Anda di halaman 1dari 72

ANALISIS GOVERNANCE DAN UPGRADING GLOBAL VALUE CHAIN

(GVC) PT. KELOLA MINA LAUT KENDARI

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Negara Indonesia adalah Negara dengan sumber daya alam yang sangat

melimpah dengan berbagai hasil bumi dan laut yang memiliki nilai dan kualitas

tinggi yang dapat bersaing dengan Negara lainnya dan menjadikannya sebagai

Produk dengan nilai jual dan nilai saing yang sangat berpotensi di pasar

Internasioanl. Adapun Indonesia memiliki 10 komoditas potensial yang juga

disukai pasar internasional, seperti: Produk perikanan, produk kulit, peralatan

medis, tanaman obat, makanan olahan, minyak atsiri, kerajinan, perhiasan,

rempah-rempah dan peralatan kantor.1 Salah satu komoditas Indonesia yang

mendapat tempat dan respon baik di pasar Internasional adalah produk dari

industri perikanan, dimana permintaan akan produk tersebut berasal dari Negara-

Negara maju seperti Jepang, Amerika, Canada, Korea dan China. Besarnya minat

pasar internasional terhadap produk hasil industri perikanan Indonesia membuat

pihak pemerintah dan swasta berlomba lomba untuk meningkatkan industri

1
Kementrian Perdagangan republik Indonesia, 10 Komoditas utama dan potensial,
http://www.kemendag.go.id/id/economic-profile/10-main-and-potential-commodities/10-main-
commodities Diakses pada 6 April 2018
perikanan agar menghasilkan produk-produk dengan nilai produk yang berkualitas

dan nilai jual yang lebih tinggi.

Untuk mengelola dan menghasilkan produk produk dari industri perikanan

yang lebih berkualitas, ketersediaan sumber daya laut yang melimpah seperti ikan,

gurita, iakan kakap, dan sotong tidak cukup untuk menjadikan produk produk

perikanan menjadi incaran utama masyarakat dan pasar internasional, dibutuhkan

proses dan strategi produksi, strategi distribusi dan pemasaran serta strategi baru

dari pemerintah ataupun pihak swasta yang mengelola industri perikanan di

Indonesia untuk fokus terhadap pengembangan industri perikanan.

Salah satu penyumbang industri perikanan terbesar di indonesia berasal dari

wilayah Sulawesi Tenggara. Provinsi Sulawesi Tenggara merupakan wilayah

yang meliputi daratan dan kepulauan. Wilayah daratan Sulawesi Tenggara

mempunyai luas 38.140 km2 atau 3.814.000 ha sedangkan wilayah perairan (Laut)

seluas 110.000 km2 atau 11.000.000. Dengan wilayah lautan yang luas maka

kegiatan usaha di bidang perikanan merupakan salah satu aktivitas yang banyak

dilakukan dan memiliki kontribusi yang besar terhadap kinerja serta pendapatan

daerah dari sektor perikanan.2 Dengan luas wilayah laut tersebut, Sulawesi

Tenggara mempunyai kekayaan hasil laut yang sangat melimpah mulai dari ikan,

gurita, kakap, sotong dll.

2
Bidang Pengembangan Wilayah Bappeda Sultra, Potensi Perikanan Sulawesi Tenggara. 2 Juli
2016 https://bangwilsultrablog.wordpress.com/2016/07/02/potensi-perikanan-sulawesi-tenggara
Diakses pada 20 April 2018
Dengan kekayaan sumber daya laut yang dimiliki Sulawesi Tenggara, banyak

industri atau perusahaan baik dari pemerintah maupun swasta yang bergerak

dalam sektor perikanan yang berusaha untuk memaksimalkan sumber daya laut

yang dimiliki Sulawesi Tenggara dengan bekerja sama dengan pihak aktor aktor

lainnya seperti nelayan, perusahaan lainnya untuk lebih mengembangkan hasil

laut Sulawesi Tenggara menjadi komoditas utama yang berpotensi dalam Pasar

Internasional.

Salah satu industri perikanan dengan hasil produk yang telah memasuki pasar

global adalah PT Kelola Mina Laut Kendari. Perusahaan ini merupakan salah

satu cabang dari perusahaan PT Kelola Mina Laut( KML Food) yang berada di

Gresik, Jawa Timur yang mengelola hasil laut Sulawesi Tenggara seperti Ikan,

Gurita, dan Rajungan menjadi produk makanan (seafood) dan produk lainnya

yang memiliki kualitas terbaik. Industri perikanan ini mulai beroperasi dan

berinvestasi di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Kendari, Sulawesi Tenggara

sejak 2007 sampai sekarang. Dalam mengelola sumber daya laut, PT kelola Mina

Laut Kendari berusaha semaksimal mungkin untuk menghasilkan produk produk

dengan kualitas terbaik.

Dalam mengelola sumber daya Laut Sulawesi tenggara, Tak hanya PT Kelola

Mina Laut kendari sebagai aktor utama, tetapi banyak perusahaan lain yang

bergerak dalam sektor yang sama yaitu perikanan, yang beroperasi di Pelabuhan

Perikanan Samudera (PPS) yaitu sebanyak 27 Perusahaan pengolahan Hasil laut


Sulawesi Tenggara.3 Dengan banyaknya pesaing atau kompetitor di Sektor

Industri Perikanan menjadi tantangan bagi PT Kelola Mina Laut Kendari untuk

mengelola dan menghasilakn produk perikanan yang dapat bersaing di lingkup

domestik maupun internasional. Mengahadapi tantangan tersebut, pembuatan

strategi produksi merupakan langkah yang diambil oleh PT Kelola mina laut

untuk bersaing menghasilkan produk terbaik dan mendapatkan keuntungan.

Strategi merupakan tindakan atau pola yang dilaukan untuk mencapai tujuan,

yang tidak hanya meliputi strategi yang direncanakan tetapi juga mencakup

konsistensi perusahaan dalam mengambil keputusan.4 Implementasi strategi

perusahaan memfokuskan pada pengembangan kompetensi perusahaan yaitu

pengetahuan dan ketrampilan yang secara khusus tercermin dalam keahlian

teknologi dan produksi.

Global Value Chain sebagai alat analisa meurpakan Konsep yang digunakan

untuk menganalisis PT Kelola Mina Laut dalam mengelola hasil laut Sulawesi

tenggara. Dengan adanya Global Value Chain kita bisa mengetahui bagaimana

rantai nilai dari tata kelola (Governance) dan Upgrading PT Kelola Mina laut

dalam mengelola hasil laut Sulawesi tenggara menjadi produk yang berkualitas.

Perusahaan harus bisa membuat pilihan terbaik tentang apa yang menjadi

kebutuhan konsumen dan bagaimana memenuhi kebutuhan konsumen dengan

kualitas produk yang terbaik, harga produksi yang terjangkau dan kualitas

4
Mintzberg, H., 1978. Pattern In strategy Formulation. Management Science, 24 (9), 934-948
kemasan yang terbaik namun dengan harga yang relatif murah. Sama halnya

dengan PT Kelola Mina Laut Kendari, Perusahaan yang bergerak dalam hal

produksi hasil laut merupakan perusahaan yang memiliki visi menjadikan produk

dari hasil laut yang di produksi menjadi Produk dengan nilai tambah yang baik

dengan peningkatan kualitas dari segi pengambilan bahan baku, proses produksi

dengan teknologi dan langkah distribusi hasil produksi sampai ke tangan

konsumen dengan melibatkan pihak pihak serta aktor dalam proses tersebut.

Dari pemaparan latar belakang di atas ada beberapa pertimbangan yang

mendorong penulis mengangkat judul skripsi ini yang berjudul “Analisis

Governance Dan Upgrading Global Value Chain (Gvc) Pt. Kelola Mina Laut

Kendari” yaitu :

Pertama penulis ingin menganalisis dan mengetahui bagaimana tata kelola

dan peningkatan kualitas produk yang dilakukan oleh pt kelola mina laut kendari

itu sendiri sehingga menjadikan perusahaan cabang di bidang perikanan tersebut

diakui lebih baik dalam mengelola kualitas produknya.

Yang kedua yaitu penulis tertarik mengambil judul ini karena perusahaan

yang dipilih untuk melakukan penelitian merupakan perusahaan yang belum

pernah
1.2 PERUMUSAN MASALAH

Fokus utama permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana proses tata

kelola (Upgrading) pelaku Industri perikanan dalam Peningkatan(Upgrading)

kualitas produksi hasil laut PT Kelola Mina Laut Kendari? Rumusan masalah ini

kemudian dijabarkan dalam beberapa sub pertanyaan yang berkaitan dengan

Global Value Chain atau Analisis rantai nilai global industri perikanan PT Kelola

Mina Laut Kendari.

1. Bagimana Governance PT Kelola Mina Laut Kendari?

2. Bagaimana Upgrading PT Kelola Mina Laut Kendari sebagai salah

satu Industri Perikanan Unggulan?

1.3 TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

1.3.1 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah

1. Mengetahui proses tata kelola (Governance) dalam mengelola dan

mengembangkan industri perikanan PT KML Kendari mulai dari

hubungan yang terbentuk, mekanisme koordinasi yang terjadi, standar

regulasi atau peraturan yang ditetapkan serta dampaknya terhadap

pelaku dalam rantai nilai global.

2. Mengetahui cara meningkatkan kualitas (Upgrading) produk PT KML

Kendari
1.3.2 Manfaat Penelitian

Manfaaat Penelitian Dalam penelitian ini di harapkan akan memberikan

manfaat baik secara praktis maupun akademis, sebagai berikut :

1.3.2.1 Manfaat Praktis

Bagi pihak yang terkait dalam penelitian ini, dapat mengembangkan

pengetahuan mengenai proses pengolahan bahan mentah dalam perusahaan pt

kelola mina laut kendari, serta dapat memberikan pengetahuan mengenai hal

pengimplementasian proses upgrading dan governance dalam sebuah perusahaan.

1.3.2.2 Manfaat Akademis

Secara akademis di harapkan penelitian ini dapat memberikan manfaat

diantaranya :

1) Bagi pengembangan ilmu pengetahuan,dapat memberikan suatu

karya peneliti baru yang dapat mendukung dalam pengembangan

sistem informasi.

2) Bagi peneliti dapat menambah wawasan dengan mengaplikasikan

ilmu yang telah diperoleh secara teori di lapangan.

3) Bagi peneliti lain dapat dijadikan sebagai acuan terhadap

pengembangan ataupun pembuatan dalam penelitian yang sama.


1.4 Sistematika Penulisan

Pada BAB I penulis menjelaskan latar belakang masalah judul,

rumusan masalah, tujuan penelitian dan manfaat praktis dan akademis dari

penelitian.

Pada BAB II penulis akan menjelaskan analisis serta

mendeskripsikan mengenai tinjauan pustaka, alur pemikiran serta

penelitian terdahulu.

Pada BAB III penulis akan menjelaskan mengenai metode

penelitian yang terdiri dari jenis penelitian, batasan materi dan batasan

waktu, metode penelitian, tingkat analisa data, tejnik pengumpulan data,

dan teknik analisa data.

Pada BAB IV penulis akan menjelaskan mengenai gambaran

umum PT Kelola Mina Laut Kendari dan menjelaskan mengenai pasar

internasional

Pada BAB V penulis menjelaskan serta menganalisis mengenai

jawaban dari perumusan masalah dari judul tersebut yaitu mengenai proses

tata kelola atau Governance dari PT Kelola Mina Laut Kendari dan

menjelaskan mengenai proses peningkatan kualitas produk atau Upgrading

dari PT Kelola Mina Laut Kendari.

