Anda di halaman 1dari 17

1

STRATEGI PENGEMBANGAN KAMPUNG EDUKASI SAMPAH


SEBAGAI UPAYA MENUJU ZERO WASTE DI KECAMATAN
KARANGAN, KABUPATEN TRENGGALEK

PROPOSAL THESIS
disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Metodologi Penelitian Kualitatif
yang bibimbing oleh Dr. Endang Suarsini, M.Ked. dan Dr. H. Sueb, M.Kes.,
disajikan pada 30 November 2018

OLEH
EKA IMBIA AGUS DIARTIKA
NIM 180341863054

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


PASCASARJANA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
NOVEMBER 2018
2

STRATEGI PENGEMBANGAN KAMPUNG EDUKASI SAMPAH


SEBAGAI UPAYA MENUJU ZERO WASTE DI KECAMATAN
KARANGAN, KABUPATEN TRENGGALEK
Eka Imbia Agus Diartika, Dr. Endang Suarsini, M.Ked. dan Dr. H. Sueb, M.Kes.
Pascasarjana Program Studi Pendidikan Biologi
Universitas Negeri Malang, Jalan Semarang No.5 Malang, Jawa Timur
Kode pos 65145
e-mail: eka.imbia@gmail.com, sueb.fmipa@um.ac.id

Abstrak: Salah satu permasalahan krusial yang tengah dihadapi oleh


Indonesia saat ini ialah sampah. Jumlah sampah meningkat seiring dengan
meningkatnya jumlah penduduk, perkembangan industri, urbanisasi, dan
modernisasi. Pemanfaatan bank sampah saat ini masih kurang maksimal, sehingga
perlu dikembangkan kampung edukasi sampah sebagai upaya menuju zero waste
di Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek. Tujuan pada penelitian ini
adalah mengetahui gambaran pengelolaan sampah dan strategi pengembangan
kampung edukasi sampah sebagai upaya menuju zero waste di Kecamatan
Karangan, Kabupaten Trenggalek. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif yang
akan menguraikan gambaran pengelolaan sampah di Kecamatan Karangan,
Kabupaten Trenggalek serta merancang proses pembentukan dan pengembangan
kampung edukasi sampah menuju zero waste. Teknik penngumpulan data
mengenai pengelolaan sampah di Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek
dilakukan menggunakan metode observasi, angket, wawancara, dan dokumentasi.
Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan
pendekatan kualitatif. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif maka
dalam melakukan teknik analisis data dilakukan tiga tahapan, yaitu reduksi data,
penyajian data, dan kesimpulan.
Kata kunci: kampung edukasi, sampah, zero waste

Abstract: One of the crucial problems currently being faced by Indonesia


is garbage. The amount of waste increases with increasing population, industrial
development, urbanization and modernization. Utilization of garbage banks is
currently not optimal, so it is necessary to develop a garbage education village as
an effort to achieve zero waste in Karangan Subdistrict, Trenggalek Regency. The
purpose of this study is to describe the waste management strategy and the
development strategy of the garbage education village as an effort towards zero
waste in Karangan Subdistrict, Trenggalek Regency. This research is descriptive
qualitative which will describe the description of waste management in Karangan
Subdistrict, Trenggalek Regency and design the process of forming and
developing a garbage education village towards zero waste. The technique of
collecting data on waste management in Karangan Subdistrict, Trenggalek
Regency was carried out using the method of observation, questionnaires,
interviews, and documentation. The data analysis technique in this study used a
descriptive method with a qualitative approach. By using a qualitative descriptive
method, the three stages of data analysis techniques are carried out, namely data
reduction, data presentation, and conclusions.
Kata kunci: education village, waste, zero waste

