Anda di halaman 1dari 38

MAKALAH AGAMA

“KEWARISAN DALAM ISLAM”

Disusun Oleh:

KELOMPOK 7
NUR ILMI DINIYAH (33117015)
FARDIMAN JAMHAL (33117017)
RAMANSI (33117020)

Pembimbing:

Nurbaeti, S.Ag.M.Pd.I.

JURUSAN TEKNIK KIMIA


POLITEKNIK NEGERI UJUNG
PANDANG
2018

0
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur penyusun Panjatkan kehadirat Allah SWT. Karena atas
kehendak-Nyalah makalah Agama yang berjudul “Kewarisan dalam Islam” dapat
diselesaikan tepat waktu.
Dalam menyelesaikan makalah ini, penyusun tidak terlalu banyak
mengalami kesulitan, karena referensi yang didapatkan oleh penyusun merupakan
rekomendasi langsung dari dosen matakuliah yang bersangkutan, hal ini tidak
meminimkan pengetahuan para penyusun dalam penyelesaian makalah. Selain itu,
penyusun pun mendapatkan berbagai bimbingan dari beberapa pihak yang pada
akhirnya makalah ini dapat diselesaikan.
Semoga dengan adanya makalah inidapat menambah ilmu pengetahuan
para pembaca tentang materi ini.
Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah
agama organik yaitu ibu Nurbaeti, S.Ag.M.Pd.I yang telah memberikan
kesempatan kepada kami untuk menyusun makalah ini dengan baik. Dan pada
Akhirnya kepada Allah jualah penyusun mohon taufik dan hidayah, semoga usaha
penyusun mendapat manfaat yang baik. Serta mendapat ridho Allah SWT. Amin
ya rabbal alamin.

Makassar, Juni 2018

Penyusun

1
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR……………………………………………………. 1
DAFTAR ISI …………………………………………………………… ... 2
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang ……………………………………………………. 3
B. Rumusan masalah …………………………………………….. 4
C. Tujuan penulisan …………………………………………………..... 5
BAB II PEMBAHASAN
A. Latar Belakang Lahirnya Kompilasi Hukum
Islam............…………….... 6
B. Definisi Waris …………………………............................................. 6
C. Bentuk-bentuk Waris ………………………………………................... 7
D. Hukum Kewarisan dalam Kompilasi Hukum Islam …………...................
7
E. Rukun Waris ada tiga …………………………………………….......... 9
F. Syarat Waris …………………………………………….......................... 9
G. Faktor-faktor yang menyebabkan mendapat Warisan ……………............. 10
H. Pembagian warisan dalam hukum islam. (Ahli waris laki-laki) ………..... 11
I. Pembagian warisan dalam hukum islam. (Ahli waris perempuan) ……....... 12
J. Golongan dalam ahli waris ……………………………………………..... 13
K. faktor-faktor yang menghalangi mendapatkan warisan. (Pengertian Hajb dan
Hirman) …………………………………………………………………….. 18
L. Masalah Umariyyatan ……………………………………………............. 21
M. Penetapan Warisan bagi Waria atau Banci/ Sebaliknya ………………….. 24
N. Ketentuan warisan untuk waria dan ibu hamil. (Hak Waris Janin dalam
Kandungan) ……………………………………………................................ 25
O. Pasal - Pasal Kewarisan Yang Termuat Dalam Kompilasi Hukum
Islam … 26
BAB III PENUTUP

2
A. Kesimpulan …………………………………………………….... 32
B. Saran …………………………………………………………....... 33
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………... 34

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam pandangan Islam semua aspek kehidupan diatur menurut hukum yang
ada yaitu Al-Qur’an dan Hadits. Termasuk dalam masalah harta. Masalah harta
sangatlah penting karena harta merupakan kebutuhan pokok manusia dan manusia
pun cenderung terhadapnya. Oleh karena itu Islam memperhatikan hal ini dan
mengaturnya dalam Al-Qur’an.
Untuk itu Islam muncul dan memberikan cahayanya agar manusia tidak
semena-mena dalam mengambil keputusan. Terutama tentang pembagian waris.
Karena ini akan menyangkut keluarga dan akan menimbulkan pertentangan dan
perselisihan di antara keluarga.
Maka dari itu itu, perlu adanya pembahasan khusus mengenai masalah
waris ini, dengan mengetahui pengertian, asas, pembagian ahli waris, dan hal-hal
yang lain yang berkaitan dengan waris.
SYARIAT Islam menetapkan aturan waris dengan bentuk yang sangat
teratur dan adil. Di dalamnya ditetapkan hak kepemilikan harta bagi setiap
manusia, baik laki-laki maupun perempuan dengan cara yang legal. Syariat Islam
juga menetapkan hak pemindahan kepemilikan seseorang sesudah meninggal
dunia kepada ahli warisnya, dari seluruh kerabat dan nasabnya, tanpa
membedakan antara laki-laki dan perempuan, besar atau kecil.
Al-Qur'an menjelaskan dan merinci secara detail hukum-hukum yang
berkaitan dengan hak kewarisan tanpa mengabaikan hak seorang pun. Bagian
yang harus diterima semuanya dijelaskan sesuai kedudukan nasab terhadap
pewaris, apakah dia sebagai anak, ayah, istri, suami, kakek, ibu, paman, cucu, atau

3
bahkan hanya sebatas saudara seayah atau seibu.
Oleh karena itu, Al-Qur'an merupakan acuan utama hukum dan penentuan
pembagian waris, sedangkan ketetapan tentang kewarisan yang diambil dari hadits
Rasulullah saw. dan ijma' para ulama sangat sedikit. Dapat dikatakan bahwa
dalam hukum dan syariat Islam sedikit sekali ayat Al-Qur'an yang merinci suatu
hukum secara detail dan rinci, kecuali hukum waris ini. Hal demikian disebabkan
kewarisan merupakan salah satu bentuk kepemilikan yang legal dan dibenarkan
AlIah SWT. Di samping bahwa harta merupakan tonggak penegak kehidupan baik
bagi individu maupun kelompok masyarakat.
Umat Islam mayoritas dan masih eksis di Indonesia. Karena
itu tetap menjadi sebuah peluang besar bagi umat Islam di
Indonesia untuk menjalankan Syariat Islam dan berhukum dengan
hukum Islam. Namun idealisme serta harapan ini bukanlah hal yang
mudah seperti kita membalikkan tangan, tapi butuh perjuangan,
pengorbanan, serta upaya yang maksimal dalam rangka
merealisasikannya. Meskipun demikian, umat Islam di Indonesia
layak bersyukur, walaupun sampai saat ini hukum yang masih berlaku
di Indonesia adalah hukum konvensional alias bukan hukum Islam,
namun ada beberapa aspek-aspek kehidupan yang masih menerapkan
hukum Islam. Di antaranya hal-hal yang menyangkut masalah
pernikahan, perceraian, hak asuh anak, juga masalah pembagian
harta waris, sebagaimana yang banyak kita kenal dengan
Istilah “Kompilasi Hukum Islam (KHI)”.Dan sebagaimana kita
ketahui bersama, KHI ini banyak digunakan sebagai acuan ataupun
dalil bagi Pengadilan Agama. Hukum Waris Islam merupakan hukum
yang harus kita jaga, semestinya sebagai umat Islam kita harus
mempelajari hukum waris dari Agama kita.Salah satunya adalah dari

4
Kompilasi Hukum Islam tersebut.Karena didalamnya kita dapat
melihat nilai-nilai Islam yang wajib untuk kita pelajari.

B. Rumusan Masalah
a) Bagaimana Latar Belakang Lahirnya Kompilasi Hukum Islam?
b) Bagaimanakah pengertian warisan dalam hukum islam.
c) Apa saja bentuk warisan.
d) Apa Hukum Kewarisan dalam Kompilasi Hukum Islam?
e) Apa saja rukun warisan?
f) Apa saja syarat warisan ?
g) Apa saja faktor-faktor yang menyebabkan mendapatkan warisan?
h) Bagaimanakah pembagian warisan dalam hukum islam. (Ahli waris laki-
laki) ?
i) Bagaimanakah pembagian warisan dalam hukum islam. (Ahli waris
perempuan) ?
j) Apa saja golongan dalam ahli waris?
k) Apa saja faktor-faktor yang menghalangi mendapatkan warisan.
(Pengertian Hajb dan Hirman)
l) Masalah Umariyyatan
m) Penetapan Warisan bagi Waria atau Banci/ Sebaliknya
n) Bagaimana ketentuan warisan untuk waria dan ibu hamil. (Hak Waris
Janin dalam Kandungan)
o) Adakah Pasal - Pasal Kewarisan Yang Termuat Dalam Kompilasi
Hukum Islam?

