding dengan


pertambahan regangan
σE = Elasticity stress = titik dimana terjadi deformasi elastis
σY = Yield stress = tempat terjadinya penambahan regangan tanpa penambahan
beban
σU = Ultimate stress = tegangan maksimum yang dapat dicapai bahan
σB = Breaking stress = titik dimana material tersebut patah
Pada titik nol sampai batas proporsional, tegangan berbanding lurus
dengan regangan dan membentuk garis lurus yang curam (semakin curam garis
tersebut maka semakin kaku materialnya). Pada titk nol sampai yield point
merupakan daerah elastis. Pada titik yield material akan mengalami
pertambahan regangan tanpa disertai penambahan beban.Untuk material tertentu
umumnya tidak memperlihatkan batas yield yang jelas. Maka untuk
menentukannya digunakan metode offset. Dengan metode ini, kekuatan
ditentukan sebagai tegangan dimana bahan memperlihatkan batas
penyimpangan/deviasi tertentu dari keadaan proporsional tegangan dan
regangan.

2.10. Momen lentur


Apabila sebuah balok dibebani oleh beberapa buah gaya atau kopel maka
akan tercipta sejumlah tegangan dan regangan internal. Untuk menentukan
berbagai tegangan dan regangan tersebut, harus dicari terlebih dahulu gaya
internal [Gaya Geser Dan Momen Lentur] (internal forces) dan kopel internal
yang bekerja pada penampang balok. Gaya internal yang bekerja pada
penampang-penampang balok diantaranya gaya geser V dan momen lentur M.
Momen lentur adalah jumlah aljabar dari semua komponen momen gaya luar
yang bekerja pada segmen yang terisolasi, dinotasikan dengan M. Besar M dapat
ditentukan dengan persamaan keseimbangan statis
ΣM =0
ΣMo = M - R1x + P1 (x-a) + P2 (x-b) = 0
atau M = R1x – P1(x-a) – P2(x-b)

2.11. Modulus Elastisitas


Modulus elastisitas adalah angka yang digunakan untuk mengukur objek
atau ketahanan bahan untuk mengalami deformasi elastis ketika gaya diterapkan
pada benda itu. Modulus elastisitas suatu benda didefinisikan
sebagai kemiringan dari kurva tegangan-regangan di wilayah deformasi elastis:
Bahan kaku akan memiliki modulus elastisitas yang lebih tinggi. Modulus
elastis dirumuskan dengan:
tegangan
E=
regangan
atau
σ
E=
ε
Dimana tegangan adalah gaya menyebabkan deformasi dibagi dengan
daerah dimana gaya diterapkan dan regangan adalah rasio perubahan beberapa
parameter panjang yang disebabkan oleh deformasi ke nilai asli dari parameter
panjang. Jika stres diukur dalam pascal , kemudian karena regangan adalah
besaran tak berdimensi, maka Satuan untuk λakan pascal juga.
Menentukan bagaimana stres dan regangan yang akan diukur, termasuk
arah, memungkinkan untuk berbagai jenis modulus elastisitas untuk
didefinisikan. Tiga yang utama adalah:
 Modulus Young ( E ) menjelaskan elastisitas tarik atau kecenderungan suatu
benda untuk berubah bentuk sepanjang sumbu ketika stress berlawanan
diaplikasikan sepanjang sumbu itu; itu didefinisikan sebagai rasio tegangan
tarik terhadap regangan tarik. Hal ini sering disebut hanya sebagai modulus
elastisitas saja.
 Modulus geser atau modulus kekakuan( G atau µ) menjelaskan kecenderungan
sebuah objek untuk bergeser (deformasi bentuk pada volume konstan) ketika
diberi kekuatan yang berlawanan; didefinisikan sebagai tegangan
geser terhadap regangan geser. Modulus geser modulus adalah turunan
dari viskositas.
 Bulk modulus ( K ) menjelaskan elastisitas volumetrik, atau kecenderungan
suatu benda untuk berubah bentuk ke segala arah ketika diberi tegangan seragam
ke segala arah; didefinisikan sebagai tegangan volumetrik terhadap regangan
volumetrik, dan merupakan kebalikan dari kompresibilitas. Modulus bulk
merupakan perpanjangan dari modulus Young pada tiga dimensi.
Tiga modulus elastisitas lain adalah modulus axial, parameter pertama
Lame, dan modulus gelombang P. Bahan material homogen dan isotropik (sama
di semua arah) memiliki sifat keelastisitasan yang dijelaskan oleh dua modulus
elastisitas, dan satu dapat memilih yang lain.
2.12. Sifat Material
Sifat Mekanik
Sifat mekanik material, merupakan salah satu faktor terpenting yang
mendasari pemilihan bahan dalam suatu perancangan. Sifat mekanik dapat
diartikan sebagai respon atau perilaku suatu material terhadap pembebanan yang
diberikan berupa gaya, torsi atau gabungan keduanya. Dalam prakteknya
pembebanan pada material terbagi dua yaitu beban dinamik dan beban statik.
Perbedaan antara keduanya terdapat pada fungsi waktu dimana beban statik
tidak dipengaruhi oleh fungsi waktu sedangkan beban dinamik dipengaruhi oleh
fungsi waktu.
Untuk mendapatkan sifat mekanik suatu material, biasanya dilakukan
sebuah pengujian mekanik. Pengujian mekanik pada dasarnya bersifat merusak
atau destructive test, dari pengujian tersebut akan dihasilkan kurva atau data
yang menggambarkan ciri-ciri dari material tersebut.
Setiap material yang akan diuji dibuat dalam bentuk sampel kecil atau
spesimen terlebih dahulu. Spesimen pengujian dapat mewakili seluruh material
apabila berasal dari komposisi, jenis, dan perlakuan yang sama. Pengujian yang
tepat hanya didapatkan pada material uji yang memenuhi aspek kemampuan
mesin, ketepatan pengukuran, kualitas atau jumlah cacat pada material dan
ketelitian dalam membuat spesimen.
Sifar-sifat mekanik material yang perlu diperhatikan adalah sebagai
berikut :
 Tegangan yaitu gaya diserap oleh suatu material selama proses deformasi
persatuan luas.
 Regangan yaitu besar deformasi atau perubahan panjang persatuan luas.
 Modulus elastisitas yaitu besaran yang menunjukkan ukuran kekuatan suatu
material.
 Kekuatan yaitu besar tegangan untuk mendeformasi suatu material atau
kemampuan dari material untuk menahan perubahan bentuk.
 Kekuatan luluh yaitu besarnya suatu tegangan yang dibutuhkan untuk
mendeformasi suatu sifat plastis.
 Kekuatan tarik adalah kekuatan maksimum berdasarkan kepada ukuran mula.
 Keuletan yaitu besar suatu deformasi plastis sampai material menjadi patah.
 Ketangguhan yaitu besar suatu energi yang diperlukan sampai terjadinya sebuah
perpatahan.
 Kekerasan yaitu kemampuan material menahan deformasi plastis lokal akibat
penetrasi pada permukaan.