ii
1

BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Salah satu permasalahan krusial yang tengah dihadapi oleh Indonesia saat
ini ialah sampah (Putra & Yuriandala, 2010). Sampah adalah sisa kegiatan sehari-
hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat (Suhariyanto, 2016).
Jumlah sampah meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk,
perkembangan industri, urbanisasi, dan modernisasi (Purba dkk., 2017). Menurut
data dari World Bank Group (2018), perkiraan saat ini menunjukkan bahwa
sekitar 85.000 ton sampah dihasilkan setiap hari di Indonesia, dengan perkiraan
kenaikan hingga 150.000 ton dihasilkan per hari pada tahun 2025, suatu kenaikan
sebesar 76% hanya dalam kurun waktu 10 tahun. Menurut Purwaningrum (2016),
komposisi sampah yang dihasilkan dari aktivitas manusia adalah sampah organik
sebanyak 60-70% dan sisanya adalah sampah anorganik 30-40%. Menurut Kesra
(2018) sampah anorganik terdiri dari 14% plastik, 9% berupa kertas, 4,3% bahan
metal, dan 12,7% berbagai macam bentuknya mulai dari kaca, kayu, dan bahan
lainnya.
Permasalahan sampah menjadi suatu hal yang mendesak, terutama di
daerah perkotaan yang memiliki perilaku komsumtif dan kurang peduli terhadap
lingkungan sekitarnya (Primadi, 2015). Sampah sebagai hasil buangan dari
kegiatan produksi dan konsumsi manusia, baik dalam bentuk padat, cair, maupun
gas merupakan sumber pencemaran lingkungan hidup (Nugraha dkk., 2007).
Produksi sampah yang tinggi bila tidak disertai dengan penanggulangan yang baik
akan menimbulkan polusi. Sampah sangat berpotensi menimbulkan gangguan
lingkungan, baik berupa pencemaran air, tanah dan udara serta gangguan
kesehatan dan sosial ekonomi (Purba dkk., 2017). Peningkatan jumlah sampah
akan semakin menambah permasalahan, ketika masyarakat berperilaku buruk
mengenai sampah, dengan membuang sampah sembarangan, seperti di jalan, di
sungai, dan tidak menggunakan tempat sampah yang telah disediakan (Soeranto
dkk., 2016).
2

Selama ini paradigma manusia tentang sampah hanyalah dengan


membuangnya ke tempat sampah yang sudah disediakan oleh pemerintah ataupun
dibakar dan dibuang ke sungai, namun hal itu tentu berdampak buruk untuk
lingkungan. Maka untuk menghindari hal tersebut paradigma itu harus diubah
dengan prinsip pengolahan sampah berbasis masyarakat, yaitu mengurangi
(reduce), menggunakan kembali (reuse), mendaur ulang (recycle) (Ningsih,
2015). Menanggapi hal ini, maka perlu dilakukan pengelolaan sampah yang baik.
Pengelolaan sampah bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan
kualitas lingkungan serta menjadikan sampah sebagai sumberdaya. Dari sudut
pandang kesehatan lingkungan, pengelolaan sampah dipandang baik jika sampah
tersebut tidak menjadi media berkembang biaknya bibit penyakit serta sampah
tersebut tidak menjadi medium perantara menyebarluasnya suatu penyakit
(Marliani, 2014). Sistem pengelolaan sampah dapat dilakukan dengan
memanfaatkan sampah secara maksimal serta menekan dampak negatif dari
sampah (Kurniaty & Rizal, 2011). Pengelolaan sampah saat ini dilakukan melalui
koordinasi pemerintah pusat, provinsi, maupun kabupaten/ kota (Haruki, 2017).
Pengelolaan sampah di tingkat kabupaten/ kota melibatkan dibentuknya
bank sampah dan TPS 3R. Faktor keberhasilan pelaksanaan pengelolaan sampah
sepenuhnya akan tergantung pada kemauan Pemerintah Daerah atau Kota dan
masyarakat. Kemauan ini dapat dimulai dari pemahaman dan kesadaran akan
pentingnya sektor pengelolaan sampah sebagai salah satu pencerminan
keberhasilan pengelolaan, termasuk pengeloaan bank sampah (Ismawati, 2013).
Bank Sampah adalah tempat menabung sampah yang telah terpilah menurut jenis
sampah. Sampah yang ditabung pada Bank Sampah adalah sampah yang
mempunyai nilai ekonomi. Cara kerja Bank Sampah pada mumnya hampir sama
dengan bank lainnya, ada nasabah, pencatatan pembukuan dan manajemen
pengelolaannya, apabila dalam bank yang biasa kita kenal yang disetorkan
nasabah adalah uang akan tetapi dalam Bank Sampah yang disetorkan adalah
sampah yang mempunyai nilai ekonomi, sedangkan pengelola Bank Sampah
harus orang yang kreatif dan inovatif serta memiliki jiwa kewirausahaan agar
dapat meningkatkan pendapatan masyarakat (Kartini, 2009).
3

