Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN TUTORIAL

Perawatan Periodontal Fase II


Blok 16: Perawatan Penyakit Periodontal & Jaringan Lunak Oral

oleh
Kelompok Tutorial L :
1. Nindita Cahya M. (161610101111)
2. Yumnaina Nurhadi (161610101112)
3. Julia Eka Putri Ayuningtyas (161610101113)
4. Nandita Nur Afifa (161610101114)
5. Dinda Virgatha D. (161610101115)
6. Imania Zulfa (161610101117)
7. M. Nagara Salim S. (161610101118)
8. Rinda Puspa Safitri (161610101117)
9. Jevina Sicilia A. (161610101120)
10. Annisa Syifa M. (161610101121)

Pembimbing :
drg. Berlian Prihatiningrum, MDSc, Sp.KGA

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS JEMBER
2018

1
DAFTAR ANGGOTA KELOMPOK

Tutor : drg. Berlian Prihatiningrum, MDSc, Sp.KGA


Ketua : Nandita Nur Afifa (161610101114)
Sciber Meja : Nindita Cahya M. (161610101111)
Anggota :
1. Yumnaina Nurhadi (161610101112)
2. Julia Eka Putri Ayuningtyas (161610101113)
3. Dinda Virgatha D. (161610101115)
4. Imania Zulfa (161610101117)
5. M. Nagara Salim S. (161610101118)
6. Rinda Puspa Safitri (161610101117)
7. Jevina Sicilia A. (161610101120)
8. Annisa Syifa M. (161610101121)

KATA PENGANTAR

2
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami
dapat menyelesaikan tugas laporan tutorial skenario 2 pada Blok Blok XVI : Perawatan
Penyakit Periodontal dan Jaringan Lunak Oral.

Penulisan laporan ini semuanya tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, oleh karena
itu penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada:

1. drg. Berlian Prihatiningrum, MDSc, Sp.KGA selaku tutor yang telah membimbing
jalannya diskusi tutorial kelompok 12 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas
Jember dan memberi masukan yang membantu bagi pengembangan ilmu yang
telah didapatkan.

2. Dosen-dosen yang telah mengajarkan materi perkuliahan kepada kami, sehingga


dapat membantu dalam penyelesaian laporan tutorial ini.

3. Teman-teman kelompok 12 yang telah mencurahkan pikiran dan


tenaganya sehingga laporan tutorial ini dapat berjalan dengan baik dan laporan ini
dapat terselesaikan pada waktunya.

4. Teman-teman Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember angkatan 2016 dan


pihak-pihak lain yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.

Dalam penyusunan laporan ini tidak lepas dari kekurangan dan kesalahan. Oleh
karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan-
perbaikan di masa yang akan datang demi kesempurnaan laporan ini. Semoga laporan ini
dapat berguna bagi kita semua.

Jember, 22 Oktober 2018

Tim Penyusun

3
Skenario 2

Seorang wanita usia 40 tahun datang ke dokter gigi ingin membersihkan giginya yang kotor.
Pasien mengeluhkan gigi-giginya kasar saat dusentuh lidah sejak 1 tahun yang lalu dan
gusinya mudah berdarah pada waktu menyikat gigi sejak 2 bulan yang lalu. Pasien belum
pernah merawatkan keluhannya. Pemeriksaan intra oral didapatkan OHI-S yang buruk, pada
gigi 12, 11, 21 margin gingival merah dan membesar kearah koronal, konsistensi keras,
probing depth 4mm, sedangkan pada gigi 42, 41, 31, 32, 33 margin gingival merah kebiruan,
pendarahan saat probing, resesi gingival 1 mm dan probing depth 5mm pada gigi 41, 31.
Hasil foto radiografi gigi 41, 31 terdapat resorbsi tulang alveolar kurang dari ½ panjang akar
dengan pola horizontal. Dokter mendiagnosa pada gigi 12, 11, 21 adalah mucogingival
deformities and conditions aroung teeth dan pada gigi 42, 41, 31, 32 adalah periodontitis
kronis. Rencana perawatan yang akan dilakukan adalah perawatan fase 1, evaluasi dan
perawatan fase II bedah periodontal sederhana.

4
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penyakit periodontal merupakan suatu kelainan dari jaringan periodontal


sertamembutuhkan kerjasama yang baik antara dokter gigi yang merawat dengan pasien,
untuk proses penyembuhannya serta mencegah bertambah parahnyakelainan
tersebut.Informasi dari penderita, pemeriksaan klinis dan penunjang sangat dibutuhkanuntuk
menentukan diagnosis, mengidentifikasi strategi perawatan serta kebutuhan perawatan. Untuk
menentukan perawatan pada penyakit periodontal tidaklahsama setiap pasien. Dokter gigi
membutuhkan penentuan perawatan (designmaking) serta rencana perawatan sebelum
memasuki tahap perawatan.Dalam bidang kedokteran gigi, dikenal istilah perawatan bedah
periodontal sederhana. Dimana pengertian dari perawatan bedah periodontalsederhana ialah
perawatan bedah yang hanya melewatkan gingiva tanpa jaringantulang. Dalam skenario ini,
akan dibahas mengenai macam-macam perawatanyang termasuk pada perawatan bedah
periodontal yang meliputi kuretase,gingivektomi serta kuretase.Dari penjelasan tersebut, kita
diharapkan bisa mengetahui pengertian,indikasi & kontraindikasi, alat & bahan, teknik &
prosedur serta respon jaringan post perawatan kuretase, gingivektomi serta operkulektomi.
Sehingga nantinyakita dapat mengaplikasikan pengetahuan yang telah kita dapatkan secara
praktek dengan cara yang tepat kepada masyarakat.

5
BAB II

DISKUSI

Step 1 Clarifying unfamilar terms

1. Resesi gingival : perubahan margin gingiva dari cemento enamel juction ke arah
apikal yang menyebabkan tereksposnya bagian akar gigi
2. OHI-S : oral hygiene indeks simplified, mencakup debris indeks dan kalkulus indeks.
Dilakukan pada 4 gigi anterior dan 2 gigi posterior.
3. Periodontitis kronis : peradangan gingiva ditandai pendarahan saat probing deep,
perlekatan gingiva hilang disertai resorbsi tulang alveolar. Dapat disebabkan oleh MO
porphyromonas gingivalis.
4. Mucogingival deformities : perubahan morfologi, ukuran, dan hubungan antara
gingiva dan mukosa alveolar yang mempengaruhi struktur tulang dibawahnya.