Pada BAB VI adalah bagian penutup dimana penulis memaparkan

kesimpulan dan saran dari hasil penelitian


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 KERANGKA TEORITIS

2.1.1 Konsep Global Value Chain

Konsep global value mengidentifikasikan bahwa sistem produksi sebuah

barang atau jasa telah mengglobal dimana pada tahun 1950an dan 1960an proses

manufaktur terjadi disatu lokasi saja, namun pada tahun 1970an, perusahaan

multinational (MNCs) mulai memindahkan lokasi dari manufakturnya yang

membutuhkan banyak buruh di negara-negara berkembang sebagai bagian dari

restrukturisasi global dan rasionalisasi dari operasi mereka.5

Dua konsep kunci yang terdapat dari global value chain yakni konsep

governance (tata kelola) dan upgrading (pengingkatan kualitas produk) dapat

memberikan sebuah kerangka yang pragmatis atau bersifat praktis dan berguna

untuk mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan mengenai dinamika

perekonomian dari industri-industri terkait.6

Kerangka analisa Global Value Chain (GVC) menggambarkan rangkaian

panjang aktivitas yang diperlukan untuk membawa suatu produk atau jasa dari

5
D. McCormick dan H. Schmitz, 2001, Manual For Value Chain Research On Homeworkes In
The Garment Industry, p. 18

6
T. Sturgeon, J.V. Biesebroeck Dan G. Gereffi, Value Chains, Network And Clusters: Reframing
The Global Automotive Industry, Mit Ipc
konsepsi, melalui fase-fase produksi yang berbeda-beda (yakni melibatkan suatu

kombinasi antara transformasi fisik dan input dari produsen-produsen yang

beragam), sampai kepada konsumen akhir dan proses pembuangan setelah

digunakan (Kaplinsky & Morris, 2000). Pemetaan rantai nilai dalam aktivitas

produksi didasari oleh supply chain dan interaksi antar aktor yang memegang

kepentingan di dalamnya yang pada akhirnya akan diidentifikasi keunggulan

kompetitif dan keunggulan komperatif. Nilai tambah atau value added dalam

GVC merupakan sebuah pemahaman hakikat perubahan industri dan perdagangan

internasional oleh para pengkaji bisnis internasional yang memusatkan perhatian

kepada strategi negara dan perusahaan-perusahaan dalam ekonomi global. GVC

berposisi untuk memahami dinamika globalisasi yang membuat kajian GVC

menjadi alat bagi para pemegang kepentingan untuk mengidentifikasi kebijakan

yang dirasa tepat sebagai sebuah respon yang efektif.7

Selain bersifat pragmatis, Rantai nilai global telah menjadi fitur dominan

dalam perdagangan dunia, mencakup negara berkembang dan negara maju.

Seluruh proses memproduksi barang, mulai dari bahan mentah hingga produk

jadi, semakin banyak dilakukan di mana pun keterampilan dan bahan yang

diperlukan tersedia dengan biaya dan kualitas yang kompetitif.

Demikian pula pada kegiatan perusahaan industri perikanan pt kelola

mina laut dalam meningkatkan tata kelola dan peningkatan kualitas produk sangat

7
Raphael Kaplinsky & Mike Morris, A Handbook for Value Chain Research, hal. 4
penting untuk memfungsikan GVC secara efisien, tidak hanya karena kegiatan

layanan tautan lintas negara tetapi juga karena mereka membantu perusahaan

untuk meningkatkan nilai produk mereka sehingga kualitas produk yang dimiliki

dapat di akui baik oleh pasar internasional dan negara-negara pengekspor.

Penelitian ini akan memfokuskan pada kemampuan analisis global value

chain pada konsep governance dan upgrading untuk menjelaskan lebih rinci

mengenai bagaimana tata kelola dan meningkatkan kualitas produk bahan mentah

menjadi bahan jadi yang memiliki kualitas dan rantai nilai yang di anggap baik

oleh pasar internasional maupun pada konsumen langsung.

2.1.2 Teori Governance ( Tata kelola)

Menurut Kaplinsky dan Moris, tata kelola merupakan inti dari pendekatan

rantai nilai global atau Global value Chain (GVC). Menurut mereka, analisis

rantai nilai tata kelola (Governance) sejatinya digunakan untuk mencari tahu

bagaimana aturan yang bekerja dalam nilai, sistem koordinasi, Regulasi dan

kendali yang berjalan saat terbentuknya nilai dalam suatu rantai tata kelola

mengacu pada aturan dengan output serta berbagai syarat penting untuk

berkompetensi dalam industri yang mempengaruhi struktur produksi.8 Kaplinsky

dan Morris sepakat dengan gereffi bahwa tata kelola merupakan interaksi antara

para pelaku dalam rantai nilai industri, Interaksi antar pelaku tersebut merupakan

8
Raphael Kaplinsky and Mike Morris, 2001. A
HandbookForValueCahinResearchBrighton,United Kingdom, Institute Of Development
Studies,UniversityOfSussex
interaksi yang terstruktur dan terorganisasi dalam sistem yang memungkinkan

industri atau perusahaan dalam memenuhi persyaratan spesifik dari segi produk,

proses dan logistik dalam memberikan layanan kepada pelanggan akhir.

Dalam menentukan dan memahami struktur tata kelola Greffi dan

Humphrey terdapat tiga variabel penting yang digunakan untuk mengukur dan

menentukan struktur tata kelola yakni kompleksitas informasi antara pelaku dalam

rantai, kodifikasi Informasi untuk produk, dan tingkat kompetisi pemasok.9

Komponen Governance, dalam hal ini merupakan pola hubungan yang

terjadi dalam proses kemajuan industri perikanan PT Kelola Mina Laut yang ada

di Kendari. Yang menjadi proses terlaksananya tata kelola atau governance dalam

perusahaan ini adalah pada bagian penjaminan mutu pada bahan mentah yang di

produksi hingga proses pemasaran dengan hasil produk yang berkualitas, dengan

melakukan interaksi atau kerjasama dengan pihak atau perusahaan lain baik secara

formal maupun non formal dalam hal memperoleh bahan baku, produksi dan

proses distribusi dalam hal produksi Pt kelola Mina Laut Kendari berusaha agar

produk yang dihasilkan merupakan produk dengan kualitas terbaik. Untuk

menciptakan produk dengan kualitas terbaik bagaimana perusahaan ini

menentukan stategi agar proses produksi dapat berjalan dengan baik dan sampai

ke tangan konsumen dalam bentuk produk terbaik yang mampu memberi

kepuasan tersendiri kepada konsumen dengan menentukan tata kelola dalam

9
Gerard Gereffi & John Humphrey, 2005. The Governance Of Global Value Cahins Revies f
International Political Economic, Routledge Publications
setiap proses produksi hasil laut. Sama halnya yang dijelaskan oleh Greffy dan

Humprey dalam menentukan struktur tata kelola (Governance) dalam sebuah

rantai nilai global dibutuhkan kompleksitas Informasi antar pelaku dalam rantai

nilai, dimana setiap aktor berkomunikasi dan bekerja sama untuk menciptakan

produk berkualitas. Kompleksitas informasi ini juga dilakukan oleh PT kelola

Mina Laut dengan menjalin hubungan dan interaksi bersama perusahaan-

perusahan atau industri yang berkaitan dengan proses produksi dan proses

pemasaran produk yang dikelola.

Ada lima struktur governance dalam GVC

 Market: involves transactions that are relatively simple

 Modular: occurs when complex transactions are relatively easy to codify

 Relational: occurs when buyers and sellers rely on complex information

that is not easily transmitted or learned

 Captive: occurs when small suppliers are dependent on one or a few

buyers that often wield a great deal of power

 Hierarchy: characterized by vertical integration and managerial control

within lead firms that develop and manufacture products in-house.10

10
Gereffi, G., J. Humprey and T. Sturgeon, 2003. The Governance Of Global Value Chains, Review
Of International Political Economy
2.1.3 Teori Peningkatan (Upgrading)

Upgrading merupakan komponen yang sangat substansial dalam GVC.

Upgrading diartikan sebagai kemampuan produsen untuk melaksanakan inovasi

yang bertujuan untuk meningkatkan dan menguatkan daya saing di pasar global.11

Upgrading dilakukan untuk memperbaiki kualitas sebuah produk dan

mengubah proses produksi menjadi lebih efisien. Menurut Gerrefi, agar lebih

mudah menganalisis upgrading dalam value chain maka dapat dilakukan

klasifikasi dalam 4 tipe upgrading: 12

1. Product Upgrading, dilakukan dengan mengenalkan produk baru atau

memperbaharui produk lama tentunya agar dapat bersaing dengan

kompetitor. Aktifitas ini juga mencakup proses pengembangan produk

baik dalam jaringan individu dalam rantai nilai dan hubungan antara

jaringan rantai yang berbeda.

2. Process upgrading, meningkatkan efisiensi di dalam proses internal dan

tentunya memiliki keunggulan dari rival-nya. Dilakukan dalam jaringan

individu dalam rantai (contohnya, meningkatkan jasa persediaan,

menekan pembatalan) dan di antara jaringan dalam rantai (contohnya,

11
Raphael Kaplinsky and Mike Morris(2000) A Handbook for Value Chain Research

12
Gereffi, G. (1999) International Trade and Industrial Upgrading in the Apparel Commodity
Chain, Journal of Interbational Economics, Vol.48 , No. 1, pp 37-70
pengiriman yang lebih sering dan tepat waktu).

3. Functional upgrading, meningkatkan value added (nilai tambah) dengan

cara mengubah cara kelola aktifitas dalam perusahaan (tanggung jawab

perusahaan, proses akunting, hal yang terkait ketenagakerjaan, logistik,

dan quality functions) atau mengubah aktifitas perusahaan ke dalam

jaringan yg berbeda dalam sebuah rantai (dari manufaktur ke desain),

biasanya dilakukan dengan mengakuisisi kegunaan baru yang lebih

unggul dalam rantai seperti desain atau pemasaran.

4. Chain upgrading, merupakan upaya meningkatkan kompetisi dengan

membuat rantai baru. Misalnya, perusahaan-perusahaan Taiwan yang

beralih dari manufaktur transistor radio ke kalkulator hingga tablet.

Proses peningkatan kualitas dan peningkatan kualitas produk PT kelola

Mina Laut lebih menekankan pada Alat dan teknologi yang digunakan untuk lebih

meningkatkan kualitas produk. Peningkatan Proses dan kualitas produk PT Kelola

Mina laut dimulai dari memperoleh bahan baku yang bersumber dari berbagai

wilayah di sulawesi tenggara dengan mekanisme alat yang digunakan oleh

Nelayan, sebagai sumber mendapatkan bahan baku, pengolahan bahan baku atau

hasil laut serta pengemasan produk dengan menggunakan teknologi canggih dan

peningkatan efisiensi produk. Proses Ugrading tersebut dilakukan untuk

menciptakan nilai tambah dan menghasilkan produk dengan kualitas terbaik

sampai ketangan konsumen.


2.2 Penelitian Terdahulu

Dalam penelitian ini, penulis mengambil beberapa rujukan penelitian

terdahulu agar dapat membedakan penelitian sebelumnya dengan penelitian ini.

Berikut beberapa penelitian terdahulu yang penulis gunakan.

Yang pertama, Penelitian Liana Mangifera (2015) dalam jurnal yang

berjudul “Analisis Rantai Nilai ( Value Chain ) Pada Produk Batik Tulis Di

Surakarta” penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aktivitas rantai nilai pada

produk batik di Kampung Batik Laweyan Surakarta, untuk menentukan dan

mengidentifikasi setiap kegiatan dari produk batik tulis yang memiliki nilai

tambah ekonomi tertinggi di Kampung Batik Laweyan Surakarta, sehingga

mampu meningkatkan keunggulan kompetitif. Penelitian ini menggunakan

metode pendekatan campuran, yaitu kombinasi pendekatan kualitatif dan

kuantitatif. Pendekatan kualitatif yang digunakan adalah analisis konten

konvensional. Proses analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah

untuk menganalisis isi wawancara dan kuesioner. Metode analisis data digunakan

dalam hal ini penelitian adalah statistik deskriptif dan Analisis Konten.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa yang utama kegiatan rantai nilai

pada produk batik tulis di Kampung Batik Laweyan Surakarta termasuk: (1)

Pembelian bahan baku dan peralatan utama seperti kain, lilin, pewarna, dan

peralatan. (2) Proses produksi, termasuk membuat motif, membuat pola kain, pola

tebal menggunakan "canting", mewarnai, mencuci kain, menumpahkan lilin

mencelupkan ke dalam air panas, mengeringkan kain hingga kering dan


menampilkan kain batik, (3) Penjualan produk. Menjual batik biasanya melalui

grosir baik domestik maupun luar negeri, ritel dan konsumen akhir. Sedangkan

aktivitas utama dari produk batik tulis yang memiliki tertinggi nilai tambah

ekonomis di Kampung Batik Laweyan adalah pemasaran dan penjualan.13

Perbandingan antara penelitian Liana Mangifera (2015) dengan penelitian

penulis sekarang yaitu pada penelitian liana mangifera menggunakan metode

pendekatan campuran, yaitu kombinasi pendekatan kualitatif dan kuantitatif.

