Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH KEPERAWATAN ANAK

Tumbuh Kembang Anak Menurut Erickson,Jean Piaget dan


Sigmund Freud

D
I
S
U
S
U
N
OLEH:
Nama : SITI ANDRIYANI
NPM :16.11.164 / PSIK 3.1
Dosen : Ns. Herri Novita Tarigan, S.Kep, M.Kep

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN
INSTITUT KESEHATAN DELI HUSADA-DELITUA
T.A 2018/2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya ucapkan kepada ALLAH SWT dimana masih memberikan kepada
saya nikmat kesehatan, sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah keperawatan
mengenai “Tumbuh Kembang Anak Menurut Erickson, Jean Piaget dan Sigmund Freud”

Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah.Saya mengucapkan
terimakasih kepada pihak yang telah membantu dalam menyusun makalah ini. Saya berharap
semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Dengan segala kerendahan hati, kritik dan saran yang konstruktif sangat saya harapkan
dari para pembaca guna untuk meningkatkan dan memperbaiki pembuatan makalah pada
tugas yang lain nantinya pada waktu mendatang.

Delitua, 26 November 2018

Siti Andriyani

i
DAFTAR ISI

Cover
Kata pengantar...........................................................................i
Daftar isi.................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN .......................................................... 1
A. Latar Belakang .................................................................. 1
B. Rumusanmasalah .............................................................. 2
C. Tujuan Masalah ................................................................ 2

BAB II PEMBAHASAN ........................................................... 3


A. Defenisi ............................................................................. 3
B. Tahap-Tahap Tumbuh Kembang Erik Erikson ................ 3
C. Tahap-Tahap Tumbuh Kembang Jean Piaget................... 6
D. Tahap-Tahap Tumbuh Kembang Sigmund Freud ............ 9

BAB III PENUTUP .................................................................12


A. Kesimpulan .....................................................................12
B. Saran ...............................................................................13

DAFTAR PUSTAKA ..............................................................14

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Seorang anak bukan merupakan orang dewasa dalam bentuk kecil, karena ia
mempunyai sifat berlainan dari orang dewasa. Ia harus tumbuh dan berkembang
sampai dewasa agar dapat berguna bagi masyarakat. Walaupun pertumbuhan dan
perkembangan berjalan menurut norma-norma tertentu, seorang anak dalam banyak
hal bergantung kepada orang dewasa, misalnya mengenai makan, perawatan,
bimbingan, perasaan aman, pencegahan penyakit dan sebagainya. Oleh karena itu
semua orang yang mendapat tugas mengawasi anak harus mengerti persoalan anak
yang sedang tumbuh dan berkembang, misalnya keperluan dan lingkungan anak
pada waktu tertentu agar anak dapat tumbuh dan berkembang sebaik-baiknya.

Bila lingkungan akibat sesuatu hal menjadi buruk, maka keadaan tersebut hendaknya
segera diubah sedemikian rupa sehingga pertumbuhan dan perkembangan anak
dapat berjalan dengan sebaik-baiknya. Sebuah organ yang tumbuh berarti organ itu
akan menjadi besar, karena sel-sel dan jaringan diantara sel bertambah banyak. Pada
permulaannya, organ ini masih sederhana dan fungsinya belum sempurna. Dengan
demikian pertumbuhan, perkembangan dan kematangan tidak dapat dipisahkan satu
dari yang lain.Untuk perkembangan yang normal diperlukan pertumbuhan yang
selalu bersamaan dengan kematangan fungsi,diperlukan berbagai faktor misalnya
makanan harus disesuaikan dengan keperluan anak yang sedang tumbuh, di samping
diperlukan bimbingan, pembinaan, perasaan aman dan kasih sayang dari ayah dan
ibu yang hidup rukun, bahagia dan sejahtera dalam lingkungan yang sehat. Dan ada
tahap tumbuh kembang anak menurut Erickson..jean Piaget. Dan Sigmund Freud.

1
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumusan masalah adalah sebagai
berikut:
1. Apa defenisi tumbuh kembang anak?
2. Bagaimana tahap tumbuh kembang anak menurut Erickson?
3. Bagaimana tahap tumbuh kembang anak menurut Jean Piaget?
4. Bagaimana tahap tumbuh kembang anak menurut Sigmund Freud?