Step 2 Problem definition

1. Apa tujuan perawatan periodontal fase II ?


2. Apa saja perawatan periodontal pada fase II ?
3. Apa dasar pemilihan perawatan bedah periodontal ?
4. Bagaimana prosedur bedah sederhana fase II ?
5. Apa saja perawatan pasca bedah ?
6. Apa perawatan bedah yang cocok sesuai skenario ?

Step 3 Brainstorming

1. Apa tujuan perawatan periodontal fase II?


1. Untuk menghilangkan faktor iritan
2. Untuk menghilangkan perubahan patologis pada poket
3. Untuk meregenerasi jaringaningan periodontal
4. Untuk mengeliminasi poket
5. Untuk mengembalikan fungsi kunyah
6. Untuk mengembalikan estetik
7. Untuk mengembalikan kontur gingiva yang fisiologis
8. Untuk memperbaiki prognosis dari gigi
9. Untuk mengoreksi kondisi anatomis dari penyakit periodontal, gangguan
estetik, maupun protesa
2. Apa saja perawatan pada fase II?
a. Kuretase
Kuretase adalah embersihan permukanaan dalam dinding jaringaningan lunak dengan
mengambil jaringan granulasi, jaringan nekrotik, mengurangi kedalaman poket, mengambil
interdental papila yang rusak.

6
Berdasarkan letak : kuretase gingiva ( perawatan dari lateral dinding poket sampai
junctional epitelium) dan kuretase subgingiva (perawatan dari apikal junctional epitelium
sampai hampir puncak tulang alveolar)
Instrumen perawatan:
1. Kuret gracey : penggunaaan spesifik pada regio gigi tertentu
2. Kuret universal : dapat digunakan diseluruh regio gigi
Excicional new attacment prosedur : untuk poket yang lebih dalam dari indikasi
kuretase. Diperlukan insisi dan tahap periodontitis ringan-sedang. Jaringaningan ikat masih
adekuat. Interproksimal yang sulit dijangkau. Kelebihannya lebih bersih dalam pembersihan
jaringan granulasi dan fibrotik. Kontraindikasi tidak disarankan untuk kelaina periodontal
yang parah dan serobsi tulang alveolar tipe infraboni, periodontitis berat, dan jaringan ikat
yang memiliki keratin yang tipis.
Indikasi :
1. Sebagai prosedur non definitif untuk meredakan inflamasi sebelum penyingkiran
saku/poket dengan teknik bedah
2. Dilakukan secara berkala
3. Sebagai metode perawatan atau pemeliharaan
4. Pada poket infraboni yang bisa diakses
5. Px dengan pertimbangan usia, medis, dan psikologis tidak bisa dilakukan flap
periodontal

Kontaindikasi :

1. Poket periodontal yang tipis


2. Poket yang terlalu dalam
3. Problem usia dan masalah sistemik
4. Pada akses yang tidak dapat dijangkau
5. Px yang tidak kooperatif

b. Gingivektomi
Gingivektomi adalah eksisi gingiva untuk menghilangkan dinding poket.
Indikasi :
1. Poket supraboni
2. Konsistensi diding keras
3. Gingival enlargemen
4. Abses gingiva

Kontraindikasi :

1. Poket infraboni
2. Kedalaman poket > mucogingival
3. Terdapat frenulum pada daerah bedah

c. Flap periodontal

7
Flap periodontal untuk memisahkan gingiva atau mukosa dengan jaringaningan
dibawahnya.
Tujuannya :
1. Memberi akses dalam melakukan detoksifikasi akar
2. Mengurangi poket yang luas
3. Membuka akses untuk mencapai tulang dibawahnya
4. Memudahkan prosedur rgeneratif
Macam flap :
1. Full thickness flap (menyingkap semua ketebalan jaringan lunak termasuk
periosteum)
2. Partial thickness flap (hanya menyingkap sebagian ketebalan jaringan lunak)

d. Operculektomi
Operculektomi adalah pemotongan operkulum pada gigi molar 3
Indikasi:
1. Gigi yang telah erupsi sempurna
2. Adanya gigi antagonis dengan okluasi yang baik

Kontraindikasi :

1. Erupsi gigi tegak tapi erupsi belum sempurna


2. Erupsi horizontal

e. Rekonturing tulang : mengubah bentuk tulang secara definit, indikasi pada px


cacat tulang atau rahang sebab kongenital atau trauma.
f. Perawatan implan
g. Reperawatan endo

3. Apa dasar pemilihan perawatan bedah periodontal ?


a. Memastikan perawatan inisial fase 1 sudah optimal dan sempurna
b. Memastikan diagnoga dengan cermat (mengevaluasi perdarahan, kedalaman
sulkus, riwayat sistemik)
c. Memprediksi efisiensi dan efektifitas perawatan yang akan dilakukan
d. Tipe dan tingkat keparahan kelainan periodontal
e. Prognosa dari perawatan
f. Persetujuan dari px
g. Jaringaningan yang terlibat
h. Ketinggian tulang alveolar
i. Bentuk jaringaningan yang dibedah
j. Reposisi flap

4. Prosedur bedah sederhana fase II ?


1. Reevaluasi fase I ( probing dan pemeriksaan kembali indikasi bedah
periodontal)
2. Premedikasi (pemberian obat antibiotik)
3. Persetujuan tindakan medis (diagnosis, prognosis, perawatan alternatif,
kemungkinan hasil perawatan)

8
Gingivektomi
1. Anastesi lokal
2. Membuat bleeding point dengan PMF
3. Insisi pada bagian bleeding point
4. Pembersihan jaringaningan nekrotik, kalkulus, jaringaningan granulasi
5. Aplikasi periodontal dressing
Kuretase
1. Anastesi lokal
2. Pembersihan jaringaningan nekrotik, kalkulus, jaringaningan granulasi
3. Aplikasi periodontal dressing

