Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Manajemen laboratorium (laboratory management) adalah usaha untuk mengelola
laboratorium. Suatu laboratorium dapat dikelola dengan sangat baik ditentukan oleh
beberapa faktor yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Beberapa alat-alat
laboratorium yang canggih, dengan staf profesional yang terampil belum tentu dapat
berfungsi dengan baik, jika tidak didukung oleh adanya manajemen laboratorium yang baik.
Oleh karena itu manajemen laboratorium adalah suatu bagian yang tidak dapat dipisahkan
dari kegiatan laboratorium sehari-hari.
Pengelolaan laboratorium akan berjalan dengan lebih efektif, jika dalam struktur
organisasi laboratorium didukung oleh Board of Management yang berfungsi sebagai
pengarah dan penasehat. Board of Management terdiri atas para senior/profesor yang
mempunyai kompetensi dengan kegiatan laboratorium yang bersangkutan.
Peranan sumber daya manusia di dalam perkembangan teknologi industri tampak
berperan sekali. Walaupun teknologi secanggih apapun tidak dapat berjalan jika tidak
diproses oleh manusia. Istilah SDM mengandung konotasi yang bersangkutan dengan kondisi
manusia pada umumnya, baik di dalam maupun di luar organisasi. Sasaran yang ingin dicapai
oleh manajemen SDM adalah untuk meningkatkan konstribusi dari pegawai yang ada dalam
organisasi.

1.2 Tujuan
Untuk merencanakan kegiatan suatu laboratorium yang dilakukan selama satu tahun
kedepan secara rinci agar perencanaan sesuai seperti yang diinginkan.
BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN
2.1 Hasil
Perencanaan terhadap manajemen laboraorium berisi rencana kegiatan suatu
laboratorium yang dilakukan biasanya selama satu tahun kedepan secara rinci sehingga tidak
terdapat celah yang dapat membuat mutu dari pengujian yang dilakukan didalam
laboratorium tersebut menurun. Manajemen yang baik dan teratur dalam membuat kebijakan,
yaitu dengan memperhatikan dan mempertimbangkan peran disetiap bagian diharapkan
dihasilkan kebijakan dan peraturan sehingga dapat memastikan sistem mutu yang diterapkan
(Fandy dan Anastasia, 1995).
Sebuah perencanaan manajemen laboratorium disusun untuk menghasilkan sebuah
kegiatan yang dapat berpengaruh besar terhadap keberhasilan sebuah laboratorium. Kegiatan
perencanaan manajemen laboratorium dapat dilakukan dengan mempersiapkan pelatihan,
pembuatan prosedur, sosialisasi, pengadaan APD, pengadaan sarana, pengukuran konsumen,
audit internal, tinjauan manajemen, audit akreditas. Sebuah perencanan dapat berjalan dengan
baik jika kesembilan kegiatan tersebut telah dapat ditemui. Adapun hasil perencanaan
terhadap manajemen laboratorium sebagai berikut:
2.2 Pembahasan
2.2.1 Pelatihan
Pelatihan adalah suatu usaha untuk memperbaiki prestasi kerja pada suatu
pekerjaan tertentu yang sedang menjadi tanggung jawabnya. Idealnya, pelatihan harus
dirancang untuk mewujudkan tujuan para pekerja secara perorangan. Pelatihan sering
dianggap sebagai aktivitas yang paling umum dan para pimpinan mendukung adanya
pelatihan karena melalui pelatihan khusunya karyawan baru maupun yang ada
sekarang dapat mengajarkan keterampilan dasar yang mereka butuhkan untuk
menjalankan pekerjaan mereka.
Pada perencanaan manajemen laboraturium kegiatan pemahaman manajemen
laboraturium berdasarkan sistem ISO 17025, sistem manajemen laboratorium audit
internal berdasarkan ISO 17025, keselamatan kesehatan kerja manajemen
laboratorium berdasarkan ISO 17025 dan tindakan terhadap bahaya dilakukan pada
awal bulan pertama.
Kegiatan pelatihan pemahaman manajemen laboratorium, sistem manajemen
laboratorium audit internal, keselamatan kesehatan kerja berdasarkan ISO 17025
bertujuan agar pekerja memahami dan mengerti makasud penerapan ISO tersebut.
Peranan laboratorium sangat menentukan dalam proses pengendalian mutu dan
penjaminan mutu dari produk yang dihasilkan. Untuk mencapai keseragaman hasil
analisis antar laboratorium dibutuhkan suatu standar yang bersifat internasional yang
mencakup sistem mutu dan teknis yang baik, salah satunya adalah standar ISO 17025.
Standar ISO 17025 pada saat ini merupakan sebuah standar yang sangat populer di
kalangan praktisi laboratorium. Penerapan standar ini pada umumnya dihubungkan
dengan proses akreditasi yang dilakukan oleh laboratorium untuk berbagai
kepentingan. Hal ini tentu saja merupakan sebuah fenomena yang menggembirakan
mengingat ISO/IEC 17025 merupakan sebuah standar yang diakui secara
internasional dan pengakuan formal kompetensi laboratorium pengujian dan
laboratorium kalibrasi melalui akreditasi, digunakan secara luas sebagai persyaratan
diterimanya hasil pengujian dan hasil kalibrasi yang diperlukan oleh berbagai pihak di
dunia.
Adapun manfaat dan akreditasi ISO/IEC 17025 yaitu untuk mengurangi risiko
memungkinkan laboratorium untuk menentukan apakah personel melakukan
pekerjaan dengan benar dan sesuai dengan prosedur, komitmen untuk semua personel
laboratorium sesuai dengan kebutuhan pelanggan, perbaikan terus-menerus sistem
manajemen laboratorium, pengembangan keterampilan personel melalui program
pelatihan dan evaluasi efektivitas kerja mereka, meningkatkan citra serta
meningkatnya kepercayaan dan kepuasan pelanggan (Bateman, 2008).