p) Berdasarkan rumusan di atas, maka kami angkat kedalam makalah studi


fiqih yang hal ini kami mengangkat judul “Warisan”

C. Tujuan Penulisan

5
Tujuan pembuatan makalah ini pada hakekatnya merupakan sesuatu yang hendak
dicapai dan dapat memberikan arahan dan penjelasan yang akan dilakukan.
Berpijak pada rumusan penelitian diatas, maka tujuan yang akan dicapai dalam
makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan warisan yang
sesuai dengan ketentuan hukum islam.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Latar Belakang LahirnyaKompilasi Hukum Islam


Pada akhir dekade 1980-an terdapat dua peristiwa penting
berkenaan dengan perkembangan hukum dan peradilan Islam di
Indonesia.
Pertama, pada tanggal 25 Pebruari 1988, ulama Indonesia
telah menerima tiga rancangan buku Kompilasi Hukum Islam.
Rancangan kompilasi itu, pada tanggal 10 Juni 1991, mendapat
legalisasi pemerintah dalam bentuk Instruksi Presiden kepada
Menteri Agama untuk digunakan oleh instansi pemerintah dan oleh
masyarakat yang memerlukannya. Instruksi itu dilaksanakan dengan
Keputusan Menteri Agama Nomor 154 tanggal 22 Juli 1991.
Kedua, pada tanggal 29 Desember 1989 disahkan dan
diundangkan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan

6
Agama. Dengan lahirnya undang-undang ini, persoalan mengenai
kewenangan atau kompetensi dan hokum acara Peradilan Agama menjadi
berakhir meskipun dalam batas-batas tertentu masih dapat
dipersoalkan. Kemudian undang-undang ini diubah dengan Undang-
Undang No.3 Tahun 2006. Perubahan Undang-Undang No.7 Tahun 1989
menjadi Undang-UndangNo.3 Tahun 2006 telah mengokohkan Peradilan
Agama sebagai salah satu badan peradilan. Secara hukum
kedudukannya sudah tidak persoalkan lagi namun di sisi lain ia
tidak mempunyai hukum materil atau hukum terapan unikatif. Untuk
mengatasi persoalan ini, Kompilasi Hukum Islam hadir sebagai hukum
positif yang diperlukan untuk landasan rujukan setiap Peradilan
Agama.
B. Definisi Waris
Al-miirats, dalam bahasa Arab adalah bentuk mashdar (infinitif) dari kata waritsa-
yaritsu-irtsan-miiraatsan. Maknanya menurut bahasa ialah 'berpindahnya sesuatu
dari seseorang kepada orang lain', atau dari suatu kaum kepada kaum lain.
Pengertian menurut bahasa ini tidaklah terbatas hanya pada hal-hal yang berkaitan
dengan harta, tetapi mencakup harta benda dan non harta benda. Ayat-ayat Al-
Qur'an banyak menegaskan hal ini, demikian pula sabda Rasulullah saw.. Di
antaranya Allah berfirman:
"Dan Sulaiman telah mewarisi Daud ..." (an-Naml: 16)
"... Dan Kami adalah pewarisnya." (al-Qashash: 58)
Selain itu kita dapati dalam hadits Nabi saw.:
'Ulama adalah ahli waris para nabi'.
Sedangkan makna al-miirats menurut istilah yang dikenal para ulama ialah
berpindahnya hak kepemilikan dari orang yang meninggal kepada ahli warisnya
yang masih hidup, baik yang ditinggalkan itu berupa harta (uang), tanah, atau apa
saja yang berupa hak milik legal secara syar'i.
 Pengertian Peninggalan

7
Pengertian peninggalan yang dikenal di kalangan fuqaha ialah segala sesuatu yang
ditinggalkan pewaris, baik berupa harta (uang) atau lainnya. Jadi, pada prinsipnya
segala sesuatu yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dinyatakan sebagai
peninggalan. Termasuk di dalamnya bersangkutan dengan utang piutang, baik
utang piutang itu berkaitan dengan pokok hartanya (seperti harta yang berstatus
gadai), atau utang piutang yang berkaitan dengan kewajiban pribadi yang mesti
ditunaikan (misalnya pembayaran kredit atau mahar yang belum diberikan kepada
istrinya).

C. Bentuk-bentuk Waris
1. Hak waris secara fardh (yang telah ditentukan bagiannya).
2. Hak waris secara 'ashabah (kedekatan kekerabatan dari pihak ayah).
3. Hak waris secara tambahan.
4. waris secara pertalian rahim.

D. Hukum Kewarisan dalam Kompilasi Hukum Islam


Orang Islam yang akan membagi warisan tidak harus tunduk
pada ketentuan kewarisan menurut hukum kewarisan Islam. Hal ini
didasarkan pada Pasal 49 Undang-Undang No.3 Tahun 2006 tentang
Peradilan Agama yang berbunyi: Pengadilan Agama bertugas dan
berwenang memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara ditingkat
pertama antara orang-orang yang beragama Islam di bidang:
a. Perkawinan.
b. Waris.
c. Wasiat
d. Hibah.
e. Wakaf.
f. Zakat.
g. Infaq.

8
h. Shadaqah.
i. Ekonomi syariah.

Didalam penjelasan khususnya Pasal 49 huruf b ditegaskan bahwa


bidangkewarisan adalah mengenai penentuan siapa-siapa yang menjadi
ahli waris, penentuan harta peninggalan, penentuan bagian masing-
masing ahli waris, dan pelaksanaan pembagian harta peninggalan
tersebut, serta penetapan pengadilan atas permohonan seseorang
tentang penentuan siapa yang menjadi ahli waris, penentuan bagian
masing-masing ahli waris.
Terdapat pembaruan yang cukup menonjol dalam kompilasi hukum
Islam, terutama jika dibandingkan dengan sistem kewarisan yang
dikembangkan oleh Ahlussunnah. Cerminan asas bilateral dalam
kompilasi hukum Islam adalah pasal 174 ayat 2 yang berbunyi :
Apabila semua ahli waris ada maka yang berhakmendapat warisan
hanya: anak, ayah, ibu, janda atau duda. Kalimat pendek dalam
pasal ini mengakhiri polemik panjang tentang apakah anak perempuan
dapat menghijab (menghalangi) saudara pewaris atau tidak.
Sistem kewarisan yang dikembangkan Ahlussunnah menegaskan
bahwa hanya anak laki-laki saja yang dapat menghijab saudara
pewaris. Konsekuensi berikutnya dari diterimanya asas bilateral
adalah dikenalnya pranata pembagian tempat (plaatsvervulling)
dalam Kompilasi Hukum Islam.
Ada perbedaan yang sangat menonjol antar kedudukan cucu (
ahli waris dalam garis lurus ke bawah ) dari anaklaki-laki dan
cucu dari anak perempuan. Dua jenis cucu ini tidak mungkin
mewaris bersama-sama, sebab cucu dari anak laki-laki menghijab

9
cucu dari anak perempuan. Cucu dari anak laki-laki berkedudukan
sebagai ahli waris dzul faraid atau ashabah, sedangkan cucu dari
anak perempuan berkedudukan sebagai ahli waris dzul arham.
Ketentuannya adalah ahli waris dzul arham baru mewaris apabila
tidak ada ahli waris dzul faraid atau ashabah.

E. Rukun Waris ada tiga:


1. Pewaris, yakni orang yang meninggal dunia, dan ahli warisnya berhak untuk
mewarisi harta peninggalannya.
2. Ahli waris, yaitu mereka yang berhak untuk menguasai atau menerima harta
peninggalan pewaris dikarenakan adanya ikatan kekerabatan (nasab) atau ikatan
pernikahan, atau lainnya.
3. Harta warisan, yaitu segala jenis benda atau kepemilikan yang ditinggalkan
pewaris, baik berupa uang, tanah, dan sebagainya.