5. Perawatan pasca bedah ?


1. Hindari makan minum selama 1 jam
2. Makan dengan sisi yang tidak dibedah
3. Jangan minum minuman yang panas selama 24 jam
4. Menggunakan larutan kumur dapa pagi dan malam untuk mengontrol plak
5. Bila pendarahan ditekan dengan saputangan bersih yang hangat jika berlanjut
hubungi dokter
6. Minum analgesik bila merasakan sakit
7. Sikat gigi hanya pada bagian yang tidak dibedah
8. Bila timbul gangguan hubungi dokter bersangkutan
9. Disarankan tidak merokok
10. Menggunakan es pada daerah pembedahan selama 24 jam pertama dapat
meredakan inflamasi
11. Jika bengkak dapat dikompres dengan air hangat
12. Diinstruksikan menjaga OH
13. Diberi antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder
14. Pemberian surgical dreesing untuk mencegah trauma dan mempercepat
penyembuhan selama 1 minggu

6. Perawatan bedah yang cocok sesuai skenario ?


1. Kuretase (untuk membuang jaringan nekrotik dan kalkulus)
2. Gingivektomi (adanya resorbsi tulang alveolar)
3. Perawatan fase 1 ( DHE, scalling, Rootplaning)
4. Spilnting (pada periodontitis kronis)
5. Gigi 11 21 12 gingivektomi (konsistensi fibrous)

9
6. Step 4 Analyzing the problem

PERAWATAN
PERIODONTAL FASE I

EVALUASI

PERAWATAN
TUJUAN
PERIODONTAL FASE II

MACAM-MACAM
PERAWATAN
PERIODONTAL FASE II

KURETASE GINGIVEKTOMI FLAP REKONTURING OPERKULEKTOMI


TULANG

INDIKASI & RESPON


PROSEDUR EVALUASI
KONTRAINDIKASI JARINGAN

Step 5 Learning Objective

1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan pengertian dan tujuan dari perawatan
periodontal fase II
2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan macam-macam perawatan
periodontal fase II (Indikasi dan kontraindikasi, Prosedur )
3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan respon jaringaningan dari perawatan
periodontal fase II
4. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan evaluasi bedah dari perawatan
periodontal fase II

10
Step 7 Learning Objective (Generalisation)

1. Pengertian dan Tujuan dari Perawatan Periodontal Fase II


2. Macam-macam Perawatan Periodontal fase II
3. Respon Jaringan dari Perawatan Periodontal Fase II
4. Evaluasi Bedah dari Perawatan Periodontal Fase II

11
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Pengertian dan Tujuan dari Perawatan Periodontal Fase II


Perawatan periodontal fase II (Fase surgical) disebut juga fase terapi korektif,
termasuk koreksi terhadap deformitas anatomikal seperti poket periodontal, kehilangan
gigi dan disharmoni oklusi yang berkembang sebagai suatu hasil dari penyakit sebelumnya
dan menjadi faktor predisposisi atau rekurensi dari penyakit periodontal.
Tujuan dari perawatan periodontal fase II
 Untuk menghilangkan faktor iritan
 Untuk menghilangkan kedalaman poket dengan perlekatan yang baru
 Untuk menghilangkan perubahan patologis pada poket
 Untuk pertimbanganan estetik
 Untuk mengembalikan fungsi pengunyahan
 Untuk menghaluskan akar
 Untuk regenerasi jaringan periodontal
 Untuk koreksi morfologi
Berikut ini adalah beberapa prosedur yang dilakukan pada fase ini:
1. Bedah Periodontal
Perawatan bedah untuk menghilangkan jaringan inflamasi dapat merangsang
terjadinya perbaikan atau regenerasi jaringan yang mengalami kerusakan.
a. Kuretase gingiva
Kuretase merupakan tindakan membuang dinding poket yang mengalami
granulasi dan inflamasi yang bertujuan membersihkan jaringan granulasi dan
jaringan inflamasi, mengurangi kedalaman poket, mengambil papilla interdental
yang rusak guna mempercepat penyembuhan.
b. Gingivektomi
Gingivektomi merupakan tindakan eksisi gingiva yang mengalami
enlargement dengan tujuan mengeliminasi poket akibat pembengkakan gingiva
( Manson, 2013).
2. Flap Periodontal
Flap didefinisikan sebagai bagian dari gingiva, mukosa alveolar, atau periosteum
yang masih memiliki suplai darah pada saat diangkat atau dipisahkan dari gigi dan
tulang alveolar. Flap periodontal didesain untuk mencapai satu atau beberapa tujuan
sebagai berikut:
a. Memberikan akses untuk melakukan detoksifikasi akar
b. Mengurangi poket yang meluas kea tau melebihi pertautan mukogingiva
c. Menediakan atau mempertahankan daerah gingiva cekat yang cukup
d. Membuka akses untuk mencapai tulang di bawahnya, untuk merawat cacat tulang
e. Memudahkan prosedur regeneratif (Fedi, 2005).
3. Rekonturing tulang

12
Bedah tulang merupakan istilah umum bagi semua prosedur yang dirancang untuk
memperbaiki dan membentuk kembali cacat dan kelainan bentuk pada tulang yang
mengelilingi gigi (Fedi, 2005).
4. Prosedur regenerasi periodontal (bone and tissue graft)
5. Penempatan implant