Pendekatan kualitatif yang digunakan adalah analisis konten konvensional.

Sedangkan pada penelitian penulis menggunakan metode atau pendekatan

kualitatif deskriptif yang hanya menjelaskan serta menganalisis data-data dari

sumber data wawancara dan data sekunder yang di dapat dari internet sehingga

mampu menjawab rumusan masalah judul. Pada penelitian liana mangifera fokus

membahas kegiatan rantai nilai saja yang hanya memiliki tiga tahap yakni tahap

pembelian bahan baku, tahap produksi, dan tahap penjualan. Sedangkan pada

penelitian sekarang fokus membahas rantai nilai global dengan menggunakan

konsep global value chain, governance dan upgrading di perusahaan pt kelola

mina laut cabang kendari, dan memiliki 4 tahap yakni, tahap penyediaan, tahap

pengolahan, tahap distribusi I (distribusi ke perusahaan pusat) , dan tahap

distrubusi II (ekspor).

13
Liana Mangifera, “ANALISIS RANTAI NILAI ( VALUE CHAIN ) PADA PRODUK BATIK
TULIS DI SURAKARTA” , BENEFIT Jurnal Manajemen dan Bisnis, Volume 19, Nomor 1, Juni
2015, hlm 24-33. Diakses tanggal 26 Oktober 2018
Penelitian kedua, penelitian Andhi Susanto (2014) Universitas Gadjah

Mada, dalam penelitian skripsinya yang berjudul “Strategi Industri

Semikonduktor Taiwan dalam Global Value Chains”. Hasil dari penelitian ini

yaitu Taiwan menerapkan strategi second mover atau subkontrak untuk memasuki

global value chain industri semikonduktor dalam industri yang berteknologi

tinggi. Dengan penguasaan teknologi tinggi yang cukup terbatas, perusahaan di

Taiwan memasuki pasar saat produksi sudah terlanjur matang, sehingga untuk

memperoleh keuntungan perusahaan tersebut harus melakukan efisiensi dan

memproduksi manufaktur dengan harga yang murah serta mempersingkat waktu

pengiriman barang.

Perusahaan-perusahaan tersebut kebanyakan akan bergantung pada teknisi

lokal yang terlatih serta insinyur yang baru kembali dari program pelatihan di luar

negeri, terutama Amerika Serikat. Dukungan sistem pendidikan dan akkumulasi

pengalaman insinyur manufaktur yang telah dilatih di perusahaan dari Amerika

Serikat serta peluang yang sangat terbuka dalam jejaring produksi lokal maupun

global sangat mendukung kemunculan perusahaan manufaktur tersebut. Selain

faktor di atas, peran pemerintah Taiwan dalam menyediakan sarana dan prasarana

serta kebijakan industri yang sangat supportif terhadap perusahaan semikonduktor

domestik menjadi faktor yang sangat penting untuk menciptakan kondisi yang

tepat serta mendorong terbangun institusi perusahaan semikonduktor yang kokoh.

Sehingga akibatnya, para pemain utama dalam industri teknologi semikonduktor

maupun teknologi tinggi merupakan perusahaan yang dimiliki oleh negara, bukan

perusahaan asing. Pun demikian perusahaan tersebut mampu menguasai sebagian


besar pangsa pasar mendunia dari barang semikonduktor berteknologi tinggi yang

dihasilkan oleh Taiwan.

Secara global pangsa pasar yang diraup mencapai 13% pada tahun 1990

dan 34% pada tahun 2004. Posisi ini merupakan urutan keempat setelah Amerika

Serikat, Jepang dan China.49 Keberhasilan ekspor yang luar biasa ini menunjukan

strategi Taiwan yang sukses dalam mengembangkan upgrading industri berbasis

transformasi latecomer. Taiwan melalui strategi OEM/ODM telah mampu masuk

ke dalam rantai global industri semikonduktor. Sebagai latecomer yang terlambat

bergabung dalam industri tersebut Taiwan sangat berhasil memperoleh tempat

yang teratas untuk 49 Chowdurry, Anis et.all, Handbook on the Northeast and

Southeast Asia, p.66 47 mengembangkan produk dari industri semikonduktor

tanpa membuat negara-negara lainya yang telah lebih dulu masuk ke dalam

industri tersebut menjadi terancam. Dengan memanfaatkan kondisi pasar dan

intervensi pemerintah yang dinamis Taiwan berhasil mencapai kondisi yang tidak

semua negara bisa melakukan stategi ini.


Hal ini sangat cocok jika disebut dengan miracle of Asia. Global Value

Chain dimanfaatkan secara cerdik oleh pemerintah Taiwan untuk mengais

keuntungan yang semaksimal mungkin guna memperoleh leverage, linkage dan

learning untuk pengembangan industri semikonduktor secara besar-besaran.14

Yang ke tiga, penelitian Yudha Hadian Nur dan Zamroni Salim. Peneliti,

Pusat Kebijakan Perdagangan Dalam Negeri, Badan Pengkajian Dan

Pengembangan Kebijakan Perdagangan, Kementerian Perdagangan. Dengan

jurnal yang berjudul “Daya Saing Tembakau Virginia Lokal: Analisis Rantai

Nilai”. Analisis deskriptif kuantitatif digunakan untuk menganalisis tingkat daya

saing tembakau Virginia Indonesia di pasar dalam negeri dengan mendasarkan

pada data kuantitatif yang ada. Metode analisis yang dipakai dalam penelitian ini

adalah Value Chain Analisis (VCA) dengan mendasarkan daya saing

(competitiveness) pada dua aspek yaitu cost based dan quality based

competitiveness.

Value Chain (VA) didefinisikan sebagai keterkaitan sejumlah kegiatan

yang menciptakan nilai (value-creation) dalam berbagai bentuknya mulai dari

sumber awal (raw material) sampai dengan terbentuknya barang akhir dan

terkirimnya barang sampai ke tangan konsumen akhir (Dekker, 2003). Sedangkan

Value Chain Analysis (VCA) sebagai suatu teknik analisis yang melakukan

dekonstruksi terhadap tahapan-tahapan terbentuknya produk dari awal

Andhi Susanto. 2014. “Strategi Industri Semikonduktor Taiwan Dalam Global Value Chain”.
14

Universitas Gadjah Mada


produksinya sampai ke penjualan akhir (Rieple dan Singh, 2010). VCA ini

dilakukan untuk mengetahui keterkaitan yang ada dalam rantai nilai (value chain)

produksi dan untuk membangun strategi peningkatan daya saing melalui beberapa

pilihan/ scenario.

Hasil dari penelitian ini yaitu bahwa daya saing tembakau ditentukan oleh

harga yang kompetitif (lebih rendahnya harga), kualitas, pasokan yang stabil dan

terus menerus (sesuai kebutuhan perusahaan penggunanya/pabrik rokok). Selama

ini sumber perolehan tembakau Virginia berasal dari petani namun hanya mampu

memenuhi sekitar 50% kebutuhan dalam negeri; sehingga impor menjadi hal yang

tidak bisa dihindari. Pola distribusi tembakau dengan rantai nilai yang panjang

(tembakau dari petani swadaya dijual kepada pengumpul, kemudian dijual kepada

pedagang dan seterusnya sampai ke perusahaan/pabrik rokok) akan cenderung

mengurangi daya saing tembakau virginia ketika berhadapan dengan tembakau

impor yang lebih murah. Kombinasi harga dan kualitas yang baik menentukan

daya saing tembakau tersebut di pasar domestik. Berbagai kendala yang muncul

terkait dengan upaya peningkatan daya saing adalah cukup besarnya impor

tembakau virginia. Namun yang juga harus diperhatikan adalah bahwa produsen

dalam negeri juga harus bisa terus meningkatkan kualitas tembakau yang

dihasilkannya dan juga kontinyuitas pasokan tembakau. Kedua hal tersebut

menjadi pertimbangan utama perusahaan rokok untuk tetap melihat tembakau

impor sebagai salah satu sumber bahan baku yang tidak bisa ditinggalkan.
Yang ke empat, penelitian Rifani Agnes Eka Wahyuni (2017)

Universitas Gadjah Mada. Yang berjudul “Posisi Vietnam dalam Rantai Nilai

Global Samsung Elektronik”. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode

penelitian kualitatif, proses penelitian ini juga melibatkan pengumpulan data yang

spesifik serta analisis induktif mulai dari tema-tema yang khusus ke tema-tema

umum menggunakan seperangkat metode seperti wawancara, focus group

discussions, observasi, analisis isi, metode visual, sejarah hidup atau biografi.

Dalam skripsi ini peneliti menggunakan studi kepustakaan dengan sumber data

sekunder. Dalam penelitian ini, penulis mengumpulkan data terkait dengan

perkembangan rantai nilai Samsung di Vietnam serta kebijakan atau upaya

Pemerintah Vietnam maupun Korea Selatan yang dapat mendukung sebuah

Global Value Chain (GVC) Samsung dari tahun 2008 hingga 2016 dan faktor-

faktor terkait kondisi keamanan serta sosial dan budaya yang mempengaruhi

proses pengembangan GVC Samsung di Vietnam.

Hasil dari penelitian ini yaitu posisi Vietnam dalam rantai nilai Samsung

dari sudut pandang Governance of Global Value Chain, yang dalam peran nya

Samsung sebagai MNC yang memikirkan perlunya sistem produksi baru untuk

mengatasi konvergensi teknologi dan perubahan kebutuhan pelanggan dengan

melakukan pengembangan rantai nilai guna memenuhi kepentingan permintaan

pasar dunia akan produksi barang elektronika terutama smartphone dengan

meningkatkan daya saing manufaktur. Dalam hal ini rantai nilainya tersebar di

berbagai belahan dunia dengan fungsi masing-masing untuk menghasilkan suatu

produk akhir dalam kasus ini smartphone yang salah satu pusat produksi terdapat
di Vietnam yakni SEV dan SEVT yang berperan sebagai pusat maunfaktur

smartphone. Sebagai MNC yang bertipe producer driven value chain, Samsung

dalam menjalankan rantai nilainya di Vietnam melakukan integrasi vertikal

kepada perusahaan yang tergabung dalam rantai nilainya sebagai upaya

mempercepat pengembangan produk baru, dengan memperkuat daya saing

keseluruhan ekosistem melalui pelatihan untuk memenuhi standarisasi nilai untuk

memproduksi produk akhir melalui saran teknologi dan manajemen kepada

subkontraktor. Untuk memenuhi kebutuhan ini, Samsung telah menciptakan

ekosistem inovasi yang cepat melalui kerja sama yang erat dengan sekitar 29

pemasok utama atau yang dikenal dengan pemasok tingkat pertama dan 178

pemasok tingkat dua sebagai mitra pemasok strategis.

