Anda di halaman 1dari 8

KROMATOGRAFI GAS CAIR (GLC)

I. Tujuan Percobaan

 Mahasiswa dapat mengenal susunan alat kromatografi gas cair dan fungsinya masing-
masing.
 Mahasiswa terlatih menggunakan alat kromatografi gas cair untuk analisis kualitatif
dan kuantitatif .

II. Perincian Kerja

a. Memeriksa kelengkapan peralatan


b. Menghidupkan peralatan dan membuat program aplikasi
c. Menginjeksi larutan standar dan sampel
d. Menginterpretasi/menggunakan data baik untuk analisis kualitatif maupun kuantitatif.

III. Alat yang digunakan

- Kromatografi Gas Cair (GLC)

- Syringe

- Kunci pembuka tabung gas

- Gelas kimia 100 ml

IV. Bahan yang digunakan

- Gas udara tekan

- Gas Hidrogen (H2)

- Gas pembawa Ni (gas Nitrogen)

- Metanol

- hexanol

- Sampel campuran methanol dan hexanol

V. Dasar Teori

Kromatografi adalah teknik pemisahan campuran yang didasarkan atas perbedaan


distribusi dari komponen-komponen campuran tersebut diantara dua fase, yaitu fase diam
(padat atau cair) dan fase gerak (cair atau gas) (Patnaik 2004). Teknik pemisahan ini
memanfaatkan interaksi komponen dengan fase diam dan fase gerak serta sifat fisik dan sifat
kimia komponen.
Berdasarkan fase gerak dan fase diam yang digunakan, kromatografi dibedakan
menjadi liquid-solid chromatography (kromatografi dengan fase diam berwujud padat dan
fase gerak berwujud cair), gas-solid chromatography (kromatografi dengan fase diam
berwujud padat dan fase gerak berwujud gas), liquid-liquid chromatography (kromatografi
dengan fase diam berwujud cair dan fase gerak berwujud cair), dan gas-liquid
chromatography (kromatografi dengan fase diam berwujud padat dan fase gerak berwujud
gas) (Harvey 2000).

Berdasarkan interaksi komponen dengan fase diam dan fase gerak, kromatografi
dibedakan menjadi kromatografi adsorpsi (kromatografi dengan teknik penyerapan
komponen oleh adsorben tertentu), kromatografi partisi (kromatografi dengan partisi terjadi
antara fase gerak dan fase diam), kromatografi pertukaran ion (kromatografi yang dapat
memisahkan senyawa dengan afinitas ion yang berbeda dengan resin penukar ion), dan
kromatografi permeasi atau filtrasi (kromatografi berdasarkan perbedaan bobot molekul)
(Skoog et al 2002). Berdasarkan bentuk ruang penyangganya, kromatografi dibedakan
menjadi kromatografi planar (kromatografi dengan fase diam terletak pada permukaan datar)
yang meliputi kromatografi kertas dan kromatografi lapis tipis serta kromatografi kolom
(kromatografi dengan fase diam tertahan pada sebuah kolom) yang meliputi kromatografi
manual, high performance liquid chromatography, dan kromatografi gas (Harvey 2000).

Kromatografi gas adalah suatu cara untuk memisahkan senyawa atsiri dengan
meneluskan arus gas melalui fase diam. Diperkirakan sekitar 10-20% senyawa-senyawa yang
telah diketahui dapat dianalisis dengan kromatografi gas. Untuk dapat dianalisis dengan
kromatografi gas, cuplikan harus memiliki keatsirian yang cukup dan stabil pada suhu tinggi.
Salah satu senyawa yang dapat dianalisis dengan kromatografi gas adalah pestisida, baik
pestisida klor, fosfat, maupun karbamat. Dalam hal ini detector yang dapat digunakan adalah
detector penangkap electron (DPE) atau electron capture detector (ECD).