3.2 Macam-macam Perawatan Periodontal fase II

3.2.1 Kuretase

Kata kuretase digunakan dalam periodonsia yang berarti pembuangan dinding gingiva
pada poket periodontal untuk menghilangkan penyakit pada jaringan lunak(Caranza,
2002:744).
Kuretase gingival dan kuretase subgingival adalah salah satu teknik bedah saku yang
sangat terbatas indikasinya. Keterbatasan indikasi ini terutama berkaitan dengan tidak
dapatnya teknik bedah ini memperbaiki aksesibilitas, dan karena teknik ini hanya dapat
diindikasikan pada saku dengan dinding berkonsistensi lunak/oedematous(Caranza,
2002:744).
Kuretase ini sendiri merupakan tindakan nutk membuang dinding gingival pada poket
periodontal untuk menyingkirkan penyakit jaringan lunak pada gingiva itu sendiri. Kuretase
ini dibagi menjadi dua, yaitu kuretase gingiva, dan kuretasi subgingiva.
1. Kuretase gingiva
Kuretase gingiva ini merupakan tindakan untuk membuang jaringan lunak yang
terinflamasi dari lateral dinding poket dan junctional epithelium.
2. Kuretase subgingiva
Kuretase subgingiva merupakan prosedur yang dilakukan pada apical junctional
ephitelium sampai ke perlekatan jaringan ikat, dimana merupakan batas pada puncak tulang
alveolar (alveolar crest).
Dasar pemikiran kuretase:
Procedure kuretase mencakup penyingkiran jaringan granulasi yang terinflamasi yang
terdapat pada dinding poket periodontal. Jaringan ini mengandung partikel kalkulus dan
koloni bakteri. Koloni bakteri ini akan menyebabkan keadaan patologis dan menghambat
penyembuhan jaringan periodontal (Carranza, 2015).
Jaringan granulasi yang terinflamasi dilapisi oleh epitel dan sampai penetrasi ke jaringan.
Adanya epitel tersebut menghambat perlekatan serat-serat gingiva dan ligament periodontal
yang baru ke permukaan sementum pada daerah tersebut. Apabila dalam melakukan

13
perawatan permukaan akar dibersihkan secara optimal maka sumber utama yaitu bakteri akan
hilang dan perubahan patologis akan mereda, tidak perlu melakukan kuretase untuk
menghilangkan jaringan granulasi (Carranza, 2015).
Tujuan kuretase
 untuk mengurangi kehilangan perlekatan dengan tumbuhnya perlekatan jaringan ikat
yang baru (dental jurnal, 2006:102)
 untuk memotong dinding gingiva pada poker periodontal
 untuk meghilangkan jaringan granulasi yang terinflamasi kronis (Caranza, 2002:744).

Indikasi
 apabila terdapat pocket sedalam 3-4 mm.
 apabila pocket sedalam 3-4 mm tersebut terdapat di area gigi anterior atas, di mana
terapi gingivektomi merupakan suatu kontraindikasi karena dapat membuat segi
estetik menjadi buruk(Manson J.D. 1975: 116).
Indikasi kuretase menurut Fermin A.Carranza and Henry H. Takei (2002)

 Kuretase dapat dilakukan sebagai bagian dari membentuk perlekatan baru pada pokeet
infraboni dengan kedalaman sedang dan poket terletak pada daerah yang dapat
diakses dengan “closed surgery”.
 Kurtase dapat dillakukan sebagai prosedur non deffinitif untuk mengurangi inflamasi
sebelum dilakukan penghilangan poket dengan cara lain. Atau kuretase dapat
dilakukan sebagai perawatan alternatif pada pasien yang kontraindikasi perawatan
bedah agressive karena faktor umum, sistemik, dan psikologis. Dokter gigi dan pasien
harus saling mengerti keterbatasan peerawatan ini bahwa prognosis dan hasil dari
penghilangan poket dengan teknik ini kurang baik.
 Kuretase jangan dilakukan berulang pada kunjungan selanjutnya sebagai metode
perawatan pemeliharaan untuk area dengan inflamasi berulang dan poket dalam.
Khususnya dimana pemmbedahan pengurangan poket dalam dilakukan.

Kontraindikasi

 Keadaan dimana instrumen tidak dapat menjangkau dan terdapat keterbatasan


pandangan.

 Dinding poket fibrotik

14
 Terdapat keterlibatan percabangan akar

 Pasien yang tidak kooperatif, contohnya pasien perokok berat yang tidak dapat
menghentikan kebiasaan merokoknya tidak dapat dilakukan kuretase karena pada
proses penyembuhannya efek rokok akan menghambat produksi PMN, Ig A, Ig G, Ig
M dan CD 8 sehingga jaringan gingiva tidak mendapatkan perlekatan yang baik dan
hasilnya akan lebih buruk (reinfeksi)

Curettage adalah teknik tertutup, maksudnya prosedur pembedahan yang dilakukan di


bawah anastesi lokal yang bertujuan untuk mengurangi dan menghilangkan poket,
memperbaiki perlekatan atau membentuk perlekatan baru. Untuk suprabony poket yang
oedematus, yang mengalami kelainan dan pengurangan pada dasar sulkus atau dipakai
sebagai tujuan untuk mengeliminasi poket yang mengalami inflamasi. Diperlukan ketajaman
alat kuretase untuk memperbaiki sulcular epithelium atau epithelium attachment, inflamasi
dari jaringan di dinding poket. Instrument yang dipakai adalah gracey curettes, universal
curetes.

Prosedur kuretase gingival diawali anestesi lokal. Kuret yang dipilih, misalnya
Gracey #13-14 untuk permukaan mesial, Gracey #11-12 untuk permukaan distal. Dinding
poket harus didukung oleh tekanan jari lembut pada permukaan eksternal. Kuret tersebut
ditempatkan di bawah tepi potongan epitel junctional untuk merusaknya. Selama kuretase
subgingival, jaringan yang ada antara bawah poket dan puncak alveolar dikeluarkan dengan
gerakanmenyendoki, gerakan kuret pada permukaan gigi. Daerah yang memerah untuk
menghilangkan kotoran, dan sebagian disesuaikan dengan gigi dengan tekanan jari yang
lembut. Irigasi dilakukan untuk mengairi daerah agar menghilangkan kotoran dan tekan
jaringan pada permukaan gigi lembut yang memungkinkan perdarahan dan adaptasi jaringan
lunak pada permukaan akar. Dalam jaringan pada beberapa kasus, menjahit papila terpisah
dan penerapan periodontal pack dapat diindikasikan jika daerah bekuan telah terganggu dan
papila telah dipisahkan. Penyembuhan ini akan menghasilkan penyusutan jaringan.

Fungsi periodontal pack atau periodontal dressing:


1. Melindungi luka dari iritasi
2. Menjaga daerah luka agar tetap bersih
3. Mengontrol perdarahan
4. Mengontrol pembentukan jaringan granulasi yang berlebihan
5. Mempercepat pemulihan dan memberikan kenyamanan kepada pasien setelah operasi.
(Manson et al, 1993).