F. Syarat Waris
Syarat-syarat waris juga ada tiga:
1. Meninggalnya seseorang (pewaris) baik secara hakiki maupun secara hukum
(misalnya
dianggap telah meninggal).
2. Adanya ahli waris yang hidup secara hakiki pada waktu pewaris meninggal
dunia.
3. Seluruh ahli waris diketahui secara pasti, termasuk jumlah bagian masing-
masing.

 Syarat Pertama: Meninggalnya pewaris


Yang dimaksud dengan meninggalnya pewaris --baik secara hakiki ataupun secara
hukum-- -ialah bahwa seseorang telah meninggal dan diketahui oleh seluruh ahli
warisnya atau sebagian dari mereka, atau vonis yang ditetapkan hakim terhadap

10
seseorang yang tidak diketahui lagi keberadaannya. Sebagai contoh, orang yang
hilang yang keadaannya tidak diketahui lagi secara pasti, sehingga hakim
memvonisnya sebagai orang yang telah meninggal.
 Syarat Kedua: Masih hidupnya para ahli waris
Maksudnya, pemindahan hak kepemilikan dari pewaris harus kepada ahli waris
yang secara syariat benar-benar masih hidup, sebab orang yang sudah mati tidak
memiliki hak untuk mewarisi.
Sebagai contoh, jika dua orang atau lebih dari golongan yang berhak saling
mewarisi meninggal dalam satu peristiwa --atau dalam keadaan yang berlainan
tetapi tidak diketahui mana yang lebih dahulu meninggal-- maka di antara mereka
tidak dapat saling mewarisi harta yang mereka miliki ketika masih hidup.
 Syarat Ketiga: Diketahuinya posisi para ahli waris
Dalam hal ini posisi para ahli waris hendaklah diketahui secara pasti, misalnya
suami, istri, kerabat, dan sebagainya, sehingga pembagi mengetahui dengan pasti
jumlah bagian yang harus diberikan kepada masing-masing ahli waris. Sebab,
dalam hukum waris perbedaan jauh-dekatnya kekerabatan akan membedakan
jumlah yang diterima. Misalnya, kita tidak cukup hanya mengatakan bahwa
seseorang adalah saudara sang pewaris. Akan tetapi harus dinyatakan apakah ia
sebagai saudara kandung, saudara seayah, atau saudara seibu. Mereka masing-
masing mempunyai hukum bagian, ada yang berhak menerima warisan karena
sebagai ahlul furudh, ada yang karena 'ashabah, ada yang terhalang hingga tidak
mendapatkan warisan (mahjub), serta ada yang tidak terhalang.

G. Faktor-faktor yang menyebabkan mendapat Warisan


Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang mendapatkan warisan ada tiga:
1. Nasab
Allah swt berfirman:
“Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah, satu sama lain lebih
berhak (waris-mewaris).” (QS al-Ahzaab: 6)

11
2. Wala’ (Loyalitas budak yang telah dimerdekakan kepada orang yang
memerdekakannya):
Dari Ibnu Umar dari Nabi saw, ia bersabda, “al-Walaa’ itu adalah kekerabatan
seperti kekerabatan senasab.” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 7157,
Mustadrak Hakim IV: 341, Baihaqi X: 292).
3. Nikah
Allah swt menegaskan:
“Dan bagimu (suami-isteri) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-
isterimu.” (QS an-Nisaa’: 12)
H. Para ahli waris dari Pihak Laki-laki
Yang berhak menjadi ahli waris dari kalangan lelaki ada sepuluh orang:
1 dan 2. Anak laki-laki dan puteranya dan seterusnya ke bawah.
Allah swt berfirman:
“Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu.
Yaitu: bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak
perempuan." (QS An Nisaa’: 11).
3 dan 4. Ayah dan bapaknya dan seterusnya ke atas.
Allah swt berfirman:
"Dan untuk dua orang ibu bapak, bagi masing-masingnya seperenam dari harta
yang ditinggalkan." (QS An Nisaa’: 11).
Dan datuk termasuk ayah, oleh karena itu Nabi saw bersabda:
"Saya adalah anak Abdul Muthallib." (Muttafaqun ’alaih: Fathul Bari VIII: 27 no:
4315, Muslim III: 1400 no: 1776, dan Tirmidzi III: 117 no: 1778).
5 dan 6. Saudara dan puteranya dan seterusnya ke bawah.
Allah swt berfirman:
"Dan saudara yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan),
jika ia tidak mempunyai anak." (QS An Nisaa’: 176).
7 dan 8. Paman dan anaknya serta seterusnya.
Nabi saw bersabda:
"Serahkanlah bagian-bagian itu kepada yang lebih berhak, kemudian sisanya
untuk laki-laki yang lebih utama (dekat kepada mayyit)." (Muttafaqun’alaih: Fatul

12
Bari XII: 11 no: 6732, Muslim III: 1233 no: 1615, Tirmidzi III: 283 no: 2179 dan
yang semakna dengannya diriwayatkan Abu Dawud, ‘Aunul Ma’bud VIII: 104
no: 2881, Sunan Ibnu Majah II: 915 no. 2740).
9. Suami.
Allah swt berfirman:
"Dan bagimu (suami-isteri) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-
isterimu." (QS An Nisaa’: 12).
10. Laki-laki yang memerdekakan budak.
Sabda Nabi saw:
"Hak ketuanan itu milik orang yang telah memerdekakannya."
Catatan :
Apabila dalam pembagian waris terdapat bersama anak laki-laki berkumpul
dengan anak perempuan sama-sama mengambil harta pusaka itu, maka cara
membaginya ialah laki-laki mendapat dua bagian dan perempuan satu bagian.
I. Perempuan-perempuan yang Mendapat Warisan
Perempuan-perempuan yang berhak menjadi ahli waris ada tujuh:
1 dan 2. Anak perempuan dan puteri dari anak laki-laki dan seterusnya.
Firman-Nya:
"Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu."
(QS An Nisaa’: 11).
3 dan 4. Ibu dan nenek.
Firman-Nya:
"Dan untuk dua orang ibu bapak, bagi masing-masing seperenam." (QS An
Nisaa’: 11).
5. Saudara perempuan.
Allah swt berfirman:
"Jika seorang meninggal dunia dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai
saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari
harta yang ditinggalkan itu." (QS An Nisaa’: 176).
6. Istri.
Allah swt berfirman:

13
"Para isteri memperoleh seperempat dari harta yang kamu tinggalkan." (QS An
Nisaa’: 12).
7. Perempuan yang memerdekakan budak.
Sabda Nabi saw:
"Hak ketuanan itu menjadi hak milik orang yang memerdekakannya."
(Muttafaqun’alaih: Fathul Bari I: 550 no: 456, Muslim II: 1141 no: 1504, ’Aunul
Ma’bud X: 438 no: 3910, Ibnu Majah II: 842 no: 2521).
J. Golongan Ahli Waris
Ahli waris terbagi dua golongan, yaitu :
1. Dzu fardlin
2. ‘Ashabah
1. DZU FARDLIN
Dzu fardlin adalah artinya yang mempunyai pembagian tertentu. Pembagian
tertentu menurut alquran ada enam:
a. 1/2 (setengah)
b. 1/4 (seperempat)
c. 1/8 (seperdelapan)
d. 1/3 (sepertiga)
e. 2/3 (dua pertiga)
f. 1/6 (seperenam)
Ahli waris yang mendapat bagian salah satu dari enam macam bagian tersebut,
dinamakan ahli waris dzu fardlin.
 Orang-orang yang berhak mendapat ahli waris
Bagian-bagian yang telah ditetapkan dalam Kitabullah Ta’ala ada enam:
(pertama) separuh, (kedua) seperempat, (ketiga) seperdelapan, (keempat) dua
pertiga, (kelima) sepertiga, dan (keenam) seperenam.
 . Yang dapat 1/2:
1. Suami yang dapat seperdua (dari harta peninggalan isteri), bila si mayyit tidak
meninggalkan anak. Allah swt berfirman: "Dan kamu dapat separuh dari apa
yang ditinggalkan isteri-isteri kamu, jika mereka tidak meninggalkan anak." (QS
An Nisaa’: 12).

