Anda di halaman 1dari 13

METODOLOGI PENELITIAN

RMK SAP 10

“TAHAPAN PENGOLAHAN DAN PENYAJIAN DATA”

Oleh :

Ni Kadek Jyoti Krishna Maheswari (1506305084)


Anak Agung Dwi Kristiyanthi (1607531158)
Destha Della Pragaswari (1607531159)

Evelin Budiarti (1607531167)

Ni Luh Putu Eka Suarniti (1607531168)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS UDAYANA

2018
TAHAPAN PENGOLAHAN DAN PENYAJIAN DATA

Data mentah yang telah dikumpulkan oleh peneliti tidak akan ada gunanya, jika tidak
diolah. Pengolahan data merupakan bagian yang amat penting dalam metode ilmiah, karena
dengan pengolahan data, data tersebut dapat diberi arti dan makna yang berguna dalam
memecahkan masalah penelitian.

1. Editing Data (Pemeriksaan Data)


Editing adalah kegiatan yang dilaksanakan setelah peneliti selesai menghimpun data
di lapangan. Kegiatan ini menjadi penting karena kenyataannya bahwa data yang terhimpun
kadang kala belum memenuhi harapan peneliti, ada diantaranya kurang atau terlewatkan,
tumpang tindih, berlebihan bahkan terlupakan. Oleh karena itu, keadaan tersebut harus
diperbaiki melalui editing ini. Biasanya editing dilakukan terhadap daftar-daftar pertanyaan
yang disusun secara berstruktur dan diisi lewat wawancara formal.
Editing adalah proses yang bertujuan agar data yang dikumpulkan memberikan
kejelasan, dapat dibaca, konsisten, dan lengkap sehingga akan membuat data dengan mudah
dapat dimengerti. Proses editing yang paling baik adalah dengan teknik silang yaitu seorang
peneliti memeriksa hasil pengumpulan peneliti lain dan sebaliknya pada suatu penelitian
tertentu.
Dalam editing ini akan diteliti lagi hal-hal sebagai berikut :
a. Lengkapnya pengisian,
Daftar pertanyaan harus terisi lengkap. Setiap pertanyaan yang diajukan dalam
daftar pertanyaan harus terisi lengkap dengan catatan jawaban, sekalipun
jawabannya itu hanya berbunyi “tidak tahu” atau “tidak mau menjawab”.
b. Keterbacaan tulisan
Tulisan pengumpul data yang tertera di daftar pertanyaan harus dapat dibaca,
karena seringkali tulisan yang jelek mempersulit pengolahan data bahkan dapat
menimbulkan kesalahan dalam menangkap maksud.
c. Kejelasan makna jawaban
Pengumpul data harus menuliskan jawaban-jawaban yang diperolehnya kedalam
kalimat-kalimat yang sempurna dan jelas maksudnya. Kalimat-kalimat jawaban
yang tidak disusun secara sempurna akan menyebabkan kesalahan-kesalahan
interpretasi dan mengganggu kelayakan data.
d. Konsistensi jawaban satu sama lain

1
e. Hal lain yang penting untuk diperiksa kembali dalam rangka kerja editing ini
adalah jawaban-jawaban responden yang dicatat oleh pengumpul data cukup logis
dan sesuai antara satu sama lainnya.
f. Keseragaman satuan data
Data harus dicatat dalam satuan-satuan yang seragam. Jika tidak, maka kesalahan-
kesalahan dalam mengola data dan analisis data kemungkinan besar akan terjadi.