Beberapa keuntungan dan keunggulan kromatografi gas (GC):

1. Dapat digunakan untuk keperluan analisis kualitatif dan analisis kuantitatif;


2. Sensitifitas tinggi, dapat menganalisis zat dalam konsentrasi yang sangat kecil (hingga
ppb) dan jumlah sampel yang digunakan sangat sedikit (biasanya hanya 1-10 µl untuk
cairan, dan 5-50 µl untuk gas);
3. Cepat, untuk satu analisis biasanya membutuhkan waktu (run time) hanya beberapa menit;
4. Sederhana, alat gc mudah diopersikan dan data yang diperoleh dapat diinterpretasikan
secara langsung;
5. Daya pisah (resolusi) tinggi, dapat memisahkan dan menganalisis campuran senyawa yang
sulit dipisahkan dengan metode lain, seperti asam stearat dan asam oleat;
6. Alat gc dapat dipakai dalam waktu yang lama dan berulang-ulang dengan biaya
pengoperasian yang relative murah.
Analisis kualitatif dengan GC didasarkan pada perbandingan waktu retensi sampel
dengan waktu retensi standard. Waktu retensi adalah waktu yang dibutuhkan untuk
mengelusikanseyawa setelah diinjeksikan. Beberapa teknik/cara analisis kualitatif dengan GC
adalah:
1. Alur retensi homolog;
2. Alur retensi relative;
3. Alur retensi relative terkoreksi;
4. ‘spiking’;
5. Indeks Kovat (I).
Analisis kuantitatif dengan GC berarti menentukan jumlah (%) dari komponen-
komponen yang terpisah dari suatu cuplikan. Analisis kuantitatif didasarkan pada luas puncak
kromatogram yang terbentuk setelah cuplikan diinjeksikan dandibawa oleh gas pembawa
menelusuri kolom yang berisi cairan organik fase diam serta mengalami pemisahan pada
kolom tersebut. Beberapa teknik/cara analisis kuantitatif dengan GC:

1. % Area;
2. Normalisasi (norm);
3. Standarisasi luar (estd); dan
4. Standarisasi dalam (istd).

VI. Prosedur Kerja

A. Menyiapkan Instrumen GC
1. Menjalankan pompa/kompresor yang terhubung ke alat
2. Mengalirkan gas pembawa ke alat
3. Menekan tombol “ON” pada alat
4. Mengatur suhu kolom, suhu injektor dan suhu detektor. Untuk suhu injektor
120°C, suhu detektor 120°C, dan suhu kolom 80°C.
5. Menggunakan detektor FID, jenis kolom yang digunakan adalah kolom
kapiler berdiameter sebesar 0,25 mm
6. Alat kromatografi siap digunakan setelah semua parameter selesai diset

B. Pengukuran dengan Instrumen GC


1. Menyiapkan alat dan bahan
2. Membilas syringe menggunakan larutan standar metanol yang akan diinjeksikan
minimal 3 kali
3. Mengambil sebanyak 0,1 μL larutan standar metanol dengan syringe dan
diinjeksikan dengan GC (mengusahakan tidak ada gelembung udara didalam
syringe)
4. Menekan tombol start pada alat dan segera mencabut syringe dari injektor
5. Menunggu hasilnya yaitu waktu retensi dan luas puncak dari metanol yang
dianalisis. Lalu mengulangi untuk larutan standar yang lain yiatu hexanol dan
larutan sampel dengan perlakuan sama

VII. Data Pengamatan

Terlampir
VIII. Perhitungan dan Pembahasan

1. Susunan alat Kromatografi Gas Cair (GLC)

Kromatografi pada dasarnya merupakan metoda pemisahan yang melibatkan dua


macam fasa, yaitu fasa gerak (mobile phase) dan fasa diam (stationary phase). Dalam
kromatografi gas cair yang bertindak sebagai fasa gerak adalah gas, sedangkan yang
berfungsi sebagai fasa diam adalah cairan atau padatan. GLC memiliki lima komponen utama
yaitu sebagai berikut :