14
2. Seorang anak perempuan.
Firman-Nya: "Dan jika (anak perempuan itu hanya) seorang, maka ia dapat
separuh." (QS An Nisaa’: 11).
3. Cucu perempuan, karena ia menempati kedudukan anak perempuan menurut
ijma’ (kesepakatan) ulama’. Ibnu Mundzir berkata, "Para ulama’ sepakat bahwa
cucu laki-laki dan cucu perempuan menempati kedudukan anak laki-laki dan anak
perempuan. Cucu laki-laki sama dengan anak laki-laki, dan cucu perempuan sama
dengan anak perempuan, jika si mayyit tidak meninggalkan anak kandung laki-
laki." (Al Ijma’ hal. 79)
4. dan 5. Saudara perempuan seibu dan sebapak dan saudara perempuan sebapak.
Firman-Nya: "Jika seorang meninggal dunia, padahal ia tidak mempunyai anak,
tanpa mempunyai saudara perempuan, maka saudara perempuan dapat separuh
dari harta yang ia tinggalkan itu." (QS An Nisaa’: 176)
 Yang dapat 1/4 ; dua orang:
1. Suami dapat seperempat, jika isteri yang wafat meninggalkan anak. Firman-
Nya: "Tetapi jika mereka meninggalkan anak, maka kamu dapat seperempat dari
harta yang mereka tinggalkan." (QS An Nisaa’: 12).
2. Isteri, jika suami tidak meninggalkan anak. Firman-Nya: "Dan isteri-isteri
kamu mendapatkan seperempat dari apa yang kamu tinggalkan, jika kamu tidak
meninggalkan anak." (QS An Nisaa’: 12).
 Yang dapat 1/8; hanya satu (yaitu):
Istri dapat seperdelapan, jika suami meninggalkan anak. Firman-Nya: "Tetapi jika
kamu tinggalkan anak, maka isteri-isteri kamu dapat seperdelapan dari harta
yang kamu tinggalkan." (QS An Nisaa’: 12).
 Yang dapat 2/3; empat orang
1 dan 2. Dua anak perempuan dan cucu perempuan (dari anak laki-laki).
Firman-Nya: "Tetapi jika anak-anak (yang jadi ahli waris) itu perempuan (dua
orang) atau lebih dari dua orang, maka mereka daat dua pertiga dari harta yang
ditinggalkan (oleh bapaknya)." (QS An Nisaa’: 11).
3 dan 4. Dua saudara perempuan seibu sebapak dan dua saudara perempuan
sebapak.

15
Firman-Nya: "Tetapi jika adalah (saudara perempuan) itu dua orang, maka
mereka dapat dua pertiga dari harta yang ia tinggalkan." (QS An Nisaa’: 176).
 Yang dapat 1/3; dua orang:
1. Ibu, jika ia tidak mahjub (terhalang). Firman-Nya: "Tetapi jika si mayyit tidak
mempunyai anak, dan yang jadi ahli warisnya (hanya) ibu dan bapak, maka bagi
ibunya sepertiga." (QS An Nisaa’: 11).
2. Dua saudara seibu (saudara tiri) dan seterusnya. Firman-Nya: "Dan jika si
mayyit laki-laki atau perempuan tak meninggalkan anak dan tidak (pula) bapak,
tetapi ia mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu) atau saudara perempuan
(seibu), maka tiap-tiap orang dari mereka berdua itu, dapat seperenam, tetapi
jika saudara-saudara itu lebih dari itu maka mereka bersekutu dalam sepertiga
itu." (QS An Nisaa’: 12).
 Yang dapat 1/6; ada tujuh orang:
1. Ibu dapat seperenam, jika si mayyit meninggalkan anak atau saudara lebih dari
seorang.
Firman-Nya: "Dan untuk dua orang ibu bapak, bagian masing-masingnya
seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai
anak; jika orang yang meninggal itu tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh
ibu bapaknya (saja), maka ibunya dapat sepertiga; jika yang wafat itu mempunyai
beberapa saudara, maka ibunya dapat seperenam." (QS An Nisaa’: 11).
2. Nenek, bila si mayyit tidak meningalkan ibu. Ibnul Mundzir menegaskan, "Para
ulama’ sepakat bahwa nenek dapat seperenam, bila si mayyit tidak meninggalkan
ibu." (Al Ijma’ hal. 84).
3. Seorang saudara seibu, baik laki-laki ataupun perempuan. Firman-Nya: "Dan
jika si mayyit laki-laki atau perempuan itu tidak meninggalkan anak dan tidak
(pula) bapak, tetapi ia mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu) atau saudara
perempuan (seibu), maka tiap-tiap orang dari mereka berdua itu dapat
seperenam." (QS An Nisaa’: 12).
4. Cucu perempuan, jika si mayyit meninggalkan seorang anak perempuan:
Dari Abu Qais, ia bertutur: Saya pernah mendengar Huzail bin Syarahbil berkata,
"Abu Musa pernah ditanya perihal (bagian) seorang anak perempuan dan cucu

16
perempuan serta saudara perempuan." Maka ia menjawab, "Anak perempuan
dapat separuh dan saudara perempuan separuh (juga), dan temuilah Ibnu Mas’ud
(dan tanyakan hal ini kepadanya) maka dia akan sependapat denganku!" Setelah
ditanyakan kepada Ibnu Mas’ud dan pernyataan Abu Musa disampaikan
kepadanya, maka Ibnu Mas’ud menjawab, "Sungguh kalau begitu (yaitu kalau
sependapat dengan pendapat Abu Musa) saya benar-benar sesat dan tidak
termasuk orang-orang yang mendapat hidayah. Saya akan memutuskan dalam
masalah tersebut dengan apa yang pernah diputuskan Nabi saw: yaitu anak
perempuan dapat separuh, cucu perempuan dari anak laki-laki dapat seperenam
sebagai pelengkap dua pertiga (2/3), dan sisanya untuk saudara perempuan.’
Kemudian kami datang menemui Abu Musa, lantas menyampaikan pernyataan
Ibnu Mas’ud kepadanya, maka Abu Musa kemudian berkomentar, ”Janganlah
kamu bertanya kepadaku selama orang yang berilmu ini berada di tengah-tengah
kalian.” (Shahih: Irwa-ul Ghalil no: 1863, Fathul Bari XII: 17 no: 6736, ’Aunul
Ma’bud VIII: 97 no: 2873, Tirmidzi III: 285 no: 2173, namun dalam riwayat Abu
Daud dan Tirmidzi tidak termaktub kalimat terakhir).
5. Saudara perempuan sebapak, jika si mayat meninggalkan seorang saudara
perempuan seibu sebapak sebagai pelengkap dua pertiga (2/3), karena dikiaskan
kepada cucu perempuan, bila si mayyit meninggalkan anak perempuan.
6. Bapak dapat seperenam, jika si mayyit meninggalkan anak. Firman-Nya: "Dan
bagi dua ibu bapaknya; buat tiap-tiap seorang dari mereka seperenam dari harta
yang ditinggalkan (oleh anaknya), jika (anak itu) mempunyai anak." (QS An
Nisaa’: 11).
7. Datuk (kakek) dapat seperenam, bila si mayyit tidak meninggalkan bapak.
Dalam hal ini Ibnul Mundzir menyatakan, "Para ulama’ sepakat bahwa kedudukan
datuk sama dengan kedudukan ayah." (Al Ijma’ hal. 84).
2. PENGERTIAN 'ASHABAH

Menurut bahasa, kata ’ashabah adalah bentuk jama’ dari kata ’aashib, seperti kata
thalabah adalah bentuk jama’ dari kata thaalib, (kata ’ashabah) yang berarti anak-
anak laki-laki seorang dan kerabatnya dari ayahnya.

17
Sedang yang dimaksud dalam kajian faraidh di sini ialah orang-orang yang
mendapat alokasi sisa dari harta warisan setelah ashabul furudh (orang-orang
yang berhak mendapat bagian) mengambil bagiannya masing-masing. Jika
ternyata harta warisan itu tidak tersisa sedikitpun, maka orang-orang yang
terkategori ’ashabah itu tidak mendapat bagian sedikitpun, kecuali yang menjadi
’ashabah itu adalah anak laki-laki, maka sama sekali ia tidak pernah terhalang.
(Pengertian ini dikutip dari Fiqh Sunnah III: 437).

Segenap orang yang termasuk ’ashabah berhak juga mendapatkan harta warisan
seluruhnya, bila tidak didapati seorangpun dari ashabul furudh.