Sifat Fisik
Sifat fisik adalah sifat material yang bukan disebabkan oleh
pembebanan seperti pengaruh pendinginan, pemanasan, dan pengaruh arus
listrik yang mengarah pada struktur suatu material. Sifat fisik material antara
lain : konduktivitas panas, temperatur cair, dan panas spesifik.

Sifat Teknologi
Sifat teknologi yaitu kemampuan material untuk
dapat dibentuk atau diproses. Produk yang memiliki kekuatan tinggi dapat
dibuat dengan proses pembentukan, contohnya dengan pengerolan atau
penempaan. Produk dengan bentuk yang rumit dapat dibuat dengan
proses pengecoran. Sifat-sifat teknologi diantaranya sifat mampu cor, sifat
mampu mesin, sifat mampu las, dan sifat mampu bentuk.

Sifat Kimia
Sifat material yang berhubungan dengan komposisi kimia. Contohnya
kemolaran, kemolalan, dan konsentrasi.

Sifat Termal
Sifat material yang dipengaruhi oleh temperature. Contohnya konduktifitas
termal, titik beku dan titik didih.

Sifat Optik
Sifat material yang berhubungan dengan pencahayaan. Cantohnya
rasioaktifitas, dan mampu dibiaskan.
Sifat Akustik
Sifat material yang berhubungan dengan bunyi. Contohnya material yang
mampu meredam bunyi.

Sifat Magnetik
Sifat material untuk merespon medan magnet. Contohnya material yang
mampu menyimpan magnet.
Dalam prakteknya antara sifat-sifat tersebut saling berpengaruh satu sama
lain dan memungkinkan ilmu pengetahuan untuk berkembang terus. Jika sifat
mekanik bagus, maka sifat teknologinya tidak bagus. Jika sifat teknologinya
bagus, sifat yang lainnya tidak bagus. Contohnya baja yang kuat namun tidak
tahan korosi, maka harus dilapisi Zn atau seng, sehingga ketahanan terhadap
korosi akan naik naik.
Sifat-sifat di atas diperoleh dengan suatucara pengujian, dan pada
pengujian harus memiliki prosedur uji dan peralatan uji. Karena hasil dari suatu
pengujian harus bisa dibandingkan yang artinya prosedur uji tersebut harus
mengikuti standar uji, begitu juga dengan peralatan ujinya. Standar uji yang
harus diikuti tergantung kepada permintaan konsumen.
Contoh DIN (jerman), JIS (Jepang), ASTM (USA), dan SNI (Indonesia).

