Anda di halaman 1dari 8

Pemeriksaan Penunjang Kedokteran Olahraga

A. Tes Jantung

1. Treadmill Test Saat Medical Chek-up

Melalui treadmill test bisa dideteksi dini apakah seseorang mengidap jantung koroner.
Tingkat keberhasilan treadmill test untuk mendeteksi penyakit jantung, bisa mencapai 78
persen.

2. Echocardiogram/ USG Jantung

Echocardiogram merupakan alat perekam irama jantung. Cara kerjanya mirip dengan USG.
Gunanya adalah untuk mengetahui apakah ruang-ruang jantung berada dalam kondisi
normal, demikian pula dengan katup jantung, lubang antar ruang jantung kiri dan kanan,
serta ketebalan otot jantung.

Tes ini dapat membantu dokter mendiagnosa kondisi seperti gagal jantung dan fibrilasi
atrium, namun belum terbukti dapat membantu orang tanpa gejala. Scan USG umumnya
aman, tetapi dapat memicu alarm palsu dan dapat menyebabkan pertimbangan
dilakukannya tes yang lebih invasif dan an kemudian.

Anda perlu melakukan tes ini bila mengalami nyeri dada atau lengan atas yang tidak
diketahui penyebabnya, murmur jantung, serangan jantung, kelainan jantung, atau riwayat
penyakit jantung.

3. Elektrokardiogram (ECG/EKG)

EKG adalah sebuah pembacaan dari aktivitas listrik jantung yang dicatat oleh elektroda yang
ditempatkan pada dada. EKG dapat untuk mengetahui kelainan yang mungkin, atau
mungkin juga tidak dapat untuk mendeteksi kelainan jantung.

EKG digunakan untuk mempelajari irama jantung yang tidak teratur, serangan jantung dan
masalah lainnya. EKG juga digunakan sebelum beberapa jenis operasi, tetapi tidak ada studi
yang telah meneliti apakah EKG membantu mencegah penyakit pada orang tanpa gejala.
EKG biasanya tidak memerlukan biaya mahal. Prosedur tes EKG juga tidak invasif, sehingga
tes ini aman.

4. Tes Stres
Tes stres digunakan untuk melihat tanda-tanda masalah memompa darah dari jantung.
Dokter akan memberikan beban pada jantung pasien dengan menginstruksikan pasien
berada di treadmill atau stasioner saat melakukan ekokardiogram. Dalam tes stres nuklir,
pewarna radioaktif disuntikkan ke dalam aliran darah untuk menciptakan gambaran yang
lebih baik.

Tes stres dapat membantu mendiagnosa masalah jantung tetapi belum terbukti menjadi alat
skrining yang dapat membantu.

5. CT Scan jantung

Computed tomography (CT) scan menggunakan dosis tinggi sinar X untuk mendapatkan
gambaran rinci jantung. Dalam scan kalsium koroner, dokter mencari deposit kalsium di
arteri jantung, yang telah dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung. Pasien juga
mungkin memiliki zat warna yang disuntikkan untuk melancarkan penyumbatan.

Untuk orang tanpa gejala, CT scan masih belum terbukti lebih berguna daripada saran medis
berdasarkan faktor risiko seperti diabetes dan obesitas. Pada prosedur radiasi dari CT scan,
ketika pewarna yang digunakan, sekitar 1 dari 10 orang mengembangkan kerusakan ginjal
dan beberapa mungkin juga mendapatkan masalah tiroid. Laporan yang salah dapat
menyebabkan tes invasif, yang membawa lebih banyak risiko.

B. Tes Fungsi Paru

Tes fungsi paru atau spirometri adalah tes yang digunakan untuk memeriksa kondisi dan fungsi
saluran pernapasan. Dalam tes ini, jumlah dan kecepatan udara yang dihirup dan diembus pasien akan
diukur. Spirometri membantu dokter dalam mendiagnosis penyakit terkait saluran pernapasan, dan
mengamati perkembangan kondisi pasien terhadap terapi yang telah diberikan.