Partisipasi dari masyarakat akan membantu keberhasilan program


menabung sampah yang diterapkan oleh bank sampah yang akan mendatangkan
manfaat bagi masyarakat itu sendiri dan lingkungan sekitar (Kartika, 2009).
Pemanfaatan bank sampah saat ini masih kurang maksimal. Sampah organik
belum banyak dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan kompos, briket, dan
biogas. Sampah anorganik sangat sulit didegradasi bahkan tidak dapat didegradasi
sama sekali oleh alam, sehingga diperlukan suatu lahan penumpukan yang sangat
luas untuk mengimbangi produksi sampah jenis ini (Putra & Yuriandala, 2010).
Sampah anorganik bisa dimanfaatkan menjadi produk kerajinan yang memiliki
nilai ekonomi (Fatoni dkk., 2017). Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk
mengembangkan kampung edukasi sampah sebagai upaya menuju zero waste di
Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada penelitian ini sebagai berikut.
1. Bagaimana gambaran pengelolaan sampah di Kecamatan Karangan, Kabupaten
Trenggalek?
2. Bagaimana strategi pengembangan kampung edukasi sampah sebagai upaya
menuju zero waste di Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek?

C. Tujuan Penelitian
Tujuan pada penelitian ini sebagai berikut.
1. Mengetahui gambaran pengelolaan sampah di Kecamatan Karangan,
Kabupaten Trenggalek
2. Mengetahui strategi pengembangan kampung edukasi sampah sebagai upaya
menuju zero waste di Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek

D. Manfaat Penelitian
Manfaat pada penelitian ini sebagai berikut.
1. Bagi penulis
4

Dapat menganalisis permasalahan yang ada dan merumuskannya serta


memberikan saran dalam memecahkan masalah yang ada mengenai pengelolaan
sampah di Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek.
2. Bagi pemerintah
Diharapkan penelitian ini dapat memberikan solusi bagi pemerintah dalam
upaya pengelolaan sampah berkelanjutan dan komprehensif menuju zero waste.
3. Bagi masyarakat
Diharapkan penelitian ini dapat menambah pengetahuan masyarakat
mengenai gambaran pengelolaan sampah di Kecamatan Karangan, Kabupaten
Trenggalek serta mengetahui strategi pengembangan kampung edukasi sampah
sebagai upaya menuju zero waste di Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek
4. Bagi peneliti selanjutnya
Dapat dijadikan bahan acuan dan bahan untuk menyempurnakan penelitian
selanjutnya serta memberikan perluasan cakrawala ilmu, khususnya di bidang
pengelolaan sampah.

E. Ruang Lingkup Penelitian


Ruang lingkup objek penelitian ini adalah kegiatan pengelolaan sampah di
Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek.