Proses editing dimulai dengan memberi identitas pada instrumen penelitian yang telah
terjawab. Kemudian memeriksa satu per satu lembaran instrumen pengumpulan data
kemudian memeriksa poin-poin serta jawaban yang tersedia. Apabila pada tahap editing ini
terdapat kejanggalan-kejanggalan yang sangat mengganggu pada instrumen dan data yang
diperoleh, artinya ada beberapa kesalahan atau kekurangan informasi yang sangat
mengganggu, maka peneliti yang bersangkutan harus melakukan tindakan :
1. Dengan cara mengembalikan ke survayor, apabila survay lagi tidak mungkin
dilakukan maka response yang tidak lengkap dapat diganti dengan missing value atau
ditulis tidak menjawab.
2. Menyingkirkan hasil survay dengan jawaban yang tidak lengkap (apabila jumlahnya
kecil dan sampel yang diambil besar).
3. Menyisihkan instrumen tersebut sebagai instrumen yang tak terpakai atau rusak.
4. Melakukan cek silang atau berkonsultasi dengan penelitian lain untuk mengecek
kebenaran data yang terkumpul.
Apabila tindakan pertama yang dilakukan maka secara metodologis akan mengurangi
nilai validitas data karena kadang kala peneliti telah lupa dengan apa yang ditanyakan.
Tindakan kedua dan ketiga dilakukan secara metodologis, maka terpaksa jumlah data harus
berkurang. Kalau kesalahan tersebut terjadi pada satu instrumen saja, mungkin tidak banyak
berarti. Namun, bila kesalahan tersebut terjadi pada beberapa instrumen, tentu memerlukan
pemikiran tertentu. Oleh karena itu untuk menghindari hal tersebut, maka pada setiap
pengumpulan data peneliti harus melebihi jumlah sumber data yang digunakan dalam
bilangan tertentu.
Pada akhir editing, peneliti harus mempertanyakan kembali beberapa hal antara lain :
apakah data yang diperlukan sudah betul-betul lengkap dan jelas untuk dimengerti dan
dipahami, apakah data satu dengan yang lainnya sudah konsisten, seragam, dan memiliki
respons yang sesuai. Bila pertanyaan-pertanyaan tersebut telah terjawab, barulah beralih ke
pekerjaan selanjutnya.

2
2. Coding (Pemberian Kode pada data)
Setelah tahap editing selesai dilakukan, kegiatan berikutnya adalah
mengklasifikasikan data-data tersebut melalui tahapan coding. Coding adalah usaha untuk
mengklasifikasikan jawaban-jawaban para responden menurut macamnya. Dengan kata lain
dapat disebutkan bahwa tujuan dari coding adalah untuk mengklasifikasikan jawaban-
jawaban kedalam kategori-kategori yang penting. Kumpulan dari kategori-kategori tersebut
biasanya disebut coding frame. Klasifikasi itu dilakukan dengan jalan menandai masing-
masing jawaban dengan kode tertentu, biasanya dalam bentuk angka. Coding merupakan
kegiatan merubah data berbentuk huruf menjadi data berbentuk angka/ bilangan. Misalnya
untuk variabel pekerjaan dilakukan coding yaitu :
1 = Pegawai Negeri,
2 = Wiraswasta,
3 = Pegawai Swasta dan
4 = Pensiunan.

Sedangkan untuk jenis kelamin :


1 = Pria dan
2 = Wanita, dsb.
Secara singkat dapat disebutkan bahwa ada dua langkah dalam melakukan coding
yaitu:
a. Menentukan kategori-kategori yang akan digunakan.
b. Mengalokasikan jawaban individual pada kategori-kategori tersebut.
Kegunaan dari coding adalah untuk mempermudah pada saat analisis data dan juga
mempercepat pada saat entry data. Entry data, adalah transfer coding data dari kuisioner ke
software. Pengkodean data dilakukan untuk memberikan kode yang spesifik pada respon
jawaban responden untuk memudahkan proses pencatatan data. Dengan data sudah diubah
dalam bentuk angka-angka, maka peneliti akan lebih mudah mentransfer kedalam komputer
dan mencari program perangkat lunak yang sesuai dengan data untuk digunakan sebagai
sarana analisa, misalnya apakah data tersebut dapat dianalisa dengan menggunakan software
SPSS. Pengkodean data dapat dibedakan atas beberapa hal berikut ini.
1) Pengkodean terhadap Jawaban yang Berupa Angka
Apabila jawaban berupa angka tersebut terdapat dalam bentuk interval, maka perlu
pengkodean sendiri.
2) Pengkodean terhadap Jawaban dari Pertanyaan Tertutup