2.13. Puntiran Poros Rotor Dinamo


Poros adalah suatu bagian stasioner yang beputar, biasanya berpenampang
bulat dimana terpasang elemen-elemen seperti roda gigi (gear), pulley, flywheel,
engkol, sprocket dan elemen pemindah lainnya. Poros bisa menerima beban
lenturan, beban tarikan, beban tekan atau beban puntiran yang bekerja sendiri-
sendiri atau berupa gabungan satu dengan lainnya.

2.14. Sudut Puntir


Sudut Puntir adalah suatu poros dengan panjang L dikenai momen puntir T
secara konstan dikeseluruhan panjang poros, maka sudut puntir (angle of twist) θ
yang terbentuk pada ujung poros dapat dinyatakan dengan:
𝑟𝜃
𝑡𝑎𝑛 𝜃 =
𝐿
dengan: ϴ = sudut puntir ( ), r = jari-jari (mm), L = panjang (mm)
o

2.15. Aplikasi puntiran


Aplikasi Puntiran Pada Poros (Shaft)
Poros adalah suatu bagian stasioner yang beputar, biasanya berpenampang
bulat dimana terpasang elemen-elemen seperti roda gigi (gear), pulley, flywheel,
engkol, sprocket dan elemen pemindah lainnya. Poros bisa menerima beban
lenturan, beban tarikan, beban tekan atau beban puntiran yang bekerja sendiri-
sendiri atau berupa gabungan satu dengan lainnya. (Josep Edward Shigley,
1983)
Pembagian poros.
1. Berdasarkan pembebanannya
A. Poros transmisi (transmission shafts)
Poros transmisi lebih dikenal dengan sebutan shaft. Shaft akan mengalami
beban puntir berulang, beban lentur berganti ataupun kedua-duanya. Pada shaft,
daya dapat ditransmisikan melalui gear, belt pulley, sprocket rantai, dll.
B. Gandar
Poros gandar merupakan poros yang dipasang diantara roda-roda kereta
barang. Poros gandar tidak menerima beban puntir dan hanya mendapat beban
lentur.
C. Poros spindle
Poros spindle merupakan poros transmisi yang relatip pendek, misalnya pada
poros utama mesin perkakas dimana beban utamanya berupa beban puntiran.
Selain beban puntiran, poros spindle juga menerima beban lentur (axial load).
Poros spindle dapat digunakan secara efektip apabila deformasi yang terjadi
pada poros tersebut kecil.
2. Berdasar bentuknya
A. Poros lurus
B. Poros engkol sebagai penggerak utama pada silinder mesin
Ditinjau dari segi besarnya transmisi daya yang mampu ditransmisikan, poros
merupakan elemen mesin yang cocok untuk mentransmisikan daya yang kecil
hal ini dimaksudkan agar terdapat kebebasan bagi perubahan arah (arah momen
putar).
Hal-hal yang harus diperhatikan.
1. Kekuatan poros
Poros transmisi akan menerima beban puntir (twisting moment), beban lentur
(bending moment) ataupun gabungan antara beban puntir dan lentur.
Dalam perancangan poros perlu memperhatikan beberapa faktor, misalnya :
kelelahan, tumbukan dan pengaruh konsentrasi tegangan bila menggunakan
poros bertangga ataupun penggunaan alur pasak pada poros tersebut. Poros yang
dirancang tersebut harus cukup aman untuk menahan beban-beban tersebut.
2. Kekakuan poros
Meskipun sebuah poros mempunyai kekuatan yang cukup aman dalam
menahan pembebanan tetapi adanya lenturan atau defleksi yang terlalu besar
akan mengakibatkan ketidaktelitian (pada mesin perkakas), getaran mesin
(vibration) dan suara (noise).
Oleh karena itu disamping memperhatikan kekuatan poros, kekakuan poros
juga harus diperhatikan dan disesuaikan dengan jenis mesin yang akan
ditransmisikan dayanya dengan poros tersebut.
3. Putaran kritis
Bila putaran mesin dinaikan maka akan menimbulkan getaran (vibration)
pada mesin tersebut. Batas antara putaran mesin yang mempunyai jumlah
putaran normal dengan putaran mesin yang menimbulkan getaran yang tinggi
disebut putaran kritis. Hal ini dapat terjadi pada turbin, motor bakar, motor
listrik, dll. Selain itu, timbulnya getaran yang tinggi dapat mengakibatkan
kerusakan pada poros dan bagian-bagian lainnya. Jadi dalam perancangan poros
perlu mempertimbangkan putaran kerja dari poros tersebut agar lebih rendah
dari putaran kritisnya,
4. Korosi
Apabila terjadi kontak langsung antara poros dengan fluida korosif maka
dapat mengakibatkan korosi pada poros tersebut, misalnya propeller shaft pada
pompa air. Oleh karena itu pemilihan bahan-bahan poros (plastik) dari bahan
yang tahan korosi perlu mendapat prioritas utama.
5. Material poros
Poros yang biasa digunakan untuk putaran tinggi dan beban yang berat pada
umumnya dibuat dari baja paduan (alloy steel) dengan proses pengerasan kulit
(case hardening) sehingga tahan terhadap keausan. Beberapa diantaranya adalah
baja khrom nikel, baja khrom nikel molebdenum, baja khrom, baja khrom
molibden, dll. Sekalipun demikian, baja paduan khusus tidak selalu dianjurkan
jika alasannya hanya karena putaran tinggi dan pembebanan yang berat saja.
Dengan demikian perlu dipertimbangkan dalam pemilihan jenis proses heat
treatment yang tepat sehingga akan diperoleh kekuatan yang sesuai.
Sumber : https://www.scribd.com/doc/92253908/aplikasi-puntiran