E. Definisi Operasional
1. Strategi
Strategi adalah pendekatan secara keseluruhan yang berkaitan dengan
pelaksanaan gagasan, perencanaan, dan eksekusi sebuah aktivitas dalam kurun
waktu tertentu.
2. Pengembangan
Pengembangan adalah kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
bertujuan memanfaatkan kaidah dan teori ilmu pengetahuan yang telah terbukti
kebenarannya untuk meningkatkan fungsi, manfaat, dan aplikasi ilmu
pengetahuan dan teknologi yang ada, atau menghasilkan teknologi baru.
3. Kampung Edukasi Smpah
5

Kampung edukasi sampah merupakan kampung yang dikembangkan


untuk mengedukasi masyarakat mengenai pengelolaan sampah komprehensif, bail
sampah organik maupun anorganik.
4. Zero waste
Konsep Zero Waste ini salah satunya dengan menerapkan prinsip 3 R
(Reduce, Reuse, Recycle). Pemikiran konsep zero waste adalah pendekatan serta
penerapan sistem dan teknologi pengolahan sampah perkotaan skala individual
dan skala kawasan secara terpadu dengan sasaran untuk dapat mengurangi volume
sampah sesedikit mungkin. Konsep 3R adalah merupakan dasar dari berbagai
usaha untuk mengurangi limbah sampah dan mengoptimalkan proses produksi
sampah.
6

BAB 2
KAJIAN TEORI

A. Pengertian Kampung
Kampung merupakan kawasan hunian masyarakat berpenghasilan rendah
dengan kondisi fisik kurang baik. Kampung merupakan lingkungan tradisional
khas Indonesia, ditandai ciri kehidupan yang terjalin dalam ikatan kekeluargaan
yang erat (Heryati, 2008). Kampung adalah tempat tinggal sekelompok penduduk,
kompleks perumahan, dikelilingi oleh pekarangan, terkurung pagar yang
menunjukkan batasnya dengan jelas. Kampung juga dapat diartikan sebagai
kumpulan rumah sebagai kesatuan unit adminstrasi yang meliputi suatu area yang
tersendiri dari permukiman inti dan beberapa permukiman yang lebih kecil.
Kampung merupakan suatu kesatuan lingkungan tempat tinggal yang dihuni oleh
sekelompok masyarakat yang terdiri dari kesatuan keluarga-keluarga. Kumpulan
sejumlah kampung disebut desa. Kampung adalah satu-satunya jenis permukiman
yang bisa menampung golongan penduduk Indonesia yang tingkat perekonomian
dan tingkat pendidikan paling rendah meskipun tidak tertutup bagi penduduk
berpenghasilan dan berpendidikan tinggi (Khudori, 2002). Kampung masih
merupakan satuan teritorial dan sosial terkecil dalam sistem administrasi dan
kemasyarakatan Indonesia sehingga setiap kampung memiliki organisasi sosial
yang dibentuk oleh warga kampung tersebut yang mengatur dan mengawasi tata
tertib kemasyarakatan warga kampung yang bersangkutan.
Raharjo (2014) menyatakan bahwa masyarakat desa/kampung memiliki
karakteristik sebagai berikut.
1. Besarnya kelompok primer
2. Faktor geografik yang menentukan sebagai dasar pembentukan
kelompok/asosiasi
3. Hubungan lebih bersifat intim dan awet
4. Homogen
5. Mobilitas sosial rendah
6. Keluarga lebih ditekankan fungsinya sebagai unit ekonomi
7. Populasi anak dalam proporsi yang lebih besar
7

Pola kampung beragam tergantung pada lokasi kampung dan mata


pencaharian penduduknya. Daldjoeni (2003) mengklasifikasikan pola-pola
kampung secara sederhana. Terdapat tiga macam pola kampung, yaitu pola
permukiman menyebar (dispersed), pola permukiman terpusat (nucleared) dan
pola permukiman memanjang (linear).