3
a. Pertanyaan untuk mengetahui pendapat responden
b. Pertanyaan dengan jawaban bertingkat
3) Pengkodean terhadap Jawaban dari Pertanyaan Semi Terbuka
Untuk jenis ini, sebelum melakukan pengkodean, peneliti harus membuat kategorisasi
atas jawaban-jawaban dari pertanyaan terbuka ini karena variasi jawaban yang
diperoleh barangkali cukup banyak. Untuk membuat kategori jawaban harus
memerhatikan beberapa hal, yaitu sebagai berikut.
a. Perbedaan kategori jawaban harus tegas, agar tidak tumpang tindih antara
jawaban yang satu dengan jawaban yang lainnya.
b. Jika terdapat jawaban yang tidak sesuai dengan kategori yang sudah disusun,
maka jawaban tersebut dikelompokkan dalam ‘lain-lain’. Namun persentase
jawaban untuk ‘lain-lain’ harus kecil, karena jika terlampau tinggi banyak
informasi yang terbuang.

3. Tabulasi
Proses penghitungan frekuensi yang terbilang di dalam masing-masing kategori
(seperti yang dibahas pada bagian dimuka) disebut tabulasi. Oleh karena itu hasil
penghitungan demikian hampir selalu disajikan dalam bentuk tabel, maka istilah tabulasi
seringkali disebut sebagai proses penyusunan data ke dalam bentuk tabel. Tabulasi (dalam
arti menyusun data ke dalam bentuk tabel) merupakan tahap lanjutan dalam rangkaian proses
analisis data.
Pada tahap ini dapat dianggap data telah selesai diproses sehingga benarlah kata
sementara orang bahwa tabulasi itu merupakan langkah yang penting artinya, yang dapat
"memaksa data untuk berbicara". Dengan tabulasi, data lapangan akan segera tampak ringkas
dan bersifat rangkuman. Dalam keadaan yang ringkas dan tersusun ke dalam suatu tabel yang
baik, data dapat dibaca dengan mudah dan maknanya akan mudah dipahami. Perhatikan tabel
di bawah ini.

Tabel 1

Hasil penilaian warga kota “Y” terhadap kebersihan kotanya

Kategori Frekuensi %
Bersih 164 10,25
Cukup 324 20,25

4
Kotor 1.052 65,75
Tidakdapatmengatakan 39 2,44
Takbersediamenjawab 21 1,31
Jumlah 1.600 100,0
Sumber: Data Hipotesis

Dengan memperhatikan Tabel 1 di atas, dengan sekali baca saja akan diketahui bahwa
para warga kota "Y" cenderung memberikan penilaian kotor pada kotanya. Tampak juga
bahwa hampir dua pertiga warga kota "Y" ini memberikan penilaian kotor. Hanya sekitar
sepersepuluh yang menyatakan kota itu bersih. Jumlah yang memberikan penilaian bersih
sekalipun telah ditambah dengan jumlah yang menilai cukup, tidaklah sampai mencapai
separuh dari jumlah yang menilai kotor. Gambaran yang jelas baru dapat diperoleh atau
tampak setelah data selesai dikode dan ditabulasi dan tidak mungkin sebelumnya. Tabulasi
seperti yang dicontohkan di atas adalah tabulasi sederhana. Di sini data disusun dalam bentuk
tabel dengan satu kolom tunggal. Dalam kolom tunggal yang tersusun vertikal dituliskan
frekuensi-frekuensi yang diperoleh. Penulisan dapat dituliskan dengan angka mutlak tetapi
dapat pula dilakukan menurut angka persentasenya. Oleh karena itu, dengan satu kolom
tunggal, penyebaran (distribusi) data di antara seperangkat kategori telah digambarkan secara
lengkap dan jelas.
Di samping data yang sederhana tersebut, tabulasi dapat pula dikerjakan secara
bersilang. Tabulasi silang (cross tabulation)dibuat dengan jalan "memecah" lebih lanjut
setiap kesatuan data dalam setiap kategori, menjadi dua atau tiga (atau mungkin lebih) sub
kesatuan. Pemecahan data demikian dilakukan atas dasar satu kriterium (atau suatu susunan
perangkat kategori) baru yang lain. Dengan demikian, pemecahan atau perincian data akan
berakibat masuknya sub kesatuan itu ke dalam dua struktur kategori sekaligus.
Agar lebih jelasnya, perhatikan Tabel 2 yang disusun sebagai hasil suatu tabulasi
silang. Pada Tabel 2 tersebut akan tampak adanya dua perangkat susunan kategori. Satu
perangkat kategori disusun secara vertikal untuk mengklasifikasikan hasil penilaian para
warga kota terhadap kebersihan kota "Y". Satu perangkat lagi ditambahkan data tersusun
secara horisontal, untuk mengklasifikasikan jangka waktu lamanya para warga kota yang
bersangkutan menghuni kota "Y".