15
3.2.2 Gingivektomi
Gingivektomi adalah mengeksisi gingiva dengan menghilangkan dinding poket.
Gingivektomi dilakukan untuk memelihaara visibilitas dan aksesibilitas untuk menghilangkan
kalkulus dan menghaluskan akar (Caranza, 2002: 749).
Gingivektomi adalah mengeksisi gingiva dengan menghilangkan dinding poket.
Gingivektomi dilakukan untuk memelihaara visibilitas dan aksesibilitas untuk menghilangkan
kalkulus dan menghaluskan akar (Caranza, 2002: 749).
Dasar pemikiran
Gingivektomi dilakukan untuk menghilangkan poket supraboni dimana apabila
konsistensi dari dinding poket tersebut fibrous. Selain itu gingivektomi juga dilakukan untuk
mengeliminasi adanya gingiva enlargement, yaitu adanya pembengkakan gingiva yang
menetap dimana poket yang sesungguhnya dangkal namun terlihat adanya pembesaran dan
deformasi gingiva yang cukup besar. Gingivektomi juga digunakan untuk mengeliminasi
abses periodontal yang berada pada dinding poket, dan yang paling penting gingivektomi
dilakukan untuk menciptakan lingkungan yang menguntungkan bagi penyembuhan gingiva
dan restorasi kontur gingiva yang fisiologis (Caranza, 2002:749).

Tujuan gingivektomi:
 Untuk menyingkirkan dinding poket yang terinflamasi
 Untuk menyingkirkan dinding poket yang terinflamasi
 Untuk menciptakan lingkungan yang menguntungkan bagi penyembuhan gingiva dan
restorasi kontur gingiva yang fisiologis (Caranza, 2002:749).

 Untuk menciptakan lingkungan yang menguntungkan bagi penyembuhan gingiva dan


restorasi kontur gingiva yang fisiologis (Caranza, 2002:749).
Indikasi:
 Adanya poket supraboni dengan kedalaman lebih dri 4 mm, yang tetap ada walaupun
sudah dilakukan skaling dan pembersihn mulut yang cermat berkali-kali, dan keadaan
dimana prosedur gingivektomi akan menghasilkan daerah perlekatan gingiva yang
adekuat
 Adanya pembengkakan gingiva nyang menetap dimana poket ‘sesungguhnya’ dangkal
namun terlihat pembesaran dan deformitas gingiva yang cukup besar. Bila jaringan
gingiva merupakan jaringan fibrosa, gingivektomi merupakan cara perawatan yang
paling cocok dan dapat memberikan hasil yang memuaskan.

16
 Adanya kerusakan furkasi (tanpa disertai cacat tulang) dimana terdapat daerah
perlekatan gingiva yang cukup lebar
 Abses gingiva yaitu abses yang terdapat di dalam jaringan lunak
 Flap koronal
(buku ajar periodonti, J.D Manson, 1993:178)

Kontraindikasi
 Membutuhkan pembedahan tulang atau evaluasi bentuk dan morfologi tulang
 Keadaan dimana dasar poket pada atau di apical mukogingiva junction
 Adanya pertimbangan estetik, khususnya pada gigi anterior rahang atas
(Caranza, 2002:749).
Kontraindikasi
 Apabila kedalaman dasar poket berada pada atau lebih ke apical dari pertautan
mukogingiva
 Apabila dinding jaringan lunak poket terbentuk oleh mukosa alveolar.
 Apabila frenulum atau perlekatan otot terletak didaerah yang akan dibedah
 Apabila ada indikasi perawatan cacat infraboni
 Apabila gingivektomi tidak menghasilkan estetik yang baik
 Apabila gingival cekat atau berkeratin tidak cukup tersedia( sehingga jika
gingivektomi dilakukan, tepi gingival terbentuk dan mukosa alveolar)
(Arthur R. dkk.2006)
Proedur Gingivektomi:
Step 1: Poket pada masing-masing permukaan dieksplorasi dengan probe periodontal
dan ditandai dengan pocket marker. Masing-masing poket ditandai pada beberapa daerah
sebagai outline pada permukaannya.
Step 2: Pisau periodontal (Kirkland knives) digunakan untuk insisi pada daerah
permukaan fasial dan lingual. Pisau periodontal Orban digunakan untuk insisi interdental,
jika diperlukan, dan pisau Bard-Parker, dan gunting digunakan sebagai instrumen tambahan.
Insisi dimulai dari apikal ke tanda poket dan aecara langsung ke koronal di antara
dasar poket dan puncak tulang. Proses penyembuhan tidak akan terjadi masalah jika daerah
ditutupi periodontal pack secara adekuat.
Insisi kontinyu dan terputus bisa digunakan. Insisi harus dibevel kurang-lebih 45 o
sehingga blade dapat menembus seluruh gingiva menuju ke dasar poket. Insisi yang akurat
akan dapat menghilangkan dinding poket dan membentuk kontur jaringan yang ramping; bila

17
insisi terlalu datar akan terbentuk kontur pascaoperasi yang kurang memuaskan Kealahan
yang paling sering dibuat pada operasi ini adalah insisi pada posisi koronal sehingga dinding
dasar poket tetap tertinggal dan penyakit cenderung timbul kembali.
Step 3: Menghilangkan dinding poket yang telah dieksisi, membersihkan daerah, dan
memeriksa permukaan akar. Bila insisi sudah dapat memisahkan seluruh dinding poket dari
jaringan di bawahnya, dinding poket akan dapat dengan mudah dihilangkan dengan kuret
atau skaler yang besar. Sisa jaringan fibrosa dan jaringan granulasi dapat dibersihkan
seluruhnya dengan kuret yang tajam(Carranza, 2002:749-750).

gambar 1. Membuat titik perdarahan dengan penanda poket, titik-titik perdarahan


tersebut menunjukkan kedalaman poket

18
gambar 2. A, insisi terputus. B, insisi secara langsung.

gambar 3. A, posisi penanda poket. B, insisi bevel yang terletak di apikal dari titik
yang dibuat dengan penanda poket