Dari Ibnu Abbas ra bahwa Nabi saw bersabda, ”Serahkanlah bagian-bagian itu
kepada yang berhak, kemudian sisanya untuk laki-laki yang lebih utama (lebih
dekat kepada si mayyit).”

Allah swt berfirman:

"Dan saudara laki-laki itu menjadi ahli waris pusaka saudara perempuannya,
jika saudara perempuan tersebut tidak mempunyai anak (laki-laki)." (QS An
Nisaa’: 176).

Jadi, seluruh harta warisan harus diserahkan kepada saudara laki-laki, ketika ia
sendirian, dan kiaskanlah seluruh ’ashabah yang lain kepadanya.

 KLASIFIKASI 'ASHABAH
’Ashabah terbagi dua, yaitu ’ashabah sababiyah dan ’ashabah nisbiyah.

A. ’Ashabah sababiyah ialah ’ashabah yang terjadi karena telah memerdekakan


budak.

Nabi saw bersabda:

”Hak ketuanan itu milik bagi orang memerdekakannya.”

Sabda Beliau saw lagi:

”Hak ketuanan itu adalah daging seperti daging senasab.”

18
Orang laki-laki atau perempuan yang memerdekakan budak tidak boleh menjadi
ahli waris, kecuali apabila yang bekas budak itu tidak meninggalkan orang yang
termasuk ’ashabah nasabiyah:

Dari Abdullah bin Syaddad dari puteri Hamzah, ia berkata, ”Bekas budakku telah
meninggal dunia dan ia meninggalkan seorang puteri, maka Rasulullah saw
membagi harta peninggalannya kepada kami dan kepada puterinya, yaitu Beliau
menetapkan separuh untukku dan separuhnya (lagi) untuk dia.” (Hasan: Shahih
Ibnu Majah no: 2210, Ibnu Majah II: 913 no: 2734 dan Mustadrak Hakim IV: 66).

 Adapun ‘ashabah nasabiyah ada tiga kelompok:


1. 'Ashabah binafsih, yaitu orang-orang yang menjadi ‘ashabah dengan
sendirinya: Mereka adalah orang-orang laki-laki yang menjadi ahli waris selain
suami dan anak dari pihak ibu.

2. ‘Ashabah bighairih, ya’ni orang-orang yang jadi ‘ashabah disebabkan ada


orang lain: Mereka adalah anak perempuan, cucu perempuan, saudara perempuan
seibu sebapak, dan saudara perempuan sebapak. Jadi, masing-masing dari mereka
itu kalau ada saudara laki-lakinya menjadi ’ashabah mendapat separuh dari harta
warisan.

Firman-Nya:

"Dan jika mereka (yang jadi ahli waris) itu saudara-saudara laki-laki dan
perempuan, maka bagi saudara laki-laki itu bagian dua saudara perempuan."
(QS An Nisaa’: 176).

3. 'Ashabah ma’aghairih, yaitu orang-orang yang jadi ‘ashabah bersama orang


lain: Mereka adalah saudara-saudara perempuan bersama anak-anak perempuan;
berdasarkan hadits:

Dari Ibnu Mas’ud ra, ia berkata, “Dan sisanya untuk saudara perempuan.”

K. Pengertian Hajb dan Hirman


Menurut bahasa, kata hajb berarti man’un (cegahan), namun yang dimaksud di
sini ialah orang yang tertentu terhalang untuk mendapatkan seluruh warisannya
atau sebagiannya disebabkan ada orang lain (yang menjadi hajib, penghalang).

19
Adapun yang dimaksud kata hirman di sini ialah orang yang tertentu terhalang
mendapat warisannya disebabkan ada beberapa faktor yang menghalangi
seseorang mendapat harta warisan, yaitu :

1. Pembunuhan
Dari Abu Hurairah ra dari Rasulullah saw bahwa Beliau bersabda, “Orang yang
membunuh tidak boleh menjadi ahli waris.” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir
no: 4436, Irwa-ul Ghalil no: 1672, Tirmidzi II: 288 no: 2192 dan Ibnu Majah II:
883 no: 2645).
2. Berlainan agama:
Dari Usamah bin Zaid ra bahwa Nabi saw bersabda, “Orang muslim tidak boleh
menjadi ahli waris orang kafir dan tidak (pula) orang kafir menjadi ahli waris
seorang muslim.” (Muttafaqun ’alaih: Fathul Bari XII: 50 no: 6764, Muslim III:
1233 no: 1614, Tirmidzi III: 286 no: 2189, Ibnu Majah II: 911 no: 2729, ‘Aunul
Ma’bud VIII: 120 no: 2892).

3. Perhambaan/Perbudakan
Sebab seorang hamba dan harta bendanya adalah menjadi hak milik tuannya,
sehingga kalau ada kerabatnya memberi warisan, maka ia menjadi milik tuannya
juga, bukan menjadi miliknya.
Akan tetapi soal perbudakan pada masa kini telah dihapuskan di seluruh dunia.
Jadi sebab-sebab tidak dapat mendapat warisan hanya tinggal dua saja, yaitu
karena pembunuhan dan berlainan agama
 Pembagian Hajb
Hajb ada dua: hajb nuqshan dan kedua hajb hirman.

Adapun yang dimaksud hajb nuqshan ialah berkurangnya bagian seorang ahli
waris karena ada orang lain, dan ini terjadi pada lima orang:

1. Suami, ia terhalang untuk mendapatkan separuh dari harta peninggalan,


manakala si mayyit meninggalkan anak, sehingga ia hanya dapat
seperempat.

20
2. Isteri, ia terhalang untuk mendapat seperempat, bila si mayyit
meninggalkan anak, sehingga ia hanya dapat seperdelapan.
3. Ibu, ia terhalang untuk mendapatkan bagian sepertiga, jika si mayyit
meninggalkan anak dan cucu yang berhak menjadi ahli waris, sehingga ia
hanya mendapat seperenam.
4. Cucu perempuan.
5. Saudara perempuan sebapak.

Adapun hajb hirman yaitu seseorang tidak boleh mendapatkan warisan sedikitpun
karena ada orang lain, misalnya terhalangnya saudara laki-laki untuk
mendapatkan warisan bila si mayyit meninggalkan anak laki-laki, dan masalah ini
(hajb hirman) tidak masuk padanya warisan dari enam ahli waris, meskipun
mungkin saja terjadi pada keenam orang ini hajb nuqshan. Mereka adalah:

1 dan 2. Bapak dan Ibu.

3 dan 4. Anak laki-laki dan anak perempuan.

5 dan 6. Suami atau isteri.

Dan pembahasan hajb hirman ini mengenai selain enam orang tersebut dari
kalangan orang-orang yang berhak jadi ahli waris.

Hajb hirman berpijak pada dua asas:

1. Bahwa setiap orang yang menisbatkan dirinya kepada mayyit dengan


perantara orang lain, maka ia tidak berhak jadi ahli waris manakala orang
lain tersebut masih hidup. Misalnya cucu laki-laki dari anak laki-laki, ia
tidak bisa menjadi ahli waris bila bapaknya masih hidup, kecuali putera-
puteri ibu, mereka tetap sah menjadi ahli waris bersama ibunya, padahal
mereka menisbatkan dirinya kepada mayyit dengan perantara ibunya.
2. Yang lebih dekat harus lebih diutamakan daripada yang jauh. Misalnya
anak laki-laki menjadi hajib (penghalang) bagi keponakan laki-lakinya
dari saudara laki-lakinya. Jika mereka sederajat, maka yang harus
diutamakan adalah yang lebih kuat kekerabatannya, misalnya saudara laki-

21
laki sebapak seibu menjadi hajib (penghalang) bagi saudara laki-laki
sebapak.

L. Masalah Umariyyatan
Pada asalnya, seorang ibu akan mendapat bagian sepertiga dari seluruh harta
peninggalan pewaris bila ia mewarisi secara bersamaan dengan bapak --seperti
telah saya jelaskan--- berdasarkan pemahaman bagian ayat (artinya) "jika orang
yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja),
maka ibunya mendapat sepertiga".