Tabel 2

Hasil penilaian warga kota terhadap kotanya menurut lamanya menghuni kota “Y”

5
Lama Menghuni
Kategori Jumlah
-5 tahun 5-10 tahun 10 tahun +
Bersih 102 47 15 164
Cukup 72 167 85 324
Kotor 56 334 662 1.052
Tidakdapatmengatakan 12 18 9 39
Takbersediamenjawab 3 8 10 21
Jumlah 245 574 781 1.600
Sumber: Data Hipotesis

Dari hasil tabulasi silang tersebut tampak bahwa data tidak lagi disusun atas dasar
penyebarannya pada kategori-kategori yang tersusun vertikal saja, tetapi juga atas dasar
penyebarannya pada kategori-kategori yang tersusun horisontal. Dengan kata lain, data yang
semula terorganisir ke dalam satu lajur vertikal tunggal, kini harus dipecah-pecah dan
diorganisir juga ke dalam baris-baris horisontal. Jumlah frekuensi 164, 324, 1.052, 39, dan 21
(yang semula berupa rangkaian kebulatan yang tersusun secara vertikal) kini dipecah menjadi
beberapa subkesatuan yang tersusun secara horisontal. Kelihatan di sini bahwa setiap
pecahan/subkesatuan itu selalu jatuh dan masuk ke dalam dua struktur kategori sekaligus.
Subkesatuan 102 misalnya, tidaklah hanya menunjukkan jumlah (sebagian) orang yang
menilai bersih kota Y, tetapi juga menunjukkan jumlah (sebagian) orang yang bermukim
kurang dari 5 tahun di kota Y. Secara singkat bisa dikatakan bahwa jumlah 102 itu
menunjukkan jumlah orang yang bermukim di kota Y kurang dari 5 tahun yang memberikan
penilaian bersih kepada kotanya. Demikian pula halnya dengan jumlah 334. Jumlah tersebut
menunjukkan jumlah orang yang bermukim di kota Y antara 5 sampai 10 tahun yang
memberikan penilaian kotor kepada kotanya. Demikian seterusnya.
Dari uraian di atas tampakjelas bahwa dari tabel seperti itu orang tidak hanya akan
mengetahui jumlah bulat sekelompok responden yang memenuhi kualifikasi satu kategori
tertentu, akan tetapi juga akan mengetahui perincian proporsinya menurut suatu seni kategori
dari perangkat yang lain.

4. Penyajian Data( Tabel, Grafik)


Penyajian data merupakan salah satu kegiatan dalam pembuatan laporan hasil
penelitian yang telah dilakukan agar dapat dipahami dan dianalisis sesuai dengan tujuan
yang dinginkan. Data yang disajikan harus sederhana dan jelas agar mudah dibaca.