Spirometri dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut spirometer. Beberapa parameter yang
dapat diukur oleh spirometer, antara lain:

 Forced expiratory volume in one second (FEV1). FEV1 adalah besarnya udara yang diembus
dalam satu detik.
 Forced vital capacity (FVC). FVC adalah besarnya udara yang dapat diembus dalam satu tarikan
napas.
 Rasio FVC/FEV1 adalah nilai yang menunjukan berapa persen kapasitas udara paru-paru yang
dapat diembuskan dalam 1 detik.

Pemeriksaan spirometri dilakukan untuk menilai gangguan dari pernapasan, yang dibagi menjadi dua,
yakni:
a) Penyakit saluran napas obstruktif. Dalam hal ini, kemampuan tubuh dalam mengembuskan
napas terganggu karena adanya penyempitan saluran napas. Contohnya asma dan penyakit paru
obstruktif kronis.
b) Penyakit saluran napas restriktif. Kondisi ini menggambarkan berkurangnya kapasitas udara di
paru-paru untuk mengembang dan menahan sejumlah udara di dalam paru-paru. Kondisi
perubahan jaringan paru itu sendiri mengakibatkan penyakit paru restriktif, seperti perubahan
jaringan paru-paru menjadi jaringan jaringan parut (fibrosis paru).

Indikasi Tes Fungsi Paru

Spirometri digunakan untuk mengetahui kondisi dan fungsi paru-paru bila pasien mengalami
batuk atau sesak yang berlangsung lama atau berisiko menderita penyakit paru, misalnya berusia di atas
35 tahun dan merokok. Selain itu, pemeriksaan spirometri dilakukan sebagai pemeriksaan dasar
sebelum dilakukannya operasi. Spirometri juga dapat digunakan untuk mendiagnosis penyakit,
seperti asma, penyakit paru obstruktif kronis, cystic fibrosis, atau fibrosis paru, serta mengamati
perkembangan kondisi dan respons tubuh terhadap terapi pengobatan yang diberikan.

Peringatan Tes Fungsi Paru

Tes ini dapat meningkatkan tekanan pada kepala, dada, perut, dan mata. Oleh sebab itu,
konsultasikan dulu dengan dokter paru terlebih dahulu sebelum melakukan tes spirometri jika memiliki
kondisi, seperti:

 Angina
 Pneumothorax
 Serangan jantung
 Stroke
 Batuk darah
 Tuberkulosis (TBC)
 Hipertensi
 Infeksi saluran pernapasan

Selain itu, tes ini juga tidak disarankan untuk dilakukan pada pasien yang baru saja melakukan operasi
mata dan operasi daerah perut. Perokok berat dan pasien yang berumur lebih dari 70 tahun
harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter, karena tes ini berpotensi menyebabkan komplikasi.

Pada kasus tertentu, pasien akan diberikan obat pelega pernapasan yang dihirup (bronkodilator) sebagai
perbandingan hasil tes sebelum dan sesudah obat diberikan. Pasien yang memiliki alergi terhadap obat-
obatan bronkodilator, harus memberi tahu dokter. Contoh obat-obatan bronkodilator adalah beta-2
agonists (misalnya salbutamol, formoterol, atau salmeterol), teofilin, dan antikolinergik (contohnya
tiotropium atau ipatropium).

Persiapan Tes Fungsi Paru


Sebelum spirometri dijadwalkan, dokter akan menanyakan pada pasien apakah sedang
menggunakan obat-obatan bronkodilator. Jika iya, dokter akan meminta pasien menghentikan
penggunaan obat tersebut sebelum pelaksanaan tes, karena dapat memengaruhi hasilnya.

Selain itu, pasien juga harus mempersiapkan beberapa hal berikut:

 Jangan merokok, setidaknya selama 1 hari sebelum pemeriksaan.


 Hindari mengonsumsi alkohol.
 Jangan makan terlalu banyak. Hal itu akan mengganggu pernapasan.
 Sebisa mungkin hindari menggunakan pakaian yang terlalu ketat, agar dapat bernapas dengan
lebih mudah.