2.2.2 Pembuatan Prosedur


Pada perencanaan manajemen laboraturium kegiatan Pembuatan SOP dalam
mempersiapkan alat dan bahan, cara titrasi, serta keselamatan kerja, pembuatan IK
dalam penggunaan buret, corong, bunsen, penggunaan alat pemanas serta soxhlet dan
pembuatan GLP cara titrasi dilakukan pada awal bulan pertama.
Personal dipersiapkan untuk dapat menyusun sebuah SOP, maka diperlukan
persiapan dengan dilakukannya pembuatan SOP tersebut. Pada pembuatan prosedur
ini juga akan diajarkan cara dalam merancang sebuah SOP yang berfungsi sebagai
salah satu sistem kerja untuk memastikan proses laboratorium berjalan sesuai dengan
konsep dan aturan-aturan dalam manajerial bisnis dimana semua proses, dan juga
dengan adanya standard operating procedure akan menjamin kepuasan pelanggan,
dieksternal maupun internal perusahaan. Tentunya dalam penyusunan prosedur ini
agar dibuat untuk mudah dibaca dan dipahami, karena SOP yang baik adalah yang
terbukti meningkatkan produktifitas kerja dan dapat menjaga hubungan kerja yang
harmonis antar personal karyawan maupun semua departemen.
Dalam pembuatan prosedur ini, akan dijelaskan secara jelas peran dari
masing-masing prosedur tersebut, diantaranya bisa digunakan sebagai fasilitas untuk
mengkomunikasikan sekaligus menyamakan persepsi antara berbagai pihak yang
terlibat dalam sebuah management organisasi. Peran SOP ini juga digunakan sebagai
media pengendalian dan pemantauan mutu kinerja pada suatu profesi pekerjaan (jobs
description) sebuah organisasi. Dengan adanya pembuatan SOP ini akan dicapai
keseragaman persepsi, sehingga tidak terjadi kesalahan komunikasi, menghindari
konflik perbagian/element perusahaan, Komitmen terhadap tanggung jawab kerja
yang memberikan efek besar dalam meningkatkan kinerja dari produktifitas
perusahaan.
Kemudian dilakukan pembuatan GLP, GLP merupakan salah satu sistem
pengelolahan Laboratorium secara keseluruhan meliputi organisasi, fasilitas, tenaga,
metode analisa, pelaksanaan analisa, monitoring, pencatatan pelaporan, kondisi sarana
dan prasaran laboratorium. Sehingga diharapakan sebuah laboratorium dapat
menghasilkan data yang terpecaya dengan tingkat keakurasian yang tinggi memenuhi
standar persyaratan kesehatan dan keselamatan kerja di laboratorium.
Tujuan Training GLP adalah sebagai penuntun bagi personal sumber daya di
laboratorium untuk merencanakan suatu pengujian secara hati-hati dan bekerja
sedemikian rupa sehingga seluruh proses dapat terdokumentasi secara tepat dan
lengkap serta dapat tertelusur secara rinci bilamana diperlukan. Dan diharapkan
peserta mampu melakukan: perencanaan dan pelaksanaan yang benar (Good Planning