2.16. Aplikasi bending

Pada proses tekuk ini, mesin yang digunakan untuk melipat atau
menekuk plat adalah mesin bending manual dan bending Hydraulic Pipe
Bender. Bending manual digunakan untuk melipat atau menekuk pelat kerja
yang telah diselesaikan untuk pekerjaan awal. Mampu menekuk pelat dengan
tebal maksimum 3 mm dan panjang maksimal 1,5 meter, sedangkan
hydraulic pipe bender digunakan untuk menekuk benda kerja yang berbentuk
silinder.
Secara mekanika proses penekukan ini terdiri dari dua komponen
gaya yakni: tarik dan tekan (lihat gambar). Pada gambar memperlihatkan
pelat yang mengalami proses pembengkokan ini terjadi peregangan, netral,
dan pengkerutan. Daerah peregangan terlihat pada sisi uar pembengkokan,
dimana daerah ini terjadi deformasi plastis atau perobahan bentuk.
Peregangan ini menyebabkan pelat mengalami pertambahan panjang. Daerah
netral merupakan daerah yang tidak mengalami perobahan. Artinya pada
daerah netral ini pelat tidak mengalami pertambahan panjang atau
perpendekkan.
Daerah sisi bagian dalam pembengkokan merupakan daerah yang
mengalami penekanan, dimana daerah ini mengalami pengkerutan dan
penambahan ketebalan, hal ini disebabkan karena daerah ini mengalami
perobahan panjang yakni perpendekan.atau menjadi pendek akibat gaya
tekan yang dialami oleh pelat. Proses ini dilakukan dengan menjepit pelat
diantara landasan dan sepatu penjepit selanjutnya bilah penekuk diputar ke
arah atas menekan bagian pelat yang akan mengalami penekukan.
Sumber : http://ntm-grup.blogspot.com/2013/09/proses-penekukan-plat.html
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan


1. Alat :

e
a
d

b
c

Gambar 3.1.Measuring Stress


Sumber : www.gunt.de
a) Measuring gauge berfungsi untuk menghitung berapa besar deformasi
b) Counter weight berfungsi memberikan perbandingan beban terhadap load
weight pada ujung spesimen
c) Load weight berfungsi memberikan perbandingan beban terhadap counter
weight pada ujung spesimen
d) Load plate berfungsi sebagai piringan beban dari load weight
e) Clamping bridges berfungsi sebagai dudukan yang dikaitkan pada setiap
ujung spesimen
f) Cable with reversing pulley for counterweight berfungsi sebagai katrol
penghubung antara counterweight dengan spesimen
g) Kunci L berfungsi membuka/ memasang baut pada saat pemasangan
spesimen.
Gambar 3.2 (g) Kunci L
Sumber :https://www.google.co.id/search?q=kunci+L&safe
2. Bahan :
a) Tembaga berfungsi sebagai spesimen percobaan
b) Aluminium berfungsi sebagai spesimen percobaan
3.2 Prosedur Percobaan
1. Pertama-tama Penyiapkan alat dan bahan
2. Ambillah material tembaga sebagai spseimen awal dalam percobaan
3. Masukkan ke dalam clamping bridges dengan menggunakan kunci L untuk
memasang dan mengunci spesimen.
4. Mengatur posisi besar sudut tegangan sebesar 0 derajat pada stand measuring
gauge
5. Kemudian kaitkan spesimen dengan tali yang terpasang sebagai katrol
penahan beban terhadap spesimenn
6. Setelah itu mengatur besarnya beban yang akan diberikan pada spesimen
guna melihat besarnya deformasi tengangan ( counterweight).
7. Besarnya beban yang diberikan sesuai dengan yang diinginkan dimulai dari
14,16,18,20, dan 22 N secara berurutan pada stand measuring
8. Secara bersamaan berikan pula beban yang sama (load weight) pada setiap
sudut yang berlawanan sebesar 0 derajat dengan tujuan agar tegangan dapat
terjadi
9. Dalam menganalisis pengambilan data, dapat diketahui dengan
memperhatikan measuring gauge pada setiap skala nonius sebesar 0,01
maupun skala utama sebesar 1 lalu dijumlahkan untuk mengetahui besarnya
deformasi spesimen.
10. Kemudian, angkat beban load weight dan amati kembali besarnya sisa
deformasi yang terjadi dengan melihat selisih diantara besarnya deformasi
sebelumunya melalui measuring gauge
11. Catat dan analisislah perubahan deformasi maupun sisa deformasi dari setiap
beban yang di berikan
12. Ulangi kembali pada posisi 90 derajat untuk material tembaga dan posisi 0
dan 90 derajat untuk material baja.