Prosedur Tes Fungsi Paru

Pemeriksaan spirometri umumnya dilakukan pada posisi duduk. Dokter akan meminta pasien
untuk membusungkan dada, dan menempatkan dirinya pada posisi senyaman mungkin. Pasien akan
disediakan sebuah klip (jepitan) yang digunakan untuk menjepit dan menutup lubang hidung, sehingga
tidak ada udara yang keluar dari lubang hidung dan hasil spirometri dapat lebih maksimal. Selanjutnya,
dokter akan meminta pasien untuk menempatkan tabung spirometer pada mulut. Pasien harus
menempatkan tabung serapat mungkin dengan mulut.

Setelah alat terpasang, pasien akan diinstruksikan untuk menarik napas dalam-dalam,
menahannya untuk beberapa detik, kemudian mengembus napas sekuat-kuatnya pada tabung. Proses
ini biasanya diulang hingga 3 kali. Hal itu dilakukan untuk melihat apakah hasil pada setiap tes yang
dilakukan sama. Jika hasil yang didapat terlalu bervariasi, dokter akan meminta pasien untuk mengulang
kembali proses tersebut. Dokter akan mengambil salah satu hasil dengan nilai tertinggi untuk dijadikan
hasil akhir pemeriksaan.

Lama tes spirometri biasanya adalah sekitar 15 menit. Namun pada kasus tertentu, waktu yang
dibutuhkan bisa lebih lama. Misalnya jika dokter meminta pasien untuk melakukan tes sesi kedua
dengan menggunakan obat bronkodilator, untuk membandingkan hasilnya dengan yang didapat pada
tes sesi pertama.

C. Tes Muskuloskeletal

1. X-Ray merupakan salah satu jenis pemeriksaan yang dapat memberikan gambaran kondisi
keadaan tulang sesorang, apakah ada fraktur, infeksi tulang seperti osteomiletis, kelainan
bawaan, destruksi sendi pada klien arthritis, osteoporosis tahap lanjut atau tumor baik fase awal
atau yang telah metastase.

Gambaran X-Ray pada klien osteoporosis tampak terjadi dimineralisasi yang ditunjukkan dengan adanya
radiolusensni tulang, vertebra torakalis berbentuk baji sedangkan vertebra lumbalis menjadi bikonkaf.
Selain itu, dengan X-Ray juga dapat memonitor perkembangan penyembuhan fraktur. Film radiograpis
dapat memperlihatkan adanya cairan sendi, pembengkakan dan kalsifikasi jaringan lunak .

Bila ditemukan tanda kalsifikasi pada jaringan lunak dapat menunjukkan adanya peradangan kronis yang
merubah bursa atau tendon di area tersebut, karena X-Ray tidak mampu melihat secara langsung
keaadaan kartilago dan tendon, begitu juga fraktur kartilago, sprain, cedera ligamentum.
Umumnya untuk mendapatkan gambaran yang akurat diperlukan dua sudut yang berbeda, yaitu
anterior-posterior dan lateral.

Sebelum dilakukan pemeriksaan X-Ray ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh seorang , antara
lain :
• Menjelaskan tujuan dan gambaran prosedur tindakan.
• Tidak perlu puasa atau pemberian sedasi, kecuali bila diperlukan.
• Bagi anak-anak, umumnya merasa takut dengan peralatan yang besar dan asing serta ia merasa
terisolasi dari orang tuanya, pastikan pada bagian radiology kemungkinan orang tua dapat
mendampiringi anaknya pada saat prosedur.
• Informasikan pada klien, prosedur ini tidak menyebabkan rasa nyeri, tetapi mungkin merasa kurang
nyaman terhadap papan pemeriksaan yang keras dan dingin.
• Sokong dengan hati-hati bagian yang cidera dengan cara memegang ekstremitas dengan lembut pada
papan pemeriksaan.
• Lindungi testis, ovarium, perut ibu hamil dengan pelindung khusus terhadap radiasi selama prosedur.

2. CT-Scan
Computed Tomography digunakan untuk mengidentifikasi lokasi dan luasnya cedera yang sulit
teridentifikasi oleh pemeriksaan lain. Sehingga CT Scan mempunyai tujuan untuk mengevaluasi cedera
ligament, tendon dan tulang serta dapat mengetahui adanya tumor secara spesifik.