Keefektifan kemitraan Samsung Elektronik dan Vietnam dalam rantai nilai

globalnya dengan memeriksa karakteristik strategi kemitraan pemasok dan proses

strategi evolusinya, yang memainkan peran penting berjalannya sistem ini yang

pada ada saat bersamaan, integrasi vertikal Samsung Elektronik memastikan

pasokan komponen dan bahan yang stabil dan sumber permintaan yang stabil,

memungkinkannya untuk menetapkan kondisi yang menarik bagi pelanggan

terbesarnya, sekaligus meningkatkan daya tawarnya strategi kemitraan

pemasoknya. Sedangkan bagi Vietnam Sistem produksi unik ini menciptakan

peluang meningkatnya perekonomian Vietnam.15

15
Rifani Agnes Eka Wahyuni. 2017. “Posisi Vietnam Dalam Rantai Nilai Global Samsung
Elektronik”. Universitas Gadjah Mada
Yang ke lima, Shylvia Windary (2017) “Analisis Starbucks Corporation

Melalui Pendekatan Global Value Chains” Peneliti Hubungan Internasional

Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Pasundan Bandung. Dalam

jurnal penelitiannya penulis menggunakan metode penelitian kualitatif sehingga

mendeskripsikan permasalahan judul berdasarkan data-data sekunder untuk

menganalisis starbucks corporations melalui pendekatan global value chains.

Penulis juga menggunakan konsep global value chains beserta konsep dan teori

upgrading dan rent.

Hasil penelitiannya, dengan melihat mata rantai dari perusahaan starbuck

penulis berharap memberikan kontribusi yang besar bagi perkembangan kopi di

indonesia. Dimana indonesia merupakan salah satu produsen kopi terbesar di

dunia. Untuk memenuhi tujuan itu, penulis mengusulkan untuk mengintegrasikan

;iteratur penelitian utama yakni global value chain (GVC) dimana adanya peran

pemerintah yang ikut andil dalam kegiatan perekonomian perusahaan.

Pendekatan GVC melalui perusahaan starbucks memfokuskan pada

penciptaan, distribusi dan kontrol dalam jaringan transnasional. Memperpanjang

rantai nilai dari eksploitasi bahan baku biji kopi, pengolahan menjadi bubuk kopi,

melalui berbagai tahap perdagangan, jasa dan proses manufaktur untuk di

konsumsi di gerai-gerai starbucks dan pembuangan limbah. Secara keseluruhan

pendekatan GVC yang di hubungkan dengan perusahaan starbuck didasarkan

pada analisis ekonomi politik yang memfokuskan pada sistem penciptaan nilai

yang di gunakan oleh perusahaan dan agen lainnya. Dinamika rantai nilai
ditentukan oleh struktur input-output dari geografis, kerangka kelembagaan

starbucks dan sosial politik serta pemerintah dalam sturktur kontrol, dimana tanpa

pemerintahan hanya akan menjadi serangkaian kegiatan pasar.16

Ada beberapa perbedaan antara kelima penelitian terdahulu dengan

penelitian yang penulis teliti yakni perbedaan perusahaan yang di teliti, perbedaan

teori dan konsep, serta perbedaan

Tabel 2.3 Matriks Penelitian Terdahulu

Nama Peneliti Dan


NO Teori/ Konsep Hasil Penelitian
Judul Penelitian
1. Liana Mangifera Konsep Rantai Hasil penelitian menunjukkan
“Analisis Rantai Nilai Dan bahwa yang utama kegiatan rantai
Nilai ( Value Chain Value Added nilai pada produk batik tulis di
) Pada Produk Batik Kampung Batik Laweyan
Tulis Di Surakarta. Surakarta termasuk: (1) Pembelian
Tahun 2015 bahan baku dan peralatan utama
seperti kain, lilin, pewarna, dan
peralatan. (2) Proses produksi,
termasuk membuat motif, membuat
pola kain, pola tebal menggunakan
"canting", mewarnai, mencuci

16
Shylvia Windary “Analisis Starbucks Corporation Melalui Pendekatan Global Value Chain”.
Jurnal Westphalia. VOL. 16 NO. 1 (Januari-Juni 2017) Di Akses Pada Tanggal 20 November
2018
kain, menumpahkan lilin
mencelupkan ke dalam air panas,
mengeringkan kain hingga kering
dan menampilkan kain batik, (3)
Penjualan produk. Menjual batik
biasanya melalui grosir baik
domestik maupun luar negeri, ritel
dan konsumen akhir. Sedangkan
aktivitas utama dari produk batik
tulis yang memiliki tertinggi nilai
tambah ekonomis di Kampung
Batik Laweyan adalah pemasaran
dan penjualan.
2. Hasil dari penelitian ini
yaitu Taiwan menerapkan strategi
second mover atau subkontrak
untuk memasuki global value chain
Andhi Susanto
industri semikonduktor dalam
(2014) Universitas
industri yang berteknologi tinggi.
Gadjah Mada, dalam
Konsep Global Dengan penguasaan teknologi
penelitian skripsinya
Value Chain, tinggi yang cukup terbatas,
yang berjudul
Upgrading, perusahaan di Taiwan memasuki
“Strategi Industri
Dan pasar saat produksi sudah terlanjur
Semikonduktor
Governance matang, sehingga untuk
Taiwan dalam
memperoleh keuntungan
Global Value
perusahaan tersebut harus
Chains
melakukan efisiensi dan
memproduksi manufaktur dengan
harga yang murah serta
mempersingkat waktu pengiriman
barang.

Perusahaan-perusahaan
tersebut kebanyakan akan
bergantung pada teknisi lokal yang
terlatih serta insinyur yang baru
kembali dari program pelatihan di
luar negeri, terutama Amerika
Serikat. Dukungan sistem
pendidikan dan akkumulasi
pengalaman insinyur manufaktur
yang telah dilatih di perusahaan
dari Amerika Serikat serta peluang
yang sangat terbuka dalam jejaring
produksi lokal maupun global
sangat mendukung kemunculan
perusahaan manufaktur tersebut.
Selain faktor di atas, peran
pemerintah Taiwan dalam
menyediakan sarana dan prasarana
serta kebijakan industri yang
sangat supportif terhadap
perusahaan semikonduktor
domestik menjadi faktor yang
sangat penting untuk menciptakan
kondisi yang tepat serta mendorong
terbangun institusi perusahaan
semikonduktor yang kokoh.
Sehingga akibatnya, para pemain
utama dalam industri teknologi
semikonduktor maupun teknologi
tinggi merupakan perusahaan yang
dimiliki oleh negara, bukan
perusahaan asing. Pun demikian
perusahaan tersebut mampu
menguasai sebagian besar pangsa
pasar mendunia dari barang
semikonduktor berteknologi tinggi
yang dihasilkan oleh Taiwan.
3. Hasil dari penelitian ini
yaitu bahwa daya saing tembakau
ditentukan oleh harga yang
kompetitif (lebih rendahnya harga),
kualitas, pasokan yang stabil dan
terus menerus (sesuai kebutuhan
perusahaan penggunanya/pabrik
rokok). Selama ini sumber
perolehan tembakau Virginia
Yudha Hadian Nur
berasal dari petani namun hanya
dan Zamroni Salim
VCA (Value mampu memenuhi sekitar 50%
“Daya Saing
Chain kebutuhan dalam negeri; sehingga
Tembakau Virginia
Analysis) impor menjadi hal yang tidak bisa
Lokal: Analisis
dihindari. Pola distribusi tembakau
Rantai Nilai”
dengan rantai nilai yang panjang
(tembakau dari petani swadaya
dijual kepada pengumpul,
kemudian dijual kepada pedagang
dan seterusnya sampai ke
perusahaan/pabrik rokok) akan
cenderung mengurangi daya saing
tembakau virginia ketika
berhadapan dengan tembakau
impor yang lebih murah.
Kombinasi harga dan kualitas yang
baik menentukan daya saing
tembakau tersebut di pasar
domestik. Berbagai kendala yang
muncul terkait dengan upaya
peningkatan daya saing adalah
cukup besarnya impor tembakau
virginia. Namun yang juga harus
diperhatikan adalah bahwa
produsen dalam negeri juga harus
bisa terus meningkatkan kualitas
tembakau yang dihasilkannya dan
juga kontinyuitas pasokan
tembakau. Kedua hal tersebut
menjadi pertimbangan utama
perusahaan rokok untuk tetap
melihat tembakau impor sebagai
salah satu sumber bahan baku yang
tidak bisa ditinggalkan.
4. Hasil dari penelitian ini yaitu posisi
Rifani Agnes Eka Vietnam dalam rantai nilai
Multi National
Wahyuni (2017) Samsung dari sudut pandang
Corportion
Universitas Gadjah Governance of Global Value
(MNC), Global
Mada. Yang Chain, yang dalam peran nya
Value Chain
berjudul “Posisi Samsung sebagai MNC yang
(GVC),
Vietnam dalam memikirkan perlunya sistem
Governance Of
Rantai Nilai Global produksi baru untuk mengatasi
Global Value
Samsung konvergensi teknologi dan
Chain
Elektronik” perubahan kebutuhan pelanggan
dengan melakukan pengembangan
rantai nilai guna memenuhi
kepentingan permintaan pasar
dunia akan produksi barang
elektronika terutama smartphone
dengan meningkatkan daya saing
manufaktur. Dalam hal ini rantai
nilainya tersebar di berbagai
belahan dunia dengan fungsi
masing-masing untuk
menghasilkan suatu produk akhir
dalam kasus ini smartphone yang
salah satu pusat produksi terdapat
di Vietnam yakni SEV dan SEVT
yang berperan sebagai pusat
maunfaktur smartphone. Sebagai
MNC yang bertipe producer driven
value chain, Samsung dalam
menjalankan rantai nilainya di
Vietnam melakukan integrasi
vertikal kepada perusahaan yang
tergabung dalam rantai nilainya
sebagai upaya mempercepat
pengembangan produk baru,
dengan memperkuat daya saing
keseluruhan ekosistem melalui
pelatihan untuk memenuhi
standarisasi nilai untuk
memproduksi produk akhir melalui
saran teknologi dan manajemen
kepada subkontraktor.
5. Pendekatan GVC melalui
perusahaan starbucks
memfokuskan pada penciptaan,
distribusi dan kontrol dalam
jaringan transnasional.
Memperpanjang rantai nilai dari
eksploitasi bahan baku biji kopi,
pengolahan menjadi bubuk kopi,
Shylvia Windary melalui berbagai tahap
(2017) “Analisis perdagangan, jasa dan proses
Starbucks manufaktur untuk di konsumsi di
Corporation Melalui gerai-gerai starbucks dan
Pendekatan Global pembuangan limbah. Secara
GVC :
Value Chains” keseluruhan pendekatan GVC yang
Upgrading dan
Peneliti Hubungan di hubungkan dengan perusahaan
Rent
Internasional starbuck didasarkan pada analisis
Fakultas Ilmu Sosial ekonomi politik yang
Dan Ilmu Politik memfokuskan pada sistem
Universitas penciptaan nilai yang di gunakan
Pasundan Bandung oleh perusahaan dan agen lainnya.
Dinamika rantai nilai ditentukan
oleh struktur input-output dari
geografis, kerangka kelembagaan
starbucks dan sosial politik serta
pemerintah dalam sturktur kontrol,
dimana tanpa pemerintahan hanya
akan menjadi serangkaian kegiatan
pasar.
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis Penelitian pada penelitian ini adalah Penelitian Kualitatif. Bodgan

dan Taylor mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai penelitian yang

menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang

dan perilaku yang dapat diamati.17

3.2 Batasan Materi

Pada penulisan penelitian proposal ini penulis menjelaskan atau membahas

mengenai bagaimana tata kelola atau Governance dan peningkatan kualitas atau

upgrading pada PT Kelola Mina Laut cabang Kendari. Dalam pembahasannya

akan di jelaskan serta analisis konsep global value chain atau rantai nilai global

dalam proses pemasaran produk bahan baku pt kelola mina laut cabang kendari.

Serta menjelaskan tahap-tahap governance pada perusahaan sehingga menjadi

perusahaan perikanan yang memiliki kualitas produk terbaik serta di miniati di

pasar internasional ataupun pada konsumen langsung.