3.3 Rumus
1. Momen lentur luar dan torsi pada sudut 𝜃
Mb = F.r.cos𝜃 ; Mt = F.r.sin𝜃
Ket : Mb = momen lentur luar (N.m )
Mt = momen torsi ( N.m)
r = Jari-jari
2. Momen inersia pada circular cross
𝑑4𝜋 𝑑4 𝜋
𝐼𝑏 = ; 𝐼𝑡 = = 2 𝐼𝑏
64 32

Ket : 𝐼𝑏 = momen inersia b ( 𝑚𝑚4)


𝐼𝑡 = momen inersia t ( 𝑚𝑚4)
d = diameter
3. Tegangan pada momen lentur tepi fiber
𝑀𝑏 𝑑
𝜎𝑥 = .
𝐼𝑏 2

Ket : 𝜎𝑥 = tegangan pada momen


lentur tepi fiber ( MPa )
4. Tegangan geser pada momen lentur tepi fiber
𝑀𝑡 𝑑
𝜏=
𝐼𝑡 2

Ket : 𝜏 = tegangan geser pada momen


lentur tepi fiber ( MPa)

5. Tegangan pada 𝜎y = 0
𝜎v = 2 𝜏max = √𝜎𝑥2 + 4𝜏 2
Ket : 𝜏max = tegangan geser maksimum
( MPa)
6. Reference stress
𝐹.𝑟.𝑑
𝜎𝑣 = = constant
2 𝐼𝑏

7. Momen inersia polar


a) Momen inersia polar untuk poros solid :
𝜋
J = 32 × 𝑑4

b) Momen inersia polar untuk poros berongga


𝜋
J = 32 × [(𝑑𝑜 )2- (𝑑𝑖 )2 ]

Ket : J = momen inersia polar


𝑑𝑖 = diameter dalam
𝑑𝑜 = diameter luar
8. Momen puntir
𝑀𝑡 𝜏 𝐽.𝜏
= atau 𝑀𝑡 =
𝐽 𝑟 𝑟

Ket: 𝑀𝑡 = momen puntir


9. Tegangan Puntir
𝑊𝑝
𝜏𝑡 =
𝑀𝑡
Ket : τt = tegangan puntir
Wp= momen tahanan polar

10. Modulus geser


𝐸
𝐺=
2(1 − 𝑣)
𝜎
𝐸=
𝜀
Ket : G = modulus geser ( N/𝑚2 )
E = modulus young
v = konstanta kenyal

11. Regangan geser


𝜎𝑥𝑦
𝛾= (%)
𝐺
𝜎𝑦𝑧
𝛾= ( Rad)
𝐺

Ket : 𝛾 = Regangan geser


12. Tegangan Geser
𝜏 = 𝐺𝛾
Ket : 𝜏 = tegangan geser
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Worksheet
Test no : Angle Position : 0 Run : Material : Tembaga
Load F in N 14 16 18 20 22

Deformation w
in 1/100 mm 239 254 284 287 308
Remaining
deformation ∆ 20 10 37 15 14
W in 1/100
mm
Load at yield limit :

Test no : Angle Position : 90 Run : Material : Tembaga


Load F in N 14 16 18 20 22

Deformation w
in 1/100 mm 260 302 375 571 633

Remaining
deformation ∆ 4 6 8 16 32
W in 1/100
mm
Load at yield limit :
Remaining Deformation (∆ 𝑤 𝑖𝑛 100 𝑚𝑚 ) Tembaga
40
10

35

30

25

20 Derajat 0
Derajat 90
15

10

0
0 5 10 15 20 25
Load F (N )

Test no : Angle Position : 0 Run : Material :


Aluminium
Load F in N 14 16 18 20 22

Deformation w
in 1/100 mm 245 264 283 314 362
Remaining
deformation ∆ 26 10 15 19 37
W in 1/100
mm
Load at yield limit :

Test no : Angle Position : 90 Run : Material :