B. Edukasi Sampah
1. Pengertian Edukasi
Edukasi atau disebut juga dengan pendidikan merupakan segala upaya
yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok, atau
masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku
pendidikan (Notoadmojo, 2003). Edukasi merupakan proses belajar dari tidak
tahu menjadi tahu (Suliha, 2002). Pendidikan merupakan kebutuhan yang sangat
penting bagi kehidupan manusia, sudah semestinya usaha dalam menumbuh
kembangkan pendidikan secara sistematis dan berkualitas perlu terus di upayakan,
sehingga tujuan dari proses pendidikan dapat dicapai secara optimal. Pendidikan
memiliki arti penting bagi individu, pendidikan lebih jauh memberikan pengaruh
yang besar terhadap kemajuan suatu bangsa. Dalam konteks relasi sosial,
khususnya dalam relasi antara masyarakat yang membutuhkan pendidikan pada
tingkat dan jenjang tertentu melalui pendidikan formal dan pemerintah sebagai
penyedia kebutuhan itu terdapat semacam muatan yang menjadi pengikat dalam
relasi itu. Hubungan antara masyarakat dan pemerintah dengan salah satu
muatannya adalah kebutuhan atas pendidikan dipahami dalam konteks organisasi,
keberadaannya dapat dilihat dari sudut pandang muatan dalam jaringan sosial
dalam suatu organisasi sosial (Agusyanto, 2007).
2. Pengertian Sampah
Sampah adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak
disenangi, atau sesuatu yang dibuang yang berasal dari kegiatan manusia dan
tidak terjadi dengan sendirinya (Chandra, 2007). Sampah adalah segala sesuatu
yang tidak dipakai dan berbentuk padatan atau semi padatan (Mulia, 2005).
Triwibowo dan Pusphandani (2015), yang dimaksud dengan sampah adalah
sebuah bahan atau benda padat yang sudah tidak dipakai lagi oleh manusia, atau
8

benda padat yang sudah digunakan lagi dalam suatu kegiatan manusia dan
dibuang. Sampah ialah segala sesuatu yang tidak lagi dikehendaki oleh yang
punya dan bersifat padat (Slamet, 2013).
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008
sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang
berbentuk padat. Sedangkan menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 33
Tahun 2010 sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses
alam yang berbentuk padat yang terdiri atas sampah rumah tangga maupun
sampah sejenis sampah rumah tangga. Sampah ialah sebagian dari sesuatu yang
tidak dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang harus dibuang, yang umumnya
berasal dari kegiatan yang dilakukan oleh manusia (termasuk kegiatan industri),
tetapi yang bukan biologis (karena human waste tidak termasuk kedalamnya) dan
umumnya bersifat padat(karena air bekas tidak termasuk didalamnya)
(Azwar,1990).
Sampah adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak terpakai, tidak
disenangi, atau sesuatu yang dibuang, yang berasal dari kegiatan manusia dan
tidak terjadi dengan sendirinya (Adnani, 2011). Menurut SNI 19-2454-2002, yang
dimaksud dengan sampah ialah limbah yang bersifat padat terdiri dari bahan
organik dan bahan anorganik yang dianggap tidak berguna lagi dan harus dikelola
agar tidak membahayakan lingkungan dan melindungi investasi pembangunan.
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa sampah adalah
sisa dari kegiatan manusia yang berbentuk padat, tidak digunakan, tidak
diinginkan dan dianggap tidak berguna lagi namun proses pengelolaan yang baik
agar tidak membahayakan kesehatan masyarakat dan lingkungan.
3. Jenis Sampah
Secara umum, jenis sampah dibagi menjadi 2, yaitu sampah organik dan
sampah anorganik (Wahil, 2013 dalam Rofi’ah, 2011).
a. Sampah organik
Sampah organik atau sampah basah merupakan sampah yang berasal dari
makhluk hidup, seperti daun, sampah dapur. Sampah jenis ini dapat membusuk
atau hancur secara alami.
9