19
gambar 4. 1, Jaringan granulasi. 2, kalkulus dan deposit lain di akar. 3, daerah yang
bersih pada dasar poket .
Menurut J.D. manson (1975) dalam buku Periodontics, prosedur gingivektomi bedah
adalah sebagai berikut:
a. Local anastesi, anastesi sangat dianjurkan sebelum perawatan
b. Memberi tanda pada poket poket marker sampai terjadi titik perdarahan
c. Insisi, daerah pada titik perdarahan merupakan acuan untuk melakukan insisi,
akan tetapi insisi dilakukan lebih ke apikal dari titik perdarahan samapi pisau
dapat mencapai dasar poket.gan jaringan
d. Pembuanagn jaringan nekrotik
e. Aplikasi periodontal dressing
f. Instruksi pasien:
 Hindari makan dan minum selama 1 jam
 Hindari makanan berat, kasar dan lengket
 Gunakan sikat gigi dengan halus pada region yang tidak dilakukan
pembedahan
 Jika terjadi perdarahan tekan dressing selama 15 menit, jangan berkumur.
 Gunakan analgesic seperti aspirin apabila timbul rasa sakit
 Lepas dressing setelah 5-7 hari

3.2.3 ENAP (Excisional New Attachment Procedure) / Open kuretase

Indikasi ENAP :

1. Indikasi umum = kuretase

2. Jika diperlukan eksisi

3. Gingiva keratin adekuat

4. Localized pada regio anterior, papilla interdental

5. Periodontitis ringan/sedang

Kontra indikasi ENAP :


1. periodontitis berat

2. poket infrabony

3. gingiva keratin sempit

4. kerusakan tulang alveolar

5. jaringan hiperplastik

6. keterlibatan furkasi

20
7. daerah interproksimal sulit dijangkau

Keuntungan ENAP
1. Aksesibilitas > kuretase
2. Pengambilan jar granulasi > optimal dan terkontrol
3. Bisa untuk poket yg lebih dalam (dibandingkan kuretase)
4. Efektif untuk poket suprabony yang oedematus (juga fibrosis ringan)
5. Sedikit kerusakan pada jaringan lunak
6. Merupakan prosedur yg predictable untuk eliminasi poket
Prosedur ENAP
1. Skeling dan root planing1 minggu sebelumnya
2. Cek kedalaman poket, zona berkeratin cukup
3. Anestasi lokal
4. Insisi miring ke dalam dengan skalpel sampai dasar sulkus
5. Jaringan granulasi diambil dengan skaler dan kuret
6. Lakukan skeling dan root planing lagi
7. Suturing interupted pada interproksimal
8. Ditekan dengan tampon steril3-5 menit
9. Mengaplikasikan periodontal dressing
10. Medikamentosa dengan antibiotik dan analgesik
11. Kontrol 1 minggu

3.3 Respon Jaringan dari Perawatan Periodontal Fase II

3.3.1 Respon Jaringan Gingivektomy


Setelah 12–24 jam, sel epitel pinggiran luka mulai migrasi ke atas jaringan granulasi.
Epitelisasi permukaan pada umumnya selesai setelah 5–14 hari. Selama 4 minggu pertama
setelah gingivektomi keratinisasi akan berkurang,6 keratinisasi permukaan mungkin tidak
tampak hingga hari ke 28–42 setelah operasi. Repair epithel selesai sekitar satu bulan, repair
jaringan ikat selesai sekitar 7 minggu setelah gingivektomi. Vasodilatasi dan vaskularisasi
mulai berkurang setelah hari keempat penyembuhan dan tampak hampir normal pada hari
keenam belas. Enam minggu setelah gingivektomi, gingiva tampak sehat, berwarna merah
muda dan kenyal. Kenyataannya secara klinis perawatan gingivitis hiperplasi dengan
perawatan gingivektomi sering menimbulkan kekambuhan(Caranza, 2002:752).

21
Menurut penelitian Ruhadi dan Izzatul (2005), menunjukkan tampak jelas adanya
faktor lokal sebagai pemicu terjadinya kekambuhan pada proses penyembuhan. Kontrol plak
yang tidak optimal menyebabkan terjadinya penumpukan bakteri plak supragingiva yang
menimbulkan keradangan pada gingival didekatnya. Keradangan yang terjadi menyebabkan
terjadinya kekambuhan atau hiperplasi gingiva, oleh karena itu selama masa penyembuhan
diperlukan oral hygiene yang baik. Penyebab utama penyakit keradanganpada jaringan
periodontal adalah bakteri plak, tanpa kontrol plak kesehatan periodontal tidak akan pernah
tercapai. Sebenarnya aspek keberhasilan perawatan dokter gigi tergantung pada kontrol plak.
Tidak optimalnya kontrol plak yang berhubungan dengan penumpukan bakteri plak
setelah perawatan gingivektomi telah menimbulkan kekambuhan, meskipun telah dilakukan
DHE, scaling dan root planing terhadap setiap sampel penderita pada terapi awal atau 2
minggu sebelum gingivektomi. Kontrol plak dikategorikan ke dalam kontrol plak yang
dikerjakan oleh dokter gigi dan kontrol plak yang dilakukan oleh penderita. Kontrol plak
yang dikerjakan oleh dokter gigi memang penting, tapi kontrol plak yang dilakukan oleh
penderita sendiri seharihari untuk pemeliharaan merupakan faktor yang lebih penting
terhadap keberhasilan perawatan (Ruhadi dan Izzatul, 2005)..
Berdasarkan pembahasan awal kekambuhan hiperplastik gingivitis dapat terjadi pada
45 hari setelah gingivektomi dan kemudian meningkat sampai hari ke 90. Mengingat bahwa
semua sampel pada penelitian ini jumlah monositnya normal, maka dapat disimpulkan pula
bahwa kontrol plak memegang peranan penting, sehingga apabila pelaksanaan menjaga
kebersihan mulut kurang bagus, maka masih terjadi kekambuhan hiperplastik gingivitis
(Ruhadi dan Izzatul, 2005).
Menurut Buku Ajar Periodonti (1993), Luka jaringan ikat tertutup beku darah. Daerah
di baliknya akan mengalami fase inflamasi akut yang singkat, diikuti dengan demolisi dan
organisasi. Sel-sel epitel bermigrasi dari tepi luka dalam waktu 7-14 hari dan terkeratinisasi
setelah 2-3 minggu. Pembentukan perlekatan epitel yang baru berlangsung selama 4 minggu.
Kebersihan mulut yang baik sangat diperlukan.