Akan tetapi, berkaitan dengan ini ada dua istilah yang muncul dan dikenal di
kalangan fuqaha, yakni 'umariyyatan dan al-gharawaini. Disebut 'umariyyatan
sebab kedua hal ini dilakukan oleh Umar bin Khathab dan disepakati oleh jumhur
sahabat ridhwanullah 'alaihim. Sedangkan al-gharawaini bermakna 'dua bintang
cemerlang', karena kedua istilah ini sangat masyhur. Dalam kasus ini, ibu hanya
diberi sepertiga bagian dari sisa harta warisan yang ada, setelah sebelumnya
dikurangi bagian suami atau istri.

Al-‘aul
Al-'aul dalam bahasa Arab mempunyai banyak arti, di antaranya bermakna azh-
zhulm (aniaya) dan tidak adil, seperti yang difirmankan-Nya:

"... Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya." (an-Nisa':
3)

Al-'aul juga bermakna 'naik' atau 'meluap'. Dikatakan 'alaa al-ma'u idzaa irtafa'a
yang artinya 'air yang naik meluap'. Al-'aul bisa juga berarti 'bertambah', seperti
tampak dalam kalimat ini: 'alaa al-miizaan yang berarti 'berat timbangannya'.

Sedangkan definisi al-'aul menurut istilah fuqaha yaitu bertambahnya jumlah


bagian fardh dan berkurangnya nashib (bagian) para ahli waris.

Hal ini terjadi ketika makin banyaknya ashhabul furudh sehingga harta yang
dibagikan habis, padahal di antara mereka ada yang belum menerima bagian.
Dalam keadaan seperti ini kita harus menaikkan atau menambah pokok

22
masalahnya sehingga seluruh harta waris dapat mencukupi jumlah ashhabul
furudh yang ada -- meski bagian mereka menjadi berkurang.

Misalnya bagian seorang suami yang semestinya mendapat setengah (1/2) dapat
berubah menjadi sepertiga (1/3) dalam keadaan tertentu, seperti bila pokok
masalahnya dinaikkan dari semula enam (6) menjadi sembilan (9). Maka dalam
hal ini seorang suami yang semestinya mendapat bagian 3/6 (setengah) hanya
memperoleh 3/9 (sepertiga). Begitu pula halnya dengan ashhabul furudh yang
lain, bagian mereka dapat berkurang manakala pokok masalahnya naik atau
bertambah.

Ar-Radd
Ar-radd dalam bahasa Arab berarti 'kembali/kembalikan' atau juga bermakna
'berpaling/palingkan'. Seperti terdapat dalam firman Allah berikut:

"Musa berkata: 'Itulah (tempat) yang kita cari.' Lalu keduanya kembali, mengikuti
jejak mereka semula. " (al-Kahfi: 64)

"Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh
kejengkelan ..." (al-Ahzab: 25)

Dalam sebuah doa disebutkan "Allahumma radda kaidahum 'annii" (Ya Allah,
palingkanlah/halaulah tipu daya mereka terhadapku).

Adapun ar-radd menurut istilah ulama ilmu faraid ialah berkurangnya pokok
masalah dan bertambahnya/lebihnya jumlah bagian ashhabul furudh. Ar-radd
merupakan kebalikan dari al-'aul.

Sebagai misal, dalam suatu keadaan (dalam pembagian hak waris) para ashhabul
furudh telah menerima haknya masing-masing, tetapi ternyata harta warisan itu
masih tersisa --sementara itu tidak ada sosok kerabat lain sebagai 'ashabah-- maka
sisa harta waris itu diberikan atau dikembalikan lagi kepada para ashhabul furudh
sesuai dengan bagian mereka masing-masing.

Contoh Masalah
Soal 1 :

23
Seseorang mati meninggalkan seorang anak laki-laki, ibu dan seorang isteri,
berapa bagiankah untuk masing-masing?( misalnya ada 24 bagian)
Jawab : Ibu mendapat 1/6 dari harta pusaka.
Isteri mendapat 1/8 dari harta pusaka.
Anak laki-laki mendapat sisa(ashabah)
Asal masalah : 24
Ibu mengambil 1/6 dari 24.................= 4 bagian
Isteri mendapat 1/8 dari 24................= 3 bagian
Anak laki-laki mendapat sisa dari 24
Setelah diambil untuk ibu dan isteri..= 17 bagian
Jumlah= 24 bagian

Soal 2 :
Si A mati meninggalkan suami, dua orang saudara perempuan dan berapakah
bagian masing-masing?(misalnya 6 bagian)
Jawab : Suami mendapat 1/2 dari harta pusaka.
2 orang saudara perempuan mendapat 2/3 dari harta pusaka.
Asal masalah : 6
Suami mendapat 1/2 dari 6............................= 3 bagian
2 orang saudara perempuan dapat 2/3 dari 6..= 4 bagian
Jumlah = 7 bagian
Disini ditambah kelipatan persekutuan yang kecil dari asal masalah 6 menjadi 7,
supaya masing-masing cukup (namanya ‘aul)
Kalau kita umpamakan simati meninggalkan uang sejumlah Rp. 2.800,- maka cara
membaginya sebagai berikut :
Suami mendapat Rp. 2.800,- X 3..........= Rp. 1.200,-
7
2 orang saudara perempuan mendapat Rp. 2.800,- X 4.........= Rp. 1.600,-
7 Jumlah= Rp. 2.800,-

24
‫‪M. Penetapan Warisan bagi Waria atau Banci/ Sebaliknya‬‬
‫‪Hadits Darimi 2842‬‬

‫س ِم َع ُم َح همدَ‬ ‫سى َع ْن إِ ْس َرا ِئي َل َع ْن َع ْب ِد ْاْل َ ْعلَى أَنههُ َ‬‫َّللاِ ب ُْن ُمو َ‬ ‫أ َ ْخ َب َرنَا ُ‬
‫ع َب ْيد ُ ه‬
‫لر ُج ِل َو َما ِل ْل َم ْرأَةِ ِم ْن‬
‫ون لَهُ َما ِل ه‬ ‫الر ُج ِل َي ُك ُ‬ ‫بْنَ َع ِلي ٍّ يُ َحد ُ‬
‫ِث َع ْن َع ِلي ٍّ فِي ه‬
‫ث فَقَا َل ِم ْن أ َ ِي ِه َما بَا َل‬
‫أ َ ِي ِه َما يُ َو هر ُ‬

‫‪Dilihat dari alat kelaminnya yang mengeluarkan kencing (dari situlah ditetapkan‬‬
‫‪statusnya).‬‬

‫‪Hadits Darimi 2843‬‬

‫ش ْع ِبي ِ‬ ‫ع ْن ال ه‬‫يرة َ َع ْن ِشبَاكٍّ َ‬ ‫ش ْي ٌم َع ْن ُم ِغ َ‬ ‫َحدهثَنَا أَبُو بَ ْك ِر ب ُْن أ َ ِبي َ‬


‫ش ْيبَةَ َحدهثَنَا ُه َ‬
‫َع ْن َع ِلي ٍّ فِي ْال ُخ ْنثَى قَا َل يُ َو هر ُ‬
‫ث ِم ْن قِبَ ِل َمبَا ِل ِه‬

‫‪Ia diberi warisan berdasarkan tempat keluarnya air kencing.‬‬

‫‪Hadits Darimi 2844‬‬

‫ْس ِبذَ َك ٍّر‬ ‫ام ٌر َع ْن َم ْولُو ٍّد ُو ِلدَ َولَي َ‬ ‫َحدهثَنَا أَبُو نُ َعي ٍّْم َحدهثَنَا أَبُو هَانِ ٍّئ قَا َل ُ‬
‫سئِ َل َع ِ‬
‫ْس لَهُ َما ِل ْْل ُ ْنثَى يُ ْخ ِر ُج ِم ْن ُ‬
‫س هرتِ ِه َك َه ْيئ َ ِة‬ ‫َو ََل أ ُ ْنثَى لَي َ‬
‫ْس لَهُ َما ِللذه َك ِر َولَي َ‬
‫ف َح ِظ‬ ‫ف َح ِظ الذه َك ِر َونِ ْ‬
‫ص ُ‬ ‫ص ُ‬ ‫ع ْن ِم َ‬
‫يراثِ ِه فَقَا َل نِ ْ‬ ‫ْالبَ ْو ِل َو ْالغَائِ ِط ُ‬
‫سئِ َل َ‬
‫ْاْل ُ ْنثَى‬

‫‪(Bagian warisannya adalah) setengah dari bagian laki-laki & setengah dari bagian‬‬
‫‪perempuan.‬‬

‫‪25‬‬
N. Hak Waris Janin dalam Kandungan
Janin dalam kandungan berhak menerima waris dengan memenuhi dua
persyaratan:

1. Janin tersebut diketahui secara pasti keberadaannya dalam kandungan


ibunya ketika pewaris wafat.
2. Bayi dalam keadaan hidup ketika keluar dari perut ibunya, sehingga dapat
dipastikan sebagai anak yang berhak mendapat warisan.