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah

17
Lexy J.Moleong, Metodologi Penelitian kualitatif, (Bandung,: remaja Rosdakarya, 2002) hlm. 9
1. Observasi

Observasi yaitu melakukan pengamatan langsung ke lokasi penelitian

untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang Industri pengelolaaan Hasil Laut

PT MINA LAUT KENDARI. Peneliti melakukan pengamatan lansung di lokasi

yaitu mengumpulkan data dengan berpedoman pada panduan observasi yang

telah disediakan dan secara langsung mengamati proses pengelolahan Hasil Laut

yang di produksi dan dikembangkan menjadi produk dengan Nilai produk yang

bertaraf Internasional serta mempunyai nilai jual yang tinggi

1. Wawancara

Wawancara merupakan kegiatan untuk memperoleh informasi dan

keterangan dengan melakukan tanya jawab secara langsung dengan Informan

yang mengetahui betul tentang Industri perikanan PT Kelola Mina Laut. Teknik

wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang sangat penting dalam

penelitian ini karena instrumen yang dipakai adalah analisis mengenai Rantai

Niali global atau Bglobal Value Chain. Analisis penelitian ini di fokuskan pada

proses tata kelola (Governance) dan upaya peningkatan kualitas (Upgrading)

Industri perikanan PT Kelola Mina Laut Kendari.

3.4 Teknik Analisa Data

Peneliti menggunakan teknik analisa data kualitatif dengan menggunakan

metode pengumpulan data yang mendukung teori-teori dan konsep kemudian

diuraikan dan dijelaskan sehingga mendapat kesimpulan.


BAB IV

GAMBARAN UMUM PT KELOLA MINA LAUT KENDARI

PT Kelola Mina Laut Kendari merupakan cabang dari PT Kelola Mina

Laut pusat yang terletak di Gresik Jawa Timur. PT Kelola Mina Laut pusat di

dirikan sejak Agustus 1994 oleh Bapak Ir. Muhammad Najikh yang merupakan

lulusan Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian

Institut Pertanian Bogor (IPB). Perusahaan ini bergerak dalam bidang pengolahan

hasil laut yang kemudian dijadikan suatu produk yang dipasarkan di pasar

domestik dan internasional yakni Jepang, Taiwan, China, Korea Selatan, Amerika

Serikat, Australia, Eropa, dan Timur Tengah. Seiring berjalannya waktu dan

meningkatnya permintaan akan produk, PT Kelola Mina laut membuka cabang

hampir di seluruh wilayah Indonesia, salah satunya berada di kota kendari. Tujuan

dari pendirian cabang di sebagian wilayah Indonesia adalah untuk memberi

kesempatan bagi daerah daerah dengan kekayaan sumber daya laut yang

melimpah untuk mengelola sumber daya laut tersebut agar bisa di jadikan produk

perikanan dengan kualitas yang baik serta mempunyai nilai jual yang tinggi dan

nilai daya saing yang kompetitif agar bisa menjadi produk unggulan di hati

konsumen dan pasar Internasional.

PT Kelola Mina Laut Kendari mulai beroperasi dan berinvestasi di

Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) sejak tahun 2007, dimana saat itu

Perusahaan ini dipimpin oleh Bapak Hj. Marsono. Bapak Hj. Marsono memimpin

PT Kelola Mina Laut dari awal berdirinya hingga tahun 2017. Pada tahun 2017
Bapak Hj. Marsono digantikan oleh Bapak Agud yang sebelumnya memiliki

jabatan Penanggung jawab unit Rajungan di PT Kelola Mina Laut pusat yang

berlokasi di Gresik Jawa Timur. Hingga saat ini Bapak Agud masih memimpin

PT Kelola Mina Laut Kendari.

PT Kelola Mina Laut Kendari terletak di kawasan Kavling S Pelabuhan

Perikanan Samudera yang beralamat di Jl.Samudera Kelurahan Puday,

Kecamatan Abeli. Sama halnya dengan perusahaan lain yang berinvestasi di

Pelabuhan perikanan Samudera, PT Kelola Mina Laut Kendari mengelolah hasil

laut seperti Ikan Tuna, Kakap Merah, Gurita, Udang, dan Rajungan yang

diperoleh dari nelayan dan mini plan yang terdapat di beberapa titik di perairan

Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah. Tak hanya itu PT Kelola Mina Laut

Kendari menyedikan fasilitas bagi penduduk lokal untuk mengelolah ikan mereka

dengan menyewa jasa pekerja perusahaan ini.

PT Kelola Mina Laut Kendari yang berdiri sejak 2007, sampai saat ini

memiliki karyawan sebanyak 110 karyawan dan sudah termasuk staff perusahaan

dan pimpinan, mayoritas karyawan perusahaan ini berasal dari penduduk lokal.

PT kelola Mina Laut kendari memiliki struktur organisasi dimana struktur

tersebut terdiri dari aktor aktor dalam perusahaan tersebut. Setiap aktor dalam

struktur tersebut mempunyai perannya masing masing dalam PT Kelola Mina

Laut
STRUKTUR CABANG PERUSAHAAN PT KELOLA MINA LAUT

PT KML Jakarta
PT KML
Pt Kelola Mina Situbondo
Laut Pusat
(Gresik)

PT KML Siduardjo PT KML Maluku

PT KML Cikande PT KML Sumenep


(Banten)

PT KML Sampang
(Jatim)
PT KML Rembang
(Jateng)

PT KML Tuban PT KML Demak PT KML PT KML PT KML


(Jatim) (Jateng) Kendari (Sultra) Makassar Surabaya
STRUKTUR ORGANISASI PT KELOLA MINA LAUT KENDARI
M. Iqbal (Man
Bisnis)

Agud Zulkarnain

(FM)

Joko M Mahbub Misbahudin (ASS Man


Sabiq (F&A Jafar (HRD)
(Man Produksi
(QA & PPIC Pengadaan
)
Hasmiati
(Admin
HRD)
Yamin Wiwik S Nadia Budi W Sukono Haerudin
Yusuf Hildawati Hestin (PJ Nur Sakir
(Spv QC
(SPV (PJ (SPV Amina Mado (PJ
(Admin Sanitasi) (SPV (SPV (PJ Driver)
& Doc Penga Teknisi) (Kasir) Security)
Penerimaan Prosuksi) Packing)
Kontrol PPIC) daan)
) Nanang
Ruhaeda Irwan
Erna (QC (Admin Latief (Driver)
Mursalin
Pengadaan Alang (sanitasi Sri Bulan Akbar M Ridwan S Nota) (Security)
) (NBB) Ukkas Damri
luar & dalam) (Admin (PJ CSR) (Operator Rusli B
(Pengadaa)
Haisa (QC
(Penerim Produksi) Teknisi) Wiwin Rusli
(Driver
Proses) aan) (Adm FA) (Security)
Suriana Supriono Suyono Lokalan)
(Sanitasi cuci 1) (Pengadaan Sri Anisa (PJ ABF) Saoda
Elsa (QC Raha) Jaerudin
Lamidi (Tally (Lokalan) (Security)
Packing)
Harnia (Sanitasi (Penerim Pengada) Fatur
Wagiran
Masrida Produksi) (Pengadaan aan) (CSR) Betje (Re Anggun
(QC Raha) (Security
Layering Selviana Flower)
Dalam)
Unisah Solidin (Tally Jumakri
Budiman (Pengadaa) Packing) (CSR) Winarti
(sanitasi cuci 2) (Thumble)
Sauji
BAB III

ANALISIS GOVERNANCE DAN UPGRADING GLOBAL VALUE CHAIN

(GVC) PT KELOLA MINA LAUT KENDARI.

1. Governance (Tata kelola) PT Kelola Mina Laut Kendari

Berbicara mengenai industri perikanan di Indonesia, mulai

berkembang dengan sangat pesat, perkembangan tersebut menuntut para

pelaku atau perusahaan di bidang perikanan harus bisa beradaptasi dan

mencari solusi agar tetap dapat bersaing mencipatakan produksi hasil laut

yang berkualitas. Salah satu cara yang dilakukan oleh perusahaan adalah

dengan membuka cabang perusahaan dibidang yang sama di berbagai

daerah, tujuannya adalah tidak lain untuk lebih meningkatkan dan

mencipatakan produk yang lebih berkualitas yang dimiliki oleh masing

masing daerah.

PT Kelola Mina Laut (KML Food) merupakan sebuah perusahaan

besar yang bergerak di bidang produksi hasil laut menjadi makanan (Sea

food) dan hasil pertanian. PT kelola Mina Laut (KML Food) merupakan

perusahaan pusat dari perusahaan-perusahaan cabang yang tersebar hampir

di seluruh wilayah Indonesia, tentunya perusahaan-perusahaan cabang

tersebut mengelola hasil laut dimana hasil laut tersebut dikelola menjadi

produk makanan (seafood). Salah satu cabang PT Kelola Mina Laut(KML

Food) yang terdapat di Kendari, Sulawesi Tenggara adalah PT Kelola

Mina Laut Kendari. Perlu di Ingat bahwa PT Kelola Mina Laut Kendari
merupakan perusahaan cabang yang hanya mengelola hasil laut setengah

jadi (bukan dalam bentuk produk utuh siap konsumsi) yang kemudian di

distribusikan ke perusahan PT kelola Mina laut pusat yang berada di

Gresik Jawa Timur. Hasil laut yang dikelola dalam bentuk setengah jadi

kemudian kembali di olah dan di produksi menjadi produk makanan

(seafood) untuk di pasarkan di pasar nasional maupun Internasional oleh

Perusahaan PT kelola Mina Laut Pusat yang berada di Gresik, Jawa

Timur.

Dalam proses pengelolaan hasil laut, PT kelola mina laut bukan

satu satunya aktor yang berperan dalam proses produksi, terdapat aktor

aktor lainnya yang terlibat dari setiap tahapan, mulai dari tahapan

penyediaan bahan baku produksi sampai tahapan distribusi dimana aktor,

pelaku atau perusahaan lain berperan penting dalam seluruh proses

produksi. Keterlibatan pelaku, aktor atau perusahaan yang terlibat dalam

semua tahapan produksi hasil laut PT Kelola Mina laut merupakan rantai

nilai atau governance dalam Global Value Chain. Konsep Governance

merupakan tipe atau model posisi pelaku rantai nilai maupun perusahaan

perusahaan yang terlibat dalam proses produksi PT kelola Mina laut.

Sebagai suatu sistem yang berantai, Rantai nilai global PT Kelola

Mina laut, mempunyai sistem yang berhubungan antara pelaku-pelaku

yang terlibat dalam semua tahapan mulai dari tahapan pengumpulan bahan

baku produksi, tahapan produksi, distribusi dan sampai ketangan

konsumen. Sistem yang saling berhubungan menjelaskan bagaimana suatu


rantai nilai di kontrol dengan baik, yang dilakukan oeh pelaku yang

terlibat langsung secara formal maupun informal. Untuk menjelaskan

Governance dalam PT Kelola Mina Laut kendari, penelitian ini di bagi

dalam beberapa tahapan, mulai dari tahapan penyediaan bahan baku

produksi, transportasi, tahapan pengolahan (Industri), tahapan distribusi

dan tahapan konsumen.

1. Tahap penyediaan bahan baku produksi

PT kelola Mina Laut kendari merupakan Perusahaan Cabang

dari PT Kelola Mina Laut Gresik yang bergerak dalam industri

pengolahan hasil perikanan menjadi makanan (seafood), Adapun hasil

laut yang di kelola oleh PT Kelola Mina laut Kendari adalah Gurita,

Ikan Tuna, Ikan kakap dan sotong. Dalam mengelola hasil laut,

ketersediaan bahan baku merupakan faktor utama dalam proses

pengolahan. PT Kelola Mina laut kendari bekerja sama dengan para

nelayan dan pemasok yang tersebar hampir diseluruh wilayah perairan

sulawesi Tenggara seperti perairan Raha, Bau-bau dan perairan

wakatobi, Selain di Wilayah Sulawesi Tenggara, penyediaan bahan

baku juga berasal dari wilayah Makasar, Sulawesi Selatan, meski

kerjasama tersebut bukan dalam bentuk kerjasama formal, tetapi

dengan adanya kerjasama tersebut sangat meringankan beban dan

membantu PT kelola mina laut dalam mengumpulkan bahan baku.