b. Sampah anorganik
Sampah anorganik atau sampah kering merupakan sampah yang tidak
dapat terdegradasi (membusuk/ hancur) secara alami, seperti kertas, plastik, dan
kaleng.
Berdasarkan sumbernya, sampah yang ada di permukaan bumi
dikelompokkan sebagai berikut (Adnani,2011; Chandra, 2007).
a. Sampah yang berasal dari pemukiman
Sampah dari suatu pemukiman biasanya dihasilkan oleh satu atau
beberapa keluarga yang tinggal dalam suatu bangunan atau asrama yang terdapat
di desa atau di kota. Jenis sampah yang dihasilkan biasanya sisa makanan dan
bahan sisa proses pengolahan makanan atau sampah basah (garbage), sampah
kering (rubbish), abu, atau sampah sisa tumbuhan.
b. Sampah yang berasal dari tempat umum
Tempat umum adalah tempat yang memungkinkan banyak orang
berkumpul dan melakukan kegiatan, termasuk juga tempat pedagangan. Jenis
sampah yang di hasilkan dari tempat semacam itu dapat berupa sisa-sisa
makanan(garbage), sampah kering, abu, sisa bahan bangunan, sampah khusus, dan
terkadang sampah yang berbahaya.
c. Sampah yang berasal dari sarana layanan masyarakat
Sarana layanan masyarakat yang dimaksud disini antara lain, tempat
hiburan dan jalan umum, tempat parkir, tempat layanan kesehatan(mis., rumah
sakit dan puskesmas), kompleks militer, gedung pertemuan, pantai tempat
berlibur, sarana pemerintah yang lain. Tempat tersebut biasanya menghasilkan
sampah khusu dan sampah kering.
d. Sampah yang berasal dari industri berat dan ringan
Dalam pengertian ini termasuk industri makanan dan minuman, industri
kayu, industri kimia, industri logam, tempat pengolahan air kotor dan air minum,
dan kegiatan industri lainnya, baik yang sifatnya distributif atau memprose bahan
mentah saja. Sampah yang dihasilkan dari tempat ini biasanya sampah basah,
sampah kering, sisa-sisa bangunan, sampah khusus, dan sampah berbahaya.
10

e. Sampah yang berasal dari pertanian


Sampah dihasikan dari tanaman atau binatang. Lokasi pertanian seperti
kebun, ladang, ataupun sawah menghasilkan sampah berupa bahan makanan yang
telah membusuk, sampah pertanian, pupuk, maupun bahan pembasmi serangga
tanaman.
4. Konsep Edukasi Sampah
Edukasi sampah meliputi pengelolaan sampah berkelanjutan dan
komprehensif. Konsep edukasi sampah yang dikembangkan sebagai berikut.
a. Pengeloaan sampah melalui kerajinan daur ulang
b. Pengeloaan sampah melalui bank sampah
c. Pembuatan kompos

C. Zero Waste
Konsep Zero Waste ini salah satunya dengan menerapkan prinsip 3 R
(Reduce, Reuse, Recycle). Pemikiran konsep zero waste adalah pendekatan serta
penerapan sistem dan teknologi pengolahan sampah perkotaan skala individual
dan skala kawasan secara terpadu dengan sasaran untuk dapat mengurangi volume
sampah sesedikit mungkin. Konsep 3R adalah merupakan dasar dari berbagai
usaha untuk mengurangi limbah sampah dan mengoptimalkan proses produksi
sampah (Gambar 1) (Suryanto, 2005).

Gambar 1. Model Pengelolaan Sampah Komprehensif menuju Zero waste


Kecamatan Lamongan
Sumber: Affandy dkk. (2015)
11

Peran serta masyarakat dalam pengelolaan sampah merupakan kesediaan


masyarakat untuk membantu berhasilnya program pengembangan pengelolaan
sampah sesuai dengan kemampuan setiap orang tanpa berarti mengorbankan
kepentingan diri sendiri. Tanpa adanya peran serta masyarakat semua program
pengelolaan persampahan yang direncanakan akan sia-sia. Salah satu pendekatan
masyarakat untuk dapat membantu program pemerintah dalam keberhasilan
adalah membiasakan masyarakat pada tingkah laku yang sesuai dengan program
persampahan yaitu merubah persepsi masyarakat terhadap pengelolaan sampah
yang tertib, lancar dan merata, merubah kebiasaan masyarakat dalam pengelolaan
sampah yang kurang baik dan faktor-faktor sosial, struktur dan budaya setempat
(Wibowo & Djajawinata, 2007).
12