3.3.2 Respon Jaringan Kuretase

Segera setelah kuretase, gumpalan darah memenuhi area poket, yang secara
menyeluruh atau sebagian menghilangkan lapisan epitel. Hemoragik juga terlihat pada
jaringan dengan kapiler yang mengalami dilatasi dan polimorfonuklear leukosit (PMN) yang
melimpah terlihat pada permukaan luka. Hali ini diikuti dengan poliferasi yang cepat dari

22
jaringan granulasi dengan penurunan jumlah dari pembuluh darah kecil sejalan dengan
kematangan jaringan.

Perbaikan dan pembentukan epitel pada sulkus secara general membutuhkan waktu 2
hingga 7 hari dan perbaikan juctional epithelium terjadi pada hewan 5 hari setelah perawatan.
Serat kolagen yang belum matang muncul setelah 21 hari. Serat gingiva yang sehat yang
secara tidak sengaja rusak disembuhkan pada proses penyembuhan.

Sesegera setelah scaling dan kuretase, gingiva terlihat hemoragik dan berwarna merah
terang. Setelah 1 minggu, tinggi gingiva terlihat menyusut karena adanya perubahan pada
apikal gingival margin. Gingiva juga terlihat semakin berwarna merah gelap dari normal
namun kurang gelap dari beberapa hari sebelumnya. Setelah 2 minggu dan dengan menjaga
oral higiene yang tepat, warna yang normal, konsistensi, tekstur permukaan dan, kontur
gingiva dapat tercapai dan margin gingiva beradaptasi dengan baik kepada gigi.

3.3.3 Respon jaringan setelah perawatan Operkulektomi


Permukaan dalam flap yang berkontak dengan tulang dan gigi akan mengalami inflamasi,
demolasi, organisasi, dan pemulihan. Beku darah yang tipis, digantikan oleh jaringan
granulasi dalam waktu satu minggu. Jaringan akan masak menjadi jaringan ikat kolagen
dalam waktu 2 – 5 minggu. Permukaan dalam flap akan bergabung dengan tulanguntuk
membentuk mukoperiosteum yang menambah lebar daerah perlekatan gingival. Kira-kira 2
hari setelah operasi, epithelium akan mulai berproliferasi dari tepi flap ke atas luka jaringan
ikat. Epitelium akan bergeser ke apical dengan kecepatan0,5 mm perhari untuk membentuk
pertautan epithelium yang baru. Perlekatan epithelium yang masak terbentuk dalam waktu 4
minggu. Perlekatan jaringan ikat akan terbentuk kembali antara jaringan marginal dan
sementum akar dari tepi tulang sampai ke dasar epithelium jungsional. Dengan cara ini
epithelium jungsional tidak akan bermigrasi lebih apical lagi. Kebersihan mulut yang baik
sangat diperlukan selama periode pemulihan ini (Caranza, 2002:).

3.3.4 Respon Jaringan Flap Periodontal

Segera setelah penjahitan, hubungan antara flap dan gigi atau permukaan tulang tercipta
melalui pembekuan darah, yang terdiri dari retikulum fibrin dengan berbagai leukosit PMN,
eritrosit, debris sel-sel yang cedera dan kapiler pada tepi luka. Bakteri dan eksudat atau
transudat merupakan hasil dari jaringan yang cedera.

23
Satu hingga tiga hari pasca bedah Ruang antara flap dan gigi atau tulang akan lebih tipis,
dan sel-sel epitel bermigrasi ke sekitar tepi flap, biasanya pada saat ini, berkontak dengan
gigi. Ketika flap beradaptasi dengan prosesus alveolar, hanya terdapat sedikit respon
inflamasi. Satu minggu pasca bedah perlekatan epitel ke akar telah terbentuk secara
hemidesmosom dan lamina basal. Bekuan darah digantikan dengan jaringan granuloma yang
dibentuk dari jaringan ikat gingiva, sumsum tulang, dan ligamen perio. Dua minggu pasca
bedah serat kolagen mulai muncul secara parallel ke permukaan gigi. penyatuan flap ke gigi
masih sangat rentan, menunjukan serat kolagen yang masih belum matang, walaupun
demikian, aspek klinis terlihat normal. Satu bulan pasca bedah, seluruh epitel crevis gingiva
dengan perlekatan epitel yang berbatas jelas akan muncul. Pengaturan fungsional dari serat
supracrestal

3.3.5 Respon jaringan ENAP (Excisional New Attachment Procedure)

Pada adaptasi epitel, epitel gingiva beradaptasi rapat dengan permukaan gigi
sedangkan saku periodontal tetap ada. Sulkus yang dalam ini yang didindingi oleh epitel yang
tipis dan panjang, dan oleh sebab itu bentuk penyembuhan ini dinamakan juga epitel penyatu
yang panjang (long junctional epithelium). Adaptasi epitel bisa sama daya tahannya terhadap
penyakit seperti perlekatan jaringan ikat yang sebenarnya. Hasil penyembuhan saku
periodontal yang dicapai sangat tergantung pada sekuens proliferasi sel-sel yang terlibat pada
stadium penyembuhan. Apabila epitel berproliferasi lebih dahulu sepanjang permukaan akar
gigi sebelum jaringan periodonsium lainnya mencapai daerah tersebut, maka bentuk
penyembuhan yang dicapai adalah berupa epitel penyatu yang panjang. Bila sel-sel dari
jaringan ikat gingiva yang terlebih dahulu mempopulasi daerah tersebut, hasilnya adalah
serabut-serabut yang sejajar dengan permukaan akar gigi dan remodeling tulang alveolar,
tanpa perlekatan serabut ke sementum. Apabila selsel tulang yang lebih dulu mencapai daerah
tersebut, bisa terjadi resorpsi akar dan ankilosis. Bila sel-sel dari ligamen periodontal
proliferasi lebih dulu ke daerah tersebut, baru akan terjadi pembentukan sementum dan
ligamen periodontal baru.