Bahan baku atau hasil laut yang diperoleh PT kelola Mina

Laut merupakan bahan baku yang langsung di dapatkan dari para

nelayan dan pemasok yang mayoritas tersebar di berbagai wilayah

sulawesi Tenggara. Pemilihan lokasi untuk mendapatkan bahan baku

produksi merupakan pertimbangan utama bagi perusahaan untuk

mendapatkan bahan baku yang berkualitas. Seperti yang kita tahu

bahwa Perairan waktobi kurang lebih mempunyaui 590 spesies ikan

dari 52 famili. Beberapa jenis ikan yang terdapat di kawasan ini

diantaranya adalah jenis Wrasse (Labridae), Damsel (Pomacintredae),

Kerapu (Serranidae), Cardinal (Apogonidae), Kakap (Lutjanidae),

Squirrel (Holocentridae), dan Angel (Pomacanthidae) Foraminifera

dan Stomatopoda.18 Selain itu Perairan Sulawesi tenggara yang

mencakup perairan kendari, Raha dan Bau- Bau merupkan wilayah

perairan yang memiliki sumberdaya laut yang sangat kaya, oleh

karenanya PT Kelola Mina Laut Kendari berusaha untuk

memanfaatkan hal tersebut untuk di jadikan produk yang berkualitas

yang dapat bersaing di pasar Internasional dan berdampak pada

pendapatan daerah Sulawesi Tenggara

Dalam tahap pengumpulan bahan baku, terdapat standar yang

ditentukan oleh perusahana mengenai bahan baku tersebut.

18
Fakta Wakatobi, https://www.wakatobitourism.com/id/fakta-wakatobi/ Diakses pada 20 April
2018
“mengenai standar atau acuan dalam mendapatkan

bahan baku hampir semua ditetapkan oleh perusahaan pusat,

mulai dari standar penggunaan alat, jumlah ikan yang di

kumpulkan, kualitas hasil laut. mengingat perusahaan PT

Kelola Mina Laut Kendari merupakan perusahan cabang, jadi

mengenai standar dari penyediaan bahan baku dan produk, itu

ditentukan oleh Perusahaan pusat, tetapi tidak seluruhnya

standart tersebut berasal dari pusat karena setiap perusahaan

cabang dari PT Kelola Mina Laut (KML Food) juga

mempunyai standar yang di kombinasikan dengan standar

yang ada mengenai proses penyediaan bahan baku.”19

Standar tesebut berupa penentuan oleh perushaan KML

Kendari berapa jumlah bahan baku yang didaptkan perhari dan kualitas

bahan baku. Namun mengenai standart alat yang digunakan oeleh para

Nelayan atau suplier tidak ditentukan oleh perusaahaan pusat maupun

perusahaan cabang (PT Kelola Mina Laut). Inisiatif mengenai

penggunaan alat yang digunakan sepenuhnya berasal dari para nelayan

itu sendiri dalam mengumpulkan bahan baku. PT kelola Mina laut

Kendari hanya menghimbau kepada para nelayan agar tetap

memperhatikan faktor lingkungan laut dan aturan pemerintah tentang

Lingkungan laut, agar proses pengumpulan bahan baku tidak merusak

19
Hasil wawancara bersama Pemimpin PT kelola Mina Laut kendari pada 28 april 2018
perairan laut Sulawesi Tenggara. Penentuan standar mengenai

pengumpulan bahan baku bertujuan untuk meningkatkan kualitas

bahan baku agar produk yang di hasilkan dari bahan baku tersebut

mempunyai kualitas terbaik dan bisa bersaing di pasar Internasiona

serta memenuhi keinginan dari perushaan..

Dalam perhari perusahanan PT Kelola mina laut bisa mendapatkan

1 sampai 3 ton dari para nelayan atau dari para pemasok, namun perlu

diketahui bahwa jumblah tersebut tidak menetap seharinya, mengingat

bahwa faktor alam atau cuaca yang bisa menghambat.pengumpulan

bahan baku,

“Jika bahan baku tidak tersedian di tempat biasa PT Kelola Mina

laut Kendari medapatkan stok bahan baku, pengumpulna bahan baku

bisa dialihkan di Nelayan Nelayan daerah Lain seperti Nelayan dari

Sulawesi Tengah dan Makasar, namun mengenai kualitas bahan baku

harus menggunakan standar yang ditentukan oleh perusahaan20

Setelah bahan baku di kumpulkan oleh para nelayan dan

Pemasok, bahan baku tersbut kemudian di distribusikan di PT Kelola

Mina Laut Kendari. Mengenai proses transportasi, pemngiriman bahan

baku ke perusahaan PT kelola Mina Laut Kendari, para pemasok dan

nelayan yang berasal dari wilayah perairan kendari seperti perairan

20
Hasil Wawancara bersama pemimpin PT kelola Mina Laut Kendari pada 28 April 2018
Nambo, Moramo membawa bahan baku yang telah di dapatkan ke

Pelabuhan PPS Kendari menggunakan Kapal Nelayan dan kapal para

pemasok. Dalam hal transportasi PT Kelola Mina Laut tidak

menyediakan transportasi laut untuk mengambil bahan baku yang telah

dikumpulkan oleh para pemasok, inisiatif mengenai pengiriman bahan

baku produksi ke perusahaan, murni dilakukan menggunakan

transportasi atau kapal para Nelayan, Adapun PT kelola Mina laut

hanya menyediakan Transportasi darat (2 tuck) untuk mengangut

bahan baku produksi dari Pelabuhan PPS Kendari kemudian di bawa

ke Perusahaan PT Kelola Mina Laut,

Sementara, bagi para pemasok dan nelayan yang berasal dari

luar wilayah Kendari seperti pemasok dari Raha, Wanci dan Bau-Bau

melakukan pengiriman melalui pelabuhan Torobulu, Raha Sulawesi

Tenggara untuk mendistibusikan bahan baku produksi ke PT Kelola

Mina Laut, Selanjutnya Merupakan tugas dari Perushaan PT kelaola

Mina Laut untuk menjemput atau mengambil bahan baku tersebut

menggunakan transportasi darat (Truk) milik perusahaan. Dalam

proses penjemputan bahan baku, PT Kelola Mina Laut juga membawa

Balok Es dan gabus (styrofoam ikan) yang telah disediakan oleh

perusahaan untuk di berikan kepada para nelayan dan para pemasok

agar balok es dan styrofoam tersebut digunakan untuk menjaga suhu

dan kualitas ikan yang dikumpulkan oleh Para pemasok.


Dalam hal pengiriman dan penerimaan bahan baku, PPS

menjadi media utama, karena seperti yang kita tahu bahwa PT Kelola

Mina Laut kendari Sendiri berinvestasi di PPS dan bergabung dalam

Lingkungan PPS,

Agud Zulkarnain21 Menjelaskan bahwa PPS menjadi tempat

perusahan ini sebagai tempat berinvestasi

“PPS menjadi tempat perusahaan ini sebagai tempat

berinvestasi karen lebih terjamin, mulai dari terjaminnya tempat,

keamanan, dan Perizinan”

Dalam tahapan penyediaan bahan baku prosuksi, para nelayan

dan pemasok merupakan aktor aktor atau pelaku yang memiliki posisi

penting dalam penyediaan bahan baku, yang selanjutnya bahan baku

tersebut akan di produski di tahap pengolahan PT kelola Mina laut,

selain itu PT kelola Mina laut(KML Food) pusat juga berperan penting

dalam tahapan penediaan bahan baku, meski hanya sebatas penentuan

standar bahan baku.

2. Tahapan pengolahan (Industri)

Setelah bahan baku di dapatkan dari para nelayan dan pemasok

yang tesebar di wilayah Wanci, Raha, Bau-Bau, Kendari (Moramo,

21
Pemimpin PT Kelola Mina Laut kendari
Nambo, dll). Bahan baku yang di dapatkan seperti Gurita, Tuna, Ikan

kakap dan sotong, kemudian dikumpul dan di pisahkan berdasarkan

jenisnya masing masing, Setelah di kumpulkan bahan baku tersebut

diolah menggunakan alat alat yang telah tersedia di dalam pabrik PT

kelola Mina Laut kendari.

Perlu di ingat bahwa bahan baku terkadang tidak sepenuhnya

tersedia, seperti halnya gurita.

“stok dari Gurita tidak setiap hari masuk di Perusahaan,

kadang bisa sampai 2 atau 3 hari Gurita tidak tersedia,

dikarenakan musim dan para pemasok gurita juga menawarkan

gurita tersebut ke perushaan perusahaan lain yang berada di

PPS kendari, sehingga terjadi persaingan.”22

Dalam mengelola bahan baku yang telah dikumpulkan,

pengolahan tidak dilakukan begitu saja ada beberapa aturan mengenai

pengolahan bahan baku di PT kelola Mina Laut kendari. Salah satunya

Penentuan standar dan acuan alat untuk meproduksi bahan baku

tersebut. Pengunaan alat dan penentuan standar alat dalam mengelola

bahan baku di tentukan oleh perusahaan pusat, serta jenis- jenis alat

yang digunakan hampir semua berasal dari pusat.

22
Hasil penelitian bersama HRD PT kelola Mina Laut Kendari pada 28 April 2018
Sebelum tahap pengolahan, penjagaan kualitas dari bahan baku

merupakan hal utama yang harus dilakukan dimana perusahaan

menggunakan balok es untuk menjaga kualitas bahan baku sbeblum

masuk pabrik. Penggunaan balok es untuk menjaga suhu ikan agar

tetap dingin dan penggunaan gabus atau styrofoam sebagai wadah

untuk bahan baku.

PT kelola Mina laut kendari mendapatkan balok es dari PT

Sultratuna Mitra Lestari (pabrik es balok). PT Sultartuna Mitra Lestari

adalah perusahaan penunjang di Pelabuhan Perikanan Samudera

Kendari sebagai perusahaan yang memproduksi balok es dengan

investasi mencapai RP 14,8 milliar.23 Penggunaan Balok es yaitu

untuk menjaga suhu bahan baku agar tetap stabil dan berkualitas,

selain di gunakan di Perusahaan, balok es juga di distribusikan ke para

pemasok dan nelayan dengan tujuan untuk menjaga kualitas Bahan

baku agar tetap fresh dan tidak layu.

Dalam tahapan pengolahan bahan baku, bahan baku tersebut tidak

diolah sampai menjadi produk jadi, karena seperti yang telah

dijelaskan sebelumnya bahwa PT Kelola Minal Laut Kendari

merupakan cabang dari PT kelola Mina Laut (KML Food) yang

berada di Gresik Jawa Timur, jadi mengenai pengelolaan bahan baku

23
Antara Sultra News, PPS kendari Himpun 27 perusahaan perikanan, 29 Juni 2016
https://sultra.antaranews.com/berita/284234/pps-kendari-himpun-27-perusahaan-perikanan
diakses pada 20 April 2018
sampai menjadi produk makanan(seafood) di pasarkan itu semua

merupakan kapasitas dari PT Keloal Mina Laut (KML Food). PT

Kelola Mina Laut Kendari hanya mengelola bahan baku menjadi

prosuk setengah jadi menggunakan alat alat yang tersedia dalam

perusahaan tersebut.

Dalam tahap pengolahan bahan baku seperti ikan, Gurita, kakap

dan sotong di bersihkan, mulai dari oemberihan sisik, pembersihan

dan pemotongan gurita dan pembersihan bahan baku lainnya, Khusus

Gurita, terdapat alat khusus yang di gunakan untuk mengelola bahan

baku (gurita) bernama Tumbler, alat tersebut merupakan salah satu

alat produksi yang berasal dari PT Kelola Mina Laut (KML Food)

yang digunakan untuk mengelola Gurita. Tumbler merupakan alat

yang digunakan sejak berdirinya PT kelola Mina Laut kendari.