Bagi klien yang diamputasi pemeriksaan ini berfungsi untuk mengidentifikasi lesi neoplastik ,
osteomielitis dan pembentukan hematoma.
Pemeriksaan ini dapat atau tidak menggunakan zat kontras. Waktu yang digunakan kurang lebih 60
menit.
Yang perlu diperhatikan oleh selama prosedur pelaksanaan adalah :
 Jelaskan tujuan dan gambaran tindakan, seperti klien akan dibaringkan di medan magnet, kemudian
dimasukkan dalam sebuah tabung. Informasikan pada klien, prosedur ini tidak menyebabkan rasa nyeri,
tetapi mungkin merasa kurang nyaman terhadap papan pemeriksaan yang keras dan dingin.
 Anjurkan klien melepas semua bahan metal seperti : ikat pinggang, arloji, kartu kredit, karena ini akan
mempengaruhi hasil scaning dan medan magnet dapat merusak fungsi benda-benda tersebut.
 Informasikan bahwa perubahan posisi dapat menyebabkan perubahan hasil scan. Sehingga anak-anak
sering diberikan obat penenang sebelum prosedur dilakukan.

3. MRI ( Magnetic Resonance Imaging ).


MRI merupakan teknik scaning diagnostic yang non invasive dan menggunakan medan magnet.
Pemeriksaan ini dapat memberikan informasi tentang tulang, sendi , kartilago, ligament dan tendon.
Klien dengan keluhan nyeri leher dan pinggang dapat diketahui dengan MRI untuk melihat kemungkinan
adanya herniasi.
Kelebihan dari MRI adalah klien tidak terpapar oleh ion-ion radiasi. MRI penting dalam pengkajian untuk
mengetahui perbaikan dari suatu pembedahan ortopedik.
Hal yang perlu diperhatikan pada pemeriksaan MRI ini adalah :
 Tidak ada pembatasan input baik makan maupun minum sebelum tindakan.
 Jelaskan tujuan dan gambaran tindakan, seperti klien akan dibaringkan di medan magnet, kemudian
dimasukkan dalam sebuah tabung.
 Kemungkinan klien merasakan keidaknyamanan seperti pusing, tingling pada gigi yang mengandung
tambalan metal. Sebenarnya klien yang menggunakan implant logam tidak dianjurkan untuk MRI.
 Anjurkan klien melepas semua bahan metal seperti : ikat pinggang, arloji, kartu kredit, karena ini akan
mempengaruhi hasil scaning dan medan magnet dapat merusak fungsi benda-benda tersebut.
 Bagi klien claustrophobia mungkin merasa takut berada di tabung yang tertutup oleh karena itu perlu
penjelasan dan bila memungkinkan mesin tidak ditutup.
 Informasikan bahwa perubahan posisi dapat menyebabkan perubahan hasil scan. Sehingga anak-anak
sering diberikan obat penenang sebelum prosedur dilakukan.
 Didalam tabung pemeriksaan, klien akan mendengarkan suara mesin yang mungkin membuat rasa
tidak nyaman atau takut. Sehingga salah satu solusinya
klien dapat mengunakan earplug atau di ruang tersebut diperdengarkan alunan
musik.
 Untuk kenyamanan, anjurkan klien mengosongkan bladder sebelum
pemeriksaan.
 Pemeriksaan ini memerlukan waktu 30 – 90 menit.

Kontraindikasi MRI adalah :


• Klien obesitas ( BB > 150 kg ) karena meja pemeriksaan tidak mampu menyokong berat badan klien.
• Klien yang memakaki implant logam seperti : pacemaker, infuse pump, implant telinga dalam, klien
ortopedik dengan pemasangan screw dan plat, karena magnet logam tersebut dapat memindahkan ion
magnet ke tubuh klien dan dapat menimbulkan cedera.

4. Angiography
Merupakan teknik pemeriksaan untuk mengetahui kondisi struktur vaskuler. Arteriografi dilakukan
dengan cara memasukkan zat kontras radioopak melalui arteri. Setelah diinjeksi area tersebut di foto
rongent. Hal ini untuk mengetahui sirkulasi/ perfusi jaringan apakah masih baik atau buruk. Biasanya
dilakukan untuk mengetahui perfusi jaringan pada area yang akan diamputasi. Setelah dilakukan
tindakan klien dianjurkan untuk istirahat kurang lebih 12 – 24 jam dan dibebat elastis guna mencegah
terjadinya perdarahan paska injeksi.