3.4 Evaluasi Bedah dari Perawatan Periodontal Fase II


Evaluasi perawatan periodontal merupakan pemeriksaan dari tindakan yang telah
diberikan untuk mengetahui tindakan tersebut efektif atau tidak. Evaluasi perlu diberikan
karena jaringan periodontal tidak dapat tersembuhkan secara langsung jadi tidak dapat
diketahui respon perawatan secara langsung. Proses penyembuhan jaringan sekitar 14 hari

24
atau 2 minggu dan untuk melihat perlekatan epitel sekitar 3 bulan. Namun waktu control ini
disesuaikan dengan keadaan pasien dan perawatan yang diberikan karena respon jaringan
setiap perawatan dan pasien berbeda-beda. Evaluasi yang dilakukan dokter gigi yaitu:
1. Memperbarui rekam medis pasien
2. Membandingkan kondisi pasien ketika pemeriksaan awal dengan kondisi saat evaluasi
3. Mengecek ada atau tidaknya jaringan yang terinflamasi
4. Melakukan control plak yaitu scalling dan root planning dan memberikan edukasi
kepada pasien mengenai cara mengontrol plak seperti menyikat gigi dengan benar.
Pengontrolan plak sangat penting bagi penyembuhan dikarenakan apabila control plak
tidak optimal dan akumulasi plak meningkat maka jaringan tidak mengalami
penyembuhan, bahkan mengalami kekambuhan atau terdapat penyakit yang lain.
5. Memeriksa jaringan periodontal seperti kondisi gingiva, mengecek sulkus, dan
melihat perdarahan saat melakukan Bleeding On Probing (BOP).
6. Pemberian tablet fluoride untuk mencegah karies gigi
7. Dan bila perlu melakukan ronsen radiografi untuk melihat jaringan periodontal yang
tidak tampak mata dan keadaan tulang alveolarnya.
(Nield, 2011; Mitchell, 2016).
Instruksi pasca perawatan bedah periodontal, antara lain:
1. Untuk 3 jam pertama setelah operasi, hindari makanan yang panas untuk membiarkan
periodontal pack agar bisa mengeras
2. Hindari makanan yang sangat pedas karena akan menimbulkan rasa sakit
3. Pasien harus diberi dorongan untuk segera menyikat giginya dengan sikat lembut dan
air hangat
4. Apabila pasien belum bisa membersihkan gigi dengan sikat gigi karena rasa sakit
pada daerah bekas operasi, maka pasien diinstruksikan untuk berkumur dengan
larutan klorheksidin tiap pagi dan malam selama satu minggu
5. Pasien diinstruksikan untuk tidak mengonsumsi teh, kopi, dan rokok untuk
menghindari terjadinya stain
6. Pembersihan interdental sebaiknya baru digunakan setelah satu minggu kemudian
7. Banyak istirahat dan hindari aktivitas yang berat
8. Jika ada perdarahan yang cukup besar di luar ini, diinstruksikan untuk mengambil
sepotong kasa, bentuk dalam bentuk U (atau bisa menggunakan tampon), tahan
dengan jari telunjuk dan jempol, dan menerapkannya di kedua sisi pack selama 20
menit
9. Jika timbul rasa sakit yang tidak nyaman perlu pemberian analgesik seperti ibuprofen
(600-800 mg) 1 tablet 3 kali sehari serta perlu diperhatikan pasien dengan hipertensi
terkontrol pemberian analgesik harus hati-hati

25
10. Pemberian antibiotik pascaoperasi sebaiknya hanya digunakan untuk kasus tertentu
saja, misalnya untuk penderita diabetes dan penderita cacat
11. Sampaikan kepada pasien jika telah dipasang periodontal pack yang dapat mencegah
rasa nyeri, membantu penyembuhan, serta memberikan rasa nyaman terhadap luka
pasca operasi
12. Dijadwalkan pengontrolan ulang dengan interval 3-6 bulan kemudian

26
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan

 Perawatan periodontal fase II merupakan perawatan lanjutan dari fase I yang


berkembang sebagai suatu hasil dari penyakit sebelumnya dan menjadi faktor
predisposisi dari penyakit periodontal.

 Perawatan periodontal fase bedah yang dilakukan apabila pada saat re-evaluasi
jaringan perawatan periodontal fase I tidak ditemukan adanya perbaikan atau
masih ditemukan adanya inflamasi yang menetap pada jaringan.

 Fase Bedah Terapi Periodontal bertujuan untuk:

1. Memperbaiki prognosis gigi dan penggantinya.


2. Memperbaiki estetik.

 Perawatan bedah peridontal sederhana meliputi, Kuretase, Gingivektomi, Flap


periodontal. Respon jaringan dan evaluasi jaringan pasca bedah perlu
diketahui untuk menentukan jadwal kontrol pada hari berikutnya sehingga
kesembuhan pasien dapat tercapa dengan optimal.

27
DAFTAR PUSTAKA

Carranza., Newman., Takei., Klovekkoid. 2015. Carranza’s Clinical Periodontology 12 th


edition. St. Louis: Elsevier.
Carranza FA, Jr. Rationale for periodontal treatment, in: Carranza FA Jr & Newman MG
(eds), Clinical Periodontology, 8th edition, Philadelphia, WB Saunders Co.,
1996
Carranza FA dan Henry HT. 2002. Gingival curettage, in: Carranza FA Jr & Newman MG
(eds), Clinical Periodontology, 9th edition. USA: WB Saunders Co.

Mitchell, Laura., David, A. M., Lorna, M. 2016. Kedokteran Gigi Klinik Semua Bidang
Kedokteran Gigi. Jakarta: EGC.
Nield, G. 2011. Foundation of Periodontics for the Dental Hygienist 3 rd ed. Philadelphia:
Lippincott Williams&Wilkins.
Wilson TG, Kornman KS. Fundamentals of Periodontics, Second Edition. Hong Kong:
Quintesence Publishing Co Inc, 2003: 302-3

J.D Manson. 1993. buku ajar periodonti. , 1993:178)

Ruhadi, I. danIzzatul, A. 2006.Gingival kuretase. Maj. Ked. Gigi.(Dent J), Vol.39. No.3
Juli-September 2006: 102-106.

28