Tumbler juga merupakan salah satu contoh alat yang di gunbakan dan

sesuai dengan standar dan acuan yang ditetapkan oleh pusat dalam

mengelola bahan baku. Bahan baku seperti iakn hanya dilakukan

pembersihan yang masih menggunakan cara cara tardisional yaitu

pembersihan menggunakan tangan.

Penggunaan alat dan penetuan yang sesuai dengan standar pusat

merupakan strategi yang digunakan untuk menghasilkan dan

memproduksi produk yang memiliki nilai yang berkualitas dan terbaik

yang dapat bersaing dengan produk produk lainnya di pasar domestik

maupun Internasional.
Setelah diolah hasil prosuksi kemudian di kemas berdasarkan

standar dan acuan yang telah di tentukan oleh perusahhan pusat,

proses pengemansan sangat penting karena dengan pengemasan yang

baik, akan tetap menjaga kualitas hasil produksi meski melalui

pengiriman sampai berhari hari. Ssetelah dikemas, kemudian produk

setengah jadi tesebut tidak langsung dikirm melainkan disimpan di

penyimpanan khusus yang bersuhu -20 derajat C selama satu minggu

sebelum menuju tahap pengiriman.

3. Tahapan distribusi 1

Setelah melalui tahapan penyediaan bahan baku dan pongolahan,

hasil produk yang telah di kelola, di distribusikan ke perusahaan pusat

PT Kelola Mina Laut, yang berada di Gresik, jawa Timur. Setiap

bulannya PT kelola Mina Laut Kendari mengelola dan menghasilkan

50 ton produk dari hasil laut, yang kemudian produk dalam bentuk

setengah jadi di distribusikan ke PT Kelola Mina Laut (KML Food)

melalui jalur Laut.

Dalam tahapan pengiriman PT kelola Mina laut Kendari

bekerjasama dengan Tanto Intim Line. PT dan PT Rahayu Perdana

Trans Kendari Tanto Intim Line. PT adalah salah satu perusahaan

pelayaran terbesaar di Indonesia. Tanto adalah perusahaan milik

Keluarga yang didirikan sejak 1971, meskipun awalnya sederhana,

perusahaan ini telah menjadi pemain yang diakui dalam industri


pelayaran. Saat ini Tanto memiliki armada modern lebih dari 50 kapal

kontainer dengan total kapasitas 26.731 TEUs. Tanto adalah

perusahaan yang mengatasi semua kesulitan dan berkomitmen untuk

konsisten dalam memberikan kinerja tertinggi.24 Tanto Intim Line PT

mempunyai beberapa cabang yang hampir tersebar diseluruh Indonesia

salah satunya di Kendari Sulawesi Tenggara, yang berlokasikan di JL.

Wolter Monginsidi, No. 15-16, Baruga, Kendari, Kota Kendari,

Sulawesi Tenggara 93116, dimana PT tanto telah menjadi partner

kerjasama dengan PT Kelola Mina Laut Kendari dalam proses

distribusi. Selain Tanto Liam, PT Kelola Mina Laut Kendari juga

bekerjasama dengan PT Rahayu Perdana Trans Cabang Kendari.

PT. RAHAYU PERDANA TRANS adalah perusahaan yang

bergerak di bidang transportasi, baik lokal maupun internasional.

Estabilitasi Grup HSN berdasarkan kebutuhan yang meningkat untuk

pengiriman barang barang yang akan didistribusikan ke segala arah.

Tidak hanya antar pulau di Indonesia, tetapi juga beberapa produk

Indonesia perlu diekspor ke Asia dan Timur Tengah, ke Amerika

Serikat dan Uni Eropa. Filosofi bisnis PT Rahayu Perdana Trans

adalah memberikan nilai tambah bagi semua pelanggan dengan

layanan maksimal. Kami sangat yakin bahwa manajemen kualitas total

kami dapat membawa kesuksesan di masa depan. Dengan

24
Tanto perusahaan pelayaran Nusantara, https://www.tantonet.com/about-us Diakes pada 20
April 2018
bermodalkan kerja tim yang kuat dan kompeten di bidangnya, kami

selalu berusaha menjaga integritas dan efisiensi di setiap layanan kami

untuk mengarsipkan kepuasan pelanggan maksimum. untuk memenuhi

kebutuhan pelanggan dari beberapa perusahaan.25 PT Rahayu Perdana

Trans memiliki cabang di kendari, dimana Cabang dari perusahaan ini

berlokasi di Jl.Jembatan Dermaga (Poros by pass ke PPS) Kec. Poasia,

Kendari dan menjadi mitra kerjasama PT kelola Mina Laut kendari

dalam proses pengiriman produk ke perusahaan usat.

PT kelola mIna laut telah bekerjasama dengan Tanto Intim Line

dan Rahayu sejak awal berdirinya perusahaan ini Di Kendari pada

tahun 2007. Ada beberapa alasan PT kelola Mina Laut Kendari

memilih kedua perusahaan tersebut sebagai Partner kerjasama dalam

hal distirbusi produk ke Perusahaan pusat,

“Sejak awal berdirinya perusahaan ini sudah bekerjasama atau

menggunakan jasa dari mereka di bidang pengiriman, dan tidak

ada pilihan lain karena dari perusahaan mereka mampu

memfasilitasi produk kami saat pengiriman, sepertipenggunaan

alat pendingin untuk menjaga produk agar tetap dingin dan tidak

layu serta tetap berkualitas sampai tiba di perusahaan pusat.26”

25
Rahayu Perdana trans http://www.hsngroup.co.id Diakses pada 20 April 2018

26
Hasil wawancara bersama Pemimpin Pt kelola Mina Laut kendari pada 28 april 2018
Tidak hanya terdapat peran perusahaan lain, dalam hal pengrirman

tentunya terdapat peran pemerintah daerah yang mengatur segala

macam ketentuan pengriman, mjulai dari penentuan pajak, perizinan

dan fasilitas yang di berikan. Namun untuk PT kelola Mina laut

sendiri, Agud Zulkarnain menjelaskan bahwa “Mengenai masalah

pakak dan perizinan dalam proses distribusi produk ke perushaan

pusat, pemerintah sangat mempermudah dalam hal tersbut, namun

untuk masalah fasilitas yang diberikan pemerintah itu tidak ada. Peran

pemerintah lebih kepada pemberian layanan seperti mempermudah

izin pengiriman, pengurusan pajak yang cepat. Masalah fasilitas semua

di tanggung oleh Perusahaan.”27

4. Tahapan distribusi II

Setelah semua produk sampai ke perushaan pusat PT kelola Mina laut,

kemudian menjadi tanggung jawab sepenuhnya perusahaan pusat

untuk mengelola produk setengah jadi dari PT kelola Mina luut

Kendari menjadi produk makanan (Seafood) yang siap untuk di ekspor

dan dipasarkan di pasar Internasional. Sebagai bentuk usaha dan

melengkapi kegiatan distribusi dalam proses ekspor impor produk PT

Kelola Mina Laut medirikan perusahaan yang bergerak di bidang

forwarding (ekspor impor) dengan nama PT Dahlia Mitra Global (PT

DMG) dimana perusahaan tersebut berperan dalam menangani segala

27
Hasil wawancara bersama Pemimpin PT kelola Mina Laut kendari
keperluan dan kegiatan ekspor dan Impor PT kelola Mina laut mulai

dari penyediaan dokumen, jumlah kontainer, dan kapal pengangkutan.

Pendirian PT Dahlia Mitra Global sebagai perusahaan anak dari PT

kelola min laut untuk membantu kegiaatan operasional perusahaan

dalam hal ekspor impor dan membantu Pt kelola mIna laut untuk

memfokuskan dan berkonsentrasi pada kegiatan produksi produknya.

Adapun hasil produk yang telah di produksi dan di hasilkan oleh

PT Kelola Mina Laut (KML Food) adalah olahan seperti ikan beku dan

berbagai macam produk semacam ubur-ubur, cumi-cumi, kerang dan

sejenisnya. Hasil produk tersebut kemudian di distribusikan pada

konsumen nasional maupun Internasional. Hasil Produk Pt kelola Mina

Laut (KML Food) telah mendapatkan perhadian dan tempat di pasar

Internasional seperti USA, Canada, Europe, Russia, Japan, China,

Taiwan, Korea, Australia, Middle East(Timur Tengah), South East

Asia and Africa.28

28
http://www.kmlfood.com/about/ diakses pada 20 april 2018
PROSES GOVERNANVE PT KELOLA MINA LAUT KENDARI

NELAYAN PEMASOK

PT KELOLA MINA LAUT KENDARI PENGGUNAAN BALOK


ES
PROSES DISTRIBUSI

PT SML
PT TANTO

PT ANEKA
PT KELOLA MINA LAUT
PUSAT

EROPA DAN AMERIKA PT DAHLIA MITRA KANADA DAN ASIA TENGGARA

GLOBAL
RUSIA DAN CHINA AFRIKA DAN AUSTRALIA
1. Upgrading (Peningkatan kualitas) PT Kelola Mina Laut Kendari

UPGRADING

Hambatan Process Upgrading Product Upgrading Functional Upgrading Chain Upgrading

Dalam penelitian ini mengenai upgrading penulis hanya memfokuskan

pada Process Upgrading, karena Upgrading pada PT Kelola Mina Laut kendari.

Dikarenakan upgrading dalam perusahaan tersebut hanya menyangkut pada hal

tersebut.

1. HAMBATAN

Setiap perusahaan tidak selalu berjalan dengan baik pasti memiliki

hambatan baik berupa minimnya bahan baku dan tingginya harga bahan baku

begitupun dengan PT KELOLA MINA LAUT yang memiliki hambatan.

Hambatan-hambatan yang ada pada rantai nilai di PT KELOLA MINA LAUT

adalah : Tidak menentunya ketetersediaan hasil laut yang dikarenakan pengaruh

cuaca. Untuk mengatasi solusi tersebut PT kelola Mina Laut Kendari mencari

bahan baku poduksi di daerah lain, tetapi masih menggunakan standar dan

ketentuan yang di berlakukan perusahaan mengenai standar dalam mendapatkan


abhan baku produksi. Hambatan lainnya adalah pada proses distribusi ke

perusahaan pusat PT kelola Mina Laut mengahadapi tantangan salah satunya

cuaca buruk yang dapat menghambat proses pengiriman, akan tetapi PT KELOLA

MINA LAUT telah bekerja sama dengan Tanto Intim Line. PT dan PT Rahayu

Perdana Trans Kendari yang akan tetap mengirimkan hasil laut PT KELOLA

MINA LAUT ke pusat meskipun cuaca buruk karena dari awal kerjasama kedua

perusahaan tersebut berkomitmen untuk tetap malakukan pengiriman dan

memfasilitasi produk yang dikirim. Sehingga Produk tetap sampai ke perusahaan

pusat dan tetap melakukan produksi untuk menghasilkan produk yang memiliki

nilai jual yang berkualitas dan mampu bersaing.

2. PROCESS UPGRADING

Dalam proses upgrading di dalamnya terdapat usaha yang dilakukan untuk

meningkatkan efisiensi produksi melalui penggunaan teknologi yang lebih baik.

Penentuan standar alat dan penentuan standar bahan baku dalam mengelola

produk hasil laut yang di lakukan perusahaan pusat. PT Kelola Mina Laut Kendari

dalam memproses hasil laut menjadi produk yang berkualitas menggunakan alat

yang standar dan kualitasnya ditentukan oleh Perusahaan pusat, tujuannya adalah

agar proses produksi berjalan dengan baik sehingga tetap menghasilkan produk

produk yang berkualitas. Selain itu penggunaan alat yang sesuai dengan standar

juga dapat menghindari terjadinya kontaminasi silang seperti bakteri salmonella,

ekseriakoli dan total pelkon yang dapat mempengaruhi produk. Salah satu alat

yang digunakan untuk mengelola gurita agar menjadi produk terbaik adalah
diproses menggunakan mesin yang lebih modern yaitu menggunakan mesin

(tumbler ) yang berfungsi untuk membentuk gurita menjadi tiga bagian sehingga

menjadi bentuk yang lebih menarik.