Syarat pertama dapat terwujud dengan kelahiran bayi dalam keadaan hidup. Dan
keluarnya bayi dari dalam kandungan maksimal dua tahun sejak kematian
pewaris, jika bayi yang ada dalam kandungan itu anak pewaris. Hal ini
berdasarkan pernyataan Aisyah r.a.:

"Tidaklah janin akan menetap dalam rahim ibunya melebihi dari dua tahun
sekalipun berada dalam falkah mighzal."

Pernyataan Aisyah r.a. tersebut dapat dipastikan bersumber dari penjelasan


Rasulullah saw.. Pernyataan ini merupakan pendapat mazhab Hanafi dan
merupakan salah satu pendapat Imam Ahmad.

Adapun mazhab Syafi'i dan Maliki berpendapat bahwa masa janin dalam
kandungan maksimal empat tahun. Pendapat inilah yang paling akurat dalam
mazhab Imam Ahmad, seperti yang disinyalir para ulama mazhab Hambali.

Sedangkan persyaratan kedua dinyatakan sah dengan keluarnya bayi dalam


keadaan nyata-nyata hidup. Dan tanda kehidupan yang tampak jelas bagi bayi
yang baru lahir adalah jika bayi tersebut menangis, bersin, mau menyusui ibunya,
atau yang semacamnya. Bahkan, menurut mazhab Hanafi, hal ini bisa ditandai
dengan gerakan apa saja dari bayi tersebut.

26
Adapun menurut mazhab Syafi'i dan Hambali, bayi yang baru keluar dari dalam
rahim ibunya dinyatakan hidup bila melakukan gerakan yang lama hingga cukup
menunjukkan adanya kehidupan. Bila gerakan itu hanya sejenak --seperti gerakan
hewan yang dipotong-- maka tidak dinyatakan sebagai bayi yang hidup. Dengan
demikian, ia tidak berhak mewarisi. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw.:

"Apabila bayi yang baru keluar dari rahim ibunya menangis (kemudian mati),
maka hendaklah dishalati dan berhak mendapatkan warisan." (HR Nasa'i dan
Tirmidzi)

Namun, apabila bayi yang keluar dari rahim ibunya dalam keadaan mati, atau
ketika keluar separo badannya hidup tetapi kemudian mati, atau ketika keluar
dalam keadaan hidup tetapi tidak stabil, maka tidak berhak mendapatkan waris,
dan ia dianggap tidak ada.

O. Pasal - Pasal Kewarisan Yang Termuat Dalam Kompilasi Hukum Islam


KHI yang merupakan kumpulan materi/bahan hukum islam yang
tersebar di berbagai kitab fikih klasik, di samping bahan-bahan
lain yang berhubungan, kemudian diolah melalui proses dan metode
tertentu, lalu dirumuskan dalam bentuk yang serupa perundang-
undangan (yaitu dalam pasal-pasal tertentu) lahir berdasarkan atas
landasan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tertanggal 10 Juni
1991.
Khusus mengenai buku II tentang hukum kewarisan, KHI memuat
enam bab, 43 pasal, terhitung mulai pasal 171 sampai dengan pasal
214 dengan perincian sebagai berikut:1[1]

27
Ketentuan Umum
Pasal 171
a. Hukum kewarisan adalah hukum yang mengatur tentangpemindahan hak
pemilikan harta peninggalan (tirkah) pewaris, menentukan siapa-
siapa yang berhak menjadi ahliwaris dan berapa bagiannya masing-
masing.
b. Pewaris adalah orang yang pada saat meninggalnya atau yang
dinyatakan meninggal berdasarkan putusan Pengadilan beragama
Islam, meninggalkan ahli waris dan harta peninggalan.
c. Ahli waris adalah orang yang pada saat meninggal dunia mempunyai
hubungan darah atau hubungan perkawinandengan pewaris, beragama
Islam dan tidak terhalang karena hukum untuk menjadi ahli waris.
d. Harta peninggalan adalah harta yang ditinggalkan oleh pewaris
baik yang berupa harta benda yang menjadi miliknya maupun hak-
haknya.
e. Harta warisan adalah harta bawaan ditambah bagian dari harta
bersama setelah digunakan untuk keperluan pewaris selama sakit
sampai meninggalnya, biaya pengurusan jenazah (tahjiz), pembayaran
utang dan pemberian untuk kerabat.

Ahli Waris
Pasal 172
Ahli waris dipandang beragama Islam apabila diketahui dan
kartu identitas atau pengakuan atau amalan atau
kesaksian,sedangkan bagi bayi yang baru lahir atau anak yang belum
dewasa, beragama menurut ayahnya atau lingkungannya.
Pasal 173

28
Seorang terhalang menjadi ahli waris apabila dengan
putusanHakim yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap,
dihukum karena:
a. Dipersalahkan telah membunuh atau mencobamembunuh atau menganiaya
berat pada pewaris.
b. Dipersalahkan secara memfitnah telah mengajukanpengaduan bahwa
pewaris telah melakukan suatu kejahatanyang diancam dengan hukum 5
tahun penjara atau hukuman yang lebih berat.
Pasal 174
Ayat (1),
kelompok-kelompok ahli waris terdiri dari:
a. Menurut hubungan darah:
- Golongan laki-laki terdiri dari: ayah, anak laki-laki, saudara
laki- laki, paman dan kakek.
- Golongan perempuan terdiri dari: ibu, anak perempuan, saudara
perempuan dan nenek.
Ayat (2),
Apabila semua ahli waris ada, maka yang berhak mendapat
warisan hanya: anak, ayah, ibu, janda atau duda.
Pasal 175
Ayat (1),
Kewajiban ahli waris terhadap pewaris adalah:
a. Mengurus dan menyelesaikan sampai pemakaman jenazah selesai.
b. Menyelesaikan baik utang-utang berupa pengobatan, perawatan
termasuk kewajiban pewaris maupun menagih piutang.
c. Menyelesaikan wasiat pewaris.
d. Membagi harta warisan di antara ahli waris yang berhak.

29
Ayat (2),
Tanggung jawab ahli waris terhadap utang ataukewajiban
pewaris hanya terbatas pada jumlah atau nilai
hartapeninggalannya.
Besarnya bagian
Pasal 176
Anak perempuan bila hanya seorang, ia mendapat separoh
bagian,bila dua orang atau lebih, mereka bersama-sama mendapat
duapertiga bagian, dan apabila anak perempuan bersama-sama
dengananak laki-laki, maka bagian anak laki-laki adalah dua
berbanding satu dengan anak perempuan.
Pasal 177
Ayah mendapat sepertiga bagian bila pewaris tidak
meninggalkananak. Bila ada anak, ayah mendapat seperenam bagian.
Pasal 178
Ayat (1),
Ibu mendapat seperempat bagian bila ada anak atau duasaudara
atau lebih. Bila tidak ada anak atau dua orang saudara ataulebih,
maka ia mendapat sepertiga bagian.
Ayat (2),
Ibu mendapat sepertiga bagian dari sisa sesudah diambiloleh
janda atau duda bila bersama-sama dengan ayah.
Pasal 179
Duda mendapat separoh bagian, bila pewaris tidak
meninggalkananak.Dan bila pewaris meninggalkan anak, maka duda
mendapat seperempat bagian.
Pasal 180