C. TUJUAN MASALAH
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan makalah ini adalah sebagai
berikut:
1. Untuk mengetahui pengertian tumbuh kembang anak.
2. Untuk mengetahui tahap tumbuh kembang anak menurut Erickson..
3. Untuk mengetahui tahap tumbuh kembang anak menurut Jean Piaget.
4. Untuk mengetahui tahap tumbuh kembang anak menurut Sigmund Freud.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. DEFENISI
1. Perkembangan (development) adalah bertambahnya kemampuan ( skill)
dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks,mengikuti pola yang
teratur,dan dapat di ramalkan,sebagai hasil dari proses pematangan
(Soetjiningsih,2002).
2. Pertumbuhan adalah berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar,
jumlah ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu
perkembangan lebih menitik beratkan aspek perubahan bentuk atau fungsi
pematangan organ atau individu, termasuk perubahan aspek social atau
emosional akibat pengaruh lingkungan. (Markum, 1991)

B. TAHAP PERKEMBANGAN MENURUT ERIKSON

Teori Erikson menjelasakan tahap perkembangan manusia mulai dari lahir


hingga lanjut usia, dan dibagi menjadi delapan tahap perkembangan manusia.,
diawali dengan memasuki tahap akhir masa kanak-kanak, di tengah cerita masuk ke
tahap awal masa remaja dan masa remaja sejati, dan di tahap terakhir masuk ke
tahap awal masa dewasa.

1.Masa bayi (1-2 tahun) percaya versus tidak percaya.


Pada tahap ini,seorang bayi otomatis sangat bergantung kepada orang lain
terutama ibunya. Peran orang tua sangat mutlak dalam fase ini.Seluruh interaksi bayi
pada orang tuanya akan sangat mempengaruhi sikap anak di kemudian hari.Jika pada
fase ini kebutuhan fisik dan emosionalnya terpenuhi dengan baik,bayi belajar

3
memercayai lingkunganya.Sebalinya bila tidak terpenuhi bayi akan mengalami
kecemasan dan tidak mempercayai sesuatu.

2.Masa kanak-kanak (2-4 tahun )kemandirian versus malu-malu dan


keraguan.
Pada saat anak memasuki usia dua tahun,ia mulai belajar
berjalan,berbicara,dan melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri.dorongan orang tua
dan konsistensi dalam penegakan disiplin dapat membantu anak untuk
mengembangkan kemandirian dan kebebasan pribadi.Namun, jika orang tua
memberi perlindungan yang terlalu berlebihan,tidak konsisten terhadap disiplin,dan
juga menunjukkan sikap tidak setuju ketika anak melakukan sesuatu bagi
dirinya,akan tumbuh perasaan malu-malu,kurang percaya diri,dan ragu-ragu di
dalam diri anak.

3.Masa pra-sekolah (4-5 tahun ) inisiatif versus rasa bersalah.


Pada tahap ini anak sudah mulai menjelajahi wilayah yang sama sekali tidak
ia kenal ,dan belajar mengenal orang orang baru.apabila rasakeingin tahuan dan
pengeplorasian lingkunganya mendapar dorongan yang baik dari orang tua,maka
anak bisa mengambil inisiatif untuk suatu tindakan yang akan dilakukan.Akan
tetapi,jika orang tua menghalangi tindakan anak,ia akan berkembang dengan
perasaan bersalah dan tidak merasa bebas.

4.Masa usia sekolah ( 6-12 tahun )terampil versus minder.


Perkembangan psikososial anak yang berada pada usia sekolah menunjukkan
bahwa ia memperoleh bermacam-macam keterampilan dan kemampuan.Ia juga
sudah memiliki pengetahuan tentang apa yang akan dilakukanya dan bagaimana ia

4
akan melakukannya.Akan tetapi,ketidakmampuanya atau kegagalanya dalam
melakukan sesuaatu,akan menimbulkan perasaanrendah diri (minder).

5.Masa remaja (12-20 tahun ) identitas versus kebingungan


Pada saaat anak memasuki masa remaja,terjadi perubahan karena
pertumbuhan fisik dan perkembangan mentalnya.Muncul doromgan seksual dan
wajah yang mengarah kepada bentuk dewasa.Pperubahan fisik ini diikuti pula oleh
perubahan psikologis.Keterlibatan terhadap suatu ideology,cita-cita atau pilihan
tertentu,misanya menunjukkan bahwa ia sudah mencapai identitasnya.Akan
tetapi,jikalau terjadi yg sebaliknya,ia akan mengalami kebingungan.

6.Masa dewasa muda ( 20-24 tahun ) keintiman versus pemisahan diri.


Pada tahap dewasa muda,seseorang telah mampu membina komitmen dengan
orang lain,sehingga terjalin keintiman dan hubungan saling menguntungkan atau
sebaliknya ia mengembangkan sikap menutup diri sehingga merasa tidak ada orang
lain didunia ini selain dirinya sendiri.

7.Masa dewasa ( 25-64 tahun )produktif versus stagnase.