and execution), pengambilan sampel yang baik (Good Sampling Practice), melakukan
analisa yang baik(Good Analytical Practice), melakukan pengukuran yang baik
(Good Measurement Practice), mendokumentasikan hasil pengujian/data yang baik
(Good Dokumentation Practice), menjaga akomodasi dan lingkungan kerja yang baik
(Good Housekeeping Practice).
Pembuatan IK merupakan salah satu sistem untuk mempermudah karyawan
atau praktikan mengoperasikan semua peralatan yang ada di laboratorium. Dari sisi
lain IK juga diartikan prosedur-prosedur dan praktek penggunaan peralatan di
laboratorium yang cukup untuk menjamin mutu dan intensistas data analitik yang
dikeluarkan oleh sebuah kegiatan pengujian dilaboratorium.

2.2.3 Sosialisasi
Pada perencanaan manajemen laboratorium kegiatan sosialisasi penggunaan
APD, peralatan kimiar, APAR, P3K dan penanganan limbah dilakukan pada bulan
ketiga. Kegiatan sosialisasi dilakukan bertujuan agar pekerja disiplin dalam bekerja
menggunakan APD untuk keselamatan kesehatan kerja. memahami dan mengetahui
bahaya-bahaya yang dapat terjadi selama berada di laboratorium, serta penanganan
limbah. Setelah mengetahui dan memahaminya maka pekerja akan lebih berhati-hati
sehingga kemungkinan kecelakan pada saat di laboratorium akan berkurang. Pekerja
diberikan sosialisasi untuk mengikuti seluruh aturan yang ada pada laboratorium.

2.2.4 Pengadaan APD


Pada perencanaan manajemen laboratorium pengadaan APD, sangat penting
sebagai pelindung diri untuk para karyawan seperti jas lab, masker, goggle, sepatu leb
dan lain-lain. Kegiatan ini dilakukan pada bulan kedua.
Pengurus laboratorium wajib menyediakan secara cuma-cuma, bagi tenaga
kerja setiap orang lain yang memasuki tempat kerja. dengan ketentuan :
1. Pada pekerja/ buruh yang baru ditempatkan.
2. Alat pelindung diri yang ada telah kadaluarsa.
3. Alat pelindung diri telah rusak dan tidak dapat berfungsi dengan baik karena
dipakai bekerja.
Penetapan serta penggunan APD wajib di gunakan, bagi karyawan di
laboratorium tersebut. Pegawai Pengawas Ketenagakerjaan atau Ahli Keselamatan
dan kesehatan kerja di perusahaan tersebut , pengadaan APD merupakan kebutuhan
yang penting bagi pekerja ini bertujuan agar karyawan pada saat bekerja selalu dalam
keadaan sehat, nyaman, aman, selamat, dan produktif. Untuk dapat mencapai tujuan
tersebut, perlu kemauan, kemampuan dan kerjasama yang baik dari semua pihak.
Pemilihan alat pelindung diri harus melibatkan wakil dari karyawan laborotorium.
Pengurus laboratorium wajib menyediakan alat pelindung diri dalam jumlah yang
cukup dan sesuai dengan jenis potensi bahaya dan jumlah karyawan di laboratorium..