BAB 3
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif yang akan menguraikan
gambaran pengelolaan sampah di Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek
serta merancang proses pembentukan dan pengembangan kampung edukasi
sampah menuju zero waste.

B. Kehadiran Peneliti
Kehadiran peneliti di beberapa desa di Kecamatan Karangan, Kabupaten
Trenggalek adalah untuk menjaring dan mengumpulkan data penelitian yang
berhubungan dengan pengelolaan sampah di Kecamatan Karangan, Kabupaten
Trenggalek kemudian berusaha merancang proses pembentukan dan
pengembangan kampung edukasi sampah menuju zero waste.

C. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini sebagai berikut.
1. Masyarakat di Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek. Alasan peneliti
mengambil subjek dari masyarakat di kecamatan ini adalah masyarakat di
kecamatan ini masih belum memiliki sistem pengolahan sampah yang baik,
sehingga diperlukan sebuah solusi untuk menangani.
2. Anggota bank sampah di Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek, yang
seharusnya menjadi promotor dalam pengelolaan sampah.
3. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Trenggalek, untuk menyampaikan
gagasan mengenai pengembangan kampung edukasi sampah di Kecamatan
Karangan, Kabupaten Trenggalek.

D. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di beberapa desa di Kecamatan Karangan,
Kabupaten Trenggalek.
13

E. Sumber Data
Sumber data primer didapatkan dari wawancara dan observasi. Pada tahap
awal penelitian, dilakukan wawancara tidak terstruktur kepada beberapa
narasumber (responden) yang telah ditentukan secara purposive sampling. Selain
itu, juga dilakukan observasi mengenai pengelolaan sampah di Kecamatan
Karangan, Kabupaten Trenggalek. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan nformasi
mengenai isu atau permasalahan mengenai pengelolaan sampah di Kecamatan
Karangan, Kabupaten Trenggalek. Sumber data sekunder dilakukan melalui studi
literatur yang diperoleh dari buku, naskah akademik, jurnal, artikel, dan internet.

F. Instrumen Penelitian
Instrumen pada penelitian ini adalah angket (kuesioner), pedoman
wawancara, dan lembar observasi.
1. Angket
Peneliti menggunakan angket terbuka untuk menggali data dari beberapa
masyarakat dan anggota bank sampah mengenai pengelolaan sampah di
Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek.
2. Pedoman wawancara
Wawancara dilakukan secara terbuka mengenai pengelolaan sampah di
Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek dengan menggunakan alat bantu
berupa alat tulis dan kamera. Wawancara dilakukan kepada Dinas Lingkungan
Hidup mengenai pengembangan konsep kampung edukasi sampah.
3. Lembar Observasi
Lembar observasi disusun untuk memperjelas pengamatan di lapangan,
meliputi gambaran pengelolaan sampah di Kecamatan Karangan, Kabupaten
Trenggalek.

G. Teknik Pengumpulan Data


Teknik penngumpulan data mengenai pengelolaan sampah di Kecamatan
Karangan, Kabupaten Trenggalek dilakukan menggunakan metode observasi,
angket, wawancara, dan dokumentasi.
14