Ada pun bentuk-bentuknya yaitu :

1. FULL TIPE

2. BLOCK TIPE

3. FLOWER TIPE
BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 KESIMPULAN

Global Value Chain sebagai alat analisa meurpakan Konsep yang

digunakan untuk menganalisis PT Kelola Mina Laut dalam mengelola

hasil laut Sulawesi tenggara. Dengan adanya Global Value Chain kita

bisa mengetahui bagaimana rantai nilai dari tata kelola (Governance)

dan Upgrading PT Kelola Mina laut dalam mengelola hasil laut

Sulawesi tenggara menjadi produk yang berkualitas. Perusahaan harus

bisa membuat pilihan terbaik tentang apa yang menjadi kebutuhan

konsumen dan bagaimana memenuhi kebutuhan konsumen dengan

kualitas produk yang terbaik.

Dalam menghasilkan produk yang berkulaitas PT kelola Mina laut

bukan satu satunya aktor yang berperan. Dengan adanya konsep

governance kita bisa mengetahui bagaimana posisi aktor atau pelaku

lain yang membantu PT kelola mina laut untuk menciptakan produk

dengan kualitas terbaik, dimana aktor aktor tersebut berperan mulai

dari tahap pengumpulan bahan baku produksi, tahap

pengolahan(industri) serta tahapan Distribusi, semua tahapan tersebut

terdapat pelaku, aktor atau perusahaan yang terlibat yang menjadi tata

kelola (governance dalam memproduksi hasil laut menjadi produk

yang berkualitas.
Namun dalam perjalannanya terdapat hambatan-hambatan yang

didapatkan oleh PT kelola Mina Laut kendari dalam memproduksi

Bahan baku seperti tidak menentunya ketersediaan bahan baku, dan

cuaca buruk yang di dapatkan ketika proses pengiriman, namun semua

itu dapat diatasi dengan Peningkatan peningkatan atau Upgrading yang

dilakukan oleh PT Kelola Mina Laut kendari.

Dalam PT kelola Mina Laut Kendari, terdapat usaha yang dilakukan

untuk meningkatkan efisiensi produksi melalui penggunaan teknologi

yang lebih baik. Penentuan standar alat dan penentuan standar bahan

baku dalam mengelola produk hasil laut yang di lakukan perusahaan

pusat.

4.2 SARAN

Dalam penelitian ini, kurangnya data mengenai PT Kelola Mina

laut(KML Food) menjadikan beberapa data yang di sajikan masih

sangat minim mengenai perusahaan pusat, Karena seperti yang kita

tahu bahwa tempat penelitian kami adalah salah satu cabang dari PT

Kelola Mina Laut (KML) yaitu PT kelola Mina Laut Kendari yang

hanya memberikan sedikit gambaran dan hanya memberikan

penjelasan sampai proses pengiriman saja tanpa mengetahui lebih

detail bagaimana proses selanjutnya yang dilakukan oleh PT kelola

Mina Laut Pusat , Untuk itu saran bagi para Mahasiswa atau peneliti

yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai proses Global Value


Chain pada PT Kelola Mina Laut untuk turun langsung ke perushaan

pusat PT kelola Mina Laut(KML Food) yang berada di Gresik Jawa

Timur agar mendapatkan data dan penjelasan yang sangat detail.


LAMPIRAN

1. Dokumentasi
2. Matriks

1. Apa saja hasil laut yang dikelola di perusahaan ini?

Hasil laut yang dikelola diperusahaan ini yaitu ikan lokalan (ikan

tongkol, ikan layang) yang pemasarannya diwilayah Indonesia

saja. Kemudian gurita, ikan tuna dan ikan dasar (kakap merah,

kerapu, kakap tua) skalanya diekspor.

2. Apa sajakah produk asli dari KML?

Yaitu gurita, tuna, ikan dasar yang diprioritaskan.

3. Dari mana sajakah supplier ikan yang masuk ke perusahaan ini?

Yaitu dari perairan laut Sulawesi Tenggara, perairan Makassar,

Raha, Bau-bau, Wanci.

4. Apakah stok gurita setiap hari masuk?

Stok gurita tidak setiap hari masuk stoknya. Kadang 2 hari sekali

kadang satu hari sekali.

5. Bagaiman jika KML Kendari tidak memiliki stok hasil laut?


Ketika Kendari tidak ada stok, stok bisa di supply dari Makassar.

Jika Makassar tidak mempunyai stok bisa di supply dari Ambon,

dan jika Ambon tidak mempunyai stok disupply dari Jawa.

6. Apakah pernah terjadi persaingan dengan perusahaan lain yang

berkaitan dengan supplier?

Di Kendari banyak industri atau perusahaan yang juga mengelola

gurita. Jadi salah satu yang menjadi kendala KML yaitu banyak

supplier atau penjual gurita kadang masuk diperusahaan KML dan

kadang diperusahaan lain. Yang menyebabkan terjadinya

persaingan. Yaitu persaingan harga, misalnya harga KML lebih

murah sedangkan harga perusahaan lain lenih mahal, maka

supplier lari ke perusahaan lain. Begitupun sebaliknya jika KML

harganya lebih mahal sedangkan perusahaan lain lebih murah,

maka supplier lari ke KML.

7. Bagaiman prosedur dalam melakukan ekspor?

Jika ada produk yang akan diekspor, produknya diproses dulu di

KML Kendari kemudian dikirim ke pusat.

8. Apakah KM L Kendari bisa melakukan ekspor langsung keluar negeri?

Sebenarnya bisa mengekspor dari Kendari karena sudah

mempunyai approval number, number ekspornya sudah ada di

Eropa. Tetapi yang menjadi kendalanya yaitu dari kapasitas bahan

bakunya belum bisa mencukupi, sehingga tidak berani langsung


mengekspor dari KML Kendari. Tetapi pada tahun 2013 pernah

melakukan ekspor ke Eropa.

9. Apakah perusahaan ini melakukan kerjasama dengan rumah makan?

Tidak, perusahaan hanya memproses setengah jadi kemudian

dikirim ke pusat. Perusahaan pusat lah yang mengelola hasil laut

tersebut.

10. Apakah melakukan kerjasama dengan penduduk lokal?

Perusahaan ini melakukan kerja sama dengan penduduk lokal

dengan mengerjakan atau membersihkan ikan penduduk lokal.

11. Apabila stok gurita tidak ada, apa yang dilakukan karyawan yang

bertugas dibagian gurita?

Jika stok gurita tidak ada atau tidak masuk, karyawan yang

mengerjakan gurita dialihkan ke bagian ikan lokal.

12. Bagaimana apabila supplier tidak mendapatkan ikan atau hasil laut?

Untuk mengatasi hal tersebut para nelayan/ supplier menghubungi

pihak perusahaan sehari sebelumnya jika ada tangkapan hasil laut.

13. Apakah Alat yang di pakai untuk ekspor dan lokalan sama ?

Berbeda,untuk menghindari terjadinya kontaminasi silang seperti

bakteri salmonela,ekseriakoli

14. Bagaiman cara mengatasi apabila kurangnya stok dari suplayer ?

Dengan cara mengambil supplay dari makassar dan kota-kota

lainnya

15. Alat apa yang di pakai dalam mengelola hasil laut?


Ikan = pisau

Gurita = Tumbler ( berguna untuk membentuk beberapa bagian )

16. Berapa lama pembekuan hasil laut setelah di proses ?

Dalam pembekuan ikan dan gurita berbeda-beda. Ikan di bekukan

selama 12 jam dan gurita selama 18 jam

17. Dalam pembekuan hasil laut berapa suhu yang di pakai ?

-30 C selama seminggu.

18. Setelah dibekukan hasil laut selanjutnya di proses dimana?

Selanjutnya dikemas terus disimpan dipenyimpanan yang bersuhu -

20 C

19. Untuk ikan yang tidak layak dikirim, apakah dibuang atau bagaimana?

Ikan yang hancur atau tidak memenuhi syarat untuk diproduksi,

dijual dngan harga murah ke warga lokal yang biasanya digunakan

atau dipakai sebagai bahan baku pelet ikan.

20. Apa yang dilakukan jika pada saat proses pengiriman barang produksi

ke pusat terjadi hal yang tidak diinginkan, misalnya kecelakaan,

bagaimana perusahaan menindak lanjuti hal tersebut?

Semisal kapal pengangkut barang produksi tenggelam, pihak KML

bisa mengklaim asuransi total harga barang yang diangkut atau

total kerugian yang dialami.

21. Hal apa yang dilakukan sebelum barang produksi dikirim ke pusat, dan

berapa lama waktu pengiriman hasil laut tersebut?


Sebelum dikirim, hasil laut yang sudah dikemas harus melewati

quality control, dan kemudian dikirim ke surabaya dengan

memakan waktu 5 hari.

22. Berapa lama waktu pengiriman barang produksi dari KML pusat ke

luar negeri, dan apa”saja hal yang diperhatikan selama pengiriman

tersebut?

Pengiriman dari Surabaya ke luar negeri memakan waktu kurang

lebih 40 hari dan selama perjalanan suhu dalam peti kemas selalu

terjaga karena memiliki pendingin suhu pada petikemasnya.

23. Berapa berat maksimal barang produksi yang diangkut dalam satu peti

kemas?

Yaitu seberat 17 ton.

24. Apakah ikan lokal penduduk langsung dikirim atau bagaimana?

Kadang perusahaan menunggu stok kontener, yaitu kontener 20

feet yang berisi 17 ton, jadi kalau sudah mencapai 17 ton baru dikirim

menggunakan kontener tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Internet :
Kementrian Perdagangan republik Indonesia, 10 Komoditas utama dan

potensial : http://www.kemendag.go.id/id/economic-profile/10-main-and-

potential-commodities/10-main-commodities Pada 16 April 2018

Bidang Pengembangan Wilayah Bappeda Sultra, Potensi Perikanan

Sulawesi Tenggara. 2 Juli 2016 :

https://bangwilsultrablog.wordpress.com/2016/07/02/potensi-perikanan-

sulawesi-tenggara Pada 20 April 2018

Antara Sultra News, PPS kendari Himpun 27 perusahaan perikanan, 29

Juni 2016 https://sultra.antaranews.com/berita/284234/pps-kendari-

himpun-27-perusahaan-perikanan P ada 20 April 2018

Tanto perusahaan pelayaran Nusantara, https://www.tantonet.com/about-

us Pada 20 April 2018

Rahayu Perdana trans http://www.hsngroup.co.id , Pada 20 April 2018

http://www.kmlfood.com/about/ Pada 20 april 2018

Fakta Wakatobi, https://www.wakatobitourism.com/id/fakta-wakatobi/

Pada 20 April 2018

Buku :
Mintzberg, H., 1978. Pattern In strategy Formulation.

Management Science, 24 (9), 934-948

Raphael Kaplinsky and Mike Morris, 2001. A

HandbookForValueCahinResearchBrighton,United Kingdom, Institute Of

Development Studies,UniversityOfSussex

Gereffi, G., J. Humprey and T. Sturgeon, 2003. The Governance

Of Global Value Chains, Review Of International Political Economy

Raphael Kaplinsky and Mike Morris(2000) A Handbook for Value

Chain Research

Gereffi, G. (1999) International Trade and Industrial Upgrading

in the Apparel Commodity Chain, Journal of Interbational Economics,

Vol.48 , No. 1, pp 37-70

Lexy J.Moleong, 2002 Metodologi Penelitian kualitatif, (Bandung,:

remaja Rosdakarya,) hlm. 9

Noang Muhadjir, 1996 Metode penelitian kualitatif, (Yogyakarta :

Rakeserasin,), h. 2

Suharsimi Arikanto, Prosedur penelitian suatu pendekatan Praktik,

h. 129.
Sumadi Suryabrata, 1987 Metode penelitian (Jakarta:Rajawali,),

h.93.

Ibid, 94

http://etd.repository.ugm.ac.id/index.php?mod=penelitian_detail&sub=Penelitian

Detail&act=view&typ=html&buku_id=54477&obyek_id=