 Tangki gas pembawa : Gas bertindak sebagai fasa gerak disebut juga gas pembawa
(carierr gas). Gas-gas pembawa yang biasa digunakan seperti helium, hidrogen
(pembakaran) dan nitrogen (udara tekan). Helium digunakan bila detektornya TCD.
 Injection port (tempat memasukkan cuplikan) adalah cabang unutk memasukkan
cuplikan dengan cara penyuntikkan. Pada saat memasukkan cuplikan waktunya harus
sesingkat mungkin. Suhu injection port harus lebih tinggi dari titik didih cuplikan
(200c), kalau suhunya rendah dan memasukkan cuplikan terlalu lambat maka pita
elusinya lebar dan HETP besar. Biasanya volume cuplikan berkisar 1- 20µl
 Kolom adalah tempat terjadinya proses pemisahan komponen-komponen cuplikan.
Kolom ini ditempatkan di dalam oven bersuhu tinggi, sehingga komponen-komponen
cuplikan tetap berupa uap.
 Detektor adalah bagian unutk mendeteksi komponen-komponen yang keluar dari
kolom. Detektor ini akan mengirimkan isyarat listrik ke alat pencatat (rekorder).
 Pengolahan data, terdiri atas amplifier, recorder dan integrator. Amplifier berfungsi
untuk memperkuat sinyal listrik yang diterima dari detektor agar dapat dicatat oleh
detektor. Rekorder mencatat sinyal-sinyal listrik yang diterima dari amplifier dan
mengubahnya dalam bentuk nilai numerik, selanjutnya nilai numerik ditampilkan
pada display dan diteruskan ke integrator dan integrator mencatatnya dalam bentuk
kromatogram. Informasi yang tercatat pada kromatogram dapat dimanfaatkan dalam
analisis kualitativ dan kuantitativ.

2. Analisa Kualitatif GLC dengan metode alur retensi relatif

Pada percobaan ini analisa sampel dengan menggunakan GLC di dasarkan pada
metode alur retensi relatif. Waktu retensi merupakan waktu yang dibutuhkan komponen
sampel melewati kolom mulai dari awal injeksi sampai di detektor. Sampel yang berupa
larutan campuran yang tidak di ketahui komponennya di injeksikan kedalam GLC dengan
menggunakan microsyringe yang selanjutnya akan dibawa oleh gas pembawa melewati
kolom sampai di detector kemudian menghasilkan data berupa kromatogram. Jenis kolom
yang digunakan pada percobaan ini adalah kolom kapiler dengan panjang 30 meter
sedangkan jenis detector yang digunakan adalah detector FID sehingga gas pembawa yang
digunakan adalah gas helium dan gas hidrogen.

Dari hasil kromatogram sampel campuran di dapatkan dua peak dengan data sebagai
berikut :
Peak Waktu retensi (menit)

1 2,250

2 2,499

Dari data di atas dapat diketahui bahwa sampel campuran memiliki dua komponen
dikarenakan terdapat dua peak. Kemudian untuk mengetahui komponen yang terkandung
dalam sampel maka dilakukan penginjeksian larutan standar yang diperkirakan memiliki
waktu retensi yang mirip, yaitu larutan standar methanol dan larutan standar hexanol.
Berdasarkan hasil kromatogram larutan standar methanol memiliki waktu retensi sebesar
2,275 menit sedangkan larutan standar hexanol memiliki waktu retensi sebesar 2,475 menit.
Sehingga dapat dilihat bahwa peak pertama merupakan komponen methanol dikarenakan
memiliki waktu retensi yang relative sama dengan larutan standar metanol dan peak kedua
merupakan komponen hexanol dikarenakan waktunya mirip dengan larutan standar hexanol.

3. Analisa Kuantitatif GLC dengan metode persen area (%Area)

Untuk analisa kuantitatif GLC dilakukan dengan metode persen area. Berdasarkan
data kromatogran campuran sampel didapatkan data sebagai berikut :

Peak Luas Area

Metanol 135045929

Hexanol 1048940271

Total 1183986200

Berdasarkan data diatas maka dapat dihitung kadar dari masing-masing komponen
dalam sampel yaitu :

a. Kadar metanol

𝐴𝑟𝑒𝑎 𝑧𝑎𝑡 𝑚𝑒𝑡𝑎𝑛𝑜𝑙


𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑚𝑒𝑡𝑎𝑛𝑜𝑙 = × 100%
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑎𝑟𝑒𝑎
135045929
= 1183986200 × 100%

= 11,4060%
b. Kadar hexanol

𝐴𝑟𝑒𝑎 𝑧𝑎𝑡 ℎ𝑒𝑥𝑎𝑛𝑜𝑙


𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 ℎ𝑒𝑥𝑎𝑛𝑜𝑙 = × 100%
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑎𝑟𝑒𝑎
1048940271
= 1183986200 × 100%

= 88,5940 %

Sehingga berdasarkan perhitungan kadar metanol lebih kecil daripada kadar hexanol
yaitu kadar metanol sebesar 11,4060% dan kadar hexanol sebesar 88,5940 %.