Aluminium
Load F in N 14 16 18 20 22
Deformation w
in 1/100 mm 261 295 320 36 414
Remaining
deformation ∆ 0 0 0 0 6
W in 1/100
mm
Load at yield limit :

Aluminium
Remaining Deformation (∆ 𝑤 𝑖𝑛 100 𝑚𝑚 )

40
10

35

30

25

20 Derajat 0
Derajat 90
15

10

0
0 5 10 15 20 25

Load F (N )
I. Sudut pada 0𝑜 , ( d =3 mm)
𝑑 3
d = 3 mm ; 𝑟 = = =1,5 mm = 1,5 × 10−3 m
2 2
I.1. Momen lentur bending dan torsi tembaga /aluminium
a) Untuk F = 14 N

Mb = F.r.cos𝜃
Mb = (14).( 1,5 × 10−3).cos 0𝑜
Mb = (21 × 10−3).1
Mb = 21 × 10−3 N.m
b) Untuk F = 16 N

Mb = F.r.cos𝜃
Mb = (16).( 1,5 × 10−3).cos 0𝑜
Mb = (24 × 10−3).1
Mb = 24 × 10−3 N.m
c) Untuk F = 18 N

Mb = F.r.cos𝜃
Mb = (18).( 1,5 × 10−3).cos 0𝑜
Mb = (27 × 10−3).1
Mb = 27 × 10−3 N.m
d) Untuk F = 20 N

Mb = F.r.cos𝜃
Mb = (20).( 1,5 × 10−3).cos 0𝑜
Mb = (30 × 10−3).1
Mb = 30 × 10−3 N.m
e) Untuk F = 22 N

Mb = F.r.cos𝜃
Mb = (22).( 1,5 × 10−3).cos 0𝑜
Mb = (33 × 10−3).1
Mb = 33 × 10−3 N.m

Karena sin0𝑜 = 0 ,maka Mt untuk sudut 0𝑜 setiap beban pada material


tembaga / aluminium ialah 0 N.m
I.2. Momen inersia luar dan torsi
𝑑4𝜋
a) 𝐼𝑏 =
64
(3)4 (3,14)
𝐼𝑏 =
64
84,78
𝐼𝑏 =
64
𝐼𝑏 = 1,325 𝑚𝑚4

𝑑4 𝜋
b) 𝐼𝑡 = = 2 𝐼𝑏 = 2.(1,325) = 2,65 𝑚𝑚4
32

I.3. Tegangan pada momen lentur tepi fiber material tembaga/aluminium


a) Untuk F = 14 N
𝑀𝑏 𝑑
𝜎𝑥 = .
𝐼𝑏 2

21 × 10−3 3
𝜎𝑥 = .
1,325 2

𝜎𝑥 = (0,0158).(1,5)
𝜎𝑥 = 0,0237 MPa
b) Untuk F = 16 N
𝑀𝑏 𝑑
𝜎𝑥 = .
𝐼𝑏 2

24 × 10−3 3
𝜎𝑥 = .
1,325 2

𝜎𝑥 = (0,0181).(1,5)
𝜎𝑥 = 0,02715 MPa
c) Untuk F = 18 N
𝑀𝑏 𝑑
𝜎𝑥 = .
𝐼𝑏 2

27 × 10−3 3
𝜎𝑥 = .
1,325 2

𝜎𝑥 = (0,0204).(1,5)
𝜎𝑥 = 0,0306 MPa
d) Untuk F = 20 N
𝑀𝑏 𝑑
𝜎𝑥 = .
𝐼𝑏 2

30 × 10−3 3
𝜎𝑥 = .
1,325 2

𝜎𝑥 = (0,0226).(1,5)
𝜎𝑥 = 0,0339 MPa
e) Untuk F = 22 N
𝑀𝑏 𝑑
𝜎𝑥 = .
𝐼𝑏 2

33 × 10−3 3
𝜎𝑥 = .
1,325 2

𝜎𝑥 = (0,0249).(1,5)
𝜎𝑥 = 0,0374 MPa
I.4. Tegangan geser pada momen lentur tepi fiber material tembaga /aluminium
𝑀𝑡 𝑑
𝜏=
𝐼𝑡 2