6
Penyajian data juga dimaksudkan agar para pengamat dapat dengan mudah memahami
apa yang kita sajikan untuk selanjutnya dilakukan penilaian atau perbandingan dan lain
lain.
A. Penyajian Data dalam Tabel
Penyajian dalam bentuk tabel merupakan penyajian data dalam bentuk angka yang
disusun secara teratur dalam bentuk kolom dan baris. Penyajian dalam bentuk tabel banyak
digunakan pada penulisan laporan hasil penelitian dengan maksud agar orang mudah
memperoleh gambaran rinci tentang hasil penelitian yang telah dilakukan.Suatu tabel yang
lengkap terdiri dari :
1. Nomor tabel
Bila tabel yang disajikan lebih dari satu maka hendaknya diberi nomor agar mudah
untuk mencari kembali bila dibutuhkan. Nomor tabel biasanya ditempatkan diatas
sebelah kiri sejajar dengan judul tabel.
2. Judul Tabel
Setiap tabel yang disajikan harus diberikan judul karena dari judul tabel orang dapat
mengetahui tentang apa yang disajikan.
3. Catatan Pendahuluan
Catatan pendahuluan biasanya diletakkan dibawah judul dan berfungsi sebagai
keterangan tambahan tentang tahun pembuatan tabel atau jumlah pengamatan yang
dilakukan.
4. Badan Tabel
Badan tabel terdiri dari judul kolom, judul baris, judul kompartemen dan sel.
5. Catatan kaki
Catatan kaki dimaksudkan untuk memberi keterangan terhadap singkatan atau ukuran
yang digunakan. Biasanya dengan memberi tanda yang sesuai dengan tanda yang
terdapat dikanan atas singkatan yang digunakan. Tanda yang biasanya dapat berupa
*x dan lain lain. Catatan kaki diletakkan dibawah kiri tabel.
6. Sumber Data
Sumber data diletakkan dibagian kiri bawah(dibawah catatan kaki),sumber ini
mempunyai arti penting bila data yang sajikan berupa data sekunder.
Adapun jenis-jenis tabel yaitu sebagai berikut:
1. Berdasarkan Fungsinya
a. Tabel Sinopsis

7
Tabel ini berisi semua variabel yang akan dikumpulkan dan ditulis dalam kolom
dan baris dengan urutan yang sama. Biasanya variabel-variabel dalam suatu
penelitian yang akan dikumpulkan adalah sebagai berikut :
 Tingkat pendidikan
 Jenis pekerjaan
 Jumlah anak
 Pertolongan persalinan
b. Tabel Induk
Tabel ini berfungsi sebagai referensi. Oleh karena itu, tabel induk sering disebut
tabel referensi yang dapat diambil sebagian dan disisipkan dalam laporan
penulisan laporan. Pada tabel induk terdapat semua variabel yang dikumpulkan.
c. Tabel Teks
Tabel teks adalah tabel yang menggambarkan beberapa variabel secara rinci.
Tabel ini berguna untuk mengadakan pembahasan lebih mendalam terhadap hasil
penelitian, mengadakan perbandingan antar variabel atau untuk memberikan
gambaran tentang adanya hubungan antara dua variabel.
d. Tabel Kontigensi
Tabel kontigensi disusun berdasarkan banyaknya baris dan kolom.Tabel ini
disajikan untuk memberikan gambaran hasil penelitian.Tabel ini juga banyak
digunakan dalam perhitungan statistic inferensial untuk pengujian hipotesis.
2. Berdasarkan Penyusunan Judul Baris
a. Penyusunan Judul Baris Menurut Abjad
Tabel yang disusun menurut abjad dimaksudkan untuk memudahkan pencarian
kembali tabel yang dibutuhkan. Oleh karena itu, tabel ini banyak terdapat paa
tabel induk.
b. Penyusunan Judul Baris Menurut Geografis
Tabel ini bertujuan untuk mengetahui keadaan berbagai daerah. Oleh karena itu,
tabel yang disusun menurut geografis banyak dikeluarkan oleh instansi pemerintah
seperti: Biro Pusat Statistik.
3. Penyusunan Tabel Berdasarkaan Perkembangan Waktu
Tabel ini disusun dengan tujuan untuk mengetahui perkembangan yang terjadi
bersamaan berjalannya waktu.Perkembangan tersebut dapat berupa perubahan alami
atau perubahan yang disebabkan oleh intervensi manusia.

8
Contoh: Jumlah akseptor KB didaerah A 1990 -1994
Tahun Jumlahakseptor
1990 245
1991 267
1992 578
1993 498
1994 324
Jumlah 2.012

4. Penyusunan Tabel Berdasarkan Besarnya Angka


Penyusunan angka dapat dilakukan dari angka terkecil sampai angka terbesar atau
sebaliknya.