Pada tahap ini seseorang ingin mempunyai peran dalam hidupnya sebagai
anggota masyarakat yg bermakna dan memiliki kepedulian terhadap orang
lain.Jika perasaan ini tidak tercapai,maka orang tersebut akan merasa hidupnya
hampa dan tidak menghasilkan apa-apa sehingga memicu terjadinya frustasi.

8.Masa sepuh ( > 65 tahun )integgritas ego versus keputusasaan.


Tahap terakhir dari perkembangan psikososial Erikson adalah masa
sepuh,yakni ketika seseorang memasuki fase refleksi.sebagai orang tua,seseorang
mungkin merasa bahagia karna telah memberi makna,berguna bagi orang lain,dan
5
bersiap-siap menghadapi kematian.Akan tetapi,bila dalam tahap- tahap
perkembangan sebelumnya ia banyak mengalami kegagalan dan kekecewaan,ia
tidak aakan bersemangat dalam menghadapi kelanjutan hidupnya.Bahkan
kemungkinan besar ia akan menjalani kehidupanya dengan penuhkesedihan dan
keputusasaan.

C. TAHAP PERKEMBANGAN MENURUT JEAN PIAGET

1. Periode Sensorimotor

Menurut Piaget, bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan selain juga dorongan
untuk mengeksplorasi dunianya. Skema awalnya dibentuk melalui diferensiasi
refleks bawaan tersebut. Periode sensorimotor adalah periode pertama dari empat
periode. Piaget berpendapat bahwa tahapan ini menandai perkembangan
kemampuan dan pemahaman spatial penting dalam enam sub-tahapan:

 Sub-tahapan skema refleks, muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan
berhubungan terutama dengan refleks.
 Sub-tahapan fase reaksi sirkular primer, dari usia enam minggu sampai empat
bulan dan berhubungan terutama dengan munculnya kebiasaan-kebiasaan.
 Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder, muncul antara usia empat sampai
sembilan bulan dan berhubungan terutama dengan koordinasi antara
penglihatan dan pemaknaan.
 Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder, muncul dari usia sembilan
sampai duabelas bulan, saat berkembangnya kemampuan untuk melihat
objek sebagai sesuatu yang permanen walau kelihatannya berbeda kalau
dilihat dari sudut berbeda (permanensi objek).

6
 Sub-tahapan fase reaksi sirkular tersier, muncul dalam usia dua belas sampai
delapan belas bulan dan berhubungan terutama dengan penemuan cara-cara
baru untuk mencapai tujuan.
 Sub-tahapan awal representasi simbolik, berhubungan terutama dengan
tahapan awal kreativitas.

2. Tahapan praoperasional

Tahapan ini merupakan tahapan kedua dari empat tahapan. Dengan


mengamati urutan permainan, Piaget bisa menunjukkan bahwa setelah akhir usia dua
tahun jenis yang secara kualitatif baru dari fungsi psikologis muncul. Pemikiran
(Pra) Operasi dalam teori Piaget adalah prosedur melakukan tindakan secara mental
terhadap objek-objek. Ciri dari tahapan ini adalah operasi mental yang jarang dan
secara logika tidak memadai. Dalam tahapan ini, anak belajar menggunakan dan
merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata-kata. Pemikirannya masih
bersifat egosentris: anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang lain.
Anak dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri, seperti
mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya berbeda-beda atau
mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda.
Menurut Piaget, tahapan pra-operasional mengikuti tahapan sensorimotor dan
muncul antara usia dua sampai enam tahun. Dalam tahapan ini, anak
mengembangkan keterampilan berbahasanya. Mereka mulai merepresentasikan
benda-benda dengan kata-kata dan gambar. Bagaimanapun, mereka masih
menggunakan penalaran intuitif bukan logis. Di permulaan tahapan ini, mereka
cenderung egosentris, yaitu, mereka tidak dapat memahami tempatnya di dunia dan
bagaimana hal tersebut berhubungan satu sama lain. Mereka kesulitan memahami

7
bagaimana perasaan dari orang di sekitarnya. Tetapi seiring pendewasaan,
kemampuan untuk memahami perspektif orang lain semakin baik. Anak memiliki
pikiran yang sangat imajinatif di saat ini dan menganggap setiap benda yang tidak
hidup pun memiliki perasaan.