Karena Mt = 0 N.m pada setiap beban material tembaga / aluminium maka


untuk 𝜏 = 0 MPa

I.5. Tegangan pada 𝜎y = 0


a) Untuk F = 14 N
𝜎v = 2 𝜏max = √𝜎𝑥2 + 4𝜏 2

= √(0,0237)2 + 4(0)2
= 0,0237 MPa
b) Untuk F = 16 N
𝜎v = 2 𝜏max = √𝜎𝑥2 + 4𝜏 2

= √(0,02715)2 + 4(0)2
= 0,02715 MPa
c) Untuk F = 18 N
𝜎v = 2 𝜏max = √𝜎𝑥2 + 4𝜏 2

= √(0,0306)2 + 4(0)2
= 0,0306 MPa
d) Untuk F = 20 N
𝜎v = 2 𝜏max = √𝜎𝑥2 + 4𝜏 2

= √(0,0339)2 + 4(0)2
= 0,0339 MPa
e) Untuk F = 22 N
𝜎v = 2 𝜏max = √𝜎𝑥2 + 4𝜏 2

= √(0,0374)2 + 4(0)2
= 0,0374 MPa

II. Sudut pada 90𝑜 , ( d =3 mm)


𝑑 3
d = 3 mm ; 𝑟 = = =1,5 mm = 1,5 × 10−3 m
2 2
II.1. Momen lentur bending dan torsi tembaga /aluminium
a) Untuk F = 14 N

Mt = F.r.sin𝜃
Mt = (14).( 1,5 × 10−3).sin 90𝑜
Mt = (21 × 10−3 ).1
Mt = 21 × 10−3 N.m
b) Untuk F = 16 N

Mt = F.r.sin𝜃
Mt = (16).( 1,5 × 10−3).sin 90𝑜
Mt = (24 × 10−3 ).1
Mt = 24 × 10−3 N.m
c) Untuk F = 18 N

Mt = F.r.sin𝜃
Mt = (18).( 1,5 × 10−3).sin 90𝑜
Mt = (27 × 10−3 ).1
Mt = 27 × 10−3 N.m
d) Untuk F = 20 N

Mt = F.r.sin𝜃
Mt = (20).( 1,5 × 10−3).sin 90𝑜
Mt = (30 × 10−3 ).1
Mt = 30 × 10−3 N.m

e) Untuk F = 22 N

Mt = F.r.sin𝜃
Mt = (22).( 1,5 × 10−3).sin 90𝑜
Mt = (33 × 10−3 ).1
Mt = 33 × 10−3 N.m
𝑜
Karena cos90 = 0 ,maka Mb untuk sudut 90𝑜 setiap beban pada material
tembaga / aluminium ialah 0 N.m

II.2.Momen inersia luar dan torsi


𝑑4𝜋
a) 𝐼𝑏 =
64
(3)4 (3,14)
𝐼𝑏 =
64
84,78
𝐼𝑏 =
64
𝐼𝑏 = 1,325 𝑚𝑚4

𝑑4 𝜋
b) 𝐼𝑡 = = 2 𝐼𝑏 = 2.(1,325) = 2,65 𝑚𝑚4
32

II.3 Tegangan pada momen lentur tepi fiber material tembaga/aluminium


𝑀𝑏 𝑑
𝜎𝑥 = .
𝐼𝑏 2

Karena Mb = 0 N.m pada setiap beban material tembaga / aluminium maka


untuk 𝜎𝑥 = 0 MPa

II.4 Tegangan geser pada momen lentur tepi fiber material tembaga /aluminium
a) Untuk F = 14 N
𝑀𝑡 𝑑
𝜏= .
𝐼𝑡 2

21 × 10−3 3
𝜏= .
2,65 2

𝜏 = (0,0079).(1,5)
𝜏 = 0,01185 MPa
b) Untuk F = 16 N
𝑀𝑡 𝑑
𝜏= .
𝐼𝑡 2

24 × 10−3 3
𝜏= .
2,65 2

𝜏 = (0,0091).(1,5)
𝜏 = 0,01365 MPa
c) Untuk F = 18 N
𝑀𝑡 𝑑
𝜏= .
𝐼𝑡 2

27 × 10−3 3
𝜏= .
2,65 2

𝜏 = (0,0102).(1,5)
𝜏 = 0,0153 MPa
d) Untuk F = 20 N
𝑀𝑡 𝑑
𝜏= .
𝐼𝑡 2

30 × 10−3 3
𝜏= .
2,65 2

𝜏 = (0,0113).(1,5)
𝜏 = 0,01695 MPa
e) Untuk F = 22 N
𝑀𝑡 𝑑
𝜏= .
𝐼𝑡 2

33 × 10−3 3
𝜏= .
2,65 2

𝜏 = (0,0125).(1,5)
𝜏 = 0,01875 MPa
II.5 Tegangan pada 𝜎y = 0
a) Untuk F = 14 N
𝜎v = 2 𝜏max = √𝜎𝑥2 + 4𝜏 2