Contoh : Distribusi Penyakit Menurut Jenis Kelamin


JenisPenyakit Jumlah JenisKelamin
Pria Wanita
Saluran napas 825 415 410
Saluran pencernaan 730 400 330
Penyakit kulit 245 200 54
Penyakit mata 100 85 15
Jumlah 2089 1260 829

5. Penyusunan Berdasarkan Kelaziman


Penyusunan tabel ini didasarkan pada kelaziman.Oleh karena itu tidak terdapat
ketentuan yang baku.
6. Penyusunan Berdasarkan Tingkatan
Misalnya, penyusunan tingkat pendidikan diawali dari pendidikan yang terendah
sampai yang tertinggi

B. Penyajian Data dalam Bentuk Grafik


Grafik merupakan salah satu bentuk penyajian data statistik yang banyak dilakukan
dalam berbagai bidang,karena penyajian dalam bentuk grafik lebih menarik dan mudah
dipahami.Penyajian dalam bentuk grafik bermanfaat untuk hal-hal sebagai berikut:

9
1. Membandingkan beberapa variable,beberapa kategori dalam variable atau satu
variable pada waktu dan tempat yang berbeda.
2. Meramalkan perubahan yang terjadi dengan berjalan nya waktu ( time series )
3. Mengetahui adanya hubungan dua variable atau lebih.
4. Memberikan penerangan pada masyarakat.

Macam Macam Grafik


1. Grafik Batang (Bar diagram)
Yang dimaksud grafik batang adalah grafik yang berbentuk batang yang penilaiannya
dilakukan berdasarkan tinggi batang.Grafik batang dapat digunakan untuk
mengadakan perbandingan beberapa variabel dalam waktu dan tempat yang sama atau
satu variabel dalam waktu dan tempat yang berbeda.
a. Histogram
Histogram merupakan grafik batang yang disusun secara teratur dan berimpitan
satu dengan yang lainnya tanpa ruang antara.Grafik ini diperoleh dari data
kuantitatif yang kontinu dalam bentuk distribusi frekuensi.
b. Poligon
Bila titik titik tengah dari batang ddalam histogram dihubungkan sattu dengan
yang lainnya akan menghasilan frekuensi histogram.
2. Grafik Lingkaran
Grafik lingkaran merupakan grafik yang disajikan dalam bentuk lingkaran. Lingkaran
dapat digambar dalam 3 dimensi sehingga menyerupai kue karna itu disebut pie
diagram. Grafik lingkaran digunakan untuk membandingkan secara relatif kategori-
kategori dalam satu variabel.
3. Grafik Garis
Grafik garis merupakan penyajian data dalam bentuk garis.
4. Grafik garis proporsional
Grafik ini merupakan grafik garis yang dinyatakan dalam persen. Seperti pada grafik
batang proporsional, grafik garis proporsional juga dapat digunakan untuk
mengadakan perbandingan beberapa variabel atau perubahan satu variabel yang
terjadi dengan berjalannya waktu.
5. Grafik Frekuensi kumulatif ( Ogive)
Ogive dihasilkan dari data frekuensi disrtibusi kumulatif dan digunakan untuk
mengetahui posisi individu dalam suatu kelompok.

10
6. Grafik Garis Patah Patah
Grafik ini banyak dijumpai pada garfik deret berkala yang digunakan untuk
mengetahui perubahan yang terjadi dengan berjalannya waktu.
7. Grafik Garis lengkung
Kurva merupakan grafik yang dihasilkan secara teoriti. Dalam praktiknya kurva yang
ada merupakan hasil penghalusan. Bentuk kurva bermacam macam secara garis besar
dapat dibagi:
- Berdasarkan simetrisitas
a. Kurva simetris
b. Kurva asimetris
- Berdasarkan tinggi puncak
a. Kurva normal ( mesokurtik)
b. Kurva leptokurtik
c. Kurva Platikurtik
- Berdasarkan jumlah puncak
a. Kurva unimodal
b. Kurva bimodal
c. Kurva multimodal
- Berdasarkan bentuk
a. Kurva bentuk
b. Kurva bentuk L

11
DAFTAR PUSTAKA

Mudrajad Kuncoro, Ph.D. 2009. Metode Riset untuk Bisnis & Ekonomi Edisi 3: PT.Gelora
Aksara Pratama
Arsyad, Lincolin dan Soeratno.1999. Metodologi Penelitian Untuk Ekonomi dan
Bisnis.Yogyakarta: UPP AMP YKPN
Sumber : http://yunizasyafutrieza.blogspot.co.id/2011/09/penyajian-data.html

12