H. Analisis Data
Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif
dengan pendekatan kualitatif. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif
maka dalam melakukan teknik analisis data dilakukan tiga tahapan, yaitu:
1. Reduksi data
Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok,
memfokuskan hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian
data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas. Oleh
karena itu dapat dikatakan bahwa reduksi data adalah penyederhanaan dan
transformasi data mentah atau data kasar yang muncul dari catatan yang tertulis di
lapangan. Proses reduksi data ini akan mempermudah peneliti untuk melakukan
pengumpulan data selanjutnya untuk mendapatkan data sebanyak mungkin.
2. Penyajian data
Setelah direduksi maka peneliti melakukan penyajian data. Dalam
penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat,
bagan, hubungan antar kategori, flowchart, dan sejenisnya. Dengan proses
penyajian data ini maka peneliti telah siap dengan data yang telah direduksi dan
menghasilkan informasi yang sistematis.
Dalam penyajian data ini peneliti juga menggunakan alat analisis untuk
membantu dan mempermudah dalam menjawab masalah yang dihadapi yakni
menganalisis potensi yang ada di Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek.
Setelah diketahui gambaran pengelolaan sampah dan potensi pengembangan di
Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek berada dalam posisi, selanjutnya
menentukan strategi untuk pengembangannya.
Alat analisis yang digunakan adalah analisis SWOT. Analisis SWOT
adalah instrumen perncanaan strategis yang klasik. Dengan menggunakan
kerangka kerja kekuatan dan kelemahan serta kesempatan eksternal dan ancaman.
Instrumen ini memberikan cara yang sederhana untuk memperkirakan cara terbaik
untuk melaksanakan strategi. Selain itu pula, peneliti memilih analisis SWOT ini
karena praktis, tidak boros terhadap waktu dan tentunya efektif karena
kesederhanaannya. Analisis SWOT ini adalah analisis yang cukup baik, efektif,
dan efisien serta alat yang cepat dalam mengenali kemungkinan yang berkaitan
15

dengan pengembangan awal untuk mengembangkan inovasi baru kampung


edukasi sampah di Kecamatan Karangan.
SWOT itu sendiri adalah Strengh, Weakness, Opportunity, dan Thread.
Analisis SWOT ini memiliki tujuan untuk memisahkan masalah pokok dan
memudahkan pendekatan strategis.Adapun penjelasan tentang faktor-faktor
SWOT, sebagai berikut.
1) Strengh (kekuatan) adalah situasi atau kondisi yang merupakan kekuatan dari
wilayah atau kawasan Strengh ini bersifat internal dari wilayah atau sebuah
kawasan.
2) Weakness (kelemahan) adalah kegiatan-kegiatan yang tidak berjalan dengan
baik atau sumber daya yang dibutuhkan akan tetapi tidak dimiliki oleh
wilayah atau kawasan tersebut
3) Opportunity (peluang) adalah faktor positif yang muncul dari lingkungan dan
memberikan kesempatan untuk memanfaatkannya.
4) Threat (ancaman) adalah faktor negatif dari lingkungan yang memberikan
hambatan bagi berkembangnya suatu wilayah atau kawasan. Ancaman ini
adalah hal yang terkadang selalu terlewatkan karena banyak yang ingin
mencoba untuk kontroveri atau out of stream (melawan arus) namun pada
kenyataannya wilayah atau kawasan tersebut layu sebelum berkembang.
Setelah mengidentifikasi dan menganalisis potensi yang ada melalui
instrumen penelitian makan tahapan yang dilakukan oleh peneliti adalah
memasukannya kedalam dua matrik yakni matrik External Factor Evaluation
(EFE) dan matrik Internal Factor Evaluation (IFE) dan selanjutnya akan diketahui
pengembangan yang paling baik.
3. Kesimpulan
Kesimpulan adalah tahap akhir dalam proses analisis data. Kesimpulan
dalam penelitian kualitatif adalah merupakan temuan baru yang sebelumnya
belum pernah ada. Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu obyek
yang sebelumnya masih remang-remang sehingga setelah diteliti semuanya
menjadi jelas. Dengan melalui langkah-langkah yang telah dijabarkan diatas,
diharapkan penelitian ini dapat memberi bobot tersendiri terhadap hasil yang
penelitian yang telah dilakukan.