3. Tahapan operasional konkrit

Ketika anak memasuki masa sekolah,mereka mulai memperoleh kemampuan


untuk menghubungkan serangkaian kejadian untuk menggambarkan mental anak
yang dapat di ungkapkan secara verbal ataupun simbolik.Selama tahap ini,anak
mengembangkan pemahaman mengenai hubngan antara sesuatu hal dengan
ide.Anak mengalami kemajuan dari membuat penilaian berdasarkan apa yg di lihat
(pemikiran perepcetual) sampai penilaian berdasarkan alasan mereka ( pemikiran
konseptual ).Kemampuan anak meningkat dalam menguasai symbol-simbol dan
menggunakan simpanan memori mengenai pengalaman masa lalu mereka untuk
mengevaluasi dan mengintrepertasikan masa kini.

4. Tahapan operasional formal

Pada tahap ini,tercapai pemahaman dan kompetensi untuk menalar dan


menganalisis permutasi dan kombinasi.penalaran dalam konteks probabilitas
mencakup kemampuan menganalisa beragam kaitan dan hipotesis untuk eksplanasi
data dan peristiwa,penggunaan bahasa yang kompleks,kemampuan mengikuti
kaidah logika formal,dan berbicara,serta menulis dengan tata bahasa yg
benar.Orang yang telah mencapai tahap ini berwawasan luas dan kritis,tetapi
bersikap kritis dalam alur logika formal dalam batasan paradigma.

8
D. TAHAP PERKEMBANGAN MENURUT SIGMUND FREUD

Teori perkembangan psikoseksual Sigmund Freud adalah salah satu teori yang
paling terkenal, akan tetapi juga salah satu teori yang paling kontroversial. Freud
percaya kepribadian yang berkembang melalui serangkaian tahapan masa kanak-
kanak dimana mencari kesenangan-energi dari id menjadi fokus pada area sensitif
seksual tertentu. Energi psikoseksual atau libido, digambarkan sebagai kekuatan
pendorong di belakang perilaku. Menurut Sigmund Freud, kepribadian sebagian
besar dibentuk oleh usia lima tahun. Awal perkembangan berpengaruh besar dalam
pembentukan kepribadian dan terus mempengaruhi perilaku di kemudian hari.
Jika tahap-tahap psikoseksual selesai dengan tepat, hasilnya adalah kepribadian yang
sehat. Jika masalah tertentu tidak diselesaikan pada tahap yang tepat, fiksasi dapat
terjadi. fiksasi adalah fokus yang gigih pada tahap awal psikoseksual.

a. Fase Oral
Pada tahap oral, sumber utama bayi interaksi terjadi melalui mulut, sehingga
refleks mengisap adalah sangat penting. Mulut sangat penting untuk makan, bagi
bayi yang memicu kesenangan dari rangsangan oral melalui kegiatan memuaskan
seperti mencicipi dan mengisap. Karena bayi sepenuhnya tergantung pada pengasuh
(yang bertanggung jawab untuk memberi makan anak), bayi juga mengembangkan
rasa kepercayaan dan kenyamanan melalui stimulasi oral.
Konflik utama pada tahap ini adalah proses penyapihan, anak harus menjadi kurang
bergantung pada para pengasuh. Jika fiksasi terjadi pada tahap ini, Freud percaya
individu akan memiliki masalah dengan ketergantungan. fiksasi oral dapat
mengakibatkan masalah dengan minum, makan, atau menggigit kuku.

9
b. Fase Anal
Pada tahap anal, Freud percaya bahwa fokus utama dari libido adalah pada
pengendalian kandung kemih dan buang air besar. Konflik utama pada tahap ini
adalah pelatihan toilet – anak harus belajar untuk mengendalikan kebutuhan
tubuhnya. Mengembangkan kontrol ini menyebabkan rasa prestasi dan kemandirian
pada anak.
Menurut Sigmund Freud, keberhasilan pada tahap ini tergantung pada cara di
mana orang tua malalui pendekatan pelatihan toilet. Orang tua yang memanfaatkan
pujian dan penghargaan untuk menggunakan toilet pada saat yang tepat mendorong
hasil yang positif dan membantu anak-anak merasa mampu dan produktif. Freud
percaya bahwa pengalaman positif selama tahap ini menjadikan sebagai dasar orang
untuk menjadi orang dewasa yang kompeten, produktif dan kreatif.

c. Fase Phalic
Pada tahap phallic , fokus utama dari libido adalah pada alat kelamin. Anak-
anak juga menemukan perbedaan antara pria dan wanita. Freud juga percaya bahwa
anak laki-laki mulai melihat ayah mereka sebagai saingan, karena ibu harus berbagi
kasih sayang dengannya. Kompleks Oedipus menggambarkan perasaan ini ingin
memiliki ibu dan keinginan untuk menggantikan ayah. Namun, anak juga memiliki
kekhawatiran bahwa ia akan dihukum oleh ayah untuk perasaan ini.

d. Fase Laten
Periode laten adalah saat eksplorasi dimana energi seksual tetap ada, tetapi
diarahkan ke daerah lain seperti pengejaran intelektual dan interaksi sosial. Tahap
ini sangat penting dalam pengembangan keterampilan sosial dan komunikasi dan
kepercayaan diri.