2.2.5 Pengadaan Sarana


Sarana merupakan perlengkapan yang sifatnya dapat digunakan secara
langsung. Pada perencanaan manajemen laboratorium pengadaan sarana sangat
penting , di karenakan dapat menunjang peningkatan sistem pelayanan di
laboratorium. Kegiatan ini dilakukan pada bulan kedua.
Bagian utama dari sarana laboraturium , meliputi tentang lokasi dari
laboratorium , konstruksi laboratorium serta sarana lainya. Termasuk pintu utama ,
pintu darurat jenis meja kerja /peralatan , jenis atap , jenis dinding ,jenis lantai yang
di gunakan, jenis sepatu para pekerja jenis lampu yang di pakai pada ruangan
laboraturium,jenis ventilasi yang di gunakan pada laboratorium , jenis AC, jenis
tempat penyimpanan, jenis lemari bahan kimia, jenis alat optik, jenis timbangan dan
instrumen yang lain, kondisi laboratorium, dan sebagainya. Pada sarana pendukung
laboratorium, meliputi tentang kebutuhan dari energi listrik, gas, air, alat komunikasi,
dan pendukung keselamatan kerja seperti pemadam kebakaran, dan lain-lain.

2.2.6 Pengukuran Kepuasan Pelanggan


Pada perencanan manajemen laboratorium dilakukan pula pengukuran
kepuasan konsumen. Pengukuran kepuasan konsumen dilakukan untuk mengetahui
seberapa besar keberhasilan suatu laboratorium dan untuk mengetahui kekurangan
dalam sebuah laboratorium. Pada bulan ketiga dilakukan survey secara langsung
kepada konsumen dengan cara bertanya langsung mengenai suatu produk yang telah
diuji sebelumnya pada laboratorium.
Pada pengukuran kepuasan konsumen dapat dilakuakan dengan penyebaran
kuesioner. Sebelum dilakukan penyebaran kuesioner dilakuakan terlebih dahulu
penyusunan pada bulan keempat. Pertanyaan yang akan dibuat sebaikanya
disesuaikan dengan target konsumen yang akan dimintai keterangannya sehingga hasil
yang diperoleh ssesuai. Setelah dilakukan penyebaran maka dilakukan pengumpulan
serta dilakukannya analisis kepuasan konsumen secara keselurahan. Pada bulan
selanjutnya dilakukan evaluasi untuk setiap kegiatan yang berkaitan dengan hasil
survey dan pengumpulan kuesioner. Evaluasi dilakukan untuk memperbaiki
kekurangan- kekurangan pada laboratorium yang dapat mempengaruhi kepuasan
konsumen.