5. Atroscopy
Dapat digunakan untuk mengetahui adanya robekan pada kapsul sendi atau ligament penyangga lutut,
bahu, tumit, pinggul, pergelangan tangan dan temporomandibular. Pemeriksaan ini merupakan tindakan
endoskopi yang memungkinkan pandangan langsung ke dalam ruang sendi.
Setelah dilakukan pemeriksaan ini, klien dianjurkan istirahat kurang lebih 12 – 24 jam dan diberikan
bebat elastis pada area pemeriksaan. Sebelum dilakukan prosedur ini, terutama bila pemeriksaan pada
bagian sendi ekstremitas bawah, pastikan klien mampu menggunakan alat Bantu jalan seperti crucht.
Crucht digunakan oleh klien hingga klien mampu menunjukkan kemampuan berjalan tanpa pincang.

Setelah dilakukan pemeriksaan ini maka yang perlu diperhatikan adalah pengkajian TTV, status
neurovaskuler pada area kaki : cek pulse, warna, temperature, dan sensasi serta observasi tanda-tanda
infeksi, termasuk panas, bengkak, nyeri, kemerahan dan pengeluaran cairan.
Potensial komplikasi yang dapat ditimbulkan oleh pemeriksaan ini adalah:
• Infeksi (tindakan ini harus dilakukan dengan steril dan di kamar operasi).
• Tromboplebitis yang dapat disebabkan oleh karena immobilisasi yang lama.
• Hemartrosis (perdarahan dalam sendi) yang dapat disebabkan oleh aspirasi karena jarum.
• Cedera sendi oleh karena pembedahan.
• Rupture sinovial.
Hal-hal yang harus diketahui oleh adalah :
• Klien sebaiknya tidak diberikan obat-obat peroral sampai tengah malam pada hari dimana prosedur
tindakan dilakukan.
• Pada umumnya tindakkan ini menggunakan anestesi spinal atau general anestesi. Khususnya apabila
pembedahan pada lutut diperlukan.
• Sebelum pemeriksaan pada lutut, rambut halus sekitar 6 inci di bawah dan di atas lutut harus
dibersihkan.
• Klien ditempatkan pada meja operasi dengan posisi supinasi. Kaki klien
ditinggikan kemudian dibalut dengan pembalut elastis dari ibu jari sampai ke paha bagian bawah guna
meminimalkan vaskularisasi ke bagian distal.
• Sebuah tourniquet ditempatkan pada tungkai proksimal klien. Kemudian kaki dibuat lebih rendah,
sehingga lutut membentuk sudut 45º.
• Pembalut elastis dilepas lalu segera buat incici kecil di lutut, kemudian alat atroskopi dimasukkan di
sela persendian lutut untuk melihat keadaan di dalam sendi lutut tersebut.
• Setelah pemeriksaan dilakukan atroskope dilepas dan dilakukan irigasi didaerah persendian, luka
dibersihkan dan ditutup dengan kassa steril.
• Prosedur ini dilakukan di ruang operasi oleh ahli ortopedik yang memerlukan waktu 30 menit – 2 jam.
Kontraindikasi ;
• Klien dengan ankylosis, karena tidak memungkinkan benda-benda untuk bergerak pada sendi yang
kaku oleh karena perlekatan.
• Klien dengan luka infeksi karena resiko sepsis.

6. Bone Densitometry
Merupakan pemeriksaan untuk mengetahui kadar mineral dalam tulang dan kepadatannya untuk
mendiagnosa penyakit osteoporosis.
Faktor-faktor yang mempengaruhi/ mengganggu hasil densitometri tulang adalah:
• Barium. Bila dilakukan pemeriksaan paska pemberia barium hasilnya tidak terlalu bermakna kecuali
setelah 10 hari dari waktu pemasukan zat kontras ini.
• Pengapuran pada vertebra posterior, arthritis sclerosis.
• Aneurisme pada aorta abdominal yang disebabkan oleh karena pengapuran.
• Penggunaan alat-alat metal, sehinga alat –alat ini harus dilepas sebelum pemeriksaan.
• Riwayat fraktur tulang yang mana telah mengalami proses penyembuhan.