10
Freud menggambarkan fase laten sebagai salah satu yang relatif stabil. Untuk alasan
ini, fase ini tidak selalu disebutkan dalam deskripsi teori sebagai salah satu tahap,
tetapi sebagai suatu periode terpisah.

e. Fase Genital
Pada tahap akhir perkembangan psikoseksual, seksual yang kuat pada lawan
jenis. Dimana dalam tahap-tahap awal fokus hanya pada kebutuhan individu,
kepentingan kesejahteraan orang lain tumbuh selama tahap ini. Jika tahap lainnya
telah selesai dengan sukses, individu sekarang harus seimbang, hangat dan peduli.
Tujuan dari tahap ini adalah untuk menetapkan keseimbangan antara berbagai
bidang kehidupan

11
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Perubahan dalam perkembangan yang ditunjukkan dengan adanya saling
kebergantungan atau saling mempengaruhi antara aspek – aspek fisik dan psikis dan
merupakan satu kesatuan yang harmois.Perkembangan bukan hanya berkenaan
dengan aspek – aspek tertentu mungkin lebih terlihat dengan jelas,sedangkan aspek
yang lainya lebih tersembunyi.Permasalahan yang sering muncul sering kali di
sebabkan ketidaktahuan para orang tua dan pendidik,sehingga perilaku mereka
sering kali tidak mampu mengraahkan remaja menuju kepenuhan perkembangan
mereka.Bahkan tidak jarang orang tua dan pendidik mengambil sikap yang kontra
produktif dari yang seharusnya di diharapkan. Dimana tahap menurut teori Erikson
menjelasakan tahap perkembangan manusia mulai dari lahir hingga lanjut usia, dan
dibagi menjadi delapan tahap perkembangan manusia., diantara lain :

1. Kepercayaan vs Ketidakpercayaan
2. Otonomi vs Rasa Malu dan Ragu-ragu
3. Prakarsa vs Rasa Bersalah
4. Rajin vs Rasa Rendah Diri
5. Identitas Diri vs Kekacauan Peran
6. Keintiman vs Pengasingan
7. Perluasan vs Stagnasi
8. Integritas dan Keputusasaan

Menurut psikolog Jean Piaget, anak-anak melalui 4 tahap perkembangan


kognitif yang ditandai dengan pergeseran dalam cara mereka memahami dunia.
Piaget percaya bahwa anak-anak seperti "ilmuwan kecil" dan mereka secara aktif

12
mencoba untuk mengeksplorasi dan memahami dunia di sekitar mereka. Melalui
pengamatannya terhadap anak-anaknya sendiri, Piaget mengembangkan teori
perkembangan intelektual yang mencakup 4 tahap yang berbeda: tahap
sensorimotor, dari lahir sampai usia 2 tahun; tahap praoperasional, dari usia 2 tahun
sampai sekitar usia 7 tahun; tahap operasional konkrit, usia 7 sampai 11 tahun; dan
tahap operasional formal,yang dimulai pada masa remaja sampai menjadi dewasa.
Menurut Freud percaya kepribadian yang berkembang melalui serangkaian
tahapan masa kanak-kanak dimana mencari kesenangan-energi dari id menjadi fokus
pada area sensitif seksual tertentu. Jika tahap-tahap psikoseksual selesai dengan
tepat, hasilnya adalah kepribadian yang sehat. Jika masalah tertentu tidak
diselesaikan pada tahap yang tepat, fiksasi dapat terjadi. fiksasi adalah fokus yang
gigih pada tahap awal psikoseksual

B. SARAN

Penting untuk diketahui tahap – tahap pada pertumbuhan dan perkembangan


agar dapat mendeteksi dan mencegah ketidaknormalan yang terjadi pada tahap tahap
tersebut.

13
DAFTAR PUSTAKA

Mansur,Herawati.2009. Psikologi Ibu & Anak Untuk Kebidanan. Jakarta : Salemba


Medika

http://lorayani.blogspot.com/2012/12/v-behaviorurldefaultvmlo.html

https://journal.peradaban.ac.id/index.php/jdpgsd/article/download/17/16/

http://staffnew.uny.ac.id/upload/131656353/pendidikan/g-2-ilmu-perkembangan-
anak-revisi.pdf

https://www.bastamanography.id/teori-perkembangan-psikoanalisis-sigmund-
freud/

14