2.2.7 Audit Internal


Pada saat ini semakin berkembangnya pemeliharaan laboratorium maka
kegiatan dan masalah yang dihadapi semakin kompleks, sehingga semakin sulit bagi
pihak pimpinan untuk melaksanakan pengawasan secara langsung terhadap seluruh
aktivitas yang ada dalam laboratorium. Untuk menjaga agar sistem internal kontrol ini
benar-benar dapat dilaksanakan, maka sangat diperlukan adanya audit internal atau
bagian pemeriksaan internal. Kegiatan audit internal. Audit internal merupakan
elemen monitoring dari struktur pengendalian internal dalam suatu organisasi, yang
dibuat untuk memantau efektivitas dari elemen-elemen struktur pengendalian intern
lainnya.
Fungsi audit internal ini merupakan upaya tindakan pencegahan, penemuan
penyimpangan-penyimpangan melalui pembinaan dan pemantauan internal kontrol
secara berkesinambungan. Agar pemeriksan intern dapat berjalan dengan baik, maka
seorang internal auditor haruslah orang yang benar-benar memahami prosedur audit
yang telah ditetapkan oleh pihak laboratorium dan juga memiliki independensi yang
cukup terhadap bagian yang diperiksa (Herujito, 2006).
Soalisasi audit internal dilakukan pada bulan keempat. Sosialisasi dilakukan
bertujuan agar personal memahami maksud dari audit itu sendiri sehingga
mempermudah untuk dilakukan lebih lanjut. Kemudian dilakukan persiapan audit
pada bulan kelima hingga bulan kedelapan. Persiapan audit membutuhkan waktu yang
relative banyak kerena banyak aspek yang akan diaudit. Pelaksaanaan audit dilakukan
pada bulan selanjutnya. Setelah dilakukan audit dibutuhkan waktu untuk
pengumpualn data- data dan personal yang melakukan audit banyak mengeluarkan
tenaga sehingga evaluasi audit dilakukan pada bulan kesepuluh.

3.2.8 Tinjauan Manajemen


Secara umum manajemen harus meninjau sistem manajemen mutu
organisasinya, dalam selang waktu yang direncanakan, untuk memastikan kelanjutan
kesesuaian, kecukupan dan efektifitasnya. Tujuan ini harus mencakup penilaian
peluang untuk peningkatan dan kebutuhan untuk perubahan sistem manajemen
laboratorium, termasuk kebijakan dan sasaran dari laboratorium.
Tinjauan manajemen itu sendiri merupaka suatu hal yang penting dalam
penerapan sistem manajemen di laboratorium. Tinjauan manajemen biasanya
dilakukan secara rutin tahunan, pelaksanaannya mulai bulan keempat sampai bulan
keenam. Tinjauan manajemen umumnya dilakukan dengan cara rapat yang di hadiri
oleh pejabat struktural atau anggota lain yang terkait selama terjadinya tinjauan
manajemen. Pelaksanaan dari tinjauan manajemen haruslah di catat hasinya.
Pada perencanan manajemen laboratorium dilakukan juga tinjauan manajemen
untuk dapat memberikan pedoman bagi seluruh jajaran kerja di laboratorium, untuk
dapat membutikan komitmenya dalam bekerja di laboratorium kimia tersebut dengan
baik. Salah satu bentuk dari tindakan tinjauan manajemen yaitu dengan mengadakan
evaluasi kinerja pekerja di laboratorium secara berkala, serta berkesinambungan.
Tinjauan ini dilakukan untuk mengukur mutu dari hasil kerja karyawan, agar
konsumen mendapatkan kepuas akan layanan yang diberikan dari pengguna jasa
laboratorium. Tinjauan manajemen di hadiri oleh pejabat struktural atau anggota lain
yang terkait selama terjadinya tinjauan manajemen di laboratorium.