= √(0)2 + 4(0,01185)2
= 0,0237 MPa
b) Untuk F = 16 N
𝜎v = 2 𝜏max = √𝜎𝑥2 + 4𝜏 2

= √(0)2 + 4(0,01365)2
= 0,0273 MPa

c) Untuk F = 18 N
𝜎v = 2 𝜏max = √𝜎𝑥2 + 4𝜏 2

= √(0)2 + 4(0,0153)2
= 0,0306 MPa
d) Untuk F = 20 N
𝜎v = 2 𝜏max = √𝜎𝑥2 + 4𝜏 2

= √(0)2 + 4(0,01695)2
= 0,0339 MPa
e) Untuk F = 22 N
𝜎v = 2 𝜏max = √𝜎𝑥2 + 4𝜏 2

= √(0)2 + 4(0,01875)2
= 0,0375 MPa
4.2 Pembahasan
Pada percobaan yang telah dilakukan bahwa ada dua material yang digunakan
dalam menentukan besarnya tegangan yang terjadi yaitu material tembaga dan
baja. Dalam pengujiannya pun diberikan beban masing-masing sebesar
14,16,18,20,dan 22 N untuk posisi beban 0 dan 90 derajat pada setiap percobaan
material tembaga maupun baja.
Pada percobaan pertama dengan menggunakan material jenis tembaga dengan
0 derajat terlihat terjadi perubahan deformasi daripada setiap beban yang
diberikan. Untuk beban 14 N dengan deformasi 239 menghasilkan sisa deformasi
sebesar 20. Beban 16 N dengan deformasi 254 menghasilkan sisa deformasi
sebesar 10. Beban 18 N dengan deformasi 284 menghasilkan sisa deformasi
sebesar 37. Beban 20 N dengan deformasi 287 menghasilkan sisa deformasi
sebesar 15, dan beban 22 N dengan deformsasi 308 menghasilkan sisa deformasi
sebesar 14
Pada percobaan kedua dengan menggunakan material jenis tembaga dengan
90 derajat terlihat terjadi perubahan deformasi daripada setiap beban yang
diberikan . Untuk beban 14 N dengan deformasi 260 menghasilkan sisa
deformasi sebesar 4. Beban 16 N dengan deformasi 302 menghasilkan sisa
deformasi sebesar 6. Beban 18 N dengan deformasi 375 menghasilkan sisa
deformasi sebesar 8. Beban 20 N dengan deformasi 571 menghasilkan sisa
deformasi sebesar 16, dan beban 22 N dengan deformsasi 633 menghasilkan sisa
deformasi sebesar 32.
Pada percobaan ketiga dengan menggunakan material jenis aluminium
dengan 0 derajat terlihat terjadi perubahan deformasi daripada setiap beban yang
diberikan. . Untuk beban 14 N dengan deformasi 245 menghasilkan sisa
deformasi sebesar 26. Beban 16 N dengan deformasi 264 menghasilkan sisa
deformasi sebesar 10. Beban 18 N dengan deformasi 283 menghasilkan sisa
deformasi sebesar 15. Beban 20 N dengan deformasi 314 menghasilkan sisa
deformasi sebesar 19, dan beban 22 N dengan deformsasi 362 menghasilkan sisa
deformasi sebesar 37.
Pada percobaan ke empat dengan menggunakan material jenis aluminium
dengan 90 derajat terlihat terjadi perubahan deformasi daripada setiap beban
yang diberikan.. Untuk beban 14 N dengan deformasi 261 menghasilkan sisa
deformasi sebesar 0. Beban 16 N dengan deformasi 295 menghasilkan sisa
deformasi sebesar 0. Beban 18 N dengan deformasi 320 menghasilkan sisa
deformasi sebesar 0. Beban 20 N dengan deformasi 36 menghasilkan sisa
deformasi sebesar 0, dan beban 22 N dengan deformsasi 441 menghasilkan sisa
deformasi sebesar 6.
Dari hasil data yang telah diperoleh bahwa apa yang dijelaskan secara teori
tidak sesuai dengan apa yang telah didapatkan pada saat praktikum. Hal ini
sangat jelas terlihat pada nilai dari sisa deformasi yang dihasilkan tidak selalu
monoton , adakalah nilai yang dihasilkan lebih kecil dibandingkan dengan
sebelumnya padahal beban yang di berikan pun sudah sangat tinggi seperti pada
percobaan 1,2 dan 3. Namun di samping itu khusus pada percobaan ke- 4
menghasilkan nilai yang sama besar dari awal beban yang diberikan hingga
mencapai beban akhir sehingga rata – rata yang dihasilkan pun sesuai dengan
teori yang telah dijelaskan.
Tentu perbedaan nilai yang dihasilkan dari setiap percobaan pun senantiasa
diiringi dengan proses pengerjaan praktikum yang kurang baik. Kesalahan yang
sangat fatal terjadi pada stand measuring gauge dimana dalam mengatur posisi
pergantian derajat dan menggerakkan posisi stand, sehingga pada proses
pengambilan nilai pun tidak sesuai dengan teori dan hingga pada percobaan ke 4
kami mulai menyadari kesalahan tersebut,