IX. Kesimpulan

1.

a. Tangki gas pembawa : Gas bertindak sebagai fasa gerak disebut juga gas
pembawa (carierr gas). Gas-gas pembawa yang biasa digunakan seperti helium,
hidrogen (pembakaran) dan nitrogen (udara tekan). Helium digunakan bila
detektornya TCD.
b. Injection port (tempat memasukkan cuplikan) adalah cabang unutk memasukkan
cuplikan dengan cara penyuntikkan. Pada saat memasukkan cuplikan waktunya
harus sesingkat mungkin. Suhu injection port harus lebih tinggi dari titik didih
cuplikan (200c), kalau suhunya rendah dan memasukkan cuplikan terlalu lambat
maka pita elusinya lebar dan HETP besar. Biasanya volume cuplikan berkisar 1-
20µl
c. Kolom adalah tempat terjadinya proses pemisahan komponen-komponen
cuplikan. Kolom ini ditempatkan di dalam oven bersuhu tinggi, sehingga
komponen-komponen cuplikan tetap berupa uap.
d. Detektor adalah bagian unutk mendeteksi komponen-komponen yang keluar dari
kolom. Detektor ini akan mengirimkan isyarat listrik ke alat pencatat (rekorder).
e. Pengolahan data, terdiri atas amplifier, recorder dan integrator. Amplifier
berfungsi untuk memperkuat sinyal listrik yang diterima dari detektor agar dapat
dicatat oleh detektor. Rekorder mencatat sinyal-sinyal listrik yang diterima dari
amplifier dan mengubahnya dalam bentuk nilai numerik, selanjutnya nilai
numerik ditampilkan pada display dan diteruskan ke integrator dan integrator
mencatatnya dalam bentuk kromatogram. Informasi yang tercatat pada
kromatogram dapat dimanfaatkan dalam analisis kualitativ dan kuantitativ.

2. a. Analisis kualitatif, peak pertama merupakan komponen metanol dan peak kedua
merupakan komponen hexanol
b. Analisis kuantitatif, kadar komponen metanol dalam campuran sebesar 11,4060%
dan kadar komponen hexanol dalam campuran sebesar 88,5940%.

X. Daftar Pustaka

Abigael T. dan Sri Indriati. 2010. Bahan Ajar Analisis Kromatografi.

Adnan Muhammad. 1997. Teknik Kromatografi Untuk Analisis Bahan Makanan.Andi.


Yogyakarta.

Elisabeth R. Purba. 2010. Analisis Zat Pewarna Pada Minuman Sirup Yang Dijual Di
Sekolah Dasar Kelurahan Lubuk Pakam III Kecamatan Lubuk Pakam. Skripsi. FKM.
USU. Medan.

Jim Clark. 2007. Kromatografi Kertas.

Wirasto. 2008. Analisis Rhodamin B Dan Metanil Yellow Dalam Minuman Jajanan Anak SD
Di Kecamatan Laweyan Kotamadya Surakarta Dengan Metode Kromatogrfi Lapis
Tipis. Skripsi. Fakultas Farmasi. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Surakarta.
Laboratorium Kimia Analisis Instrumen

Semester III 2018/2019

LAPORAN PRKATIKUM
KROMATOGRAFI GAS CAIR (GLC)

Pembimbing : Drs. Abdul Aziz, M.T dan Dra. Abigael Todingbu’a, M.Si

Kelompok : II

Tgl. Praktikum : 13 November 2018

Nama Anggota : Ahmad Zulkifli (331 17 006)

Nur Fadillah (331 17 011)

Nur Ilmi Diniyah (331 17 016)

Fardiman Jamhal (331 17 017)

Sri Wahyuni (331 17 019)

Riska Wahyunengsi (331 17 023)

JURUSAN TEKNIK KIMIA


POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG
2018