2.2.9 Audit Akreditas


Pada perencanan manajemen laboratorium dilakukan juga audit akreditas
untuk dapat mengevaluasi suatu organisasi, dalam hal ini bagaimana sistem dan
proses selama berjalanya aktifitas penelitian di laboratorium. Tujuan dari audit
akreditasi yaitu untuk melakukan verifikasi akan penilaian dari kelayakan teknis
laboratorium bahwa subjek dari audit telah diselesaikan atau berjalan sesuai dengan
standar, regulasi, dan praktik yang telah disetujui dan diterima. Pelaksanaanya dimulai
bulan kesembilan sampai keduabelas.
Dalam menjalankan audit akreditas terdapat kegiatan dokumentasi.
Dokumentasi merupakan bagian penting dari sistem manajemen mutu. Laboratorium
harus menetapkan dan memelihara prosedur untuk mengawasi dan mengkaji semua
dokumen (yang dibuat sendiri maupun dari luar) yang menjadi bagian dari
dokumentasi mutu. Daftar induk (master list) yang menunjukkan status dokumen
versi terkini dan distribusi dokumen harus ditetapkan dan selalu tersedia. Setiap
dokumen baik dokumen teknis maupun dokumen mutu harus memiliki identitas unik,
penomoran dan tanggal ditetapkan, SOP resmi yang sesuai harus tersedia di tempat
dimana dilakukan kegiatan, misal di dekat instrumen, dokumen harus dijaga selalu
mutakhir dan dikaji ulang sesuai kebutuhan, dokumen yang tidak berlaku harus ditarik
dan diganti dengan dokumen yang sudah direvisi dan disahkan, dokumen yang
direvisi harus mengacu pada dokumen yang sebelumnya, SOP lama yang tidak
berlaku harus diarsipkan untuk memastikan ketertelusuran perubahan prosedur, tetapi
semua salinan harus dimusnahkan dan semua personel terkait harus memahami SOP
baru dan SOP hasil revisi yang telah ditetapkan.
Kemudian terdapat kegiatan rekaman, Laboratorium harus menetapkan dan
memelihara prosedur identifikasi, pengumpulan, penyusunan indeks, penelusuran,
penyimpanan, pemeliharaan dan pemusnahan, serta akses pada semua rekaman mutu
dan rekaman teknis/ilmiah. Semua hasil pengamatan termasuk perhitungan dan data
yang diperoleh, kalibrasi, rekaman validasi dan verifikasi, dan hasil akhir harus
tersimpan dalam rekaman selama jangka waktu yang ditetapkan. Rekaman meliputi
data yang dibuat oleh penguji pada lembar kerja, diberi nomor halaman berurutan
sesuai lampiran seperti kromatogram, spektra, dan sebagainya. Rekaman setiap
pengujian harus berisi informasi yang cukup sehingga jika diperlukan dapat dilakukan
pengujian dan/atau hasilnya dapat dihitung kembali. Dalam rekaman harus tercantum
identitas personel yang melakukan pengambilan, penyiapan dan pengujian sampel.
Rekaman sampel yang digunakan untuk keperluan hukum harus disimpan khusus
sesuai dengan peraturan hukum yang berlaku. Semua rekaman mutu dan rekaman
teknis (termasuk laporan pengujian, sertifikat pengujian, lembar kerja) harus jelas,
mudah didapatkan kembali, disimpan dalam tempat yang sesuai yang dapat mencegah
terjadinya modifikasi, kerusakan atau perubahan dan/atau hilang. Kondisi
penyimpanan semua rekaman asli harus dapat menjamin keamanan, kerahasiaan dan
aksesnya hanya terbatas bagi personel yang ditetapkan. Tanda tangan dan
penyimpanan secara elektronik dapat dilakukan, tetapi dengan akses yang terbatas dan
sesuai dengan persyaratan untuk rekaman elektronik. Rekaman manajemen mutu
harus meliputi laporan audit internal (dan eksternal jika ada) dan kaji ulang
manajemen, serta rekaman dari semua pengaduan dan hasil investigasinya termasuk
rekaman tindakan pencegahan dan perbaikan
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
Bateman, Thomas S,. Scott A. Snell. 2008. Management Leading & Collaborating in a
Competitive World, 7th ed. Jakarta : Salemba Empat.
Fandy, Tjiptono dan Anastasia, Diana. 1995. Total Quality Manajemen. Yogyakarta:
Gramedia.
Herujito, Yayat M. 2006. Dasar-Dasar Manajemen. Jakarta : PT. Grasindo.
Saparudin. 2012. Pengelolaan laboratorium. http://saparudinbelitong.ubb.ac.id [ 7 Maret
2013]