30
Janda mendapat seperempat bagian bila pewaris
tidakmeninggalkan anak.Dan bila pewaris meninggalkan anak,
makajanda mendapat seperdepalapan bagian.
Pasal 181
Bila seorang meninggal tanpa meninggalkan anak dan ayah,
makasaudara laki-laki dan saudara perempuan seibu masing-
masingmendapat seperenam bagian. Bila mereka itu dua orang atau
lebih maka mereka bersama-sama mendapat sepertiga bagian.
Pasal 182
Bila seorang meninggal tanpa meninggalkan ayah dan anak,
sedang ia mempunyai satu saudara perempuan kandung atau seayah,
maka ia mendapat separoh bagian. Bila saudara perempuan tersebut
bersama-sama dengan saudara perempuan kandungatau seayah dua orang
atau lebih, maka mereka bersama-sama mendapat dua pertiga bagian.
Bila saudara perempuan tersebut bersama-sama dengan saudara laki-
laki kandung atau seayah, maka bagian saudara laki-laki adalah dua
berbanding satu dengan saudara perempuan.
Pasal 183
Pada ahli waris dapat bersepakat melakukan perdamaian
dalampembagian harta warisan, setelah masing-masing menyadari
bagiannya.
Pasal 184
Bagi ahli waris yang belum dewasa atau tidak
mampumelaksanakan hak dan kewajibannya, maka baginya diangkatwali
berdasarkan keputusan Hakim atas usul anggota keluarga.
Pasal 185
Ayat (1),

31
Ahli waris yang meninggal lebih dahulu daripadasi pewaris
maka kedudukannya dapat digantikan oleh anaknya,kecuali mereka
yang tersebut dalam pasal 173
Ayat (2),
Bagian ahli waris pengganti tidak boleh melebihidari bagian
ahli waris yang sederajat dengan yang diganti.
Pasal 186
Anak yang lahir di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan saling
mewaris dengan ibunya dan keluarga dari pihak ibunya.
Pasal 187
Ayat (1),
Bilamana pewaris meninggalkan harta peninggalan, maka oleh
pewaris semasa hidupnya atau oleh para ahli waris dapat ditunjuk
beberapa orang sebagai pelaksana pembagian harta warisandengan
tugas:
a. Mencatat dalam suatu daftar harta peninggalan, baikberupa benda
bergerak maupun tidak bergerak yang kemudiandisahkan oleh para
ahli waris yang bersangkutan, bila perlu dinilai harganya dengan
uang.
b. Menghitung jumlah pengeluaran untuk kepentinganpewaris sesuai
dengan pasal 175 ayat (1) sub a, b, dan c.
Ayat (2),
Sisa dari pengeluaran dimaksud di atas adalahmerupakan harta
warisan yang harus dibagikan kepada ahli warisyang berhak.
Pasal 188
Para ahli waris baik secara bersama-sama atau perseorangan
dapatmengajukan permintaan kepada ahli waris yang lain untuk

32
melakukanpembagian harta warisan. Bila ada di antara ahli waris
yang tidak menyetujui permintaan itu, maka yang bersangkutan dapat
mengajukan gugatan melalui Pengadilan Agama untukdilakukan
pembagian harta warisan.
Pasal 189
Ayat (1),
Bila harta warisan yang akan dibagi berupa lahanpertanian
yang luasnya kurang dari 2 hektar, supaya dipertahankan
kesatuannya sebagaimana semula, dan dimanfaatkan untuk kepentingan
bersama para ahli waris yang bersangkutan.
Ayat (2),
Bila ketentuan tersebut pada ayat (1) pasal ini
tidakdimungkinkan karena di antara para ahli waris yang
bersangkutan ada yang memerlukan uang, maka lahan tersebut dapat
dimiliki oleh seorang atau lebih ahli waris dengan cara membayar
harganya kepada ahli waris yang berhak sesuai dengan bagiannya
masing masing.
Pasal 190
Bagi pewaris yang beristri lebih dari seorang, maka
masingmasingistri berhak mendapat bagian atas gono gini dari
rumahtangga dengan suaminya, sedangkan keseluruhan bagian
pewarisadalah menjadi hak para ahli warisnya.
Pasal 191
Bila pewaris tidak meninggalkan ahli waris sama sekali, atau
ahliwarisnya tidak diketahui ada atau tidaknya, maka harta
tersebut atasutusan Pengadilan Agama diserahkan penguasaannya

33
kepada BaitulMal untuk kepentingan Agama Islam dan kesejahteraan
umum.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa:

1. Hukum waris Islam merupakan suatu bagian dari hukum Islam yang
bersumber dari al-Qur'an dan al-Hadits yang mengatur tentang
pemindahan hak pemilikan atau pembagian harta peninggalan dari
seseorang yang telah meninggal dunia (pewaris) kepada orang lain sebagai
ahli waris serta penentuan hak perolehan dari masing-masing ahli waris
tersebut.
2. Asas hukum waris di antaranya: asas berlaku sendiri, asas bilateral, asas
persamaan hak dan perbedaan bagian, dan asas kedilan berimbang.
3. Di antara penghalang kewarisan adalah pembunuhan, perbedaan agama,
dan perbudakan. Kewajiban ahli waris kepada pewaris di antaranya:
mengurus dan menyelesaikan sampai pemakaman jenazah selesai,
menyelesaikan baik hutang piutang berupa pengobatan, perawatan,

34
termasuk kewajiban pewaris maupun menagih piutang, menyelesaikan
wasiat pewaris, membagi harta warisan di antara ahli waris yang berhak.
4. Ahli waris dibedakan menjadi dua, yakni ahli waris nasabiyah, dan ahli
waris sababiyah.
5. Komilasi hukum Islam merupakan hukum Islam yang dijadikan
atau diadopsi kedelam hukum positif Indonesia.Hal ini
tentunya terjadi karena mayoritas penduduk Indonesia adalah
Muslim sehigga menjadikan hukum Islam sangat bagus untuk
dimasukkan ke dalam hokum positif Indonesia. Juga sebenarnya
hukum Islam jauh lebih baik dari pada hukum-hukum yang lain.
Selain itu hukum Islam juga sangat cocok dengan kepribadian
bangsa Indonesia.
6. Harta warisan adalah harta yang dalam istilah fara’id dinamakan Tirkah
(peninggalan) merupakan sesuatu atau harta kekayaan oleh yang
meninggal, baik berupa uang atau materi lainya yang dibenarkan oleh
syariat islam untuk diwariskan kepada ahli warisnya.dan dalam
pelaksanaanya atau apa-apa yang yang ditinggalkan oleh yang meninggal
harus diartikan sedemikian luas sehingga mencakup hal-hal yang ada pada
bagianya. Kebendaan dan sifat-sifatnya yang mempunyai nilai kebendaan.
hak-hak kebendaan dan hak-hak yang bukan kebendaan dan benda-benda
yang bersangkutan dengan hak orang lain.
7. Pentingnya pembagian warisan untuk orang-orang yang ditinggalkan
dengan seadil-adilnya sudah diatur dalam Islam, mencegah terjadinya
konflik antar ahli waris dan menghindari perpecahan ukhuwah
persaudaraan antar sesama keluarga yang masih hidup. Pembagian
tersebut sudah di atur dalam al-quran dan al hadist Namun ada beberapa
ketentuan yang di sepakati dengan ijma’ dengan seadil-adilnya.

B. Saran

35
Demikianlah makalah tentang “Kewarisan dalam Hukum Islam” yang dapat
kelompok saya sampaikan. Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
kata sempurna dan banyak kesalahan. Untuk itu kami mohon maaf dan
kritikannya yang membangun untuk perbaikan makalah ini selanjutnya. Semoga
makalah ini bisa bermanfaat. Aamiin.

DAFTAR PUSTAKA

Rifa’i, M. 1978. Ilmu fiqih islam lengkap. Semarang : Penerbit PT Karya Toha
Putra
http://media.isnet.org/islam/Waris

alislamu.com/muamalah/15-waris/317-kitab-al-faraidh-warisan.html

www.mutiarahadits.com/70/33/76/warisan-waria-atau-banci.html

http://mtmiftahulkhoir.wordpress.com/2008/06/17/pembagian-warisan-menurut-
islam/

Lubis, Suhrawardi K. dan Komis Simanjutak, 1995, Hukum Waris Islam Lengkap
dan Praktis, Jakarta: Sinar Grafika.

Basyir, Ahmad Azhar, 2001, Hukum Waris Islam, Yogyakarta: Edisi Revisi, UII
Press.

Ali, Mohammad Daud, 1998, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Islam di
Indonesi, Jakarta: Raja Grafindo Persada.

36
Al Kahlani, Muhammad Ibn Ismail, tth., Subulus Salam, Juz 3, Bandung: Dahlan.
Rafiq, Ahmad, 2000, Hukum Islam di Indonesia, Cet. Ke-4, Jakarta : PT. Raja
Grafindo Persada.

37